Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sampai saat ini penyakit diare atau juga sering disebut gastroenteritis,
masih merupakan salah satu masalah kesehatan utama dari masyarakat di
Indonesia. Dari daftar urutan penyebab kunjungan Poliklinik Rumah Sakit/
Puskesmas/Balai Pengobatan, hampir selalu termasuk dalam kelompok 3
penyebab kunjungan ke sarana kesehatan tersebut. Angka kesakitannya adalah
200-400 kejadian diare diantara 1000 penduduk setiap tahunnya. Dengan
demikian di Indonesia diperkirakan ditemukan penderita diare sekitar 60 juta
kejadian setiap tahunnya, dan sebagian besar (70-80%) dari penderita
iniadalah anak dibawah umur 5 tahun. Kelompok ini setiap tahunnya
mengalami lebih dari satu kali kejadian diare. Sebagian dari penderita (1-2%)
akan jatuh kedalam dehidrasi dan kalau tidak segera ditolong 50-60%
diantaranya dapat meninggal (Suraatmadja, 2005).
Hippocrates mendefinisikan diare sebagai pengeluaran tinja yang tidak
normal dan cair. Di Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM, diare
diartikan sebagai buang air besar yang tidak normal atau bentuk tinja yang
encer dengan frekuensi lebih banyak dari biasanya. Apabila tidak diatasi maka
akan menimbulkan dehidrasi atau kehilangan cairan dan elektrolit yang
berlebihan sehingga menyebabkan kematian (Hasan, 2007).
Dehidrasi terjadi bila hilangnya cairan dan elektrolit ini tidak diganti
secara adekuat, sehingga timbul kekurangan cairan dan elektrolit.Derajat
dehidrasidiklasifikasikan sesuai dengan gejala dan tanda yang mencerminkan
jumlah cairan yang hilang (WHO, 2008). Berbagai upaya penanganan, baik
secara medik maupun upaya perubahan tingkah laku dengan melakukan
pendidikan kesehatan terus dilakukan. Namun upaya-upaya tersebut belum
memberikan hasil yang menggembirakan.Setiap tahun penyakit ini masih
menduduki peringkat atas, khususnya di daerah-daerah miskin.
Oleh karena banyaknya masalah yang di alami pada bayi dan anak maka
penulis membahas tentang anak dengan penyakit diare serta bagaimana
penanganannya.

1
2

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Mahasiswa mampu memberikan asuhan kebidanan pada anak dengan
Diare dengan menggunakan pola pikir asuhan kebidanan Varney serta
mendokumentasikannya dalam SOAP.

1.2.2 Tujuan Khusus


a. Mampu melaksanakan pengkajian data subjektif dan objektif pada
anak dengan diare.
b. Mampu menganalisa data untuk menentukan diagnosa dan masalah
aktual pada anak dengan diare.
c. Mampu mengembangkan rencana tindakan asuhan kebidanan secara
menyeluruh sesuai kebutuhan pada anak dengan diare.
d. Mampu melaksanakan rencana tidakan asuhan kebidanan yang
menyeluruh sesuai kebutuhan pada anak dengan diare.
e. Mampu melakukan evaluasi hasil tindakan asuhan kebidanan yang
dilakukan pada anak dengan diare.

1.3 Manfaat
Mahasiswa dapat melakukan asuhan kebidanan pada anak dengan diare di Poli
Anak RSU Haji Surabaya.

1.4 Waktu dan Tempat Pelaksanaan


Laporan ini disusun berdasarkan praktek klinik yang dilaksanakan di Poli
Anak RSU Haji Surabaya mulai tanggal 7-26 September 2015.

