Anda di halaman 1dari 192

Quitters

gai seorang konsultan inansial, dia mengundurkan diri dan beralih ke profesi yang
can
WIN
• Pendidikan (“kekerasan”) yang kita terima atau kita berikan pada anak kita
• Keyakinan kita pada IQ dan implikasinya
• Mengenal suara hati yang sesungguhnya
• 5 jurus pengendalian diri
• Memanfaatkan hipnoterapi semaksimal mungkin
• dll.
Hati-Hati
Dengan
http://facebook.com/indonesiapustaka

Keyakinan Anda!
Adi W. Gunawan
The Re-Educator & Mind Navigator
http://facebook.com/indonesiapustaka
Dipersembahkan untuk:

____________________________

Dari:

____________________________

Tanggal:

____________________________

Pesan:

____________________________
http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka
Quitters Can Win
Hati-Hati dengan Keyakinan Anda!
http://facebook.com/indonesiapustaka
Sanksi Pelanggaran Pasal 72
Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002
Tentang Hak Cipta
1. Barangsiapa dengan sengaja melanggar dan tanpa hak melakukan perbuatan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 Ayat (1) atau Pasal 49 Ayat (1) dan Ayat
(2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu)
bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah),
http://facebook.com/indonesiapustaka

atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling
banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan,
atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran
hak cipta atau hak terkait sebagai dimaksud pada Ayat (1) dipidana dengan
pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak
Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
Quitters Can Win
Hati-Hati dengan Keyakinan Anda!

Adi w. gunAwAn
http://facebook.com/indonesiapustaka

PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta


Quitters Can Win
Hati-Hati dengan Keyakinan Anda!
Oleh Adi W. Gunawan
Copyright © 2009 oleh Adi W. Gunawan

GM 204 01 09 0107

Desain sampul: Kepik Hitam


Layout Isi: Noor Shalihah

Diterbitkan pertama kali dalam bahasa Indonesia oleh


Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Kompas Gramedia Building
Blok I Lantai 4-5
Jl. Palmerah Barat 29-37
Jakarta 10270
Anggota IKAPI, Jakarta, 2009

Hak cipta dilindungi Undang-undang.


Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini
tanpa izin tertulis dari Penerbit.

ISBN: 978-979-22-4868-5
http://facebook.com/indonesiapustaka

Dicetak oleh Percetakan PT Gramedia, Jakarta


Isi di luar tanggung jawab Percetakan
datar isi

Quitters Can Win ............................................................................ 1


Rahasia Pensiun Muda, Kaya Raya, dan Bahagia.......................... 7
Belief tentang IQ dan Implikasinya ................................................. 15
Kekerasan Terhadap Anak atas Nama Cinta ................................. 19
Siapakah Aku?.................................................................................... 23
Masa Depan Ada di Masa Lalu ........................................................ 29
Mengenal Suara Hati yang Sesungguhnya ..................................... 33
Jujur Diri melalui Analisis Value................................................... 41
Lima Jurus Pengendalian diri ................................................ 45
Lima Kekuatan untuk Optimalisasi
Pengembangan Potensi diri ............................................... 49
Mungkinkah Menguasai Hipnoterapi
Hanya dalam waktu 1 Hari? .............................................. 55
http://facebook.com/indonesiapustaka

Memahami gelar Hipnoterapis .............................................. 63


Hypnotic Reparenting ..................................................................... 69
Bahaya Self Hypnosis ...................................................................... 73
Hypnotic Seal................................................................................... 79

v
Religious Aspects of Hypnosis ......................................................... 83
Memahami Level Hipnosis dan Manfaatnya .......................... 91
Rahasia Masuk ke dalam Level Deep Hypnosis ......................... 97
Manfaat dan Bahaya Past Life Regression .................................... 101
Waking Hypnosis ............................................................................. 109
Memahami Jenis dan Fungsi Filter Mental ............................. 115
Teori Tungku Mental ............................................................... 121
Forgiveness is he True Healer ....................................................... 131
“Hipnoterapi” vs Hipnoterapi ................................................. 135
Sertiikasi vs Kompetensi ........................................................ 141
Add/AdHd ditinjau dari Perspektif
Cara Kerja Otak dan Pikiran .............................................. 147
Melakukan Hipnoterapi pada Anak ....................................... 155
Hypno-Birthing: Melahirkan dengan Mudah,
nyaman, dan Menyenangkan ............................................. 159
Bertanya pada Keheningan ..................................................... 163
Scientiic EEG Hypnotherapy ..................................................... 169

Tentang Penulis ...................................................................... 175


http://facebook.com/indonesiapustaka
Kata Pengantar

Pembaca yang saya cintai. Senang sekali kembali saya bisa menyapa
Anda. Bagaimana kabar Anda? Pasti luar biasa. Buku ini adalah
buku saya yang ketiga belas dan merupakan kumpulan pemikiran
yang saya tuangkan dalam bentuk artikel-artikel singkat, padat,
sarat informasi dan penuh makna berdasar berbagai literatur dan
pengalaman pribadi saya.
Buku ini berbeda dengan buku saya sebelumnya, khususnya
Kesalahan Fatal dalam Mengejar impian dan Kesalahan Fatal
dalam Mengejar impian 2 karena berisi informasi yang secara
khusus membahas berbagai fenomena kehidupan dan hubungannya
dengan pikiran.
Setiap informasi yang tersaji bersifat saling melengkapi dan
merupakan potongan-potongan puzzle yang menyusun pemaham-
an mendalam mengenai mekanisme dan pengaruh pikiran terhadap
aspek isik,mental, emosi, dan pencapaian prestasi hidup.
Berbagai artikel ini ditulis melalui hasil perenungan mendalam
terhadap berbagai fenomena kehidupan yang saya alami dan juga
dari hasil pengamatan berbagai kasus klinis yang saya tangani.
Besar harapan saya dengan membaca buku ini anda mendapat
informasi yang akurat dan ilmiah mengenai pikiran dan berani
memutuskan melakukan penyelidikan dan perjalanan ke dalam
dunia pikiran yang begitu luas dan dalam, yang hanya segelintir
http://facebook.com/indonesiapustaka

orang berani melakukannya.


Selamat membaca dan salam hangat selalu.

Adi w. gunawan
he Re-Educator & Mind Navigator

vii
http://facebook.com/indonesiapustaka
Ucapan Terima Kasih

Proses menulis buku mulai dari ide hingga menjadi sebuah buku
yang apik dan enak dibaca tentunya melalui banyak tahap. Sebagai
penulis dengan jujur dan tulus saya perlu menyampaikan bahwa
karya yang sekarang ada di tangan Anda merupakan hasil kerja
banyak pihak.
Dalam kesempatan ini saya haturkan terima kasih kepada istri
saya tercinta, Stephanie Rosaline, yang senantiasa mendukung
semua pemikiran dan kegiatan saya. Tanpa dukungannya saya tidak
mungkin bisa menjadi seperti sekarang ini. Benar kata orang bijak
bahwa di balik setiap pria sukses selalu ada wanita yang menjadi
batu karang kokoh tempatnya bersandar dan berpijak.
Saya juga menyampaikan terima kasih kepada rekan-rekan di
Gramedia Pustaka Utama atas semua dukungan yang telah diberikan
kepada saya selama ini. Tanpa dukungan dari mereka tidak mung-
kin saya bisa melakukan dan mencapai posisi saya saat ini. Salam
hormat dari lubuk hati saya yang terdalam.
Terima kasih juga saya sampaikan kepada klien-klien yang telah
memberi saya kesempatan mengamalkan pengetahuan dan ilmu
saya dalam membantu mereka. Saya banyak belajar dari masalah
yang mereka alami. Merekalah sebenarnya guru saya yang sejati.
Terakhir, dan ini sangat penting, saya menyampaikan terima
kasih kepada Anda, pembaca yang saya hormati dan cintai. Terima
kasih karena telah memberikan saya tempat istimewa di hati Anda.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Semoga apa yang saya tulis di buku ini bisa memberikan kontri-
busi positif bagi kemajuan hidup kita bersama.
Salam hangat,

Adi w. gunawan
he Re-Educator & Mind Navigator

ix
Quitters Can Win

V
ince Lombardi, pelatih sepak bola Amerika yang masyhur
pernah mengatakan, “Winners never quit and quitters never
win.” Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kata-
kata itu menjadi, “Pemenang tidak pernah berhenti (mencoba) dan
pecundang tidak akan pernah menang (karena berhenti mencoba).”
Perdana menteri Inggris saat Perang Dunia kedua, Sir Winston
Churchill, juga pernah berkata, “Never, never, never quit.”
Apakah Anda yakin dan percaya dengan apa yang dikatakan oleh
kedua tokoh ini?
Dulu saya sangat percaya. Bahkan saya menambahkannya dengan
pernyataan, “Sukses diukur bukan dari tingginya pencapaian. Sukses
diukur lebih berdasarkan seberapa besar hambatan yang berhasil kita
atasi dalam proses mencapai sukses” dan “Tidak penting berapa kali
Anda jatuh. Yang penting adalah berapa kali Anda bangkit kembali
setelah Anda jatuh.” Lengkaplah sudah keyakinan saya ini. Berbekal
http://facebook.com/indonesiapustaka

keyakinan ini, saya membuat keputusan untuk terus maju tak gentar
menghadapi berbagai hambatan dan kesulitan dalam proses menuju
sukses yang saya idamkan.
Setiap kali saya ingin berhenti, selalu tidak bisa. Mengapa? Ya,
karena saya yakin winners never quit and quitters never win. Jika
berhenti, saya menjadi seorang pecundang. Karena inilah, saya
2 Quitters฀Can฀Win

terus maju tak gentar selama tujuh tahun, mengejar impian tanpa
melakukan analisis kritis terhadap situasi dan kondisi kehidupan
pribadi saya. Saya menggunakan jurus “pokoke”. Pokoke maju terus.
Semua ini diperparah lagi dengan kepercayaan, “Tidak ada orang
gagal. Semua orang pada dasarnya orang sukses. Mereka gagal karena
mereka berhenti terlalu cepat”. Betapa berbahayanya kepercayaan
ini.
Apakah Anda juga pernah atau sedang mengalami hal yang sa-
ma seperti yang saya alami? Bersyukurlah bila Anda belum meng-
alaminya. Namun, tetaplah bersyukur bila ternyata Anda telah meng-
alaminya karena Anda tidak sendirian.
Pertanyaan kritis yang seharusnya kita ajukan adalah, “Benarkah
winners never quit and quitters never win?” Bagaimana kalau per-
nyataan itu kita plesetkan sedikit menjadi, “Quitters can win if they
know the right reasons, the right way, and the right time to quit”?
Saya mendapatkan banyak e-mail dan SMS dari pembaca buku
saya. Saya melihat satu pola yang sama, yaitu mereka pada umumnya
berkeluh kesah mengenai hidup mereka. Ada juga yang mengeluhkan
bisnis yang mereka jalankan selama beberapa tahun tapi belum
membuahkan hasil seperti yang mereka inginkan. Mereka sangat
ingin berhenti, tetapi tidak bisa. Alasannya, kepalang tanggung
karena sudah dijalankan beberapa tahun, sayang kalau berhenti di
tengah jalan. Waktu saya kejar lebih jauh, ternyata mereka meyakini
apa yang telah saya uraikan di atas. Intinya, jika berhenti, mereka
akan menjadi pecundang. Benarkah?
Keengganan berhenti atau quit juga terjadi dalam aspek kehidupan
lain. Ada seorang perempuan yang telah menjalin hubungan dengan
seseorang pria selama hampir sepuluh tahun, dan ia tahu hubungan
http://facebook.com/indonesiapustaka

ini tidak akan ke mana-mana, bahkan tahu pacarnya ini bukan


tipe pria yang bertanggung jawab. Namun, ia tidak berani quit atau
memutuskan untuk putus. Waktu saya tanya apa alasannya tidak
berani putus dan mencari pasangan lain yang lebih cocok, jawaban
yang saya terima sungguh mengejutkan, “Lha, saya kan sudah
pacaran hampir sepuluh tahun. Kalau harus memulai dari awal lagi,
Quitters฀Can฀Win 3

rasanya berat bagi saya. Selain itu, usia saya sekarang juga sudah
hampir 30 tahun. Sulit mencari pasangan dengan usia saya sekarang
ini. Rugi dong kalo saya berhenti sekarang.”
Tentu saja, jawaban itu kurang pas. Bukankah menikah untuk
seterusnya? Lha, kalau ketika masih pacaran saja ternyata sudah
begini modelnya, mau jadi apa nanti kalau sudah menikah? Saya
hanya bisa geleng-geleng kepala, bingung. Sepintas rekan saya ini
tampaknya tidak mau rugi. Mungkin baginya masa pacaran yang
sudah sepuluh tahun itu adalah masa investasi. Dengan demikian,
ia telah menghitung ROI (return on investment) dan berapa potential
loss yang mungkin terjadi jika ia quit.
Lalu, apakah kita boleh quit? Tentu boleh. Siapa yang berhak mela-
rang? Ini hidup kita sendiri. Kita mau quit atau terus, itu urusan kita.
Orang lain tidak boleh ikut campur. Satu hal yang harus diperhatikan
dengan sungguh-sungguh adalah bahwa kita harus punya alasan
yang tepat ketika memutuskan untuk quit. Tidak asal quit.
Hal ini saya serahkan sepenuhnya kepada Anda. Kita harus jujur
pada diri sendiri. Apakah kita quit karena kita memang malas, tidak
termotivasi, tidak tahan menderita, kurang ulet, ataukah karena
setelah bekerja sangat keras, berusaha dengan sungguh-sungguh,
sepenuh hati, melakukan whatever it takes, massive action dengan
burning desire, kita sampai pada satu kesimpulan bahwa apa yang
kita lakukan ternyata tidak sejalan dengan value atau nilai-nilai hi-
dup kita?
Quit tidak hanya berlaku untuk mereka yang belum berhasil
mencapai sesuatu. Mereka yang sebenarnya telah berhasil mencapai
kesuksesan pada level tertentu juga bisa quit jika merasa hambar
dengan hidup mereka.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Saya pernah membaca kisah seorang inancial consultant, di


Jakarta, yang sangat sukses dengan kariernya. Pada usia 40 tahun, ia
memutuskan untuk quit dan banting setir menjadi seorang pelukis.
Tentu tidak mudah melakukan hal ini. Banyak kawannya yang
menyebutnya gila karena meninggalkan karier yang begitu cemerlang
dan telah memberi hasil begitu besar, khususnya secara inansial.
4 Quitters฀Can฀Win

“Saya merasa jauh lebih tenang, damai, dan bahagia dengan menjadi
seorang pelukis. Ini adalah impian yang saya kubur sekian lama.
Sekarang saya telah menjadi orang yang bebas mengekspresikan diri
saya sendiri,” ungkapnya lugas.
Contoh di atas menunjukkan bahwa sering kali ketika seseorang
mendaki tangga kesuksesan dan telah mencapai puncak, ia baru sa-
dar ternyata tangganya bersandar di tembok yang salah. Nah, kalau
begitu, apa yang harus dilakukan? Ya banting setir seperti si inancial
consultant ini.
Mengapa tangga bisa bersandar di tembok yang salah dan kita
tidak tahu atau menyadarinya? Jawabannya sangat sederhana. Ke-
banyakan dari kita tidak merancang hidup dengan hati-hati dan
saksama. Manusia pada umumnya menjalani hidup asal-asalan dan
tidak punya peta kehidupan yang akan mereka jalani.
Di berbagai buku pengembangan diri, seminar motivasi, seminar
sukses, dan berbagai program video yang pernah saya pelajari, umum-
nya kita diminta untuk membuat datar impian secara tertulis. Im-
pian ini harus lengkap, meliputi berbagai aspek kehidupan. Ada aspek
spiritual, inansial, bisnis-karier, materi, sosial, keluarga, kesehatan isik
dan mental. Saya pun dulu melakukan hal yang sama dengan yang
dianjurkan.
Namun, seiring berkembangnya kesadaran diri melalui proses
pemelajaran dan perjalanan hidup, saya akhirnya menyadari satu
hal yang selama ini luput dari perhatian saya. Ternyata menyusun
impian tidak bisa asal-asalan. Untuk itu, pertama-tama kita perlu
mencari tahu, menetapkan, dan menyusun nilai-nilai hidup (value).
Value adalah apa yang kita yakini sebagai hal yang penting bagi
hidup kita. Ia berperan sebagai kompas yang mengarahkan perahu
http://facebook.com/indonesiapustaka

kehidupan kita. Jika dihubungkan dengan cerita mengenai tembok


yang salah tadi, yang dimaksud dengan “tembok” itu adalah value.
Dengan didasarkan pada value, impian yang disusun tidak akan
menyimpang dari tujuan hidup kita. Dengan demikian, saat kita
mencapai puncak kesuksesan, kita justru akan semakin semangat
dan bahagia.
Quitters฀Can฀Win 5

Mengapa bukan berdasarkan pendidikan formal kita? Karena


ada begitu banyak orang yang salah jurusan saat kuliah di perguruan
tinggi. Saya pernah memberikan konseling kepada seorang wanita,
dokter umum berusia 29 tahun, yang sedang mengambil spesialisasi
menjadi dokter tulang (orthopedist). Ia mengaku bahwa ia sebenarnya
tidak suka dengan jurusan yang saat ini ia tempuh. Ia merasa letih
sekali. Padahal, ini baru tahun pertamanya.
Sewaktu saya menanyakan mengapa ia meneruskannya dan
tidak berhenti saja, jawabannya sama seperti yang biasa saya terima.
“Sudah kepalang basah, Pak. Kalau berhenti sekarang, untuk apa
saya kuliah di kedokteran umum?”
“Lho, dulu kok memilih masuk kedokteran?” tanya saya lagi.
“Ya, soalnya, kata Om saya, kalau jadi dokter, hidupnya enak,”
jawabnya.
“Lalu, kenapa memilih spesialisasi di bidang tulang, bukan yang
lain?” kejar saya.
“Sebenarnya saya lebih suka menjadi dokter spesialis anak, tetapi
masuknya sangat sulit. Saya sudah mencoba, tapi tidak bisa. Saya ha-
nya dapat kesempatan mengambil spesialisasi tulang. Daripada tidak
bisa kuliah lagi, ya saya jalani saja”, jawabnya enteng.
Kisah ini sangat berbeda dengan kisah kawan saya, Lan Fang, di
Surabaya. Dulu ia adalah seorang agen asuransi yang sangat berhasil.
Namun, hatinya selalu gelisah. Ia merasa asuransi bukan dunia yang
sesuai dengan panggilan hatinya. Ia senang menulis. Sambil menjadi
agen asuransi, ia telah menulis beberapa novel yang ternyata sangat
berhasil. Cukup lama Lan Fang bimbang. Namun, setelah melakukan
perenungan mendalam, ia akhirnya memutuskan untuk mengikuti
suara hatinya, menjadi seorang penulis buku, full time.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Ada banyak yang menyayangkan ia berhenti sebagai agen asuran-


si mengingat potensinya yang sangat luar biasa. Namun, ia memu-
tuskan quit dengan alasan yang tepat, di saat yang tepat, dan dengan
exit strategy yang tersusun dengan baik dan matang. Sampai saat ini,
ia telah menulis delapan novel. Di antaranya Reinkarnasi, Laki-laki
yang Salah, Perempuan Kembang Jepun, dan Kota tanpa Kelamin.
6 Quitters฀Can฀Win

So, siapa bilang quitters never win? Sering kali the real winner
adalah mereka yang berani quit. Dan the real loser justru mereka
yang bersikeras berkata, “Never, never, never quit”. Anda perlu hati-
hati agar tidak menjadi winner di antara para loser karena Anda
adalah yang paling tidak mau quit.
http://facebook.com/indonesiapustaka
Rahasia Pensiun Muda, Kaya
Raya, dan Bahagia

P
ensiun muda, kaya raya, dan bahagia adalah idaman setiap
orang. Siapa yang mau bekerja sampai tua, tetapi tetap mis-
kin dan menderita? Ada yang setelah menetapkan goal bisa
mencapainya cukup mudah. Ada yang perlu bekerja sedikit lebih
keras dan akhirnya berhasil. Namun, ada juga yang telah bekerja
sangat keras tetapi tak kunjung berhasil.
Sebenarnya semua tergantung pada deinisi sukses yang mereka
tetapkan untuk diri mereka. Banyak orang tidak menetapkan secara
sadar arti sukses bagi diri mereka. Umumnya, mereka, termasuk
saya dulu, mengadopsi sukses berdasarkan deinisi atau kriteria
orang lain. Itulah sebabnya bila kita bertanya, “Apa yang ingin Anda
capai dalam hidup?”, mereka akan menjawab, “Sukses.” Kalau kita
kejar lagi, “Sukses seperti apa?”, umumnya mereka akan menjawab,
“Mencapai kebebasan waktu dan uang” atau “Pensiun dini”. Yang
paling keren adalah jawaban, “Muda kaya raya, tua foya-foya, mati
masuk surga.”
http://facebook.com/indonesiapustaka

Dulu, saya juga ingin sukses seperti itu. Namun, sekarang saya
mengerti, sukses tidak seperti yang dideinisikan oleh kebanyakan
orang. Kita harus menetapkan sendiri deinisinya. Saya mendeinisi-
kan sukses sebagai perjalanan diri berdasarkan peta sukses yang kita
rencanakan sendiri dengan kesadaran kita saat itu.
8 Rahasia฀Pensiun฀Muda,฀Kaya฀Raya,฀dan฀Bahagia

Dalam hal ini, ada dua komponen penting. Pertama, sukses ada-
lah perjalanan yang dilakukan berdasarkan peta sukses. Kedua, peta
sukses ini kita rencanakan sendiri dengan kesadaran kita saat itu.
Peta sukses adalah impian-impian yang ingin kita capai dalam
hidup. Impian harus memenuhi dua syarat utama, yaitu harus ber-
sifat personal dan bermakna. Dan yang lebih penting lagi, kita me-
netapkan impian dengan menggunakan kesadaran kita pada saat itu.
Hal ini berarti seiring dengan berkembang dan meningkatnya
kesadaran diri, kita perlu melakukan updating terhadap impian-
impian kita. Ada yang perlu kita tambah dan ada yang perlu kita hapus
dari datar. Mengapa sampai perlu dihapus dan ditambah? Karena
sering kali apa yang dulu kita anggap penting ternyata sekarang
sudah tidak penting lagi. Apa yang dulu kita anggap personal dan
bermakna ternyata sekarang sudah tidak demikian karena level
kesadaran kita telah berkembang. Sebaliknya, apa yang dulu tidak
terpikirkan sekarang malah sangat penting untuk kita capai.
Impian harus ditetapkan dengan mengacu pada nilai-nilai hidup
(value) tertinggi kita. Tidak asal ditetapkan seperti yang dilakukan
oleh kebanyakan orang. Jika sejalan dengan value, impian berisi mu-
atan emosi positif yang tinggi. Emosi positif ini selanjutnya akan
menjadi pendorong, motivator, dan sekaligus provokator sehingga
kita akan selalu bersemangat melakukan kerja atau upaya untuk
mencapainya.
Pencerahan lain yang saya dapatkan adalah bahwa kita perlu
hati-hati menetapkan makna kata “pensiun”. Mengapa? Karena
ada begitu banyak orang sulit mencapai kebebasan waktu dan
uang yang mereka impikan karena mereka dihambat oleh kata
“pensiun”.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Pensiun menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), artinya:


1) tidak bekerja lagi karena masa tugas telah selesai, dan 2) uang
tunjangan yang diterima tiap-tiap bulan oleh karyawan sesudah
berhenti bekerja atau oleh istri/suami dan anak-anaknya yang belum
dewasa kalau ia meninggal dunia. Deinisi pensiun di atas tidak
terlalu bagus, bukan?
Quitters฀Can฀Win 9

Nah, bagaimana dengan makna “pensiun” menurut mereka yang


ada di sekitar kita? Berbeda dengan deinisi KBBI di atas, dari hasil
programming saat kita masih kecil, umumnya kata “pensiun” punya arti
“berhenti bekerja”, “uang pas-pasan”, “nganggur karena sudah nggak
ada kerjaan”, “tidak punya kekuasaan”, “tidak dihargai orang”, “tua
dan lemah”, atau “melewati hari-hari yang membosankan”. Ditambah
lagi ada banyak contoh bahwa yang pensiun dari jabatan tertentu
dua tahun kemudian meninggal.
Jadi, tanpa kita sadari, ada muatan emosi negatif cukup tinggi
yang melekat pada kata “pensiun”. Emosi negatif ini bekerja di level
pikiran bawah sadar dan tanpa kita sadari justru menjadi mental
block yang menghambat upaya kita.
Langkah awal untuk pensiun adalah melakukan deinisi ulang
atas kata “pensiun”. Pastikan maknanya benar-benar masuk dan
tertanam dengan kuat di pikiran bawah sadar kita. Anda mungkin
tidak percaya dengan apa yang saya jelaskan di atas bahwa apa yang
kita pikirkan secara sadar belum tentu sejalan dengan pikiran bawah
sadar. Bila terjadi konlik antara pikiran sadar dan bawah sadar, yang
selalu menang adalah pikiran bawah sadar.
Seorang kawan, sebut saja Budi, adalah anak muda yang sangat
aktif dan percaya diri. Ia punya impian besar dan ingin menjadi
orang sukses. Ia menyiapkan diri dengan sungguh-sungguh. Ia
serius mengembangkan dirinya dengan membaca banyak buku
pengembangan diri, bisnis, keuangan, ekonomi, dan mengikuti
berbagai seminar di dalam dan luar negeri. Ia telah mengikuti
pelatihan yang dilakukan oleh semua pembicara top Indonesia. Di
luar negeri, ia mengikuti pelatihan Anthony Robbins dan Robert
Kiyosaki.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Setelah dipertimbangkan dengan sungguh-sungguh, Budi akhir-


nya memilih fast track menjadi orang kaya dengan menjadi peng-
usaha properti. Ia sadar sesadar-sadarnya bahwa seperti ilmu yang
ia dapatkan dari berbagai pelatihan yang ia ikuti, untuk bisa sukses
secara inansial, tidak diperlukan modal besar. “You don’t need a
lot of money to make a lot of money”, inilah mantra yang selalu ia
10 Rahasia฀Pensiun฀Muda,฀Kaya฀Raya,฀dan฀Bahagia

sampaikan kepada saya, “Yang penting sikap, keyakinan diri, dan


antusiasme.” Namun, setelah mencoba sekian lama, ia tetap belum
berhasil.
Apa yang menjadi penghambat Budi? Pikiran sadarnya yakin
bahwa tidak diperlukan uang banyak untuk sukses secara inansial.
Namun, pikiran bawah sadarnya berkata sebaliknya. Hal ini semakin
diperparah dengan satu program pikiran yang ia dapatkan dari
ayahnya, yaitu bahwa kalau berbisnis, ia tidak boleh mengambil
untung banyak karena pelanggan bisa lari ke orang lain.
Saat keluar dari kondisi relaksasi pikiran dan diajak berdiskusi
mengenai mental block-nya, ia sempat bingung dan berkata, “Ini
benar-benar tidak masuk akal. Saya sudah yakin seyakin-yakinnya
bahwa untuk sukses tidak diperlukan modal besar, tetapi pikiran
bawah sadar saya berkata sebaliknya. Maka saya susah sekali sukses.
Rupanya saya disabotase oleh pikiran saya sendiri. Padahal, saya
yakin sekali dengan apa yang diajarkan oleh Kiyosaki.”
Kembali ke deinisi kata “pensiun”, saya mendeinisikan pensiun
bukan dari ukuran kebebasan waktu dan uang yang saya capai.
Saya mendeinisikannya sebagai melakukan sesuatu dengan pikiran
tenang dan hati yang damai.
Nah, untuk mencapai pikiran yang tenang dan hati yang damai,
saat melakukan suatu kegiatan, pekerjaan, atau bisnis, saya perlu mene-
tapkan syarat-syarat yang spesiik. Istilah teknisnya rule atau aturan.
Saya menetapkan syarat antara lain: 1) saya suka melakukan pe-
kerjaan itu; 2) semakin saya melakukannya, semakin diri saya ber-
tumbuh dan berkembang ke arah yang lebih baik; 3) apa yang saya
lakukan memengaruhi hidup orang banyak secara positif; 4) saya
menentukan harganya; 5) saya bisa melakukannya di mana saja,
http://facebook.com/indonesiapustaka

kapan saja, dan dengan siapa saja; 6) tidak perlu banyak karyawan;
7) gudangnya ada di otak dan komputer saya; 8) saya bersedia tidak
dibayar melakukan apa yang saya lakukan; 9) sejalan dengan tujuan
hidup saya; 10) bisa diwariskan atau diteruskan oleh anak.
Jika Anda membaca dengan saksama, syarat yang saya tetapkan di
atas sebenarnya menjelaskan satu hal, yaitu passion. Namun, berbekal
Quitters฀Can฀Win 11

passion saja tidak cukup untuk sukses. Passion harus didukung oleh
strategi yang jitu dan terarah.
Ada klien saya yang hanya mengandalkan passion. Walaupun
ia orang yang sangat kompeten di bidangnya, ia harus mengalami
kegagalan beruntun di dalam bisnisnya. Sewaktu saya bertanya,
“Strategi apa yang akan Anda gunakan dalam memasarkan produk
Anda?”, jawabnya enteng, “Nggak usah pake strategi macam-macam.
Pokoknya, saya senang melakukan apa yang saya lakukan. Hasilnya
pasti akan bagus. Nanti akan sukses dengan sendirinya.”
Apa yang terjadi? Benar, di awal bisnisnya, pesanan sangat ba-
nyak. Namun, karena tidak didukung dengan perencanaan yang ma-
tang, ia kalang kabut memenuhi pesanan. Akibatnya, quality control
terabaikan. Dan ending-nya, bisnisnya bubar karena banyak klien
kecewa dan menolak melanjutkan kerjasama.
Deinisi lain yang perlu kita tetapkan dengan sangat hati-hati
adalah makna kata “kaya”. Apa ukurannya sehingga seseorang disebut
sebagai orang kaya? Masyarakat umumnya mengukur kekayaan dari
jumlah rupiah yang dimiliki oleh seseorang. Semakin banyak, sema-
kin kaya. Apakah benar demikian?
Jawaban ini benar untuk ukuran kebanyakan orang. Namun, un-
tuk diri kita sendiri, kita perlu menetapkan deinisi yang personal.
Kaya sebenarnya tidak ada hubungannya dengan jumlah rupiah. Ka-
ya sebenarnya lebih ditentukan oleh perasaan cukup.
Ada mereka yang sangat kaya (uangnya banyak sekali) tetapi
sebenarnya hidup dalam kemiskinan. Juga ada mereka yang miskin
(uangnya sedikit sekali) tetapi sangat kaya. Seorang kawan dengan
sangat bijak pernah berkata, “Orang kaya itu adalah orang miskin
yang kebetulan uangnya banyak. Sedangkan orang miskin itu adalah
http://facebook.com/indonesiapustaka

orang kaya yang kebetulan uangnya sedikit.”


Kaya atau miskin lebih ditentukan oleh perasaan cukup. Saat me-
rasa cukup dan puas dengan apa yang kita miliki, kita telah menjadi
orang kaya. Kita bisa kaya tanpa harus punya uang sangat banyak.
Sebaliknya, walaupun punya isi seluruh dunia, jika masih tetap me-
rasa kurang, sebenarnya kita adalah orang miskin. Bahkan John D.
12 Rahasia฀Pensiun฀Muda,฀Kaya฀Raya,฀dan฀Bahagia

Rockefeller JR. berkata, “Orang termiskin yang aku ketahui adalah


orang yang tidak punya apa-apa kecuali uang.”
Karena parameternya adalah perasaan, arti kaya sangatlah sub-
jektif. Setiap orang punya takaran sendiri. Kita tidak boleh meng-
gunakan takaran orang lain untuk mengukur diri kita. Demikian
pula sebaliknya.
Nah, sekarang bagaimana menjadi bahagia? Jika melakukan pe-
kerjaan atau bisnis dengan hati gembira, karena sesuai dengan nilai-
nilai dan tujuan hidup kita, dan menjadi kaya berdasarkan perasaan
cukup yang kita tetapkan sendiri, dengan penuh kesadaran, hasil
akhirnya kita pasti bahagia.
Saya pernah ditanya oleh seorang peserta seminar, “Pak Adi, ka-
lau memang Bapak sedemikian hebat, mengerti otak-atik pikiran,
bisa membantu seseorang berubah dan sukses, mengapa Bapak ti-
dak mendirikan banyak perusahaan dan menjadi miliarder? Atau
mengapa Bapak tidak mencoba menjadi Presiden RI?”
Menjawab pertanyaan peserta ini, saya menjelaskan dua hal.
Pertama, saya tidak pernah mengklaim diri saya sebagai orang hebat.
Saya hanyalah seorang pemelajar di Universitas Kehidupan yang
kebetulan mengambil spesialisasi teknologi pikiran. Saya belajar dan
praktik lebih dulu daripada peserta itu. Jika kita sama-sama belajar,
bisa jadi ia jauh lebih pintar dari saya.
Kedua, saya tidak akan mau mendirikan perusahaan besar atau
menjadi Presiden RI. Sebenarnya sekarang pun saya adalah seorang
presiden, Presiden Direktur di perusahaan kehidupan saya sendiri.
Alasan lainnya, saya telah menentukan tujuan hidup saya yang di-
dasarkan pada nilai-nilai hidup saya. Saya punya parameter yang sa-
ngat subjektif yang digunakan untuk mengukur keberhasilan hidup
http://facebook.com/indonesiapustaka

saya. Salah satunya adalah ketenangan pikiran dan kedamaian hati.


Saya pernah menghentikan kerjasama dengan seorang saudara,
walaupun bisnis itu bisa memberikan hasil yang luar biasa, karena
saya tidak lagi merasa damai dan bahagia. Justru dengan bekerja
sendiri, pikiran saya menjadi lebih tenang dan hati saya lebih damai.
Dan hasilnya jauh lebih dahsyat daripada sebelumnya.
Quitters฀Can฀Win 13

Jadi, pensiun muda, kaya raya, dan bahagia nggak susah, kan?
Kalau mati masuk surga, ini urusan Tuhan. Saya tidak berani
memberi komentar.
http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka
Belief tentang IQ dan
Implikasinya

S
aya yakin, Anda pernah melakukan tes IQ, entah saat masih di
sekolah, saat mau masuk kerja di perusahaan, atau pada saat
lain. Bagaimana perasaan Anda ketika mendengar bahwa An-
da harus mengikuti tes tersebut? Apa yang ada dalam pikiran Anda?
Berapa skor IQ yang Anda harapkan?
Berapa pun skor IQ Anda, bukan itu yang hendak saya bahas da-
lam tulisan ini. Yang hendak saya bahas adalah apa belief atau keper-
cayaan Anda tentang IQ.
Ada dua teori mengenai kecerdasan atau IQ. Teori pertama me-
ngatakan bahwa IQ adalah sesuatu yang tetap, permanen, tidak bisa
berubah atau diubah, apa pun kondisinya. Setiap orang sudah dari
sono-nya punya IQ dengan ”kadar” tertentu. Teori ini dikenal dengan
nama entity theory of intelligence karena kecerdasan digambarkan se-
bagai ”makhluk” yang tinggal di dalam diri kita dan tidak dapat kita
ubah.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Teori kedua mengatakan bahwa kecerdasan bukanlah sesuatu yang


ixed. Dikenal dengan nama incremental theory of intelligence, teori
ini melihat kecerdasan dapat ditingkatkan melalui pemelajaran.
Nah, pertanyaannya, teori mana yang Anda percayai? Yang perta-
ma ataukah yang kedua? Pertanyaan ini penting karena setiap keper-
cayaan atau belief Anda tentang IQ punya implikasi spesiik.
16 Belief฀tentang฀IQ฀dan฀Implikasinya

Oh iya? Apa saja implikasinya? Untuk konkretnya, saya akan


membahasnya dalam kaitannya dengan murid sekolah.
Murid yang percaya bahwa kecerdasan bersifat tetap akan sangat
peduli dengan skor IQ. Entah dari mana mereka mengadopsi keper-
cayaan ini (mungkin dari orangtua atau gurunya), murid tipe ini
berusaha tampak dan tampil cerdas. Mereka sama sekali tidak mau
dipandang sebagai anak bodoh.
Untuk itu, bagaimana cara mereka melakukannya? Mereka akan
berusaha mencapai sukses yang bisa diraih dengan mudah, tanpa
harus bersusah payah, dan bisa mengalahkan murid lainnya. Mereka
akan mulai meragukan kecerdasan mereka sendiri bila berhadapan
dengan murid lain yang lebih cerdas, atau saat mengalami kegagalan,
kesulitan, atau tugas yang membutuhkan upaya besar untuk me-
nyelesaikannya. Hal ini bahkan berlaku pada murid yang punya
kepercayaan diri yang tinggi terhadap kecerdasan mereka.
Murid yang percaya dengan teori yang pertama ini melihat tan-
tangan sebagai ancaman bagi harga diri mereka. Mereka akan me-
nolak atau menarik diri dari suatu tugas yang mungkin akan me-
nyingkap kekurangan mereka. Saat berhadapan dengan kondisi yang
sulit, mereka akan menunjukkan apa yang disebut dengan helpless
response atau respons ketidakberdayaan.
Lalu, bagaimana dengan murid yang punya belief bahwa kecerdas-
an dapat dikembangkan? Mereka mengakui adanya perbedaan level
pengetahuan dan kecepatan dalam mempelajari dan menguasai se-
suatu pada masing-masing individu. Namun, mereka lebih fokus
pada ide bahwa setiap orang, dengan upaya dan bimbingan, dapat
meningkatkan kapasitas intelektual mereka. Ini mirip dengan Zone
of Proximal Development-nya Vygotsky.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Mereka akan terus berusaha dan lebih terbuka dalam menghadapi


tantangan. Mereka tidak akan khawatir bila mengalami kegagalan.
Mengapa bisa demikian? Sebab, bagi mereka, sebenarnya kegagalan
itu tidak ada. Yang ada adalah proses pemelajaran. Bukankah lumrah
bahwa belajar untuk menguasai materi pelajaran pasti membutuhkan
waktu? Bahkan murid yang menyadari bahwa level pengetahuan
Quitters฀Can฀Win 17

dan kecepatan penangkapan mereka tidak cukup tinggi akan tetap


bersemangat untuk belajar dan mengerjakan tugas yang cukup sulit
bagi mereka. Mereka tetap tekun dan konsisten.
Apa yang membuat murid yang percaya bahwa kecerdasan da-
pat dikembangkan ini merasa cerdas? Mereka merasa cerdas bukan
dengan melihat hasil akhir. Mereka merasa cerdas jika sungguh-
sungguh berusaha menyelesaikan tugas mereka, mengeluarkan sega-
la daya upaya untuk mengerti dan menguasai bidang studi tertentu,
mengembangkan keterampilan mereka, serta menggunakan penge-
tahuan mereka, misalnya, untuk membantu kawan mereka belajar.
Murid tipe ini punya pola respons tersendiri yang disebut mastery-
oriented response (respons yang berorientasi pada penguasaan) da-
lam mencapai sukses.
Dengan perbedaan capaian yang diimplikasikan oleh kedua teori
tersebut, saya percaya pada teori yang kedua, yaitu bahwa kecerdasan
dapat dikembangkan. Lagipula, Alfred Binet merancang tes IQ sebe-
narnya bukan untuk mengukur tingkat kecerdasan anak, tetapi un-
tuk mengidentiikasi anak-anak yang mengalami kesulitan belajar di
sekolah negeri di Paris. Anak-anak ini selanjutnya ditangani secara
khusus agar dapat berkembang lebih baik. Jadi, tes IQ bukan bertuju-
an untuk memberikan label seperti yang selama ini terjadi dalam
masyarakat kita.
Saya pribadi telah membuktikan kepercayaan saya itu. Ketika ma-
sih duduk di kelas 1 SD, saya pernah tidak naik kelas. Namun, inilah
yang justru memberikan sesuatu yang sangat berbeda dalam hidup
saya. Bagaimana tidak? Orang-orang pada umumnya menyelesaikan
pendidikan SD dalam waktu enam tahun, sedangkan saya dalam
tujuh tahun. Kita semua tahu, SD adalah sekolah dasar. Nah, dengan
http://facebook.com/indonesiapustaka

bersekolah lebih lama di tingkat pendidikan ini daripada orang lain,


itu berarti dasar saya lebih kuat, bukan?
Sewaktu duduk di SMP dan SMA, saya juga tergolong murid “bia-
sa-biasa saja”. Sewaktu kuliah S1, saya masuk jurusan teknik elektro.
Pada semester tiga, saya hampir OD dan di semester atas hampir
DO. Lho? Apa beda OD dengan DO? Jelas beda. OD itu Out Dhewe,
18 Belief฀tentang฀IQ฀dan฀Implikasinya

keluar sendiri alias mengundurkan diri. Sedangkan DO itu Drop Out


alias dikeluarkan oleh perguruan tinggi tempat saya belajar.
Saya lulus S1 dengan predikat ”memprihatinkan”. Bagaimana ti-
dak? Orang-orang selesai kuliah tepat waktu, sedangkan saya malah
molor, bahkan hampir di-DO. IP (Indeks Prestasi)? Jelas di atas 2,0
lah, tetapi nggak tinggi-tinggi amat.
Namun, apa yang terjadi sewaktu saya kuliah S2? Ceritanya berbe-
da. Saya lulus dengan pujian dan mendapat penghargaan khusus dari
rektor sebagai wisudawan terbaik dengan IPK tertinggi.
Nah, sekarang jelas kan mengapa saya percaya pada teori yang
kedua? Namun, jangan salah mengerti. Saya bisa mencapai hasil
seperti itu karena mendapat bimbingan dari dosen-dosen saya. Saya
juga dipaksa keluar dari comfort zone dengan berbagai tugas selama
kuliah S2.
Sekarang saya kuliah S3 di Malang. Saya harus menyetir mobil
pulang-pergi Surabaya-Malang tiga kali seminggu. Kalau ada kuliah
yang dimulai pada pukul 7 pagi, saya harus berangkat dari Surabaya
pukul 4.30, karena harus melewati Porong yang macet akibat lumpur
Lapindo. Tujuan utama saya bukanlah mendapatkan gelar doktor,
tetapi lebih untuk mengembangkan kapasitas intelektual saya, sesuai
dengan teori kecerdasan yang saya yakini.
So, hati-hati dengan belief Anda tentang IQ. Mungkin Anda tidak
sadar bahwa belief Anda telah tertransfer ke anak Anda. Akibatnya?
Risiko Anda tanggung sendiri, lho.
http://facebook.com/indonesiapustaka
Kekerasan terhadap Anak
atas Nama Cinta

