Anda di halaman 1dari 11

BUDAYA INDIS

BUKAN JAWA dan BELANDA

Penjajahan Belanda pada kurun abad XVIII hingga medio abad XX tak hanya melahirkan
kekerasan, tapi juga memicu proses pembentukan kebudayaan khas, yakni kebudayaan dan gaya
hidup Indis. Budaya gado-gado, percampuran budaya Barat dan unsur-unsur budaya Timur.
Ibarat darah, budaya campuran ini merasuk ke dalam segala perikehidupan manusia di masa itu,
sebagaimana dituturkan oleh Prof. Dr. Djoko Soekiman dalam disertasinya, Kebudayaan Indis
dan Gaya Hidup Masyarakat Pendukungnya di Jawa (1996), yang kemudian diterbitkan oleh
Yayasan Bentang Budaya pada Januari 2000.

Jauh sebelum kedatangan bangsa Belanda di kepulauan Indonesia, di Pulau Jawa telah ada
pendatang asal India, Cina, Arab, dan Portugis. Mula-mula orang-orang Belanda itu hanya
datang untuk berdagang, tapi belakangan malah menjadi penguasa.

Pada awalnya, mereka membangun gudang-gudang untuk menimbun rempah-rempah di Banten,
Jepara, dan Jayakarta. Dengan modal kuat Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC)
mendirikan gudang penyimpanan dan kantor dagang. Sekelilingnya diperkuat benteng
pertahanan, lalu sekaligus digunakan sebagai tempat tinggal.

Benteng semacam ini menjadi hunian pada masa-masa awal orang Belanda di Pulau Jawa.
Segala kesibukan perdagangan dan kehidupan sehari-hari berpusat di benteng semacam ini.

Pertumbuhan budaya baru ini pada awalnya didukung oleh kebiasaan hidup membujang para pejabat Belanda. Pos-pos penjagaan dengan benteng-benteng kecilnya didirikan di Ancol. yang lazim disebut landhuis dengan patron Belanda dari abad XVIII. Noordwijk. Vijfhoek. dan Semarang yang terletak di hilir sungai dianggap kurang sehat karena dibangun di atas bekas rawa-rawa. Surabaya. Larangan membawa istri (kecuali pejabat tinggi) dan mendatangkan wanita Belanda ke Hindia Belanda memacu terjadinya percampuran darah yang melahirkan anak-anak campuran dan menumbuhkan budaya dan gaya hidup Belanda-Pribumi. Kata "Indis" berasal dari bahasa Belanda Nederlandsch Indie atau Hindia Belanda. Cirinya bilik-bilik berukuran luas dan banyak. Ciri-ciri awalnya masih dekat sekali dengan bangunan yang ada di Belanda. Ini menunjukkan bangunan landhuis dihuni oleh keluarga beranggota banyak yang terdiri atas keluarga inti. secara bertahap mereka berani bertempat tinggal dan membangun rumah di luar tembok kota. Di sini mereka mendirikan rumah tempat tinggal dan kelengkapannya yang disesuaikan dengan kondisi alam dan kehidupan sekeliling dengan mengambil unsur budaya setempat. Sesudah itu. yaitu nama daerah jajahan Belanda di seberang lautan yang secara geografis meliputi jajahan di kepulauan . dan Angke. Gaya hidup semacam di landhuizen itu tidak dikenal di negeri Belanda. dengan puluhan bahkan ratusan budaknya. Lama-kelamaan kota-kota pionir macam Batavia. yang dianggap lebih baik dan sehat. Bahkan setelah keadaan di luar kota aman. Mereka kemudian memindahkan tempat tinggalnya ke permukiman baru di daerah pedalaman Jawa. Rijswijk.Gubernur Jenderal Valckenier (1737 . Jacatra. atau gaya Indis. Secara pelahan mereka membangun rumah bercorak peralihan pada abad XVIII antara lain di Japan. Di samping itu para pejabat tinggi VOC membangun rumah-rumah peristirahatan dan taman yang luas. Citrap.1741) adalah pejabat tertinggi terakhir yang tinggal dalam benteng. dan Pondok Gede. para gubernur jenderal penggantinya tinggal di luar benteng.

