Anda di halaman 1dari 18

PEMERINTAH KABUPATEN PURWOREJO

BADAN LAYANAN UMUM DAERAH


UPT PUSKESMAS DADIREJO
Jl. Jogjakarta Km 18 Dadirejo BAGELEN PURWOREJO 54174
Email : Puskesmas.Dadirejo@yahoo.co.id,
PKM-Dadirejo@gmail.com
Wordpress:http.www.Puskesmas dadirejo.blogspot.com

PEDOMAN PENGELOLAAN MAKANAN


PENDAMPING ASI (MP-ASI)
KATA PENGANTAR

Alhamdulilah puji syukur kami panjatkan kepada Allah subhanallahuwata’ala


yang telah memberikan nikmatnya sehingga kami dapat meyelesaikan pedoman
pengelolaan makanan pendamping asi (MP-ASI)ini.

Seiring dengan perkembangan Upaya kesehatan masyarakat, Puskesmas


sebagai tujuan pertama untuk memperoleh pelayanan kesehatan primer bagi
masyarakat harus berbenah untuk senantiasa memberikan pelayanan yang bermutu.
Paradigma baru menggambarkan masyarakat yang semakin kritis terhadap tuntutan
akan pelayanan yang semakin baik dan memuaskan, khususnya pelayanan dalam
bidang kesehatan.

Dalam upaya merespon paradigma baru tersebut, dalam hal ini Puskesmas
berusaha memberikan pelayanan yang terbaik, dan terjangkau serta profesional
sehingga memuaskan semua pihak yaitu masyarakat . Agar dalam pengelolaan
puskesmas bisa fleksibel dan responsif, diperlukan suatu pedoman dalam
pelaksannaan program kerja Puskesmas

Dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat yang lebih baik lagi, maka di
susunlah pedoman bagi pelaksanaan program program upaya kesehatan masyrakat,
untuk itu maka Puskesmas Dadirejo menyusun pedoman pedoman pengelolaan
makanan pendamping asi (MP-ASI) guna member arah bagi pelaksanaan program Gizi
di masyarakat

Demikian harapan harapan kami semoga upaya ini dapat meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat Kab. Purworejo

Badan Layanan Umum Daerah


Unit Pelaksana Teknis
Puskesmas Dadirejo
Kepala

dr. AGUSTINUS TRIYONO


NIP. 10610312 198903 1 008
I. PENDAHULUAN
Latar Belakang Upaya peningkatan status kesehatan dan gizi bayi dan anak
melalui perbaikan perilaku masyarakat dengan pemberian makanan tambahan
merupakan bagian dari upaya perbaikan gizi masyarakat secara menyeluruh.
Kebiasaan menyusui yang dilakukan oleh ibu di pedesaan maupun perkotaan perlu
dipertahankan karena ASI merupakan makanan utama dan terbaik bagi bayi.Selain
mempunyai kandungan zat gizi yang sesuai dengan kebutuhan bayi, juga mengandung
zat kekebalan yang sangat diperlukan untuk melindungi bayi dari berbagai penyakit.
Bertambahnya umur bayi, bertambah pula kebutuhan gizinya, sebab itu sejak usia 4
bulan bayi mulai diberi makanan pendamping ASI (MP-ASI). Selain ASI untuk
memenuhi kebutuhan gizi bayi perlu diperhatikan waktu pemberian, frequensi, porsi,
pemilihan bahan makanan, cara pembuatan dan cara pemberian MP-ASI.
Dalam rangka menanggulangi dampak krisis ekonomi terhadap status kesehatan dan
gizi pada keluarga miskin, berbagai langkah dan upaya terus-menerus dilakukan oleh
Pemerintah dan masyarakat luas.Salah satu upaya adalah pemberian makanan
tambahan kepada bayi berupa MP-ASI yang telah difortifikasi (blendeed food).
Pelaksanaan kegiatan pemberian MP-ASI yang dimulai dari tingkat produksi-distribusi-
penyimpanan dan pelaksanaannya di tingkat rumah tangga/konsumen memerlukan
pengelolaan yang baik mengingat MP-ASI ini merupakan bahan pangan untuk
kelompok rawan/bayi. Berdasarkan temuan yang diperoleh di lapangan, beberapa
permasyalahan perlu mendapat penanganan yang baik antara lain penurunan kualitas
MP-ASI akibat rusaknya kemasan MP-ASI dalam pengangkutan maupun penyimpanan.
Terjadinya kasus-kasus efek samping yang diduga karena mengkonsumsi
MP-ASI seperti diare dan muntah. Hal ini dimungkinkan karena cara penyimpanan dan
pemberian MP-ASI yang salah dan kurang baik. Perlunya pengawasn mutu mulai
tingkat produksi hingga ke tingkat konsumen.
Pedoman pengelolaan MP-ASI membahas tentang pengelolaan MP-ASI yang baik
mulai dari mekanisme distribusi, cara pengelolaan, cara penyimpanan, cara penyiapan
dan cara pemberian MP-ASI.
Pedoman ini juga dapat digunakan di tempat pengungsian yang perlu juga
memperhatikan tentang pengelolaan MP-ASI ini.
Tujuan
Meningkatkan status gizi bayi dan anak dari keluarga miskin. Meningkatkan kualitas
pengelolaan MP-ASI mulai dari tingkat produksi, distribusi, penyimpanan dan
pelaksanaan pemberian MP-ASI.
Sasaran
Kepala Puskesmas, Penanggung-jawab Program GIZI, KIA/KB, PROMOSI
KESEHATAN ,Petugas Gizi Puskesmas dan Bidan di Desa., Pelaksana Program dan
Kader Kesehatan dan masyarakat
BAB. I
DEFINISI

