Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN HALUSINASI

DI RSJD. Dr.AMINO GONDOHUTOMO
SEMARANG

OLEH:

NURHAKIM YUDHI WIBOWO
NIM G6B008068

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2009

1999) Jadi dapat disimpulkan bahwa halusinasi adalah gangguan persepsi tanpa ada rangsangan dari luar. 1998). padahal rangsangan primer dari halusinasi adalah kebutuhan perlindungan diri secara psikologik terhadap kejadian traumatik sehubungan dengan rasa bersalah. distorsi atau kelainan berespon terhadap semua stimulus (Towsend. . Halusinasi merupakan gangguan persepsi dimana klien mempersepsikan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi. 1998). Pengertian Halusinasi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami perubahan dalam jumlah dan pola dari stimulus yang mendekat (yang diprakarsai secara internal atau eksternal) disertai dengan suatu pengurangan. marah. rasa sepi. berlebih – lebihan. suatu pencerapan panca indra tanpa ada rangsangan dari luar (Maramis. tidak dapat mengendalikan dorongan ego. Proses Terjadinya Masalah 1. (Budi Anna Keliat. Halusinasi adalah gangguan pencerapan (persepsi) panca indera tanpa adanya rangsangan dari luar yang dapat meliputi semua sistem penginderaan di mana terjadi pada saat kesadaran individu itu penuh/baik. Individu yang mengalami halusinasi seringkali beranggapan sumber atau penyebab halusinasi itu berasal dari lingkungannya. rasa takut ditinggalkan oleh orang yang diicintai. Masalah Utama: Perubahan persepsi sensori: halusinasi B. pikiran dan perasaannya sendiri.FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS KEPERAWATAN JIWA LAPORAN PENDAHULUAN A.

Tahap 3: halusinasi bersifat mengendalikan Gejala klinis :  Cenderung mengikuti halusinasi  Kesulitan berhubungan dengan orang lain  Perhatian atau konsentrasi menurun dan cepat berubah  Kecemasan berat (berkeringat. Tahap 2: halusinasi bersifat menjijikkan Gejala klinis :  Cemas  Konsentrasi menurun  Ketidakmampuan membedakan nyata dan tidak nyata 3. Juga keterangan dari pasien sendiri tentang halusinasi yang dialaminya (apa yang dilihat. tidak mampu mengikuti petunjuk) 4. gelisah. secara tiba-tiba marah atau menyerang orang lain. gemetar. melakukan gerakan seperti sedang menikmati sesuatu. tersenyum atau berbicara sendiri. sering didapatkan duduk terpaku dengan pandangan mata pada satu arah tertentu.Tanda dan Gejala: Pasien dengan halusinasi cenderung menarik diri. Tahap 1: halusinasi bersifat tidak menyenangkan Gejala klinis :  Menyeriangai/tertawa tidak sesuai  Menggerakkan bibir tanpa bicara  Gerakan mata cepat  Bicara lambat  Diam dan pikiran dipenuhi sesuatu yang mengasikkan 2. didengar atau dirasakan). Tahap 4: halusinasi bersifat menaklukkan Gejala klinis :  Pasien mengikuti halusinasi . Berikut ini merupakan gejala klinis berdasarkan halusinasi: 1.

Aspek sosial  Duduk menyendiri  Selalu tunduk  Tampak melamun  Tidak peduli lingkungan  Menghindar dari orang lain  Tergantung dari orang lain . Dampak selanjutnya klien akan lebih terfokus pada dirinya. Tanda dan gejalanya dilihat dari beberapa aspek. Stimulus internal menjadi lebih dominan dibandingkan stimulus eksternal. merengek. Aspek fisik :  Makan dan minum kurang  Tidur kurang atau terganggu  Penampilan diri kurang  Keberanian kurang b.  Tidak mampu mengendalikan diri  Tidak mamapu mengikuti perintah nyata  Beresiko mencederai diri. Klien lama kelamaan kehilangan kemampuan membedakan stimulus internal dengan stumulus eksternal. 1999) 2. Akibat rendah diri dan kurangnya keterampilan berhubungan sosial klien menjadi menarik diri dari lingkungan. Penyebab Yang menjadi penyebab atau sebagai triger munculnya halusinasi antara lain klien menarik diri dan harga diri rendah. menangis seperti anak kecil  Merasa malu. Kondisi ini memicu terjadinya halusinasi. yaitu : a. orang lain dan lingkungan (Budi Anna Keliat. Aspek emosi :  Bicara tidak jelas. bersalah  Mudah panik dan tiba-tiba marah c.

