Anda di halaman 1dari 41

Hukum Perdata PERTEMUAN PERTAMA

Menurut Subekti: Hukum perdata adalah segala hukum pokok yang mengatur kepentingan
pribadi.
Menurut Sri Soedewei Masjhoen: Hukum perdata adalah hukum yang mengatur kepentingan
antara warga negara yang satu dengan yang lain

SEJARAH KUHPerdata (BW) à Baca lg dr buku selengkapnya


− Kodifikasi hukum perdata di Belanda banyak dipengaruhi Code Napoleon (Hk. Perdata
Perancis)à Code Napoleon sendiri disusun berdasarkn Hk. Romawi (Corpus Juris
Civilis)à pd waktu itu dianggap sbg hukum paling sempurna
− BW berhasil disusun o/ panitia yg diketuai J.M.Kemper.
− Kodifikasi KUHPer selesai pada 5 Juli 1830, diberlakukan di Belanda 1 Oktober 1838.
− Berdasarkan asas konkordansià asas yang melandasi diberlakukannya hukum
eropa/belanda pada masa itu untuk diberlakukan juga kepada bangsa pribumi / Indonesia.
− Hukum eropa yang diberlakukan kepada pihak belanda pada masa itu, juga diterapkan
oleh bangsa Indonesia
− Kodifikasi KUHPer Indonesia dibentuk oleh panitia yang diketai C.J.Scholten van Oud
Haarlem.
− Kodifikasi BW Indonesia diumumkan pada 30 April 1847 melalui staatsblad no.23 dan
mulai berlaku 1 Januari 1848.

SISTEMATIKA HUKUM PERDATA MENURUT ILMU PENGETAHUAN


1. Hukum Tentang Orang atau Pribadi (Persoonenrecht)
Mengatur tentang orang sebagai subjek hukum dan orang dalam kecakapannya untuk
memiliki hak-hak dan bertindak sendiri untuk melaksanakan haknya
2. Hukum Harta Kekayaan (Vermogensrecht)
Meliputi hukum benda, hukum hak immaterial, dan hukum perikatan
3. Hukum Keluarga (Familierecht)
Memuat perkawinan, hubungan ortu-anak, perwalian, pengampuan
4. Hukum kewarisan (Efrecht)
Mengatur kekayaan seseorang ketika ia meninggal

SISTEMATIKA HUKUM PERDATA DALAM KUHPerdata (BW)


1. Buku I, Perihal orang (van persoonen) memuat hukum perorangan dan hukum
kekeluargaan
2. Buku II, perihal benda (van zaken), memuat hukum benda dan hukum waris
3. Buku III, perihal perikatan (van verbintcnnisen) memuat hukum harta kekayaan
4. Buku IV, perihal pembuktian dan kadaluwarsa, memuat perihal alat-alat pembuktian
dan akibat lewat waku dalam hubungan hukum
Tidak tepat karena menempatkan pembuktian dan daluwarsa ke struktur KUHPerdata.
Seharusnya, pembuktian masuk ke hukum formil atau acara, bukan hukum materiil
à Seharusnya membicarakan pribadi (baik orang atau badan hukum), harta kekayaan,
keluarga, dan waris à KUHPer kurang sistematik

1
KUHPer masih ada yang berlaku dan sebagian ada yang udah di cabut. Yang udah dicabut
adalah:
1. Perkawinan (menjadi unifikasi hukum No. 1 thn 1974). KUHPer menuliskan perkawinan
itu merupakan perjanjian, lalu diganti
à Perkawinan sah apabila sah menurut agama dan kepercayaan masing-masing dan tidak
boleh menikah antar agama
2. Hak Atas Tanah, awalnya diatur pada buku kedua KUHPer diganti dengan UU pokok
agrarian No. 5 thn 1960.
3. Hipotik atas tanah (peminjaman bank), diganti menjadi hak tanggungan UU No. 4 thn
1996 kalau Hipotik atas kapal masih berlaku di KUHPerdata
4. Gadai (jaminan kebendaan untuk benda bergerak), di KUHPerdata konsepnya beda
à diganti UU jaminan fidusia no 42 thn 1999

KUHPer berlaku bagi orang Indonesia berbagai keturunan, kecuali hukum keluarga dan
hukum waris, dimana kedua bidang hukum ini mereka tunduk pada hukum adat
masingmasing. Sedangkan hukum adat, merupakan hukum perdata yang berlaku bagi warga
negara Indonesia asli. Dengan demikian, hukum perdata Indonesia bersifat pluralistis.

Hubungan Hukum Perdata dan Dagang


- Hk. Perdata sering dibedakan dalam pengertian luas (termasuk hk. dagang) dan
pengertian sempit (tidak termasuk hk. dagang).
- Hukum dagang dianggap sbg hk. perdata khususà hk dagang dianggap sbg hukum yg
mengatur hub. Privat istimewa antara orang sbg anggota masyarakat atau antara orang
dengan suatu badan hukum
- Hukum Dagang menurut Achmad Ihsan adalah hukum yang mengatur soal perdangan
atau soal yang timbul karena tingkah laku manusia dalam perdagangan. Yang mengatur:
1. Hubungan hukum antara produsen satu sama lain, dan dengan konsumen
2. Pemberian perantaraan kepada makelar, komisioner, pedagang keliling
3. Hubungan hukum yang terdapat pada:
a. Asosiasi Perdagangan
b. Pengangkutan di Darat, Laut, dan Udara
c. Penggunaan surat-surat niaga
Atas dasar ini, maka hukum dagang meliputi:
Hukum bagi pedagang antara, hukum perserikatan, hukum angkutan, hukum asuransi, dan
hukum surat-surat niaga/surat-surat berharga.
Sampai saat ini, hukum dagang Indonesia = KUHD kolonial Wetboek van Koophandel

MANA YANG LEBIH BAIK, SISTEMATIKA HUKUM PERDATA MENURUT


KUHPer ATAU ILMU PENGETAHUAN?
Lebih baik sistematika hukum perdata menurut Ilmu Pengetahuan. Karena KUHPer memiliki
beberapa kelemahan, yaitu:
1. Karena BW kita harusnya mengatur materiil saja, tapi nyatanya membahas formil juga
(Pembuktian dan Daluarsa)
2. Waris dimasukkan ke dalam buku benda, padahal:
a. Waris ada hubungan erat dengan keluarga, tidak hanya kekayaan

2
b. Waris juga harusnya mengenai perikatan
3. Dalam KUHPer tiap bab ada pengertian umum, seharusnya cukup dijabarkan dalam 1 bab
saja.

HUKUM PRIBADI
- Mengatur hak dan kewajiban subjek hukum.
- Dalam hukum adat, subjek hukumnya adalah pribadi kodrati dan pribadi hukum, yaitu
pribadi yang merupakan ciptaan hukum.
- Dalam hukum barat (Pasal 2 BW) : seorang anak yang masih dalam kandungan ibunya,
karena kepentingan tertentu dianggap telah memiliki hak dan kewajiban. à fiksi hukum
- Pribadi Kodrati diatur dlm buku 1, bab 1-3 KUHPer
- Pribadi Hukum diatur dlm buku 3 bab 9 KUHPer
- Pasal 2 KUHPerà Bayi yang msh berada di dlm kandungan dianggap sbg subjek hukum
apabila kepentingannya menghendaki, kecuali ia dinyatakan mati

HUKUM PRIBADI MENURUT HUKUM ADAT


A. Pribadi Kodrati Sebagai Subjek Hukum
− Pada dasarnya pribadi kodrati (natuurlijke persoon) telah memiliki hak dan kewajiban
sejak lahir sampai meninggal dunia.
− Ter Haar menyatakan, “keadaan berhenti sebagai anak yang tergantung pada orang
tua merupakan sat berakhirnya masa belum dewasa menurut hukum adat bukan lagi
saat menikah”
− Pendapat Soepomo (dlm buku Adatprivaatrecht), seseorang dianggap dewasa kalau
orang tsb mampu utk bekerja scr mandiri, cakap mengurus harta benda & keperluan
sendiri, cakap melakukan peran kemasyarakatannya, dan tanggung jawab atas
tindakan sendiri
B. Pribadi Hukum Sebagai Subjek Hukum Sebab adanya Pribadi Hukum :
1. Adanya suatu kebutuhan untuk memenuhi kepentingan tertentu atas dasar kegiatan
yang dilakukan bersama
2. Adanya tujuan ideal yang perlu dicapai tanpa senantiasa tergantung pada pribadi
kodrati secara perorangan

HUKUM PRIBADI MENURUT HUKUM BARAT


Menurut Hk Perdata Barat, setiap org memiliki hak dan kewajiban. Namun, dlm keadaan
tertentu, hak seseorang dpt dikurangi, misalnya :
1. Orang yg belum mencapai umur tertentu. Dalam melaksanakan H&K, org tsb harus
dengan perantara org lain.
2. Bidang Hukum Waris, hak seseorang bisa dikurangi kalo orang tsb masih dibawah 18
tahunà karena blm bisa buat wasiat
3. Bidang Harta Kekayaan, hak seseorg bisa dikurangi kalo belum 21 tahun (msh dianggap
dibawah umur). Hanya bisa melakukan pebuatan hukum dgn perantara orang lain, dalam
hal:
a. Orang tuanya masih dlm perkawinan, dia diwaliki ortu

3
b. Perkawinan terputus (gara-gara salah satu meninggal atau cerai), maka hrs diwakili
oleh walinya
4. Saat keadaan mental seseorang tidak stabil, sehingga harus ditempatkan di bawah
pengawasaan (curatele). Dapat melakukan perbuatan hukum melalui perantara
pengawasnya (curator)
5. Wanita dalam perkawinan, harus didampingi suami (tapi kl gasalah udh gak berlaku)

HUKUM HARTA KEKAYAAN


HUKUM BENDA
Dari sudut Ilmu Hukum (doctrine) Hukum kekayaan mengatur hubungan hukum antara orang
dan harta kekayaan mereka yang merupakan hak dan kewajiban yang dapat dinilai dengan
uang. Hukum kekayaan dibedakan menjadi 2 bagian, yaitu:
1. Hukum Kekayaan yang Bersifat Absolut (Mutlak)
Hukum kekayaan yang sifatnya absolut yaitu hak yang dapat dipertahankan terhadap
siapapun juga yang bermaksud untuk mengangggu hak kebendaan tersebut.
Contoh: Hak milik (eigendom), hak menguasai (bezit), hak gadai, dll. Biasanya terjadi
pada harta yang berupa tanah
2. Hukum Kekayaan yang Bersifat Relatif (Perikatan)
Hukum kekayaan yang bersifat relatif lahir dari perjanjian, yaitu hak yang hanya dapat
dipertahankan terhadap orang tertentu sajaà orang yg terikat dalam perjanjian itu saja.
Dapat disebut juga dengan hak perorangan, hak yg lahir dr kewajiban tertentu yg harus
dilaksanakan seseorang (prestasi)
Contoh: Hak yang menyewakan atas uang sewa, hak penjual atas harga penjualan
Sistematika hukum kebendaan yang digunakan didalam buku II KUHPer itu menggunakan
sistem tertutup, artinya tidak diperkenankan untuk menciptakan hak kebendaan lain, selain
apa yang sudah ada di dalam buku II tersebut.

Hak kebendaan adalah hak yang diberikan kepada seseorang dan memberikan kekuasaan
langsung atas suatu benda yang dapat dipertahankan terhadap setiap orang. Hak kebendaan
dapat dibagi menjadi 2, yaitu:
1. Hak kebendaan yang memberikan Kenikmatan, misalnya hak milik (eigendom), hak
postal, dsb.
2. Hak kebendaan yang memberikan Jaminan, misalnya hak gadai dan hak hipotik.

