Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Intensive care unit (ICU) merupakan suatu area yang sangat spesifik dan
canggih di rumah sakit dimana desain, staf, lokasi, perlengkapan dan peralatan,
didedikasikan untuk mengelola pasien dengan penyakit kritis, luka dan
komplikasi yang telah nyata terjadi maupun berpotensi untuk terjadi yang
mengancam kehidupan. Ruang ICU menyediakan pelayanan keahlian dan
fasilitas khusus yang berfungsi untuk mendukung tanda-tanda vital dan
menggunakan staf kesehatan yang telah berpengalaman mengatasi permasalahan
tersebut (Rungta et al, 2007, Depkes RI, 2006). Ruang ICU memberikan
pelayanan berupa diagnosa dan penatalaksanaan spesifik penyakit akut yang
mengancam nyawa dan berpotensi menimbulkan kematian dalam beberapa
menit ataupun beberapa hari. Memberikan bantuan untuk fungsi vital tubuh,
pemenuhan kebutuhan dasar, pemantauan fungsi vital, penatalaksanaan
komplikasi dan memberikan bantuan psikologis pada pasien yang bergantung
pada orang lain ataupun mesin (Depkes RI, 2006).
Staf yang ada di ICU terdiri dari multidisiplin tim yang berdedikasi,
bermotivasi tinggi, siap bekerja di bawah tekanan dalam jangka waktu yang lama.
Staf yang bekerja di ICU merupakan salah satu komponen yang sangat penting.
Mereka harus mampu bekerja dalam tim dan memiliki kualitas. Tim di ICU terdiri
dari intensivist, dokter jaga, perawat, ahli gizi, ahli terapi pernafasan, ahli
fisioterapi, teknisi, ahli program computer, farmasi, pekerja sosial, arsitek, staf
pendukung lainnya seperti petugas kebersihan dan penjaga keamanan. Kepala
arsitek yang bekerja harus berpengalaman dalam menata ruang-ruang dalam
rumah sakit dan penataan fungsi-fungsi ruang dalam rumah sakit.

1
1.2 Rumusan Masalah
a. Bagaimana perhitungan rasio perawat dan pasien di ICU ?
b. Apa saja indikasi pasien masuk dan keluar di ICU ?
c. Apa standar kompetensi minimal perawat di ICU ?
d. Apa saja klasifikasi pelayanan di ICU ?

1.3 Tujuan Penulisan


a. Tujuan Umum
Memahami tentang prosedur pelayanan di ruang ICU
b. Tujuan Khusus
1. Mahasiswa mampu memahami perhitungan rasio perawat dan pasien di
ICU
2. Mahasiswa mampu memahami indikasi pasien masuk dan keluar di ICU
3. Mahasiswa mampu memahami kompetensi minimal perawat di ICU
4. Mahasiswa mampu memahami klasifikasi pelayanan di ICU

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Perhitungan Rasio Jumlah Perawat-Pasien di ICU


Menurut Depkes (2002) dalam Winarti (2012) dasar perhitungan kebutuhan
jumlah perawat di unit critical care suatu rumah sakit adalah :
1. Rata-rata jumlah pasien/hari
2. Jumlah jam perawatan/hari = 12 jam
3. Rumus : rata-rata jumlah pasien/hari x jumlah jam perawatan/hari
Berikut contoh kasus, jumlah kebutuhan perawat di unit critical care suatu
rumah sakit sebagai berikut :
Rata-rata jumlah pasien/hari = 10
Jumlah jam perawatan/hari = 12
Jadi kebutuhan tenaga perawat di critical care :
10 x 12 = 17,15 = 17 orang
Kebutuhan jumlah tenaga keperawatan sebanyak 17 orang. Jumlah ini
belum mempertimbangkan dengan jumlah hari yang hilang (loss day). Jumlah
hari hilang secara umum adalah :
Jumlah hari minggu dalam 1 tahun =52
Jumlah waktu cuti dalam 1 tahun = 12
Jumlah hari libur besar/ agama dalam 1 tahun = 12-14
Loss day 78 x 17
286
Jadi jumlah tenaga yang diperlukan di unit critical care 17 orang + 4,6
orang = 21,6 atau 22 orang.
Menurut Kepmenkes Nomor 1778/MENKES/SK/XII/2010, jumlah
perawat pada ICU ditentukan berdasarkan jumlah tempat tidur dan ketersediaan
ventilasi mekanik. Perbandingan perawat : pasien yang menggunakan ventilasi
mekanik adalah 1:1, sedangkan perbandingan perawat : pasien yang tidak
menggunakan ventilasi mekanik adalah 1:2.