Aspek intelektual  Putus asa  Merasa sendiri. Pohon Masalah Risiko mencederai diri. Klien benar- benar kehilangan kemampuan penilaian realitas terhadap lingkungan. di mana klien mengalami panik dan perilakunya dikendalikan oleh isi halusinasinya. Tanda dan gejala: ▪ Muka merah ▪ Pandangan tajam ▪ Otot tegang ▪ Nada suara tinggi ▪ Berdebat ▪ Sering pula tampak klien memaksakan kehendak: merampas makanan. C. Dalam situasi ini klien dapat melakukan bunuh diri. membunuh orang lain bahkan merusak lingkungan. tidak ada sokongan  Kurang percaya diri 3. d. orang lain dan lingkungan Perubahan sensori perseptual: halusinasi Isolasi sosial : menarik diri Harga diri rendah . memukul jika tidak senang. orang lain maupun merusak lingkungan (risiko mencederai diri. Hal ini terjadi jika halusinasi sudah sampai fase ke IV. Akibat Klien yang mengalami halusinasi dapat kehilangan control dirinya sehingga bisa membahayakan diri sendiri. orang lain dan lingkungan).

memukul diri sendiri/orang lain. b. Masalah Keperawatan dan Data yang Perlu Dikaji 1.  Riwayat perilaku kekerasan atau gangguan jiwa lainnya. Perubahan sensori perseptual : halusinasi c. pandangan tajam. Masalah keperawatan a.  Merusak dan melempar barang-barang.  Ekspresi marah saat membicarakan orang. orang lain dan lingkungan Data Subyektif :  Klien mengatakan benci atau kesal pada seseorang. orang lain dan lingkungan b. Data Objektif :  Mata merah. bicara menguasai: berteriak.D. Risiko mencederai diri. wajah agak merah. menjerit. Risiko mencederai diri. Isolasi sosial : menarik diri 2. Perubahan sensori perseptual : halusinasi Data Subjektif :  Klien mengatakan mendengar bunyi yang tidak berhubungan dengan stimulus nyata  Klien mengatakan melihat gambaran tanpa ada stimulus yang nyata  Klien mengatakan mencium bau tanpa stimulus  Klien merasa makan sesuatu .  Nada suara tinggi dan keras. Data yang perlu dikaji a.  Klien suka membentak dan menyerang orang yang mengusiknya jika sedang kesal atau marah.

bingung bila disuruh memilih alternatif tindakan. Komunikasi verbal kurang. Isolasi sosial : menarik diri F. ingin mencederai diri/ingin mengakhiri hidup. Isolasi sosial : menarik diri Data Subyektif : Klien mengatakan saya tidak mampu. tidak tahu apa-apa. Posisi janin pada saat tidur. Menolak berhubungan. Perubahan sensori persepsi : halusinasi 2. Ekspresi sedih. mengungkapkan perasaan malu terhadap diri sendiri. bodoh. Apatis.  Klien merasa ada sesuatu pada kulitnya  Klien takut pada suara/bunyi/gambar yang dilihat dan didengar  Klien ingin memukul/melempar barang- barang Data Objektif :  Klien berbicara dan tertawa sendiri  Klien bersikap seperti mendengar/melihat sesuatu  Klien berhenti bicara ditengah kalimat untuk mendengarkan sesuatu  Disorientasi c. Data Obyektif : Klien terlihat lebih suka sendiri. tidak bisa. Diagnosa Keperawatan 1. mengkritik diri sendiri. Rencana Tindakan Keperawatan Diagnosa I : perubahan sensori persepsi halusinasi . Kurang memperhatikan kebersihan E. Aktivitas menurun.

