Anda di halaman 1dari 27

PRAKTIKUM

LAB TEKNIK KIMIA 2


SOLID LIQUID REACTOR
NAMA / NIM PRAKTIKAN :

1. ABDULLAH JA’FAR AFIFI (2031510001)


2. ADE VIRGIE HAYOENING P (2031510004)
3. DINAR RISNANDHA E (2031510019)

GRUP PRAKTIKUM : 1 PAGI

TANGGAL PRAKTIKUM : 06 APRIL 2018

ASISTEN : MIA RINAWATI

Cuaca Suhu Udara Suhu Air Tekanan Udara

Cerah 30 oC 27 oC 54% Hygrometer

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNOLOGI DAN AGROINDUSTRI
UNIVERSITAS INTERNASIONAL SEMEN INDONESIA
INTISARI

Percobaan solid liquid reactor yang bertujuan untuk Mempelajari pelarutan partikel
bola padat pada cairan yang mengalami agitasi dan mengukur secara eksperimen
koefisien perpindahan massa antar fase.Solid liquid reactor adalah teknik dimana
perpindahan massa dari satu fase ke fase lain yang berbeda atau melalui satu fase,
prinsip dasarnya sama ketika fase gas, cair ataupun padat.Perpindahan massa
merupakan gerakan molekul-molekul atau fluida yang disebabkan adanya gaya
pendorong. Yang dilakukan pertamakali dalam percobaan ini yaitu mengukur diameter
gula batu variabel awal yaitu 2,5 dan 3cm. Kemudian, langkah percobaannya pertama
mengisi beaker glass dengan air tidaklebihdari 700 ml lalumenyalakan agitator
berpengaduk dan mengatur variable kecepatannya yaitu 300, 600 dan 900 rpm.
Kemudian memasukkan gula batu pada beaker glass dan menyalakan agitator. Lalu
melakukan pengadukan dengan waktu 10 menit, namun setiap 2 menitgula batu
dikeringkan dengan tisu kemudian diukur diameter dan ditimbang massanya. Tujuan
gula batu dikeringkan terlebih dahulu agar hasil penimbangan massa yang diperoleh
adalah hasil murni berat gula batu tidak ada massa air sehingga hasil penimbangan
untuk mengetahui pengurangan massa gula batu lebih akurat. Dari langkah awal hingga
akhir dilakukan lagi hingga semua variable terpenuhi. Pengamatan yang
dilakukanialahsemakin lama waktu akan mempengaruhi massa gula batu. Berdasarkan
grafik 𝑘𝐿𝑆 dan diamter gula 2,5 diketahui bahwa semakin cepat pengadukkan maka nilai
𝑘𝐿𝑆 akan semakin meningkat. Namun pada diameter 3 nilai 𝑘𝐿𝑆 yang didapatkan setelah
mengalami kenaikan meudian mengalami penurunan. Nilai 𝑘𝐿𝑆 teoritis pada diameter 2
cm didapatkan nilai antara lain, 0,015072; 0,011804; dan 0,013403. Sedangkan pada
diameter 3 cm didapatkan nilai, antara lain 0,012559; 0,013116; dan 0,02316.
Berdasarkan nilai 𝑘𝐿𝑆 teoritis dan eksperimen, diketahui bahwa reaksi berjalan cepat
karena 𝑘𝐿𝑆 eksperimen lebih besar daripada 𝑘𝐿𝑆 teoritis.

Keyword :reactor, agitasi dan diameter


DAFTAR ISI

INTISARI ...................................................................................................................... i
DAFTAR ISI ................................................................................................................. ii
DAFTAR TABEL ......................................................................................................... iii
DAFTAR GAMBAR ..................................................................................................... iv
BAB I. PENDAHULUAN
1.1. Tujuan Percobaan ..................................................................................... 1
1.2. Dasar Teori ................................................................................................ 1
BAB II. PERCOBAAN
2.1. Variabel Percobaan .................................................................................. 4
2.2. Metodologi percobaan .............................................................................. 4
2.3. Alat dan bahan .......................................................................................... 5
2.4. Gambar alat .............................................................................................. 6
BAB III. HASIL PERHITUNGAN DAN PEMBAHASAN
3.1. Hasil Percobaan ........................................................................................ 6
3.2. Hasil Perhitungan ...................................................................................... 7
3.3. Pembahasan .............................................................................................. 8
BAB IV. KESIMPULAN .............................................................................................. 16
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................... v
DAFTAR NOTASI ....................................................................................................... vi
APPENDIKS .................................................................................................................. vii
DAFTAR TABEL

