Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN HASIL TUTORIAL

BLOK 9 MODUL V

“KOMUNIKASI TERAPEUTIK DAN PSIKOLOGI KLINIK”


INSISIVUS 7

Tutor : drg. Lendrawati, MDSc


Ketua : Febriyanda Dewimar Putri
Sekretaris Meja : Safira Aziza
Sekretaris Papan : Ulfah Ramadhani M
Anggota :
Aidha Mestika Amril
Mayang Bellia Sari
Melinda Marseli Kurnia
Natasha Rifdah Salviana
Qaireenisa Naila
Resty Pratama Nurliyani
Ricky Chandra Harahap
Wenny Frianti Putri

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS ANDALAS
TAHUN 2019/2020
SKENARIO
Skenario 5

Madona oh Madona

Drg. Madona, dokter gigi baru yang ditempatkan di Puskesmas di daerah terpencil.
Pada saat pelaksanaan tugasnya, ternyata drg. Madona banyak menghadapi persoalan diluar
konteks pengetahuan tentang kesehatan gigi. Bahkan setiap hari ada saja persoalan yang
membutuhkan pendekatan yang berbeda dalam menangani kasus pasiennya sesuai dengan
variasi umur, apalagi pasien anak yang jauh berbeda penanggulangannya dengan orang
dewasa. Drg. Madona berpikir bahwa setiap orang itu ternyata unik dan memiliki personality
yang berbeda-beda. Ada satu kali, pasien datang ke puskesmas, dari hasil pembicaraan
ternyata dia tidak hanya membutuhkan obat penghilang sakit gigi tapi dia malah banyak
mengungkapkan apa yang menyebabkan akhir-akhir ini keluhan nyeri giginya muncul.
Ternyata dalam memberikan pelayanan kepada pasien tersebut, drg. Madona
berusaha melakukan pendekatan yang bersifat holistik. Salah satu upayanya ia melakukan
komunikasi yang efektif dan bersifat terapeutik. Bagaimana melakukan pendekatan yang
bersifat terapeutik terhadap pasien, sehingga pasien dapat menjalani proses penyembuhan
dari keluhan somatis dan keluhan psikologisnya. Apabila komunikasi yang terjadi efektif dan
pasien merasa dimengerti serta puas akan membantu proses penyembuhan. Walaupun
nantinya akan merujuk pada psikiater atau psikolog.
Bagaimana analisa saudara dalam kasus ini?

Langkah Seven Jumps :


1. Mengklarifikasi terminologi yang tidak diketahui dan mendefinisikan hal–hal yang
dapat menimbulkan kesalahan interpretasi.
2. Menentukan Rumusan Masalah
3. Menganalisa masalah melalui brain storming dengan menggunakan prior knowledge
4. Membuat skema atau diagram dari komponen-komponen permasalahan dan mencari
korelasi dan interaksi antar masing-masing komponen untuk membuat solusi secara
terintegrasi
5. Memformuladikan tujuan pembelajaran/ learning objectives
6. Mengumpulkan informasi di perpustakaan, internet dan lain-lain
7. Sintesa dan uji informasi yang telah diperoleh
Langkah 1 : Mengklarifikasi terminologi yang tidak diketahui dan mendefinisikan
hal – hal yang dapat menimbuulkan kesalahan interprestasi.

a. Komunikasi terapeutik
Komunikasi antara petugas medis dan pasien yang dilakukan secara sadar yang
tujuan dan kegiatannya dipusatkan demi kesembuhan pasien.

b. Pendekatan holistik
Holistik yaitu utuh/menyeluruh, yang artinya pendekatan melalui fisik, mental,
sosial, spritual serta biologis yang seimbang untuk pasien.

Langkah 2 : Menentukan Rumusan Masalah

1. Apa ciri-ciri komunikasi efektif?


2. Apa saja syarat komunikasi efektif
3. Apa tujuan dan manfaat komunikasi terapeutik?
4. Apa saja syarat komunikasi terapeutik?
5. Apa sja prinsip komunikasi terapeutik?
6. Apa saja jenis komunikasi terapeutik?
7. Bagaimana cara pendekatan dengan pasien anak-anak?
8. Bagaimana cara berkomunikasi dengan pasien gannguan psikologis?
9. Sikap apa saja dalam komunikasi efektif antara drg dan pasien?

Langkah 3 : Menganalisa masalah melalui brain storming dengan menggunakan


prior knowledge

1. Apa ciri-ciri komunikasi efektif?


- Langsung ke inti persoalan
- Jelas dan mudah dipahami
- Menafsirkan komunikasi dengan tepat
- Terbuka
- Responsif
- Bersabar dalam mendengar keluhan
- Dapat menyampaikan pendapat tanpa menyinggung satu sama lain

2. Apa saja syarat komunikasi efektif


- Menatap lawan bicara
- Menghargai pendapat orang lain
- Mendengarkan dengan baik
- Prthatikan Bahasa non verbal
- Feedback
- Menggunakan bahas yang mudah dimengerti
- Tidak terjadi miskom
3. Apa tujuan dan manfaat komunikasi terapeutik?
- Manfaat
1. Kewajiban dalam tindakan medis
2. Sebagai sarana proses penyembuhan pasien
- Tujuan
Untuk kesembuhan pasien

4. Apa saja syarat komunikasi terapeutik?


a. Semua komunikasi ini harus ditujukan untuk menjaga harga diri pemberi maupun
penerima pesan.
b. Komunikasi yang menciptakan saling pengertian harus dilakukan terlebih dahulu
sebelum memberikan sarana, informasi maupun masukan.

