Anda di halaman 1dari 27

66

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Setting Penelitian
1. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di kelas VII-A SMP Negeri 3 Sukaresmi,
Kabupaten Cianjur yang beralamat di Jalan Cipari Km 12, Desa Rawabelut,
Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur, Propinsi Jawa Barat .

2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dalam waktu 4 (empat) bulan sebagaimana
terlihat pada tanel berikut.

Tabel 3.1 Jadwal Penelitian

Pelaksanaan
No Jenis Kegiatan Keterangan
Juli Agst Sept Okt
1 Pengajuan Judul X
Pengajuan Proposal
2 X
Penelitian
3 Seminar Proposal X
Penyusunan Instrumen
4 X
Penelitian
Pengajuan Izin
5 X
Penelitian
Pengumpulan Data/
6 X
Pelaksanaan Penelitian
7 Pengklasisfikasian Data X
Analisis dan Interpretasi
8 X
Data Hasil Penelitian
9 Penulisan Laporan X X X

B. Metode Penelitian
Mengacu kepada permasalahan yang dirumuskan, maka tesis yang
berjudul ”Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Games
Tournament dalam Meningkatkan Hasil Belajar dan Sikap Cinta Tanah Air pada
67

materi Pokok Norma dan Keadilan (Penelitian Tindakan Kelas pada Peserta didik
Kelas VII SMP Negeri 3 Sukaresmi, Kabupaten Cianjur Semester Ganjil Tahun
Pelajaran 2019-2020” ini merupakan penelitian deskriptif komparatif dengan
pendekatan deskriptif kualitatif dalam bentuk penelitian tindakan kelas (PTK).
Menurut Kerlinger, desain penelitian atau rancang bangun penelitian
adalah rencana dan struktur penyelidikan yang disusun sedemikian rupa sehingga
peneliti akan dapat memperoleh jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan
penelitiannya.1 Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
desain putaran spiral menurut Kemmis dan Taggart. Menurut Soedarsono 2, model
spiral yang dikemukakan oleh Kemmis dan Taggart ini terdiri atas empat
komponen utama, yaitu:

1. Rencana: Tindakan apa yang akan dilakukan untuk


memperbaiki, meningkat-kan atau perubahan perilaku dan sikap sebagai
solusi. Kegiatan yang dilakukan adalah membuat suatu instrumen pengamatan
untuk membantu peneliti merekam fakta yang terjadi selama tindakan
berlangsung.

2. Tindakan: Apa yang dilakukan oleh guru atau peneliti


sebagai upaya perbaikan, peningkatan atau perubahan yang diinginkan.
Kegiatan yang dilakukan adalah pengajuan laporan penelitian harus berusaha
mentaati apa yang sudah dirumuskan dalam rancangan, tetapi harus pula
berlaku wajar, tidak dibuat-buat, dalam refleksi, keterkaitan antara
pelaksanaan dengan perencanaan perlu diperhatikan secara seksama agar
sinkron dengan maksud semula.

3. Observasi: Mengamati atas hasil atau dampak dari


tindakan yang dilaksanakan atau dikenakan terhadap peserta didik. Kegiatan
yang dilakukan adalah melakukan “pengamatan balik” terhadap apa yang
terjadi ketika tindakan berlangsung. Dalam melakukan pengamatan balik ini,

1
Kerlinger. Asas–Asas Penelitian Behaviour. Edisi 3, Cetakan 7. (Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press. 2006), h. 11
2
Soedarsono, Fx. Aplikasi Penelitian Tindakan Kelas. (Jakarta: Universitas Terbuka,
1996/1997), h. 12
68

peneliti mencatat sedikit demi sedikit apa yang terjadi agar memperoleh data
yang akurat untuk memperbaiki siklus berikutnya.

4. Refleksi: Peneliti mengkaji, melihat dan


mempertimbangkan atas hasil atau dampak dan tindakan dari berbagai kriteria.
Berdasarkan hasil refleksi ini, peneliti bersama-sama guru dapat melakukan
revisi perbaikan terhadap rencana awal.

Kegiatan yang dilakukan adalah mengemukakan kembali apa yang sudah


dilakukan dalam penelitian tindakan. Keempat tahap dalam penelitian tindakan
tersebut adalah unsur untuk membentuk sebuah siklus, yaitu suatu putaran
kegiatan beruntun, yang kembali ke langkah semula. Jadi, satu siklus adalah dari
tahap penyusunan rancangan sampai dengan refleksi, yang tidak lain adalah
evaluasi. Apabila dikaitkan dengan “bentuk tindakan” sebagai-mana disebutkan
dalam uraian ini, maka yang dimaksud dengan bentuk tindakan adalah siklus
tersebut. Jadi, bentuk penelitian tindakan tidak pernah merupakan kegiatan
tunggal, tetapi selalu harus berupa rangkaian kegiatan yang akan kembali ke asal,
yaitu dalam bentuk siklus (Arikunto 2006: 20).

Siklus penelitian ”Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team


Games Tournament dalam Meningkatkan Hasil Belajar dan Sikap Cinta Tanah Air
pada materi Pokok Norma dan Keadilan (Penelitian Tindakan Kelas pada Peserta
didik Kelas VII SMP Negeri 3 Sukaresmi, Kabupaten Cianjur Semester Ganjil
Tahun Pelajaran 2019-2020” ini pun terdiri atas empat tahap, yakni tahap (1)
perencanaan tindakan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) pengamatan, dan refleksi.
Penelitian ini terdiri atas tiga siklus sebagaimana terlihat pada desain penelitian di
bawah ini.
69

Siklus I

Siklus II

Siklus III

Gambar 3.1 Bagan siklus Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Model Kemmis
Taggart3

