Anda di halaman 1dari 40

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Kesehatan reproduksi menurut WHO adalah kesejahteraan fisik, mental

dan sosial yang utuh bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan, dalam

segala aspek yang berhubungan dengan system reproduksi, fungsi serta

prosesnya.Kesehatan reproduksi adalah keadaan sejahtera baik fisik, mental,

sosial, yang utuh dalam segala hal yang berkaitan dengan fungsi, peran dari

sistem reproduksi wanita. Pengetahuan kesehatan reproduksi sebaiknya

dilakukan sejak remaja, karena seseorang akan dapat mengenali kelainan pada

kesehatan reproduksinya sendini mungkin, terutama tentang menstruasi

(Kinanti, 2009).

Cukup banyak ketentuan yang mengatur mengenai perlindungan

kesehatan reproduksi bagi pekerja perempuan, baik dalam konvensi

internasional maupun peraturan perundang-undangan di Indonesia, anatara lain

: Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Againts

Women yang telah diratifikasi dengan UU No. 7 Tahun 1984 (CEDAW), ILO

Convetion No. 183 Year 2000 on Maternity Protection (ILO Convention), UU

No. 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan (UU Ketenagakerjaan), UU

No.39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (UU HAM) dan UU No.36

Tahun 2009 tentang Kesehatan (UU Kesehatan). Menurut pasal 81 UU

Ketenagakerjaan, pekerjaan perempuan yang dalam masa menstruasi

merasakan sakit dan memberitahukan kepada pengusaha, tidak wajib bekerja

pada hari pertama dan kedua pada waktu menstruasi. Pelaksanaan ketentuan

tersebut diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan atau perjanjian

kerja bersama.

Menstruasi adalah perubahan fisiologis pada wanita yang terjadi secara

berkala dan dipengaruhi oleh hormon reproduksi.Periode ini penting dalam hal

reproduksi, biasanya terjadi dalam setiap bulan antara remaja sampai

menopouse (Joseph, 2010). Menstrurasi merupakan siklus yang kompleks dan

berkaitan dengan psikologis-panca indra, korteks cerebri, aksis hipotalamus-


1
hipofisis-ovarial, dan endrogen (uterus- indometrium dan alat seks sekunder)

(Manuaba, 2008).

Angka kejadian nyeri menstruasi (Dismenorea) di dunia sangat

besar.Rata-rata lebih dari 50% perempuan di setiap negara mengalami

Dismenorea. Di Amerika angka presentasenya sekitar 90%, 10 % sampai 15%

tidak bisa beraktifitas dan di Swedia sekitar 72%. Sementara di Indonesia

angkanya diperkirakan 55% perempuan produktif yang mengalami

Dismenorea. Angka kejadian (prevalensi) Dismenorea berkisar 45-95% di

kalangan wanita usia produktif (Misaroh, 2009).Adapun pendapat lain tentang

nyeri menstruasi yang terjadi di Indonesia 60-70% dengan 15% diantaranya

mengeluh bahwa aktifitas mereka menjadi terbatas akibat nyeri pada

menstruasi(glasier, 2005). Di Indonesia angka kejadian dismenorea sebesar

64.25% yang terdiri dari 54.89% dismenorea primer dan 9.36% dismenorea

sekunder.

Peran bidan salah satunya untuk masalah gangguan reproduksi terutama

pada dismenorea primer dalam upaya pencegahan dan penanganan gangguan

reproduksi bidan merupakan fasilitator dalam mempromosikan kesehatan

misalnya adanya penyuluhan mengenai menstruasi pada remaja dan nyeri yang

timbul saat menstruasi atau disebut juga Dismenorea. Bidan memberikan

pelayanan yang berkesinambungan dan paripurna , berfokus pada aspek

pencegahan, penanganan dan promosi kesehatan dengan berlandasan

kemitraan dan pemberdayaan masyarakat bersama-sama dengan tenaga

kesehatan lainnya untuk senantiasa siap melayani siapa saja yang

membutuhkan pertolongan kapanpun dan dimanapun dia berada.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Dapat melaksanakan dan mengaaplikasikan secara langsung Asuhan
Kebidanan Pranikah di Puskesmas Tambakrejo Kecamatan Jombang
Kabupaten Jombang Tahun 2019
1.2.2 Tujuan Khusus
1. Dapat melakukan Pengkajian Data, baik Subjektif maupun Data obyektif
pada Pranikah di Puskesmas Tambakrejo Kecamatan Jombang Kabupaten
Jombang Tahun 2019.
2. Dapat Merumuskan Diagnose pada Pranikah di Puskesmas Tambakrejo
Kecamatan Jombang Kabupaten Jombang Tahun 2019
3. Dapat Membuat Perencanaan yang sesuai pada Pranikah di Puskesmas
Tambakrejo Kecamatan Jombang Kabupaten Jombang Tahun 2019
4. Dapat Melaksanakan Asuhan Kebidanan pada Pranikah di Puskesmas
Tambakrejo Kecamatan Jombang Kabupaten Jombang Tahun 2019
5. Dapat melakukan Pencatatan Asuhan Kebidanan pada Pranikah dan di
Puskesmas Tambakrejo Kecamatan Jombang Kabupaten Jombang Tahun
2019
1.3 Manfaat
1.3.1 Manfaat Teoritis
1. Dapat meningkatkan pengetahuan, ketrampilan, dan pengalaman secara
langsung sekaligus penanganan dalam menerapkan ilmu yang diperoleh
selama di akademik, serta menmbah wawasan dalam penerapan proses
manajemen Asuhan Kebidanan Pranikah.

1.3.2 Manfaat Praktis


1. Manfaat bagi Puskesmas
Sebagai bahan informasi dan masukan bagi bidan untuk
meningkatkan kualitas pelayanan sehingga dapat memberikan pelayanan
yang aktual,baik dan komprehensif.
2. Manfaat Institusi Kesehatan
Berguna bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan sebagai
tambahan pengetahuan serta informasi dan sebagai bahan masukan institusi
pendidikan dalam penerapan proses manajemen Asuhan Kebidanan
Pranikah dan Pra Konsepsi.
3. Manfaat Bagi Penulis
Menerapkan secara langsung ilmu yang didapat selama di instansi
mengenai manajemen Asuhan Kebidanan Pranikah dan Pra Konsepsi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Menstruasi

2.1.1 Pengertian Menstruasi

Menstruasi adalah perubahan secara fisiologis pada wanita secara

berkala dan dipengaruhi oleh hormone reproduksi.Periode ini penting dalam

hal reproduksi, biasanya terjadi setiap bulan antara remaja sampai menopose

(Nugroho, 2010). Menstruasi adalah pengeluaran darah dan sel-sel tubuh dari

vagina yang berasal dari dinding rahim perempuan secara periodik

(Wulandari, 2011).

Menstruasi merupakan bagian dari proses regular yang mempersiapkan

tubuh wanita setiap bulannya untuk kehamilan. Daur ini melibatkan beberapa

tahap yang dikendalikan oleh interaksi hormone yang dikeluarkan oleh

hipotalamus, kelenjar dibawah otak depan dan indung telur. Pada permulaan

daur, lapisan sel rahim mulai berkembang dan menebal.Lapisan ini berperan

sebagai penyongkong bagi janin yang sedang tumbuh bila seorang wanita

tersebut hamil. Hormone memberi sinyal pada telur di dalam indung telur

untuk mulai berkembang. Kemudian, sebuah telur dilepaskan dari indung

telur wanita dan mulai bergerak menuju tuba falopi terus ke rahim. Bila telur

tidak dibuahi oleh sperma, lapisan rahim akan berpisah dari dinding uterus

dan mulai luruh serta dikeluarkan melalui vagina. Periode pengeluaran darah

dikenal dengan periode menstruasi, berlangsung tiga sampai tujuh hari.

Pada waktu menstruasi terjadi pengelupasan dinding rahim

(endometrium), lapisan yang terkelupas akan digantikan oleh lapisan baru

setelah masa menstruasi berhenti. Sekitar 14 hari sebelum menstruasi

berikutnya, lapisan permukaan rongga rahim kembali sempurna yang artinya

rahim dalam kondisi subur dan siap menerima calon janin dan menjadi tempat

kehamilan pada siklus menstruasi bulan berikutnya. Selain itu terjadi pula

pematangan sel telur yang dipengaruhi oleh hormone progesterone.

Menstruasi adalah proses alami yang datang secara berulang setiap


bulan pada wanita dari masa pubertas hingga menjelang menopause.

Kedatangan menstruasi secara berulang setiap bulannyadisebut siklus

menstruasi, normalnya siklus menstruasi adalah 28 hari.Namun, ada beberapa

wanita yang mengalami siklus menstruasi tidak teratur.Siklus menstruasi

yang beragam selain dipengaruhi faktor fisik dan kejiwaan, dipengaruhi juga

oleh hormone yang diproduksi tubuh wanita seperti Luteinizing Hormone

(LH), Follicle Stimulating Hormone (FSH) dan estrogen.

