Anda di halaman 1dari 43

MAKALAH SEMINAR AKUNTANSI KEUANGAN

IAS 7
STATEMENT OF CASHFLOW

Dosen : Dr. Reschiwati. S.E.. Ak.. M.M.

Disusun oleh :
Mayshella Yaniar Putri (1811070028)

AKUNTANSI KELAS KARYAWAN


PERBANAS BEKASI
2019
I. PENDAHULUAN

IAS 7 adalah salah satu laporan utama dari laporan keuangan, selain laporan
posisi keuangan, laporan laba rugi komprehensif dan laporan perubahan ekuitas.
Laporan arus kas menyajikan arus masuk dan arus keluar dari kas dan setara kas
dengan kategori (aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan) selama suatu periode
waktu tertentu. Laporan tersebut memberikan kepada pengguna suatu dasar untuk
menilai kemampuan entitas untuk menghasilkan dan memanfaatkan uang tunainya.
Dalam menilai kelangsungan usaha entitas, khususnya posisi solvabilitas dan likuiditas,
pengguna laporan keuangan memerlukan informasi sehubungan dengan sumber kas
dari entitas, kemampuan entitas untuk mengendalikan kas, dan penggunaan kas oleh
entitas.

Tujuan dari IAS 7 untuk memberikan petunjuk sehubungan dengan cara


penyajian informasi arus kas. Laporan arus kas juga relevan untuk mengidentifikasi:

 Perubahan saldo kas untuk suatu periode 


 Masalah waktu dan kepastian dari arus kas 


 Kemampuan entitas dalam menghasilkan kas dan setara kas 


 Memprediksi arus kas masa depan (berguna untuk model penilaian) 


Versi asli IAS 7 pertama kali dikeluarkan pada tahun 1992, dengan Dewan
Standar Akuntansi Internasional (IASB) mengadopsi standar pada bulan April 2001.
Menjadi salah satu standar yang lebih tua dalam rangkaian IFRS saat ini, IAS 7 lebih
pendek dan lebih ringkas daripada yang baru dan standar revisi yang telah dikeluarkan
baru-baru ini oleh IASB. Itu juga telah mengalami beberapa perubahan sejak
dikeluarkan. Laporan arus kas (cash flow statement) adalah laporan yang memuat
informasi mengenai aliran kas masuk dan keluar, akibat aktivitas yang dilakukan oleh
perusahaan, pada periode tertentu.

II. ISTILAH PENTING

Sebuah entitas harus menyajikan laporan arus kas yang melaporkan arus kas
selama suatu periode tertentu, dan dapat diklasifikasikan sebagai aktivitas operasi,
aktivitas investasi dan aktivitas pendanaan.
Arus kas terdiri dari arus masuk dan arus keluar dari kas dan setara kas. Kas
terdiri dari:

 Kas di tangan, dan 


 Tabungan (tabungan setelah dikurangi bank overdraft neto) 


Setara kas adalah investasi jangka pendek, sangat likuid (seperti: surat berharga
utang jangka pendek) yang siap dikonversikan menjadi kas dan memiliki risiko

perubahan nilai yang sangat tidak signifikan. 


 Kas (cash)

Jumlah kas yang ada di tangan dan rekening giro pada bank. 


 Setara kas (cash equivalent)


Investasi yang sifatnya jangka pendek sangat likuid, dan yang dengan cepat dapat
dijadikan kas dalam jumlah tertentu, tanpa menghadapi risiko perubahan nilai

yang signifikan. 


 Arus kas (cash flows)


Arus kas masuk dan arus kas keluar atau arus masuk dan arus keluar dari setara

kas. 


IAS 1 Penyajian Laporan Keuangan paragraf 66 (d) mensyaratkan entitas untuk


mengklasifikasikan aset sebagai aset lancar jika: ‘... aset adalah uang tunai atau setara
kas (sebagaimana didefinisikan dalam IAS 7) kecuali aset tersebut dibatasi agar tidak
dipertukarkan atau digunakan untuk menyelesaikan kewajiban setidaknya dua belas
bulan setelah periode pelaporan. Meskipun sebagian besar kas dan setara kas akan
diklasifikasikan sebagai lancar, penting untuk memahami efek dari segala pembatasan

yang dilakukan terhadap waktu penggunaan aset tersebut. 


IAS 7 mensyaratkan entitas untuk menganalisis arus kas masuk dan keluar ke
dalam tiga kategori:
 Operasi 

 Investasi 

 Pembiayaan. 


IAS 7 mendefinisikan ini sebagai berikut: 


 Aktivitas operasi (operating activities)


Aktivitas-aktvitas penghasil pendapatan utama perusahaan (principal revenue
producing activities) dan aktivitas lain yang bukan merupakan aktivitas investasi

dan aktivitas pendanaan. 


 Aktivitas investasi (investing activities)


Perolehan dan pelepasan aset jangka panjang serta investasi lain yang lain yang

tidak termasuk dalam setara kas. 


 Aktivitas pendanaan (fiancing activities)


Aktivitas yang mengaktibatkan perubahan dalam jumlah serta komposisi modal

dan pinjaman perusahaan. 


Definisi dari setara kas menandakan bahwa dimiliki untuk memenuhi komitmen
jangka pendek, dan bukan untuk tujuan investasi. Untuk memenuhi persyaratan setara
kas, investasi harus bersifat jangka pendek, harus segera dapat diubah menjadi kas
dalam jumlah yang telah diketahui tanpa menghadapi risiko perubahan nilai yang
signifikan. Biasanya, jangka pendek adalah suatu periode tiga bulan atau kurang dari
tanggal perolehannya. Jumlah yang jatuh tempo pada pinjaman bank biasanya
dianggap sebagai bagian dari aktivitas pendanaan (financing activities). Namun, dalam
beberapa negara, di mana bank overdraft dapat dilunasi sesuai dengan permintaan, dan
membentuk suatu bagian yang integrasi dari sistem manajemen kas entitas yang
dikelompokkan sebagai suatu komponen setara kas. Suatu faktor yang penting untuk
saldo bank overdraft semacam ini dianggap sebagai setara kas, yaitu bahwa saldo bank
berfluktuasi dari positif hingga kelebihan tarik selama periode, untuk sebuah laporan

arus kas yang disusun. 
 Seluruh entitas diminta menyajikan laporan arus kas untuk

melaporkan arus kas selama suatu periode pelaporan. Arus kas dari aktivitas operasi
dilaporkan dengan menggunakan metode langsung ataupun metode tidak langsung.

Metode langsung
mengungkapkan kelompok utama dari penerima kas dan pembayaran kas (contoh:
penjualan, beban pokok penjualan, pembelian dan manfaat pensiun).

Metode tidak langsung


menyesuaikan laba dan rugi periode berjalan dengan:

 Pengaruh dari transaksi nonkas, 


 Pendapatan dan beban yang masih harus diterima, serta pendapatan dan beban


 diterima di muka, dan 


 Arus kas dari investasi dan pendanaan. 


Entitas didorong untuk menggunakan metode langsung karena memberikan


tambahan informasi yang dapat berguna untuk mengestimasi arus kas mendatang.