C. Prosedur Penelitian
1. Prapenelitian dan Refleksi Awal
Kegiatan prapenelitian atau refleksi awal sering disebut sebagai kegiatan
prasiklus, yakni kegiatan orientasi dalam bentuk observasi terhadap pembelajaran
di kelas dan berikutnya melakukan diskusi bersama guru mata pelajaran sejenis
dalam hal pelaksanaan pembelajaran inovatif seperti pembelajaran kooperatif atau
pembelajaran kontekstual.
Pada tahap ini penulis melakukan observasi kegiatan belajar-mengajar dan
mencatat seluruh hasil temuan di lapangan. Selanjutnya, bersama-sama dengan
kolaborator melakukan diskusi berkenaan dengan hasil belajar dan perilaku
disiplin peserta didik dalam pembelajaran. Berikut langkah-langkah yang
dilakukan penulis pada tahap prasiklus.

a. Observasi

Observasi dilakukan secara langsung di dalam kelas VII-A SMP Negeri 3


Sukaresmi untuk mengamati berbagai aspek perilaku pembelajaran yang
dilakukan peserta didik. Peneliti mengamati aktivitas peserta didik dan hasil
3
Buku Pedoman Penulisan Tesis PPS Arrahmaniyah, Depok, 2018, h. 33.
70

berlajar peserta didik, serta mencatat temuan-temuan berkenaan dengan proses


komunikasi antara guru dan peserta didik selama pembelajaran. Selanjutnya,
dilakukan juga pretes atau tes awal yang dilakukan pada awal pembelajaran.
Peneliti mengumpulkan data yang seterusnya akan dijadikan perencanaan dalam
pelaksanaan siklus tindakan 1.

b. Refleksi

Langkah ini merupakan pengolahan dan perencanaan dari data yang


diperoleh sebelumnya yaitu dari observasi awal. Dalam tahap refleksi ini
selanjutnya adalah akan menemtukan tindak lanjut dari hasil temuan ada tahap
prasiklus, kemudian peneliti membuat skenario atau perencanaan yang akan
dilakukan dalam siklus 1.

2. Penelitian Tindakan
Pelaksanaan tindakan dilaksanakan dalam tiga siklus dengan masing siklus
terdiri atas fase-fase perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi atau
pengamatan, serta refleksi. Prosedur yang dilaksanakan pada setiap siklus dengan
menerapkan model pembelajaran Team Games Tournament adalah sebagai
berikut.
a. Studi Pendahuluan
Studi pendahuluan digunakan untuk mengetahui kondisi lapangan yang
sebenarnya, megumpulkan informasi mengenai keadaan dalam kelas, mencari
permasalahan selama kegiatan belajar mengajar berlangsung. Kegiatan yang
dilakukan ini antara lain observasi. Kegiatan observasi dilakukan dengan cara
melihat keadaan kelas, guru dan peserta didik serta aktivitas belajar mengajar
Hasil yang didapatkan digunakan untuk pedoman perencanaan I pada siklus I,
sehingga tindakan yang akan diterapkan sesuai dengan permasalahan yang timbul
saat proses belajar mengajar.

b. Siklus I
71

1) Perencanaan Tindakan Siklus I


Tahap perencanaan merupakan fase persiapan yang dilakukan oleh
peneliti dalam melaksanakan penelitian agar dapat terarah dan
sistematis. Adapun hal-hal yang dipersiapkan pada tahap perencanaan
ini sebagai berikut.
a) Merencanakan pembelajaran dengan menggunakan model Team
Games Tournament (TGT)
b) Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dengan
mengacu kepada silabus yang telah ditetapkan oleh sekolah.
c) Mengembangkan skenario pembelajaran dengan menerapkan
model Team Games Tournament.
d) Menyusun tes awal.
e) Mempersiapkan lembar observasi, baik observasi secara klasikal
maupun individu dalam kelompok.
f) Mempersiapkan sumber belajar, meliputi buku teks, gambar-
gambar yang berkaitan dengan masalah norma dan keadilan.
g) Mempersiapkan media pembelajaran yang meliputi kartu soal dan
kartu nomor yang digunakan pada pelaksanaan game dan
turnamen.
h) Membagi peserta didik ke dalam kelompok-kelompok kecil yang
memiliki anggota antara 4-5 orang. Mengingat jumlah peserta
didik di kelas VII-A sebagai subjek penelitian adalah 47 orang,
maka di kelas akan terdapat 9 kelompok dengan masing-masing
beranggotakan 4 orang perkelompok, kecuali 2 kelompok
beranggotakan 5 orang.

2) Pelaksanaan Tindakan Siklus I


Pada tahap ini yang dilaksanakan sesuai dengan yang sudah
direncanakan pada tahap perencanaan tindakan I.
a) Melakukan refleksi dan analisis terhadap permasalahan-
permasalahan temuan observasi awal. Hasil refleksi dan analisis
72

kemudian digunakan sebagai acuan menyususn perangkat


pembelajaran dan alat perekam data.

b) Menyusun perangkat pembelajaran yang terdiri dari


skenario proses pembelajaran, rencana pelaksanaan pembelajaran,
materi ajar serta menyiapkan media pembelajaran yang sesuai.

c) Menyusun alat perekam data berupa tes sebelum


tindakan dan tes prestasi belajar, lembar observasi aktivitas peserta
didik dan catatan lapangan.

d) Melaksanakan pembelajaran materi ”Norma dan


Keadilan” .

3) Observasi Siklus I
Pada tahap ini seorang observer melakukan pengamatan terhadap
kegiatan belajar dengan menerapkan metode Team Game Tournament
(TGT) dan mencatat aktivitas yang dilakukan guru dan peserta didik
selama kegiatan belajar mengajar baik teori maupun praktik.
Pengamatan dilakukan dengan menggunakan lembar observasi dan
lembar catatan lapangan. Observer mencatat dan mengamati kegiatan
yang berlangsung pada lembar observasi dan catatan lapangan.

4) Refleksi Siklus I
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan pada seluruh kegiatan
siklus I selanjutnya dilakukan analisis, pemaknaan, penjelasan dan
penyimpulan data. Hasil kesimpulan yang didapatkan berupa tingkat
keefektifan rencana pembelajaran yang dibuat serta daftar
permasalahan serta kendala-kendala yang dihadapi di lapangan selama
melaksanakan proses belajar mengajar dengan menerapkan metode
Team Game Tournament (TGT). Hasil ini kemudian dijadikan dasar
untuk melakukan perencanaan pada siklus selanjutnya.

c. Siklus II
73

Langkah tindakan siklus II merupakan perbaikan atas pelaksanaan siklus I.