dan "grad ketiga" disebut kasoedik. Telundak untuk santai Rumah-rumah mewah milik para pejabat tinggi VOC menjadi pioner berkembangnya kebudayaan Indis. golongan pengusaha atau pedagang berperan cukup besar. Semula mereka mendapatkan hak milik dari penguasa tertinggi Hindia Belanda. untuk membedakan dengan sebuah wilayah jajahan lain yang disebut Nederlandsch West Indie. pembangunannya diprakarsai sendiri oleh Chastelijn.yang disebut Nederlandsch Oost Indie. sedangkan kasoedik mata pencariannya menjadi pemburu dan nelayan. Masyarakat utama disebut signores. Konsep Indis di sini hanya terbatas pada ruang lingkup di daerah kebudayaan Jawa. Pada masa VOC. yang meliputi wilayah Suriname dan Curascao. Dalam membangun rumah tempat tinggal gaya Indis. pemiliknya. Kebudayaan Eropa (Belanda) dan Timur (Jawa). kemudian keturunannya disebut sinyo. Rumah dan gereja kecil di Depok. Rumah dan kebun tuan tanah . yang sangat disukai menjadi pedagang budak karena mendapat untung banyak. dan tentara. yang berbeda etnik dan struktur sosial membaur jadi satu. Pembangunan rumah pesanggrahan oleh para pembesar kompeni misalnya. misalnya. Kehadiran bangsa Belanda sebagai penguasa di Pulau Jawa menyebabkan pertemuan dua kebudayaan yang jauh berbeda itu makin kental. Ada pun grobiak kebanyakan menjadi pelaut. yaitu tempat khusus bertemunya kebudayaan Eropa (Belanda) dengan Jawa sejak abad XVIII sampai medio abad XX. Golongan masyarakat atas adalah pendukung utama kebudayaan Indis. Liplap biasanya menjadi pedagang atau pengusaha. Yang langsung merupakan keturunan Belanda dengan pribumi "grad satu" disebut liplap. diawali dengan mendapatkan sebidang tanah berupa hutan. nelayan. secara garis besar struktur masyarakat dibedakan atas beberapa kelompok. misalnya mereka yang tinggal di Laweyan (Surakarta). dan Kotagede (Yogyakarta). sedang "grad kedua" disebut grobiak.

pada sudut-sudutnya ditaruhkan bangku. Bangunan rumah mewah semula dipergunakan oleh orang-orang Belanda sebagai tempat tinggal di luar kota. khususnya untuk nyonya rumah. Dari catatan-catatan kuno. ruang tengah yang terletak di belakang ruang depan disebut voorhuis. Rumah tempat tinggal Belanda masa awal di Jawa mempunyai susunan khas mirip dengan yang ada di negeri asalnya. Pada dinding ruang ini digantungkan lukisan-lukisan sebagai hiasan. Di ruang ini terdapat juga sebuah kerkstoel. dilaksanakan oleh tuan tanahnya sendiri. Pada masa berikutnya. atau kursi untuk kebaktian. Telundak yang lebar ini kebanyakan digunakan untuk duduk santai dan menghirup udara segar di sore hari. atau minum-minum. yakni tipe rumah Belanda dengan bentuk rumah pribumi Jawa. Telundak yang luas itu bukan sekadar sebagai bagian dari sebuah bangunan rumah. sebagai sarana hubungan sosial. yang lalu dihilangkan guna mendapatkan ruang yang lebih luas. Rumah-rumah bergaya Indis. tetapi mempunyai arti dan kegunaan khusus. . Belanda. di samping pajangan piring- piring hias dan jambangan porselin. Pada sore atau malam hari. Ciri menonjol pada rumah-rumah Belanda di Batavia ialah adanya telundak (semacam teras) yang lebar.Materman (yang kini mengingatkan nama daerah Matraman). Di lain sisi rumah mewah dan rumah tinggal di luar benteng dibangun dalam lingkungan alam dunia Timur. Telundak menjadi tempat bertemu yang ideal antarkeluarga dan tetangga. Corak bangunan rumah tinggal demikian ini mirip dengan rumah para pedagang kaya di kota lama Baarn atau Hilversum. Kadang-kadang orang tidur-tiduran di kursi malas untuk memulihkan stamina. atau Jawa. yang kemudian juga didirikan di wilayah-wilayah baru di Batavia. Sebuah pagar rendah dibuat untuk memisahkan dari trotoar jalan. dan makan makanan kecil. mereka bergerombol berdatangan di ruang ini sambil merokok dengan pipa cangkolong. Sehingga hasil akhirnya adalah bentuk campuran.