2.2. Indikasi pasien masuk dan keluar ICU


Pada keadaan sarana dan prasarana ICU yang terbatas pada suatu rumah
sakit, diperlukan mekanisme untuk membuat prioritas apabila kebutuhan atau
permintaan akan pelayanan ICU lebih tinggi daripada kemampuan pelayanan
yang dapat diberikan. Kepala ICU bertanggung jawab atas kesesuaian indikasi
perawatan pasien di ICU. Bila kebutuhan masuk ICU melebihi tempat tidur yang
tersedia, Kepala ICU menentukan berdasarkan prioritas kondisi medik, pasien
mana yang akan dirawat di ICU. Prosedur untuk melaksanakan kebijakan ini
harus dijelaskan secara rinci untuk tiap ICU. Menurut Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1778/Menkes/Sk/XII/2010, kriteria masuk
dan keluar pasien ICU antara lain:
1. Kriteria masuk
ICU memberikan pelayanan antara lain pemantauan yang canggih dan
terapi yang intensif. Dalam keadaan penggunaan tempat tidur yang tinggi,
pasien yang memerlukan terapi intensif (prioritas 1) didahulukan
dibandingkan pasien yang memerlukan pemantauan intensif (prioritas 3).

3
Penilaian objektif atas beratnya penyakit dan prognosis hendaknya digunakan
untuk menentukan prioritas masuk ke ICU.
a. Pasien prioritas 1 (satu)
Kelompok ini merupakan pasien sakit kritis, tidak stabil yang
memerlukan terapi intensif dan tertitrasi, seperti: dukungan/bantuan
ventilasi dan alat bantu suportif organ/sistem yang lain, infus obat-obat
vasoaktif kontinyu, obat anti aritmia kontinyu, pengobatan kontinyu
tertitrasi, dan lain-lainnya. Contoh pasien kelompok ini antara lain, pasca
bedah kardiotorasik, pasien sepsis berat,
gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit yang mengancam
nyawa. Institusi setempat dapat membuat kriteria spesifik untuk masuk
ICU, seperti derajat hipoksemia, hipotensi dibawah tekanan darah
tertentu. Terapi pada pasien prioritas 1 (satu) umumnya tidak mempunyai
batas.
b. Pasien prioritas 2 (dua)
Pasien ini memerlukan pelayanan pemantauan canggih di ICU,
sebab sangat berisiko bila tidak mendapatkan terapi intensif segera,
misalnya pemantauan intensif menggunakan pulmonary arterial catheter.
Contoh pasien seperti ini antara lain mereka yang menderita penyakit
dasar jantung-paru, gagal ginjal akut dan berat atau yang telah mengalami
pembedahan major. Terapi pada pasien prioritas 2 tidak mempunyai batas,
karena kondisi mediknya senantiasa berubah.
c. Pasien prioritas 3 (tiga)
Pasien golongan ini adalah pasien sakit kritis, yang tidak stabil
status kesehatan sebelumnya, penyakit yang mendasarinya, atau penyakit
akutnya, secara sendirian atau kombinasi. Kemungkinan sembuh dan/atau
manfaat terapi di ICU pada golongan ini sangat kecil. Contoh pasien ini
antara lain pasien dengan keganasan metastatik disertai penyulit infeksi,
pericardial tamponade, sumbatanjalan napas, atau pasien penyakit
jantung, penyakit paru terminal disertai komplikasi penyakit akut berat.
Pengelolaan pada pasien golongan ini hanya untuk mengatasi kegawatan
akutnya saja, dan usaha terapi mungkin tidak sampai melakukan intubasi
atau resusitasi jantung paru.

d. Pengecualian
Dengan pertimbangan luar biasa, dan atas persetujuan Kepala
ICU, indikasi masuk pada beberapa golongan pasien bias dikecualikan,
dengan catatan bahwa pasien-pasien golongan demikian sewaktu waktu
harus bisa dikeluarkan dari ICU agar fasilitas ICU yang terbatas tersebut
dapat digunakan untuk pasien prioritas
1, 2, 3 (satu, dua, tiga). Pasien yang tergolong demikian antara lain:
1) Pasien yang memenuhi kriteria masuk tetapi menolak terapi
tunjangan hidup yang agresif dan hanya demi “perawatan yang

4
aman” saja. Ini tidak menyingkirkan pasien dengan perintah “DNR
(Do Not Resuscitate)”. Sebenarnya pasien-pasien ini mungkin
mendapat manfaat dari tunjangan canggih yang tersedia di ICU untuk
meningkatkan kemungkinan survivalnya.
2) Pasien dalam keadaan vegetatif permanen.
3) Pasien yang telah dipastikan mengalami mati batang otak. Pasien-
pasien seperti itu dapat dimasukkan ke ICU untuk menunjang fungsi
organ hanya untuk kepentingan donor organ.

