Anda di halaman 1dari 17

POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG

LAB POWER SYSTEM TRANSMISI/DISTRIBUSI SEMESTER V

PROGRAM STUDI D3 TEKNIK LISTRIK


JURUSAN TEKNIK ELEKTROL
POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG
2019
POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG
LAB POWER SYSTEM TRANSMISI/DISTRIBUSI SEMESTER V

I. Tujuan Percobaan
1. Mahasiswa dapat mendemonstrasikan kondisi undervoltage pada beberapa jenis
saluran trasmisi/ distribusi.
2. Mahasiswa menunjukkan pengaruh pembebanan satu fase pada sistem tiga fase.

II. Teori Dasar


Suatu jaringan daya listrik, pada dasarnya dapat terdiri dari komponen-komponen
berikut:
- Pusat pembangkit (terdiri dari penggerak mula, generator dan step-up
transformator)
- Saluran transmisi;
- Gardu Induk
- Saluran distrubusi (saluran udara – overhead line/ OHL dan saluran bawah
tanah – underground cable/ UGC ); terdiri dari tegangan menengah/ TM –
medium voltage/ MV dan tegangan rendah/ TR – low voltage/ LV.
- Konsumen; dapat terdiri dari konsumen industri; rumah tangga, dll.
Jaringan ini dapat di gambarkan seperti pada gambar 1 di bawah yang disertai dengan
tingkatan tegangan kerja (operasi) di setiap bagian.

Gambar 1. Tipikal Jaringan tenaga listrik


POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG
LAB POWER SYSTEM TRANSMISI/DISTRIBUSI SEMESTER V

Saluran transmisi dan distribusi


Tujuan dari jaringan transmisi adalah mentransfer/ mengirim energy listrik dari sistem
pembangkit yang tersebar di berbagai lokasi menuju sistem distribusi yang terhubung ke
beban.
Suatu saluran transmisi memiliki empat parameter listrik, yakni resistansi,
induktansi, kapasitansi dan konduktansi. Induktansi dan kapasitansi disebabkan oleh
pengaruh medan magnet dan medan litrik di sekitar konduktor (penghantar). Sedangkan
parameter konduktansi muncul di antara konduktor – konduktor atau konduktor –
ground (tanah). Konduktansi menghasilkan arus bocor (leakage current) pada isolator
saluran transmisi udara (OHL) atau melalui isolasi untuk transmisi bawah tanah (UGC).
Namun karena kebocoran pada isolator dapat diabaikan maka konduktansi antara
konduktor pada OHL biasanya diabaikan (terutama untuk transmisi jarak pendek).
Untuk resistansi dan induktansi terdistribusi merata di sepanjang saluran yang
membentuk impedansi seri. Konduktansi dan kapasitansi terdapat di antara konduktor –
konduktor ataupun dari konduktor ke netral/ ground yang selanjutnya membentuk shunt
admitatance. Meskipun resistansi, induktansi dan kapasitansi terdistribusi namun
rangkaian ekuivalen suatu saluran dibuat menjadi satu.
Berdasarkan jarak transmisi saluran udara (OHL), maka dapat diklasifikasi sebagai
berikut:
- Transmisi jarak pendek (short-length line), panjang kurang dari 80 km
- Transmisi jarak menengah (medium-length line), panjang antara 80 km – 240
km
- Transmisi jarak jauh (long-length line), panjang lebih dari 240 km
Pada saluran transmisi jarak pendek, shunt capacitance sangat kecil sehingga dapat
diabaikan, parameter yang diperhitungkan hanya resistansi (R) dan induktansi (L)
sepanjang saluran transmisi.
Untuk saluran jarak menengah digambarkan dengan parameter R dan L yang
diserikan beserta kapasitansi ke netral pada masing-masing ujung rangkaian ekuivalen
dengan nilai masing-masing setangah dari nilai C. Adapun nilai konduktansi G diabaikan
sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.
POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG
LAB POWER SYSTEM TRANSMISI/DISTRIBUSI SEMESTER V

Saluran transmisi Pendek


Rangkaian ekuivalen dari saluran transmisi pendek, seperti gambar 2, dimana IS adalah
sending current – arus terkirim, IR adalah receiving current – arus yang diterima, VS dan
VR sebagai sending and receiving line to neutral voltage.
Dimana:
IS = IR .......................................................................................................... (1)

VS = VR + IR.Z ........................................................................................ (2)

Nilai Z adalah zl, atau total impedansi seri saluran.