Tabel 3.1.1. Hasil Perubahan Diameter dan Massa Setiap 2 menit saat D= 2cm.......... 6
Tabel 3.1.2. Hasil Perubahan Diameter dan Massa Setiap 2 menit saat D= 3cm.......... 6
Tabel 3.2.1. Hasil Perhitungan M dan A Partikel Saat D = 2,5 cm ................................ 7
Tabel 3.2.2. Hasil Perhitungan M dan A Partikel Saat D = 2,8 cm ................................ 7
Tabel 3.2.3. Hasil Perhitungan M dan A Partikel Saat D = 2,5 cm ................................ 8
Tabel 3.2.4. Hasil Perhitungan M dan A Partikel Saat D = 3 cm ................................... 8
Tabel 3.2.5. Hasil Perhitungan M dan A Partikel Saat D = 3 cm ................................... 8
Tabel 3.2.6. Hasil Perhitungan M dan A Partikel Saat D = 3 cm ................................... 9
Tabel 3.2.7. Hasil Perhitungan Memcari sh ................................................................... 9
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.2.1 Tipe reaktor Solid-liquid .......................................................................... 3


Gambar 2.4.1 Skema Alat Percobaan ............................................................................. 5
1
𝑀 3
Gambar 3.3.1 Grafik (𝑀𝑜) vs t saat 300 rpm diameter 2,5 cm ..................................... 11
1
𝑀 3
Gambar 3.3.2 Grafik (𝑀𝑜) vs t saat 600 rpm diameter 2,8 cm ..................................... 11
1
𝑀 3
Gambar 3.3.3 Grafik (𝑀𝑜) vs t saat 900 rpm diameter 2,5 cm ..................................... 12
1
𝑀 3
Gambar 3.3.4 Grafik (𝑀𝑜) vs t saat 300 rpm diameter 3 cm ........................................ 12
1
𝑀 3
Gambar 3.3.5 Grafik (𝑀𝑜) vs t saat 600 rpm diameter 3 cm ........................................ 13
1
𝑀 3
Gambar 3.3.6 Grafik (𝑀𝑜) vs t saat 900 rpm diameter 3 cm ........................................ 13

Gambar 3.3.7 Grafik 𝑘𝐿𝑆 vs rpm diameter 2,5 cm ......................................................... 14


Gambar 3.3.8 Grafik 𝑘𝐿𝑆 vs rpm diameter 3 cm ............................................................ 15
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Tujuan Percobaan


Tujuan dari percobaan Solid Liquid Reactor (Heterogeneous) adalah sebagai
berikut :
1. Mempelajari pelarutan partikel bola padat pada cairan yang mengalami agitasi.
2. Mengukur secara eksperimen koefisien perpindahan massa antar fase.

1.2. Dasar Teori


1.2.1. Prinsip perpindahan massa
Dalam dunia industri sering djumpai alat-alat distilasi, dryer, ekstraksi, absorpsi,
adsorpsi, stripping dan membran. Ketika terjadi perpindahan massa dari satu fase ke
fase lain yang berbeda atau melalui satu fase, prinsip dasarnya sama ketika fase gas,
cair ataupun padat. Perpindahan massa merupakan gerakan molekul-molekul atau
fluida yang disebabkan adanya gaya pendorong. Secara umum persamaan laju
perpindahan adalah sebagai berikut :
𝑑𝑟𝑖𝑣𝑖𝑛𝑔 𝑓𝑜𝑟𝑐
𝑙𝑎𝑗𝑢 𝑝𝑒𝑟𝑝𝑖𝑛𝑑𝑎ℎ𝑎𝑛 = .............................................. (1)
𝑟𝑒𝑠𝑖𝑠𝑡𝑎𝑛𝑐𝑒

Pada perpindahan massa, driving force adalah perbedaan konsentrasi.