Langkah-langkah pembelajaran model Team Games Tournament pada siklus II ini
pada dasarnya tidak berbeda dari siklus I, hanya submateri yang dibahas pada
siklus II merupakan kelanjutan dari siklus I.

Adapun langkah-langkah yang dilakukan pada siklus II adalah sebagai


berikut.

1) Perencanaan Siklus II
Perencanana yang dilakukan pada pelaksanaan siklus II merupakan
perbaikan yang diperoleh dari hasil refleksi siklus I. Perencanaan tersebut
meliputi hal-hal sebagai berikut.

a) Merencanakan pembelajaran dengan menggunakan


model Team Games Tournament (TGT)
b) Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)
dengan mengacu kepada silabus yang telah ditetapkan oleh sekolah.
c) Mengembangkan skenario pembelajaran dengan
menerapkan model Team Games Tournament.
d) Mempersiapkan lembar observasi, baik observasi
secara klasikal maupun individu dalam kelompok.
e) Mempersiapkan sumber belajar, meliputi buku teks,
gambar-gambar yang berkaitan dengan masalah norma dan keadilan.
f) Mempersiapkan media pembelajaran yang meliputi
kartu soal dan kartu nomor yang digunakan pada pelaksanaan game
dan turnamen.
g) Mengubah komposisi kelompok belajar peserta
didik dengan mengacu kepada hasil pembelajaran pada siklus I.

2) Pelaksanaan Tindakan Siklus II


Pada tahap ini yang dilaksanakan sesuai dengan yang sudah direncanakan
pada tahap perencanaan tindakan I.
a) Melakukan refleksi dan analisis terhadap permasalahan-
permasalahan temuan pada siklus I. Hasil refleksi dan analisis pada
74

siklus I tersebut kemudian digunakan sebagai acuan menyusun


perangkat pembelajar-an dan alat perekam data.
b) Menyusun perangkat pembelajaran yang terdiri dari
skenario proses pembelajaran, rencana pelaksanaan pembelajaran,
materi ajar serta menyiapkan media pembelajaran yang sesuai.
c) Menyusun alat perekam data berupa tes sebelum
tindakan dan tes prestasi belajar, lembar observasi aktivitas peserta
didik dan catatan lapangan.
d) Melaksanakan pembelajaran materi ”Norma dan
Keadilan” .

3) Observasi Siklus II
Pada tahap ini seorang observer melakukan pengamatan terhadap kegiatan
belajar dengan menerapkan metode Team Game Tournament (TGT) dan
mencatat aktivitas yang dilakukan guru dan peserta didik selama kegiatan
belajar mengajar baik teori maupun praktik. Pengamatan dilakukan dengan
menggunakan lembar observasi dan lembar catatan lapangan. Observer
mencatat dan mengamati kegiatan yang berlangsung pada lembar
observasi dan catatan lapangan.

4) Refleksi Siklus II

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan pada seluruh kegiatan


siklus II selanjutnya dilakukan analisis, pemaknaan, penjelasan dan
penyimpulan data. Hasil kesimpulan yang didapatkan berupa tingkat
keefektifan rencana pembelajaran yang dibuat serta daftar permasalahan
serta kendala-kendala yang dihadapi di lapangan selama melaksanakan
proses belajar mengajar dengan menerapkan metode Team Game
Tournament (TGT). Hasil ini kemudian dijadikan dasar untuk melakukan
perencanaan pada siklus selanjutnya.

d. Siklus III
Langkah tindakan siklus III merupakan perbaikan atas pelaksanaan siklus
II. Langkah-langkah pembelajaran model Team Games Tournament pada siklus III
75

ini pada dasarnya tidak berbeda dari siklus I dan II, hanya submateri yang dibahas
pada siklus III merupakan kelanjutan dari siklus II.

1) Perencanaan Siklus III


Perencanana yang dilakukan pada pelaksanaan siklus III merupa-
kan perbaikan yang diperoleh dari hasil refleksi siklus II. Perencanaan
tersebut meliputi hal-hal sebagai berikut.

a) Merencanakan pembelajaran dengan menggunakan


model Team Games Tournament (TGT)
b) Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)
dengan mengacu kepada silabus yang telah ditetapkan oleh sekolah.
c) Mengembangkan skenario pembelajaran dengan
menerapkan model Team Games Tournament.
d) Mempersiapkan lembar observasi, baik observasi
secara klasikal maupun individu dalam kelompok.
e) Mempersiapkan sumber belajar, meliputi buku teks,
gambar-gambar yang berkaitan dengan masalah norma dan keadilan.
f) Mempersiapkan media pembelajaran yang meliputi
kartu soal dan kartu nomor yang digunakan pada pelaksanaan game
dan turnamen.
g) Mengubah komposisi kelompok belajar peserta
didik dengan mengacu kepada hasil pembelajaran pada siklus II.

2) Tindakan pembelajaran Siklus III


Pada tahap ini yang dilaksanakan sesuai dengan yang sudah direncanakan
pada tahap perencanaan tindakan II.
a) Melakukan refleksi dan analisis terhadap permasalahan-
permasalahan temuan pada siklus II. Hasil refleksi dan analisis pada
siklus II tersebut kemudian digunakan sebagai acuan menyususn
perangkat pembelajar-an dan alat perekam data.
76

b) Menyusun perangkat pembelajaran yang terdiri dari


skenario proses pembelajaran, rencana pelaksanaan pembelajaran,
materi ajar serta menyiapkan media pembelajaran yang sesuai.
c) Menyusun alat perekam data berupa tes sebelum
tindakan dan tes prestasi belajar, lembar observasi aktivitas peserta
didik dan catatan lapangan.
d) Melaksanakan pembelajaran materi ”Norma dan
Keadilan” .