Vz

IS R X IR

Z = R + j wL

VS
Load VR

Gambar 2. Rangkaian ekuivalen saluran transmisi pendek

Adapun nilai regulasi tegangan untuk transmisi jarak pendek, dapat dinyatakan sbb:

| | | |
.................. (3)
| |

Dimana:
VR,NL : Receiving Voltage, No Load (tegangan sisi penerima kondisi
tanpa beban)
VR,FL : Receiving Voltage, Full Load (tegangan sisi penerima
kondisi beban penuh)

Adanya perbedaan tegangan antara sisi pengirim dan penerima ini disebabkan oleh
adanya jatuh tegangan (voltage drop) oleh adanya impedansi saluran. Jika voltage drop
dinyatakan dalam Vz, maka besarnya adalah
√ ............................................................................................ (4)
POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG
LAB POWER SYSTEM TRANSMISI/DISTRIBUSI SEMESTER V

Dimana;
Vz = besarnya voltage drop pada suatu salauran transmisi (pendek)
Vr = besarnya resistive voltage drop
Vx = besarnya reactive voltage drop

VZ Vx=X*I
VS
VR Vr=R*I

a I

Gambar 2. Diagram vector hubungan antara VS, VR dan VZ

Dengan adanya pengukuran tegangan di sisi pengirim dan penerima, maka besarnya
jatuh tegangan pada suatu transmisi dapat diperoleh dengan:
...................................................................................................... (5)

Dengan memodifikasi gambar menjadi seperti gambar 3 dan dengan menggunakan


rumus Phytagoras,maka:
.................................................................................. (6)

|V R|
|Vs|-
b
VZ a
VS Vx=X*I
VR Vr=R*I

a I

Gambar 3. Diagram vector hubungan antara VS, VR dan VZ

Normalnya nilai a dan b jauh lebih kecil dari nilai VS dan VR maka b2 dapat diabaikan.
Sehingga diperoleh U1  U2 + a, atau Vz = a. Dimana:
................................................................................................... (7)

........................................................................................ (8)

.......................................................................................... (9)
POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG
LAB POWER SYSTEM TRANSMISI/DISTRIBUSI SEMESTER V

a b

Vx=X*I
Z
V
aR
a
Vr=R*I ax
Gambar 4. Diagram vector drop voltage

Sehingga drop voltage:


.......................................................................... (10)

Karena pada sistem tiga fase


P = 3 V . I. cos a atau I cos a = P / (3 . V) dan ................ (11)

Q = 3 V . I. sin a atau I sin a = Q / (3 . V) .............................. (12)

Dengan melakukan subtitusi persamaan (11) ke dalam persamaan (10) maka drop
voltage juga dapat dituliskan sbb:

...................................................................................................... (13)

Saluran Transmisi Menengah


Dalam saluran transmisi menengah, faktor shunt admittance (biasanya murni kapasitansi)
sudah diperhitungkan. Jika shunt admittance dibagi menjadi dua persis sama dan
ditempatkan di kedua ujung rangkaian ekuivalen maka rangkaian selanjutnya disebut
sebagai nominal , seperti digambarkan di bawah.
Vz

IS R X IR

Z = R + j wL

VR
VS
Y/2 Y/2

Gambar 3. Rangkaian ekuivalen saluran transmisi menengah


Berdasarkan gambar 3 di atas diperoleh persamaan berikut:

( ) ........................................................................... (14)
POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG
LAB POWER SYSTEM TRANSMISI/DISTRIBUSI SEMESTER V

( ) ............................................................................... (15)

...................................................................................... (16)

Dengan melakukan subtitusi nilai Vs (persamaan 15) pada persamaan 16 di atas, maka
diperoleh:

( ) ( ) .......................................................... (17)

Persamaan 15 dan persamaan 17 dapat juga dinyatakan secara umum sbb:


................................................................................................ (18)

................................................................................................. (19)

Dimana

.............................................................................................. (20)

..................................................................................... (21)

Konstanta ABCD ini terkadang disebut juga sebagai konstanta umum rangkaian saluran
transmisi (generalized circuit constant of transmission line). Konstanta A sangat
penting untuk regulasi tegangan, yakni:

| | | | | |
................................. (22)
| |

Dimana:
VS : Sending Voltage (tegangan pengirim)

Sedangkan voltage drop pada saluran transmisi jarak menengah ini dapat dihitung
dengan menggunakan persamaan sbb:

( ) .................................................................... (23)
POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG
LAB POWER SYSTEM TRANSMISI/DISTRIBUSI SEMESTER V

Dimana:
................................................................................................ (24)

C1 = kapasitansi antar saluran (fase)


C0 = kapasitansi antara saluran dan ground (tanah).

Unbalance Load
Suatu system daya tiga fase dikatakan seimbang atau simetris jika tegangan dan arus tiga
fase-nya memiliki amplitudo yang sama dan selisih fase masing-masing adalah 120o.
Jika salah satu atau kedua syarat ini tidak terpenuhi maka selanjutnya system disebut
tidak seimbang (unbalanced) atau tidak simetris (asymmetrical).

Gambar 4. Vektor tegangan dan arus pada kondisi seimbang

Ketidakseimbangan (unbalance) dapat terjadi disebabkan gangguan satu fase


(single-phase fault), gangguan fase-fase (phase-phase faults) atau beban yang tidak
simetris (non-symetrical load) atau beban satu fase. Unbalance juga dapat terjadi karena
putusnya konduktor di suatu jaringan yang bias jadi disebabkan oleh gangguan langsung
atau karena buruknya pemeliharaan jaringan. Kondisi ini dapat menyebabkan panas
berlebih pada generator.
Unbalance menyebabkan munculnya arus urutan negative (negative sequence
current) yang tidak terjadi pada kondisi beban normal (seimbang). Kondisi unbalance
dapat dapat diproteksi dengan unbalance protection. Proteksi ini mendeteksi dan
POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG
LAB POWER SYSTEM TRANSMISI/DISTRIBUSI SEMESTER V

mengisolasi gangguan tersebut sebelum efek unbalance terjadi. Unbalance protection


yang digunakann di sini adalah jenis negative sequence overcurrent protection.
Aplikasi jenis negative sequence overcurrent protection ini paling sering
digunakan pada proteksi rotating machines (mesin-mesin yang berputar), dimana besar
negative sequence current mengindikasikan kondisi pembebanan tidak seimbang yang
dapat disebabkan karena ketidakseimbangan tegangan (unsymmetrical voltages). Jika
kondisi dibiarkan maka akan menyebabkan panas berlebih pada mesin dan bisa
menghasilkan kerusakan parah meskipun unbalance hanya terjadi salam waktu singkat.

Gambar 5. Pengukuran arus sistem di relay pada kondisi normal.


(tidak ada pengaliran negative sequence current)

Tabel 1. Keterangan Gambar 1.

Salah satu cara untuk mengatasi kondisi beban tidak seimbang ini adalah dengan
melakukan pengaturan beban sehingga system mendekati seimbang (balance). Cara
cepat lainnya adalah dengan menggunakan rangkaian elektronika daya seperti Static
VAR Compensator yang dapat dikonfigurasi sehingga mengurangi kondisi
POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG
LAB POWER SYSTEM TRANSMISI/DISTRIBUSI SEMESTER V

ketidakseimbanan. Namun solusi ini sangat mahal jadi hanya cocok untuk digunakan
pada beban-beban besar seperti arc furnace.

