Anda di halaman 1dari 13

UNIVERSITAS SAHID JAKARTA

ETIKA BISNIS

PENERAPAN ETIKA PRODUKSI


DAN
LINGKUNGAN HIDUP

Dosen :
Endah Lestari, S.E., M.M.

Oleh :
Harry Baisya Achmad
2018116056
Program Studi : Manajemen Kelas B
PENERAPAN ETIKA PRODUKSI
DAN
LINGKUNGAN HIDUP

I. Pengertian Etika Bisnis

Etika bisnis merupakan suatu pemikiran, aturan-aturan baik tertulis


atau tidak yang diterapkan dalam menjalankan bisnis yang memiliki
standar moral. Sehingga ada sanksi jika melanggar aturan-aturan
tersebut.
Selain itu, etika bisnis juga dapat diartikan sebagai berikut:
1) Merupakan sistem nilai yang dijabarkan dari filosofi perusahaan,
paradigma bisnis dan business values yang dianut oleh perusahaan
sebagai acuan untuk berhubungan dengan lingkungan internal maupun
eksternal
2) Mengatur hubungan antara perusahaan (di dalam pengertian ini adalah
perusahaan sebagai suatu entitas) dengan pelanggan, pemegang
saham, individu dalam perusahaan, petani plasma, pemasok, kreditur,
komunitas (publik), Pemerintah, auditor, media massa atau pesaing
3) Menjelaskan bagaimana perusahaan (sebagai suatu entitas) beretika,
bersikap dan bertindak dalam upaya menyeimbangkan kepentingan
perusahaan dengan seluruh stakeholder lainnya.

Menurut K. Bertens, ada 3 tujuan yang ingin dicapai dari


mempelajari Etika Bisnis, yaitu:
1) Menanamkan atau meningkatkan kesadaran akan adanya dimensi etis
dalam bisnis. Menanamkan, jika sebelumnya kesadaran itu tidak ada,
meningkatkan bila kesadaran itu sudah ada, tapi masih lemah dan
ragu.
Orang yang mendalami etika bisnis diharapkan memperoleh keyakinan
bahwa etika merupakan segi nyata dari kegiatan ekonomis yang perlu
diberikan perhatian serius.
2) Memperkenalkan argumentasi moral khususnya dibidang ekonomi dan
bisnis, serta membantu pebisnis/calon pebisnis dalam menyusun
argumentasi moral yang tepat.
Dalam etika sebagai ilmu, bukan hal penting adanya norma-norma
moral, tidak kalah penting adalah alasan bagi berlakunya norma-norma
itu. Melalui studi etika diharapkan pelaku bisnis akan sanggup
menemukan fundamental rasional untuk aspek moral yang
menyangkut ekonomi dan bisnis.
3) Membantu pebisnis/calon pebisnis, untuk menentukan sikap moral
yang tepat didalam profesinya (kelak).
Tiga aspek pokok dari bisnis yaitu:

a. Sudut Pandang Ekonomis


Bisnis adalah kegiatan ekonomis. Yang terjadi disini adalah adanya
interaksi antara produsen/perusahaan dengan pekerja, produsen
dengan konsumen, produsen dengan produsen dalam sebuah
organisasi. Kegiatan antar manusia ini adalah bertujuan untuk
mencari untung oleh karena itu menjadi kegiatan ekonomis.
Pencarian keuntungan dalam bisnis tidak bersifat sepihak, tetapi
dilakukan melalui interaksi yang melibatkan berbagai pihak.
Dari sudut pandang ekonomis, good business adalah bisnis yang
bukan saja menguntungkan, tetapi juga bisnis yang berkualitas etis.

b. Sudut Pandang Moral


Dalam bisnis, berorientasi pada profit, adalah sangat wajar, akan
tetapi jangan keuntungan yang diperoleh tersebut justru merugikan
pihak lain. Tidak semua yang bisa kita lakukan boleh dilakukan
juga. Kita harus menghormati kepentingan dan hak orang lain.
Pantas diperhatikan, bahwa dengan itu kita sendiri tidak dirugikan,
karena menghormati kepentingan dan hak orang lain itu juga perlu
dilakukan demi kepentingan bisnis kita sendiri.