5. Apa saja prinsip komunikasi terapeutik?


- Tenaga kesehatan berusaha untuk kesembuhan pasien
- Tenaga kesehatan berusaha membuat suasana berkembang tanpa rasa takut

6. Apa saja jenis komunikasi terapeutik?


- Verbal, bicara secara langsung
- Tertulis, melalui tulisan
- Non verbal, gerak gerik pasien
- Komunikasi objek, melalui benda

7. Bagaimana cara pendekatan dengan pasien anak-anak?


- Menggunakan nada suara rendah
- Adanya permainan dalam komunikasi agar tidak bosan
- Adanya sentuhan agar nyaman
- Menggunakan gaya bicara yang khusus untuk anak-anak agar mudah menjalani
proses perawatan

8. Bagaimana cara berkomunikasi dengan pasien gannguan psikologis?


- Humble
- Mendengarkan dengan baik
- Bicara dengan singkat dan jelas
- Berikan support
- Berikan perhatian khusus

9. Sikap apa saja dalam komunikasi efektif antara drg dan pasien?
- Respect (menghargai)
- Audible (mendengarkan)
- Jelas
- Terbuka
- Berhadap face to face dalan berkomunikasi
Langkah 4 : Membuat skema atau diagram dari komponen-komponen
permasalahan dan mencari korelasi dan interaksi antar masing - masing
komponen untuk membuat solusi secara terintegrasi

drg.
Madona

pasien komunikasi

pendekatan efektif terapeutik

gangguan
anak remaja dewasa lansia syarat jenis tujuan prinsip manfaat
psikologis

Langkah 5 : Memformulasikan tujuan pembelajaran

1. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan komunikasi efektif


2. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan komunikasi terapeutik
a. Syarat
b. Jenis
c. Tujuan
d. Prinsip
e. Manfaat
3. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan pendekatan pasien
a. Anak-anak
b. Remaja
c. Dewasa
d. Lansia
e. Gangguan psikologis

Langkah 6 : Mengumpulkan informasi di perpustakaan,internet,dan lain-lain

Langkah 7 :Sintesa dan uji informasi yang telah diperoleh

1. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan komunikasi efektif

o Pengertian komunikasi efektif


Komunikasi efektif adalah komunikasi yang mampu untuk menghasilkan perubahan
sikap pada orang yang terlihat dalam komunikasi.Tujuan komunikasi efektif adalah memberi
kemudahan dalam memahami pesan yang disampaikan antara pemberi dan penerima sehingga
bahasa lebih jelas, lengkap, pengiriman dan umpan balik seimbang, dan melatih menggunakan
bahasa non verbal secara baik. Ada beberapa pendapat para ahli mengenai komunikasi efektif,
antara lain :
a. Menurut Jalaluddin dalam bukunya Psikologi Komunikasi (2008:13) menyebutkan,
komunikasi yang efektif ditandai dengan adanya pengertian, dapat menimbulkan kesenangan,
mempengaruhi sikap, meningkatkan hubungan sosial yang baik, dan pada akhirnya
menimbulkan suatu tidakan.
b. Johnson, Sutton dan Harris (2001: 81) menunjukkan cara-cara agar komunikasi efektif
dapat dicapai. Menurut mereka, komunikasi efektif dapat terjadi melalui atau dengan didukung
oleh aktivitas role-playing, diskusi, aktivitas kelompok kecil dan materi-materi pengajaran
yang relevan. Meskipun penelitian mereka terfokus pada komunikasi efektif untuk proses
belajar-mengajar, hal yang dapat dimengerti di sini adalah bahwa suatu proses komunikasi
membutuhkan aktivitas, cara dan sarana lain agar bisa berlangsung dan mencapai hasil yang
efektif.
c. Menurut Mc. Crosky Larson dan Knapp (2001) mengatakan bahwa komunikasi yang
efektif dapat dicapai dengan mengusahakan ketepatan (accuracy) yang paling tinggi derajatnya
antara komunikator dan komunikan dalam setiap komunikasi. Komunikasi yang lebih efektif
terjadi apabila komunikator dan komunikan terdapat persamaan dalam pengertian, sikap dan
bahasa.

