Anda di halaman 1dari 19

KEPERAWATAN GAWAT DARURAT

LAPORAN PENDAHULUAN KANKER RONGGA MULUT


DI RUANG INTENSIF CARE UNIT
RSUP SANGLAH DENPASAR

Oleh:
NI KADEK DIAH WIDIASTITI KUSUMAYANTI
NIM. 1902621006

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN DAN PROFESI NERS


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2019
A. KONSEP DASAR PENYAKIT
1. DEFINISI

Menurut WHO, kanker adalah istilah umum untuk satu kelompok besar penyakit yang
dapat mempengaruhi setiap bagian dari tubuh. Istilah lain yang digunakan adalah tumor
ganas dan neoplasma. Salah satu fitur mendefinisikan kanker adalah pertumbuhan sel-sel
baru secara abnormal yang tumbuh melampaui batas normal, dan yang kemudian dapat
menyerang bagian sebelah tubuh dan menyebar ke organ lain. Proses ini disebut
metastasis. Metastasis merupakan penyebab utama kematian akibat kanker (WHO, 2009).

Menurut Lippincott dan wilkins (2012), pengertian kanker rongga mulut adalah tumor
ganas yang mulai muncul pada mulut yang melibatkan beberapa jenis jaringan dan sel
sehingga mengakibatkan berbagai jenis kanker.

Sedangkan kanker rongga mulut adalah kegananasan yang terjadi didalam rongga yang
dibatasi vermilion bibir dibagian depan dan arkus faringeus anterior dibagian belakang.
Kanker rongga mulut meliputi kanker bibir gingival, lidah, bukal, dasar mulut, palatum,
dan arkus faringeus anterior ( Muttaqin, 2011 ).

Kanker rongga mulut merupakan tumor ganas dalam rongga mulut yang tumbuh secara
cepat dan menginvasi jaringan sekitar, berkembang sampai daerah endontel, dan dapat
bermetastasis ke bagian tubuh yang lain dan sering asimtomatik pada tahap awal.

