Anda di halaman 1dari 12

USEJ 3 (3) (2014)

Unnes Science Education Journal

http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/usej

PENGEMBANGAN ALAT EVALUASI IPA TERPADU BERBASIS


KETERAMPILAN PROSES SAINS PADA TEMA MIKROSKOP
DAN JARINGAN TUMBUHAN

Putri Rochimatun Hidayah Widianingrum  dan Sudarmin

Jurusan IPA Terpadu, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam


Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Info Artikel Abstrak


________________ ___________________________________________________________________
Sejarah Artikel: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan dan efektifitas alat evaluasi IPA terpadu berbasis
Diterima Juli 2014 keterampilan proses sains (KPS) tema mikroskop dan jaringan tumbuhan. Metode penelitian yang digunakan
Disetujui September 2014 adalah metode penelitian dan pengembangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada penilaian tahap I alat
evaluasi mendapatkan skor rata-rata 100%. Penilaian kelayakan alat evaluasi tahap II didapatkan rata-rata
Dipublikasikan
validasi komponen isi 4,00, komponen bahasa dan penyajian 3,95, dan komponen evaluasi 3,58. Ketuntasan
November 2014
hasil belajar klasikal aspek KPS sebesar 87,5%, sedangkan penilaian aspek KPS pada ranah psikomotor
________________ didapatkan rata-rata aspek mengamati 3,51, aspek mengelompokkan 3,45, aspek mengkomunikasikan 3.43, dan
Keywords: aspek menyimpulkan 3,41. Simpulan yang dapat diperoleh adalah alat evaluasi IPA terpadu berbasis
Alat Evaluasi; keterampilan proses sains dikatakan layak untuk digunakan berdasarkan kriteria BSNP dan efektif digunakan
Keterampilan Proses Sains; untuk melakukan penilaian keterampilan proses sains siswa.
IPA Terpadu.
____________________ Abstract
___________________________________________________________________
Research aims to produce an assessment of Integreted Natural Science based on Science Process Skill theme Microscopes and
Plant Tissues. The method used is the Research and Development or Research and development (R&D). The results showed
that the phase I assessment get an average score of 100%. Feasibility assessment phase II obtained an average content of 4.00
validation component, the component language and presentation of 3.95, 3.58 and component evaluation. Usege of
assessment get the classical completenness 87.5% in cognitive learning outcomes. On the measurement result on the students’
science process skill for the use of test scores obtained 3.51, 3.45 classify aspects, aspects of communicating 3.43, 3.41 inferring
aspects. Based of research, assessment based on science process skill is feasible based criteria of BSNP and effective used as an
assessment to assess the students’science process skill theme microscope and plant tissues.

© 2014 Universitas Negeri Semarang


Alamat korespondensi: ISSN 2252-6617
Jurusan IPA Terpadu FMIPA Universitas Negeri Semarang
Gedung D7 Kampus Sekaran Gunungpati
Telp. (024) 70805795 Kode Pos 50229
E-mail: putriwidia99@yahoo.com

641
Putri Rochimatun Hidayah Widianingrum dan Sudarmin / Unnes Science Education Journal 3 (3) (2014)

PENDAHULUAN Keterampilan Proses Sains (KPS)


merupakan keterampilan dalam menemukan
Proses pembelajaran meliputi tiga fakta, prinsip, konsep-konsep dasar melalui suatu
komponen yang saling terkait yaitu tujuan kegiatan ilmiah (Rustaman, 2004), atau
pembelajaran, strategi pembelajaran, dan evaluasi dijelaskan pula keterampilan proses adalah suatu
atau penilaian. Kegiatan evaluasi memiliki pendekatan ilmu pengetahuan alam didasarkan
peranan penting dalam kegiatan pembelajaran. atas pengamatan terhadap apa yang dilakukan
Evaluasi dapat memberikan gambaran tentang oleh seorang ilmuan (Rusmiati & Yulianto,
tingkat penguasaan siswa terhadap suatu materi, 2009). Aspek keterampilan proses sains (KPS)
memberikan gambaran tentang kesulitan belajar menurut Rustaman (2004) terdiri atas sembilan
siswa, dan memberikan gambaran tentang posisi aspek, dalam penelitian ini aspek yang
siswa diantara kawan-kawannya. dikembangkan oleh peneliti pada alat evaluasi
Alat evaluasi adalah alat-alat yang IPA terpadu meliputi keterampilan pada aspek
digunakan untuk pengumpulan informasi tentang mengamati, mengelompokkan,
peserta didik, berkenaan dengan apa yang mereka mengkomunikasikan, dan menyimpulkan.
ketahui dan apa yang mereka dapat lakukan Hasil penelitian Maknun et al (2012),
(Surjanti, 2006). Menyongsong kurikulum 2013 menunjukkan bahwa selama kegiatan
yang dilaksankan di SMP, perangkan pembelajaran perlu adanya suatu kegiatan-
pembelajaran yang digunakan haruslah perangkat kegiatan keterampilan proses sains seperti
pembelajaran IPA terpadu. Sehingga sangat keterampilan mengamati, mengkomunikasikan,
penting bagi seorang pendidik untuk menyimpulkan harus dilaksanakan. Karena
mengembangkan alat evaluasi Ilmu Pengetahuan keterampilan proses ini bukan hanya berkaitan
alam (IPA) terpadu untuk menilai kegiatan dengan keterampilan dasar saja, tetapi juga
pembelajaran. menyangkut keterampilan fisik serta mental
Hasil observasi di SMP Negeri 2 peserta didik. Adanya suatu kegiatan
Selopampang Kabupaten Temanggung keterampilan proses sains juga harus dilengkapi
menunjukkan bahwa alat evaluasi yang kegiatan dengan alat evaluasi untuk menilai keterampilan
evaluasi yang digunakan dalam kegiatan proses sains siswa selama kegiatan pembelajaran.
penilaian berupa alat evaluasi tes pilihan ganda, Kegiatan penilaian keterampilan proses
masih sedikit guru yang menggunakan alat sains siswa dapat dilakukan pada ranah kognitif
evaluasi untuk mengukur keterampilan afektif, dan ranah psikomotor peserta didik. Karena
psikomotor. Padahal selama proses pembelajaran keterampilan proses sains siswa merupakan
berlangsung, baik aspek kognitif, afektif, keterampilan dasar untuk meningkatkan nilai,
psikomotor harus memiliki suatu alat evaluasi sikap, serta keterampilan siswa. Kegiatan
yang tepat, agar guru dapat mengetahui sejauh penilaian keterampilan proses sains siswa dapat
mana keberhasilan proses pembelajaran. diintegrasikan dalam kegiatan praktikum siswa,
IPA merupakan salah satu disiplin ilmu sehingga siswa diharapkan memiliki kemampuan
yang berkembang melalui langkah-langkah menguasai konsep, meningkatkan kreativitas, dan
observasi, perumusan masalah, penyusunan kesadaran memahami permasalahan (Yuniastuti,
hipotesis melalui eksperimen, penarikan 2013). Penelitian ini pun mengembangkan suatu
kesimpulan, serta penemuan teori maupun alat evaluasi yang kegiatan peniliannya
konsep atau merupakan suatu pembelajaran diintegrasikan pada kegiatan penilaian selama
proses. Kegiatan penilaian yang dirancang oleh kegiatan praktikum dan selama serta diakhiri.
pendidik dalam IPA juga harus melingkupi Hasil analisis materi, menunjukkan bahwa
kegiatan penilaian keterampilan proses siswa. beberapa konsep materi yang saling berkaitan.
Sehingga alat evaluasi yang digunakan juga alat Materi tersebut adalah materi sistem kehidupan
evaluasi berbasis keterampilan proses sains. tumbuhan dan materi fungsi mikroskop sebagai
alat optik. Keterkaitan pada materi ini dapat
642
Putri Rochimatun Hidayah Widianingrum dan Sudarmin / Unnes Science Education Journal 3 (3) (2014)

