Anda di halaman 1dari 38

4.3.1.

Perancangan Diafragma

Gambar 4.21 Penampang Diafragma


(Sumber : Penulis, 2018)

Gambar 4.22 Penampang Diafragma


(Sumber : Penulis, 2018)

Data Perhitungan :
a. Tinggi balok diafragma (h) = 0,50 m= 500mm
b. Lebar balok diafragma (b) = 0,25 m = 250mm
c. Tinggi gelagar induk (h) = 0,80 m = 800 mm
d. Lebar gelagar induk (b) = 0,40 m= 400 mm
e. Jarak as ke as antar gelagar diafragma(S):
𝑙 10 𝑚
(S) = 𝑛−1 = = 5 m = 5000 mm
3−1

f. Bentang bersih balok diafragma dari sisi dalam gelagar induk (S₀) :
S₀= S-(1/2.b)-(1/2.b) = S-b = 2000mm – 400 mm = 1600 mm = 1,6 m

4.3.1.1.Analisa Pembebanan

1. Berat sendiri balok diafragma (QMS)

a. Berat pelat lantai kendaraan (Ws)


Ws = S'xhf x𝛾
= 5 m x 0,2 m x2500Kg/m3
= 2500 Kg/m'
= 25KN/m'

b. Berat balok diafragma (Wd)


Wd = bxhx𝛾
= 0,25 m x 0,50 m x 2500Kg/m3
= 312,5 Kg/m'
= 3,125 KN/m'
Total berat sendiri balok diafragma (QMS)

QMS = Ws + Wd
= 25KN/m' + 3,125 KN/m'
= 78,125 KN/m'
1
Gaya geser akibat berat sendiri (VMS) = 𝑥QMS 𝑥S₀
2

= 0,5 x 78,125 KN/m' x 1,6 m


= 23,438 KN
1
Momen akibat berat sendiri (MMS) = 12 𝑥QMS𝑥S₀2

= 0,083 x 78,125 KN/m'x (1,6 m)2


= 16,667 KN.m
2. Beban mati tambahan (QMA)
Berat lapis aspal + overlay (I) :
I = S' x ta x 𝛾Asphal beton
= 5m x 0,10m x 2200Kg/m3= 1100 Kg/m'
Berat air hujan (II) :
II = S' x th x 𝛾Air murni
= 5m x 0,05m x 1000Kg/m3= 250 Kg/m'
Total beban mati tambahan (QMA) :
QMA = I + II
= 1100Kg/m' + 250 Kg/m'
= 1350 Kg/m'
= 13,50 KN/m'
Gaya geser akibat beban mati tambahan (VMA) :
1
VMA = 2 x QMA x S0'

= 0,5 x 13,50KN/m' x 1,6 m


= 10,8 KN
Momen akibat beban mati tambahan (MMA) :
1
MMA = 12xQMAx S02

= 0,083 x13,50KN/m' x 1,62m


= 2,868 KN.m

3. Beban truk (QTT)


Beban truk ''T'' (PTT) :
PTT = (1+FBD) x T
= (1+40%) x 100KN
= 140 KN
Gaya geser akibat beban truk ''T'' (VTT) :
1
VTT = 2x PTT
= 0,5 x 140KN
= 70 KN
Momen akibat beban truk ''T'' (MTT) :
1
MTT = 8x PTTx S02

= 0,125 x 140KN x (1,6 m)2


= 0,125 x 140KN x2,56 m2
= 44,8 KN.m

Tabel 4.14. Kombinasi Momen dan Gaya Geser Ultimit

Faktor beban V M Vu Mu
Jenis beban
No ultimid (KN) (KN.m) (KN) (KN.m)

1 2 3 4 5=2x3 6=2x4

1 berat sendir (Ms) 1.3 23,438 16,667 30,469 21,667

2 beban mati tambahan (MA) 2 10,8 2,868 21,8 5,736

3 beban truck "T" (TT) 1.8 70 44,8 126 80,64

Total kombinasi rencana dan gaya geser rencana 178,269 108,043

Sumber : hasil perhitungan

4.3.1.2.Penulangan balok diafragma

Data perhitungan tulangan tarik dan tekan :


a. Momen ultimit rencana balok diafragma (Mᵤ) = 108,043 KN.m
b. Gaya geser ultimit rencana (Vᵤ) = 178,269 KN
c. Tulangan utama (Lentur) D16
d. Tulangan geser D12
e. Mutu beton K-300
f. Kuat tekan beton (Fc’) = 30 Mpa
g. Tegangan leleh baja (Fy) = 400 Mpa
h. Faktor reduksi kekuatan lentur dengan atau tanpa beban aksial dan tarik aksial (∅)
= 0,80 (Dari Manual Perencanaan Struktur Beton Bertulang Untuk Jembatan
No.009/BM/2008 Hal.3-5 Tabel 3.2)
i. Faktor 𝛽 1 untuk Fc’≤30 Mpa (30 Mpa ≤ 30 Mpa) = 0,85 (Manual Perencanaan
Struktur Beton Bertulang Untuk Jembatan No.009/BM/2008 Hal.4-2 Pasal 4.1.2
Persamaan 4.1-1)
j. Tinggi balok diafragma (h) = 0,50 m = 500mm
k. Lebar balok diafragma (b) = 0,25 m = 250mm
l. Selimut beton (Sb) = 40mm. Untuk struktur yang tidak langsung berhubungan
dengan tanah atau cuaca, yaitu kolom dan balok dengan tulangan utama, pengikta,
sengkang dan lilitan spiral (Manual Perencanaan Struktur Beton Bertulang Untuk
Jembatan No.009/BM/2008 Hal.2-18 Pasal 2.8 Tabel 2-3 Bagian B)

1. Tulangan Tarik
Diperkirakan hanya 1 baris pada tulangan tarik, maka :
a. Jarak dari titik berat tulangan tarik sampai serat tepi beton tarik (dS)
dS = Sb + DSengkang + (½.DTulangan Pokok)
= 40mm + 12 mm +(0,5 x 16mm)
= 40mm + 12 mm + 8mm
= 60 mm

b. Tinggi efektif penampang diafragma (d)


d = h - dS
= 500 mm – 60mm
= 440mm
c. Jumlah tulangan tarik tiap baris (m)
𝑏−(2 𝑥 𝑑𝑠)
m = +1
𝐷𝑇𝑃+𝑆𝑛
250 𝑚𝑚 − (2 𝑥 60𝑚𝑚)
= +1
16 𝑚𝑚+40 𝑚𝑚
= 3,32 Batang
= 3 Batang
(Ket : Berdasarkan Ali Asroni 2010 Balok dan Pelat Beton Bertulang
Halaman 35, nilai m dibulatkan ke bawah. Tetapi jika angka desimal > 0,86
maka dapat dibulatkan ke atas)

Gambar 4.22 Spasi dan Selimut Beton


(Sumber : Manual Perencanaan Struktur Beton Bertulang Untuk Jembatan
No./009/BM/2008)

d. Faktor tahanan momen pikul (K)