2. EPIDEMIOLOGI

Cancer oral cavity atau yang lebih dikenal dengan kanker rongga mulut merupakan
gabungan beberapa kanker dari bagian-bagian dalam rongga mulut. Diantara kanker
rongga mulut (KRM) yang paling sering diketemukan adalah kanker lidah (25-45%),
terutama pada bagian lateral sepertiga tengah (40-75%) dengan histopalogi berupa
karsinoma sel skuamosa (epidermoid) jenis well differentiated dan 60% nya sudah
mencapai stadium lanjut (Levine, 2001).
Secara global, insiden ini menduduki tempat nomor 4 untuk laki-laki dan nomer 6 untuk
perempuan. Kanker mulut berhubungan dengan usia yang dijumpai pada usia lebih dari
40 tahun dan semakin meningkat dengan bertambahnya usia. Penyakit kanker bibir dan
mulut menurun pada laki-laki yang berkulit putih dan meningkat pada laki-laki kulit
hitam serta perempuan.
3. ETIOLOGI
Eiologi dari kanker rongga mulut adalah :
a. Multifaktor
Bersifat multifaktor karena erat kaitannya dengan gaya hidup, umumnya
kebiasaan gaya hidup, umunya kebiasaan hidup dan diet (terutama tembakau atau
tembakau yang digunakan dalam sirih, dan penggunaan alkohol), meskipun faktor
lain seperti bahan infeksius, kerusakan metabolisme karsinogen, kerusakan enzim
yang memperbaiki DNA yang rusak dan kombinasi faktor-faktor ini juga berperan
dalam terjadinya kanker rongga mulut.
b. Pajaan sinar matahari
Merupakan faktor presdiposisi kanker bibir efek dari sinar ultraviolet.
c. Mutasi Gen
Mutasi gen supresor tumor (TSGs) yang mengontrol pertumbuhan sel . mutasi
TSGs berkaitan dengan sitokrom P450 yang berperan dalam karsinogenesis
karsinoma rongga mulut. Perubahan TSGs dan onkogen dapat merusak kontrol
pertumbuhan sel menjadi pertumbuhan kanker yang tak terkontrol.
d. Alkohol
Penggunaan alkohol berat merupakan faktor risiko terkena kanker mulut.
Penggunaan alkohol terbukti mengalami peningkatan risiko terkena kanker rongga
mulut karena alkohol mengandung karsinogen atau prokarsinogen , termasuk
kontaminan dari nitrosamin dan uretan selain etanol. Etanol dimetabolisme oleh
alkohol-dehidrogenase dan oleh sitokrom P450 menjadi asetalhedid yang bersifat
karsinogen.
e. Tembakau dan alkohol
Alkohol memudahkan kerja tembakau dengan berfungsi sebagai pelarut sehingga
memudahkan bahan kanker untuk berpenetrasi ke dalam jaringan mulut. Efek
kombinasi penggunaan alkohol dan tembakau menjadi berlipat ganda, lebih besar
dari kumulatif efek masing-masing bahan, sehingga risiko berkembangnya kanker
rongga mulut pada pasien pengguna alkohol dan perokok meningkat 80 kali lebih
tinggi.
f. Tembakau
Mengunyah atau mengisap tembakau menyebabkan iritasi dari kontak langsung
bahan-bahan karsinogen yang mengiritasi sel skuamosa rongga mulut.
Rangsangan asap rokok yang lama dapat menyebabkan perubahan-perubahan
yang bersifat merusak bagian mukosa mulut yang terkena, yang bervariasi dan
penebalan menyeluruh bagian epitel mulut (smoker’s keratosis) sampai bercak
putih keratotik yang menandai leukoplakia dan kanker mulut.
g. Nikotin
Merupakan bahan yang menyebabkan ketergantungan / adiksi. Saat dihisap
nikotin mencapai otak dalam waktu 7 detik, 2x lebih cepat dari penggunaan obat
IV. Kemudian mempengaruhi otak dan sistem saraf pusat dengan mengubah kadar
neurotransmiter dan bahan kimiawi yang mengatur temperamen, belajar, dan
kemampuan berkosenterasi. Nikotin dapat bekerja sebagai sedatif, tergantung
pada kadar nikotin dalam tubuh dan lamamnya. Merokok juga menyebabkan
pelepasan endorfin yang membentuk efek tranquilizer. Nikotin merupakan racun
yang dalam dosis besar dapat mematikan.
h. Diet
Buah dan sayuran mempunyai kontribusi terhadap terjadinya kanker mulut dan
kanker lainnya. Buah dan sayuran mengandung antioksidan yang mengikat
molekul berbahaya penyebab mutasi gen sehingga dapat mencegah terjadinya
kanker.
i. Obat Kumur
Efek penggunaan obat kumur terhadap terjadinya kanker sama dengan efek
penggunaan alkohol tetapi dengan konstribusi yang lebih rendah.
j. Kesehatan Gigi Mulut.
Terjadi peningkatan resiko pada pria yang menggunakan gigi palsu dari logam.
Iritasi kronis juga dapat ditimbulkan oleh gigi, gigi palsu atau tambalan yang
mengiritassi gigi, keadaan gigi-geligi yang rusak atau hilang dapat merupakan
faktor resiko penyebab kanker.
k. Bahan infeksius
Bahan infeksius yaitu candida albicans dan virus. Virus herpes dan virus papiloma
dapat dijumpai pada beberapa kasus karsinoma sel skuamosa. HPV terutama
berperan dalam kanker orofaring
4. PATOFISIOLOGI
Sel kanker muncul setelah terjadi mutasi-mutasi pada sel normal yang disebabkan
oleh zat-zat karsinogen yang memicu terjadinya karsinogenesis (transformasi sel
normal menjadi sel kanker). Karsinogenesis terbagi menjadi 3 tahap :
a. Tahap pertama merupakan Inisiaasi yaitu kontak pertama sel normal dengan
zat karsinogen yang memancing sel normal tersebut menjadi ganas.
b. Tahap kedua yaitu Promosi dimana sel yang terpancing tersebut membentuk
klon melalui pembelahan (poliferasi).
c. Tahap terakhir yaitu Progresi dimana sel yang telah mengalami poliferasi
mendapatkan satu atau lebih karakteristik neoplasma ganas.
Kanker rongga mulut dalam pertumbuhannya dimulai dengan lesi yang sangat kecil.
Dengan berjalannya waktu tumor tersebut lambat laun akan mencapai ukuran yang
besar.