dipaduka dengan suatu tema, yaitu tema serta tanggapan guru dan siswa mengenai alat
mikroskop dan jaringan tumbuhan. evaluasi IPA terpadu yang dikembangkan.
Tema mikroskop dan jaringan tumbuhan Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu
dapat dipadukan namun belum memiliki alat validasi, tes, lembar pengamatan dan angket.
evaluasi untuk mengukur keterampilan proses Analisis awal dalam penelitian ini adalah analisis
sains yang dimiliki peserta didik. Hasil observasi homogenitas pada subyek populasi, agar
di SMP Negeri 2 Selopampang Temanggung didapatkan sampel yang representatif.
didapatkan hasil bahwa alat evaluasi yang Kelayakan dari alat evaluasi IPA terpadu
digunakan untuk mengukur kemampuan peserta berbasis keterampilan proses sains diambil dari
didik baik pada materi sistem kehidupan penilaian pakar isi, bahasa dan penyajian, serta
tumbuhan maupun mikroskop sebagai alat optik evaluasi yang kemudian dianalisis rumus sebagai
belum terdapat alat evaluasi yang berbasis berikut:
keterampilan proses sains.
Latar belakang di atas maka akan (Sudijono, 2008: 43)
dikembangkan alat evaluasi IPA terpadu berbasis
keterampilan proses sains pada tema mikroskop Keterangan:
dan jaringan tumbuhan untuk SMP kelas VIII. P = persentase skor yang diperoleh
Harapannya alat evaluasi IPA terpadu yang F = skor yang diperoleh
dikembangkan dapat digunakan dalam N = skor maksimal
mengevaluasi keterampilan proses sains siswa. Kriteria kelayakan oleh ketiga pakar
dikategorikan layak apabila skor yang didapatkan
METODE ≥60%. Analisis pada alat evaluasi yang
dikembangkan adalah analisis deskriptif untuk
Jenis penelitian ini adalah penelitian dan mengetahui validitas, reliabilitas, taraf kesukaran
pengembangan (R&D), yang dikembangkan dan daya pembeda.
adalah alat evaluasi IPA terpadu berbasis Efektifitas alat evaluasi IPA terpadu
keterampilan proses sains. Populasi dari berbasis KPS diambil dari ketuntasan klasikal
penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII hasil belajar siswa pada ranah kognitif, serta hasil
SMP Negeri 2 Selopampang Kabupaten penilaian aspek KPS pada ranah kognitif dan
Temanggung. Pengambilan sampel ranah psikomotor. Ketuntasan klasikal hasil
menggunakan random sampling. belajar siswa dianalisi dengan rumus sebagai
Pengambilan sampel menggunakan random berikut:
sampling dan diperoleh kelas VIII B sebagai kelas
uji coba skala kecil, VIII A sebagai kelas uji coba
skala besar serta kelas VIII C sebagai kelas uji Keterangan:
pemakaian. Secara umum langkah-langkah P = ketuntasan klasikal belajar
penelitian dan pengembangan dalam penelitian = jumlah siswa tuntas belajar
ini terdiri atas: (1) identifikasi potensi dan = jumlah semua siswa
masalah, (2) pengumpulan data, (3) desain
produk alat evaluasi KPS, (4) Validasi desain alat HASIL DAN PEMBAHASAN
evaluasi KPS, (5) Revisi alat evaluasi KPS, (6)
Uji coba skala kecil, (7) Uji coba skala besar, (8) Penelitian ini menghasilkan alat evaluasi
Uji pemakaian, (9) Alat evaluasi IPA berbasis IPA terpadu berbasis keterampilan proses sains
KPS final. (KPS) tema mikroskop dan jaringan tumbuhan
Variabel yang diteliti pada penelitian ini berupa soal pilihan ganda dan lembar
yaitu validasi alat evaluasi IPA terpadu berbasis pengamatan aspek KPS. Uji kelayakan dari alat
KPS, hasil belajar aspek keterampilan proses evaluasi dilakukan oleh tiga ahli, yaitu ahli isi,
sains siswa pada ranah kognitif dan psikomotor, ahli bahasa dan penyajian, serta ahli evaluasi.
643
Putri Rochimatun Hidayah Widianingrum dan Sudarmin / Unnes Science Education Journal 3 (3) (2014)

Hasil penilaian kelayakan tahap I oleh ahli secara lebih mendalam. Tabel 1 menunjukkan
didapatkan kelayakan sebesar 100% untuk semua hasil penilaian kelayakan oleh ketiga pakar
aspek. Sedangkan pada penilaian tahap II ahli mengenai kelayakan alat evaluasi.
memberikan penilaian terhapat alat evaluasi
Tabel 1. Hasil Penilaian Kelayakan Alat Evaluasi IPA Terpadu Berbasis Keterampilan Proses Sains
oleh Pakar
No Validator Rata-rata Skor Penilaian Persentase Kriteria
1 Validator Isi I 4,00 100% (Sangat Layak)
2 Validator Isi II 4,00 100% (Sangat Layak)
Rata-rata 4,00 100% (Sangat Layak)
1 Validator Bahasa dan 3,90 97,5% (Sangat Layak)
Penyajian I
2 Validator Bahasa dan 3,90 97,5% (Sangat Layak)
Penyajian II
Rata-rata 3,90 97,5% (Sangat Layak)
1 Validator Evaluasi I 3,17 79,2% (Layak)
2 Validator Evaluasi II 4,00 97,5% (Sangat Layak)
Rata-rata 3,58 89,6% (Sangat Layak)