Mᵤ
K = ∅𝑥𝑏𝑥𝑑2
108,043 𝑥106 N.mm
= 0,80𝑥250𝑚𝑚𝑥(440𝑚𝑚)2

= 2,79 N/mm2
= 2,79 Mpa
(Ket : 1 Mpa = 1 N/mm2)

e. Rasio tulangan
0,85𝑥𝐹𝑐´ 2𝑥𝐾
ρPerlu = 𝑥 [1 − √1 − 0,85𝑥𝐹𝑐´]
𝐹𝑦

0,85𝑥30 𝑀𝑝𝑎 2𝑥2,79 𝑀𝑝𝑎


= 𝑥 [1 − √1 − 0,85𝑥30 𝑀𝑝𝑎]
400 𝑀𝑝𝑎
= 0,0074
1,4 1,4
ρMin = 𝐹𝑦 = 400 = 0,0035
0,85𝑥𝐹𝑐´𝑥𝛽₁ 600
ρMaks = 0,75𝑥 𝑥 (600+𝐹𝑦)
𝐹𝑦
0,85 𝑥 30𝑀𝑝𝑎 𝑥 0,85 600
= 0,75𝑥 𝑥 (600 + 400𝑀𝑝𝑎)= 0,0244
400 𝑀𝑝𝑎

Syarat ρMin < ρPerlu < ρMaks


ρMin < ρPerlu (0,0035 <0,0074) maka dipakai ρPerlu
ρPerlu< ρMaks (0,0074<0,0244) maka dipakai ρPerlu
Ternyata ρMin < ρPerlu < ρMaks (0,0035< 0,0074<0,0244)
f. Luas tulangan tarik yang diperlukan (As,u)
As,u = ρPerlux b x d = 0,0074x250 mm x440mm = 814mm2
g. Luas 1 batang tulangan tarik (As1)
Direncanakan tulangan pokok D16, dengan nilai 𝜋 = 3,14, maka :
𝜋 3,14
As1 = 4 𝑥𝐷𝑇𝑃2 = 𝑥(16𝑚𝑚)2 = 0,785 x 256mm2 = 200,96 mm2
4

h. Jumlah tulangan tarik yang diperlukan (n)


𝐴𝑠,𝑢 814 mm2
n = = 200,96𝑚𝑚2 = 4,050 Batang = 5 Batang
𝐴𝑠₁

i. Luas tulangan tarik terpasang (AsPasang)


AsPasang = n x As1
= 5 x 200,96mm2
= 1004,8 mm2 > AsPerlu (1004,8 mm2 >814mm2) .............… Ok
Jadi, untuk tulangan tarik diafragma digunakan tulangan 5 D16, dengan luas
tulangan terpasang 1004,8 mm2.
2. Tulangan Tekan
a. Luas tulangan tekan yang diperlukan (As'u)
Untuk tulangan tekan diambil 50% dari tulangan tarik, maka :
As'u = 50% x As,u= 0,50 x 814mm2 = 407 mm2
b. Luas 1 batang tulangan tekan (As’₁)
Direncanakan tulangan pokok D16, dengan nilai 𝜋 = 3,14, maka :
𝜋 3,14
As'1 = 4 𝑥𝐷𝑇𝑃2 = 𝑥(16 𝑚𝑚)2 = 0,785 x 256mm2 = 200,96 mm2
4

c. Jumlah tulangan tekan yang diperlukan (n)


𝐴𝑠´𝑢 407 𝑚𝑚2
n = = 200,96𝑚𝑚2 = 2,025 Batang = 3 Batang
𝐴𝑠´₁

d. Luas tulangan tekan terpasang (As’Pasng)


As’Pasng = n x As'1
= 3 x 200,96mm2
= 602,88 mm2 > As’Perlu ( 602,88 mm2 > 407 mm2) ….….... Ok
Jadi, untuk tulangan tekan diafragma digunakan tulangan 3D16, dengan luas
tulangan terpasang 602,88 mm2

3. Tulangan Geser
Perhitungan tulangan geser berdasarkan Manual Perencanaan Struktur Beton
Bertulang Untuk Jembatan No.009/BM/2008.
Data Perhitungan :
a. Gaya geser ultimit rencana (Vu) = 178,269 KN (Perhitungan Hal : 119)
b. Tulangan geser D12
c. Jumlah kaki sengkang (nk) = 2
d. Mutu beton K-300
e. Kuat tekan beton (Fc’) = 30 Mpa
f. Tegangan leleh baja (Fy) = 400Mpa (untuk tulangan ulir)
g. Faktor Reduksi Kekuatan (∅) Untuk Geser = 0,70 (Dari Manual Perencanaan
Struktur Beton Bertulang Untuk Jembatan No.009/BM/2008 Hal.3-5 Tabel 3.2)
h. Tinggi balok diafragma (h) = 0,5 m = 500mm
i. Lebar balok diafragma (b) = 0,25m = 250mm
j. Selimut beton (Sb) = 40mm. Untuk struktur yang tidak langsung berhubungan
dengan tanah atau cuaca, yaitu kolom dan balok dengan tulangan utama,
pengikta, sengkang dan lilitan spiral (Manual Perencanaan Struktur Beton
Bertulang Untuk Jembatan No.009/BM/2008 Hal.2-18 Pasal 2.8 Tabel 2-3
Bagian B)
k. Tinggi efektif penampang diafragma (d) = 440mm

Menghitung kuat geser yang disumbangkan beton (Vc) :


1
Vc = 6 𝑥√𝐹𝑐´𝑥 𝑏𝑤𝑥𝑑

= 0,167 x√30𝑀𝑝𝑎x250mm x440mm


= 100415,80 N
= 100415,80x 10-3KN
= 100,416 KN

Menghitung kebutuhan geser (Vs) :


𝑉𝑢
Vs = − 𝑉𝑐

178,269 KN
= − 100,416 KN
0,70

= 154,254 KN
''Kontrol syarat penampang untuk tulangan geser''
2
Vs < 𝑥√𝐹𝑐´𝑥𝑏𝑤𝑥𝑑
3

154,254 KN < 0,67 x√30𝑀𝑝𝑎x250mm x440mm


154,254 KN < 401663 N
154,254 KN < 401663x 10-3 KN
154,254 KN < 401,663 KN
2
Karena Vs < 3 𝑥√𝐹𝑐´x bw x d = 154,254 KN < 401,663 KN), maka syarat

penampang untuk geser terpenuhi.


''Kontrol keperluan sengkang''
Vu > 0,5 x∅x Vc
175,550 KN> 0,5 x 0,70 x150,370 KN
175,550 KN> 36,446 KN
Karena Vu > 0,5 x∅x Vc (175,550 KN>36,446 KN), maka penampang memerlukan
pemasangan tulangan geser.
Luas tulangan geser per spasi (Av / s =Avs) :
𝑉𝑠 150,370 KN
Avs = 𝐹𝑦𝑥𝑑= 400 𝑀𝑝𝑎 𝑥 440 𝑚𝑚= 0,000854 𝑚𝑚
𝑏𝑤 250
Avs,min = 3𝑥𝐹𝑦= 3𝑥400= 0,208 𝑚𝑚

Berdasarkan RSNI T-12-2004 Pasa 5.2.7 Hal : 33 nilai Avs adalah nilai terbesar dari
Avs dan Avs,min, maka untuk perhitungan selanjutnya menggunakan nilai Avs,min =
0,208 mm.