Arus kas dari aktivitas investasi dilaporkan sebagai berikut: 


 Kelompok utama penerimaan kas dan pengeluaran kas bruto dilaporkan secara

terpisah. 


 Agregat arus kas dari akuisisi atau pelepasan anak perusahaan dan unit usaha lain

diklasifikasikan sebagai investasi. 


 Arus kas dari aktivitas pendanaan dilaporkan dengan cara membagi list kelompok

utama penerimaan kas dan pembayaran kas bruto. 


Arus kas dapat dilaporkan secara neto dengan cara sebagai berikut: 


 Penerimaan dan pembayaran kas yang berasal dari konsumen. 


 Penerimaan dan pembayaran kas untuk hal-hal yang membuthkan perputaran


yang cepat, jumlah yang besar, dan jangka waktunya pendek (sebagai contoh:

pembelian dan penjualan investasi). 



 Bunga dan dividen yang dibayarkan harus diperlakukan secara konsisten dalam
kegiatan opersi ataupun kegiatan pendanaan. Bunga dan dividen yang diterima
harus diperlakukan sebagai kegiatan investasi. Kecuali, dalam kasus lembaga
keuangan, bunga yang dibayarkan dan dividen yang diterima biasanya

diklasifikasikan sebagai arus operasi. 


 Arus kas dari pajak atas penghasilan biasanya akan dikelompokkan sebagai
kegiatan operasi (kecuali secara khusus berhubungan dengan aktivitas investasi

dan pendanaan). 


 Transaksi dengan mata uang asing dicatat dengan menggunakan mata uang

fungsional dengan menggunakan nilai tukar pada tanggal laporan arus kas. 


 Arus kas yang berasal dari operasi di luar negeri ditranslasikan terhadap nilai
tukar pada tanggal laporan arus kas (nilai tukar yang memperkirakan nilai aktual
dapat juga digunakan, sebagai contoh nilai rata-rata tertimbang dalam suatu

periode). 


 Ketika entitas memiliki ekuitas atau biaya yang harus dipertanggungjawabkan


(contoh dividen yang diterima), hanya arus kas aktual yang ditunjukkan dalam

laporan arus kas. 


 Arus kas yang berasal dari ventura bersama dikonsolidasi secara proporsional

dalam laporan arus kas. 


III. PENYAJIAN LAPORAN ARUS KAS

Laporan arus kas mengkategorikan informasi yang terkait dengan penerimaan kas
dan pembayaran kas menurut judul berikut:

1. Aktivitas operasi; 


2. Aktivitas investasi; dan 


3. Aktivitas pendanaan. 


Entitas harus memastikan bahwa terdapat konsistensi di dalam klasifikasi arus


kas. klasifikasi tersebut menurut aktifitas, membantu pengguna memahami dampak
aktivitas tersebut pada posisi keuangan dari entitas dan pada jumlah kas dan setara kas.
Dalam beberapa hal, suatu transaksi kas tunggal meliputi komponen yang harus
diklasifikasi secara terpisah.

Contoh

Dalam pelunasan kas dari suatu jumlah pinjaman meliputi pokok pinjaman dan bunga,
pelunasan yang dilakukan mengarah pada jumlah pokok pinjaman yang
diklasifikasikan sebagai aktivitas pendanaan (financing activity) dan dibayarkan
mengarah ke bunga, harus diklasifikasikan sebagai aktivitas operasi (operating
activity). Untuk menyusun laporan arus kas, maka pergerakan di dalam atau antara pos-
pos dari setara kas tidak dipertimbangkan, karena merupakan bagian dari aktivita
manajemen entitas.

Contoh

Apabila deposito satu bulan ditutup untuk membeli saham preferen yang dapat ditebus
yang jatuh tempo dalam tiga bulan ke depan, maka aliran kas keluar tidak
dipertimbangkan untuk tujuan penyusunan laporan arus kas, karena kedua aktivitas
tersebut merupakan bagian dari manajemen entitas dan meliputi pergerakan antara
komponen setara kas.

Aktivitas Operasi

Jumlah arus kas dari aktivitas operasi menunjukkan batasan kas yang dihasilkan
dari operasi untuk melunasi pinjaman, membayar dividen, melakukan investasi, dan
mempertahankan kapabilitas operasional dari entitas tanpa memperoleh dana apapun
dari sumber eksternalnya. Informasi historis ini merupakan salah satu dari komponen
penting yang membantu dalam meramalkan aktivitas arus kas operasi masa datang.
Arus kas dari aktivitas operasi adalah terutama terkait dengan aktivitas menghasilkan
pendapatan dari entitas. Oleh karena itu, arus kas dari penjualan dan pembelian surat
berharga yang dimiliki untuk tujuan diperdagangkan oleh suatu perusahaan investasi,
diklasifikasikan sebagai aktivitas operasi; seharusnya arus kas dari penjualan dan
pembelian surat berharga yang dimiliki untuk tujuan investasi oleh suatu perusahaan
pabrikasi, diklasifikasikan sebagai aktivitas investasi.

Sering diasumsikan bahwa kategori ini hanya mencakup arus kas yang timbul
dari aktivitas penghasil pendapatan utama entitas. Namun, karena arus kas yang timbul
dari kegiatan operasi merupakan kategori residu, yang mencakup setiap arus kas yang
tidak memenuhi syarat untuk dicatat dalam kegiatan investasi atau pendanaan, ini dapat
mencakup arus kas yang awalnya mungkin tidak tampak 'beroperasi' secara alami.
(misalnya arus kas masuk dari sumber pendapatan lain yang bukan berasal dari
penjualan barang atau pemberian layanan, seperti hasil dari klaim asuransi).

Contoh arus kas dari aktivitas operasi:

1. Penagihan kas dari penjualan barang dan penyerahan jasa. 


2. Royalty, iuran, komisi, dan pendapatan lainnya yang diterima secara tunai. 


3. Penggantian pajak penghasilan yang diterima, jika tidak dapat diidentifikasi

secara khusus dengan aktivitas pendanaan atau aktivitas investasi. 


4. Pembayaran kas kepada pemasok barang dan jasa. 


5. Pembayaran kas kepada dan atas nama karyawan. 


6. Pembayaran pajak penghasilan, pembayaran dapat diidentifikasi secara khusus

dengan aktivitas pendanaan atau aktivitas investasi. 


Arus kas dari aktivitas operasi dapat dilaporkan dengan metode langsung (direct
method), di mana kelompok utama dari penerimaan kas dan pembayaran kas kotor
diungkapkan, atau dengan metode tidak langsung (indirect method), di mana laba atau
rugi disesuaikan untuk dampak transaksi yang bersifat non-kas, penerimaan atau
pembayaran kas dari operasi masa depan yang ditangguhkan atau masih belum
diterima, dan pos-pos pendapatan atau beban yang berhubungan dengan arus kas
investasi atau pendanaan. IAS 7 mendorong penggunaan metode langsung, akan tetapi
di dalam prakteknya, kebanyakan entitas menggunakan metode tidak langsung (indirect
method).

