Anda di halaman 1dari 17

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN


POLITEKNIK KEUANGAN NEGARA STAN
TANGERANG SELATAN

Resume Mengenai TRM

Disusun Oleh :

Ardiansyah Aditya Setyawan 5-17/08


Hana Khairiyah 5-17/14
Raul Gunzales Widodo 5-17/31
Yolanda Catherina Sirait 5-17/36

Mahasiswa Program Studi Diploma III Akuntansi


Tahun 2019
A.PENDAHULUAN

I. Dasar Hukum
a. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara
b. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara
c. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Uang
Negara/Daerah (Lembaran negara RI Tahun 2007 Nomor 83, Tambahan Lembaran
Negara RI Nomor 4378).
d. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 154/PMK.05/2014
tentang Pelaksanaan Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara
e. Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor 59/PB/2013 Tentang Modul
Kas

II. Kerangka Teori


a. Pengertian
Manajemen kas merupakan strategi dan proses terkait untuk mengelola
arus dan saldo kas jangka pendek pemerintah secara efisien baik dari sisi
internal pemerintah sendiri maupun dari sisi hubungan antara pemerintah
dan sektor-sektor lainnya.
b. Tujuan Pengelolaan Kas
Tujuan utama pengelolaan kas negara di Indonesia adalah penggunaan
dana negara secara efektif dan efisien. Hal tersebut dapat tercapai dengan:
- Menentukan jumlah dana optimal yang diperlukan untuk menjamin
kemampuan mendanai seluruh kegiatan pemerintah
- Menentukan pembiayaan yang paling ekonomis dan efisien (baik dari
dalam maupun luar negeri)
- Meminimalkan dana menganggur dan investasi jangka pendek setiap
terhadap dana menganggur sehingga menghasilkan tambahan
penerimaan negara
- Mempercepat penyetoran penerimaan negara sehingga dana tersebut
segera tersedia untuk membiya kegiatan pemerintah
- Melakukan pembayaran pada waktu yang tepat.
c. Pihak-pihak yang Terlibat
1. Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara,
2. Direktorat Jenderal Perbendaharaan, Kementerian Keuangan,
3. Direktorat Pengelolaan Kas Negara, Ditjen Perbendaharaan,
Kementerian Keuangan,
4. Kantor Wilayah Ditjen Perbendaharaan (Kanwil) dan Kantor
Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN),
5. Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko,
Kementerian Keuangan,
6. Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan, Kementerian
Keuangan,
7. Komite Pengelolaan Aset dan Liabilitas (ALMC),
8. Jaringan Informasi Perencanaan Kas, dan
9. Kementerian-Kementerian Pemerintah Pusat.

d. 3 Kunci Pengelolaan Kas secara Aktif yang Efisien dan Efektif


1. Menyimpan uang sebanyak mungkin terpusat di Exchequer
(Bendahara Negara).
2. Memprediksi secara akurat arus kas masuk dan arus kas keluar
Bendahara Negara.
3. Meminimalisir biaya pelelangan dan biaya penggunaan layanan
perbankan.
e. TSA
1. Latar Belakang TSA
Penerapan sistem pengelolaan penerimaan dan pembayaran
yang terpisah-pisah dan terpecah-pecah, berpotensi menimbulkan
beberapa kelemahan:
- terdapat dana menganggur (idle cash) tanpa remunerasi
memadai;
- dapat menyebabkan borrowing cost yang tidak perlu;
- adanya floats yang menguntungkan bank komersial, namun
membebani pemerintah.
2. Prinsip Pengelolaan Rekening TSA:
- Rekening Pemerintah pada bank-bank komersil bersaldo nihil
pada akhir hari,
- Saldo penerimaan ditransfer dari Bank Persepsi ke Bank
Indonesia pada hari yang sama, serta untuk pengeluaran
ditransfer pada saat jatuh tempo
- Optimalisasi idle cash
- Pelaporan dan akuntabilitas yang lebih baik

