Anda di halaman 1dari 14

ANGGARAN DASAR

MUNAS IV DWP TAHUN 2019

PEMBUKAAN

Kami, istri Pegawai Aparatur Sipil Negara selanjutnya disingkat ASN,


menyadari sepenuhnya sebagai bagian dari komponen bangsa Indonesia,
yang berkewajiban untuk menyukseskan tujuan nasional,berdasarkan UUD
1945

Kewajiban tersebut akan berhasil jika para istri pegawai ASN mau dan mampu
meningkatkan kualitas sumber daya yang dimiliki dalam menghadapi tuntutan
dan tantangan serta perubahan diberbagai bidang kehidupan di Negara kita
maupun dalam menghadapi era globalisasi Abad XXI.

Menghadapi tuntutan dan tantangan serta perubahan kehidupan sebagaimana


tersebut diatas, mengharuskan adanya tata kehidupan yang menghormati dan
melindungi hak asasi manusia, demokratis, keterbukaan, serta tegaknya
supremasi hukum, sebagai ciri kehidupan masyarakat madani yang akan
mendorong terwujudnya tujuan nasional

Sejalan dengan tuntutan dan perubahan kehidupan tersebut, kami istri pegawai
ASN, yang terhimpun dalam satu wadah organisasi kemasyarakatan bernama
Dharma Wanita Persatuan, menyatakan bahwa organisasi ini netral secara
politis, dalam menentukan visi, misi serta kebijakan organisasi, dengan tujuan
meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan kesejahteraan anggota serta
memelihara persatuan dan kesatuan bangsa.

Dengan mempertimbangkan dinamika perkembangan organisasi, dalam


Musyawarah Nasional IV (selanjutnya disingkat Munas) pada tanggal 11 dan
12 bulan Desember Tahun 2019, Dharma Wanita Persatuan bersepakat untuk
melakukan perubahan Anggaran Dasar hasil Musyawarah Nasional III Dharma
Wanita Persatuan Tahun 2014, yang dirumuskan dalam Pasal-Pasal sebagai
berikut.

BAB I
NAMA, WAKTU, SIFAT, DAN
KEDUDUKAN ORGANISASI

Pasal 1

Organisasi ini bernama Dharma Wanita Persatuan yang disingkat dengan


DWP.

1
Pasal 2

DWP ditetapkan pada Munas Luar Biasa Dharma Wanita, pada tanggal 7
Desember 1999, di Jakarta, untuk jangka waktu yang tidak ditentukan

Pasal 3

(1) DWP adalah organisasi kemasyarakatan yang menghimpun dan membina


istri pegawai ASN dengan kegiatan pendidikan, ekonomi dan sosial budaya.

(2) DWP adalah organisasi yang non partisan, bebas dari pengaruh dan
intervensi golongan serta partai politik manapun.

Pasal 4

Organisasi DWP berpusat di ibu kota Negara Republik Indonesia.

BAB II
ASAS DAN TUJUAN

Pasal 5

Asas organisasi DWP adalah Pancasila.

Pasal 6

Tujuan organisasi DWPadalah terwujudnya kesejahteraan anggota dan


keluarganya, pada khususnya, serta masyarakat, pada umumnya, melalui
peningkatan kualitas sumber daya anggota, untuk mendukung tercapainya
tujuan nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945.

BAB III
TUGAS POKOK DAN FUNGSI

Pasal 7

Tugas pokok DWP adalah :


(1) melakukan pembinaan mental dan spiritual anggota agar menjadi manusia
yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkepribadian, serta
berbudi pekerti yang luhur;

2
(2) membina anggota dalam memperkukuh rasa persatuan dan kesatuan,
meningkatkan kemampuan dan pengetahuan, menjalin hubungan kerja
sama dengan berbagai pihak, serta meningkatkan kepedulian sosial.

Pasal 8

DWP berfungsi sebagai wadah pembinaan, perencanaan, pelaksanaan, dan


pengendalian kegiatan yang berkaitan dengan pelaksanaan Tugas Pokok
Organisasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7.

BAB IV
KEANGGOTAAN

Pasal 9

(1) Anggota DWP adalah


(a) istri pegawai ASN
(b) istri prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Istri anggota
Kepolisian Negara Republik Indonesia (POLRI) yang bertugas di
lingkungan Instansi lingkungan Sipil;
(c) istri pensiunan pegawai ASN; dan
(d) pegawai ASN perempuan yang menyatakan diri bersedia menjadi
anggota.