''Kontrol pemakaian spasi tulangan''


√𝐹𝑐’
Vs < Or ≥ 𝑥𝑏𝑤𝑥𝑑
3

√30 𝑀𝑝𝑎
150,370 KN < Or ≥ 𝑥250𝑚𝑚𝑥440𝑚𝑚
3

150,370 KN < Or ≥ 200.832 𝑁


150,370 KN < Or ≥ 200.832𝑥10⁻³ 𝐾𝑁
150,370 KN < 200.832 KN
√𝐹𝑐’
Berdasarkan RSNI T-12-2004 Hal : 33 Pasal 5.2.6c jika nila Vs< 𝑥𝑏𝑤𝑥𝑑
3

maka spasi maksimum adalah nilai terkecil dari :


SMaks = d/2 = 440mm/2= 220 mm
SMaks = 0,75xh = 0,75x500mm= 375 mm
SMaks = 600 mm
Ket : Berdasarkan perhitungan di atas maka dipakai spasi maksimum
dengan nilai terkecil, sebesar 220 mm.
Luas sengkang (Av) :
Berdasarkan data perencanaan menggunakan diameter tulangan sengkang (Ds)
12mm dengan jumlah kaki sengkang (nk) 2.
Av = nkx0,25x𝜋xDs2
= 2x0,25x3,14x(12mm)²
= 226,08 mm2
Spasi sengkang perlu (Sp) :
𝐴𝑣 226,08 mm2
Sp = 𝐴𝑣𝑠= = 1086,923 𝑚𝑚 = 1000 𝑚𝑚
0,208 𝑚𝑚
Jadi, untuk kestabilan strukturbalok diafragma, maka dipakai spasi sengkang
terkecil yaitu tulangan geser D12- 220mm
Kontrol spasi bersih tulangan pokok arah horizontal (Sn) :
Data Perhitungan :
1. Jumlah tulangan maksimal setiap baris (m) = 3 Batang (Perhitungan Hal : 122)
2. Tulangan pokok (DTP) = 16mm
3. Tulangan sengkang (DS) = 12 mm
4. Selimut beton (Sb) = 40mm
5. Lebar badan diafragma (bw) = 0,25m = 250mm

Kontrol jarak bersih jarak tulangan arah horizontal (Sn) :


𝑏𝑤−{(𝑚 𝑥 𝐷𝑇𝑃)+(2 𝑥 𝐷𝑠)+(2 𝑥 𝑆𝑏)}
Sn = 𝑚−1
250 𝑚𝑚−{(3 𝑥 16 𝑚𝑚)+(2 𝑥 12 𝑚𝑚)+(2 𝑥 40 𝑚𝑚)}
= 3−1

= 49 mm > 40mm (Manual Perencanaan Struktur Beton Bertulang Untuk


Jembatan No./009/BM/2008 Hal.4-11 Pasal 4.2.7) ……….... Ok
Gambar 4.23 Penulangan Diafragma
(Sumber : Penulis, 2018)

4.3.2. Perancangan Gelagar Induk


4.3.2.1.Analisa pembebanan pada gelagar induk terdiri dari :

1. Berat Sendiri (QMS)


Data Perhitungan
a. Faktor beban ultimit akibat berat sendiri KMS = 1,3 untuk beton cor ditempat
(RSNI T-02-2005 Halaman 10 Pasal 5.2 Tabel 2)
b. Tinggi diafragma (h) = 0,50 m
c. Lebar diafragma (b) = 0,25 m
d. Tinggi gelagar induk (h) = 800mm = 0,80 m
e. Lebar gelagar induk (b) = 400 mm = 0,40 m
f. Tebal plat lantai kendaraan (hf)= 0,2 m = 20cm = 200mm
g. Tinggi bersih gelagar induk (hY)=(hY = h-hf) 0,8 m -0,2m = 0,6 m
h. Tebal lapis aspal+overlay (ta) = 0,1m = 10cm = 100mm
i. Panjang gelagar induk (L) = 10 m
j. Jumlah gelagar induk (n) = 4 Buah
k. Lebar jalur lalu lintas (b) =6m
l. Berat jenis beton bertulang (𝛾) = 2.500 Kg/m3
𝑏
m. Jarak dari As ke As antar gelagar induk (S) =
𝑛−1
6𝑚
= 4−1
6𝑚
= 3

= 2m
Berat sendiri satu balok diafragma (WD) :
WD = b xh xS₀x𝛾
= 0,25 m x 0,50 m x1,6 m x 2.500 Kg.m3
= 500 Kg
= 5 KN
Beban diafragma pada balok memanjang (QD) :
𝑊𝐷
QD = 𝑛 𝑥 𝐿
5 𝐾𝑁
= 3 𝑥 10 𝑚

= 3x0,5 KN/m
= 1,5 KN/m
Berat sendiri pada gelagar induk terdiri dari :
Berat plat lantai (I) = S x hfx𝛾
= 2m x 0,2m x 2.500 Kg/m3
= 1.000 Kg/m
Berat gelagar induk (II) = b x hYx𝛾
= 0,4 m x0,6 m x 2.500 Kg/m3
= 600 Kg/m
Berat diafragma “QD” (III) = 1,5 KN/m
= 150Kg/m
Total berat sendiri (QMS) = I + II + III
= 1.000 Kg/m + 600 Kg/m + 150 KN/m
= 1.750 Kg/m
= 17,50 KN/m

Gambar 4.24 Distribusi Berat Sendiri Gelagar Induk (QMS)

Perhitungan gaya geser akibat berat sendiri (VMS) :


1
VMS = 𝑥 QMS x L
2

= 0,5 x17,50 KN/m x10 m


= 87,50 KN
Perhitungan momen akibat berat sendiri (MMS) :
1
MMS = 8 𝑥 QMS x L2

= 0,125 x17,50 KN/m x (10 m)2


= 0,125 x 17,50KN/m x100 m2
= 218,75 KN.m

2. Beban Mati Tambahan (QMA)


Data Perhitungan :
a. Faktor beban ultimit akibat beban mati tambahan KMA = 2,0 (RSNI T-02-2005
Halaman 12 Pasal 5.3 Tabel 4)
b. Tebal lapis aspal + overlay (ta) = 0,1m = 10cm = 100mm
c. Tebal genangan air hujan (th) = 0,05m = 5cm = 50mm
d. Berat jenis aspal beton (𝛾) = 2.200 Kg/m3
e. Berat jenis air murni (𝛾) = 1.000 Kg.m3
f. Lebar jalur lalu lintas (b) = 6 m
g. Jumlah gelagar induk (n) = 4 Buah
𝑏
h. Jarak dari As ke As antar gelagar induk (S) = 𝑛−1
6𝑚
= 4−1
6𝑚
= 3