Bertambahnya umur bayi, bertambah pula kebutuhan gizinya, sebab itu sejak
usia 4 bulan bayi mulai diberi makanan pendamping ASI (MP-ASI). Selain ASI untuk
memenuhi kebutuhan gizi bayi perlu diperhatikan waktu pemberian, frequensi, porsi,
pemilihan bahan makanan, cara pembuatan dan cara pemberian MP-ASI.
Dalam rangka menanggulangi dampak krisis ekonomi terhadap status kesehatan
dan gizi pada keluarga miskin, berbagai langkah dan upaya terus-menerus dilakukan
oleh Pemerintah dan masyarakat luas.Salah satu upaya adalah pemberian makanan
tambahan kepada bayi berupa MP-ASI yang telah difortifikasi (blendeed food).
Pelaksanaan kegiatan pemberian MP-ASI yang dimulai dari tingkat produksi-
distribusi-penyimpanan dan pelaksanaannya di tingkat rumah tangga/konsumen
memerlukan pengelolaan yang baik mengingat MP-ASI ini merupakan bahan pangan
untuk kelompok rawan/bayi.Berdasarkan temuan yang diperoleh di lapangan, beberapa
permasyalahan perlu mendapat penanganan yang baik antara lain penurunan kualitas
MP-ASI akibat rusaknya kemasan MP-ASI dalam pengangkutan maupun penyimpanan.
Terjadinya kasus-kasus efek samping yang diduga karena mengkonsumsi
MP-ASI seperti diare dan muntah. Hal ini dimungkinkan karena cara penyimpanan dan
pemberian MP-ASI yang salah dan kurang baik. Perlunya pengawasn mutu mulai
tingkat produksi hingga ke tingkat konsumen.
Pedoman pengelolaan MP-ASI membahas tentang pengelolaan MP-ASI yang
baik mulai dari mekanisme distribusi, cara pengelolaan, cara penyimpanan, cara
penyiapan dan cara pemberian MP-ASI.
Pedoman ini juga dapat digunakan di tempat pengungsian yang perlu juga
memperhatikan tentang pengelolaan MP-ASI ini.

DAFTAR SINGKATAN
BB = Berat Badan
CPMB = Cara Produksi Makanan Yang Baik
FIFO = First in First Out
JPSBK = Jaring Pengaman Sosial Bidang Kesehatan
KMS = Kartu Menuju Sehat
MP-ASI = Makanan Pendamping ASI
PMI = Pamalang Merah Indonesia
PMT = Pemberian Makanan Tambahan
POM = Pemeriksaan Obat dan Makanan
Posyandu = Pos Pelayanan Terpadu
PPG = Panti Pemulihan Gizi
RSUD = Rumah Sakit Umum Daerah
Satkorlak PBA = Satuan Koordinasi Pelaksana Penanggulangan Bencana Alam
TKK = Tim Koordinasi Kabupaten
TPG = Tenaga Pelaksanan Gizi
TPK = Tim Koordinasi Propinsi