A. Pembagian Benda Menurut Hukum Perdata


1. Benda Berwujud;
Benda yang dapat dilihat dan diraba dengan pancaindera.
Contoh : meja, kursi, perhiasan, dsb.
2. Benda Tidak Berwujud;
Benda yang tidak dapat dilihat secara inderawi dan biasa disebut dengan sebutan
“hak”. Contoh: hak atas tagihan, HAKI

4
3. Benda bergerak (roerende goederen);
a. Benda bergerak menurut UU Pasal 509 KUHPer ialah benda yang dapat dipindah-
pindahkan tanpa merubah bentuknya. Contoh: alat perabot rumah tangga,
perhiasan, kendaraan, hewan, dsb.
b. Benda bergerak menurut penetapan UU Pasal 511 KUHPer; ialah suatu benda
yang oleh UU ditetapkan sebagai benda bergerak. Contoh: hak penagihan atas
sejumlah uang atau atas sejumlah benda bergerak.
4. Benda tidak bergerak (onroerende goederen);
a. Benda Tidak Bergerak Karena Sifatnya Contoh: tanah dan segala yang melekat
diatasnya (pohon, tanaman)
b. Benda Tidak Bergerak Berdasarkan Tujuan Pemakaiannya Contoh: mesin-mesin
pabrik.
c. Benda Tidak Bergerak Karena. Contoh: hak memungut hasil atas benda tidak
bergerak, hak erpacht, hak postal.
B. Hak Kebendaan yang Memberikan Jaminan Hutang
1. Gadai
Gadai diatur pada Pasal 1150 KUHPer, adalah hak yang diperoleh kreditur atas suatu
benda bergerak, yang diberikan debitur untuk menjamin hutang dan memberikan
kewenangan kepada kreditur untuk mendapat pelunasan dari barang tersebut. Gadai
bersifat Accesoir merupakan perjanjian tambahan saja dari perjanjian pokok yang
berupa perjanjian pinjaman uang.
Jika pelunasan hutang hanya sebagian, hak gadai akan tetap utuh dan tidak
menghapus sebagian hak gadai tersebut. Benda yang dapat digadaikan adalah:
a. Benda Bergerak Berwujud, contoh: perabot rumah tangga
b. Benda Tidak Bergerak Berwujud, contoh: surat-surat berharga, surat piutang atas
bawa, atas tunjuk, dan atas nama.
Gadai dalam perkembangannya kini dikenal dengan Lembaga Fidusia diatur dalam
UU No. 42 tahun 1999 tentang Fidusia.
2. Hipotik
Hipotik diatur dalam Pasal 1162 KUHPer. Hipotik adalah hak kebendaan atas benda
tidak bergerak, untuk menjadikan jaminan pelunasan atas suatu hutang tertentu.
Hipotik juga merupakan perjanjian Accesoir dan perjanjian pokoknya adalah
perjanjian pinjaman uang. Hipotik mempunyai sifat-sifat antara lain:
a. Selalu mengikuti bendanya dalam tangan siapapun benda tersebut berada (droit de
suit)
b. Lebih diutamakan pelunasannya (droit de preference)
c. Objeknya adalah benda benda tidak bergerak
Hak hipotik memberikan hak untuk pelunasan hutang dan dapat menjual atas
kehendak sendiri apabila debitur wanprestasi. Dalam perkembangannya hak hipotik
kini sudah dihapus dan digantikan dengan Hak Tanggungan dengan berlakunya UU
No. 4 tahun 1996 tentang Hak Tanggungan. Sementara hipotik tetap berlaku terhadap
kapal laut yang beratnya diatas 20 M3

5
C. Hukum Benda Menurut Hukum Adat Benda dalam hukum adat, dibagi menjadi:
1. Benda tetap, yaitu tanah
2. Benda lepas, bukan tanah yaitu hak atas rumah, hak atas tumbuh-tumuhan, hak atas
ternak dan hak atas benda bergerak lainnya (contoh: mobil)
3. Berlakunya Asas Pemisahan Horizontal (horizontale scheiding) yaitu hak atas tanah
terpisah dengan hak atas rumah (contoh: apartemen, rusun)
Hak Ulayat atas adalah hak bersama atas tanah. Berdasarkan hak ini masyarakat hukum
adat sebagai badan penguasa mengatur dan membatasi kebebasan warganya untuk
memungut hasil dari tanah (baik tanah, tumbuh-tumbuhan, maupun hewan). Sedangkan
Hak Pribadi hanyalah hak pakai atas tanah yang dapat dipindahtangankan.

Pemindahan atas tanah harus memenuhi syarat, yaitu:


1. Terang, artinya dilakukan di depan kepala adat, sehingga diketahui umum
2. Tunai, artinya pembayaran dan pemindahan hak dilakukan secera serentak baik
seluruhnya maupun sebagian.
D. Hukum Benda Menurut UU Pokok Agraria
Saat ini buku II KUHPer tidak berlaku sepenuhnya, karena sebagian dari isi, khususnya
yang mengenai tanah telah dihapuskan dengan berlakunya UU No.5 tahun 1960 tentang
peraturan pokok agraria. Dimana hukum benda tetap atau hukum tanah dikenal dengan
istilah hak-hak seperti:
1. Hak Milik (seumur hidup)
2. Hak Guna Bangunan (20-25 tahun)
3. Hak Guna Usha
4. Hak Pakai
5. Hak Sewa
6. Hak gadai
7. Hak Usaha Bagi Hasil
8. Hak Menumpang
Dengan berlakunya UUPA maka:
1. Dualisme Hukum atas tanah tidak berlaku
2. Hak mutlak sudah tidak berlaku karena tanah memiliki fungsi sosial
3. Mengenai air serta kekayaan alam maka Hak Jaminan, hipotik, dan hak gadai tidak
berlaku.

6
7
HUKUM PERDATA (PERTEMUAN 2)

--- HUKUM PERIKATAN ---

PERIHAL PERIKATAN & PERJANJIAN

§ Sistematika Hukum Perdata Barat: Buku III KUHPer


§ Sifat Buku III KUHPer : Berupa tuntutan-tuntutan (maka disebut juga hukum perhutangan)
§ Menurut pembagian hukum perdata berdasarkan keilmuan: Hukum perikatan masuk ke dalam
hukum harta kekayaan (bersamaan dengan hukum benda dan hukum hak imateriel)
§ Perjanjian (secara doktriner) : Peristiwa di mana seseorang berjanji kepada seorang yang
lain / dua orang yang saling berjanji untuk melaksanakan suatu hal
§ Perjanjian menerbitkan suatu perikatan di antara orang yang membuatnya
§ Perikatan : Hubungan hukum (mengenai harta benda) antara dua orang, satu pihak berhak
meminta sesuatu dari pihak lainnya dan pihak lainnya wajib memenuhi tuntutan tersebut
§ Jenis Perikatan:
- Perikatan yang lahir dari perjanjian : Dikehendaki oleh pihak yang membuat perjanjian
- Perikatan yang lahir dari undang-undang : Diadakan oleh undang-undang & di luar
kemauan pihak yang bersangkutan
§ Subjek hukum perikatan:
- Kreditur / Berpiutang : Pihak yang berhak menuntut
- Debitur / Berhutang : Pihak yang wajib memenuhi tuntutan
§ Prestasi : Barang yang dituntut
§ Dapat berupa:
- Menyerahkan sesuatu
- Melakukan sesuatu
- Tidak melakukan suatu perbuatan
§ Kalau melanggar prestasi disebut : Wanprestasi
§ Perbedaan Perikatan & Perjanjian
§ Perikatan : Pengertian yang abstrak
§ Perjanjian : Sesuatu yang konkret & merupakan suatu peristiwa
SUMBER HUKUM PERIKATAN

§ Berdasarkan Pasal 1233 KUHPer :


- Perjanjian (Pasal 1314 UU Hukum Perdata)
- Undang-Undang (Buku III KUHPer Bab III Pasal 1352, 1354, 1359, 1365)

8
§ Terdapat juga dalam hukum keluarga dan hukum hak atas benda

SYARAT SAHNYA PERJANJIAN

§ Diatur dalam Pasal 1320 KUHPer :


a. Syarat Subjektif : Mengenai orangnya / subjek yang mengadakan perjanjian
1. Sepakat / Perizinan : Kedua subjek yang mengadakan perjanjian harus bersepakat /
setuju mengenai hal pokok perjanjian yang diadakan
2. Cakap : Harus cakap menurut hukum
b. Syarat Objektif : Mengenai perjanjiannya sendiri / objek dari perbuatan hukum yang
dilakukan itu
3. Mengenai hal tertentu dalam perjanjian : Apa yang diperjanjikan, hak kewajiban
kedua pihak harus jelas untuk mencegah timbulnya perselisihan
4. Suatu sebab halal dalam perjanjian, tidak melanggar hukum / kesusilaan : Terhadap
isi perjanjian itu sendiri
§ Orang yang tidak cakap (menurut Pasal 1330 KUHPer) :
- Orang yang belum dewasa (< 21 tahun)
- Mereka yang di taruh di bawah pengampunan (akal pikiran tidak sehat)
- Perempuan, dalam hal yang ditetapkan pada UU & semua orang kepada siapa UU telah
melarang membuat perjanjian tertentu
§ Canceling / Perjanjian dibatalkan : Ketika syarat subjektif tidak terpenuhi perjanjiannya,
bukan batal demi hukum tapi salah satu pihak berhak meminta perjanjian di batalkan
§ Null and Void / Batal demi hukum : Ketika syarat objektif tidak terpenuhi, perjanjian batal
demi hukum yang berarti semula tidak pernah dilahirkan suatu perjanjian dan tidak pernah
ada suatu perikatan

ASAS HUKUM PERIKATAN

1. Asas kebebasan berkontrak


§ Asas terpenting dalam perjanjian
§ Ditentukan dalam Pasal 1338 Ayat 1 KUHPer : Semua perjanjian yang sah berlaku
sebagai UU bagi para pihak yang membuatnya
è Kata “Semua” : Seolah berisikan pernyataan kepada masyarakat, kita diperbolehkan
membuat perjanjian tentang apa saja dan akan mengikat yang membuatnya seperti
UU
è Oleh karena itu, sistem hukum perjanjian dinamakan : Sistem Terbuka
2. Asas konsensualisme

9
§ Bahasa Latin “Consensus” : Sepakat
§ Bersifat mutlak dalam perjanjian
§ Dinamakan juga “Persetujuan” : Kedua pihak sudah setuju / bersepakat mengenai suatu
hal
§ Arti asas konsensualisme : Perjanjian / perikatan sudah timbul / sudah dilahirkan sejak
detik tercapainya kesepakatan
§ Ketentuan Pasal 1339 KUHPer : Setiap persetujuan tidak hanya mengikat untuk hal yang
dengan tegas dinyatakan di dalamnya, tapi juga untuk segala sesuatu yang menurut sifat
persetujuan, diharuskan oleh kepatutan, kebiasaan, atau UU
è Walaupun isinya berupa kebebasan para pihak yang membuat, tetap harus
memperhatikan ketentuan dalam UU, adat, kebiasaan masyarakat, dan mengindahkan
kewajiban norma kepatutan

JENIS PERJANJIAN & PERIKATAN

§ Jenis Perjanjian
1. Perjanjian jual beli
2. Perjanjian sewa menyewa
3. Perjanjian hibah
4. Perjanjian persekutuan
5. Perjanjian penyuruhan
6. Perjanjian pinjam meminjam
7. Perjanjian penanggungan utang
8. Perjanjian kerja
9. Perjanjian perdamaian
§ Isi perjanjian dapat dibagi tiga :
1. Perjanjian untuk memberikan sesuatu / menyerahkan suatu barang (Co: jual beli & sewa
menyewa)
2. Perjanjian untuk berbuat sesuatu (Co: membuat lukisan, perburuhan)
3. Perjanjian untuk tidak berbuat sesuatu (Co: untuk tidak mendirikan pagar)
§ Jenis Perikatan
1. Perikatan bersyarat
2. Perikatan dengan ketetapan waktu
3. Perikatan mana suka
4. Perikatan tanggung menanggung
5. Perikatan yang dapat dibagi & tidak dapat dibagi
6. Perikatan dengan ancaman hukuman

10
HAPUSNYA SUATU PERIKATAN

§ Pasal 1381 KUHPer menyebutkan 10 cara hapusnya perikatan :


1. Pembayaran
2. Penawaran pembayaran tunai diikuti dengan penyimpangan
3. Pembaruan utang
4. Perjumpaan utang / kompensasi
5. Percampuran utang
6. Pembebasan utnag
7. Musnahnya barang yang terutang
8. Batal / pembatalan
9. Berlakunya suatu syarat batal
10. Lewat waktu

HAK IMATERIEL (HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL)

§ Hak kebendaan yang nyata diatur dalam Buku II KUHPer


§ Khusus hak imateriel yang dikenal dengan Hak Kekayaan Intelektual diatur dalam undang
undang sendiri
§ Hak imateriel merupakan bagian dari hukum harta kekayaan
§ Hak yang dilindungi oleh Hak Kekayaan Intelektual:
1. Hak cipta (UU No. 19 th 2002)
- Arti: Hak eksklusif bagi pencipta / penerima hak untuk mengumumkan /
memperbanyak ciptaannya / memberi izin untuk itu dengan tidak mengurangi
pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku
- Yang dapat diberikan perlindungan: Buku, program computer, karya tulis, lagu,
music, drama, seni rupa, arsitektur, fotografi, lainnya
- Masa berlaku: Selama hidup pencipta & 50 tahun setelah pencipta meninggal
- Dapat didaftarkan di: Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual, Departemen
Hukum dan HAM
2. Merek (UU No.15 Tahun 2001)
- Arti: Tanda yang berupa gambar, nama, kata, huruf-huruf, angka-angka, susunan
warna, atau kombinasi dan unsur-unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan
digunakan dalam kegiatan perdagangan barang / jasa
- Penggunaan merek wajib di daftarkan di: Direktorat Jenderal hak kekayaan
Intelektual