f. TNP
1. Pengertian
Mekanisme konsolidasi dari seluruh rekening Pemerintah pada
bank umum tertentu tanpa harus melakukan pemindahbukuan.
2. Mekanisme
Saldo seluruh rekening yang masuk dalam TNP
dikonsolidasikan pada akhir hari setelah proses tutup buku dan
diberikan jasa giro harian oleh Bank sesuai dengan kesepakatan
yang tertuang dalam kontrak.
3. Manfaat :
- Tingkat remunerasi yang lebih menguntungkan.
- Rekening Bendahara pengeluaran dan penerimaan, serta
Rekening Lainnya teradministrasi dengan baik dalam aplikasi
TNP.
- Bank tidak mengenakan biaya adminitrasi atas penerapan
TreasuryNotional Pooling.
- Para Bendahara tidak perlu mendebet dan menyetorkan ke Kas
Negara jasa giro pada rekening pengeluaran yang dikelolanya.
B. PEMBAHASAN
I. Input dan Output dalam Modul Manajemen Kas
a. Input dalam Modul Manajemen Kas
a. Halaman III DIPA *
b. Penyampaian jadwal pembayaran yang ada pada resume kontrak**
c. Penyampaian termin pembayaran yang ada pada resume tagihan***
d. SPM****
e. CPIN*****
b. Output dalam Modul Manajemen Kas
a. Rencana Penarikan Dana (RPD) tahunan melalui manajemen DIPA. Data
RPD ini akan terupdate oleh modul manajemen kas secara otomatus
berdasarkan realisasi dari modul pembayaran.*
b. Informasi penarikan terjadwal.**
c. Perencanaan kas jangka pendek***
d. SP2D yang valid akan digunakan SPAN sebagai penyedia kebutuhan dana
harian.****
e. Perencanaan kas diluar SPAN yang mencakup unit eselon I di Kementerian
Keuangan seperti DJP, DJBC, DJPK, dll.*****
*memiliki makna bahwa input dan output yang saling berhubungan

II. Proses Bisnis Modul Manajemen Kas


Proses bisnis pada modul manajemen kas Sistem Perbendaharaan dan
Anggaran Negara (SPAN) memiliki beberapa proses yang di antaranya sebagai
berikut:
1. Pencatatan rekening baru
Proses pencatatan rekening baru dilakukan untuk registrasi rekening bank
yang akan digunakan untuk transaksi. Proses registrasi bank dilakukan secara terpusat
di Direktorat PKN mengingat adanya konsep kombinasi BAS (segment bank, akun
kas) untuk manajemen kas pada SPAN.
Setiap rekening bank yang didaftarkan pada SPAN ke dalam segment bank
yang disesuaikan/diwakili menjadi lima digit (digit 1 untuk tipe rekening, 4 digit
berikutnya merupakan nomor urut).

2. Transfer antar rekening (bank account transfer)


Transfer antar rekening dapat dilakukan oleh KPPN maupun direktorat PKN
sesuai dengan user login masing-masing. User login tersebut juga berguna untuk
mengakses SPAN sesuai tanggung jawab yang telah ditetapkan, dan juga digunakan
sebagai audit trail.

3. Rekonsiliasi bank secara otomatis (auto reconcile)


Rekonsiliasi bank digunakan untuk mencocokkan data yang ada pada SPAN
dengan transaksi yang ada di bank. Proses rekonsiliasi dilakukan harian oleh sistem
dan terjadwal. ADK rekening koran yang diterima dari bank harus sesuai dengan
requirement SPAN, sehingga proses otomatis tersebut berjalan lancar.
4. Rekonsiliasi bank secara manual (manual reconcile)
Proses rekonsiliasi bank secara manual dilakukan jika ada perbedaan antara
transaksi yang ada di SPAN dengan ADK rekening koran bank, dan juga pada
rekening yang bersifat dummy seperti rekening transito untuk BLU, dll.

5. Non-aktivasi rekening (closing existing bank account)


Proses tersebut dilakukan untuk menutup rekening yang tidak aktif, sehingga
tidak dapat digunakan untuk transaksi.

6. Perencanaan Kas
Perencanaan kas pemerintah adalah kegiatan memperkirakan penerimaan dan
pengeluaran kas pada waktu tertentu untuk mengetahu kemungkinan terjadinya
missmatch sehingga dapat dilakukan tindakan yang sesuai untuk menindaklanjutinya.
Perencanaan kas pada SPAN didasarkan pada data atau transaksi yang ada
pada modul lain, sehingga diketahui berapa kebutuhan kas secara harian, mingguan,
dan bulanan. Data yang digunakan dalam perencanaan kas antara lain:

a. Manajemen DIPA (Hal III DIPA)


b. Manajemen Komitmen (resume kontrak)
c. Manajemen Pembayaran (resume tagihan)
d. Manajemen Penerimaan (MPN)
III. Gambaran Sistem Aplikasi

