Anda di halaman 1dari 16

KONSEP PENGORGANISASIAN MASYARAKAT

MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Pengorganisasian danPemberdayaan Masyarakat
Yang dibina oleh Drs. Mardianto,M.Kes

Disusun oleh:

Andri Irawati (140612603044)


Betty Lestianingsih (140612602299)
Mochamad Faizin (140612606278)
Ninda Kuni Saadati (140612600993)
Tarry Pristiyanti (140612601005)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
JURUSAN ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
Januari 2016
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI i
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Rumusan Masalah 2
1.3 Tujuan 2

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Masyarakat dan Pengorganisasian Masyarakat 3
2.1.1. Pengertian Masyarakat 3
2.1.2. Pengertian Pengorganisasian Masyarakat 3
2.2 Aspek-Aspek Pengorganisasian Masyarakat 4
2.3 Proses Pengorganisasian Masyarakat 5
2.4 Pendekatan Dalam Pengorganisasi Masyarakat 7
2.5 Perencanaan dalam Pengorganisasian Masyarakat 9
2.6 Peranan Dan Persyaratan Menjadi Petugas Pengorganisasian Masyarakat
(Community Worker) 10
2.6.1 Peranan petugas pengorganisasian masyarakat……………………..10
2.7.1 Persyaratan petugas pengorganisasian masyarakat……………........10

BAB III PENUTUP


3.1 Simpulan 12
3.2 Saran 12
DAFTAR PUSTAKA 13

i
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dewasa ini pembangunan telah berjalan pesat di berbagai bidang.
Implementasi konsep pembangunan ternyata telah banyak merubah kondisi
kehidupan masyarakat. Pada sebagian komunitas, pembangunan telah
mengantarkan kehidupan mereka menjadi lebih baik bahkan sebagian dapat
dikatakan berlebihan, sementara komunitas lainya pembangunan justru
mengantarkan mereka pada kondisi yang menyengsarakan. Oleh karena itu
pemahaman terhadap pembangunan hendaklan selalu bersifat dinamis, karena
setiap saat selalu akan muncul masalah-masalah baru.
Masyarakat saat ini sudah berkembang pesat dan kritis akibat berbagai
perubahan baik perubahan pengetahuan atau teknologi yang terjadi di berbagai
bidang. Pembangunan yang juga perkembang di berbagai bidang ikut mendorong
perkembangan masyarakat. Masalah-masalah yang dihadapi umat manusia juga
semakin beragam, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi berimbas terhadap
berbagai aspek kehidupan seperti agama, sosial, budaya, ekonomi, politik dan
sebagainya. Masalah lain yang juga timbul adalah berubah dan bertambahnya
kebutuhan masyarakat dalam memenuhi kehidupan sehari-hari. Adanya
perubahan menuntut masyarakat untuk mulai mengorganisasi kehidupan mereka
guna menunjang kehidupan.
Pemerintah mengambil peran aktif dalam mengatur kehidupan masyarakat
dengan membuat berbagai program. Program-program pembangunan yang
disiapkan harus memenuhi kebutuhan masyarakat, tidak hanya memuaskan
beberapa pihak saja tetapi harus diupayakan terdapat hubungan timbal balik bagi
pihak yang menyusun program pembangunan dan masyarakat sebagai pihak yang
mendapat pelayanan dan manfaat dari pembangunan tersebut.
Guna membantu masyarakat untuk bisa mengidentifikasikan kebutuhan-
kebutuhannya dan menentukan prioritas dari kebutuhan-kebutuhan yang
dibutuhkannya, dan mengembangkan keyakinan untuk berusaha memenuhi
kebutuhan-kebutuhan sesuai dengan skala prioritas tadi berdasarkan atas sumber-

1
sumber yang ada di masyarakat sendiri maupun yang berasal dari luar, dengan
usaha secara gotong-royong, maka diperlukan pengorganisasian masyarakat.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana pengertian masyarakat dan pengorga-nisasian masyarakat?
2. Bagaimana aspek-aspek pengorganisasian masyarakat?
3. Bagaimana proses pengorganisasian masyarakat?
4. Bagaimanan pendekatan dalam pengorganisasi masyarakat?
5. Bagaimana perencanaan dalam pengorganisasian masyarakat?
6. Bagaimana peranan dan persyaratan menjadi petugas pengorganisasian
masyarakat (community worker)?