2. Kriteria keluar
Prioritas pasien dipindahkan dari ICU berdasarkan pertimbangan
medis dari kepala ICU atau tim lain, antara lain :
a. Penyakit atau keadaan pasien yang sudah membaik dan cukup stabil
sehingga tidak memerlukan terapi dan pemantauan intensif lebih lanjut.
b. Secara perkiraan dan perhitungan terapi atau pemantauan intensif tidak
bermanfaat atau tidak memberikan hasil yang berarti bagi pasien. Apalagi
pada waktu itu pasien tidak menggunakan alat bantu ventilasi mekanik.
Contoh pasien yang dalam menderita oenyakit (misal ARDS stadium
akhir). Pasien yang demikian sebelum dikeluarkan dari ICU, maka
keluarga harus diberikan penjelasan terlebih dahulu.
c. Pasien hanya memerlukan observasi secara intensif saja, sedangkan ada
pasien lain yang lebih gawat yang memerlukan terapi dan observasi
secara intensif. Pasien demikian perlu dipindahan ke ruang High Care
Unit (HCU).

2.3. Standar kompetensi minimal perawat ICU


Menurut Depkes RI (2011) tentang standar kompetensi perawat ICU
dibedakan berdasarkan klasifikasi ICU pada sebuah rumah sakit, antara lain :

1. Kompetensi Perawat Pelaksana


a. Kompetensi Untuk Perawat di ICU Primer :
1) Memahami konsep keperawatan intensif.
2) Memahami issue etik dan hokum pada perawatan intensif.
3) Mempergunakan ketrampilan komunikasi yang efektif.
4) Melakukan pengkajian dan menganalisa data yang didapat.
5) Pengelolaan jalan napas.
6) Melakukan fisioterapi dada.
7) Memberikan terapi inhalasi.
8) Memberikan terapi oksigen.
9) Mengukur saturasi oksigen.
10) Melakukan monitoring hemodinamik non invasif.
11) Memberikan BLS (Basic Life Support) dan ALS (Advanced Live
Support).
12) Melakukan perekaman elektro kardiogram (EKG) dan interpretasi
EKG.
13) Melakukan pengambilan spesimen untuk pemeriksaan laboratorium.
14) Mengetahui dan menginterpretasi hasil analisa gas darah (AGD).
15) Mempersiapkan dan asistensi pemasangan drainage thoraks.
16) Mempersiapkan dan melakukan pemberian terapi secara titrasi.
17) Melakukan pengelolaan nutrisi pada pasien kritis.
18) Pengelolaan pemberian terapi cairan dan elektrolit intra vena.

5
19) Melakukan penanggulangan infeksi nosokomial di ICU.
20) Mampu mengkaji dan mendukung mekanisme koping pasien yang
efektif.

b. Kompetensi Untuk Perawat di ICU Sekunder :


1) Memahami konsep keperawatan intensif.
2) Memahami issue etik dan hokum pada perawatan intensif.
3) Mempergunakan ketrampilan komunikasi yang efektif.
4) Melakukan pengkajian dan menganalisa data yang didapat.
5) Pengelolaan jalan napas.
6) Melakukan fisioterapi dada.
7) Memberikan terapi inhalasi.
8) Memberikan terapi oksigen.
9) Mengukur saturasi oksigen.
10) Melakukan monitoring hemodinamik non invasif.
11) Memberikan BLS (Basic Life Support) dan ALS (Advanced Live
Support).
12) Melakukan perekaman elektro kardiogram (EKG) dan interpretasi
EKG.
13) Melakukan pengambilan spesimen untuk pemeriksaan laboratorium.
14) Mengetahui dan menginterpretasi hasil analisa gas darah (AGD).
15) Mempersiapkan dan asistensi pemasangan drainage thoraks.
16) Mempersiapkan dan melakukan pemberian terapi secara titrasi.
17) Melakukan pengelolaan nutrisi pada pasien kritis.
18) Pengelolaan pemberian terapi cairan dan elektrolit intra vena.
19) Melakukan penanggulangan infeksi nosokomial di ICU.
20) Mampu mengkaji dan mendukung mekanisme koping pasien yang
efektif.
21) Pengelolaan pasien dengan ventilasi mekanik.
22) Pengelolaan pasien dengan drainage thoraks.
23) Mempersiapkan pemasangan monitoring infasif (tekanan vena
sentral, tekanan arteri sistemik dan pulmonal).
24) Melakukan pengukuran tekanan vena sentral dan arteri.
25) Melakukan pengelolaan terapi trombolitik.
26) Melakukan persiapan renal replacement therapy.