3) Observasi Siklus III


Pada tahap ini seorang observer melakukan pengamatan terhadap kegiatan
belajar dengan menerapkan metode Team Game Tournament (TGT) dan
mencatat aktivitas yang dilakukan guru dan peserta didik selama kegiatan
belajar mengajar baik teori maupun praktik. Pengamatan dilakukan dengan
menggunakan lembar observasi dan lembar catatan lapangan. Observer
mencatat dan mengamati kegiatan yang berlangsung pada lembar
observasi dan catatan lapangan.

4) Refleksi Siklus III


Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan pada seluruh kegiatan
siklus III selanjutnya dilakukan analisis, pemaknaan, penjelasan dan
penyimpulan data. Hasil kesimpulan yang didapatkan berupa tingkat
keefektifan rencana pembelajaran yang dibuat serta daftar permasalahan
serta kendala-kendala yang dihadapi di lapangan selama melaksanakan
proses belajar mengajar dengan menerapkan metode Team Game
Tournament (TGT). Hasil ini kemudian dijadikan dasar untuk melakukan
perencanaan pada siklus selanjutnya.

D. Sumber Data

Menurut Lofland dan Lofland, sumber data utama dalam penelitian


kualitatif adalah kata-kata dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti
77

dokumen dan lain-lain. Akan tetapi, untuk melengkapi data penelitian dibutuhkan
dua sumber data, yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder.

1. Sumber Data Primer

Data primer adalah pengambilan data dengan instrumen pengamatan,


wawancara, catatan lapangan dan penggunaan dokumen. Sumber data primer
merupakan data yang diperoleh langsung dengan teknik wawancara informan atau
sumber langsung. Sumber primer adalah sumber data yang langsung memberikan
data kepada pengumpul data.4 Adapun dalam penelitian ini sumber data primer
adalah peserta didik kelas VII-A SMP Negeri 3 Sukaresmi Kabupaten Cianjur
yang berjumlah 47 orang.

Dari subjek penelitian yang berjumlah 47 orang di atas, pada setiap akhir
siklus dipilih secara random 2 orang peserta didik yang digunakan sebagai
informan utama. Di samping itu, penulis juga menggunakan teman sebaya, yakni
guru mata pelajaran PPKn lain sebagai informan pendukung, serta guru mata
pelajaran lain sebagai informan triangulasi.

Tabel 3.2 Informan Utama, Informan Pendukung, dan Informan Triangulasi

No Jabatan Kode Status


1 Peserta didik 1 Sw1 Informan Utama
2 Peserta didik 2 Sw2 Informan Utama
3 Guru Serumpun GS Informan Pendukung
4 Guru Mata Pelajaran Lain GM Informan Triangulasi

2. Sumber Data Sekunder

Sumber data sekunder adalah data yang digunakan untuk mendukung data
primer yaitu melalui studi kepustakaan, dokumentasi, buku, majalah, koran, arsip
tertulis yang berhubungan dengan obyek yang akan diteliti pada penelitian ini.
Sumber sekunder merupakan sumber yang tidak langsung memberikan data

4
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D (Metode Penelitian dan
Pengembangan). (Bandung: Alfabeta, 2012). h. 187.
78

kepada pengumpul data, misalnya lewat orang lain atau dokumen. 5 Sumber data
sekunder ini akan mempermudah peneliti untuk mengumpulkan data-data dan
menganalisis hasil dari penelitian ini yang nantinya dapat memperkuat temuan
dan menghasilkan penelitian yang mempunyai tingkat validitas yang tinggi.

E. Teknik Pengumpulan Data


Tes adalah seperangkat tugas yang harus dikerjakan atau sejumlah
pertanyaan yang harus dijawab oleh peserta didik untuk mengukur tingkat
pemahaman dan penguasaannya terhadap cakupan materi yang dipersyaratkan dan
sesuai dengan tujuan pengajaran tertentu.6
Metode tes dalam penelitian ini digunakan untuk mengukur kemampuan
dasar dan pencapaian atau prestasi belajar. Tes diberikan kepada peserta didik
secara individu untuk mengetahui peningkatan kemampuan kognitif maupun
psikomotorik peserta didik dalam pembelajaran PPKn melalui model Team games
Tournament. Selain teknik tes, digunakan juga teknik lainnya sebagaimana
dijelaskan berikut ini.

1. Teknik Non-tes
Teknik non-tes dapat dilakukan dengan observasi baik secara langsung
ataupun tak langsung, angket ataupun wawancara. Dapat pula dilakukan dengan
Sosiometri, tehnik non tes digunakan sebagai pelengkap dan digunakan sebagai
pertimbangan tambahan dalam pengambilan keputusan penentuan kualitas hasil
belajar, teknik ini dapat bersifat lebih menyeluruh pada semua aspek kehidupan
anak.7

2. Observasi
Observasi merupakan tehnik mengumpulkan data dengan cara mengamati
setiap kejadian yang sedang berlangsung dan mencatatnya dengan alat observasi
tentang hal-hal yang akan diamati atau diteliti. Berhubungan dengan kegiatan

5
Ibid. h. 187.
6
Poerwanti, Endang, et.al. Asesmen Pembelajaran SD. (Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan
Tinggi Departemen Pendidikan Nasional,.Remaja Rosdakarya, 2008) h. 1.34
7
Ibid. h. 1.34
79

peserta didik, observasi dapat dilakukan untuk mengumpulkan informasi tentang


perilaku-perilaku peserta didik sebagai pengaruh tindakan yang dilakukan guru.8

3. Wawancara
Wawancara atau interviu dapat diartikan sebagai teknik mengupulkan data
dengan menggunakan bahasa lisan baik secara tatap muka ataupun melalui saluran
media tertentu.9 Pada penelitian ini, wawancara dilakukan terhadap peserta didik
sebagai informan utama serta guru mata pelajaran PPKn lain sebagai informant
pendukung serta informan triangulasi.