1.5 Sistematika Penulisan

BAB 1 Pendahuluan
Menguraikan tentang latar belakang, tujuan penulisan, waktu dan
tempat pelaksanaan, serta sistematika penulisan.
BAB 2 Landasan Teori
3

Menjelaskan konsep dasar diare dan konsep dasar asuhan


kebidanan pada anak dengan diare.
BAB 3 Tinjauan Kasus
Merupakan tinjauan kasus asuhan kebidanan pada anak dengan
diare.
BAB 4 Pembahasan
Membandingkan antara kasus dengan konsep teori yang telah
dibuat.
BAB 5 Penutup
Berisi kesimpulan dan saran.
Daftar Pustaka

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Diare


2.1.1 Pengertian
1) Diare adalah buang air besar lebih dari 3 kali dengan konsistensi cair
(WHO, 2008).
2) Diare diartikan sebagai buang air besar yang tidak normal atau bentuk
tinja yang encer dengan frekuensi lebih banyak dari biasanya.
4

Neonatus dinyatakan diare bila frekuensi BAB lebih dari 4 kali


sedangkan untuk bayi berumur lebih dari 1 bulan dan anak, bila
frekuensinya lebih dari 3 kali (Hasan, 2007).

2.1.2 Etiologi
1) Faktor infeksi
 Infeksi enteral; infeksi saluran pencernaan yang merupakan
penyebab utama diare, meliputi:
 Infeksi bakteri (Vibrio, E. Coli, Salmonella, Shigella,
Campylobacter, Yersinia, Aeromonas, dsb)
 Infeksi virus (Enterovirus, Adenovirus, Rotavirus, Astrovirus,
dll)
 Infeksi parasit (E. Hystolytica, G. Lamblia, T. Hominis)
 Infeksi jamur (C. Albicans)
 Infeksi parenteral; merupakan infeksi di bagian tubuh lain di luar
sistem pencernaan yang dapat menimbulkan diare seperti: otitis
media akut (OMA), tonsilitis, bronkopneumonia, ensefalitis dan
sebagainya.
2) Faktor Malabsorbsi
 Malabsorbsi karbohidrat: disakarida (intoleransi laktosa, maltosa
dan sukrosa), monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa dan
galaktosa). Intoleransi laktosa merupakan penyebab diare yang
terpenting pada bayi dan anak.
 Malabsorbsi lemak
 Malabsorbsi protein
3) Faktor Makanan
Diare dapat terjadi karena mengkonsumsi makanan basi, beracun dan
alergi terhadap jenis makanan tertentu.
4) Faktor Psikologis
Diare dapat terjadi karena faktor psikologis (rasa takut dan cemas).
(Hasan, Rusepno dan Husein Alatas, 2007).
Selain kuman, ada beberapa perilaku yang dapat meningkatkan resiko
terjadinya diare (Nursalam, 2005), yaitu:
 Tidak memberikan ASI secara penuh untuk 4-6 bulan pertama dari
kehidupan
 Menggunakan botol susu yang tidak bersih
 Menyimpan makanan masak pada suhu kamar
 Air minum tercemar dengan bakteri tinja
5

 Tidak mencuci tangan sesudah buang air besar, sesudah membuang


tinja atau sebelum menjamah makanan
 Kebersihan perorangan dan lingkungan yang jelek

2.1.3 Jenis-Jenis Diare


Penatalaksanaan diare bergantung pada jenis klinis penyakitnya, yang
dengan mudah ditentukan saat anak pertama kali sakit.Pemeriksaan
laboratorium tidak diperlukan. Empat jenis klinis diare antara lain:
1) Diare akut bercampur air (termasuk kolera) yang berlangsung selama
beberapa jam/hari.Bahaya utamanya adalah dehidrasi juga penurunan
berat badan jika tidak diberikan makan/minum.
2) Diare akut bercampur darah (disentri).Bahaya utama adalah
kerusakan usus halus (intestinum), sepsis (infeksi bakteri dalam
darah) dan malnutrisi (kurang gizi), dan komplikasi lain termasuk
dehidrasi.
3) Diare persisten (berlangsung selama 14 hari atau lebih lama).Bahaya
utama adalah malnutrisi (kurang gizi) dan infeksi serius di luar usus
halus, dehidrasi juga bisa terjadi.
4) Diare dengan malnutrisi berat (marasmus atau kwashiorkor).Bahaya
utama adalah infeksi sistemik (menyeluruh) berat, dehidrasi, gagal
jantung, serta defisiensi (kekurangan) vitamin dan mineral.