c. Kompetensi untuk perawat di ICU tersier :


1) Memahami konsep keperawatan intensif.
2) Memahami issue etik dan hokum pada perawatan intensif.
3) Mempergunakan ketrampilan komunikasi yang efektif.
4) Melakukan pengkajian dan menganalisa data yang didapat.
5) Pengelolaan jalan napas.
6) Melakukan fisioterapi dada.
7) Memberikan terapi inhalasi.
8) Memberikan terapi oksigen.
9) Mengukur saturasi oksigen.
10) Melakukan monitoring hemodinamik non invasif.
11) Memberikan BLS (Basic Life Support) dan ALS (Advanced Live
Support).
12) Melakukan perekaman elektro kardiogram (EKG) dan interpretasi
EKG.
13) Melakukan pengambilan spesimen untuk pemeriksaan laboratorium.
14) Mengetahui dan menginterpretasi hasil analisa gas darah (AGD).
15) Mempersiapkan dan asistensi pemasangan drainage thoraks.
16) Mempersiapkan dan melakukan pemberian terapi secara titrasi.
17) Melakukan pengelolaan nutrisi pada pasien kritis.

6
18) Pengelolaan pemberian terapi cairan dan elektrolit intra vena.
19) Melakukan penanggulangan infeksi nosokomial di ICU.
20) Mampu mengkaji dan mendukung mekanisme koping pasien yang
efektif.
21) Pengelolaan pasien dengan ventilasi mekanik.
22) Pengelolaan pasien dengan drainage thoraks.
23) Mempersiapkan pemasangan monitoring infasif (tekanan vena
sentral, tekanan arteri sistemik dan pulmonal).
24) Melakukan pengukuran tekanan vena sentral dan arteri.
25) Melakukan pengelolaan terapi trombolitik.
26) Melakukan persiapan renal replacement therapy.
27) Mengetahui persiapan pemasangan intraaortic artery baloon pump
(IABP).
28) Melakukan persiapan continuous renal replacement therapy (CRRT).

2. Standar Kompetensi Perawat Manajerial di ICU


a. Kompetensi Perawat Penanggung Jawab Shift (Perawat Primer) :
1) Memahami konsep keperawatan intensif.
2) Memahami issue etik dan hokum pada perawatan intensif.
3) Mempergunakan ketrampilan komunikasi yang efektif.
4) Melakukan pengkajian dan menganalisa data yang didapat.
5) Pengelolaan jalan napas.
6) Melakukan fisioterapi dada.
7) Memberikan terapi inhalasi.
8) Memberikan terapi oksigen.
9) Mengukur saturasi oksigen.
10) Melakukan monitoring hemodinamik non invasif.
11) Memberikan BLS (Basic Life Support) dan ALS (Advanced Live
Support).
12) Melakukan perekaman elektro kardiogram (EKG) dan interpretasi
EKG.
13) Melakukan pengambilan spesimen untuk pemeriksaan laboratorium.
14) Mengetahui dan menginterpretasi hasil analisa gas darah (AGD).
15) Mempersiapkan dan asistensi pemasangan drainage thoraks.
16) Mempersiapkan dan melakukan pemberian terapi secara titrasi.
17) Melakukan pengelolaan nutrisi pada pasien kritis.
18) Pengelolaan pemberian terapi cairan dan elektrolit intra vena.
19) Melakukan penanggulangan infeksi nosokomial di ICU.
20) Mampu mengkaji dan mendukung mekanisme koping pasien yang
efektif.
21) Kemampuan leadership.

b. Kompetensi Perawat Kepala Ruangan (Head Nurse) :


1) Memahami konsep keperawatan intensif.
2) Memahami issue etik dan hokum pada perawatan intensif.
3) Mempergunakan ketrampilan komunikasi yang efektif.
4) Melakukan pengkajian dan menganalisa data yang didapat.
5) Pengelolaan jalan napas.
6) Melakukan fisioterapi dada.
7) Memberikan terapi inhalasi.
8) Memberikan terapi oksigen.
9) Mengukur saturasi oksigen.
10) Melakukan monitoring hemodinamik non invasif.
11) Memberikan BLS (Basic Life Support) dan ALS (Advanced Live
Support).