Berikan perhatian kepada klien dan perhatian kebutuhan dasar klien 2. Tanyakan apakah ada suara yang didengar b. Jujur dan menepati janji f. Katakan perawat percaya klien mendengar suara itu . Perkenalkan diri dengan sopan c.Tujuan umum : klien tidak mencederai diri sendiri. Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya g.1 Adakan kontak sering dan singkat secara bertahap 2. Klien dapat mengenal halusinasinya Tindakan : 2. Klien dapat membina hubungan saling percaya dasar untuk kelancaran hubungan interaksi seanjutnya Tindakan : 1. Apa yang dikatakan halusinasinya c. orang lain dan lingkungan Tujuan khusus : 1. Jelaskan tujuan pertemuan e. namun perawat sendiri tidak mendengarnya. Katakan bahwa klien lain juga ada yang seperti itu .2 Observasi tingkah laku klien terkait dengan halusinasinya: bicara dan tertawa tanpa stimulus memandang ke kiri/ke kanan/ kedepan seolah-olah ada teman bicara 2. Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai d. Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal b.1 Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik dengan cara : a.3 Bantu klien mengenal halusinasinya a. d.

menyibukkan diri dll) 3. Katakan “ saya tidak mau dengar” b. stimulasi persepsi 4. e. senang) beri kesempatan klien mengungkapkan perasaannya 3.4 Bantu klien memilih dan melatih cara memutus halusinasinya secara bertahap 3. Klien dapat mengontrol halusinasinya Tindakan : 3. realita. Klien mendapat dukungan dari keluarga dalam mengontrol halusinasinya Tindakan : . sedih. jika bermanfaat ber pujian 3. Meminta keluarga/teman/perawat untuk menyapa jika klien tampak bicara sendiri 3.1 Identifikasi bersama klien cara tindakan yang dilakukan jika terjadi halusinasi ( tidur. sore.3 Diskusikan cara baru untuk memutus/mengontrol timbulnya halusinasi: a. takut. Menemui orang lain c.7 Anjurkan klien mengikuti TAK.6 Evaluasi hasilnya dan beri pujian jika berhasil 3.2 Diskusikan manfaat cara yang digunakan klien. malam) 2.4 Diskusikan dengan klien : a. Situasi yang menimbulkan/tidak menimbulkan halusinasi b. marah. siang.5 Diskusikan dengan klien apa yang dirasakan jika terjadi halusinasi (marah. Membuat jadwal kegiatan sehari-hari d. orientasi. Waktu dan frekuensi terjadinya halusinasi (pagi. Katakan bahwa perawat akan membantu klien 2.5 Beri kesempatan untuk melakukan cara yang telah dilatih 3.

1 Diskusikan dengan klien dan keluarga tentang dosis.5 Bantu klien menggunakan obat dengan prinsip 6 benar. Klien dapat membina hubungan saling percaya . dan resiko mencederai diri atau orang lain 5. frekuensi dan manfaat minum obat 5.3 Anjurkan klien bicara dengan dokter tentang manfaat dan efek samping minum obat yang dirasakan 5.2 Diskusikan dengan keluarga (pada saat berkunjung/pada saat kunjungan rumah): a.2 Anjurkan klien meminta sendiri obat pada perawat dan merasakan manfaatnya 5. Klien memanfaatkan obat dengan baik Tindakan : 5.4 Diskusikan akibat berhenti obat-obat tanpa konsultasi 5. Beri informasi waktu follow up atau kenapa perlu mendapat bantuan : halusinasi tidak terkontrol. jangan biarkan sendiri. bepergian bersama d. Cara yang dapat dilakukan klien dan keuarga untuk memutus halusinasi c. diberi kegiatan. Gejala halusinasi yang dialami klien b. 4.1 Anjurkan klien untuk memberitahu keluarga jika mengalami halusinasi 4. Cara merawat anggota keluarga yang halusinasi dirumah. makan bersama. Diagnosa II : isolasi sosial menarik diri Tujuan umum : klien tidak terjadi perubahan sensori persepsi: halusinasi Tujuan khusus : 1.