o Proses komunikasi efektif


Komunikasi merupakan suatu proses yang mempunyai komponen dasar sebagai
berikut ;
Pengirim pesan , penerima pesan dan pesan. Semua fungsi manager melibatkan proses
komunikasi sebagai berikut ;
a. Pengirim pesan (sender) dan isi pesan atau materi
Pengirim pesan adalah orang yang mempunyai ide untuk disampaikan kepada
seseorang dengan harapan dapat dipahami oleh orang yang menerima pesan sesuai dengan
yang dimaksudkannya. Pesan adalah informasi yang akan disampaikan atau diekspresikan
oleh pengirim pesan. Pesan dapat verbal atau non verbal dan pesan akan efektif bila
diorganisir secara baik dan jelas.
Materi pesan dapat berupa:
1. Informasi
2. Ajakan
3. Rencana kerja
4. Pertanyaan dan sebagainya
b. Simbol atau isyarat
Pada tahap ini pengirim pesan membuat kode atau symbol sehingga pesannya dapat
dipahami oleh orang lain. Biasanya seorang manager menyampaikan peasan dalam bentuk
kata-kata, gerakan anggota badan, (tangan , kepala, mata, dan bagian muka lainnya ). Tujuan
penyampaian pesan adalah untuk mengajak, membujuk, mengubah sikap, periklaku atau
menunjukkan arah tertentu.
c. Media atau penghubung
Adalah alat untuk menyampaikan pesan seperti : TV, radio surat kabar, papan
pengumuman, telepon dan lainnya. Pemilihan media ini dapat dipengaruhi oleh isi pesan
yang akan disampaikan, jumlah penerimaan pesan, situasi dsb.
d. Mengartikan kode atau isyarat
Setelah pesan diterima melalui indra ( telinga, mata dst)maka si penerima pesan harus
dapat mengartikan symbol/kode dari pesan tersebut, sehingga dapat dimngerti / dipahaminya.
e. Penerima pesan
Penerima pesan adalah orang yang dapat memahami pesan dari si pengirim meskipun
dalam bentuk code /isyarat tanpa mengurangi arti pesan yang dimaksud oleh pengirim.
f. Balikan (feedback)
Balikan adalah isyarat atau tanggapan yang berisi kesan dari penerima pesan dalam
bentuk verbal maupun nonverbal. Tanpa balikan seorang pengirim pesan tidak akan tahu
dampak pesannya terhadap sipenerima pesan hal ini penting bagi manager atau pengirim
pesan untuk mengetahui apakah pesan sudah diterima dengan pemahaman yang benar dan
tepat. Balikan dapat disampaikan oleh penerima pesan atau orang lain yang bukan penerima
pesan. Bailkan yang disampaikan oleh penerima pesan pada umumnya merupakan balikan
langsung yang mengandung pemahaman atas pesan tersebut dan sekaligus merupakan apakah
pesan itu akan dilaksanakan atau tidak.
g. Gangguan
Gangguan bukan merupakan bagian dari proses komunikasi akan tetapi mempunyai
pengaruh dalam proses komunikasi, karena setiap situasi hampir selalu ada hal yang
mengganggu kita. Gangguan adalah hal yang merintangi atau menghambat komunikasi
sehingga penerima salah menafsirkan pesan yang diterimanya.

Dalam komunikasi, setidaknya harus ada komunikator, pesan, saluran komunikasi,


metode komunikasisi, bentuk komunikasi, dan teknik komunikasi, usecara keseluruhan akan
membentuk jaringan komunikasi.
a. Komunikator adalah orang yang mau berkomunikasi dengan orang lain, disebut juga
pembawaan berita/pengirim berita/sumber berita.
b. Pesan adalah berita yang disampaikan oleh komunikator melalui lambing dan gerak.
c. Saluran komunikasi adalah sarana untuk menangkap lambing yang kemudian
diterjemahkan dalam bentuk persepsi yang member makna terhadap suatu stimulus atau
rangsangan.
d. Komunikan adalah pihak lain yang diajak berkomunikasi, yang merupakan sarana
dalam kegiatan komunikasi

o Unsur-unsur dalam komunikasi efektif


Komunikasi mempunyai dasar sebagai berikut: niat,minat, pandangan, lekat, dan libat.
Niat menyangkut:
Apa yang akan disampaikan

1. Siapa sasaranya
2. Apa yang akan dicapai
3. Kapan akan disampaikan
4. Minat, ada dua factor yang mempengaruhi yaitu:
5. Factor obyektif: merupakan rangsang yang kita terima
6. Fakto subyektif: merupakan factor yang menyangkut diri si penerima stimulus
7. Pandangan, merupakan makna dari informasi yang disampaikan pada
sasaran,menafsirkan informasi yang diterima tergantung pada pendidikan,pekerjaan,
pengalaman dan kerangka piker seseorang.
8. Lekat, merupakan informasi yang disimpan oleh si penerima.
9. Libat,merupakan keterlibatan panca indra sebanyak-banyaknya.

o Tahapan komunikasi efektif


a. Pengirim mempunyai gagasan (ide )
b. Pengirim mengubah gagasan menjadi pesan ( yang dapat dipahami oleh penerima )
c. Pengirim mengirim pesan, melalui media perantara ( verbal/non verbal,lisan /tulisan) dan
medium (telpon, komputer /memo

o Teknik komunikasi efektif


Komunikasi efektif dapat terjadi apabila suatu pesan yang diberitahukan komunikator
dapat diterima dengan baik atau sama oleh komunikan, sehingga tidak terjadi salah persepsi.
Karena itu, dalam berkomunikasi, khususnya komunikasi verbal dalam forum formal,
diperlukan langkah-langkah yang tepat. Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut:
 Memahami maksud dan tujuan berkomunikasi.
 Mengenali komunikan (audience).
 Berorientasi pada tema komunikasi.
 Menyampaikan pesan dengan jelas.
 Menggunakan alat bantu yang sesuai.
 Menjadi pendengar yang baik.
 Memusatkan perhatian.
 Menghindari terjadinya gangguan.
 Membuat suasana menyenangkan.
 Memanfaatkan bahasa tubuh dengan benar.

o Hambatan dalam komunikasi efektif


a. Hambatan dari proses komunikasi
Hambatan dari pengirim pesan, misalnya pesan yang akan disampaikan belum jelas
bagi dirinya atau pengirim pesan, hal ini dipengaruhi oleh perasaan atau situasi
emosional.
o Hambatan dalam penyediaan / symbol
Hal ini dapat terjadi karena bahasa yang dipergunakan tidak jelas sehingga
mempunyai arti lebih atau satu,symbol yang di[ergunakan antara sipengirim dan
penerima tidak sama atau bahasa yang dipergunakan terlalu sulit.

o Hambatan media,
adalah hambatan yang terjadi dalam penggunaan media komunikasi,misalnya
gangguan suara radio dan aliran listrik sehingga tidak dapat mendengarkan pesan.
o Hambatan dalam bahsa sandi.
Hambatan terjadi dalam menafsirkan sandi oleh si penerima.

o Hambatan dari penerima pesan,


misalnya kurangnya perhatian pada saat penerima atau mendengarkan pesan, sikap
prasangka tanggapan yang keliru dan tidak mencari informasi lebih lanjut.

o Hambatan dalam memberikan balikan.


