Anda di halaman 1dari 20

1.

Anatomi dan fisiologi paru

1 Hidung
Hidung adalah organ indra penciuman. Ujung saraf yang mendeteksi penciuman berada
di atap (langit-langit) hidung di area lempeng kribriformis tulang etmoid dan konka
superior.Ujung saraf ini distimulasi oleh bau di udara. Impuls saraf dihantarkan oleh saraf
olfaktorius ke otak di mana sensasi bau dipersepsikan. Ketika masuk dihidung, udara
disaring, dihangatkan, dan dilembabkan. Rongga hidung dilapisi selaput lendir yang sangat
kaya akan pembuluh darah, dan bersambung dengan lapisan farink dan selaput. Pada proses
pernafasan secara khusus rongga hidung berfungsi antara lain : Bekerja sebagai saluran
udara pernafasan. Sebagai penyaring udara pernafasan yang dilakukan oleh bulu-bulu
hidung. Dapat menghangatkan udara pernafasan oleh mukosa, Membunuh kuman-kuman
yang masuk, bersama-sama udara pernafasan oleh leukosit yang terdapat dalam selaput
lendir atau hidung.
2 Faring
Faring adalah pipa berotot yang berjalan dari dasar tengkorak sampai persambungannya
dengan oesofagus pada ketinggian tulang rawan krikoid. Bila terjadi radang disebut
pharyngitis. saluran faring rnemiliki panjang 12-14 cm dan memanjang dari dasar tengkorak
hingga vertebra servikalis ke-6. Faring berada di belakang hidung, mulut, dan laring serta
lebih lebar di bagian atasnya. Dari sini partikel halus akan ditelan atau di batukkan keluar.
Udara yang telah sampai ke faring telah diatur kelembapannya sehingga hampir bebas debu,
bersuhu mendekati suhu tubuh. Lalu mengalir ke kotak suara (Laring).
Faring terbagi menjadi 3 bagian yaitu nasofaring, orofaring dan laringofaring.
a. Nasofaring
Bagian nasal faring terletak di belakang hidung dan di atas palatum molle. Pada
dinding lateral, terdapat dua saluran auditori, tiap saluran mengarah ke masing-masing
bagian tengah telinga. Pada dinding posterior, terdapat tonsil faringeal (adenoid), yang
terdiri atas jaringan limfoid. saluran pada sistem pernafasan (faring) Tonsil paling
menonjol pada masa kanak-kanak hingga usia 7 tahun. Selanjutnya, tonsil mengalami
atrofi.
b. Orofaring
Bagian oral faring terletak di belakang mulut, memanjang dari bagian bawah
palatum molle hingga bagian vertebra servikalis ke-3. Dinding lateral bersatu dengan
palatum molle untuk membentuk lipatan di tiap sisi. Antara tiap pasang lipatan, terdapat
kumpulan jaringan limfoid yang disebut tonsil palatin. Saat menelan, bagian nasal dan
oral dipisahkan oleh palaturn molle dan uvula. Uvula (anggur kecil) adalah prosesus
kerucut (conical) kecil yang menjulur kebawah dari bagian tengah tepi bawah palatum
lunak. Amandel palatinum terletak pada kedua sisi orofaring posterior.
c. Laringofaring
Bagian laringeal faring memanjang dari atas orofaring dan berlanjut ke bawah
esofagus, yakni dari vertebra servikalis ke-3 hingga 6. Mengelilingi mulut esophagus dan
laring, yang merupakan gerbang untuk system respiratorik selanjutnya.