c. Sudut Pandang Hukum


Bisa dipastikan bahwa kegiatan bisnis juga terikat dengan "Hukum",
Hukum Dagang atau Hukum Bisnis, yang merupakan cabang
penting dari ilmu hukum modern. Dalam praktek hukum banyak
masalah timbul dalam hubungan bisnis, pada taraf nasional
maupun international. Seperti etika, hukum juga merupakan sudut
pandang normatif, karena menetapkan apa yang harus dilakukan
atau tidak boleh dilakukan. Dari segi norma, hukum lebih jelas dan
pasti daripada etika, karena peraturan hukum dituliskan hitam atas
putih dan ada sanksi tertentu bila terjadi pelanggaran. Bahkan pada
zaman kekaisaran Roma, ada pepatah terkenal: "Quid leges sine
moribus" yang artinya "apa artinya undang-undang kalau tidak
disertai moralitas".

Dari sudut pandang moral, setidaknya ada 3 tolok ukur bahwa


bisnis itu baik, yaitu:

1. Hati Nurani
Suatu perbuatan adalah baik, bila dilakukan susuai dengan hati
nuraninya, dan perbuatan lain buruk bila dilakukan berlawanan
dengan hati nuraninya. Kalau kita mengambil keputusan moral
berdasarkan hati nurani, keputusan yang diambil "di hadapan
Tuhan" dan kita sadar dengan tindakan tersebut memenuhi
kehendak Tuhan.
2. Kaidah Emas
Cara lebih obyektif untuk menilai baik buruknya perilaku moral
adalah mengukurnya dengan Kaidah Emas (positif), yang berbunyi:
"Hendaklah memperlakukan orang lain sebagaimana Anda sendiri
ingin diperlakukan" Kenapa begitu? Tentunya kita menginginkan
diperlakukan dengan baik. Kalau begitu yang saya akan berperilaku
dengan baik (dari sudut pandang moral). Rumusan Kaidah Emas
secara negatif: "Jangan perlakukan orang lain, apa yang Anda
sendiri tidak ingin akan dilakukan terhadap diri Anda" Saya kurang
konsisten dalam tingkah laku saya, bila saya melakukan sesuatu
terhadap orang lain, yang saya tidak mau akan dilakukan terhadap
diri saya. Kalau begitu, saya berperilaku dengan cara tidak baik
(dari sudut pandang moral).

3. Penilaian Umum
Cara ketiga dan barangkali paling ampuh untuk menentukan baik
buruknya suatu perbuatan atau perilaku adalah menyerahkan
kepada masyarakat umum untuk menilai. Cara ini bisa disebut juga
audit sosial. Sebagaimana melalui audit dalam arti biasa sehat
tidaknya keadaan finansial suatu perusahaan dipastikan, demikian
juga kualitas etis suatu perbuatan ditentukan oleh penilaian
masyarakat umum.

II. Etika Bisnis Produksi

Etika produksi merupakan cara untuk melakukan kegiatan bisnis yang


mencakup seluruh aspek yang berkaitan dengan individu, perusahaan dan
masyarakat. Dalam proses produksi biasanya perusahaan menekankan
agar produk yang dihasilkannya mengeluarkan biaya yang termurah,
melalui pengkombinasian penggunaan sumber-sumber daya yang
dibutuhkan, tentu saja tanpa mengabaikan proses inovasi serta kreasi.
Secara praktis, ini memerlukan perubahan dalam cara membangun. Yakni
dari cara produksi konvensional menjadi cara produksi dengan
menggunakan sumber daya alam semakin sedikit, membakar energi
semakin rendah, menggunakan ruang-tempat lebih kecil, membuang
limbah dan sampah lebih sedikit dengan hasil produk yang setelah
dikonsumsi masih bisa didaur ulang.

Contoh kasus
Etika Produksi Gudeg

Salah satu makanan tradisional khas Yogyakarta yang telah mengalami


transformasi kultural adalah gudeg. Makanan gudeg juga bisa ditemukan
di kota lain, tetapi gudeg mempunyai cita rasa yang khas dan berbeda
dengan gudeg yang ada di daerah lain.
Gudeg Yogyakarta punya rasa manis yang khas. Masakan gudeg ada dua
macam, yaitu gudeg basah dan gudeg kering. Gudeg basah hanya satu
kali dimasak dengan direbus hingga habis airnya, gudeg kering minimal
dua kali memasak hingga benar-benar kering.