Contoh


Metode langsung (Direct Method)


Dalam dolar AS


Arus kas dari aktivitas operasi 2008


Penerima kas dari pelanggan $1,000,000
Pembayaran kas kepada pemasok (700,000)
Pembayaran kas kepada karyawan (100,000)
Kas yang dihasilkan dari operasi 200,000

Bunga yang dibayarkan
 (30,000)

Pajak penghasilan yang dibayarkan (20,000)


Kas dari aktivitas operasi $150,000

Metode Tidak Langsung (Indirect Method)


Dalam dolar AS
Arus kas dari aktivitas operasi 2008
Laba sebelum pajak $1,000,000

Penyesuain atas:


Depresiasi 60,000
Penghasilan dari investasi 30,000
Beban bunga (40,000)
$1,050,000
Penerunan dalam piutang dagang 100,000
dan lain-lain

Kenaikan dalam persediaan
 (200,000)

Penuruan dalam hutang dagang dan hutang lain-lain (150,000)


Kas dari aktivitas operasi $ 800,000

Aktivitas investasi

Arus kas yang timbul dari aktivitas investasi mewakili pengeluaran yang telah
dibuat dan sumber yang dimaksudkan untuk menghasilkan pendapatan masa datang dan
arus kas. Aktivitas investasi entitas biasanya mencakup pembelian dan pelepasan aset
tidak berwujud, properti, pabrik, dan peralatan, serta kepentingan entitas lain yang tidak
dimiliki untuk tujuan perdagangan. Namun, arus kas dari aktivitas investasi tidak
termasuk yang timbul dari perubahan kepemilikan saham entitas anak yang tidak
mengakibatkan perubahan pengendalian, yang diklasifikasikan sebagai timbul dari
aktivitas pendanaan.

Perlu dicatat bahwa arus kas terkait dengan penjualan aset sewaan (ketika entitas
adalah lessor) diklasifikasikan dalam aktivitas operasi sesuai dengan IAS 7. Aktivitas
investasi juga mencakup arus kas masuk dan keluar yang terkait dengan penarikan dan
pembayaran kembali antar perusahaan dan pinjaman lainnya (asalkan kegiatan utama
entitas tidak termasuk peminjaman dana). Salah satu contoh umum dalam praktek
adalah dana yang diajukan ke, dan pembayaran terkait dari, pihak terkait.

Contoh
Arus kas masuk:

• Hasil dari penjualan properti, pabrik dan peralatan 


• Hasil dari penjualan investasi 


• Pelunasan uang muka kas

Arus kas keluar: 


• Pembelian properti, pabrik dan peralatan 


• Pembelian investasi 


• Uang muka kas yang dilakukan kepada pihak ketiga 


Aktivitas Pendanaan

Arus kas dari aktivitas pendanaan meliputi dana yang disediakan oleh dan
dibayarkan kepada pemilik dan pihak ketiga.

Aktivitas pembiayaan entitas biasanya meliputi:

• Masalah dan pembelian kembali oleh entitas dengan modal sahamnya sendiri 


• Distribusi (dividen) dibayarkan kepada pemegang saham ekuitas (perhatikan


 bahwa IAS 7 berisi opsi untuk klasifikasi distribusi ini - lihat di bawah) 

• Penarikan dan pelunasan pinjaman dari pihak ketiga 


• Aliran uang lainnya yang terkait dengan item yang diklasifikasikan dalam

ekuitas. 


Contoh


Arus kas masuk: 


• Penerimaan kas dari emisi saham 


• Penerimaan kas dari pinjaman bank

Arus kas keluar: 


• Pembayaran dividen kepada pemegang saham 


• Pelunasan pinjaman bank 


KESALAHAN KLASIFIKASI UMUM DALAM PRAKTEK

Meskipun definisi kegiatan operasi, pendanaan, dan investasi mungkin tampak


langsung, dalam praktiknya sejumlah kesalahan klasifikasi sering dilakukan. Ini
termasuk :

(i) Arus kas keluar terkait dengan perolehan aset tidak berwujud dan barang-
barang properti, pabrik, dan peralatan yang salah dimasukkan dalam
kegiatan operasi

Beberapa item properti, pabrik, dan peralatan dibeli dari pemasok dengan
persyaratan kredit standar yang serupa dengan persediaan dan jumlah yang harus
dibayarkan kepada kreditor lain. Karena itu, transaksi untuk properti, pabrik, dan
peralatan dapat secara tidak benar dimasukkan dalam perubahan dalam hutang
dagang untuk item operasi. Akibatnya, kecuali pembayaran untuk properti,
pabrik, dan peralatan dipisahkan dari pembayaran lain yang terkait dengan
kegiatan operasi, pembayaran tersebut dapat dialokasikan kepada yang salah
untuk kegiatan operasi.
(ii) Arus kas dan arus kas yang berkaitan dengan aset yang dimiliki oleh
lembaga keuangan, atau pembelian investasi jangka pendek, termasuk
dalam aktivitas operasi

Surplus dana kadang-kadang digunakan untuk membeli investasi dengan jatuh


tempo jangka pendek hingga menengah yang tidak memenuhi definisi kas dan
setara kas (mis. Deposito dengan jangka waktu jatuh tempo tetap yang lebih besar
dari 3 bulan (IAS 7.7)). Entitas kadang-kadang berpendapat bahwa, karena dana
ini dimasukkan dalam neraca modal kerjanya (karena dana tersebut akan
digunakan dalam jangka pendek hingga menengah untuk kegiatan operasi), arus
kas terkait dengan investasi ini harus diklasifikasikan dalam aktivitas operasi.

Ini salah.

Entitas memperoleh instrumen utang entitas lain yang tidak memenuhi definisi
kas dan setara kas, juga tidak ditahan untuk tujuan transaksi dan perdagangan.
Akibatnya, arus kas keluar dan masuk ini harus diklasifikasikan sebagai investasi
(IAS 7,16 (c)). Setelah jatuh tempo investasi, penggunaan dana selanjutnya untuk
kegiatan operasi akan menghasilkan arus kas yang termasuk dalam kategori itu.
Sebaliknya, jika suatu entitas memiliki aset keuangan yang diklasifikasikan
sebagai dimiliki untuk kegiatan transaksi atau perdagangan (seperti uang tunai
yang dimiliki oleh sebagian besar lembaga keuangan), maka arus kas yang terkait
dengan aset tersebut diklasifikasikan dalam aktivitas operasi. Ini karena aset
keuangan yang diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk tujuan diperdagangkan
atau diperdagangkan biasanya dimiliki oleh suatu entitas dalam jangka pendek
(dalam hitungan hari) untuk tujuan keuntungan atau kerugian jangka pendek.
Akibatnya, mereka berada dalam aktivitas operasi entitas.