Balikan yang diberikan tidak menggambarkan apa adanya akan tetapi memberikan
interpretatif, tidak tepat waktu atau tidak jelas dan sebagainya.

b. Hambatan fisik
Hambatan fisik dapat mengganggu komunikasi yang efektif, cuaca gangguan alat
komunikasi, dll. Misalnya :gangguan kesehatan,gangguan alat komunikasi dan
sebagainya.
c. Hambatan semantic
Kata-kata yang dipergunakan dalam komunikasi kadang-kadang mempunyai arti
mendua yang berbeda, tidak jelas atau berbelit-belit antara pemberi pesan dan
penerima
d. Hambatan psikologis
Hambatan spikologis dan social kadang-kadang mengganggu komunikasi,
misalnya:perbedaan nilai-nilai serta harapan yang berbeda antara pengirim dan
penerima pesan.

 Kriteria keberhasilan komunikasi


Untuk memperoleh keefektifan komunikasi , seseorang harus memperhatikan
beberapa kriteria komunikasi sebagai berikut:
1. Komunikasi membutuhkan lebih dari dua orang yang akan menentukan tingkat
hubungan dengan orang lain.
2. Komunikasi terjadi secara berkesinambungan dan terjadi hubungan timbal balik
3. Proses komunikasi dapat melalui komunikasi verbal dan non verbal yang bisa
terjadi secara simultan.
4. Dalam berkomunikasi seseorang akan berespon terhadap peran yang di terima
baik secara langsung maupun tidak langsung ,verbal maupun non verbal.
5. Pesan yang di terima tidak selalu di asumsikan sama antara penerima dan
pengirim.
6. Pertukaran informasi di butuhkan ilmu pengetahuan.
7. Pesan yang di kirim dan di terima di pengaruhi oleh pengalaman masa
lalu,pendididkan, keyakinan dan budaya.
8. Komunikasai di pengaruhi oleh perasaan diri sendiri, subyek yang di
komunikasikan orang lain.
9. Posisi seseorang di dalam system sosio cultural dapat mempengaruhi proses
komunikasi.
2. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan komunikasi terapeutik

 Syarat komunikasi terapeutik


Stuart dan Sundeen (dalam Christina, dkk., 2009) mengatakan ada dua persyaratan
dasar untuk komunikasi terapeutik efektif :
1. Semua komunikasi harus ditujukan untuk menjaga harga diri pemberi maupun
penerima pesan.
2. Komunikasi yang menciptakan saling pengertian harus dilakukan terlebih
dahulu sebelum memberikan sarana, informasi maupun masukan.
Persyaratan- persyaratan untuk komunikasi terapeutik ini di butuhkan untuk
membentuk hubungan perawat- klien sehingga klien memungkinkan untuk
mengimplementasikan proses keperawatan. Komunikasi terapeutik ini akan efektif bila melalui
penggunaan dan latihan yang sering.

 Jenis komunikasi terapeutik


Menurut Nasir (2009) jenis komunikasi ada dua yaitu:
1. Komunikasi verbal
Komunikasi yang dilakukan dalam pertukaran informasi secara
verbal dengan tatap muka dapat lebih menghemat waktu dan lebih akurat. Sehingga
pasien dapat langsung memberikan respon secara langsung. Gambaran komunikasi
terapeutik yang efektif meliputi:
a. Jelas dan ringkas
Semakin jelas dan ringkas kata-kata yang digunakan dalam berkomunikasi
maka semakin mudah pasien untuk memahami pesan yang disampaikan dalam
komunikasi dan akan semakin sedikit kemungkinan untuk terjadinya
kerancuan.
b. Perbendaharaan kata (Mudah dipahami)
Kata-kata yang digunakan dalam berkomunikasi dengan pasien menggunakan
kata-kata yang mudah dipahami oleh pasien dan sebisa mungkin menghindari
kata-kata yang berasal dari bahasa kedokteran yang tidak dimengerti oleh
pasien.
c. Arti denotatif dan konotatif
Arti denotatif akan memberikan pengertian yang sama terhadap kata yang
digunakan, sedangkan arti konotatif merupakan pikiran, perasaan atau ide
yang terdapat dalam kata yang diucapkan
d. Selaan dan kesempatan berbicara
Dalam komunikasi, kecepatan dan tempo bicara juga diperhatikan karena itu
merupakan salah satu faktor penentu dari keberhasilan komunikasi terapeutik.
e. Waktu dan relevansi
Perawat harus peka terhadap ketepatan waktu untuk berkomunikasi, karena
komunikasi verbal akan lebih bermakna jika pesan yang disampaikan
berkaitan dengan minat dan kebutuhan pasien.
f. Humor
Humor dapat digunakan untuk menutupi perasaan takut, rasa tidak enak
ataupun menutupi kemampuannya dalam berkomunikasi dengan pasien.

2. Komunikasi non verbal


Komunikasi non verbal merupakan suatu proses penyampaian pesan tanpa
menggunakan kata-kata, pesan disampaikan melalui kode non verbal yang efektif
dalam menyampaikan pesan kepada orang lain.
Tujuan dari kode atau isyarat nonverbal antara lain :
a. Meyakinkan apa yang diucapkan.
b. Menunjukkan perasaan.
c. Menunjukkan jati diri.
d. Menambahkan atau melengkapi ucapan-ucapan yang dirasakan.