(Geankoplis, 2003)

1.2.2. Perpindahan massa padat-cair


Perpindahan massa padat-cair merupakan hal yang penting dalam banyak
industri seperti pelarutan, kristalisasi, ekstrasi, fermentasi,dll. Bejana berpengaduk
(agitated vessels) sering digunakan karena efektif dalam melarutkan partikel padat,
memastikan bahwa seluruh area permukaan dapat dimanfaatkan serta karena
menyebabkan laju perpindahan yang baik (Boon-long, 1978).
Berdasarkan literatur, dikatakan bahwa laju perpindahan massa antara padatan
dengan cairan yang mengalami pengadukan biasanya dapat dituliskan seperti persamaan
berikut (Sensei, 1992):
m = k LS A(CSAT − CL ) ................................................................ (2)
Percobaan tersebut dilakukan dalam sistem batch dengan hasil neraca massa
sementara pada penguraian padatan sebagai berikut :
dM
= −m = −k LS A(CSAT − CL ) ....................................... (3)
dL

ketika disamakan dengan neraca massa pada fase cair yaitu

dCL
VL = −m = −k LS A(CSAT − CL ).................................. (4)
dL

Beberapa persamaan ini berhubungan dengan konsentrasi cairan dan harus


diuraikan secara simultan. Prosedur penyelesaiannya dapat disederhanakan dengan
menjumlahkan total padatan yang didistribusikan antara fasa padat dan cair konstan
sebagai nilai awal.

M0 + VL CLO = M + VL CL ................................................. (5)

Persamaan tersebut dapat dikombinasikan dengan persamaan (3), dapat


dipecahkan untuk menghasilkan prediksi. Meskipun padatan terurai, terjadi perubahan
ukuran dan bentuk, serta perubahan yang dihasilkan interfacial area harus
diperhitungkan. Setiap efek perubahan ukuran partikel pada koefisien perpindahan
massa antar fase akan diabaikan dalam analisis ini.

Dalam percobaan, partikel diasumsikan berbentuk spherical. Ukuran awal


padatan adalah sama dan diasumsikan bahwa partikel tersebut akan terurai dalam laju
yang sama. Sehingga, massa dari padatan dengan r adalah jari-jari adalah sebagai
berikut :

4
M = 3 πr 3 ρs n..................................................................... (6)

Dan interfacial area sebagai berikut.

A = 4πr 2 n ......................................................................... (7)

Apabila persamaan (4), (5) dan (6) disubtitusikan ke dalam persamaan (3), maka

dM 36 π n M2 M0 −M
= −k LS ( ) (CSAT − (CL0 + ))............... (8)
dt ρ2s VL
Persamaan tersebut merupakan hasil secara perhitungan, tetapi solusi secara analitis
mungkin jika konsentrasi fase liquid lebih kecil dari konsentrasi jenuh (CL << CSAT ).
Persamaan (8) dapat diintegrasikan untuk menghasilkan hubungan antara waktu dengan
fraksi massa dalam fasa padat.

1 3
M 4π n 3
= [1 − ( ) k LS CSAT t]
M0 3M0 ρ2s

(Sensel, 1992)

1.2.3. Tipe Reaktor Solid=Liquid


Terdapat 3 tipe reaktor solid-liquid, antara lain batch, liquid continous dan batch
continous yang digambarkan sebagai berikut

Gambar 1.2.1 Tipe reaktor Solid-liquid

Tipe (a) biasanya dioperasikan sebagai reaktor batch, tipe (b) merupakan bagian dari
proses kontinu tetapi hanya fluida yang dapat melewatinya dengan padatan tersisa
dalam bejana, meskipun dalam tipe ini ukuran partikel yang tersisa mungkin saja tetap
(contohnya jika padatan berupa katalis) serta tipe (c) keduanya padat dan cairan dapat
mengalir terus menerus seperti dalam alat kristalisasi (Nienow, 2001).
BAB II
METODE PERCOBAAN

2.1. Variabel Percobaan


Variabel yang digunakan dalam percobaan ini adalah diameter 2,5 cm dan 3 cm
serta variasi kecepatan pengadukkan sebesar 300, 600, 900 rpm.