BAB II
RUANG LINGKUP

A. MEKANISME DISTRIBUSI, CARA PENGANGKUTAN, DAN PENYIMPANAN


1. Mekanisme Distribusi
Pengadaan MP-ASI di lakukan oleh Proyek JPS-BK tingkat Pusat melalui
produsen MP-ASI blended food.Dari produsen dikirim ke Dinas Kabupaten/Kota
sesuai dengan PAGU yang telah ditetapkan untuk masing-masing Kabupaten/Kota.
Untuk lebih jelasnya, mekanisme distribusi MP-ASI sebagai berikut:
a. Produsen mengirim MP-ASI ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota,
selanjutnya disimpan di Gudang Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau
gudang lain yang memenuhi persyaratan. Frekuensi pengiriman dilakukan
setiap 2 bulan sekali dengan terlebih dahulu mengkonfirmasikan rencana
pengiriman ke Dinkes Kabupaten/Kota.Produsen mengirim tembusan
berita acara pengiriman barang ke Dinas Kesehatan Propinsi.
b. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atas nama Tim Koordinasi
Kabupaten/Kota (TKK/K) menginformasikan jumlah kebutuhan MP-ASI
untuk masing-masing Puskesmas kepada penanggung jawab gudang
sesuai dengan Surat Keputusan distribusi yang dibuat berdasarkan hasil
pemutakhiran data dan PAGU dari Kabupaten/Kota. TKK/K juga
mengalokasikan MP-ASI untuk stok Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD)
dan Puskesmas Perawatan.Pemberian diprioritaskan secara gratis kepada
pasien umur 6-11 bulan yang dirawat namun apabila ditemukan pasien
umur 12-24 bulan MP-ASI dapat diberikan kepada mereka.
c. MP-ASI dikirim dari gudang Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota ke
Puskesmas dan RSUD sesuai dengan data kebutuhan masing-masing.
d. MP-ASI dikirim oleh Puskesmas ke Desa sesuai dengan kebutuhan yang
diajukan oleh Bidan di Desa.
e. Bidan di Desa mengantar MP-ASI ke unit pelaksana pemberian MP-ASI
yaitu Posyandu/Panti Pemulihan Gizi (PPG), ibu asuh makanan sesuai
dengan jumlah sasaran penerima MP-ASI.
f. Posyandu, PPG, ibu asuh atau penjaja makanan membagikan MP-ASI ke
sasaran berdasarkan jadwal yang telah disepakati oleh keluarga/ibu
sasaran.
g. Khusus untuk lokasi pengungsian, MP-ASI dari Pusat dikirimkan langsung
ke propinsi melalui Satuan Kordinasi Pelaksana Penanggulangan Bencana
Alam (Satkorlak PBA) dan Palang Merah Indonesia (PMI). Pengiriman dari
gudang propinsi ke kabupaten/kota sampai ke sasaran akan diatur oleh
Satkorlak PBA atau PMI setempat. Pengelolaan MP-ASI di lokasi
pengungsian tetap mengacu pada pedoman ini.
2. Cara Pengangkutan dan Syarat Penyimpanan
a. Cara pengangkutan
Selama pengangkutan diupayakan agar MP-ASI tidak mengalami
penurunan mutu.
Untuk itu hal yang dapat dilakukan antara lain :
1) Alat angkut yang digunakan hanya untuk mengangkut bahan
pangan.
2) Selama pengangkutan tidak dicampur dengan barang-barang non
pangan
3) Selama pengangkutan kondisi barang harus terlindung sedemikian
rupa agar terhindar dari kotoran atau kerusakan yang menyebabkan
kontaminasi selama dalam perjalanan.
b. Syarat dan cara penyimpanan MP-ASI
1) Di gudang penyimpanan Kabupaten/Kota
Selama penyimpanan diupayakan agar MP-ASI tidak mengalami
penurunan mutu.
Hal tersebut dapat dilakukan dengan syarat antara lain :
i. Sarana penyimpanan harus dalam kondisi bersih, higienis,
serta mempergunakan peralatan (palet).
ii. MP-ASI diletakan diatas palet/rak yang kuat berjarak 10-20
cm dari lantai dan 15-20 cm dari dinding.
iii. Gudang tidak bocor, tidak berdebu dan harus tetap bersih.
Ruangan, dinding, bangunan dan pekarangan sekitar
gudang harus selalu bersih, bebas sampah dan kotoran.
iv. Ventilasi dan pencahayaan tetap baik.
v. Gudang bebas dari tikus, kecoa dan binatang pengerat
lainnya.
vi. Suhu udara kering dan tidak lembab.
vii. Penyusunan barang sedemikian rupa sehingga barang tetap
dalam kondisi baik. Susunan maksimum tumpukan barang
sesuai dengan tulisan yang tertera dalam karton kemasan.
viii. MP-ASI yang datang lebih awal dipergunakan lebih dulu
(sistim FIFO).
ix. Tidak dicampur dengan bahan pangan lainnya yang berbau
keras dan bahan bukan pangan seperti: bahan kimia, dll.
Barang-barang yang telah rusak atau produk yang
busuk/rusak berkecambah, hendaknya diambil dan
dipisahkan dari barang-barang yang masih baik.
2) Di tingkat rumah tangga/keluarga.
i. MP-ASI yang diterima dalam kemasan oleh setiap rumah
tangga harus disimpan dalam wadah/tempat yang kering,
bersih dan tertutup agar terhindar dari bahan cemaran dan
binatang pengganggu.
ii. Apabila kemasan MP-ASI sudah dibuka maka sisi yang
terbuka atau ujungnya harus segera diikat kemudian
dimasukkan ke dalam wadah yang bersih dan tertutup serta
tidak diletakkan berdekatan dengan bahan bukan pangan
seperti bahan kimia (sabun, pupuk, minyak tanah, obat
nyamuk) dan lain-lain.
iii. Waktu menerima MP-ASI, ibu harus memeriksa tanggal
kadaluarsa pada kemasan MP-ASI. Jika terdapat MP-ASI
yang sudah kadaluarsa maka MP-ASI harus dikembalikan
kepada Bidan di Desa.