S
aat Anda membaca judul tulisan ini, gambar apa yang muncul
di benak Anda? Saya yakin, yang muncul pastilah gambar, me-
mori, atau ilm tentang kekerasan isik yang dilakukan oleh
orangtua terhadap anak. Bisa jadi memori ini muncul karena Anda
pernah membaca, mendengar, melihat, atau bahkan mengalami
sendiri kekerasan isik itu. Lalu, bagaimana reaksi Anda bila melihat
anak yang babak belur di(h)ajar oleh orangtuanya atau yang meng-
alami pelecehan seksual? Anda pasti sangat iba, sedih, kecewa, atau
bahkan marah sekali.
Nah, dalam tulisan ini, saya tidak akan membahas bentuk kekeras-
an seperti yang saya jelaskan di atas. Kekerasan di atas adalah bentuk
yang tampak oleh mata. Ada bentuk kekerasan lain yang justru jauh
lebih kejam dan teramat negatif terhadap perkembangan diri anak,
tetapi tidak tampak oleh mata.
Berbeda dengan luka isik yang secara otomatis akan sembuh
http://facebook.com/indonesiapustaka

walau mungkin akan meninggalkan bekas, luka (batin) tersebut


akibat bentuk kekerasan ini tidak akan bisa mengering dan sembuh.
Akan selalu terbawa menyertai hidup anak hingga ia dewasa, tua,
dan meninggal, kecuali bila ia menyadarinya dan segera dilakukan
intervensi untuk menyembuhkannya. Yang lebih menyedihkan lagi,
orangtua yang tidak menyadari hal ini sering menoreh luka baru di
20 Kekerasan฀terhadap฀Anak฀atas฀Nama฀Cinta

atas luka lama yang belum sembuh. Bisa dibayangkan betapa sakitnya.
Lalu, apa bentuk kekerasan yang tidak tampak oleh mata terhadap
anak?
Sebelum menjelaskan lebih lanjut, saya ingin menjelaskan me-
ngapa saya membuat tulisan ini. Ceritanya begini. Saya banyak me-
lakukan terapi. Umumnya yang saya terapi adalah orang dewasa de-
ngan berbagai masalah. Dari sekian banyak klien yang saya tangani,
saat saya membimbing pikiran klien untuk mencari dan menemukan
akar masalah mereka dengan teknik terapi tertentu, lebih dari 95%
masalah selalu berawal dari masa kecil mereka, umumnya pada usia
sebelum 7 tahun. Ada juga yang pada usia 7–10 tahun.
Nah, masalah yang paling sering saya jumpai adalah kekerasan
emosi. Dan inilah bentuk kekerasan yang tidak kasat mata yang di-
lakukan oleh orangtua terhadap anak. Kekerasan emosi dideinisikan
sebagai segala sesuatu yang dilakukan oleh orangtua, orang dewasa,
termasuk sekolah dan lingkungan, yang merusak harga diri atau
citra diri anak.
Apa saja contohnya? Banyak sekali, antara lain membiarkan
anak kesepian, tidak ada kedekatan emosional, tidak memberikan
sentuhan isik, mengabaikan anak, menolak anak, mendiamkan
anak, tidak berkomunikasi dengan anak, tidak mengizinkan anak
mengungkapkan emosi yang ia rasakan, membuat anak merasa ber-
salah, memarahi anak dengan keras untuk hal-hal sepele, menyebut
anak dengan sebutan “anak bodoh” atau “goblok”, atau tidak segera
membantu saat anak diejek atau mengalami bullying.
Bentuk lain kekerasan emosi terhadap anak adalah saat orang-
tua menuntut anak menjadi anak yang manis dan sempurna menu-
rut standar mereka. Orangtua tipe ini beralasan bahwa mereka
http://facebook.com/indonesiapustaka

melakukannya demi kebaikan anak. Mereka sangat sering menggu-


nakan kata “jangan” dan “tidak boleh” dan biasanya sangat menuntut
(demanding). Pada gilirannya, tuntutan yang sering kali tidak ma-
suk akal, karena tidak sesuai dengan usia anak atau melebihi ke-
mampuan anak, membuat anak menjadi cemas dan akhirnya me-
nutup diri.
Quitters฀Can฀Win 21

Kekerasan emosi terhadap anak saat ini berlangsung secara


intens dan sistematis, terutama di sekolah. Kurikulum pendidikan
yang begitu berat, proses pembelajaran yang tidak berpihak pada
anak, tuntutan untuk berprestasi tinggi, baik dari sekolah maupun
dari orangtua, sekalipun dilakukan atas nama cinta dan demi masa
depan anak, membuat emosi anak kerdil dan akhirnya berhenti
berkembang.
Seorang klien, sebut saja Bu Reni, marah besar saat ia merasa seko-
lah tempat putrinya menuntut ilmu tidak bisa mengajar seperti yang
ia harapkan. Bu Reni tanpa banyak bicara langsung memutuskan un-
tuk memindahkan anaknya ke sekolah lain yang ia rasa bagus.
Bagaimana hasilnya? Malah tambah parah. Di sekolah baru ini,
putrinya merasa semakin berat dan tersiksa. Begitu banyak PR yang
harus dikerjakan dan setiap hari ada ulangan. Padahal, putri Bu Reni
baru kelas 4 SD.
Apa yang membuat Bu Reni marah besar dan memutuskan
memindahkan anaknya ke sekolah lain? Ternyata ia merasa malu
karena putrinya kalah fasih berbahasa Inggris dibandingkan dengan
anak temannya. Di sini, tampak bahwa keputusan yang ia buat lebih
didasarkan pada gengsi semata dan bukan pada pertimbangan demi
kebaikan putrinya.
Bu Reni pun pusing dan stres karena harus membantu dan mene-
mani putrinya belajar setiap hari. Ia merasa putrinya merampok
waktu senggangnya. Tekanan yang dialaminya akhirnya berimbas
pada putrinya juga.
Ada satu kasus lagi. Seorang ibu marah sekali dan berkata bahwa
anaknya sangat bodoh. Pasalnya, sang anak tidak bisa menguasai
bahasa dan tulisan Mandarin, padahal sudah dileskan kepada guru
http://facebook.com/indonesiapustaka

yang sangat terkenal.


Saat saya tanya berapa usia anak dari ibu ini, muncul jawaban
yang sungguh mengagetkan dan memprihatinkan. Ternyata anak
itu baru berusia tiga tahun. Kalau begini, sesungguhnya siapa yang
bodoh dan goblok ya? Si ibu ataukah sang anak?
Anak usia tiga tahun tidak membutuhkan pelajaran bahasa
22 Kekerasan฀terhadap฀Anak฀atas฀Nama฀Cinta

Mandarin. Anak seusia itu butuh bermain dan bermain. Mengapa?


Karena dengan bermain, anak akan berkembang. Selain itu, yang
paling dibutuhkan si anak adalah kasih sayang, perhatian, dan du-
kungan orangtua.
Sudah saatnya kita sebagai orangtua berani bertanya dengan
jujur kepada diri sendiri, “Apakah yang saya lakukan ini sungguh-
sungguh demi anak ataukah sekadar demi memuaskan ego atau
gengsi saya? Apakah yang saya lakukan ini benar-benar kebaikan
ataukah kekerasan yang mengatasnamakan cinta?” Dan yang lebih
penting lagi, beranikah orangtua bertanya kepada diri sendiri, “Jika
posisinya dibalik, saya menjadi anak dan anak menjadi saya, maukah
saya diperlakukan seperti itu?”
http://facebook.com/indonesiapustaka
Siapakah Aku?

“I f you have t im e t o be m indful,


you have t im e t o m edit at e”
Aj a h n Ch a h

S
eorang guru spiritual, Ajahn Chah, suatu kali mendapat
pertanyaan, “Guru, di manakah tempat tinggal Anda?” “Saya
tidak tinggal di mana pun,” jawabnya.
“Bukankah guru tinggal di wihara?” tanya seorang umat dengan
penasaran. “Saya tidak tinggal di mana pun. Ajahn Chah sebenarnya
tidak ada. Maka, tidak ada yang tinggal di suatu tempat,” jawab sang
guru.
Pada kesempatan lain, ia mendapat pertanyaan dari dua orang
yang berbeda, “Siapakah Ajahn Chah?” Untuk penanya pertama,
http://facebook.com/indonesiapustaka

ia menjawab, “Ini, inilah Ajahn Chah.” Sedangkan untuk penanya


kedua, ia menjawab, “Ajahn Chah? Tidak ada Ajahn Chah.”
Saya bingung saat membaca jawaban guru spiritual ini. Apakah
itu berarti ia menyangkal keberadaan dirinya? Kalau Ajahn Chah
tidak ada, lalu siapa yang bernama Ajahn Chah dan siapa yang
sedang berbicara itu?
24 Siapakah฀Aku?

Jawaban yang singkat tetapi sangat dalam ini membuat saya


melakukan indepth thinking selama beberapa waktu untuk menelaah
dan merenungkannya. Saya juga membutuhkan informasi tambahan
agar benar-benar bisa memahaminya.
Akhirnya, saya mengerti. Yang ia maksud dengan ”Tidak ada
Ajahn Chah” adalah padamnya ego yang selama ini menguasai diri
kita. ”Aku”, ”Saya”, ”Punyaku”, dan ”Milikku” adalah permainan ego.
Ego bekerja dan mempertahankan diri, serta memperkuat pengaruh.
Ia semakin memperbesar dirinya, dan semakin kuat mencengkeram
kita dengan menggunakan dua strategi, yaitu identiikasi dan separasi.
Identiikasi berasal dari akar kata idem, yang berarti sama, dan
facere yang berarti membuat. Jadi identiikasi berarti membuat sama.
Kita senantiasa mengidentiikasi diri kita dengan sesuatu. Hal ini
tampak dalam pernyataan ”Saya marah,” “Ini ideku,” ”Ini rumahku,”
”Tubuhku gemuk,” ”Mobilku rusak,” dan masih banyak lagi.
Saat berkata, ”Saya marah”, kita mengidentiikasi ”saya” dengan
”marah”. Itu berarti ”saya” sama dengan ”marah”. Saat berkata, ”Ini
ideku,” kita menyamakan diri kita dengan ide kita. Itulah sebabnya
bila ada yang mengkritik ide kita, kita bisa marah besar. Mengapa?
Karena kita menganggap orang itu mengkritik diri kita. Inilah bentuk
identiikasi.
Lalu, apakah kita ini sama dengan emosi kita? Apakah kita ini
sama dengan ide kita? Tentu tidak. Marah adalah suatu bentuk emosi.
Dan kita tidak sama atau bukan emosi kita. Demikian juga dengan
ide. Ide adalah buah pikir (thought) yang dihasilkan oleh pikiran
(mind) melalui proses berpikir (think). Pikiran (mind) diarahkan
oleh kesadaran (awareness).
Kita merasa bahwa kita sama dengan emosi atau ide kita karena
http://facebook.com/indonesiapustaka

ego yang membuatnya seperti itu. Manusia terdiri atas dua bagian,
yaitu tubuh isik/badan dan batin. Batin manusia terdiri atas empat
komponen, yaitu pikiran, perasaan, ingatan, dan kesadaran. Dan
kita bukanlah batin dan isik kita.
Identiikasi ini tampak jelas saat seorang anak sedih dan menangis
karena mainannya rusak. Ia sedih bukan karena sayang pada
Quitters฀Can฀Win 25

mainannya yang berharga mahal tetapi karena identiikasi ”mainanku


rusak” membuat ”mainan” masuk ke dalam struktur ”aku”. Dengan
kata lain, ia merasa, yang rusak bukan hanya mainannya tetapi juga
”dirinya”.
Identiikasi seperti ini juga tampak dalam diri pejabat yang meng-
alami post power syndrome, pengusaha yang dulu jaya tapi sekarang
bangkrut, wanita yang dulunya langsing dan seksi tetapi sekarang
gemuk, dan masih banyak contoh lain. Singkat kata, identiikasi
membuat seseorang melekat pada sesuatu.
Strategi kedua yang digunakan ego adalah separasi. Dalam hal ini,
”aku” adalah entitas yang berbeda dengan ”orang” atau ”aku” yang lain.
Aku tidak bisa ada tanpa adanya ”yang lain”, kamu, dia, atau mereka.
Untuk mempertegas separasi ini, ego biasanya menggunakan
emosi negatif yang dimunculkan dengan menggunakan strategi
”mengeluh/menyalahkan” dan ”membenci” orang lain. Semakin
kita sering mengeluh atau menyalahkan orang lain, semakin jelas
separasi di antara kita dan mereka. Mengeluh dan menyalahkan
diperkuat oleh emosi benci.
Lalu apa sih ego itu? Kok pintar, kerjanya sangat halus dan ber-
bahaya? Ego adalah hasil ciptaan pikiran kita. Nggak percaya? Coba
lakukan eksperimen kecil ini. Misalnya, ada orang yang berkata,
”Hei, manusia kurang ajar. Matamu ditaruh di mana kok sampe
nginjak kaki saya?” Bagaimana reaksi Anda? Apakah Anda akan
diam, tersenyum, atau marah? Bisa jadi Anda, yang merasa tidak
bersalah akan marah besar.
Nah, sekarang skenarionya diubah. Misalnya, saat Anda sedang
tidur lelap, orang ini mengucapkan hal yang sama kepada Anda. Apa
yang akan Anda lakukan? Bagaimana reaksi Anda? Saya yakin, Anda
http://facebook.com/indonesiapustaka

tidak akan bereaksi sama sekali. Ketika sedang enak-enaknya tidur,


Anda tentu tidak bisa mendengar omongan orang. Ego beroperasi
saat kita dalam kondisi sadar. Saat kita ”tidak sadar” (baca: tidur),
ego juga berhenti bekerja.
Saat merenungkan pernyataan Ajahn Chah, tiba-tiba saya ter-
ingat pada pernyataan yang sangat terkenal dari Rene Descartes,
26 Siapakah฀Aku?

ilsuf besar abad ketujuh belas yang dianggap sebagai bapak ilsafat
modern, ”Cogito ergo sum. Saya berpikir, maka saya ada.”
Lama saya merenungkan pernyataan itu. Mana lebih dulu, “Saya
berpikir, maka saya ada”, ataukah “Saya ada, baru saya bisa berpikir”?
Pemikiran ini akhirnya membawa saya pada satu kesimpulan bahwa
sebenarnya ada lebih dari satu ”aku”. ”Aku” yang berpikir dan ”aku”
yang berkata, ”Saya ada”.
Semuanya menjadi semakin jelas saat saya membaca literatur
berjudul Unity and Multiplicity: Multilevel Consciousness of Self in
Hypnosis, Psychiatric Disorder and Mental Health yang ditulis oleh
John O. Beahrs. Ternyata, kesadaran atau consciousness itu bertingkat-
tingkat (multilevel). Kesadaran atau consciousness yang aktif pada
saat tertentu bisa berbeda, tergantung pada situasi dan kondisinya.
Kesimpulan ini semakin jelas saat saya membaca pernyataan Jean
Paul Sartre yang juga mengatakan, ”Kesadaran yang mengatakan ”I
am” bukanlah kesadaran yang berpikir (I think).” Apa maksudnya?
Saat kita sadar mengenai proses berpikir kita, atau saat kita meng-
analisis atau menggunakan pikiran untuk berpikir mengenai apa yang
kita pikirkan atau proses berpikir kita, kesadaran yang melakukan
analisis berbeda dengan kesadaran yang melakukan proses berpikir.
Secara teknis, kemampuan berpikir mengenai berpikir disebut de-
ngan metakognisi.
Oleh karena itu, saat kita sedang mengalami gejolak emosi,
berhati-hatilah. Pada saat seperti itu, ego sedang bermain. Kita
sering mendengar pernyataan, ”Saya merasa tersinggung dengan
ucapannya”, atau ”Ini milikku. Jangan coba-coba menyentuhnya.”
Cara untuk mengatasi cengkeraman ego adalah mengajukan per-
tanyaan, ”Oke, kalau saya tersinggung, sebenarnya bagian mana dari
http://facebook.com/indonesiapustaka

diri saya yang tersinggung? Apakah rambut saya, telinga saya, mata
saya, atau kaki saya?” Seperti halnya jika ada kawan yang berkata,
”Saya habis menyerempet pembatas jalan. Mobil saya penyok,”
tentu kita tidak akan menerimanya mentah-mentah. Kita pasti akan
bertanya, ”Bagian mana yang penyok? Bemper depan, kiri, kanan,
atau body-nya?”
Quitters฀Can฀Win 27

Sebaliknya, jika kita menerima pernyataan ”Saya merasa ter-


singgung” bulat-bulat, yang terkena dampaknya adalah seluruh
diri kita. Padahal, jika kita teliti, yang terkena sebenarnya hanyalah
perasaan kita. Benar, hanya perasaan, bukan ”kita” atau ”aku”. Pe-
rasaan selalu mengalami berbagai emosi, entah positif atau nega-
tif. Dengan cara seperti inilah, kita bisa melepaskan diri dari ceng-
keraman identiikasi yang dilakukan ego.
Demikian juga dengan pernyataan, ”Ini milikku”. Bisa kita tanya-
kan, ”Bagian mana dari diri saya yang memiliki benda ini?” Bagai-
mana dengan orang yang mengalami amnesia atau lupa ingatan?
Apakah orang ini masih bisa mengingat benda yang dulunya menjadi
miliknya? Kalau sudah lupa, konsep ”milik-ku” runtuh dengan sen-
dirinya.
Nah, sekarang apakah Anda bisa menarik kesimpulan untuk men-
jawab pertanyaan yang saya tulis dalam judul tulisan ini, ”Siapakah
Aku?” Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan kalimat yang pernah
saya baca di sebuah buku:
Saat aku mati, tubuhku akan dikubur dan kembali ke tanah
Jiwaku menunggu penghakiman di akhir zaman Dan rohku akan
kembali kepada Sang Khalik
Jadi, ”Siapa atau apakah ’aku’ dalam kalimat di atas?”
http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka
Masa Depan Ada di Masa Lalu

Y
our past doesn’t equal your future” atau “Masa lalu Anda
“ tidak sama dengan masa depan Anda”. Maksud pernyataan
ini adalah bahwa apa pun yang terjadi di masa lalu kita
tidak menentukan masa depan kita.
Benarkah demikian? Dulu, saya sangat yakin dengan pernyataan
di atas. Namun, sekarang saya justru berpikir sebaliknya. Saat ini, sa-
ya tahu bahwa masa lalu sama dengan masa depan atau masa depan
ada di masa lalu.
Kesimpulan ini saya dapatkan setelah memikirkan secara menda-
lam berbagai kasus yang pernah saya tangani, serta pengalaman
hidup dan perubahan yang terjadi pada banyak alumnus pelatihan
Supercamp Becoming a Money Magnet dan he Secret of Mindset yang
saya selenggarakan.
Jika masa lalu tidak sama dengan masa depan, mengapa ada be-
gitu banyak orang yang sulit mencapai impian mereka? Mengapa
http://facebook.com/indonesiapustaka

mereka yang telah berusaha sedemikian keras alias melakukan


massive action, membaca banyak buku sukses, dan ikut berbagai
pelatihan pengembangan diri masih saja sulit berhasil? Sebaliknya,
mengapa ada orang yang tidak melakukan hal-hal tersebut malah
mudah sekali mencapai sukses yang mereka inginkan.
Dari hasil perenungan saya akhirnya sampai pada kesimpulan
30 Masa฀Depan฀Ada฀di฀Masa฀Lalu

bahwa masa lalu seseorang sama dengan masa depan mereka. Jika
tetap berpegang teguh pada pernyataan bahwa masa lalu tidak sama
dengan masa depan, kalimat ini perlu sedikit dimodiikasi. Saya
akhirnya menambahkannya menjadi “masa lalu tidak sama dengan
masa depan bila kita mengembangkan kesadaran diri untuk berpikir
dan bertindak dengan prinsip kekinian.”
Maksudnya, dari berbagai kasus yang saya telaah, saya menemu-
kan bahwa hampir semua tindakan kita saat ini dipengaruhi oleh
kesimpulan akibat pemelajaran berdasarkan pengalaman hidup kita
di masa lalu, baik yang positif maupun yang negatif. Dengan kata
lain, selama kita tidak mengembangkan kesadaran diri untuk bisa
berpikir dengan prinsip kekinian, kita akan selalu beroperasi dengan
“automatic pilot”. Sebenarnya pikiran kita tidak mengenal masa lalu
dan masa depan. Yang dikenal hanyalah masa sekarang.
Agar lebih jelas, saya akan memberikan beberapa contoh. Baru-
baru ini, saya menangani seorang mahasiswa dari Jogja yang putus
kuliah. Ia bercerita bahwa ia tidak bisa berbicara di depan umum.
Jika diminta berbicara di depan orang banyak, ia selalu merasa takut,
tidak berdaya, jantung berdebar, muka pucat, keluar keringat dingin,
dan tidak tahu apa yang harus diucapkan.
Dari mana ia belajar tentang respons seperti ini? Sudah tentu
dari masa lalunya. Di masa lalu, saat masih duduk di SD, ternyata ia
pernah dipermalukan di depan kelas saat diminta membaca puisi.
Pengalaman traumatis inilah yang akhirnya membuatnya seperti
sekarang.
Seorang wanita cantik, menarik, pintar, berusia sekitar 30-an
tahun, memegang posisi kunci di perusahaan tempat ia bekerja,
ternyata masih jomblo alias belum punya pasangan. Kok bisa? Banyak
http://facebook.com/indonesiapustaka

pria mapan yang menyenanginya dan ia juga menyukai mereka.


Bahkan, ia pernah menjalin kasih secara serius dengan beberapa pria
itu. Namun, selalu putus di tengah jalan dan tidak pernah sampai ke
jenjang pernikahan.
Selidik punya selidik, ternyata ia berasal dari keluarga broken
home. Orangtuanya berpisah saat ia berusia 5 tahun. Ternyata
Quitters฀Can฀Win 31

perpisahan ini meninggalkan luka yang cukup dalam di hatinya.


Saat itu, ia menyimpulkan bahwa kehidupan rumah tangga adalah
sesuatu yang menyakitkan.
Namun, ada juga orang yang telah gagal beberapa kali tapi tetap
bisa bangkit dan akhirnya berhasil mencapai impiannya. Saat ditanya
mengapa ia bisa begitu gigih dan yakin dalam memperjuangkan
impiannya, ia menjawab, “Saya berasal dari keluarga miskin. Ayah
saya selalu berpesan bahwa tidak ada orang yang gagal asalkan ia mau
terus berusaha, belajar dari kegagalannya, dan terus berjuang. Prinsip
ini saya pegang teguh.” Ia tidak membiarkan apa yang dialaminya se-
karang menghentikan langkahnya. Yang menjadi pendorong sema-
ngatnya adalah pesan ayahnya yang ia dapatkan sewaktu ia masih
kecil.
Nah, tadi saya mengatakan bahwa masa lalu tidak sama dengan
masa depan bila kita mengembangkan kesadaran diri untuk berpikir
dan bertindak dengan prinsip kekinian. Untuk bisa membuat masa
depan tidak sama dengan masa lalu, kita perlu mengembangkan
kesadaran diri. Kesadaran ini yang membuat kita bertindak tidak lagi
berdasarkan “database” atau “program” pikiran akibat pengalaman
masa lalu, tetapi berdasarkan kondisi kita saat ini. Inilah yang saya
maksudkan dengan prinsip kekinian.
Prinsip kekinian menyatakan bahwa saat ini adalah titik awal
dari langkah kehidupan yang akan kita tempuh. Kita beroperasi
dengan pengetahuan, pengalaman, pemahaman, prinsip hidup, dan
kebijaksanaan yang berhasil kita kembangkan hingga saat ini. Kita
tidak membiarkan masa lalu mendikte hidup kita. Kita mengenang
masa lalu hanya sebagai sejarah hidup kita. Kita belajar dari masa
lalu dan menjadi lebih bijaksana.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Nah, saat merenungkan soal kesadaran, kebijaksanaan, dan


masa depan, tiba-tiba saya mendapatkan e-mail dari kawan saya,
Eric Gotana, melalui milis Money Magnet. Apa yang Eric tulis sejalan
dengan yang sedang saya pikirkan. Dan atas izin Eric, saya mengutip
dan sedikit memodiikasi tulisannya: Masa depan sama dengan
masa lalu karena kita “tidak bebas” menjalani kehidupan di dunia
32 Masa฀Depan฀Ada฀di฀Masa฀Lalu

sebagai akibat dari ketidaksadaran kita. “Tidak bebas” menjalani


hidup berarti tidak bebas menjadi diri kita sendiri karena rasa takut,
seperti takut dosa, takut karma buruk, takut salah, takut berakibat
buruk, dan ketakutan lain yang dibenarkan oleh pikiran kita.
Pada contoh di atas, mahasiswa yang takut bicara di depan umum
dan wanita yang susah mendapat jodoh (baca: takut menikah)
menjalani hidup dengan “tidak bebas” akibat penjara mental yang
dibangun oleh pikiran mereka, untuk melindungi mereka dari
hal-hal “negatif ” menurut pikiran itu sendiri. Ketidaksadaran ini
disebabkan karena pikiran kita merekayasa (baca: menafsirkan
secara subjektif) kebenarannya sendiri dan terus berputar-pu-
tar dalam lingkaran sebab-akibat yang diciptakannya sendiri.
Hal ini membuat kita tidak sadar akan adanya:
Kebenaran, karena kita terkekang oleh “kebenaran” dan “ketidak-
benaran” menurut penafsiran pikiran kita.
Keadilan, karena kita terkekang oleh “keadilan” dan “ketidak-
adilan” menurut penafsiran pikiran kita.
Surga, karena kita terkekang oleh “surga” dan “neraka” menurut
penafsiran pikiran kita.
Karma baik, karena kita terkekang oleh “karma baik” dan “karma
buruk” menurut penafsiran pikiran kita.
Keberlimpahan, karena kita terkekang oleh “kekayaan” dan “ke-
melaratan” menurut penafsiran pikiran kita.
Kebahagiaan, karena kita terkekang oleh “kebahagiaan” dan
“ketidakbahagiaan” menurut penafsiran pikiran kita.
Hanya melalui kebijaksanaan, kita bisa bebas dari jerat “benar”
dan “tidak benar” menurut pikiran sehingga mampu melihat apa
yang ada secara jernih. Kebijaksanaan hanya muncul ketika kita
http://facebook.com/indonesiapustaka

memutuskan untuk menjadi sadar.


Pada saat kita telah benar-benar sadar bahwa masa lalu tidak sama
dengan masa depan dan masa depan tidak ada di masa lalu, masa
depan adalah hasil pencapaian yang diraih melalui perencanaan
matang berdasarkan peta kehidupan yang kita rancang sendiri,
secara hati-hati dan saksama, berdasar kesadaran kita pada saat itu.
Mengenal Suara Hati yang
Sesungguhnya

D
i salah satu seminar, saya mendapatkan pertanyaan yang
membuat saya merenung cukup lama, “Pak, apa sih sebe-
narnya suara hati itu? Apakah suara hati selalu baik untuk
kita? Apa suara hati harus selalu kita ikuti? Apa parameter yang per-
lu digunakan sehingga kita tahu bahwa yang kita “dengar” adalah
benar-benar suara hati nurani kita dan bukan “suara” yang lain?”
Karena keterbatasan waktu, saya hanya bisa memberikan jawaban
singkat.
Pada malam harinya, sebelum tidur, saya mulai berpikir dan ber-
pikir. Saya kemudian meng-cross-check hasil pemikiran saya dengan
beberapa literatur yang pernah saya baca sebelumnya. Setelah itu,
saya bandingkan dengan berbagai pengalaman hidup yang telah
saya alami. Nah, dalam kesempatan ini izinkan saya untuk berbagi
pengalaman dan pemahaman saya yang mengkristal untuk menjawab
pertanyaan di atas.
Dalam buku Hypnotherapy : he Art of Subconscious Restructuring,
http://facebook.com/indonesiapustaka

saya menjelaskan salah satu teknik terapi yang dikenal dengan nama
Ego State herapy atau yang oleh beberapa pihak disebut Parts
herapy. Inti dari teknik ini adalah bahwa kita berkomunikasi de-
ngan “bagian” (ego state atau parts) dari diri kita yang selama ini
menghambat kemajuan kita. Teknik ini sangat efektif untuk menyele-
saikan konlik diri (inner conlict).
34 Mengenal฀Suara฀Hati฀yang฀Sesungguhnya

Terapis yang telah menjalani pelatihan intensif dan mengerti


betul teorinya akan sangat mudah melakukan teknik ini. Namun,
bagaimana dengan mereka yang tidak mendapat pelatihan ini?

Parts/Ego State
Ada juga yang menyebutnya sebagai sub personality. Untuk mudah-
nya, saya akan menggunakan istilah “bagian”.
Di dalam diri kita, ada banyak “bagian”. Setiap bagian menyerupai
“seseorang” dengan kepribadian, karakter, memori, rule, belief,
value, dan tujuan masing-masing. Saat bekerja secara harmonis dan
hubungan sesama “bagian” ini baik, hidup kita akan sangat lancar.
Namun, saat ada di antaranya yang berkonlik, dan biasanya ini me-
libatkan lebih dari dua “bagian”, kita mengalami konlik diri.
Cara “bagian” ini berkomunikasi dengan kita biasanya dengan
menggunakan perasaan dan self talk atau inner dialogue/voice. Ada
juga cara lain yang jarang atau tidak kita sadari, walaupun sebenarnya
pernah kita alami. Nanti, di bagian akhir tulisan ini, saya akan mem-
bahasnya secara lebih mendalam.
Saat paling mudah untuk mengamati “bagian” ini saling berko-
munikasi adalah saat kita baru bangun tidur. Biasanya ada dua
“bagian” yang saling berbicara. Satu “bagian” menghendaki kita se-
gera bangun dan satu “bagian” lagi ingin kita tetap berbaring dan
tidur lebih lama. Masing-masing memberikan argumentasinya. Yang
umumnya terjadi adalah seperti ini:
Bagian 1 : Hei, bangun. Sudah siang nih. Sudah waktunya masuk
kerja.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Bagian 2 : Nggak usah bangun dulu. Santai aja kenapa sih? Kan
tadi malam dia tidurnya malam sekali. Jadi, dia butuh
waktu sedikit lagi untuk istirahat.
Bagian 1 : Lho, kalau nggak bangun sekarang, nanti terlambat
masuk kantor. Bos bisa marah besar Kan dia ada janji
sama pelanggannya.
Quitters฀Can฀Win 35

Bagian 2 : Ala… lima menit saja kenapa sih? Nggak bisa lihat
orang senang ya?
Anda pernah mengalami self talk seperti ini, bukan? Saat dua “ba-
gian” ini saling beradu argumentasi, kita hanya menjadi pengamat
sampai kita memutuskan untuk mengikuti salah satu “saran” yang
diberikan. Masing-masing “bagian” punya “kepentingan” sendiri
yang mereka pikir baik untuk kita. Mana yang benar-benar baik? Ini
membutuhkan kejelian kita untuk menganalisis.

Berguru pada Ingar Bingar Keheningan


Mengapa saat akan bangun tidur, kita mudah sekali mengamati self
talk kita? Mengapa tanpa perlu upaya kita bisa mengikuti dialog in-
ternal itu? Mengapa kalau sudah bangun dan mulai aktif, kita malah
sulit sekali mendengar suara itu?
Jawabannya sebenarnya sangat mudah. Saat kita baru bangun ti-
dur, pikiran kita masih tenang. Saat itu, kita masih “hening”. Belum
banyak hal, buah pikir, masalah, atau thought yang kita pikirkan.
Setenang air di danau di pagi hari. Kalau sudah siang, saat air (baca:
pikiran) sudah bergejolak dan banyak riak, kita akan sangat sulit
melihat ke dalam atau dasar danau.
Nah, justru saat pikiran berada dalam kondisi tenang atau hening,
kita akan “mendengar” ingar bingar yang selama ini tidak kita dengar.
Saat itulah, kita bisa belajar melakukan pengamatan terhadap dialog
internal yang terjadi, tanpa perlu melibatkan diri dalam dialog itu.
Kita hanya akan melibatkan diri bila dirasa perlu dan untuk tujuan
tertentu.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Membedakan Suara Hati Nurani dan Suara Ego


yang Sakit
Sebelum menulis bagian ini, saya teringat dengan satu klien yang
pernah saya tangani. Saat itu saya berdialog dengan empat “bagian”
36 Mengenal฀Suara฀Hati฀yang฀Sesungguhnya

dari dirinya. Ia mengalami kecemasan yang sangat tinggi dan sudah


lebih dari delapan tahun berobat ke luar negeri.
Setiap satu setengah bulan ia harus menemui dokter di rumah
sakit di luar negeri, mendapat injeksi obat tertentu, dan sekaligus
membeli tambahan obat yang harus ia minum secara rutin. Begitu
tinggi kecemasannya sampai-sampai selama delapan tahun terakhir,
setiap hari ia mendengar berbagai suara.
Suara ini memberikan perintah yang aneh-aneh, bahkan bisa
merugikan dan membahayakan hidupnya. Ada suara yang memberi
perintah yang seakan-akan demi kebaikan dan kebahagiaannya, tetapi
bila dianalisis secara hati-hati ternyata sangat bertolak belakang.
Saya tidak akan membahas klien ini. Yang ingin saya sampaikan
adalah bagaimana kita, sebagai orang biasa, bisa mengenali dan
membedakan suara yang sungguh-sungguh berasal dari hati nurani
dan suara yang berasal dari “bagian” atau ego yang sakit.
Saya percaya, hati nurani setiap manusia bersih dan tulus. Hati
nurani selalu baik adanya. Ada rekan saya yang mengatakan bahwa
hati nurani mewakili sifat-sifat Ilahi di dalam diri manusia. Dan
menurutnya, saat seseorang berdoa kepada Tuhan, jawaban dari-
Nya datang melalui suara hati nurani.
Berangkat dari pemahaman ini, saya menyimpulkan bahwa suara
hati nurani pasti punya sifat-sifat berikut:

Penuh cinta kasih yang tulus tanpa pamrih


Selalu menginginkan yang terbaik untuk diri kita
Berlandaskan nilai-nilai kebenaran universal
Jujur, tulus, dan apa adanya, walau kadang terasa menyakitkan
perasaan kita
http://facebook.com/indonesiapustaka

Menghargai diri kita dan juga orang lain


Penuh kelembutan dan ketenangan tetapi sangat kuat
Penuh pengertian dan toleransi
Memberikan perspektif atau pemahaman baru terhadap
Quitters฀Can฀Win 37

suatu kejadian atau peristiwa sehingga meningkatkan level


kesadaran kita

Memahami Komunikasi Suara Hati Nurani


Banyak orang telah mengalami, tidak hanya mendengar, suara hati
tetapi tidak menyadarinya karena tidak mengerti cara hati nurani
berkomunikasi. Ada beberapa bentuk komunikasi yang biasa digu-
nakan oleh hati nurani. Pertama, seperti telah saya jelaskan di awal
tulisan ini, menggunakan self talk atau inner dialogue. Saat pikiran
hening, kita bisa mendengar suara hati nurani dengan jelas. Kita
bahkan bisa berdialog dengannya.
Kedua, melalui perasaan atau yang sering disebut gut feeling.
Saat akan melakukan sesuatu, sering kali ada perasaan tertentu yang
memberikan sinyal apakah kita bisa terus atau harus berhenti. Nah,
perasaan atau gut feeling ini sebenarnya juga bentuk komunikasi dari
hati nurani kepada kita.
Jika Anda cukup tanggap, perasaan ini memberikan sinyal yang
cukup jelas. Mengabaikan perasaan ini justru sangat merugikan di-
ri Anda. Misalnya, saat Anda ingin melakukan sesuatu, tiba-tiba
muncul perasaan yang meminta Anda untuk tidak melakukannya,
dan Anda tetap melakukannya. Nah, setelah itu, Anda mungkin
berkata, “Coba tadi saya mengikuti suara hati saya. Pasti nggak akan
mengalami kerugian seperti ini.”
Ada banyak contoh kasus mengenai gut feeling. Seorang klien
pernah bercerita mengenai hal ini kepada saya. Saat hendak memulai
satu bisnis dengan kawan dekatnya, ia mendapat gut feeling yang
http://facebook.com/indonesiapustaka

mengatakan bahwa ia tidak boleh melakukan kerjasama ini. Gut


feeling-nya mendapat dukungan dari gut feeling istrinya yang juga
kurang setuju dengan rencananya. Namun, ia mengabaikannya.
Akhirnya, bisnis yang semula berjalan baik harus dihentikan
karena mereka punya perbedaan visi dan misi. Pada awalnya, klien
saya merasa bahwa ia dan kawannya sudah benar-benar sehati,
38 Mengenal฀Suara฀Hati฀yang฀Sesungguhnya

satu visi, satu misi, dan satu nilai. Namun, ternyata setelah bisnis
semakin berkembang, tampak jelas perbedaannya. Yang satu tetap
fokus pada tujuan semula, yang satu lagi hanya fokus pada uang
sehingga keputusan yang dibuat sering kali tidak sesuai dengan
tujuan semula.
Ketiga, melalui ide yang bersifat menginspirasi. Saya yakin Anda
pernah mengalami bahwa saat berdoa meminta petunjuk dari Tuhan,
tanpa disangka-sangka muncul satu ide kreatif yang menginspirasi
Anda untuk melakukan sesuatu. Dan saat melaksanakan ide ini,
masalah Anda pun selesai. Jadi, ide ini adalah jawaban yang Anda
butuhkan.
Ide ini bisa muncul tiba-tiba, bisa juga setelah dipicu oleh faktor
lain. Faktor lain ini bisa berupa informasi dari buku yang sedang
Anda baca, televisi, kisah orang lain, atau dari mana saja.
Keempat, melalui pergeseran persepsi. Misalnya, kita membantu
salah satu saudara kita dengan tulus saat mengalami kesulitan hidup.
Kita telah memberi kepercayaan dan kesempatan kepadanya untuk
berkembang. Namun, ternyata setelah agak “kuat”, ia malah meng-
khianati kepercayaan kita.
Tentu kita marah dan kecewa. Namun, seiring berjalannya waktu,
perasaan kita berubah. Perasaan marah, kecewa, sakit hati, jengkel,
dendam, dan berbagai emosi negatif lainnya berubah menjadi rasa
kasihan dan prihatin kepadanya.
Perubahan ini bisa terjadi karena pemahaman kita semakin ber-
kembang, semakin bijaksana, dan mendapatkan insight yang meng-
akibatkan terjadinya peningkatan level kesadaran. Kita kasihan dan
prihatin, saudara kita ini akan mengalami banyak kesulitan hidup
bila tidak menyadari bahwa apa yang ia lakukan itu salah dan justru
http://facebook.com/indonesiapustaka

akan sangat merugikan dirinya di masa mendatang.


Kita kasihan dan prihatin karena bisa saja saudara kita ini tidak
menyadari apa yang ia lakukan. Bisa jadi ini adalah salah satu bentuk
sabotase diri yang sangat halus yang tidak ia sadari. Bahkan perasaan
kita yang negatif telah berubah menjadi rasa sayang ingin membantu
saudara kita ini.
Quitters฀Can฀Win 39

Kelima, melalui “kebetulan”. Sering kali kita mengalami suatu


kejadian yang kita anggap suatu kebetulan tetapi sebenarnya bukan
kebetulan. Kebetulan yang tidak kebetulan ini sebenarnya merupa-
kan bentuk komunikasi hati nurani dengan kita. Namun, kita sering
mengabaikannya.
Contohnya, ada seorang pria ingin membayar lunas hutangnya
sebelum pindah kerja ke kota lain. Bosnya tahu rencananya untuk
pindah kota. Akibatnya, bosnya malah mempercepat proses “ber-
henti” kerjanya sehingga pria ini tidak punya penghasilan untuk
membayar hutangnya.
Pria ini marah sekali kepada bosnya. Ia merasa bosnya telah
menghancurkan hidupnya. Ia juga berdoa agar bisa mendapat ban-
tuan keluar dari kesulitannya ini. Saat ia membuka kitab sucinya,
matanya terpaku pada ayat yang berbunyi, “Dan jika kamu berdiri
untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada sesuatu dalam
hatimu terhadap seseorang.”
Pria ini memutuskan untuk memaakan mantan bosnya dengan
tulus. Ia malah mendoakan agar usaha mantan bosnya ini semakin
maju dan berkembang. Apa yang terjadi kemudian?
Di hari yang sama, ada seorang famili yang mampir ke rumahnya
dan menyerahkan amplop berisi uang. Jumlahnya persis sama seperti
yang ia butuhkan untuk melunasi hutangnya.
Saat ditanya mengapa familinya menyerahkan uang kepadanya,
ia mendapat jawaban yang justru lebih aneh lagi, “ Minggu lalu, ada
dorongan di hati saya untuk melihat kembali perhitungan keun-
tungan yang kita dapatkan saat mengerjakan proyek beberapa waktu
lalu. Nah, tiba-tiba saya lihat ada kesalahan perhitungan. Setelah
saya hitung ulang, kamu seharusnya dapat lebih. Saya sudah mau
http://facebook.com/indonesiapustaka

ke rumahmu, tetapi selalu saja belum bisa. Baru hari ini saya punya
waktu luang. Ini pun setelah ada satu janji yang dibatalkan secara
mendadak oleh customer-ku.”
Pria ini langsung teringat bahwa ia mulai berdoa memohon ban-
tuan sejak minggu lalu. Rupanya kemarahannya ini yang membuat
“bantuan” yang ia butuhkan tidak kunjung tiba. Dan setelah ia
40 Mengenal฀Suara฀Hati฀yang฀Sesungguhnya

memaakan mantan bosnya, tiba-tiba bantuan datang. Apakah ini


kebetulan? Tentu tidak.
Keenam, melalui mimpi. Saat kita sangat membutuhkan jawaban
untuk mengatasi masalah yang sedang kita hadapi, pada saat tidur
kita justru mendapatkan mimpi yang merupakan jawaban atas per-
tanyaan kita. Anda pernah mengalaminya?
Saya berharap Anda sekarang bisa lebih memahami suara Hati
Nurani. Apa pun “jawaban” yang Anda dapatkan, Anda harus cross
check dengan sifat-sifat hati nurani yang saya jelaskan di atas.
Pada kasus klien saya, ia berkata bahwa suara hatinya mengatakan
bahwa sebaiknya ia mati karena ia tidak akan bisa bahagia di dunia
ini. Nah, ini benar-benar suara hati nurani ataukah suara ego yang
sakit?
http://facebook.com/indonesiapustaka
Jujur Diri melalui
Analisis Value

D
alam perjalanan dari Purwokerto ke Jogjakarta, kami ber-
empat, saya, istri saya Stephanie, Bu Ely Susanti, dan Bapak
Prasetyo Erlimus mendiskusikan banyak hal. Salah satunya
adalah soal pentingnya kita melepaskan, atau kalau dalam bahasa
terapi “release”, berbagai emosi negatif. Yang menjadi pertanyaan
adalah bagaimana kita tahu bahwa kita telah benar-benar melepas
emosi negatif itu? Atau bagaimana cara agar bisa melepas emosi
negatif selamanya?
Misalnya, seorang kawan dekat kita menipu kita hingga ratusan
juta rupiah. Apa yang harus kita lakukan? Tentu kita merasa marah,
kecewa, jengkel, sakit hati, dendam, terluka, atau benci. Ada orang
yang tetap tidak bersedia atau tidak tahu bagaimana cara melepaskan
emosi negatif ini. Pak Prasetyo bertanya, “Jika orang ini menawari
satu kerjasama lagi di bidang bisnis, kalau sudah me-release, apakah
kita akan mengambil peluang ini? Jika kita menolak tawarannya,
apakah ini berarti kita belum me-release sepenuhnya emosi negatif
http://facebook.com/indonesiapustaka

kita terhadap orang itu?”


