Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN

KEBUTUHAN OKSIGENASI

OLEH:
Aditya Rahman
NPM. 1914901110002

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANJARMASIN
2019
LAPORAN PENDAHULUAN
KEBUTUHAN OKSIGENASI

1. Konsep Kebutuhan Oksigenasi


1.1 Definisi/deskripsi kebutuhan oksigenasi
Kebutuhan oksigenasi merupakan kebutuhan dasar manusia yang digunakan
untuk mempertahankan kelangsungan metabolisme sel tubuh bagi individu
untuk mempertahan kelangsungan hidupnya.
Oksigenasi adalah memberikan aliran gas oksigen (O2) lebih dari 21 % pada
tekanan 1 atmosfer sehingga konsentransi oksigen meningkat dalam tubuh (
Kristina (2013) dalam Saryono dan Widianti (2010).

1.2 Fisiologi sistem/ fungsi normal sistem pernafasan


Sistem pernafasan yang yang berperan dalam kebutuhan oksigenasi dimulai
dari:
1.2.1 Hidung yang merupakan rongga nasal/hidung, dimana proses oksigenasi
diawali dengan masuknya udara melalui hidung.
1.2.2 Faring/pharynx yang berhubungan dengan rongga buccal.
1.2.3 Laring/larynx yang merupakan tempat pita suara terletak, merupakan
saluran pernafasan setelah faring
1.2.4 Epiglotis, merupakan katup tulang rawan yang bertugas menutup laring
saat proses menutup.
1.2.5 Trakea atau batang tenggorok, merupakan kelanjutan dari laring sampai
kira-kira ketinggian vertebrae torakalis kelima.
1.2.6 Bronkus yang membentuk percabangan trakea dan masuk ke paru-paru,
merupakan kelanjutan dari trakea yang bercabang menjadi bronkus kanan
dan kiri.
1.2.7 Bronkioluss, merupakan saluran percabangan setelah bronkus
1.2.8 Alveoli, merupakan kantung udara tempat terjadinya pertukaran oksigen
dengan karbondioksida

Fisiologi pernafasan meliputi tiga tahapan proses oksigenasi yaitu ventilasi,


difusi, dan perfusi
1.2.1 Ventilasi
1.2.1.1 Ventilasi merupakan proses keluar dan masuknya oksigen dari
atmosfer ke dalam alveoli dan dari alveoli ke atmosfer
1.2.1.2 Proses ventilasi dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu adanya
perbedaan tekanan antara atmosfer dengan paru-paru.
1.2.1.3 Pengaruh proses ventilasi selanjutnya adalah complienci dan
recoil
1) Complienci merupakan kemapuan paru unutuk mengembang
2) Recoil merupakan kemampuan CO2 atau kontraksi
menyempitnya paru
1.2.1.4 Pusat pernafasan yaitu medulla oblongata dan pons, dapat
dipengaruhi oleh ventilasi
1.2.1.5 Faktor-faktor yang mempengaruhi ventilasi meliputi
1) Tekanan udara atmosfer dan konsentrasi oksigen di atmosfer
2) Jjalan nafas yang bersih
3) Pengembangan paru yang adekuat, yaitu adanya kemampuan
toraks dan alveoli pada paru-paru dalam melaksakn ekspansi
paru atau kembang kempis.
1.2.2 Difusi
1.2.2.1 Difusi gas merupakan pertukaran antara oksigen di alveoli dengan
kapiler paru dan karbondioksida di kapiler dengan alveoli
1.2.2.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi difusi, antara lain:
1) Luas permukaan paru
2) Tebal membran respirasi atau permeabilitas yang terdiri atas
epitel aveoli dan interstisial ( keduanya dapat mempengaruhi
proses difusi apabila terjadi proses penebalan)
3) Jumlah darah
4) Keadaan/jumlah kapiler darah
5) Afinitas
6) Waktu adanya udara di alveoli