(iii) Kegagalan untuk mengklasifikasikan arus kas yang timbul dari kegiatan

operasi utama entitas sebagai operasi 


Entitas di sektor jasa keuangan biasanya memperoleh pendapatan operasional dari


memajukan pinjaman kepada pelanggan dengan imbalan pembayaran pokok dan
bunga di masa depan. Meskipun IAS 7.31 memungkinkan entitas untuk
mengklasifikasikan arus kas bunga sebagai operasi, investasi atau pembiayaan,
persyaratan IAS 7.6 (yang mencakup definisi kegiatan operasi)
mengesampingkan opsi ini. 
 Akibatnya, arus kas terkait dengan pinjaman yang

diberikan kepada nasabah oleh lembaga keuangan harus diklasifikasikan sebagai

aktivitas operasi. 


(iv) Termasuk arus kas dalam kegiatan investasi ketika tidak dihadapkan pada

pengenalan aset 


Beberapa arus kas keluar berkaitan dengan barang-barang yang tidak memenuhi
syarat untuk dicatat sebagai aset (misalnya, biaya penelitian dan biaya
pengembangan tertentu tidak memenuhi syarat untuk dikapitalisasi sebagai aset
tidak berwujud sesuai dengan IAS 38 Aset Tak Berwujud). Beberapa berpendapat
bahwa arus kas keluar seperti itu harus dimasukkan dalam kegiatan investasi,
karena mereka berhubungan dengan item yang dimaksudkan untuk menghasilkan

pendapatan masa depan dan arus kas. 
 Sebelum 2010, IAS 7 tidak spesifik

tentang hal ini. Namun, efektif untuk periode tahunan yang dimulai pada atau

setelah 
 1 Januari 2010, Perbaikan Tahunan 2009 untuk IFRS memperkenalkan

amandemen untuk IAS 7.16 yang memperjelas bahwa, untuk diklasifikasikan


sebagai arus kas investasi, pengeluaran harus menghasilkan aset yang diakui

dalam laporan posisi keuangan (IAS 7. BC7). 
 Ini sangat relevan untuk entitas

yang beroperasi di industri ekstraktif yang menerapkan Eksplorasi dan Evaluasi


Sumber Daya Mineral IFRS 6, karena entitas ini memiliki pengecualian
(sementara) dari penerapan persyaratan paragraf 11 dan 12 dari kebijakan
Akuntansi IAS 8, Perubahan Estimasi. dan Kesalahan ketika mengembangkan
kebijakan akuntansi sehubungan dengan pengakuan aset eksplorasi dan evaluasi.
Jika kebijakan akuntansi yang diterapkan oleh entitas sesuai dengan IFRS 6 tidak
menghasilkan pengakuan aset, maka arus kas tersebut tidak memenuhi syarat
untuk dimasukkan dalam kegiatan investasi.
(v) Penerimaan tunai terkait dengan aset sewaan lessor

Ketika suatu entitas adalah lessor dari aset, penerimaan kas yang berkaitan
dengan pendapatan sewa serta setiap penjualan selanjutnya dari aset sewaan
diklasifikasikan dalam aktivitas operasi.
Ini mungkin bertentangan dengan persyaratan IAS 7.16 (b) yang mencantumkan
penerimaan kas dari penjualan aset sebagai aktivitas investasi. Namun IAS 7.15
memperjelas bahwa untuk lessor, arus kas yang diterima dari lessee sehubungan
dengan aset sewaan diklasifikasikan dalam aktivitas operasi.

Transaksi Non-Kas 


Bilamana penyusunan laporan arus kas dilakukan, maka transaksi yang tidak
memerlukan penggunaan kas atau setara kas harus dikeluarkan. Informasi yang
diperlukan mengenai transaksi seperti ini, harus diungkapkan sedemikian rupa di dalam

laporan keuangan. 


Contoh


 Peneribitan saham terhadap pembelian aset

 Konversi hutang yang ada menjadi ekuitas 


Arus Kas Mata Uang Asing


Dalam kaitannya dengan transaksi dalam satuan mata uang asing, arus kas harus
dicatat dalam mata uang fungsional dan untuk tujuan itu, kurs mata uang fungsional
dan mata uang asing pada tanggal arus kas harus diterapkan pada jumlah mata uang
asing yang terkait. IAS 7 mensyaratkan arus kas yang timbul dari transaksi dalam mata
uang asing dicatat pada nilai tukar antara mata uang fungsional entitas dan mata uang
asing pada tanggal arus kas. Pendekatan serupa diperlukan untuk arus kas anak
perusahaan asing (IAS 7.26).
IAS 7.27 mencatat bahwa arus kas dalam mata uang asing ditangani dengan cara
yang konsisten dengan itu diperlukan oleh IAS 21 Pengaruh Perubahan Nilai Tukar
Mata Uang Asing. Akibatnya, dimungkinkan untuk menggunakan nilai tukar yang
mendekati nilai tukar pada tanggal transaksi (misalnya, nilai bulanan atau, jika nilai
tukar stabil, nilai kuartalan). Namun, penggunaan tingkat akhir periode untuk transaksi
yang terjadi selama periode pelaporan tidak diizinkan.

IAS 7.28 berkaitan dengan keuntungan dan kerugian yang belum direalisasi yang
timbul dari transaksi dalam mata uang asing, dan mencatat bahwa: Gains Keuntungan
dan kerugian yang belum direalisasi akibat perubahan nilai tukar mata uang asing
bukanlah arus kas. Namun, efek dari perubahan nilai tukar pada kas dan setara kas yang
dimiliki atau jatuh tempo dalam mata uang asing dilaporkan dalam laporan arus kas
untuk merekonsiliasi kas dan setara kas pada awal dan akhir periode. Jumlah ini
disajikan secara terpisah dari arus kas dari aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan
dan termasuk perbedaannya, jika ada, apakah arus kas tersebut dilaporkan pada nilai
tukar akhir periode. Ini berarti bahwa perbedaan nilai tukar yang belum direalisasi
dalam hal kas dan setara kas tidak diklasifikasikan sebagai operasi, investasi, atau
pembiayaan. Alih-alih, perbedaan pertukaran yang belum direalisasi tersebut disajikan
sebagai item terpisah, rekonsiliasi, antara saldo awal dan akhir kas dan setara kas dalam
laporan arus kas.
Pelaporan Arus Kas pada Basis Neto

Institusi non-keuangan biasanya mempertimbangkan aru kas masuk dan arus kas
keluar kotor untuk pelaporan arus kas. Dalam hal ini, arus kas masuk (penerimaan
pinjaman) dan arus kas keluar (pelunasan pinjaman) dianggap terpisah. Namun, dalam
hal berikut ini, aru kas dapat dilaporkan atas basis neto:

1. Penerimaan dan pembayaran kas atas nama pelanggan mencerminkan aktivitas

pelanggan bukannya yang berkaitan dengan entitas 


2. Penerimaan dan pembayaran untuk pos di mana perputarannya cepat, maka

jumlah adalah besar dan periode jatuh tempo adalah pendek. 