11
- Jangka waktu perlindungan: 10 tahun sejak tanggal penerimaan & dapat
diperpanjang
3. Desain industri (UU No.31 Th. 2000)
- Dengan pertimbangan: UU No.5 Th. 1984 ttg perindustrian
- Arti: Suatu kreasi tentang bentuk, atau garis dan warna, atau gabungan daripadanya
yang berbentuk tiga dimensi atau dua dimensi yang memberi kesan estetis dan dapat
diwujudkan dalam pola tiga dimensi atau dua dimensi dan dapat dipakai untuk
menghasilkan suatu produk barang, komoditas industri atau kerajinan tangan
- Jangka perlindungan: 10 tahun sejak tanggal penerimaan
- Wajib didaftarkan
4. Rahasia dagang (UU No.30 Th.2000)
- Arti: Informasi yang tidak diketahui umum di bidang teknologi / bisnis, mempunyai
nilai ekonomi karena berguna dalam kegiatan usaha, dan dijaga kerahasiaannya oleh
pemilik
- Lingkup perlindungan: metode produksi, metode pengolahan, metode penjualan, atau
informasi lain yang memiliki nilai ekoomi dan tidak diketahui masyarakat umum
- Tidak wajib didaftarkan
5. Desain tata letak sirkuit terpadu (UU No.32 Th. 2000)
- Arti: Kreasi berupa rancangan peletakan tuga dimensi dari berbagai elemen, sekurang-
kurangnya satu dari elemen tersebut adalah elemen aktif, serta sebagian / semua
interkoneksi dalam suatu sirkuit terpadu dan peletakan tiga dimensi tersebut
dimaksudkan untuk persiapan pembuatan sirkuit terpadu
- Sirkuit terpadu: Suatu produk dalam bentuk jadi atau setengah jadi, yang di dalamnya
terdapat berbagai elemen dan sekurang-kurangnya satu dari elemen tersebut adalah
elemen aktif, yang sebagian / seluruhnya saling berkaitan serta dibentuk secara terpadu
di dalam sebuah bahan semikonduktor yang dimaksudkan untuk menghasilkan fungsi
elektronik
6. Paten (UU No.14 Th. 2001)
- Arti: Hak eksklusif yang diberikan negara kepada inventor atas hasil invensinya di
bidang teknologi, yang sama untuk selama waktu tertentu melaksanakan sendiri
invensinya tersebut / memberi persetujuannya kepada pihak lain untuk
melaksanakannya
- Dapat dilindungi jika didaftarkan pada: Direktorat Jendral Hak Kekayaan
Intelektual
- Jangka perlindungan: 20 tahun sejak tanggal penerimaan & tidak dapat perpanjangan

12
--HUKUM TELEMATIKA--

§ UU No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi elektronik jo UU No 19 Tahun 2006


§ Konsep dan Definisi Istilah dalam Hukum Telematika *ini ga dijelasin jadi gue search
internet, jd gausah diafalin, baca2 dikit aja
(Sumber: Pengantar Hukum Telematika, Edmon Makarim , S. Kom, SH., LLM Cyberlaw &
HAKI, Prof. Dr. Ahmad M.Ramli, SH, MH)

A. Telematika
- Pada mulanya, istilah Telematika dikenal dalam bahasa Perancis yaitu Telematique,
yang kemudian berkembang menjadi istilah umum di Eropa.
- Selanjutnya, Telematika/Telematiks diartikan untuk memperlihatkan pertemuan
jaringan komunikasi dengan teknologi informasi.
- Perkembangan makna telematics menjadi singkatan dari “Telecomunications and
Informatics“, yang merupakan perpaduan konsep Computing and Communication.
Dewasa ini, istilah Telematika memperlihatkan konvergensi antara Telekomunikasi,
Media dan Informatika.
- Konvergensi pada telematika merupakan penyelenggaraan sistem elektronik yang
berbasis teknologi digital. Akibat dari perkembangan yang luar biasa, istilah telematika
berkembang menjadi istilah Teknologi Informatika (TI), Information &
Communication Technologies (ICT) .

B. Cyber – Cyberspace – Cibernetic – Cyber Law – Hukum Telematika

- Istilah Cyberspace menjadi populer setelah istilah tersebut digunakan dalam novel
science fiction, karya William Gibson.
- Cyberspace menggambarkan suatu halusinasi adanya alam lain yang mempertemukan
teknologi telekomunikasi dan informatika, yang seakan-akan terdapat ruang dalam
medium Cyber.
- Cyberspace dapat diartikan sebagai jaringan komputer mahabesar (gigantic network)
tanpa adanya penguasa tunggal mutlak, tanpa ada satu pun hukum suatu negara yang
berlaku.
- Cyberspace merupakan medium komunikasi global yang didasarkan atas kebebasan
berinformasi (freedom of information) dan kebebasan berkomunikasi (free flow of
information), keberadaan alam yang baru ini seakan-akan menjadi jawaban dari impian
untuk melampiaskan kebebasan mengemukakan pendapat (free of speech).

13
- Dibeberapa negara dikenal istilah Cyberlaw atau Cyberspace law.
- Menurut Edmon Makarim, istilah yang cocok adalah Cyberspace Law karena hukum
yang berlaku adalah hukum yang dilaksanakan pada medium Cyberspace,
- sedangkan penggunaan istilah Cyberlaw, lebih cocok digunakan untuk hukum-hukum
ilmu fisika yang berkaitan dengan arus listrik dalam kawat. informatika itu sendiri.
- Hukum Telematika diartikan pula sebaggai suatu hukum yang mengembangkan
konvergensi telematika yang berwujud dalam penyelenggaraan suatu sistem elektronik,
baik yang terkoneksi melalui internet atau tidak.
- Meskipun demikian istilah yang digunakan untuk hukum yang mengatur di dunia
Cyber belum seragam, karena seperti yang diuraikan oleh Ahmad M. Ramli yang
lebih memilih istilah Cyberlaw atau Hukum Siber.
C. Ruang Lingkup Telematika

- Lingkup pengkajian Hukum Telematika dapat terbagi dua komponen.


- Komponen yang pertama berkaitan dengan komponen yang terkait dengan sistem,
misalnya perangkat keras, perangkat lunak, prosedur, manusia dan informasi.
- Komponen yang kedua adalah berkaitan dengan fungsi-fungsi telekomunikasi,
misalnya input, proses, output, penyimpanan, komunikasi.
- Kedua komponen tersebut dikenal dalam 4 komponen yaitu:
a. Content, yaitu substansi dari data yang dapat merupakan output/input dari
penyelenggaraan sistem informasi yang disampaikan kepada publik.

b. Computing, yaitu suatu siste pengolah informasi yang berbasiskan sistem


komputer yang merupakan computer network yang efisien, efektif dan legal.

c. Comunnication, yaitu keberadaan sistem komunikasi dari sistem interconnection,


global interpersonal, computer network.

d. Community, yaitu masyarakat sebagai pelaku intelektual.

14
PERTEMUAN KETIGA (PERDATA HUKUM KELUARGA DAN WARIS)
A. Hukum Keluarga
1. Perihal perkawinan menurut kitab Undang-Undang Hukum Perdata dan
Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan
• Menurut Soerjono Soekanto dan Purnadi Purbacakara hukum keluarga
meliputi : perkawinan, keturunan, kekuasaan orang tua, perwalian,
pendewasaan, curatele dan orang.
• Bermula pada perkawinan à pengertian perkawinan : keseluruhan
kaedah hukum yang mengatur syarat-syarat dan cara melakukan
perkawinan serta kibat yang berhubungan dengan pribadi bersangkutan
• Pengertian perkawinan tidak ditemukan di KUHPer karena konsepsi
menurut pasal 26 KUHPer sangat sederhana. Perkawinan sah bila
menurut KUHPer maka peraturan agama dikesampingkan
• UU No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan memiliki pengaturan
berbeda, pasal 1 menyatakan “perkawinan adalah sebuah ikatan lahir
batin antara seorang wanita dengan seorang pria sebagai suami istri
dengan tujuan membentuk sebuah keluarga yang bahagia dan kekal
berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” sementara pasal 2 ayat 2:
“Tiap-Tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan
yang berlaku”
• Pasal 1 à perkawinan adalah hubungan yang sakral sehingga Hazairin
menyatakan UU ini merupakan unifikasi unik karena pasal 2 ayat 1
perkawinan sah bila dilakukan menurut masing-masing agama dan
kepercayaan
• Walaupun pengertiannya beda tapi tetap menggunakan asas
monogami, tapi ada pengecualian à konotasi inkonsisten karena pasal
4 ayat 1 suami bisa poligami karena syarat tertentu.
• Perkawinan menurut UU No.1 Tahun 1974 mengandung unsur:
a. Keagamaan/kepercayaan/rohani à pasal 1, 2, 8 sub f, pasal 51
ayat 2
b. Biologis à pasal 4 ayat 2 à ketidakmampuan istri untuk
melahirkan keturunan merupakan alasan berpoligami
c. Sosiologis à pasal 7 à batas umur untuk kawin dikaitkan
dengan laju pertumbuhan penduduk
d. Unsur hukum adat à pasal 31 dan 36 à harta benda
perkawinan mengadopsi asas dalam hukum adat
e. Yuridis à pasal 2 ayat 2 à dilakukan secara sah jika
perkawinan memenuhi syarat-syarat yang ditentukan oleh
undang-undang
• Syarat perkawinan
a. Syarat material umum à pasal 3, pasal 6 ayat 1, pasal 7 ayat 1,
pasal 9, dan pasal 11

15
b. Syarat material khusus à pasal 6 ayat 2 – ayat 5, pasal 8, pasal
9 dan pasal 10
c. Syarat Formil à pasal 2 perihal pencatatan perkawinan bab II
dan bab III Peraturan Pemerintah No.9 Tahun 1975 tentang
pencatatan perkawinan tata cara perkawinan
2. Beberapa pengertian dalam Hukum Keluarga
a. Keturunan
• Anak sah adalah anak yang dilahirkan dari perkawinan yang sah
(Pasal 42-44 UU No.1 Tahun 1974)
• Lahir di luar perkawinan hanya punya hubungan perdata dengan
ibu dan keluarga ibunya.
• Dikualifikasikan sebagai anak sah apabila menyatakan asal usul
anak dibuktikan dengan akta lahir, kalau tidak ada dibuat surat
kenal lahir melalui penetapan pengadilan (Pasal 55)
• Hukum perdata adat mengenal konsep adopsi à dapat dilakukan
kalau perbuatan yang bersifat terang (di muka pejabat hukum)
dan tunai (dibayar secara magis). 2 bentuk adopsi dalam perdata:
i. Adopsi umum à bentuk variasi: terang dan tunai, terang
aja, tunai aja atau tidak terang dan tidak tunai à lebih
formal kayak panti asuhan
ii. Adopsi khusus à bisa berupa pengangkatan orang luar
menjadi warga satu klan, anak tiri jadi anak kandung atau
pengangkatan derajat anak (anak selir) à masih dari
lingkungan deket kita
• Anak dapat dikategorikan bukan lagi anak apabila sudah diatas
18 tahun karena sesuai pasal 47 UU No.1 Tahun 1974 bahwa
anak yang belum 18 tahun dan belum menikah ada di bawah
kekuasaan orang tua sehingga perbuatan hukum diwakili
b. Kekuasaan Orang Tua
• Kewajiban orang tua untuk mendidik dan memelihara anak-anak
mereka sampai menikah atau dapat berdiri sendiri (Pasal 45 UU
No.1 Tahun 1974)
• Anak yang dewasa wajib memelihara orang tua dan keluar dalam
garis lurus ke atas kalau perlu bantuan (pasal 46)
• Kekuasaan orang tua berakhir disaat anak dianggap dewasa à
pasal 47, anak apabila dibawah 18 tahun dan belum menikah
• Kekuasaan orang tua dapat berakhir apabila orang tua lalai
melaksanakan kewajibannya atas permintaan saudara kandung
yang lebih tua, orang tua lain, keluarga dalam garis lurus ke atas
atau pejabat berwenang, tapi apabila dicabut orangtua nya tetap
masih berkewajiban memberikan biaya pemeliharaan
c. Usia Dewasa