3) Pencegahan binatang pengganggu


Perlu disadari bahwa masuknya hama seperti binatang pengerat,
serangga dan binatang peliharaan (kucing, anjing dll) dapat
menyebabkan terjadinya penurunan mutu MP-ASI.
4) Penurunan mutu MP-ASI oleh binatang pengganggu antara lain :
i. Pencemaran MP-ASI.
ii. Memakan produk dan mengkotori lingkungan bangunan.
iii. Memakan dan menggerogoti bungkus, plastik, kertas dan
barang lainnya.
iv. Merusak peralatan penyimpanan.
v. Pencegahan masuknya binatang pengganggu dilakukan
dengan cara:
vi. Menjaga kebersihan lingkungan di sekitar penyimpanan MP-
ASI.
vii. Tempat sampah harus tertutup dan dibersihkan setiap hari.
viii. Secara teratur bersihkan seluruh ruang penyimpanan termasuk
daerah-daerah yang tidak terlihat dan sulit dijangkau seperti
pojok di bawah penyimpanan, daerah-daerah tersembunyi
(sudut-sudut sempit, dll).
ix. Pintu masuk ke gudang, jendela, ventilasi dan lubang-lubang
lainnya dilengkapi dengan kawat kasa.
x. Bila perlu disekitar bangunan penyimpanan dapat dipasang
perangkap binatang pengganggu.
B. PENGAWASAN MUTU
Pengawasan mutu perlu dilakukan untuk menjamin mutu dan keamanan MP-ASI.
Pengawasan tersebut meliputi tahapan sebagai berikut:
1. Pengawasan di tingkat produksi.
2. Pengawasan di tingkat peredaran.
3. Pengawasan di tingkat konsumen.
4. Pengambilan sampel dan pengujian.
Pelaksana pengawasan.
1. Pengawasan di Tingkat Produksi

Dilakukan sebagai upaya preventif agar produk MP-ASI yang dihasilkan dapat
terjamin mutu dan keamanannya.Pengawasan ini meliputi penerapan Cara
Produksi Makanan Bayi dan Anak (CPMB) dan ketentuan lainnya mengacu
kepada SK Dirjen POM nomor 02665/B/SK/VIII/91 tentang Cara Produksi
Makanan Bayi dan Anak.
Dilakukan pula pengambilan sampel produk akhir dan pengujian untuk
menetapkan tindak lanjutnya.Mutu produk yang dihasilkan mengacu kepada
Standar Nasional Indonesia (SNI) nomor 01-3842-1995, tentang "Makanan
pelengkap serelia instan untuk bayi dan anak".

2. Pengawasan di Tingkat Peredaran

Pengawasan ini dilakukan selama MP-ASI berada dalam pengangkutan hingga


berada di tempat penyimpanan sebelum didistribusikan kepada konsumen yang
dituju.Pengawasan tersebut berupa pemantauan produk untuk melihat kondisi
mutu dan keamanannya.Disamping itu dilakukan juga pengambilan sampel untuk
dilakukan pengujian serta tindak-lanjutnya. Kepala Gudang Kabupaten/Kota
yang bertanggung-jawab menerima produk MP-ASI perlu segera
menginformasikan kepada Balai POM di wilayah tersebut mengenai mutu produk
MP-ASI.
Balai POM akan mengambil langkah-langkah selanjutnya untuk menjamin
keamanan produk tersebut.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh penanggung jawab gudang antara
lain:
• Keadaan kemasan
• Organoleptik : warna, bau, rasa dan konsistensi
• Tanggal kadaluarsa
Pengawasan tersebut mengacu kepada Juknis Pengawasan MP-ASI yang
ditetapkan oleh Badan POM.
3. di Tingkat Konsumen

Beberapa konsumen dipilih secara acak sebagai sampel untuk memantau cara
penggunaan, penyimpanan sekaligus dampak negatif yang mungkin terjadi
selama penggunaan MP-ASI.

4. Pengambilan Sampel dan Pengujian

Sebagaimana uraian di atas, pengambilan sampel dilakukan di tingkat produksi,


di tingkat peredaran dan bila perlu di tingkat konsumsi. Sampel dibawa ke
laboratorium pengujuan dengan cara yang higienis sesuai dengan ketentuan
penanganan sampel.
Sampel diuji dengan mempergunakan fasilitas pengujian yang dimiliki oleh Balai
POM atau fasilitas lain yang ditetapkan oleh Balai POM dengan
mempertimbangkan efesiensi dan efektifitas pelaksanaan pengujian.
Parameter pengujian secara umum mengacu kepada SNI 01-3842-1995 tentang
"Makanan pelengkap serelia instan untuk bayi dan anak", namun untuk
efesiensinya pengujian diutamakan pada parameter uji yang berkaitan dengan
keamanan produk MP-ASI tersebut.
Parameter uji tersebut adalah:
1) Pengujian organoleptis yaitu: warna, bau, rasa, konsistensi dan cemaran
fisik.
2) Pengujian kadar air.
3) Pengujian mikrobiologis meliputi:
4) Total Plate Count (TPC)
• Salmonella
• MPN Coliform
• Jamur

5. Pelaksana Pengawasan

Pengawasan di tingkat produksi, tingkat peredaran maupun di tingkat konsumen


dilakukan oleh aparat Balai POM secara rutin.Khusus untuk MP-ASI Program
JPS-BK, biaya pelaksanaan pengawasan MP-ASI secara keseluruhan
dibebankan pada paket manajemen JPS-BK Kabupaten/Kota.Hasil pelaksanaan
pengawasan, termasuk tindak lanjut dan evaluasi pengawasan dilaporkan
kepada Dinas Kesehatan Propinsi.