Menstruasi merupakan proses biologis yang terkait dengan pencapaian

kematangan seks, kesuburan, ketidakhamilan, normalitas, kesehatan tubuh,

dan bahkan pembaharuan tubuh itu sendiri. Menstruasi merupakan salah satu

ciri kedewasaan perempuan. Menstruasi biasanya diawali pada usia remaja 9-

12 tahun tapi tidak menutup kemungkinan juga menstruasi dialami

perempuan lebih lambat yaitu 13-15 tahun. Baligh merupakan istilah dalam

hukum Islam yang menunjukkan seseorang telah mencapai

kedewasaan."Baligh" diambil dari kata bahasa Arab yang secara bahasa

memiliki arti "sampai", maksudnya "telah sampainya usia seseorang pada

tahap kedewasaan". Secara hukum Islam, seseorang dapat dikatakan baligh

apabila :

a. Mengetahui, memahami dan mampu membedakan mana yang baik dan

mana yang buruk.

b. Telah mencapai usia 15 tahun ke atas atau sudah mengalami mimpi basah

(bagi laki-laki).

c. Telah mencapai usia 9 tahun ke atas atau sudah mengalami “menstruasi”

(bagi perempuan).

a. Siklus Menstruasi

Siklus menstruasi berkaitan dengan pembentukan sel telur dan

pembentukan endometrium. Lamanya siklus menstruasiyang normal adalah

28 hari, tetapi banyak wanita yang mengalami siklus menstruasi tidak teratur.

Siklus ini dikendalikan oleh hormone-hormone reproduksi yang dihasilkan


oleh hipotalamus, hipofisis dan ovarium.Fase dalam siklus menstruasi, yaitu :

a. Fase Folikel

Pada akhir siklus menstruasi, hipotalamus mengeluarkan hormone

gonadotropin. Hormone ini akan merangsang hipofisis untuk melepaskan

FSH (Follicle Stimulating Hormone) atau hormone pemicu pertumbuhan

folikel. Pada awal siklus berikutnya pada hari 1-14, folikel akan

melanjutkan perkembangannya karena pengaruh FSH dalam ovarium.

Setelah itu terbentuklah folikel yang sudah masak (folikel degraaf) dan

menghasilkan hormone esterogen yang berfungsi menumbuhkan

endometrium dinding rahim dan memicu sekresi lendir.

b. Fase Estrus

Kenaikan estrogen digunakan untuk mempertahankan pertumbuhan dan

merangsang terjadinya pembelahan sel endometrium uterus. Selain itu

berperan dalam menghambat pembentukan FSH oleh hipofisis untuk

menghasilkan LH (Luteinizing Hormone) yang berperan untuk

merangsang folikel degraaf yang telah masak untuk melakukan ovulasi

dari ovarium.Ovulasi umumnya berlangsung pada hari ke 14 dari siklus

menstruasi. Biasanya pada setiap ovulasi dihasilkan satu oosit sekunder.

c. Fase Luteal

LH merangsang folikel yang telah kosong guna membentuk corpus atau

uteum (badan kuning). Selanjutnya corpus ini menghasilkan progestron

yang mengakibatkan endometrium berkembang tebal dan lembut serta

banyak pembuluh darah. Selama 10 hari setelah ovulasi, progesterone

berfungsi mempersiapkan uterus untuk kemungkinan hamil.Uterus pada

tahap ini siap menerima dan memberi sel telur yang telah dibuahi (zigot).

Jika tidak terjadi fertilisasi corpus luteum berubah menjadi corpus

albicans dan berhenti menghasilkan progesterone.

d. Fase Menstruasi

Apabila fertilisasi tidak terjadi, produksi progesterone mulai menurun

pada hari ke 26.Corpus luteum berdegenerasi dan lapisan uterus bersama


dinding dalam rahim luruh (mengelupas) pada hari ke 28 sehingga terjadi

pendarahan.Biasanya menstruasi berlangsung selama 7 hari.Setelah itu

dinding uterus pulih kembali. Selanjutnya karena tidak ada lagi

progesterone yang dibentuk maka FSH dibentuk lagi kemudian terjadi

proses oogenesisdan menstruasi mulai kembali. Siklus menstruasiakan

berhenti jika terjadi kehamilan.

Namun, ada yang menyebutkan bahwa pada setiap siklus dikenal dengan

masa utama, yaitu:

1) Masa haid selama 2-8 hari

pada waktu itu endometrium di lepas, sedangkan pengeluaran hormone

ovarium paling rendah (minimium).

2) Masa proliferasi sampai hari ke 14

Endometrium tumbuh kembali, disebut juga endometrium melakukan

proliferasi.Antara hari ke 12 sampai ke 14 dapat terjadi pelepasan

ovum dari ovarium yang di sebut ovulasi.

3) Masa sekresi

Terjadi perubahan dari corpus rubrum menjadi corpus luteum yang

mengeluarkan progesterone. Dibawah pengaruh progesterone ini,

kelenjar endometrium yang tumbuh berkelok kelok mulai bersekresi

dan mengeluarkan getah yang mengandung glikogen dan lemak.Pada

akhir masa ini stroma endometrium berubah ke arah sel sel desidua,

terutama yang berada di seputar pembuluh pembuluh arteria.Keadaan

ini memudahkan ada nidasi (menempelnya ovum pada dinding rahim

setelah di dibuahi).

b. Infeksi Selama Menstruasi

Setiap wanita akan mengalami ketidaknyamanan fisik selama proses

pembuangan dari dalam rahim yang lebih sering dikenal dengan proses

menstruasi. Menstruasi merupakan proses yang dialami tubuh dalam

mempersiapkan diri untuk produktifitas selanjutnya. Proses menstruasi yang

teratur adalah tanda utama kesehatan dan kesuburan produktifitas pada


wanita.

Gejala umum infeksi bakteria yang sering dijumpai selama menstruasi :

 Demam
 Radang pada permukaan vagina
 Gatal-gatal pada kulit
 Radang vagina
 Radang servik
 Radang selaput rahim
 Keputihan
 Rasa panas atau sakit pada bagian bawah perut
 Mual, sering buang air kecil, rasa sakit saat buang air kecil, sakit pada
pinggang atau nyeri dan kelelahan.

Kesalahan yang kerap dilakukan pada saat pemakaian pembalut yaitu :

 Membuka dan memasang pembalut tanpa cuci tangan terlebih dahulu


 Menyimpan pembalut ditempat yang lembab
 Menggunakan pembalut yang kadarluasa
 Pemilihan pembalut tanpa mempertimbangkan kualitasnya
 Pemakaian pembalut yang terlalu lama

c. Dismenore
a. Pengertian Dismenorea

Nyeri menstruasi sering terjadi selama periode menstruasi, biasanya

terjadi setelah ovulasi sampai akhir menstruasi.Nyeri menstruasi kebanyakan

terjadi di wilayah perut bagian bawah baik secara terpusat atau pada samping

dan dapat menyebar ke paha atau punggung bagian bawah.Rasa sakit,

cenderung mereda secara bertahap sampai masa menstruasi berakhir.

Pada bagian awal dari siklus menstruasi tubuh wanita secara bertahap

mempersiapkan dinding rahim untuk kehamilan dengan proses penebalan

lapisan dalam rahim. Setelah ovulasi jika pembuahan tidak terjadi, lapisan

dalam tersebut akan dikeluarkan dari tubuh melalui menstruasi. Selama

proses ini jaringan akan mengalami kerusakan dari memproduksi senyawa

kimia prostaglandin, yang menyebabkan dinding otot rahim berkontraksi ini

membantu untuk membersihkan jaringan dari rahim melalui vagina dalam

bentuk aliran menstruasi. Namun kontraksi ini cenderung untuk membuat

pembuluh darah dari rahim menyempit, sehingga mengurangi pasokan

oksigen kerahim, dan ini mengakibatkan rasa sakit yang luar biasa seperti

kram saat menstruasi.Rasa nyeri saat menstruasi cenderung berkurang


dengan bertambahnya umur dan juga anak yang dilahirkan.Namun, ketika

rasa nyeri menstruasi terjadi secara berlebihan dan menyakitkan atau

mengganggu kegiatan sehari-sehari seorang wanita, maka terjadi tidak

normal dan secara medis disebut secara dismenorea.

Ada beberapa pendapat tentang pengertian Dismenorea, antara lain:

 Dismenorea merupakan rasa nyeri yang hebat yang dapat mengganggu

aktivitas sehari-hari (Wijayanti, 2009).

 Dismenorea adalah nyeri menstruasi yang memaksa wanita untuk

istirahat atau berakibat pada menurunnya kinerja dan berkurangnya

aktifitas sehari-hari. Istilah Dismenorea (dysmenorrhoea) berasal dari

bahasa “Greek” yaitu dys (gangguan atau nyeri hebat/ abnormalitas),

meno (bulan) dan rrhoea yang artinya flow (aliran). Jadi Dismenorea

adalah gangguan aliran darah menstruasi atau nyeri menstruasi

(Misaroh, 2009).

 Dismenorea menurut Manuaba (2008) adalah rasa sakit yang menyertai

menstruasi sehingga dapat menimbulkan gangguan pekerjaan sehari-

hari. Derajat rasa nyerinya bervariasi, diantaranya :

1. Ringan : Berlangsung beberapa saat dan masih dapat meneruskan

aktivitas sehari-hari.

2. Sedang : Sakit yang dirasakan memerlukan obat untuk menurunkan

derajat sakitnya, tetapi masih bisa dilakukan untuk meneruskan

aktivitas sehari-hari.