Agen infeksi, merokok, perawatan mulut kurang dan etiologi lainnya

Karsinoma sel mukosa yang makroskopik bersifat tukak

lesi yang terus menetap

menginflamasi jaringan tulang terutama mandibula sampai endotel

bermetastasis ke bagian tubuh yang lain dan


memperlihatkan gejala-gejala klinis

Sulit atau pada waktu timbulnya rasa sakit


Bintik putih atau merah di dalam
mengunyah
mulut ataupun pada bibir

Kanker rongga mulut

5. KLASIFIKASI

a. Kanker pada bibir


Bibir terutama bibir bagian bawah merupakan tempat terjadinya kerusakan karena
cahaya matahari atau actinic keratosis sehingga bibir tampak pecah dan kemerahan,
keputihan atau campuran merah dan putih. Kanker di bibir sebelah luar lebih sering
terjadi pada daerah beriklim panas. Kelainan pada bibir atas lebih jarang terjadi
dibandingkan dengan bibir bawah, tetapi lebih mungkin menjadi ganas dan
memerlukan perhatian medis. Pada perokok, bisa tumbuh benjolan putih di bagian
dalam bibir. Benjolan ini bisa tumbuh menjadi squamous cell carcinoma (Williams,
1990).
b. Kanker pada lidah
Kanker lidah adalah suatu keganasan yang timbul dari jaringan epitel mukosa lidah
dengan selnya berbentuk squamous cell carcinoma (sel epitel gepen berlapis) dan
terjadi akibat rangsangan menahun, juga beberapa penyakit- penyakit tertentu
(premalignant) seperti sifilis dan plumer vision syndrome, leukoplakia, serta
eritoplakia. Kanker ganas ini dapat menginfiltrasi ke daerah di sekitarnya, disamping
itu dapat melakukan metastasis secara limfogen dan hematogen (Sciubba, 1999).
c. Kanker dasar mulut
Kanker dasar mulut biasanya dihubungkan dengan penggunaan alkohol dan
tembakau. Pada tingkat awal mungkin tidak menimbulkan gejala. Bila lesi
berkembang, pasien akan mengeluhkan adanya gumpalan dalam mulut atau perasaan
tidak nyaman (Daftary, 1992).
Pada pemeriksaan klinis yang paling sering dijumpai adalah lesi berupa nodul dengan
tepi yang timbul dan mengeras yang terletak dekat frenulum lingual. Bentuk yang lain
adalah penebalan mukosa yang kemerah- merahan, nodul yang tidak sakit atau dapat
berasal dari leukoplakia.
d. Kanker pada mukosa pipi
Pada beberapa pasien yang mempunyai kebiasaan mengunyah campuran pinang, daun
sirih, kapur dan tembakau akan memberikan risiko peningkatan kanker pada mukosa
pipi. Dengan kondisi material yang melakukan kontak langsung dengan mukosa pipi
kiri dan kanan selama beberapa jam dan trauma pada mengunyah memberikan
dampak terhadap perubahan sel mukosa pipi (Daftary, 1992). Pada pemeriksaan fisik
rongga mulut, bagian pipi akan didapatkan adanya lesi ulserasi, nodular dan infiltratif.
e. Kanker pada gusi
Kanker pada gusi biasanya dihubungkan dengan riwayat pasien mengisap pipa
tembakau. Daerah yang terlibat biasanya lebih sering pada gusi bawah (mandibular)
daripada gusi atas (maksila) (Daftary, 1992).
Pada pemeriksaan fisik, lesi awal terlihat sebagai ulkus, granuloma kecil atau sebagai
nodul. Sekilas lesi terlihat sama dengan lesi yang dihasilkan oleh trauma kronis atau
hyperplasia inflamatori (Daftary, 1992). Lesi yang lebih lanjut berupa pertumbuhan
eksofitik atau pertumbuhan infiltrative yang lebih dalam. Pertumbuhan eksofitik
terlihat seperti bunga kol dan mudah berdarah. Pertumbuhan infiltrative biasanya
tumbuh invasive pada tulang mandibula dan menimbulkan dekstruktif (Tambunan,
1993).
f. Kanker pada palatum
Predisposisi merokok meningkatkan risiko kanker pada palatum. Kebanyakan kanker
palatum merupakan pertumbuhan eksofitik dengan dasar yang luas dan permukaan
bernodul. Jika lesi terus berkembang mungkin akan mengisi seluruh palatum. Kanker
pada palatum dapat menyebabkan perforasi palatum dan meluas sampai ke rongga
hidung (Daftary, 1992).
6. MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi klinis dari kanker rongga mulut jika dibedakan berdasarkan tempat
terjadinya kanker, yaitu :
1. Kanker pada Bibir
a. Warna bibir tidak nampak merah muda
b. Bibir nampak kering
c. Adanya ketidaksimetrisan antara bibir atas dan bawah
d. Adanya ulserasi fisura
e. Nyeri pada daerah sekitar bibir
f. Adanya bintik putih atau merah pada bibir
g. Jika terjadi luka, maka sulit sembuh
2. Kanker pada Lidah
a. Adanya bintik putih yang berbentuk V pada bagian dorsal lidah
b. Ada lesi pada mukosa lidah sehingga vena superficial di bawah lidah terlihat
c. Nyeri tekan
d. Kadang disertai mati rasa
e. Warna lidah terlihat kemerahan
f. Papila terlihat tipis
3. Kanker pada Gusi
a. Terjadinya perdarahan gusi yang hebat
b. Kehilangan gigi
c. Kesulitan untuk mengunyah
d. Timbul rasa sakit ketika mengunyah
4. Kanker di sekitar faring
a. Sulit menelan
b. Sulit berbicara
c. Batuk disertau sputum yang mengandung darah
d. Kemungkinan terjadinya pembesaran nodus limfe servikal