Gudeg sebagai kreativitas makanan ini memang cocok sebagai oleh-oleh,


biasanya yang jenis gudeg kering karena tidak mudah basi dan mampu
bertahan hingga tiga hari. Harganya pun variatif, mulai dari Rp 10.000
sampai Rp 50.000, tergantung lauk yang dipilih dan jenis kemasannya.
Bahkan, ada yang menawarkan paket hemat Rp 5.000, dengan lauk tahu,
tempe dan telur. Seperti kemasan gudeg-gudeg di tempat lain, oleh-oleh
khas Yogyakarta ini dapat dikemas menarik dengan menggunakan besek
(tempat dari anyaman bambu) atau kendil (guci dari tanah liat yang
dibakar).

Yang lebih unik, beberapa penjual gudeg ada yang dengan senang hati
akan memperlihatkan proses pembuatan gudegnya jika pengunjung
menghendaki, misalnya oleh penjual gudeg di daerah Wijilan. Kalau kita
coba kembali mengulur benang historis, kita akan mendapati fakta
menarik bahwa gudeg tidak begitu saja muncul dan kemudian menjadi
trade mark daerah Yogyakarta, tetapi merupakan proses transformasi
budaya yang panjang.

Menyebut gudeg Yogyakarta otomatis ingatan kita akan tertuju pada


sebuah kampung yang terletak di sebelah timur Alun-alun Utara Keraton
Yogyakarta. Dari kampung inilah, masakan khas yang berbahan dasar
nangka mentah ini menjadi populer hingga seantero dunia.

Tak heran wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta rasanya kurang


lengkap jika belum menyantap gudeg di tempat ini. Rasanya kita sangat
perlu berterima kasih pada pencetus pertama kali gudeg. Eksistensi gudeg
yang telah mengakar kuat di Yogyakarta ini kemudian menjadi krusial
untuk dijaga stabilitas dan kualitasnya. Akan tetapi, realitas sepertinya tak
selalu menghargai jerih payah sejarah. Kalau kita lebih teliti dalam
mencermati perkembangan makanan ini, banyak sekali kasus di mana
penjual gudeg mengganti bahan bakunya dengan selain nangka muda,
tetapi misalnya sukun muda. Karena memang buah sukun mentah
mempunyai morfologi yang mirip dengan nangka mentah, tetapi dalam hal
kualitas rasa jelas dua buah ini tidak bisa bersifat subtitutif.

Penampilan setelah diolah pun akan berbeda. Lebih dari itu, pengolahan
makanan yang mayoritas masih secara manual membuat aspek
kebersihan dan kesehatan makanan kurang menjadi penetrasi oleh
sebagian besar produsen gudeg. Deteriorasi dalam produksi makanan
seolah merupakan pemandangan wajib dalam perjalanan produksi
makanan kita. Ini merupakan strategi yang salah oleh produsen ketika
harga bahan baku melonjak naik. Jika fenomena yang masih dalam skala
kecil ini dibiarkan berlarut-larut, maka gudeg akan mengalami apa yang
dalam ilmu manajemen industri disebut sebagai masa kedewasaan atau
bahkan kemunduran, yaitu stabilitas preferensi konsumen akan goyah dan
beralih ke barang subtitusi.

Ekses riilnya gudeg akan bernasib sama dengan industri makanan lokal
yang cenderung mereduksi kualitas outletnya seiring dengan bertambah
mahalnya harga bahan baku. Implikasi jangka panjangnya, masyarakat
akan mulai meninggalkan gudeg sebagai ikon budaya hingga akhirnya
tidak mempunyai nilai tambah seperti makanan pada umumnya. Hal ini
tidak hanya mengubah meski mungkin banyak kalangan tidak
menyadarinya rasa khas dan penampilan fisik gudeg, tetapi lebih
merupakan kecerobohan publik yang rentan berimplikasi pada
terkontaminasinya khazanah produk budaya dan tercerabutnya gudeg di
hati pelanggannya.