16
• Usia dewasa mengandung unsur dapat atau tidaknya seseorang
dipertanggungjawabkan atas perbuatan hukum yang telah
dilakukannya, kecakapan seseorang bertindak dalam lalu lintas
hukum, khususnya perdata
• Hak dan kewajiban antara orang tua dan anak à pasal 47
• Masalah perwalian dalam UU No.1 Tahun 1974 pasal 50
• Usia dewasa disimpulkan 18 tahun karena tidak diatur secara
khusus
• Pasal 7 ayat 1 UU No.1 Tahun 1974 batas usia minimal
menikah laki-laki 19 tahun dan perempuan 16 tahun di UU
yang lama tapi ada perbaruan kalo sekarang jadi 19 tahun juga.
Pasal 6 orang belum mencapai umur 21 perlu izin kedua orang
tua
d. Perwalian
• Diatur dalam pasal 50-54 UU No.1 Tahun 1974
• Perwalian adalah pengawas terhadap anak di bawah umur yang
tidak dalam kekuasaan orang tuam serta pengurusan benda dan
kekayaan.
• Batasnya: di bawah 18 tahun, belum pernah nikah, tidak berada
dalam kekuasaan orang tua, salah satu orang tua bisa jadi wali
bila cerai, hidup maupun mati
• Wali harus memenuhi syarat tertentu à pasal 51:
(1) Wali dapat ditunjuk oleh satu orang tua yang menjalankan
kekuasaan orang tua, sebelum ia meninggal, dengan surat
wasiat atau dengan lisan di hadapan 2 (dua) orang saksi.
(2) Wali sedapat-dapatnya diambil dari keluarga anak tersebut
atau orang lain yang sudah dewasa, berpikiran sehat, adil,
jujur dan berkelakuan baik.
(3) Wali wajib mengurus anak yang dibawah penguasaannya
dan harta bendanya sebaik-baiknya, dengan menghormati
agama dan kepercayaan anak itu.
(4) Wali wajib membuat daftar harta benda anak yang berada
dibawah kekuasaannya pada waktu memulai jabatannya dan
mencatat semua perubahan-perubahan harta benda anak atau
anak-anak itu.
(5) Wali bertanggung-jawab tentang harta benda anak yang
berada dibawah perwaliannya serta kerugian yang ditimbulkan
karena kesalahan atau kelalaiannya.

• Dicabut kalau lalai dan berlaku buruk


e. Pendewasaan

17
• UU No.1 Tahun 1974 tidak mengatur masalah pendewasaan
adanya di pasal 419-432 KUHPer
• Dianggap penting karena adakalanya dirasa perlu
mempersembahkan seseorang yang masih dibawah umur
dengan seseorang yang sudah dewasa, agar anak dapat
bertindak sendiri dalam pengurusan kepentingan-
kepentingannya
• Pendewasaan : pernyataan seseorang yang belum mencapai usia
dewasa sepenuhnya atau hanya untuk beberapa hal saja
dipersamakan dengan seseorang yang sudah dewasa
• Mensyaratkan à anak tersebut sudah mencapai 20 tahun dan
mengajukan permohonan kepada presiden dengan melampirkan
surat kelahiran, dll sebagai bukti sudah mencapai umur tersebut.
Presiden memberi keputusan setelah mendapat nasihat dari MA,
mendengar orang tua dan anggota keluarga lain anak yang
dianggap perlu. Begitu hal si pemohon berada di bawah
perwalian, wali dan wali pengawas akan didengar juga.
f. Pengampunan (Curatele)
• Diatur dalam pasal 433-462 KUHPer
• Pengampunan bagi yang dewasa dan
i. menderita sakit ingatan à anggota keluarga berhak
untuk memintakan curatele
ii. mengobral kekayaannya(boros) à permintaan hanya
bisa oleh anggota keluarga yang sangat deket aja
(suami/istri)
• Pengawas sementara ditunjuk à diperlukan putusan
pengadilan yang menyatakan bahwa orang itu ditaruh di bawah
curatele terlebih dahulu dan diumumkan dalam Berita Negara
• Orang yang ditaruh di bawah curatele itu berhak meminta
banding Pengadilan Tinggi
• Untuk yang udah kawin, untuk jadi pengampu harus diangkat
suami/istrinya kecuali ada hal penting yang tidak mengizinkan
pengangkatan itu.
• Kedudukan orang yang dianggap curatele sama dengan
kedudukan orang yang belum dewasa.
g. Orang yang hilang
• Dimuat dalam pasal 463-495 KUHPer
• Jikalau seseorang meninggalkan tempat tinggalnya selama 5
tahun (dihitung sejak tanggal keberangkatannya) dengan tidak
memberikan kuasa pada seseorang untuk mengurus
kepentingan-kepentingannya, sedangkan kepentingannya itu
harus diurus maka atas permintaan orang yang berkepentingan
ataupun atas permintaan jaksa, maka hakim dapat

18
memerintahkan Balai Harta Peninggalam (weeskamer) untuk
mengurusnya. Pengurusan dapat dilakukan oleh:
I. Anggota keluarga yang ditunjuk hakim
II. Jaksa, Hakim
III. Balai Harta Peninggalan
• Orang tersebut dianggap telah meninggal setelah hakim
mengeluarkan pernyataaan demikian. Namun jika setelah 30
tahun terhitung mulai hari dan tanggal surat pernyataan
dianggap telah meninggal itu, seandainya masih hidup, maka
para ahli waris dapat mengadakan suatu pembagian waris yang
tetap.
B. Hukum Kewarisan
Menurut Soedirman Kartohadiprodjo hukum waris adalah kaidah hukum yang
mengatur nasib kekayaan seseorang setelah dia meninggal dunia dan menentukan
siapa orangnya yang dapat menerimanya. Indonesia belum unifikasi, maka sesuai
Pasal I Aturan Peralihan UUD 1945 hukum waris yang berlaku adalah hukum waris
barat, adat dan Islam.

Hukum Waris Barat

o Hukum harta kekayaan dalam lingkungan keluarga karena wafatnya seseorang


maka akan ada pemindahan harta kekayaan yang ditinggalkan oleh yang meninggal
o Pasal 528 KUHPer menyatakan warisan diindetikkan dengan hak kebendaan. Pasal
584 menyebutkan hak waris sebagai salah satu cara memperoleh hak kebendaan
maka dicantumkan di buku II KUHPer
o Cara memperoleh warisan:
i. Hubungan perkawinan dan hubungan darah (ab intestato)
ii. Melalui wasiat (testament)

A. Subjek hukum
1. Pewaris : Setiap orang yang meninggal dengan meninggalkan harta kekayaan. Syarat
à ada hak dan/atay sejumlah kewajiban yang harus dipenuhi pihak ketiga yang dapat
dinilai dengan uang.
2. Ahli Waris Orang-orang tertentu, yang secara limitatif diatur dalam KUHPer yaitu:
o Ahli Waris yang mewaris berdasarkan kedudukan sendiri (Uiteigen
Hoofde). Mengenai ahli waris ini, KUHPer menggolongkan sebagai
berikut:
a) Golongan Pertama Yaitu sekalian anak-anak beserta
keturunannya dalam garis lencang ke bawah.
b) Golongan Kedua Orang tua dan saudara-saudara pewaris.
Ada jaminan bagian orang tua tidak boleh kurang dari ¼

19
harta peninggalan.
c) Golongan Ketiga Pasal 853 dan Pasal 854 KUHPer
menentukan apabila tidak terdapat golongan pertama dan
kedua, maka harta warisan harus dibagi dua (kloving),
setengah untuk kakek-nenek pihak ayah, setengah lagi
untuk kakek-nenek pihak ibu.
d) Golongan Keempat Sanak keluarga/kerabat si Pewaris
dalam garis menyamping sampai derajat keenam.
o Ahli Waris berdasarkan penggantian (bij plaatsvervulling), dalam hal
ini disebut ahli waris tidak langsung. Ahli waris menurut penggantian:
1. Penggantian Dalam Lurus ke Bawah
a) Setiap anak yang meninggal lebih dulu, digantikan oleh
cucu pewaris.
b) Dalam hal semua anak/ahli waris yang termasuk Uiteigen
Hoofde ternyata “Onwaarding Onterfd” yang berarti
“tindakan mencoba membunuh bapaknya atau
menghalangi bapaknya membuat surat wasiat” maka
akan digantikan oleh cucu pewaris, dalam penggantian
berlaku pasal 848 KUHPer bahwa hanya orang-orang yang
telah mati saja yang dapat diganti.
2. Penggantian Dalam Garis ke Samping (Zijlinie) Tiap saudara
kandung/saudara tiri yang meninggal lebih dulu digantikan
oleh anaknya mereka.
3. Penggantian Dalam Garis ke Samping tetapi lebih
jauh Melibatkan penggantian anggota-anggota keluarga yang
lebih jauh. Misalnya: Paman/keponakan, jika meninggal
terlebih dahulu digantikan oleh anaknya.
4. Penggantian ketiga yang bukan ahli waris dapat menikmati
harta peninggalan. Hal ini mungkin karena dalam KUHPer
terdapat ketentuan pihak ketiga yang bukan ahli waris bisa
memperoleh warisan melalui suatu testamen/wasiat.
o Pihak Ketiga yang Tersangkut dalam Pewarisan
a) Fidei Comis ialah pihak ketiga yang berkewajiban menyimpan
warisan itu dan setelah lewatnya suatu waktu tertentu, warisan itu
harus diserahkan pada orang lain. Hal ini disebut pemberian
warisan secara melangkah.
b) Executeur Testamentair Adalah pelaksana wasiat yang
ditunjuk oleh si pewaris, yang bertugas mengawasi pelaksanaan
surat wasiat.
c) Bewindvoerder Adalah pengelola, seorang yang ditentukan
dalam wasiat untuk mengurus kekayaan agar terkelola dan tidak
cepat habis/legetaris
B. Hak dan Kewajiban Pewaris dan Ahli Waris
a) Hak dan Kewajiban Pewaris

20
o Hak Pewaris
Hak Pewaris Pewaris sebelum meninggal dunia berhak menyatakan
kehendaknya dalam sebuah wasiat/testamen yang dapat berupa:
i. Erfstelling: penunjukan satu atau beberapa orang menjadi ahli
waris, disebut testamentair ergenaam (ahli waris menurut
wasiat)
ii. Legaat: pemberian hak kepada seseorang atas dasar testamen
khusus. Pemberian ini berupa:
• Hak atas suatu benda tertentu
• Hak atas seluruh dari satu macam benda tertentu
• Hak vruchtgebruik atas sebagian/seluruh warisan (Pasal 957
KUHPerdata) Orang yang menerima Legaat dinamakan
Legataris. Bentuk Testamen, ada tiga macam:
• Openbaar Testament: dibuat oleh notaris dengan disaksikan 2
orang. Kecil kemungkinan melanggar Ligitime Portie.
• Olographis Testament: ditulis oleh calon pewaris sendiri
(eigenhanding) kemudian diserahkan ke notaris untuk
disimpan dan disaksikan 2 orang. Mungkin melanggar
Ligitime Portie.
• Testament Rahasia: dibuat oleh calon pewaris kemudia
testament tersebut di segel dan diserahkan oleh 4 saksi.
Codicil merupakan pesan pewaris sebelum meninggal dunia,
ini merupakan salah satu haknya.
o Kewajiban Pewaris Legitime Portie adalah pembatasan terhadap hak si
pewaris dalam membuat wasiat seperti yang tertulis di Pasal 913
KUHPerdata. ada bagian tertentu menurut UU yang tidak boleh
dihapuskan oleh orang yang meninggalkan warisan
b) Hak dan Kewajiban Ahli Waris
1. Hak Ahli Waris
Setelah terbuka warisan, ahli waris diberi hak untuk menentukan
sikap:
i. Menerima secara penuh (Zuivere Aanvaarding)
Dilakukan secara tegas dengan dituangkan dalam akte. Secara
diam-diam harus mencerminkan penerimaan dengan
mengambil, menjual atau melunari utang-utang pewaris.
ii. Menerima dengan reserve (Beneficiare Aanvarding). Hak ini
ialah menerima warisan sebatas kemampuan ahli waris karena
banyak hutang di warisan itu supaya si ahli tidak menanggung
utang, jika utang pewaris lebih besar dari harta peninggalan. Hal
ini dinyatakan pada Panitera pengadilan Negeri.
iii. Menolak warisan. Hal ini jika harta lebih sedikit daripada
hutang.
2. Kewajiban Ahli Waris