Menurut American Joint Committee on Cancer (AJCC) klasifikasi kanker rongga


mulut menggunakan sistem TNM. Sistem TNM ini terdiri atas :
- T (Tumor) : gambaran dari level pembesaran tumor
- N (Nodus) : sejauh mana keterlibatan nodus limfe sebagai sistem imun tubuh
- M (Metastasis) : kondisi metastasis menggambarkan keterlibatan organ lain
pada bagian distal.
Tabel 1. Sistem TNM dalam menilai klasifikasi stadium kanker rongga mulut
Stadium T Stadium N Stadium M
T0 Tidak ada tampilan N0 Tidak ada keterlibatan M0 Tidak ada
tumor nodus limfe penyebaran
Tis Carcinoma in situ. N1 Terdapat keterlibatan
Terdapat massa pada limfatik regional, tetapi
jaringan ukuran nodus ≤ 3 cm
T1 Ukuran tumor ≤2 cm N2 Keterlibatan pembesaran
T2 Ukuran tumor ≤ 4 cm nodus limfe satu atau M1 Kanker
T3 Ukuran tumor >4 cm lebih dengan ukuran ≤ 6 menyebar ke
cm organ bagian
T4 Ukuran tumor >4 cm N3 Keterlibatan homolateral distal
dan tertanam kuat pada atau bilateral nodus limfe
otot atau tulang atau dengan ukuran > 6 cm
struktur lainnya.