Berdasarkan onset terjadinya, diare dibedakan menjadi:


1) Diare akut: merupakan peningkatan frekuensi BAB dan perubahan
dalam konsistensi feses yang terjadi secara tiba-tiba, seringkali
diakibatkan oleh agen infeksius dalam saluran pencernaan.
2) Diare kronik: didefinisikan sebagai peningkatan dalam frekuensi
BAB dan air dalam feses dengan durasi lebih dari 14 hari, biasanya
disebabkan oleh kondisi kronis seperti sindrom malabsorbsi, penyakit
inflamasi saluran cerna, penuruna imunitas, alergi makanan,
intoleransi laktosa, diare non spesifik (Whaley & Wong, 2000).

2.1.4 Patofisiologi
Mekanisme dasar yang menyebabkan terjadinya diare adalah:
1) Gangguan osmotik
Adanya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan
menyebabkan tekanan osmotik dalam lumen usus meningkat sehingga
terjadi pergeseran air dan elektrolit ke dalam lumen usus. Isi rongga
6

usus yang berlebihan akan merangsang usus untuk mengeluarkannya


sehingga timbul diare.
2) Gangguan sekresi
Akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan
terjadi peningkatan sekresi, air dan elektrolit ke dalam lumen usus
dan selanjutnya timbul diare kerena peningkatan isi lumen usus.
3) Gangguan motilitas usus
Hiperperistaltik akan menyebabkan berkurangnya kesempatan usus
untuk menyerap makanan sehingga timbul diare. Sebaliknya bila
peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh
berlebihan, selanjutnya dapat timbul diare pula.
(Hasan, Rusepno dan Husein Alatas, 2007).
7

Patogenesis diare akut menurut Hasan, Rusepno dan Husein Alatas


(2007) adalah:
1) Masuknya jasad renik yang masih hidup kedalam usus halus setelah
berhasil melewati rintangan asam lambung.
2) Jasad renik tersebut berkembang biak (multiflikasi) di dalam usus
halus.
3) Oleh jasad renik dikeluarkan toksin (Toksin diaregenik).
8

4) Akibat toksin tersebut terjadi hipersekresi yang selanjutnya akan


menimbulkan diare.
Patogenesis diare kronis lebih kompleks dan faktor-faktor yang
menimbulkannya ialah infeksi bakteri, parasite, malabsorbsi, malnutrisi,
dan lain-lain.

2.1.5 Manifestasi Klinis


Mula-mula pasien cengeng, gelisah, suhu tubuh biasanya meningkat,
nafsu makan berkurang atau tidak ada, kemudian timbul diare.Tinja cair
mungkin disertai ledir atau lendir dan darah.Warna tinja makin lama
berubah kehijau-hijauan karena bercampur dengan empedu. Anus dan
sekitarnya timbul lecet karena sering defekasi dan tinja makin lama
makin asam sebagai akibat makin banyak asam laktat yang berasal dari
laktose yang tidak diabsorbsi oleh usus selama diare.
Gejala muntah sebelum dan sesudah diare dan dapat menyebabkan
lambung juga turut meradang, atau akibat gangguan asam basa dan
elektrolit. Timbul dehidrasi akibat kebanyakan kehilangan cairan dan
elektrolit.Gejala dehidrasi mulai nampak yaitu berat badan menurun,
turgor berkurang, mata dan ubun-ubun besar menjadi cekung (pada
bayi), selaput lendir bibir dan mulut serta kulit tampak kering.Akibat
dehidrasi diuresis berkurang (oliguri sampai anuri). Bila sudah asidosis
metabolis, pasien akan tampak pucat dengan pernapasan cepat dan
dalam (kussmaul).