3. Laring
Laring terdiri dari rangkaian cincin tulang rawan yang dihubungkan oleh otot-otot yang
mengandung pita suara, selain fonasi laring juga berfungsi sebagai pelindung. Laring
berperan untuk pembentukan suara dan untuk melindungi jalan nafas terhadap masuknya
makanan dan cairan. Laring dapat tersumbat, antara lain oleh benda asing (gumpalan
makanan), infeksi (misalnya difteri) dan tumor. pada waktu menelan, gerakan laring keatas,
penutupan glotis (pemisah saluran pernapasan bagian atas dan bagian bawah) seperti pintu
epiglotis yang berbentuk pintu masuk. Jika benda asing masuk melampaui glotis batuk yang
dimiliki laring akan menghalau benda dan sekret keluar dari pernapasan bagian bawah.
4. Trakea
Trakea, merupakan lanjutan dari laring yang dibentuk oleh 16 sampai 20 cincin
kartilago yang terdiri dari tulang-tulang rawan yang terbentuk seperti C. Trakea dilapisi oleh
selaput lendir yang terdiri atas epitilium bersilia dan sel cangkir. Trakea hanya merupakan
suatu pipa penghubung ke bronkus. Dimana bentuknya seperti sebuah pohon oleh karena itu
disebut pohon trakeobronkial. tempat trakea bercabang menjadi bronkus di sebut karina. di
karina menjadi bronkus primer kiri dan kanan, di mana tiap bronkus menuju ke tiap paru
(kiri dan kanan), Karina memiliki banyak saraf dan dapat menyebabkan bronkospasme dan
batuk berat jika dirangsang.
5. Bronkus
Bronkus, merupakan percabangan trachea. Setiap bronkus primer bercabang 9 sampai
12 kali untuk membentuk bronki sekunder dan tersier dengan diameter yang semakin kecil.
Struktur mendasar dari paru-paru adalah percabangan bronchial yang selanjutnya secara
berurutan adalah bronki, bronkiolus, bronkiolus terminalis, bronkiolus respiratorik, duktus
alveolar, dan alveoli. Dibagian bronkus masih disebut pernafasan extrapulmonar dan sampai
memasuki paru-paru disebut intrapulmonary Bronkus utama kanan lebih pendek dan lebar
serta hampir vertikal dengan trakea. Sedangkan bronkus utama kiri lebih panjang dan
sempit.

6. Paru-paru
Paru-paru berada dalam rongga torak, yang terkandung dalam susunan tulang-tulang
iga dan letaknya disisi kiri dan kanan mediastinum yaitu struktur blok padat yang berada
dibelakang tulang dada. Paru-paru menutupi jantung, arteri dan vena besar, esofagus dan
trakea. Paru-paru berbentuk seperti spons dan berisi udara dengan pembagaian ruang sebagai
berikut : a. Paru kanan, memiliki tiga lobus yaitu superior, medius dan inferior. b. paru kiri
berukuran lebih kecil dari paru kanan yang terdiri dari dua lobus yaitu lobus superior dan
inferior Tiap lobus dibungkus oleh jaringan elastik yang mengandung pembuluh limfe,
arteriola, venula, bronchial venula, ductus alveolar, sakkus alveolar dan alveoli.
Diperkirakan bahwa setiap paru-paru mengandung 150 juta alveoli, sehingga mempunyai
permukaan yang cukup luas untuk tempat permukaan/pertukaran gas.
7. Bronkiolus
Dalam tiap lobus, jaringan paru lebih lanjut terbagi menjadi selubung halus jaringan
ikat, yaitu lobulus. Tiap lobulus disuplai oleh udara yang berasal dari bronkiolus terminalis,
yang lebih lanjut bercabang menjadi bronkiolus respirarorik, duktus alveolus, dan banyak
alveoli (kantong-kantong udara).
8. Alveoli
Terdapat 150 juta alveoli di paru-paru orang dewasa. Hal ini memungkinkan terjadinya
pertukaran gas. Saat jalan napas bercabang-cabang menjadi bagian yang lebih kecil, dinding
jalan napas menjadi semakin tipis hingga otot dan jaringan ikat lenyap, menyisakan lapisan
tunggal sel epitelium skuamosa sederhana di duktus alveolus dan alveoli. Saluran napas
distal ditunjang oleh jaringan ikat elastik yang longgar di mana terdapar makrofag, fibroblas,
saraf, pembuluh darah, dan pembuluh limfe. Alveoli dikelilingi oleh jaringan kapiler padat.
Pertukaran gas di paru (respirasi eksternal) berlangsung di membran yang disusun oleh
dinding alveolar dan dinding kapiler yang bergabung bersama. Membran ini disebut
membran respiratorik. Di antara sel skuamosa terdapat sel septal yang menyekresi surfaktan,
suatu cairan fosfolipid yang mencegah alveoli dari kekeringan. Selain itu, surfaktan
berfungsi mengurangi tekanan dan mencegah dinding aiveolus mengalarni kolaps saat
ekspirasi. Sekresi surfaktan ke saluran napas bawah dan alveoli dimulai saat janin berusia 35
minggu.
9. Pleura
Paru-paru dibungkus oleh pleura yang menempel langsung ke paru, disebut sebagai
pleura visceral. Sedangkan pleura parietal menempel pada dinding rongga dada dalam.
Diantara pleura visceral dan pleura parietal terdapat cairan pleura yang berfungsi sebagai
pelumas sehingga memungkinkan pergerakan dan pengembangan paru secara bebas tanpa
ada gesekan dengan dinding dada.