Kita bisa memilih untuk mengambilnya atau tidak. Semua tergan-
tung pada nilai hidup atau value kita. Ada dua kemungkinan yang
bisa terjadi. Pertama, kita bisa serta merta menolak tawarannya.
Namun, hal ini bukan berarti kita masih menyimpan emosi negatif
42 Jujur฀Diri฀melalui฀Analisis฀Value

kepadanya. Menolak tawaran yang menurut kalkulasi bisnis bisa


menghasilkan banyak uang tidak berarti bahwa kita masih punya
kebencian terhadap orang ini.
“Lho, kalau kita menolak tawarannya, bukankah ini indikasi ma-
sih ada perasaan marah di hati kita terhadap orang ini?”
Bisa ya, bisa tidak. Dalam hal ini, dibutuhkan kejujuran dan kebe-
ranian untuk menyelami perasaan kita sendiri. Benar, kita bisa saja
menolak. Namun, bila didasarkan pada suatu emosi negatif, bukan
berdasarkan akal sehat yang berlandaskan nilai hidup, penolakan ini
jelas-jelas membuktikan bahwa kita belum me-release sepenuhnya.
Jadi, yang menjadi ukurannya adalah, sekali lagi, perasaan kita. Apa-
kah kita feel good atau tidak saat menolak tawaran itu. Jika kita bisa
menolak dengan tetap feel good, itu berarti kita telah benar-benar
release.
Seorang klien saya, sebut saja Pak Budi, pernah berbisnis dengan
rekannya. Dua kali Pak Budi ditipu dan dikhianati oleh rekannya.
Dua kali pula ia marah besar, sangat kecewa, dan terluka. Cukup lama
ia berusaha melepas emosi negatifnya terhadap kawannya. Namun,
tetap tidak bisa sampai saya membantunya dengan teknik tertentu
untuk melepas emosi itu selamanya. Begitu emosinya berhasil di-
release, ia merasa begitu lega, tenang, damai, sabar, dan benar-benar
nyaman. Saat ini, bila Pak Budi bertemu rekannya, ia bisa berbicara,
bergurau, dan berdiskusi dengan tenang, nyaman, dan sama sekali
tidak ada perasaan negatif.
“Lho, kok bisa. Bukankah ia masih ingat pada kejadian bahwa ia
ditipu oleh kawannya, bahkan sampai dua kali?” Benar, Pak Budi
tetap bisa mengingat semuanya. Namun, saya telah menetralisir
emosi yang sebelumnya melekat di memorinya. Jadi, meski tetap bi-
http://facebook.com/indonesiapustaka

sa mengingat, tidak ada emosi negatif lagi. Bahkan Pak Budi bisa
berterima kasih, tentu hanya di dalam hati dan tidak disampaikan
secara terbuka, kepada rekan yang telah menipunya karena telah
memberikan pelajaran hidup yang sangat berharga. Pelajaran ini
selanjutnya digunakan untuk mengembangkan dan meningkatkan
kebijaksanaan dirinya.
Quitters฀Can฀Win 43

Nah, saya bertanya kepada klien saya ini, “Pak, bila mendapat
tawaran kerjasama lagi darinya, apakah Anda akan menerima atau
menolak?”
Pak Budi dengan tegas menjawab bahwa ia akan menolak.
“Lho, bukankah Bapak sudah me-release semua emosi negatif
Bapak terhadapnya?” kejar saya.
“Betul, Pak. Bapak telah membantu saya me-release semua emosi
negatif itu. Dan saya belajar banyak dari pengalaman ini. Saya tidak
mau bekerja sama lagi dengannya bukan karena saya membencinya.
Saya hanya menggunakan akal sehat dan kebijaksanaan saya. Jika ia
bisa menipu saya sampai dua kali, jujur, saya sendirilah yang bo-
doh. Maka sekarang besar kemungkinan ia bisa melakukan hal yang
sama kepada saya di masa depan. Yang lebih penting lagi, dari ke-
jadian yang saya alami, telah terbukti bahwa value atau nilai-nilai
hidup kami, termasuk yang melandasi bisnis, tidak sejalan. Nah,
kalau tidak cocok, lebih baik tidak melakukan kerjasama. Kalau saya
terima tawarannya dan ditipu lagi, saya harus mencari Bapak lagi
untuk membantu melepas emosi negatif saya. Saya bisa mengubah
diri saya, tetapi saya tidak bisa mengubah rekan saya,” jawab Pak
Budi dengan penuh kesadaran dan tenang.
Saat ini, Pak Budi justru sangat kagum kepada rekannya yang
‘sukses’ menipu dirinya sampai dua kali. Luar biasa, bukan? Inilah
yang disebut dengan peningkatan level kesadaran diri dan ekspansi
kesadaran. Nah, apakah kita bisa menerima tawaran orang yang
telah menyakiti kita?
Bisa. Bila kita menerima tawaran ini, yang bermain adalah dua
jenis value. Pertama, value tentang kesetiaan, integritas, dan kejujur-
an. Anda tahu, rekan Anda tidak jujur kepada Anda. Di sisi lain, ada
http://facebook.com/indonesiapustaka

value lain, yang berkaitan dengan uang, yang berkata, “Hei, biarpun
ia pernah menipu kamu, tetapi kali ini tawarannya bisa memberikan
hasil yang sangat besar. Nggak apa-apa deh kamu marah sama dia,
yang penting duitnya bisa didapat.”
Anda lihat bagaimana dua value sedang “bertempur”. Yang menja-
di pemenang adalah value yang berhasil memunculkan emosi dengan
44 Jujur฀Diri฀melalui฀Analisis฀Value

bobot yang lebih berat. Jika “bobot” perasaan marah atau terluka
kalah dengan perasaan “nikmat” karena punya uang banyak, Anda
akan menerima tawaran kerjasama itu. Demikian pula sebaliknya.
Bila emosi marah ini lebih kuat daripada perasaan “nikmat” punya
uang banyak, Anda pasti akan menolaknya.
Value adalah timbangan mental yang menentukan setiap ke-
putusan yang kita buat. Hati-hati dengan value Anda. Kita perlu jeli
dalam melakukan pengamatan dan analisis tentang hal ini.
Berikut adalah kisah klien saya yang lain, sebut saja Pak Johan. Ia
berkata bahwa ia ingin membantu rekannya yang sedang mengalami
kesulitan keuangan. Untuk itu, ia melakukan kerjasama bisnis de-
ngannya. Dilihat sekilas, tujuan Pak Johan sungguh mulia. Setelah
satu tahun, kerjasama mereka berakhir. Ujung-ujungnya, Pak Johan
berkata, “Ternyata value kita tidak cocok. Sewaktu memulai kerja-
sama dengannya, hati saya nggak enak. Suara hati saya menolak,
tetapi tetap saya teruskan. Bahkan istri saya berkata jangan. Saya
menyesal karena tidak mendengarkan suara hati saya dan intuisi
istri saya.”
Selidik punya selidik, ternyata saat Pak Johan menerima tawar-
an kerjasama, yang bermain adalah keserakahannya. Ia ingin men-
dapatkan hasil yang sangat besar dalam waktu sesingkat-singkatnya.
Keserakahan itu menutupi akal sehatnya dalam bentuk kamulase
“ketulusan” untuk membantu rekan yang mengalami kesulitan ke-
uangan.
Betapa halusnya permainan pikiran. Kalau tidak hati-hati, kita
bisa ditipu habis-habisan oleh pikiran. Ada yang mengatakan, “Mind
is a very cruel master but a very useful servant”. Itulah sebabnya, ki-
ta perlu berani bersikap jujur dan tegas kepada diri sendiri. Kita
http://facebook.com/indonesiapustaka

bukanlah pikiran kita. Kita bukanlah value kita. Dan kita juga bukan
emosi kita.
Lima Jurus Pengendalian Diri

B
aru-baru ini saya mendapat e-mail dari seorang pembaca bu-
ku, sebut saja Pak Anton. “Bagaimana caranya ya Pak, agar
saya bisa mengendalikan diri saya? Saya tahu apa yang harus
saya lakukan, tetapi ada bagian lain dari diri saya yang mendorong-
dorong saya untuk melakukan hal yang tidak ingin saya lakukan. Se-
ring kali saya merasa ada konlik dalam diri saya dan yang menang
adalah bagian yang mendorong saya melakukan hal yang sebenar-
nya tidak perlu saya lakukan. Setelah melakukannya, saya merasa
menyesal, bersalah, dan jengkel pada diri saya,” demikian keluhnya
kepada saya.
Intinya, selama ini, ia merasa bahwa bukan dirinyalah yang me-
ngendalikan pikirannya, tetapi sebaliknya. Saat ia ingin berpikir po-
sitif, yang muncul malah pikiran negatif. Bahkan, menurutnya, ia
sulit mengendalikan diri dari dorongan keinginan yang ia tahu tidak
seharusnya ia turuti.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Misalnya, suatu kali Pak Anton baru saja makan. Namun, saat
ditawari makan oleh kawannya, ia menerima tawaran itu dan ikut
makan bersama kawannya. Di lain kesempatan, saat badannya capek
karena seharian bekerja, ia mengiyakan ajakan kawannya untuk
pergi dugem. Padahal, ia tahu tubuhnya butuh istirahat. Dan benar,
karena kurang istirahat, ia jatuh sakit.
46 Lima฀Jurus฀Pengendalian฀Diri

Apa yang dialami oleh Pak Anton ini sangat lumrah. Setiap hari
pasti ada konlik kecil dalam diri kita. Bahkan sejak pagi ketika akan
bangun tidur saja, kita sudah mengalami konlik diri. Ada bagian
dari diri kita yang berkata, ”Hei, sudah pagi nih. Sudah waktunya
bangun. Siap-siap ke kantor,” sedangkan bagian yang lain berkata,
”Nggak perlu bangun sekarang. Lima menit lagilah. Kan semalam
kamu berangkat tidur cukup larut. Kalo ditambah lima menit kan
nggak apa-apa toh?”.
Anda pernah mengalami hal seperti ini?
Ada lima jurus mengendalikan diri dalam berbagai aspek kehi-
dupan. Jurus ini bisa Anda terapkan untuk apa saja, yang berurusan
dengan pengendalian diri. Anda bisa menggunakan setiap jurus ini
secara terpisah atau beberapa jurus secara bersamaan.
Jurus pertama, mengendalikan diri dengan menggunakan prinsip
moral. Setiap agama pasti mengajarkan nilai-nilai moral, misalnya
tidak mencuri, tidak membunuh, tidak menipu, tidak berbohong,
tidak mabuk-mabukan, dan tidak melakukan tindakan asusila.
Saat ada dorongan hati untuk melakukan sesuatu yang negatif,
coba larikan ke rambu-rambu moral tersebut. Apakah yang kita
lakukan ini sejalan atau bertentangan dengan hal itu?
Misalnya, kita berkesempatan mendapatkan keuntungan dengan
cara yang tidak wajar alias korupsi. Saat terjadi konlik diri, antara
mau melakukan atau tidak, kita dapat mengacu pada prinsip moral
di atas. Agama mengajarkan kepada kita untuk tidak mencuri atau
mengambil barang yang bukan milik kita, tanpa seizin pemiliknya.
Kalau kita teguh dengan prinsip moral ini, kita tidak akan melakukan
hal itu. Korupsi itu dosa. Korupsi itu karma buruk. Kita bisa masuk
neraka, lho.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Jurus kedua, mengendalikan diri dengan menggunakan kesa-


daran. Kita sadar ketika pikiran atau perasaan negatif muncul. Pada
umumnya, orang tidak mampu menangkap pikiran atau perasaan
yang muncul. Karenanya, mereka langsung lumpuh dan dikuasai
oleh pikiran dan perasaan mereka.
Misalnya, ada seseorang yang menghina atau menyinggung
Quitters฀Can฀Win 47

perasaan kita. Kita marah. Nah, kalau tidak sadar atau waspada saat
emosi marah ini muncul, tiba-tiba kita sudah dikuasai olehnya. Jika
kesadaran diri kita bagus, kita akan tahu saat emosi ini muncul dan
mulai mencengkeram serta menguasai diri kita. Begitu pula saat
kita akan melakukan tindakan ”bodoh” yang seharusnya tidak kita
lakukan.
Saat berhasil mengamati emosi, kita bisa langsung menghentikan
pengaruhnya. Kalau belum bisa atau terasa berat sekali mengendalikan
diri, larikan pikiran kita pada prinsip moral. Biasanya kita akan lebih
mampu mengendalikan diri.
Bagaimana jika sudah melakukan kedua jurus itu ternyata kita
tetap sulit mengendalikan diri?
Lakukan jurus ketiga, yaitu melakukan perenungan saat kita su-
dah benar-benar nggak tahan, mau ”meledak” karena dikuasai oleh
emosi, atau saat kita mau marah besar. Tanyakan kepada diri sendiri
beberapa pertanyaan berikut ini:
Apa sih untungnya saya marah?
Apakah reaksi saya ini benar?
Mengapa saya marah ya? Apakah alasan saya marah ini sudah
benar?
Kalau saya marah dan sampai melakukan tindakan yang ”bodoh”,
nanti reputasi saya rusak dan saya sendiri yang rugi.
Prinsip kerja jurus ini sebenarnya sederhana. Saat emosi aktif,
logika kita nggak akan jalan. Demikian pula sebaliknya. Jadi, saat
kita melakukan perenungan atau berpikir secara mendalam, kadar
kekuatan emosi atau keinginan kita akan menurun.
Jurus keempat, dengan menggunakan kesabaran. Emosi akan
naik, turun, timbul, tenggelam, datang, dan pergi seperti halnya
http://facebook.com/indonesiapustaka

pikiran. Saat emosi bergejolak, sadari bahwa ini hanyalah sementara.


Usahakan tidak larut di dalamnya. Gunakan kesabaran, tunggu
sampai semua surut. Baru berpikirlah untuk menentukan respons
yang bijaksana dan bertanggung jawab. Bertanggung jawab dalam
bahasa Inggris adalah responsibility, yang bila kita pecah menjadi
response-ability atau kemampuan memberikan respons.
48 Lima฀Jurus฀Pengendalian฀Diri

Kalau sudah menggunakan kesabaran masih juga belum bisa, ba-


gaimana?
Lakukan jurus kelima, yaitu menyibukkan diri dengan pikiran
atau aktivitas yang positif. Ibarat layar bioskop yang hanya bisa me-
nampilkan satu ilm dalam suatu saat, pikiran kita pun hanya bisa
memikirkan satu hal dalam suatu saat. Nah, ilm yang muncul di
layar pikiran inilah yang memengaruhi emosi dan persepsi kita. Saat
kita berhasil memaksa diri untuk memikirkan hal-hal yang positif
saja, ilm di layar pikiran kita juga berubah. Dengan demikian, pe-
ngaruh keinginan atau emosi akan mereda.
http://facebook.com/indonesiapustaka
Lima Kekuatan untuk
Optimalisasi Pengembangan
Potensi Diri

P
ada Minggu, 17 Agustus 2008, bertepatan dengan hari ke-
merdekaan RI ke-63, saya diundang untuk berbicara dalam
sebuah talkshow di Malang bersama Y.M. Uttamo Mahathera.
Topiknya, pengembangan potensi diri. Ide tulisan ini muncul di
tengah serunya acara tanya-jawab yang dihadiri lebih dari 600 pe-
serta.
Ada lima kekuatan yang bisa digunakan untuk mengembangkan
potensi diri. Pertama, Kekuatan Keyakinan atau he Power of Belief.
Keyakinan adalah fondasi untuk melakukan apa saja. Kita baru akan
bertindak bila kita merasa yakin mampu melakukan sesuatu. Ji-
ka tidak yakin, upaya itu akan kita lakukan dengan setengah hati.
Dan kita tahu, apa pun yang dilakukan dengan setengah hati, tanpa
kesungguhan, hasilnya pasti tidak akan pernah maksimal. Dan tak
ayal berakhir pada kegagalan.
Yakin pun ada syaratnya, tidak asal yakin dan ngotot, tetapi
http://facebook.com/indonesiapustaka

berlandaskan kebijaksanaan dan akal sehat. Ada tiga macam ke-


yakinan. Pertama, yakin hanya pada level kognisi atau pikiran sadar.
Kedua, yakin pada level afeksi atau pikiran bawah sadar. Ketiga,
yakin yang ngaco alias ngawur. Tipe ketiga ini adalah yakin yang
berlebihan atau overconident tetapi tidak ekologis sehingga sangat
berbahaya.
50 Lima฀Kekuatan฀untuk฀Optimalisasi฀Pengembangan฀Potensi฀Diri

Kawan saya pernah bercerita bahwa ada seorang kawannya, se-


but saja Bu Yuni, yang setelah mengikuti suatu pelatihan motivasi,
menjadi begitu bersemangat dan sangat yakin bahwa ia akan sukses
dalam waktu yang sangat singkat dan mudah. Bu Yuni dengan sangat
yakin memutuskan bahwa dalam waktu maksimal tiga bulan ia akan
menjadi orang kaya dan berhasil mengumpulkan uang sebesar Rp 3
miliar.
Kedua, Kekuatan Semangat atau he Power of Enthusiasm. Yang
menjadi komponen atau bagian dari kekuatan ini adalah konsistensi,
persistensi, kegigihan, atau whatever it takes. Tindakan yang dilandasi
suatu keyakinan yang teguh bahwa kita pasti berhasil, pasti akan
dilakukan dengan penuh semangat. Semangat ini sebenarnya adalah
motivasi intrinsik atau dorongan bertindak yang berasal dari dalam
diri kita. Kekuatan ini membuat seseorang akan terus mencoba wa-
laupun telah gagal berkali-kali. Inilah yang mendasari peribahasa
“Tidak ada yang namanya kegagalan. Yang ada hanyalah hasil yang
tidak seperti yang kita inginkan,” “Winners never quit. Quitters never
win,” “Tidak penting berapa kali Anda jatuh, yang penting berapa
kali Anda bangkit setelah Anda jatuh.”
Kekuatan Semangat inilah yang menjadi pendorong homas
Edison untuk terus mencoba walaupun telah berkali-kali “belum
berhasil” menemukan bahan yang sesuai untuk membuat bola lampu
listrik. Kekuatan ini pula yang mendorong Harland Sanders untuk
terus menawarkan resep ayam gorengnya yang istimewa, Kentucky
Fried Chicken, walaupun telah ditolak berkali-kali.
Nah, bagaimana dengan kisah Bu Yuni? Bu Yuni, dengan bekal
keyakinan yang “pasti” dan “kuat”, memutuskan untuk menjalankan
suatu usaha yang akan menjadi kendaraannya untuk mengumpulkan
http://facebook.com/indonesiapustaka

Rp 3 miliar dalam waktu tiga bulan. Ia bekerja dengan sungguh serius.


Ketiga, Kekuatan Fokus atau he Power of Focus. Dengan fokus,
itu berarti kita hanya melakukan hal-hal yang memang berhubungan
dengan target yang ingin kita capai. Pikiran kita menjadi sangat
tajam, terpusat, seperti sinar laser yang siap menembus berbagai
penghalang. Kita tidak akan membiarkan berbagai cobaan atau
Quitters฀Can฀Win 51

penghalang membuat pikiran atau kegiatan kita menyimpang dari


tujuan semula.
Saat Kekuatan Fokus bekerja, kita akan sangat memerhatikan
hal-hal detail dalam upaya mencapai keberhasilan. Kekuatan inilah
yang mendorong kita untuk menghasilkan masterpiece.
Bagaimana dengan Bu Yuni? Ia sangat fokus. Begitu fokusnya, ia
bisa melihat banyak peluang di sekitar dirinya. Ia mengajak kawannya
untuk bekerja sama. Ia bahkan bersedia menanamkan modal yang
cukup besar untuk mengembangkan bisnis kawannya karena ya-
kin bisnis itu bisa memberi banyak uang dalam waktu singkat.
Bahkan saat kawannya, yang selama ini telah menggeluti bisnis itu,
mengatakan bahwa tidak mungkin perkembangan bisnisnya bisa
secepat itu, walaupun mendapat suntikan dana besar, ia tetap yakin,
semangat, dan fokus dengan berkata, “Ah, yang penting yakin. Kalau
yakin, segala sesuatu mungkin terjadi.”
Keempat, Kekuatan Kedamaian Pikiran atau he Power of Peace of
Mind. Kekuatan ini sangat penting diperhatikan karena merupakan
barometer untuk menentukan apakah keyakinan kita terhadap
sesuatu itu ekologis atau tidak.
Saat kita yakin, semangat, dan fokus melakukan sesuatu, kita perlu
memeriksa apakah kita merasakan ketenangan, baik dalam pikiran
maupun dalam hati. Jika jawabannya “tidak”, kita perlu memeriksa
ulang keyakinan kita tersebut. Kita perlu memeriksa apakah kita
sudah benar-benar yakin atau lebih karena dorongan emosi tertentu,
misalnya emosi takut atau keserakahan.
Pada kasus Bu Yuni, ternyata ia sama sekali tidak merasakan ke-
damaian. Hal ini tampak dalam kehidupannya. Dalam upaya men-
capai targetnya, ia ternyata tidak mendapat dukungan dari suaminya.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Namun, ia tetap memaksakan kehendaknya. Ia bersikeras bahwa


dengan keyakinannya yang besar, ia akan bisa mencapai apa pun
yang ia inginkan. Akibatnya, ia sering ribut dengan suaminya serta
selalu tampak murung dan stres.
Bila keyakinan kita bersifat ekologis, didasari pikiran yang benar
dan kebijaksanaan, saat kita bekerja keras dan giat mencapai impian
52 Lima฀Kekuatan฀untuk฀Optimalisasi฀Pengembangan฀Potensi฀Diri

kita, pikiran dan hati kita akan tetap tenang, damai, dan bahagia.
Ini adalah satu aspek penting yang jarang sekali diperhatikan oleh
kebanyakan orang.
Perasaan tenang, damai, dan bahagia merupakan indikasi bah-
wa apa yang kita lakukan benar-benar kita yakini akan berhasil.
Kita tinggal melakukan kerjanya dan sukses sudah pasti akan kita
dapatkan. Sukses hanyalah efek samping yang pasti akan terjadi.
Kelima, Kekuatan Kebijaksanaan atau he Power of Wisdom. Ke-
kuatan ini sangat penting karena digunakan untuk melakukan eva-
luasi terhadap apa yang telah kita lakukan pada empat langkah per-
tama.
Dengan kebijaksanaan, kita dapat melakukan evaluasi dengan baik,
benar, akurat, dan tidak emosional. Dan jika hasil yang dicapai belum
seperti yang kita inginkan, kita dapat mengetahui permasalahannya
dan dapat meningkatkan diri kita. Sebaliknya, jika hasilnya sudah
seperti yang kita inginkan, kita dapat mempertahankan dan mening-
katkan capaian itu.
Kebijaksanaan juga digunakan untuk memeriksa keyakinan atau
kepercayaan yang menjadi langkah awal tindakan untuk mencapai
goal. Dengan kebijaksanaan, kita dapat memeriksa keabsahan keya-
kinan kita. Apakah kita sudah benar-benar yakin ataukah sebenarnya
tidak yakin tetapi memaksakan diri untuk yakin karena takut?
Bu Yuni ternyata tidak menggunakan Kekuatan Kebijaksanaan
dalam mengejar impiannya. Setelah mendengar penjelasan kawan sa-
ya secara cukup detail, saya akhirnya menyimpulkan bahwa Bu Yuni
sebenarnya tidak yakin, tetapi memaksakan kehendak, tanpa mem-
pertimbangkan kondisi riil yang sedang ia alami, untuk bisa sukses.
Emosilah yang mendorong Bu Yuni untuk “yakin”. Ia takut pada
http://facebook.com/indonesiapustaka

masa depan. Setelah menghadiri seminar motivasi, ia menjadi “sa-


ngat yakin” dengan apa yang diajarkan oleh si pembicara dan akhir-
nya menjadi “buta” oleh emosinya sendiri.
Hal ini diperkuat lagi saat Bu Yuni mendapat peneguhan dari
mentornya, pembicara tadi, yang mengatakan, “Pokoknya, kalau
yakin, Anda bisa mencapai apa pun yang Anda inginkan.”
Quitters฀Can฀Win 53

Belief yang diiringi dengan kata “pokoknya” seperti itu perlu


diwaspadai karena sering kali tidak membumi dan menyesatkan.
Bila kita menggunakan lima kekuatan yang telah saya jelaskan di
atas, dengan bekal keyakinan, semangat, fokus, kedamaian, dan
kebijaksanaan, niscaya kita akan dapat mengembangkan potensi diri
secara optimal.
http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka
Mungkinkah Menguasai
Hipnoterapi Hanya dalam
Waktu 1 Hari?

B
eberapa waktu lalu, saat berada di Singapura, saya mendapat
panggilan dari seorang dokter di salah satu kota besar di Jawa
Barat. Pak dokter yang juga kepala rumah sakit ini bertanya
apakah saya bisa datang ke kotanya dan mengajar hipnoterapi untuk
para dokter di salah satu rumah sakit di sana. Sudah barang tentu
saya bisa dan bersedia.
Setelah berdiskusi sejenak mengenai tujuan pelatihan dan hasil
yang ingin dicapai, saya akhirnya memutuskan untuk mundur. Lho,
kenapa?
Ceritanya begini. Para dokter itu menyadari bahwa hipnoterapi
adalah salah satu teknik terapi yang bisa sangat membantu mening-
katkan pelayanan mereka. Namun, yang menjadi kendala adalah
bahwa mereka meminta saya untuk mengajarkan hipnoterapi hanya
dalam waktu dua hari. Menurut pak dokter, jadwal mereka cukup
padat sehingga tidak bisa berlama-lama.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Saya mengusulkan agar pelatihan dilakukan beberapa kali se-


hingga total mencapai 100 jam seperti yang saya lakukan selama
ini melalui Quantum Hypnosis indonesia (QHi). Pak dokter itu
mengatakan tidak bisa 100 jam karena terlalu lama dan biayanya akan
sangat tinggi. Beliau tetap meminta saya mengajarkan hipnoterapi
hanya dalam dua hari. Beliau beralasan bahwa mereka telah men-
56 Mungkinkah฀Menguasai฀Hipnoterapi฀Hanya฀dalam฀Waktu฀1฀Hari?

dapat penawaran dari salah satu lembaga pelatihan hipnoterapi yang


berailiasi dengan lembaga luar negeri, dan lembaga ini mampu
mengajarkan hipnoterapi hanya dalam waktu dua hari. Saya tetap
bersikeras bahwa saya tidak bisa dan tidak mampu mengajarkan
hipnoterapi dengan format modul seperti yang saya ajarkan di QHI
hanya dalam waktu dua hari.
Nah, setelah berbicara dengan pak dokter ini, saya merenung cu-
kup lama. Pertanyaan saya adalah apakah saya memang tidak mampu
mengajar hipnoterapi dalam waktu singkat ataukah lembaga lain itu
punya teknik pelatihan yang luar biasa sehingga mampu mengajar
hanya dalam waktu dua hari?
Mengapa saya merenung dan bertanya seperti itu? Karena standar
pelatihan hipnoterapi di luar negeri, misalnya menurut standar NGH
(National Guild of Hypnotists) Amerika, mensyaratkan lama pelatihan
selama 100 jam tatap muka di kelas atau setara dengan dua semester
kuliah. Saya juga mencari tahu berapa waktu yang disyaratkan oleh
berbagai pakar terkenal di luar negeri yang juga menyelenggarakan
pelatihan hipnoterapi. Standar minimal yang mereka tetapkan sama.
Bahkan ada pakar yang baru memberikan sertiikasi setelah peserta
pelatihannya menyelesaikan 150 jam pelatihan intensif.
Apakah hipnoterapi bisa diajarkan dalam waktu dua hari? Jawab-
annya sudah tentu bisa. Lalu, apakah materi pelatihan hipnoterapi
yang saya susun untuk pelatihan dan sertiikasi hipnoterapis QHI
bisa dikuasai dengan baik dan benar hanya dalam waktu dua hari?
Jawabannya tidak bisa dan tidak mungkin bisa.
Agar dapat mempraktikkan hipnoterapi dengan benar dan efektif,
sesuai standar QHI, pertama-tama kita harus menguasai teori pikir-
an yang meliputi cara kerja pikiran, sifat-sifat pikiran sadar dan ba-
http://facebook.com/indonesiapustaka

wah sadar, proses programming pikiran, cara kerja memori, emosi,


persepsi, dan masih banyak lagi. Pengetahuan ini mutlak perlu di-
kuasai agar seorang hipnoterapis, alumnus QHI, dapat melakukan re-
edukasi melalui navigasi pikiran klien saat melakukan hipnoterapi.
Saya menjelaskan materi di atas selama tiga hari dan masing-masing
berlangsung selama 12 jam dari total 100 jam pelatihan.
Quitters฀Can฀Win 57

Ibarat mesin mobil, kita harus tahu betul komponen, cara kerja,
karakter mesin, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan mesin
mobil agar kita dapat mengotak-atik, melakukan tune-up, atau kalau
perlu, meng-overhaul mesin dengan benar. Tanpa pengetahuan dan
pemahaman yang benar, lengkap, akurat, dan mendalam, kita tidak
bisa berbuat banyak bila mesin mobil bermasalah.
Setelah memahami cara kerja dan sifat pikiran, kita perlu me-
nguasai teknik induksi yang sungguh-sungguh efektif untuk mem-
bantu klien masuk ke kondisi deep trance dalam waktu sesingkat-
singkatnya. Setiap manusia punya karakter yang berbeda. Kita perlu
mengetahui tipe klien, tipe sugestibilitasnya, dan melakukan induksi
yang sesuai.
Mengapa klien perlu dibantu masuk ke kondisi deep trance? Ka-
rena hipnoterapi adalah terapi yang dilakukan dengan bantuan atau
dalam kondisi hipnosis. Kalau seseorang diterapi tanpa kondisi hip-
nosis, ini namanya bukan hipnoterapi.
Mengapa perlu diinduksi? Karena induksi adalah cara untuk
membawa klien masuk ke pikiran bawah sadar. Banyak orang gagal
melakukan hipnoterapi bukan karena tidak menguasai teknik terapi,
tetapi lebih karena klien belum berhasil dibimbing masuk ke kondisi
deep trance.
Di pelatihan yang saya selenggarakan, saya hanya mengajarkan
tiga teknik induksi yang terbukti sangat efektif dan ampuh dalam
membawa klien masuk ke kondisi deep trance dengan sangat cepat.
Nah, agar induksi ini bisa digunakan dengan baik, benar, efektif, dan
eisien, saya perlu menjelaskan teori yang mendasari setiap teknik.
Biasanya, untuk satu teknik, saya membutuhkan waktu setengah
hari, mulai dari dasar teori, sejarah terciptanya teknik itu, contoh
http://facebook.com/indonesiapustaka

praktik yang saya lakukan pada peserta, dan dilanjutkan dengan


praktik oleh peserta ke peserta lain. Biasanya untuk satu teknik
saja saya memerlukan waktu sekitar setengah hari untuk membuat
peserta benar-benar mengerti dan mampu melakukannya dengan
benar. Setiap peserta, saat melakukan latihan atau praktik, akan
disupervisi oleh asisten yang juga hipnoterapis aktif lulusan QHI.
58 Mungkinkah฀Menguasai฀Hipnoterapi฀Hanya฀dalam฀Waktu฀1฀Hari?

Hal lain yang diajarkan adalah cara menyusun sugesti dengan


benar. Ini cukup sulit karena menyangkut semantik yang digunakan.
Salah menyusun sugesti, akibatnya bisa fatal. Untuk memudahkan
peserta pelatihan, saya telah menyiapkan patter script dalam bahasa
Indonesia yang dapat mereka gunakan dalam sesi terapi.
Belum lagi saya perlu menjelaskan dan mengajarkan berbagai tek-
nik terapi advanced. Semua membutuhkan pemahaman mendalam
dan lengkap dengan dasar teori dari setiap teknik. Saya tidak bisa
mengajarkan semua ini hanya dalam waktu dua hari pelatihan, apa-
lagi bila peserta diminta menguasai dengan baik teknik-teknik itu.
Dalam pelatihan QHI, setelah tiga hari pertama, peserta libur
selama dua minggu. Tujuannya adalah mempraktikkan apa yang
telah diajarkan plus menyelesaikan tugas yang diberikan. Setelah
itu, kita bertemu lagi. Peserta akan saling menceritakan apa yang
telah mereka lakukan, apa kendalanya, dan apa yang terjadi. Dari
sini, saya akan memberikan masukan untuk membantu peserta me-
ningkatkan teknik dan kemampuan mereka. Acara sharing ini saja
dibagi menjadi tiga tahap. Setiap tahap dilakukan sejak pagi hingga
saat makan siang, selama tiga hari pelatihan.
Pada pertemuan minggu kedua ini, saya mengajarkan berbagai
teknik advanced dan dua teknik induksi lagi. Saya biasanya juga
memberikan contoh, lebih tepatnya melakukan live therapy di kelas.
Prosedurnya sama persis seperti yang saya lakukan di ruang praktik
saya. Kliennya bisa peserta pelatihan atau orang luar. Saya tidak
memilih klien. Yang penting, ada yang mau dan apa pun masalahnya
akan diterapi di kelas agar peserta bisa melihat langsung bagaimana
Quantum Hypnotherapeutic Procedure dilakukan dengan benar.
Setelah tiga hari, peserta saya liburkan selama tiga minggu. Ini
http://facebook.com/indonesiapustaka

dimaksudkan agar mereka praktik lagi di rumah. Kali ini mereka


telah mendapat bekal teknik terapi yang advanced, bukan sekadar
direct suggestion. Jadi, mereka bisa lebih leluasa menangani berbagai
kasus klinis.
Pada pertemuan terakhir, tiga hari terakhir, peserta kembali akan
saling menceritakan kasus yang mereka tangani. Seperti biasa, saya
Quitters฀Can฀Win 59

akan memantau dan memberikan masukan yang perlu untuk lebih


meningkatkan kemampuan peserta pelatihan. Selanjutnya, saya
menambahkan materi-materi lainnya. Setelah selesai tiga hari ini,
peserta mendapat sertiikat dan sudah bisa melakukan terapi.
Apakah setelah selesai pelatihan, selesai pula pembelajaran mere-
ka? Tentu tidak. Saya masih terus mendukung mereka melalui milis
QHI. Ada web conference yang saya gunakan untuk bertukar pikiran
dengan para alumni yang saat itu sudah menjadi terapis dan aktif
menerima klien, dan menjawab berbagai pertanyaan mereka. Kami
juga punya pertemuan alumni yang diadakan secara rutin.
Alumni QHI juga didorong untuk terus belajar dan meningkatkan
diri. Setiap alumnus, setelah mengikuti pelatihan selama 100 jam,
juga dibekali berbagai buku hipnoterapi yang sangat bagus, yang ber-
asal dari luar negeri. Ini dimaksudkan untuk mempertajam kemam-
puan mereka. Saya juga mengizinkan alumni untuk berkunjung ke
perpustakaan pribadi saya dan “meminjam” buku apa saja, yang ber-
hubungan dengan terapi, yang saya miliki. Semua buku yang ada di
Book References di situs www.Quantum-Hypnosis.com ada di per-
pustakaan saya di rumah.
Mengapa saya melakukan ini semua? Pertama, ini semua bertujuan
untuk semakin meningkatkan kemampuan para alumni. Kedua, ka-
rena kami punya tanggung jawab moral terhadap masyarakat. Terapi
adalah sesuatu yang serius. Tidak boleh asal-asalan. Apalagi, yang
diotak-atik adalah pikiran manusia.
Jadi, atas pertanyaan di atas, “Mungkinkah Menguasai Hipnoterapi
Hanya dalam Waktu 1 Hari?” jawaban saya, kalau yang dimaksud
adalah hipnoterapi dengan materi dan standar QHI, adalah “Tidak
bisa”. Namun, bila pertanyaannya diganti menjadi, “Mungkinkah
http://facebook.com/indonesiapustaka

Mengajarkan Hipnoterapi Hanya dalam Waktu 1 Hari?” jawabannya


juga tidak bisa dan tidak mungkin.
Mengapa? Karena materi yang diajarkan di QHI sangat banyak
dan padat sekali. Dipaksa pun tetap tidak bisa selesai hanya dalam
waktu satu atau dua hari. Kecuali kalau saya mengurangi materi dan
yang diajarkan hanya DS (Direct Suggestion) atau Sugesti Langsung,
60 Mungkinkah฀Menguasai฀Hipnoterapi฀Hanya฀dalam฀Waktu฀1฀Hari?

sudah tentu sangat bisa. Namun, apakah bisa dikuasai dengan baik?
Ini soal lain.
Jadi, kita semua memang bisa belajar tentang hipnoterapi selama
satu atau dua hari saja. Namun, untuk menguasai hipnoterapi de-
ngan baik dan benar sehingga dapat membantu orang lain sesuai
standar QHI, ini tidak mungkin dipelajari hanya dalam waktu satu
atau dua hari. Saya setuju dengan standar NGH yang mensyaratkan
bahwa untuk belajar dan menguasai hipnoterapi, kita minimal harus
menjalani 100 jam tatap muka.
Anda mungkin bertanya, “Oke, Pak Adi, pertanyaannya sekarang
adalah apakah standar QHI ini yang paling baik?” Saya tidak berkata
seperti itu. Standar ditetapkan oleh masing-masing lembaga dengan
pertimbangan tertentu. Kalau saya mengatakan bahwa standar QHI
adalah yang paling baik, ini sangat arogan dan sudah melenceng
dari tujuan pendirian lembaga Quantum Hypnosis Indonesia. Ma-
ka, kalau bicara soal standar, kita lebih baik merujuk pada acuan
tertentu. Nah, saya menggunakan acuan dari NGH (National Guild
of Hypnotists) Amerika. Itu yang pertama. Yang kedua merujuk pada
kompetensi alumnus. Jika mayoritas alumni pelatihan saya ternyata
tidak mampu melakukan hipnoterapi dengan baik dan benar, saya
harus jujur pada diri saya bahwa standar mutu yang saya tetapkan
tidak baik.
Demikian pula jika sebagian besar alumni mampu melakukan
terapi dengan cepat, efektif, eisien, dan dengan hasil terapi yang
permanen, saya akan berkata pada diri saya, “Hei, standar yang dite-
tapkan sudah bagus. Namun, jangan berpuas diri. Kamu perlu terus
meningkatkan diri dan terus belajar.”
Salah satu cara untuk meningkatkan diri, mutu, dan standar QHI
http://facebook.com/indonesiapustaka

adalah terus belajar dan praktik. Nah, pada Mei 2009, saya pergi ke
Amerika untuk belajar langsung dari dua orang pakar teknologi pikir-
an secara one-on-one. Satu pakar tinggal di Berkeley, California. Saya
bertemu dan belajar dengan pakar ini dalam beberapa kesempatan.
Pada kesempatan pertama, saya belajar selama sembilan hari. Pada
kesempatan kedua, selama lima hari. Dan dilanjutkan lagi dengan
Quitters฀Can฀Win 61

dua kali lima hari pada kesempatan berikutnya. Saya baru akan
mendapat sertiikasi setelah melakukan berbagai tugas, praktik, dan
melaporkannya ke pakar ini untuk mendapat penilaian. Sertiikasi
saya baru akan keluar pada akhir 2009.
Dengan pakar satunya lagi, di Camarillo, California, murid dari
pakar dan tokoh hipnoterapi yang sangat disegani di Amerika, saya
belajar privat selama dua hari, khusus mendalami teknologi EEG
untuk mengukur level kedalaman trance. Dengan menggunakan alat
yang dirancang khusus, kita bisa mengukur pola gelombang otak
seseorang saat ia diinduksi dan masuk ke kondisi hipnosis.
Inilah salah satu cara saya dalam menetapkan standar dan mutu
pelatihan di QHI. Sekali lagi, ini sangat subjektif. Saya merasa perlu
melakukannya. Mungkin bagi orang lain, hal ini terlalu mengada-
ada dan sama sekali tidak perlu dilakukan.
Nah, pembaca, setelah membaca sejauh ini, saya yakin, Anda
pasti punya gambaran yang lebih utuh dan menyeluruh mengenai
pelatihan hipnoterapi.
http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka
Memahami Gelar Hipnoterapis