21
i. Memelihara keutuhan harta peninggal sebelum dibagi
ii. Mencari cara pembagian yang sesuai
iii. Melunasi hutang pewaris
iv. Melaksanakan wasiat
C. Pembagian Warisan KUHPer memberikan ketentuan pembagian warisan secara
tegas dalam Pasal 1066 yang isinya sebagai berikut:
o Tidak seorang ahli waris yang dapat dipaksa membiarkan harta tidak terbagi.
o Pembagian harta warisan dapat dibagi sewaktu-waktu.
o Ada kemungkinan untuk mempertangguhkan pembagian harta warisan dengan
jangka waktu 5 tahun. Bisa diperpanjang 5 tahun lagi atas persetujuan semua
ahli waris.
D. Obyek Hukum Waris
Harta dalam Warisan:
1. Aktiva: Harta yang bisa dinikmati (tagihan, piutang)
2. Hak Immateril
3. Pasiva: Harta yang berbentuk utang
E. Harta Warisan
1. Jika tidak ada ahli waris yang mengakui sebuah harta warisan, maka harta itu
disebut harta tak terurus dan Balai Harta Peninggalan(Wees Kamer) akan
mengurusnya dengan memeberitahukan kejaksaan negeri setempat.
2. Jika ada sengketa antara warisan itu harta tak terurus atau bukan, maka hal itu
diputus oleh hakim.
3. BHP wajib membuat catatan keadaan harta peninggalan, bila perlu penyegelan
barang kemudian membayar utang-utang pewaris dan diminta
pertanggungjwaban atas pengurusan harta peninggalan tersebut.
4. Jika diduga masih mungkin adanya ahli waris, maka BHP diwajibkan
memanggilnya melalui media massa dengan tenggat waktu 3 tahun.
5. Lewat dari 3 tahun tidak ada ahli waris maka BHP menyerahkan
pertanggungjawaban harta peninggalan pada Negara dan harta menjadi milik
negara.

Hukum Waris Adat

A. Hukum Waris Adat


o Memuat peraturan yang mengatur proses meneruskan harta benda dari suatu
angkatan manusia kepada turunannya. Hukum adat waris di Indonesia sangat
dipengaruhi oleh prinsip garis keturunan yaitu
1. Patrilineal : Penghubung laki-laki yang diperhatikan (murni)
2. Matrilineal: Penghubung perempuan yang diperhatikan
3. Bilateral: “Parental” atau penghubung keduanya diperhatikan
4. Patrilineal beralih-alih (alternerend) à penghubungnya tidak selalu menarik,
missal ada keadaan darurat beralih ke perempuan
5. Double unilateral : menarik garis keturunan dari 2 macam susunan
kekerabatan sepihak

22
o Hukum waris mengenal adanya Tiga Sistem Kewarisan atau cara membagi harta,
yaitu:
1. Sistem Kewarisan Individual : para ahli waris mewarisi harta secara
perorangan (batak, jawa, Sulawesi)
2. Sistem Kolektif : Mewarisi secara kolektif karena harta tidak bisa dibagi-bagi.
Contoh: Rumah Gadang di Minangkabau.
3. Sistem Kewarisan Mayorat
a) Mayorat Laki-laki: Anak laki-laki tertua sebagai ahli waris tunggal yang
menampung dan mengelola warisan.
b) Mayorat Perempuan: Anak perempuan tertua sebagai ahli waris tunggal
yang menampung dan mengelola warisan.
o Hukum Adat menentukan siapa yang menjadi ahli waris dengan dua macam garis
pokok:
1. Garis pokok keutamaan: Orang yang mempunyai hubungan darah, dan
digolongkan menjadi:
i. Golongan I : suami/istri dan anak keturunan
ii. Golongan II : orang tua dan saudara kandung
iii. Golongan III : keluarga dalam garis lurus keatas sesudah bapak dan ibu
iv. Golongan IV: garis kesamping sampai derajat keenam dihitung dari
pewaris
2. Garis pokok penggantian : menentukan dari sekelompok keutamaan di mana
antara dia dengan si pewaris
a) Orang yang tidak mempunyai penghubung dengan pewaris
b) Orang yang tidak ada lagi penghubungnya dengan pewaris
B. Subyek Hukum Waris
1. Pewaris
2. Ahli Waris
C. Obyek Hukum Waris
o Yang menjadi obyek hukum waris itu adalah harta keluarga, yang berupa:
1. Harta Pusaka: benda yang memiliki kekuatan magis.
2. Harta Bawaan: harta yang dibawa (calon) istri pada saat perkawinan.
3. Harta Pencaharian: harta yang diperoleh selama perkawinan
4. Harta yang Berasal dari Pemberian Seseorang
o Pembagian harta dilakukan setelah terlebih dahulu dilakukan pengurangan:
1. Biaya-biaya pada waktu pewaris sakit
2. Hutang-hutang yang ditinggalkan pewaris
3. Biaya pemakaman

Hukum Waris Islam

Hukum Waris Islam adalah hukum yang mengatur segala sesuatu yang berkenan dengan
peralihan ha katas harta seseorang yang sudah meninggal pada ahli waris menurut agama
Islam atau disebut juga Hukum Faraid, yaitu sebab adanya bagian-bagian tertentu bagi
orang-orang tertentu dan dalam keadaan tertentu.

23
A. Sumber Hukum Kewarisan
1. Al-Quran Surat IV ayat 7
2. Hadist Rasul
Ucapan dan perbuatan Rasul
3. Ijtihad/Pendapat Ulama
Mengatur secara lebih spesifik namun bersumber dari Al-Quran dan Hadist
B. Subyek Hukum Waris
1. Pewaris
2. Ahli Waris
C. Obyek Hukum Waris
Dalam hukum kewarisan Islam, seseorang dapat menjadi ahli waris:
1. Adanya Hubungan Darah/Kekerabatan yang meliputi:
a) Ke Bawah: Anak
b) Ke Atas: Orangtua
c) Ke Samping: Anak Ayah/Ibu (saudara) atau anak Kakek/Nenek
(paman/bibi)
2. Adanya Hubungan Perkawinan yaitu Suami-Istri
• Hal ini dilakukan melalui wasiat dan wasiat tidak boleh lebih dari 1/3
harta peninggalan (pasal 201). Bila seseorang ingin memberikan benda
secara sukarela ketika dia masih hidup namnaya Hibah.
• Hukum Islam tidak mengakui lembaga adopsi. Sehingga anak angkat
tidak mendapatkan harta warisan. Tetapi Ia bisa mendapatkan Hibah
atau Pemberian kepada orang yang tidak memiliki ikatan darah.
D. Asas-asas Hukum Waris
1. Asas Ijbari Peralihan harta dari seseorang yang meninggal dunia kepada ahli
warisnya berlangsung dengan sendirinya tanpa digantungkan kepada kehendak
pewaris atau ahli warisnya
2. Asas Bilateral Seseorang menerima hak kewarisan dari kedua belah pihak
yaitu keturunan laki- laki dan perempuan.
3. Asas Individual Harta warisan dapat dibagi-bagikan kepada masing-masing
ahli waris untuk dimiliki secara perseorangan.
4. Asas Keadilan Berimbang Senantiasa terdapat keseimbangan antara hak yang
diperoleh dengan kewajiban yang harus ditunaikannya.
5. Asas Akibat Kematian Pewarisan semata-mata akibat dari kematian
seseorang.

24
PERTEMUAN KEEMPAT - HUKUM ACARA (1)

A. HUKUM ACARA PIDANA

Pengertian dan Sumber Hukum Acara Pidana

→ Hukum Acara Pidana: aturan hukum yang mengatur tentang cara bagaimana mempertahankan
atau menyelenggarakan hukum pidana materiel, sehingga memperoleh keputusan hakim, dan
cara bagaimana keputusan itu harus dilaksanakan.
→ Mustafa Abdullah dan Ruben Achmad: hukum acara pidana sebagai realisasi hukum pidana
adalah hukum yang menyangkut cara pelaksanaan penguasa menindak warga yang didakwa
bertanggung jawab atas suatu delik (peristiwa pidana).
→ Mencari kebenaran formil
→ Sumber Hukum Acara Pidana:
- UUD 1945 Pasal 24 dan 25
- Undang Undang Darurat No. 1 Tahun 1951: HIR/RID sebagai pedoman
- UU No. 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman
- UU No. 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
- UU No. 8 Tahun 1981 tentang KUHAcaraPidana
Dengan berlakunya kitab ini maka Herzien Indonesisch Reglement (HIR)/ Reglemen
Indonesia Diperbarui (RID) bagian pidana dinyatakan tidak berlaku lagi
- UU No. 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman jo. UU No. 35
Tahun 1999 jo. UU no. 48 Tahun 2009
- UU No. 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung
- UU No. 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum
- Undang Undang Darurat no. 7 Tahun 1955 tentang Tindak Pidana Ekonomi

Asas Hukum Acara Pidana

→ Sebagai hukum formil dari hukum pidana materiel, memiliki sejumlah fungsi yaitu: mencari dan
menemukan kebenaran, pemberian keputusan oleh hakim dan pelaksanaan keputusan oleh
hakim.
→ Asas Hukum Acara Pidana:
Asas yang berhubungan dengan peranan
- Prakarsa proses dilakukan oleh polisi atau jaksa (jaksa mengajukan tuntutan ke pengadilan
& melaksanakan penetapan hakim)
- Asas oportunitas: dimungkinkan perkara yang sedang dalam proses penuntutan, dideponir
atau dipetieskan oleh jaksa/pengadilan demi kepentingan umum
- Kedua pihak: jaksa dan terdakwa, wajib didengar keterangannya oleh Hakim
- Acara pemeriksaan dalam sidang pengadilan dilakukan dgn perdebatan lisan/langsung
- Keputusan Hakim wajib dilandasi alasan rasional objektif, setelah mendengar kedua pihak
termasuk saksi a charge (yang memberatkan) dan saksi a de charge (yang meringankan)
- Hakim dalam menjalankan tugasnya bersifat aktif (leidence rol): hakim memimpin proses
peradilan
- Akusator: para pihak diakui sebagai subjek dan kedudukannya sederajat, pemeriksaan tidak
bersifat rahasia (terbuka untuk umum). Tersangka/terdakwa sudah dapat didampingi
penasihat hukum

25
- Peradilan bersifat cepat, sederhana, dan biaya ringan
- Praduga tak bersalah (presumption of innocence): setiap orang yang disangka, ditangkap,
ditahan, dituntut, atau dihadapkan di muka sidang pengadilan dianggap tidak bersalah
sampai ada putusan pengadilan yang menyatakan kesalahannya dan memperoleh kekuatan
hukum tetap.
- Semua orang diperlakukan sama di depan hakim
Asas yang berhubungan dengan keadaan peradilan

- Sidang pengadilan terbuka untuk umum: Keputusan Hakim harus selalu dinyatakan
dengan pintu terbuka
- Peradilan bertahap: (1) tingkat pertama: Pengadilan Negri, (2) tingkat banding: Pengadilan
Tinggi, dan (3) tingkat kasasi: Mahkamah Agung
Sidang pengadilan diselenggarakan oleh suatu majelis hakim: 1 orang ketua dan 2 orang

Dilakukan oleh hakim karena jabatannya tetap

Subjek Hukum Acara Pidana

Subjek hukum yang terlibat dari tahap awal hingga jatuhnya putusan pidana:

→ Tersangka atau terdakwa: orang yang diduga melakukan tindak pidana


→ Polisi: petugas yg melakukan penyelidikan dan penyidikan
→ Jaksa: petugas yg melakukan penuntutan
→ Hakim: petugas yang mengadili
→ Panitera: petugas yang melakukan pencatatan pada sidang pengadilan
→ Penasihat hukum/Advokat: yang memberikan nasihat atau yang mendampingi tersangka
di sidang pengadilan
→ Saksi-saksi
→ Pegawai Lembaga Permasyarakatan: melaksanakan putusan hakim

Pelaksaan Hukum Acara Pidana

Bila diduga atau diketahui terjadi persitiwa pidana maka:

1. Penyidikan oleh polisi atau pegawai negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh
undang-undang. Dilakukan untuk mencari dan mengumpulkan bukti-bukti (menurut cara yang
diatur UU) yang berguna untuk menemukan siapa tersangka yang melakukan tindak pidana.
2. Setelah tersangka dan barang bukti ditemukan, perkara ini dilimpahkan ke jaksa (penuntut
umum). Jaksa yang akan melakukan penuntutan di pengadilan negeri supaya diperiksa dan
diputus oleh hakim di sidang pengadilan.
3. Berdasar hasil pemeriksaan, hakim menetapkan putusan (pernyataan hakim yang diucapkan
dalam sidang pengadilan terbuka, dapat berupa pemidanaan/penjatuhan hukuman atau
bebas/tidak terbukti secara sah atau putusan lepas dari segala tuntutan hukum/terbukti tetapi
bukan delik).
4. Setelah Hakim menjatuhkan putusan yang punya kekuatan hukum tetap, maka jaksa
menjalankan isi putusan.
5. Apabila putusan hakim sudah diputuskan dan para pihak tidahk puas, diberikan upaya hukum
berupa:

26
→ Upaya Hukum Biasa: Pemeriksaan tingkat banding
Diajukan ke Pengadilan Tinggi oleh terdakwa/kuasanya atau oleh jaksa melalui pemeriksaan
untuk kasasi yang diajukan ke Mahkamah Agung. Permintaan kasasi terhadap putusan bebas
tidak dapat dilakukan.
→ Upaya Hukum Luar Biasa: Satu kali pemeriksaan kasasi
Oleh Jaksa Agung kepada Mahkamah Agung. Kasasi ini bertujuan untuk mencapai kesatuan
penafsiran hukum oleh pengadilan. Satu macam pemeriksaan yang tidak dikenal dalam
HIR/RID tetapi diuraikan dalam UU No. 8 Tahun 1981 tentang KUHAP à Pra Peradilan.
6. Walaupun demikian, sebelum pemeriksaan perkara pidana di hadapan hakim, menurut KUHAP,
seorang tersangka dapat melakukan upaya hukum pra peradilan. Upaya hukum ini bertujuan
untuk:
→ Memeriksa sah tidaknya penangkapan, penahanan, penghentian penyidikan atau
penghentian penuntutan.
→ Mendapat ganti kerugian dan/atau rehabilitasi bagi seseorang yang perkara pidananya
dihentikan pada tingkat penyidikan atau penuntutan.
Sidang pra-peradilan dilakukan oleh hakim tunggal & dibantu panitera. Permohonan pra-
peradilan diajukan oleh tersangka, keluarga tersangka, atau kuasanya kepada ketua Pengadilan
Negeri. Acara pra-peradilan harus cepat dan singkat à hakim harus menjatuhkan putusannya
dalam waktu sepuluh hari setelah diterimanya penuntutan.

B. HUKUM ACARA PERDATA

Pengertian Hukum Acara Perdata

→ keseluruhan kaidah hukum yang menentukan dan mengatur bagaimana cara melaksanakan hak
dan kewajiban perdata yang tersedia di dalam hukum perdata materiel.
→ Wirjono Prodjodikoro: rangkaian peraturan yang memuat cara bagaimana orang harus
bertindak terhadap dan di muka pengadilan serta bagaimana pengadilan harus bertindak satu
sama lain untuk melaksanakan berjalannya peraturan-peraturan hukum perdata.
→ Izaac S. Leihitu: peraturan-peraturan yang mengatur tentang cara bagaimana melaksanakan hak-
hak dan kewajiban-kewajiban dalam hukum perdata materiel melalui pengadilan.

Sejarah Singkat Peradilan Perdata di Indonesia

→ Zaman Pemerintahan Kolonial Belanda (1848-1942)


Menurut Inlandsch Reglement, peradilan Indonesia dalam perkara perdata ditentukan dalam
beberapa tingkatan, yakni: (1) district-gerecht, (2) regentschap-gerecht, (3) landraad, (4) Raad
van Justitie (RvJ), dan (5) Hooggerechtschof (HGH).
→ Zaman Pendudukan Jepang (1942-1945): Semua badan peradilan dari Pemerintah Hindia
Belanda dihapuskan kemudian diubah namanya.
→ Zaman Kemerdekaan Republik Indonesia (1945-sekarang): susunan peradilan di Indonesia
terdiri atas Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi, dan Mahkamah Agung.

Sumber Hukum Acara Perdata

→ Masa penjajahan Belanda untuk hukum acara perdata berlaku untuk golongan Eropa:
Reglement op de Burgerlijke Rechtsvondering (Rv), untuk golongan Bumiputra di Pulau Jawa

27
dan Madura: Herzein Indonesisch Reglement (HIR) atau Reglemen Indonesia yang Dibaharui
(RID), untuk luar Jawa dan Madura berlaku: Rechtsreglement Buitengewesten (RBg). Badan
peradilan untuk golongan Eropa: Raad van Justitie dan Residentie Gerecht, untuk golongan
Bumiputra: Landraad.
→ Masa penjajahan Jepang, badan peradilan dihapuskan, kemudian Landraad diubah menjadi
Pengadilan Negeri.
→ Masa Indonesia merdeka, dibentuk Pengadilan Tinggi (melalui Undang-Undang No. 20 Tahun
1947), Mahkamah Agung (melalui Undang-Undang No. Tahun 1950). Namun karena ada Dekrit
Presiden 5 Juli 1959 menyatakan Indoensia kembali ke UUD 1945, maka melalui Pasal II Aturan
Peralihannya dan pasal-pasal peralihan sebelumnya, Rv untuk golongan Eropa, dan HIR/RID
kembali digunakan sebagai sumber hukum acara perdata.
→ Sumber hukum lain:
- Undang-undang
- Reglemen Indonesia yang Dibaharui (RID) / Herzein Indonesisch Reglement (HIR) – untuk
golongan Bumiputra di Pulau Jawa dan Madura
- Staatsblad 1941 No. 44
- Rechtsreglement Buitengewesten (RBg) – untuk luar Jawa dan Madura
- Staatsblad 1927 No. 227
- Undang-Undang Darurat No. 1 Tahun 1951 tentang Kesatuan Susunan Kekuasaan Acara
Pengadilan SIpil yang menunjuk RID sebagai pedoman
- Undang-Undang No. 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman jo.
Undnag-Undang No. 35 Tahun 1999 jo. UU no. 48 Tahun 2009
- Undang-Undang No. 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung jo. Undnag-Undang No. 4
Tahun 2004 jo. Undang-Undang No. 5 Tahun 2004
- Mahkamah Konstitusi
- Undang-Undang no. 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum
→ Yurisprudensi dan Doktrin
→ Peradilan agama à masa Indonesia merdeka (tp untuk islam & perkara2 berkaitan islam aja,
bukan utk agama lain)

Asas-Asas Hukum Perdata

→ Yang berhubungan dengan Peranan


- Prakarsa proses dilakukan oleh para pihak yang bersengketa
- Hakim bersifat menunggu: inisiatif untuk mengajukan tuntutan hak diserahkan sepenuhnya
kepada yang berkepentingan (bersifat pasif: tidak boleh memperlebar masalah)
- Hakim wajib mengusahakan perdamaian
- Perkara yang sudah berjalan dapat sewaktu-waktu ditarik atas persetujuan kedua belah pihak
yang bersengketa
- Acara pemeriksaan dalam sidang pengadilan mengutamakan tulisan (bukan lisan, soalnya
nyari kebenaran materil)
- Putusan hakim wajib dilandasi dengan alasan-alasan yang rasional objektif. Alasan tersebut
sebagai pertanggungjawaban Hakim atas putusannya terhadap masyarakat
- Putusan yang tidak lengkap dipertimbangkan merupakan alasan untuk pemeriksaan kasasi di
Mahkamah Agung
- Yurisprudensi dan doktrin sering dijadikan landasan Hakim memperkuat putusan yang telah
ditetapkannya

28
→ Yang berhubungan dengan Peradilan
- Sidang pengadilan terbuka untuk umum (setiap orang diizinkan menghadiri pemeriksaan
persidangan). Tujuan: memberi perlindungan HAM dalam bidang peradilan dan menjamin
objektivitas peradilan.
- Asas terbuka ini dapat disimpangi dalam perkara Susila dan ketertiban umum, tetapi putusan
harus dibacakan dalam sidang terbuka untuk umum.
- Kedua belah pihak yang berperkara didengar pendapatnya dan diakui sebagai subjek hukum
yg kedudukannya sederajat.
- Peradilan dilaksanakan bertahap:
1. Tingkat pertama pada Pengadilan Negeri
2. Tingkat banding pada Pengadilan Tinggi. (bagi yang tidak pias dgn putusannya dapat
mengajukan mengulang kembali perkara mereka ke Pengadilan Tinggi)
3. Tingkat kasasi (MA tidak mengulang lagi perkara yang sudah diputuskan di tingkat
banding, tetapi meneliti putusan Hakim terdahulu telah melanggar atau melakukan
penyimpangan atas UU)
- Sidang Pengadilan umumnya diselenggarakan suatu Majelis Hakim

Beberapa Pengertian Hukum Acara Perdata

→ Subjek Hukum dalam Hukum Acara Perdata


- Para pihak yang bersengketa. (penggugat: pihak yg mengajukan gugatan ke pengadilan; dan
tergugat: pihak yang digugat dalam perkara perdata)
- Hakim yang mengadili
- Panitera yang mencatat jalannya sidang Pengadilan
- Penasihat hukum/Pengacara
- Juru sita
→ Kompetensi Peradilan Perdata
Ada dua kompetensi (kewenangan) yang membuat pengadilan tertentu dapat mengadilkan suatu
perkara:
- Absolute Competentie (Kompetensi Mutlak): Pembagian kekuasaan antarbadan peradilan.
(missal: pemberian kekuasaan mengadili Pengadilan Negeri, gaboleh macam pengadilan lain)
- Relative Competentie (Kompetensi Relatif): mengadili di antara badan peradilan yang sejenis.
(missal: pembagian kekuasaan mengadili di antara berbagai Pengadilan Negeri)
→ Jenis dan Sifat Putusan Perkara di Peradilan Perdata
- Perkara Gugatan (jurisdictio contentiosa): terdapat proses sanggah-menyanggah, perselisihan,
jenis putusan: putusan (vonnis)
- Perkara Permohonan (jurisdictio voluntaria): hakim tidak melakukan peradilan, tapi
beschikking (menetapkan secara resmi apa yang sudah ada, cth: penetapan ahli waris)
Sifat isi putusan pengadilan berupa:

- Putusan yang bersifat Deklarator: putusan yang mejelaskan sesuatu (cth: penunjukan ahli
waris)
- Konstitutif: menciptakan atau menghapus status hukum tertentu (cth: bubarnya perkawinan)
- Kondemnator: putusan yang memberi hukuman (cth: menerahkan barang, membayar biaya
perkara)
+++ BESLAQ: Penyitaan suatu barang atas permintaan pemilik sebelum pemilik ini mengajukan
gugatan kepada pengadilan untuk mendapatkan kembali barang miliknya

29
- Rivindicatoir Beslaq

- Conservatoir Beslaq: penyitaan barang agar barang tidak hilang selama perkara berjalan

- Executorial Beslaq: Penyitaan barang sebagai pendahuluan suatu eksekusi atau suatu keputusan
pengadilan yang sudah memperoleh keputusan tetap agar barang dapat dilelang untuk memenuhi
keputusan pengadilan yang tidak dituruti secara sukarela oleh pihak yang dikalahkan.

→ Biaya Perkara di Peradilan Perdata (utk berperkara di pengadilan, dikenakan biaya)


- Biaya pemanggilan para pihak
- Biaya pemberitahuan kepada para pihak
- Biaya materai
- Biaya pengacara (kalo pake pengacara itu diluar biaya perkara di pengadilan)

+++

Alat Pembuktian oleh Undang-Undang

→ Alat bukti tulis


→ Alat bukti saksi
→ Persangkaam
→ Pengakuan
→ Sumpah
- Suppletoir: sumpah yang di diperintahkan oleh hakim pada salah satu pihak
- Decicoir: sumpah yang diperintahkan oleh satu pihak kepada pihak lawan

Putusan Hakim

Verstrecht: bila tergugat tidak hadir setelah dipanggil maka perkara diputuskan tanpa hadirnya
tergugat.