Pengelolaan kas secara aktif di Indonesia difasilitasi oleh pertukaran data secara
teratur dengan sistem sebagai berikut:
a. Sistem-sistem di Bank Sentral (Bank Indonesia – BI) yang terkait dengan
pelaksanaan Treasury Dealing Room Settlement System meliputi:
- BI Government Electronic Banking (BIG-eB) untuk memberikan koneksi perbankan
melalui internet kepada Pemerintah.
- BI Centralized Automated Accounting System (BI-SOSA) untuk menyediakan
ketatausahaan dan pembukuan rekening Pemerintah yang dikelola oleh bank sentral.
- BI Real Time Gross Settlement System (RTGS) untuk memberikan transfer dana secara
online dan real time atas uang pemerintah ke bank- bank komersial yang bertindak
sebagai bank rekanan pemerintah untuk pemungutan penerimaan dan pembayaran
pengeluaran.
- BI Script-less Securities Settlement System (SSSS) untuk mengelola penyelesaian
(settlement) penerbitan obligasi pemerintah di pasar primer dan sekunder, melalui
koordinasi yang erat dengan Ditjen Pengelolaan Utang.

b. Aplikasi TI yang dikembangkan secara mandiri oleh Ditjen Perbendaharaan, yang disebut
Aplikasi Forecasting Satker (AFS), dikembangkan dan didistribusikan ke setiap satuan
kerja pada tahun 2010 untuk memfasilitasi penyampaian pemutakhiran kas secara periodik
sebagai dasar pelaksanaan anggaran. Kementerian Keuangan berencana menghubungkan
pemutakhiran rencana kas dengan pelaksanaan anggaran sehingga apabila data tidak
dimutakhirkan maka dana tidak dapat dicairkan, akan tetapi sanksi ini dalam prakteknya
tidak dapat dilaksanakan.

c. Ditjen Perbendaharaan menggunakan aplikasi perangkat lunak yang dikembangkan


secara mandiri, yang disebut e-kirana, untuk mengkonsolidasi kebutuhan pendanaan
harian bagi setiap KPPN dan transfer dana ke rekening-rekening bank KPPN guna
memenuhi kebutuhan pembayaran harian ke para pemasok satuan kerja.

Salah satu reformasi terkini yang dilakukan oleh Kementerian Keuangan adalah
pengembangan sistem penyusunan anggaran dan pelaksanaan perbendaharaan terpadu yang
disebut Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (SPAN). SPAN saat ini sedang
digulirkan secara bertahap ke semua lokasi KPPN. Fungsionalitas pengelolaan kas di
SPAN meliputi: Pengelolaan Rekening, Perkiraan Kas dan Pendanaan Harian, Transfer
Dana, Rekonsiliasi Bank, Akuntansi dan Pelaporan, dan Pengelolaan Kas di berbagai Ditjen
yang mengelola anggaran non kementerian.
Seiring dengan pengembangan SPAN yang akan dioperasikan di Kantor Pusat Ditjen
Perbendaharaan dan 181 KPPN, Kementerian Keuangan memutuskan untuk
mengembangkan aplikasi baru yang disebut SAKTI, sebagai aplikasi lapis antara (middle
layer) yang akan melayani semua kebutuhan 24.000 unit pengguna anggaran di seluruh
Indonesia.
SAKTI bertujuan untuk meningkatkan kualitas masukan data ke SPAN, dengan
mengintegrasikan aplikasi dan basis data SPAN yang akan digunakan oleh Ditjen
Perbendaharaan dengan satuan-satuan kerja. SAKTI akan mencakup keseluruhan proses
pengelolaan keuangan di tingkat unit satuan kerja, mulai dari penganggaran hingga ke
pelaksanaan dan pelaporan, termasuk registrasi aset dan informasi lain yang mendukung
akun-akun akrual. Data tersebut akan dikirim ke SPAN melalui sebuah portal. SAKTI saat ini
sedang dirancang sedemikian hingga memungkinkannya untuk digunakan secara online dan
offline, atau pada lingkungan LAN.

IV. Keterkaitan Modul Kas SPAN dengan Modul Lainnya

1. Modul Penerimaan
Ketika terdapat penerimaan negara melalui MPN, akan masuk ke dalam catatan
penerimaan di modul penerimaan. Setelah itu, penerimaan negara akan disetor ke kas negara
dan mempengaruhi posisi kas di modul kas.