yang terdiri atas anak-anak. dsb. consol-consol. perisai. ruang tingkat atas digunakan untuk tempat tinggal para budak. Kemudian. Di dalam ruang zaal diletakkan kelengkapan rumah seperti meja makan. Biasanya bangunan rumah samping bertingkat. pedang. Kebiasaan menyediakan tempat tinggal untuk budak tidak dikenal di Belanda. Almari hias yang penuh berisi piring cangkir porselin juga ada yang diletakkan di dalam atau di atas almari. Pada dinding ruangan ini juga tergantung perabotan lain macam senjata atau alat perang seperti senapan. kitab suci. bahkan porselin-porselin itu ada yang diletakkan pada rak-rak papan. budak yang tinggal di dalam rumah van Riemsdijk [apakah ia gubernur jendral??] di Tijgergracht. kursi yang berukir bagus ini digotong ke gereja oleh budak-budak perempuan bersama dengan kotak sirih. Pada waktu itu setiap penghuni rumah diharuskan menyediakan senjata untuk ikut menjaga keamanan. minyak. orang tua atau muda yang tinggalnya berjejal. sedangkan di Batavia umumnya diletakkan di sudut belakang zaal. beras. dsb. . atau deurpilaster. tandon air minum. almari tempat rempah- rempah. dan meja teh. Di rumah van Riemsdijk itu juga terdapat bangunan berbentuk rumah-rumahan kecil yang terbuka disebut speelhuisje yang terletak di tepi kali yang khusus dipergunakan untuk mandi. dsb. Hal demikian juga terjadi pada ruang- ruang pembantu di rumah induk milik para penguasa Belanda yang juga jarang dijaga kebersihannya. tempat menyimpan kayu bakar. Hiasan utama pada ruang zaal ini adalah tangga yang di Belanda sana biasa diletakkan di sudut bagian rumah depan. tombak. Para budak ini kesehatannya tidak terurus dengan baik. Mengamati orang mandi Pada rumah yang berukuran besar terdapat bangunan-bangunan samping yang dipergunakan untuk gudang. Sebagai contoh.Setiap hari Minggu. van Riemsdijk menggunakannya sebagai kamar tunggu para tamu dengan menghilangkan jenjang tangga yang menuju ke arah kali. Di rumah ini bertempat tinggal tidak kurang dari 200 orang budak. payung.

omong- omong. para tamu segera memakai sarung dan kebaya tipis. Van der Parra tidak tinggal bersama istri di Batavia dan tidak seharian pergi ke sungai. bahkan juga dipergunakan untuk menerima tamu-tamunya. Sambil menikmati suguhan. Orang yang lahir di Belanda sebenarnya membenci kebiasaan mandi setiap hari. Kami menuju serambi belakang untuk bersantai sambil minum kopi atau teh ditemani manisan dan buah-buahan. Di sini orang mendengar orgel putar yang merdu diselingi dengan piano sambil merokok cerutu. Bersantap sup kura-kura dan daging kijang Gambaran gaya hidup mewah Indis antara lain dapat disimak pada penuturan Rooda yang menginap di Pesanggrahan Tjiampea dekat Bogor. Pada awal abad XIX.. Tuan-tuan dan nyonya- nyonya.Sementara itu. sebagai petunjuk bahwa ia pernah berada di Belanda. Makan pagi yang mewah dan enak pun sudah dihidangkan. Kemudian dilanjutkan membaca surat-surat. ada dua buah rumah kecil berkubah yang terletak di sungai di depan rumah Gubernur Jendral Van der Parra di Jalan Veteran sekarang. Pagi hari jam 05. Para perempuan kemudian ke toilet dan tuan-tuan menuju ke meja bilyar. Dengan demikian. .. boleh jadi bangunan ini tempat untuk berganti pakaian saja. Hidangan yang semacam ini di Eropa biasanya untuk makan siang. Paduka Tuan Gubernur Jenderal di pagi hari leluasa mengamati setiap orang yang mandi di kali. Mungkin juga dimaksudkan sebagai hidro hobi. Bagian dalam ruang ini diusahakan berpenampilan sebagus mungkin. Usai mandi para lelaki dengan menunggang kuda atau kereta mengelilingi kebun. Diletakkannya satu perangkat tempat duduk pada ruangan rumah kecil berkubah ini untuk bersantai. telinga kami dihibur suara gamelan dan musik Eropa yang merdu.30 kami dibangunkan dengan bunyi lonceng. menulis. atau membaca. ia menulis dalam catatan singkatnya tentang kehidupan tuan tanah pemilik pesanggrahan: ". surat kabar. dan minum anggur pagi. Ambang pintu diletakkannya dekat dengan wastrap (tempat membersihkan kaki sebelum naik ke tangga).