(2). Keanggotaan DWP terdiri dari :


(a) anggota biasa;
(b) anggota luar biasa
(c) anggota kehormatan

3
BAB V
ORGANISASI DAN UNSUR PELAKSANA

Bagian Kesatu
Organisasi

Pasal 10

Susunan Organisasi DWP terdiri dari


(1) DWP Pusat;
(2) DWP Instansi Pemerintah Pusat;
(3) DWP Provinsi;
(4) DWP Kabupaten atau DWP Kota;
(5) DWP Kecamatan atau nama lain yang sederajat;
(6) DWP Kelurahan atau nama lain yang sederajat.

Bagian Kedua
Unsur Pelaksana

Pasal 11

(1) Unsur pelaksana DWP Pusat adalah


(a) DWP Instansi Pemerintah Pusat;
(b) DWP Provinsi.

(2) Unsur pelaksana DWP Instansi Pemerintah Pusat adalah DWP pada setiap
unit kerja masing-masing.

(3) Unsur pelaksana DWP Kementerian Luar Negeri adalah unit kerja yang ada
di Pusat dan Perwakilan Pemerintah RI di luar negeri.

(4) Unsur pelaksana DWP Provinsi adalah


(a) DWP Instansi Pemerintah Provinsi;
(b) DWP Kabupaten/DWP Kota;
(c) DWP Instansi Vertikal Pemerintah Pusat di Provinsi.

(5) Unsur pelaksana DWP Kabupaten/DWP Kota adalah


(a) DWP Instansi Pemerintah kabupaten/DWP instansi pemerintah kota;
(b) DWP Kecamatan atau nama lain yang sederajat;
(c) DWP Instansi Vertikal Pemerintah Pusat Di Kabupaten/DWP Instansi
Pemerintah Pusat di Kota;
(d) DWP Instansi Pemerintah Provinsi di Kabupaten/ DWP Instansi
Pemerintah Provinsi di Kota.

(6) Unsur pelaksana DWP Kecamatan, atau nama lain yang sederajat, adalah
(a) DWP instansi pemerintah kecamatan atau nama lain yang sederajat;
(b) DWP Kelurahan atau nama lain yang sederajat.

4
BAB VI
KEPENGURUSAN,
MASA BAKTI DAN PERGANTIAN ANTARWAKTU

Bagian Kesatu
Pengurus Dharma Wanita Persatuan Pusat

Pasal 12

Pengurus DWP Pusat adalah pengurus pada tingkat nasional

Pasal 13

1. Pengurus DWP Pusat terdiri dari


(a) Ketua Umum,
(b) Ketua,
(c) sekretaris jenderal,
(d) Satuan Pengawas Internal (SPI)
(e) ketua bidang/Kepala Bagian
(f) anggota bidang/Bagian

2. Ketua Umum DWP dijabat secara Ex Officio oleh Istri Menteri yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan dibidang pendayagunaan
aparatur negara.
3. Dalam hal Menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di
bidang. pendayagunaan aparatur negara seorang perempuan maka Ketua
Umum DWP akan ditentukan oleh Menteri pendayagunaan aparatur
negara.

4. Pengurus DWP Pusat sebagaimana dimaksud Ayat (1) Huruf (b), Huruf (c),
Huruf (d), Huruf (e), dan Huruf (f), dipilih dari pengurus Dharma Wanita
Persatuan Instansi Pemerintah Pusat dan ditetapkan oleh Ketua Umum.

5. Ketua adalah Wakil Ketua Umum yang bertugas untuk melaksanakan


tugas-tugas yang ditetapkan;

6. Sekretaris Jenderal memimpin sekretariat jenderal yang membawahi


(a) Bagian Organisasi
(b) Bagian Administrasi Umum;
(c) Bagian Keuangan
(d) Bagian Humas dan Informasi

7. Ketua bidang sebagaimana dimaksud dalam Ayat (1) Huruf e Pasal 13 ini
terdiri dari
(a) Ketua Bidang Pendidikan,
(b) Ketua Bidang Ekonomi,
(c) Ketua Bidang Sosial Budaya.