7. PEMERIKSAAN FISIK

Pada pemeriksaan fisik, perawat melakukan inspeksi dan palpasi pada rongga mulut
dengan panduan pemeriksaan penting meliputi hal-hal berikut :
a. Periksa kondisi perubahan warna, apakah mukosa mulut berwarna abnormal
,misalnya putih, merah, hitam. Kebanyakan pasien kanker rongga mulut mempunyai
riwayat lesi atau keadaan prakanker mulut, seperti leukoplakia, eritoplakia,
submukus fibrosisi dan lain-lain
b. Inspeksi kondisi kontur apakah permukaan mukosa kasar, ulserasi, asimetri, atau
pembengkakan. Seringkali awal dari keganasan diawalai ditandai adanya ulkus.
Apabila terdapat ulkus tidak sembuh selama dua minggu maka keadaan ini sudah
dapat dicurigai sebagai awal proses keganasan. Tanda lain dari ulkus proses
keganasan meliputi ulkus yang tidak sakit, tepi bergulung lebih tinggi dari sekitarnya
dan indurasi (lebih keras) dasarnya dapat berbintil-bintil dan mengelupas.
Pertumbuhan karsinoma bentuk ulkus tersebut disebut pertumbuhan endofitik.
c. Palpasi tentang konsistensi apakah jaringan keras kenyal, lunak, fluktuan atau
nodular. Umumnya kanker rongga mulut tahap dini tidak menimbulkan gejala
diameter kurang dari 2 cm kebanyakan berwarna merah dengan atau tanpa disertai
komponen putih, licin, halus, dan memeperlihatkan evelasi yang minimal.
d. Kaji kemampuan pasien apakah dapat membuka mulut dengan sempurna
e. Periksa adanya keterlibatan dari pembesaran kelenjer limfe.
8. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1) Sitologi mulut
Sitologi mulut telah banyak digunakan untuk menyelidiki berbagai macam
penyakit mulut, dimana prosedurnya paling bermanfaat dalam evaluasi terhadap
suatu keadaan yang dicurigai sebagai suatu keganasan, khususnya bila keadaan
tersebut merupakan suatu lesi merah yang tidak berkeratin (Lynch, 1994).
Secara defenisi, pemeriksaan sitologi mulut merupakan suatu pemeriksaan
mikroskopik gel-gel yang dikerok/dikikis dari permukaan suatu lesi di dalam
mulut (Coleman dan Nelson, 1993). Klasifikasi dan interpretasi yang digunakna
dalam laporan sitologi mulut adalah:
a. Kelas I: gel-gel normal
b. Kelas II: gel-gel yang tidak khas (stipik), tidak ada bukti keganasan
c. Kelas III: perubahan pada pola nuklear yang sifatnya tidak jelas, tidak ada
tanda-tanda keganasan, tetapi terdapat gel yang menyimpang dari normal
d. Kelas IV: memebri kesan kepada suatu keganasan
e. Kelas V: perubahan keganasan terlihat jelas
Untuk kelas I-III lakukan ulangan sitologi III bulan kemudian, bila hasil sama
dapat dilakukan biopsi. Untuk kelas IV dan V indikasi untuk dilakukan biopsi.
2) Biopsi
Biopsi merupakan pengambilan spesimen baik total maupun sebagian untuk
pemeriksaan mikroskopis dan diagnosis (Pedersen, 1996; Coleman dan Nelson,
1993). Cara ini merupakan cara yang penting dan dapat dipercaya untuk
menegakkan diagnosa defenitif dari lesi-lesi mulut yang dicurigai (Bolden, 1982).
Teknik biopsi memerlukan bagian dari lesi yang mewakili dari tepi jaringan yang
normal. Biopsi dapat dilakukan dengan cara insisional atau eksisional. Biopsi
insisional dipilih apabila lesi permukaan besar (>1cm) dan biopsi eksisional yaitu
insisi secata intoto apabila lesi kecil (Pedersen, 1996; Bolden, 1982; Coleman dan
Nelson, 1993). Untuk memenuhi kebutuhan yang lebih seksama dalam
mengidentifikasi kanker rongga mulut pada tahap ini, telah dikembangkan suatu
cara biopsi dengan menggunakan sikat (Oral CDx). Pada penelitian yang
dilakukan oleh Sciubba (1999) dengan menggunakan biopsi dengan cara sikat
menunjukkan bahwa cara ini dapat memberikan bantuan yang tidak terhingga
nilainya dalam memeriksa lesi di rongga mulut. Pada penelitian tersebut, biopsi
dengan memakai sikat merupakan alat deteksi yang sepadan dengan biopsi
memakai skalpel. Walaupun begitu, harus ditekankan bahwa Oral CDx bukanlah
pengganti untuk biopsi dengan memakai skalpel (Sciubba, 1999).
3) Pemeriksaan Toluidine Blue
Pemeriksaan Touluidine Blue dilukakan dengan cara berkumur menggunakan
suatu larutan. Larutan ini akan memberikan warna biru pada sel kanker dan pada
jaringan yang normal tidak akan menyerap. Teknik memberikan warna rongga
mulut adalah :
a. Kumur dengan larutan asam asetat 1%: 20 detik
b. Kumur dengan air: 20 detik 2 kali
c. Kumur larutan toluidine blue 1% 5-10 cc
d. Kumur lagi dengan larutan asam asetat 1%: 1 menit
e. Kumur dengan air
Pembacaan hasil pemeriksaan dilakukan 24 jam kemudian.
4) Pemeriksaan Positron Emission Tomography (PET)
Positron Emission Tomography (PET) adalah pemeriksaan non invasif yang dapat