Upaya hukum terhadap verstrecht adalah: Verszhet

Putusan sela: putusan sementara atau pertengahan dalam suatu perkara, biasanya untuk menambah
pemeriksaan karena dianggap kurang cukup, baru setelah dilengkapi diberi putusan. (blm final, karena
hakimnya masih kurang)

30
PERTEMUAN KELIMA (HUKUM ACARA 2)
HUKUM ACARA PERADILAN TATA USAHA NEGARA
Latar Belakang
→ Indonesia memiliki Peradilan Tata Usaha Negara sejak 1986 (berdasarkan UU No. 5
Tahun 1986), yang diubah dengan UU No. 9 Tahun 2004 tentang Peradilan Tata Usaha
Negara sebagai peradilan administrasi yang berdiri sendiri lepas dan peradilan umum.
→ Pasal 10 ayat 1 UU No. 9 Tahun 2004 membedakan empat lingkungan peradilan, meliputi
badan-badan peradilan baik di tingkat pertama & banding.
- Peradilan Khusus : peradilan yang mengadili perkara tertentu / mengenai golongan
tertentu. ex : Peradilan Tata Usaha Negara, Peradilan Agama, dan Peradilan Militer
- Peradilan Umum : peradilan bagi rakyat pada umumnya, baik mengenai perkara
pidana
maupun perdata.
Keempat peradilan tersebut (peradilan tata usaha negara, peradilan agama, peradilan militer,
dan peradilan umum) berpuncak pada Mahkamah Agung sebagai pengadilan tertinggi.
→ Peradilan Tata Usaha Negara diatur dalam pasal 24 ayat 2 yang berbunyi
“ kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan
yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama,
lingkungan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara dan oleh Mahkamah Konstitusi”
→ Peradilan Administrasi Negara : peradilan yang menyelesaikan perselisihan/sengketa
antara pihak-pihak (pemerintah & warga, atau sesama pemerintah)
- Sengketa Intern : perselisihan antara sesama aparat pemerintah
- Sengketa Ekstern : perselisihan antara aparat pemerintah dan warga masyarakat

Pengertian Peradilan Administrasi


- Arti luas : peradilan yang menyangkut pejabat-pejabat & instansi administrasi negara,
baik yang bersifat perkara pidana, perdata, adat, agama, dan administrasi agama
murni.
- Arti sempit : peradilan administrasi menyelesaikan perkara-perkara administrasi
murni semata-mata
→ Perkara administrasi murni : perkara yang tidak merupakan pelanggaran hukum pidana
& perdata, melainkan persengketaan/konflik yang berpangkal pada satu interpretasi dari
atau pasal ketentuan perundang-undangan.

Penyelesaian Sengketa Administrasi

31
Ada beberapa forum penyelesaian;
1. Pengaduan Administrasi : dilaksanakan dengan cara pengaduan (administratieve
beroep) → penyelesaian sengketa dalam lingkungan administrasi sendiri,
mekanismenya adalah dengan menyampaikan pengaduan kepada atasan/instansi yang
lebih tinggi.
2. Badan Pengadilan Semu : dikatakan badan karena masih termasuk dalam lingkungan
administrasi sendiri tapi tata caranya sama dengan badan peradilan.
Cara kerjanya hamper sama dengan peradilan umum, namun keputusannya masih
dapat dibatalkan oleh menteri yang bersangkutan.
3. Badan Pengadilan Administrasi : badan peradilan ini memenuhi syarat sebagai yang
terdapat pengadilan biasa, yaitu anggota badan peradilan benar-benar berkedudukan
sebagai hakim. Putusan tidak dapat dibatalkan/dipengaruhi oleh menteri dll
→ Hakim : pejabat negara yang memiliki 3 wewenang, yaitu :
a. Menilai fakta-fakta berdasarkan bukti sebagaimana ditentukan UU
b. Melakukan interpretasi yuridis terhadap UU
c. Menjatuhkan putusan (vonis) yang pada waktunya memiliki kekuatan hukum
mutlak (kracht van gewijsde)
4. Penyelesaian sengketa administrasi melalui Pengadilan Umum : penyelesaian
diselenggarakan & diputus oleh badan pengadilan umum, termasuk ganti rugi
berdasarkan pasal 1365 KUHPerdata
5. Penyelesaian melalui Pengadilan Tata Usaha Negara : berdasarkan UU No. 5 Tahun
1986. Diupayakan banding ke pengadilan tata usaha negara & kasasi ke MA
6. Penyelesaian sengketa administrasi oleh badan arbitrase
7. Penyelesaian sengketa administrasi oleh badan teknis : dilaksanakan oleh panitia
teknis yang bersifat ad hoc yang dibentuk kementrian/instansi lain.

Cara Pelaksanaan Penyelesaian Sengketa Administrasi


→ berdasarkan hukum positif, pelaksanaan peradilan administrasi dilakukan oleh hakim
perdata untuk sengketa yang berkaitan dengan pajak tidak langsung, bea balik nama, dan
perbuatan melawan hukum oleh penguasa. (Pasal 1365 KUHPerdata)
→ bisa juga dilakukan oleh badan majelis & suatu panitia
→ menteri juga dapat memutus perselisihan administrasi negara antar-pemerintah daerah.
→ kepala daerah juga dapat menyelesaikan sengketa antar-pemerintah daerah tingkat
kabupaten/kotamadya di provinsi yang sama.
Putusan peradilan administrasi dapat berupa :
- Pembatalan terhadap keputusan pejabat administrasi negara yang melanggar UU
- Koreksi terhadap keputusan pejabat yang keliru
- Membetulkan interpretasi yang salah
- Perintah mengindahkan tata tertib

32
- Perintah pembayaran ganti rugi
→ pihak yang dirugikan karena perbuatan administrasi negara dapat menuntut ganti rugi
apabila :
- Perbuatan administrasi negara yang melawan hukum (onrechtmatige overheidsaad)
- Perbuatan administrasu negara yang menyalahgunakan wewenang (detounement de
pouvoir)
- Perbuatan administrasi negara yang menyalahgunakan secara sewenang-wenang
(abus de droit)
→ perbuatan administrasi negara yang melawan hukum : perbuatan yang disengaja maupun
tidak, yang melanggar UU, peraturan formal yang berlaku dan juga kepatutan dalam
masyarakat yang seharusnya dipatuhi oleh penguasa yang menimbulkan kerugian. Ex :
sengketa perumahan (Oostern arvest – 1924)
→ perbuatan administrasi negara yang menyalahgunakan wewenang : perbuatan
menggunakan wewenang untuk mencapai kepentingan yang lain daripada kepentingan umum
→ perbuatan administrasi negara yang sewenang-wenang : perbuatan administrasi negara
dilakukan berada di luar lingkungan ketentuan perundang-undangan.

Karakteristik Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara


Ciri utama yang membedakan dengan hukum acara perdata/pidana → hukum acara peradilan
tata usaha negara diatur bersama-sama dalam hukum materilnya (UU No. 5 Tahun 1986)
Ciri-ciri lainnya :
- Peranan hakim yang aktif → tugas : mencari kebenaran materiel
- Kompensiasi ketidakseimbangan antara kedudukan penggugat & tergugat :
kompensasi perlu diberikan karena kedudukan penggugat diasumsikan lebih lemah
dibanding tergugat
- Sistem pembuktian yang mengarah pada pembuktian bebas yang terbatas → pasal 107
(hakim menentukan apa yang harus dibuktikan, beban pembuktian, penilaian
pembuktian), namun pasal 100 (menentukan secara limitatif mengenai alat-alat bukti
yang boleh digunakan)
- Gugatan di pengadilan tidak mutlak bersifat menunda pelaksanaan Keputusan Tata
Usaha Negara yang digugat → sehubungan dengan asas presumptiojustae causa
dalam HAN : maksudnya adalah suatu keputusan tata usaha negara selalu dianggap
benar & dapat dilaksanakan, sepanjang hakim belum membuktikan sebaliknya
- Keputusan hakim tidak boleh bersifat ultra petita (melebihi tuntutan penggugat) tetapi
mungkin adanya reformation in peius (membawa penggugat ke keadaan yang lebih
buruk) sepanjang diatur di UU
- Terhadap putusan hakim tata usaha negara berlaku asas erga omnes → putusan tidak
hanya berlaku bagi pihak yang bersengketa, tetapi juga berlaku bagi pihak lain yang
terkait
33
- Dalam proses pemeriksaan di persidangan berlaku asas audi alteram partem → pihak
yang terlibat dalam sengketa harus didengar penjelasannya sebelum hakin membuat
putusan
- Dalam mengajukan gugatan harus ada kepentingan
- Kebenaran yang dicapai adalah kebenaran materiel dengan tujuan menyelaraskan,
menyerasikan, menyeimbangkan kepentingan perseorangan dengan kepentingan
umum.

HUKUM ACARA PENGUJIAN UNDANG-UNDANG


1. Kekuasaan, Kewenangan, dan Kewajiban Mahkamah Konstitusi
→ semenjak adanya perubahan UUD 1945, MK diberikan kekuasaan untuk memeriksa,
mengadili, dan memutuskan permohonan pengujian undang-undang terhadap UUD 1945.
Kekuasaan ini merupakan bagian dari kekuasaan kehakiman, namun terpisah dari MA
→ MK berkedudukan setara dengan MA, dan keduanya merupakan penyelenggara
tertinggi dalam kekuasaan kehakiman
→ MK memiliki 4 kewenangan & 1 kewajiban (Pasal 24C ayat 1 & 2 UUD 1954), yaitu :
4 kewenangan pada pokoknya mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang
putusannya bersifat final untuk :
- Menguji undang-undang terhadap UUD 1945
- Memutuskan sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberi oleh
UUD 1945
- Memutuskan pembubaran partai politik
- Memutuskan perselisihan tentang hasil pemilu

Kewajiban : wajib memberikan putusan atas pendapat DPR bahwa Presiden dan/atau
Wakil Presiden telah diduga;
1. Telah melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara, korupsi,
penyuapan, dan tindak pidana berat lainnya
2. Melakukan perbuatan tercela
3. Tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden sesuai dengan
UUD 1945
→ yang diperkarakan di MK adalah : perkara permohonan, bukan gugatan. Karena
perkara konstitusi di MK tidak bersifat adversarial atau contentious. Selain itu,
kepentingan yang digugat dalam pengujian adalah kepentingan luas yang mengangkut
kepentingan semua orang karena objeknya adalah UU yang mengikat umum warga
negara.

2. Subjek Hukum Pemohon Pengujian

34
Pemohon → dengan status perkara yang bentuknya permohonan
Yang dapat diterima & memenuhi syarat sebagai pemohon adalah.. (Pasal 51 ayat 1 UUD
No. 24 Tahun 2003 tentang MK) pihak yang menganggap hak dan/atau kewajibannya
dirugikan akibat diberlakukannya UU tertentu. Permohonan dapat berupa :
- Perorangan WNI termasuk kelompok WNI yang memiliki kepentingan sama, asal
memenuhi syarat yang ditentukan UU
- Kesatuan masyarakat hukum adat
- Badan hukum publik maupun perdata
- Lembaga negara, termasuk lembaga pemerintahan departemen & non departemen

3. Tahapan Permohonan Pengujian Undang-Undang


(Pasal 29-31 UU No. 24 Tahun 2003 tentang MK)
- Mengajukan permohonan yang ditulis dalam bahasa Indonesia
- Permohonan ditandatangani oleh pemohon/kuasanya & diajukan dalam 12 rangkap
- Isi permohonan harus memuat identitas & legal standing, posita, petitum, dan bukti
pendukung.
- Permohonan harus diperiksa oleh panitera (Pasal 31 & 32)
- Jika tidak lengkap, diberitahukan kepada pemohon dan harus dilengkapkan dalam
jangka waktu 7 hari
- Jika sudah lengkap, permohonan dicatatkan Buku Registrasi Perkara Konstitusi
- Dalam waktu 7 hari, salinan permohonan pengujian UU disampaikan kepada Presiden
& DPR
- Permohonan juga diberitahu kepada MA
- Untuk perkara sengketa kewenangan lembaga negara, salinan disampaikan kepada
lembaga negara yang jadi pihak termohon
- Untuk perkara pembubaran parpol, salinan disampaikan kepada parpol yang
bersangkutan
- Untuk permohonan DPR, salinan disampaikan kepada presiden
- Dalam waktu 14 hari kerja setelah registrasi perkara, hari sidang pertama ditetapkan
(Pasal 34)
- Untuk perkara perselisihan hasil pemilu, harus dipanggil & diumumkan secara
terbuka kepada masyarakat
- Sebelum melaksanakan pemeriksaan pokok perkara, majelis hakim (min. 3) wajib
memeriksa kelengkapan syarat permohonan & mengklarifikasi isi/materi permohonan
- Majelis hukum wajib memberikan nasihat ttg kelengkapan syarat permohonan dan
perbaikan materi
- Pemeriksaan pleno yang dilakukan 9 hakim (min. 7) dilaksanakan selepas perbaikan
permohonan sudah dilakukan. Sidang terbuka untuk umum
- Di dalam sidang ala bukti diperiksa, pihak dapat hadir/diwakili
- Khusus untuk lembaga negara, keterangan mereka disampaikan secara tertulis dalam
batas waktu maks 7 hari setelah diminta.
35
- Putusan minimal memuat 2 alat bukti yang berupa : fakta & dasar hukum putusan
- Putusan dilaksanakan prosedur musyawarah mufakat
- Apabila tidak tercapai kata mufakat, prosedur pemungutan suara dilakukan.
- Apabila tidak tercapai suara terbanyak, pendapat ketua menjadi dasar pengambilan
putusan.
- Setiap putusan ditandatangi oleh hakim & panitera, dan semenjak dibacakan di
hadapan sidang umum maka putusan itu sudah berkekuatan hukum tetap & tidak
berlaku surut (non retroaktif)
- Putusan dibuat salinannya dan dikirimkan kepada pihak dalam waktu 7 hari kerja
semenjak dibacakannya putusan.
- Untuk perkara pengujian UU, salinan dikirimkan kepada DPR, DPD, Presiden, &
MA.
- Untuk sengketa kewenangan lembaga negara, salinannya disampaikan kepada DPR,
DPD, dan Presiden
- Untuk pembubaran parpol, salinannya disampaikan pada parpol yang bersangkutan
- Untuk perkara perselisihan hasil pemmilu, salinannya hanya untuk Presiden
Untuk perkara pendapat DPR, salinannya untuk DPR, Presiden, dan Wakil Pres