5
8. Satuan Pengawas Internal bertanggungjawab langsung kepada Ketua
Umum dan bertugas melaksanakan pengawasan terhadap aspek
pengelolaan:
a. keuangan,
b. aset dan
c. kepegawaian

Pasal 14

Tugas dan wewenang pengurus DWP Pusat adalah


(1) menetapkan kebijakan umum organisasi sesuai dengan anggaran dasar,
anggaran rumah tangga, Keputusan Munas, dan Keputusan Rakernas;
(2) mengesahkan organisasi DWP Instansi Pemerintah Pusat dan DWP
Provinsi;
(3) mengesahkan Ketua dan pengurus DWP Instansi Pemerintah Pusat dan
DWP Provinsi;
(4) melakukan perbuatan hukum untuk dan atas nama DWP oleh Ketua Umum

Bagian Kedua

Kepengurusan, Tugas, dan Masa Bakti


DWP Instansi Pemerintah Pusat, Provinsi, Kab/Kota, Kecamatan, dan
kelurahan/Desa

Pasal 15

(1) Pengurus DWP Instansi Pemerintah Pusat, DWP Provinsi, DWP


Kabupaten/Kota atau DWP Kota, DWP Kecamatan atau nama lain yang
sederajat , DWP Kelurahan/nama lain yang sederajat terdiri dari
(a) ketua,
(b) wakil ketua,
(c) sekretaris,
(d) bendahara,
(e) ketua bidang
(f) anggota bidang

(2) Ketua DWP Instansi Pemerintah Pusat dijabat secara Ex Officio oleh istri
Sekretaris Jenderal/Sekretaris Kementerian Koordinator/Sekretaris
Kementerian/Sekretaris Utama atau Istri Pejabat tertinggi Instansi
Pemerintah yang melaksanakan fungsi Kesekretariatan dan Istri Pemimpin
Perguruan Tinggi Negara Badan Hukum (PTNBH).

(3) Pengecualian untuk ayat dua diatas khusus untuk lembaga pemerintah non
kementerian (LPNK) yang pimpinannya dijabat oleh ASN, Ketua DWP
dijabat oleh istri kepala lembaga pemerintah non kementerian yang
bersangkutan.

6
(4) Dalam hal Sekretaris Jenderal/Sekretaris Kementerian
Koordinator/Sekretaris Kementerian/ Sekretaris Utama atau Istri Pejabat
tertinggi Instansi Pemerintah yang melaksanakan fungsi kesekretariatan
dijabat oleh ASN perempuan, atau berhalangan maka jabatan Ketua DWP
Instansi Pemerintah Pusat dijabat oleh Istri Pejabat setara yang ditunjuk
oleh penasihat DWP.

(5) Ketua DWP Provinsi dijabat secara Ex Officio oleh istri Sekretaris Daerah
Provinsi

(6) Khusus untuk Wilayah DKI Jakarta Ketua DWP Kota/kab dijabat secara Ex
Officio oleh Istri Wali kota/kab.

(7) Ketua DWP Kabupaten/DWP Kota dijabat secara Ex Officio oleh istri
Sekretaris Daerah Kabupaten / Kota

(8) Ketua DWP Kecamatan atau nama lain yang sederajat dijabat secara Ex
Officio oleh istri Sekretaris Kecamatan atau nama lain yang sederajat

(9) Ketua DWP Kelurahan atau nama lain yang sederajat dijabat secara Ex
Officio oleh istri Sekretaris Kelurahan atau nama lain yang sederajat

Pasal 16

Tugas Pengurus DWP Instansi Pemerintah Pusat, DWP Provinsi, DWP


Kabupaten/DWP Kota, DWP Kecamatan, atau nama lain yang sederajat, dan
DWP Kelurahan, atau nama lain yang sederajat adalah

(1) menetapkan kebijakan organisasi pada lingkungan masing-masing, sesuai


dengan anggaran dasar, anggaran rumah tangga, Keputusan Musyawarah
Nasional, dan kebijaksanaan pemimpin organisasi satu tingkat diatasnya;

(2) mengesahkan organisasi, mengesahkan Ketua DWP, dan mengesahkan


pengurus DWP satu tingkat di bawahnya;

(3) menetapkan dan melaksanakan program kerja serta kegiatan sesuai


dengan situasi dan kondisi;

(4) mengevaluasi dan melaporkan pelaksanaan serta hasil program kerja


kepada pengurus DWP satu tingkat di atasnya.