4. Catatan Lapangan
Catatan lapangan adalah catatan berisi hal-hal yang tidak dapat terekam
melalui lembar observasi.Berfungsi untuk memperkuat data yang diperoleh
selama pembelajaran.10 Catatan lapangan digunakan peneliti untuk mencatat hal-
hal yang tidak terekam dalam lembar pengamatan atau observasi.

5. Dokumentasi
Metode dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel
yang berupa catatan lapangan, transkrip, buku surat notulen rapat, surat kabar,
majalah, prasasti, agenda dan sebagainya.11
Metode dokumentasi dilakukan untuk memperkuat data yang diperoleh
dalam observasi untuk memberikan gambaran nyata pembelajaran. Dokumen
yang digunakan dalam penelitian ini berupa daftar kelompok peserta didik dan
daftar nilai peserta didik serta dokumentasi berupa foto-foto pembelajaran.

F. Instrumen Penelitian
1. Pembelajaran Model Team Games Tournament
a. Definisi Konseptual
Model pembelajaran team games tournament merupakan model
pembelajaran kooperatif dengan mengembangkan permainan dan
pertandingan akademik.
8
Sanjaya, Penelitian Tindakan Kelas. (Jakarta: Kencana, 2013), h. 86
9
Ibid. h. 96
10
Arikunto, Suharsimi. Penelitian Tindakan Kelas. (Jakarta: PT Bumi Aksara. 2014) h.78
11
Ibid. h. 206
80

b. Definisi Operasional
Model pembelajaran TGT merupakan model pembelajaran kooperatif
dengan membentuk kelompok-kelompok kecil dalam kelas yang terdiri
atas 3-5 peserta didik yang heterogen, baik dalam hal akademik, jenis
kelamin, ras, maupun etnis. Inti dari model ini adalah adanya game dan
turnamen akademik, dengan prosedur pembelajaran meliputi (1) penyajian
kelas, (2) belajar dalam kelompok, (3) melaksanakan game, (4) mengikuti
turnamen, dan (5) pemberian penghargaan.

c. Jenis Instrumen
Instrumen yang digunakan untuk memperoleh data berkenaan dengan
proses pembelajaran dengan model Team Games Tournament berbentuk
lembar observasi.

d. Kisi-kisi Instrumen
Pelaksanaan pembelajaran Team Games Tournament merupakan bentuk
tindakan pembelajaran yang dilakukan bersama antara guru dan peserta
didik. Instrumen yang digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran ini
berbentuk lembar observasi yang memuat langkah-langkah pembelajaran
sebagaimana dijelaskan pada tabel berikut ini.
Tabel 3.3 Kisi-kisi Instrumen Observasi Model Pembelajaran Team Games
Tournament
No Langkah Pokok Pembelajaran Aktivitas Peserta didik
1. Penyajian kelas a. Antusiasme peserta didik dalam
menerima materi
b. Diskusi kelas berkenaan dengan
materi
2 Belajar dalam kelompok a. Kepatuhan dalam pembentukan
tim secara heterogen
b. Diskusi pendalaman materi
dalam kelompok
3 Pelaksanaan game (permainan) a. Penguasaan materi yang
diajukan dalam game
b. Ketegasan jawaban yang
diberikan setiap peserta didik
81

No Langkah Pokok Pembelajaran Aktivitas Peserta didik


4 Pelaksanaan turnamen a. Keterampilan membacakan
(pertandingan) jawaban
b. Keberanian dalam mengajukan
tantangan
c. Keterampilan menyusun strategi
dalam permainan
d. Kecepatan memberikan jawaban
alternatif
e. Ketepatan memberikan jawaban
alternatif
5 Rekognisi Kelompok yang memperoleh
penghargaan memiliki kelayakan
memperolehnya

e. Validasi Instrumen
Untuk mengukur kesahihan instrumen, dilakukan validasi atas
instrumen dengan kalibrasi. Kalibrasi adalah proses pengecekan dan
pengaturan akurasi dari alat ukur dengan cara membandingkannya dengan
standar/tolak ukur. Kalibrasi diperlukan untuk memastikan bahwa hasil
pengukuran yang dilakukan akurat dan konsisten dengan instrumen
lainnya.
Pada model pembelajaran Team Games Tournament digunakan
tolok ukur yang mengacu kepada langkah-langkah pembelajaran Team
Games Tournament dengan menggunakan skala kualitas sebagaimana
terlihat pada tabel berikut ini.

Tabel 3.4 Skala kualitas aktivitas peserta didik dalam pembelajaran Team
Games Tournament pada penamatan

Nilai Kualitas
5 Sangat baik
4 Baik
3 Cukup Baik
2 Kurang Baik
82

1 Buruk/Tidak Baik

Skala Likert adalah skala yang digunakan untuk mengukur


persepsi, sikap atau pendapat seseorang atau kelompok mengenai sebuah
peristiwa atau fenomena sosial, berdasarkan definisi operasional yang
telah ditetapkan oleh peneliti. Pengolahan data secara deskriptif adalah
dengan cara memperoleh hasil perkalian dari jumlah responden dengan
skor pilihan jawaban yang diberikan. Seluruh hasil perkalian dari jumlah
responden pada masing-masing pilihan jawaban ini (pada masing-masing
item) dijadikan dasar penafsiran data hasil penelitian secara deskriptif.