Indikator yang dinilai oleh ahli isi atau pada penilaian aspek kesesuaian aspek yang
materi meliputi penilaian terhadap keterkaitan diukur, alasannya karena adanya perbedaan
alat evaluasi dengan Kompetensi Inti (KI) dan kesepahaman tingkat soal yang dikembangkan.
Kompetensi Dasar (KD), kesesuaian aspek pada Validator II yang merupakan guru yang
alat rvaluasi dengan KI dan KD, kesesuaian alat mengetahui karakteristik siswa SMP berpendapat
evaluasi dengan karakteristik siswa SMP, dan bahwa soal yang dikembangkan sudah masuk
kesesuaian aspek KPS dalam alat evaluasi. Hasil kriteria, namun validator II yang merupakan ahli
penilaian oleh validator didapatkan penilaian evaluasi memberikan penilaian bahwa soal yang
sebesar 100%, namun adanya masukan dari dikembangkan perlu ditingkatkan domain
validator pada lembar pengamatan berupa kemampuan kognitifnya. Hal inilah yang
penyusunan rentang nilai pada lembar menyebabkan perbedaan penilaian pada validator
pengamatan. I dan II.
Hasil penilaian alat evaluasi oleh validator Alat evaluasi IPA terpadu berbasis
bahasa dan penyajian sebesar 97,5%, penilaian keterampilan proses sains mengalami revisi
ini meliputi 8 aspek penilaian. Delapan aspek berdasarkan masukan dari ahli evaluasi sebelum
penilaian terdiri atas 4 aspek penilaian bahasa, digunakan dalam uji coba skala kecil. Revisi alat
dan 4 aspek penilaian penyajian. Alat evaluasi evaluasi terletak pada aspek komponen soal
mengalami revisi pada bagian penulisan tanda pilihan ganda yang dikembangkan, harus lebih
baca ada soal pilihan ganda, konsistensi banyak dikembangkan soal yang menigkatkan
penulisan, penggunaan bahasa yang komunikatif kemampuan berpikir siswa. Dalam kegiatan
dan mudah dipahami, serta penggunaan bahasa evaluasi IPA sangat dibutuhkan alat evaluasi
yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan yang dapat menguji keterampilan proses sains.
peserta didik. Revisi yang telah dilakukan menghasilkan alat
Penilaian kelayakan alat evauasi dari evaluasi IPA terpadu berbasis keterampilan
komponen evaluasi terdiri atas 6 aspek penilaian. proses sains dengan soal yang dapat mengukur
Hasil penilaian mendapatkan rata-rata persentase keterampilan proses siswa pada tema mikroskop
89,6% termasuk dalam kriteria sangat layak. dan jaringan tumbuhan.
Namun terjadi perbedaan penilaian antara Ferdiana et al (2013) menyebutkan bahwa
penilaian validator I dan validator II, khususnya penyusunan alat evaluasi sebagai tes sehari-hari
644
Putri Rochimatun Hidayah Widianingrum dan Sudarmin / Unnes Science Education Journal 3 (3) (2014)

atau ujian penghabisan hendaknya berpedoman Selain penilaian keterbacaan oleh siswa,
pada kesesuaian pada tujuan pembelajaran pada juga dilaksanakan penilaian keterbacaan alat
kompetensi dasar (KD). Disamping itu alat ukur evaluasi IPA terpadu berbasis keterampilan
yang dikembangkan harus memiliki kejelasan proses sains oleh guru. Penilaian oleh guru
dalam kalimat dan bahasa, dan dapat digunakan meliputi empat aspek. Hasil penilaian angket
sebagai alat pendorong hasil belajar yang lebih yang telah diisi oleh guru mengenai keterbacaan
baik telah sesuai dengan tujuan pembelajaran. alat evaluasi IPA terpadu berbasis keterampilan
Sehingga aspek-aspek yang dimaksudkan proses sains didapatkan hasil sangat layak dengan
Ferdiana et al (2013) merupakan aspek isi, bahasa rata-rata persentase 100%.
dan penyajian serta aspek evaluasi dan dalam Hal ini dikarenakan menurut angket yang
kegiatan penelitian ini pengembangan alat telah diisi guru, semua aspek yang dinilai pada
evaluasi telah dilaksanakan penilaian kelayakan alat evaluasi telah sesuai dengan alat evaluasi
oleh ketiga pakar tersebut dan didapatkan hasil yang dikembangkan. Sehingga, alat evaluasi ini
penilaian yang layak digunakan pada kegiatan sudah sangat layak digunakan dalam uji coba
evaluasi keterampilan proses sains. skala besar pada kelas VIII A SMP Negeri 2
Tahap pengembangan pada alat evaluasi Selopampang.
IPA terpadu berbasis KPS dilaksanakan pada uji Uji coba skala besar dilaksanakan di kelas
skala kecil dan uji skala besar. Uji skala kecil VIII A SMP N 2 Selopampang dengan jumlah 24
bertujuan untuk mengetahui keterbacaan alat siswa. Uji coba skala besar bertujuan untuk
evaluasi IPA terpadu oleh siswa dan guru. Uji mengetahui validitas, reliabilitas, daya beda, serta
skala kecil dilaksanakan dikelas terbatas dengan taraf kesukaran dari alat evaluasi IPA terpadu
jumlah 6 siswa, yang terdiri atas 2 siswa dari berbasis keterampilan proses sains yang
kelas atas, 2 siswa kelas tengah, dan 2 siswa kelas dikembangkan. Hasil dari analisis konstruk pada
bawah. Keterbacaan yang ingin dianalisis dalam lembar pengamatan keterampilan proses sains
uji coba skala kecil pada alat evaluasi IPA didapatkan penilaian 89,6%.
terpadu berbasis keterampilan proses sains terdiri Tabel 2 menunjukkan hasil penilaian
atas enam aspek penilaian. validitas konstruk pada lembar pengamatan KPS
Hasil penilaian angket yang diisi oleh siswa. Hasil penilaian 89,6% tersebut berada
siswa mengenai keterbacaan alat evaluasi IPA dalam rentang penilaian 83,5%< x ≤100% dengan
terpadu berbasis keterampilan proses sains kategori sangat layak. Sesuai dengan pernyataan
didapatkan hasil pada aspek kalimat dalam soal, Sukardi (2009: 30) bahwa karakeristik pertama
konsep dalam soal, dan aspek keterampilan dan memiliki peran sangat penting dalam
proses sains mendapatkan hasil sangat layak. instrumen evaluasi yaitu karakteristik valid
Namun untuk aspek instruksi dalam soal, gambar (validity).
dalam soal, tabel dalam soal hanya memperoleh
kriteria layak.
Tabel 2. Hasil Penilaian Validitas oleh Ahli
No Validator Rata-rata Skor Penilaian Persentase Keterangan
1 I 3,17 79,2% (Layak)
2 II 4,00 100% (Sangat Layak)
Rata-rata 3,58 89,6% (Sangat Layak)
Hasil penilaian ahli pada lembar Hal ini dapat diartikan bahwa lembar
pengamatan IPA terpadu keterampilan proses pengamatan IPA terpadu yang valid akan dapat
sains maka lembar pengamatan ini dapat mengukur keterampilan proses siswa pada tema
digunakan dalam uji coba pemakain pada kelas mikroskop dan jaringan tumbuhan. Sesuai
yang sebenarnya. Suatu instrumen yang telah dengan hasil penelitian Yuniastuti (2013)
dikatakan valid maka dapat mengukur apa yang penilaian keterampilan proses pada siswa
hendaknya diukur (Sukardi, 2009: 31). membutuhkan sebuah lembar pengamatan yang
645
Putri Rochimatun Hidayah Widianingrum dan Sudarmin / Unnes Science Education Journal 3 (3) (2014)