7
12) Melakukan perekaman elektro kardiogram (EKG) dan interpretasi
EKG.
13) Melakukan pengambilan spesimen untuk pemeriksaan laboratorium.
14) Mengetahui dan menginterpretasi hasil analisa gas darah (AGD).
15) Mempersiapkan dan asistensi pemasangan drainage thoraks.
16) Mempersiapkan dan melakukan pemberian terapi secara titrasi.
17) Melakukan pengelolaan nutrisi pada pasien kritis.
18) Pengelolaan pemberian terapi cairan dan elektrolit intra vena.
19) Melakukan penanggulangan infeksi nosokomial di ICU.
20) Mampu mengkaji dan mendukung mekanisme koping pasien yang
efektif.
21) Kemampuan leadership.
22) Kompetensi Manejerial.

2.4. Klasifikasi Pelayanan ICU di Rumah Sakit


Dalam menyelenggarakan pelayanan di rumah sakit, pelayanan ICU
dibagi dalam beberapa klasifikasi pelayanan. Jenis tenaga dan kelengkapan
pelayanan menentukan klasifikasi pelayanan ICU di rumah sakit, yaitu pelayanan
ICU primer, sekunder, dan tersier (RS Haji, 2019).
a. Pelayanan ICU Primer
Pelayanan ICU primer mampu memberikan pengelolaan resusitatif
segera untuk pasien sakit gawat tunjangan kardio-respirasi jangka pendek,
dan mempunyai peran penting dalam pemantauan dan pencegahan
penyulit pada pasien medik dan bedah yang berisiko. Dalam ICU
dilakukan ventilasi mekanik dan pemantauan kardiovaskuler sederhana
selama beberapa jam.
b. Pelayanan ICU Sekunder
Pelayanan ICU sekunder memberikan standar ICU umum yang
tinggi, yang mendukung peran rumah sakit yang lain yang telah
digariskan misalnya kedokteran umum, bedah, pengelolaan trauma, bedah
saraf, bedah vaskuler, dan lain-lainnya. ICU hendaknya mampu
memberikan tunjangan ventilasi mekanis lebih lama melakukan
dukungan/bantuan hidup lain tetapi tidak terlalu kompleks.
c. Pelayanan ICU Tersier
Pelayanan ICU tersier merupakan rujukan tertinggi untuk ICU,
memberikan pelayanan yang tertinggi termasuk dukungan/bantuan hidup
multi-sistim yang kompleks dalam jangka waktu yang tak terbatas. ICU
ini melakukan ventilasi mekanis pelayanan dukungan/bantuan renal
ekstrakorporal dan pemantauan kardiovaskuler invasif dalam jangka
waktu tak terbatas dan mempunyai dukungan pelayanan penunjang
medik. Semua pasien yang masuk kedalam unit harus dirujuk untuk
dikelola oleh spesialis intensive care.
Tabel Jenis Kemampuan Pelayanan ICU

No. Primer Sekunder Tersier


1. Resusitasi jantung Resusitasi jantung Resusitasi jantung
paru paru paru

8
2. Pengelolaan jalan Pengelolaan jalan Pengelolaan jalan
napas, termasuk napas, termasuk napas, termasuk
intubasi trakea intubasi trakea dan intubasi trakea dan
dan ventilasi ventilasi mekanik ventilasi mekanik
mekanik
3. Terapi oksigen Terapi oksigen Terapi oksigen
4. Pemasangan Pemasangan kateter Pemasangan kateter
kateter vena vena sentral dan vena sentral, arteri,
sentral arteri swan ganz, ICF dan
ECHO monitoring
5. Pemantauan Pemantauan EKG, Pemantauan EKG,
EKG, puls puls oksimetri, dan puls oksimetri, dan
oksimetri, dan tekanan darah non tekanan darah non
tekanan darah non invasive dan invasive invasive dan
invasive invasive, swan ganz,
ICF dan ECHO
monitoring
6. Pelaksanaan Pelaksanaan terapi Pelaksanaan terapi
terapi secara secara tittrasi secara tittrasi
tittrasi
7. Pemberian nutrisi Pemberian nutrisi Pemberian nutrisi
enteral dan enteral dan enteral dan
parenteral parenteral parenteral
8. Pemeriksaan Pemeriksaan Pemeriksaan
laboratorium laboratorium khusus laboratorium khusus
khusus dengan dengan cepat dan dengan cepat dan
cepat dan menyeluruh menyeluruh
menyeluruh
9. Fungsi vital Fungsi vital dengan Fungsi vital dengan
dengan alat-alat alat-alat portable alat-alat portable
portable selama selama tranportasi selama tranportasi
tranportasi pasien pasien gawat pasien gawat
gawat
10. Kemampuan Kemampuan Kemampuan
melakukan melakukan melakukan
fisioterapi dada fisioterapi dada fisioterapi dada
11. - Melakukan prosedur Melakukan prosedur
isolasi isolasi
12. - Melakukan Melakukan