menggambarkan fungsi metabolisme molekuler dari tubuh pasien secara tiga
dimensi dengan menggunakan cairan radiofarmaka FDG (Fluorodeoxyglucose).
PET scan dengan radiofarmaka FDG akan mendeteksi aktivitas metabolik dari sel-
sel tubuh, seperti sel-sel kanker yang mempunyai aktivitas metabolik berlebih.
Cara kerja PET CT ini ialah dengan menyuntikkan radiofarmaka FDG ke dalam
pembuluh darah pasien. Radiofarmaka akan ditangkap sel-sel kanker, karena sel
kanker membutuhkan banyak glukosa dan metabolisme dalam pertumbuhannya.
Ketika sel kanker berkumpul, PET akan mengambil citra dari seluruh tubuh
pasien. Pencitraan ini akan menunjukkan lokasi radiofarmaka berkumpul. Artinya,
di situlah lokasi sel-sel kanker yang hidup.
Pemeriksaan ini dapat mendeteksi tumor <4 mm, untuk staging memiliki
sensitivitas 71% dan spesifitas 99%, sedangkan untuk deteksi kekambuhan
sensitivitas 92% dan spesifitas 81%.
9. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan yang dapat dilakukan pada pasien kanker rongga mulut adalah :
1) Pembedahan
Pembedahan dapat dilakukan pada jaringan lunak dan jaringan keras. Sering
dilakukan pembedahan pada kanker yang melibatkan tenggorokan, tetapi dapat
juga dilakukan pada kanker rongga mulut. Pembedahan dilakukan untuk
mengangkat keseluruhan lesi untuk mencegah terjadinya penyebaran sel kanker
pada nodul limfa, pembuluh darah, dan saraf. Setelah pembedahan untuk
mengangkat sel kanker, dilakukan pembedahan rekonstruktif bertujuan untuk
mempercepat proses penyembuhan, mengembalikan fungsi, serta meningkatkan
kualitas hidup pasien.
2. Radiasi
Radiasi merupakan pengobatan yang menggunakan sinar ion. Terapi radiasi ini
dapat menghasilkan energi yang bisa menghancurkan sel-sel kanker, dengan
menghancurkan sel DNA pada sel kanker tersebut sehingga sel kanker tersebut
tidak dapat berkembang lagi. Radiasi jarang digunakan sebagai pengobatan yang
utama. Radiasi sering digunakan untuk mengecilkan sel kanker sebelum dilakukan
pembedahan, dan untuk mencegah sel kanker timbul kembali atau untuk
menghancurkan sisa-sisa sel kanker yang tidak terambil keseluruhannya ketika
pembedahan.
Dosis yang digunakan pada perawatan ini kecil. Terapi radiasi ini dilakukan lima
hari berturut-turut dan diberikan selang waktu dua hari untuk istirahat. Waktu yang
digunakan untuk terapi radiasi ini antara 10-15 menit. Terapi ini dilakukan antara
2-8 minggu, agar sel yang baru dapat tumbuh dan meminimalkan efek yang timbul
akibat radiasi.
3. Kemoterapi
Kemoterapi merupakan salah satu bentuk terapi paliatif, digunakan apabila sel
kanker timbul kembali pada pasien atau telah terjadi metastase. Kemoterapi
merupakan terapi yang menggunakan bahan kimia yang berfungsi untuk
menghancurkan sel kanker. Terdapat enam jenis bahan yang digunakan untuk
kemoterapi, di antaranya alkylating agent, nitrosoureas, anti metabolite, anti tumor
antibiotic, plant alkoloid, dan steroid hormone.
Bahan alkylating agent bekerja dengan mengikat DNA di inti sel, sehingga sel-sel
tersebut tidak dapat melakukan replikasi. Contoh bahan ini adalah
Cyclophosphamide dan Mechlorethamine. Bahan nitrosoureas bekerja seperti
alkylating agent yaitu menghalangi perubahan pada sel DNA, misalnya Carmustine
dan Lomustine. Bahan anti metabolite dapat bekerja langsung pada molekul basal
inti sel, yang berakibatmenghambat sintesis DNA, misalnya 6-mercaptopurine dan
5-fluorouracil.
Sementara bahan anti tumor antibiotik bekerja dengan menghambat sintesis RNA,
misalnya Doxorubicin dan Mitomycin-C. Bahan plant alkoloid bekerja dengan
menghalangi pembelahan sel, antara lain Vincristine dan Vinblastine. Sementara
bahan steroid hormone bekerja dengan memodifikasi pertumbuhan hormon yang
menyebabkan terjadinya kanker. Contoh bahan ini adalah Tamoxifen dan
Flutamide.
4. Terapi Kombinasi
Bagi pasien yang pertumbuhan sel kanker telah menyebar luas atau telah terjadi
regional metastase dapat dilakukan terapi kombinasi yang terdiri dari pembedahan,
radiasi dan kemoterapi.
5. Edukasi
Edukasi dapat diberikan kepada pasien kanker rongga mulut melalui dokter gigi
atau ahli kesehatan yang lain. Bagi pasien yang sering merokok, mengkonsumsi
alkohol, dan menyirih agar mengurangi atau menghentikan kebiasaan tersebut. Di
India, beberapa kampanye yang dilakukan untuk mengurangi penggunaan
tembakau berhasil mengurangi resiko terjadinya kanker. Beberapa peneliti dari
University of Harvard membuktikan bahwa lelaki yang banyak mengkonsumsi
buah-buahan sitrus, vitamin C, dan sayur-sayuran, 30-40% dapat mencegah dan
mengurangi resiko terjadinya kanker.