Lagipula, institusi keuangan juga diizinkan melaporkan arus kas dari aktivitas
atas
basis neto dalam kondisi sebagai berikut:
1. Penerimaan dan pembayaran atas penerimaan dan pelunasan deposito dengan

tanggal jatuh tempo tetap 


2. Menempatkan deposito pada institusi keuangan lainnya dan menariknya selama

periode pelaporan 


3. Uang muka kas yang dilakukan oleh institusi keuangan kepada pelanggannya dan
pelunasan uang muka tersebut.

PENYAJIAN DAN PENGUNGKAPAN

BUNGA DAN DIVIDEN

Penerimaan dan pembayaran Arus Kas dari bunga dan dividen harus diungkapkan
secara terpisah. Klasifikasi penerimaan dan pembayaran menurut masing-masing
aktivitas operasi, investasi, atau pendanaan harus secara konsisten diikuti. Dalam hal
institusi keuangan,bunga yang dibayar dan bunga yang diterima biasanya diklasifikasi
sebagai arus kas operasi. Namun, dalam hal entitas selain dari institusi keuangan, tidak
ada konsensus atas klasifikasi dari arus kas tersebut sebagaimana IAS 7 tidak
menyatakan suatu klasifikasi tertentu. Dividen biasanya diklasifikasi sebagai aktivitas
pendanaan karena merupakan suatu biaya perolehan sumber keuangan.

Berikut adalah hal-hal yang harus diungkapkan:

1. Komponen kas dan setara kas dalam laporan arus kas dan rekonsiliasi atas hal-hal

yang sama dalam laporan posisi keuangan; 


2. Rincian transaksi kegiatan investasi dan pendanaan nonkas (seperti: konversi

utang menjadi ekuitas); dan 


3. Jumlah kas dan setara kas yang tidak dapat digunakan oleh grup. 


Berikut ini adalah hal-hal yang dianjurkan untuk diungkapkan:

1. Jumlah fasilitas pinjaman untuk kegiatan masa depan yang tidak digunakan dan

komitmen atas modal yang membatasi penggunaan modal; 


2. Total jumlah arus kas yang berasal dari tiga aktivitas (operasi, investasi dan
pendanaan) terkait hak entitas pada perusahaan ventura bersama; 


3. Jumlah arus kas yang meningkat dari setiap tiga aktivitas terkait dengan segmen

usaha dan segmen geografis; 


4. Perbedaan antara arus kas yang menunjukkan kenaikan dari kapasitas produksi

dan yang menunjukkan perawatan kapasitas produksi. 


Berikut adalah yang harus ditunjukkan secara agregat baik untuk pembelian atau
penjualan perusahaan anak atau suatu unt bisnis:

1. Pertimbangan atas total pembelian dan pelepasan; 


2. Pertimbangan pembelian atau pelepasan yang melibatkan kas dan setara kas; 


3. Jumlah kas dan setara kas pada entitas yang diperoleh atau dilepas; dan 


4. Jumlah aset dan liabilitas selain kas dan setara kas pada entitas yang diperoleh

atau dilepas. 


PAJAK

(i) Pajak atas Penghasilan

Transaksi yang menghasilkan penghasilan yang dikenakan pajak, diklasifikasikan


sebagai aktivitas operasi, investasi, atau pendanaan. Arus Kas yang diakibatkan
karena pajak atas penghasilan harus diungkapkan secara terpisah dan jika tidak,
pajak dapat diidentifikasi secara spesifik dengan aktivitas pendanaan dan
investasi, harus diklasifikasikan sebagai arus kas dari aktivitas operasi.

(ii) Pajak Penjualan

IAS 7 tidak memberikan panduan yang mencakup pajak penjualan (seperti PPN
atau GST) yang dikumpulkan oleh entitas atas nama pihak ketiga (biasanya
pemerintah). Pendekatan yang diadopsi akan bervariasi, tergantung pada apakah
entitas mengikuti metode langsung atau tidak langsung dalam menyiapkan
laporan arus kasnya.
Jika metode langsung diikuti, pendekatan berikut mungkin diikuti:
 Sertakan arus kas yang terkait dengan pajak penjualan sebagai item baris
terpisah
 Sertakan arus kas yang terkait dengan pajak penjualan dalam pembayaran
kepada pemasok dan tanda terima dari pelanggan.
Jika metode tidak langsung diikuti, pajak penjualan akan dimasukkan dalam
kenaikan atau penurunan hutang dagang.

(iii) Pajak lainnya

Untuk pajak-pajak lain, adalah sesuai untuk arus kas untuk dimasukkan dalam
aktivitas yang sama dengan arus kas yang timbul dari transaksi yang
menimbulkan arus kas pajak. Pendekatan ini menghasilkan konsistensi antara
cara jumlah disajikan dalam laporan arus kas dan dalam laporan primer lainnya.

Pajak-pajak ini termasuk pajak pemotongan yang terkait dengan pembayaran


dividen, pajak karyawan atas penghasilan yang disetorkan oleh suatu entitas
kepada otoritas pajak, dan pajak modal yang terjadi pada perolehan properti.

KAS & SETARA KAS

Komponen dari kas dan setara kas harus diungkapkan dan suatu rekonsiliasi
mengenai jumlah di dalam laporan arus kas dengan pos kas dan pos setara kas yang
dilaporkan di dalam laporan posisi keuangan yang disajikan. Manajemen juga harus
mengungkapkan jumlah saldo kas dan setara kas yang signifikan yang dimiliki oleh
entitas yang tidak tersedia untuk penggunaan oleh kelompok.

Contoh
Expres Inc.,
Ikhtisar Pos Kas
Untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2008
Dalam dolar AS
Saldo pada 1/1/20X2 $50,000
Pembayaran kepada pemasok 2,000,000
Penerbitan saham ekuitas 300.000
Pembelian Properti, pabrik dan peralatan 200,000
Penerimaan dari pelanggan 2,800,000
Beban Overhead 200,000
Penjualan Properti, pabrik dan 100,000
Upah dan Gaji 100,000
Pajak 250,000
Dividen 50,000
Pelunasan Pinjaman Bank 300,000
Saldo pada 31/12/20X2 150,000
$3,250,000

Atas dasar informasi ini, laporan arus kas disusun sesuai dengan IAS 7 menurut metode
langsung adalah sebagai berikut:
Laporan Arus Kas
Untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2008
Metode langsung (Direct Method)
Dalam dolar AS
Penerima kas dari pelanggan $2,800,000
Pembayaran kas kepada pemasok (2,000,000)
Pembayaran kas kepada karyawan (100,000)
Pembayaran kas untuk overhead (200,000)
Kas yang dihasilkan dari operasi 500,000
Pajak penghasilan yang dibayarkan (250,000)
Arus Kas bersih dari aktivitas operasi $250,000
Arus kas dari aktivitas investasi

Pembelian property, pabrik dan peralatan
 (200,000)

Hasil dari penjualan property, pabrik dan peralatan 100,000


Arus kas bersih dari (untuk) aktivitas investasi (100,000)
Arus kas dari aktivitas Pendanaan

Hasil dari penerbitan modal saham
 300,000

Pelunasan pinjaman Bank (300,000)

Pembayaran Dividen
 (50,000)

Arus Kas bersih dari (untuk) Aktivitas Pendanaan (50,000)