Penilaian Dehidrasi Ringan Dehidrasi Berat


Sedang

- Keadaan umum Gelisah, rewel Apatis / somnolen


- Mata Cekung Sangat cekung dan
kering
- Air mata Kurang Tidak ada
- Ubun-ubun besar Cekung Sangat cekung
- Rasa haus Sangat haus, ingin Tidak mau minum
minum banyak
- Turgor Kembali lambat Kembali sangat
lambat
9

- Diuresis Oliguria Anuri


- Mulut dan lidah Kering Sangat kering
- Nadi Cepat Sangat cepat
- Pernapasan Cepat Cepat dan dalam
- % Kehilangan BB 5 – 10 % > 10 %
- Tafsiran kehilangan 60 – 80 ml/kgBB 80 – 110 ml/kgBB
cairan
Sumber: http://dokmud.wordpress.com/xmlrpc.php

2.1.6 Komplikasi
Akibat diare dan kehilangan cairan serta elektrolit secara mendadak
dapat terjadi berbagai komplikasi sebagai berikut:
1) Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonik, atau hipertonik).
2) Renjatan hipovolemik.
3) Hipokalemia (gejala meteorismis, hipotoni otot lemah, bradikardi, dan
perubahan pada elektrokardiogram).
4) Intoleransi laktosa sekunder akibat defisiensi enzim lactose karena
kerusakan vili mukosa usus halus.
5) Hipoglikemia.
6) Kejang terjadi pada dehidrasi hipertonik.
7) Malnutrisi energi protein akibat muntah dan diare yang lama atau
kronik.
(Hasan, Rusepno dan Husein Alatas, 2007).

2.1.7 Pemeriksaan Penunjang


1) Pemeriksaan tinja
 Makroskopis dan mikroskopis,
 pH dan kadar gula dalam tinja dengan kertas lakmus dan tablet
clinitestjika diduga ada intoleransi gula (sugar intolerance).
 Biakan kuman untuk mencari kuman penyebab dan uji resistensi
terhadap berbagai antibiotika (pada diare persisten).
2) Pemeriksaan darah; darah perifer lengkap, analisis gas darah dan
elektrolit (terutama Na, K, Ca, dan P serum) pada diare yang disertai
kejang.
3) Pemeriksaan kadar ureum dan kretinin untuk mengetahui faal ginjal.
4) Pemeriksaan intubasi duodenum untuk mengetahui kuman penyebab
secara kuantitatif dan kualitas terutama pada diare kronik.
(Hasan, Rusepno dan Husein Alatas, 2007).
10

2.1.8 Pencegahan
Pencegahan diare bisa dilakukan dengan mengusahakan lingkungan
yang bersih dan sehat:
1) Usahakan untuk selalu mencuci tangan sebelum menyentuh makanan.
2) Usahakan pula menjaga kebersihan alat-alat makan.
3) Sebaiknya air yang diminum memenuhi kebutuhan sanitasi standar di
lingkungan tempst tinggal.
4) Air dimasak benar-benar mendidih, bersih, tidak berbau, tidak
berwarna dan tidak berasa.
5) Tutup makanan dan minuman yang disediakan di meja.
6) Setiap kali habis pergi usahakan selalu mencuci tangan, kaki, dan
muka.
7) Biasakan anak untuk makan di rumah dan tidak jajan di sembarangan
tempat. Kalau bisa membawa makanan sendiri saat ke sekolah.
8) Buatlah sarana sanitasi dasar yang sehat di lingkungan tempat tinggal,
seperti air bersih dan jamban/WC yang memadai.
9) Pembuatan jamban harus sesuai persyaratan sanitasi standar.
Misalnya, jarak antara jamban (juga jamban tetangga) dengan sumur
atau sumber air sedikitnya 10 meter agar air tidak terkontaminasi.
Dengan demikian, warga bisa menggunakan air bersih untuk
keperluan sehari-hari, untuk memasak, mandi, dan sebagainya.