III. Alat dan Bahan


1. Modul Pembangkit, transmisi dan beban (Ex Terco)
2. Kabel secukupnya
3. Multimeter jika diperlukan

IV. Rangkaian Percobaan

Transmisi/ Distribusi

Catatan:
Untuk percobaan voltage drop pada transmisi jarak pendek, kapasitansi antar
saluran dan saluran ke tanah tidak perlu dihubungkan.
POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG
LAB POWER SYSTEM TRANSMISI/DISTRIBUSI SEMESTER V

Unbalance Load

Koneksi beban satu fase untuk beban R, L, C


POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG
LAB POWER SYSTEM TRANSMISI/DISTRIBUSI SEMESTER V

V. Prosedur Percobaan
Percobaan Transmisi/ distribusi
A. Tanpa parameter kapasitansi saluran
1. Menyiapkan alat dan bahan
2. Pilih salah satu modul transmisi/ distribusi. Merangkai percobaan sesuai gambar
percobaan (tidak perlu menghubungkan kapasitansi saluran – saluran dan saluran
– ground).
3. Mencatat parameter transmisi/ distribusi.

Contoh parameter setting untuk line modul 230 kV


4. Pastikan posisi beban pada level 0.
5. Memeriksa setting frekuensi motor pada posisi 50Hz.
6. Posisi pengaturan prime mover pada auto Mode
7. Posisi pengaturan eksitasi generator pada auto mode.
8. On-kan motor
9. Memeriksa kecepatan motor pada kecepatan 1500 rpm.
10. On-kan eksitasi generator
11. Naikkan beban sesuai permintaan pada tabel atau petunjukpembimbing.
12. Mencatat hasil pengukuran di sisi pengirim (meter sebelum transmisi dan sisi
penerima (meter di sisi beban). atau sesuai tabel.
13. Off kan feeder, offkan CB & isolating modul pembangkit, turunkan eksitasi, off-
kan switch eksitasi dan off kan prime mover.
POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG
LAB POWER SYSTEM TRANSMISI/DISTRIBUSI SEMESTER V

B. Menguunakan kapasitansi saluran


1. Menyiapkan alat dan bahan
2. Pilih salah satu modul transmisi/ distribusi. Merangkai percobaan sesuai gambar
percobaan. Memasang kapasitansi transmisi/distribusi.

3. Pastikan posisi beban pada level 0.


4. Memeriksa setting frekuensi motor pada posisi 50Hz.
5. Posisi pengaturan prime mover pada auto Mode
6. Posisi pengaturan eksitasi generator pada auto mode.
7. On-kan motor
8. Memeriksa kecepatan motor pada kecepatan 1500 rpm.
9. On-kan eksitasi generator
10. Naikkan beban sesuai permintaan pada tabel atau petunjuk pembimbing.
11. Mencatat hasil pengukuran di sisi pengirim (meter sebelum transmisi dan sisi
penerima (meter di sisi beban).
12. Off kan feeder, offkan CB & isolating modul pembangkit, turunkan eksitasi, off-
kan switch eksitasi dan off kan prime mover.
POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG
LAB POWER SYSTEM TRANSMISI/DISTRIBUSI SEMESTER V

