Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pemeriksaan urin atau urinalisis merupakan pemeriksaan yang

memberikan informasi tentang ginjal, saluran urin dan mengenai faal berbagai

organ dalam tubuh seperti hati, saluran empedu, pankreas, korteks adrenal dan

lain-lain. Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan dasar bagi pemeriksaan

selanjutnya, yang meliputi jumlah urin, makroskopik yaitu warna dan

kejernihan urin, berat jenis, protein, glukosa dan pemeriksaan sedimen.

Metode yang sering digunakan adalah metode standar dan metode

dipstick atau carik celup. Pemeriksaan urinalisis yang biasa dilakukan dengan

carik celup antara lain berat jenis, pH, glukosa, protein, keton,darah, bilirubin,

urobilinogen, nitrit, lekosit esterase. Pemeriksaan protein dalam urin bertujuan

untuk mengetahui tanda awal penyakit ginjal atau penyakit sistemik signifikan

lainnya. Penilaian pemeriksaan protein urin metode standar berdasarkan

timbulnya kekeruhan dengan asam sulfosalisilat dan pemanasan asam Asetat

6% ( Djakani, H., V. 2013).

Indranila KS dan Lukitaning Puspito (2012) dalam “Akurasi Pemeriksaan

Carik Celup pada Urinalisis Proteinuria dan Glukosuria Dibandingkan dengan

Metoda Standard” menyimpulkan bahwa tes carik celup untuk proteinuria

tidak dapat dijadikan alat diagnostik untuk mendeteksi proteinuria. Metoda

standar yang dibandingkan pada pemeriksaan proteinuria ini adalah metoda

asam ( Djakani, H., V. 2013).

1
1.1 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah pada praktikum yang telah di laksanakan yaitu

untuk mengetahui apa itu Glukosuria Urin.

1.2 Tujuan

Adapun tujuan pada praktikum ini yaitu bagaimana proses pemeriksaan

Glukosuria Urin.

1.3 Manfaat

Adapun manfaat pada praktikum ini yaitu agar mahasiswa dapat

mengetahui pemeriksaan Glukosuria Urin.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Dasar Teori

Glukosuria atau biasa disebut kencing manis adalah keadaan abnormal

dimana gula (glukosa) diekskresikan ke dalam urin. Dalam urin yang normal

tidak ditemukan glukosa karena pada tubulus ginjal akan dilakukan proses

reabsorpsi molekul glukosa untuk kembali masuk ke dalam sirkulasi darah.

Hal ini terjadi ketika glukosa darah meningkat dan konsentrasi glukosa di

dalam plasma melebihi ambang batas ginjal atau dapat juga diakibatkan

karena tubulus kehilangan kemampuan mereabsorpsi (Dorland, 2011).

Glukosa darah merupakan bentuk karbohidrat yang paling sederhana

diabsorbsi ke dalam cairan darah melalui pencernaan. Kadar glukosa darah

(KGD) ini akan meningkat setelah makan dan biasanya akan turun pada level

yang paling rendah pada pagi hari sebelum orang makan. Kadar glukosa

darah diatur melalui umpan balik negatif untuk mempertahankan

keseimbangan di dalam tubuh.

Kadar glukosa dalam darah dimonitor oleh pankreas, bila konsentrasi

glukosa menurun karena dikonsumsi untuk memenuhi energi tubuh, pankreas

melepaskan glukagon, organ yang menargetkan sel-sel dihati. Kemudian sel

ini merubah glikogen menjadi glukosa. Glukosa dilepaskan ke dalam aliran

darah, hingga meningkatkan kadar gula darah. Pada keadaan normal glukosa

darah di atur sedemikian oleh insulin, sehingga kadarnya selalu dalam batas

normal, KGD normal sekitar 70-140 mg/dl. Pada keadaan DM tubuh relatif

3
kekurangan insulin sehingga pengaturan KGD jadi kacau. Walaupun KGD

tinggi, glukoneogenesis di hati tidak dapat dihambat sehingga menyebabkan

nilai KGD semakin meningkat (Dorland, 2011).

2.2 Glukosa Darah Pada Diabetes Melitus Tipe 2

Di dalam darah, kadar glukosa darah selalu fluktuatif bergantung pada

asupan makanan. Kadar paling tinggi tercapai pada satu jam setelah makan.