2.1.9 Pengobatan
Menurut Hasan, Rusepno dan Husein Alatas (2007), dasar pengobatan
diare ada 3, yaitu:
1) Pemberian cairan dan elektrolit
 Jenis cairan
 Peroral : oralit.
 Parenteral : ringer laktat, ringer acetat, larutan normal salin.
 Jalan pemberian cairan
 Peroral untuk dehidrasi ringan, sedang dan tanpa dehidrasi dan
bila anak mau minum serta kesadaran baik.
 Intragastrik untuk dehidrasi ringan, sedang dan tanpa dehidrasi,
tetapi anak tidak mau minum, atau kesadaran menurun.
 Intravena untuk dehidrasi berat.
 Volume cairan
 Tanpa dehidrasi
Cairan rumah tangga dan ASI diberikan semaunya, oralit
diberikan sesuai usia setiap kali buang air besar atau muntah,
dengan dosis:
11

 Kurang dari 1 tahun : 50-100 cc


 1-5 tahun : 100-200 cc
 Lebih dari 5 tahun : semaunya

2) Dietetik (pemberian makanan)


 Untuk anak dibawah 1 tahun dan anak diatas 1 tahun dengan berat
badan kurang dari 7 kg, jenis makanan:
 Susu (ASI dan atau susu formula yang mengandung laktosa
rendah dan asam lemak tidak jenuh, misalnya LLM, Almiron).
 Makanan setengah padat (bubur susu) atau makanan padat (nasi
tim).
 Susu khusus yaitu susu yang tidak mengandung laktosa atau
susu dengan asam lemak berantai sedang/tidak jenuh, sesuai
dengan kelainan yang ditemukan.
 Untuk anak diatas 1 tahun dengan berat badan lebih dari 7 kg, jenis
makanan:
 Makanan padat atau makanan cair/susu sesuai dengan kebiasaan
makan dirumah.
3) Obat-obatan (medikamentosa)
 Tidak boleh diberikan obat antidiare.
 Antibiotik sesuai hasil pemeriksaan penunjang. Sebagai pilihan
adalah Kotrimoksazol, Amoksisilin dan atau sesuai hasil uji
sensitivitas.
 Antiparasit: Metronidazol.

2.2 Konsep Dasar Asuhan Kebidanan Pada Anak dengan Diare


2.2.1 Pengkajian Data
1. Data subjektif
a. Identitas
Perlu diperhatikan adalah usia. Episode diare terjadi pada 2 tahun
pertama kehidupan.Insiden paling tinggi adalah golongan umur
6-11 bulan. Kebanyakan kuman usus merangsang kekebalan
terhadap infeksi, hal ini membantu menjelaskan penurunan
insidence penyakit pada anak yang lebih besar. Pada umur 2
tahun atau lebih imunitas aktif mulai terbentuk. Kebanyakan
kasus karena infeksi usus asimptomatik dan kuman enteric
menyebar terutama klien tidak menyadari adanya infeksi. Status
ekonomi juga berpengaruh terutama dilihat dari pola makan dan
perawatannya .
12

b. Keluhan utama
Yang sering dikeluhkan oleh ibu pada bayinya, yaitu bayinya
cengeng, gelisah, suhu tubuh meningkat, tidak mau
makan,kemudian timbul diare.
c. Riwayat imunisasi
Apakah imunisasi anak sudah lengkap atau belum.
d. Riwayat penyakit sekarang
Tanda dan gejala diare seperti feces semakin cair,muntah,bila
kehilangan banyak air dan elektrolit terjadi gejala dehidrasi,berat
badan menurun.Sedangkan pada bayi ubun-ubun besar
cekung,tonus dan turgor kulit berkurang,selaput lendir mulut dan
bibir kering, frekuensi BAB lebih dari 4 kali dengan konsistensi
encer (Greenberg, C.Smith,1992).
e. Riwayat penyakit terdahulu
Pernah mengalami diare sebelumnya, pemakian antibiotik atau
kortikosteroid jangka panjang (perubahan candida albicans dari
saprofit menjadi parasit), alergi makanan, ISPA, ISK, OMA
campak.
f. Riwayat penyakit keluarga
Ada salah satu keluarga yang mengalami diare.
g. Riwayat kesehatan lingkungan
Menyimpan makanan masak pada suhu kamar, air minum
tercemar dengan bakteri tinja, menggunakan botol susu yang
tidak bersih, kebersihan perorangan dan lingkungan yang jelek
(Nursalam, 2005).