C. LANGKAH KEGIATAN
A. Pendataan Sasaran
1) Di Tingkat Desa
a) Bidan di desa melakukan pendataan sasaran dengan mengisi
formulir Daftar Keluarga Miskin seperti pada lampiran 2 (PG 8,
dalam buku Juknis Program JPS-BK untuk Bidan di Desa) dan
dilaporkan kepada Kepala Puskesmas.
b) Bidan di Desa membuat rencana pelaksanaan kegiatan MP-ASI
tingkat desa berdasarkan jumlah sasaran.
2) Di Tingkat Puskesmas
a) Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) Puskesmas melakukan pengecekan
data sasaran MP-ASI yang dilaporkan oleh Bidan di Desa
b) TPG Puskesmas membuat rencana pelaksanaan kegiatan MP-ASI
tingkat kecamatan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
c) Menghitung jumlah sasaran (bayi umur 6 – 11 bulan).
d) Menghitung kebutuhan MP-ASI adalah (jumlah sasaran) x 180 hr x
100 gram.
e) Mengajukan usulan kebutuhan MP-ASI kepada Kepala
Puskesmas (lebih baik dirinci perbulan).
f) TPG menginformasikan kepada Bidan di Desa tentang jumlah
sasaran dan jumlah MP-ASI untuk masing-masing desa setiap
bulan.
3) Di Lokasi Pengungsian
a)Petugas di lokasi pengungsian (tenaga kesehatan, LSM, PMI, dll)
melakukan registrasi sasaran bayi 6-11 bulan dan kelompok
Balita lainnya yang mungkin membutuhkan.
b)Menghitung kebutuhan MP-ASI:
i. Bayi 6-11 bulan = 100 g/hari/bayi,
ii. Anak 12-24 bulan = 125 g/hari/anak,
iii. Kelompok berumur >2 tahun bulan = 150 g/r har/anak.
c)Mengajukan usulan kebutuhan MP-ASI kepada Satkorlak PBA, PMI,
Dinkes Kababupaten/Kota
.
D. Model Penyelenggaraan
TPG memberikan penjelasan tentang berbagai model penyelenggaraan
MP-ASI kepada Tim Desa dan Bidan di Desa. Selanjutnya Tim Desa
menentukan model penyelenggaraan MP-ASI berdasarkan jumlah sasaran dan
penyebaran sasaran.Bila jumlah sasaran cukup banyak dan terkumpul, makan
model yang dianjurkan adalah pola PPG (posyandu, polindes, BKB), sedangkan
bila sasaran terpencar diupayakan penggunaan model ibu asuh atau penjaja
makanan.
Beberapa model penyelenggaraan pemberian MP-ASI:
1. Penyelenggaraan Pemberian MP-ASI dengan model PPG :
a. Kader menerima MP-ASI untuk bayi usia 6 – 11 bulan dari Bidan di Desa
sesuai jumlah sasaran.
b. Kader memberikan MP-ASI kepada ibu sasaran penerima MP-ASI jadual
pemberian MP-ASI, yaitu 2 – 4 kali sebulan atau tergantung kondisi
setempat.
c. Kader mendemonstrasikan cara menyiapkan MP-ASI untuk kebutuhan 1
kali makan dan membagikan MP-ASI tersebut untuk kebutuhan sesuai
dengan jadual pada butir b.
d. Kader mencatat semua pemberian MP-ASI ke dalam register pemberian
MP-ASI, sesuai dengan lampiran 3.
e. Kader melakukan penimbangan bayi setiap bulan dan mencatat hasil
penimbangan pada Kartu Menuju Sehat (KMS).
f. Kader memberikan penyuluhan mengenai : manfaat MP-ASI, cara
pengolahan dan penyimpanan, nasehat agar pemberian ASI diteruskan,
pemberian MP-ASI yang tepat, serta informasi mengenai tanda-tanda MP-
ASI yang tidak layak dikonsumsi (kadaluarsa, warna, aroma dan bentuk
makanan berubah, tercemar bahan berbahaya dll).
2. Penyelenggaraan Pemberian MP-ASI dengan Ibu Asuh
a. Ibu asuh menerima MP-ASI dari bidan untuk bayi umur 6 – 11 bulan
b. Ibu asuh menginformasikan kepada ibu sasaran, tentang jam pemberian
MP-ASI setiap hari
c. Ibu asuh mendemonstrasikan cara penyiapan MP-ASI untuk kebutuhkan
1 kali makan/porsi bagi bayi 6 – 11 bulan dan memberikan MP-ASI untuk
dibawa pulang sesuai kebutuhan.
d. Ibu asuh mengantar MP-ASI bagi ibu sasaran yang tidak hadir.
e. Ibu asuh mengajurkan kepada ibu sasaran agar hadir di posyandu setiap
bulan, untuk menimbang berat badan bayi penerima MP-ASI.
f. Ibu asuh mencatat semua MP-ASI yang diberikan kepada sasaran, pada
formulir register pemberian MP-ASI.
3. Penyelenggaraan di lokasi pengungsian
a. Masing-masing ketua kelompok menerima MP-ASI sesuai dengan
rencana kebutuhan.
b. Ketua kelompok diberikan informasi cara penyiapan dan pemberian MP-
ASI.
c. Ketua kelompok dibantu oleh beberapa ibu menyiapkan dan memasak
MP-ASI, kemudian membagikan kepada anggota sesuai dengan jumlah
sasaran.
d. Ketua Kelompok mencatat semua pemberian MP-ASI ke dalam register
pemberian MP-ASI, sesuai dengan lampiran 3.
e. Ketua Kelompok dibantu oleh petugas di lokasi pengungsian melakukan
penimbangan bayi setiap bulan dan mencatat hasil penimbangan pada
register pemberian MP-ASI
f. Ketua kelompok dibantu oleh petugas di pengungsian untuk memberikan
penyuluhan mengenai : manfaat MP-ASI, cara pengolahan dan
penyimpanan, nasehat agar pemberian ASI diteruskan, pemberian MP-
ASI yang tepat, serta informasi mengenai tanda-tanda MP-ASI yang tidak
layak dikonsumsi (kadaluarsa, warna, aroma dan bentuk makanan
berubah, tercemar bahan berbahaya dll).
Apabila dijumpai kelainan pertumbuhan (BB anak tidak naik) atau gangguan
kesehatan akibat pemberian MP-ASI maka segera dirujuk ke faslitas
kesehatan terdekat/puskesmas.