3. Berat : Rasa nyeri yang dirasakan demikian berat, sehingga

memerlukan istirahat dan pengobatan untuk menghilangkan rasa

nyerinya.

b. Klasifikasi

Berdasarkan jenis nyerinya, dismenorea terbagi menjadi :

i. Dismenorea spasmodic

Dismenorea spasmodik yaitu nyeri yang dirasakan dibagian

bawah perut dan berawal sebelum masa menstruasi atau segera setelah
masa menstruasi mulai.Beberapa wanita yang mengalami dismenorea

spasmodik merasa sangat mual, muntah bahkan pingsan. Kebanyakan

yang menderita dismenorea jenis ini adalah wanita muda, akan tetapi

dijumpai pula kalangan wanita berusia di atas 40 tahun yang

mengalaminya.

ii. Dismenorea kongestif

Dismenorea kongestif yaitu nyeri menstruasi yang dirasakan

sejak beberapa hari sebelum datangnya menstruasi.Gejala ini disertai sakit

pada buah dada, perut kembung, sakit kepala, sakit punggung, mudah

tersinggung, gangguan tidur dan muncul memar di paha dan lengan

atas.Gejala tersebut berlangsung antara dua atau tiga hari sampai kurang

dari dua minggu sebelum datangnya menstruasi.

Secara klinis dismenorea dibagi menjadi dua, yaitu dismenorea

Primer dan dismenorea sekunder diterangkan sebagai berikut :

1. Dismenorea Primer

Dismenorea primer adalah nyeri menstruasi yang terjadi tanpa

kelainan anatomis alat kelamin.Terjadi pada usia remaja, dan dalam 2-5

tahun setelah pertama kali menstruasi (menarche) nyeri sering timbul

segera setelah mulai menstruasi teratur. Nyeri sering terasa sebagai

kejang uterus, spastik, dan sering disertai mual, muntah, diare,

kelelahan, dan nyeri kepala (Manuaba, 2009).

Nyeri menstruasi primer timbul sejak menstruasi pertama dan

akan pulih sendiri dengan berjalannya waktu. Tepatnya saat lebih

stabilnya hormon tubuh atau perubahan posisi rahim setelah menikah

dan melahirkan.Nyeri menstruasi ini normal, namun dapat berlebihan

bila dipengaruhi oleh faktor psikis, dan fisik seperti stres, shock,

penyempitan pembuluh darah, penyakit menahun, kurang darah, dan

kondisi tubuh yang menurun.Gejala ini tidak membahayakan kesehatan

(Wijayanti, 2009).

2. Dismenorea Sekunder
Dismenorea sekunder adalah nyeri menstruasi yang

berhubungan dengan kelainan anatomis ini kemungkinan adalah

menstruasi disertai infeksi, endometriosis, kloaka uteri, polip

endometrial, polip serviks, pemakaian IUD atau AKDR. Nyeri

menstruasi sekunder biasanya baru muncul kemudian, jika ada penyakit

atau kelainan yang menetap seperti infeksi rahim, kista/polip, tumor

disekitar kandungan kelainan kedudukan rahim yang dapat

mengganggu organ dan jaringan disekitarnya (Wijayanti, 2009).

Dismenorea sekunder lebih sering ditemukan pada usia tua, dan

setelah 2 tahun mengalami siklus menstruasiteratur. Nyeri dimulai saat

menstruasi dan meningkat bersamaan dengan keluarnya darah

menstruasi.Sering diketemukan kelainan ginekologik atau organik

seperti endometriosis dan adenomiosis, uterus miomatosus, penyakit

radang panggul dan polip endometrium.

Dismenorea sekunder merupakan rasa nyeri yang terjadi saat

menstruasi berkaitan dengan kelainan anatomis uterus biasa terjadi

pada pemakai IUD/AKDR. Diantara sebab-sebab kelainan anatomis

yang perlu diketahui oleh bidan adalah kemungkinan endometriosis,

kemungkinan stenosis kanalis serviks uteri, kemungkinan retrofleksia

uteri, kemugkinan terdapat polip endometrium atau polip miomatik

(Manuaba, 2009).

c. Manifestasi klinis dismenorea primer dan sekunder adalah:

i. Dismenorea Primer

1. Pada usia muda

2. Terjadi saat siklus ovulasi

3. Biasanya muncul dalam setahun setelah menarche (mentruasi pertama)

4. Nyeri dimulai bersamaan atau hanya sesaat sebelum menstruasi dan

bertahan ataumenetap selam 1-2 hari.

5. Nyeri menyebar kebagian belakang (punggung) atau anterior medial

paha
6. Pemeriksaan pelvic normal

7. Sering disertai sakit kepala,mual,muntah dan diare.

8. Nyeri sering terasa sebagai kejang uterus yang spatik.

9. Cepat memberikan respon terhadap pengobatan medikamentosa.

ii. Dismenorea sekunder

1. Lebih sering ditemukan pada usia tua

2. Cenderung mulai setelah 2 tahun mengalami siklus menstruasi teratur

3. Nyeri dimulai saat menstruasi dan meningkat bersamaan dengan

keluarnya darah menstruasi.

4. Nyeri sering terasa terus - menerus

5. Sering ditemukan kelainan pelvic.

6. Pengobatanya sering kali memerlukan tindakan operatif

d. Tanda-tanda klinik

Tanda –tanda klinik dismenorea primer dan sekunder :

i. Tanda-tanda dismenorea primer

Permulaan awal sembilan puluh persen mengalami gejala didalam

2 tahun menarche. Lama berlangsungnya dan jenis nyeri dismenorea

dimulai beberapa jam sebelumnya atau segera setelah permulaan

menstruasi dan biasanya berlangsung setelah 48-72 jam, gejala yang

menyertai yakni mual, muntah, rasa lelah, diare, nyeri pinggang bawah

,nyeri kepala. Nyerinya seperti kejang dan biasanya paling kuat pada

perut bawah dan dapat menyebar ke punggung atau paha sebelah dalam.

ii. Tanda-tanda dismenorea sekunder

Dismenorea sekunder tidak terbatas pada menstruasi, kurang

berhubungan dengan hari pertama menstruasi, terjadi pada wanita yang

lebih tua dan dapat disertai dengan gejala yang lain (dispareunia,

kemandulan, perdarahan yang abnormal).

e. Faktor-faktor yang mempengaruhi dismenorea

Faktor-faktor ini termasuk usia yang lebih muda, massa tubuh rendah

index (BMI), merokok, menarche awal, lama atau menyimpang aliran


menstruasi, keluhan somatik perimenstrual, panggul infeksi, sterilisasi

sebelumnya, somatisasi, gangguan psikologis, pengaruh genetik, dan sejarah

kekerasan seksual yang mempengaruhi prevalensi dan beratnya dismenorea.

Masalah emosi dan perilaku juga dapat memperburuk siklus menstruasi dan

masalah dismenorea.Misalnya, depresi atau gejala kecemasan dapat

berdampak pada siklus menstruasi,fungsi dan dismenorea (Alaettin, 2010).

Beberapa faktor memegang peranan sebagai penyebab dismenorea

antara lain :

i. Faktor kejiwaan

Faktor etiologi yang bertanggung jawab untuk dismenorea primer

diantaranya faktor psikogenik. Pada gadis-gadis yang secara emosionalnya

tidak stabil, apalagi jika mereka tidak mendapat penanganan baik tentang

proses menstruasi yangmudah menimbulkan dismenorea. Kecemasan juga

dapat terjadi saat menghadapi menstruasi sehingga mudah timbul

dismenorea.

Dismenorea sebagai salah satu gangguan menstruasi sangat erat

hubungannya dengan proses psikologis yang terjadi dalam siklus

menstruasi pada wanita, hal ini dipengaruhi oleh bagaimana seseorang

wanita menyikapi datangnya menstruasi. Bagi remaja terutama yang baru

mengalami menstruasi, menganggap bahwa menstruasi merupakan suatu

perubahan yang luar biasa yang terjadi pada kehidupannya, sehingga

menimbulkan kecemasan yang luar biasa.

Dismenorea primer banyak dialami oleh remaja yang sedang

mengalami tahap pertumbuhan dan perkembangan baik fisik maupun

psikis.Ketidaksiapan remaja putri dalam menghadapi perkembangan dan

pertumbuhan pada dirinya tersebut, mengakibatkan gangguan psikis yang

akhirnya menyebabkan gangguan fisiknya, misalnya gangguan menstruasi

seperti dismenorea.

Pengalaman tidak menyenangkan pada seorang gadis terhadap

peristiwa menstruasinya menimbulkan beberapa tingkah laku patologis.


Pada umumnya mereka akan diliputi kecemasan sebagai bentuk penolakan

pada fungsi fisik dan psikisnya. Apabila keadaan ini terus berlanjut, maka

mengakibatkan gangguan menstruasi.Gangguan menstruasi yang banyak

dialami adalah kesakitan pada saat menstruasi yang bersifat khas, yaitu

nyeri menstruasi atau dismenorea (Kartono, 2006).

ii. Faktor konstitusi

Faktor ini erat hubungannya dengan faktor diatas , dapat juga

menurunkan ketahanan terhadap rasa nyeri. Faktor-faktor seperti anemia,

penyakit menurun, dan sebagainya dapat mempengaruhi timbulnya

dismenorea.