h. Riwayat psikososial keluarga


Dirawat akan menjadi stressor bagi anak itu sendiri maupun bagi
keluarga,kecemasan meningkat jika orang tua tidak mengetahui
prosedur dan pengobatan anak,setelah menyadari penyakit
anaknya,mereka akan bereaksi dengan marah dan merasa
bersalah (Greenberg, C.Smith,1992).
i. Riwayat psikologis pasien
Diare dapat terjadi karena faktor psikologis (rasa takut dan
cemas) (Hasan, Rusepno dan Husein Alatas, 2007).
j. Kegiatan sehari-hari
 Pola nutrisi
13

Diare dapat terjadi karena mengkonsumsi makanan basi,


beracun dan alergi terhadap jenis makanan tertentu(Hasan,
Rusepno dan Husein Alatas, 2007).
 Pola aktivitas
Akan terganggu karena kondisi tubuh yang lemah dan adanya
nyeri akibat distensi abdomen.
 Pola tidur dan istirahat
Akan terganggu karena adanya distensi abdomen yang akan
menimbulkan rasa tidak nyaman.
 Pola eliminasi
BAB yang tidak normal atau bentuk tinja yang encer dengan
frekuensi lebih banyak dari biasanya. Neonatus dinyatakan
diare bila frekuensi BAB lebih dari 4 kali sedangkan untuk
bayi berumur lebih dari 1 bulan dan anak, bila frekuensinya
lebih dari 3 kali (Hasan, Rusepno dan Husein Alatas, 2007).
 Personal hygiene
Menggunakan botol susu yang tidak bersih, menyimpan
makanan masak pada suhu kamar, air minum tercemar
dengan bakteri tinja, tidak mencuci tangan sesudah buang air
besar atau sebelum menjamah makanan, kebersihan
perorangan dan lingkungan yang jelek (Nursalam, 2005).
2. Data objektif
a. Pemeriksaan Umum
Keadaan umum tampak lemah,kesadaran composmentis sampai
koma, pernafasan cepat > 40 x/mnt karena asidosis metabolic
(kontraksi otot pernafasan),nadi cepat > 120 x/mnt dan lemah,
tensi menurun pada diare sedang, suhu meningkat > 375 0 c, akral
hangat (akral dingin waspada syok).
Pengukuran panjang badan, berat badan menurun, lingkar lengan
mengecil, lingkar kepala, lingkar abdomen membesar.
b. Pemeriksaan Fisik (Hasan, Rusepno dan Husein Alatas, 2007)
 Kepala : ubun-ubun besar cekung (kurang dari 1 tahun)
 Muka : agak pucat
 Mata : mata cekung dan kering
 Telinga : simetris, tidak ada pengeluaran
 Mulut : membrane mukosa mulut dan bibir kering
 Dada : tidak ada tarikan dinding, tidak ada wheezing
 Abdomen: ada distensi abdomen, ada bising usus
 Integument: turgor jelek (>2 detik)
14

 Ekstremitas: pergerakan kurang aktif


 Anus : kemerahan
Penilaian dehidrasi:
Penilaian Dehidrasi Ringan Dehidrasi Berat
Sedang