2. Definisi
Pneumonia adalah peradangan paru biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri
(stafilokokus, pneumokokus, atau streptokokus) (Speer, 2017).

Pneumonia adalah infeksi saluran pernapasan akut bagian bawah yang mengenai
parenkim paru (Mansjoer, 2013).

Pneumonia adalah suatu peradangan paru yang disebabkan oleh mikroorganisme (bakteri,
virus, jamur, parasit) (PDPI, 2013).

Pneumonia adalah radang parenkim paru yang banyak disebabkan oleh virus baik infeksi
primer atau komplikasi dari suatu penyakit virus (Nur Salam, 2015).

Pneumonia adalah proses inflamasi parenkim paru yang umumnya disebabkan oleh
agens infeksius (Smeltzer, 2011).

Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pneumonia adalah suatu infeksi
saluran pernapasan akut bagian bawah yang mengenai parenkim paru yang disebabkan oleh
mikroorganisme (bakteri, virus, jamur, parasit) maupun benda asing.

3. Etiologi
Menurut Mansjoer, 2012, penyebab dari pneumonia adalah :
1) Bakteri
a. Pneumokokus
b. Streptokokus
c. Stafilokokus
d. Haemophilus Influenzae
e. Pseudomonas aeruginosa
2) VirusVirus
a. Influenza
b. Adenovirus
c. Sitomegalovirus

3) Fungi
a. Aspergillus
b. Koksidiomikosis
c. Histoplasma
4) Aspirasi
a. Cairan amnion
b. Makanan
c. Cairan lambung
d. Benda asing

4. Klasifikasi
Menurut Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2013,pneumoniadapat diklasifikasikan
berdasarkan klinis, penyebab dan predileksi infeksi:

1) Berdasarkan klinis dan epideologis

Berdasarkan klinis dan epideologis pneumonia terdiri dari:

a. Pneumina komuniti (community aquired pneumonia)

b. Pneumonia nosokomial (hospital aquired pneumonia / sosicomial pneumonia)

c. Pneumonia aspirasi

d. Pneumonia pada penderita immunocompromised

2) Berdasarkan bakteri penyebab


Berdasarkan bakteri penyebab, pneumonia terdiri atas :

a. Pneumonia bacterial/ tipikal

b. Pneumonia atipikal disebabkan mycoplasma, legionella dan Chlamydia

c. Pneumonia virus

d. Pneumonia jamur

3) Berdasarkan predileksi Infeksi

Berdasarkan predileksi infeksi, pneumonia terdiri atas :

a. Pneumonia Lobaris

Pnumonia yang terjadi pada satu lobus atau segmen kemungkinansekunder disebabkan
oleh obstruksi bronkus.

b. Bronchopneumonia

Bronchopneumonia ditandai dengan bercak-bercak infiltrate padalapangan paru. Dapat


disebabkan olehbakteri maupun virus.

c. Pneumonia Interstitialis

5. Patofisiologi

Bakteri penyebab terhisap ke paru perifer melalui saluran nafas menyebabkan reaksi
jaringan berupa edema, yang mempermudah proliferasi dan penyeraban kuman. Proses
Masuknya Kuman Bagian paru yang terkena mengalami konsolidasi, yaitu terjadinya sebukan
sel PMNs (polimorfnuklears), fibrin, eritrosit, cairan edema dan kuman dialveoli. Proses ini
termasuk dalam stadium hepatisasi merah. Sedangkan stadium hepatisasi kelabu adalah
kelanjutan proses infeksiberupa deposisi fibrin ke permukaan pleura. Ditemukan pula fibrin
dan leukosit PMNs di alveoli dan proses fogositosis yang cepat dilanjutkan stadium resolusi,
dengan peningkatan jumlah sel makrofag dialveoli, degenerasi sel dan menipisnya fibrin, serta
menghilangnya kuman dandebris (Mansjoer, 2013).

Pneumonia bakterial menyerang baik ventilasi maupun difusi. Suatu reaksi inflamasi
yang dilakukan oleh pneumokokus terjadi pada alveoli dan menghasilkan eksudat yang
mengganggu gerakan dan difusi oksigen serta karbondioksida. Sel-sel darah putih kebanyakan
neutrofil juga berimigrasi kedalam alveoli dan memenuhi ruang yang biasanya mengandung
udara. Area paru tidak mendapat ventilasi yang cukup karena sekresi, edema mukosa dan
bronkospasme menyebabkan oklusi parsial bronkhi atau alveoli dengan mengakibatkan
penurunan tahanan oksigen alveolar. Darah vena yang memasuki paru-paru lewat melalui area
yang kurang terventilasi dan keluar ke sisi kiri jantung. Percampuran darah yangteroksigenasi
dan tidak teroksigenasi ini akhirnya mengakibatkan hipoksemia arterial (Smeltzer, 2015).