Kenaikan bersih kas 100,000
Kas pada awal tahun 50,000
Kas pada akhir tahun $150,000

KETENTUAN PENGOLAHAN TUNAI KELOMPOK DALAM LAPORAN


KEUANGAN ENTITAS TERPISAH

Pengaturan pengumpulan uang tunai muncul ketika satu entitas kelompok (yang
mungkin merupakan induk kelompok terakhir, atau sesama anak perusahaan) bertindak
sebagai fungsi tresuri untuk sisa grup. Berdasarkan pengaturan ini, satu entitas dalam
grup memegang dan memelihara semua saldo kas dengan lembaga keuangan eksternal
dan memajukan dana ke entitas grup. Seringkali, fungsi perbendaharaan kelompok
digunakan untuk membuat penggunaan sumber daya kas yang paling efisien dalam
suatu kelompok, dan untuk memungkinkan transaksi akuntansi lindung nilai untuk
dimasukkan ke dalam tingkat kelompok dengan biaya keseluruhan terendah. Biasanya,
entitas grup yang bertindak sebagai fungsi tresuri bukan lembaga keuangan. Dalam
beberapa kasus, anak perusahaan tidak memiliki rekening bank sama sekali, dan
sebagai gantinya jumlah jatuh tempo diselesaikan langsung dari dana yang
dikendalikan secara terpusat. Kemudian timbul pertanyaan apakah laporan arus kas
harus disiapkan atau tidak. Dalam pandangan kami, laporan arus kas yang
mencerminkan arus kas aktual suatu entitas selama periode tersebut harus disiapkan
dalam semua kasus, terlepas dari saldo kas dan setara kas yang dimiliki pada setiap
akhir periode. Ini konsisten dengan persyaratan IAS 7, yang tidak mengandung
pembebasan dari persiapan laporan arus kas. Ini terlepas dari apakah suatu entitas
memiliki saldo kas dan setara kas pada tanggal pelaporannya, atau hanya saldo dengan
entitas fungsi treasuri. Dalam keadaan di mana entitas melakukan setoran bersih atau
penarikan dana, ini akan menimbulkan saldo antar perusahaan. Setoran atau penarikan
ini masing-masing akan ditampilkan sebagai aktivitas investasi atau pendanaan.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah tepat dalam laporan keuangan
terpisah suatu entitas yang telah menyetor kas dan setara kas dengan fungsi treasury
grup, untuk menyajikan jumlah tersebut sebagai kas dan setara kas dalam laporan arus
kasnya.

Banyak yang menganggap bahwa klasifikasi jumlah seperti uang tunai dan setara
kas tidak pantas, dengan dasar bahwa:

 Konsep uang tunai terbatas pada jumlah yang dipegang oleh lembaga keuangan
independen dan harus dilindungi oleh persyaratan peraturan yang dikenakan
pada lembaga keuangan tersebut.
 Setoran dengan entitas grup memiliki risiko yang melekat yang biasanya tidak
terkait dengan setoran tunai
 Semua entitas grup dikendalikan oleh entitas induk, artinya sulit untuk
menyimpulkan bahwa entitas grup dapat meminta pembayaran simpanan secara
independen apakah entitas induk akan menyetujui pembayaran kembali tersebut.
 Dalam banyak kasus dana ditransfer ke entitas tresuri untuk periode yang tidak
ditentukan dan tidak ditentukan.

EFEK DAN PINJAMAN YANG MEMBANTU UNTUK MENANGANI ATAU


PERDAGANGAN

IAS 7.14 mencakup sejumlah contoh arus kas operasi, termasuk penerimaan kas
dan pembayaran dari kontrak yang diadakan untuk tujuan transaksi atau perdagangan.
IAS 7.15 mencatat bahwa ketika suatu entitas memiliki efek dan pinjaman untuk tujuan
diperdagangkan atau diperdagangkan, item-item tersebut serupa dengan persediaan
yang diperoleh secara khusus untuk dijual kembali. Akibatnya, arus kas yang timbul
dari pembelian dan penjualan surat berharga atau sekuritas diperdagangkan
diklasifikasikan dalam aktivitas operasi.

Konsisten dengan pendekatan ini, IAS 7.16 (c) dan (d) membutuhkan arus kas
yang berkaitan dengan perolehan atau penjualan instrumen ekuitas atau hutang entitas
lain (termasuk bunga dalam usaha patungan) untuk diklasifikasikan sebagai timbul dari
aktivitas investasi, kecuali jika instrumen yang diakuisisi dianggap setara dengan uang
tunai atau dimiliki untuk tujuan diperdagangkan atau diperdagangkan.

Namun, meskipun IAS 7 mengacu pada instrumen yang dimiliki untuk tujuan
perdagangan atau transaksi, IAS 7 tidak mengandung referensi langsung ke Instrumen
Keuangan IAS 39: Pengakuan dan Pengukuran atau Instrumen Keuangan IFRS 9, yang
keduanya berisi definisi instrumen yang dimiliki untuk diperdagangkan . IAS 39.9 dan
IFRS 9 Lampiran A menentukan instrumen keuangan yang dimiliki untuk
diperdagangkan jika:

a) Diperoleh atau disebabkan untuk menjadi penjualan untuk menjual baban


kembali dalam tempat
b) Pengakuan awal pada bagian dari portofolio portofolio keuangan yang
diidentifikasikan yang dikelola secara bersama-sama dan untuk mana ada bukti
pola aktual dari aksi ambil untung jangka pendek, atau
c) Berwenang secara kolektif (kecuali untuk pemberi perlindungan keuangan atau
keselamatan, instrumen kontrak yang terkait dengan instrumen lindung nilai yang
efektif).
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah arus kas terkait dengan
sekuritas yang memenuhi definisi 'dimiliki untuk diperdagangkan' dalam IAS 39 dan
IFRS 9 harus diklasifikasikan sebagai timbul dari aktivitas operasi. Kata-kata dalam
IAS 7 tidak membuat referensi ke definisi dalam IAS 39 dan IFRS 9 dan, sebagai
konsekuensinya, akan tampak bahwa tidak ada klasifikasi otomatis dari arus kas ke
dalam kategori tertentu. Oleh karena itu, entitas perlu mempertimbangkan dengan
seksama tujuan transaksi yang menimbulkan instrumen keuangan yang diklasifikasikan
sebagai dimiliki untuk diperdagangkan, dan alasan untuk akuisisi dan / atau penjualan.