dapat berisi rubrik, daftar cek, atau skala validitas, reliabilitas, taraf kesukaran, serta daya
bertingkat. Penilaian kemampuan siswa pembeda.
didasarkan pada pemberian level unjuk kerja Dari 40 soal pilihan ganda tersebut
secara kuantitatif. Lembar pengamatan yang dianalisi menggunakan rumus korelasi point
dikembangkan juga telah memiliki level unjuk biserial dan dilanjutkan dengan perhitungan
kerja secara kuantitatif dengan angka 1, 2, 3, dan signifikansi pada tiap item soal. Hasil analisi 33
4. soal yang dinyatakan valid mempunyai nilai thitung
Uji skala besar pada soal pilihan ganda > 1,7020, sedangkan 7 soal yang dinyatakan tidak
merupakan uji deskriptif untuk mengetahui valid mempunyai nilai thitung < 1,7020. Nilai
validitas, reliabilitas, taraf kesukaran, serta daya 1,7020 merupakan nilai dari ttabel untuk jumlah 40
pembeda. Uji ini dilakukan dengan cara item. Penentuan valid atau tidak validnya suatu
mengujikan 40 soal pilihan ganda yang telah item soal dapat dinyatakan dengan
dikembangkan kepada 24 siswa, kemudian membandingan nilai thitung dengan ttabel. Suatu
dianalisis untuk didapatkan soal yang akan item soal dinyatakan valid jika thitung > ttabel
digunakan pada uji pemakaian. Uji validitas isi (Arikunto, 2009: 68).
soal menggunakan rumus korelasi point biserial Uji coba skala besar dilaksanakan untuk
dan dilanjutkan dengan penghitungan signifikasi, mengetahui nilai reliabilitas dari soal pilihan
uji reliabilitas menggunakan rumus KR-21. ganda berbasis keterampilan proses sains yang
Hasil analisis deskriptif pada 40 soal dikembangkan. Suatu soal yang baik merupakan
pilihan ganda dapat dilihat pada Tabel 3. soal yang memiliki nilai reliabilitas yang tinggi.
Tabel 3. Hasil Analisis Soal Pilihan Ganda Analisis reliabilitas soal pilihan ganda ini
Berbasis KPS dilakukan pada 40 soal pilihan ganda berbasis
Kriteria Jumlah Keterangan keterampilan proses sains. Analisis reliabilitas
Soal menggunakan rumus KR-21 (Arikunto, 2009:
Valid 33 Soal Digunakan 103). Hasil dari reliabilitas 40 soal pilihan ganda
Tidak Valid 7 Soal Tidak berbasis keterampilan proses sains memperoleh
Digunakan nilai sebesar 0,423. Nilai realiabilitas 0,423
Reliabilitas 0,4235 Sedang berada pada rentang nilai 0,40< r ≤ 0,60 termasuk
Taraf Kesukaran Mudah 6 Soal Tidak dalam kriteria sedang.
Digunakan Hasil perhitungan reliabilitas soal pilihan
Taraf Kesukaran Sedang 28 Soal Digunakan ganda berbasis keterampilan proses sains masuk
Taraf Kesukaran Sukar 6 Soal Digunakan dalam kriteria sedang mungking dikarenakan
Daya Pembeda Jelek 7 Soal Tidak beberapa faktor pendukung. Faktor yang
Digunakan memepengaruhi perhitungan reliabilitas karena
Daya Pembeda Cukup 9 Soal Digunakan bentuk penyebaran skor dalam kelompok siswa
Daya Pembeda Baik 21 Soal Digunakan yang diukur, karena semakin rendah sebaran
Daya Pembeda Baik 2 soal Digunakan soalnya maka semakin rendah estimasi koefisien
sekali reliabilitasnya (Surapranata, 2006: 51). Selain itu
Teknik analisis yang digunakan untuk dipengaruhi oleh tingkat kesulitan dari tes, karena
penilaian soal pilihan ganda berbasis terlalu mudah dan terlalu sulit soal untuk siswa
keterampilan proses sains adalah teknik validitas, maka akan menghasilkan skor reliabilitas yang
reliabilitas, daya pembeda, serta taraf kesukaran. rendah (Surapranata, 2006: 52).
Hasil dari analisis soal tesebut didapatkan hasil Analisis lain yang dilakukan pada uji coba
33 soal valid dan 7 soal tidak valid dan tidak skala besar adalah uji daya pembeda dan taraf
digunakan dalam uji pemakaian. Penentuan soal kesukaran soal. Analisis ini bertujuan untuk
yang akan digunakan ini harus masuk dalam meningkatkan kualitas suatu soal. Dimana
keempat kriteria analisis tersebut, baik itu kualitas soal itu meliputi (1) dapat diterima
karena telah mendukung olah data statistik yang
646
Putri Rochimatun Hidayah Widianingrum dan Sudarmin / Unnes Science Education Journal 3 (3) (2014)