Kecenderungan produsen mereduksi kualitas produknya seiring naiknya


harga bahan baku atau mutlak karena rakus ingin memperoleh
pendapatan lebih banyak ini bisa dijadikan indikator betapa buruknya
paradigma siklus perekonomian masyarakat. Faktor-faktor yang sangat
esensial dan prinsipil dalam koridor produksi seperti perbaikan kinerja atau
kualitas produk, penciptaan diversifikasi produk, serta usaha
mempertahankan segmen dan pangsa pasarnya tak lagi mendapat
perhatian serius di benak produsen.

Pemerintah sebaiknya segera turun tangan dengan semakin gencar


memberikan penyuluhan dan komunikasi tentang etika produksi dan
orientasi ekonomi jangka panjang. Pemahamann prinsip QFD (quality
function development) juga harus ditanamkan sejak dini kepada
masyarakat mengingat upaya pendampingan seperti inilah yang akan
menumbuhkan rasa afiliasi masyarakat terhadap upaya dinamisasi
ekonomi pemerintah. Konsep QFD dikembangkan untuk menjamin produk
yang memasuki tahap produksi benar-benar akan dapat memuaskan
kebutuhan pelanggan dengan jalan membentuk tingkat kualitas yang
diperlukan dan dengan kesesuaian yang maksimum pada setiap tahap
pengembangan produk.

Produsen kita harus lebih berpandangan futuristik dan menerapkan


teknologi tepat guna dengan berpijakan pada prinsip agroindustri bahwa
keseluruhan bahan baku yang terlibat dalam transformasinya menjadi
suatu produk adalah bisa dimanfaatkan dan tidak ada yang dibuang sia-
sia. Misalnya dalam kasus proses pengolahan bahan baku gudeg,
biasanya kulit nangka muda serta biji-biji nangka yang agak matang
sehingga kurang baik jika diikutkan sebagai bahan utama gudeg, maka biji
tersebut bisa digunakan sebagai bahan pembuatan roti atau bisa juga
diolah dalam pembuatan bio-etanol (renewable energy yang ramah
lingkungan).

Sementara kulit nangka bisa dikumpulkan untuk selanjutnya


ditransformasikan menjadi bahan pakan ternak. Jadi, masyarakat harus
mulai memberdayakan sistem produksi berkelanjutan (sustainability
production system). Namun, dalam kenyataannya, pemanfaatan seperti ini
tentu saja tak akan semudah membalik telapak tangan.

Pemerintah perlu menjadi jembatan penghubung antara potensi seperti ini


dengan para pemilik agroindustri sehingga tercipta siklus ekonomi yang
saling menguntungkan. Selama ini pemerintah belum pernah mengatur
regulasi yang jelas terkait usaha menjaga eksistensi makanan tradisional
ini. Khazanah- khazanah budaya lokal harus terus diberdayakan untuk
meningkatkan perekonomian dan budaya masyarakat.

III. Hubungan Bisnis dan Lingkungan

Bisnis merupakan kegiatan yang berhubungan dan berkepentingan


dengan lingkungan, dengan kata lain bisnis merupakan kegiatan
pengelolaan sumber-sumber ekonomi yang disediakan oleh lingkungan. Di
samping itu bisnis tidak terlepas dengan adanya faktor-faktor lingkungan
yang mendukung maupun yang menghambat atas tujuan yang ingin
dicapai bisnis. Di lain pihak lingkungan bisnis merupakan seluruh karakter
dan faktor yang dapat mempengaruhi baik secara langsung maupun tidak
terhadap bisnis. Sebaliknya bisnis dapat secara langsung maupun tidak
dapat mempengaruhi atau menciptakan pengaruh terhadap
lingkungannya. Oleh karena itu interaksi antara bisnis dan lingkungannya
atau sebaliknya menjadi tema pencermatan yang cukup penting dan
sangat urgen bagi kegiatan bisnis terhadap masyarakat. Sehingga
eksistensi bisnis layak diterima atau memberikan pengaruh tertentu yang
positif atau negatif terhadap lingkungannya. Secara umum lingkungan
bisnis dapat kita kelompokkan menjadi dua bagian besar yaitu lingkungan
eksternal dan lingkungan internal.