6. Manifestasi klinis
Manifestasi klinik pada pneumonia menurut Linda Sowden, 2014 adalah
a. Batuk
b. Dispnea
c. Takipnea
d. Sianosis
e. Melemahnya suara nafas
f. Retraksi dinding thoraks
g. Nafas cuping hidung
h. Nyeri abdomen (disebabkan iritasi diafragma oleh paru terinfeksi di dekatnya)
i. Batuk paroksismal mirip pertusis (umum terjadi pada anak yang lebih kecil)
j. Anak-anak yang lebih besar tidak tampak sakit

7. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnose pneumonia
menurut
a. Pemeriksaan darah
Pemeriksaan darah menunjukkan leukositosis dengan predominan PMN atau dapat
ditemukan leucopenia yang menandakan prognosis buruk dan dapat ditemukan anemia
ringan atau sedang.

b. Pemeriksaan radiologis

Pemeriksaan radiologis memberikan gambaran bervariasi :

a. Bercak konsolidasi merata pada bronkopneumonia

b. Bercak konsolidasi satu lobus pada pneumonia lobaris

c. Gambaran bronkopneumonia difus atau infiltrat interstisialis pada pneumonia stafilokok

c. Pemeriksaan cairan pleura


d. Pemeriksaan mikrobiologik, spesimen usap tenggorok, sekresi nasofaring, aspirasi trakea.
(Mansjoer; 2015 )

8. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada pasien Pneumonia meliputi :
a. Penatalaksanaan Medis
Menurut Riyadi, 2017, pengobatan diberikan berdasarkan etiologi dan uji resistensi, akan
tetapi, karena hal itu perlu waktu, dan pasien perlu therapi secepatnya maka biasanya
diberikan :
a. Penisilin 50.000 u/kg BB/hari ditambah dengan kloramfenikol 50 – 70 mg/kg BB/hari
atau diberikan antibiotik yang mempunyai spektrum luas seperti ampisilin. Pengobatan
ini diteruskan sampai bebas demam 4 – 5 hari. Pemberian obat kombinasi bertujuan untuk
menghilangkan penyebab infeksi yang kemungkinan lebih dari 1 jenis juga untuk
menghindari resistensi antibiotic.
b. Koreksi gangguan asam bas dengan pemberian oksigen dan cairan intravena, biasanya
diperlukan campuran glukosa 5% dan NaCl 0,9% dalam perbandingan 3:1 ditambah
larutan KCl 10 mEq/500ml/botol infus.
c. Karena sebagian besar pasien jatuh ke dalam asrdosis metabolic akibat kurang makan dan
hipoksia, maka dapat diberikan koreksi sesuai dengan hasil analisis gas darah arteri.
d. Pemberian makanan enteral bertahap melalui selang NGT pada penderita yang sudah
mengalami perbaikan sesak nafasnya.
e. Jika sekresi lendir berlebihan dapat diberikan inhalasi dengan salin normal dan beta
agonis untuk memperbaiki transport mukosilier seperti pemberian terapi nebulizer dengan
flexoid dengan ventolin. Selain bertujuan mempermudah mengeluarkan dahak juga dapat
meningkatkan lebar lumen bronkus

b. Penatalaksanaan non medis

Penatalaksanaan keperawatan dalam hal ini dilakukan adalah :

a. Menjaga kelancaran pernapasan

Klien pneumonia berada dalam keadaan dispnea dan sianosis karena adanya radang
paru dan banyaknya lendir di dalam bronkus atau paru. Agar klien dapat bernapas secara
lancar, lendir tersebut harus dikeluarkan dan untuk memenuhi kebutuhan O2 perlu
dibantu dengan memberikan O22 l/menit secara rumat. Pada anak yang agak besar
dapat dilakukan :

1) Berikan sikap berbaring setengah duduk

2) Longgarkan pakaian yang menyekat seperti ikat pinggang, kaos yang sempit.