1. Anemia

Anemia adalah defisiensi eritrosit atau hemoglobin atau dapat

keduanya hingga menyebabkan kemampuan mengangkut oksigen

berkurang.Sebagian besar penyebab anemia adalah kekurangan zat besi

yang diperlukan untuk pembentukan hemoglobin, sehingga disebut

anemia kekurangan zat besi.Kekurangan zat besi ini dapat

menimbulkan gangguan atau hambatan pada pertumbuhan baik sel

tubuh maupun sel otak dan dapat menurunkan daya tahan tubuh

seseorang, termasuk daya tahan tubuh terhadap rasa nyeri.

2. Penyakit menahun

Penyakit menahun yang diderita seorang wanita akan

menyebabkan tubuh kehilangan terhadap suatu penyakit atau terhadap

rasa nyeri. Penyakit yang termasuk penyakit menahun dalam hal ini

adalah asma dan migraine.Faktor –faktor ini (anemia, penyakit

menahun dan sebagainya) dapat mempengaruhi timbulnya dismenorea

karena dapat menurunkan ketahanan tubuh terhadap rasa nyeri.

3. Usia menarche

Menarche adalah menstruasi yang pertama kali datang. Gejala

pemasakan seksual pada wanita lebih nyata, yaitu datangnya menarche

atau menstruasi pertama, meskipun masih sangat sedikit untuk


mencapai kemasakan yang sempurna (untuk mencapai pembuahan)

memakan waktu sekitar 1-1,5 tahun. Menstruasiakan dirasakan sebagai

beban berat atau dirasakan sebagai tugas yang tidak menyenangkan dan

menimbulkan rasa enggan dan dirasa sebagai aib bagi gadis tersebut

sehingga mempengaruhi kondisi kejiwaan dan akan mempengaruhi

terjadinya dismenorea.

4. Faktor genetik

Hampir 30 % wanita yang mengalami dismenorea adalah anak

gadis yang ibunya dulu juga mengalami dismenorea sebanyak 7%

wanita juga mengeluhkan hal yang sama meskipun ibu wanita tersebut

dulunya tidak mengalami dismenorea.

iii. Faktor obstruksi kanalis servikalis

Terjadinya dismenorea primer adalah stenosis kanalis servikalis. Pada

wanita dengan uterus dalam hiperantefleksi mungkin dapat terjadi stenosis

kanalis servikalis, akan tetapi hal ini sekarang tidak dianggap sebagai

penyebab dismenorea. Banyak wanita menderita dismenorea tanpa stenosis

kanalis dan tanpa uterus dalam hiperantefleksi.Akan tetapi banyakterdapat

wanita juga dengan tanpa keluhan dismenorea, walaupun ada stenosis

servikalis dan uterus terletak dalam hiperantefleksi atau hiperretrofleksi.

Mioma submukosus bertangkai atau polip endometrium dapat

menyebabkan dismenorea karena otot-otot uterus berkontraksi keras dalam

usaha untuk mengeluarkan kelainan tersebut.

iv. Faktor endokrin

Pada umumnya ada anggapan bahwa kejang yang terjadi pada

dismenorea primer disebabkan oleh kontraksi uterus yang

berlebihan.Faktor endokrin mempunyai hubungan dengan soal tanus dan

kontraktilitas otot usus. Novak dan Reynolds yang melakukan penelitian

pada uterus berkesimpulan bahwa hormon esterogen merangsang

kontraktilitas uterus, sedang progesteron menghambat atau mencegahnya.

Tetapi teori ini tidak dapat menerangkan fakta mengapa timbul rasa nyeri
pada perdarahan disfungsional anovulator, yang biasanya dengan

bersamaan dengan kadar esterogen yang berlebihan tanpa adanya

progesteron.Jika jumlah prostaglandin yang berlebihan dilepaskan kedalam

peredaran darah, maka selain dismenorea, dijumpai pula efek umum,

seperti diare, nausea, muntah, flushing.

v. Faktor alergi

Teori ini dikemukakan setelah memperhatikan adanya asosiasi

faktor dismenorea dengan urtikaria, migraine atau asma brokhiale.Smith

menduga bahwa sebab alergi adalah toksin menstruasi.Penyelidikan dalam

tahun-tahun terakhir menunjukan bahwa peningkatan kadar prostaglandin

memegang peranan penting dalam etiologi dismenorea primer.Satu jenis

dismenorea yang jarang terdapat ialah yang pada waktu menstruasi tidak

mengeluarkan endometrium dalam fragmen-fragmen kecil, melainkan

dalam keseluruhannya.Pengeluaran tersebut disertai dengan rasa nyeri

kejang yang keras.Dismenorea demikian itu dinamakan dismenorea

membranasea.Keterangan yang lazim diberikan ialah bahwa korpus luteum

mengeluarkan progesteron yang berlebihan, yang menyebabkan

endometrium menjadi desidua yang tebal dan kompak desidua cast

sehingga sukar dihancurkan.

vi. Faktor pengetahuan

Dalam beberapa penelitian juga disebutkan bahwa dismenorea yang

timbul pada remaja putri merupakan dampak dari kurang pengetahuannya

mereka tentang dismenorea.Terlebih jika mereka tidak mendapatkan

informasi tersebut sejak dini.Mereka yang memiliki informasi kurang

menganggap bahwa keadaan itu sebagai permasalahan yang dapat

menyulitkan mereka. Mereka tidak siap dalam menghadapi menstruasi

dan segala hal yang akan dialami oleh remaja putri. Akhirnya kecemasan

melanda mereka dan mengakibatkan penurunan terhadap ambang nyeri

yang pada akhirnya membuat nyeri menstruasi menjadi lebih

berat.Penanganan yang kurang tepat membuat remaja putri selalu


mengalaminya setiap siklus menstruasinya (Kartono, 2006).

vii. Status gizi dan Olah raga

Status gizi merupakan bagian penting dari kesehatan

seseorang. Gizi kurang selain akan mempengaruhi pertumbuhan, fungsi

organ tubuh juga akan menyebabkan terganggunya fungsi reproduksi. Hal

ini berdampak pada gangguanmenstruasi termasuk dismenorea,tetapi akan

membaik bila asupan nutrisinya baik, semakin tinggi status gizi maka

semakin rendah keluhan dismenore. Tindakan terbaik untuk mengatasi

nyeri mesntruasi adalah menjaga pola hidup sehat dengan asupan vitamin

dan gizi seimbang, istirahat yang cukup, olahraga secara teratur serta

menjaga kondisi psikologis tetap baik. Untuk meningkatkan asupan

vitamin dan gizi misalnya, dapat dilakukan dengan mengkonsumsi vitamin

atau suplemen. Konsumsi vitamin B sangat dianjurkan untuk mengatasi

nyeri menstruasi. Vitamin B6 membantu pembentukan sel darah merah

serta mempertahankan kesehatan sistem syaraf. Vitamin B12, berperan

dalam pembentukan sel darah merah sehingga mencegah anemia, selain itu

vitamin B5 juga diketahui dapat mengurangi stres. Menjaga pola makan

yang sehat dapat mengurangi nyeri menstruasi. Karena beberapa dari

makanan yang kita konsumsi sehari-hari dapat mengurangi atau

memperparah nyeri saat menstruasi terjadi. Perbanyaklah konsumsi sayur

dan buah-buahan, hindari makanan yang mengandung bahan pengawet

(Purwaningsih, 2010).

Rasa sakit yang dirasakan masing-masing orang tentu berbeda, hal

ini salah satunya adalah dipengaruhi oleh faktor yang mempengaruhi nyeri

itu sendiri yang diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi nyeri : Usia, jenis kelamin,

budaya, pengetahuan tentang nyeri dan penyebabnya, makna nyeri,

perhatian klien, tingkat kecemasan, tingkat stress, tingkat energy,

pengalaman sebelumnya, pola koping, dukungan keluarga dan sosial.

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi toleransi nyeri


a. Faktor yang meningkatkan toleransi terhadap nyeri seperti alkohol,

obat-obatan, hypnosis, gesekan, garukan, pengalihan perhatian,

kepercayaan yang kuat.

b. Faktor-faktor yang menurunkan toleransi terhadap nyeri adalah

marah, kebosanan, depresi, kecemasan, nyeri kronis,

sakit/penderitaan.

f. Patofisiologi

i. Dismenorea Primer

Selama menstruasi, sel-sel endometrium yang terkelupas

(Sloughing endometrial cells) melepaskan prostaglandin, yang

menyebabkan iskemia uterus melalui kontraksi miometrium dan

vasokonstriksi. Peningkatan kadar prostaglandin telah terbukti ditemukan

pada cairan haid (menstrual fluid) pada wanita dengan dismenorea berat

(severe dysmenorrhea). Kadar ini memang meningkat terutama selama

dua hari pertama menstruasi. Vasopressin juga memiliki peran yang sama.