tanda-tanda serta penyebab yang muncul 2. 1. 2. Bina hubungan saling percaya: salam terapeutik. Diskusikan bersama klien tentang perilaku menarik diri.Tindakan : 1.1.1 Kaji pengetahuan klien tentang perilaku menarik diri dan tanda- tandanya 2. Klien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain.2. jelaskan tujuan interaksi. Diskusikan bersama klien tentang manfaat berhubungan dengan orang lain .1. Berikan pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaannya 3. tunjukkan bahwa perawat mengikuti pembicaraan klien. 1. Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan penyebab menarik diri atau mau bergaul 2. buat kesepakatan dengan jelas tentang topik. ciptakan lingkungan yang tenang. Tindakan : 3. Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan tentang keuntungan berhubungan dengan prang lain b.1. memperkenalkan diri.3. 3. Beri perhatian dan penghaargaan: temani klien walau tidak menjawab.1 Kaji pengetahuan klien tentang manfaat dan keuntungan berhubungan dengan orang lain a.1. tempat dan waktu. Dengarkan dengan empati: beri kesempatan bicara. Klien dapat menyebutkan penyebab menarik diri Tindakan : 2. jangan terburu- buru.

Beri reinforcement positif terhadap kemampuan mengungkapkan perasaan tentang keuntungan berhubungan dengan orang lain 3.5 Diskusikan jadwal harian yang dilakukan bersama klien dalam mengisi waktu 4. Beri reinforcement positif terhadap kemampuan mengungkapkan perasaan tentang kerugian tidak berhubungan dengan orang lain 4. Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan dengan orang lain b. Klien dapat melaksanakan hubungan sosial Tindakan : 4. c.2 Kaji pengetahuan klien tentang kerugian bila tidak berhubungan dengan orang lain a.3 Beri reinforcement positif terhadap keberhasilan yang telah dicapai 4. Diskusikan bersama klien tentang kerugian tidak berhubungan dengan orang lain c.6 Motivasi klien untuk mengikuti kegiatan ruangan 4. Klien dapat mengungkapkan perasaannya setelah berhubungan dengan orang lain Tindakan : .7 Beri reinforcement positif atas kegiatan klien dalam kegiatan ruangan 5.4 Bantu klien untuk mengevaluasi manfaat berhubungan 4.2 Dorong dan bantu kien untuk berhubungan dengan orang lain melalui tahap :  K–P  K – P – P lain  K – P – P lain – K lain  K – Kel/Klp/Masy 4.1 Kaji kemampuan klien membina hubungan dengan orang lain 4.

Klien dapat memberdayakan sistem pendukung atau keluarga Tindakan : 6.3 Dorong anggota keluarga untukmemberikan dukungan kepada klien untuk berkomunikasi dengan orang lain 6.1 Bina hubungan saling percaya dengan keluarga :  Salam.5.5 Beri reinforcement positif positif atas hal-hal yang telah dicapai oleh keluarga .4 Anjurkan anggota keluarga secara rutin dan bergantian menjenguk klien minimal satu kali seminggu 6.2 Diskusikan dengan anggota keluarga tentang :  Perilaku menarik diri  Penyebab perilaku menarik diri  Akibat yang terjadi jika perilaku menarik diri tidak ditanggapi  Cara keluarga menghadapi klien menarik diri 6.2 Diskusikan dengan klien tentang perasaan masnfaat berhubungan dengan orang lain 5. perkenalan diri  Jelaskan tujuan  Buat kontrak  Eksplorasi perasaan klien 6.3 Beri reinforcement positif atas kemampuan klien mengungkapkan perasaan manfaat berhubungan dengan oranglain 6.1 Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya bila berhubungan dengan orang lain 5.

1999 . 1999 3. Keliat Budi Ana. Stuart GW. Jakarta : FIK UI. Jakarta : EGC. Jakarta : EGC. 1995 2. Keliat BA. DAFTAR PUSTAKA 1. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Edisi I. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Sundeen. Asuhan Klien Gangguan Hubungan Sosial: Menarik Diri.

Amino Gonohutomo. Edisi 1. Aziz R. Proses kesehatan jiwa. Bandung. 1999 5. dkk. Edisi 1.4. 2003 6. Standar Asuhan Keperawatan Jiwa. Keliat BA. RSJP Bandung. Pedoman Asuhan Keperawatan Jiwa Semarang : RSJD Dr. 2000 . Tim Direktorat Keswa. Jakarta : EGC.