1.2.3 Perfusi dan transportasi gas


1.2.3.1 Perfusi merupakan aliran darah ke dan dari membran kapiler
sehingga dapat berlangung pertukaran gas (oksigen
didistribusikan dari paru-paru ke darah dan karbondiokida dari
darah ke alveoli)
1.2.3.2 Transportasi gas merupakan proses pendistribusian oksigen dari
kapiler ke jaringan tubuh dan karbondioksida dari jaringan tubuh
ke kapiler.
1.2.3.3 Transportasi gas dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu:
1) Curah jantung (kardiak output)
2) Kondisi pembuluh darah
3) Latihan (exercise)
4) Perbandingan sel darah dengan darah secara keseluruhan
(hematokirt)
5) Eritosit dan kadar Hb (Anik, 2015)

1.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan fungsi sistem pernafasan


1.3.1 Faktor fisiologi
1.3.1.1 Menurunnya kapasitas O2 seperti pada anemia
1.3.1.2 Menururnnya konsentrasi O2 yang diinspirasi seperti pada
obstruksi saluran nafas bagian atas
1.3.1.3 Hipovolemia sehingga tekanan darah menurun mengakibatkan
transpor O2 terganggu
1.3.1.4 Meningkatnya metabolisme seperti adanyya infeksi, demam, ibu
hamil, luka, dan lain-lain
1.3.1.5 Kondisi yang mempengaruhi pergerakan dinding dada seperti
pada kehamilan, obesitas, muskuloskeletal yang abnormal, serrta
penyakit kronis seperti TB paru
1.3.2 Faktor perkembangan
1.3.2.1 Bayi prematur yang disebabkan kurangnya pembentukan
surfaktan
1.3.2.2 Bayi dan toddler: adanya resiko infeksi saluran pernafasan akut
1.3.2.3 Anak-anak usia sekolah dan remaja: resiko infeksi saluran
pernafasan dan merokok.
1.3.2.4 Dewasa muda dan pertengahan: diet yangg tidak sehat, kurang
aktivitas, dan stress yang dapat mengakkibatkan penyakit jantung
dan paru-paru
1.3.2.5 Dewasa tua: adanya proses penuaan yaang mengakibatkan
kemungkinan arteriosklerosis, elastisitas menurun, dan ekspansi
paru menurun.
1.3.3 Faktor perilaku
1.3.3.1 Nutrisi: misalnya pada obesitas mengakibatkan penurunan
ekspansi paru, gizi yang buruk menjadi anemia sehingga daya ikat
oksigen berkurang, dite yang tinggi lemak menimbulkan
arteriosklerosis.
1.3.3.2 Latihan: dapat meningkaykan kebutuhan oksigen
1.3.3.3 Merokok: nikotin menyebabkan vasokonstriksi pembulu darah
perifer dan koroner.
1.3.3.4 Penyalahgunaan substansi (alkohol dan obat-obatan):
menyebabkan intake nutrisi Fe menurun mengakibatkan
penurunan hemoglobin, alkohol menyebabkan depresi pusat
pernafasan.

1.3.4 Faktor lingkungan


1.3.4.1 Tempat kerja (polusi)
1.3.4.2 Temperatur lingkungan
1.3.4.3 Ketinggian tempat dai permukaan laut (Tartowo dan Wartonah,
2015)