Komunikasi non verbal dapat diamati pada hal-hal berikut :


a) Metakomunikasi
Metakomunikasi merupakan segala komentar terhadap isi dari pembicaraan
selama komunikasi terapeutik yang berisi pesan yang menggambarkan sikap
dan perasaan pasien kepada perawat.
b) Penampilan personal
Penampilan juga berpengaruh dalam berkomunikasi dengan pasien.
c) Paralanguage
Intonasi atau nada suara dalam komunikasi juga mempengaruhi arti yang
ditangkap oleh penerima pesan, setiap orang akan memaknai berbeda saat
pembicaraan yang menggunakan nada keras.
Gerakan kontak mata sangat penting dalam komunikasi interpersonal. Orang
yang mempertahankan tatapan mata kedepan itu bisa dikatakan orang yang
dapat
 Menunjukkan jati diri.
 Menambahkan atau melengkapi ucapan-ucapan yang dirasakan.
d) Kinesics merupakan gerakan tubuh yang menggambarkan sikap, emosi, konsep
diri, dan kesadaran fisik.

 Tujuan komunikasi terapeutik


a. Realisasi dan penerimaan diri serta peningkatan penghormatan diri pasien
Pasien yang memiliki penyakit berat kadangkala mengalami perubahan
terkait gambar dirinya. Ia tidak mampu menerima keadaanya, mengalami
penurunan harga diri, hingga merasa tidak berarti dan mengalami depresi.
Dengan komunikasi terapetik, perawat dapat mengembangkan pribadi pasien
dengan mengarahkannya pada pertumbuhan pasien yang meliputi realisasi diri,
penerimaan diri, serta peningkatan penghormatan diri.
Dengan demikian, diharapkan terjadinya perubahan dalam diri pasien.
Pasien yang pada awalnya tidak bisa menerima dirinya dan penyakit yang
dideritanya dengan apa adanya, menjadi mampu menerima dirinya
b. Pasien mampu membina hubungan interpersonal dan saling bergantung dengan
orang lain.
Komunikasi terapetik dilakukan agar pasien dapat belajar bagaimana
menerima dan diterima orang lain. Dalam hal ini perawat perlu melakukan
komunikasi yang jujur, terbuka, dan menerima pasien apa adanya. Dengan
begitu, perawat dapat membantu pasien meningkatkan kemampuan klien dalam
membina hubungan saling percaya.
Hubungan mendalam yang digunakan perawat dalam berinteraksi
dengan pasien merupakan area untuk mengekpresikan kebutuhan, memecahkan
masalah, dan meningkatkan kemampuan pasien dalam membina hubungan
c. Meningkatkan fungsi dan kemampuan pasien untuk memuaskan kebutuhannya
serta mencapai tujuan yang realistis.
Terkadang pasien menetapkan ideal diri atau tujuan yang terlalu tinggi
atau malah terlalu rendah, tanpa mengukur kemampuan dirinya. Seseorang
yang merasa kenyataan dirinya mendekati ideal, akan memiliki harga diri
yamg tinggi. Sebaliknya seseorang yang merasa kenyataan hidupnya jauh dari
ideal akan merasa rendah diri.
Dengan komunikasi terapetik, perawat akan membantu pasien
mengetahui batasan serta kemampuan dirinya, sehingga dapat menetapkan
ideal diri atau tujuan yang tepat
d. Pasien memiliki rasa identitas yang jelas dan peningkatan integritas diri
Rasa identitas menyangkut status, peran, serta jenis kelamin seseorang.
Pasien yang mengalami gangguan identitas diri biasanya memiliki integritas
diri yang rendah serta perasaan rendah diri. Dengan komunikasi terapetik,
perawat dapat membantu pasien meningkatkan integritas diri serta identitas
diri yang jelas. Untuk melakukannya, perawat perlu menggali semua aspek
kehidupasn pasien, baik di masa sekarang ataupun masa lalu
e. Membantu pasien mengurangi beban perasaan dan pikirannya
Dengan komunikasi terapetik, perawat dapat membantu pasien untuk
memperjelas beban perasaan serta pikiran yang dialaminya, kemudian
membantu menguranginya.
f. Membantu pasien mencapai tingkat kesembuhan yang diharapkan.
Komunikasi terapetik mempermudah perawat dalam menjalin
hubungan saling percaya dengan pasien, dengan begitu pencapaian tujuan
asuhan keperawatan akan lebih efektif dan memberikan kepuasan secara
profesional.
g. Membantu meningkatkan kualitas asuhan keperawatan bagi pasien
Kualitas hubungan antara perawat dengan pasiennya sangat
mempengaruhi kualitas asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien.
Komunikasi terapetik berbeda dengan hubungan sosial biasa. Komunikasi
terapetik harus memberi dampak percepatan kesembuhan pasien. Perawat
harus menyadari hal ini dalam melakukan komunikasi dengan pasien.
h. Membantu pasien mengambil tindakan untuk mengubah situasi
Bila pasien percaya pada hal yang diperlukan, perawat dapat
membantu pasien dalam mengambil tidakan untuk mengubah situasi yang ada

Tujuan Lainnya

 Mendorong dan menganjurkan terjalinnya kerjasama antara perawat dengan pasien


 Mengidentifikasi, mengungkap, mengkaji serta melakukan evaluasi tindakan intervensi
keperawatan.
 Membantu mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik serta diri pasien sendiri.
 Membantu mengambil tindakan yang efektif untuk pasien
 Memperbaiki pengalaman emosional pasien