Pasal 17
(1) Masa bakti Ketua Umum DWP menyesuaikan dengan masa bakti suami
sebagai Menteri yang menyelenggarakan urusan Pemerintahan bidang
pendayagunaan aparatur negara

7
(2) Masa bakti Ketua DWP Instansi Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah
menyesuaikan dengan masa bakti Suami sebagai :
a. Sekretaris Jenderal/Sekretaris Kementerian Koordinator/Sekretaris
Kementerian/Sekretaris Utama atau Pejabat tertinggi Instansi
Pemerintah Pusat yang melaksanakan fungsi kesekretariatan
b. Sekretaris Daerah Provinsi untuk Provinsi
c. Sekretaris daerah Kabupaten/kota untuk Kabupaten/kota
d. Sekretaris Kecamatan untuk Kecamatan /nama lain yang sederajat
e. Sekretaris Kelurahan untuk Kelurahan/nama lain yang sederajat

(3) Masa bakti pengurus pada semua tingkatan kepengurusan adalah lima
tahun, yang dimulai dari Musyawarah Nasional pada saat ditetapkan
sampai dengan Musyawah Nasional berikutnya.

(4) Masa bakti Pengurus DWP Pusat selain Ketua Umum, Ketua, dan Sekjen
adalah lima tahun dan paling lama dua periode.

(5) Apabila dalam kurun waktu lima tahun terjadi pergantian kepengurusan
oleh karena adanya keterkaitan dengan berakhirnya jabatan suami, maka
Ketua Umum dapat menetapkan penggantinya.

Bagian Ketiga
Wilayah Kerja/Pembinaan

Pasal 18
(1) Wilayah kerja pengurus DWP Pusat meliputi seluruh wilayah Negara
Republik Indonesia dan perwakilan RI di Luar Negeri

(2) Wilayah kerja pengurus DWP Instansi Pemerintah Pusat meliputi unit kerja
instansi masing-masing yang berada di tingkat pusat.

(3) Wilayah kerja pengurus DWP Kementerian Luar Negeri meliputi instansi
Kementerian Luar Negeri yang berada di pusat dan Perwakilan Republik
Indonesia di Luar negeri

(4) Wilayah kerja pengurus DWP Provinsi meliputi unit kerja Instansi
Pemerintah masing-masing yang berada di Provinsi
(5) Wilayah kerja pengurus DWP Kabupaten/DWP Kota meliputi unit kerja
Instansi Pemerintah masing-masing berada di kabupaten/kota.

(6) Wilayah kerja pengurus DWP Kecamatan atau nama lain yang sederajat
meliputi wilayah kecamatan atau nama lain yang sederajat.

(7) Wilayah kerja pengurus DWP Kelurahan atau namalain yang sederajat
meliputi wilayah kelurahan atau nama lain yang sederajat.

8
BAB VII
PELINDUNG, PENASIHAT UTAMA,DEWAN
KEHORMATAN,DEWAN PENASIHAT, DAN
PENASIHAT

Bagian Kesatu
Pasal 19
(1) Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia adalah Pelindung DWP
(2) Istri presiden dan Istri Wakil Presiden adalah Penasihat Utama DWP

Bagian Kedua
Pasal 20

Dewan Kehormatan Dharma Wanita Persatuan terdiri dari :


(1) Istri Mantan Presiden dan Istri mantan Wakil Presiden dan
(2) Mantan Ketua Umum.
Pasal 21
(1) Dewan penasihat DWP Pusat terdiri dari Istri Ketua MPR, Istri Ketua
DPR, Istri Ketua DPRD, Istri Ketua DPD, Istri Ketua BPK, Istri Ketua
MK, Istri Ketua KY dan, Istri Menteri dan pejabat setingkat Menteri

(2) Dalam hal Ketua MPR, Ketua DPR, Ketua DPD, Ketua BPK, Ketua MK,
Ketua KY dan Menteri serta pejabat setingkat Menteri dijabat oleh
seorang perempuan, maka jabatan Dewan Penasihat DWP Pusat,
dijabat oleh Istri salah seorang wakil Ketua yang ditunjuk oleh pimpinan
di lingkungan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)

(3) Tugas Dewan Penasihat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatas
adalah memberikan saran dan pertimbangan kepada pengurus DWP
Pusat.