Riset terbaru menunjukkan bahwa patogenesis dismenorea primer adalah

karena prostaglandin F2alpha (PGF2alpha), suatu stimulan miometrium

yang kuat dan vasoconstrictor (penyempit pembuluh darah) yang ada di

endometrium sekretori. Hormon pituitary posterior,vasopressin terlibat

pada hipersensitivitas miometrium, mengurangi aliran darah uterus dan

nyeri pada penderita dismenorea primer (Elizabeth, 2009).

ii. Dismenorea Sekunder

Dismenorea sekunder dapat terjadi kapan saja setelah

menstruasi pertama, tetapi yang paling sering muncul di usia 20-30 tahun.

Peningkatan prostaglandin dapat berperan pada dismenorea sekunder

disertai penyakit pelvis yang menyertai diantaranya endometriosis (

kejadian dimana jaringan endometrium berada di luar rahim, dapat

ditandai dengan nyeri menstruasi), adenomyosis (bentuk endometriosis

yang invasive), polip endometrium (tumor jinak di endometrium) dan

18
masih banyak lagi.

g. Perbedaan Dismenorea Primer dan Dismenorea Sekunder


Tabel 2.1 Perbedaan Dismenorea Primer dan Dismenorea Sekunder
Dismenorea Primer Dismenorea Sekunder
Onset (serangan pertama) secara Onset dapat terjadi di waktu

Mendadak terjadi setelah menarche apapun setelah menarche

(menstruasi pertama). (umumnya setelah usia 25 tahun)

Nyeri perut atau panggul bawah Wanita dapat mengeluh mengalami

biasanya berhubungan dengan perubahan waktu serangan pertama

onset aliran menstruasi dan nyeri selama siklus menstruasi

berlangsung selama 8-72 jam. atau dalam intensitas nyeri.

Dapat terjadi nyeri pada paha dan Gejala ginekologis(kelainan


punggung,sakit/nyeri kepala,diare kandungan) lainnya dapat terjadi,
(mencret), nausea (mual) dan misalnya nyeri saat bersenggama
(dyspareunia) dan siklus
vomiting (muntah).
menstruasi memanjang
(menorrhagia).
Tidak dijumpai kelainan pada Ada kelainan panggul (pelvic)
pemeriksaan fisik. pada pemeriksaan fisik.

h. Pencegahan

Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi dan

menyembuhkan nyeri menstruasi, salah satu caranya dengan memperhatikan

pola dan siklus menstruasinya kemudian melakukan antisipasi agar tidak

mengalami nyeri menstruasi. Berikut ini adalah langkah-langkah

pencegahannya:

 Hindari stress, tidak terlalu banyak fikiran terutama fikiran negative yang

menimbulkan kecemasan.

 Memiliki pola makan yang teratur

 Istirahat yang cukup

 Usahakan tidak menkonsumsi obat-obatan anti nyeri, jika semua cara

pencegahan tidak mengatasi menstruasi nyeri lebih baik segera kunjungi

dokter untuk mengetahui penyebab nyeri berkepanjangan. Bisa saja ada

kelainan rahim atau penyakit lainnya.

 Hindari mengkonsumsi alkohol, rokok, kopi karena akan memicu

19
bertambahnya kadar estrogen.

i. Gunakan heating pad (bantal pemanas), kompres punggung bawah serta

minum-minuman yang hangat.

i. Penanganan

Penatalaksanaan dismenorea menurut prawirohardjo (2005) :

i. Konseling holistik

Holistik adalah pelayanan yang diberikan kepada sesama atau

manusia secara utuh baik secara fisik, mental, sosial, spiritual mendapat

perhatian seimbang. Pelayanan holistik merupakan pelayanan yang

mencerminkan komitmen terhadap pelayanan kepada seluruh manusia

yaitu secara jasmani, sosial ekonomi, sosial hubungan, mental dan spiritual

Perlu dijelaskan kepada penderita bahwa dismenorea adalah

gangguan yang tidak berbahaya untuk kesehatan, hendaknya diadakan

penjelasan dan diskusi mengenai cara hidup, pekerjaan, kegiatan dan

lingkungan penderita. Nasehat-nasehat mengenai makanan sehat, istirahat

yang cukup, dan olah raga mungkin berguna.Kemudian diperlukan

psikoterapi.

ii. Pemberian obat analgesic

Pada saat ini banyak beredar obat-obatan analgesic yang dapat

diberikan sebagai terapi simptomatik. Jika rasa nyerinya berat, diperlukan

istirahat di tempat tidur dan kompres hangat pada perut bawah untuk

mengurangi rasa nyeri. Obat analgetik yang sering diberikan adalah

preparat kombinasi aspirin, fenasetin, dan kafein.Obat-obat paten yang

beredar di pasaran antara lain novalgin, ponstan, acetaminophen dan

sebagainya.Penelitian menunjukan bahwa pemberian obat herbal dinilai

lebih efektif dan aman untuk pengobatan dismenorea primer, dibandingkan

dengan obat asam mefenamat atau placebo.Namun ini membutuhkan

penelitian lebih lanjut.

iii. Pola hidup sehat

20
Penerapan pola hidup sehat dapat membantu dalam upaya

menangani gangguan menstruasi, khususnya dismenorea.Yang termasuk

dalam pola hidup sehat adalah olah raga cukup dan teratur,

mempertahankan diit seimbang seperti peningkatan pemenuhan sumber

nutrisi yang beragam.

iv. Terapi hormonal

Tujuan terapi hormonal adalah penekanan ovulasi. Tindakan ini

bersifat sementara dengan maksud untuk membuktikan bahwa gangguan

benar-benar dismenorea primer, atau untuk memungkinkan penderita

melaksanakan pekerjaan penting pada waktu menstruasi tanpa gangguan,

tujuan ini dapat dicapai dengan pemberian salah satu jenis pil kombinasi

kontrasepsi.

v. Terapi obat steroid

Terapi dengan obat steroid antiprostaglandin memegang peranan

makin penting terhadap dismenorea primer.Termasuk disini endometasin,

ibuproven dan naproksen kurang lebih 70% penderita dapat disembuhkan

atau mengalami banyak perbaikan.Hendaknya pengobatan diberikan

sebelum menstruasi mulai, 1 sampai 3 hari.

vi. Dilatasi kanalis servikalis

Dilatasi kanalis servikalismemudahkan pengeluaran darah

menstruasi dan prostaglandin didalamnya. Neurektomi prasakral

(pemotongan urat saraf sensorik antara uterus dan susunan saraf pusat)

ditambah dengan neurektomi ovarial (pemotongan saraf sensorik yang ada

di ligamentum infumdibulum) merupakan tindakan terakhir apabila usaha-

usaha lain gagal.

Selain itu menurut Taruna (2003), ada cara pengobatan lain yang dapat

dilakukan untuk membantu mengurangi rasa nyeri menstruasi yaitu:

1. Ketika nyeri menstruasi datang, lakukan pengompresan menggunakan

air hangat di perut bagian bawah karena dapat membantu merilekskan

otot-otot dan sistem saraf .

21
2. Meningkatkan taraf kesehatan untuk daya tahan tubuh, misalnya

melakukan olah raga cukup dan teratur serta menyediakan waktu yang

cukup untuk beristirahat. Olah raga yang cukup dan teratur dapat

meningkatkan kadar hormon endorfin yang berperan sebagai natural

pain killer. Penyediaan waktu dapat membuat tubuh tidak terlalu rentan

terhadap nyeri.

3. Apabila nyeri menstruasi cukup mengganggu aktivitas maka dapat

diberikan obat analgetik yang bebas dijual di masyarakat tanpa resep

dokter, namun harus tetap memperhatikan efek samping terhadap

lambung.

4. Apabila dismenorea sangat mengganggu aktivitas atau jika nyeri

menstruasi muncul secara tiba-tiba saat usia dewasa dan sebelumnya

tidak pernah merasakannya, maka periksakan kondisi untuk

mendapatkan pertolongan segera, terlebih jika dismenorea yang

dirasakan mengarah ke dismenorea sekunder.

Adapun menurut Dyah (2010), nyeri menstruasidapat diatasi dengan:

1) Melakukan posisi knee chest, yaitu menelungkupkan badan di tempat

yang datar. Lutut ditekuk dan di dekatkan ke dada.

2) Mandi dengan air hangat.

3) Istirahat cukup untuk mengurangi ketegangan.

4) Mengurangi konsumsi harian pada makanan dan minuman yang

mengandung kafein yang dapat mempengaruhi kadar gula dalam darah.

5) Menghindari makanan yang mengandung kadar garam tinggi.

6) Meningkatkan konsumsi sayur, buah, daging dan ikan sebagai sumber

makanan yang mengandung vitamin B6.

Menjaga pola makan yang sehat dapat mengurangi nyeri

menstruasi.Karena beberapa dari makanan yang kita konsumsi sehari-hari

dapat mengurangi atau memperparah nyeri saat menstruasi

terjadi.Perbanyaklah mengkonsumsi sayur dan buah-buahan, hindari

makanan yang mengandung bahan pengawet.Prevalensi dismenorea

22
ditemukan menjadi 72,7% dan secara signifikan lebih tinggi pada konsumen

kopi, perempuan dengan perdarahan menstruasi (Alaettin, 2010).

Dari seluruh penatalaksanaan dismenorea yang ada diatas dapat

diklasifikasikan sebagai berikut :

a.Penanganan Farmakologi

1) Pemberian obat analgesic

2) Terapi hormonal

3) Terapi obat steroid

4) Dilatasi kanalis servikalis b.Penanganan non Farmakologi

1) Konseling holistik

2) Pola hidup sehat

3) Pengompresan menggunakan air hangat

4) Melakukan posisi knee chest

5) Mandi dengan air hangat.