2.2. Metodologi Percobaan

Mulai

Menyiapkan peralatan

Menimbang massa gula batu dan mengukur


diameternya

Memasang impeller ke alat

Mengisi air kedalam beaker glass 1000 mL


sebanyak 600 ml

Memasukkan gula batu ke dalam beaker glass dengan


menggunakan rpm 300 selama 10 menit

Setiap 2 menit sekali gula batu diambil untuk


diukur diameter dan massanya

variabel yang digunakan 300,600, dan 600 rpm

Setiap pergantian rpm, maka solid dan air harus


diganti pula
2.3 Alat dan Bahan
a. Alat
Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah sebagai berikut
1. Beaker Glass 1000 mL 1 buah
2. Stopwatch 1 buah
3. Gelas Ukur 500 mL 1 buah
4. Neraca Analitik 1 buah
5. Kaca Arloji 1 buah
6. Termometer 1 buah
b. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah sebagai berikut
1. Air
2. GulaBatu

2.4 Gambar Alat

Berikut ini merupakan skema alat pada Percobaan Solid Liquid Reactor :

Gambar 2.4.1 Skema Alat Percobaan


BAB III
HASIL PERHITUNGAN DAN PEMBAHASAN

3.1. Hasil Percobaan


Hasil yang didapatkan dari percobaan adalah sebagai berikut:

Tair = 27ºC
ρ solid = 961 kg/m3
Csat = 0,21464 kg/m3
Diameter Vessel = 0,11 m
CL =0
VL = 0,0006 m3

Tabel 3.1.1. Hasil Perubahan Diameter dan Massa Setiap 2 menit saat D= 2,5 cm

Time (min) 0 2 4
speed (rpm) d10 m10 d11 m11 d12 m12
2,5 15,67 2,3 15,21 2,1 13,75
300
2,8 19,88 2,5 15,88 2,3 12,37
600
2,5 21,18 2,3 15,2 2 9,32
900

6 8 10
d13 m13 d14 m14 d15 m15 dave mave
2 12,18 1,8 10,4 1,7 9,03 2,06667 12,7067

2 9,18 1,8 7,05 1,5 5,14 2,15 11,5833

1,9 5,07 1,7 2,56 1,5 1,32 1,98333 9,10833

Tabel 3.1.2. Hasil Perubahan Diameter dan Massa Setiap 2 menit saat D= 3 cm
Time (min) 0 2 4
speed (rpm) d10 m10 d11 m11 d12 m12
3 37,63 2,5 35,35 2,3 32,45
300
3 23,43 2,8 19,15 2,5 15,64
600
3 33,97 2,9 27,44 2,7 20,69
900

6 8 10
d13 m13 d14 m14 d15 m15 dave mave
2,2 26,67 2 26,38 1,8 23,61 2,3 30,3483

2,3 12,18 2 8,48 1,9 4,91 2,41667 13,965

2,3 14,4 2 8,67 1,7 4,66 2,43333 18,305

3.2. Hasil Perhitungan

Tabel 3.2.1. Hasil Perhitungan M dan A Partikel Saat D = 2,5 cm


rpm 300 M0 0,01567
t(s) d (m) r (m) M (kg) A (m2)
0 0,025 0,0125 0,01567 0,001963

120 0,023 0,0115 0,00194875 0,001661

240 0,021 0,0105 0,0014833 0,001385

0,02 0,01 0,00128133 0,001256


360

480 0,018 0,009 0,00093409 0,001017

600 0,017 0,0085 0,0007869 0,000907

A ave 0,00136

Tabel 3.2.2. Hasil Perhitungan M dan A Partikel Saat D = 2,8 cm


Rpm 600 M0 0,01988
t(s) d (m) r (m) M (kg) A (m2)
0 0,028 0,014 0,01988 0,002462

120 0,025 0,0125 0,00785818 0,001963

240 0,023 0,0115 0,00611907 0,001661

360 0,02 0,01 0,00402339 0,001256


480 0,018 0,009 0,00293305 0,001017

600 0,015 0,0075 0,00169737 0,000707

A ave 0,000151

Tabel 3.2.3. Hasil Perhitungan M dan A Partikel Saat D = 2,5 cm


Rpm 750 M0 0,02118
t(s) d (m) r (m) M (kg) A (m2)
0 0,025 0,0125 0,02118 0,001963