= 2m
Berat lapis aspal + overlay (I) = S x ta x𝛾
= 2m x 0,1m x 2.200 Kg/m3
= 440 Kg/m
Berat air hujan (II) = S x th x𝛾
= 2m x 0,05m x 1.000Kg/m3
= 100 Kg/m
Total beban mati tambahan (QMA)= I + II
= 440 Kg/m + 100 Kg/m
= 540 Kg/m
= 5,4 KN/m

Gambar 4.25 Distribusi Beban Mati Tambahan (QMA)


Perhitungan gaya geser akibat beban mati tambahan (VMA) :
1
VMA = 2 𝑥 QMAx L
= 0,5 x 5,4 KN/m x10 m
= 27 KN
Perhitungan momen akibat beban mati tambahan (MMA) :
1
MMA = 8 𝑥 QMAx L2

= 0,125 x 5,4 KN/m x (10 m)2


= 0,125 x 5,4 KN/m x100 m2
= 67,5 KN.m

3. Beban Lajur “D” (TD)


Data Perhitungan :
a. Faktor beban ultimit akibat beban lajur “D” KTD = 1,8 (RSNI T-02-2005
Halaman 17 Pasal 6.3 Tabel 10)
b. Beban lajur D terdiri dari beban tersebar merata (BTR) “q” yang digabung
dengan beban garis (BGT) “p”. Beban terbagi rata (BTR) mempunyai intensitas
q (Kpa), dimana besarnya q tergantung pada panjang total yang dibebani L,
yaitu sebagai berikut :
L ≤ 30m, maka q = 9,0 Kpa
L > 30m, maka q = 9,0(0,50 + 15/𝐿))Kpa

Gambar 4.26 Beban Lajur “D”


(Sumber : RSNI T-02-2005)

Gambar 4.27 Intensitas Beban Terbagi Rata


(Sumber : Penulis, 2018)

c. Panjang bentang jembatan (L) = 10 m


d. Intensitas beban terbagi rata (q) = 9,0 Kpa (RSNI T-02-2005 Halaman 18 Pasal
6.3.1 Nomor 2 Untuk L ≤ 30m, 12,5m<30m)
e. Intensitas beban garis (p) = 49,0 KN/m (RSNI T-02-2005 Halaman 18 Pasal
6.3.1 Nomor 3)
Gambar 4.28 Faktor Beban Dinamis (FBD)
(Sumber : RSNI T-02-2005)

a. Faktor beban dinamis (FBD) diambil 40% = 0,40,karena bentang jembatan <
50m (RSNI T-02-2005 Halaman 25Gambar 8)
f. Lebar jalur lalu lintas (b) = 6 m
g. Jumlah gelagar induk (n) = 4 Buah
𝑏
h. Jarak dari As ke As antar gelagar induk (S) = 𝑛−1
6𝑚
= 4−1
6𝑚
= 3

= 2m

Gambar 4.29 Distribusi Beban Lajur “D” (TD)

Beban lajur “D” akibat beban terbagi rata (QTD) :


QTD = q x S
= 9,0 Kpa x 2m
= 9,0 KN/m2x 2m
= 18 KN/m
Beban lajur “D” akibat beban garis (PTD) :
PTD = (1+FBD) x p x S
= (1+40%) x 49 KN/m x 2m
= (1+40/100) x 49 KN/m x 2m
= (1+0,40) x 49 KN/m x 2m
= 1,4x 49 KN/m x 2m
= 137,2 KN
Perhitungan gaya geser akibat beban lajur “D” (VTD) :
VTD = ½ x ((QTD x L) + PTD)
= 0,5 x ((18KN/m x10 m) + 137,2 KN)
= 0,5 x (180 KN + 137,2 KN)
= 0,5 x317,2 KN
= 158,6 KN

Perhitungan momen akibat beban lajur “D” (MTD) :


MTD = (1/8 x QTDx L2) + (1/4 x PTDx L)
= (0,125 x 18 KN/m x (10 m)2) + (0,25 x 137,2 KN x10 m)
= 568 KN.m
4. Gaya Rem (TB)
Data Perhitungan :
a. Faktor beban ultimit akibat gaya rem KTB = 1,8 (RSNI T-02-2005 Halaman 25
Pasal 6.7 Tabel 14)
b. Pengaruh pengereman dari lalu lintas di atas, maka diperhitungkan sebagai gaya
pada arah memanjang dan dianggap setinggi 1,8 m di atas permukaan lantai
jembatan, dan gaya rem diperhitungkan sebesar 5% dari beban lajur ”D” tanpa
faktor beban dinamis (RSNI T-02-2005 Halaman 25 Pasal 6.7)
c. Panjang bentang jembatan (L) = 10 m
d. Intensitas beban terbagi rata (q) = 9,0 Kpa (RSNI T-02-2005 Halaman 18 Pasal
6.3.1 Nomor 2 Untuk L ≤ 30m, karena panjang jembatan <30m)
e. Intensitas beban garis (p) = 49,0 KN/m (RSNI T-02-2005 Halaman 18 Pasal
6.3.1 Nomor 3)
f. Lebar jalur lalu lintas (b) = 6 m
g. Jumlah gelagar induk (n) = 4 Buah
𝑏
h. Jarak dari As ke As antar gelagar induk (S) = 𝑛−1
6𝑚
= 4−1
6𝑚
= 3

= 2m
i. Tinggi gelagar induk sampai permukaan plat lantai (h) = 0,8 m = 800mm
j. Lebar gelagar induk (b) = 0,4 m = 400 mm
k. Tebal plat lantai kendaraan (hf) = 0,20m = 200mm
l. Tinggi bersih gelagar induk (hY1)= h-hf = 0,8 m-0,20m= 0,6 m= 600mm
m. Jarak bersih antar gelagar induk (S0) = S-1/2b-1/2b
= S-b
= 2m– 0,4 m
= 1,6 m
n. Lebar efektif balok T (bef) berdasarkan Manual Perencanaan Beton Bertulang
Untuk Jembatan No/009/2008 Halaman 4-37 :
1. bef ≤ L/4 = 10 m/4 =2,5 m
2. bef ≤ b + (16 x hf) = 0,4 m + (16 x 0,20m) = 0,4 m + 3,2m = 3,6 m
3. bef ≤ b + S0 = 0,4 m + 1,6 m = 2 m
Maka diambil lebar plat efektif balok T dengan nilai terkecil, yaitu b ef = 2m =
2.000mm

Gambar 4.30Gaya Rem (TB) Sejajar Jembatan


Gaya rem akibat beban terbagi rata (QTD) :
QTD = q x S
= 9,0 Kpa x 2m
= 9,0 KN/m2x 2m
= 18 KN/m
Gaya rem akibat beban garis (PTD) :
PTD = p x S
= 49 KN/m x 2m
= 98 KN
Total gaya rem pada gelagar induk (TTB) :
TTB = 5% x ((QTDx L) + PTD)
= 5/100 x ((18 KN/m x10 m) + 98 KN)
= 0,05 x (180 KN + 98 KN)
= 0,05 x278 KN
= 13,9 KN
Karena gaya rem pada gelagar induk “TTB< 50KN, maka diambil gaya rem sebesar
50KN.