1.3 Tujuan
1. Mendiskripsikan pengertian masyarakat dan pengorganisasian
masyarakat.
2. Mendiskripsikan aspek-aspek pengorganisasian masyarakat.
3. Mendiskripsikan proses pengorganisasian masyarakat.
4. Mendiskripsikan pendekatan dalam pengorganisasi masyarakat.
5. Mendiskripsikan perencanaan dalam pengorganisasian masyarakat.
6. Mendiskripsikan peranan dan persyaratan menjadi petugas
pengorganisasian masyarakat (community worker).

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Masyarakat dan Pengorganisasian Masyarakat


2.1.1. Pengertian Masyarakat
Masyarakat dalam istilah bahasa Inggris adalah society yang berasal dari kata
Latin socius yang berarti (kawan). Istilah masyarakat berasal dari kata bahasa
Arab syaraka yang berarti (ikut serta dan berpartisipasi). Masyarakat adalah
sekumpulan manusia yang saling bergaul, dalam istilah ilmiah adalah saling
berinteraksi. Suatu kesatuan manusia dapat mempunyai prasarana melalui warga-
warganya dapat saling berinteraksi. Definisi lain, masyarakat adalah kesatuan
hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang
bersifat kontinyu, dan yang terikat oleh suatu rasa identitas bersama (Anif, 2012).
Berikut di bawah ini adalah beberapa pengertian masyarakat dari beberapa
ahli sosiologi dunia :
a. Menurut Selo Sumardjan masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama
dan menghasilkan kebudayaan.
b. Menurut Karl Marx masyarakat adalah suatu struktur yang menderita suatu
ketegangan organisasi atau perkembangan akibat adanya pertentangan antara
kelompok-kelompok yang terbagi secara ekonomi.
c. Menurut Emile Durkheim masyarakat merupakan suatu kenyataan objektif
pribadi-pribadi yang merupakan anggotanya.
d. Menurut Paul B. Horton & C. Hunt masyarakat merupakan kumpulan
manusia yang relatif mandiri, hidup bersama-sama dalam waktu yang cukup
lama, tinggal di suatu wilayah tertentu, mempunyai kebudayaan sama serta
melakukan sebagian besar kegiatan di dalam kelompok / kumpulan manusia
tersebut (Anif, 2012).
2.1.2. Pengertian Pengorganisasian Masyarakat
Pengertian pengorganisasian berasal dari kata Organizing yang mempunyai
arti menciptakan suatu struktur dengan bagian-bagian yang terintegrasi sehingga
mempunyai hubungan yang saling mempengaruhi satu dengan lainnya. Adapun

3
beberapa definisi dari pengorganisasian yang diungkapkan oleh para ahli
manajemen, antara lain sebagai berikut:
a. Pengorganisasian adalah aktivitas menyusun dan membentuk hubungan-
hubungan kerja antara orang-orang sehingga terwujud suatu kesatuan usaha
dalam mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan.
b. Menurut George R. Terry, pengorganisasian sebagai kegiatan
mengalokasikan seluruh pekerjaan yang harus dilaksanakan antara kelompok
kerja dan menetapkan wewenang tertentu serta tanggungjawab masing-
masing yang bertanggung jawab untuk setiap komponen dan menyediakan
lingkungan kerja yang sesuai dan tepat.
c. Menurut Siagian berpendapat bahwa pengorganisasian merupakan
keseluruhan proses pengelompokkan orang-orang, alat-alat, tugas-tugas,
tanggung jawab dan wewenang sedemikian rupa sehingga tercipta suatu
organisasi yang dapat digerakkan sebagai suatukesatuan dalam rangka
pencapaian tujuan yang telah ditentukan.
d. Menurut Ross Murray, pengertian pengorganisasian masyarakat adalah suatu
proses dimana masyarakat dapat mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan dan
menentukan prioritas dari kebutuhan-kebutuhan tersebut, dan
mengembangkan keyakinan untuk berusaha memenuhi kebutuhan-kebutuhan
yang sesuai dengan skala prioritas berdasarkan atas sumber-sumber yang ada
dalam masyarakat sendiri maupun yang berasal dari luar dengan usaha secara
gotong royong. (Digilib, 2012)
Dari pengertian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa pengorganisasian
adalah suatu kegiatan untuk mengelompokkan orang-orang dengan tugas dan
fungsinya masing-masing yang kesemuanya saling berhubungan dan saling
mempengaruhi.