120 0,023 0,0115 0,00611907 0,001661

240 0,02 0,01 0,00402339 0,001256

360 0,019 0,0095 0,00344955 0,001134

480 0,017 0,0085 0,00247086 0,000907

600 0,015 0,0075 0,00169737 0,000707

A ave 0,000127

Tabel 3.2.4. Hasil Perhitungan M dan A Partikel Saat D = 3 cm

rpm 300 M0 0,3763


t(s) d (m) r (m) M (kg) A (m2)
0 0,03 0,015 0,03763 0,002826

120 0,025 0,0125 0,00785818 0,001963

240 0,023 0,0115 0,00611907 0,001661

360 0,022 0,011 0,00535513 0,00152

480 0,02 0,01 0,00402339 0,001256

600 0,018 0,009 0,00293305 0,001017

A ave 0,00171

Tabel 3.2.5. Hasil Perhitungan M dan A Partikel Saat D = 3 cm

Rpm 600 M0 0,02343


t(s) d (m) r (m) M (kg) A (m2)
0 0,03 0,015 0,02343 0,006895

120 0,028 0,014 0,01104017 0,001531

240 0,025 0,0125 0,00785818 0,000776

360 0,023 0,0115 0,00611907 0,00047

480 0,02 0,01 0,00402339 0,000203

600 0,019 0,0095 0,00344955 0,000149

A ave 0,00167
Tabel 3.2.6. Hasil Perhitungan M dan A Partikel Saat D = 3 cm

Rpm 900 M0 0,03397


t(s) d (m) r (m) M (kg) A (m2)
0 0,03 0,015 0,03397 0,014494

120 0,029 0,0145 0,0122658 0,00189

240 0,027 0,0135 0,00989904 0,001231

360 0,023 0,0115 0,00611907 0,00047

480 0,02 0,01 0,00402339 0,000203

600 0,017 0,0085 0,00247086 7,67E-05

A ave 0,00306

Tabel 3.2.7. Hasil Perhitungan Memcari sh

Rpm D (cm) Sh
300 2,5 44,1731535

600 2,8 31,2507791

900 2,5 42,1762012

300 3 29,4283901

600 3 31,4011742

900 3 30,2667564
3.3. Pembahasan
Percobaan Solid Liquid Reactor bertujuan untuk mempelajari pelarutan partikel
bola padat pada cairan yang mengalami agitasi serta mengukur secara eksperimen
koefisien perpindahan massa antar fase. Variabel yang digunakan dalam percobaan ini
adalah variabel diameter (2,5 cm dan 3 cm) dan rpm (300, 600, dan 900). Pada
1
𝑀 3
percobaan ini dapat mengetahui grafik (𝑀𝑜) vs waktu (t) pada setiap variabel diameter

dan rpm sehingga didapatkan nilai 𝑘𝐿𝑆 dari grafik, dapat pula membandingkan mass
transfer coefficient (𝑘𝐿𝑆 ) vs rpm pada setiap variabel diameter serta dapat
membandingkan nilai 𝑘𝐿𝑆 (exp) dengan 𝑘𝐿𝑆 (theoritical). Langkah pertama yang harus
dilakukan pada percobaan ini adalah menyiapkan berbagai peralatan serta bahan. Bahan
yang digunakan dalam percobaan ini adalah gula batu. Gula batu termasuk gula
sukrosa. Alasan menggunakan gula batu adalah karena gula batu mudah larut dalam air.
Menurut (Lowe, 1937) kelarutan sukrosa dalam air pada suhu 25 ⁰C adalah sebanyak
211,4 gram dalam 100 gram air.. Berdasarkan literatur tersebut dapat diketahui bahwa
kelarutan dipengaruhi oleh suhu.
Langkah selanjutnya mengukur diameter gula batu yang telah dibentuk seperti bola
serta melakukan penimbangan dengan neraca analitik sehingga diketahui massa
awalnya. Tujuan gula batu dibentuk bola adalah supaya memudahkan dalam
pengukuran luas permukaan partikel karena bentuknya beraturan. Setelah itu mengisi
gelas beker denagn air 600 ml kemudian alat dirangkai seperti pada skema alat. Air
yang digunakan sebanyak 600 ml karena apabila lebih dari 600 ml dengan
menggunakan rpm sebesar 900 akan mengakibatkan air tumpah dan membentuk vortex
sehingga akan mempengaruhi hasil percobaan. Setelah alat telah dirangkai dan
kecepatan pengadukkan diatur pada 300 rpm, gula batu dengan diameter 2,5 cm
dimasukkan ke dalam gelas beker kemudian dinyalakan tombol on sehingga impeller
mulai berputar. Setiap 2 menit sekali sampai 10 menit, gula batu dikeringkan dengan
tisu kemudian diukur diameter dan ditimbang massanya. Tujuan gula batu dikeringkan
terlebih dahulu dengan tisu supaya hasil penimbangan massa yang diperoleh adalah
hasil murni berat gula batu tidak ada massa air sehingga hasil penimbangan untuk
mengetahui pengurangan massa gula batu lebih akurat. Lakukan langkah-langkah
tersebut diatas hingga mendapatkan semua data dari masing-masing variabel. Pada saat
akan melakukan percobaan untuk variabel selanjutnya, air dan gula batu yang
digunakan haru diganti dengan yang baru supaya hasil percobaan akurat. Karena
apabila tetap menggunakan air yang telah digunakan untuk variabel sebelumnya akan
menyebabkan hasil yang tidak akurat karena larutan telah mencapai kondisi jenuh.
Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan pada gula batu yang memiliki
diameter 2,5 cm dengan kecepatan pengadukkan 300 rpm apabila diplotkan ke dalam
1
𝑀 3
grafik (𝑀𝑜) vs waktu (t) adalah sebagai berikut :