Tabel 3.5 Persentase aktivitas belajar peserta didik dalam mengikuti


pembelajaran dengan model Team Games Tournament
Kualitas Aktivitas
% Nilai
Belajar
81,00 – 100 Sangat baik
6,00 – 80,00 Baik
41,00 – 60,00 Cukup Baik
21,00 – 40,00 Kurang Baik
00,00 – 20,00 Buruk/Tidak Baik

2. Hasil Belajar Materi Pokok ”Norma dan Keadilan”


a. Definisi Konseptual
Hasil belajar adalah segala perubahan atau kemampuan baru yang
diperoleh peserta didik setelah melakukan proses pembelajaran. Perubahan
tersebut terjadi pada tiga ranah taksonomis, yakni ranah kognitif, ranah
afektif, dan ranah psikomotorik. Perubahan perilaku tersebut diperoleh
setelah peserta didik menyelesaikan program pembelajarannya melalui
interaksi dengan berbagai sumber belajar dan lingkungan belajar.

b. Definisi Operasional
Hasil belajar merupakan realisasi atau pemekaran dari kecakapan
atau kapasitas yang dimiliki seseorang. Penguasaan hasil belajar dari
seseorang dapat dilihat dari perilakunya, baik perilaku dalam bentuk
83

penguasaan pengetahuan, keterampilan berpikir, maupun keterampilan


motorik.12

c. Jenis Instrumen
Adapun instrumen yang digunakan dalam mengukur hasil belajar
peserta didik pada kompetensi dasar ”norma dan keadilan” adalah bentuk
tes awal dan tes akhir. Tes awal diberikan sebelum peserta didik
memperoleh pembelajaran pada kompetensi dasar tersebut, dan tes akhir
diberikan sebagai bentuk assesmen yang diberikan setelah peserta didik
memperoleh perlakuan tindakan dalam pembelajaran pada kompetensi
dasar dimaksud. Bentuk tes yang digunakan sebagai alat pengukur hasil
belajar adalah soal-soal tes bentuk pilihan ganda dengan 4 pilihan.

d. Kisi-kisi Instrumen
Indikator yang digunakan sebagai acuan dalam penilaian ini adalah
sebagai berikut.
1) Indikator pencapaian kompetensi pada ranah kognitif.
3.2.1 Mendeskripsikan pengertian dan macam-macam norma.
3.2.2 Mendesripsikan macam-macam norma dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
3.2.3 Menunjukkan perilaku sesuai norma.
3.2.4 Menunjukkan macam-macam keadilan.
3.2.5 Menganalisis pentingnya norma hukum dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

2) Indikator pencapaian kompetensi pada ranah psikomotorik.

4.4.1 Menyajikan hasil telaah pengertian dan macam-macam norma.


4.4.2 Menyajikan hasil telaah arti penting norma dalam kehidupan
bermasyarakat dan bernegara.

12
Sukmadinata, Nana Syaodih. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2007), hh. 102-103
84

4.4.3 Mempraktikkan perilaku menaati norma dalam lingkungan


sekolah.13

e. Validasi Instrumen
Soal-soal pilihan ganda yang digunakan pada tes akhir
pembelajaran adalah alat tes yang telah memiliki validitas dan reliabilitas.

Pengujian Validitas (Tingkat Kasahihan) Butir Soal Tes

Validitas adalah ketepatan atau kecermatan suatu instrumen dalam


mengukur apa yang ingin dukur. Dalam pengujian instrumen pengumpul
data, validitas bisa dibedakan menjadi validitas faktor dan validitas item.
Validitas faktor diukur bila item yang disusun menggunakan lebih dari satu
faktor (antara faktor satu dengan yang lain ada kesamaan). Pengukuran
validitas faktor ini dengan cara mengkorelasikan antara skor faktor
(penjumlahan item dalam satu faktor) dengan skor total faktor (total
keseluruhan faktor), sedangkan pengukuran validitas item dengan cara
mengkorelasikan antara skor item dengan skor total item.
Teknik yang digunakan pada analisis ini adalah teknik korelasi
poin biserial. Analisis ini dengan cara mengkorelasikan masing-masing
skor item dengan skor total. Skor total adalah penjumlahan dari
keseluruhan item. Item-item pertanyaan yang berkorelasi signifikan
dengan skor total menunjukkan item-item tersebut mampu memberikan
dukungan dalam mengungkap apa yang ingin diungkap.

Rumus yang digunakan untuk pengujian ini adalah sebagai berikut.

Xi  X t pi
rpbis = St qi

Keterangan

13
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan; Buku
Guru, (Jakarta: Kementerian Pendidkikan dan Kebudayaan, 2017), hh. 86-87.
85

rpbis : koefisien korelasi biserial antara skor butir soal nomor i dengan
skor total
Xi : rata-rata skor total responden menjawab benar butir soal
nomor i
Xt : rata-rata skor total semua responden
St : standar deviasi skor total semua responden
pi : proporsi jawaban yang benar untuk butir nomor i
qi : proporsi jawaban yang salah untuk butir nomor i

Hasil perhitungan pbi kemudian dikonsultasikan dengan rtabel. Jika


rpbis > rtabel berarti butir soal valid, demikian juga sebaliknya apabila rpbis <
rtabel berarti butir soal tidak valid. Nilai koefisien rtabel pada taraf signifikansi
5% dan N=47 adalah 0,288.

Pengujian Reliabilitas (Tingkat Kepercayaan) Soal Tes

Uji reliabilitas berguna untuk menetapkan apakah instrumen yang


dalam hal ini kuesioner dapat digunakan lebih dari satu kali, paling tidak
oleh responden yang sama akan menghasilkan data yang konsisten.
Dengan kata lain, reliabilitas instrumen mencirikan tingkat konsistensi. Uji
reliabilitas instrumen digunakan dengan menggunakan koefesien
reliabilitas dari KR-20 sebagai berikut.

r =
n  1 -  pq 
n -1 
 S2 

 

Keterangan:
r : Koefisien reliabilitas tes yang dicari
n : Jumlah butir soal
p : proporsi jawaban benar
q : proporsi jawaban salah (q = 1 – p)
S : Simpangan baku, S2 = varian
Hasil yang diperoleh dari pengujian ini selanjutnya dikonsultasikan
dengan tabel r product moment pada taraf signifikansi 5% dan N = 47
adalah 0,288. Artinya, jika nilai r hasil perhitungan lebih besar dari 0,288
maka soal tes yang digunakan dapat dipercaya (reliabel). Sebaliknya, jika
86

hasil perhitungan menunjukkan nilai r berada di bawah 0,288 maka soal


tes yang digunakan tidak dapat dipercaua dan tidak boleh digunakan.