Percobaan Unbalance Load


1. Pilih salah satu modul transmisi/ distribusi
2. Power Supply diambil dari PLN (rekomendasi gunakan bus A jika supply dari
PLN)
3. Hubungkan supply PLN – bus A system – transmisi/ distribusi – beban satu fase.
(untuk transmisi distribusi tidak perlu menghubungkan kapasitansi).
4. Rangkai beban satu fase (R/L/C atau kombinasi ketiganya).
5. On kan supply PLN, pilih bus A. (urutan ON isolating switch A lalu CB)
6. On kan Bus A di feeder (urutan isolating switch Atas CB, bawah CB dan terakhir
CB).
7. On beban switch untuk ke-tiga fasenya.
8. Catat pengukuran beban seimbang terlebih dahulu di metering (tegangan setiap
fase, arus RST, Watt, VAR, VA dan pf) atau sesuai tabel.
9. Offkan switch salah satu fase beban.
10. Catat pengukuran beban tidakseimbang terlebih dahulu di metering (tegangan
setiap fase, arus RST, Watt, VAR, VA dan pf)
11. Kembalikan beban ke posisi seimbang,
12. Off seluruh beban \.
13. Off kan feeder (urutan: CB, isolating switch bawah CB, isolating switch atas CB)
14. Off kan supply PLN (urutan: CB dan isolating switch).
15. Off kan modul.
16. Rapikan!!!
POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG
LAB POWER SYSTEM TRANSMISI/DISTRIBUSI SEMESTER V

VI. Keamanan & Keselamatan Kerja (K3)


A. Potensi Bahaya
1. Electric Shock yang dapat mempengaruhi aliran arus di badan manusia.
2. Busur api (arcing) yang dapat menghasilkan panas dan dapat mengakibatkan
hubung singkat, kebakaran, luka sampai kematian.
3. Kebakaran yang diakibatkan oleh kondisi overload dari peralatan dan kabel.

B. Antisipasi
1. Mengikuti petunjuk instruksi manual dan pembimbing.
2. Memeriksa kembali semua rangkaian sebelum memulai mengoperasikan
peralatan praktikum dibawah pengawasan pembimbing.
3. Matikan semua sumber tegangan sebelum membuat atau mengubah koneksi apa
pun.
4. Menggunakan peralatan pelindung seperti safety shoes dan helmet bila
diperlukan.
5. Biasakan diri Anda dengan peralatan keamanan
o Emergency stop
o Alat pemadam api
o MCB

VII. Tabel Hasil Pengukuran

Percobaan transmisi/ distribusi

Jenis Modul :
Kapasitansi antar phase : dihubungkan/ tidak dihubungkan (coret yang tidak perlu)
Kapasitansi phase – ground : dihubungkan/ tidak dihubungkan (coret yang tidak perlu)

Load Pengukuran
I Pf Sending Point Receiving Point
R L C Vpp Vpn VT Q P S Vpp Vpn VT Q P S
0 0 0
1 0 0
2 0 0
3 0 0
2 1 0
2 2 0
2 2 1
3 2 2

Jenis Modul :
Kapasitansi antar phase : dihubungkan/ tidak dihubungkan (coret yang tidak perlu)
Kapasitansi phase – ground : dihubungkan/ tidak dihubungkan (coret yang tidak perlu)
POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG
LAB POWER SYSTEM TRANSMISI/DISTRIBUSI SEMESTER V

Load Pengukuran
I Pf Sending Point Receiving Point
R L C Vpp Vpn VT Q P S Vpp Vpn VT Q P S
0 0 0
1 0 0
2 0 0
3 0 0
2 1 0
2 2 0
2 2 1
3 2 2

Percobaan unbalance load

Beban Tegangan(V) Arus (A)


R S T R S T R S T I1 I2 I0
Masukkan ke-3
fase beban
(R/L/C atau
kombinasi
ketiganya)

Off-kan salah
satu fase pada
beban (R/L/C
atau kombinasi
ketiganya)

Short salah
salah satu fase
pada beban
(R/L/C atau
kombinasi
ketiganya)
POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG
LAB POWER SYSTEM TRANSMISI/DISTRIBUSI SEMESTER V

VII. Tugas dan pertanyaan

1. Apa yang menyebabkan perbedaan antara perhitungan dan hasil pengukuran?


2. Apa voltage drop selalu positif?
3. Apa pengaruh beban (R/L/C) terhadap voltage drop?
4. Bagaimana pengaruh kapasitansi saluran terhadap voltage drop?