Grafik (M/M0)^1/3
vs t saat 300 rpm
0.6
y = -0.0003x + 0.5274
(M/M0)^1/3

0.4 R² = 0.9868

0.2 Series1
Linear (Series1)
0
0 120 240 360 480 600
rpm

1
𝑀 3
Gambar 3.3.1 Grafik (𝑀𝑜) vs t saat 300 rpm diameter 2,5 cm

Saat diameter gula batu 2,8 cm dengan kecepatan pengadukkan 600 rpm apabila ke
1
𝑀 3
dalam diplotkan grafik (𝑀𝑜) vs waktu (t) adalah sebagai berikut :

Grafik (M/M0)^1/3
vs t saat 600 rpm
0.8
0.7
M/M0)^1/3

y = -0.0006x + 0.8132
0.6 R² = 0.9952
0.5 Series1
0.4 Linear (Series1)
0.3
0 120 240 360 480 600
rpm

1
𝑀 3
Gambar 3.3.2 Grafik (𝑀𝑜) vs t saat 600 rpm diameter 2,8 cm
Saat diameter gula batu 2,8 cm dengan kecepatan pengadukkan 600 rpm apabila ke
1
𝑀 3
dalam diplotkan grafik (𝑀𝑜) vs waktu (t) adalah sebagai berikut :

Grafik (M/M0)^1/3
vs t saat 900 rpm
0.7
y = -0.0005x + 0.7042
M/M0)^1/3

0.6
R² = 0.9810
0.5
Series1
0.4
Linear (Series1)
0.3
0 120 240 360 480 600
rpm

1
𝑀 3
Gambar 3.3.3 Grafik (𝑀𝑜) vs t saat 900 rpm diameter 2,5 cm

Apabila menggunakan variasi diameter yang kedua yaitu 3 cm saat 300 rpm
didapatkan data sebagai berikut :

Grafik (M/M0)^1/3
vs t saat 300 rpm
0.7
y = -0.0003x + 0.6336
M/M0)^1/3

0.6 R² = 0.9897

Series1
0.5
Linear (Series1)
0.4
0 120 240 360 480 600
rpm

1
𝑀 3
Gambar 3.3.4 Grafik (𝑀𝑜) vs t saat 300 rpm diameter 3 cm
Saat menggunakan gula batu diameter 3 cm pada 600 rpm, didapatkan grafik sebagai
berikut :

Grafik (M/M0)^1/3
vs t saat 600 rpm
0.8
y = -0.0005x + 0.8310
M/M0)^1/3

0.7 R² = 0.9796
0.6
Series1
0.5
Linear (Series1)
0.4
0 120 240 360 480 600
rpm

1
𝑀 3
Gambar 3.3.5 Grafik (𝑀𝑜) vs t saat 600 rpm diameter 3 cm

Saat menggunakan gula batu diameter 3 cm pada 600 rpm, didapatkan grafik sebagai
berikut :

Grafik (M/M0)^1/3
vs t saat 900 rpm
0.8 y = -0.0006x + 0.7980
M/M0)^1/3

0.7 R² = 0.9928
0.6
0.5 Series1
0.4
0.3 Linear (Series1)
0 120 240 360 480 600
rpm

1
𝑀 3
Gambar 3.3.6 Grafik (𝑀𝑜) vs t saat 900 rpm diameter 3 cm

1
𝑀 3
Berdasarkan plot grafik antara (𝑀𝑜) vs waktu (t) diketahui bahwa semakin lama

waktu akan mempengaruhi massa gula batu. Massa gula batu terus menerus mengalami
penurunan, sehingga pada grafik diatas grafik mengalami penurunan. Penurunan massa
gula batu juga mempengaruhi diameternya. Hal ini seperti yang terlihat pada tabel
3.1.1.