- Keadaan umum Gelisah, rewel Apatis / somnolen


- Mata Cekung Sangat cekung dan
kering
- Air mata Kurang Tidak ada
- Ubun-ubun besar Cekung Sangat cekung
- Rasa haus Sangat haus, ingin Tidak mau minum
minum banyak
- Turgor Kembali lambat Kembali sangat
lambat
- Diuresis Oliguria Anuri
- Mulut dan lidah Kering Sangat kering
- Nadi Cepat Sangat cepat
- Pernapasan Cepat Cepat dan dalam
- % Kehilangan BB 5 – 10 % > 10 %
- Tafsiran kehilangan 60 – 80 ml/kgBB 80 – 110 ml/kgBB
cairan
Sumber: http://dokmud.wordpress.com/xmlrpc.php
c. Pemeriksaan penunjang
 Laboratorium
 feses kultur : Bakteri, virus, parasit, candida
 Serum elektrolit : Hiponatremi, Hipernatremi, hipokalemi
 AGD : asidosis metabolic ( Ph menurun, pO2 meningkat,
pcO2 meningkat, HCO3 menurun )
 Faal ginjal : UC meningkat (GGA)
 Radiologi: mungkin ditemukan bronchopneumoni

2.2.2 Diagnosa Keperawatan


1. Kurangnya volume cairan berhubungan dengan seringnya buang air
besar dan encer
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
menurunnya intake dan menurunnya absorbs makanan dan cairan
3. Hipertermi berhubungan dengan infeksi ditandai dengan kerusakan
pada mukosa usus
4. Resiko gangguan integritas kulit ditandai dengan kemerahan
disekitar anus
5. Gangguan tidur berhubungan dengan rasa nyaman ditandai dengan
sering defekasi
15

6. Cemas berhubungan dengan kondisi pada anak


7. Kurangnya pengetahuan orang tua berhubungan dengan kurangnya
informasi.

2.2.3 Fokus Intervensi


1. Diagnosa : Kurangnya volume cairan berhubungan dengan
seringnya buang air besar dan encer

Tujuan : Keseimbangan cairan dapat dipertahankan dalam batas


normal

Hasil yang diharapkan :


a.Pengisian kembali kapiler < 2 detik
b. Turgor elastik
c.Membran mukosa lembab
d. Berat badan tidak menunjukkan perubahan

Intervensi :
- Kaji intake dan output, otot da observasi frekuensi
2. Diagnosa : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan menurunnya intake dan menurunnya absorbs
makanan dan cairan
3. Diagnosa : Hipertermi berhubungan dengan infeksi ditandai
dengan kerusakan pada mukosa usus
4. Diagnosa : Resiko gangguan integritas kulit ditandai dengan
kemerahan disekitar anus
5. Diagnosa : Gangguan tidur berhubungan dengan rasa nyaman
ditandai dengan sering defekasi
6. Diagnosa : Cemas berhubungan dengan kondisi pada anak
7. Diagnosa : Kurangnya pengetahuan orang tua berhubungan
dengan kurangnya informasi.

Mengidentifikasi diagnosa dan masalah potensial yang mungkin terjadi


berdasarkan diagnosa/masalah yang berkelanjutan. Diagnosa dan
masalah yang muncul pada diare yaitu : dehidrasi (ringan, sedang, berat),
malnutrisi gizi buruk, kejang.

2.2.4 Identifikasi Kebutuhan Tindakan Segera


16

Mengidentifikasi kebutuhan segera yang diperlukan oleh pasien untuk


menghindari hal-hal yang dapat mengancam jiwa pasien sehingga harus
dengan segera dikonsultasikan, kolaborasi atau rujukan dengan anggota
tim kesehatan yang lain.