6. Perawatan pemulihan setelah operasi


a. Setelah operasi pasien kanker rongga mulut diberikan makanan cair, setelah satu
minggu kemudian berubah menjadi semi-cair.
b. Setelah operasi perhatikan warna, suhu dan elastisitas flap pasien kanker rongga
mulut, apabila suhu flap menurun, menunjukkan warna hijau keunguan dan
semakin memburuk, segera melaporkan ke dokter.
c. Secara tepat waktu menghisap keluar sekresi dimulut, hidung dan kerongkongan
pasien kanker rongga mulut, demi menjaga kelancaran saluran pernafasan.

Apabila pasien kanker rongga mulut setelah operasi tidak dapat berbicara, tidak dapat
mengatakan gejala tidak enak yang dirasakan, perlu secara teliti mengamati ada tidaknya
gejala dysphoria (cemas, gelisah, tidak tenang), nasal inflamasi dan gejala penyumbatan
saluran pernafasan lainnya pada pasien kanker rongga mulut dan segera melaporkan
kepada dokter.
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN
Pada pemeriksaan fisik, perawat melakukan inspeksi dan palpasi pada rongga mulut
dengan panduan pemeriksaan penting meliputi hal-hal berikut :
a. Periksa kondisi perubahan warna, apakah mukosa mulut berwarna abnormal
,misalnya putih, merah, hitam. Kebanyakan pasien kanker rongga mulut
mempunyai riwayat lesi atau keadaan prakanker mulut, seperti leukoplakia,
eritoplakia, submukus fibrosisi dan lain-lain
b. Inspeksi kondisi kontur apakah permukaan mukosa kasar, ulserasi, asimetri, atau
pembengkakan. Seringkali awal dari keganasan diawalai ditandai adanya ulkus.
Apabila terdapat ulkus tidak sembuh selama dua minggu maka keadaan ini sudah
dapat dicurigai sebagai awal proses keganasan. Tanda lain dari ulkus proses
keganasan meliputi ulkus yang tidak sakit, tepi bergulung lebih tinggi dari
sekitarnya dan indurasi (lebih keras) dasarnya dapat berbintil-bintil dan
mengelupas. Pertumbuhan karsinoma bentuk ulkus tersebut disebut pertumbuhan
endofitik.
c. Palpasi tentang konsistensi apakah jaringan keras kenyal, lunak, fluktuan atau
nodular. Umumnya kanker rongga mulut tahap dini tidak menimbulkan gejala
diameter kurang dari 2 cm kebanyakan berwarna merah dengan atau tanpa disertai
komponen putih, licin, halus, dan memeperlihatkan evelasi yang minimal.
d. Kaji kemampuan pasien apakah dapat membuka mulut dengan sempurna.
e. Periksa adanya keterlibatan dari pembesaran kelenjer limfe.
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1) Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis (kanker), fisik (lesi, post
pembedahan)
2) Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
intake nutrisi tidak adekuat
3) Ketidakmampuan menelan berhubungan dengan terjadi kerusakan pada sistem
anatomi
4) Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan kondisi fisologis ditandai
dengan susahnya berbicara
3. RENCANA KEPERAWATAN

Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis (kanker), fisik (lesi, post
pembedahan)

NOC NIC
Setelah diberikan asuhan keperawatan NIC Label : Pain Management
selama …x… jam diharapkan nyeri 1. Kaji karakteristik nyeri berdasarkan lokasi,
pasien dapat berkurang dengan kriteria karakteristik nyeri, onset/durasi, frekuensi,
hasil: kualitas, intensitas atau beratnya nyeri dan
faktor pencetus munculnya nyeri
NOC Label:Pain Level
2. Menentukan akibat dari pengalaman nyeri
1. Tekanan darah dalam rentang
terhadapa kualitas hidup pasien seperti tidur
normal (TD: 120/80 mmHg
dan nafsu makan
2. Nadi dalam rentang 60-100
3. Menentukan bersama pasien faktor-faktor
x/menit
yang dapat menurunkan atau mengontrol nyeri
3. Nyeri mampu berkurang
4. Mengajarkan penggunaan teknik

NOC Label:Pain Control nonfarmakologi seperti teknik relaksasi dan

1. Pasien dapat mengkonsumsi guided imagery

analgesik yang telah 5. Kolaborasi pemberian analgesik untuk

direkomendasikan. menurunkan nyeri

2. Pasien dapat mengenali kapan 6. Monitor TTV secara berkala

terjadinya nyeri 7. Berikan KIE mengenai nyeri yang dirasakan

3. Pasien dapat menggunakan klien

tindakan alternatif dalam


mengontrol nyeri
Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake
nutrisi tidak adekuat.
NOC NIC
Setelah dilakukan asuhan keperawatan Nutrition Management
selama …x… jam kebutuhan nutrisi 1. Menentukan status nutrisi klien dan
klien dapat terpenuhi, dengan kriteria kemampuan untuk memenuhi kebutuhan
hasil: nutrisi
Nutritional Status 2. Mengidentifikasi alergi makanan pada klien
1. Asupan nutrisi atau intoleransi terhadap makanan
2. Asupan makanan 3. Menginstruksikan klien untuk mewajibkan
diet untuk tingkat penyakit tertentu
4. Monitor asupan kalori dan diet
5. Monitor pola penurunan atau peningkatan
berat badan klien