Setelah mendapatkan persamaan linier dari masing-masing diameter pada tiap rpm,
langkah selanjutnya adalah menghitung nilai 𝑘𝐿𝑆 dari grafik. Berdasarkan perhitungan
yang telah dilakukan, apabila diplotkan grafik antara 𝑘𝐿𝑆 vs rpm didapatkan data
sebagai berikut :

0.12
KLs vs rpm diameter 2,5 cm
0.1 y = 0.0002x - 0.0617
R² = 0.9883
0.08

0.06
Series1
KLs

0.04 Linear (Series1)


0.02

0
0 300 600 900
-0.02 rpm

Gambar 3.3.7 Grafik 𝑘𝐿𝑆 vs rpm diameter 2,5 cm


Berdasarkan grafik diatas diketahui bahwa semakin cepat pengadukkan maka nilai
𝑘𝐿𝑆 akan semakin meningkat. Hal ini menandakan bahwa laju perpindahan massa juga
semakin cepat, karena konsentrasi larutan semakin lama semakin meningkat ditandai
dengan penurunan massa gula batu akibat larut dalam air.
KLs vs rpm diameter 3 cm
0.21
0.2
0.19 y = 8E-05x + 0.1268
R² = 0.4988
0.18
0.17
KLs

0.16 Series1
0.15 Linear (Series1)
0.14
0.13
0.12
0 300 600 900
rpm

Gambar 3.3.8 Grafik 𝑘𝐿𝑆 vs rpm diameter 3 cm


Berdasarkan hasil grafik diatas, nilai 𝑘𝐿𝑆 yang didapatkan setelah mengalami
kenaikan meudian mengalami penurunan. Hal ini karena pengukuran diamter yang
tidak akurat sehingga mempengaruhi saat penimbangan massa gula batu. Terlebih lagi
bentuk gula batu tidak bulat sepenuhnya.
Nilai 𝑘𝐿𝑆 teoritis pada diameter 2 cm didapatkan nilai antara lain, 0,015072;
0,011804; dan 0,013403. Sedangkan pada diameter 3 cm didapatkan nilai, antara lain
0,012559; 0,013116; dan 0,02316. Berdasarkan nilai 𝑘𝐿𝑆 teoritis dan eksperimen,
diketahui bahwa reaksi berjalan cepat karena 𝑘𝐿𝑆 eksperimen lebih besar daripada 𝑘𝐿𝑆
teoritis.
BAB IV
KESIMPULAN

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Gulabatu yang mengalami agitasi mengalami penurun amassa yang menandakan


bahwa gula batu mengalami pelarutan karena proses agitasi.
2. Nilai 𝑘𝐿𝑆 teoritis pada diameter 2 cm didapatkan nilai antara lain, 0,015072;
0,011804; dan 0,013403. Sedangkan pada diameter 3 cm didapatkan nilai,
antara lain 0,012559; 0,013116; dan 0,02316.
Liquid Solid Fluidization| v

DAFTAR NOTASI

Notasi Keterangan Satuan


A Total liquid-solid interfacial area at any time m2
𝑪𝑳 Konsenstrasi larutan Kg/m3

𝑪𝑺𝑨𝑻 Konsentrasi saturated Kg/m3

d Diameter partikel M
Dv diffusity m2/s
g Gaya gravitasi m2/s
Ga Galileo number
𝒌𝑳𝑺 Koefisien perpindahan massa m/s
M Total massa Kg
ṁ Laju perpindahan massa Kg/s
n Jumlah partikel yang digunakan
N Kecepatan pengadukkan Sec-1
r Jari-jari partikel m
Re Reynold number
Sc Schmidt number
T Waktu s
T Diameter vessel m
U Konsentrasi solid
𝑽𝑳 Volume liquid m3
µ viskositas Kg/m.s
ρ Densitas air Kg/m3
𝝆𝑺 Densitas partikel Kg/m3
ω Kecepatan angular pengadukan Sec-1
o Subscript indicating initial conditions
𝒗 Kinematic viscosity m2/s
L i q u i d S o l i d F l u i d i z a t i o n | vi

DAFTAR PUSTAKA

Boon-Long, dkk. 1976. Mass Transfer From Suspended Solids to A Liquid in Agitated
Vessels. Chemical Engineering Science Vol 33, 813-819.