Bagian Ketiga
Penasihat
Pasal 22
(1) Ketua MPR, Ketua DPR, Ketua DPD, Ketua BPK, Ketua MA, Ketua MK,
Ketua KY, Menteri, Ketua/kepala lembaga pemerintah non kementerian,
Kepala Perwakilan Republik di Luar Negeri, Sekretaris Jenderal MPR,
Sekjen DPR, Sekjen BPK, Sekjen MA, Sekjen MK, Sekjen KY, gubernur,
wakil gubernur, bupati/walikota, wakil bupati/wakilwalikota, Camat,lurah,
serta pimpinan perguruan tinggi/badan hukum adalah penasihat DWP
Instansi yang bersangkutan.

9
(2) Istri Ketua MPR, Istri Ketua DPR, Istri Ketua DPD, Istri Ketua BPK, Istri
Ketua MA, Istri Ketua MK, Istri Ketua KY, Istri Menteri, Istri Wakil Menteri,
Istri Ketua/kepala lembaga pemerintah non kementerian yang pimpinannya
non ASN, Istri Kepala lembaga pemerintah non struktural, Istri Kepala
Perwakilan Republik Indonesia di luar negeri, Istri Gubernur, Istri Wakil
Gubernur, Istri Bupati/Walikota, Istri Wakil Bupati/Wakil Walikota, Istri
Camat, Istri Lurah, dan istri pejabat nama lain setingkat lurah, adalah
Penasihat DWP pada masing-masing instansi pemerintah yang
bersangkutan

(3) Aturan diatas tidak berlaku untuk daerah DKI Jakarta penasihat adalah
Bupati, Wakil Bupati, Wali Kota, dan Wakil Wali Kota adalah pejabat karir
ASN yang di angkat oleh Gubernur

(4) Sekretaris Daerah Provinsi dan Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota masing-


masing adalah Penasihat DWP Sekretariat Daerah.

(5) Pemimpin unit kerja, Instansi Pemerintah Pusat, Provinsi, Kabupaten/Kota,


Kecamatan atau nama lain yang sederajat, dan Kelurahan, atau nama lain
yang sederajat, adalah penasihat DWP instansi pemerintah yang
bersangkutan.

Tugas dan Tanggung Jawab Penasihat

Pasal 23
Penasihat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 mempunyai tugas dan
tanggungjawab
(1) mengayomi serta memberi saran dan pertimbangan untuk kemajuan
organisasi;
(2) memberi masukan dan arahan pada program kerja organisasi;
(3) berperan serta dalam membangun citra organisasi yang positif.

VIII
MUSYAWARAH DAN RAPAT

Pasal 24
(1) Musyawarah DWP diselenggarakan pada tingkat nasional dan tingkat
daerah

(2) Musyawarah Nasional (Munas) adalah forum tertinggi organisasi yang


berwenang
(a) menetapkan dan mengesahkan anggaran dasar,
(b) menetapkan dan mengesahkan Rencana Strategis (Renstra) dan
program kerja

10
(c) mengesahkan laporan pertanggungjawaban ketua umum,
(d) menetapkan putusan lainnya.

(3) Musyawarah DWP sebagaimana dimaksud dalam Ayat (1) Pasal 24 ini
dilaksanakan dalam lima tahun sekali.

(4) Musyawarah Daerah(Musda) terdiri dari


(a) Musyawarah Provinsi (Musprov) dan
(b) Musyawarah Kabupaten (Muskab) / kota (Muskot)
(5) Musyawarah Daerah berkewajiban menyampaikan hasil Munas dan
berwenang untuk
(a) Menetapkan dan mengesahkan program kerja;
(b) mengesahkan laporan pertanggungjawaban Ketua DWP yang
bersangkutan;
(c) menetapkan Ketua DWP Provinsi/DWP Kabupaten/DWP Kota;
(d) menetapkan putusan lainnya.

(6) Dalam hal terjadi keadaan yang dinilai berpengaruh besar terhadap
kelangsungan hidup organisasi, dapat diselenggarakan Musyawarah
Nasional Luar Biasa (Munaslub) atas dasar persetujuan lebih dari
separuh jumlah unsur pelaksana DWP Persatuan.