Gambar 4.31 Lengan Momen dan Titik Berat Penampang Balok T


(Sumber : Penulis, 2018)

Lengan momen Y1 = hf/2 = 200mm/2 =100mm


Lengan momen Y2 = (hY1/2) + hf
= (600mm/2) + 200mm
= 500 mm
Luas penampang I balok T (A1) :
A1 = bef x hf
= 2.000mm x 200mm
= 400.000 mm2
Luas penampang II balok T (A2) :
A2 = b x hY1
= 400 mm x600mm
= 240.000 mm2
Titik berat penampang balok T (y) :
∑𝐴𝑌 (𝐴₁ 𝑥 𝑌₁)+ (𝐴₂ 𝑥 𝑌₂)
y = = (𝐴₁ +𝐴₂)
∑𝐴

(400.000 𝑚𝑚2 𝑥 100 𝑚𝑚) + (240.000 𝑚𝑚2 𝑥 500 𝑚𝑚)


= (400.000 𝑚𝑚2 + 240.000 𝑚𝑚2 )

= 250 mm
= 0,250 m
Maka diperoleh Y = 1,8m + ta + y
= 1,8 m + 0,1 m + 0,250 m
= 2,150 m
Perhitungan gaya geser akibat gaya rem (VTB) :
VTB = (TTBx Y) / L
= (13,9 KN x 2,150 m)/ 10 m
= 29,649 KN.m/ 10 m
= 2,989 KN
Perhitungan momen akibat gaya rem (MTB) :
MTB = ½ x TTBx Y
= 0,5 x13,9 KN x 2,150 m
= 14,943 KN.m
5. Beban Angin (EW)
Data Perhitungan :
a. Faktor beban ultimit akibat beban angin (KEW) = 1,2 (Dari RSNI T-02-2005
Halaman 36 Pasal 7.5 Tabel 26)
b. Lebar keseluruhan jembatan dihitung dari sisi luar sandaran (b) = 6m+(2x 0,84
m) = 6m+ 1,68 m = 7,68 m (Lihat Gambar 4.2 Hal : 76)
c. Tinggi bangunan atas, termasuk bagian sandaran yang masif (d) = 0,6
m+0,2m+0,70 m+0,5m = 2 m (Lihat Gambar 4.2 Hal : 76)
d. b/d = 7,68 m/ 2,2m = 3,49
e. Koefisien seret Cw = 1,407 (dari hasil interpolasi untuk b/d = 3,84)

Gambar 4.32 Interpolasi Nilai Cw


(Sumber : Penulis, 2018)
1,5−1,25 2−6
Cw = 1,25 + ( = 3,84−6)
𝑥
0,25 −4
= 1,25 + ( = −,216)
𝑥

= 1,25 + (−4𝑥 = 0,25 𝑥 − 2,16)


= 1,25 + (−4𝑥 = −0,54)
−0,54
= 1,25 + (𝑥 = )
−4

= 1,25 + (𝑥 = 0,135)
= 1,25 + 0,135
= 1,385
Jadi, berdasarkan interpolasi diperoleh nilai Cw = 1,385 (untuk b/d = 3,84)
f. Lokasi perencanaan jembatan sampai 5Km dari pantai, maka kecepatan angin
yang dipakai (Vw) = 35 m/s (RSNI T-02-2005 Halaman 37 Pasal 7.6 Nomor 4
Tabel 28 Batas Ultimit)
g. Beban angin tambahan yang meniup samping kendaraan di atas lantai jembatan
dengan tinggi (h) = 2m
h. Jarak antara roda kendaraan (x) = 1,75 m
i. Panjang bentang jembatan (L) = 10 m

Beban angin tambahan bidang saming kendaraan (TEW) :


TEW = 0,0012 x Cw x Vw2
= 0,0012 x 1,385x (35)2
= 2,036 KN/m
Beban angin akibat transfer beban ke lantai jembatan (QEW) :
1 ℎ
QEW = 2 𝑥 𝑥x TEW
1 2𝑚
= 2 𝑥 1,75 𝑚 𝑥 2,036 KN/m

= 1,164 KN/m

Gambar 4.33 Distribusi Beban Angin di Atas Plat Lantai Jembatan


Perhitungan gaya geser akibat beban angin (VEW)
VEW = ½ x QEWx L
= 0,5 x 1,164 KN/m x10 m
= 6,518 KN
Perhitungan momen akibat beban angin (MEW)
MEW = 1/8 x QEWx L2
= 0,125 x 1,164 KN/m x (10 m)2
= 14,55 KN.m

Tabel 4.15 Rekapitulasi Momen dan Gaya Geser Pada Gelagar Induk
Simbol Faktor Beban Momen Gaya Geser
Jenis Beban Ultimit (KN)
No Ultimit (KN.m)

1 2 3 4 5

1 Berat Sendiri (Ms) KMS 1,3 218,75 87,5

2 Beban Mati Tambahan (MA) KMA 2,0 67,5 27

3 Beban Lajur “D” (TD) KTD 1,8 568 158,6

4 Gaya Rem (TB) KTB 1,8 14,943 2,989

5 Beban Angin (EW) KEW 1,2 14,55 6,52

(Sumber : Hasil hitungan)

Tabel 4.16 Kombinasi Beban Ultimit


Aksi
Faktor
Simbol
Jenis Beban Beban Kombinasi
Ultimit Kombinasi Kombinasi
No Ultimit III
I II
1 2 3 4a 4b 4c
X
1 Berat Sendiri (Ms) KMS 1,3 X X KBU
KBU KBU

2 Beban Mati Tambahan (MA) X


X X KBU
KMA 2,0 KBU KBU

3 Beban Lajur “D” (TD) KTD 1,8 X 0


0
KBU
KBU KBU
0
4 Gaya Rem (TB) KTB 1,8 X 0 KBU
KBU KBU
0
5 Beban Angin (Ew) KEW 1,2 X X KBU
KBU KBU

(Sumber : Hasil hitungan)


Ket : untuk kombinasi dengan simbol 0
KBU artinya untuk mendapatkan momen ultimit
(Mu) dan gaya geser ultimit (Vu), maka momen dan gaya geser tidak perlu dikalikan
dengan faktor beban ultimit. (Momen Ultimit (Mu) = Momen (M) dan Gaya Geser
Ultimit (Vu) = Gaya Geser (V))

Tabel 4.17 Kombinasi Momen Ultimit (Mu)