Geankoplis, Christie J. 2003. Transport Processes and Separation


Process Principles (Includes Unit Operations). 4th edition. New Jersey:
Prentice Hall.

Lowe, Bell. 1937. Experimental Cookery From the Chemical and Chemical
Standpoint. London : John Willey & Sons, Inc.

Nienow, A.W. Mixing in the Process Industries Second Edition. London : Butterworth-
Heinemann.

Sensel, Elizabeth.,Myers,Kevin. 1992. Add Some Flavor To your Agitation Experiment.


Chemical Engineering Education.
L i q u i d S o l i d F l u i d i z a t i o n | vii

APPENDIKS

Perhitungan diatas menggunakan data di bawah ini:

𝑇𝑎𝑖𝑟 = 27°C

𝜌𝑠𝑜𝑙𝑖𝑑 = 997,08𝐾𝑔⁄𝑚3

𝐶𝑠𝑎𝑡 = 214,64𝐾𝑔⁄𝑚3

Diameter Vessel = 0,11 m

𝐶𝐿 = 0𝐾𝑔⁄𝑚3

𝑉𝐿 = 0,0006𝑚3

Mencari 𝑴𝟎
Massa Partikel 15,67
𝑀0 = = =0,01567 Kg
1000 1000

Mencari A

𝐴 = 4𝜋𝑟 2

= 4 x 3,14 x (0,0125)2

= 0,001963𝑚2

Mencari nilai X

Interpolasi µ

T μ (kg/ m s)
1 𝑋−0,00837
26 0,0008737 = 0,000836−0,0008737 = 0,000855 𝑘𝑔⁄𝑚 𝑠
2

27 x

28 0,000836
L i q u i d S o l i d F l u i d i z a t i o n | viii

Maka nilai X = 0,000855 𝑘𝑔⁄𝑚 𝑠

Interpolasi ρ

T ρ (kg/ m3) 2 𝑋−997,08


= 995,68−997,08 = 996,52𝑘𝑔⁄𝑚 𝑠
5
25 997,08

27 x

30 995,68

Makanilai ρ = 996,52𝑘𝑔⁄𝑚 𝑠

Mencari nilai Ga

996,522 ∗ 9,81∗ 0,113


𝐺𝑎 = = 1,7743E+10
0,0008555

Mencari ω

𝜔 = 2𝜋N

Mencari Re

𝑑𝑎𝑣𝑒
(( )∗𝐷𝑖𝑎𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑉𝑒𝑠𝑠𝑒𝑙∗ 𝜔∗ 𝜋
100
𝑅𝑒 =
𝜌/µ

2,06667
(( )∗0,11∗(2 ∗ 3,14 ∗ (2,5∗ 60))∗3,14)
100

𝑅𝑒 = 0,000855/996,52

𝑅𝑒 = 940634753

Mencari U
L i q u i d S o l i d F l u i d i z a t i o n | ix

𝑀
𝑈=
𝜌𝑑 3

12,7067
𝑈=
996,52/2,066673

𝑈 = 0,00144455

Mencari Dv

𝐴𝑎𝑣𝑒
𝐷𝑣 =
∆𝑡
0.001365
𝐷𝑣 =
2
𝐷𝑣 = 0,0006825

Mencari Sc
µ
𝑆𝑐 =
𝜌𝐷𝑣

0,000855
𝑆𝑐 =
996,52 ∗ 0,0006825

𝑆𝑐 = 0,001257

Mencari Sh

𝑆ℎ =44,1731535

Mencari KLs

𝑆ℎ ∗ 𝑆𝑐
𝐾𝐿𝑠 =
2
44,1731535 ∗ 0,001257
𝐾𝐿𝑠 =
2
Liquid Solid Fluidization| x

𝐾𝐿𝑠 =0,015072

KLs Teoritis

𝐾𝐿𝑠 300 ∗ 𝐾𝐿𝑠 600 ∗ 𝐾𝐿𝑠 900


𝐾𝐿𝑠𝑡𝑒𝑜 =
3

𝐾𝐿𝑠𝑡𝑒𝑜 = 0,005261

Anda mungkin juga menyukai