2.2.5 Perencanaan
1. Anjurkan keluarga untuk beri klien minum yang banyak (LGG, oralit
atau pedyalit 10 cc/kg BB/BAB).
R/ Kandungan Na, K dan glukosa dalam LGG, oralit dan pedyalit
mengandung elektrolit sebagai ganti cairan yang hilang secara peroral.
2. Melakukan kolaborasi dalam pemberian terapi obat - obatan
(antisekresi, antispasmolitik dan antibiotik).
R/ Antisekresi berfungsi untuk menurunkan sekresi cairan dan
elektrolit untuk keseimbangannya. Antispasmolitik berfungsi untuk
proses absrobsi normal. Antibiotik sebagai antibakteri berspektrum luas
untuk menghambat endoktoksin.
3. Diskusikan dan jelaskan tentang pembatasan diet (makanan yang
berserat tinggi, berlemak dan air panas atau dingin).
R/ Makanan ini dapat merangsang atau mengiritasi saluran usus.
4. Timbang BB setiap hari.
R/ Perubahan berat badan yang menurun menggambarkan peningkatan
kebutuhan kalori, protein dan vitamin.
5. Ciptakan lingkungan yang menyenagkan selama waktu makan dan
bantu sesuai dengan kebutuhan.
R/ Nafsu makan dapat dirangsang pada situasi rileks dan
menyenangkan.
6. Diskusikan dan jelaskan tentang pentingnya makanan yang sesuai
dengan kesehatan dan peningkatan daya tahan tubuh.
R/ Makanan sebagai bahan yang dibutuhkan tubuh untuk proses
metabolisme dan katabolisme serta peningkatan daya tahan tubuh
terutama dalam keadaan sakit. Penjelasan yang diterima dapat
membuka jalan pikiran untuk mencoba dan melaksanakan apa yang
diketahuinya.
17

7. Menganjurkan keluarga untuk mengganti pakaian bawah yang basah.


R/ Kelembaban dan keasaman faeces merupakan faktor pencetus
timbulnya iritasi. Untuk itu pengertian akan mendorong keluarga untuk
mengatasi masalah tersebut.
8. Pertahankan pencucian tangan yang benar.
R/ mengurangi resiko penyebaran infeksi.
9. Anjurkan agar rutin minum obat.
R/ peran orang tua sangat penting untuk mengawasi dan membantu
anak dalam minum obat. Minum obat secara rutin dapat mendukung
penyembuhan yang optimal.
10. Jelaskan tanda-tanda dehidrasi pada orang tua klien.
R/ Orang tua sebagai orang yang terdekat dengan anak harus memiliki
pengetahuan yang lebih mengenai tanda-tanda dehidrasi yang dialami
oleh anak. Penanganan yang cepat dan tanggap dalam kasus anak diare
dapat mencegah terjadinya komplikasi. Tanda-tanda dehidrasi pada
anak yang perlu diketahui orang tua, yaitu:

Klasifikasi Tanda dan Gejala


Tak ada tanda dan gejala dehidrasi:
Tak ada dehidrasi
 Keadaan umum baik, sadar

 Tanda vital (tekanan darah, suhu,nadi,


pernapasan) dalam batas normal
Dua atau lebih tanda-tanda berikut:
Dehidrasi tak
berat  Gelisah/rewel
 Mata cekung
 Air mata kurang
 Haus (minum banyak)
 Mulut dan bibir sedikit kering
 Cubitan kulit perut kembali lambat

 Tangan dan kaki hangat


Dua atau lebih tanda-tanda berikut:
Dehidrasi berat
 Kondisi umum lemas
 Kesadaran menurun-tidak sadar
 Mata cekung
 Air mata tidak ada
18

 Tidak mampu untuk minum/ minum lemah


 Mulut dan bibir kering
 Cubitan kulit perut kembali sangat lambat (≥ 2
detik)

 Tangan dan kaki dingin.

2.2.6 Implementasi
Tindakan yang dilakukan bidan dalam memberikan asuhan sesuai
dengan perencanaan yang sudah disusun sesuai dengan diagnosa dan
kondisi pasien.

2.2.7 Evaluasi
Langkah terakhir yang digambarkan dalam menajemen kebidanan yang
bertujuan mengetahui sejauh mana keberhasilan tindakan dan asuhan
yang telah dilakukan.