2. Modul Utang
Modul utang akan digunakan untuk pembiayaan defisit APBN. Maka harus dilakukan
perkiraan pembiayaan untuk memperkirakan kebutuhan belanja apa saja yang harus segera
dibiayai dengan utang. Setelah itu, akan dilakukan pembiayaan terhadap kebutuhan belanja
tersebut. Pembiayaan akan mempengaruhi posisi kas dalam modul kas, yaitu menambah
utang.
3. Modul Penganggaran
Dalam modul penganggaran, Satker dan Unit Eselon 1 melakukan pengalokasian
anggaran (Budget Allotment). Budget Allotment berguna untuk memperkirakan dan
membatasi jumlah dana yang akan dikeluarkan. Dari proses ini, akan menghasilkan Annual
Financial Plan (AFP) atau rencana keuangan tahunan. AFP ini akan digunakan dalam
modul kas dalam melakukan perkiraan kas yang akan dikeluarkan dalam satu tahun.

4. Modul Komitmen
Dalam modul komitmen, akan dilakukan Contract Registration. Contract Registration
adalah proses pendaftaran dan pencatatan kontrak-kontrak yang harus dibayar. Dari proses
ini, akan dihasilkan Contract Data yang akan digunakan modul kas untuk melakukan
perkiraan kas yang harus dikeluarkan untuk membayar kontrak. Setelah proses Contrak
Registration, akan dilanjutkan ke modul pembayaran untuk dilakukan pengajuan
pembayaran atas kontrak-kontrak yang berlaku.

5. Modul Pembayaran
Dalam modul pembayaran, akan ditentukan payment term atau waktu pembayaran.
Kemudian, payment term akan menentukan perkiraan kas di modul kas. Adanya perkiraan
kas bertujuan agar mengetahui kapan akan mengeluarkan kas untuk pembayaran sesuai
dengan jumlah yang dibutuhkan.
Setelah itu, untuk melakukan pembayaran, satker mengajukan SPP dan dilanjutkan
pengajuan SPM ke KPPN. Setelah SPM diuji dan disetujui, SP2D akan diterbitkan. SP2D
berfungsi sebagai perintah ke Bank Operasional untuk mencairkan kebutuhan dana.
Kemudian, akan dilakukan transfer dana melalui bank sesuai yang tertera di SP2D. Transfer
bank akan mempengaruhi posisi kas. Transaksi yang tercatat di sistem perbankan akan
digunakan untuk mengelola rekening bank, berupa mempersiapkan data bank serta
menjadwalkan dan memperhitungkan pembayaran SP2D. Setelah itu, akan dilakukan
pengelolaan laporan bank dan dilanjutkan dengan rekonsiliasi bank di modul kas.
V. Kontrol atau Pengendalian
1. Pemisahan tugas yang memadai
Salah satu prinsip keamanan sistem informasi adalah dengan menerapkan mekanisme
Maker dan Checker, dimana dalam melakukan sebuah transaksi setidaknya dibutuhkan dua
orang untuk menyelesaikan transaksi tersebut. Individu pertama bertugas untuk membuat
transaksi sedangkan individu yang lain terlibat dalam melakukan otorisasi/persetujuan.
Disini pemisahan wewenang memainkan peranan yang penting. Mekanisme ini dilakukan
juga dalam aplikasi SPAN , dimana dalam menyelesaikan sebuah transaksi dibutuhkan tiga
individu yang terlibat, yaitu:
 Individu yang membuat transaksi (Maker/Operator)
 Individu yang melakukan validasi (Checker/Validator)
 Individu yang menyetujui transaksi dilakukan (Approval)
2. Otorisasi yang sesuai (hanya dilakukan oleh approvel dan sudah divalidasi)
3. Dokumen dan catatan yang memadai
Salah satu contohnya adalah bagan akun standar yang berguna untuk mencegah kesalahan
klasifikasi.
4. Pengendalian fisik atas aktiva dan catatan
SPAN menyediakan pusat data dan pusat pemulihan data untuk mengatasi kehilangan dan
kerusakan data.
5. Pemeriksaan kinerja secara independen