2.2 Aspek-Aspek Pengorganisasian Masyarakat


Dalam pengorganisasian masyarakat terdapat tiga aspek yang sebagai berikut
(Digilib, 2012):
a. Proses

4
Merupakan serentetan tindakan mulai dari penentuan masalah atau tujuan
sampai pada pemecahan masalah atau tercapainya tujuan di dalam masyarakat.
Berbagai proses dapat di temukan dalam penanggulangan masalah-masalah
kemasyarakatan. Proses ini berkaitan dengan meningkatkan kemampuan
masyarakat agar berfungsi sebagai satu kesatuan yang terintegrasi. Kemampuan
ini tumbuh dan berkembang secara bertahap sebagai akibat upaya yang dilakukan
masyarakat dalam menang gulangi masalah-masalahnya.
b. Masyarakat
Masyarakat seringkali diartikan sebagai berikut:
1. Keseluruhan orang yang tinggal di suatu daerah geografis, misalnya: desa,
kecamatan, kabupaten, kota, provinsi dan sebagainya.
2. Kelompok orang yang memiliki minat-minat atau fungsi yang sama, misalnya
dibidang: kesejahteraan, pendidikan, kesehatan, lingkungan, pertaniain,
keagamaan dan lain-lain.
3. Kelompok kecil yang menyadari suatu masalah harus dapat menyadarkan
kelompok yang lebih besar.
4. Kelompok orang yang secara bersama-sama mencoba mengatasi masalah dan
memenuhi kebutuhannya
c. Berfungsinya Masyarakat
Untuk dapat memfungsikan masyarakat, maka harus dilakukan langkah-
langkah sebagai berikut:
1. Menarik orang-orang yang mempunyai inisiatif dan dapat bekerja, untuk
membentuk kepanitiaan yang akan menangani masalah-masalah yang
berhubungan dengan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.
2. Membuat rencana kerja yang dapat diterima dan dilaksanakan oleh
keseluruhan masyarakat.
3. Melakukan upaya penyebaran rencana untuk mensukseskan rencana tersebut.

2.3 Proses Pengorganisasian Masyarakat


Proses pengorganisasian masyarakat dapat melalui berbagai langkah, antara
lain (digilib.uinsby.ac.id):

5
1. Bahwa satu kelompok masyarakat tertentu pertama kali harus
mengidentifikasi adanya suatu kegiatan bersama untuk melakukan sesutau
dalam rangka memecahkan masalah-masalah penting yang mereka hadapi.
Sehingga, mereka juga harus mengidentifikasi apa saja masalah-masalah
penting tersebut.
2. Kelompok masyarakat itu mulai merencanakan suatu startegi bersama
mengenai tindakan-tindakan apa yang mereka harus lakukan dan bagaimana
cara melakukannya.
3. Kelompok itu kemudian mendaftarkan apa saja kemampuan yang mereka
miliki, apa saja kekuatan dan kelemahan mereka dan jika perlu, apa saja
keterampilan dan sumberdaya lain yang masih perlu mereka adakan.
4. Kelompok itu telah tiba pada tahap mulai melaksanakan semua rencana
mereka sesuai dengan perkembangan keadaan yang mereka hadapi.
Selain melalui proses diatas, terdapat tahapan-tahapan dalam
pengorganisasian masyarakat (digilib.uinsby.ac.id), yaitu:
1. Memulai pendekatan. Mulai mendekati suatu kelompok selalu memerlukan
apa yang selama ini dikenal sebagai sebagai “pintu masuk” (entry point) atau
“kunci” yang menentukan untuk mulai membangun hubungan dengan
msyarakat setempat.
2. Investigasi sosial (riset partisipatoris) merupakan kegiatan riset (penelitian)
untuk mencari dan menggali akar persoalan secara sistematis dengan cara
partisipatoris. Organizer terlibat dalam kehidupan komunitas langsung dari
dan bersama-sama komunitas, menemukan beberapa masalah yang kemudian
bersama anggota komunitas melakukan upaya klasifikasi untuk menentukan
masalah apa yang paling kuat dan mendesak untuk diangkat.
3. Memfasilitasi proses, merupakn salah satu fungsi paling pokok dari seorang
pengorganisir. Memfasilitasi ini dalam artian memfasilitasi proses-proses
pelatihan atau pertemuan saja.
4. Merancang strategi. Merancang dan merumuskan strategi dalam
pengorganisasian masyarakat benar-benar diarahkan untuk melakukan dan
mencapai perubahan sosial yang lebih besar dan lebih luas di tengah
masyarakat.