memadai, (2) diperbaiki karena terbukti terdapat berimbang sebesar 20% untuk soal mudah, 60%
beberapa kelamahan, ataupun (3) tidak untuk soal sedang dan 20% untuk soal sukar.
digunakan sama sekali karena terbukti tidak Revisi yang dilakukan pada alat evaluasi
berfungsi sama sekali. Analisis tingkat kesukaran IPA terpadu berbasis keterampilan proses sains
dan daya pembeda soal menggunakan rumus sebelum digunakan dalam uji pemakaian adalah
yang bersumber dari Arikunto (2009: 207-211). sebagai berikut: (1) Mengganti penyebaran soal
Hasil dari analisis tingkat kesukaran dan pada soal pilihan ganda, (2) mengganti jumlah
daya pembeda soal pilihan ganda berbasis soal pilihan ganda yang akan digunakan dalam
keterampilan proses sains adalah 6 soal pilihan uji pemakaian dari jumlah 40 soal menjadi 33
ganda yang termasuk kategori mudah dan 28 soal soal, (3) mempersingkat petujuk penggunaan
pilihan ganda yang termasuk kategori sedang, pada lembar pengamatan keterampilan proses
sedangkan 6 soal pilihan ganda yang termasuk sains menjadi lebih sederhana sehingga lebih
dalam kategori sukar (lampiran 26). Kriteria 6 mudah dalam penggunaan. Revisi ini dilakukan
soal termasuk dalam kategori mudah sehingga diperoleh hasil yang maksimal dalam uji
dikarenakan 6 soal tersebut memiliki nilai pemakaian.
kesukaran > 0,7. Subali (2010) menyatakan bahwa
Soal yang termasuk dalam kategori sedang pengukuran penguasaan keterampilan proses
karena memiliki nilai kesukaran antara 0,3 ≤ p ≤ sains termasuk keterampilan kognitif dapat
0,7. soal yang termasuk dalam kategori sukar diukur menggunakan tes tertulis. Kemampuan
karena memiliki nilai kesukaran < 0,3 (lampiran keterampilan proses siswa tidak hanya diukur
26). Sedangkan hasil dari analisis daya pembeda pada aspek psikomotor namun juga pada aspek
soal pilihan ganda berbasis keterampilan proses kognitif. Pada uji coba skala besar akan
sains didapatkan sebagai berikut: 8 soal memiliki digunakannya alat evaluasi IPA terpadu berbasis
daya beda jelak, 9 soal memiliki daya beda KPS berupa soal pilihan ganda dan lembar
cukup, 21 soal memiliki daya beda baik, 2 soal pengamatan keterampilan proses sains siswa.
memiliki daya beda baik sekali (lampiran 28). Sehingga soal pilihan ganda akan digunakan
Penentuan kriteria daya pembeda soal ditentukan untuk menilai ranah kognitif siswa, sedangkan
dari kriteria menurut Arikunto (2009: 211). lembar pengamatan digunakan untuk menilai
Soal yang dikembangkan dalam uji coba ranah psikomotor siswa.
skala besar ini sudah mencakup kriteria soal Uji coba pemakaian dilaksanakan setelah
mudah, sedang, hingga sukar dan daya pembeda pengujian skala kecil dan skala besar pada siswa
cukup hingga baik sekali. Menurut Widyantoro et kelas VIII B dan VIII A SMP Negeri 2
al (2009) soal-soal yang baik sehingga layak Selopampang. Uji pemakaian dilaksanakan pada
digunakan dalam kegiatan penilaian apabila soal kelas VIII C SMP Negeri 2 Selopampang. Uji
pilihan ganda telah memiliki tingkat kesukaran pemakaian dalam penelitian ini bertujuan untuk
dan daya pembeda berkisar antara 0,3 sampai mengidentifikasi keefektifan alat evaluasi IPA
dengan 0,7 dengan hasil yang lebih beragam pada terpadu berbasis keterampilan proses sains tema
taraf kesukaran sebesar 0,5 dan daya pembeda mikroskop dan jaringan tumbuhan. Keefektifan
soal lebih besar dari 0,3. alat evaluasi dilihat dari ketuntasan klasikal hasil
Hasil analisis taraf kesukaran pada soal belajar siswa, serta hasil penilaian keterampilan
pilihan ganda berbasis keterampilan proses sains proses sains siswa pada ranah kognitif dan ranah
sudah didapatkan tingkat kesukaran soal yang psikomotor. Hasil belajar ranah kognitif siswa
berimbang yaitu 20% mudah, 60% sedang, dan selama uji pemakaian dapat dilihat pada Tabel 5.
20% sukar. Hasil ini sesuai dengan pendapat
Purnomo (2007) bahwa komposisi soal yang ideal
yang diberikan kepada peserta tes untuk lembaga
pendidikan di sekolah seharusnya adalah