VI. Perbaikan dan Pengembangan

1. Konsep pengembangan cash management berdasarkan kerangka Sistem Perbendaharaan


dan Anggaran Negara (SPAN)
Dalam rangka mendukung reformasi di bidang pengelolaan keuangan negara,
Departemen keuangan berencana untuk menerapkan suatu sistem informasi pengelolaan
keuangan yang terintegrasi (integrated financial management information system) melalui
Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (SPAN). SPAN merupakan suatu sistem
Commercial of the Shelf (COTS) yang dalam rencana penerapannya akan menggunakan
Oracle Public Sector. Penggunaan COTS ini tentunya akan memberikan dampak
perubahan terhadap proses bisnis pada Departemen Keuangan, khususnya terkait bidang
pengelolaan perbendaharaan dan anggaran termasuk koneksitasnya dengan instansi
terkait.
Dalam pelaksanaannya, SPAN akan terbagi menjadi modul-modul yaitu Budget
Preparation, Management of Spending Authority, Commitment Management, Payment
Management, Cash Management, Reporting, General Ledger and Chart of Account.
Terkait dengan pengelolaan kas dalam SPAN, akan dilaksanakan melalui modul Oracle
Cash Management. Fitur-fitur standar dalam modul Oracle Cash Management serta
koneksitasnya dengan modul lainnya dapat digambarkan dalam gambar berikut:

Dari gambar di atas, dapat dilihat bahwa fitur-fitur standar Oracle Cash Management
terutama adalah terkait dengan pengelolaan rekening, rekonsiliasi, perencanaan kas,
pemindahbukuan dana antar bank, dan penyusunan laporan posisi kas. Fitur-fitur tersebut
kemudian akan dikembangkan untuk memenuhi requirement modul Cash Management
dalam rencana penerapan SPAN. Berdasarkan requirement pada SPAN bidding document,
SPAN direncanakan untuk dapat melaksanakan aktivitas-aktivitas sebagai berikut:
a) Pengawasan atas aliran kas yang keluar dan masuk melalui rekening Bendahara Umum
Negara beserta saldo hariannya.
b) Pembuatan laporan perencanaan kas untuk jangka pendek maupun jangka menengah
termasuk melakukan update atas perencanaan kas yang telah disusun.
c) Pengelolaan rekening pemerintah pada bank.
d) Minimalisasi idle cash serta memberikan kepastian atas kecukupan sumber daya kas
untuk membayar tagihan pemerintah.
e) Melakukan koordinasi dengan debt management dan asset management untuk
menyelaraskan rencana pembiayaan dengan keseimbangan kas pemerintah (dalam
rangka Asset Liability Management)
f) Penentuan withdrawal limit untuk KPPN. Withdrawal limit akan digunakan untuk
membatasi penarikan yang dilakukan terhadap rekening-rekening pada KPPN,
termasuk untuk rekening BO I, maupun rekening lainnya yang digunakan (rencana
penerapan sub rekening dalam rangka implementasi kartu debit bagi
Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja). Withdrawal limit dapat ditentukan berdasarkan
perencanaan kas yang telah dibuat secara harian maupun mingguan . Dalam
perkembangannya, penerapan withdrawal limit akan disesuaikan dengan sistem
pembayaran yang akan digunakan, yaitu antara pilihan sentralisasi pembayaran pada
kantor pusat Ditjen Perbendaharaan atau melalui desentralisasi pembayaran pada
masing-masing KPPN sebagaimana berlaku saat ini.
Selain memenuhi requirement untuk dapat melaksanakan aktivitas-aktivitas di atas,
SPAN diharapkan juga akan dapat melaksanakan aktivitas-aktivitas lainnya terkait pengelolaan
kas melalui modul lainnya dalam SPAN yaitu sebagai berikut:
a) Melakukan update dan revisi atas Annual Financial Plan (AFP), sepanjang tidak
melebihi pagu anggaran. Dalam hal ini, AFP dapat disetarakan dengan rencana
penarikan dana pada Satuan Kerja yang disusun berdasarkan time period per
fungsi/program/kegiatan/CoA tertentu (SPAN bidding document halaman 210). Update
atas AFP dilakukan melalui modul Management of Spending Authority;
b) Penerapan cash-limit dalam keadaan dimana negara tidak memiliki kas dalam jumlah
yang mencukupi untuk membayar tagihan atas beban negara (SPAN bidding document
halaman 211). Update atas cash limit dilakukan melalui modul Management of
Spending Authority.
Aktivitas-aktivitas pengelolaan kas dalam SPAN sebagaimana disebutkan di atas dapat
digambarkan ke dalam gambar 4.3 berikut:

Melihat pola kegiatan pengelolaan kas yang direncanakan untuk diimplementasi


melalui SPAN dengan rencana penyempurnaan proses bisnis sesuai dengan best practices,
maka kedua hal tersebut dapat diselaraskan menjadi suatu proses bisnis pengelolaan kas ke
depan. Dengan konsep single database pengelolaan kas yang ditawarkan SPAN yang selaras
dengan konsep best practices, maka proses bisnis pengelolaan kas ke depan akan menggunakan
platform database tunggal yang dapat melakukan interface dengan sistem lainnya seperti sistem
penerimaan, sistem pengelolaan utang dan sistem perbankan.
2. Inisiatif lainnya terkait dengan penyempurnaan cash management
Terkait dengan upaya-upaya penyempurnaan pengelolaan kas, telah banyak kegiatan
yang dilakukan khususnya oleh Direktorat PKN. Beberapa hal dapat disebutkan
termasuk:
a) Proses open bidding dan/atau perubahan hubungan yang semakin professional pada
kegiatan-kegiatan yang terkait dengan penunjukan perbankan sebagai mitra kerja
Departemen Keuangan, seperti penunjukkan BOI, bank persepsi, penempatan dana
terkait escrow atau dana titipan lainnya.
b) Usaha-usaha restrukturisasi rekening dan perbaikan governance termasuk penerapan
Treasury Notional Pooling (TNP) dan BIG-eB.
c) Perbaikan terus menerus terhadap perencanaan penarikan dana dan perencanaan kas,
terakhir Peraturan Menteri Keuangan No.192/PMK.05/2009 tentang Perencanaan
Kas.

C. KESIMPULAN DAN SARAN


I. Kesimpulan
a. Manajemen kas pemerintah merupakan strategi dan proses terkait untuk mengelola
arus dan saldo kas jangka pendek pemerintah secara efisien baik dari sisi internal
pemerintah sendiri maupun dari sisi hubungan antara pemerintah dan sektor-sektor
lainnya (Mike Williams 2009). Manajemen kas pada SPAN merupakan sistem yang
terintegrasi dengan konsep database tunggal yang menggunakan data-data dari
modul-modul lain sebagai dasar bagi manajemen kas untuk melakukan transaksi dan
pelaporan.
b. SPAN terdiri atas modul-modul yang dikelompokan dalam tiga proses yaitu
perencanaan anggaran, pelaksanaan anggaran, hingga akuntansi dan pelaporan.
Proses bisnis manajemen kas terdiri dari: pencatatan rekening baru, transfer antar
rekening (bank account transfer), rekonsiliasi bank secara otomatis, rekonsiliasi
bank secara manual, non-aktivasi rekening, serta perencanaan kas. Modul
manajemen kas SPAN memiliki keterkaitan dengan modul modul lain antara lain:
modul penerimaan, modul utang, modul penganggaran, modul komitmen dan modul
pembayaran.
c. Modul manajemen kas SPAN masih memiliki kelemahan dan kekurangan. Oleh
karena itu dibutuhkan suatu bentuk pengendalian untuk mengatasi kekurangan
tersebut antara lain dengan pemisahan tugas yang memadai, otorisasi yang sesuai
(hanya dilakukan oleh approvel dan sudah divalidasi), dokumen dan catatan yang
memadai, pengendalian fisik atas aktiva dan catatan, serta pemeriksaan kinerja
secara independen.

II. Saran
a. Kas, sebagai aset lancar pemerintah yang paling likuid, tentu saja memiliki peranan
yang sangat penting dalam keberlangsungan pelayanan publik. Mu (2006;11)
menjelaskan bahwa manajemen kas menjadi penting karena pemerintah memiliki
sumber pendapatan yang bervariasi, begitupun dengan pengeluarannya yang juga dalam
berbagai macam bentuk.
b. Mengingat pentingnya manajemen kas pemerintah, segala bentuk kelemahan dan
kekurangan dalam sistem manajemen kas harus diperbaiki. Oleh karena itu kami
menyarankan agar pemerintah terus melakukan perbaikan dan pengembangan terhadap
sistem manajemen kas agar kekurangan dan kelemahan dapat diatasi sehingga tidak
mengganggu terhadap pencapaian tujuan pelayanan publik.