Simbol Faktor Momen Ultimit “Mu” (KN.m)
Jenis Beban Ultimit Beban Kombinasi Kombinasi Kombinasi
No
Ultimit I II III
1 2 3 4a 4b 4c
1 Berat Sendiri (Ms) KMS 1,3 284,38 284,38 284,38
2 Beban Mati Tambahan (MA) KMA 2,0 135,00 135,00 135,00
3 Beban Lajur “D” (TD) KT D 1,8 1.022,40 568,00 568,00
4 Gaya Rem (TB) KT B 1,8 26,90 14,94 14,94
5 Beban Angin (Ew) KEW 1,2 17,46 17,46 14,75
Total Momen Ultimit Kombinasi, I, II, dan II 1.486,132 1.019,778 1.017,068
(Sumber : Hasil hitungan)

Tabel 4.18 Kombinasi Gaya Geser Ultimit (Vu)


Simbol Faktor Momen Ultimit “Mu” (KN.m)
Jenis Beban Ultimit Beban Kombinasi Kombinasi Kombinasi
No
Ultimit I II III
1 2 3 4a 4b 4c
1 Berat Sendiri (Ms) KMS 1,3 113,75 113,75 113,75
2 Beban Mati Tambahan (MA) KMA 2,0 54,00 54,00 54,00
3 Beban Lajur “D” (TD) KT D 1,8 285,48 158,60 158,60
4 Gaya Rem (TB) KT B 1,8 5,38 2,99 2,99
5 Beban Angin (Ew) KEW 1,2 6,62 6,62 5,90
Total Momen Ultimit Kombinasi, I, II, dan II 465,234 335,963 335,239

(Sumber : Hasil hitungan)


Kesimpulan :
Berdasarkan hasil kombinasi pada tabel 4.18 dan 4.19, maka diperoleh :
1. Momen ultimit rencana (Mu) maksimum ada pada tabel 4.18 Kombinasi I
sebesar 1.486,132KN.m
2. Gaya geser ultimit rencana (Vu) maksimum ada pada tabel 4.19 Kombinasi I
sebesar 465,234KN
4.3.2.2.Penulangan Gelagar Induk Bagian Tengah (Balok T)

1. Tulangan Pokok / Longitudinal


Data Perhitungan :
a. Momen ultimit rencana (Mu) = 1.486,132KN.m(Tabel 4.18 Kombinasi I)
b. Mutu beton K-300
c. Kuat tekan beton (Fc’) = 30
d. Direncanakan tulangan pokok D29
e. Direncanakan tulangan geser D16
f. Mutu baja BJTP 40
g. Tegangan leleh (Fy) = 400 Mpa (Untuk BJTP 40 atau tulangan ulir)
h. Faktor reduksi kekuatan lentur dengan atau tanpa beban aksial dan tarik aksial
(∅) = 0,80 (Manual Perencanaan Struktur Beton Bertulang Untuk Jembatan
No.009/BM/2008 Hal.3-5 Tabel 3.2)
i. Faktor 𝛽₁ untuk Fc’ ≤ 30Mpa, 30 Mpa ≤ 30Mpa (Manual Perencanaan Struktur
Beton Bertulang Untuk Jembatan No.009/BM/2008 Halaman 4-2 Pasal 4.1.2
Persamaan 4.1-1)
j. Jarak bersih tulangan arah vertikal (Snv) = 25mm (Manual Perencanaan Struktur
Beton Bertulang Untuk Jembatan No.009/BM/2008 Halaman 4-11 Pasal 4.2.7
Gambar 4.7)
k. Jarak bersih tulangan arah horizontal (Sn) = 40mm (Manual Perencanaan
Struktur Beton Bertulang Untuk Jembatan No.009/BM/2008 Halaman 4-11
Pasal 4.2.7 Gambar 4.7)
l. Tinggi balok T =Tinggi gelagar induk (h) = 0,8 m = 800 mm
m. Lebar badan balok T = Lebar gelagar induk = 0,5 x h = 0,5 x0,8 m = 0,4 m =
400mm
n. Tebal plat lantai kendaraan (hf) = 0,20m = 200mm
o. Selimut Beton (Sb) = 40 mm, untuk struktur beton yang tidak langsung
berhubungan dengan cuaca atau tanah, yaitu kolom dan balok dengan tulangan
utama, pengikat, sengkang dan lilitan spiral (Manual Perencanaan Struktur
Beton Bertulang Untuk Jembatan No./009/BM/2008 Halaman 2-18 Pasal 2.8
Tabel 2-3 Bagian B)
p. Panjang bentang jembatan (L) = 10 m
q. Lebar jalur lalu lintas (b) = 6m
r. Jumlah gelagar induk atau balok T (n) = 4 Buah
𝑏
s. Jarak dari As ke As antar balok T = 𝑛−1
6𝑚
= 4−1= 2m= 2.000 mm

t. Jarak bersih antar balok T (S0) = 𝑆 − (0,5𝑥𝑏 + 0,5𝑥𝑏)


= S-b
= 2m– 0,4 m
= 1,6 m= 1.600 mm
u. Lebar efektif sayap balok T berdasarkan Manual Perencanaan Beton Bertulang
Untuk Jembatan N0./009/BM/2008 Hal.4-37 adalah nilai terkecil dari :
bef = L/4 = 10 m/4 = 2,5m = 2500 mm
bef = bw +(16xhf) = 0,4m + (16x0,2m)= 0,4m + 3,2m = 3,6 m = 3.600 mm
bef = bw + S0 = 0,4 m + 1,6 m = 2m = 2.000 mm
Jadi, dipakai lebar efektif sayap balok L dengan nilai terkecil, yaitu 2 m = 2.000
mm.
1) Diperkirakan terdapat 3 baris pada tulangan tarik, maka :
a. Jarak titik berat tulangan tarik baris 1 sampai serat luar beton tarik (dS1)
dS1 = Sb+DSengkang+1/2.DTulangan Pokok
= 40mm + 16mm +(0,5.29mm)
= 40mm + 16mm + 14,5mm
= 70,5 mm
= 70 mm

b. Jarak titik berat tulangan tarik baris 1 sampai titik berat baris 2 (dS2)
dS2 = Snv + ½.DTulangan Pokok + ½.DTulangan Pokok
= Snv + DTulangan Pokok
= 25mm + 29mm
= 54mm
= 55mm
c. Jarak titik berat tulangan baris 2 sapai titik berat baris 3 (dS3)
dS3 = Snv + (½xDTulangan Pokok)+ (½xDTulangan Pokok)
= Snv + DTulangan Pokok
= 25mm + 29mm
= 54mm
= 55mm
2) Jarak dari titik berat tulangan tarik sampai tepi serat beton tarik (ds)
ds = ds1 + {0,5𝑥(𝑑𝑠₂ + 𝑑𝑠₃)}
= 70mm + {0,5(55𝑚𝑚 + 55𝑚𝑚)}
= 125mm
3) Tinggi efektif penampang balok T (d)
d = h - ds
= 800mm – 125mm
=675mm
4) Jumlah tulangan maksimal perbaris (m)
𝑏−(2𝑥𝑑𝑠₁)
m =( )+1
DTP+Sn
400𝑚𝑚−(2 𝑥 70𝑚𝑚)
=( )+1
29𝑚𝑚+40𝑚𝑚