B
aru-baru ini di milis Money Magnet, ada pertanyaan menarik
mengenai gelar yang disandang oleh hipnoterapis. Ada yang
memasang C.Ht, C.C.Ht, MH, dan sebagainya. Mana yang
benar?
Sebenarnya, ada banyak “gelar” yang dipasang oleh seseorang se-
telah selesai mengikuti pelatihan hipnosis/hipnoterapi:
1. CH = Certiied Hypnotist
2. CHT = Certiied Hypnotherapist
3. CCH = Certiied Clinical Hypnotist (or Hypnotherapist)
4. CCHt = Client-Centered Hypnotherapist
5. MH = Master Hypnotist
6. CMH = Certiied Master Hypnotist
7. DCH = Doctor of Clinical Hypnotherapy (yang ini jelas gelar
palsu dan menipu)
http://facebook.com/indonesiapustaka

Datar di atas bisa bertambah panjang, bergantung pada


“kreativitas” masing-masing orang. Mengapa bisa demikian? Profesi
hipnoterapis adalah non-lincensed profession. Yang termasuk dalam
kategori licensed profession adalah MD (Medical Doctor), psikiater,
dan psikolog atau konselor. Yang dimaksud dengan licensed profession
adalah suatu pekerjaan yang baru bisa dilakukan setelah menempuh
64 Memahami฀Gelar฀Hipnoterapis

pendidikan selama sekian tahun di universitas, mengambil


pendidikan lanjut, mengikuti tes yang ditetapkan pemerintah, dan
mendapatkan izin praktik yang resmi.
Kalau mau mendapatkan izin praktik, hipnoterapis hanya perlu
datang ke dinas kesehatan setempat dan mengajukan izin. Luar
biasanya, izin praktik hipnoterapis dulu termasuk dalam kategori
izin “Paranormal atau Dukun”. Sekarang sudah ada kemajuan sedikit.
Klasiikasinya meningkat dan masuk ke kelompok “Pijat Releksi”.
Bisa Anda bayangkan betapa kacaunya pemahaman orang mengenai
hipnosis/hipnoterapi?
Kalau hipnoterapis bisa membuat gelar macam-macam, tidak
begitu halnya dengan rekan-rekan yang punya licensed profession.
Itulah sebabnya gelar di kalangan dokter, misalnya, sudah baku dan
pasti. Mereka tidak bisa menciptakan gelar sendiri. Kalau nekat
membuat gelar sendiri, mereka akan mendapat masalah karena me-
langgar undang-undang.
Garis besar pendidikan hipnosis/hipnoterapi adalah sebagai beri-
kut:
1. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar (basic training), alum-
nus berhak menyandang gelar “Hypnotist”. Yang basic ini sa-
ngat mudah. Bahkan saat ini sudah ada lembaga luar negeri
yang menawarkan pembelajaran via internet secara GRATIS.
Setelah menyelesaikan pendidikan ini, Anda bisa mendapat gelar
tersebut. Lembaga ini tidak sembarangan. Saya tahu betul bahwa
kualitas mereka sangat baik.
2. Setelah menyelesaikan pelatihan tingkat lanjut atau advanced,
gelar yang biasa digunakan adalah “Certiied Hypnotherapist”
atau “Hypnotherapist” saja.
http://facebook.com/indonesiapustaka

3. Setelah menyelesaikan program tingkat lanjut dengan spesialisasi


tertentu di bidang klinis, gelarnya adalah “Certiied Clinical
Hypnotist or Hypnotherapist.”
Dalam kaitan ini, gelar “Master” tidak ada artinya dan menyesatkan
publik. Mengapa menyesatkan? Karena gelar master hanya diberikan
Quitters฀Can฀Win 65

kepada mereka yang telah lulus S2. Sedangkan hipnoterapi tidak


diajarkan sebagai bagian dari materi licensed profession.
Di dunia hipnoterapi, gelar “Doctor” atau “Ph.D” juga sangat me-
nyesatkan. Gelar ini tidak ada. Ini adalah gelar yang dipasang sen-
diri. Kalau Anda sebagai seorang hipnoterapis yang tidak punya latar
belakang pendidikan formal S3, tetapi memasang “Ph.D” di belakang
nama Anda, gelar itu bukan kependekan dari “Philosophy Doctor”,
melainkan “Permanent Head Damage”.
Kasus yang saya ceritakan di atas terjadi di Amerika. Bagaimana
dengan yang terjadi di Indonesia? Jauh lebih menarik lagi. Di
Indonesia, belum ada lembaga resmi, seperti National Guild of
Hypnotists (NGH) yang menjadi organisasi rujukan dan tempat
bernaung para hipnotis/ hipnoterapis. Mereka menetapkan standar
mutu dan kode etik yang sangat ketat. Mereka juga menentukan gelar
apa yang boleh digunakan dan tidak boleh digunakan agar profesi
ini punya standar yang jelas. Hal ini bertujuan untuk melindungi
kepentingan publik.
Nah, berhubung di Indonesia belum ada standar yang jelas, sia-
pa saja bisa mengaku sebagai hipnotis atau hipnoterapis, siapa saja
bisa mengajar hipnosis/hipnoterapi, siapa saja boleh dan bisa me-
ngeluarkan sertiikasi menurut standar mereka sendiri. Maka saat
ini marak pelatihan hipnosis/hipnoterapi yang diadakan hanya
dalam satu atau dua hari, dan pesertanya sudah disertiikasi sebagai
Certiied Hypnotherapist.
Inilah yang mengundang keprihatinan kita bersama. Kita tahu
bahwa terapi adalah sesuatu yang serius dan tidak bisa dipelajari
dan dikuasai hanya dalam waktu satu, dua, tiga, atau bahkan empat
hari. Agar dapat menguasai hipnoterapi, dibutuhkan waktu yang
http://facebook.com/indonesiapustaka

cukup dan proses pembelajaran yang benar. Keprihatinan ini telah


saya sampaikan dalam tulisan “Sertiikasi vs Kompetensi” dan
“Mungkinkah Menguasai Hipnoterapi Hanya dalam 1 Hari?” di
buku ini.
Karena praktik hipnoterapi masih sangat lemah dari aspek legal,
sampai saat ini subjek atau klien yang mengalami malpraktik tidak
66 Memahami฀Gelar฀Hipnoterapis

bisa melakukan tuntutan apa pun. Hal ini juga disebabkan klien tidak
tahu atau tidak mengerti apa sebenarnya hipnoterapi itu. Salah satu
malpraktik yang biasa dilakukan oleh hipnoterapis adalah aversion
therapy.
Quantum Hypnosis indonesia, bersama dengan para praktisi
hipnosis/hipnoterapis atau lembaga pelatihan hipnoterapi lain yang
prihatin dengan kondisi ini, berusaha menetapkan standar acuan
mutu, pelatihan, dan kode etik untuk Indonesia. Sambil menunggu
respons rekan-rekan lain, QHI telah memulai langkah berikut ini.
Pertama, kami telah mendapat legitimasi dari publik. Pelatihan
hipnoterapi QHI sejak awal telah menetapkan standar yang sesuai
dengan standar NGH, yaitu 100 jam tatap muka di kelas atau setara
dengan dua semester kuliah. Ini belum termasuk praktik dan mem-
baca buku yang bisa mencapai minimal 50 jam selama mengikuti
sesi pelatihan. Pelatihan QHI, walaupun menurut beberapa orang
termasuk “mahal”, selalu penuh. Dan dari sini, kami bertemu dengan
pribadi-pribadi istimewa yang punya visi sama untuk membangun
dan mengembangkan hipnoterapi di Indonesia demi kemajuan bangsa.
Kedua, dan ini berita baik yang baru saya dapatkan, modul pela-
tihan 100 jam QHI secara resmi telah diterima di salah satu fakultas
psikologi terbaik di Indonesia Timur. Saya telah diminta untuk me-
ngajar materi 100 jam ini untuk mahasiswa S2 Psikologi. Jadi, kami
telah mendapat legitimasi dari dunia akademis. Dan sepanjang yang
saya ketahui, baru kali ini sebuah fakultas psikologi di Indonesia
mengajarkan materi hipnoterapi dengan standar kurikulum NGH,
yaitu 100 jam tatap muka. Hampir satu tahun saya mengusulkan
kepada universitas ini untuk menerima materi QHI sebagai salah
satu mata kuliah yang berdiri sendiri untuk diajarkan di S2 Psikologi.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Dan, syukurlah, akhirnya terkabulkan.


Mungkin Anda berpikir, “Wah, enak ya Pak Adi. Di publik, pela-
tihan QHI dijual dengan harga Rp 30 juta. Sekarang Pak Adi juga
mendapat pangsa pasar baru, mahasiswa S2 psikologi.”
Nah, kali ini Anda keliru. Saya mengajar di fakultas psikologi
ini demi pengembangan keilmuan, bukan untuk mencari duit. Saya
Quitters฀Can฀Win 67

mengajar materi 100 jam secara full dengan standar QHI seperti
yang selama ini telah saya lakukan, tetapi tidak meminta tambahan
honor. Saya hanya menerima honor sebagai dosen luar biasa. Saya
melakukan semua ini karena kecintaan saya pada dunia teknologi
pikiran dan berharap bisa semakin mengembangkan hipnoterapi
di Indonesia. Lagipula saya adalah dosen luar biasa dalam arti saya
memang biasa di luar alias bukan dosen tetap.
Ketiga, kami akan mendapatkan legitimasi dari pemerintah. Besar
harapan kami bahwa jika pemerintah akan menetapkan standar mutu
pelatihan hipnoterapi di Indonesia, QHI bisa memberikan sumbang
saran. Modul pelatihan QHI memang sejak awal dirancang agar
suatu saat nanti bisa menjadi masukan berharga bagi pemerintah,
dalam hal ini Departemen Kesehatan.
http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka
Hypnotic Reparenting

A
pakah mungkin kita bisa mengubah masa lalu kita?”
“ Saya yakin, Anda pasti akan menjawab, “Ya, jelas nggak
mungkin dong, Pak. Mana bisa kita kembali ke masa lalu
dan mengubah alur dan pengalaman hidup kita? Cerita seperti ini
hanya ada dalam ilm iksi yang pakai terowongan waktu atau time
tunnel.”
Memang untuk kembali ke masa lalu seperti cerita ilm-ilm itu
tidak mungkin kita lakukan. Namun, kalau berbicara tentang pikiran,
memori, emosi, dan dalam konteks terapi, kita dapat mengotak-atik,
memodiikasi, dan kalau perlu mengubah masa lalu kita.
Sebenarnya yang kita ubah atau modiikasi adalah memori atau
kumpulan memori dan emosi yang telah melekat. Perubahan ini
akan menghasilkan efek yang luar biasa pada perilaku kita.
Dalam tulisan ini, saya hanya akan mengulas manfaat hipnosis
untuk mengubah pengalaman masa lalu, khususnya dalam konteks
reparenting atau pendidikan ulang keluarga. Apa maksudnya?
http://facebook.com/indonesiapustaka

Parenting atau pendidikan keluarga memang hanya terjadi satu


kali, yaitu saat kita masih kecil hingga kita remaja atau dewasa.
Namun, dengan teknik tertentu, dengan menggunakan bantuan
kondisi hipnosis, kita dapat melakukan hypnotic reparenting.
Ada klien dewasa, sebut saja Ani, yang mengalami sangat ba-
nyak masalah dalam hidupnya. Masalah yang ia alami bersumber
70 Hypnotic฀Reparenting

dari ketidakstabilan emosi, sikap negatif, konsep diri yang jelek,


dan masih banyak hal negatif lainnya. Ternyata setelah dicari akar
masalahnya, diketahui bahwa ia berasal dari keluarga yang be-
rantakan. Orangtuanya tidak bercerai, tetapi proses pendidikan
keluarga, perlakuan yang ia terima dari orangtua dalam proses tum-
buh kembangnya, sangat memprihatinkan.
Ani sesungguhnya adalah anak yang tidak diinginkan oleh
orangtuanya. Saat tahu hamil lagi, mengandung Ani, ibunya ingin
menggugurkannya. Namun, karena agama melarang hal itu, si ibu
terpaksa tetap mengandung dan akhirnya melahirkannya.
Ani adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Ibunya selalu mem-
bandingkan Ani dengan kakak perempuannya. Ia selalu diminta me-
ngalah pada kakaknya dan juga harus menuruti kemauan adiknya. Ia
benar-benar berada dalam posisi yang selalu tidak menyenangkan.
Jika ia tidak menuruti permintaan saudaranya, orangtuanya, khusus-
nya ibunya, akan marah besar dan mengucapkan kata-kata kasar.
Selain itu, ia masih diberi “bonus” pukulan dan hukuman.
Ayahnya juga tidak memerhatikan keluarga. Prinsipnya, ayah
bekerja mencari nakah, sedangkan urusan rumah adalah tanggung
jawab ibu. Akibatnya, Ani tidak mendapat dukungan kasih sayang
dari ayahnya.
Singkat cerita, Ani tumbuh dengan konsep diri negatif, harga diri
jelek, merasa tidak berdaya, putus asa, memandang hidup dengan
kaca mata suram, dan tidak bersemangat menjalani hidup.
Lalu, bagaimana cara membantu Ani? Bagaimana cara melakukan
re-parenting?
Pertama, Ani harus bersedia berubah. Selanjutnya, ia diminta
mencatat proses tumbuh-kembang yang ia alami, sebisa yang ia
http://facebook.com/indonesiapustaka

ingat, mulai dari kecil hingga dewasa. Yang dicatat terutama adalah
momen-momen istimewa dengan muatan emosi yang tinggi, baik
itu emosi negatif maupun positif. Setelah itu, ia diminta memberikan
uraian yang lebih mendetail terhadap setiap peristiwa.
Proses penggalian informasi ini membutuhkan waktu yang tidak
sedikit. Selain berusaha mengingat sendiri, Ani juga menggali dan
Quitters฀Can฀Win 71

melakukan cross check data dengan orangtua, famili, atau siapa saja
yang mengetahui kejadian yang dialami dan diingatnya.
Setelah dirasa cukup, penggalian data dilakukan dengan menggu-
nakan kondisi hipnosis, yaitu dengan teknik age regression. Data
yang terkumpul melalui teknik ini selanjutnya dibandingkan dan
digabungkan dengan data yang telah ia kumpulkan sendiri.
Jika dirasa sudah cukup, Ani dan terapisnya menyusun skenario
baru yang akan ditanamkan ke dalam pikiran bawah sadarnya.
Skenario ini mengikuti alur data yang telah berhasil dikumpulkan
dan dengan melakukan modiikasi terhadap data yang berisi muatan
emosi ”negatif ”.
Jika semuanya sudah siap, hypnotic reparenting atau pendidikan
ulang keluarga dalam kondisi hipnosis bisa dilakukan. Ani selanjutnya
dibimbing masuk ke kondisi hipnosis yang dalam (deep trance) kemudian
diregresi, dibawa mundur hingga ke masa di dalam kandungan ibunya.
Salah satu trauma besar yang ia alami adalah penolakan kehadir-
annya oleh ibunya. Data ”negatif ’ ini dimodiikasi sesuai kebutuhan
dan Ani mengalami kembali alur yang sama tetapi dengan cerita dan
muatan emosi yang positif.
Proses selanjutnya diteruskan hingga Ani lahir, saat pertama kali
dalam pelukan ibu, saat ayahnya menggendongnya, terus maju, saat
usia satu bulan, tiga bulan, saat pertama kali bisa mengeluarkan suara,
saat bisa membalik badan, tumbuh gigi, belajar berjalan, ulang tahun
pertama, ulang tahun kedua, masuk sekolah, belajar membaca dan
menulis, belajar menyanyi, dan seterusnya sesuai dengan garis waktu
dengan menggunakan skenario yang telah disusun sebelumnya.
Selama proses ini, Ani benar-benar dibimbing untuk merasakan
emosi-emosi positif, perlakuan positif, dan berbagai pengalaman
http://facebook.com/indonesiapustaka

menyenangkan yang dulunya tidak ia dapatkan saat proses tumbuh-


kembangnya. Ia juga dibantu untuk melakukan pemaknaan ulang
atas berbagai kejadian ”negatif ” yang ia alami. Ia memaakan orang-
orang, kejadian, situasi, atau apa saja yang ia rasa pernah mengece-
wakan dan menyakiti hatinya. Selanjutnya, ia juga diminta untuk
bisa menerima dan memaakan dirinya sendiri.
72 Hypnotic฀Reparenting

Keadaan Ani setelah menjalani terapi sangat positif. Emosinya


menjadi lebih stabil. Kebencian pada orangtuanya, khususnya ibu-
nya, telah berubah menjadi perasaan cinta yang dilandasi rasa syukur
yang tulus. Ia sekarang mampu menjalani hidup dengan positif dan
punya harapan akan masa depan yang lebih cerah.
Anda mungkin akan bertanya, “Pak, ini kan namanya memanipu-
lasi pikiran bawah sadar. Apakah efektif dan nggak berbahaya?” Be-
nar, ini memang manipulasi pikiran bawah sadar. Lebih spesiik lagi,
ini adalah manipulasi program pikiran dalam bentuk memori dan
emosi. Namun, dalam konteks terapi, cara ini dibenarkan dan sangat
efektif.
Hypnotic reparenting bisa dilakukan karena pikiran bawah sadar
menyimpan informasi/memori dan emosi. Pikiran bawah sadar cer-
das tetapi bodoh. Ia tidak bisa membedakan imajinasi dengan reali-
tas. Kelemahan yang sebenarnya juga merupakan kekuatan pikiran
bawah sadar inilah yang kita gunakan untuk terapi.
Ada seorang mahasiswa saya yang mengaku sangat takut pada
ular. Saat saya tanya bagaimana phobia itu bisa muncul, saya menda-
patkan jawaban yang benar-benar di luar dugaan saya.
Jawabannya begini, ”Suatu malam saya tidur dan bermimpi. Da-
lam mimpi itu, saya dikejar-kejar banyak ular dan akhirnya saya
tersudut. Saya takut setengah mati. Tiba-tiba saya tersadar dan ter-
bangun. Ah, lega hati saya, karena ternyata ini hanya mimpi. Namun,
sejak saat itu saya sangat takut pada ular.”
Nah, bisa Anda bayangkan bagaimana anehnya pikiran kita. Dari
mimpi saja, trauma bisa muncul.
Apa yang saya jelaskan dalam tulisan ini tampak sangat sederhana
dan prosesnya tidaklah rumit. Namun, untuk bisa melakukannya
http://facebook.com/indonesiapustaka

dengan benar, dibutuhkan kecakapan dan pengetahuan psikologi,


hipnosis, dan hipnoterapi yang mendalam. Karena yang diotak-
atik adalah pikiran, lebih spesiik lagi pikiran bawah sadar, hypnotic
reparenting hanya boleh dilakukan oleh mereka yang benar-benar
ahli.
Bahaya Self Hypnosis

S
ecara umum, ada tiga macam hypnosis. Pertama, hipnosis yang
dilakukan oleh diri sendiri, yang dikenal dengan self hypnosis.
Artinya, kita menghipnosis diri kita sendiri.
Kedua, hipnosis yang dilakukan oleh seseorang terhadap orang
lain atau disebut heterohypnosis. Proses ini biasa dilakukan oleh
seorang hypnotist terhadap subjek hipnosis, saat melakukan per-
tunjukan, atau hipnoterapis terhadap klien dalam setting terapi.
Ketiga, hipnosis yang disebabkan oleh anestesi atau disebut
parahypnosis. Pasien yang telah dianestesi/dibius tetap bisa men-
dengar suara, walaupun tampak tidak sadarkan diri. Kondisi para-
hypnosis ini umumnya tidak diketahui atau disadari oleh dokter
bedah, anesthesiologist, dan perawat. Apa pun yang mereka katakan
selama proses pembedahan akan didengar oleh pasien dan menjadi
sugesti yang sangat powerful karena pasien sebenarnya berada dalam
kondisi hipersugestibilitas.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Istilah self hypnosis lebih populer dan dikenal masyarakat dari-


pada heterohypnosis dan parahypnosis. Self hypnosis banyak dianjur-
kan atau digunakan untuk mengubah perilaku. Banyak pelatihan
mengajarkan self hypnosis dan bahkan banyak CD audio yang di-
klaim mampu membantu pendengarnya melakukan self hypnosis
dengan mudah dan efektif.
74 Bahaya฀Self฀Hypnosis

Nah, jika self hypnosis memang begitu ampuh untuk mengubah


perilaku atau meningkatkan kinerja, mengapa berbahaya?
Semua hipnosis sebenarnya adalah self hypnosis. Subjek hipnosis
hanya bisa dihipnosis oleh seorang operator (baca: hipnotis/hip-
noterapis) bila bersedia menerima sugesti yang diberikan kepada-
nya. Saat seseorang berusaha menghipnosis dirinya sendiri, ia meng-
gunakan prosedur yang sama. Ia, lebih tepatnya pikirannya, harus
bersedia menerima sugesti yang diberikan oleh dirinya sendiri. Na-
mun, satu hal yang biasanya tidak disadari oleh kebanyakan orang
adalah bahwa self hypnosis bisa terjadi secara tidak disengaja, tanpa
disadari. Apa maksudnya?
Hipnosis adalah suatu kondisi di mana perhatian menjadi sede-
mikian terpusat sehingga tingkat sugestibilitas meningkat sangat
tinggi. Jadi, saat pikiran fokus pada sesuatu, bisa kejadian, peristiwa,
ide, atau emosi/perasaan, saat itu pula seseorang sebenarnya telah
berada dalam kondisi hipnosis. Masuk ke kondisi hipnosis tidaklah
sulit seperti yang dibayangkan. Tidak harus menggunakan induksi
formal atau bantuan operator.
Saat seseorang mengalami emosi yang intens, khususnya emosi
negatif, gerbang pikiran bawah sadarnya terbuka sangat lebar. Pada
saat pikiran terfokus pada emosi seperti ini, ide apa pun yang dibe-
rikan akan diterima sebagai sebuah sugesti atau perintah hipnotis.
Baru-baru ini, seorang kawan dari Balikpapan bercerita mengenai
kondisinya. Sudah sekitar lima tahun ia minum obat penenang. Ia
sedemikian takut mati. Dari apa yang ia ceritakan, saya tahu bahwa
ini hanyalah psikosomatis.
Setelah mendengar cukup banyak ceritanya, saya sampai pada
satu pencerahan. Ternyata semua diawali saat ia bertemu dengan
http://facebook.com/indonesiapustaka

kawan baiknya yang mengalami stroke, bertahun-tahun yang lalu.


Kawannya ini berkata, ”Eh, kamu pasti juga akan kena stroke. Cara
kamu berjalan persis seperti saat sebelum saya kena stroke. Sekarang
jalanmu agak nyeret kaki, kan?”
Ia menjawab, ”Ah, nggak. Dari dulu cara jalan saya memang seperti
ini.” ”Tunggu saja. Cepat atau lambat pasti kamu juga akan kena
Quitters฀Can฀Win 75

stroke. Coba lihat wajahmu. Merah seperti wajah saya saat sebelum
kena stroke. Kalau nggak percaya, boleh cek tekanan darahmu. Pasti
tinggi. Pokoknya, kamu harus hati-hati,” tegas kawannya itu.
Ia semula tidak terlalu menanggapinya. Namun, semakin lama
kekhawatirannya akan terkena stroke semakin kuat. Akhirnya, kawan
saya memutuskan untuk memeriksa tekanan darahnya.
Dan ternyata ”benar”. Tekanan darahnya cukup tinggi, jauh di
atas rata-rata. Ia menjadi semakin takut dan panik. Bahkan hampir
pingsan. Dan pada saat itu, muncullah berbagai pemikiran kreatif
yang negatif. Ia membayangkan bagaimana jika sampai ia terkena
stroke seperti kawannya. Badannya lumpuh separuh. Jalannya mi-
ring. Harus memakai kursi roda. Pokoknya, yang muncul dalam pi-
kirannya saat itu serba negatif.
So, apa yang terjadi selanjutnya? Badan kawan saya ini memberikan
respons yang sesuai. Mulailah muncul ”tanda” bahwa kesehatannya
semakin memburuk. Ia menjadi semakin gelisah, susah tidur, tidak
bisa berkonsentrasi, dan akhirnya harus ke psikiater dan diberi obat
penenang.
Apa yang terjadi pada kawan saya ini sebenarnya adalah suatu
bentuk self hypnosis. Pada saat emosinya bergejolak, pada saat ia fokus
pada perasaan takut dan cemas, sebenarnya ia berada dalam kondisi
hipnosis. Dalam kondisi ini, ia secara tidak sengaja memberikan
sugesti kepada dirinya sendiri, dalam bentuk berbagai pemikiran
negatif. Pikiran ini muncul dalam bentuk self talk dan gambaran
mental. Dan terjadilah seperti yang ia sugestikan.
Saat ini, ia begitu sibuk mencemaskan simtom yang ia alami dan
sudah lupa dengan apa yang sebenarnya menjadi pemicu semua ini.
Padahal, bila kita cermati, sebenarnya tekanan darah yang tinggi,
http://facebook.com/indonesiapustaka

saat diukur, bisa disebabkan oleh banyak faktor. Salah satunya adalah
perasaan takut dan cemas. Saat kita takut atau cemas, jantung akan
berdegup lebih kencang. Ini adalah mekanisme pertahanan diri yang
telah terpatri di dalam DNA kita. Hormon adrenalin akan mengalir
deras. Otot-otot tubuh menjadi kaku. Wajah menjadi lebih pucat. Tubuh
disiapkan untuk ight (melawan) atau light (lari). Ini sangat normal.
76 Bahaya฀Self฀Hypnosis

Pada orang yang mengalami depresi, yang terjadi adalah bahwa


mereka mensugesti diri mereka sendiri melalui self hypnosis dengan
automatic thought. Automatic thought inilah yang disebut dengan
spontaneous self suggestion.
Automatic thought pada mereka yang mengalami depresi adalah
perasaan “kehilangan” atau loss. Mereka takut kehilangan sesuatu.
Ketakutan ini yang terus timbul dalam pikirannya dan terus menerus
mensugesti dirinya. Sedangkan pada mereka yang cemas, automatic
thought-nya adalah “ancaman” atau threat.
Self hypnosis bisa terjadi pada siapa saja, di mana saja, dan kapan
saja. Setiap kali pikiran kita fokus pada sesuatu dan pada saat itu
terjadi self talk atau muncul gambaran mental, pada saat itulah telah
terjadi self hypnosis.
Self hypnosis negatif inilah yang banyak menghancurkan hidup
anak-anak kita. Saya bertemu dengan banyak anak yang memberikan
label negatif pada diri mereka, ”Saya anak bodoh,” ”Saya nggak pernah
bisa berhasil,” ”Matematika itu sulit,” ”Belajar itu tidak menyenang-
kan,” ”Sekolah sama dengan penjara,” dan masih banyak lagi.
”Belief” mereka ini muncul dari proses enviromental hypnosis yang
diperkuat oleh self hypnosis. Misalnya, seorang anak mengikuti ujian
dan mendapatkan nilai jelek. Lalu, ia dimarahi oleh ibunya. Pada
saat itu, anak menjadi takut. Ketika takut, ia mendapatkan “sugesti”
dari ibunya, “Anak bodoh. Begitu saja nggak bisa. Kamu ini anak
siapa sih, kok goblok amat?” Sugesti ini masuk dengan sempurna ke
dalam pikiran bawah sadar anak.
Selanjutnya, ia mendapat nilai jelek lagi. Dan ibunya kembali
memberikan berbagai “sugesti” saat anak merasa takut. Ketika takut
akan dimarahi oleh ibunya, ia menghipnosis dirinya sendiri dengan
http://facebook.com/indonesiapustaka

perkataan dan pemikiran, “Memang benar, saya ini anak bodoh.


Tiap kali ulangan, pasti dapat nilai jelek.” Saat tiba di rumah, ibunya
memperkuat sugesti ini.
Apa yang terjadi selanjutnya? Anak ini akan menjadi anak yang bodoh.
Bukan karena kemampuan otaknya rendah, tetapi lebih karena program
pikiran negatif yang telah tertanam di dalam pikiran bawah sadarnya.
Quitters฀Can฀Win 77

Nah, apakah sekarang Anda mengerti bahwa self hypnosis bisa


berbahaya dan tidak selamanya baik?
http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka
Hypnotic Seal

D
alam adegan di televisi atau foto di surat kabar, pernahkah
Anda melihat segel yang dipasang oleh pengadilan dalam
kasus penyitaan rumah? Atau mungkin Anda pernah meli-
hat TKP (Tempat Kejadian Perkara) yang dipasangi police line?
Apa arti segel atau police line itu? Beranikah Anda memindah-
kan benda atau masuk ke lokasi itu tanpa izin? Tentu tidak, karena
yang boleh masuk hanyalah mereka yang memasangnya atau yang
punya wewenang untuk itu. Kalau nekat, Anda akan dikenai sanksi
atau hukuman. Dan yang berhak melepas segel adalah mereka yang
memasang.
Contoh lain, saat ingin mengakses data di suatu komputer,
pernahkah Anda mengalami kesulitan karena komputer meminta
Anda memasukkan password tertentu? Apa yang terjadi bila Anda
tidak bisa memberikan password yang sesuai? Sudah tentu Anda
tidak bisa mengaksesnya.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Lalu, siapa yang memasang password atau “segel” itu? Sudah


tentu orang yang mengerti cara kerja komputer. Bila ternyata
orang yang memasang adalah orang yang usil, apa yang
akan Anda lakukan? Anda pasti akan meminta bantuan ahli
komputer lain untuk meng-crack-nya.
80 Hypnotic฀Seal

Nah, pikiran manusia mirip komputer. Kita dapat dengan mudah


memasang segel pikiran dengan menggunakan teknik tertentu. Se-
gel pikiran ini lebih dikenal dengan istilah hypnotic seal atau segel
hipnosis.
Hypnotic seal sebenarnya merupakan program pikiran yang cara
kerjanya mirip password yang dipasang di komputer. Tujuannya
adalah untuk mencegah orang yang tidak berhak mengakses data,
masuk ke dalamnya. Pada komputer yang diakses adalah data base.
Sedangkan pikiran, yang diakses adalah pikiran bawah sadar yang
memuat banyak hal, antara lain persepsi, memori, dan emosi.
Apa manfaat hypnotic seal? Hypnotic seal, jika sudah dipasang
akan mencegah orang lain, selain si operator atau si pemasang
segel, untuk menghipnosis orang yang telah dipasangi segel. Jadi,
jika pikiran Anda sudah dipasang hypnotic seal oleh seseorang, ke
manapun Anda pergi, siapa pun yang akan menghipnosis Anda,
selain si operator, pasti akan gagal. Mereka tidak akan pernah bisa
menghipnosis Anda.
Saya ingat, saat selesai mengadakan Supercamp (SC) Becoming a
Money Magnet angkatan IX di Surabaya akhir tahun lalu, Ada be-
berapa peserta yang sangat sugestif. Saking sugestifnya, pikiran
bawah sadar mereka dapat dengan sangat mudah dimasuki “data”,
tetapi itu berarti juga dapat dengan mudah “dikerjain” orang yang
mengerti hal ini.
Selesai SC, saya memasang hypnotic seal dalam pikiran salah satu
peserta, sebut saja Johan, yang saya lihat sangat sugestif. Begitu selesai
dipasang, saya segera mencoba menghipnosisnya. Hasilnya? Tidak
bisa. Apa pun tekniknya, saya tetap tidak bisa menghipnosis Johan.
Mengapa tidak bisa? Karena “password” yang saya pasang adalah
http://facebook.com/indonesiapustaka

bahwa ia hanya bisa dihipnosis oleh orang yang ia percaya dan ia


menginginkan atau mengizinkan dirinya untuk dihipnosis. Jadi,
ada dua syarat yang harus dipenuhi. Salah satu saja tidak terpenuhi,
password-nya tidak bisa terbuka.
Apakah Johan percaya kepada saya? Sudah tentu. Apakah saat itu
ia mengizinkan dirinya untuk dihipnosis? Tidak.
Quitters฀Can฀Win 81

Saya lalu meminta Johan mengizinkan dirinya untuk saya


hipnosis. Tanpa perlu teknik yang canggih, hanya dengan satu kata,
ia langsung bisa saya hipnosis.
Itulah salah satu manfaat hypnotic seal. Apakah ada efek negatifnya?
Sudah tentu ada. Jika dipasang oleh hipnoterapis yang dikuasai oleh
ego, yang ingin menguasai atau mengendalikan kliennya, hypnotic
seal akan sangat merugikan klien. Saat membutuhkan bantuan
terapis lainnya dan berusaha melakukan hipnosis, klien tidak akan
bisa masuk ke kondisi hipnosis.
Apakah kita dapat membuka segel yang sudah dipasang? Sudah
tentu bisa. Seperti halnya pada komputer, kita bisa meng-“crack”
hypnotic seal. Untuk itu, kita perlu mengenal jenis dan karakteristik
hypnotic seal. Selanjutnya, terapis “hacker” ini menggunakan teknik
yang sesuai.
Secara teknis, ada lima jenis hypnotic seal. Setiap seal punya
karakteristik dan cara yang berbeda untuk membukanya. Dibu-
tuhkan pemahaman tentang cara kerja pikiran, sugesti, dan level
kedalaman trance untuk bisa membukanya.
Ada segel yang membuat seseorang tidak bisa dihipnosis. Ada
yang membuat seseorang tidak bisa mendengar suara hipnoterapis
selain si operator. Ada juga segel yang membuat seseorang, begitu
masuk ke kondisi trance, tidak akan bisa keluar atau bangun kecuali
dibangunkan oleh si pemasang segel. Bisa Anda bayangkan apa yang
akan terjadi bila seseorang dihipnosis, karena efek dari hypnotic
seal, ia tidak bisa bangun atau keluar dari kondisi hipnosis, kecuali
dibangunkan oleh si operator atau si pemasang segel.
http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka
Religious Aspects of Hypnosis

B
aru-baru ini, saya bertemu dengan seorang kawan yang de-
ngan begitu yakin dan mantap mengatakan bahwa hipnosis
adalah ilmu sesat dan dilarang oleh agama. Setelah mendengar
ulasan saya panjang lebar, akhirnya kawan saya ini berhasil saya
“sesatkan” kembali ke jalan yang benar.
Apa hubungan antara agama dan hipnosis? Setiap pakar punya
deinisi sendiri tentang hipnosis. Namun, yang paling banyak digu-
nakan saat ini dan merupakan deinisi resmi yang dikeluarkan oleh
pemerintah Amerika adalah hypnosis is the bypass of the critical factor
of conscious mind and the establishment of the acceptable selective
thinking. Artinya, hipnosis adalah penembusan faktor kritis pikiran
sadar dan diterimanya pemikiran tertentu.
Deinisi di atas sama sekali tidak menyinggung “ilmu” atau “ke-
kuatan” yang ditakutkan oleh kebanyakan orang. Jadi, hipnosis sebe-
narnya sangat sederhana. Saat terjadi penembusan critical factor dan
http://facebook.com/indonesiapustaka

diterimanya pemikiran (baca: sugesti, ide, atau airmasi) tertentu,


pada saat itulah terjadi hipnosis.
Ada juga yang mengatakan bahwa hipnosis itu sama dengan tidur.
Ini tidak tepat. Memang, saat seseorang dalam kondisi hipnosis, ia
akan tampak seperti orang tidur. Namun, aktivitas mental yang ter-
jadi sangat berbeda.
84 Religious฀Aspects฀of฀Hypnosis

Kata hypnosis pertama kali digunakan oleh James Braid pada


1842. Kata ini berasal dari bahasa Yunani, hypnos, yang sebenarnya
adalah nama dewa tidur. James Braid semula berpikir hipnosis
sama dengan tidur. Namun, ia kemudian memahami bahwa kondisi
hipnosis tidak sama dengan tidur dan menyadari bahwa dalam
kondisi hipnosis seseorang justru sangat fokus pada suatu ide atau
pemikiran. Pada 1847, ia mencoba mengganti kata hypnosis dengan
mono-idealism. Namun, istilah hypnosis sudah telanjur populer dan
terus digunakan hingga saat ini.
Jadi, tidak benar jika dalam kondisi hipnosis, pikiran seseorang
bisa dikuasai, ditaklukkan, atau tidak sadar. Dalam kondisi itu, pi-
kiran seseorang justru menjadi sangat fokus dengan intensitas yang
sangat tinggi.
Setiap upaya masuk ke kondisi hipnosis, entah itu waking hypnosis,
self hypnosis, atau hetero-hypnosis, pasti punya tiga komponen. Per-
tama, mereka yang melakukan hipnosis harus punya otoritas, atau
paling tidak dipandang sebagai igur otoritas di bidangnya. Ini
adalah langkah awal untuk menembus atau membuka celah di critical
factor pikiran sadar. Setelah berhasil, dibutuhkan komponen kedua
untuk membuat critical factor bersedia menerima informasi yang
akan disampaikan. Critical factor akan bertanya, “Mengapa ini bisa
bekerja?” Untuk bisa membuat critical factor “puas”, digunakan salah
satu dari tiga otoritas informasi berikut, yaitu doktrin, paradigma
(teori atau model), dan trans-logic. Setelah itu, baru digunakan kom-
ponen ketiga, yaitu message unit overload, atau membanjiri pikiran
dengan sangat banyak unit informasi sehingga pikiran menjadi
overload. Saat terjadi overload, secara alamiah kita masuk ke dalam
mode ight (melawan) atau light (lari). Jika subjek melakukan ight
http://facebook.com/indonesiapustaka

(melawan), ia tidak bisa masuk ke kondisi hipnosis. Saat subjek


memutuskan untuk light (lari), saat itu ia akan “masuk” ke dalam
pikirannya, melarikan diri dari serbuan unit informasi yang begitu
banyak, dan masuk ke kondisi hipnosis.
Kondisi hipnosis adalah kondisi alamiah pikiran manusia. Tidak
percaya? Pernahkah Anda mencari sesuatu, misalnya kunci mobil,
Quitters฀Can฀Win 85

ke mana-mana tetapi tidak berhasil, padahal kunci itu tepat berada


di depan Anda? Pasti Anda pernah mengalami hal seperti ini, kan?
Tahukah Anda apa yang sesungguhnya terjadi? Yang terjadi ada-
lah bahwa Anda mengalami negative visual hallucination. Benda
yang dicari ada, tetapi Anda tidak bisa melihatnya. Dan tahukah
Anda bahwa saat mengalami hal ini, Anda sebenarnya berada dalam
kondisi very deep trance? Jika menggunakan Davis Husband Scale,
dari 30 level kedalaman trance, Anda berada di level 29. Luar bia-
sa.
Atau, saat mandi,mungkin Anda pernah tiba-tiba merasakan lutut
Anda perih. Setelah Anda lihat, ternyata lutut Anda lecet tergores
sesuatu. Mengapa saat terluka Anda sama sekali tidak merasakannya?
Jawabannya sederhana sekali. Saat lutut Anda tergores atau terluka,
pikiran Anda sedang sangat fokus pada sesuatu. Saat itu, Anda sedang
dalam kondisi hipnosis yang dalam dan terjadilah pain blocking.
Anda tidak merasa sakit sama sekali.
Atau mungkin Anda pernah mengalami bahwa ketika sedang
asyik-asyiknya (baca: fokus) membaca buku atau menonton televisi,
Anda tidak mendengar nama Anda dipanggil oleh kawan Anda. Ini
juga contoh kondisi deep hypnosis.
Nah, dengan mengacu pada deinisi hipnosis dan beberapa kete-
rangan tambahan di atas, Anda dapat memahami bahwa tidak ada
yang aneh atau mistik dalam hal ini. Dan bila kita tahu caranya,
kondisi hipnosis dapat diciptakan dengan sangat mudah.
Yang menarik, semua agama sebenarnya juga menggunakan hip-
nosis untuk memengaruhi umatnya. Mari kita lihat praktik atau
ritual agama. Kita mulai dengan bentuk bangunan ibadah. Bagai-
mana bentuknya? Pasti berdiri tegak, besar, dan megah. Lalu, saat
http://facebook.com/indonesiapustaka

kita berada di dalamnya, bagaimana bentuk dan ketinggian plafon?