1.4 Macam-macam gangguan yang mungkin terjadi pada sistem pernafasan


1.4.1 Hipoksia
Hipoksia adalah kekurangan oksigen di jaringan. Hipoksia dapat terjadi
jika difusioksigen dari alveoli ke dalam darah arteri menurun, seperti
pada edema paru, dimana hal ini dapat diakibatkan dari masalah-masalah
suplai oksigen ke dalam jaringan (seperti anemia, gagal jantung atau
emboli).
Hipoksia dapat dibagi ke dalam empat kelompok yaitu:
1.4.1.1 Hipoksemia
Hipoksemia adalah kekurangan oksigen di dalam arteri.
Hipoksemia terdiri dari dua jenis yaitu hipoksemia hipotonik dan
hipoksemia isotonik.
1) Hipoksemia hipotonik terjadi dimana tekanan oksigen arteri
rendah karena karbondioksida dalam darah tinggi dan
hipoventilasi.
2) Hipoksemia isotonik terjadi dimana oksigen norml, tetapi
jumlah oksigen yang dapat diikat hemoglobin sedikit (hal ini
terdapat pada kondisi anemia, keracunan karbondioksida).
1.4.1.2 Hipoksia hipokinetik (stagnant anoksia/anoksia bendungan)
Hipoksia hipokinetikn yaitu hipoksia yang terjadi akibat adanya
bendungan atau sumbatan. Hipoksia hipokinetik dibagi kedalam
dua jenis yaitu hipoksia hipokinetik iskemik dan hipoksia
hipokinetik kongestif.
1) Hipoksia hipokinetik iskeik terjadi dimana kekuranganoksigen
pada jaringan. Hal ini disebabkan karena kurangnya suplai
darah ke jaringan tersebut akibat penyempitan arteri.
2) Hipoksia hipokinetik kongestif terjadi akibat penumpukan
darah secara berlebihan atau abnormal baik lokal maupun
umum. Hal ini mengakibatkan suplai oksigen ke jaringan
terganggu, sehingga jaringan kekurangan oksigen.
1.4.1.3 Overventilasi hipoksia
Overventilasi hipoksia yaitu hipoksia yang terjadi karena aktivitas
yang berlebihan. Hal ini menyebabkan kemampuan penyediaan
oksigen lebih rendah dari penggunaannya.
1.4.1.4 Hipoksia histotoksik
Hipoksia histotoksik yaitu keadaan dimana darah di kapiler
jaringan mencukupi, tetapi jaringan tidak dapat
menggunakanoksigen karena pengaruh racun sianida. Hal ini
mengakibatkan oksigen kembali ke darah vena dalah jumlah yang
lebih banyak daripada normal (oksigen darah vena meningkat).
Tanda-tanda hipoksia
1) Nadi cepat
2) Pernafasan cepat dan dangkal
3) Gelisah meningkat atau sakit kepala ringan
4) Nafas cuping hidung
5) Retraksi pada substernal atau intercostal
6) Sianosis
1.4.2 Insufisiensi pernafasan
terdapat tiga kelompok utama penyebab insufisiensi pernafasan yaitu:
a. Kondisi yang menyebabkan hipoventilasi alveolus, seperti:
1) Kelumpuhan otot pernafasan, misalnya pada poliomielitis, transeksi
servikal.
2) Penyakit yang meningkatkan kerja ventilasi, seperti asma,
emfisema, TBC, dan lain-lain
b. Kelainan yang menurunkan kapasitas difusi paru:
1) Kondisi yang menyebabkan luas permukaan difusi berkurang,
misalnya kerusakan jaringan paru, TBC, kanker, dan lain-lain.
2) Kondisi yang menyebabkan penebalan membran pernafasan,
misalnya pada edema paru, pneumonia, dan lain-lain.
3) Kondisi yang menyebabkan rasiio ventilasi dan perfusi yang tidak
normal dalam beberapa bagian paru, misalnya pada trombosis paru.
c. Kondisi paru yang menyebabkan terganggunya pengangkutan oksigen
dari paru-paru ke jaringan yaitu:
1) Anemia dimana berkurangnya jumlah total hemoglobin yang
tersedia untuk transpor oksigen
2) Keracunan karbondioksida dimana sebagian besar hemoglobin
menjadi tidak dapat mengangkut oksigen.
3) Penurunan aliran darah ke jaringan yang disebabakan oleh karena
curah jantung yang rendah.
1.4.3 Gangguan irama dan gangguan frekuensi pernafasan
a. Gangguan irama pernafasan
1) Pernafasan Cheyne-Stokes
Pernafasan cheyne-stokes yaitu siklus pernafasan yang
amplitudonya mula-mula dangkal, makin naik kemudian menurun
dan berhenti.
2) Pernafasan biot
Pernafsan biot yaitu pernafasan yang mirip dengan pernafasan
cheyne-stokes, tetapi amplitudonya rata dan di sertai apnea.
3) Pernafasan kussmaul
Pernafasan kussmaul yaitu pernafasan yang jumlah dan
kedalamannya meningkat sering melebihin 20 kali/menit.
b. Gangguan frekuensi pernafasan
1) Takipnea/hiperpnea yaitu frekuensi pernafasan yang jumlahnya
meningkat di atas frekuensi pernafasan normal
2) Bradipnea, dimana frekuensi pernafasannya yang jumlahnya
menurun di bawah frekuensi pernafasan normal.
3) Apnea adalah henti nafas.
4) Orthopnea adalah ketidakmampuan bernafas, kecuali bila pasien
dalam posisi berdiri atau setengah duduk.
5) Dispnea merupakan pernafasn yang sulit atau sesak nafas (Tartowo
dan Martonah, 2015).
1.4.4 Hiperventilasi
Upaya tubuh dalam meningkatkan jumlah O2 dalam paru-paru agar
pernafasan lebih cepat dandalam. Tanda dan gejala : Takikardia,
nafaspendek, nyeri dada ( chest pain ) , menurunnya konsentrasi,
disorientasi.
1.4.5 Hipoventilasi
Terjadi ketika ventilasialveolar tidak adekuat untukmemenuhi
penggunaan O2tubuh atau mengeluarkanCO2 dengan cukup.Biasanya
terjadi padaatelektasis (kolaps paru)