KLASIFIKASI ARUS KAS YANG TIMBUL DARI DERIVATIF YANG


DIGUNAKAN DALAM SEBUAH HEDGE EKONOMI
Amandemen konsekuensi tidak dibuat untuk IAS 7 sebagai hasil dari pengenalan,
dan perubahan selanjutnya untuk, IAS 39 Instrumen Keuangan: Pengakuan dan
Pengukuran. Masalah terkait yang sering muncul dalam praktik adalah klasifikasi arus
kas yang timbul dari derivatif yang, meskipun digunakan secara ekonomis untuk
melakukan lindung nilai terhadap eksposur, tidak ditetapkan dalam hubungan lindung
nilai yang memenuhi syarat IAS 39. Masalah yang sama muncul sehubungan dengan
akuntansi lindung nilai dan Instrumen Keuangan IFRS 9, untuk entitas yang telah
mengadopsi standar baru lebih awal. IAS 7.16 (g) dan (h) mencatat bahwa pembayaran
tunai dan penerimaan yang berhubungan dengan kontrak berjangka, kontrak berjangka,
kontrak opsi, dan kontrak swap harus diklasifikasikan sebagai kegiatan investasi,
kecuali jika kontrak diadakan untuk tujuan diperdagangkan atau diperdagangkan, atau
arus kas diklasifikasikan sebagai aktivitas pendanaan. IAS 7.16 juga mencatat bahwa
ketika derivatif dicatat sebagai lindung nilai dari posisi yang dapat diidentifikasi, arus
kas dari kontrak tersebut diklasifikasikan dengan cara yang sama dengan arus kas dari
posisi yang dilindung nilai.

Derivatif yang digunakan dalam lindung nilai ekonomi, tetapi tidak ditetapkan
sebagai instrumen lindung nilai sesuai dengan IAS 39 dan IFRS 9, secara teknis tidak
termasuk dalam pedoman dalam IAS 7.16. Akibatnya, dapat dikatakan bahwa tidak
tepat untuk menyajikan arus kas dalam laporan keuangan seolah-olah penunjukan
tersebut telah dibuat. Namun, dalam pandangan kami, karena IAS 7 tidak jelas tentang
hal ini, maka dapat diterima untuk mengklasifikasikan arus kas yang timbul dari
lindung nilai ekonomi yang tidak ditetapkan sebagai instrumen lindung nilai sesuai
dengan IAS 39 atau IFRS 9 dengan cara yang sama seperti jika mereka telah
membentuk bagian dari hubungan lindung nilai yang memenuhi syarat untuk tujuan
akuntansi. Ini berarti bahwa arus kas dari instrumen lindung nilai ekonomi tersebut
dapat diklasifikasikan sebagai operasi, investasi, atau pembiayaan, tergantung pada
sifat dari item yang dilindung nilai.

SEWA PEMBIAYAAN

Pembayaran dilakukan pada awal sewa pembiayaan

IAS 7.44 (a) mencatat bahwa banyak kegiatan investasi dan pendanaan tidak
memiliki efek langsung pada arus kas, meskipun mereka mempengaruhi modal dan
struktur aset suatu entitas. Di antara contoh-contoh yang tercantum adalah akuisisi aset
melalui sewa pembiayaan. Ini karena, dalam banyak kasus, pengakuan awal atas aset
yang diperoleh melalui sewa pembiayaan, dan liabilitas terkait, timbul dari
penandatanganan kontrak sewa tanpa ada pertukaran uang tunai. Dalam beberapa
kasus, sewa pembiayaan dapat melibatkan pertukaran uang tunai pada saat permulaan
karena persyaratan sewa mungkin memerlukan setoran yang harus dibayar dan / atau
pembayaran harus dilakukan di muka. Dalam kasus-kasus tersebut, jumlahnya
dimasukkan dalam laporan arus kas dan diharapkan akan diklasifikasikan sebagai
aktivitas investasi (karena sewa pembiayaan menimbulkan aset yang diakui).

Disagregasi pembayaran sewa pembiayaan

Dengan cara yang sama seperti pembayaran pinjaman konvensional, pembayaran


sewa pembiayaan terdiri dari dua komponen:
 Pembayaran jumlah pokok, dan
 Pembayaran bunga.

Akibatnya, untuk keperluan laporan arus kas, pembayaran sewa pembiayaan


harus dibagi ke dalam setiap komponen dengan pembayaran pokok dan pembayaran
bunga disajikan secara terpisah. Pelunasan pokok diklasifikasikan dalam aktivitas
pendanaan (IAS 7.17 (e)), dengan bagian bunga yang digabungkan dengan aliran bunga
lainnya (untuk pinjaman lainnya) dan disajikan sebagai timbul dari aktivitas operasi,
investasi atau pendanaan (IAS 7.31). Namun, sejauh bunga pembiayaan sewa
dikapitalisasi sesuai dengan Biaya Pinjaman IAS 23, arus kas terkait akan
diklasifikasikan dalam aktivitas investasi (lihat bagian 4.4).

KLASIFIKASI ARUS KAS TIMBUL DARI KOMBINASI BISNIS

Penyajian dan pengungkapan uang tunai yang dibayarkan dan uang tunai yang
diperoleh dalam kombinasi bisnis

Ketika entitas mengakuisisi bisnis dan sebagian atau seluruh pertimbangannya


dalam bentuk tunai atau setara kas, bagian dari aset bersih yang diperoleh dapat
mencakup saldo kas yang ada dari pihak yang diakuisisi. Hasil ini dalam jumlah yang
berbeda disajikan dalam laporan arus kas dan catatan atas laporan keuangan. IAS 7.39
dan 42 mensyaratkan arus kas bersih yang timbul dari mendapatkan atau kehilangan
kendali atas suatu bisnis, harus diklasifikasikan sebagai timbul dari kegiatan investasi.
Akibatnya, laporan arus kas tidak akan mencakup arus kas kotor yang timbul dari
akuisisi, dan sebagai gantinya akan menunjukkan jumlah bersih tunggal. IAS 7.40
kemudian mengharuskan jumlah kotor untuk diungkapkan dalam catatan.

Pengungkapan yang disyaratkan oleh IFRS 3 Kombinasi Bisnis meliputi:

- Nilai wajar tanggal akuisisi dari jumlah imbalan yang ditransfer, dianalisis ke
dalam setiap kelas pertimbangan utama termasuk elemen uang tunai (IFRS 3.B64
(f) (i))
- Kelas utama dari aset dan liabilitas yang diperoleh, dimana kas dan setara kas
akan menjadi kelas (IFRS 3.B64 (i)).

Biaya Transaksi

IFRS 3 mensyaratkan biaya transaksi yang dikeluarkan sehubungan dengan


kombinasi bisnis yang harus dikeluarkan, karena mereka berkaitan dengan pembelian
layanan dan bukan dengan akuisisi bisnis. Hanya arus kas keluar yang menghasilkan
pengakuan aset dalam laporan posisi keuangan yang diklasifikasikan sebagai timbul
dari aktivitas investasi dalam laporan arus kas. Akibatnya, arus kas yang timbul dari
biaya transaksi yang terkait dengan kombinasi bisnis diklasifikasikan sebagai yang
timbul dari aktivitas operasi dalam laporan keuangan konsolidasian. Namun, jika suatu
entitas membuat laporan keuangan terpisah sesuai dengan IFRS, biaya transaksi
dimasukkan sebagai bagian dari biaya investasi pada anak perusahaan. Akibatnya,
dalam laporan arus kas entitas (induk) yang terpisah, arus kas yang timbul dari biaya
transaksi akan diklasifikasikan sebagai yang timbul dari aktivitas investasi.