Sudah pasti tinggi dan megah pula.
Dengan begitu, apa tujuan atau efeknya terhadap diri kita? Entah
disadari atau tidak, kita akan merasa kecil. Merasa tidak ada apa-
apanya. Otoritas gedung itu, ditambah lagi kita tahu bahwa itu adalah
tempat ibadah, membuat kita “takluk” dan “pasrah”.
86 Religious฀Aspects฀of฀Hypnosis

Selain itu, bagaimana dengan pemuka agama yang menyampaikan


“pesan”? Dari mana mereka menyampaikan “pesan” mereka? Apakah
mereka berdiri sejajar dengan umat ataukah lebih tinggi? Sudah tentu
lebih tinggi, biasanya di atas mimbar yang hanya diperuntukkan un-
tuk orang-orang khusus. Ini juga salah satu bentuk otoritas. Begitu
pikiran sadar kita melihat igur otoritas, critical factor langsung ter-
pengaruh dan mulai membuka.
Lalu, apa yang digunakan untuk komponen kedua? Benar, “pesan”
yang dikutip dari kitab suci langsung menembus critical factor dan
masuk ke pikiran bawah sadar. “Pesan” ini biasanya berbentuk doktrin.
Bagaimana dengan komponen ketiga, message unit overload?
Hal ini dilakukan dengan menggunakan repetisi atau emosi. Saat
“pesan” disampaikan berulang-ulang atau saat suatu emosi, entah
positif atau negatif, berhasil digugah dan dibuat menjadi intens,
misalnya kebahagiaan karena akan masuk surga atau kengerian dan
ketakutan pada siksa neraka, semua unit informasi ini membanjiri
pikiran dan menciptakan kondisi overload. Menggugah emosi bisa
juga dilakukan melalui lagu-lagu berirama lembut dengan syair yang
menghanyutkan perasaan atau dengan bau wewangian tertentu.
Sekarang coba kita lihat ritual doa. Apa yang dilakukan umat
sebelum berdoa? Apakah mereka ribut, cerita sendiri, ataukah
berlutut, diam, hening, dan memusatkan perhatian pada doa yang
akan diucapkan? Tentu mereka akan memusatkan perhatian mereka,
atau dalam bahasa agama, akan berusaha khusyuk. Setelah pikiran
terpusat dan hati tenang, barulah doa dibacakan atau diucapkan.
Doa ini sebenarnya adalah sugesti atau airmasi. Dan jika diucapkan
sendiri, doa menjadi auto-suggestion melalui self hypnosis.
Banyak orang sangat ingin masuk ke kondisi khusyuk. Namun,
http://facebook.com/indonesiapustaka

kondisi ini bisa mereka capai sesekali saja, tidak bisa diulang sesuai
keinginan. Mengapa? Karena kebanyakan dari kita tidak mengerti
mekanisme untuk masuk ke kondisi khusyuk ini. Selama ini kita
hanya menggunakan cara trial and error. Ada yang bisa dengan
sangat mudah menjadi khusyuk, tetapi tidak bisa menjelaskan atau
mengajarkan caranya kepada orang lain.
Quitters฀Can฀Win 87

Sulitkah untuk menjadi fokus atau khusyuk? Sama sekali tidak.


Bila kita tahu caranya, kita bahkan bisa membuat diri kita khusyuk
kapan pun dan di mana pun dengan sangat mudah dan cepat.
Saat berdoa, banyak orang, karena begitu khusyuknya, sampai
merasakan keheningan luar biasa yang disertai perasaan gembira,
bahagia, dan damai yang tak terlukiskan dengan kata-kata. Sungguh
pengalaman euforia spiritual yang luar biasa. Apakah ini berhubungan
dengan kondisi hipnosis? Sudah tentu. Kondisi ini mirip sekali dengan
salah satu kondisi hipnosis yang sangat dalam. Orang yang berhasil
masuk ke dalam kondisi ini biasanya ingin terus berada dalam situasi
seperti itu, karena mereka merasakan sesuatu yang begitu luar biasa.
Kondisi hipnosis jugalah yang sebenarnya digunakan untuk
membentuk, membangun, dan memperkuat belief seseorang terhadap
doktrin suatu agama. Saat masih kecil, seorang anak pada dasarnya
sangat sering berada dalam kondisi hipnosis secara alamiah. Oleh
karena itu, bila doktrin agama diajarkan pada usia ini, efeknya akan
sangat kuat.
Mengapa? Karena pada usia 0-3 tahun, anak belum punya critical
factor. Critical factor baru mulai terbentuk pada usia 3 tahun dan
akan semakin menebal dan kuat pada usia 8 tahun. Critical factor
akan benar-benar tebal saat anak berusia 11 tahun ke atas.
Agar benar-benar diyakini kebenarannya dan dipegang dengan
sangat kuat oleh seseorang, doktrin harus masuk menjadi belief yang
terkait dengan emosi yang sangat intens. Dan bila terus diperkuat
dengan berbagai repetisi, belief ini akhirnya menjadi faith atau iman.
Berikut saya kutipkan deinisi faith dari kamus elektronik Encarta,
“Faith: belief or trust: belief in, devotion to, or trust in somebody or
something, especially without logical proof” atau “Iman: kepercayaan,
http://facebook.com/indonesiapustaka

bahkan yang sangat kuat, pada seseorang atau sesuatu, biasanya tan-
pa bukti yang logis.”
Belief yang sudah berhasil dibentuk, dibangun, dan diperkuat ak-
hirnya akan mengkristal menjadi value, yang biasanya menempati
level tertinggi dalam hierarki value seseorang. Dan mengubah value
ini sangat sulit, jika tidak mau dikatakan tidak bisa.
88 Religious฀Aspects฀of฀Hypnosis

Sebagai penutup tulisan ini, berikut saya kutipkan e-mail dari dua
orang pembaca buku dan artikel saya:

Subyek : e-mail

Objek :
Terima Kasih dari Seorang Pastor

Saya sudah membaca buku Anda berjudul, Hyp-


nosis: The Art of Subconscious Communication, dan
Becoming a Money Magnet. Tulisan Anda sangat
memperkaya hidup saya. Hypnosis sangat efektif un­
tuk keperluan terapi. Banyak masalah emosi terluka/
perasaan terluka tersembuhkan dengan hypnosis.
Saya adalah seorang imam. Banyak umat datang
kepada saya. Saya mengajak mereka berdoa/ber­
meditasi. Lalu, setelah sungguh hening, memasuki
gelombang alpha­theta, barulah saya membacakan
irman Tuhan. Hal positif ini sungguh mengubah
hidup umat. Kebencian bisa tergantikan dengan
pengampunan. Betul kata Anda, salah membuat
kalimat ketika orang berada dalam gelombang theta
atau alpha akan berdampak buruk. Pikiran dan
perkataan kita harus selalu positif untuk melahirkan
hal yang positif.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Berlimpah terima kasih,


T. Budi
Quitters฀Can฀Win 89

Subyek : e-mail

Objek :
Saling Meneguhkan

Saya sudah membaca hampir semua artikel yang


Bapak tulis, dan saya sangat tertarik untuk mempe­
lajarinya lebih dalam. Saya sedang memesan bebe­
rapa buku Bapak.
Mengapa saya tertarik? Sebelumnya saya buta sa­
ma sekali tentang hypnosis karena dulu saya pikir itu
adalah ilmu sesat. Namun, setelah saya membaca
artikel­artikel yang Bapak tulis, ternyata anggapan
saya keliru. Bahkan apa yang Bapak ajarkan juga sa­
ya ajarkan. Bedanya, saya melalui jalur agama, se­
dangkan Bapak melalui jalur sekuler.
Selain itu, setelah membaca tulisan Pak Adi, saya
baru tahu bahwa ada banyak hal yang selama ini
saya tahu dan ajarkan punya dasar lain jika ditinjau
dari ilmu yang Bapak pelajari. Jadi, kesimpulannya
adalah bahwa keduanya saling meneguhkan.
Sekali lagi terima kasih banyak atas pencerahannya,
Pak. Saya ingin sekali berdiskusi dengan Bapak jika
ada kesempatan.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Hormat saya,
Pdt. F.G.
90 Religious฀Aspects฀of฀Hypnosis

Nah, bagaimana dengan Anda? Bagaimana pandangan Anda


terhadap hypnosis? Apakah Anda akhirnya “tersesat” ke jalan yang
benar seperti kawan saya?
http://facebook.com/indonesiapustaka
Memahami Level Hipnosis
dan Manfaatnya

B
aru-baru ini, saya mendapatkan e-mail dari seorang pembaca
buku yang juga telah mendengarkan CD audio Ultra Depth
Relaxation. Ia bertanya, “Pak Adi, saat mengikuti bimbingan
Bapak melalui CD, saya masuk ke dalam kondisi relaksasi yang begitu
dalam. Jauh lebih dalam dari yang pernah saya capai sebelumnya.
Belum pernah saya merasa begitu tenang dan damai. Namun, saat
sedang menikmati suasana yang luar biasa itu, saya merasa bahwa
sebenarnya saya masih bisa lebih dalam lagi. Pak, apakah ada dasar
atau level terdalam yang bila seseorang telah mencapainya tidak bisa
turun lagi?”
Sebenarnya ada banyak level relaksasi yang bisa kita capai. Relak-
sasi ada dua macam, yaitu relaksasi isik dan relaksasi mental. Pada
umumnya, kita berpikir bahwa saat kita mengalami relaksasi isik, hal ini
sama dengan kondisi trance. Pemahaman ini sama sekali tidak tepat.
Saya pun dulunya berpikir seperti itu. Saat berhasil membawa
http://facebook.com/indonesiapustaka

seseorang masuk ke dalam kondisi relaksasi (isik) yang sangat da-


lam, dengan menggunakan induksi progressive relaxation, saya
“yakin” klien ini telah masuk ke kondisi deep trance. Namun, dari
pengalaman praktik, saya mulai meragukan korelasi antara relaksasi
isik dan kedalaman trance saat saya menemukan bahwa hasil terapi
saya kadang efektif, tetapi kadang sama sekali tidak ada hasilnya.
92 Memahami฀Level฀Hipnosis฀dan฀Manfaatnya

Saya selanjutnya berusaha menemukan apa yang salah dengan


terapi yang saya lakukan. Akhirnya, setelah membaca lebih banyak
literatur, saya mendapat pencerahan. Ternyata, relaksasi isik tidak
sama dengan kondisi trance. Seseorang bisa saja begitu rileks isiknya,
tetapi belum masuk ke kondisi hipnosis atau trance yang dalam.
Anda yang awam dengan hipnosis atau hipnoterapi tidak perlu
bingung dengan level kedalaman trance yang saya sebutkan di atas.
Saya akan menjelaskan secara lebih mendetail berikut ini.
Meskipun istilahnya kurang tepat, untuk mudahnya, kita tentukan
saja dulu dua level yang menjadi batas atas dan bawah. Batas atas adalah
kondisi saat kita sadar, saat kita berpikir dan fokus. Dalam kondisi ini,
Kita sadar sesadar-sadarnya dengan apa yang kita rasakan, lakukan,
alami, atau pikirkan. Batas ini dikenal dengan nama normal waking
consciousness atau kesadaran bangun normal. Sedangkan yang menjadi
batas bawah adalah kondisi saat kita “tidak sadar” atau saat kita tidur.
Di antara batas atas dan bawah, ada begitu banyak level kesadaran
“khusus” yang dikenal sebagai altered state of consciousness (ASC).
ASC tidak hanya terdapat di antara dua batas ini, tetapi juga di bawah
batas bawah dan di atas batas atas.
Saya akan menjelaskan beberapa skala kedalaman trance yang
umumnya dikenal dalam dunia hipnoterapi. Salah satu skala keda-
laman yang populer adalah skala Elman. Elman membagi level
kedalaman hipnosis/trance menjadi empat level, yaitu light trance,
medium trance, somnambulism, Esdaile, dan hypnosleep.
Masih menurut Elman, dua level pertama, yaitu light dan medium
trance, adalah level yang sama sekali tidak bermanfaat untuk terapi.
Terapi hanya bisa dilakukan secara efektif pada level somnambulism.
Sedangkan level Esdaile dan hypnosleep punya manfaat terapeutik
http://facebook.com/indonesiapustaka

yang agak berbeda.


Skala lain yang awalnya diajarkan pada 1940-an dan masih ba-
nyak digunakan hingga saat ini adalah skala Harry Arons. Agar le-
bih mudah memahaminya, saya akan menjelaskan fenomena yang
menjadi ciri setiap level. Harry Arons membagi level relaksasi mental
menjadi enam level.
Quitters฀Can฀Win 93

Persis di bawah batas atas, normal waking consciousness, terdapat


kondisi relaksasi yang dikenal dengan nama hypnoidal. Ini adalah
kondisi relaksasi yang paling mudah dicapai. Kondisinya mirip
dengan orang yang sedang melamun. Salah satu ciri kondisi hypnoidal
adalah eye catalepsy atau mata yang tidak bisa dibuka walaupun kita
ingin membukanya.
Di bawah hypnoidal terdapat level light trance di mana kondisi
sugestibilitas meningkat karena kelompok otot yang mengalami ca-
talepsy meluas ke bagian tubuh yang lain.
Di bawah lagi, ada level medium trance dengan ciri atau karak-
teristik berupa catalepsy pada kelompok otot besar yang mengaki-
batkan seseorang tidak bisa bergerak, tidak bisa bangkit dari kursi,
atau tidak bisa berjalan. Pada level ini, seseorang juga bisa mengalami
aphasia atau kesulitan berbicara karena mendapat sugesti demikian.
Di bawah medium trance, terdapat level threshold of somnambulism
yang merupakan level kedalaman minimal untuk melakukan hip-
noterapi yang efektif. Kedalaman ini minimal harus dicapai agar
teknik advanced seperti hypno analysis, age regression, ego state
therapy, dan forgiveness therapy dapat dilakukan secara efektif dan
mudah. Ciri utama pada level ini adalah terjadinya amnesia (klien
menjadi lupa sesuatu) dan analgesia (berkurangnya intensitas rasa
sakit).
Di bawahnya lagi, terdapat level full somnambulim. Pada level
ini, klien menjadi sangat sugestif dan bila diberi suatu sugesti, pe-
ngaruhnya akan bertahan (sangat) lama. Kedalaman ini mutlak dibu-
tuhkan untuk melakukan anestesi (untuk operasi dan melahirkan)
atau untuk age regression. Level ini tidak cocok untuk teknik direct
suggestion yang bertujuan melakukan perubahan perilaku, seperti
http://facebook.com/indonesiapustaka

menghentikan kebiasaan merokok atau menggigit jari. Satu ciri


utama pada level ini adalah possitivie hallucination.
Level paling dalam pada skala Harry Arons adalah profound
somnambulism. Level ini mencakup semua hal positif dari level full
somnambulim dan ditambah dengan kemampuan negative hallucina-
tion.
94 Memahami฀Level฀Hipnosis฀dan฀Manfaatnya

Profound somnambulism bukanlah level paling dalam yang bisa


dicapai seseorang. Level ini justru awal dari sesuatu yang jauh lebih
menarik dan dahsyat. Namun, untuk kebutuhan terapi kita, hipno-
terapis hanya perlu membawa klien maksimal ke level ini karena
level kedalaman yang akan saya jelaskan berikut ini punya manfaat
yang berbeda.
Tepat di bawah profound somnambulism, terdapat level Esdaile
atau yang juga dikenal dengan hypnotic coma. Perlu dipahami bahwa
kondisi hypnotic coma ini tidak sama dengan kondisi medical coma.
Dalam kondisi Esdaile ini, seseorang merasa begitu senang dan
bahagia. Ini adalah kondisi euphoria. Orang biasanya tidak mau
keluar dari kondisi ini karena begitu “enak” dan “nikmat”. Semua
masalah terasa hilang, semua sempurna adanya. Jika seorang klien
atau subjek masuk ke kondisi ini, dibutuhkan keahlian khusus untuk
membawanya keluar. Jika tidak, klien akan terus berada di level ini.
Level Esdaile tidak cocok untuk terapi karena pada kondisi ini
pikiran kita tidak bisa menerima sugesti apa pun. Level ini digu-
nakan untuk total anestesia, untuk painless childbirthing atau mela-
hirkan tanpa rasa sakit, stress management, dan bisa digunakan
oleh dokter untuk membantu mengembalikan posisi tulang atau
otot pasiennya dengan mengurut bagian yang dislokasi. Dari level
profound somnambulism, subjek/klien dapat dibawa turun ke level
Esdaile dengan cepat dan mudah, hanya membutuhkan waktu seki-
tar empat menit.
Di bawah level Esdaile, terdapat level catatonic. Ini adalah kondisi
di mana tubuh subjek atau klien menjadi plastis tetapi kaku/terkunci
tanpa pemberian sugesti dan bisa diposisikan pada posisi/postur
tertentu dalam waktu yang lama. Level ini tidak digunakan dalam
http://facebook.com/indonesiapustaka

terapi.
Lebih dalam lagi, terdapat level hypnosleep. Level kedalaman ini
pertama kali diungkapkan oleh Hyppolite Bernheim dalam buku-
nya yang mashyur, Hypnosis and Suggestion in Psychotherapy yang
ditulis pada 1884. Walaupun mengungkapkan level hypnosleep,
Bernheim tidak menjelaskan teknik untuk mencapai level ini. Dave
Quitters฀Can฀Win 95

Elman adalah hipnoterapis jenius yang menemukan teknik yang


efektif untuk membawa seseorang masuk ke level ini dan melakukan
terapinya. Pada level ini, semua ilter mental yang ada dalam pikiran
bawah sadar tidak bekerja. Sugesti apa pun yang diberikan pada level
ini akan diterima sepenuhnya oleh pikiran bawah sadar.
Hingga saat ini, level relaksasi pikiran paling dalam yang bisa di-
capai seseorang adalah level Sichort atau juga dikenal dengan nama
ultra depth. Level ini ditemukan oleh Walter Sichort dan punya man-
faat yang berbeda dengan kondisi relaksasi mental di atasnya.
Saat seseorang berhasil mencapai level Sichort, ia dapat mem-
bantu orang lain melalukan self healing melalui penggunaan teknik
Mind-to-Mind Healing. Pada teknik ini, terapi terjadi secara otomatis
di antara dua pikiran bawah sadar. Terapis sama sekali tidak bisa me-
mengaruhi atau mengarahkan proses terapi. Terapi terjadi, diarah-
kan, dan dilakukan hanya oleh pikiran bawah sadar.
Itulah berbagai level yang ada di bawah normal waking conscious-
ness/NWC. Bagaimana dengan yang di atas NWC? Sejauh ini, dalam
dunia hipnoterapi, dan masih dalam tahap eksperimen, ada tiga level
di atas NWC, yaitu level higher self consciousness, super consciousness,
dan level ultra height.
Jujur, saya belum bisa bercerita banyak mengenai ketiga level ini.
Saat ini, saya sendiri sedang mendalami dan melakukan eksplorasi
pada ketiga level ini. Ketiga level ini punya kelebihan yang luar biasa
bila diterapkan dalam konteks terapi dan spiritualitas.
Saya telah mempraktikkan membawa subjek ke level ultra height
dan hasilnya sangat luar biasa. Level ini dapat membantu ekspansi
dan peningkatan kesadaran/kecerdasan spiritual dengan sangat
cepat. Juga dapat digunakan untuk melakukan terapi isik dan
http://facebook.com/indonesiapustaka

mental, tetapi dengan pendekatan yang sangat berbeda.


http://facebook.com/indonesiapustaka
Rahasia Masuk ke Dalam
Level Deep Hypnosis

B
aru-baru ini, saya mendapatkan e-mail dari peserta roadshow
he Secret of Mindset di Jogjakarta. Peserta ini, sebut saja
Pak Anggoro, bertanya, “Pak, saya penasaran dengan yang
Bapak lakukan. Bagaimana Pak Adi bisa begitu mudah membawa
peserta seminar, yang jumlahnya ratusan, masuk hingga kedalaman
profound somnambulism?”
Penasaran dengan pertanyaan ini, karena ia menggunakan istilah
yang sangat teknis, profound somnambulism, saya menanyakan latar
belakangnya. Ia menerangkan bahwa ia juga memelajari hipnosis dan
hipnoterapi. Namun, selama ini ia mengalami kesulitan membawa
kliennya masuk ke kondisi very deep hypnosis atau yang dikenal de-
ngan level profound somnambulism.
Bagi Anda yang tidak menghadiri roadshow seminar saya mungkin
bingung dengan apa yang saya lakukan. Dalam seminar itu, saya
menjelaskan dan memeragakan cara bagaimana masuk ke dalam
pikiran bawah sadar dengan sangat cepat dan mudah. Pertama, saya
http://facebook.com/indonesiapustaka

akan memberikan contoh dengan meminta seorang peserta maju ke


atas panggung, untuk saya bimbing masuk ke kondisi deep hypnosis.
Dengan sangat mudah dan dalam waktu yang sangat singkat, pe-
serta ini bisa masuk sangat dalam hingga mencapai kondisi profound
somnambulism. Untuk membuktikan bahwa subjek hipnosis saya ini
98 Rahasia฀Masuk฀ke฀Dalam฀Level฀Deep฀Hypnosis

telah masuk ke level yang sangat dalam, saya melakukan uji kedalaman.
Salah satu fenomena dari kondisi profound somnambulism adalah
negative visual hallucination. Dan subjek saya ini memberikan respons
yang sesuai dengan kedalaman hipnosis yang ia capai saat itu.
Setelah menjelaskan panjang lebar beserta contoh dan peragaan
yang gamblang, saya membimbing semua peserta untuk masuk ke
kondisi deep hypnosis atau profound somnambulism. Dan rupanya
inilah yang membuat Pak Anggoro penasaran.
Di berbagai buku, literatur, dan pelatihan hipnosis/hipnoterapi,
“rahasia” ini pasti dijelaskan atau diajarkan sebagai pengetahuan da-
sar. Namun, sayangnya, informasi ini kurang mendapat perhatian
yang layak dan malah sering diabaikan.
Ada beberapa hal yang selama ini menghambat seorang operator
(baca: hipnoterapis) dalam membimbing subjek hipnosis atau klien
masuk ke kondisi hipnosis yang sangat dalam.
Pertama, banyak operator yang berpikir bahwa hipnosis adalah
sesuatu yang mereka lakukan terhadap subjek hipnosis, subjek masuk
ke dalam kondisi hipnosis karena hasil kerja si operator. Pemahaman
ini kurang tepat. Yang benar adalah subjek masuk kondisi hipnosis
karena subjek memang mau. Jadi, langkah awalnya adalah si subjek
harus bersedia untuk dihipnosis.
Kedua, operator harus bisa menghilangkan perasaan takut atau
mispersepsi subjek terhadap hipnosis. Ini merupakan faktor yang
sangat penting karena pencapaian kedalaman hipnosis berbanding
terbalik dengan intensitas perasaan takut.
Dengan kata lain, bila subjek sangat takut, ia tidak akan bisa
dihipnosis. Bila takutnya sedikit, ia bisa masuk lebih dalam lagi. Jika
sama sekali tidak ada rasa takut, subjek bisa masuk dengan sangat
http://facebook.com/indonesiapustaka

mudah ke level hipnosis yang sangat dalam. Setelah klien tidak takut
dan bersedia dihipnosis, langkah selanjutnya adalah operator harus
bisa mengembangkan imajinasi dan menciptakan pengharapan
mental pada diri subjek.
Ketiga, banyak orang punya pemahaman yang kurang tepat,
jika tidak mau dikatakan salah, mengenai hipnosis. Banyak orang
Quitters฀Can฀Win 99

berpikir bahwa agar bisa masuk ke kondisi hipnosis, secara isik


subjek harus rileks. Dengan kata lain, level relaksasi berbanding
lurus dengan level kedalaman hipnosis.
Pemahaman ini, sekali lagi, kurang tepat. Benar, salah satu ciri
orang yang berada dalam kondisi hipnosis adalah tubuhnya tampak
rileks. Namun, tubuh yang rileks tidak berarti orang dalam kondisi
hipnosis.
Deinisi hipnosis yang saat ini paling banyak digunakan dan
diterima adalah yang dilansir oleh U.S. Department of Education,
Human Services Division, yaitu “hypnosis is the by-pass of the critical
factor of the conscious mind followed by the establishment of acceptable
selective thinking” atau “hipnosis adalah penembusan faktor kritis
pikiran sadar diikuti dengan diterimanya suatu pemikiran atau su-
gesti.”
Bila dicermati dengan saksama, dari deinisi di atas tampak je-
las bahwa hipnosis sama sekali tidak ada hubungannya dengan
kondisi rileks secara isik. Menurut deinisi di atas, ada dua syarat
yang harus dipenuhi. Pertama, penembusan faktor kritis, dan kedua,
diterimanya suatu sugesti oleh pikiran bawah sadar.
Keempat, yang membuat seseorang sulit masuk ke kondisi hipnosis
yang dalam adalah karena operator salah memilih teknik. Secara
umum, ada enam teknik dasar yang biasa digunakan dan selanjutnya
berkembang menjadi sangat banyak.
Satu teknik yang paling umum dan paling banyak digunakan ada-
lah progressive relaxation. Teknik ini paling banyak digunakan karena
paling mudah dan paling “aman” untuk operator. Sebenarnya nama
progressive relaxation juga kurang tepat. Nama yang benar adalah
fractional relaxation. Usahakan untuk tidak menggunakan teknik
http://facebook.com/indonesiapustaka

ini. Gunakan teknik lain yang lebih efektif. Progressive relaxation


tidak cocok untuk mereka yang analitis, kritis, pemikir, melankolis,
pengacara, pimpinan perusahaan, atau orang yang berada pada level
otoritas tinggi.
Kelima, dan ini juga sering diabaikan oleh banyak operator,
adalah semantik atau pilihan kata. Banyak operator menggunakan
100 Rahasia฀Masuk฀ke฀Dalam฀Level฀Deep฀Hypnosis

kata yang maknanya lebih mencerminkan tafsir si operator sendiri.


Contohnya, “Sekarang Anda merasa diri Anda semakin rileks dan
lebih rileks lagi” atau “Sekarang Anda menjadi 10 kali lebih rileks.”
Ini adalah perintah yang belum tentu akan dijalankan oleh subjek.
Yang lebih tepat adalah menggunakan kalimat yang lebih permisif,
persuasif, dan bersifat himbauan.
Jika kelima faktor di atas diperhatikan dengan sungguh-sungguh,
siapa pun bisa dibimbing masuk ke kondisi hipnosis yang sangat
dalam dengan sangat mudah dan cepat.
http://facebook.com/indonesiapustaka
Manfaat dan Bahaya
Past Life Regression

I f t he only t ool you have is a ham m er,


you will t reat every problem as a nail.

B
aru-baru ini saya mendapat telepon dari seorang kawan yang
tinggal di ujung timur Indonesia, Papua. Kawan ini, sebut saja
Rini, bercerita bahwa ia baru saja menjalani terapi dengan
seorang hipnoterapis terkenal di Jakarta dan telah mengalami PLR
(Past Life Regression).
Mendengarkan kisahnya, saya terhenyak saat ia berkata, “Pak,
sekarang saya tahu dulunya saya ini siapa. Sewaktu diregresi ke ke-
hidupan lampau, ternyata saya adalah Nyi Roro Kidul, penguasa
pantai laut selatan.”
http://facebook.com/indonesiapustaka

Saya kaget sekali. Ditambah lagi ia berkata bahwa ia sekarang


juga tahu siapa soulmate-nya. Ternyata orang itu adalah seorang
pria, guru dan berusia jauh lebih tua darinya. Namun, ia sudah
menikah. Hati Rini hancur sekali karena tidak bisa merajut kembali
hubungan kasih mereka di kehidupan ini. Saat menelpon saya, ia
juga mengatakan bahwa kondisi emosinya labil.
102

Mengapa saya kaget mendengar cerita Rini? Karena kisah ini me-
ngingatkan saya pada kisah seorang kawan yang juga mengalami
hal “luar biasa” setelah mengalami PLR. Kawan ini, menurut hasil
PLR, dulunya ternyata adalah orang-orang besar. Ia pernah hidup
sebagai “Yesus”, “Buddha”, dan “Nabi Muhammad SAW”. Ia sempat
mengalami goncangan mental yang cukup parah. Untungnya, akhir-
nya ia bisa stabil dan normal kembali.
Kisah lainnya datang dari kawan saya di Makassar yang me-
ngalami PLR dan ternyata dulunya ia adalah “Ganesha”. Ada lagi
kawan yang bercerita bahwa ia pernah mengikuti seminar PLR dan
saat si pembicara melakukan PLR kepada para peserta, hampir se-
mua tidak bisa mengalami PLR. Selanjutnya, si pembicara dengan
sangat yakin, mantap, dan lantang berkata, “Anda yang tidak me-
ngalami PLR adalah orang-orang yang tidak punya past life. Anda
adalah keturunan makhluk UFO yang datang ke dunia ini dengan
mengemban misi khusus.” Betapa ngawur dan berbahaya kondisi
ini.
Kembali ke cerita Rini. Saat saya menggali lebih jauh dari mana
ia mengetahui soulmate-nya, ia menjawab bahwa ia baru saja selesai
membaca buku mengenai PLR dan di dalamnya ada cerita tentang
soulmate. Anda bisa melihat benang merah pengalaman Rini?
Berikut adalah beberapa informasi penting mengenai PLR yang
saya peroleh melalui pemelajaran dan pengalaman saya. Dulu, saya
pun pernah melakukan beberapa kesalahan yang cukup serius.
Kesalahan ini harus saya “bayar” dengan harga yang sangat mahal.
Saya tidak dalam posisi atau kapasitas mengatakan bahwa past life
itu ada atau tidak. Semua berpulang pada kepercayaan (belief system)
masing-masing dan itu adalah sesuatu yang sangat personal dan
http://facebook.com/indonesiapustaka

subjektif.
Terlepas dari apakah past life itu ada atau tidak, suka atau tidak,
percaya atau tidak, didapatkan data bahwa saat melakukan terapi,
khususnya saat menggunakan teknik regresi untuk mencari akar
masalah yang dialami oleh seorang klien, sekitar 10-20 persen akan
terjadi PLR spontan.
Quitters฀Can฀Win 103

Saat terjadi PLR spontan, hipnoterapis harus tahu cara atau teknik
untuk membantu klien mengatasi masalahnya. Bagi yang percaya
dengan past life, it’s ok. Bagi yang tidak percaya, apa yang dialami
klien adalah metafora yang dimunculkan oleh pikiran bawah sadar
klien untuk membantu klien menyelesaikan suatu masalah. Yang
penting, klien sembuh. Titik. Terapis bisa menggunakan apa pun
(baca: belief) yang dibawa oleh klien. Inilah yang disebut teknik
utilisasi.
So, secara teknis, PLR hanyalah salah satu teknik dari sekian ba-
nyak teknik terapi yang harus tersedia di tool box seorang hipnoterapis
profesional. Isi tool box plus jam terbang dan kualitas training yang
pernah diikuti akan membedakan kualitas seorang hipnoterapis.
Walaupun cukup bermanfaat, PLR ada bahayanya. Untuk bisa
melakukannya, dibutuhkan beberapa persyaratan dan kecakapan
teknis. Pertama, terapis harus cakap, menguasai, dan mahir melaku-
kan teknik regresi (regression). Secara teknis, ada delapan jenis
regresi. Salah satunya adalah age regression atau regresi usia di
kehidupan saat ini. Syarat mutlak untuk bisa melakukannya adalah
bahwa terapis harus mampu membantu subjek masuk ke kedalaman
trance yang sesuai untuk teknik ini, yaitu level full somnambulism.
Akan lebih baik lagi jika mencapai level profound somnambulism.
Mengapa perlu mencapai kedalaman ini? Jawabannya sederhana
saja. Pada level ini, critical factor dari pikiran sadar (conscious mind)
telah benar-benar of sehingga tidak akan mengganggu proses PLR.
Lalu, bagaimana kita bisa tahu bahwa seseorang telah berhasil
mencapai level kedalaman somnambulism? Tentu ada caranya. Saya
tidak bisa menjelaskan dalam tulisan ini karena akan terlalu panjang
dan teknis.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Dari beberapa kasus yang pernah saya dengar, kebanyakan subjek


belum masuk ke level somnambulism saat PLR dilakukan. Kondisi
ini bisa diketahui dari pertama, apakah dilakukan uji kedalaman
level hipnosis atau depth level test. Ternyata tidak. Kedua, dari teknik
induksi yang digunakan, yaitu progressive relaxation, saya tahu
bahwa klien masih dalam kondisi light trance atau maksimal berada
104

di medium trance. Banyak hipnoterapis yang berasumsi bahwa saat


tubuh klien terlihat telah rileks setelah diinduksi dengan progressive
relaxation, klien telah mencapai level somnambulism.
Ini adalah asumsi yang salah dan bisa berakibat sangat fatal ka-
rena kondisi tubuh yang rileks tidak sama dengan kondisi hipnosis.
Kondisi hipnosis adalah kondisi mental yang rileks, bukan isik yang
rileks. Saat subjek atau klien belum mencapai level somnambulism,
pikiran sadarnya (critical factor) masih (cukup) aktif.
Bahaya PLR muncul karena dua hal. Pertama, saat pikiran sadar
klien masih aktif, saat dilakukan PLR, yang muncul dalam pikirannya
adalah apa yang diharapkan oleh klien. Bisa jadi imajinasi, kisah, atau
cerita yang sangat berkesan bagi klien. Jadi, dalam hal ini, pikiran
sadarlah yang bermain.
Kedua, PLR akan berbahaya dan merugikan klien bila saat mela-
kukan PLR hipnoterapis melakukan leading, bukan guiding. Dengan
melakukan leading, hipnoterapis mengarahkan pikiran klien dengan
skenario atau alur cerita yang ada dalam benak si hipnoterapis atau
seperti yang diinginkan oleh klien. Sedangkan dengan guiding,
pertanyaan yang diajukan oleh hipnoterapis bersifat netral, tidak
mengarah pada skenario tertentu.
Leading atau guiding tergantung pada semantik atau kata-kata
yang digunakan oleh hipnoterapis saat membawa klien atau subjek
hipnosis mundur ke suatu masa, baik di kehidupan saat ini maupun
di kehidupan lampau klien. Leading bisa sangat berbahaya dan me-
rugikan klien karena saat dalam kondisi trance, apalagi bila deep
trance atau somnambulism, apa pun yang muncul dalam pikiran
klien otomatis menjadi false memory yang diterima oleh klien sebagai
suatu kebenaran.
http://facebook.com/indonesiapustaka

False memory juga bisa terjadi saat seorang klien datang ke seo-
rang hipnoterapis dan meminta dilakukan PLR. Itu berarti, PLR yang
dilakukan tidak terjadi secara spontan saat mencari akar masalah,
tetapi dilakukan by order.
Saya sangat menghindari jenis PLR by order. Ada banyak yang me-
minta saya melakukan PLR, tetapi saya menolak walaupun mereka
Quitters฀Can฀Win 105

bersedia memberikan imbalan materi yang cukup besar. Mengapa?


Karena bisa muncul false memory. Saat klien bersiap-siap untuk PLR,
klien masuk dalam kondisi anticipatory mode. Klien mengharapkan
regresi ini. Dalam kondisi ini, critical factor tetap aktif. Kondisi
pikiran sungguh tidak kondusif untuk PLR karena klien pasti sangat
sulit masuk ke dalam kondisi somnambulism.
Nah, saat belum mencapai kondisi somnambulism dan klien me-
ngalami PLR, yang muncul adalah apa yang ada dalam pikiran sadar
klien. Ini jelas bukan PLR dalam arti Past Life Regression, melainkan
Pasti Langsung Rancu.
Seorang kawan juga pernah menanyakan pendapat saya me-
ngenai seminar PLR. Menurut saya, sangat sulit melakukan PLR
secara massal dalam sebuah seminar. Sebab, syarat awal agar subjek
mencapai level kedalaman somnambulism sangat sulit terpenuhi.
Dalam kondisi ini, umumnya teknik induksi yang digunakan adalah
progressive relaxation, yang notabene adalah teknik induksi yang
paling tidak efektif, kecuali jika dilakukan beberapa modiikasi
semantik.
Membawa klien masuk ke dalam kondisi somnambulism tidaklah
sulit, asal tahu tekniknya. Dari berbagai resource yang saya pelajari,
baik itu buku, jurnal, maupun kaset atau DVD pelatihan hipnoterapi,
ternyata untuk membawa klien ke kondisi tersebut, kita tidak perlu
memelajari berbagai teknik induksi. Cukup menguasai dengan
baik dua teknik yang sangat dahsyat, telah teruji, dan terbukti tidak
pernah gagal membawa subjek tipe apa pun ke kondisi tersebut.
Selain teknik yang kurang pas, subjek juga akan sangat sulit masuk
ke kondisi somnambulism bila ada perasaan takut terhadap hipnosis.
Level kedalaman trance berbanding terbalik dengan intensitas rasa
http://facebook.com/indonesiapustaka

takut. Jadi, sangat penting mengatasi rasa takut pada diri subjek
hipnosis sebelum dilakukan induksi. Problem lainnya adalah bahwa
pikiran bawah sadar klien belum tentu bersedia dan mengizinkan
dirinya untuk dihipnosis, apalagi sampai mengalami PLR.
Mengapa saya menyampaikan hal ini? Karena saya pernah me-
ngalaminya. Saat membantu seorang klien menemukan akar masa-
106

lahnya, ternyata regresi membawa klien ini sampai ke masa di dalam


kandungan ibunya. Namun, sumber masalah sepertinya bukan terle-
tak pada masa ini. Saya melanjutkan regresi. Besar kemungkinan
akar masalah terletak di kehidupan lampaunya. Hasilnya? Tidak bisa.
Apa pun yang saya lakukan untuk membawa klien ini mundur tidak
membuahkan hasil. Ternyata belief system klien tidak mengizinkan
PLR karena menurut doktrin agamanya tidak ada past life. Pikiran
sadar klien bersedia mengalami PLR, tetapi pikiran bawah sadarnya
menolak, padahal ia sudah berada dalam kondisi profound somnam-
bulism.
Berdasarkan pengalaman saya pribadi, PLR paling ideal dilakukan
secara one-on-one. Dalam setting ini, si hipnoterapis dapat melaku-
kan depth level test dan deepening untuk membantu klien mencapai
kedalaman yang diinginkan. Jika dilakukan secara massal dalam
suatu seminar, operator tidak mungkin memeriksa level kedalaman
setiap peserta seminar.
Dengan capaian level kedalaman trance yang sangat beragam,
dengan kondisi pikiran sadar masih aktif, dengan pengharapan yang
sangat besar untuk bisa mengalami PLR, dengan perasaan antisipasi
dan tidak mau rugi karena telah mengeluarkan uang untuk mengikuti
seminar, saat operator melakukan regresi terhadap peserta seminar,
yang terjadi adalah rame-rame tidak bisa atau rame-rame mengalami
false memory.
PLR adalah salah satu teknik terapi yang sangat ampuh untuk
membantu klien sembuh dari masalah yang berakar di “kehidupan
lampau”. Namun, PLR akan sangat merugikan klien bila dilakukan
dengan cara yang salah.
Kasus terakhir yang saya tangani dan berhubungan dengan
http://facebook.com/indonesiapustaka

past life adalah kasus seorang wanita berusia 30 tahun yang


mengalami sesak napas luar biasa dan punya ketakutan yang
hebat jika masuk ke dalam tabung MRI (Magnetic Resonance
Imaging) untuk di-scan. Saat saya bantu untuk menemukan
akar masalahnya, tiba-tiba klien mundur sampai pada masa
saat ia di Sydney, Australia, pada 1902. Saat itu ia berusia 4
Quitters฀Can฀Win 107

tahun dan terjebak di dalam tambang. Dengan teknik Past Life


herapy, ia berhasil dibantu untuk sembuh.
Sekalipun percaya bahwa past life itu ada, Anda sebenarnya
tidak perlu mencari tahu siapakah diri Anda di kehidupan
lampau. Kita tidak bisa mengubah apa yang telah terjadi.
Yang paling penting adalah hidup kita saat ini. Lebih baik kita
fokus pada kehidupan saat ini, merancang dan menjalankan
kehidupan dengan pandangan yang benar, pikiran yang benar,
ucapan dan tindakan yang benar agar kita bisa bahagia dan
sukses.
http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka
Waking Hypnosis

D
i satu weekend pada Mei 2008, dalam rangkaian pelatihan
hipnoterapi 100 jam, saya sempat bertemu dengan bebera-
pa kawan yang juga menyelenggarakan pelatihan di ruang
berbeda di lantai 6, Hotel Ciputra, Jakarta. Saya menggunakan kesem-
patan ini untuk berbincang sejenak dengan mereka sambil berfoto
bersama.
Di sela-sela obrolan kami, tiba-tiba ada yang nyeletuk, “Pak, main
hipnosis dong.” Sambil tersenyum, saya menoleh ke seorang staf
kawan saya, sebut saja Lani, dan berkata, “Coba satukan kedua jari
Anda. Letakkan di depan mata sekitar 20 cm dan sekarang kedua jari
Anda lengket dan tidak bisa dilepas.”
Apa yang terjadi kemudian? Benar, jari Lani lengket. Tidak bisa
dilepas. Semakin ia berusaha melepas kedua jarinya, semakin lengket
jadinya. Ia tampak mulai panik. Sambil terus berusaha melepas kedua
jarinya, ia berkata, “Pak… pak… ini kok bisa jadi begini? Kenapa
http://facebook.com/indonesiapustaka

nggak bisa dilepas?”


Sudah kepalang tanggung, saya teruskan main-main ini dengan
membuatnya tidak bisa berjalan, kakinya lengket di lantai, dan saya
membuat punggung tangan kanannya mati rasa sehingga tidak
terasa apa pun saat dicubit dengan keras.
110

Setelah itu, saya membuat semuanya kembali seperti sedia kala.