Ketidakmampuan menelan berhubungan dengan terjadi kerusakan pada sistem anatomi


NOC NIC
Setelah dilakukan asuhan Swallowing Therapy
keperawatan selama …x… jam 1. Memantau hidrasi tubuh (misalnya intake,
kemampuan menelan klien dapat output, turgor kulit, membran mukosa)
ditingkatkan, dengan kriteria hasil: 2. Berikan perawatan mulut yang diperlukan
Swallowing Status 3. Konsultasikan dengan terapis dan / atau dokter
1. Kemampuan menelan untuk secara bertahap meningkatkan
2. Produksi saliva konsistensi makanan pasien.
3. Waktu reflek menelan 4. Membantu pasien untuk menempatkan
makanan di belakang mulut dan di sisi yang
tidak terganggu (yang tidak sakit).

Enteral Tube Feeding


1. Masukkan selang nasogastrik, nasoduodenal,
atau nasojejunal, sesuai dengan prosedur
2. Memantau untuk penempatan yang tepat dari
selang dengan memeriksa rongga mulut,
memeriksa residu lambung, atau mendengarkan
udara yang disuntikkan sementara dan ditarik
sesuai dengan prosedur
3. Monitor adanya bising usus setiap 4 - 8 jam
sesuai dengan kondisi
4. Pantau status cairan dan elektrolit
5. Konsultasikan dengan anggota tim perawatan
kesehatan lainnya dalam memilih jenis dan
kekuatan makanan enteral
6. Pantau adanya sensasi kenyang, mual, dan
muntah
7. Monitor berat badan setidaknya tiga kali
seminggu, yang sesuai dengan usianya

Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan kondisi fisologis ditandai dengan


susahnya berbicara
NOC NIC
Setelah dilakukan asuhan Communication Enhancement : Speech Deficit
keperawatan selama …x… jam 1. Memberikan metode alternatif komunikasi
komunikasi verbal klien dapat bicara (misalnya, menulis tablet, berkedip
meningkat, dengan kriteria hasil: mata, papan komunikasi dengan gambar
Communication dan huruf, kode tangan atau gerakan
1. Menggunakan bahasa lainnya, dan komputer)
berbicara 2. Anjurkan pasien untuk berbicara perlahan
3. Kolaborasikan dengan keluara dan terapi
untuk menyusun rencana komunikasi
efektif
DAFTAR PUSTAKA

Baughman, Diane C,. JoAnn C. Hackley. 2000. Keperawatan Medikal-Bedah dari Brunner &
Suddarth. Jakarta : EGC
Hasibuhan, Sayuti. 2004. Prosedur Deteksi Dini dan Diagnosa Kanker Rongga Mulut.
Melalui http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1159/1/fkg-sayuti2.pdf
John Wiley & Sons. 2014. Nursing Diagnosis: Definitions and Classification 2015-2017. UK
Wiley Blackwell.
Muttaqin, Arif dan Sari, Kumala. 2011. Gangguan Gastrointestinal: aplikasi asuhan
keperawatan medikal bedah. Jakarta : Salemba Medika
Smeltzer, S.C. & Bare, B.G. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 Volume 2.
Jakarta : EGC
Smeltzer & Bare. 2001. Buku Ajar Medikal-Bedah Brunner & Suddarth Volume 2 edisi 8.
Jakarta: EGC
Sudiono, Janti. 2008. Pemeriksaan Patologi untuk Diagnosis Neoplasma Mulut. Jakarta :
EGC
PATHWAY

Faktor Lokal Faktor Host Faktor Luar

Rongga mulut kotor Genetik Karsinogen Kimia

Memicu tumbuhnya Sel turunan yang Rokok


bakteri/jamur abnormal

Kontak sel normal dengan


Infeksi Fungsi sistem imun zat karsinogenik
menurun

Terjadi lesi yang


berulang Membentuk Klon melalui
pembelahan

Sel membelah secara


berlebihan Poliferasi

Muncul karakteristik neoplasma ganas

Kanker Oral Cavity

Benjolan pada rongga mulut Kerusakan pada sistem anatomi

Benjolan semakin besar dan


memenuhi rongga mulut Ketidakmampuan Intake nutrisi tidak
menelan adekuat

Mempengaruhi fungsi lidah


Gangguan komunikasi Nutrisi kurang dari
verbal kebutuhan tubuh

Nyeri Akut