647
Putri Rochimatun Hidayah Widianingrum dan Sudarmin / Unnes Science Education Journal 3 (3) (2014)

Tabel 5. Hasil Belajar Ranah Kognitif pada Rata-rata nilai yang diperoleh pada uji
Aspek KPS pemakaian telah mencapai KKM sebesar 74
Uji Pemakaian sesuai dengan KKM untuk mata pelajaran IPA di
No Hasil Belajar
(Kelas VIII C) SMP Negeri 2 Selopampang. Hasil penelitian ini
1 Nilai terendah 71,05 sudah melebihi batas ketuntasan klasikal menurut
2 Nilai tertinggi 85,47 Rusmiyati & Yulianto (2009), yang berpendapat
3 Rata-rata 79,24 bahwa suatu ketuntasan klasikal untuk suatu
4 Jumlah siswa yang 21 produk pengembangan sebesar ≥75%.
tuntas Hal ini dikarenakan siswa selama kegiatan
5 Jumlah siswa yang 3 evaluasi siswa menggunakan soal pilihan ganda
tidak tuntas dan lembar pengamatan yang telah dianalisis,
Ketuntasan Klasikal 87,5% baik validitas, reliabilitas, daya pembeda, serta
Hasil penilaian siswa bukan hanya dilihat taraf kesukaran. Sehingga siswa maupun guru
pada ketuntasan klasikal, namun juga dianalisis lebih mudah dalam mengevaluasi keterampilan
hasil belajar siswa tiap aspek keterampilan proses proses sains pada ranah kognitif dan psikomotor
sains, yaitu aspek mengamati, mengelompokkan, yang berdampak pada hasil belajar yang tinggi
mengkomunikasikan, serta menyimpulkan. Hasil pada siswa kelas VIII C SMP Negeri 2
penilaian aspek keterampilan proses sains selopampang.
dilaksanakan pada ranah kognitif serta ranah Penilaian hasil belajar pada uji skala besar
psikomotor siswa. Gambar 1 menunjukkan hasil dan uji pemakaian terlihat hasil yang berbeda.
penilaian tiap aspek keterampilan proses sains Hasil belajar uji pemakaian mendapatkan nilai
siswa pada ranah kognitif pada kelas VIII. rata-rata yang lebih tinggi sebesar 79,24 dan
ketuntasan klasikal sebesar 87,5%. Hasil ini
dikarenakan alat evaluasi yang digunakan pada
uji pemakaian merupakan soal pilihan ganda
yang telah dianalisis validitasnya, reliabilitasnya,
taraf kesukaran, dan daya pembedanya.
Peningkatan hasil belajar siswa ini
dikarenakan alat evaluasi yang digunakan pada
uji pemakaian sudah dilakukan revisi
berdasarkan hasil analisi butir soal, maupun
tanggapan guru dan siswa. Penggunaan soal yang
baik dalam kegiatan evaluasi, berupa soal yang
Gambar 1. Hasil Analisis Aspek KPS pada Hasil
telah memiliki validitas, daya pembeda, dan daya
Belajar Ranah Kognitif
kesukaran akan didapatkan hasil yang baik.
Menurut Purnomo (2007) alat evaluasi yang baik
Hasil belajar ranah kognitif diperoleh dari
merupakan alat evaluasi yang telah diuji secara
nilai siswa dalam penggunaan soal pilihan ganda
empiris sehingga didapatkan kepastian baik soal
berbasis keterampilan proses sains pada kelas
tersebut.
VIII C. Keefektifan penggunaan alat evaluasi IPA
Langkah yang perlu dilaksanakan adalah
terpadu berbasis keterampilan proses sains
uji coba, analisis soal, seleksi soal, dan kompilasi
ditentukan oleh ketuntasan klasikal pada kelas
soal dalam bentuk akhir. Pengujian dan
VIII C dan hasil penilaian keterampilan proses
penelaahan soal harus dilaksanakan dengan baik
siswa selama kegiatan pembelajaran. Hasil
sehingga didapatkan soal yang baik pula tanpa
belajar ranah kognitif siswa telah mencapai
harus melalui revisi soal yang berulang-ulang.
ketuntasan klasikal sebesar 87,5%, hasil
Selain itu soal yang sudah memiliki konsistensi
ketuntasan klasikal siswa telah mencapai
yang baik akan dapat mengukur dengan baik
ketuntasan belajar yang dicantumkan pada
kompetensi peserta didik (Widyantoro et al:
metode penelitian sebesar ≥85%.
648
Putri Rochimatun Hidayah Widianingrum dan Sudarmin / Unnes Science Education Journal 3 (3) (2014)

2009), khususnya dalam penelitian ini adalah menyimpulkan. Hasil penilaian aspek KPS pada
pengukuran keterampilan proses sains siswa. ranah psikomotor dapat dilihat pada Gambar 2.
Hasil belajar siswa yang tinggi dengan
menggunakan alat evaluasi IPA terpadu berbasis
KPS dikarenakan adanya faktor internal dan
eksternal. Menurut Rusmiyati & Yulianto (2009)
hasil belajar siswa sangat dipengaruhi oleh
kesempatan siswa untuk terlibat secara langsung
dalam proses pembelajaran. Kegiatan penilitian
dengan menggunakan alat evaluasi IPA terpadu
berbasis KPS sudah mendorong siswa untuk
berperan langsung dalam kegiatan evaluasi
terutama dalam kegiatan evaluasi keterampilan
proses siswa. Sehingga didapatkan hasil belajar Gambar 2. Rata-rata Nilai Aspek KPS pada
siswa yang maksimal dan memenuhi ketuntasan Kelas VIII A dan kelas VIII C
klasikal.
Hasil belajar pada uji pemakaian Hasil nilai ranah psikomotor diperoleh
didapatkan 21 siswa tuntas, dan 3 siswa tidak setelah dilakukan penilaian dengan didasarkan
tuntas karena memiliki hasil belajar kurang dari pada penilaian keempat aspek keterampilan
KKM kelas VIII yaitu sebesar 74. Tindakan yang proses sains. Meliputi keterampilan aspek
dilakukan pada 3 siswa yang tidak tuntas adalah mengamati, mengelompokkan,
dengan memberikan remidial dengan mengkomunikasikan, serta menyimpulkan. Data
mengerjakan kembali soal pilihan ganda yang nilai hasil LKS siswa secara keseluruhan dapat
telah dikembangkan. Harapannya agar semua dilihat pada Tabel 6.
siswa pada kelas VIII tuntas dalam kemampuan Tabel 6. Hasil Nilai LKS Kelas VIII C
keterampilan proses sains pada tema mikroskop No Hasil Belajar Uji Pemakaian
dan jaringan tumbuhan. (Kelas VIII C)
Efektivitas dari soal pilihan ganda 1 Nilai Terendah 87,0
ditentukan dari besarnya ketuntasan klasikal yang 2 Nilai Tertinggi 95,0
diperoleh dalam kegiatan penilaian keterampilan 3 Rata-rata 90,75
proses siswa menggunakan soal pilihan ganda. Hasil belajar ranah psikomotor pada uji
Alat evaluasi berupa soal pilihan ganda dikatakan pemakaian di kelas VIII C SMP Negeri 2
efektif jika memiliki ketuntasan klasikal ≥85%. Selopampang diperoleh dengan kegiatan
Hasil penelitian ini diperoleh hasil ketuntasan praktikum yang dinilai dengan lembar
klasikal sebesar 87,5%. Hasil ini telah melebihi pengamatan keterampilan proses sains. Lembar
ketuntasan klasikal yang dicantumkan dalam pengamatan keterampilan proses sains yang
metode penelitian, dengan kata lain alat evaluasi digunakan telah mengalami revisi setelah
IPA terpadu berbasis keterampilan proses sains dilaksanakan uji coba skala kecil dan uji coba
berupa soal pilihan ganda telah efektif digunakan skala besar. Keterampilan proses sains yang
sebagai alat evaluasi dalam kegiatan penilaian. dinilai adalah aspek mengamati,
Hasil penilaian aspek keterampilan proses mengelompokkan, mengkomunikasikan, dan
sains siswa tidak hanya dinilai selama hasil menyimpulkan.
penilaian ranah kognitif, namun juga dinilai Nilai keempat aspek tersebut didapatkan
selama kegiatan ranah psikomotor. Kegiatan dari kegiatan praktikum yang dinilai oleh empat
penilaian ranah psikomotor siswa dinilai selama observer. Nilai untuk tiap aspek keterampilan
kegiatan prantikum siswa. Aspek yang diamati proses sains untuk kelas uji pemakaian adalah
berupa aspek kemampuan dalam mengamati, sebagai berikut: (1) aspek mengamati
mengelompokkan, mengkomunikasikan, serta memperoleh rata-rata skor 3,51 termasuk kriteria
649
Putri Rochimatun Hidayah Widianingrum dan Sudarmin / Unnes Science Education Journal 3 (3) (2014)