Lani sudah bisa melepas jarinya, bisa berjalan, dan kalau dicubit su-
dah bisa merasa sakit. Saya lalu meminta izin untuk pergi ke toilet.
Sekembalinya dari toilet, saya melihat rekan-rekan Lani bertanya-
tanya mengenai hal yang baru dialami Lani. Banyak yang tidak
percaya. Mereka pikir Lani hanya main-main saja. Padahal, saya
baru pertama kali bertemu dengan Lani.
Sebenarnya saya sudah ingin kembali ke kelas pelatihan saya, tetapi
tiba-tiba ada dorongan untuk main-main lagi. Saya lalu mendekati
Lani dan berkata, “Lan, boleh nggak saya pinjam namamu?” “Boleh,
Pak,” jawabnya. “Sungguh, lho ya?” tanya saya sekali lagi. “Ya, Pak.
Boleh,” jawabnya mantap.
Apa yang terjadi setelah itu?
Saya bertanya, “Siapa nama Anda?” Lani tiba-tiba tidak ingat de-
ngan namanya. Semakin keras ia berusaha mengingat, semakin lupa
jadinya. Dari sini saya melanjutkan, “Coba Anda lihat. Ini siapa?”
“Oh, ini Pak Rudy,” jawabnya sambil memandang rekan saya,
yang berada di depannya.
“Kalau ini siapa?” tanya saya sambil menunjuk ke diri saya sen-
diri.
“Pak Adi,” jawabnya.
“Oke, sekarang di sini hanya ada Anda, Lani, dan dua orang Pak
Rudy. Anda lihat di sini ada dua orang Pak Rudy. Tidak ada Pak Adi,”
perintah saya.
Apa yang terjadi setelah itu? Benar, ia tidak melihat siapa pun
kecuali dirinya sendiri, dan dua orang “Pak Rudy”. Lani melihat diri
saya sebagai Pak Rudy.
Karena telah ditunggu di kelas, saya segera mengakhiri main-
http://facebook.com/indonesiapustaka

main ini walaupun sebenarnya penonton masih menginginkan le-


bih. Sambil bercanda, saya berkata, “Kalau mau lebih, ya harus bayar
dong. Nggak bisa gratis seperti ini.”
Saya main-main hanya sekitar 2-3 menit. Bagi yang akrab dengan
hipnosis dan hipnoterapi, yang saya lakukan sebenarnya adalah hal
biasa saja. Jari lengket, tidak bisa berjalan, punggung tangan mati
Quitters฀Can฀Win 111

rasa, lupa nama, tidak bisa melihat orang, melihat seseorang sebagai
orang lain, ini semua adalah fenomena yang dapat diciptakan by design
dengan memahami cara kerja pikiran, level kedalaman hipnosis, dan
sugesti pascahipnosis dengan menggunakan semantik yang tepat.
Dalam hipnosis/hipnoterapi, istilah teknisnya adalah limb catalepsy,
anesthesia, amnesia, positive dan negative visual hallucination.
Anda kemudian mungkin bertanya, bagaimana saya bisa melaku-
kannya dengan sangat cepat dan mudah. Negative visual hallucination
adalah fenomena yang hanya bisa muncul atau diciptakan saat
seseorang berada dalam kondisi profound somnambulism. Bagi Anda
yang kurang akrab dengan jargon-jargon hipnosis, kondisi profound
somnambulism adalah keadaan trance atau hipnosis yang sangat
dalam. Jika menggunakan skala kedalaman trance Davis Husband
Susceptibility Scale (DHSS), negative visual hallucination baru bisa
tercipta saat klien berada di level 29 dari 30 level kedalaman.
Dalam kondisi normal, untuk membawa seseorang masuk ke kon-
disi profound somnambulism, dibutuhkan waktu yang tidak sedikit.
Pengalaman saya pribadi, dalam konteks terapi, menunjukkan bah-
wa subjek hipnosis atau klien harus diedukasi terlebih dahulu. Ini
bisa menghabiskan waktu 30 menit, bisa satu jam, atau bahkan dua
jam. Intinya, perasaan takut dan berbagai miskonsepsi klien ha-
rus diatasi terlebih dulu. Setelah itu, baru dilakukan induksi untuk
membawanya masuk ke kondisi deep trance. Induksi formal yang
biasa saya gunakan membutuhkan sekitar empat detik hingga mak-
simal empat menit saja.
Nah, pertanyaannya lagi, bagaimana saya bisa membawa Lani
masuk ke kondisi profound somnambulism dengan begitu cepat dan
mudah tanpa perlu melakukan edukasi dan mengatasi rasa takutnya.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Hanya dengan memberikan “perintah”, langsung jadi.


Inilah yang disebut Waking Hypnosis. Waking berarti bangun, tidak
tidur. Sedangkan hypnosis, menurut deinisi US Dept. of Education,
Human Services Division, adalah penembusan faktor kritis pikiran
sadar dan diikuti dengan diterimanya suatu sugesti atau pemikiran.
Jadi, waking hypnosis adalah penembusan faktor kritis pikiran sadar
112

dan diikuti dengan diterimanya suatu sugesti atau pemikiran dalam


kondisi bangun atau mata terbuka.
Istilah waking hypnosis pertama kali digunakan oleh Wesley
Wells pada 1924 dan muncul pertama kali dalam buku berjudul An
Outline of Abnormal Psychology, terbitan 1929. Sedangkan menurut
Elman, dalam bukunya, Hypnotherapy, 1964, waking hypnosis adalah
“when hypnotic efects are achieved without the trance state” atau saat
efek hipnosis dicapai tanpa kondisi trance.
Saya pribadi mendeinisikan waking hypnosis sebagai “segala
sesuatu yang dilakukan seseorang yang mampu membuat pende-
ngarnya bereaksi karena gambaran mental yang ditanamkan dalam
pikiran mereka tanpa perlu dilakukan induksi hipnosis secara for-
mal.”
Berikut adalah beberapa contoh waking hypnosis: apa yang dikata-
kan oleh orangtua kepada anak, apa yang dikatakan guru kepada
anak/murid, saat ke dokter, kampanye pemilu, iklan televisi, agama,
pendidikan ala militer, orangtua yang mengusap atau meniup bagian
tubuh anak yang sakit sambil berkata, “Nggak apa kok, sakitnya sudah
Mama ambil. Jadi, sekarang sudah nggak sakit.” Masih banyak contoh
lain. Namun, dari semua contoh waking hypnosis, yang paling kuat
dan dahsyat adalah (jatuh) cinta. “Kalau sudah jatuh cinta, berjuta
rasanya,” begitu kata Eddy Silitonga.
Waking hypnosis dapat dilakukan dengan mudah. Yang penting,
Anda harus tahu mekanisme pikiran. Sesuai dengan deinisi waking
hypnosis, yang perlu dilakukan adalah menembus critical factor pi-
kiran sadar dan selanjutnya memasukkan suatu perintah atau sugesti
ke pikiran bawah sadar. Bagi Anda yang awam dengan hipnosis,
critical factor adalah ilter yang menyaring informasi yang akan
http://facebook.com/indonesiapustaka

masuk ke pikiran bawah sadar. Pikiran bawah sadar baru dapat kita
“otak-atik” dengan mudah bila si penjaga ini berhasil ditembus.
Ada tiga cara yang biasanya digunakan untuk menembus cri-
tical factor. Pertama, kita membuat critical factor bosan. Kedua,
membuatnya lengah. Dan ketiga, membuatnya kaget. Ini adalah
tiga teknik dasar yang umumnya digunakan secara terpisah atau
Quitters฀Can฀Win 113

digabungkan saat melakukan induksi secara formal terhadap seorang


klien atau subjek hipnosis.
Selain itu, ada cara lain yang juga sangat efektif, yaitu mengguna-
kan otoritas (authority), emosi (emotion), dan informasi berlebih
(message overload). Tiga cara inilah yang paling sering saya gunakan
saat melakukan waking hypnosis.
Sekarang mari kita analisis apa yang saya lakukan terhadap Lani.
Pertama, ia sama sekali tidak menyangka akan bertemu dengan saya.
Ia mengenal saya dari buku-buku saya yang ia baca, plus komentar
dari beberapa orang rekannya. Jadi, ia memandang saya sebagai
igur dengan otoritas penuh, apalagi saat itu ia tahu saya sedang
memberikan pelatihan hipnoterapi 100 jam.
Saking senangnya bertemu saya, ia langsung meminta berfoto
bersama. Di sini, faktor kedua, emosinya sangat intens. Saya dengan
sangat mudah membangun rapport dengannya. Begitu dua faktor
penting di atas berhasil saya dapat, saya dengan mudah dapat
melakukan waking hypnosis terhadap siapa pun hanya dengan
menambahkan faktor ketiga, yaitu message overload.
Jadi, saat meminta Lani menyatukan kedua jarinya, saya sudah
mendapatkan message overload. Yang ada dalam pikirannya pasti
macam-macam, “Kenapa ya kok saya diminta menyatukan kedua jari
saya? Mengapa jari-jari di tangan kiri, bukan yang kanan? Kenapa
diletakkan di depan mata? Kenapa 20 cm, bukan 30 cm?” Ditambah
lagi, saat itu ia menjadi pusat perhatian temannya. Walau pikiran
sadarnya hanya menatap jari dan mendengar suara saya, melalui
peripheral vision ia mendapat sangat banyak informasi mengenai
keadaan sekitarnya. Semua ini mengakibatkan Lani mengalami
message overload.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Dengan menggunakan teknik deepening tertentu, tanpa sepenge-


tahuan penonton, saya langsung membawa Lani ke level profound
somnambulism. Saat mencapai level ini, berbagai fenomena hipnosis
dapat dimunculkan dengan sangat mudah.
http://facebook.com/indonesiapustaka
Memahami Jenis dan
Fungsi Filter Mental

S
aat pertama kali membaca karya maestro hipnoterapi Charles
Tebbetts, Miracles on Demand, saya bertanya, “Apa mungkin
kita menciptakan mukjizat sesuai dengan yang kita inginkan?”
Ternyata, setelah membaca tuntas dan membacanya kembali serta
mempraktikkan berbagai teknik terapi yang dijelaskannya, hal itu
memang mungkin.
Mukjizat yang dimaksud oleh Tebbets adalah perubahan/kesem-
buhan diri sebagai hasil aplikasi hipnoterapi dalam membantu sese-
orang keluar dari masalah (emosi) yang selama ini menghambat
atau mengganggu hidupnya. Agar bisa melakukannya, kita perlu
memahami cara kerja berbagai teknik yang dijelaskan dalam buku itu.
Dan yang lebih penting lagi, kita harus sungguh-sungguh mengerti
cara kerja pikiran. Saya telah banyak mengulas mengenai cara kerja
pikiran di berbagai artikel dan buku yang saya tulis. Dalam tulisan
ini, saya akan mengulas satu bagian dari mekanisme pikiran yang
http://facebook.com/indonesiapustaka

sangat penting, yang selama ini hanya saya ajarkan dalam pelatihan
sertiikasi hipnoterapis 100 jam yang saya selenggarakan melalui
Quantum Hypnosis Indonesia.
Sebelum menjelaskan lebih jauh, saya perlu mengakui bahwa di
awal karier saya sebagai seorang Re-Educator dan Mind Navigator,
saya banyak mengalami kegagalan melakukan terapi. Sering kali
116

klien yang saya tangani “sembuh” hanya untuk beberapa saat dan
setelah itu masalahnya muncul lagi (relapse).
Saat sedang asyik melakukan restrukturisasi berbagai program
pikiran bawah sadar klien, saya sering kali mendapat penolakan
hebat dari diri klien (baca: pikiran bawah sadar). Saya cukup pusing
memikirkan hal ini. Dan ini berpengaruh terhadap kepercayaan diri
saya dalam melakukan terapi. Saya bahkan pernah memutuskan
untuk cuti melakukan terapi karena merasa gagal total setelah empat
kali berturut-turut tidak berhasil membantu klien.
Berbekal perasaan malu kepada diri sendiri dan dorongan untuk
memberikan yang terbaik kepada klien, saya memutuskan untuk
belajar lebih mendalam lagi. Saya membeli lebih banyak buku dan
berbagai program pelatihan yang direkam dalam bentuk DVD.
Ternyata, kesalahan utama saya adalah bahwa saya belum tahu
cara yang efektif untuk membawa klien masuk ke kedalaman trance
yang dibutuhkan untuk terapi yang efektif. Teknik progressive
relaxation yang saya gunakan ternyata sangat uzur dan tidak efektif
karena tidak ada uji kedalaman trance yang presisi.
Kondisi hipnosis sama sekali tidak ada hubungannya dengan re-
laksasi isik. Kondisi hipnosis adalah relaksasi pikiran. Jadi, walaupun
isiknya tidak rileks, bila pikirannya rileks, klien sudah masuk ke
kondisi hipnosis. Semakin rileks pikirannya, semakin dalam level
hipnosis yang berhasil dicapai olehnya.
Kondisi lain untuk membawa seseorang masuk ke kondisi deep
trance adalah menggunakan emosinya. Teknik ini dikenal dengan
nama Emotionally Induced Induction. Jadi, tanpa perlu merilekskan
tubuhnya, justru pada saat emosi klien sedang bergejolak, misalnya
menangis saat menceritakan pengalaman hidupnya, ia justru sudah
http://facebook.com/indonesiapustaka

masuk ke kondisi trance yang dalam.


Dari sekian banyak teknik yang saya pelajari dari berbagai literatur
dan pengalaman praktik, saya akhirnya menyimpulkan bahwa ada
tiga teknik induksi yang sungguh-sungguh efektif untuk membawa
seeorang masuk ke kondisi (very) deep hypnosis, atau yang biasa
disebut dengan profound somnambulism, dengan sangat cepat dan
Quitters฀Can฀Win 117

sangat mudah. Teknik ini diajarkan di kelas sertiikasi hipnoterapis


100 jam yang saya selenggarakan. Saya tidak mengajarkan teknik
lain.
Dengan menggunakan metode ini, hasil terapi saya semakin baik.
Secara statistik, keberhasilan saya meningkat sangat drastis. Saya
senang dengan capaian ini. Namun, ini bukanlah akhir dari masalah
yang saya hadapi.
Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, beberapa kasus yang saya
tangani ternyata tidak maksimal, terutama saat membantu klien
yang ingin berhenti merokok dan menurunkan berat badan. Klien
yang sudah berhenti merokok selama beberapa minggu atau bulan
ternyata tiba-tiba merokok kembali. Dan biasanya menghabiskan
lebih banyak rokok daripada sebelum diterapi.
Saya bingung. Saya sudah berhasil membawa klien masuk kondisi
sangat dalam dan telah menggunakan teknik yang sesuai dengan
kondisi klien, tetapi mengapa ia bisa kambuh lagi. Saya kembali
melakukan evaluasi diri. Saya mengkaji ulang berbagai kasus yang
telah saya tangani dan melihat catatan yang saya buat selama me-
nangani berbagai kasus itu. Dan ternyata tetap tidak ditemukan “ke-
salahan” prosedur dalam terapi saya.
Jawaban muncul saat saya mempelajari kembali sifat-sifat pikiran
bawah sadar seperti yang dinyatakan oleh Milton Erickson. Salah
satu fungsi pikiran bawah sadar kita adalah melindungi diri kita
dari bahaya isik dan bahaya mental/emosi, baik itu bahaya yang
sebenarnya atau sesuatu yang dipersepsi sebagai bahaya. Selain itu,
ia juga mengatakan bahwa pikiran bawah sadar malas berubah.
Semuanya menjadi jelas saat saya membaca karya Georgi Lozanov,
Suggestology and Outline of Suggestopedia, yang mengatakan bahwa
http://facebook.com/indonesiapustaka

dalam pikiran bawah sadar terdapat mental barrier yang berfungsi se-
bagai ilter mental. Filter ini menghambat perubahan yang dilakukan
pada “isi” pikiran bawah sadar.
Nah, kalau terapi yang saya lakukan tidak efektif sehingga klien
kembali ke pola kebiasaan lama, hal ini mengindikasikan bahwa
terapi tersebut mendapat perlawanan dari pikiran bawah sadar klien.
118

Perlawanan ini muncul dalam bentuk dianulirnya restrukturisasi


yang telah saya lakukan dan klien kembali ke kebiasaan lama.
Akhirnya, saya menemukan mengapa terapi saya kurang efektif.
Saya telah salah berasumsi. Saya berpikir bahwa dengan berhasil
membawa klien masuk ke kondisi hipnosis yang sangat dalam, saya
bisa melakukan apa saja dengan pikiran klien. Saat dalam kondisi
hipnosis, ilter mental klien yang disebut critical factor memang
sudah “tidak bekerja”. Namun, ini adalah ilter yang ada di pikiran
sadar, bukan di pikiran bawah sadar. Secara intuitif, saya yakin
bahwa di pikiran bawah sadar juga ada ilter mental. Selama ini, hal
tersebut jarang dibahas.
Berbekal kesimpulan ini, saya selanjutnya berburu informasi
mengenai ilter mental. Ternyata, sangat jarang literatur yang secara
khusus membahas soal ini. Akhirnya, saya membaca ulang berbagai
literatur dan memberikan perhatian khusus pada kasus-kasus terapi
yang diceritakan di dalamnya. Saya melihat ada satu pola konsisten
yang terjadi pada kasus-kasus yang semula “gagal” diterapi oleh para
pakar itu. Setelah mereka melakukan beberapa perubahan pada tek-
nik dan semantik yang digunakan, akhirnya klien sembuh total.
Saya menyimpulkan bahwa saat dalam kondisi hipnosis, saat
critical factor yang ada di pikiran sadar tidak bekerja, masih ada
empat ilter mental di pikiran bawah sadar yang tetap aktif. Hal ini
sangat berbeda dengan pandangan umum yang mengatakan bah-
wa saat berada dalam kondisi deep hypnosis, klien sama sekali tidak
berdaya sehingga terapis bisa melakukan apa saja terhadap diri klien.
Ternyata, sedalam apa pun kondisinya, klien tetap mendapat proteksi
dari empat ilter mentalnya.
Untuk bisa melakukan perubahan permanen, restrukturisasi berba-
http://facebook.com/indonesiapustaka

gai program pikiran bawah sadar, termasuk pemberian sugesti, harus


bisa menembus saringan empat ilter ini. Jika salah satu saja tidak ber-
hasil ditembus, perubahan yang hendak dilakukan akan mendapat perla-
wanan/penolakan dan akhirnya bisa dianulir oleh pikiran bawah sadar.
Empat ilter itu adalah pertama, ilter keselamatan hidup atau
survival. Segala perintah atau sugesti yang diberikan, walaupun
Quitters฀Can฀Win 119

klien dalam kondisi deep hypnosis, bila membahayakan keselamatan


hidupnya, perintah itu pasti langsung ditolak.
Kedua, ilter nilai moral atau agama. Bila perintah berhasil me-
nembus ilter pertama, perintah akan disaring oleh ilter kedua.
Perintah yang bertentangan dengan nilai moral atau agama pasti
akan ditolak. Misalnya seorang anak, saat berada dalam kondisi deep
hypnosis, diminta “memegang” pisau (ini hanya dalam imajinasinya)
dan membunuh ibunya, tentu tidak akan melakukan perintah ini.
Demikian juga jika klien diminta menginjak kitab suci agamanya.
Ia tentu tidak akan melakukannya karena sejak kecil ia dididik bahwa
kalau sampai melakukan hal itu, ia akan masuk neraka dan akan di-
bakar tujuh kali. Ini benar-benar siksaan yang luar biasa. Pikiran ba-
wah sadarnya tentu tidak akan mengizinkan dirinya mengalami hal
ini.
Contoh lain, terapis pria memberikan sugesti kepada klien wanita
untuk melakukan tindakan yang kurang pantas. Perintah ini akan
serta merta ditolak. Ia bisa langsung keluar dari kondisi hipnosis
dan bisa sangat marah kepada terapis kurang ajar ini. Namun, tidak
menutup kemungkinan klien menuruti hal itu karena ilternya
mengizinkan hal ini terjadi. Artinya, ia tidak punya preferensi ilter
semacam itu.
Ketiga, ilter kebenaran data. Misalnya terapis memberikan su-
gesti pascahipnosis (post hypnotic suggestion) bahwa klien akan
berhenti merokok karena rokok baunya seperti ikan busuk, sangat
menjijikkan, dan membuat klien mual. Sugesti ini bisa bekerja untuk
beberapa saat saja. Pikiran bawah sadar akan melakukan pengecekan
kebenaran data ini. Apa benar bau rokok seperti ikan busuk? Tentu
tidak. Akibatnya, cepat atau lambat, sugesti ini akan dianulir secara
http://facebook.com/indonesiapustaka

otomatis.
Keempat, ilter masuk akal. Sugesti yang tidak masuk akal oto-
matis akan ditolak. Ukuran masuk akal atau tidak didasarkan pada
pengalaman dan pengetahuan klien. Misalnya, ia punya berat badan
90 kg. Ia ingin menurunkan berat badannya hingga menjadi 45
kg. Terapis memberikan sugesti bahwa satu bulan kemudian, berat
120

badannya akan turun menjadi 45 kg. Sugesti ini sudah pasti akan
ditolak karena tidak masuk akal. Selain itu, ilter survival juga akan
langsung aktif menolak perintah ini karena hal ini akan berakibat
sangat negatif pada kesehatannya.
Jelas sekarang bahwa urusan pikiran ternyata cukup rumit. Se-
moga tulisan ini bisa membantu Anda lebih memahami cara kerja
pikiran dan bisa diterapkan untuk kemajuan hidup Anda.
http://facebook.com/indonesiapustaka
Teori Tungku Mental

P
ada Oktober hingga November 2008, saya menyelenggarakan
dua kelas pelatihan 100 jam sertiikasi hipnoterapis. Satu ke-
las di Jakarta dan lainnya di Surabaya. Dari sekian banyak
teori dan teknik yang diajarkan, satu yang sangat penting adalah
Teori Tungku Mental.
Teori ini saya bangun berdasarkan informasi dan pengetahuan
yang saya dapatkan dari berbagai literatur yang pernah saya pelajari
ditambah dengan pengalaman praktik saya. Teori inilah yang se-
benarnya mendasari Quantum Hypnotherapeutic Procedure yang
diajarkan di Quantum Hypnosis Indonesia.
Dalam buku Trance & Treatment: Clinical Use of Hypnosis, David
Spiegel menceritakan satu kasus sangat menarik yang pernah ia ta-
ngani. Ada seorang veteran perang Vietnam yang tiba-tiba berubah
dan akhirnya mengalami “gangguan” dan harus dimasukkan ke
rumah sakit jiwa setelah menjalani tugas dengan track record yang
http://facebook.com/indonesiapustaka

sangat baik selama 15 tahun.


Sebelum ditangani oleh psikiater yang mendalami dan mem-
pratikkan hipnoterapi ini, veteran itu didiagnosis menderita “gang-
guan kecemasan sangat tinggi” hingga mengalami halusinasi. Ia juga
pernah dimasukkan ke Palo Alto Veterans Administration Medical
Center setelah mencoba bunuh diri. Ia mengalami depresi dan
122

cenderung melakukan tindakan berbahaya, tetapi tidak tahu apa


yang menjadi penyebabnya.
Setelah Spiegel melakukan Hypnotic Induction Proile (HIP) dan
didapatkan hasil 4 (intact/utuh), dengan skor induksi 10, dilakukan
Age Regression. Singkat cerita, Spiegel berhasil menemukan akar ma-
salahnya. Ternyata ketika bertugas di Vietnam, veteran itu punya se-
orang anak angkat yang sangat ia sayangi. Anak angkatnya tewas saat
Vietkong menyerang rumah sakit tempat ia bertugas. Ia merasa begitu
bersalah karena tidak bisa melindungi anaknya. Ia luar biasa marah,
dendam, dan benci terhadap serdadu Vietkong yang menewaskan anak-
nya. Rupanya, berbagai emosi negatif ini tidak mendapat penanganan
semestinya. Setelah dibantu oleh Spiegel, akhirnya ia sembuh.
Namun, enam bulan kemudian, ia kambuh lagi. Kala itu, hanya
dalam waktu dua minggu, salah seorang kakaknya, seorang polisi,
terbunuh, dan istri veteran ini mulai “melirik” pria lain, ditambah
lagi seseorang menembak mati anjing kesayangannya. Setelah dira-
wat sebentar di rumah sakit, ia kembali sembuh. Kasus ini diulas
lengkap oleh David Spiegel dalam artikel berjudul “Vietnam Grief
Work Using Hypnosis” di he American Journal of Clinical Hypnosis
(24(1): 33-40, 1981).
Sementara itu, kasus serupa yang pernah saya tangani antara
lain adalah kasus seorang pria berusia 26 tahun, yang takut pada
ayam, lebih spesiik lagi pada paruh ayam. Setelah saya cari akar
masalahnya, ternyata ia takut pada pisau. Dan setelah saya gali lagi,
saya menemukan ISE (Initial Sensitizing Event) pada saat ia berusia
4 tahun. Ia mengalami sesuatu sehingga membuatnya sangat marah
dan benci kepada ibunya.
Kebencian ini berubah menjadi rasa sakit yang luar biasa bila ia
http://facebook.com/indonesiapustaka

dipeluk oleh ibunya. Ia merasa seakan-akan tubuhnya ditikam de-


ngan puluhan pisau sekaligus. Selanjutnya “sakit karena ditikam
pisau” ini bermutasi menjadi ketakutan pada paruh ayam. Saya
menyebut kondisi ini dengan double symptom.
Kasus lain adalah kasus seorang wanita muda berusia 21 tahun
yang menurut orangtuanya berubah dan tidak bersemangat menjalani
Quitters฀Can฀Win 123

hidup. Ia sudah delapan bulan minum obat agar bisa tenang dan
kembali “normal”. Dengan teknik tertentu, saya membantunya untuk
menemukan akar masalah dan membereskannya. Setelah itu, ia bisa
kembali hidup normal tanpa perlu mengonsumsi obat.
Dalam kasus ini, saya membutuhkan dua sesi. Pada sesi pertama,
walaupun terlihat “tuntas”, saya tahu belum demikian karena saya
belum menemukan ISE. Saya berhasil menemukan beberapa SSE
(Subsequent Sensitizing Event). Namun, ia belum bersedia meng-
ungkapkan ISE kepada saya dan saya tidak bisa memaksanya. Saya
membantunya sesuai dengan kecepatan dan kesiapan dirinya.
Setelah sesi pertama, ia langsung berubah dan merasa sangat
nyaman. Orangtuanya pun mengatakan hal yang sama. Namun,
tiga hari kemudian saya mendapat kabar bahwa ia kembali ke pola
lamanya, ke kondisi seperti sebelum saya tangani. Maka saya mem-
berikan sesi kedua. Pada sesi ini, saya berhasil membantunya me-
nemukan akar masalahnya (ISE). Begitu ISE berhasil dibereskan,
segera terjadi perubahan. Dan perubahan ini bersifat permanen.
Dari ketiga kisah yang saya jelaskan di atas, bisakah Anda mena-
rik benang merahnya? Jika belum, mari kita mengulas kembali cara
kerja pikiran.

Dualisme Pikiran
Kita punya dua pikiran, yaitu pikiran sadar dan pikiran bawah sadar.
Kedua pikiran ini punya fungsi dan tugasnya masing-masing, bekerja
sama, dan saling memengaruhi.
Pikiran sadar punya lima fungsi/komponen, yaitu analitis, rasio-
nal, kekuatan kehendak, faktor kritis, dan memori jangka pendek.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Sedangkan pikiran bawah sadar punya 10 fungsi/komponen, antara


lain: menyimpan memori jangka panjang, emosi, kebiasaan, dan
intuisi.
Masing-masing pikiran ini punya tugas melindungi diri kita. Pi-
kiran sadar melindungi diri kita dari hal yang (dipandang) memba-
hayakan diri kita, berdasarkan “pandangan” fungsi pikiran, yaitu
124

rasional dan analitis. Sedangkan pikiran bawah sadar, menurut


Milton Erickson, melindungi diri kita dari hal-hal yang ia pandang
membahayakan keselamatan isik dan emosi kita.
Charles Tebbets dalam bukunya, yang kini telah menjadi buku
klasik, Miracles on Demand, mengatakan, “Conscious mind is the mind
of choice. Subconscious mind is the mind of preference. We choose what
we prefer.” Selanjutnya, Tebbets juga menyatakan bahwa hipnoterapi
bekerja berdasarkan prinsip berikut:
Semua perilaku mal-adaptive adalah hasil atau akibat dari res-
pons penyesuaian yang tidak tepat, yang dipilih untuk memenuhi
kebutuhan di masa kecil yang sebenarnya sudah tidak sesuai/relevan
dengan kondisi saat dewasa.
Kebanyakan penyakit bersifat psikosomatis dan dipilih secara ti-
dak sadar untuk melarikan diri dari suatu situasi, yang oleh klien
dipandang sebagai kondisi dengan muatan tekanan emosi destruktif
yang berlebihan, seperti kemarahan, kebencian, dendam, dan takut,
melebihi kemampuan klien untuk mengatasinya saat itu.
Sebenarnya ada satu lagi jenis pikiran, yaitu pikiran nirsadar. Na-
mun, dalam tulisan ini, saya tidak akan membahas fungsi dan cara
kerjanya.

Tungku Mental
Untuk memudahkan pemahaman mengenai mekanisme pikiran
bawah sadar, saya menggunakan analogi tungku mental. Tungku
mental berisi air (baca: berbagai buah pikir/thought). Api yang me-
manasi tungku adalah berbagai emosi, baik positif maupun negatif,
yang dialami oleh seseorang.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Dalam kondisi normal, saat api membakar tungku, temperatur


akan naik, dan sampai pada suhu tertentu akan muncul uap air yang
bergerak bebas ke atas karena tungku tidak ditutup. Namun, apa
yang terjadi bila tungku ditutup rapat?
Saat temperatur semakin tinggi, karena terus dipanasi oleh api
emosi, terutama yang negatif, akan muncul uap yang bergerak ke atas.
Quitters฀Can฀Win 125

Namun, kali ini uap tidak bisa keluar karena terperangkap di dalam
tungku yang ditutup rapat. Semakin lama suhu tungku semakin ting-
gi dan semakin banyak uap yang terperangkap, sehingga tekanan
uap semakin tinggi menekan seluruh dinding dalam tungku.
Apa yang terjadi bila tungku tetap ditutup rapat? Sampai pada sa-
tu titik, saat tekanan uap melebihi daya tahan dinding tungku, akan
terjadi ledakan hebat dan tungku akan hancur berantakan.
Nah, bagaimana dengan manusia? Jangan khawatir, kita tidak akan
meledak seperti contoh tungku di atas. Pada manusia, pikiran ba-
wah sadar akan melindungi diri kita dengan melakukan hal-hal yang
dipandang perlu untuk menyelamatkan diri kita dari “kehancuran”.
Pikiran bawah sadar akan membuat retak-retak kecil dalam
tungku mental kita sehingga ada jalan keluar bagi uap di dalamnya.
Dengan demikian, tekanan akan turun dan tidak membahayakan
keutuhan tungku mental. Dan saat uap dari dalam tungku keluar,
seseorang akan mengalami perubahan perilaku.
Perubahan perilaku ini adalah manifestasi dari uap yang keluar.
Biasanya perubahan ini tidak mendadak, tetapi perlahan-lahan dan
semakin lama semakin parah. Kita cenderung akan meluruskan
perilaku, bukan? Ada banyak cara dan teknik yang biasa digunakan.
Pertanyaannya adalah perubahan menjadi “normal” kembali ini bisa
bertahan berapa lama?
Sering kali tidak bisa bertahan lama. Nanti pasti akan muncul la-
gi perilaku yang “aneh”. Mengapa ini terjadi? Karena kita hanya me-
nyumbat retak di dinding tungku. Saat uap sudah tidak keluar, peri-
laku menjadi “normal”. Dan karena kita tidak mencari sumber ma-
salahnya, yaitu api yang berada di bawah tungku (baca: emosi yang
belum terselesaikan), cepat atau lambat tekanan uap di dalam tungku
http://facebook.com/indonesiapustaka

kembali naik dan sampai pada satu titik akan terjadi kebocoran
lagi.
Sekarang saya yakin Anda pasti sampai pada kesimpulan bah-
wa simtom adalah sesuatu yang positif. Simtom adalah bentuk
komunikasi dari pikiran bawah sadar ke pikiran sadar yang me-
ngatakan, “Hei, ini ada masalah di bawah sini. Anda perlu menyelesai-
126

kannya. Kalau Anda tetap tidak mau mengerti atau tidak bersedia
menyelesaikannya, saya akan tetap mengganggu Anda.”
Masalahnya adalah bukan kita tidak mau menyelesaikan masalah,
tetapi kita sering kali tidak memahami pesan yang disampaikan oleh
pikiran bawah sadar. Dan saat kita mau menyelesaikannya, kita sering
tidak tahu bahwa cara atau teknik yang digunakan tidak tepat.
Cara efektif untuk mengatasi hal ini adalah pertama, kita perlu
mengeluarkan uap yang terjebak di dalam tungku. Gunakan uap itu
sebagai petunjuk untuk menemukan retak di dinding tungku. Inilah
yang dimaksud oleh Milton Erickson ketika mengatakan, “he
Symptom is the solution.”
Setelah uap berhasil kita keluarkan dan tekanan sudah habis, kita
bisa membuka tutup tungku. Bisa Anda bayangkan, apa yang terjadi
bila tutup tungku dibuka saat tekanannya masih sangat tinggi. Ini
sama dengan membuka tutup radiator mobil saat masih panas. Sa-
ngat berbahaya.
Isi tungku adalah memori yang berhubungan atau yang membu-
at munculnya simtom. Setelah ini, barulah kita bisa menemukan
sumber api dan sekaligus memadamkannya. Bila api berhasil dipa-
damkan, tidak ada lagi yang memanasi tungku mental. Dengan
demikian, temperatur tidak akan naik. Dan tentu tidak akan ada uap
yang menekan dinding tungku. Tidak akan terjadi keretakan dan
kebocoran. Klien akan kembali menjalani hidup dengan normal.

Mengapa Direct Suggestion Tidak Efektif?


Dalam menangani berbagai kasus dengan muatan emosi negatif yang
tinggi, Direct Suggestion tidak efektif karena hanya mengeliminir simtom,
http://facebook.com/indonesiapustaka

bukan akar masalah. Salah satu sifat pikiran bawah sadar adalah malas
untuk berubah. Pikiran bawah sadar menilai sesuatu sebagai hal yang
benar atau tidak benar, bukan berdasarkan kebenaran yang sesung-
guhnya, tetapi lebih berdasarkan data yang tersimpan dalam database
pikiran bawah sadar. Pikiran bawah sadar beroperasi berdasarkan
hukum familiarity atau juga dikenal dengan knowns and unknowns.
Quitters฀Can฀Win 127

Dari uraian di atas, kita tahu bahwa sakit atau simtom sebenarnya
merupakan mekanisme perlindungan yang digunakan oleh pikiran
bawah sadar untuk “menyelamatkan” seseorang. Jadi, saat pikiran
bawah sadar merasa sudah “benar” dengan membuat seseorang
menjadi “sakit”, jika dipaksa berubah dengan menggunakan Direct
Suggestion, tentu ia akan menolak. Dan semakin kita paksa, ia
semakin melawan dengan meningkatkan intensitas “sakit” atau
“gangguan”.
Ada empat langkah yang harus dilakukan untuk bisa menghilang-
kan simtom dengan cepat, efektif, eisien, dan permanen, yaitu:
Memori yang berhubungan dengan atau yang mengakibatkan
munculnya simtom harus dibawa ke permukaan dan diketahui
secara sadar.

Perasaan yang berhubungan dengan memori ini harus dialami


kembali.

Hubungan antara simtom dan memori harus diketahui.

Pemelajaran bawah sadar atau yang bersifat emosi harus terjadi


dan memungkinkan klien untuk membuat keputusan di masa
depan tanpa terpengaruh oleh konten yang telah dimunculkan

Terapi yang semata-mata menggunakan teknik Direct Suggestion


mampu “menyembuhkan” klien. Namun, “kesembuhan” ini tidak
akan berlangsung lama. Beberapa saat kemudian akan muncul sim-
tom lagi, entah yang lama atau bahkan yang baru. Kesembuhan ini
sebenarnya adalah akibat dari penambalan retak di dinding tungku
mental sehingga uap untuk sementara waktu tidak bisa keluar.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Contoh Kasus
Saya akan menutup tulisan ini dengan beberapa contoh kasus yang
berhasil ditangani dengan menggunakan Teori Tungku Mental. Per-
tama, kasus seorang klien wanita berusia 39 tahun, yang mengeluh
128

bahwa pikirannya suka sekali menghitung angka (counting numbers),


dan kalau mandi lama sekali. Ia mengatakan bahwa ia mengalami
OCD (Obsessive Compulsive Disorder). Saya tidak tahu apakah benar
ia mengalami OCD atau tidak. Mengapa? Karena ini adalah istilah
yang digunakan di dunia psikologi atau psikiatri. Saya bukan psikolog
atau psikiater. Jadi, saya tidak bisa menggunakan istilah ini.
Berdasarkan Teori Tungku Mental, saya melihat perilakunya seba-
gai bentuk kebocoran uap dari tungku mentalnya. Nah, tugas saya
adalah mencari dan menemukan sumber apinya, lalu membantunya
untuk mematikan api itu.
Proses uncovering membawanya ke usia tiga belas tahun. Sesuatu
terjadi di sini. Saya membantunya untuk mematikan apinya. Besok-
nya, saya mendapat kabar darinya bahwa ia sudah mandi dengan
waktu yang normal dan sudah tidak menghitung angka.
Kasus kedua adalah kasus yang ditangani salah satu alumni
QHI. Ia berhasil mengobati seorang wanita berusia 29 tahun, yang
alergi terhadap gula atau sesuatu yang manis, seperti permen atau
minuman cola. Setiap kali makan atau minum yang manis, badan
klien ini akan langsung bengkak dan gatal.
Anehnya, kalau makan nasi atau roti, badannya biasa-biasa saja.
Padahal, nasi atau roti mengandung karbohidrat yang setelah masuk
ke badan akan menjadi gula. Dengan Teori Tungku Mental, alumnus
ini berhasil membantu klien menemukan apinya.
Apa yang terjadi? Ternyata, pada usia 3 tahun, klien ini melihat
kejadian yang tidak semestinya ia lihat dan setelah itu ia diberi per-
men. Ini adalah ISE. Selanjutnya terjadi beberapa peristiwa lagi, yang
sebenarnya adalah sejumlah SSE pada usia yang berbeda. Akhirnya,
pada saat duduk di SMP, baru muncul alergi terhadap permen. Ha-
http://facebook.com/indonesiapustaka

nya dibutuhkan satu sesi untuk membantu klien ini.


Contoh ketiga adalah seorang klien berusia 40 tahun. Keluhannya
adalah bahwa ia tidak bisa minum air putih. Setiap kali minum air
putih, perutnya akan sakit dan ia langsung muntah. Namun, bila
airnya diberi sirup, gula, atau dibuat teh atau kopi, tidak ada masalah.
Setelah diselidiki, ternyata ia tidak bisa minum air putih sejak usia 4
Quitters฀Can฀Win 129

tahun. Dibutuhkan satu sesi saja untuk menemukan sumber api dan
memadamkannya. Setelah itu, ia langsung bisa minum air putih.
Bagaimana dengan fobia? Prinsipnya sama saja. Lalu, bagaimana
cara agar bisa menemukan api dengan cepat? Tentu akan sangat
panjang bila saya jelaskan di sini dan inilah yang saya berikan di kelas
pelatihan 100 jam hipnoterapi yang diselenggarakan oleh Quantum
Hypnosis Indonesia.
http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka
Forgiveness is The True Healer

D
alam tulisan Teori Tungku Mental, saya bercerita menge-
nai api yang membakar tungku mental kita. Api emosi
yang membakar tungku mental harus dipadamkan bila
seseorang benar-benar ingin sembuh. Namun, hal ini harus berda-
sarkan persetujuan dan keikhlasan klien. Kita tidak bisa serta merta
mensugesti agar api emosi itu padam. Tidak bisa.
Ada sangat banyak teknik terapi. Namun, salah satu yang paling
dahsyat efeknya adalah Forgiveness herapy. Terapi yang dilakukan
tanpa diakhiri dengan memaakan adalah terapi yang tidak tuntas.
Mengapa bisa tidak tuntas? Karena klien harus bersedia melepas-
kan semua emosi negatif yang berhubungan dengan kejadian, pe-
ristiwa, atau situasi tertentu dan menggantinya dengan emosi po-
sitif, seperti cinta kasih. Keseriusan untuk melepaskan semua emosi
negatif ini dilihat dari apakah ia bersedia memaakan dengan sung-
guh-sungguh orang atau peristiwa yang “menyakiti” dirinya.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Namun, walaupun sudah memaakan, biasanya kita tetap tidak


bisa keluar dari masalah itu. Jangan kaget atau heran, ini adalah se-
suatu yang paling sering kita alami.
Kesalahan yang dilakukan oleh kebanyakan dari kita adalah bah-
wa kita hanya memaakan pada level kognisi atau pada level pikiran
sadar. Hal ini tidak akan efektif. Memaakan harus dilakukan pada
132

level afeksi atau pikiran bawah sadar karena emosi dan memori
terletak di sana. Agar bisa benar-benar memaakan, kita perlu masuk
ke lokasi yang tepat, ke pikiran bawah sadar,supaya efektif, eisien,
dan permanen hasilnya.
Memaakan akan sangat mudah kita lakukan bila tekanan “uap”
yang ada di dalam Tungku Mental berhasil kita keluarkan semuanya
dengan menggunakan teknik yang sesuai dan “uap” tidak asal dike-
luarkan. Jika tidak, tekanan pada dinding tungku mental akan ber-
manifestasi menjadi resistensi atau penolakan untuk berubah. Sema-
kin kuat tekanan “uap”, semakin sulit untuk berubah atau mema-
akan.
Setelah “uap” keluar semua, tekanan mental yang tadinya sangat
mengganggu diri klien bisa dihilangkan. Nah, setelah itu barulah
dilakukan reedukasi pikiran bawah sadar. Tekniknya bisa bermacam-
macam, tergantung pada situasi dan kebutuhan.
Memaakan memang bisa dilakukan dengan menggunakan ke-
kuatan kehendak (will power), tetapi akan memakan waktu yang
sangat lama. Seorang kawan saya yang begitu terluka karena per-
lakuan orangtuanya membutuhkan waktu hampir 10 tahun untuk
bisa memaakan mereka. Tentu saja ini bukan waktu yang singkat.
Dan ia bisa memaakan karena menggunakan jalur spiritual. Ia
belajar memberikan makna baru pada pengalaman hidupnya itu.
Menurutnya, ia mengalami ini semua karena Tuhan menyiapkan
dirinya untuk menjalankan suatu misi yang besar. Dan akhirnya, ia
berhasil memaakan kedua orangtuanya.
Apa yang dialami oleh kawan saya ini sebenarnya dapat dise-
lesaikan hanya dalam waktu satu atau dua sesi terapi, masing-masing
dua jam, bila ia mengerti prinsip Tungku Mental, atau mendapat
http://facebook.com/indonesiapustaka

bantuan dari seorang terapis atau healer yang kompeten.