= 4,77
= 4 Batang
(Ket : Berdasarkan Ali Asroni 2010 Balok dan Pelat Beton Bertulang
Halaman 35, nilai m dibulatkan ke bawah. Tetapi jika angka desimal > 0,86
maka dapat dibulatkan ke atas)
Gambar 4.34 Penampang Balok T
(Sumber : Penulis, 2018)
Keterangan :
h = Tinggi penampang balok T
bw = Lebar badan balok T
bef = Lebar efektif sayap balok T
hf = Tebal plat lantai jembatan
dS1 = Jarak dari tepi serat beton tarik sampai titik berat tulangan tarik baris 1
dS2 = Jarak dari titik berat tulangan tarik baris 1 sampai titik berat tulangan tarik baris
2
dS3 = Jarak dari titik berat tulangan tarik baris 2 sampai titik berat tulangan tarik baris
3
d’S1 = Jarak dari tepi serat beton tekan sampai titik berat tulangan tekan baris 1 =
dS = Jarak dari tepi serat beton tarik sampai titik berat tulangan tarik
Snv = Jarak bersih tulangan tarik arah vertikal = 25mm
Sn = jarak bersih tulangan arah horizontal = ≥ 40mm
DTP = Diameter tulangan pokok = 32mm
DS = Diameter tulangan sengkang / begel = 16mm
d = Tinggi efektif penampang balok T

5) Faktor momen pikul (K)


𝑀𝑢
K = ∅ 𝑥 𝑏𝑒𝑓 𝑥 𝑑2
1.486,132 𝐾𝑁.𝑚
= 0,80 𝑥 2.000 𝑚𝑚 𝑥 (675 𝑚𝑚)2

= 2,039 N/mm²
= 2,039 Mpa
(Ket : 1 Mpa = 1 N/mm2)
6) Faktor momen pikul maksimum(KMaks)
382,5 𝑥 𝛽₁ 𝑥 𝐹𝑐´ 𝑥 {(600+𝐹𝑦)−(225 𝑥 𝛽₁)}
KMaks = (600+𝐹𝑦)²

382,5 𝑥 0,85 𝑥 30𝑀𝑝𝑎 𝑥 {(600+400 𝑀𝑝𝑎)−(225 𝑥 0,85)}


= (600+400𝑀𝑝𝑎)²

= 7,888 Mpa
Ket : Karena faktor momen pikul K < KMaks (2,039 Mpa < 7,888 Mpa), maka
struktur dihitung sebagai Balok T tulangan tunggal
7) Tinggi blok tegangan (a)
2𝑥𝐾
a = [1 − √1 − 0,85 𝑥 𝐹𝑐´] 𝑥𝑑

2 𝑥 2,039𝑀𝑝𝑎
= [1 − √1 − 0,85 𝑥 30 𝑀𝑝𝑎] 𝑥675𝑚𝑚

= 56,316 mm
8) Jarak garis netral terhadap tepi serat beton tekan (c)
𝑎
c = 𝛽₁
56,316 𝑚𝑚
= 0,85

= 66,254 mm= 67 mm
Ket : Karena jarak garis netral terhadap tepi serat beton tekan < tebal plat lantai
jembatan (c < hf = 67 mm < 200mm). Dengan demikian maka garis netral
jatuh di badan, sehingga dihitung sebagai balok T palsu.
Gambar 4.35 Penampang balok T palsu
(Sumber : Manual Perencanaan Struktur Beton Bertulang Untuk Jembatan
No./009/BM/2008)

9) Luas tulangan perlu (As,u)


Luas tulangan perlu adalah nilai terbesar dari nilai As atau As,min
0,85 𝑥 𝑓𝑐´𝑥 𝑎 𝑥 𝑏𝑒𝑓
As = 𝑓𝑦
0,85𝑥30 𝑀𝑝𝑎𝑥56,316 𝑚𝑚𝑥2.000 𝑚𝑚
= 400 𝑀𝑝𝑎

3.143.466,600 𝑚𝑚2
= 400 𝑀𝑝𝑎

= 7.180,029 mm2

1,4𝑥𝑏𝑒𝑓𝑥𝑑
As,min = 𝑓𝑦
1,4 𝑥 2.000 𝑥 675
=
400

= 4.725 mm2
Untuk perhitungan selanjutnya digunakan luas tulangan perlu dengan nilai
terbesarAs = 7.180,290 mm2
10) Luas 1 batang tulangan tarik (AS1)
𝜋 3,14
AS1 = 4 𝑥𝐷 TP² = 4
𝑥(29𝑚𝑚)²= 0,785x841mm2 = 660,185 mm2
11) Jumlah tulangan (n)
𝐴𝑠,𝑢 7.180,290𝑚𝑚²
n= = = 10,876 = 11 𝐵𝑎𝑡𝑎𝑛𝑔
𝐴𝑠,₁ 660,185𝑚𝑚²

12) Luas tulangan tarik terpasang (As,pasang)


As,pasang = n x𝐴S1
= 11x660,185 mm2
= 7.262,035mm2> As,u (7.262,035mm2>7.180,290 mm2)…..Ok
Keterangan :
Pada praktik di lapangan, hampir semua balok selalu dipasang tulangan
rangkap. Jadi balok dengan tulangan tunggal secara praktis tidak ada (jarang
sekali dijumpai). Meskipun penampang beton pada balok dapat dihitung
dengan tulangan tunggal (yang memberikan hasil tulangan longitudinal tarik
saja), tetapi pada kenyataannya selalu ditambahkan minimal 2 batang tulangan
tekan, dan dipasang pada bagian sudut penampang balok beton yang menahan
tekan (Ali Asroni 2010 “Balok dan Pelat Beton Bertulang Halaman 83”).
Berdasarkan keterangan di atas, maka diperoleh :
a. Tulangan tarik 11 D29 (7.262,035mm2>7.180,290 mm2)
b. Ditambahkan Tulangan tekan 4D29 (As'Pasang = 2.640,740 mm2)

13) Pemeriksaan jenis keruntuhan yang terjadi pada penampang balok T


Menurut Manual Perencanaan Struktur Beton Bertulang Untuk Jembatan
No./009/BM/2008, terdapat 3 jenis keruntuhan, yaitu :
a. As < Asb (keruntuhan tarik atau under reinforced)
b. As = Asb (keruntuhan seimbang atau balance)
c. As > Asb (keruntuhan tekan atau over reinforced)
Keterangan :
As = Luas tulangan tarik baja yang terpasang = 11 D29 = 7.262,035mm2
Asb = Luas tulangan balance (mm2)

0,85𝑥 𝐹𝑐´ 600 𝑥 𝑑


Asb = 𝐹𝑦
𝑥 {𝛽₁ 𝑥 𝑏𝑤 𝑥 (600+𝐹𝑦) + (𝑏𝑒𝑓 − 𝑏𝑤)𝑥ℎ }
0,85 𝑥 30 600 𝑥 675
= 𝑥 {0,85𝑥 400𝑥 ( 600+400 ) + (2.000 − 400)𝑥200}
400