6) Istirahat cukup untuk mengurangi ketegangan.

7) Mengurangi konsumsi harian pada makanan dan minuman yang

mengandung kafein yang dapat mempengaruhi kadar gula dalam darah.

8) Menghindari makanan yang mengandung kadar garam tinggi.

9) Meningkatkan konsumsi sayur, buah, daging dan ikan sebagai sumber

makanan yang mengandung vitamin B6

23
DISMENOREA
Anamnesis Pemerikasaan
1. Patrun menstruasi 1. Fisik umum
2. Mentruasi ovulatori 2. Laboratorium dasar
3. Hubungan 3. Hormonal
dengan
mentruasi

Dismenorea Dismenorea Sekunder


Primer 1. Disertai kelainan endometrium
Tanpa kelainan 2. Servik stenosis
3. Uterus retro-antefleksia
4. Polip endometrial
1. Teori prostaglandin,
5. Mioma terlahir
meningkat karena :
6. Mioma uteri
a. Ep/P =1/0,01
7. Anomali uterus
b. Nekrosis endometrium
c. Pemakai IUCD 8. Pemakai IUCD
d. Terdapat Infeksi
2. Sensitinitas serat saraf meningkat
3. Teori Psikologis Pengobatan dismenorea sekunder
a. Sensitif terhadap nyeri sesuai dengan penyebabnya
b. Kejiwaan labil
4. Mekanisme nyeri
a. Iskema otot
b. Kontraksi meningkat
c. Tekanan ujung saraf

Pengobatan dismenorea primer Pengobatan operatif


1. Konseling holistic meliputi 1. Laparoskopi
psikologi,social,spiritual dan diagnostik operatif
budaya 2. Presakral neurektomi
2. Medikamentos 3. Histerektomi
a. Kalsium antagonis
b. Antiprostaglandin
c. Pemberi progesteron
d. Pil oral

1. Pengobatan berhasil
2. Konseling psikologis
3. Evaluasi rutin

Gambar 1. Penatalaksanaan Dismenorea. (Manuaba, 2008)

2.2 Manajemen asuhan kebidanan

2.2.1 Pengertian Manajemen Asuhan Kebidanan

Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang

digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan

berdasarkan teori ilmiah, temuan, keterampilan dalam rangkaian/tahapan

yang logis untuk mengambil suatu keputusan yang terfokus pada klien.

2.2.2 Langkah- langkah asuhan kebidaanan menurut varney:

2.2.2.1 Pengumpulan data dasar secara lengkap


24
Mengumpulkan semua data yang dibutuhkan secara lengkap dan

akurat dari berbagai sumber yang berkaitan dengan kondisi klien

secara keseluruhan. Untuk memperoleh data dilakukan dengan cara:

2.2.2.1.1 Data subjektif / anamnesa

Nama : Untuk membedakan pasien satu dengan yang

lain.

Umur : untuk memastikan usia dan sebagai identitas.

Suku/bangsa : Untuk mengetahui adat istiadat sehingga

mempermudah dalam melaksanakan tindakan kebidanan.

Agama : Untuk memperoleh informasi tentang agama

yang dianut.

Pendidikan : Untuk memudahkan bidan memperoleh keterangan

atau dalam memberikan informasi mengenai suatu hal dengan

menggunakan cara yang sesuai dengan pendidikan .

Pekerjaan : Untuk mengetahui apakah ibu terlalu lelah

dalam pekerjaan yang berhubungan dengan keseimbangan tubuh.

2.2.2.1.2 Data objektif

2.2.2.1.2.1 Keadaan Umum : Bagaimana keadaan

pasien dengan dismenorea primer.

2.2.2.1.2.2 Tanda-tanda vital

Tekanan darah : Untuk mengetahui tekanan darah pasien

dengan dismenorea primer.

Nadi : Untuk mengetahui nadi pasien dengan

dismenorea primer.

Respirasi : Untuk mengetahui respirasi pasien dengan

dismenorea primer.

Suhu : Untuk mengetahui suhu pasien dengan

dismenorea primer.

25
2.2.3 Pemeriksaan fisik

Kepala : untuk mengetahui warna dan kebersihan kepala.

Muka : untuk mengetahui adanya pembengkakan pada wajah.

Mata : untuk melihat sklera dan konjungtiva.

Hidung : untuk mengetahui adanya pengeluaran sekret dan

kelainan di hidung.

Telinga : untuk mengetahui adanya pengeluaran serumen. Mulut :

untuk mengetahui gigi, gusi, dan bibir dalam keadaan normal.

Leher : untuk mengetahui adanya pembengkakan kelenjar

tiroid, limfe dan vena jugularis.

Payudara: untuk mengetahui bentuk, ukuran, keadaan puting,

cairan yang keluar dan hiperpigmentasi areola.

Abdoment: untuk mengetahui pembesaran abdomen, bekas luka,

dan leopold.

Genetalia : untuk mengetahui adanya varices, tanda-tanda infeksi

dan pengeluaran pada vagina.

Anus : untuk mengetahui adanya hemoroid. Ekstremitas :

untuk mengetahui reflek patella dan adanya varices.

2.2.3.1.1 Pemeriksaan penunjang laboratorium

Pemeriksaan ini dilakukan jika perlu atau jika ada terdapat

kelainan saat pemeriksaan.

2) Interpretasi data dasar

Pada langkah ini dilakukan identifikasi yang benar terhadap diagnosa

atau masalah dan kebutuhan klien, berdasarkan interpretasi yang

benar atas data-data yang dikumpulkan. Data dasar yang telah

dikumpulkan diidentifikasikan sehingga ditemukan masalah atau

masalah yang spefisik.Interpretasi data terdiri dari diagnosa

kebidanan, diagnosa masalah dan diagnosa kebutuhan. Interpretasi

data pada remaja dengan dismenorea primer adalah :

a) Diagnosa kebidanan
26
Merupakan diagnosa yang ditegakkan bidan dalam lingkup

praktik kebidanan dan memenuhi standar nomenklatur diagnosa

kebidanan.Dasar diagnosa tersebut adalah data subjektif berupa

pernyataan pasien tentang rasa nyeri pada saat menstruasi, akibat

rasa nyeri pada aktifitas, waktu rasa nyeri terjadi.Hasil data

objektif meliputi pemeriksaan umum, fisik, dan ginekologi serta

hasil pemeriksaan penunjang.Diagnosa kebidanan ditulis dengan

lengkap berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik, dan data

penunjang.

b) Masalah

Masalah adalah hal-hal yang berkaitan dengan pengalaman klien

yang ditemukan dari hasil pengkajian atau yang ditemukan dari

hasil pengkajian atau yang menyertai diagnosis.Masalah dapat

muncul tapi dapat pula tidak.Hal ini muncul berdasarkan sudut

pandang klien dengan keadaan yang dialami apakah menimbulkan

masalah terhadap klien atau tidak.Masalah pada kasus ini yaitu

dismenorea primer dengan keluhan nyeri pada perut bagian bawah

dan kram pada perut sebelum menstruasi dan selama menstruasi.

c) Kebutuhan

Kebutuhan adalah hal-hal yang dibutuhkan oleh klien dan belum

teridentifikasi dalam diagnosis dan masalah yang didapatkan

dengan melakukan analisis data.Kebutuhan yang muncul setelah

dilakukan pengkajian.Ditemukan hal- hal yang membutuhkan

asuhan, dalam hal ini klien tidak menyadari.Kebutuhan klien pada

dismenorea primer yaitu informasi mengenai dismenorea primer,

nutrisi, dan motivasi dari keluarga.

3) Mengidentifikasi diagnosa atau masalah potensial

Diagnosa potensial ditegakkan berdasarkan diagnosa atau masalah

yang telah diidentifikasi.Bidan dituntut untuk tidak hanya


27
merumuskan masalah tetapi juga merumuskan tindakan antisipasi

agar masalah atau diagnosa potensial tidak terjadi.Sehingga langkah

ini merupakan langkah yang bersifat antisipasi yang rasional atau

logis.Diagnosa potensial pada ibu hamil dengan hiperemesis

gravidarum terjadi dehidrasi dan penurunan berat badan.Oleh karena

perlu adanya tindakan yang dapat dilakukan oleh bidan atau tenaga

kesehatan.

4) Menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera

Menentukan kebutuhan klien terhadap tindakan yang segera

dilakukan oleh bidan atau untuk konsultasi, kolaborasi serta

melakukan rujukan terhadap penyimpangan

abnormal.Antisipasi pertama yang dilakukan pada dismenorea primer

yaitu dengan memperbaiki nutrisi dan pola hidup sehat.

5) Menyusun rencana asuhan yang menyeluruh

Merupakan pengembangan rencana asuhan yang menyeluruh dan

ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya.Langkah ini merupakan

kelanjutan manajemen terhadap masalah atau diagnosa yang telah

diidentifikasi atau diantisipasi.Rencana harus mencakup setiap hal

yang berkaitan dengan semua aspek kesehatan dan disetujui oleh

kedua belah pihak (bidan dan klien).