Setelah “uap” berhasil dikeluarkan semua dan tekanan sudah
hilang, selain perlu memaakan orang lain, klien juga perlu mema-
akan dirinya sendiri. Saat bersedia memaakan dirinya sendiri, ia
bersedia menerima segala kesalahan yang pernah ia lakukan, mem-
berikan kesempatan kepada dirinya untuk belajar dari kesalahan itu,
Quitters฀Can฀Win 133

mengizinkan dirinya untuk memulai lembaran hidup baru, bersedia


menghargai dan mencintai dirinya apa adanya, dengan segala kele-
bihan dan kekurangannya. Pada saat itulah, ia telah sembuh.
Pada titik ini, ia telah benar-benar mematikan api emosi negatif
yang selama ini membakar tungku mentalnya. Ia mengganti emosi
negatif dengan emosi positif, seperti cinta kasih, penghargaan, dan
pengharapan yang sangat konstruktif bagi dirinya.
Jadi, sebenarnya yang menyembuhkan klien adalah dirinya sendiri.
Dan yang menyembuhkannya adalah kesediaannya untuk memu-
lai satu lembaran baru dengan melepas semua emosi negatif yang
selama ini mengganggu hidupnya, yaitu dengan memaakan orang
lain yang telah menyakitinya dan yang lebih penting memaakan dan
menerima diri seutuhnya.
http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka
“ Hipnoterapi” vs Hipnoterapi

“ Wit h great power com es great responsibilit y”

S
eorang kawan dari Malang main ke rumah saya dan minta
bantuan untuk mengatasi kesulitan hidupnya. Ia telah berusaha
belajar ke sana ke mari, mengikuti banyak pelatihan, termasuk
kelas hipnoterapi di Jakarta, serta meminta bantuan psikolog, psi-
kiater, dan hipnoterapis. Namun, masalahnya tetap tidak bisa
tertangani dengan tuntas.
Saya tidak akan membahas apa yang dilakukan oleh psikolog
atau psikiater karena ini di luar disiplin ilmu yang saya pelajari dan
dalami. Yang akan saya bahas adalah hipnoterapi dan hipnoterapis.
Kawan saya ini telah meminta bantuan hipnoterapis dan telah men-
jalani tujuh sesi terapi yang masing-masing berlangsung selama dua
jam di klinik hipnoterapi.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Hasilnya? Sama sekali tidak ada perubahan. Saya jadi bingung.


Bagaimana mungkin?
Setiap sesi terapi adalah proses yang unik. Dinamikanya selalu
berbeda. Keberhasilan suatu terapi, dalam hal ini hipnoterapi, ter-
gantung pada dua faktor, yaitu klien dan terapis.
136

Semula saya berpikir bahwa kawan sayalah yang tidak siap be-
rubah. Istilah teknisnya, masih ada resistensi. Mengapa saya berpi-
kir demikian? Karena, menurut kawan saya, hipnoterapis yang
menerapi dirinya bergelar C.Ht., atau certiied hypnotherapist atau
hipnoterapis yang bersertiikasi. Nah, kalau begitu, saya berasumsi
bahwa si terapis pasti punya kemampuan yang mumpuni. Apalagi,
kawan saya mengatakan bahwa sertiikasi terapis ini dikeluarkan
oleh lembaga pelatihan di Indonesia yang berailiasi dengan lembaga
terkenal di Amerika.
Namun, dari penuturan kawan saya lebih lanjut, saya kemudian
menilai bahwa ia benar-benar ingin berubah. Dan ia sangat serius
menjalani proses terapi. Bisa dibilang tidak ada resistensi sama se-
kali. Lalu, mengapa ia tidak juga sembuh?
Karena penasaran, saya menanyakan bagaimana proses terapi
yang dilakukan. Dari cerita kawan saya ini, akhirnya saya sampai
pada satu kesimpulan. Masalahnya justru terletak pada si terapis,
bukan pada kawan saya. Apa masalahnya?
Ternyata teknik yang digunakan tidak sesuai. Hipnoterapis itu
hanya menggunakan satu teknik selama tujuh sesi terapi. Dengan
kata lain, hipnoterapis itu ”memaksakan” suatu teknik tanpa melihat
hasil atau efeknya. Akibatnya, proses terapi itu menjadi therapist cen-
tered, bukan client centered.
Lalu, salahnya di mana? Secara prinsip, yang dilakukan terapis itu
tidak salah. Yang kurang tepat adalah bahwa ia tidak menyesuaikan
tekniknya dengan kondisi klien.
Dalam hipnoterapi, ada empat teknik dasar terapi:
Posthypnotic suggestion and imagery atau sugesti pascahipno-
sis dan imajinasi
http://facebook.com/indonesiapustaka

Discovering the root cause atau menemukan akar masalah

Release atau melepas emosi negatif yang melekat pada pe-


ngalaman traumatis

Re-learning atau pemahaman baru


Quitters฀Can฀Win 137

Dari keempat teknik dasar ini, yang digunakan oleh si hip-


noterapis adalah teknik posthypnotic suggestion.
Bagaimana ia melakukannya? Klien diminta melakukan relak-
sasi dan setelah dirasa cukup rileks, terapis akan mensugesti klien.
Sugestinya berisi pesan-pesan yang bila diterima dan dilaksanakan
oleh pikiran bawah sadar, klien akan mengalami perubahan positif.
Mengapa teknik ini tidak efektif terhadap kawan saya? Ada
beberapa kemungkinan. Pertama, level kedalaman trance ti-
dak sesuai. Klien tidak bisa masuk ke kedalaman trance yang
diinginkan karena hipnoterapis tidak memperhatikan tipe
sugestibilitas klien. Kedua, teknik deepening tidak tepat. Ketiga,
sugesti yang diberikan tidak melihat kepribadian klien, apakah
bisa diberi direct suggestion yang bersifat authoritative (pa-
ternal) atau passive (maternal/indirect). Keempat, kasus yang
dialami klien termasuk kategori ”berat”.
Jika teknik posthypnotic suggestion and imagery tidak ber-
hasil, seharusnya digunakan teknik berikutnya, discovering the
root cause (menemukan akar masalah) dan dilanjutkan dengan
teknik release dan re-learning.
Mengapa perlu menemukan akar masalah? Masalah atau
hambatan hidup yang dialami oleh klien, dan ini tampak dalam
perilakunya, sebenarnya hanya simtom. Untuk membereskan
simtom, terapis harus bisa menemukan akar masalah. Nah,
untuk itu, harus digunakan teknik terapi yang lebih advanced,
tidak bisa hanya dengan menggunakan sugesti.
Simtom dapat diibaratkan asap yang tampak keluar dari
tumpukan sekam. Bagaimana cara agar asap bisa hilang secara
permanen? Ya, sudah tentu dengan mencari, menemukan, dan
http://facebook.com/indonesiapustaka

memadamkan sumber api yang ada di dalam sekam.


Sering kali yang terjadi adalah symptom removal. Setelah
mendapat sugesti, klien ”merasa” masalahnya telah selesai. Na-
mun, selang beberapa saat, masalah yang sama akan muncul
lagi atau relapse. Hal ini mengindikasikan bahwa akar masalah
yang sesungguhnya belum tertangani.
138

Yang lebih sulit lagi adalah bila terjadi double symptom.


Artinya, simtom yang tampak merupakan simtom dari suatu
simtom dari suatu akar masalah. Nah, kalau sudah begini
kondisinya, teknik sugesti dijamin tidak akan efektif. Saya
menyebutnya dengan teknik band-aid therapy karena cara
kerjanya seperti kita menutup luka dengan plester (band-aid)
tanpa membersihkan lukanya sendiri.
Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana cara agar bisa
menemukan akar masalah? Pertanyaan ini membutuhkan
penjelasan teknis. Caranya bisa macam-macam. Secara prin-
sip, uncovering techniques terbagi menjadi dua kelompok be-
sar, yaitu minor uncovering techniques dan major uncovering
techniques.
Untuk lebih jelasnya, Anda bisa membaca buku saya, Hypno-
therapy: he Art of Subconscious Restructuring. Anda bisa
menggunakan teknik ideomotor response, regression, desensi-
tization, gestalt therapy, relaxation, mimpi, dan masih banyak
teknik lain yang bisa diterapkan sesuai kebutuhan.
Selain kasus kawan saya ini, saya juga telah beberapa kali
menemukan kasus berbeda namun dengan teknik terapi yang
sama, yang dilakukan oleh terapis yang berbeda. Saya akhirnya
sampai pada satu kesimpulan. Apa itu?
Banyak orang yang mengaku hipnoterapis ternyata hanya
menguasai teknik terapi posthypnotic suggestion and imagery.
Teknik inilah yang digunakan oleh stage hypnotist dalam
pertunjukan. Mungkin para hipnoterapis itu merasa bahwa
kalau dengan sugesti saja bisa membuat subjek hipnosis
melakukan apa yang disugestikan, misalnya tidak bisa jalan,
http://facebook.com/indonesiapustaka

lupa nama, kehilangan suatu angka, bahkan sampai mengalami


halusinasi, prinsip yang sama bisa diterapkan untuk menerapi
klien yang bermasalah.
Terapi dengan sugesti bukan tidak ampuh. Teknik ini tetap
sangat ampuh sejauh si terapis memperhatikan kondisi klien.
Kasus ringan, seperti berhenti merokok, kurang percaya diri,
Quitters฀Can฀Win 139

kebiasaan menggigit jari (nail biting), bruxism, meningkatkan


prestasi akademis, atau kecemasan ringan, bisa sangat terbantu
dengan menggunakan sugesti. Namun untuk kasus berat,
seperti trauma akibat pelecehan seksual, konlik diri, perasaan
dendam, kebencian yang hebat pada seseorang, penolakan diri
akibat kehamilan yang tidak diinginkan, proses pendidikan
yang salah, atau pengalaman traumatis lain yang berisi muatan
emosi negatif yang tinggi, harus digunakan teknik terapi yang
lebih advanced.
Satu hal lagi yang cukup memprihatinkan adalah bahwa
banyak orang yang hanya karena pernah membaca buku hip-
nosis atau hipnoterapi, atau mengikuti kursus hipnoterapi
singkat dalam beberapa hari, berani praktik, menerima klien,
dan hebatnya lagi, berani membuka klinik hipnoterapi.
Saran saya, Anda perlu hati-hati dan selektif dalam memilih
hipnoterapis. Jangan mudah percaya walaupun si hipnoterapis
punya embel-embel gelar C.Ht. Gelar bukan jaminan. Apalagi
kalau si “hipnoterapis” tidak punya sertiikasi, itu bisa lebih
gawat. Hal ini perlu saya tekankan karena yang diotak-atik
adalah pikiran. Kalau salah penanganan, bisa sangat berba-
haya.
Saya teringat saat diminta oleh sebuah fakultas psikologi
di salah satu universitas terkenal di suatu kota besar untuk
menjadi penguji tamu di ujian skripsi. Kebetulan topik yang
dipilih mahasiswa adalah aplikasi hipnoterapi untuk meng-
hentikan kebiasaan merokok, mengatasi exam anxiety, dan
penerimaan terhadap body image. Karena si mahasiswa tidak
bisa melakukan terapi, mereka meminta bantuan seorang
http://facebook.com/indonesiapustaka

hipnoterapis, yang tentu sudah bersertiikasi, yang dikenalkan


oleh dosen pembimbingnya.
Hasil penelitian ketiga mahasiswa ini terhadap efektivitas
hipnoterapi dalam mengatasi masalah subjek penelitian ini
ternyata ”tidak signiikan”. Saya jadi bingung. Kok bisa tidak
signiikan?
140

Setelah membaca skrip terapi yang juga disertakan dalam


lampiran skripsi, akhirnya saya mengetahui penyebabnya.
Ternyata si ”hipnoterapis” hanya menggunakan teknik sugesti.
Selain itu, induksi yang dilakukan juga hanya satu teknik, yaitu
progressive relaxation tanpa memperhatikan tipe sugestibilitas
klien. Pengujian kedalaman trance juga dilakukan dengan pen-
dekatan stage hypnosis.
Bisa Anda bayangkan, setiap sesi terapi dilakukan selama
satu setengah hingga dua jam. Satu jam dipergunakan untuk
melakukan induksi dan satu jam lagi untuk mensugesti. Lebih
hebat lagi, hasil yang signiikan baru didapat setelah subjek
penelitian menjalani tiga sampai empat sesi terapi yang sama.
Yang lebih mengagetkan saya adalah selang beberapa bulan
kemudian, dosen pembimbing ketiga mahasiswa ini memutus-
kan untuk memasukkan hasil penelitian itu ke jurnal psikologi.
Dosen ini dengan mantapnya menyimpulkan, “Hipnoterapi
tidaklah seefektif yang digembar-gemborkan.”
Untungnya, setelah mendapat banyak saran, kritik, dan
sanggahan, hasil penelitian yang sebenarnya kurang tepat itu
akhirnya tidak jadi dimasukkan ke jurnal. Salah satu alasannya
adalah bahwa metode penelitian yang digunakan tidak tepat
dan subjek penelitiannya terlalu sedikit.
Nah, Anda perlu hati-hati. Pastikan Anda mendapatkan
hipnoterapi dari seorang hipnoterapis dan bukan “hipnote-
rapis”.
http://facebook.com/indonesiapustaka
Sertifikasi vs Kompetensi

S
eorang kawan bertanya kepada saya, “Pak, pelatihan Quantum
Hypnosis Indonesia 100 jam untuk sertiikasi hipnoterapis
profesional yang Bapak selenggarakan ini berailiasi ke orga-
nisasi mana? Apakah sertiikasi Quantum Hypnosis Indonesia (QHI)
mendapat pengakuan dari organisasi hipnosis atau hipnoterapi di
luar negeri seperti National Guild of Hypnotists (NGH)?”
Sebelum saya melanjutkan cerita saya, bagi Anda yang awam
dengan dunia hipnosis/hipnoterapi, saya ingin menjelaskan bahwa
selain NGH, masih banyak organisasi yang “mengurusi” hipnosis/
hipnoterapi atau yang berhubungan dengan konseling dan terapi.
Beberapa nama besar yang dikenal adalah he International Me-
dical & Dentistry Hypnotherapy Association (IMDHA), he Ame-
rican Board of Hypnotherapy (ABH), International Association
of Clinical Hypnotiata (IACH), American Alliance of Hypnotists
(AAH), International Association of Counselors and herapists
(IACT), National Association of Transpersonal Hypnotherapists
http://facebook.com/indonesiapustaka

(NATH), dan Association of Professional Hypnotherapists (APHP)


di Inggris.
Sebelum memutuskan untuk menyelenggarakan pelatihan hip-
noterapi 100 jam (tatap muka di kelas), saya sempat melakukan
browsing ke berbagai situs organisasi yang saya sebutkan di atas dan
142

berbagai situs lembaga hipnoterapi di Indonesia. Saya juga sempat


mempertimbangkan untuk mendapatkan pengakuan atau berailiasi
dengan lembaga luar negeri. Namun, setelah melalui pertimbangan
mendalam, akhirnya saya memutuskan untuk tidak berailiasi de-
ngan lembaga mana pun. Saya memutuskan untuk menetapkan
standar sendiri melalui QHI.
Beberapa waktu lalu, sejumlah praktisi, trainer, pakar, dan pe-
merhati hipnosis/hipnoterapi ingin menetapkan suatu standar hip-
nosis/hipnoterapi Indonesia. Namun, karena keterbatasan waktu
dan kesibukan masing-masing, kami belum bisa bertemu muka.
Saya kemudian berpikir, ada baiknya saya menyusun modul dulu
dan ketika nanti bertemu kami bisa bertukar pikiran, memberikan
masukan, dan bersama-sama menetapkan standar baku. Saya yakin,
dalam waktu dekat hal ini bisa dilakukan.
Berbekal semangat ini, saya menyusun modul pelatihan 100 jam.
Jujur, tidaklah mudah menyusun modul ini. Pertama, saya mempelajari
berbagai modul pelatihan hipnoterapi yang diselenggarakan lembaga
hipnoterapi di Indonesia. Saya sempat belajar kepada salah satu pakar
hipnoterapi Indonesia. Dari beliaulah, wawasan saya mengenai dunia
hipnosis dan hipnoterapi terbuka lebar. Selanjutnya dengan bekal wa-
wasan ini, saya memperdalam lagi dengan menghadiri seminar atau
pelatihan lain yang mendukung pengembangan pengetahuan saya.
Selain mendapatkan berbagai materi dari pelatihan yang saya
hadiri, saya juga mendapat bantuan dari rekan-rekan yang telah
mengikuti pelatihan yang belum saya ikuti. Mereka meminjamkan
modul pelatihan mereka untuk saya pelajari. Saya juga banyak ber-
tanya kepada rekan-rekan sesama hipnoterapis mengenai lama pe-
latihan, kurikulum, apa yang dilakukan di kelas, berapa jumlah
http://facebook.com/indonesiapustaka

peserta, dan banyak hal lain. Dari mereka, saya mendapatkan ba-
nyak masukan berharga, baik itu kelebihan maupun kekurangan
yang selama ini terjadi, dan bagaimana meningkatkan pelatihan agar
menjadi semakin efektif dan eisien.
Berbekal informasi ini, saya mempelajari berbagai modul pelatihan
yang diselenggarakan lembaga hipnoterapi terkemuka di Amerika,
Quitters฀Can฀Win 143

yang kurikulumnya sesuai standar NGH. Saya juga membeli banyak


video atau DVD hipnoterapi, mulai dari basic hingga advanced, serta
menggabungkan informasi dan pengetahuan ini dengan berbagai hal
yang saya pelajari dari buku, jurnal internasional mengenai hipnosis
dan hipnoterapi, seperti American Journal of Clinical Hypnosis
(AJCH), dan International Journal of Clinical and Experimental
Hypnosis (IJCEH), serta pengalaman praktik membantu banyak klien.
Pertanyaannya, mengapa saya berani memutuskan untuk “jalan
sendiri”? Pemikiran saya sangat sederhana tapi logis, “Apakah
sertiikasi yang mengatasnamakan lembaga luar negeri menjamin
bahwa alumnus pelatihan pasti kompeten melakukan hipnote-
rapi?” Jawabannya, “Belum tentu”. Mengapa saya mengajukan per-
tanyaan itu? Karena saya menemukan banyak rekan yang telah
mengikuti pelatihan dan, katanya, telah mendapat sertiikasi NGH
ternyata tidak bisa atau tidak berani melakukan hipnoterapi.
Saya juga bertemu dengan banyak klien dan pembaca buku,
yang mengirim e-mail kepada saya, dan bertanya mengapa setelah
menjalani tujuh sesi hipnoterapi masih juga belum sembuh. Namun,
juga banyak rekan saya sesama hipnoterapis yang walaupun hanya
mengikuti pelatihan singkat yang diselenggarakan oleh lembaga
hipnoterapi dalam negeri mampu melakukan terapi dengan efektif
dan eisien. Kepada teman-teman inilah, saya belajar dan berguru
juga. Jujur, pada awalnya, saya bingung melihat fenomena ini. Na-
mun, akhirnya saya menemukan benang merah yang selama ini
tidak diperhatikan atau diajarkan di pelatihan.
Pertanyaan berikutnya adalah “Bagaimana bila kita mengikuti pe-
latihan hipnoterapi di luar negeri?” Ini satu pertanyaan bagus. Menurut
hemat saya, untuk memelajari hipnoterapi di luar negeri, ada beberapa
http://facebook.com/indonesiapustaka

kendala. Pertama, faktor biaya. Pelatihan yang dilakukan oleh salah


satu cabang lembaga terkemuka di Amerika yang diselenggarakan di
Singapura selama 10 hari, karena mengikuti standar 100 jam, harganya
sangat mahal. Harga ini belum termasuk tiket pesawat, hotel, dan makan.
Kedua, masalah bahasa. Untuk memelajari hipnoterapi di luar
negeri dibutuhkan kemampuan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris
144

yang sangat baik karena kita harus mampu menerjemahkan berba-


gai semantik yang digunakan dalam dunia hipnoterapi ke dalam
bahasa Indonesia. Semantik ini sangat penting karena jika kita salah
memilih atau menggunakannya, efeknya akan berbeda. Melalui
Quantum Hypnosis Indonesia (QHI), saya memutuskan untuk me-
nyelenggarakan pelatihan hipnoterapi 100 jam untuk membantu
melahirkan hipnoterapis andal. Selain itu, dengan kurikulum dan
standard pelatihan yang digunakan, saya berharap dapat memberikan
sumbangan pemikiran bagi kemajuan hipnosis dan hipnoterapi di
Indonesia.
Satu hal yang membedakan pelatihan QHI dan beberapa pela-
tihan yang pernah saya ikuti di dalam negeri adalah bahwa di QHI
kami memberikan contoh praktik terapi di dalam kelas, live the-
rapy dengan kasus riil, mulai dari yang ringan, seperti phobia, sam-
pai kasus yang berat seperti luka batin, konlik diri, menemukan
berbagai mental block penghambat sukses, dan bahkan kecemasan
yang sangat tinggi.
Melalui contoh live therapy ini, peserta dapat melihat dinamika
yang terjadi saat berhadapan langsung dengan klien, bagaimana
menggunakan pengetahuan dan berbagai teknik terapi yang telah
diajarkan, dan bagaimana menggunakan kreativitas untuk membantu
klien mengatasi masalah. Saat ini, di Indonesia terdapat dua “aliran”
lembaga hipnoterapi.
Pertama, lembaga yang sangat “mengutamakan” nama besar
lembaga luar negeri di mana sertiikasi yang mereka berikan selalu
mencantumkan logo lembaga luar negeri yang menjadi ailiasi
mereka. Lembaga tipe ini terkesan lebih mengutamakan sertiikasi.
Kedua, lembaga yang tidak terlalu memusingkan nama besar lem-
http://facebook.com/indonesiapustaka

baga luar negeri tetapi benar-benar beroperasi berdasarkan standar


kompetensi yang tinggi. Mereka hanya mengutamakan satu hal, yaitu
bahwa alumninya kompeten melakukan terapi secara benar, efektif,
eisien, dan dengan hasil yang permanen.
Bagaimana dengan banyak pelatihan yang dilakukan hanya sela-
ma satu atau dua hari yang diselenggarakan oleh lembaga hipnoterapi
Quitters฀Can฀Win 145

Indonesia? Pelatihan ini sangat baik jika bertujuan hanya untuk


mengajarkan dasar-dasar hipnoterapi. Namun, bila ada lembaga
yang mengatakan bahwa hipnoterapi bisa dipelajari dalam satu hari
saja, saya meragukan kemampuan alumninya, apalagi jika pesertanya
langsung mendapat sertiikasi dengan mencantumkan nama lembaga
luar negeri, dan mendapatkan gelar Certiied Hypnotherapist atau
C.Ht.
Yang harus kita cermati adalah apakah hipnoterapis itu mampu
melakukan terapi dengan benar hanya dengan pelatihan secepat itu?
Apakah sertiikasi yang diberikan berkaitan dengan kehadiran di
pelatihan atau kompetensi seseorang? Saya bahkan pernah membaca
iklan di salah satu surat kabar lokal bertajuk “Hipnoterapi Super
Kilat 1 Hari”.
Sebenarnya saya juga ingin menghadiri pelatihan ini. Jika hipno-
terapi benar-benar bisa diajarkan hanya dalam satu hari, saya akan
sangat senang belajar pada pakar ini. Pasti akan ada banyak short cut
atau jalan pintas yang bisa saya pelajari.
Nah, jika Anda mencari trainer pelatihan hipnoterapi, cari-
lah lembaga yang benar-benar mengajar dengan standar tinggi. De-
ngan begitu, mana yang lebih penting: sertiikasi ataukah kompeten-
si? Kalau bisa, dua-duanya. Namun, kalau terpaksa harus memilih
salah satu, pilihannya sudah tentu kompetensi.
http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka
ADD/ADHD Ditinjau
dari Perspektif Cara Kerja
Otak dan Pikiran

D
ua hari berturut-turut, saya mendapat klien yang “unik”,
yaitu seorang murid SD kelas 2 yang sangat aktif dan seo-
rang murid SMP kelas 3 dari Malang yang dulunya pernah
sangat aktif sewaktu masih kecil. Keduanya mendapatkan “diagnosis”
ADD/ADHD.
Saat melakukan intake interview, saya menemukan jawaban yang
memvalidasi “kecurigaan” saya selama ini terhadap penyebab ADD/
ADHD dari sudut ilmu pikiran. Hasilnya saya bandingkan dengan
intake interview yang saya lakukan terhadap lebih dari 20 orang klien
yang terkena ADD/ADHD, dan ternyata konsisten.
Dari apa yang saya pelajari selama ini, ada dua penyebab ADD/
ADHD:
1. Masalah pada otak (isik/hardware)
2. Masalah pada pikiran (sotware)
http://facebook.com/indonesiapustaka

Masalah pada Otak


Dari berbagai riset mengenai otak, didapatkan hasil yang menarik,
yaitu bahwa otak kiri dan kanan penderita ADD/ADHD bekerja de-
ngan “kecepatan” yang berbeda. Dulu saya bingung dengan pernya-
taan ini. Namun, setelah mendalami Brain Wave 1 di Lugano, Swiss
148

dengan dibimbing langsung oleh Prof. Sean Adams, penemu BW 1,


akhirnya saya memahaminya.
Memang benar, bila kita mengukur pola gelombang otak penderita
ADD/ADHD, terlihat sangat jelas bahwa otak kanan jauh lebih aktif
daripada otak kiri. Berangkat dari temuan ini, para pakar merancang
alat untuk membantu mensinkronkan atau menyeimbangkan kerja
otak kiri dan kanan.

Ketidakseimbangan otak kiri dan kanan bisa muncul karena hal-


hal berikut:
1. Otak kekurangan pasokan oksigen. Biasanya, hal ini terjadi
saat persalinan sulit, di mana tali pusar melilit di leher bayi.
Bisa juga karena anak sempat tenggelam sehingga tidak bisa
bernapas dalam jangka waktu yang lama.
2. Benturan keras di kepala.
3. Panas yang tinggi sehingga anak mengalami kejang. Panas ini
bisa disebabkan oleh infeksi, radang, atau akibat pemberian
vaksin.

Ada beberapa cara untuk menyeimbangkan otak kiri dan kanan.


Pertama, yang paling murah dan mudah dilakukan adalah meng-
gunakan latihan Brain Gym. Untuk mengetahuinya lebih lanjut,
Anda bisa membaca buku Brain Gym yang sudah diterbitkan oleh
Gramedia Pustaka Utama dan melihat video yang disertakan di da-
lamnya.
Kedua, menggunakan terapi suara atau Sound herapy berdasar-
kan penelitian Dr. Alfred Tomatis di Prancis. Caranya adalah men-
http://facebook.com/indonesiapustaka

dengarkan musik dengan frekuensi khusus melalui telinga kiri dan


kanan penderita ADD/ADHD, sehingga akan terjadi keseimbangan.
Dulu, musik ini hanya bisa didengarkan di klinik khusus. Namun,
berkat perkembangan teknologi, musik ini sudah bisa “dikasetkan”
dengan jenis pita khusus, dan hanya bisa didengarkan dengan meng-
gunakan headphone atau earphone khusus yang mampu melewat-
Quitters฀Can฀Win 149

kan frekuensi tinggi hingga 18.000 Hz. Untuk memutarnya, harus


digunakan player khusus dengan merek dan tipe tertentu karena
player kaset yang ada di pasaran tidak akan mampu memainkan
musik dengan frekuensi tinggi. Inilah salah satu alasan mengapa
rekaman lagu atau musiknya tidak bisa menggunakan media CD.
Anda juga perlu waspada karena saat ini ada banyak “teknologi
otak” yang menawarkan program penyeimbangan otak kiri dan
kanan. Beberapa yang pernah saya lihat adalah made in China dengan
lisensi dari Amerika. Saat di-browsing, situsnya tidak menjelaskan
dasar teori dan riset yang mendasari pembuatan alat ini.
Cara paling umum yang dilakukan untuk menangani anak ADD/
ADHD adalah memberikan ritalin. Ritalin bekerja dengan cara me-
nekan pusat “keaktifan” di otak sehingga anak terkesan “rileks” dan
bisa tenang. Namun, obat hanyalah mengobati simtom, bukan akar
masalah. Begitu pengaruhnya habis, anak kembali ke kondisi awal,
seperti sebelum meminumnya.
Ada pakar yang berpendapat bahwa ADD/ADHD adalah penyakit
bawaan atau congenital disorder. Yang paling banyak mengalami
masalah ini adalah anak laki-laki, yakni 20 persen, sedangkan anak
perempuan hanya delapan persen.
Ketiga, menggunakan Sound Therapy yang dikombinasi dengan
Light Therapy (terapi cahaya). Kombinasi inilah yang digunakan
dalam mesin BW 1. Cahaya yang digunakan adalah cahaya de-
ngan panjang gelombang yang sangat khusus dan presisi, serta
menghasilkan cahaya berwarna kuning keemasan, seperti warna
kuning yang ada di pusat api lilin. Riset menunjukkan bahwa
cahaya kuning keemasan punya efek paling maksimal terhadap
otak.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Untuk memahami BW 1 dengan lebih jelas, Anda bisa mengakses


www.alphalearning.ch. Anda juga bisa membaca buku Mega Brain
karya Michael Hutchinson yang membahas berbagai riset dunia
mind technology. Buku ini memang sudah tidak dicetak lagi dan
telah menjadi classic. Saya pun mendapatkannya setelah bersusah
payah berburu di berbagai situs yang menjual buku-buku bekas.
150

Masalah pada Pikiran


Penanganan anak ADD/ADHD dengan paradigma ilmu pikiran
(sotware) tentu berbeda bila kita menggunakan paradigma cara ker-
ja otak (hardware). Dari berbagai literatur yang saya pelajari, dapat
disimpulkan bahwa manusia terlahir dengan kondisi pikiran yang
sempurna. Saat lahir, manusia hanya punya satu jenis pikiran, yaitu
pikiran bawah sadar. Pikiran bawah sadar sudah aktif sempurna
sejak bayi berusia tiga bulan di dalam kandungan dan merekam de-
ngan sempurna semua peristiwa yang dialami oleh ibunya, baik yang
positif maupun yang negatif, serta apa yang ia, si jabang bayi, alami
atau rasakan.
Pikiran bawah sadar terdiri atas dua bagian. Pertama, bagian
yang disebut dengan pikiran nirsadar atau unconscious mind, atau
ada juga yang menyebutnya sebagai primitive area. Kedua, bagian
yang disebut dengan modern memory area atau yang lebih dikenal
dengan nama subconscious mind. Jika orang berbicara mengenai
pikiran bawah sadar, yang mereka maksud adalah modern memory
area ini.
Pikiran nirsadar berisi berbagai program, yang “ditulis” oleh
Sang Pencipta untuk kelangsungan hidup kita. Program-program
ini antara lain berfungsi untuk menjalankan fungsi tubuh otonom,
seperti pernapasan, detak jantung, pencernaan, sistem kekebalan
tubuh, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kelangsungan
hidup (survival). Ibarat dalam komputer, program-program ini ada-
lah BIOS atau Basic Input Output System. Tanpa BIOS, komputer
tidak akan bisa beroperasi. BIOS dibutuhkan untuk meng-install
Operating System (OS). Setelah OS selesai kita install, kita baru bisa
meng-install berbagai program aplikasi.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Berdasarkan penelusuran terhadap sumber penyebabnya, dari


sudut ilmu pikiran, ADD/ADHD sebenarnya hanyalah simtom atau
gejala dari suatu masalah. Perilaku ADD/ADHD adalah efek da-
ri kecemasan tinggi yang dialami oleh anak sewaktu kecil. Karena
anak cemas, pikirannya bekerja dengan sangat aktif, memunculkan
Quitters฀Can฀Win 151

berbagai gambar mental atau buah pikir, agar anak sibuk memikir-
kannya dan kecemasan mereka dengan sendirinya akan berkurang.
Orang dewasa pun melakukan hal yang sama, bukan? Kita akan
menyibukkan diri kita. Bahkan, bila sudah cukup parah, kita akan
mengalami OCD (Obsessive Compulsive Disorder), seperti sering
cuci tangan, memeriksa kunci berkali-kali, menghitung angka naik-
turun (counting numbers), atau melafalkan alfabet.
Lalu, mengapa anak cemas? Jawabannya sederhana sekali, yaitu
karena tangki cinta anak kosong. Tingkat kecemasan seorang anak
berbanding terbalik dengan isi tangki cinta. Semakin penuh isi tangki
cinta, anak akan semakin rileks, percaya diri, dan kuat menghadapi
berbagai “benturan” emosi. Sebaliknya, semakin kosong, anak akan
semakin lemah dan cemas. Semakin cemas, akan semakin banyak
gambar mental atau buah pikir yang muncul dalam diri anak. Ini
sangat alamiah dan normal. Inilah salah satu fungsi pikiran bawah
sadar, melindungi diri kita dari bahaya nyata atau yang dipandang
sebagai bahaya, baik yang bersifat isik maupun psikis.
Supaya anak “selamat” dari tekanan mental (baca: kecemasan
tinggi), pikiran bawah sadar akan menyibukkan pikiran anak untuk
tidak memikirkan kecemasannya dengan memunculkan sangat ba-
nyak gambar mental atau buah pikir secara cepat. Lama-lama defense
mechanism ini menjadi suatu kebiasaan atau habit dan menjadi
ADD/ADHD.
Langkah awal untuk membantunya adalah mengurangi tingkat
kecemasannya. Bahkan kalau bisa, dihilangkan sama sekali. Mulailah
dengan mengisi tangki cinta anak. Tangki cinta ini ada dua. Yang sa-
tu diisi oleh ibu dan yang satu lagi oleh ayah. Tidak bisa dirangkap.
Harus diisi oleh masing-masing orangtua.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Cara mengisinya adalah menggunakan bahasa cinta. Ada lima


bahasa cinta yang bisa kita gunakan. Pertama, tatapan mata. Jika
berkomunikasi, pandanglah mata anak dengan lembut dan penuh
cinta kasih. Tatapan mata ini sangat penting.
Kedua, sentuhan isik. Anak harus sering mendapatkan sentuhan
isik, entah itu pelukan atau kecupan sayang dari orangtuanya.
152

Ketiga, waktu yang berkualitas. Orangtua perlu menyediakan


waktu yang cukup dengan intensitas perhatian dan kedekatan emosi
yang baik. Waktu berkualitas juga meliputi kuantitas. Tanpa kuantitas
yang cukup, tidak ada yang namanya waktu berkualitas.
Keempat, kata-kata peneguh. Kita sering melihat orangtua me-
ngucapkan kata-kata negatif. Tujuannya sebenarnya positif, yaitu
memacu anak agar berubah menjadi lebih baik. Namun, dari pers-
pektif ilmu pikiran, kita harus mengucapkan hanya hal-hal yang po-
sitif, yang menguatkan dan meneguhkan hati anak.
Kelima, pemberian hadiah. Tidak perlu hadiah yang besar atau
mahal, tetapi cukup hadiah kecil. Misalnya, ketika orangtua ke luar
kota atau dari mal, belilah sesuatu yang ia suka dan tidak ia sangka.
Kebanyakan anak sekarang cemas karena orangtua sibuk bekerja
sehingga mereka hanya diserahkan kepada baby sitter. Baby sitter
bisa memberikan makanan pada tubuh isiknya, tetapi tidak bagi
jiwanya. Belum lagi bila baby sitter ini sering bersikap keras terhadap
anak. Efeknya akan sangat destruktif. Baby sitter hanya bisa mengisi
tangki isik (baca: perut) anak, tetapi tidak bisa mengisi tangki cinta
anak.
Saat sudah agak besar, kecemasan bisa timbul ketika anak mulai
masuk sekolah. Tekanan sistem pendidikan, apalagi jika lingkungan
sekolah dan guru tidak kondusif, membuat mereka semakin cemas.
Tekanan bisa juga timbul dari orangtua yang overconident terhadap
kemampuan anaknya sehingga menuntut mereka mencapai prestasi
yang tinggi. Sayangnya, tuntutan yang tinggi ini tidak disertai dengan
pemberian strategi dan teknik pemelajaran yang sesuai dengan
keunikan mereka. Akibatnya, mereka menjadi tegang serta cemas,
dan proses belajar menjadi menyakitkan.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Sering saya jumpai bahwa kecemasan anak justru merupakan


hasil “transfer” dari orangtuanya, terutama ibunya. Banyak ibu
yang cemas, mungkin karena sang anak adalah anak pertamanya,
menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Karena menginginkan
yang terbaik, ibu menjadi selalu was-was terhadap perkembangan
anaknya.
Quitters฀Can฀Win 153

Semakin ibu cemas, anak semakin cemas. Dan ibu yang tidak
menyadari hal ini akhirnya bingung sendiri dan mencari terapis
untuk membantu anaknya yang “bermasalah”. Terapi yang hanya
dilakukan pada anak tetapi tidak pada si ibu tidak bisa optimal.
Saat saya menceritakan hal ini, ayah klien saya membenarkan
bahwa istrinya sangat cemas terhadap anaknya. Sedemikian khawatir
sehingga si ibu tidak pernah mempercayakan perawatan anaknya
kepada orang lain. Semua dikerjakannya sendiri.
Salah satu bentuk kecemasannya adalah selalu mensterilkan se-
mua peralatan makan si anak. Ini benar-benar merepotkan. Botol
susu, piring, gelas, sendok, dan garpu harus disterilkan dengan cara
dicelupkan ke dalam air mendidih agar kuman mati semua. Bahkan,
saat liburan ke Bali, ia membawa panci yang biasa ia gunakan untuk
mensterilkan peralatan makan si anak.
Klien saya, murid kelas 2 SD yang ADD, mampu duduk diam dan
tenang saat diminta memvisualisasi, di pikirannya, jalan yang harus
ditempuh dari sebuah mal ke rumahnya. Ia mampu membayang-
kannya dengan sangat jelas jalan yang harus dilalui, apa saja yang ada
di jalan itu, harus belok ke mana, dan akhirnya sampai di rumah.
Tanpa ia sadari, saya memintanya memilih hanya satu objek untuk
ia pikirkan. Saat itu, ia berkonsentrasi dan karena ia “memutuskan”
memilih hanya satu objek pikiran, gambar mental lain yang muncul
dengan sangat cepat di pikirannya diabaikan. Dengan demikian, ia
bisa menjadi tenang dan rileks. Hal ini perlu dilatih. Anak harus bisa
mengarahkan pikiran pada hal-hal yang memang ia inginkan. Jika
kita bisa membuatnya terbiasa melakukan hal ini, cepat atau lambat
kita membentuk kebiasaan atau habit baru dalam diri anak.
Anak yang pikirannya sangat aktif akan sulit berkonsentrasi dan
http://facebook.com/indonesiapustaka

belajar. Umumnya, mereka diberi label trouble maker di kelas. Jika


sudah agak besar, saat belajar, mereka akan menyalakan televisi,
radio, atau tape recorder. Mengapa mereka bisa belajar di tengah ber-
bagai “keributan” atau “distorsi” ini? Karena yang mereka lakukan
adalah membuat sibuk bagian pikiran yang selama ini mengganggu
konsentrasi mereka. Begitu mendengarkan suara acara televisi dan
154

radio, bagian ini menjadi sibuk sehingga ia bisa fokus pada materi
yang ia pelajari.
Salah satu hal yang bisa menyebabkan anak mengalami ADD/
ADHD adalah salah diagnosis. Sering kali anak yang sangat aktif,
yang sebenarnya tidak mengalami ADD/ADHD, dengan mudahnya
diberi label anak hiperaktif oleh lingkungan atau guru di sekolah.
Label itu akan melekat pada diri si anak. Dengan pengulangan
atau penguatan (reinforcement), cepat atau lambat label itu akan
menjadi belief yang terintegrasi ke belief system anak dan akhirnya
menjadi identity. Dan kalau sudah sampai tahap ini, akan sulit
sekali dibereskan. Identity adalah program yang bersifat self fulliling
prophecy.

Penanganan Anak yang Menderita ADD/ADHD


Saya biasa melakukan penanganan dengan menggunakan pendekatan
kombinasi. Jika dirasa perlu, saya akan menggunakan BW 1. Pertama,
saya akan mengukur kondisi gelombang otak kiri dan kanan. Dari
hasil pengukuran ini, dengan menggunakan Optical Neuron Syner-
gizer, saya melakukan tune up otak dan menyeimbangkan otak kiri
dan kanan.
Pada umumnya, hanya dengan satu kali sesi tune up, otak mereka
sudah bisa seimbang. Namun, untuk menstabilkannya, saya butuh
lima sesi. Efek penyeimbangan bersifat permanen. Ini pendekatan
terapi dari sisi hardware.
Untuk sisi sotware, saya menggunakan berbagai teknik ilmu
pikiran untuk membantu anak menghilangkan kecemasannya. Se-
lanjutnya, saya melatih dan membantu anak untuk mengarahkan
http://facebook.com/indonesiapustaka

pikiran sesuai dengan yang mereka inginkan.


Keterlibatan orangtua juga sangat saya tekankan. Orangtua juga
perlu diajari beberapa teknik yang bisa mereka lakukan di rumah agar
bisa membantu anak mereka. Salah satunya adalah cara berkomuni-
kasi dengan pikiran bawah sadar anak sehingga bisa memasukkan
sugesti positif yang membantu perkembangan anak.
Melakukan Hipnoterapi
pada Anak

S
aat mengajar di kelas sertiikasi hipnoterapis 100 jam Quantum
Hypnosis Indonesia di Jakarta dan Surabaya baru-baru ini,
saya mendapat pertanyaan, “Bagaimana caranya melakukan
hipnoterapi pada anak-anak?”
Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu mencermati proses
pembentukan pikiran karena langkah awal untuk melakukan
hipnosis adalah menembus ilter mental atau critical factor pikiran
sadar. Critical factor seorang anak baru mulai terbentuk saat
berusia 3 tahun. Akan menguat dan semakin tebal seiring dengan
pertumbuhan anak dan menjadi sangat tebal/kuat saat mereka
berusia 11 hingga 13 tahun.
Anak dibagi menjadi tiga kategori. Pertama, kategori sangat
muda, yaitu rentang usia sejak lahir hingga 5 atau 6 tahun. Kedua,
kategori muda, 5 hingga 10 atau 11 tahun. Ketiga, kategori remaja,
12 tahun ke atas. Untuk kategori remaja, prosedur atau teknik terapi
http://facebook.com/indonesiapustaka

yang digunakan sama dengan yang digunakan untuk orang dewasa.