Satu jam setelah makan, glukosa di dalam darah akan mencapai kadar paling

tinggi, normalnya tidak melebihi 180 mg per 100 cc darah (180 mg/dl). Kadar

180 mg/dl disebut ambang ginjal dimana ginjal bisa menahan gula pada kadar

tersebut. Lebih dari angka tersebut ginjal tidak dapat menahan gula dan

kelebihan gula akan keluar bersama urin. Pada diabetes terdapat masalah

dengan efek kerja insulin dalam hal ini pemasukan gula ke dalam sel tidak

sempurna sehingga gula darah tetap tinggi. Hal ini dapat meracuni dan

menyebabkan rasa lemah dan tidak sehat serta menyebabkan komplikasi dan

gangguan metabolisme yang lain. Apabila tidak bisa mendapatkan energi

yang cukup dari gula, tubuh akan mengolah zat-zat lain di dalam tubuh untuk

diubah menjadi energi. Zat-zat itu adalah lemak dan protein. Penggunaan atau

penghancuran lemak dan protein menyebabkan turunnya berat badan

(Musrifatul, 2008).

2.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kadar Glukosa Darah

Ada beberapa hal yang menyebabkan glukosa darah naik, yaitu kurang

berolah raga, bertambahnya jumlah makanan yang dikonsumsi, meningkatnya

4
stres dan faktor emosi, pertambahan berat badan dan usia, serta dampak

perawatan dari obat, misalnya steroid (Nazir, M. 1988).

1. Olah raga secara teratur dapat mengurangi resistensi insulin sehingga

insulin dapat dipergunakan lebih baik oleh sel-sel tubuh. Sebuah penelitian

menunjukkan bahwa peningkatan aktivitas fisik (sekitar 30 menit/hari)

dapat mengurangi resiko diabetes. Olah raga juga dapat digunakan sebagai

usaha untuk membakar lemak dalam tubuh sehingga dapat mengurangi

berat badan bagi orang obesitas.

2. Asupan makanan terutama melalui makanan berenergi tinggi atau kaya

karbohidrat dan serat yang rendah dapat mengganggu stimulasi sel-sel beta

pankreas dalam memproduksi insulin. Asupan lemak di dalam tubuh juga

perlu diperhatikan karena sangat berpengaruh terhadap kepekaan insulin.

3. Interaksi antara pituitary, adrenal gland, pancreas dan liver sering

terganggu akibat stres dan penggunaan obat-obatan. Gangguan organ-

organ tersebut mempengaruhi metabolism ACTH (hormon dari pituitary),

kortisol, glucocorticoids (hormon adrenal gland), glucagon merangsang

glukoneogenesis di liver yang akhirnya meningkatkan kadar gula dalam

darah

4. Semakin bertambah usia perubahan fisik dan penurunan fungsi tubuh akan

mempengaruhi konsumsi dan penyerapan zat gizi. Berbagai penelitian

Universitas Sumatera Utara (Nazir, M. 1988).

5
2.4 Patofisiologi

Pankreas adalah kelenjar penghasil insulin, didalamnya terdapat

kumpulan sel yang berbentuk seperti pulau dalam peta, sehingga disebut

pulau-pulau langerhans pankreas. Pulau-pulau ini berisi sel alpa yang

menghasilkan hormon glukagon dan sel beta yang menghasilkan insulin.

Kedua hormon ini bekerja berlawanan, glukagon meningkatkan glukosa darah

sedangkan insulin bekerja menurunkan kadar glukosa darah (Restrepo B I,

2013).

Insulin yang dikeluarkan oleh sel beta dapat diibaratkan sebagai anak

kunci yang dapat membuka pintu masuknya glukosa ke dalam sel, kemudian

di dalam sel glukosa ini dimetabolismekan menjadi tenaga. Bila insulin tidak

ada (DM tipe 1) atau bila insulin itu kerjanya tidak baik seperti dalam

keadaan resistensi insulin (DMT2), maka glukosa tidak dapat masuk ke dalam

sel akibatnya glukosa akan tetap berada di dalam pembuluh darah yang

artinya kadar glukosa dalam darah meningkat dalam. Pada awalnya, resistensi

insulin belum menyebabkan diabetes klinis. Sel Beta pankreas masih dapat

mengkompensasi, sehingga terjadi hiperinsulinemia, Universitas Sumatera

Utdengan tujuan normalitas KGD. Mekanisme kompensasi yang terus

menerus menyebabkan kelelahan sel beta pankreas (exhaustion), kondisi ini

disebut dekompensasi dimana produksi insulin menurun secara absolut.

Resistensi dan penurunan produksi insulin menyebabkan peningkatan KGD.

Kondisi ini memenuhi kriteria diagnostik DM (Strasinger SK, 2008).