6
5. Mengerahkan aksi (tindakan). Mengorganisir aksi bersama komunitas untuk
melakukan suatu aksi (tindakan) yang memungkinkan keterlibatan
(partisipasi) masyarakat sebenar-benarnya dalam penyelesaian maslah mereka
sendiri.
6. Menata organisasi dan keberlangsungnya. Mengorganisir masyarakat juga
berarti membangun dan mengembangkan satu organisasi yang didirikan,
dikelola dan dikendalikan oleh masyarakat setempat sendiri.
7. Membangun sistem pendukung. Secara garis besar, berbagai jenis peran dan
taraf kemampuan yang biasanya dibutuhkan sebagai system pendukung dari
luar dapat dikelompokkan sebagai berikut:
a. Menyediakan berbagai bahan-bahan dan media kreatif untuk pendidikan
dan pelatihan, kampanye, lobbi, aksi-aksi langsung dan sebagainya.
b. Pengembangan kemampuan organisasi rakya itu sendiri untuk merancang
dan menyelenggarakan proses-proses pendidikan dan pelatihan warga atau
anggota mereka.
c. Penelitian dan kajian, terutama dalam rangka penyediaan informasi
sebagai kebijakan dan perkembangan di tingkat nasioanal dan
internasional, mengenai masalah atau issu utama yang diperjuangkan oleh
rakyat setempat.

2.4 Pendekatan Dalam Pengorganisasi Masyarakat


Banyak pihak yang berkepentingan dengan diorganisasikannya masyarakat.
Pemerintah ingin masyarakat berhimpun untuk memudahkan dalam pemberian
penyuluhan, pembinaan, dan pemberian bantuan. Dapat saja suatu perusahaan
ingin masyarakat berorganisasi agar memudahkan untuk memberi pembinaan,
penyediaan sarana produksi, ataupun pemasaran hasil dalam rangka bermitra
(misalnya dalam pola bapak angkat ataupun perusahaan inti- plasma). Pihak yang
dapat mengorganisasikan masyarakat ialah (Coremap II, 2006):
1. Tenaga penyuluh teknis/lapangan dari instansi pemerintah
2. Tenaga pendamping dari lembaga pengembangan swadaya masyarakat
(LSM);
3. Tenaga penyuluh dari perusahaan inti; atau

7
4. Motivator desa, yaitu tenaga penggerak dari kalangan anggota masyarakat
sendiri yang ingin berbakti untuk memajukan masyarakatnya.
Pada prinsipnya Pengorganisasian Masyarakat mempunyai orientasi kepada
kegiatan tertentu untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Untuk itu
menurut “Ross Murray” dalam Pengorganisasian Masyarakat, terdapat 3
Pendekatan yang digunakan (Latief, 2009), yaitu:
1. Spesific Content Objective Approach
Adalah Pendekatan baik perseorangan ( Promokesa ), Lembaga swadaya atau
Badan tertentu yang merasakan adanya masalah kesehatan dan kebutuhan dari
masyarakat akan pelayanan kesehatan, mengajukan suatu proposal / program
kepada instansi yang berwenang untuk mengatasi masalah dan memenuhi
kebutuhan masyarakat tersebut. Contoh : Program penanggulangan sampah.
2. General Content Objective Approach
Adalah Pendekatan yang mengkoordinasikan berbagai upaya dalam bidang
kesehatan dalam suatu wadah tertentu. Misalnya : Program Posyandu, yang
melaksanakan 5 – 7 upaya kesehatan yang dijalankan sekaligus.
3. Process Objective Approach
Adalah Pendekatan yang lebih menekankan kepada proses yang dilaksanakan
oleh masyarakat sebagai pengambil prakarsa, mulai dari mengidentifikasi
masalah, analisa, menyusun perencanaan penaggulangan masalah, pelaksanaan
kegiatan, sampai dengan penilaian dan pengembangan kegiatan ; dimana
masyarakat sendiri yang mengembangkan kemampuannya sesuai dengan
kapasitas yang mereka miliki. Yang dipentingkan dalam pendekatan ini adalah
Partisipasi masyarakat / Peran Serta Masyarakat dalam Pengembangan Kegiatan.
Proses pengorganisasian masyarakat yang benar mempunyai ciri-ciri sebagai
berikut:
1. Berlandaskan sosial-budaya masyarakat setempat;
2. Pengakuan hak-hak atau penghormatan martabat masyarakat setempat;
3. Perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan bersama masyarakat;
4. Fungsi dan manfaat sumberdaya alam yang berkelanjutan;
5. Mengutamakan prakarsa masyarakat untuk perubahan ke arah
6. Kemajuan; dan