Pertimbangan yang ditangguhkan dan kontinjensi

IAS 7.39 mensyaratkan arus kas agregat yang timbul dari memperoleh (atau
kehilangan) kendali anak perusahaan atau bisnis lain harus diklasifikasikan sebagai
berasal dari aktivitas investasi. Ini konsisten dengan persyaratan IAS 7.16 bahwa hanya
pengeluaran yang menghasilkan aset yang diakui dalam laporan posisi keuangan yang
dapat diklasifikasikan sebagai timbul dari aktivitas investasi. Meskipun ini tampak
langsung, masalah muncul ketika menentukan bagaimana arus kas keluar yang terkait
dengan pertimbangan yang ditangguhkan atau kontinjensi harus disajikan dalam
laporan arus kas.

(i) Pertimbangan yang ditangguhkan


Beberapa kombinasi bisnis mungkin melibatkan penangguhan (sebagian
dari) pertimbangan pembelian ke masa mendatang. Pertanyaan utama adalah
apakah arus kas yang terkait dengan pertimbangan yang ditangguhkan harus
diklasifikasikan sebagai yang timbul dari kegiatan investasi (berdasarkan bahwa
mereka berhubungan dengan perolehan aset bersih), atau dari kegiatan
pembiayaan (berdasarkan bahwa vendor menyediakan bentuk keuangan).
Dalam pandangan kami, arus kas ini biasanya harus diklasifikasikan
sebagai yang timbul dari kegiatan investasi dengan dasar bahwa ini konsisten
dengan sifat transaksi asli yang menimbulkan pengakuan awal aset dan liabilitas
dalam laporan posisi keuangan. Ini akan mencakup penyesuaian apa pun yang
dihasilkan dari informasi tambahan tentang fakta dan keadaan yang ada pada
tanggal akuisisi. Namun, dalam kasus terbatas, pertimbangan yang ditangguhkan
mungkin serupa dengan pinjaman yang diberikan oleh vendor, dengan arus kas
yang terkait diklasifikasikan sebagai yang timbul dari kegiatan pendanaan. Dalam
pandangan kami, ini mungkin menjadi kasus ketika periode antara tanggal
akuisisi dan penyelesaian pertimbangan yang ditangguhkan cukup lama sehingga
vendor akan mengakui bunga imputed (lihat bagian 4.4 untuk klasifikasi arus kas
terkait dengan bunga). Klasifikasi sebagai pembiayaan akan sesuai jika vendor
menerima pembayaran dalam bentuk nota pinjaman jangka panjang.

(ii) Pertimbangan kontinjensi


Ketika kombinasi bisnis melibatkan penyesuaian terhadap imbalan yang
dibayarkan kepada vendor yang bergantung pada peristiwa di masa mendatang,
IFRS 3 mengharuskan pengakuisisi untuk mengakui nilai wajar tanggal akuisisi
dari pertimbangan kontinjensi dengan penyesuaian terkait dengan goodwill.
Kewajiban terkait (yang memenuhi definisi instrumen keuangan)
diklasifikasikan sebagai liabilitas keuangan atau dalam ekuitas sesuai dengan
persyaratan IAS 32 Instrumen Keuangan: Penyajian.
Untuk kewajiban yang harus diselesaikan dalam bentuk tunai atau setara
kas, perubahan selanjutnya dalam jumlah tercatat kewajiban dicatat dalam
laporan laba rugi. Klasifikasi arus kas terkait dipengaruhi oleh persyaratan ini,
karena IAS 7.16 hanya mengizinkan arus kas keluar yang menghasilkan
pengakuan aset yang akan diklasifikasikan sebagai timbul dari aktivitas investasi.
Persyaratan IAS 7 ini menunjukkan bahwa pembayaran tunai yang timbul dari
kenaikan tanggal setelah akuisisi dalam jumlah tercatat dari pertimbangan
kontinjensi tidak dapat diklasifikasikan sebagai yang timbul dari aktivitas
investasi, karena jumlah tambahan akan dibebankan pada laba rugi dan tidak akan
menghasilkan pengakuan suatu aset (atau peningkatan jumlah tercatat suatu aset).
Ini berarti bahwa kelebihan arus kas biasanya akan diklasifikasikan sebagai
timbul dari kegiatan operasi (terutama jika kenaikan muncul dari formula yang
dikaitkan dengan kinerja operasi bisnis yang diakuisisi). Dalam kasus terbatas,
mungkin pantas untuk mengklasifikasikan setidaknya beberapa arus kas yang
timbul dari kegiatan pendanaan(Lihat pertimbangan yang ditangguhkan di atas).
Namun, perlu untuk melihat sejauh mana jumlah pembayaran imbalan kontinjensi
dipengaruhi oleh faktor-faktor selain nilai waktu uang dan, semakin banyak
keterkaitan dengan kinerja bisnis di masa depan, semakin sulit untuk
mengidentifikasi pembiayaan apa pun. komponen.

ARUS KAS DARI OPERASI YANG DIHENTIKAN


IAS 7 mensyaratkan entitas untuk memasukkan semua arus kasnya dalam laporan
arus kas, termasuk yang dihasilkan dari aktivitas yang berkelanjutan dan yang
dihentikan. IFRS 5 Aset Tidak Lancar yang Dimiliki untuk Dijual dan Operasi yang
Dihentikan mensyaratkan entitas untuk mengungkapkan arus kas bersih yang diperoleh
dari aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan sehubungan dengan operasi yang
dihentikan. Ada dua cara untuk mencapai hal ini:
a) Presentasi dalam laporan arus kas
Arus kas bersih dari setiap jenis aktivitas (operasi, investasi dan pendanaan) yang
berasal dari operasi yang dihentikan disajikan secara terpisah dalam laporan arus
kas.
b) Presentasi dalam catatan
Arus kas dari operasi yang dihentikan dihentikan bersama dengan arus kas dari
operasi yang berkelanjutan pada setiap item baris dalam laporan arus kas. Arus
kas bersih terkait dengan setiap jenis aktivitas (operasi, investasi dan pendanaan)
yang berasal dari operasi yang dihentikan kemudian diungkapkan secara terpisah
dalam catatan atas laporan keuangan.
Ketika kelompok pelepasan yang memenuhi definisi operasi dalam penghentian
diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk dijual pada periode berjalan, dan belum
direalisasi / dijual pada tanggal pelaporan entitas, saldo akhir kas dan setara kas
disajikan dalam laporan arus kas tidak akan direkonsiliasi dengan saldo kas dan setara
kas yang termasuk dalam laporan posisi keuangan pada tanggal pelaporan.
Ini karena kas dan setara kas yang terkait dengan kelompok pelepasan
dimasukkan ke dalam aset dan liabilitas kelompok pelepasan dan disajikan dalam item
baris tunggal dalam laporan posisi keuangan.

CONTOH ILUSTRASI IAS 7 PT INDOFOOD SUKSES MAKMUR Tbk


(METODE LANGSUNG)
CONTOH ILUSTRASI IAS 7 TOYOTA INDUSTRIES CORPORATION
(METODE TIDAK LANGSUNG)

Anda mungkin juga menyukai