1.5 Pemeriksaan Penunjang


Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk mengetahui
adanya gangguan oksigenasi yaitu:

1.5.1 EKG: menghasilkan rekaman grafik aktivitas listrik jantung, mendeteksi


transmisi impuls dan posisi listrik jantung.
1.5.2 Pemeriksaan stres latihan, digunakan untuk mengevaluasi respond
jantung terhadap stres fisik. Pemeriksaan ini memberikan informasi
tentang respond miokard terhadap peningkatan kebutuhan oksigen dan
menentukan keadekuatan aliran darah koroner.
1.5.3 Pemeriksaan untuk mengukur keadekuatan ventilasi dan oksigenasi ;
pemeriksaan fungsi paru, analisis gas darah (AGD).

1.6 Metode pemberian oksigen


Untuk cara pemberian oksigen bermacam- macam seperti dibawah ini (Potter,
2005):
1.6.1 Melalui inkubator
1.6.2 Head box
1.6.3 Nasal kanul ( low flow atau high flow)
1.6.4 Nasal CPAP (continuous positive airway pressure)
1.6.5 Nasal Intermittent Positive Pressure Ventilation (NIPPV)
1.6.6 Ventilator (dengan memasukkan endotracheal tube)

1.7 Diagnosa Keperawatan


1.7.1Bersihan Jalan Nafas tidak Efektif
Definisi :
Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari
saluran pernafasan untuk mempertahankan kebersihan jalan nafas
Batasan Karakteristik :
- Dispneu, Penurunan suara nafas
- Orthopneu
- Cyanosis
- Kelainan suara nafas (rales, wheezing)
- Kesulitan berbicara
- Batuk, tidak efekotif atau tidak ada
- Mata melebar
- Produksi sputum
- Gelisah
- Perubahan frekuensi dan irama nafas
Faktor-faktor yang berhubungan:
- Lingkungan : merokok, menghirup asap rokok, perokok pasif-POK,
infeksi
- Fisiologis : disfungsi neuromuskular, hiperplasia dinding bronkus,
alergi jalan nafas, asma.
- Obstruksi jalan nafas : spasme jalan nafas, sekresi tertahan, banyaknya
mukus, adanya jalan nafas buatan, sekresi bronkus, adanya eksudat di
alveolus, adanya benda asing di jalan nafas.

1.7.2Pola Nafas tidak efektif


Definisi :
Pertukaran udara inspirasi dan/atau ekspirasi tidak adekuat
Batasan karakteristik :
- Penurunan tekanan inspirasi/ekspirasi
- Penurunan pertukaran udara per menit
- Menggunakan otot pernafasan tambahan
- Nasal flaring
- Dyspnea
- Orthopnea
- Perubahan penyimpangan dada
- Nafas pendek
- Assumption of 3-point position
- Pernafasan pursed-lip
- Tahap ekspirasi berlangsung sangat lama
- Peningkatan diameter anterior-posterior
- Pernafasan rata-rata/minimal
 Bayi : < 25 atau > 60
 Usia 1-4 : < 20 atau > 30
 Usia 5-14 : < 14 atau > 25
 Usia > 14 : < 11 atau > 24
- Kedalaman pernafasan
 Dewasa volume tidalnya 500 ml saat istirahat
 Bayi volume tidalnya 6-8 ml/Kg
- Timing rasio
- Penurunan kapasitas vital

Faktor yang berhubungan :