sangat baik, (2) aspek mengelompokkan menyatakan bahwa pada tingkat sekolah
memperoleh rata-rata skor 3,45 termasuk kriteria menengah siswa akan lebih banyak
sangat baik, (3) aspek mengkomunikasikan menggunakan keterampilan proses sains yang
memperoleh rata-rata skor 3,43 termasuk kriteria mudah seperti pengamatan, namun seiring
sangat baik, (4) aspek menyimpulkan perkembangannya mereka dapat menggunakan
memperoleh rata-rata skor 3,41 termasuk kriteria keterampilan proses sains yang kompleks seperti
sangat baik. mengkomunikasikan dan menyimpulkan.
Semua aspek keterampilan proses sains Penilaian keterampilan proses sains
pada uji pemakaian telah memperoleh hasil rata- terendah terdapat pada aspek menyimpulkan, hal
rata sangat baik, hal ini menunjukkan bahwa ini dikarenakan dalam dalam aspek
kemampuan keterampilan proses sains pada menyimpulkan siswa harus menggunakan
siswa kelas VIII C sudah sangat baik. Efektivitas kemampuan berpikir tingkat tinggi. Selain itu
dari lembar pengamatan keterampilan proses dalam aspek menyimpulkan kemampuan siswa
sains juga ditentukan dari hasil penilaian dalam menyimpulkan data-data yang berupa
keterampilan proses sains yang sangat baik dan gambar dan tabel dari hasil mengelompokkan
semua siswa telah mencapai ketuntasan belajar. siswa juga masih rendah.
Nilai rata-rata LKS siswa kelas VIII C adalah Didukung hasil penelitian Rauf et al (2013)
90,75, sedangkan nilai tertinggi 95,0 dan nilai kemampuan siswa yang rendah dalam kegiatan
terendah 87,0. penilaian keterampilan proses sains dikarenakan
Nilai ini lebih tinggi dibandingkan dengan selama kegiatan penilaian siswa belum
nilai LKS pada uji pemakaian. Hal ini memahami bahwa yang diinginkan guru adalah
dikarenakan alat evaluasi yang digunakan telah menyimpulkan, siswa akan menyimpulkan saat
disempurnakan setelah melalui tahap guru memberikan instruksi untuk menyimpulkan.
pengembangan pada uji skala kecil dan uji skala Sehingga kemampuan menyimpulkan pada
besar, sehingga hasil yang diperolehpun lebih siswa haruslah lebih ditingkatkan. Penilaian
tinggi pada uji pemakaian. keterampilan proses sains pada ranah kognitif
Hasil ini menunjukkan bahwa alat evaluasi dan ranah psikomotor menunjukkan hasil
keterampilan proses sains yang digunakan dalam penilaian yang sama. Baik pada ranah kognitif
kegiatan penilaian mempengaruhi hasil belajar maupun ranah psikomotor aspek tertinggi yang
siswa. Pendapat Karamustafaoğ lu (2011) bahwa dimiliki peserta didik adalah kemampuan
kegiatan penilaian keterampilan proses sains mengamati, sedangkan kemampuan terendah
efektif digunakan selama kegiatan praktikum di yang dimiliki peserta didik adalah kemampuan
laboratorium, karena siswa dapat belajar menyimpulkan.
memecahkan masalah dan menemukan konsep Evaluasi pada ranah kognitif didapatkan
pembelajaran. Sehingga alat evaluasi yang hasil terendah pada aspek menyimpulkan, karena
dikembangkan merupakan alat evaluasi yang pada kemampuan meyimpulkan siswa harus
digunakan dalam kegiatan praktikum. menggunakan kemampuan berpikir tingkat tinggi
Penilaian aspek keterampilan proses sains yang dimilliki. Siswa harus menganalisis terlebih
tertinggi didapatkan pada aspek mengamati, hal dahulu konsep-konsep yang dimiliki sebelum
ini dibuktikan dengan hasil laporan siswa pada mengambil kesimpulan dari jawaban yang harus
aspek mengamati. Selain itu aspek mengamati dipilih. Namun rata-rata semua aspek termasuk
siswa sangat baik dibuktikan selama kegiatan dalam kategori sangat baik, baik aspek
praktikum siswa sudah sangat paham dalam mengamati, mengkomunikasikan,
mengelompokkan tumbuhan dikotil monokotil, menyimpulkan, maupun mengelompokkan.
serta mengelompokkan jaringan pada tumbuhan Alat evaluasi IPA terpadu berbasis
dikotil dan monokotil. keterampilan proses sains (KPS) setelah
Tingginya hasil kemampuan siswa dalam digunakan pada uji pemakaian akan dilakukan
mengamati diperkuat oleh Maknun et al (2012) penilaian tanggapan guru dan tanggapan siswa.
650
Putri Rochimatun Hidayah Widianingrum dan Sudarmin / Unnes Science Education Journal 3 (3) (2014)