III.1 Lingkungan Eksternal

Lingkungan Eksternal adalah semua faktor atau pihak-pihak atau


variabel dinamis yang berada di luar bisnis atau perusahaan. Jika
perusahaan didirikan di suatu daerah atau Negara di dalam suatu system
masyarakat, maka praktis perusahaan ini merupakan bagian yang tak
terpisahkan dengan masyarakat ini, dan merupakan sub system
masyarakat yang sudah tentu dituntut untuk berperilaku harmoni dengan
semua unsur di dalam masyarakat. Unsur-unsur tersebut dapat
dikelompokkan menjadi beberapa unsur:
1. Unsur Hukum yang berlaku di masyarakat
2. Unsur Budaya atau Kultur di masyarakat
3. Unsur Agama atau Kepercayaan
4. Unsur Politik Pemerintahan
5. Unsur Ekonomi Umum
6. Unsur Sosial atau Masyarakat
7. Unsur Geografik
8. Unsur Pendidikan.
Faktor/pihak yang bersifat Dinamis tersebut jelas akan ada
pengaruhnya baik bersifat langsung mapun tidak langsung terhadap
bisnis. Dan dalam banyak hal lingkungan eksternal ini merupakan variable
strategis dan memiliki dimensi jangka panjang dan secara strategis sering
menentukan peluang maupun tantangan yang akan dihadapi bisnis.

Variabel atau faktor-faktor lingkungan eksternal ini relatife sulit


dapat dikendalikan oleh bisnis,lebih sering bisnis mengikuti dan
menyesuaikan terhadap perubahan atau dinamika dari variable eksternal
ini.

III.2 Lingkungan Internal

Lingkungan Internal merupakan sejumlah faktor, variabel atau


atribut-atribut yang
melekat pada variabel atau faktor tersebut yang berada di lingkungan
bisnis dan cukup langsung mempengaruhi bisnis, antara lain yaitu Tenaga
Kerja, Modal, Alat-alat, Sistem Manajemen, sarana dan prasarana yang
tersedia di dalam perusahaan. Persoalan lingkungan hidup ( hubungan
dan keterkaitan antara manusia dengan alam dan pengaruh tindakan
manusia terhadap kerusakan alam ) baru mulai disadari pada paruh abad
ke-20, bersamaan dengan pesatnya pertumbuhan bisnis modern dan
dukungan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kesadaran ini mulai
muncul setelah ada indikasi bahwa pertumbuhan ekonomi global yang
ditulangpunggungi oleh perusahaan-perusahaan raksasa berskala global
telah mengancam eksistensi bumi. Sebagaimana dikatakan oleh Bertens
(2001), pertumbuhan ekonomi global saat ini telah memunculkan enam
persoalan lingkungan hidup yaitu:

a. Akumulasi bahan beracun


Terjadi karena pabrik-pabrik membuang limbahnya ke saluran-saluran
yang pada akhirnya mengalir ke sungai-sungai dan laut.Ada pula kapal-
kapal tangki raksasa yang bermuatan minyak mentah mengalami
kebocoran atau tenggelam sehingga minyak mentahnya tumpah dan
mencemari air laut. Selain pencemaran air, munculnya pabrik -pabrik juga
mengakibatkan pencemaran udara, yang dihasilkan dari asap pabrik,
knalpot kendaraan bermotor yang jumlahnya semakin tidak terkendali.

b. Efek Rumah Kaca (Greenhouse Effect)