Sebagai contoh dalam hal membangun rumah tempat tinggal dengan susunan tata ruangnya. misalnya. ikan.. rempah-rempah. Disusul acara perjalanan keliling dengan naik kuda atau kereta kuda. Seperti kare dari sarang burung atau sup kura-kura. Untuk memahaminya perlu diketahui adanya suatu pengertian situasi atau fenomena kekuasaan kolonial dalam segala aspek dan proporsinya. berbagai daging sapi. tidak dibuat-buat dan dengan penuh kegembiraan sehingga hidangan selalu menjadi kenangan. Arti simbolik suatu bagian ruang rumah tinggal berhubungan erat dengan perilaku yang aktual. Pelayannya adalah para budak dan pembantu perempuan muda.00 malam berkumpullah orang-orang itu untuk makan malam.. mangga dan berbagai jenis buah-buahan. fungsi ruang tidak dipisahkan atau dibedakan dengan jelas. yang terdiri antara lain jenis-jenis makanan Indis. Baru pada tengah malam pergilah masing-masing ke tempat tidurnya . generasi. Setelah puas berkeliling disuguhkan kopi. mentimun. Contoh lain yang sangat menarik adalah keselarasan sistem simbolik pada umumnya. selanjutnya para tamu muda berdansa dan yang tua-tua main kartu di meja permainan. Usai makan ada sementara tamu yang beristirahat sebentar. khususnya gaya penghuninya. tidak dikenal ruang khusus bagi keluarga dengan pembedaan umur. ada pula orang- orang yang minum teh dan kue-kue. yaitu Belanda dan Jawa yang sangat jauh berbeda. Sementara itu pelayanan tuan rumah sangat bersahabat.00 adalah waktunya orang makan dengan piring lengkap. nanas. Makan siang ini diiringi dengan lagu-lagu musik Eropa. dan macam-macam manisan yang direndam dengan minuman anggur.Kurang lebih pukul 13. bahkan di antara anggota dan bukan anggota penghuni rumah. Pada suku Jawa. Pada pukul 10. nasi. famili. kijang. sayur-sayuran." Bukan mikrokosmos Gaya Indis berpangkal pada dua akar kebudayaan. buah-buahan. acar. jenis kelamin.. Betapa canggungnya orang pribumi Jawa yang hidup secara tradisional di .