 Prinsip komunikasi terapeutik


1. Hubungan Perawat dengan Pasien
Hubungan antara perawat dengan pasien atau psikolog dengan klien merupakan hubungan
terapeutik yang mana sama-sama saling menguntungkan. Dalam istilahnya adalah ‘win win
solution’ yang mana mencari solusi dengan sama-sama menguntungkan. Prinsip ini lebih
dikenal dengan sebutan ‘humanity of nurse and clients’ yang diartikan adalah hubungan
kemanusiaan antara seorang perawat dengan kliennya atau pasiennya.
Kualitas dalam prinsip ini dilihat dari bagaimana seorang psikolog atau perawat
memandang dan mendefinisikan dirinya dan pasiennya adalah seorang manusia. Dengan kata
lain bahwa hubungan antara perawat dengan pasien bukan hanya perawat sebagai
penolongnya, melainkan lebih dari itu, yaitu sebagai sahabat atau orang yang terdekatnya.
2. Menghargai Pasien
Dalam prinsip ini, seorang perawat atau psikolog alias terapis adalah seseorang yang
dapat memahami apa yang dimiliki oleh seorang pasiennya. Entah itu dari kelebihannya,
maupun kekurangannya. Karena setiap manusia diciptakan selalu memiliki keunikan masing-
masing yang mana harus dihargai.
Tak hanya itu, seorang perawat juga harus memahami karakter yang dimiliki oleh
pasiennya. Karena pada dasarnya setiap manusia memiliki karakter yang berbeda-beda, yang
mana perawat harus memahami karakter itu, yaitu karakter pasiennya. Dengan kata lain,
seorang perawat atau psikolog harus memahami perasaan dan perilaku yang dimiliki
pasiennya. Perawat dapat melihat latar belakang budayanya, keluarganya, hingga keunikan
yang dimiliki pasiennya untuk memahami karakter pasien. Dengan begitu, komunikasi
terapeutik dapat berjalan sesuai kaidahnya.
3. Menjaga Harga Diri
Prinsip komunikasi terapeutik yang ketiga ini sama halnya dengan prinsip sebelumnya
yang mana menghargai dan memahami apa yang dimiliki oleh setiap individu. Sehingga
seorang perawat harus dapat menjaga harga diri seseorang yang menjadi pasiennya. Selain
menjaga harga diri pasiennya, juga perlu adanya menjaga harga dirinya sendiri. Dengan
menjaga harga dirinya sendiri, maka dia tidak akan dianggap rendah oleh pasiennya
4. Saling Percaya
Dengan saling menjaga dan menghargai apa yang dimiliki setiap individu, maka akan
timbul rasa saling percaya antara perawat dengan pasien. Namun sebenarnya, rasa saling
percaya ini harus dilakukan sejak awal alias untuk mengawali proses komunikasi. Dengan
begitu, kita dapat berkomunikasi terapeutik dengan baik dan benar tanpa adanya saling
menyinggung satu sama lain. Kita dapat saling percaya dengan memulai cerita dan masalah
yang dimiliki oleh pasien. Kemudian mencari solusi terbaik bersama-sama. Hal ini adalah
kunci dalam komunikasi terapeutik agar dapat berjalan dengan baik dan lancar.

 Manfaat komunikasi terapeutik


Adapun manfaat komunikasi terapeutik dapat mendukung dan mempercepat
kesembuhan pasien, karena melalui terapi yang dilakukan dengan komunikasi pasien
memperoleh support yang mendorong untuk kemajuan psikologi yang berpengaruh
pada kesehatan pasien.

3. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan pendekatan pasien


a. Pendekatan pada pasien anak
Komunikasi terapeutik yang dilakukan perawat dalam memberikan asuhan
keperawatan pada anak berbeda dengan orang dewasa. Diperlukan cara yang berbeda
dalam menerapkan komunikasi terapeutik pada pasien anak. Cara-cara tersebut di
antaranya adalah:
1. Perawat berbicara dengan nada suara yang rendah dan lambat agar anak dapat
mengerti hal yang dikatakan perawat.
2. Perawat sebaiknya membuat jadwal yang tidak monoton antara terapi medis
dengan hal yang disukai anak (misal: bermain).
3. Perawat diharapkan untuk memperhatikan posisi badan ketika berinteraksi
dengan pasien anak agar anak merasa nyaman.
4. Dalam melakukan kontak mata sebaiknya perawat dapat mengaturnya. Ketika
mendapat respon kurang baik maka perawat harus mengurangi kontak mata, dan saat
anak sudah bisa mengontrol perilakunya perawat kembali melakukan kontak mata
pada anak.
5. Ketika berkomunikasi dengan anak diperlukan untuk melakukan sentuhan agar
anak merasa nyaman dan dekat dengan perawat, namun perlu diingat bahwa perawat
harus meminta izin terlebih dulu.
Saat berkomunikasi terapeutik dengan anak, secara verbal perawat dapat
menggunakan teknik bercerita dengan bahasa anak supaya ia tertarik untuk
mendengarkan dan perasaan tertekannya dapat terkurangi. Dengan teknik bercerita
perawat dapat mengetahui perasaan anak. Selain menggunakan teknik bercerita,
perawat dapat menggunakan cara bermain game tiga permintaan. Game ini sangat
disukai oleh anak, oleh karenanya dengan game tersebut perawat dapat mengarahkan
anak untuk masuk dalam percakapan.
Komunikasi terapeutik pada anak tak hanya dilakukan secara verbal, namun
juga dilakukan komunikasi terapeutik secara non verbal. Untuk berkomunikasi secara
non verbal perawat dapat menggunakan teknik menulis. Dengan cara menuis perawat
bisa melakukan pendekatan pada anak. Tak hanya itu, perawat pun bisa menggunakan
teknik menggambar. Menggambar merupakan salah satu cara yang dilakukan anak
untuk mengekspresikan perasaannya dan mengungkapkan tentang dirinya dengan
bebas. Selain itu ada teknik lain, yaitu dengan bermain. Teknik bermain saya rasa
merupakan cara terefektif bagi perawat untuk berinteraksi dengan pasien anak karena
dunia anak adalah bermain.
b. Pendekatan pada pasien remaja
Komunikasi dengan remaja merupakan sesuatu yang penting dalam menjaga
hubungan dengan remaja, melalui komunikasi ini pula perawat dapat memudahkan
mengambil berbagai data yang terdapat pada diri remaja yang selanjutnya dapat diambil
dalam menentukan masalah keperawatan. Beberapa cara yang digunakan dalam
berkomunikasi dengan remaja, yaitu sebagai berikut.
1) Melalui orang lain atau pihak ketiga
Cara berkomunikasi ini pertama dilakukan oleh remaja dalam menumbuhkan
kepercayaan diri remaja, dengan menghindari secara langsung berkomunikasi
dengan melibatkan orang tua secara langsung yang sedangberada disamping anak.
Selain itu dapat digunakan dengan cara memberikan komentar tentang sesuatu.
2) Bercerita
Melalui cara ini pesan yang akan disampaikan kepada anak remaja dapat mudah
diterima, mengingat anak sangat suka sekali dengan cerita, tetapi cerita yang
disampaikan hendaknya sesuai dengan pesan yang akan disampaikan, yang akan
diekspresikan melalui tulisan.
3) Memfasilitasi
Memfasilitasi adalah bagian cara berkomunikasi, malalui ini ekspresi anak atau
respon anak remaja terhadap pesan dapat diterima, dalam memfasilitasi kita harus
mampu mengekspresikan perasaan dan tidak boleh dominan , tetapi anak harus
diberikan respons terhadap pesan yang disampaikan melalui mendengarkan
dengan penuh perhatian dan jangan mereflisikan ungkapan negatif yang
menunjukan kesan yang jelek pada anak remaja tersebut.
4) Meminta untuk menyebutkan keinginan
Ungkapan ini penting dalam berkomunikasi dengan anak dengan meminta anak
untuk menyebutkan keinginan dapat diketahui berbagai keluhan yang dirasakan
anak dan keinginan tersebut dapat menunjukan persaan dan pikiran anak pada saat
itu.
5) Pilihan pro dan kontra
Penggunaan teknik komunikasi ini sangat penting dalam menentukkan atau
mengetahui perasaan dan pikiran anak, dengan mengajukan pasa situasi yang
menunjukkan pilihan yang positif dan negatif yang sesuai dengan pendapat anak
remaja.
c. Pendekatan pada pasien dewasa
Dari segi psikologis, orang dewasa dalarn situasi. Komunikasi mempunyai sikap-
sikap tertentu yairu :
1. Komunikasi adalah suatu pengetahuan yang diinginkan oleh orang dewasa itu
sendiri, maka orang dewasa tidak diajari tetapi dimotivasikan untuk mencari
pengetahuan yang lebih mutakhir.
2. Komunikasi adalah suatu proses emosional dan intelektual sekaligus, manusia
punya perasaan dan pikiran.
3. Komunikasi adalah hasil kerjasama antara manusia yang saling memberi dan
menerima, akan belajar banyak, karena pertukaran pengalaman, saling
mengungkapkan reaksi dan tanggapannya mengenai suatu masalah.

Suasana Komunikasi Pada Klien Dewasa


Dengan adanya faktor tersebut yang mempengaruhi efektifitas komunikasi
orang dewasa, maka perhatian dicurahkan pada penciptaan suasana komunikasi
yang diharapkan dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Dalam berkomunikasi
dengan orang dewasa adalah :
1. Suasana hormat menghormati
Orang dewasa akan mampu berkomunikasi dengan baik apabila pendapat
pribadinya dihormati, ia lebih senang kalau ia boleh turut berfikir dan
mengemukakan pikirannya.
2. Suasana saling menghargai
Segala pendapat, perasaan, pikiran, gagasan, sistem nilai yang dan
mengesampingkan harga kendala dalam jalannya dianut perlu dihargai.
Meremehkan diri mereka akan dapat menjadi komunikasi.
3. Suasana saling percaya
Saling mempercayai bahwa apa yang disampaikan itu benar adanya akan
dapat membawa hasil yang diharapkan.
4. Suasana saling terbuka
Terbuka untuk mengungkapkan diri dan terbuka untuk mendengarkan
orang lain. Hanya dalam suasana keterbukaan segala alternatif dapat tergali
 Pendekatan pada pasien lansia