E. Pengajuan Rencana Kebutuhan MP-ASI


1. TPG meneliti dan merekap kebutuhan MP-ASI yang diusulkan oleh
seluruh Bidan di Desa di wilayah puskesmas tersebut.
2. TPG mengajukan usulan kebutuhan MP-ASI melalui Kepala Puskesmas
kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan tembusan ke
Ketua Tim Koordinasi Kecamatan (TKK), berdasarkan lampiran 3 (Buku
Juknis JPS-BK untuk Bidan di Desa).
3. TPG bersama Bidan di Desa membuat rencana usulan distribusi bulanan
MP-ASI.
4. khusus didaerah pengungsian, ketua kelompok mengajukan rencana
kebutuhan MP-ASI kepada petugas di pengungsian. Petugas
pengungsian meneliti dan merakap kebutuhan MP-ASI kemudian
mengajukan ke Satkorlak PBA/PMI/Dinkes Kab/Kota.

F. Penjelasan Tentang MP-ASI kepada Tenaga Pelaksana

Koordinator Gizi Kabupaten/Kota membuat jadwal kegiatan ke setiap


Puskesmas.TPG membuat jadual rencana penjelasan untuk Bidan di Desa.
Bidan di Desa akan melanjutkan penjelasan tersebut kepada pelaksana dan
keluarga sasaran. Berdasarkan rencana tersebut penjelasan tentang MP-ASI
meliputi hal-hal sebagai berikut :
1. Penjelasan Koordinator Gizi Kabupaten/Kota ke TPG
a. Model penyelenggaraan MP-ASI
b. Sasaran
c. Komposisi dan kemasan MP-ASI
d. Cara penyiapan, jumlah dan frekuensi pemberian
e. Lama pemberian (180 hari)
f. Cara menghitung kebutuhan dan mengusulkan permintaan MP-ASI
g. Cara penyimpanan
h. Pengisian register MP-ASI
i. Cara pencatatan MP-ASI
j. Cara melakukan rujukan
k. Tanda-tanda MP-ASI tidak layak konsumsi

2. Penjelasan TPG ke Bidan


a. Model penyelenggaraan MP-ASI
b. Sasaran
c. Komposisi, kemasan MP-ASI
d. Cara penyiapan, jumlah dan frekuensi pemberian
e. Lama pemberian (180 hari)
f. Cara menghitung kebutuhan dan mengusulkan permintaan MP-ASI
g. Cara penyimpanan
h. Pengisian register MP-ASI
i. Cara pencatatan MP-ASI
j. Cara melakukan rujukan
k. Tanda-tanda MP-ASI tidak layak konsumsi

3. Penjelasan Bidan ke Kader/Ibu Asuh


a. Sasaran
b. Cara penyiapan, jumlah dan frekuensi pemberian
c. Lama pemberian (180 hari)
d. Cara penyimpanan
e. Pengisian register MP-ASI
f. Cara pencatatan MP-ASI
g. Cara melakukan rujukan
h. Model penyelenggaraan MP-ASI
i. Tanda-tanda MP-ASI tidak layak konsumsi