kampung. Semua itu menjadikan makin canggungnya orang pribumi untuk tinggal di dalam rumah yang asing itu. Anggapan bahwa rumah adalah model alam mikrokosmos menurut konsep pikiran Jawa. terutama setelah anak keturunannya dari hasil perkawinan dengan bangsa Jawa makin banyak. tempat tinggal orang Belanda tidak dihubungkan dengan kosmos dan tidak mempunyai konotasi ritual seperti pandangan dan kepercayaan Jawa. Kelengkapan rumah tangga yang serba asing. meletakkan secarik kain tolak bala. orang Eropa mengenal peletakan batu pertama dan pemancangan bendera di atas kemuncak bangunan rumahnya yang sedang dibangun dengan diikuti pesta minum bir. memiliki arti simbolik tertentu. Mereka menyadari akan perlunya kebudayaan Belanda untuk tetap diunggulkan sebagai upaya untuk menjaga martabat sebagai bangsa penguasa. tetapi hal semacam ini adalah peninggalan budaya lama mereka. Jelas. Pada orang Jawa menaikkan molo sebuah rumah tinggal dengan selamatan. yang sudah kabur pengertiannya. sajen. Kegiatan itu adalah gema saja dari adat lama. . kemudian pindah untuk bertempat tinggal di dalam rumah gedung di dalam blok atau kompleks dengan suasana rumah bergaya Barat yang modern. tidak didapatkan pada alam pikiran Eropa. dan memilih hari baik. Hal ini terjadi karena para pendatang bangsa Belanda pada awal datang ke Indonesia membawa kebudayaan murni dari Belanda. Gaya hidup dan bangunan rumah Indis pada tingkat awal cenderung banyak bercirikan budaya Belanda. Bagi orang Jawa meninggalkan adat kebiasaan seperti itu sangat berat karena adanya paham kepercayaan tentang kekuatan supranatural yang sulit untuk dijelaskan. Memang. melekan (tidur malam). Perkawinan di antara mereka melahirkan masyarakat Indo. Pengaruh afektif kebudayaan Belanda yang sangat besar lambat laun makin berkurang. pembagian ruang-ruang di dalam rumah dengan fungsi yang khusus di dalam rumah dengan fungsi agar privasi terjamin.

Di berbagai kota di Jawa terdapat nama jalan atau kampung dengan memakai nama orang atau bahasa Belanda (Eropa) yang acap kali orang sudah tidak mengenalnya.Masyarakat Indo dan para priyayi baru ini masih tetap menganggap perlu tetap adanya budaya masa lampau yang dibanggakan. Banyak rumah penduduk di Demak. penunjuk arah angin dahulu merupakan alat yang penting. Masing-masing lempengan terakota dihiasi dengan mozaik pecah-pecahan cermin. misalnya dalam cara mereka bergaul. hiasan kemuncak mendapat perhatian dan mempunyai arti tersendiri. cara dan disiplin kerja. Pentingnya si "jago" di atas rumah Di lain sisi akibat pertemuan dan percampuran peradaban Jawa dan Eropa (Belanda) melahirkan gaya budaya campuran. dalam kegiatan hidup sehari-hari. Di Belanda dengan iklimnya yang sangat keras. maupun kepercayaan. Di mata suku Jawa ada pendapat budaya Indis adalah kasar atau tidak Jawa. berderet-deret dengan gambar gunungan tepat di tengah-tengah. Di Jawa sendiri. Kehadiran bangsa-bangsa Eropa di Indonesia sejak awal abad XVI mempengaruhi berbagai unsur kebudayaan di antaranya juga dalam hal hiasan kemuncak bangunan rumah. seperti menghargai waktu. . pada bubungan atapnya dihiasi dengan deretan lempengan terakota yang diwujudkan seperti gambar tokoh-tokoh wayang. Sementara itu hiasan di atas atap rumah juga menjadi salah satu ciri budaya Indis. status sosial. baik dari sudut keindahan. pura. gereja. gado-gado. dsb. Sementara di mata orang Belanda dianggap rendah dan aneh. hiasan di bagian atap rumah kurang mendapat tempat. tanpa mempunyai arti simbolik tertentu. dan candi). Jawa Tengah. Pada bangunan rumah Eropa. Hiasan atap rumah-umah di Demak ini jelas hanya berfungsi sebagai hiasan semata- mata. Mereka menganggap perlunya menggunakan budaya Barat demi karier jabatan dan prestisenya dalam hidup masyarakat kolonial. Hal semacam ini tampak. kecuali pada bangunan-bangunan peribadahan (masjid. sehingga di siang hari memantulkan sinar yang gemerlapan.