- Hiperventilasi
- Deformitas tulang
- Kelainan bentuk dinding dada
- Penurunan energi/kelelahan
- Perusakan/pelemahan muskulo-skeletal
- Obesitas
- Posisi tubuh
- Kelelahan otot pernafasan
- Hipoventilasi sindrom
- Nyeri
- Kecemasan
- Disfungsi Neuromuskuler
- Kerusakan persepsi/kognitif
- Perlukaan pada jaringan syaraf tulang belakang
- Imaturitas Neurologis

1.7.3Gangguan Pertukaran gas


Definisi :
Kelebihan atau kekurangan dalam oksigenasi dan atau pengeluaran
karbondioksida di dalam membran kapiler alveoli
Batasan karakteristik :
- Gangguan penglihatan
- Penurunan CO2
- Takikardi
- Hiperkapnia
- Keletihan
- somnolen
- Iritabilitas
- Hypoxia
- kebingungan
- Dyspnoe
- nasal faring
- AGD Normal
- sianosis
- warna kulit abnormal (pucat, kehitaman)
- Hipoksemia
- hiperkarbia
- sakit kepala ketika bangun
- frekuensi dan kedalaman nafas abnormal

Faktor faktor yang berhubungan :


- ketidakseimbangan perfusi ventilasi
- perubahan membran kapiler-alveolar

Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi


1. Bersihan jalan nafas tidak efektif
NOC : NIC :
 Respiratory status : Ventilation Airway suction
 Respiratory status : Airway patency  Pastikan kebutuhan oral / tracheal
 Aspiration Control suctioning
 Auskultasi suara nafas sebelum dan
Kriteria Hasil : sesudah suctioning.
 Mendemonstrasikan batuk efektif dan  Informasikan pada klien dan keluarga
suara nafas yang bersih, tidak ada tentang suctioning
sianosis dan dyspneu (mampu  Minta klien nafas dalam sebelum suction
mengeluarkan sputum, mampu bernafas dilakukan.
dengan mudah, tidak ada pursed lips)  Berikan O2 dengan menggunakan nasal
 Menunjukkan jalan nafas yang paten untuk memfasilitasi suksion nasotrakeal
(klien tidak merasa tercekik, irama nafas,  Gunakan alat yang steril sitiap melakukan
frekuensi pernafasan dalam rentang tindakan
normal, tidak ada suara nafas abnormal)  Anjurkan pasien untuk istirahat dan napas
 Mampu mengidentifikasikan dan dalam setelah kateter dikeluarkan dari
nasotrakeal
mencegah factor yang dapat
 Monitor status oksigen pasien
menghambat jalan nafas  Ajarkan keluarga bagaimana cara
melakukan suksion
 Hentikan suksion dan berikan oksigen
apabila pasien menunjukkan bradikardi,
peningkatan saturasi O2, dll.

Airway Management
 Buka jalan nafas, guanakan teknik chin
lift atau jaw thrust bila perlu
 Posisikan pasien untuk memaksimalkan
ventilasi
 Identifikasi pasien perlunya pemasangan
alat jalan nafas buatan
 Pasang mayo bila perlu
 Lakukan fisioterapi dada jika perlu
 Keluarkan sekret dengan batuk atau
suction
 Auskultasi suara nafas, catat adanya
suara tambahan
 Lakukan suction pada mayo
 Berikan bronkodilator bila perlu
 Berikan pelembab udara Kassa basah
NaCl Lembab
 Atur intake untuk cairan mengoptimalkan
keseimbangan.
 Monitor respirasi dan status O2

2. Pola Nafas tidak efektif


NOC : NIC :
 Respiratory status : Ventilation Airway Management
 Respiratory status : Airway patency  Buka jalan nafas, guanakan teknik chin
 Vital sign Status lift atau jaw thrust bila perlu
Kriteria Hasil :  Posisikan pasien untuk memaksimalkan
 Mendemonstrasikan batuk efektif dan ventilasi
suara nafas yang bersih, tidak ada  Identifikasi pasien perlunya pemasangan
sianosis dan dyspneu (mampu alat jalan nafas buatan
mengeluarkan sputum, mampu bernafas  Pasang mayo bila perlu
dengan mudah, tidak ada pursed lips)  Lakukan fisioterapi dada jika perlu
 Menunjukkan jalan nafas yang paten  Keluarkan sekret dengan batuk atau
(klien tidak merasa tercekik, irama nafas, suction
frekuensi pernafasan dalam rentang  Auskultasi suara nafas, catat adanya
normal, tidak ada suara nafas abnormal) suara tambahan
 Tanda Tanda vital dalam rentang  Lakukan suction pada mayo
normal (tekanan darah, nadi, pernafasan)  Berikan bronkodilator bila perlu
 Berikan pelembab udara Kassa basah
NaCl Lembab
 Atur intake untuk cairan mengoptimalkan
keseimbangan.
 Monitor respirasi dan status O2