Pada bulan Desember 2007, Indonesia mendapat kehormatan menjadi
tuan rumah Konferensi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) tentang
Perubahan Iklim yang diadakan di Bali yang dihadiri oleh utusan
pemerintah, pejabat PBB, dan pakar lingkungan dari hampir seluruh
negara di dunia. Konferensi ini dapat dikatakan cukup berhasil karena
seluruh peserta telah menyadari bahaya pemanasan global serta sepakat
untuk bersama-sama menanggulangi dan memberikan kontribusi nyata,
termasuk dalam hal pendanaan untuk menanggulangi permasalahan
akibat pemanasan global. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah, para
pakar, dan masyarakat dunia telah sangat menyadari bahaya dari
pemanasan global dan mulai menganggap penting upaya bersama untuk
mengatasi permasalahan ini. Para ahli mengatakan bahwa salah satu
penyebab terjadinya pemanasan global adalah akibat efek rumah kaca
(greenhouse efect). Hawa panas yang diterima bumi dari sinar matahari
terhalang dan terperangkap tidak dapat keluar dari atmosfer bumi oleh
partikel-partikel gas polutan atau yang sering disebut gas rumah kaca.
Gas-gas yang memenuhi atmosfer bumi tersebut, diantaranya berupa:
karbon dioksida (CO2), metana (CH4), ozon (O3), nitrogen oksida (Nox),
dan chloro-fluoro-carbon (CFC). Menurut laporan para ilmuan dari Badan
Antariksa AS (NASA) dan Pusat Data Es dan Salju Nasional AS yang telah
memantau satelit sejak tahun 1979, seluruh es di Antartika pada tahun
2005 tidak lagi menutupi areal sebagaimana pada tahun 1979 (dalam
Nasru Alam Aziz: Kompas, 13 Desember 2006). Mencairnya es di
Antartika ini tentu saja berakibat pada kenaikan permukaan laut di dunia.
Bisa dibayangkan akibatnya bagi Indonesia yang wilayahnya terdiri dari
puluhan ribu pulau yang dikelilingi oleh laut dan samudera. Bila
pemanasan global tidak dapat dikendalikan, maka sebagaimana diprediksi
oleh Nasru Alam Aziz, pada abad ke-21 ini kenaikan permukaan air laut
akan menggenangi daratan sejauh 50 meter dari garis pantai dan akan
menengglamkan ribuan pulau kecil di Indonesia.

Gas polutan penyebab pemanasan global sebagian besar dari


pembakaran bahan bakar fosil (minyak bumi dan batu bara), yang saat ini
masih menjadi sumber energi terbesar 10 di dunia untuk industri,
transportasi, dan keperluan rumah tangga. Gas metana berasal dari
pembakaran sampah kota dan chloro-fluoro-arbon (CFC) yang banyak
digunakan untuk penyejuk ruangan (AC), kulkas, industri plastik, dan
sebagai gas pendorong pada aerosol.

c. Perusakan Lapisan Ozon (O3)


Kegunaan lapisan ozon (O3) bagi bumi dan seluruh isinya adalah untuk
melindungi semua kehidupan di bumi dari sinar ultraviolet yang
dipancarkan oleh sinar matahari. Bahaya radiasi sinar ultraviolet ini, antara
lain bisa menyebabkan kangker kulit, penurunan sistem kekebalan tubuh,
katarak, serta kerusakan bentuk-bentuk (spesies) kehidupan di laut dan di
darat. Fungsi utama lapisan ozon adalah untuk menyaring atau
memperlemah daya sinar ultraviolet yang dipancarkan oleh sinar matahari
sebelum memasuki bumi. Lapisan ini ada pada ketinggian sekitar 20-30
km di atas permukaan bumi. Ada laporan bahwa bukan saja telah terjadi
penipisan lapisan ozon, tetapi juga telah terjadi perobekan sehingga
menimbulkan lubang pada bagian tertentu dari lapisan ozon tersebut.
Penyebab paling utama dari kerusakan lapisan ozon ini adalah gas
polutan yang disebut chloro-fluoro-carbon (CFC). Sebagai mana telah
dijelaskan sebelumnya, CFC banyak digunakan untuk penyejuk ruangan
(AC), kulkas, industri pelastik dan busa, dan aeruson. Penggunaan kulkas
sebagai alat pendingin atau pengawet bahan makanan dan minuman yang
makin meluas dalam industri perhotelan, ketering, pasar-pasar swalayan,
industri pengolahan daging dan ikan segar, rumah tangga, dan
sebagainya makin meningkatkan produksi gas CFC tersebut. Bila ini tidak
dapat dikendalikan, maka gas polutan CFC ini akan makin banyak
memenuhi lapisan ozon sehingga dapat membahyakan lapisan ozon
tersebut. d. Hujan Asam (Acid Rain) Pendirian pabrik-pabrik di banyak
kawasan industri oleh hampir semua negara demi memacu pertumbuhan
ekonomi tanpa disertai program pengendalian limbah asap telah
mengakibatkan banyaknya volume asap hitam pekat ini kemudian
menyatu dengan udara dan awan, yang pada gilirannya menurunkan
hujan asam (acid rain) ke bumi disekitar awan tersebut. Sejak beberapa
dekade terakhir ini, terutama di kawasan industri padat negara-negara
maju seperti AS, Kanada, Jerman, Belanda, dan 11 sebagainya, sudah
sering basahi oleh air hujan asam. Hujan asam ini ternyata sangat
berbahaya bagi kehidupan di bumi. Bila ini terus berlangsung, maka hujan
asam itu dapat merusak hutan, mencemari air danau dan bahkan merusak
gedung-gedung. Sebagai mana dikatakan oleh Bartens (2000), pada
tahun 1988 dilaporkan bahwa akibat hujan asam yang menimpa Kanada
telah menyebabkan sekitar 14.000 danau menjadi mati (dalam arti tidak
lagi mengandung kehidupan) dan 14% dari pohon sugar maple telah mati.