4. Penjelasan Kader/Ibu Asuh ke orang tua sasaran


a. Sasaran
b. Cara penyiapan, jumlah dan frekuensi pemberian
c. Lama pemberian (180 hari)
d. Cara penyimpanan
e. Tanda-tanda MP-ASI tidak layak dikonsumsi
f. Anjuran melapor ke petugas kesehatan/puskesmas jika ada
tanda-tanda gangguan kesehatan setelah mengkonsumsi MP-ASI

5. Penjelasan petugas di pengungsian kepada ketua kelompok dan ibu


sasaran
a. Sasaran
b. Cara penyiapan, jumlah dan frekuensi pemberian
c. Cara penyimpanan
d. Tanda-tanda MP-ASI tidak layak konsumsi
e. Anjuran melapor ke petugas kesehatan/puskesmas jika ada tanda-
tanda gangguan kesehatan setelah mengkonsumsi MP-ASI

G. Cara Penyiapan dan Pemberian MP-ASI

Setiap bayi 6-11 bulan akan mendapat MP-ASI blended food sebanyak 100
gr/hari, anak 12-24 bulan 125 g/hari dan anak diatas 24 bulan 150 g/hari.
Makanan dapat diberikan 3-4 kali sehari.
1. Cara penyiapan MP-ASI
Apabila MP-ASI yang diterima adalah MP-ASI yang harus dimasak
terlebih dahulu, cara penyiapannya sebagai berikut :
a. Cuci tangan terlebih dahulu dengan sabun
b. Persiapkan alat-alat bersih.
c. Masukkan MP-ASI ke dalam panci dan tambahkan air matang dengan
perbandingan 1:4, contoh untuk bayi 6-11 bulan setiap 30 gr MP-ASI atau
kurang lebih 3 sendok makan dicampur dengan 120 ml air (kurang lebih
1/2 gelas).
d. Aduk hingga rata dan dimasak sampai matang (5 menit).
e. Setiap hidangan untuk satu kali makan.
f. Hangat-hangat kuku, berikan segera pada bayi.

2. Apabila MP-ASI yang diterima adalah MP-ASI yang siap saji (instan), cara
penyiapannya sebagai berikut:

a. Cuci tangan terlebih dahulu dengan sabun


b. Persiapkan alat-alat bersih.
c. Tuangkan air panas (kurang lebih 100 ml) yang matang dalam mangkuk
bersih, lalu campurkan kurang lebih 25-30 gr MP-ASI tersebut atau kurang
lebih 3 sendok makan (untuk bayi 6-11 bulan).
d. Aduk hingga rata.
e. Setiap hidangan untuk satu kali makan.
f. Hangat-hangat kuku, berikan segera pada bayi.
3. PENANGANAN KASUS YANG MUNGKIN TERJADI

Beberapa dampak negatif yang terjadi yang diduga akibat mengkonsumsi


MP-ASI antara lain diare, muntah-muntah dan alergi.
Untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya kejadian luar biasa yang
disebabkan oleh MP-ASI:
Petugas surveilans Kabupaten/Kota dan Puskesmas perlu melakukan
surveilans epidemiologi yang ketat, terutama dalam hal Sistem
Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa (SKD-KLB) dengan mengacu
kepada pedoman yang sudah ada

Bila terjadi kasus diare akut dan diare dengan masalah lain lakukan
penanggulangan/tata-laksana kasus sesuai dengan prosedur dan
pedoman yang sudah ada (bagan tata-laksana diare).
A. Diare Dengan atau Tanpa Muntah-Muntah
1) Bila bayi makan MP-ASI dan mengalami diare/mencret sehari
lebih dari 3 kali dengan konsistensi cair/encer dengan atau
tanpa pendarahan.
2) Kadang-kadang disertai panas/demam, muntah-muntah dan
perut kejang/kram sehingga anak kesakitan,
maka perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:

i. Di rumah Tangga/Keluarga di Lokasi Pengungsian


• Segera stop pemberian makanan MP-ASI.
• Teruskan pemberian ASI lebih sering dan lebih lama
pada setiap kali pemberian ASI.
• Berikan salah satu atau lebih cairan berikut ini: oralit,
larutan gula garam, cairan makanan (kuah sayur, air
tajin) atau air matang.
• Sisa MP-ASI yang dalam kemasan kemudian
dibawa/diserahkan ke petugas kesehatan/Puskesmas
untuk diperiksa.
• Bila bayi diare terus menerus dan atau disertai muntah,
malas minum/menyusu, kotoran disertai darah atau
kejang maka bayi segera dibawa ke petugas
kesehatan/puskesmas.
ii. Di Tingkat Puskesmas/di Lokasi Pengungsian
• Berikan pengobatan sesuai dengan tata-laksana kasus
(lihat lampiran/Bagan tata-laksana diare)
• Rujuk ke RS bila diperlukan
• Pengambilan sampel sisa MP-ASI yang ada dalam
kemasan untuk bahan pemeriksaan ke Laboratorium
Kesehatan Daerah di Kabupaten/Kota atau Balai POM.
• Lapor ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
• Melakukan kunjungan lapangan/investigasi untuk
penyelidikan epidemiologi.