kemudian warna-warni. sebuah sepatu besar di atas toko sepatu . karena di sini orang beranggapan arah hadap weerhaan di rumah gubernurlah yang benar. tetapi lazimnya diisi dengan lambang keluarga pemiliknya. Akan tetapi. Ada pula yang menaruh hiasan berwarna keperakan pada sisi sudut persegi empat diisi dengan hiasan rozet. Ada pula warna-warni hiasan ini yang dibuat dari porselin atau teracotta. Umumnya windvaan terbuat dari logam dengan warna-warna manyala yang dapat terlihat dari kejauhan. khususnya di Belanda. sedang untuk baanderheer (pejabat biasa) menggunakan penunjuk arah berbentuk persegi empat. lukisan jentera alat memintal (roda alat tenun) terdapat di kota Leren. pada setiap rumah di sini ada weerhaan yang sering menunjukkan ke arah yang tidak sama. alat pencukur di atas rumah tukang cukur (di Maastricht). sering menunjukkan macam usaha atau pekerjaan pemiliknya. gambar bajak (alat untuk membajak tanah) pada kemuncak gudang gandum di dekat Groningen. Karena itu. baik tentang bentuk maupun perwujudannya. khususnya keemasan. Yang sangat disukai adalah warna merah metalik. Pada abad XV bangsawan-bangsawan tinggi menaruhkan pada ujung tongkatnya windvaan dengan hiasan mahkota. Di Eropa sekarang. Pada Abad Tengah tidak semua orang dapat dengan sekehendak hati membuat windvaan (petunjuk arah angin) karena dikeluarkan ketentuan-ketentuan tertentu oleh penguasa. biasanya orang mengarahkan pandangan ke rumah gubernur. Oleh karena itu. baru lama kemudian mereka mengetahui gubernur memang memelihara pembantu-pembantu yang mempunyai tugas tetap setiap hari memanjat atap untuk membenarkan arah ayam jago (penunjuk arah dengan gambar ayam jago) menuju ke arah yang benar. Misalnya seorang ridder (bangsawan) di atas puncak istananya dengan windvaan berbentuk seperti bendera. hiasan kemuncak yang berupa penunjuk arah angin dengan bermacam-macam bentuknya. disebut stofgona. Warna keemasan adalah warna yang mudah luntur. Misalnya. yang lambat laun akan menjadi jelek. Dia menyebutkan.Sehubungan dengan ini Washington Irving menulis tentang Nieuw Amsterdam di dalam A History of New Netherland.

baik priyayi pribumi maupun golongan Indo. Lukisan binatang seperti kuda dan sapi banyak digunakan untuk hiasan rumah petani. perkembangan kebudayaan Indis ikut-ikutan terhenti. Sulitnya hidup masa perang juga menghentikan segala aktivitas kesenian. dsb. sekoteng. Gaya hidup Indis yang mewah terusik oleh PD II yang berkecamuk dan melumpuhkan gairah hidup. Indische Restaurant dengan sajian Indische rijsttafel seperti soto. hingga kini ramai dikunjungi orang. hidup di antara unsur-unsur budaya baru. sebagai buah kebudayaan. tetapi gaya hidup penghuninya yang bercirikan budaya Indis di Indonesia sudah tamat. masih tetap berlanjut. Karena nilai-nilai baru belum ada. . sate ayam. Bersamaan dengan runtuhnya kekuasaan Hindia Belanda ke tangan balatentara Jepang pada 1942. Sementara itu di Belanda orang-orang yang lahir atau pernah tinggal di Indonesia tetap melanjutkan kebudayaan Indis. Sungguh pun bangunan rumah gaya Indis masih banyak yang berdiri kokoh hingga kini. wedang ronde. serta para birokrat pemerintahan dari masa zaman Hindia Belanda.di Utrechtse Straat 48. akar-akar budaya Indis masih ada yang tetap berlanjut. Peradaban Indis tidak lagi menjadi kebanggaan sebagai identitas suatu golongan masyarakat dan sangat dimusuhi pada zaman Jepang dan revolusi fisik. Amsterdam. Namun. beberapa unsur peradaban yang banyak dianut dan diciptakan oleh kaum terpelajar. nasi goreng. tetapi telah melebur. Pasar malam Tong-tong di Den Haag.