Rencana yang diberikan pada dismenorea primeradalah :

a. Konseling psikologis, sosial, budaya dan spiritual

b. Medikamentos meliputi pemberian kalsium antagonis,

antiprostaglandin, pemberian progestin dan pil oral

c. Suportif meliputi pemberian Vit E/B6 dan neurogenik

6) Pelaksanaan langsung asuhan dengan efisien dan aman Langkah ini

merupakan pelaksanaan dari rencana asuhan secara efisien dan aman.

Langkah ini bisa dilakukan seluruhnya oleh bidan atau

anggota tim kesehatan lainnya. Selama melakukan tindakan intervensi,

bidan menganalisa dan memonitor keadaan kesehatan pasiennya.

28
Pelaksanaan pada dismenorea primer adalah:

a. Setelah diberikan konseling psikologis, sosial, budaya dan spiritual

diharapkan pasien atau klien dapat mengerti tentang dismenorea

primer.

b. Setelah pemberian kalsium antagonis, antiprostaglandin, pemberian

progestin, pemberian Vit E/B6,neurogenik dan pil oral rasa nyeri

pada pasien atau klien dapat berkurang bahkan dapat hilang.

7) Evaluasi

Evaluasi dilakukan untuk mengkaji keefektifan dari asuhan yang

sudah diberikan.Ada kemungkinan bahwa sebagian rencana tersebut

efektif sedangkan sebagian belum efektif. Proses evaluasi ini

dilaksanakan untuk menilai mengapa proses penatalaksanaan efektif

/ tidak efektif serta melakukan penyesuaian pada rencana asuhan

tersebut.

Evaluasi yang diharapkan pada dismenorea primer adalah:

a. Rasa nyeri berkurang

b. Pasien atau klien dapat beraktifitas seperti biasa

c. Keadaan umum baik

29
BAB III
TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEBIDANAN PADA REMAJA DAN PRANIKAH

1. PENGKAJIAN
1.1 DATA SUBJEKTIF
Anamnesa dilakukan oleh : Niniek Dwi S Di : Puskesmas Tambakrejo
Tanggal : 10-12-2019 Pukul : 09.00
1.1.1 IDENTITAS KLIEN
NamaKlien : Nanda Nama wali/orang : Tn.Bagiyo
Umur : 17 Th Umur : 54 Th
Suku/ Bangsa : Jawa/Indonesia Suku/ Bangsa : Jawa/Indonesia
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA
Pekerjaan : PNS
Penghasilan : Rp. 4.000.000,-
Alamat : Perum Tambakrejo Asri

1.1.2 Alasan kunjungan saat ini


Ingin memeriksakan perutnya sakit

1.1.3 Keluhan utama


Nyeri perut bawah pada hari 1-2 menstruasi

1.1.4 Riwayat menstruasi


 Menarche : 13 Th
 Siklus menstruasi : 28 Hari (teratur/tidak teratur)
 Lama : 6-7 hari
 Banyaknya darah : ganti 3-4 x/hari
 Konsistensi : normal
 Dysmenorhoe : Ya/tidak (sebelum/selama/sesudah menstruasi)
 Flour albus : Ya/tidak (sebelum/selama/sesudah menstruasi)
Warna: - Bau: - Gatal: -
 Haid : 08-12-2019

1.1.5 Riwayat kesehatan keluarga


a. Keturunan kembar : tidak ada
Dari pihak siapa :-
b. Penyakit keturunan : tidak ada Dari pihak siapa: -
Jenis penyakit :-
c. Penyakit lain dalam keluarga : - Dari pihak siapa: -
Jenis penyakit :-

1.1.6 Riwayatkesehatan yang lalu


 Penyakit menahun : tidak ada
 Penyakit menurun : tidak ada
 Penyakit menular : tidak ada

1.1.7 Latar belakang budaya dalam keluarga


 Kebiasaan/upacara adat istiadat : selamatan bayi, selamatan kematian
 Kebiasaan keluarga yang menghambat : tidak ada

30
 Kebiasaan keluarga yang menunjang : tidak ada
 Dukungan dari keluarga yang lain : minum air kelapa, minum jamu kunyit

1.1.8 Pola kebiasaan sehari-hari


a. Pola Nutrisi :
makan 3x/hari (nasi, lauk, sayur, buah), minum 7-10 gelas/hari
Keluhan yang dirasakan :-
b. Pola Eliminasi : BAB 1x/hari (Lunak), BAK 8-10/hari (normal)
Keluhan yang dirasakan : -
c. Pola istirahat tidur : tidur siang : 1 jam, tidur malam 6-7 jam
Keluhan yang dirasakan : -
d. Pola Aktivitas : mencuci, membersihkan rumah
Keluhan yang dirasakan : -
e. Pola seksualitas : belum
Keluhan yang dirasakan : -
f. Perilaku Kesehatan :
Penggunaan obat/jamu/rokok, dll : jamu kunyit
Penggunaan obat/jamu/rokok, dll :-
g. Personal Hygiene
Mandi, keramas, gosok gigi : mandi 2x/hari, keramas 3x/seminggu, gosok
gigi 2x/hari
Ganti celana dalam dan pembalut : 2x/hari setiap pembalut basah
Cara membersihkan genetalia : dari depan ke belakang
Keluhan yang dirasakan :-

1.1 DATA OBJEKTIF


1.2.1 PemeriksaanUmum
 Kesadaran : composmentis
 TD : 90/60 mmHg
 Suhu : 36,5oC
 Nadi : 80 x/mnt
 RR : 20 x/mnt
 BB (sebelum hamil) : - sekarang: 44 Kg
IMT :-
 TB : 145cm
 LILA : 24 cm

1.2.2 PemeriksaanKhusus
a. INSPEKSI
 Kepala : bersih, tidak ada benjolan
 Muka : menyeringai menahan sakit
Kelopak mata : -
Conjungtiva : merah muda
Sklera : putih
 Mulut dan gigi : Bibir : lembab
Lidah : bersih
Gigi : tidak ada caries
 Hidung : Simetris :
Sekret : tidak ada
Kebersihan : bersih
 Leher : Pembesaran vena jugularis : tidak ada
Pembesarankelenjar thyroid : tidak ada
Pembesaran kelenjar getah bening : tidak ada
 Dada : pembesaran/benjolan : tidak ada
31
 Perut : Pembesaran : tidak ada
Bekas luka operasi : tidak ada

 Ekstremitasatasdanbawah : Oedema : -/-


Varises : -/-
b. PALPASI
 Leher : Pembesaran vena jugularis : tidak ada
Pembesaran kelenjar thyroid : tidak ada
Pembesaran kelenjar getah bening : tidak ada
 Dada : Benjolan/ Tumor : tidak ada
Keluaran : tidak ada
 Perut : Pembesaran lien/ liver : tidak ada
 Ekstremitasatasdanbawah : Oedema : -/-

c. AUSKULTASI:
1. Dada : whezing : -/-, ronchi : -/-

2. Perut: bising usus : (+)

d. PERKUSI
1. Reflek Patela : kanan (+), Kiri (+)
2. Perut : normal

1.2.3 Pemeriksaan laboratorium


- Hb : 12 gr%
- Golongan darah : A
- Albuminuria :-
- Reduksi Urine :-

1.2.4 Pemeriksaan penunjang


-

2. ANALISA/DIAGNOSA :
Nn “N” dengan dysmenorrhoe primer

3. INTERVENSI
1. Jelaskan bahwa nyeri pada hari ke 1-3 menstruasi adalah normal.
2. Anjurkan memberi kompres hangat pada perut bagian bawah.
3. Anjurkan untuk istirahat cukup.
4. Anjurkan untuk makan makanan dengan gizi seimbang (nasi, lauk-pauk, sayur,
buah).
5. Berikan obat analgesik untuk meredakan nyeri perut.

4. PENATALAKSANAAN
1. Menjelaskan bahwa nyeri pada hari ke 1-3 menstruasi adalah normal.
2. Menganjurkan memberi kompres hangat pada perut bagian bawah.
3. Mengajurkan untuk istirahat yang cukup.
4. Mengajurkan untuk makan makanan dengan gizi seimbang (nasi, lauk-pauk, sayur,
buah).
5. Memberikan obat analgesik untuk meredakan nyeri perut.
32
5. EVALUASI ( tgl 10-12-2019 jam 10.00)
Data Subjektif : pasien mengatakan perutnya nyeri saat menstruasi hari ke 1 dan 2
Data Objektif :
TD : 90/60 mmHg
o
Suhu : 36,5 C
Nadi : 80 x/mnt
RR : 20 x/mnt
Muka : tampak menyerigai menahan sakit

Analisa /Diagnosa : Nn “R” dengan dysmenorrhoe primer


Penatalaksanaan :
1. Menjelaskan bahwa nyeri pada hari ke 1-3 menstruasi adalah normal.
Hasil : pasien mengerti penjelasan
2. Menganjurkan memberi kompres hangat pada perut bagian bawah.
Hasil : pasien mengerti penjelasan dan sanggup melaksanakan
3. Mengajurkan untuk istirahat yang cukup.
Hasil : pasien mengerti penjelasan dan sanggup melaksanakan
4. Mengajurkan untuk makan makanan dengan gizi seimbang (nasi, lauk-pauk, sayur,
buah).
Hasil : pasien mengerti penjelasan dan sanggup melaksanakan
5. Memberikan obat analgesik untuk meredakan nyeri perut.
Hasil : pasien mengerti penjelasan dan sanggup melaksanakan.
6. Menganjurkan pasien untuk kontrol 1 bulan lagi saat menstruasi.
Hasil : pasien mengerti