3. Sikap Cinta Tanah Air


a. Definisi Konseptual
Cinta tanah air adalah mengenal dan mencintai wilayah nasionalnya
sehingga selalu waspada serta siap membela tanah air Indonesia terhadap
segala bentuk ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan yang dapat
membahayakan kelangsungan hidup bangsa dan negara oleh siapapun dan
dari manapun.14

b. Definisi Operasional
Cinta tanah air juga mencakup cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang
menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi
terhadap bangsa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik
bangsa.15

c. Jenis Instrumen

Instrumen yang digunakan dalam melakukan pengumpulan data pada


variabel sikap cinta tanah air berbentuk lembar observasi yang digunakan
pada saat proses penelitian sedang berlangsung.

d. Kisi-kisi Instrumen
Sikap cinta tanah air diukur melalui observasi atau pengamatan terhadap
perilaku peserta didik selama mengikuti pembelajaran. Indikator yang
digunakan pada pengamatan adalah sebagai berikut.
1) Mengenal dan mencintai wilayah nasional yang diwujudkan melalui:
a) bangga menjadi orang Indonesia
b) mencintai dan melestarikan lingkungan

14
Asmoro Achmadi, Filsafat Pancasila dan Kewarganegaraan, (Semarang: RaSAIL Media
Group, 2009), hh. 87-88.
15
Kemendiknas, Bahan Pelatihan Penguatan Metodologi Pembelajaran Berdasarkan Nilai-
nilai Budaya untuk Membentuk Daya Saing dan Karakter Bangsa…, h. 10.
87

2) Sikap dan perilaku yang mencerminkan rasa bangga, setia, peduli, dan
penghargaan tinggi terhadap bahasa dan budaya bangsa; yang
diwujudkan melalui:
a) menggunakan bahasa Indonesia yang baik,
b) mencintai budaya Indonesia, dengan cara (misalnya) bersemangat
menyanyikan lagu-lagu nasional atau lagu daerah
c) mematuhi tata tertib sekolah dan peraturan lainnya,
d) tertib dan disiplin
3) Sikap dan cara berpikir yang setia, peduli, dan menghargai lingkungan
fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa, yang diwujudkan
melalui:
a) memakai seragam sekolah yang rapi dan bersih,
b) menjaga kebersamaan melalui kerja kelompok yang kompak
c) menjaga kebersihan lingkungan sekitar
d) menjaga kebersamaan melalui kerja kelompok yang kompak
e) mendahulukan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi
f) bersikap sopan dan santun
g) melaksanakan hasil keputusan musyawarah kelas meskipun
berbeda dengan keinginan sendiri

e. Validasi Instrumen
Untuk memperoleh data yang dapat dianalisis, digunakan skala
nilai sikap yang disimbolkan dengan menggunakan angka 1 sampai
dengan 5. Adapun penjabaran kriteria kualitas sikap cinta tanah air
tersebut dapat terlihat pada tabel berikut.

Tabel 3.6 Nilai kualitas sikap cinta tanah air peserta didik dalam
pembelajaran PPKn
Nilai Kualitas Sikap Cinta
Tanah Air
5 Sangat baik
4 Baik
3 Cukup Baik
88

2 Kurang Baik
1 Buruk/Tidak Baik

Untuk menentukan tingkat sikap cinta tanah air peserta didik


secara klasikal, dilakukan perhitungan persentase dengan mengacu kepada
teori yang dikemukakan oleh Harun Al-Rasyid dalam Ating Somantri16
dalam menyusun penskalaan dengan metode Likert’s Summated Rating
yang ditentukan oleh skor maksimum dan skor minimum yang mungkin
dicapai oleh setiap peserta didik dalam pengamatan.

Tabel 3.7 Persentase hasil pengamatan perkembangan sikap cinta tanah


air peserta didik dalam pembelajaran PPKn dengan model team Games
Tournament
Nilai Kualitas Sikap Cinta
Tanah Air
81,00 – 100 Sangat baik
6,00 – 80,00 Baik
41,00 – 60,00 Cukup Baik
21,00 – 40,00 Kurang Baik
00,00 – 20,00 Buruk/Tidak Baik

G. Teknik Analisis Data


Teknik analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik deskriptif
dengan melalui empat tahap, yakni tahap pengumpulan data, reduksi data, display
data, dan verifikasi data. Teknik analisis ini mencakup di dalamnya analisis kritis
atas kelemahan dan kelebihan kinerja guru dan peserta didik dalam proses
pembelajaran selama penelitian berlangsung serta memperbandingkan nilai-nilai
yang diperoleh antarsiklus berdasarkan indikator kinerja yang digunakan.

1. Pengumpulan Data
Pengumpulan data merupakan proses pengumpulan informasi yang
mendukung penelitian. Data hasil penelitian diperoleh melalui berbagai cara
16
Ating Somantri dan Sambas A. Muhidin. Aplikasi Statistik dalam Penelitian. (Bandung:
Pustaka Setia. 2006) h. 122
89

yang direncanakan, yakni meliputi data hasil observasi selama pembelajaran,


hasil penilaian aktivitas peserta didik selama proses pembelajaran, hasil
penilaian sikap disiplin peserta didik selama pembelajaran serta sebelum dan
sesudahnya, data hasil belajar yang diperoleh melalui tes akhir, serta data hasil
wawancara dengan informan yang ditetapkan. Data tersebut di atas diperoleh
sesuai dengan tahapan penelitian yang telah direncanakan sebagaimana tekah
dikemukakan di bagian atas.

2. Reduksi Data
Reduksi data merupakan proses pemilihan, pemusatan perhatian pada
penyederhanaan, pengabstrakan, transformasi data kasar yang muncul dari
catatan-catatan lapangan.17 Langkah-langkah yang dilakukan adalah
menajamkan analisis, menggolongkan atau pengkategorisasian ke dalam tiap
permasalahan melalui uraian singkat, mengarahkan, membuang yang tidak
perlu, dan mengorganisasikan data sehingga dapat ditarik dan diverifikasi.
Data yang direduksi adalah seluruh data mengenai permasalahan penelitian.
Data yang direduksi akan memberikan gambaran yang lebih spesifik
dan mempermudah peneliti melakukan pengumpulan data selanjutnya serta
mencari data tambahan jika diperlukan. Semakin lama peneliti berada di
lapangan maka jumlah data akan semakin banyak, semakin kompleks dan
rumit. Oleh karena itu, reduksi data perlu dilakukan sehingga data tidak
bertumpuk agar tidak mempersulit analisis selanjutnya.