Pasal 25
(1) Rapat DWP terdiri dari
(a) rapat anggota;
(b) rapat kerja;
(c) rapat pengurus;
(d) rapat koordinasi.

(2) Rapat anggota adalah pertemuan antara pengurus dan para anggota
yang berkewajiban menyampaikan hasil Munas atau Musda dan
berwenang untuk
(a) menetapkan dan mengesahkan program kerja;
(b) mengesahkan laporan pertanggungjawaban Ketua DWP yang
bersangkutan;
(c) menetapkan dan mengesahkan putusan lainnya

(3) Rapat kerja diselenggarakan untuk membahas, mengkoordinasikan,


serta mengintensifkan pelaksanaan program kerja dan kegiatan,
sesuai dengan kebijakan organisasi yang telah ditetapkan.

(4) Rapat Pengurus adalah pertemuan periodik antara ketua dan anggota
pengurus untuk membahas dan mengambil putusan tentang masalah
organisasi dan kegiatan dalam lingkungannya.

11
(5) Rapat Koordinasi adalah pertemuan antara pengurus dan dewan
penasihat/penasihat serta pihak lain pada semua tingkat
kepengurusan

BAB IX
ATRIBUT ORGANISASI

Pasal 26
(1) Atribut DWP terdiri dari lambang, vandel,bendera olah raga, papan nama,
lencana, himne, mars, dan pakaian seragam.

(2) Ketentuan tentang atribut sebagaimana dimaksud dalam Ayat (1) pasal 26
ini, diatur lebih lanjut dalam anggaran rumah tangga.

BAB X
KEUANGAN

Pasal 27
(1) Keuangan organisasi DWP di peroleh dari
(a) iuran anggota;
(b) bantuan Pemerintah;
(c) sumbangan lain yang tidak mengikat;
(d) usaha lain yang sah.

(2) Keuangan organisasi DWP diverifikasi pada setiap tahun.

BAB XI
LARANGAN DAN PENYELESAIAN PERSELISIHAN

Larangan
Pasal 28
Setiap pengurus dan anggota DWP dilarang :
a. Melakukan tindakan permusuhan terhadap suku, agama, ras dan
golongan

b. Melakukan penyalahgunaan, penistaan atau penodaan terhadap


agama yang dianut di Indonesia

c. Melakukan kegiatan separatis yang mengancam kedaulatan Negara


Kesatuan Republik Indonesia

12
d. Melakukan tindakan yang menyebabkan disintegrasi bangsa atau

e. Melakukan tindakan kekerasan, mengganggu ketentraman dan


ketertiban umum atau merusak fasilitas umum dan fasilitas sosial.

Penyelesaian Perselisihan

Pasal 29

(1) Apabila terjadi perselisihan internal antar pengurus dan anggota, akan
diselesaikan secara musyawarah dan mufakat.

(2) Dalam hal tidak tercapai mufakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
dapat meminta Pemerintah untuk memfasilitasi mediasi;

(3) Dalam hal mediasi tidak mencapai kesepakatan sebagaimana dimaksud


pada ayat (2), perselisihan diselesaikan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan

BAB XII
TINDAK LANJUT MUSYAWARAH NASIONAL

Pasal 30
(1) Pengurus pada semua tingkatan wajib melaksanakan rapat anggota,
musyawarah provinsi dan musyawarah kabupaten / kota paling lama tiga
bulan sejak putusan Munas ditetapkan

(2) Kepengurusan DWP pada semua tingkatan telah disahkan selambat-


lambatnya tiga bulan sejak putusan Munas ditetapkan.

(3) Kepengurusan yang belum sempat melaksanakan serah terima jabatan


pada akhir tahun berjalan tetap harus membuat dan mengesahkan
program kerja untuk satu tahun kedepan terhitung tanggal 1 Januari s.d.
31 Desember.

13
BAB XIII
LAIN-LAIN

Pasal 31
(1) Hal-hal yang belum diatur dalam AD ini akan diatur lebih lanjut dalam ART
DWP.
(2) ART sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) Pasal 31 ini ditetapkan oleh
pengurus DWP Pusat.

BAB XIV
PENUTUP

Pasal 32
(1) Dengan penyempurnaan AD DWP ini, AD Hasil Munas III Tahun 2014
dinyatakan tidak berlaku lagi.
(2) AD DWP ini, mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.

14

Anda mungkin juga menyukai