Sedangkan untuk kategori sangat muda dan muda, caranya agak
berbeda.
Yang menyenangkan bila kita melakukan hipnoterapi pada anak
adalah bahwa program pikiran yang telah masuk ke komputer
mental (baca: pikiran bawah sadar) anak belum kuat sehingga
156

mudah dimodiikasi atau bahkan di-uninstall. Kemudahan lainnya,


anak tidak takut hipnosis, berani berbicara apa adanya, suka pada
igur otoritas, tapi bukan otoritas orangtua, dan critical factor mereka
masih sangat lemah. Selain itu, anak sangat sering berada dalam
kondisi trance. Jadi, tidak dibutuhkan induksi formal seperti yang
dibutuhkan untuk menerapi orang dewasa. Anak masuk dan keluar
dari kondisi trance secara alamiah.
Untuk melakukan terapi pada anak usia di bawah 5 tahun, yang
perlu diterapi adalah kedua orangtuanya karena masalah mereka
sebenarnya cerminan masalah yang ada pada diri kedua orangtua.
Sering kali dijumpai dalam satu keluarga, yang terdiri dari ayah, ibu,
dan, misalnya, tiga orang anak, masalah bisa berpindah dari satu
anak ke anak yang lain.
Maksudnya, bila seorang anak yang bermasalah berhasil
disembuhkan, bisa jadi masalah yang serupa atau berbeda muncul
lagi (relapse) pada diri anak itu, tetapi bisa juga muncul pada anak
yang lainnya. Anak yang bermasalah ini dikenal sebagai IP atau
identiied patient atau pasien yang teridentiikasi. Masalah muncul
sebagai akibat dari sistem keluarga yang bermasalah. Jadi, jelas
bahwa masalah anak sebenarnya adalah masalah orangtua.
Ada tiga aturan penting yang harus diperhatikan saat melakukan
hipnoterapi pada anak. Pertama, terapis harus bisa memenangkan
hati anak. Ada banyak cara yang bisa kita lakukan. Saya biasanya
menggunakan beberapa trik sulap sederhana atau permainan yang
sudah tentu membuat anak sangat senang. Contohnya, membuat
uang koin hilang atau membuat suatu objek melayang di hadapan
anak.
Selain itu, anak harus merasa aman, nyaman, dan percaya diri
untuk mengungkapkan isi hatinya. Untuk itu, orangtua tidak
http://facebook.com/indonesiapustaka

diperkenankan berada di dalam ruang terapi, apa pun alasannya.


Kedua, kita memberitahu anak apa yang akan kita lakukan bersama.
Dan ketiga, gunakan teknik yang sesuai.
Saat membangun hubungan dengan anak, saat mengobrol dengan
santai, terapis perlu mencari tahu siapa tokoh idola, acara televisi
atau ilm kesukaan, hobi, cita-cita, tempat liburan favorit, dan nama
Quitters฀Can฀Win 157

kawan dekat si anak. Pengetahuan ini nantinya digunakan sebagai


jembatan untuk memasukkan data atau program baru ke dalam
pikiran bawah sadar anak.
Kesalahan fatal yang dilakukan oleh kebanyakan hipnoterapis,
termasuk saya dulu, adalah terlalu bernafsu mengubah si anak
dengan cara memasukkan direct suggestion secepatnya ke dalam
pikiran anak. Critical factor anak memang masih sangat lemah dan
sangat sulit menolak sugesti yang kita berikan. Namun, ada satu
hal yang perlu disadari, yaitu bahwa anak dibawa oleh orangtuanya
bertemu hipnoterapis sebagai langkah terakhir. Sebab, saat bertemu
hipnoterapis, harga dirinya telah benar-benar terpukul. Ia merasa
dirinya rendah, bodoh, minder, tidak mampu, tak berdaya, dan tidak
bisa menghargai dirinya sendiri.
Dalam kondisi ini, yang pertama-tama harus dilakukan adalah
membangkitkan semangatnya. Terapis mensugestikan berbagai
sugesti positif yang bertujuan meningkatkan rasa percaya diri,
motivasi, perasaan diri mampu dan berharga, serta citra diri
positif untuk menyiapkan lahan pikiran bawah sadar sebelum
menanam bibit sugesti positif. Persiapan ini dilakukan dengan
mencabut atau menghilangkan berbagai rumput liar atau tanaman
penganggu/gulma yang telah tumbuh di lahan pikirannya sebelum
menggemburkan tanahnya. Pada sesi berikutnya, terapis memberikan
sugesti yang bertujuan membantu anak keluar dari masalahnya.
Jika kita hendak menghipnoterapi anak, yang kita lakukan
adalah:
Meminta anak menutup matanya.
Menyibukkan pikirannya dengan imajinasi atau visualisasi.
Hal ini bertujuan agar critical factor-nya lengah supaya anak tidak
menjaga gerbang pikiran bawah sadarnya. Untuk itu, kita bisa
http://facebook.com/indonesiapustaka

memintanya untuk membayangkan dirinya sedang menonton acara


ilm kesukaannya, atau mengamati es yang sedang mencair, atau
mengamati pendulum dengan intens.
Memberikan direct suggestion yang sesuai dengan masalahnya.
Ulangi sebanyak empat hingga lima kali.
Meminta anak membuka matanya.
158

Ciri-ciri trance pada anak mirip dengan yang terjadi pada


orang dewasa, yaitu napasnya lebih lambat, tubuhnya lebih
rileks, dan saat matanya tertutup akan ada gerakan mata ke
kiri atau ke kanan. Ini adalah indikasi anak sudah masuk ke
kondisi somnambulisme atau deep trance. Terapis tidak perlu
lagi melakukan deepening, tetapi langsung memberikan direct
suggestion.
Kalaupun Anda kebetulan adalah seorang hipnoterapis
andal yang berpengalaman menerapi banyak anak/klien,
jangan sekali-kali mencoba menerapi anak Anda sendiri.
Dijamin hasilnya tidak akan optimal karena anak Anda tidak
mungkin mau mengungkap masalahnya kepada terapis yang
justru menjadi sumber masalahnya. Ingat, parents can not be
their children therapist!
http://facebook.com/indonesiapustaka
Hypno-Birthing:
Melahirkan dengan Mudah,
Nyaman, dan Menyenangkan

K
awan saya pernah bertanya mengenai hypnobirthing. Inti
dari pertanyaannya adalah apakah benar kaum perempuan
bisa melahirkan tanpa rasa sakit. Apakah hipnosis bisa di-
gunakan untuk membantu mereka melahirkan dengan mudah, nya-
man, dan menyenangkan?
Hypnobirthing adalah gabungan dari dua kata, yaitu hypnosis dan
birthing. Hipnosis adalah penembusan faktor kritis dari pikiran sadar
dan diikuti dengan diterimanya suatu ide atau pemikian. Sedang-
kan birthing artinya persalinan atau melahirkan. Jadi, hypnobirthing
adalah proses persalinan yang menggunakan bantuan kondisi hip-
nosis.
Sebelum menjawab pertanyaan di atas, saya ingin bertanya, “Apa-
kah melahirkan harus selalu dengan rasa sakit?” dan “Mengapa me-
lahirkan umumnya diikuti oleh rasa sakit yang luar biasa?”
Jawaban untuk pertanyaan pertama: “Melahirkan tidak harus di-
http://facebook.com/indonesiapustaka

ikuti dengan rasa sakit.” Untuk pertanyaan kedua, saya perlu menje-
laskan sedikit lebih detail.
Rasa sakit muncul dari hasil programming sejak kecil. Saya yakin,
sejak kecil kaum perempuan pernah mendengar bahwa melahirkan
adalah pengalaman yang begitu menakutkan dan menyakitkan.
Anda mungkin mendengarnya dari orangtua, rekan, media massa,
160

lingkungan, atau melihat di televisi betapa menderita dan sulitnya


proses persalinan.
Saat apa yang Anda dengar dan lihat ini masuk ke dalam pikir-
an bawah sadar Anda, informasi ini menjadi program yang akan
menentukan realitas Anda. Jadi, saat akan melahirkan dan mengalami
kontraksi pertama, program “kalau melahirkan pasti sakit sekali”
langsung bekerja. Dan benar, Anda akan merasakan sakit yang luar
biasa.
Rasa sakit muncul karena Anda merasa tegang dan takut karena
telah mendengar berbagai cerita seram seputar melahirkan. Perasaan
ini selanjutnya membuat jalur lahir (birth canal) menjadi mengeras
dan menyempit. Nah, pada saat kontraksi alamiah mendorong ke-
pala bayi untuk mulai melewati jalur lahir, terjadi resistensi yang
kuat. Semakin tegang dan takut, semakin kaku dan menyempit jalur
lahir. Inilah yang menyebabkan rasa sakit.
Lalu, bagaimana hipnosis bisa membantu hal ini? Mudah saja.
Berikut adalah langkah-langkah yang harus dilakukan untuk me-
lakukan hypnobirthing.
Pertama, hipnoterapis perlu melakukan re-edukasi terhadap calon
ibu. Melahirkan tidak harus dengan rasa sakit. Tubuh perempuan
didesain untuk melahirkan tanpa rasa sakit. Rasa sakit muncul
karena sebab-sebab yang telah dijelaskan di atas.
Di pedalaman China dan beberapa daerah di India, perempuan
bisa melahirkan dengan sangat mudah dan sama sekali tanpa rasa
sakit. Ketika sedang bekerja di sawah dan tiba saat melahirkan, me-
reka hanya perlu berteduh, jongkok sebentar, dan melahirkan dengan
begitu mudah. Bayi keluar bukan karena dorongan tetapi karena ta-
rikan gravitasi bumi. Setelah melahirkan, mereka beristirahat seje-
http://facebook.com/indonesiapustaka

nak, sekitar 5 sampai 10 menit. Setelah itu, mereka kembali bekerja


seperti biasa.
Mengapa mereka bisa seperti itu? Karena inilah realitas persalinan
yang dikenal oleh warga di daerah itu. Inilah “programming” persa-
linan yang mereka dapatkan sejak kecil. Dan persis seperti itulah
yang mereka alami.
Quitters฀Can฀Win 161

Kunci hypnobirthing sebenarnya adalah self hypnosis yang harus


dilakukan oleh perempuan yang akan melahirkan, tentu dengan
bantuan hipnoterapis kompeten agar bisa masuk ke kondisi hipnosis
yang sangat dalam dan mengaktikan program yang di-install oleh si
hipnoterapis saat akan melahirkan.
Setelah berhasil membimbing masuk ke kondisi hipnosis yang
dibutuhkan, hipnoterapis memberikan sugesti bahwa tubuh klien
begitu rileks dan nyaman, seluruh otot-otot tubuh menjadi begitu
lemas dan nyaman. Sugesti tubuh klien yang rileks bertujuan mem-
buat jalur lahir menjadi begitu rileks dan mudah meregang untuk
memberikan jalan keluar bagi bayi. Selanjutnya, hipnoterapis mem-
bimbing klien masuk kondisi esdaile untuk melatih klien meng-
hasilkan anestesi spontan dan natural.
Setelah berhasil melakukan hal itu, hipnoterapis memasang an-
chor dan memberikan posthypnotic suggestion dan meminta klien
untuk berlatih masuk dan keluar dari kondisi deep hypnosis di ru-
mah, minimal 10 kali per hari.
Pada sesi berikutnya, hipnoterapis akan menguji hasil latihan
klien. Bila melakukan latihan dengan benar, klien pasti bisa masuk
dengan sangat cepat dan dalam ke kondisi very deep hynosis dengan
mengaktikan anchor yang telah dipasang.
Hipnoterapis lalu menguji anestesi spontan yang muncul akibat
klien mencapai kondisi esdaile. Anestesi ini terjadi di seluruh tubuh. Jika
lolos uji ini, hipnoterapis melanjutkan dengan melatih klien melokalisir
anestesi yang telah berhasil ia ciptakan, mulai dari persis di bawah lipatan
payudara hingga ke pertengahan paha, antara pangkal paha dan lutut.
Setelah berhasil dibimbing melokalisir anestesi dan diberi beberapa
sugesti tambahan, ia boleh pulang dan berlatih selama satu minggu lagi.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Pada minggu berikutnya, hipnoterapis akan menguji hasil latihan


minggu sebelumnya. Bila berhasil melakukan semua yang diajarkan
dengan sempurna, klien siap melakukan hypnobirthing. Hipnoterapis
selanjutnya memberikan beberapa posthypnotic suggestion yang
berhubungan dengan kecepatan pulih, kapan pendarahan berhenti,
produksi ASI, dan hal-hal lain yang dirasa perlu.
162

Diperlukan anchor untuk mengaktikan program relaksasi karena


kalau sudah panik atau sakit, perempuan akan sangat sulit diminta
rileks. Jadi, untuk mudahnya, begitu mengalami kontraksi pertama,
ia bisa dengan sadar mengaktikan anchor yang telah dipasang dan
telah ia latih sekian lama. Begitu anchor diaktikan, ia akan langsung
masuk ke kondisi relaksasi isik dan pikiran yang begitu dalam,
nyaman, dan menyenangkan.
Pada saat itu, tubuh dan pikirannya siap untuk persalinan. Tubuh
dan jalur lahir yang rileks membuat proses persalinan menjadi begitu
mudah. Anestesi yang telah dilatih dan dilokalisir di antara lipatan
payudara dan paha membuat calon ibu yang akan melahirkan sama
sekali tidak merasakan apa pun di wilayah ini. Dengan demikian, ia
tidak perlu mendorong bayi keluar karena kontraksi alamiah akan
mendorong bayi dengan mudah tanpa harus dipaksa.
Mengacu pada penjelasan saya di atas, prosedur hypnobirthing
harus dilakukan oleh tiga pihak. Pertama, seorang hipnoterapis kom-
peten. Ini dimaksudkan untuk melatih klien masuk kondisi profound
somnambulism dan esdaile. Selanjutnya, hipnoterapis akan melatih
dan memberikan berbagai sugesti pascahipnosis yang sesuai, plus
memasang anchor.
Kedua, klien sendiri. Ia harus bersedia melakukan apa yang di-
ajarkan oleh hipnoterapisnya dan bersedia berlatih di rumah sesuai
program yang telah disusun oleh hipnoterapisnya. Hasil latihan ini-
lah yang nantinya akan digunakan saat melahirkan.
Ketiga, tentu dokter yang membantu proses persalinan.
Pengalaman saya sebagai seorang hipnoterapis menunjukkan
bahwa dibutuhkan pemahaman yang mendalam mengenai cara kerja
pikiran, teknik induksi yang sesuai, cara memasang posthypnotic
http://facebook.com/indonesiapustaka

suggestion, memasang anchor, dan latihan untuk bisa membawa klien


masuk ke dalam kondisi very deep hypnosis. Dan semua ini tidak bisa
dipelajari hanya dalam waktu satu atau dua hari.
Bertanya pada Keheningan

J
udul tulisan ini mungkin terkesan “aneh”. Mengapa bertanya pada
keheningan dan bukan kepada seseorang? Apakah keheningan
bisa memberikan jawaban? Kalau bisa, dari mana jawaban itu
muncul?
Keheningan yang saya maksudkan di sini bukanlah keheningan
malam saat kita semua pulas dalam tidur atau keheningan di puncak
gunung saat kita hanya seorang diri menatap langit malam penuh
bintang. Juga bukan saat berhentinya aktivitas kehidupan. Yang saya
maksudkan adalah keheningan atau ketenangan pikiran yang penuh
ingar bingar.
Untuk lebih memahami apa yang saya tulis di atas, izinkan saya
untuk sekilas menjelaskan soal kesadaran (consciousness). Untuk
memahami kesadaran, ada dua hal yang perlu kita ketahui. Pertama
adalah kondisi kesadaran (state of consciousness), dan kedua adalah
muatan kesadaran (content of consciousness). Kondisi kesadaran di-
http://facebook.com/indonesiapustaka

tentukan oleh pola gelombang otak seseorang pada waktu tertentu.


Kondisi ini dinamis dan bisa berubah setiap saat. Sedangkan muatan
kesadaran adalah isi atau buah pikir (thought) yang muncul bersama-
an atau pada keadaan kesadaran tertentu.
Dengan bantuan teknologi EEG yang telah dimodiikasi untuk
kebutuhan khusus, kini kita bisa melihat secara real time kondisi
164

kesadaran seseorang dengan mengamati komposisi gelombang otak


yang terdiri dari gelombang beta, alfa, theta, dan delta. Beta adalah
gelombang otak yang paling banyak ditemukan saat seseorang da-
lam kondisi sadar. Beta juga dikenal dengan gelombang pikiran sa-
dar. Beta dihasilkan oleh aktivitas berpikir. Kisaran frekuensinya
antara 12–15 Hz. Ada lagi yang disebut dengan High Beta yang
lebih tinggi frekuensinya. Beta yang sangat tinggi berhubungan
dengan kecemasan atau perasaan panik. Orang yang hidupnya lebih
didominasi oleh gelombang beta, khususnya beta yang tinggi, akan
dipenuhi dengan perasaan cemas, takut, dan tidak mampu mem-
fokuskan pikirannya.
Alfa adalah gelombang otak saat kita rileks, melamun, atau ber-
fantasi. Frekuensi alfa berkisar antara 8–12 Hz dan berfungsi sebagai
jembatan penghubung antara pikiran sadar dan pikiran bawah sadar/
nirsadar. Alfa sangat penting karena membuat kita mampu menya-
dari apa yang sedang terjadi dengan diri kita saat dalam kondisi
meditasi yang sangat dalam atau saat bermimpi.
heta adalah gelombang otak yang dihasilkan oleh pikiran bawah
sadar. heta muncul saat kita bermimpi dan pada fase REM (rapid
eye movement). Pikiran bawah sadar punya banyak fungsi, antara lain
sebagai tempat menyimpan memori, emosi, persepsi, kepribadian,
intuisi, dan masih banyak lagi. Muatan pikiran bawah sadar ini ha-
nya bisa diakses bila kita punya kombinasi dan porsi yang tepat dari
frekuensi lainnya. Jadi, jika hanya theta yang aktif dan tidak ada
alfa atau beta, informasi dari pikiran bawah sadar tidak bisa diakses
dan dimengerti. heta juga merupakan frekuensi yang menentukan
level kedalaman meditasi atau kekhusyukan seseorang. Melalui ge-
lombang theta, kita menciptakan dan mengalami hubungan spiritual
http://facebook.com/indonesiapustaka

yang paling kuat, paling dalam, dan berkesan.


Delta adalah gelombang yang paling lambat dan rendah frekuen-
sinya dan merupakan pikiran nirsadar (unconscious). Pada orang
tertentu, gelombang delta mereka sangat aktif walaupun mereka da-
lam kondisi bangun/sadar dan bertindak sebagai radar yang selalu
melakukan scanning. Kemampuan inilah yang mendasari intuisi,
Quitters฀Can฀Win 165

empati, dan insting kita. Melalui gelombang ini, kita bisa mengetahui
kesejatian diri. Delta banyak dijumpai pada orang yang bekerja di
bidang yang berhubungan dengan terapi, misalnya psikiater, psikolog,
dokter, atau siapa saja yang biasa memberikan bantuan pada orang
lain dalam hal yang berhubungan dengan masalah mental, psikologi,
atau emosi. Satu hal yang sangat menarik adalah bahwa gelombang
ini merupakan gerbang untuk mengakses collective unconscious (nir-
sadar kolektif).
Singkat kata, beta memberikan kerangka konseptual dan gambaran
melalui kata-kata yang dengan tepat menentukan pemahaman atas
suatu situasi melalui proses berpikir. Alfa memberikan input sensori
dan gambar pada muatan yang berasal dari pikiran bawah sadar
dan/atau nirsadar. heta menyediakan informasi “orang dalam” atau
kebijaksanaan. Informasi yang berasal dari theta dialami dalam ben-
tuk gambar yang kabur, gelap, kelam, dan buram. Pada saat alfa dan
theta aktif bersamaan, informasi ini akan dimengerti secara men-
dalam dan tampak dalam gambar yang jelas. Delta memberikan
input instingtif dan intuitif yang dipercaya berasal dari Kecerdasan
Universal atau Kecerdasan Koletif.
Lalu, apa hubungan penjelasan saya yang panjang lebar mengenai
gelombang otak dengan judul tulisan ini? Begini, banyak orang ber-
usaha mendapatkan jawaban atas masalah mereka dengan mencari
di luar diri mereka. Padahal, tanpa mereka sadari atau ketahui, jauh
di dalam pikiran mereka, ada “kesadaran” yang mampu memberikan
jawaban yang mereka cari.
Agar dapat mengakses “kesadaran” ini, kita perlu mengerti po-
la gelombang otak. Umumnya, orang mencari jawaban dengan ber-
pikir keras. Ini kurang baik atau kurang tepat karena hanya akan
http://facebook.com/indonesiapustaka

mengaktikan pikiran sadar atau gelombang beta. Yang perlu kita


lakukan adalah memikirkan masalah kita dan selanjutnya membiar-
kan pertanyaan yang berhubungan dengan masalah itu turun dan
masuk ke pikiran bawah sadar atau nirsadar.
Untuk itu, kita perlu menenangkan atau mendiamkan pikiran
sadar kita. Saat kita masuk ke kondisi hening yang pasrah, jawaban
166

yang kita cari akan muncul dari pikiran bawah sadar/nirsadar dan
naik ke pikiran sadar. Dan tiba-tiba, kita akan berkata, “Aha! Saya
tahu jawabannya.” Inilah proses yang terjadi atau dialami seseorang
yang mendapat jawaban saat berdoa atau sholat tahajud.
Proses jawabannya seperti ini. Pertama, pikiran nirsadar akan
memberikan intuisi atau pemahaman yang bersifat nirsadar. Kita
tahu bahwa ada jawaban untuk masalah kita. Namun, kita tidak tahu
apa jawabannya. Selanjutnya, dari pikiran nirsadar (delta), informasi
naik ke pikiran bawah sadar (theta) yang memberikan kita kesadaran
atau pemahaman yang mendalam.
Dari pikiran bawah sadar (theta), informasi ini naik ke jembatan
atau gerbang pikiran bawah sadar, yaitu alfa. Di sini, informasi ini
dibungkus dengan gambar atau sensasi tertentu sehingga dapat dia-
lami atau dirasakan.
Dari alfa, informasi yang telah mengambil bentuk tertentu naik
ke pikiran sadar atau beta. Beta menambahkan pemahaman, penje-
lasan, interpretasi, dan kata-kata. Dan kita akhirnya tahu apa jawaban
yang kita dapatkan. Kita bisa mengolah dan mengingat jawaban ini
dengan pikiran sadar kita.
Anda paham sekarang? Kita mengatur pola gelombang otak
agar bisa masuk ke kondisi kesadaran (state of consciousness) untuk
mengakses muatan kesadaran (content of consciousness) tertentu.
Agar dapat melakukan proses ini dengan mudah, seseorang perlu
menghasilkan keempat jenis gelombang otak (beta-alfa-theta-delta)
secara bersamaan dengan komposisi yang tepat.
Bagaimana caranya? Ada teknik khusus yang bisa kita lakukan
untuk melatih diri. Pertama, kita bisa mengurangi atau menambah
gelombang beta. Selanjutnya, bila alfa kita kurang banyak, kita bisa
http://facebook.com/indonesiapustaka

berlatih untuk meningkatkannya. Demikian juga dengan theta dan


delta. Jadi kita bisa melatih satu gelombang pada waktu tertentu.
Setelah itu, menggabungkannya sesuai kebutuhan.
Pola di mana keempat gelombang otak hadir bersamaan dan
dalam komposisi yang tepat disebut dengan he Awakened Mind
atau Pikiran yang Terbangun. Ini sebenarnya adalah pola gelombang
Quitters฀Can฀Win 167

otak saat seseorang dalam kondisi meditasi atau khusyuk, tetapi ada
beta untuk memproses informasi yang mereka dapatkan dari pikiran
bawah sadar dan nirsadar mereka. Dengan kata lain, informasi dari
“luar” bisa lancar masuk ke “dalam” dan sebaliknya.
Jadi, bila mengerti cara bertanya kepada keheningan, kita sesung-
guhnya bisa mendapatkan jawaban yang luar biasa. Bayangkan, kita
bisa mendapat jawaban baik dari pikiran bawah sadar (Subconscious
mind) maupun dari pikiran nirsadar (unconscious mind) yang mam-
pu mengakses data dari collective unconscious. Inilah yang dimaksud
oleh seorang bijak di zaman dulu ketika berkata, “You do nothing,
you achieve everything.”
http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka
Scientif ic EEG Hypnotherapy

S
aat menyusun tulisan ini, saya sedang seorang diri di kamar hotel
di kota Camarillo, California, mencatat dan merenungkan apa
yang saya pelajari dari salah satu pakar hipnoterapi terkemuka
Amerika. Pelatihan ini berlangsung dua hari dan merupakan private
workshop, one-on-one, di mana saya belajar langsung dengan pakar
EEG Hypnotherapy terbaik dunia, Tom Silver.
Seminggu sebelumnya, selama sembilan hari nonstop, saya bela-
jar langsung, juga secara one-on-one, dari Anna wise, di Berkeley.
Sebagian “oleh-oleh” hasil belajar dengan satu-satunya pakar Mind
Mirror ini saya sampaikan dalam tulisan “Bertanya Kepada Kehe-
ningan” di buku ini.
Saya sangat beruntung karena mendapat kesempatan langka be-
lajar langsung dari Tom Silver pada level Advanced Master Class
yang ia selenggarakan. Dan luar biasanya, teknologi EEG yang saya
pelajari dari Tom adalah teknologi terbaru yang sangat advanced.
Dan yang lebih luar biasa lagi, saya ternyata adalah orang pertama
http://facebook.com/indonesiapustaka

yang mendapat kesempatan belajar tentang teknologi ini dari Tom.


Sungguh saya bersyukur kepada Tuhan atas kesempatan langka
dan luar biasa ini. Selama ini, Tom hanya mendemokan alat ini di
kelas pelatihan hipnoterapinya sebagai tambahan pengetahuan bagi
murid-muridnya tetapi tidak disertiikasi secara khusus sebagai EEG
Hypnotherapist seperti yang ia lakukan pada saya.
170

Advanced Master Class adalah kelas yang khusus diperuntukkan


bagi mereka yang telah terbukti punya jam terbang cukup sebagai
hipnoterapis aktif dan merupakan hipnoterapis lulusan dari lembaga
terkemuka. Di akhir hari kedua, seusai pelatihan, saya mendapat
kejutan. Saya menerima dua sertiikasi sekaligus. Pertama, sertiikasi
di bidang EEG Scientiic and Clinical Hypnotherapy. Kedua, dan
ini benar-benar tidak saya sangka, Tom Silver memberikan sertiikat
keanggotaan sebagai Anggota Kehormatan pertama dari lembaga
Brain Wave Foundation yang baru ia dirikan. Wow, saya sungguh
terharu atas penghargaan dan kepercayaan yang ia berikan kepada
saya.
Nah, Anda sekarang mungkin bertanya-tanya, “Apa beda antara
hipnosis/hipnoterapi konvensional dan Scientiic EEG Hypnotherapy?
Sangat jauh bedanya. Jika orang tidak mengenal Tom Silver sebagai
pakar hipnoterapi, dari apa yang ia sampaikan, orang akan mengira
dirinya sedang berbicara dengan seorang ahli saraf atau dokter. Tom
memang bukan dokter, tetapi ia adalah seorang peneliti yang telah
menggeluti riset EEG Hypnotherapy selama lebih dari 15 tahun.
Selama ini, jika kami, para trainer hipnosis/hipnoterapi, berbicara
tentang trance, teknik yang digunakan untuk mengukur kedalaman
trance biasanya adalah teknik pengujian yang biasa disebut covert
test, dan/atau membaca ciri-ciri tubuh subjek atau klien. Sedangkan
dengan Scientiic EEG Hypnotherapy, kedalaman trance bisa lang-
sung dilihat pada layar komputer melalui pola gelombang otak yang
terdiri dari gelombang beta, alfa, theta, dan delta. Dengan demikian,
kita bisa mendapatkan bukti empiris, bukan hanya hasil reka-reka
atau kira-kira.
Deinisi konvensional tentang hipnosis menurut US Department
http://facebook.com/indonesiapustaka

of Education, Human Services Division adalah the bypass of the critical


factor of the conscious mind and followed by the establishment of acceptable
selective thinking (penembusan faktor kritis pikiran sadar dan diikuti
dengan diterimanya suatu sugesti atau pemikiran tertentu). Sedangkan
menurut Scientiic EEG Hypnotherapy, “All hypnosis is based on magniied
brainwaves frequency and amplitude changes from beta state to delta state
Quitters฀Can฀Win 171

resulting in enhancing and increasing focus, concentration, and receptivity


towards any mental message given to subconscious” (Semua hipnosis
sebenarnya didasarkan pada perubahan frekuensi dan amplitudo
gelombang otak dari kondisi beta ke kondisi delta yang mengakibatkan
meningkatnya fokus, konsentrasi, dan penerimaan terhadap pesan-
pesan mental yang diberikan kepada pikiran bawah sadar).
Ternyata yang disebut dengan trance, secara neurologis, adalah
menurunnya aktivitas dan amplitudo gelombang beta (pikiran sadar)
dan meningkatnya aktivitas dan amplitudo gelombang alfa, theta,
dan delta. Semakin dalam trance yang dialami seseorang, semakin
rendah gelombang otak yang aktif pada suatu saat.
Saat pikiran sadar kita aktif, gelombang otak yang dominan ada-
lah beta yang berkisar antara 14-30 Hz. Saat kita rileks atau light
hypnosis, yang dominan adalah alfa pada kisaran frekuensi 7-13 Hz.
Saat kita turun lebih dalam lagi, masuk ke pikiran bawah sadar, ge-
lombang otak yang dominan adalah theta pada kisaran 4-7 Hz. Dan
pada level deep trance atau somnambulisme, gelombang otak yang
aktif adalah delta yang berkisar antara 0,1-4 Hz.
Wow, ini benar-benar informasi yang luar biasa. Yang lebih dah-
syat lagi, dengan bantuan EEG, kita dapat melihat gelombang otak
subjek/klien pada suatu saat secara real time dan menstimulasi gelom-
bang tertentu sehingga terapi semakin efektif dan permanen. Saat
melakukan terapi dan induksi kepada seorang klien wanita di rumah
Tom, saya bisa melihat langsung bagaimana gelombang otaknya
bergerak dari beta langsung turun dan menjadi sangat tenang, hening,
dan reseptif. Ia langsung masuk ke kondisi gelombang delta yang
sangat dalam atau dikenal dengan level profound somnambulism. Be-
nar-benar luar biasa dan asyik.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Saat memberikan sugesti, saya juga bisa melihat apakah ada re-
sistensi dari pikiran sadarnya. Hal ini tampak dalam aktivitas gelom-
bang beta dan besaran amplitudonya. Ternyata sama sekali tidak ada
penolakan.
Dari proses belajar ini, saya pun menemukan bahwa masuk ke
kondisi alfa sebenarnya sangat mudah. Hanya dengan menutup
172

mata dan merilekskan anggota tubuh tertentu, saat itu juga otak
akan menghasilkan gelombang alfa dalam jumlah besar dan dengan
amplitudo yang tinggi, biasanya pada kisaran frekuensi 10,5 Hz.
Mengapa semakin rendah gelombang otak seseorang, semakin
efektif terapi yang dilakukan? Karena semakin rendah gelombang
otak, pikiran bawah sadar semakin reseptif. Dengan kata lain, semakin
rendah gelombang otak seseorang, semakin dalam trance yang ia
alami dan semakin reseptif pikiran bawah sadarnya terhadap pesan-
pesan mental atau yang biasa kita sebut sugesti. Jadi, sebenarnya
tidak tepat kalau dikatakan seseorang masuk semakin dalam ke
kondisi trance. Yang tepat adalah bahwa pikirannya semakin fokus
dan reseptif menerima pesan mental atau sugesti. Semakin rendah
gelombang otak yang aktif, semakin rendah resistensi terhadap pe-
rubahan.
Dari riset diketahui bahwa setiap gelombang otak ternyata mem-
pengaruhi otak memproduksi dan melepaskan neurotransmitter tertentu,
seperti serotonin, melatonin, dopamin, endorin, dan masih banyak lagi.
Ada satu penemuan menarik yang membuat saya berkata, “Wow,
ini sungguh dahsyat”, yaitu bahwa dengan mengetahui kondisi
gelombang otak subjek/klien, kita dapat menghapus emosi negatif
semudah kita men-delete ile atau program di komputer kita tanpa
perlu mengetahui sumbernya dan klien sama sekali tidak merasakan
emosi itu. Luar biasa, bukan?
Tom Silver mendemonstrasikan teknik ini secara live dan selang-
kah demi selangkah mengajari saya melakukannya dengan benar dan
sempurna. Sebelum melakukan teknik ini, saya belajar tentang dasar
teorinya dengan melihat pola gelombang otak klien secara langsung.
Saat saya mempraktikkan teknik ini untuk mengatasi perasaan tidak
http://facebook.com/indonesiapustaka

percaya diri dan perasaan tidak mampu pada klien di rumah Tom,
hanya dibutuhkan waktu maksimal 10 menit. Sungguh teknik yang
sangat luar biasa dan sekali lagi membuat saya berkata, “Wow, ini
sungguh dahsyat.”
Perasaan seperti itu pernah muncul saat dulu saya pertama kali
belajar tentang hipnoterapi dan bertemu dengan teknik-teknik
Quitters฀Can฀Win 173

terapi yang berkerja dengan dahsyat, cepat, efektif, dan memberikan


hasil yang permanen. Setelah itu, walaupun saya membaca ratusan
buku serta menonton ratusan DVD/video tentang tentang pikiran
dan hipnoterapi, saya tidak pernah lagi mengalami perasaan seperti
itu. Namun, ketika belajar dari Tom, saya menemukan kembali
perasaan itu. Saya menjadi seperti seorang anak kecil yang melompat
kegirangan karena mendapat mainan baru yang sangat didambakan.
Anda bisa melihat foto-foto saya saat belajar bersama Tom di galeri
foto dalam album Scientiic EEG Hypnotherapy.
Pembaca, saya tahu, investasi waktu, pikiran, tenaga, dan biaya
belajar ke Amerika akan benar-benar membuat saya memahami apa
itu hipnosis dan hipnoterapi hingga level neurologis. Saya melakukan
ini karena kecintaan saya pada dunia hipnosis/hipnoterapi dan ber-
harap bisa memajukan hipnoterapi di Indonesia demi kebaikan
orang banyak bersama rekan-rekan trainer lainnya.
Sudah waktunya kita membawa hipnosis/hipnoterapi ke level
yang lebih tinggi, ke level ilmiah dan akademis. Bukan sekadar hip-
nosis seperti yang diajarkan pada zaman Mesmer dulu. Juga bukan
hipnosis/hipnoterapi yang terkesan bernuansa klenik karena diang-
gap berasal dari zaman antah berantah. QHI bersama para alumninya
merasa bahagia dapat memulai langkah besar ini di Indonesia.
Dengan dukungan dari rekan-rekan hipnoterapis lain, kita semua
akan dapat membuat lompatan kuantum yang luar biasa.
http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka
Tentang Penulis

Adi adalah pembelajar sejati di Universitas Kehidupan. Ia dikenal


sebagai pakar mind technology dan transformasi diri yang mempu-
nyai kepedulian tinggi terhadap pendidikan dan pengembangan
potensi manusia secara holistik dan transendental.
Didorong oleh kegelisahan dan keprihatian mendalam untuk
bisa membantu sesamanya Adi terus belajar dan memperdalam
pengetahuannya di bidang yang sangat ia minati yaitu teknologi
pikiran.
Pembelajaran tak kenal lelah yang ia lakukan dengan membaca
sangat banyak literatur, hasil penelitian terkini, dan berbagai jurnal
ilmiah mengenai psikologi dan cara kerja pikiran, yang diintegrasi-
kan dengan pengalamannya melakukan terapi kepada sangat banyak
klien, memberikan Adi pemahaman yang unik dan mendalam
mengenai proses transformasi diri yang hakiki.
Berbagai pemikiran transformatif, pengharapan, impian, ke-
http://facebook.com/indonesiapustaka

rinduan, dan kepedulian yang tulus untuk bisa membantu orang lain
mengembangkan diri dan meraih keberhasilan hidup telah ia tulis
ke dalam berbagai bukunya dan menjadi sumber inspirasi luar biasa
bagi sangat banyak orang.
Adi juga mengajarkan cara untuk melakukan perubahan diri
melalui pelatihan yang dirancang dengan sangat hati-hati sehingga
176 Tentang Penulis

mampu membantu setiap peserta pelatihannya berubah, mengalami


ekspansi, dan peningkatan kesadaran dengan sangat cepat.
Satu impian sederhana yang membuat Adi sangat fokus, terus
belajar, mengembangkan, dan meningkatkan dirinya yaitu ia ingin
menjalani suatu kehidupan yang bermakna bagi dirinya, bagi
keluarganya, dan bagi sesamanya.
Prinsip hidup yang menjadi mercu suar eksplorasi hidup dan
kehidupannya yaitu kebermaknaan hidup dinilai bukan dari berapa
banyak yang bisa ia dapatkan dari kehidupan tetapi berdasarkan
berapa banyak yang bisa ia kembalikan kepada Kehidupan melalui
karya hidupnya.
Selain mengembangkan dan mengajarkan Scientiic EEG
and Clinical Hypnotherapy melalui Quantum Hypnosis
Indonesia Adi juga melakukan penelitian di bidang teknologi
pikiran (neurofeedback) dengan menggunakan peralatan canggih
Brain Wave 1, Mind Mirror, dan DBSA.
Adi adalah orang Indonesia pertama yang dipercaya untuk
meneruskan karya Anna Wise, satu-satunya pakar Mind Mirror di
dunia. Hasil riset Anna Wise selama lebih dari 35 tahun diajarkan
secara private one-on-one kepada Adi.
Selain itu Adi juga mempelajari Scientiic EEG & Clinical
Hypnotherapy langsung ke Tom Silver di Amerika dan mendapat
penghargaan sebagai anggota kehormatan pertama dari Brain Wave
Foundation.
Adi mempelajari dan menguasai antara lain Hipnoterapi, Hypno-
EFT, SMC, NLP, Energy Psychology, dan Scientiic Meditation.
Adi telah menulis empat belas buku best seller yang semuanya
diterbitkan PT. Gramedia Pustaka Utama.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Buku yang telah ditulis dan menjadi best seller:


1. Born to be a Genius
2. Genius Learning Strategy
3. Apakah IQ Anak Bisa Ditingkatkan?
4. Manage Your Mind for Success
Quitters Can Win 177

5. Hypnosis: he Art of Subconscious Communication


6. Becoming a Money Magnet
7. Kesalahan Fatal dalam Mengejar Impian
8. Hypnotherapy: he Art of Subconscious Restructuring
9. Cara Genius Menguasai Tabel Perkalian
10. Kesalahan Fatal dalam Mengejar Impian 2
11. Five Principles to Turn Your Dreams into Reality
12. he Secret of Mindset
13. Quitters Can Win
14. Quantum Life Transformation

Pelatihan yang biasa Adi bawakan:


Scientiic EEG and Clinical Hypnotherapy
Quantum Life Transformation
Quantum Success for Teenagers
he Awakened Mind
Becoming a Money Magnet

Adi menikah dengan Stephanie Rosaline C. dan dikarunia tiga


orang putri, Dyah Ayu Kusumawardani G., Dyah Ayu Kumalasari
G., dan Dyah Ayu Permatasari G.

Berbagai karya dan pemikiran Adi dapat dilihat di:


www.adiwgunawan.com
www.quantum-hypnosis.com
www.QLTI.com
http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka
“Winners never quit and quitters never
win,” kata pelatih sepak bola ternama Amerika. Dan
kebanyakan dari kita sangat yakin akan kebenaran
omongan itu. Tak heran bila perdana menteri Inggris
saat Perang Dunia kedua, Sir Winston Churchill,
juga berkata,“Never, never, never quit.” Siapa yang
menyerah dan berhenti berusaha, dia akan kalah dan
dijuluki pecundang.

Tetapi, benarkah pernyataan itu? Benarkah


winners never quit and quitters never
win? Bagaimana kalau pernyataan itu kita
plesetkan sedikit menjadi, “Quitters can win
if they know the right reasons, the right
way, and the right time to quit.”

Dan itulah yang dilakukan oleh seorang sahabat. Di saat kariernya bersinar seba­
gai seorang konsultan inansial, dia mengundurkan diri dan beralih ke profesi yang
tak ada hubungannya dengan karier yang sudah lebih dari sepuluh tahun dia geluti.
Banyak teman sekantor dan seprofesi menyayangkan hal itu, bahkan ada yang
berkomentar dia bodoh. Ternyata, setelah beberapa tahun berlalu, keputusan itu
justru membuatnya lebih bisa menikmati hidup, lebih bebas… dan lebih sukses.

Jadi, hati­hati dengan keyakinan yang selama ini Anda pegang teguh… Buku ini akan
mengajak kita untuk mempertanyakan dan menyusun kembali berbagai keyakinan
yang tampaknya bagus tapi ternyata menjadi penghambat kesuksesan hidup kita.
Kita akan diajak untuk merenungkan kembali banyak aspek hidup kita:

• Pendidikan (“kekerasan”) yang kita terima atau kita berikan pada anak kita
• Keyakinan kita pada IQ dan implikasinya
• Mengenal suara hati yang sesungguhnya
• 5 jurus pengendalian diri
• Memanfaatkan hipnoterapi semaksimal mungkin
• dll.
http://facebook.com/indonesiapustaka

NONFIKSI/
PENGEMBANGAN DIRI
Penerbit
PT Gramedia Pustaka Utama
Kompas Gramedia Building
Blok I, Lantai 4–5
Jl. Palmerah Barat 29–37
Jakarta 10270
www.gramedia.com

Anda mungkin juga menyukai