33
BAB IV
PEMBAHASAN

Pada Bab ini akan dibahas mengenai hasil Asuahan Kebidanan Nn “N” dengan pelayanan
Remaja Dan Pranikah Di Puskesmas Tambakrejo Kecamatan Jombang Kabupaten Jombang.
Oleh karena itu,Bab ini memaparkan hasil Asuhan yang telah dilaksanakan tanggal 10
Desember 2019 di Puskesmas Tambakrejo dengan cara Asuhan secara langsung pada remaja
4.1 Pengkajian
Pengkajian dan pengmpulan data merupakan langkah awal yang dilakukan penulis
untuk mendapatkan data Subyektif yang meliputi data langsung yang bersumber dari
klien dan data Obyektif yang bersumber dari hasil pemeriksaan penulis dan tenaga
kesehatan
Dapat disimpulkan bahwa tidak ada kesenjangan antara tinjauan pustaka dengan
tinjauan kasus dan asuhan yang dilakukan pada klien “N” mendapatkan respon yang
sangat baik, klien kooperatif dalam memberikan informasi dengan jelas dan bersedia
dilakukan pemeriksaan sehingga memudahkan penulis untuk memperoleh data yang
diinginkan

4.2 Perumusan Diagnosa dan Masalah Kebidanan


Dari pengkajian dan pemeriksaan yang dilakukan telah dirumuskan dengan
tinjauan teori yang ada dank klien kooperatif saat dilakukan pengkajian dan pemeriksaan
sehingga penulis dapat merumuskan diagnose pada Nn “N” sesuai dengan asuhan
kebidanan dan tidak terdapat data dasar yang mendukung ketidak berhasilan asuhan,
sehingga tidak terdapat masalah.
4.3 Perencanaan
Berdasarkan teori tidak terdapat kesenjangan antara tinjauan teori dan tinjauan
kasus,terbukti bahwa pelayanan yang di telah dilaksanakan sesuai prosedur tindakan yang
telah direncanakan, karena klien kooperatif dalam melaksanakan implementasi yang
dilakukan penulis.

4.4 Imlementasi
Berdasarkan Tinjauan teori dijelaskan bahwa Pelayanan meliputi anamneses,
pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, dan tata laksana dengan memberikan
penekanan yang berbeda sesuai dengan kebutuhan khusus untuk setiap kelompok.
Semua Asuhan yang diberikan telah sesuai dengan tinjauan teori yang ada dan
tidak ada kesenjangan antara teori karena semua implementasi dapat terlaksana sesuai
prosedur tindakan yang telah direncanakan, karena klien kooperatif dalam melaksanakan
implementasi yang dilakukan penulis.

34
4.5 Evaluasi
Berdasarkan asuhan yang dilakukan, semua tindakan Asuhan uang dilakukan
selalu dievaluasi untuk mengetahui perkembangan layanan terhadap klien. Dari evaluasi
tersebut ditemukan bahwa semua kondisi klien dinyatakan dalam batas normal, hal
tersebut ditunjukkan dengan perolehan hasil tanda tanda vital baik tekanan darah, nadi,
suhu maupun pernafasan dalam batas normal dan hasil pemeriksaan laborat dalam batas
normal.
Kesimpulan menurut teori dan kasus tidak terdapat kesenjangan dari hasil
pemeriksaan, intervensi dan implementasi. Hal ini disebabkan klien kooperatif sehingga
penulis dalam memberikan asuhan pada Nn “N” sesuai dengan kebutuhan.

4.6 Pencatatan Asuhan Kebidanan


Pencatatan asuhan kebidanan dilakukan sesuai perkembangan kasus yang ditulis
dalam bentuk SOAP (Subyektif , Obyektif, Analisa Data,Penatalaksanaan)
Pada pencatatan asuhan kebidanan yang dilakukan pada tanggal 10 Desember
2019 dan didapatkan hasil keadaan klien terbukti efektif yang dapat dirasakan klien
setelah pemberian asuhan.
Dapat diambil kesimpulan bahwa tidak terdapat kesenjangan antara teori dan fakta,
karena tidak ditemukan komplikasi dan tanda- tanda infeksi dan dalam pemeriksaan
laborat tidak dtemukan hasil yang tidak normal.

35
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan tujuan dan pembahasan Asuahan Kebidanan Nn “N” dengan
pelayanan Remaja Dan Pranikah di Puskesmas Tambakrejo Kecamatan Jombang
Kabupaten Jombang. Dapat disimpulkan telah dilakukan pengkajian data berupa data
subyektif dan data obyektif, Perumusan Diagnose dan atau masalah, telah dibuat
perencanaan, telah dilakukan asuhan sesuai perencanaan/ implementasi, telah dilakukan
evaluasi dari hasil implementasi dan telah dibuat catatan asuhan kebidanan berupa SOAP
yang mana dalam pengaplikasian tersebut ditemukan masalah dan klien kooperatif
sehingga memudahkan penulis untuk melakukan asuhan.

5.2 Saran
5.2.1 Bagi Penulis
Agar penulis lebih memahami dan benar benar mengaplikasikan Asuhan
Kebidanan sesuai dengan Standar Asuhan Kebidanan sehingga lingkup bahasan
dapat lebih fokus dan hendaknya mahasiswa lebih akfif dalam pelaksanaan Asuhan
sehingga hasil yang didapatkan menjadi lebih maksimal.
5.2.2 Bagi Tenaga Kesehatan
Diharapkan dapat memberikan masukan yang membangun demi
kesempurnaan Asuhan yang telah diberikan sehingga tidak terjadi kesenjangan
antara persepsi klien dan tenaga kesehatan dan siapapuntenaga kesehatan yang
memberi pelayanan sesuai standar Asuhan Remaja dan Pranikah.

5.2.3 Bagi Klien


Sebaiknya dapat menyerap berbagai informasi dan memperoleh wawasan
baru dan dapat mengaplikasikan secara nyata semua asuhan yang diberikan
sehingga dapat menjalani masa Remaja dan Pranikah secara sehat.

5.2.4 Bagi Institusi Pendidikan


Diharapkan dapat memberi masukan yang membangun dan dapat
menyediakan referensi yang berkait dengan Asuhan Kebidanan Remaja dan
Pranikah yang benar sehingga dapat menjadi acuan dalam pemberian Asuhan.

36
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. Hubungan Pengetahuan Remaja Putri Tentang Dismenorhea Dengan


Motivasi Untuk Periksa Ke Pelayanan Kesehatan., Tersedia dalam
http://skripsikti.blogspot.com/2011/08/kti-pengetahuan-remaja- dismenore.html.
Burns August. 2009. Mengatasi Persoalan Kesehatan Reproduksi Dan Seksual
Perempuan.Insistpress:Yogyakarta.
Dokterku-Online.2012. Nyeri Haid.Tersedia dalam: http://www.dokterku-
online.com/index.php/article/48-nyeri-haid
Elizabeth. 2009. Buku Saku Patofisiologi. EGC: Jakarta
Handayani. 2012. Dismenore Dan Kecemasan Pada Remaja. Tersedia dalam:
http://etd.ugm.ac.id/index.php?mod=download&sub=DownloadFile&act=view&t
yp=html&file=0150-H-2012.pdf&ftyp=4&id=54753
Harry. 2007. Mekanisme endorphin dalam tubuh. Tersedia dalam Http://
klikharry.files.wordpress.com/2007/02/1.doc+endorphin+dalam+tubuh.
Hestiantoro, A. 2008.Masalah Gangguan Haid dan Infertilitas.Jakarta : Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.
Indowapblog.2012. Hubungan Pengetahuan Remaja Putri Tentang Dismenore Dengan
Penanganan Dismenore Di Pon.Pes.Al-Muhsin Metro Utara.mhttp://dalam
:http://indowapblog.blogspot.com/2012/05/hubungjan-pengetahuan-
remajaputri.html?m=\
Manuaba, I.G.B.2008.Gawat-Darurat Obstetri-Ginekologi & Obstetri-Ginekologi Sosial
Untuk Profesi Bidan.Jakarta:EGC
Manuaba. 2009. Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita. Jakarta: EGC Notoatmodjo,
Soekijo. 2010. Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta
Parmiati,W.2011.Dismenorea,.http://bidanpendidikd4.blogspot.com/2011/12/dismenore_1
0.html?m=1#!
Prawirohardjo, S. 2007.Ilmu Kandungan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.
Purwaningsih, W. 2010.Asuhan Keperawatan Maternitas.Yogyakarta: Numed
Wulandari, A. 2011.Cara Jitu Mengatasi Nyeri Haid.Yogyakarta : Salemba

37
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Perbedaan Disminorea Primer Dan Sekunder 19

38
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Penatalaksanaan disminorea 24

39
DAFTAR SINGKATAN

AKDR : Alat Kontrasepsi Dalam Rahim


LH : Luteinizing Hormone
FSH : Follicle Stimulating Hormone
IUD : Intrauterine Device

40