= 28.377,400 mm2
Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh As < Asb (7.262,035mm2< 28.377,400
mm2), maka keruntuhan yang terjadi pada balok T adalah keruntuhan tarik
(under reinforced).
Keterangan :
Karena kerusakan terjadi pada baja tulangan yang menahan beban tarik lebih
dulu dan baja tulangan bersifat liat, maka keruntuhan seperti ini disebut
keruntuhan tarik atau keruntuhan liat (Ductile Failure). Pada balok yang
mengalami keruntuhan liat, pada saat baja tulangan mulai leleh betonnya masih
kuat (Belum Hancur), sehingga dapat terjadi lendutan pada balok. jika di atas
balok ditambah lagi beban yang besar maka lendutan balok semakin besar dan
akhirnya dapat terjadi keruntuhan. Keadaan seperti ini ''Menguntungkan'' bagi
kepentingan kelangsungan hidup manusia, karena ada peringatan lendutan
membesar sebelum runtuh, sehingga sistem perencanaan beton bertulang
dengan keruntuhan tarik atau Under-Reiforced lebih aman dan diperbolehkan.
(Ali Asroni 201, Balok dan Pelat Beton Bertulang Hal : 55)

2. Desain tulangan geser


Perhitungan mengacu pada Manual Perencanaan Struktur Beton Bertulang Untuk
Jembatan No./009/BM/2008.
1) Kuat geser yang disumbangkan beton (Vc)
1
Vc = 6 𝑥√𝐹𝑐’𝑥𝑏𝑤𝑥𝑑

= 0,167𝑥√30 𝑀𝑝𝑎𝑥400 𝑚𝑚𝑥675 𝑚𝑚


= 246.475,151 𝑁
= 246.475,151𝑥10−3 𝐾𝑁
= 246,475 𝐾𝑁
2) Kuat geser yang disumbangkan tulangan geser (Vs)
𝑉ᵤ
Vs = ∅
− 𝑉𝑐
465,234 𝐾𝑁
= − 246,475 𝐾𝑁
0,70

= 418,145 𝐾𝑁
''Kontrol syarat penampang untuk tulangan geser''
2
Vs ≤ 3 𝑥√𝐹𝑐´𝑥 𝑏𝑤𝑥 𝑑
2
418,145 𝐾𝑁 ≤ 3x√30Mpax400 mm x675mm

418,145 𝐾𝑁 <985.900,604 N
418,145 𝐾𝑁 <985.900,604 x 10-3 KN
418,145 𝐾𝑁 <985,901KN (Syarat penampang untuk geser terpenuhi)

“Kontrol pemakaian sengakang”


Vu > 0,5 x∅x Vc
465,234 KN > 0,5 x 0,70 x246,475 𝐾𝑁
465,234 KN >82,266 KN (Perlu digunakan sengkang)
3) Luas tulangan geser perlu per spasi (Av/s = Avs)
Luas tulangan geser per spasi perlu adalah nilai terbesar dari :
𝑉𝑠
Avs = 𝐹𝑦𝑥𝑑
418,145 𝐾𝑁
= 400 𝑀𝑝𝑎𝑥675 𝑚𝑚
418,145 𝑥 103 𝑁
= 𝑁
400 𝑥 675 𝑚𝑚
𝑚𝑚2

417.652 𝑁
= 400 𝑁𝑚𝑚−2 𝑥 675 𝑚𝑚
418.145𝐾𝑁
= 270.000 𝑁𝑚𝑚−1

= 1,549 𝑚𝑚
𝑏𝑤
Avsmin = 3𝑥𝐹𝑦
400
= 3𝑥400= 0,333 𝑚𝑚

Maka dipakai luas tulangan geser perlu Avs = 1,549 mm


4) Luas dan spasi yang digunakan
''Kontrol''
√𝐹𝑐´
Vs < or > 𝑥𝑏𝑤𝑥𝑑
3

√30𝑀𝑝𝑎
418,145 𝐾𝑁 < or > 𝑥400 𝑚𝑚𝑥675 𝑚𝑚
3

418,145 𝐾𝑁 <492.950,302 𝑁
418,145 𝐾𝑁 <492.950,302 𝑁𝑥10−3 𝐾𝑁
418,145 𝐾𝑁 < 492,950 𝐾𝑁
Berdasarkan RSNI T-12-2004 Perencanaan Struktur Beton Untuk Jembatan
Pasal 5.2.6, jika nilai Vs < 1/3x√𝐹𝑐´𝑥𝑏𝑤𝑥𝑑 (417,652 𝐾𝑁<493,020 𝐾𝑁maka
:
SMaks.Geser = 𝑑⁄2 = 675𝑚𝑚⁄2 = 337,5mm
SMaks.Geser = 0,75 x h = 0,75 x 800mm = 600 mm
SMaks.Geser = 600mm
Jadi, dipakai nilai SMaks.Geser terkecil = 337,5 mm
5) Luas sengkang (Av)
Direncanakan diameter tulangan geser atau sengkang D16 dengan jumlah kaki
sengkang (nk) 2.
Av = 𝑛𝑘𝑥0,25𝑥𝜋𝑥(𝐷𝑠)2
= 2𝑥0,25𝑥3,14𝑥(16𝑚𝑚)2
= 401,92𝑚𝑚2
6) Spasi sengkang perlu (Sp)
𝐴𝑣
Sp = 𝐴𝑣𝑠
401,92 𝑚𝑚2
= 1,549 𝑚𝑚

= 259,471 𝑚𝑚
= 250 𝑚𝑚
Jadi untuk balok T bagian tengah menggunakan tulangan geser D16-250 mm

Kontrol spasi bersih tulangan pokok arah horizontal (Sn) :


Data Perhitungan :
6. Jumlah tulangan maksimal setiap baris (m) = 4 Batang (Perhitungan Hal : 142)
7. Tulangan pokok (DTP) = 29 mm
8. Tulangan sengkang (DS) = 16 mm
9. Selimut beton (Sb) = 40mm
10. Lebar badan Gelagar (bw)= 0,40 m = 400mm

Kontrol spasi bersih tulangan pokok arah horizontal (Sn) :


𝑏𝑤− {(𝑚 𝑥 𝐷𝑇𝑃)+(2 𝑥 𝐷𝑠)+(2 𝑥 𝑆𝑏)}
Sn =
𝑚−1
400 𝑚𝑚− {(4 𝑥 29𝑚𝑚)+(2 𝑥 16𝑚𝑚)+(2 𝑥 40𝑚𝑚)}
= 4−1

= 57,33 mm > 40mm (Manual Perencanaan Struktur Beton Bertulang Untuk


Jembatan No./009/BM/2008 Hal.4-11 Pasal 4.2.7) ………….. Ok

Gambar 4.36 Penulangan Struktur Balok T Bagian Tengah


(Sumber : Penulis, 2018)