3. Display Data
Setelah data direduksi, langkah analisis selanjutnya adalah penyajian
data. Penyajian data merupakan sebagai sekumpulan informasi tersusun yang
memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan
tindakan.18

17
Miles, Mathew B dan Huberman, Michael A. Analisis Data Kualitatif, terjemahan Tjetjep
Rohidi (Jakarta: Unibersitas Indonesia Press, 1992) h. 16
18
Ibid. h. 16.
90

Penyajian data diarahkan agar data hasil reduksi terorganisaikan,


tersusun dalam pola hubungan sehingga makin mudah dipahami. Penyajian
data dapat dilakukan dalam bentuk tabulasi serta uraian naratif. Penyajian data
dalam bentuk tersebut mempermudah peneliti dalam memahami apa yang
terjadi. Pada langkah ini, peneliti berusaha menyusun data yang relevan
sehingga informasi yang didapat disimpulkan dan memiliki makna tertentu
untuk menjawab masalah penelitian.
Data yang ditabulasikan meliputi data sebagai berikut.

a. Hasil pengamatan pembelajaran secara


klasikal maupun kelompok.
b. Hasil belajar yang diperoleh melalui tes
akhir.
c. Hasil pengamatan tentang sikap cinta tanah
air peserta didik sebelum, selama, dan setelah proses pembelajaran.
Data yang ditabulasikan kemudian diinterpretasikan sebagai data kualitatif
dalam bentuk uraian naratif yang jelas, padat, dan ringkas.

4. Verifikasi Data
Tahap ini merupakan tahap penarikan kesimpulan dari semua data
yang telah diperoleh sebagai hasil dari penelitian. Penarikan kesimpulan atau
verifikasi adalah usaha untuk mencari atau memahami makna/arti, keteraturan,
pola-pola, penjelasan,alur sebab akibat atau proposisi. Sebelum melakukan
penarikan kesimpulan terlebih dahulu dilakukan reduksi data, penyajian data
serta penarikan kesimpulan atau verifikasi dari kegiatan-kegiatan sebelumnya.
Sesuai dengan pendapat Miles dan Huberman, proses analisis tidak sekali jadi,
melainkan interaktif, secara bolak-balik diantara kegiatan reduksi, penyajian
dan penarikan kesimpulan atau verifikasi selama waktu penelitian. 19 Setelah
melakukan verifikasi maka dapat ditarik kesimpulan berdasarkan hasil
penelitian yang disajikan dalam bentuk narasi. Penarikan kesimpulan

19
Ibid. h. 19
91

merupakan tahap akhir dari kegiatan analisis data. Penarikan kesimpulan ini
merupakan tahap akhir dari pengolahan data.

H. Kriteria Keberhasilan Penelitian


Adapun kriteria keberhasilan dalam penelitian ini dapat dijelaskan sebagai
berikut.
1. Pembelajaran dengan menerapkan model Team
Games Tournament dikatakan berhasil apabila sekurang-kurangnya 75%
aktivitas peserta didik, baik secara klasikal maupun individu dalam
kelompok, menunjukkan kriteria baik pada setiap tahap atau fase
pembelajaran yang terdiri atas (1) penyajian kelas, (2) belajar dalam
kelompok, (3) melaksanakan game, (4) mengikuti turnamen, dan (5)
memperoleh apresiasi/penghargaan.
2. Hasil belajar materi pokok ”norma dan keadilan”
dapat dikatakan berhasil jika terlihat adanya peningkatan jumlah peserta
didik yang mencapai ketuntasan dari satu siklus ke siklus berikutnya,
dengan kriteria 75% dari total peserta didik di dalam kelas telah mencapai
85% taraf ketuntasan pembelajaran sesuai dengan indikator yang
ditetapkan, dengan kriteria ketuntasan minimum (KKM) sebesar 75.
3. Peningkatan sikap cinta tanah air peserta didik dapat
dikatakan berhasil apabila sebanyak 75% peserta didik menunjukkan sikap
dan perilaku cinta tanah air yang tinggi berdasarkan pengamatan, sesuai
dengan indikator yang ditetapkan.

I. Tim Kolaborator

Dalam melaksanakan penelitian, baik pada tahap-tahap perencanaan,


pelaksanaan, observasi, dan refleksi kegiatan penelitian, peneliti dibantu oleh tim
kolaborator yang bertindak sebagai kolaborator sekaligus observer pada saat
pelaksanaan penelitian. Tim kolaborator tersebut terdiri atas 2 (dua) orang sebagai
berikut.
92

1. Ibu Kiswanti, S.Pd., guru mata pelajaran serumpun,


yang mengajarkan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Penetapan
ibu Kiswati S,Pd. sebagai kolaborator didasarkan kepada tidak adanya guru
mata pelajaran PPKn lain di SMP Negeri 3 Sukaresmi, selain peneliti. Di
samping itu, Ibu Kiswanti, S.Pd. merupakan guru tetap dengan status sebagai
pegawai negeri sipil (PNS) yang ditugaskan di SMP Negeri 3 Sukaresmi.
2. Bapak Dasdas Darul Mukaddas, S.P., guru mata
pelajaran lain, yang mengajarkan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam
(IPA). Penetapan Bapak Dasdas Darul Mukaddas, S.P. sebagai kolaborator
didasarkan kepada pertimbangan bahwa yang bersangkutan merupakan guru
tetap dengan status sebagai pegawai negeri sipil (PNS) yang ditugaskan di
SMP Negeri 3 Sukaresmi.