3) Ajarkan bila batuk, lendirnya dikeluarkan dan katakan kalau lendir tersebut tidak
dikeluarkan sesak nafasnya tidak akan segera hilang

4) Beritahukan pada pasien agar ia tidak selalu berbaring ke arah dada yang sakit, boleh
duduk/miring ke bagian yang lain. Pada bayi dapat dilakukan :

a) Baringkan dengan letak kepala ekstensi dengan memberikan ganjal dibawah


bahunya.

b) Bukalah pakaian yang ketat seperti gurita.

c) Isaplah lendir dan berikan O2 rumat sampai 2 l/menit. Pengisapan lendir harus
sering yaitu pada saat terlihat lendir di dalam mulut, pada waktu akan memberikan
minum, mengubah sikap baring/tindakan lain.

d) Perhatikan dengan cermat pemberian infus, perhatikan apakah infus lancar.

b. Kebutuhan Istirahat

Klien Pneumonia adalah klien payah, suhu tubuhnya tinggi, sering hiperpireksia
maka klien perlu cukup istirahat, semua kebutuhan klien harus ditolong di tempat tidur.
Usahakan pemberian obat secara tepat, usahakan keadaan tenang dan nyaman agar
pasien dapat istirahat sebaik-baiknya.

c. Kebutuhan Nutrisi dan Cairan

Pasien pneumonia hampir selalu mengalami masukan makanan yang kurang.


Suhu tubuh yang tinggi selama beberapa hari dan masukan cairan yang kurang dapat
menyebabkan dehidrasi. Untuk mencegah dehidrasi dan kekurangan kalori dipasang
infuse dengan cairan glukosa 5% dan NACL 0,9% dalm perbandingan 3:1, ditambahkan
KCL 10 mEq/500 ml/botol infus. Pada bayi yang masih minum ASI, bila tidak terlalu
sesak ia boleh menetek selain memperoleh infuse. Beritahukan ibunya agar pada waktu
bayi menetek puting susunya harus sering-sering dikeluarkan untuk memberikan
kesempatan bayi bernafas

9. Komplikasi
a. Efusi Pleura
b. Empisema
c. Abses Paru
d. Pneumothoraks
e. Gagal nafas
f. Sepsis

10. Asuhan keperawatan theory


1. Anamnesis (pengkajian)
a. Identitas
Identitas pasien meliputi : nama, tempat tanggal lahir, jenis kelamin, umur,
pekerjaan, pendidikan, alamat, agama, suku bangsa, tanggal masuk rumah sakit, no
register/MR, serta penanggung jawab
b. Keluhan utama :
Keluhan respiratori, seperti batuk berdahak, sesak nafas.

c. Riwayat kesehatan
1) Riwayat Kesehatan Dahulu (RKD)
Riwayat kesehatan yang pernah di alami klien sebelum masuk rumah sakit
atau terdiagnosa pneumonia
2) Riwayat Kesehatan Sekarang (RKS)
Yaitu penyakit yang saat ini di alami oleh klien
3) Riwayat Kesehatan Keluarga (RKK)
Riwayat penyakit yang di alami oleh keluarga klien seperti penyakit
asma,TBC,dll

2. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum : tampak lemah, sesak nafas
b. Tingkat kesadaran: tergantung tingkat keparahan penyakit bisa somnolent
c. Berat badan : Biasanya berat badan pasien mengalami penurunan
d. Tanda-Tanda vital
o Tekanan darah : Biasanya tekanan darah pasien meningkat (hipertensi)
o Suhu : Biasanya suhu pasien mengalami hipertermi
o Pernafasan : Biasanya mengalami takipnea,dyspnea,nafas dangkal
o Nadi : Biasanya pasien mengalami takikardi
e. Kepala: Mengamati bentuk kepala, adanya hematom/oedema, dan kelainan lain
f. Rambut: biasanya rambut tampak hitam serta kulit kepala klien bersih, dan tidak
rontok
g. Wajah: Biasanya tampak pucat lesu
h. Mata: konjungtiva bisa anemis
i. Hidung: jika sesak akan terdengar naafas cuping hidung
j. Mulut: Biasanya bibir kering, lidah tidak kotor
k. Leher: Biasanya tidak ada adanya pembesaran kelenjer thyroid.
l. Dada/Thorak
o Inspeksi : pengembangan paru berat,tidak simetris jika hanya satu sisi paru, ada
penggunaan otot bantu nafas
o Palpasi : adanya nyeri tekan, peningkatan vocal fremitus pada daerah trakea
o Perkusi : pekak bila terisi cairan, normalnya timpani
o Auskultasi : bisa terdengar ronki
m.Jantung
Jika tidak ada kelainan jantung, pemeriksaan jantung tidak ada kelemahan
n. Perut/Abdomen
o Inspeksi : biasanya perut tampak datar
o Auskultasi : biasanya terjadi penurunan bising usus.
o Palpasi :, tidak ada masa
o Perkusi : baiasanya tidak kembung
o. Genetalia
Biasanya keadaan dan kebersihan genetalia pasien baik.
p. Sistem integrumen
Biasanya terjadi perubahan pada kelembapan atau turgor kulit jelek karena
dehidrasi dan juga sianosis
q. Ekstermitas
kekuatan otot lemah.