Terapi Oksigen
 Bersihkan mulut, hidung dan secret
trakea
 Pertahankan jalan nafas yang paten
 Atur peralatan oksigenasi
 Monitor aliran oksigen
 Pertahankan posisi pasien
 Onservasi adanya tanda tanda
hipoventilasi
 Monitor adanya kecemasan pasien
terhadap oksigenasi

Vital sign Monitoring


 Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
 Catat adanya fluktuasi tekanan darah
 Monitor VS saat pasien berbaring, duduk,
atau berdiri
 Auskultasi TD pada kedua lengan dan
bandingkan
 Monitor TD, nadi, RR, sebelum, selama,
dan setelah aktivitas
 Monitor kualitas dari nadi
 Monitor frekuensi dan irama pernapasan
 Monitor suara paru
 Monitor pola pernapasan abnormal
 Monitor suhu, warna, dan kelembaban kulit
 Monitor sianosis perifer
 Monitor adanya cushing triad (tekanan
nadi yang melebar, bradikardi,
peningkatan sistolik)
 Identifikasi penyebab dari perubahan vital
sign

3. Gangguan Pertukaran gas


NOC : NIC :
 Respiratory Status : Gas exchange Airway Management
 Respiratory Status : ventilation  Buka jalan nafas, guanakan teknik
 Vital Sign Status chin lift atau jaw thrust bila perlu
Kriteria Hasil :  Posisikan pasien untuk
 Mendemonstrasikan peningkatan memaksimalkan ventilasi
ventilasi dan oksigenasi yang adekuat  Identifikasi pasien perlunya
 Memelihara kebersihan paru paru dan pemasangan alat jalan nafas buatan
bebas dari tanda tanda distress  Pasang mayo bila perlu
pernafasan  Lakukan fisioterapi dada jika perlu
 Mendemonstrasikan batuk efektif dan  Keluarkan sekret dengan batuk atau
suara nafas yang bersih, tidak ada suction
sianosis dan dyspneu (mampu  Auskultasi suara nafas, catat adanya
mengeluarkan sputum, mampu bernafas suara tambahan
dengan mudah, tidak ada pursed lips)  Lakukan suction pada mayo
 Tanda tanda vital dalam rentang
 Berika bronkodilator bial perlu
norma  Barikan pelembab udara
 Atur intake untuk cairan
mengoptimalkan keseimbangan.
 Monitor respirasi dan status O2

Respiratory Monitoring
 Monitor rata – rata, kedalaman, irama
dan usaha respirasi
 Catat pergerakan dada,amati
kesimetrisan, penggunaan otot tambahan,
retraksi otot supraclavicular dan intercostal
 Monitor suara nafas, seperti dengkur
 Monitor pola nafas : bradipena,
takipenia, kussmaul, hiperventilasi, cheyne
stokes, biot
 Catat lokasi trakea
 Monitor kelelahan otot diagfragma
(gerakan paradoksis)
 Auskultasi suara nafas, catat area
penurunan / tidak adanya ventilasi dan suara
tambahan
 Tentukan kebutuhan suction dengan
mengauskultasi crakles dan ronkhi pada
jalan napas utama
 auskultasi suara paru setelah tindakan
untuk mengetahui hasilnya
DAFTAR PUSTAKA

1. Asuhan Keperawatan Praktis, Nanda Nic Noc 2016


2. Heriana, Pelapina. (2014). Buku Ajar Kebutuhan Dasar Manusia. Tangerang:
Binarupa Aksara Publisher
3. Tartowo dan Martonah. (2015). Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses
Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

Banjarmasin, 17 Oktober 2019

Perseptor Klinik Ners Muda

Ayesti Ratih P S. Kep.,Ns Aditya Rahman S. Kep