Ketika berkomunikasi dengan pasien lanjut usia dengan pendengaran yang berkurang,
tataplah pasien sehingga pasien dapat membaca bibir dan menggunakan isyarat mata.
Meminimalkan kebisingan, dan berbicara pelan, jelas, dan dalam nada yang normal.
Berteriak akan menghambat komunikasi, mengubah nada berfrekuensi tinggi, dan
mempersulit pasien untuk memahami kata-kata anda.
Jika suara anda melengking, meredam lengkingan ketika anda berbicara dapat membantu
pasien untuk mendengar anda dengan lebih baik. Ketika memberikan instruksi untuk
medikasi, tes, atau pengobatan, hindarkan untuk bertanya kepada pasien apakahdia mengerti.
Orang dengan gangguan pendengaran mungkin akan menjawab “ya” tanpa menyadari
bahwa mereka belum mendengar apapun atau salah memahami beberapa
informasi.Pendekatan yang lebih baik untuk mengecek pemahaman pasien adalah dengan
meminta pasienuntuk mengulang instruksi
Akhirnya, karena pendengaran memburuk dikemudian hari,appointment yang lebih awal
umumnya lebih baik
Jika tersedia, pengeras suara (alat portable yang memperkuat suara dokter dan
memancarkannya ke headphones yang dipakai oleh pasien) diketahui sangat memudahkan
komunikasi dengan pasien yang mengalami gangguan pendengaran (Fook & Morgan, 2000).
Ketika berkomunikasi dengan pasien dengan gangguan penglihatan, lingkungan klinik
dapat diperbaiki dengan memperbanyak pencahayaan, menggunakan warna-warna kontras
untuk membuat objek lebih jelas (mis. kerangka pintu, kursi yang berada dilantai klinik), dan
menggunakan huruf yang besar serta berwarna kontras untuk setiap tanda.
Setiap bahan dengan tulisan harus dicetak paling tidak dengan huruf berukuran 14 diatas
kertas berwarna. Direkomendasikan untuk menggunakan dua sumber cahaya, pencahayaan
untuk latar belakang dan lampu tertutup
Ketika membahas rencana pengobatan, ingatlah masalah keamanan potensial yaitu
gangguan penglihatan. Sebagai contoh, pasien lanjut usia kadang-kadang akan meletakkan
obatnya dalam satu wadah dan tergantung pada satu warna untuk mengenalinya. Ini
dapatmenjadi masalah keamanan, karena banyak obat yang berwarna putih, biru muda, hijau
muda,yang akan terlihat berwarna abu-abu oleh mata yang telah menua. Warna merah,
oranye, dan kuning paling baik dilihat dan dapat digabungkan kedalam perawatan.
Pada contoh lain, pasienyang mengalami kesulitan memastikan dosis insulin dapat
diinstruksikan untuk ditempatkan pada warna merah diatas meja, yang akan
mempermudahnya untuk melihat jarum dan vial. Kertas kontak berwarna merah dapat
dibalutkan pada pegangan untuk berjalan, tongkat atau tabung oksigen untuk membantu
pasien lanjut usia untuk mengambilnya
Sebagai akibatnya, sangat penting untuk mendekati pasien dengan cara yang tenang
danmenyenangkan. Pasien demensia sangat bergantung pada komunikasi nonverbal, maka
pentinguntuk tidak membiarkan bahasa tubuh anda memberikan kesan bahwa anda sedang
tergesa-gesa
Saat memasuki ruangan pemeriksaan, anda sebaiknya langsung mengarah ke
pasiendengan tenang, menjaga kontak mata dan menampilkan ekspresi yang bersahabat.
Pergunakan nada suara yang tenang dan lembut sembari menyentuh bahu pasien dengan
lembut akan menunjukkan anda peduli dan ingin berbagi. Anda harus memperkenalkan diri,
walaupun anda telah mengenal pasien ini cukup lama. Akan cukup efektif bila anda
menghabiskan beberapa menit untuk mengobrol dan mengingatkan pasien pada keadaan
sosialnya.
Proses mengingatkan ini merupakan tehnik komunikasi yang cukup efektif pada
pasien demensia, karena hal ini akan membangkitkan memori jangka panjang mereka,
membuat kilas balik masa lalu, saat ini dan masa akan datang dalam pikiran mereka serta
mengurangi ketegangan

 Pendekatan pada pasien gangguan psikologis


Berkomunikasi dengan penderita gangguan jiwa membutuhkan sebuah teknik khusus,
ada beberapa hal yang membedakan berkomunikasi antara orang gangguan
jiwa dengan gangguan akibat penyakit fisik. Perbedaannya adalah :
1. Penderita gangguan jiwa cenderung mengalami gangguan konsep diri, penderita
gangguan penyakit fisik masih memiliki konsep diri yang wajar (kecuali pasien
dengan perubahan fisik, ex : pasien dengan penyakit kulit, pasien amputasi,
pasien penyakit terminal dll).
2. Penderita gangguan jiwa cenderung asyik dengan dirinya sendiri sedangkan
penderita penyakit fisik membutuhkan support dari orang lain.
3. Penderita gangguan jiwa cenderung sehat secara fisik, penderita penyakit fisik
bisa saja jiwanya sehat tetapi bisa juga ikut terganggu.
Sebenarnya ada banyak perbedaan, tetapi intinya bukan pada mengungkap perbedaan
antara penyakit jiwa dan penyakit fisik tetapi pada metode komunikasinya.
Komunikasi dengan penderita gangguan jiwa membutuhkan sebuah dasar
pengetahuan tentang ilmu komunikasi yang benar, ide yang mereka lontarkan
terkadang melompat, fokus terhadap topik bisa saja rendah, kemampuan menciptakan
dan mengolah kata – kata bisa saja kacau balau.
Ada beberapa trik ketika harus berkomunikasi dengan penderita gangguan jiwa
- Pada pasien halusinasi maka perbanyak aktivitas komunikasi, baik meminta pasien
berkomunikasi dengan pasien lain maupun dengan dokter gigi, pasien halusinasi
terkadang menikmati dunianya dan harus sering harus dialihkan dengan aktivitas
fisik.
- Pada pasien harga diri rendah harus banyak diberikan reinforcement
- Pada pasien menarik diri sering libatkan dalam aktivitas atau kegiatan yang
bersama – sama, ajari dan contohkan cara berkenalan dan berbincang dengan
pasien lain, beri penjelasan manfaat berhubungan dengan orang lain dan akibatnya
jika dia tidak mau berhubungan dll.
- Pasien perilaku kekerasan, khusus pada pasien perilaku kekerasan maka harus
direduksi atau ditenangkan dengan obat – obatan sebelum kita support dengan
terapi – terapi lain, jika pasien masih mudah mengamuk maka dokter gigi dan
pasien lain bisa menjadi korban