3. Pola fungsi kesehatan


a. Pola Persepsi-Managemen Kesehatan
Menggambarkan Persepsi,pemeliharaan dan penanganan kesehatan persepsi
terhadap arti kesehatan,dan penatalaksanaan kesehatan menggambarkan
persepsi,pemeliharaan dan penanganan kesehatan persepsi terhadap arti
kesehatan,dan penatalaksanaan kesehatan

b. Pola Nurtisi –Metabolik


Menggambarkan masukan Nutrisi, balance cairan dan elektrolit nafsu
makan,pola makan, diet,fluktuasi BB dalam 6 bulan terakhir, kesulitan menelan.
c. Pola Eliminasi
Menjelaskan pola Fungsi eksresi,kandung kemih dan Kulit
Kebiasaan defekasi,ada tidaknya masalah defekasi,masalah miksi (oliguri,disuri
dll), penggunaan kateter, frekuensi defekasi dan miksi, Karakteristik urin dan
feses, pola input cairan, infeksi saluran kemih,masalah bau badan, perspirasi
berlebih, dll
d. PolaLatihan-Aktivitas
Menggambarkan pola latihan,aktivitas,fungsi pernafasan dan sirkulasi.
Pentingnya latihan/gerak dalam keadaan sehat dan sakit
e. Pola Kognitif Perseptual
Menjelaskan Persepsi sensori dan kognitif. Pola persepsi sensori meliputi
pengkajian fungsi penglihatan,pendengaran,perasaan,pembau dan
kompensasinya terhadap tubuh.
f. Pola Istirahat-Tidur
Menggambarkan Pola Tidur,istirahat dan persepasi tentang energy. Jumlah
jam tidur pada siang dan malam, masalah selama tidur, insomnia atau mimpi
buruk, penggunaan obat, mengeluh letih

g. Pola Konsep Diri-persepsi Diri


Menggambarkan sikap tentang diri sendiri dan persepsi terhadap
kemampuan.Kemampuan konsep diri antara lain gambaran diri, harga diri,
peran, identitas dan ide diri sendiri.
h. Pola Peran dan Hubungan
Menggambarkan dan mengetahui hubungan dan peran klien terhadap
anggota keluarga dan masyarakat tempat tinggal klien
Pekerjaan.
i. Pola Reproduksi/Seksual
Menggambarkan kepuasan atau masalah yang actual atau dirasakan
dengan seksualitas. Dampak sakit terhadap seksualitas, riwayat
haid,pemeriksaan mamae sendiri, riwayat penyakit hub sex.
j. Pola Pertahanan Diri (Coping-Toleransi Stres )
Menggambarkan kemampuan untuk menanngani stress dan penggunaan
system pendukung penggunaan obat untuk menangani stress.
k. Pola Keyakinan Dan Nilai
Menggambarkan dan Menjelaskan pola nilai,keyakinan termasuk
spiritual.Menerangkan sikap dan keyakinan klien dalam melaksanakan agama
yang dipeluk dan konsekuensinya.

4. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan darah
b. Pemeriksaan radiologis
c. Pemeriksaan cairan pleura
d. Pemeriksaan mikrobiologik
5. Diagnosa Keperawatan
1. Ketidak efektifan bersihan jalan nafas berhungan dengan benda asing dijalan nfas
(00031)
2. Ketidak efektifan pola nafas berhubungan dengan keletihan otot nafas (00032)
3. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ketidak seimbangan ventilasi perfusi
(00030)
4. Hipertermia berhubungan dengan penurunan perspirasi (00007)
5. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan mencerna
makan (00002)
6. Intoleran aktivitas berhubungan dengan ketidak seimbangan antara suplai dan
kebutuhan oksigen (00092)
7. Resiko kekurangan volume cairan (00025)