III.3 Prinsip – Prinsip Etika di Lingkungan Hidup

Sebagai pegangan dan tuntunan bagi perilaku kita dalam


berhadapan dengan alam, terdapat beberapa prinsip etika lingkungan
yaitu:
1. Sikap Hormat terhadap Alam
Hormat terhadap alam merupakan suatu prinsip dasar bagi manusia
sebagai bagian dari alam semesta seluruhnya.

2. Prinsip Tanggung Jawab


Tanggung jawab ini bukan saja bersifat individu melainkan juga kolektif
yang menuntut manusia untuk mengambil prakarsa, usaha, kebijakan dan
tindakan bersama secara nyata untuk menjaga alam semesta dengan
isinya.

3. Prinsip Solidaritas
Yaitu prinsip yang membangkitkan rasa solider, perasaan
sepenanggungan dengan alam dan dengan makluk hidup lainnya sehigga
mendorong manusia untuk menyelamatkan lingkungan.

4. Prinsip Kasih Sayang dan Kepedulian


Prinsip satu arah , menuju yang lain tanpa mengaharapkan balasan, tidak
didasarkan kepada kepentingan pribadi tapi semata-mata untuk alam.

5. Prinsip “No Harm”


Yaitu Tidak Merugikan atau merusak, karena manusia mempunyai
kewajiban moral dan tanggung jawab terhadap alam, paling tidak manusia
tidak akan mau merugikan alam secara tidak perlu.

6. Prinsip Hidup Sederhana dan Selaras dengan Alam


Pola konsumsi dan produksi manusia modern harus dibatasi. Prinsip ini
muncul didasari karena selama ini alam hanya sebagai obyek eksploitasi
dan pemuas kepentingan hidup manusia.

7. Prinsip Keadilan
Prinsip ini berbicara terhadap akses yang sama bagi semua kelompok dan
anggota masyarakat dalam ikut menentukan kebijakan pengelolaan
sumber daya alam dan pelestarian alam, dan dalam ikut menikmati
manfaat sumber daya alam secara lestari.

8. Prinsip Demokrasi
Prinsip ini didasari terhadap berbagai jenis perbedaan keanekaragaman
sehingga prinsip ini terutama berkaitan dengan pengambilan kebijakan
didalam menentukan baik-buruknya, rusak-tidaknya, suatu sumber daya
alam.

9. Prinsip Integritas Moral


Prinsip ini menuntut pejabat publik agar mempunyai sikap dan perilaku
moral yang terhormat serta memegang teguh untuk mengamankan
kepentingan publik yang terkait dengan sumber daya alam.