8
7. Upaya secara bertahap dan terus-menerus.

2.5 Perencanaan dalam Pengorganisasian Masyarakat


Menurut Subiyakto (1978, dalam Sumijatun, 2005) salah satu faktor yangg
penting dalam pengorganisasian komunitas adalah rencana kegiatan yang terdapat
dua bentuk seperti yang diuraikan berikut ini :
1. Bentuk langsung (direct)
a. Indentifikasi masalah atau kebutuhan yang dapat dilakukan melalui tokoh
masyarakat (key-person) atau bisa juga melalui musyawarah kelompok
(komunitas)
b. Perumusan masalah: yang dinyatakan dengan cara yang menggugah serta
dapat menarik minat dan partisipasi masyarakat. Sebaliknya bila tidak
dilakukan dengan baik mungkin dapat mendatangkan kegagalan
c. Menggunakan nilai-nilai sosial yang sama dalam mengekspresikan hal-hal
tersebut

2. Bentuk tidak langsung (inderect)


Disini diperlukan adanya individu-individu yang menyakini tentang adanya
masalah/kebutuhan yang bila dilakukan tindakan tertentu akan memberi manfaat
kepada masyarakat. Selanjutnya orang-orang ini harus mampu meyakinkan pihak
lain tentang hal ini. Secara formal orang-orang ini misalnya pihak pemerintaha,
tetapi bisa juga secara informal yakni melalui “key-person” seperti dikemukan di
atas.
Hal ini dapat berupa perencanaan yang mempunyai dua fungsi, yaitu :
a. Untuk menampung apa yang direncanakan secara tidak formal oleh para
petugas
b. Mempunyai efek samping terhadap mereka yang belum termotivasi dalam
kegiatan ini.

9
2.6 Peranan Dan Persyaratan Menjadi Petugas Pengorganisasian
Masyarakat (Community Worker)
Peranan dan persyaratan menjadi petugas pengorganisasian masyarakat antara
lain dijelaskan dibawah ini.
2.6.1 Peranan petugas pengorganisasian masyarakat
Peranan adalah tugas untuk melakukan kewajiban peran. Peranan petugas
dalam pengembangan dan pengorganisasian masyarakat terbagi dalam beberapa
jenis, antara lain sebagai : pembimbing, enabler dan ahli. Sebagai pembimbing
(guide) maka petugas berperan untuk membantu masyarakat mencari jalan untuk
mencapai tujuan yang sudah ditentukan oleh masyarakat sendiri dengan cara yang
efektif. Tetapi pilihan cara dan penentuan tujuan dilakukan sendiri oleh
masyarakat dan bukan oleh petugas. Sebagai enabler, maka petugas berperan
untuk memunculkan dan mengarahkan keresahan yang ada dalam masyarakat
untuk diperbaiki. Sebagai ahli (expert), menjadi tugasnya untuk memberikan
keterangan dalam bidang-bidang yang dikuasainya (Dinkes Lumajang, 2014).
2.6.2 Persyaratan petugas pengorganisasian masyarakat
Persyaratan menjadi petugas pengorganisasian menurut Dinkes Lumajang
(2014) antara lain:
1. Mampu mendekati masyarakat dan merebut kepercayaan mereka dan
mengajaknya untuk kerjasama serta membangun rasa saling percaya antara
petugas dan masyarakat.
2. Mengetahui dengan baik sumber-sumber daya maupun sumber-sumber
alam yang ada di masyarakat dan juga mengetahui dinas-dinas dan tenaga
ahli yang dapat dimintakan bantuan.
3. Mampu berkomunikasi dengan masyarakat, dengan menggunakan metode
dan teknik khusus sedemikian rupa dipindahkan, dimengerti dan
diamalkan oleh masyarakat.
4. Mempunyai kemampuan profesional tertentu untuk berhubungan dengan
masyarakat melalui kelompok-kelompok tertentu.
5. Mempunyai pengetahuan tentang masyarakat dan keadaan lingkungannya.