6. Intervensi keperawatan
8. Ketidak efektifan bersihan jalan nafas berhungan dengan benda asing dijalan
nfas (00031)
1. Batasan karakteristik :
a) Bradipnea
b) Dispnea
c) Penggunaan otot bantu pernapasan
d) Pernapasan cuping hidung
2. Criteria hasil (NOC)
No. Indicator 1 2 3 4 5
1 Ansietas
2 Ketakutan
3 Tersedak
4 Suara nafas tambahan
5 Pernafasan cuping hidung
6 Mendesah
7 Dispneu saat istirahat
8 Dispneu dengan aktivitas ringan
9 Penggunaan otot bantu nafas
10 Batuk
11 Akumulasi sputum
12 Respirasi agonal
Keterangan :
1. Sangat berat
2. Berat
3. Cukup
4. Ringan
5. Tidak ada

3. Intervensi :
a. Manajemen jalan nafas
1) Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
2) Buka jalan nafas dengan teknik chin lift
3) Lakukan fisioterapi dada sebagaimana mestinya
b. Fisioterapi dada
1) Lakukan fisioterapi dada minimal 2 jam setelah makan
2) Jelaskan tujuan dan prosedur tindakan fisioterapi dada
3) Kenali ada tidaknya kontraindikasi dilakukannya fisioterapi dada pada
pasien
c. Manajemen batuk
1) Monitor fungsi paru
2) Minta pasien menarik nafas dalam, bungkukkan ke depan, lakukan 3-4x
hembusan
3) Ajarkan pasien batuk efektif
d. Pemberian terapi oksigen
1) Monitor aliran oksigen
2) Berikan oksigen tambahan sesuai kebutuhan
3) Monitor alat pemberian oksigen

e. Pengaturan posisi
1) Tempatkan pasien diatas tempat tidur terapeutik
2) Dorong pasien untuk terlibat dalam perubahan posisi
3) Berikan matras yang lembut
f. Pemberiann obat inhalasi
1) Monitor kemungkinan alergi terhadap obat,interaksi dan kontraindikasi,
termasuk obat-obat di luar konter atau obat herbal
2) Kolaborasikan dengan dokter pemberian obat yang sesuai dengan keadaan
pasien
3) Catat alergi yang dialamai klien sebelum pemberian obat dan tahan obat-
obatan yang diberikan
1. Ketidak efektifan pola nafas berhubungan dengan keletihan otot nafas (00032)
1) Batasan karakteristik
a. Dispnea
b. Takipnea
c. Fase ekspirasi memanjang
2) Criteria hasil
Nomor Indikator 1 2 3 4 5
041501 Frekuensi 1 2 3 4 5
pernafasan
041502 Irama pernafasan 1 2 3 4 5
041503 Kedalaman 1 2 3 4 5
inspirasi
041504 Suara auskutasi 1 2 3 4 5
nafas
041532 Kepatenan jalan 1 2 3 4 5
nafas
041505 Volume tidal 1 2 3 4 5
041506 Pencapaian tingkat 1 2 3 4 5
insentif
041507 Kapasitas vital 1 2 3 4 5
Keterangan :
1 = deviasi berat dari kisaran normal
2 = deviasi yang cukup berat dari kisaran normal
3 = deviasi sedang dari kisaran normal
4 = deviasi ringan dari kisaran normal
5 =tidak ada deviasi dari kisaran normal

3) Intervensi
a) Menejemen jalan nafas
1. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventiasi
2. Lakukan fisoterapi dada sebagaimana mestinya
3. Indentifikasi kebutuhan aktual/potensial pasien untuk memasukkan
alat membuka jalan nafas
b) Terapi oksigen
1. Batasi aktivitas merokok.
2. Periksa perangkat(alat)pemberian oksigen secara berkala untuk
memastikan bahwa konsentrasi (yang telah)ditentukan sedang
diberikan.
3. Monitor kecemasan pasien yang berkaitan dengan kebutuhan
mendapatkan terapi oksigen.
c) Monitor pernafasan
1. Monitor kecepatan,irama , kedalaman dan kesulitan bernafas.
2. Auskultasi suara nafas, catat area dimana terjadi penurunan atau
tidak adanya ventilasi dan keberadaan suara nafas tambahan.
3. Monitor peningkatan kelelahan, kecemasan dan kekurangan udara
pada pasien.
d) Monitor tanda-tanda vital
1. Monitor tekanan darah, nadi, suhu, dan status pernafasan dengan
tepat.
2. Identifikasi kemungkinan penyebab perubahan tanda-tanda vital
3. Monitor tekanan darah saat pasien berbaring, duduk, da berdiri
sebelum dan setelah perubahan posisi.
e) Fisioterapi dada
1. Gunakan bantal untuk menopang posisi pasien
2. Intruksikan pasien untuk mengeluarkan nafas dengan teknik nafas
dalam
3. Monitor kemampuan psien sebelum dan sesudah prosedur(contoh:
oksimetrinadi tanda vital, dan tingkat kenyamanan pasien
9. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ketidak seimbangan ventilasi
perfusi (00030)
a. Batasan karateristik
1. Diaphoresis
2. Dipsnea
3. Gangguan penglihatan