B. ALERGI
1. Tanda-tanda/gejala
• Bila dalam waktu beberapa jam sampai dengan 24 jam
timbul warna kemerahan/bintik merah terlihat makin lama
makin melebar.
• Mulanya di tempat-tempat tertentu kemudian menyebar ke
seluruh tubuh.
• Tubuh menjadi bengkak, kelopak mata dan bibir bengkak,
mata berair.
2. Penyebab
Anak rentan terhadap makanan tertentu (biasanya protein).
3. Tindakan yang dilakukan
a. Di rumah tangga/Keluarga di Lokasi Pengungsian
i. Hentikan pemberian MP-ASI
ii. Teruskan pemberian ASI
iii. Bawa anak ke petugas kesehatan/Petugas di lokasi
pengungsian/Puskesmas/RS
iv. Bawa sisa MP-ASI dalam kemasan ke petugas
kesehatan/petugas di lokasi pengungsian/Puskesmas
untuk diperiksa.
b. Petugas Puskesmas/Petugas di Lokasi Pengungsian
i. Berikan obat antihistamin kepada penderita
ii. Rujuk kepada dokter
iii. Bila anak shock lakukan infus dan tata-laksana
iv. manajemen shock
v. Tanyakan kepada ibu riwayat alergi
vi. Apakah ada alergi makanan tertentu sebelumnya
(telur, ayam dll) ?
vii. Apakah MP-ASI ditambah bahan makanan lain,
sebutkan ?

H. PEMANTAUAN DAN EVALUASI


A. Mekanisme Pemantauan
1)Di Kabupaten/Kota
a) Penanggung Jawab Gudang Kab/Kota/di Lokasi Pengungsian
• Melakukan pemeriksaan kualitas fisik MP-ASI yang ada di
gudang.
• Memisahkan MP-ASI rusak dan kadaluarsa.
• Konfirmasi mutu MP-ASI ke Balai POM Propinsi.
• Memeriksa jumlah MP-ASI di gudang dengan menggunakan
kartu barang/kartu stok termasuk Surat Bukti Masuk/Keluar
Barang.
2) Koordinator Gizi/Satkorlak PBA/PMI
• Koordinator gizi Kabupaten/kota melakukan pemantauan ke
lapangan dengan menggunakan check list pemantauan seperti
tabel lampiran 6.
• Membuat laporan dan menindak-lanjuti laporan dari tingkat
puskesmas yang berkaitan dengan distribusi dan konsumsi MP-
ASI.
3) Di Puskesmas dan Bidan di Desa/Petugas di lokasi
pengungsianTPG dan Bidan di Desa/petugas di lokasi pengungsian
secara periodik memantau unit pelaksana MP-ASI (PPG, ibu asuh,
ketua kelompok pengungsi) dengan menggunakan daftar
pertanyaan-pertanyaan seperti tabel lampiran 6.

Kepada ibu sasaran penerima MP-ASI, ajukan pertanyaan yang menyangkut hal-
hal berikut dan tulis jawabannya secara lengkap dan jelas.
1. Apakah ibu sudah mendapat MP-ASI ?
2. Apakah ibu mengetahui cara menyiapkan MP-ASI ?
3. Apakah MP-ASI dimakan sendiri oleh bayi sasaran atau anggota keluarga
lainnya?Jika tidak, mengapa ?
4. Apakah setiap pemberian MP-ASI habis dimakan oleh bayi atau tidak ?
Jika tidak apa alasannya ?
5. Apakah ada keluhan kesehatan bayi setelah diberikan MP-ASI ?

I. Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan menyangkut hal-hal berikut:
1) Semua bayi (6-11 bulan) dari keluarga miskin memperoleh MP-ASI.
2) 80% sasaran penerima MP-ASI naik berat badannya.
J. Evaluasi
Pada saat pemberian MP-ASI pertama kali, bayi ditimbang berat
badannya dan dicatat di KMS sebagai data dasar.Setiap bulan setelah menerima
MP-ASI bayi harus ditimbang berat badannya.Lakukan tindak lanjut hasil
penimbangan sesuai dengan Buku Pedoman Kader Posyandu yaitu apabila
berat badan bayi tetap/tidak naik/turun dan dibawah garis merah.Seharusnya
berat badan bayi harus bertambah dengan bertambahnya umur.
Setiap bulan dilakukan pengolahan dan analisa untuk mengetahui
perkembangan persentase bayi yang naik berat badannya. Hasil evaluasi ini
dilaporkan oleh Dinas Kesehatan Kab/Kota untuk bahan tindak lanjut ke tim
koordinasi kabupaten/kota dan tim koordinasi propinsi.

Khusus untuk program JPS-BK evaluasi yang lebih dalam akan dilakukan oleh
pihak ketiga yang independen.