Contoh Kasus
PT. Megasari Makmur

Perjalanan obat nyamuk bermula pada tahun 1996, diproduksi oleh PT.
Megasari Makmur yang terletak di daerah Gunung Putri, Bogor, Jawa
Barat. PT. Megasari Makmur juga memproduksi banyak produk seperti tisu
basah, dan berbagai jenis pengharum ruangan. Obat nyamuk HIT juga
mengenalkan dirinya sebagai obat nyamuk yang murah dan lebih tangguh
untuk kelasnya. Selain di Indonesia HIT juga mengekspor produknya ke
luar Indonesia. Obat anti-nyamuk HIT yang diproduksi oleh PT Megarsari
Makmur dinyatakan ditarik dari peredaran karena penggunaan zat aktif
Propoxur dan Diklorvos yang dapat mengakibatkan gangguan kesehatan
terhadap manusia. Departemen Pertanian, dalam hal ini Komisi Pestisida,
telah melakukan inspeksi di pabrik HIT dan menemukan penggunaan
pestisida yang menganggu kesehatan manusia seperti keracunan
terhadap darah, gangguan syaraf, gangguan pernapasan, gangguan
terhadap sel pada tubuh, kanker hati dan kanker lambung. HIT yang
promosinya sebagai obat anti-nyamuk ampuh dan murah ternyata sangat
berbahaya karena bukan hanya menggunakan Propoxur tetapi juga
Diklorvos (zat turunan Chlorine yang sejak puluhan tahun dilarang
penggunaannya di dunia). Obat anti-nyamuk HIT yang dinyatakan
berbahaya yaitu jenis HIT 2,1 A (jenis semprot) dan HIT 17 L (cair isi
ulang). Selain itu, Lembaga Bantuan Hukum Kesehatan melaporkan PT
Megarsari Makmur ke Kepolisian Metropolitan Jakarta Raya pada tanggal
11 Juni 2006. Korbannya yaitu seorang pembantu rumah tangga yang
mengalami pusing, mual dan muntah akibat keracunan, setelah menghirup
udara yang baru saja disemprotkan obat anti-nyamuk HIT.

Analisis:
Dalam perusahaan modern tanggung jawab atas tindakan perusahaan
sering didistribusikan kepada sejumlah pihak yang bekerja sama dan
terdiri atas tindakan atau kelalaian orang-orang yang berbeda yang
bekerja sama sehingga tindakan atau kelalaian mereka menghasilkan
tindakan perusahaan, lantas siapa yang bertanggupng jawab atas
tindakan yang dihasilkan bersama-sama ini ? Dari sudut pandang
tradisional berpendapat bahwa mereka yang melakukan secara sadar dan
bebas apa yang diperlukan perusahaan, masing-masing secara moral
bertanggung jawab. Namun mendapat kritikan dalam pandangan ini
bahwa ketika kelompok terorganisasi seperti perusahaan bertindak
bersama – sama dan melakukan tindakan kelompok maka kelompoklah
yang harus bertanggung jawab atas tindakan tersebut. Kemudian terdapat
bantahan selanjutnya dari pandangan tradisional bahwa apabila
dibebankan dalam tindakan kelompok, hal ini tidak merubah moralitas
setiap individu yang bekerjasama dalam tindakan kelompok tersebut
secara sukarela dan bebas, secara moral individu – individu ini akan
bertanggung jawab atas tindakan itu. Namun demikian, Seseorang yang
bekerja dalam struktur birokrasi organisasi besar tidak harus bertanggung
jawab secara moral atas setiap tindakan perusahaan yang turut dia bantu,
seperti seorang sekretaris, juru tulis, atau tukang bersih-bersih di sebuah
perusahaan. Faktor ketidaktahuan dan ketidakmampuan yang
meringankan dalam organisasi perusahaan birokrasi berskala besar,
sepenuhnya akan menghilangkan tanggung jawab moral orang itu.

Dari Kasus diatas perusahaan melakukan pelanggaran etika bisnis


terhadap prinsip kejujuran, yaitu untuk mendapatkan laba besar dan
ongkos produksi yang minimal. Mengeyampingkan aspek kesehatan
konsumen dengan penggunaan zat berbahaya dalam produknya.

Penyelesaian Masalah yang dilakukan PT. Megasari Makmur dan


Tindakan
Pemerintah

Pihak produsen (PT. Megasari Makmur) menyanggupi untuk menarik


semua produk HIT yang telah dipasarkan dan mengajukan izin baru untuk
memproduksi produk HIT Aerosol Baru dengan formula yang telah
disempurnakan, bebas dari bahan kimia berbahaya. HIT Aerosol Baru
telah lolos uji dan mendapatkan izin dari Pemerintah. Pada tanggal 08
September 2006 Departemen Pertanian dengan menyatakan produk HIT
Aerosol Baru dapat diproduksi dan digunakan untuk rumah tangga (N0.
RI. 2543/9-2006/S).Sementara itu pada tanggal 22 September 2006
Departemen Kesehatan juga mengeluarkan izin yang menyetujui
pendistribusiannya dan penjualannya di seluruh Indonesia.