10
6. Mempunyai pengetahuan dasar mengenai ketrampilan (skills) tertentu
yang dapat segera diajarkan kepada masyarakat untuk meningkatkan taraf
hidup masyarakat secara menyeluruh.
7. Mengetahui keterbatasan pengetahuannya sendiri.

11
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1. Masyarakat adalah sekumpulan manusia yang saling bergaul, dalam istilah
ilmiah adalah saling berinteraksi. Pengorganisasian adalah suatu kegiatan
untuk mengelompokkan orang-orang dengan tugas dan fungsinya masing-
masing yang kesemuanya saling berhubungan dan saling mempengaruhi.
2. Dalam pengorganisasian masyarakat memiliki 3 aspek yaitu diantaranya
adalah proses, masyarakat, berfungsinya masyarakat.
3. Proses pengorganisasian masyarakat dapat melalui berbagai langkah,
antara lain pertama kali harus mengidentifikasi adanya suatu kegiatan
bersama untuk melakukan sesutau dalam rangka memecahkan masalah-
masalah penting yang mereka hadapi, merencanakan suatu startegi
bersama, mendaftarkan apa saja kemampuan yang mereka miliki,
melaksanakan semua rencana mereka.
4. Pendekatan dalam pengorganisasi masyarakat menurut Ross Murray dalam
Latief yaitu Spesific Content Objective, Approach General Content
Objective Approach, dan Process Objective Approach.
5. Perencanaan dalam pengorganisasian masyarakat dibagi menjadi 2 yaitu
bentuk langsung (direct) dan bentuk tidak langsung (inderect).
6. Peranan dan persyaratan menjadi petugas pengorganisasian masyarakat
yaitu di mana peranan petugas dalam pengembangan dan pengorganisasian
masyarakat terbagi dalam beberapa jenis, antara lain sebagai :
pembimbing, enabler dan ahli. Sedangkan dalam persyaratannya yaitu
mampu mendekati masyarakat dan merebut kepercayaan mereka,
mengetahui dengan baik sumber-sumber daya, mampu berkomunikasi
dengan masyarakat, mempunyai kemampuan profesional tertentu,
mempunyai pengetahuan tentang masyarakat dan keadaan lingkungannya.

12
3.2 Saran

Dalam pengorganisasian masyarakat pemerintah sebaiknya ikut serta


berperan aktif untuk memantau jalannya pengorganisasian masyarakat di
negaranya agar merekrut anggota/petugas pengorganisasian masyarakat. Bukan
hanya itu, Pemerintah juga dapat melihat perkembangan daripada perencanaan,
proses, dan pendekatan dalam pengorganisasian masyarakat dapat berjalan dengan
baik.

13
DAFTAR PUSTAKA

Anif. 2012. BAB II Kajian Teori Tentang Masyarakat, (Online),


(http://eprints.uny.ac.id/8538/3/BAB%202%20-%2008401244022.pdf),
diakses 26 Januari 2016

Coremap II. 2006. Panduan Pembelajaran mandiri Pengorganisasian


masyarakat. (Online), (http://www.coremap.or.id/downloads/Manual-
Pengorganisasian_Masy_OK.pdf), diakses 25 Januari 2016

Digilib UIN Sunan Ampel Surabaya. 2012. Pengorganisasian dan pengembangan


masyarakat, (Online), (http://digilib.uinsby.ac.id/1428/5/Bab%202.pdf),
diakses 26 Januari 2016

Dinkeslumajang. 2014. Pemberdayaan Masyarakat, (Online),


(http://dinkeslumajang.or.id/pemberdayaan-masyarakat), diakses 25
Januari 2016

http://digilib.uinsby.ac.id/1428/5/Bab%202.pdf, diakses 31 Januari 2016


Latief. 2009. Pengembangan dan pengorganisasian masyarakat. (online),
(http://onnex-latief.blogspot.co.id/2009/11/pengembangan-
pengorganisasian.html), diakses 25 Januari 2016

Sumijatun, dkk. 2005. Konsep Dasar Keperawatan Komunitas. Jakarta : EGC

14