36
PERTEMUAN KEENAM
Hukum Internasional
A. Pendahuluan

• Hukum internasional adalah hukum yang berhubungan dengan peristiwa internasional,


yang meliputi
1) Peristiwa tantra (publik) internasional dengan sumber hukumnya adalah hukum
tantra (publik) internasional
2) Peristiwa peristiwa perdata internasional dengan sumber hukumnya adalah
hukum perdata internasional
• Hukum internasional terbagi dalam lingkup publik dan perdata
• Perbedaan hukum nasional dan internasional
a) Petugas hukum:
- Hukum Nasional: Dalam sistem hukum negara tertentu, terdapat
cabang kekuasaan eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Juga terdapat
lembaga kepolisian yang menjadi penegak hukum.
- Hukum Internasional: Seluruh lembaga yang ada di hukum nasional
tidak diselenggarakan.
b) Sanksi:
- Hukum Nasional: Sanksi hukum dapat diberlakukan secara tegas dan
efektif, apabila terjadi pelanggaran yang dilakukan oleh warga negara.
- Hukum Internasional: Sanksi tidak dapat diberlakukan secara efektif
terhadap suatu negara yang melakukan pelanggaran→ karena setiap
negara memiliki kedaulatan yang tidak dapat dilanggar negara manapun.
• Hukum Internasional Publik: Hukum yang mengatur hubungan atau persoalan yang
melintasi batas negara (hubungan internasional) yang bukan bersifat perdata.
• Hukum Internasional Perdata: Keseluruhan kaidah dan asas hukum yang mengatur
hubungan perdata antara para pelaku hukum yang masing-masing tunduk pada hukum
perdata (nasional) yang berbeda.

B. Hukum Internasional Publik


1. Sumber Hukum Internasional
• Dalam arti materiel: apa yang menjadi dasar dari kekuatan mengikat hukum
internasional
• Dalam arti formal: di mana terdapatnya ketentuan-ketentuan hukum internasional
• Sumber hukum internasional dalam arti formal dapa berasal dari Pasal 38 Piagam
Mahkamah Internasional yang berisi:
1. Perjanjian-perjanjian internasional, baik yang umum maupun khusus,
dilakukan oleh subjek2 hukum. Perjanjian internasional dapat dilihat dari
tindakan-tindakan masyarakat internasional terhadap suatu kebiasaan, misalnya:

37
a. Pernyataan kepala negara dalam masalah internasional yang ada
hubungannya dengan kebiasaan internasional
b. Ketentuan dalam perundang-undangan nasional.
c. Keputusan pengadilan internasional/nasional sehubungan dengan
masalah-masalah internasional yang ada hubungannya dengan kebiasaan
internasional.
2. Prinsip-prinsip hukum umum yang diakui oleh bangsa-bangsa yang
beradab
• Prinsip-prinsip hukum umum: asas-asas yang mendasari sistem hukum modern
(contoh: asas2 dalam hukum perdata) → berfungsi sebagai pelengkap dari
hukum kebiasaan dan perjanjian internasional, contoh: Mahkaman
Internasional tidak menyatakan non liquet/mengadili, karena prinsip2 hukum
itu dapat:
a. Sebagai alat penafsir bagi perjanjian internasional dan hukum
kebiasaan
b. Sebagai pembatas bagi perjanjian internasional dan hukum kebiasaan
3. Keputusan pengadilan dan pendapat para sarjana yang terkemuka dari
bangsa-bangsa di dunia sebagai sumber hukum tambahan
→ Digunakan untuk untuk membuktikan apakah persoalan hukum internasional
diselesaokan berdasarkan sumber hukum primer
→Keputusan pengadilan dapat berupa pengadilan internasional dan nasional
(pengadilan nasional dibutuhkan untuk membuktikan apakah kaidah hk
internasional diterima atau ditolak oleh anggota masyarakat internasional)

2. Subjek Hukum Internasional


Menurut hukum internasional, subjek hukum internasional adalah pemegang hak dan
kewajiban. Sedangkan dalam lingkup publik, subjek hukum internasional adalah:
1) Negara: negara yang memiliki kedaulatan penuh atau sepanjang mereka bisa
menunjukkan kedaulatannya.
2) Takhta Suci Vatikan: pemerintahan oleh pimpinan Paus yang kedudukannya
sama dengan negara→ memiliki perwakilan2 diplomatik di negara lain yang
kedudukannya sederajat dengan perwakilan diplomatic negara lainnya
→Bentuk kesatuan (badan hukum)/Order of Knight of Malta: kedudukan
hampir sama dengan takhta suci namun kedudukannya sebagai subjek hukum
internasional hanya diakui beberapa negara saja
3) Organisasi Internasional: dapat disebut sebagai subjek karena berasal dari
perjanjian (merumuskan hak-hak, kewajiban, dan kewenangan organ lembaga
tsb) yang menjadi dasar berdirinya organisasi tersebut.
Contoh→Setelah PD I: Liga Bangsa-Bangsa (utk menghindari terjadi PD)
Setelah PD II: Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)
Organisasi Inter. regional lainnya: ASEAN, OUN, The Arab League,
dll

38
4) Palang Merah Internasional/International Committee of The Red Cross
(ICRC): Berkedudukan di Jenewa yang timbul karena Henri Dunant menulis
buku mengenai peperangan antara Austria dan Perancis di Solferino, berjudul
Unsouvenir de Solferino (suatu kenang-kenangan dari Solferino). Buku
tersebut memprakarsai ICRC (1863) → krn itu, diadakan konferensi pertama
yang dihadiri oleh 16 negara dan dilanjutkan dengan konvensi tahun 1949
tentang perlindungan korban perang.
→ Jd, Palang Merah Internasional diberi kedudukan khusus dalam konflik
bersenjata untuk menolong korban perang→ ruang lingkup terbatas
5) Pemberontakan dan Pihak yang Dalam Sengketa: pemberontakan dapat
mendapat kedudukan dan hak sebagai pihak yang bersengketa (belligerent).
Keadaan tertentu ditentukan oleh pengakuan pihak ketiga bagi pemberontak
atau pihak yang berperang.
6) Pribadi Kodrati: manusia sebagai pribadi dapat dianggap subjek hukum
internasional.

C. Hukum Internasional Perdata


1. Pengertian dan Ruang Lingkupnya
• Hukum perdata internasional merupakan suatu hubungan atau peristiwa hukum di
bidang hukum perdata yang mengandung unsur asing, baik dalam lingkup hukum
perdata internasional substansif (materiel) maupun adjektif (formil)
• Hukum Perdata Internasional Substansif meliputi:
a. Hukum Pribadi (law of persons):
- Status personal (personel status)
- Kewarganegaraan (nationality)
- Domisili (domicilie)
- Pribadi hukum (corporation)
b. Hukum Harta Kekayaan (law of property)
- Harta kekayaan materiel, yang terdiri dari:
o Benda-benda tetap (immovable property)
o Benda-benda lepas (movable property)
- Harta kekayaan immaterial, yang terdiri dari:
o Perikatan (obligation)
o Perjanjian (contract)
o Penyelewengan perdata atau perbuatan melanggar hukum (tort)
c. Hukum Keluarga (family law):
- Perkawinan (marriage)
- Hubungan orang tua dan anak
- Pengangkatan anak (adoption)
- Perceraian (divorce)
- Harta perkawinan (marital property)

39
d. Hukum waris (succesions)
• Hukum Perdata Internasional Adjektif meliputi:
a. Kualifikasi (qualification dan classification)
b. Persoalan pendahuluan (subsequent/incident questions)
c. Penyelundupan hukum (fraudulent creation of point of contact)
d. Pengakuan hak yang telah diperoleh
e. Pelanjutan keadaan hukum (vested rights dan accrued rights)
f. Ketertiban hukum (public policy)
g. Asas timbal balik (reciprocity)
h. Penyesuaian (adjustment atau adaptation)
i. Pemakaian hukum asing
j. Renvoi (penunjukan kembali atau penunjukan lebih lanjut ke arah hukum
asing tertentu) →google J
k. Pelaksanaan keputusan hakim asing
2. Subjek Hukum Internasional Perdata
Siapa saja dapat dianggap pihak asing, apabila terdapat unsur-unsur berikut ini:
1) Memiliki kewarganegaraan dari negara tertentu
2) Bendera kapal
3) Domisili (contoh: warga negara Inggris berdomisili di Indonesia nikah sama
warga negara Inggris berdomisili Malaysia)
4) Tempat kediaman (contoh: sesame warga negara Belanda berkediaman dan
menikah di Indonesia)
5) Tempat kedudukan pribadi hukum
6) Pilihan hukum asing dalam hubungan interen (contoh: pengusaha Indonesia
mau bikin perjanjian pengangkutan laut tp mau pake hukum Inggris)
7) Letak benda (contoh: warga RI punya rumah di California)
8) Tempat dilaksanakannya isi perjanjian
9) Tempat dilakukannya perbuatan hukum
10) Tempat diajukannya proses perkara
11) Tempat terjadinya penyelewengan perdata (contoh: kapal berbendera
Indonesia nabrak tanggul pembatas pelabuhan Singapura)
3. Sumber Hukum Internasional Perdata di Indonesia dan Asas Hukumnya
• Sumber Hukum Hk. Internasional Perdata di Indonesia: Algemene Bepalingen van
Wetgeving (A.B), dasarnya tercantum dalam Pasal 16,17, dan 18. Di dalamnya
memuat asas-asas hukum internasional perdata, yaitu:
a. Asas Nasionalitas
Dalam Pasal 16 A.B., dinyatakan “Ketentuan-ketentuan perundangan tentang
kedudukan hukum dan kewenangan individu untuk bertindak, tetap mengikat
warga negara Indonesia walaupun berada di luar negeri”
→Cakupan perbuatan/peristiwa hukum: bidang hukum pribadi dan hukum
keluarga

40
→Asas Personalitas/Lex Personalitae/Statua Personalia: di bidang personel,
hukum Indonesia akan berlaku bagi warga negara Indonesia ke mana pun mereka
berada di luar negeri (berlaku secara ekstra territorial)
→Asas Timbal Balik/Resprositas: Bagi orang asing yang melakukan tindakan
hukum di bidang status personil, maka hukum yang berlaku terhadap dirinya
adalah hukum nasionalnya sendiri
b. Asas Statuta Realita
Dalam pasal 17 A.B., dinyatakan “Mengenai benda tetap (tidak bergerak)
berlaku hukum dari negara tempat benda itu terletak”
→Asas hukum setempat (lex situs)/statuta realita
→Contoh: warga negara Indo nyewa tanah di Australia, jadi make hukum
Australia. Berlaku juga sebaliknya (UU No. 5 Tahun 1960 tentang Agraria)
c. Asas Statuta Mixta
Dalam Pasal 18 A.B., “Bentuk (tatacara/formalitas) suatu tindakan hukum
mengikuti bentuk hukum yang berlaku di negara tempat dilakukannya tindakan
itu”
→ Terdapat asas locus regit actum/lex loci celebrationis bisa disebut juga statuta
mixta
→Contoh: wanita warga indo nikah sama laki-laki warga belanda dan nikahnya
di Den Haag, agar sah harus dipenuhi syarat formal dan syarat materiel.
Syarat formal: tata cara perkawinan harus sesuai hukum Den Haag
Syarat materiel: harus sesuai sama hukum nasional masing2 (spt batas usia nikah,
izin ortu, dll)

41