Tujuan dari penilaian ini adalah untuk penilaian dengan alat evaluasi berbasis KPS.
menggetahui tanggapan guru dan siswa terhadap Diperkuat dengan hasil penelitian Subali (2010)
penggunaan dari alat evaluasi IPA terpadu bahwa penggunaan item soal pola divergen pada
berbasis keterampilan proses sains (KPS) selama penilaian walaupun item penilaian sudah melalui
penggunaan dalam uji pemakaian pada kelas VIII tahapan analisis kualitatif dan penilaian para ahli,
C SMP Negeri 2 Selopampang. Hasil penialain terjadi kesulitan dalam pemahaman item soal
tanggapan guru dapat dilihat pada Tabel 7. maka item yang sukar dapat dijadikan penanda
Tabel 7. Hasil Tanggapan Guru pada Uji bahwa siswa belum menguasai keterampilan
Pemakaian yang hendak diukur.
Aspek yang Tabel 8. Hasil Tanggapan Siswa pada Uji
No Nomor Soal Persentase
Ditanyakan Pemakaian
Penyajian alat Nomor
No Pernyataan Persentase
1 evaluasi berbasis 1 100% Soal
KPS Kesenagan dalam
1, 2, 7,
Keterpaduan 1 penggunaan alat 98,95%
16
dalam Alat evaluasi
2 3, 5 75%
Evaluasi berbasis Penggunaan alat
3, 4, 5,
KPS 2 evaluasi untuk 100%
6,
Penyajian dalam menilai KPS siswa
3 4, 6, 7, 11 75%
alat evaluasi Tahapan penggunaan
8, 10,
Penggunaan 3 alat evaluasi berbasis 84,7%
11
bahasa dalam KPS
4 12 75%
alat evaluasi Tampilan alat
9, 13,
berbasis KPS 4 evaluasi berbasis 100%
14
Adanya unsur KPS
5 KPS dalam alat 8, 10 87,5% Kemudahan saat
evaluasi menggunakan alat 18, 19,
5 97,2%
Penggunaan alat evaluasi berbasis 20
6 evaluasi berbasis 9, 13, 14, 15 93,75% KPS
KPS Alat evaluasi KPS
12, 15,
Rata-rata 84,38% 6 sudah mencakup 100%
17
Alat evaluasi yang digunakan oleh siswa penilaian pada tema
kelas VIII C akan dinilai tanggapan Rata-rata 96,8%
penggunaannya oleh siswa. Data selengkapnya Tanggapan penggunaan alat evaluasi IPA
disajikan pada Tabel 8. terpadu berbasis ketermpilan proses sains juga
Data tanggapan siswa diperoleh setelah diperoleh dari guru IPA kelas VIII SMP Negeri 2
kegiatan penilaian penilai dengan alat evaluasi Selopampang Guru mengisi angket yang telah
IPA terpadu berbasis keterampilan proses sains disusun. Hasil analisis dari angket yang telah diisi
pada tema mikroskop dan jaringan tumbuhan. oleh guru menunjukkan bahwa guru sangat setuju
Kelas VIII C SMP Negeri 2 Selopampang semua bahwa alat evaluasi IPA terpadu yang
siswa memberikan tanggapan sangat baik dengan dikembangkan sangat baik untuk digunakan
persentase 98,9%, namun ada satu aspek yang dalam kegiatan evaluasi IPA tema mikroskop dan
menilai baik dengan Persentase 70% yaitu aspek jaringan tumbuhan, karena telah melewati
kesadaran siswa dalam pelaksanaan penggunaan tahapan penilaian baik penilaian oleh pakar
alat evaluasi. maupun penilaian.
Kesadaran siswa yang belum sangat baik
disebabkan karena dalam menggunaan alat
evaluasi siswa masih belum menguasai tahapan
651
Putri Rochimatun Hidayah Widianingrum dan Sudarmin / Unnes Science Education Journal 3 (3) (2014)

SIMPULAN Rauf, R. A. A., Mohamad, S, R., Azlin, N, M.,


Zarina, O., Lyndon. 2013. Inculcation of
1. Pengembangan alat evaluasi IPA terpadu Science Process Skill in a Science
berbasis keterampilan proses sains tema Classroom. Journal Canadian Center of
mikroskop dan jaringan tumbuhan telah Science and Education. Vol. 9(8): 47-57.
memenuhi kriteria layak digunakan Rusmiyati, A & Yulianto. 2009. Peningkatan
sebagai alat evaluasi IPA terpadu untuk Keterampilan Proses Sains dengan
tema mikroskop dan jaringan tumbuhan. Menerapkan Model Problem Based-
2. Efektivitas alat evaluasi IPA terpadu Instruction. Jurnal Pendidikan Fisika
berbasis keterampilan proses sains tema Indonesia. Vol. 5(9): 1.
mikroskop dan jaringan tumbuhan sebagai Rustaman, N. 2004. Asesmen Pendidikan IPA.
alat evaluasi IPA terpadu di SMP telah Artikel Diklat NTT. Bandung: Universitas
memenuhi ketuntasan klasikal siswa Pendidikan Indonesia.
sebesar 87,5%, hasil penilaian baik pada Subali, B. 2010. Pengembangan Tes Pengukur
penilaian ranah psikomotor sehingga Keterampilan Proses Sains Pola Divergen
efektif digunakan sebagai alat evaluasi Mata Pelajaran biologi SMA. Prosiding
keterampilan proses sains untuk tema Seminar Nasional biologi Lingkungan dan
mikroskop dan jaringan tumbuhan pada Pembelajarannya. Yogyakarta: Universitas
SMP kelas VIII. Negeri Yogyakarta.
Sukardi, M. 2009. Evaluasi Pendidikan Prinsip dan
DAFTAR PUSTAKA Operasionalnya. Jakarta: Bumi Aksara.
Surapranata, S. 2006. Analisis Validitas,
Arikunto, S. 2009. Dasar-dasar Evaluasi Reliabilitas, dan Interpretasi Hasil Tes.
Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Ferdiana, S., Rinie, P, P, & Widowati, B. 2013. Surjanti, J. 2006. Pengembangan Pereangkat
Pengembangan Perangkat Pembelajaran Pembelajaran Dan Praktik Pembelajaran
IPA Terpadu Berbahasa Inggris Tipe Kompetensi Berbasis Kurikulum Model
Integrated dengan Tema Mengamati Jasad Portopolio. Jurnal Pendidikan Dasar. Vol.
renik dalam Setetes Air untuk Kelas VII 7(2): 84-89.
SMP. Jurnal BioEdu. Vol. 2(1): 31-34. Widyantoro, D., Boenasir, & Karsono. 2009.
Karamustafaoğlu, S. 2011. Improving the Science Pengembangan Soal Tes Pilihan Ganda
Process Skills Ability of Science Student Kompetensi sistem Starter dan Pengisian
Teachers Using I Diagrams. Eurasian Program Keahlian Teknik Mekanik
Journal of Physics Chemistry Education. Vol. 3 otomotif Kelas XII. Jurnal PTM. Vol. 9(1):
(1): 26-38. 14-21.
Maknun, J., Hartien, K, S., Achmad, M., Tati, S, Yuniastuti, E. 2013. Upaya Meningkatkan
S. 2012. Keterampilan Esensial dan Keterampilan Proses Sains dan Hasil
Kompetensi Motorik Laboratorium Belajar Biologi dengan Pendekatan Jelajah
Mahasiswa Calon Guru Biologi dalam Alam sekitar pada Siswa Kelas VII SMP
Kegiatan Praktikum Ekologi. Jurnal Kartika V-1 Balikpapan. Jurnal Sosioscientia
Pendidikan IPA Indonesia. Vol. 1(2): 141- Kopertis Wilayah XI Kalimantan. Vol. 05 (1):
148. 31-38.
Purnomo, A. 2007. Kemampuan Guru Dalam
Merancang Tes Bentuk Pilihan Ganda
pada Mata Pelajaran IPA untuk Ujian
Akhir Sekolah (UAS). Lembaran Ilmu
Kependidikan. Vol. 36(1): 1-6.

652