6
BAB III

METODE PRAKTIKUM

3.1 Tempat Dan Waktu

Pelaksanaan praktikum Kimia Klinik 1 Tentang Pemeriksaan Glukosa

Urin Dilaksanakan Pada Hari Rabu, 2 Oktober 2019. Tempat Pelaksanaan

Praktikum Dilaksanakan Di Labolatorium Kimia. Sekolah Tinggi Ilmu

Kesehatan (STIKES) Bina Mandiri Gorontalo.

3.2 Alat Dan Bahan

Pada praktikum kimia klinik 1 adapun alat dan bahan yang digunakan

yaitu :

a. Alat

1. Tabung Reaksi

2. Rak Tabung Reaksi

3. Bunsen

4. Penjepit Tabung

5. Pipet Pasteur

b. Bahan

1. Urin Sewaktu

2. Fehling A

3. Fehling B

7
3.3 Prosedur Kerja

Adapun prosedur kerja metode fehling, sebagai berikut :

1. Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan

2. Masukan reagen fehling A dan B masing-masing 1 ml ke dalam tabung

reaksi dan homogenkan

3. Pipet 1 ml campuran reagen fehling ke tabung reaksi lainnya

4. Tambahkan 8 tetes urin, homogenkan

5. Lakukan pemanasan diatas api bunsen selama 30 detik

6. Amati perubahan yang terjadi

8
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Hasil dari praktikum yang telah dilakukan, yaitu sebagai berikut:

No Metode Gambar Keterangan hasil

1 Fehling NEGATIF (-)

Tabel 4.1 Hasil Pemeriksaan Glukosa Urin


Sumber : Data Primer, 2019
4.2 Pembahasan

Glukosuria atau biasa disebut kencing manis adalah keadaan abnormal

dimana gula (glukosa) diekskresikan ke dalam urin. Dalam urin yang normal

tidak ditemukan glukosa karena pada tubulus ginjal akan dilakukan proses

reabsorpsi molekul glukosa untuk kembali masuk ke dalam sirkulasi darah.

Hal ini terjadi ketika glukosa darah meningkat dan konsentrasi glukosa di

dalam plasma melebihi ambang batas ginjal atau dapat juga diakibatkan

karena tubulus kehilangan kemampuan mereabsorpsi (Dorland, 2011).

Pankreas adalah kelenjar penghasil insulin, didalamnya terdapat

kumpulan sel yang berbentuk seperti pulau dalam peta, sehingga disebut

pulau-pulau langerhans pankreas. Pulau-pulau ini berisi sel alpa yang

9
menghasilkan hormon glukagon dan sel beta yang menghasilkan insulin.

Kedua hormon ini bekerja berlawanan, glukagon meningkatkan glukosa darah

sedangkan insulin bekerja menurunkan kadar glukosa darah (Restrepo B I,

2013).

Di dalam darah, kadar glukosa darah selalu fluktuatif bergantung pada

asupan makanan. Kadar paling tinggi tercapai pada satu jam setelah makan.

Satu jam setelah makan, glukosa di dalam darah akan mencapai kadar paling

tinggi, normalnya tidak melebihi 180 mg per 100 cc darah (180 mg/dl). Kadar

180 mg/dl disebut ambang ginjal dimana ginjal bisa menahan gula pada kadar

tersebut. Lebih dari angka tersebut ginjal tidak dapat menahan gula dan

kelebihan gula akan keluar bersama urin (Musrifatul, 2008).

10
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Glukosuria atau biasa disebut kencing manis adalah keadaan abnormal

dimana gula (glukosa) diekskresikan ke dalam urin. Pankreas adalah kelenjar

penghasil insulin, didalamnya terdapat kumpulan sel yang berbentuk seperti

pulau dalam peta, sehingga disebut pulau-pulau langerhans pankreas

5.2 Saran

Saran pada praktikum selanjutnya yaitu agar kiranya seorang

mahasiswa lebih teliti lagi melakukan pemeriksaan sampel.

11
DAFTAR PUSTAKA

Djakani, H., V. 2013. Jurnal Gambaran kadar glukosa darah puasa pada laki-
laki usia 40-59 tahun. J. Biomed. 1 (1) :

Dorland, W.A. Newman, 2011. Kamus saku Kedokteran Dorland, Penerbit buku
kedokteran, EGC: Jakarta

Musrifatul. 2008, Keterampilan Dasar Praktek Klinik , SalembaMedika:Jakarta.

Nazir, M. 1988. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia. Jakarta

Pinoa P A,2013. Journal Dipstick urinalysis for diabetes screening in TB patients.

The Royal Society of Tropical Medicine & Hygiene.

Strasinger SK, 2008. Journal Urinalysis and body fluids. 5th ed. Philadelphia:

F.A. Davis.

12