No Indikator 1 2 3 4 5
040715 Pengisian kapiler jari
040716 Pengisian kapiler jari kaki
040710 Suhu kulit ujung jari kaki dan
tangan
040730 Kekuatan denyut nadi karotis
(kanan)
040731 Kekuatan denyut nadi karotis (kiri)
040732 Kekuatan denyut brakiatatis (kanan)
040733 Kekuatan denyut brakiatatis (kiri)
040734 Kekuatan denyut radial (kanan)
040735 Kekuatan denyut radial (kiri)
040736 Kekuatan denyut femuralis (kanan)
040737 Kekuatan denyut femuralis (kiri)
040727 Tekanan darah sistolik
040727 Tekanan darah diastolic
040740 Nilai rata-rata tekanan darah

1. Tidak pernah menunjukkan


2. Jarang menunjukkan
3. Kadang-kadang menunjukkan
4. Sering menunjukkan
5. Secara konsisten menunjukkan

b. Intervensi
1. Monitor pernafasan
a) Monitor kecepatan,irama,kedalaman dan kesulitan bernafas
b) Catat pergerakan dada,catat ketidak simetrisan,penggunaan otot-otot bantu
nafas dan retraksi pada otot suprakalikulas dan interkosta
c) Monitor suara nafas tambahan seperti ngorok atau mengi
2. Terapi oksigen
a) Bersihkan mulut,hidung dan sekresi trakea dengan cepat
b) Pertahankan kepatenan jalan nafas
c) Monitor aliran oksigen
3. Pengurangan kecemasan
a) Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan
b) Nyatakan denga jelas harapan terhadap perilaku klien
c) Berikan informasi factual terkait diagnosis,perawatan dan prognosis
2. Intoleran aktivitas berhubungan dengan ketidak seimbangan antara suplai dan
kebutuhan oksigen (00092)
1. batasan karakteristik :
a. Keletihan
b. Dyspnea setelah beraktivitas
c. Ketida nyamanan beraktivitas
2. Kriteria hasil (noc)
No. Indikator 1 2 3 4 5
1. Saturasi oksigen ketika beraktivitas
2. Frekuensi nadi ketika beraktivitas
3. Frekuensi pernapasan ketika beraktivitas
4. Kemudahan bernapas ketika beraktivitas
5. Tekanan darah sistolik ketika beraktivitas
6. Tekanan darah diastolik ketika beraktivitas
7. Temuan /hasil EKG (Elektrokardiogram)
8. Warna kulit
9. Kecepatan berjalan
10. Jalan berjarak
11. Toleransi dalam menaiki tangga
12. Kekuatan tubuh bagian atas
13. Kekuatan tubuh bagian bawah
Keterangan :
1. Sangat terganggu
2. Banyak terganggu
3. Cukup terganggu
4. Sedikit terganggu
5. Tidak terganggu

3. Intervensi ( NIC):
1. Terapi aktivitas
a. Bantu pasien untuk mengeksplorasi tujuan personal dari aktivitas-aktivitas
yang biasa dilakukan (misalnya, bekerja) dan aktivitas-aktivitas yang di
sukai
b. Sarankan metode-metode untuk meningkatkan aktivitas fisik yang tepat
c. Bantu pasien untuk memilih aktiviyas dan pecapain tujuan melalui aktivitas
yang konsisten dengan kemampuan fisik, fisiologis dan sosial
2. Manajemen energi
a. Bantu pasien untuk memahami prinsip konservasi energi (misalnya,
kebutuhan untuk membatasi aktivitas dan tirah baring)
b. Kaji status fisiologis pasien yang menyebabkan kelelahan sesuai dengan
konteks usia dan perkembangan
c. Konsulkan dengan ahli gizi mengenai carameningkatkan asupan energidari
makanan
3. Peningkatan latih
a) Lakukan latihan bersamaindividu, jika di perlukan
b) Instruksikan individu untuk melakukan pemanasan dan pendinginan dengan
cukup padasaat latihan
c) Instruksikan individu terkait teknik yang digunakan untuk menghindari
cedera selama latihan