9
hemodialisis dan hemodialisis dan
kontinyu kontinyu

Tabel Klasifikasi Ketenaagaan Berdasarkan Jenis Pelayanan ICU

No Jenis Primer Sekunder Tersier


Tenaga
1 Kepala 1. Dokter spesialis 1. Dokter Dokter intensivis
ICU anestesi intensivis
2. Dokter spesialis lain 2. Dokter spesialis
yang mengikuti anestesi (jika
pelatihan ICU (jika belum ada
belum ada spesialis intensivis)
anestesi)
2 TIM 1. Dokter spesialis 1. Dokter spesialis 1. Dokter
medis sebagai konsultan sebagai spesialis
(yang dapat konsultan (yang sebagai
dihubungi setiap dapat dihubungi konsultan
diperlukan) setiap (yang dapat
2. Dokter jaga 24 jam
diperlukan) dihubungi
dengan kemampuan 2. Dokter jaga 24
setiap
resusitasi jantung jam dengan
diperlukan)
paru yang kemampuan 2. Dokter jaga
bersertifikat ALS/ACLS dan 24 jam
bantuan hidup dasar FCCS dengan
dan lanjutan kemampuan
ALS/ACLS
dan FCCS
3 Perawat Perawat terlatih bantuan Minimal 50% dari Minimal 75%
hidup dasar dan bantuan jumlah seluruh dari jumlah
hidup lanjut perawat telah seluruh perawat
terlatih dan telah terlatih dan
memiliki sertifikat memiliki
pelatihan ICU sertifikat
pelatihan ICU
4 Tenaga 1. Tenaga administrasi 1. Tenaga 1. Tenaga
non di ICU harus administrasi di adinistrasi di
medis mempunyai ICU harus ICU harus
kemampuan mempunyai mempunyai
mengoperasikan kemampuan kemampuan
komputer yang mengoperasika mengoperasik
berhubungan dengan n komputer an komputer

10
masalah administrasi yang yang
2. Tenaga pekarya
berhubungan berhubungan
3. Tenaga kebersihan
dengan dengan
masalah masalah
administrasi administrasi
2. Tenaga pekarya 2. Tenaga
3. Tenaga
laboratorium
kebersihan 3. Tenaga
farmasi
4. Tenaga rekam
medik
5. Tenaga
pekarya
6. Tenaga
kebersihan
7. Tenaga untuk
kepentingan
ilmiah dan
penelitian

BAB III

11
PENUTUP

3.1 Simpulan
Intensive Care Unit (ICU) adalah suatu bagian dari rumah sakit yang
terpisah, dengan staf yang khusus dan perlengkapan yang khusus yang ditujukan
untuk observasi, perawatan dan terapi pasien-pasien yang menderita penyakit,
cedera atau penyulit-penyukit yang mengancam jiwa atau potensial mengancam
jiwa dengan prognosis dubia (buku pedoman pelayanan ICU, 2003). Dalam
menyelenggarakan pelayanan, pelayanan ICU di rumah sakit dibagi dalam tiga
klasifikasi pelayanan yaitu: Pelayanan ICU primer, sekunder dan tersier.
Pedoman pelayanan ICU di rumah sakit diharapkan dapat menjadi
panduan bagi seluruh petugas di ICU dengan mengembangkan pelayanan sesuai
situasi dan kondisi untuk kelancaran setiap pelaksanaan ICU di rumah sakit
sehingga hambatan dalam menjalankan pelaksaan pelayanan bisa diminimalkan.

3.2 Saran
Tenaga Kesehatan yang bekerja di ruang ICU khususnya perawat, harus
mengetahui mengenai prosedur pelayanan di ICU sehingga dapat mewujudkan
pelayanan kesehatan untuk pasien secara terkoordinasi dan profesional.

12