Anda di halaman 1dari 6

HUBUNGAN PEMBERIAN ANTIBIOTIK PROFILAKSIS, KEPATUHAN

DAN KEWASPADAAN STANDART PERAWAT KAMAR OPERASI


DENGAN KEJADIAN INFEKSI LUKA PASCA OPERASI BERSIH

Abstrak
Infeksi luka operasi adalah infeksi jaringan, organ atau ruang yang terpapar ahli bedah
(1)
selama melakukan tindakan invasif. Infeksi luka operasi merupakan salah satu infeksi
nosocomial yang paling sering terhitung 21,8% kejadian di Amerika Serikat dan menyebabkan
(2)
peningkatan angka morbiditas, mortalitas, rawat ulang kembali dan perpanjangan rawat inap.
Data di dalam negeri di Rumah Sakit Dr. Sarjito Yogyakarta dilakukan sebanyak 82 operasi
laparotomi emergensi oleh karena trauma abdomen dengan tingkat mortalitas 18,3% dan rata-rata
Length Of Stay (LOS) 15,96 hari. Penggunaan antibiotik yang salah berhubungan dengan biaya
kesehatan yang membengkak, meningkatnya angka kejadian efek samping obat karena toksisitas
obat dan alergi.(1) Jenis penelitian ini adalah Kuantitatif Analitik Observasional dengan desain
penelitian Case Control yang dilaksanakan mulai bulan September 2018 hingga bulan Februari
2019 di RSUD RA Kartini, Jepara, Jawa Tengah. Besar sampel adalah 141 pasien RSUD RA
Kartini, Jepara, Jawa Tengah. Pasien dibagi menjadi 2 kelompok. Sebanyak 20 pasien (64,5%)
yang diberikan antibiotik profilaksis terjadi infeksi luka operasi dan sebanyak 46 pasien (41,8%)
yang diberikan antibiotik profilaksis tidak terjadi infeksi luka operasi. Sebanyak 11 pasien
(35,5%) yang tidak diberikan antibiotik profilaksis terjadi infeksi luka operasi dan sebanyak 64
pasien (58,2%) yang tidak diberikan antibiotik profilaksis tidak terjadi infeksi luka operasi.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara
penggunan antibiotik profilaksis dengan angka kejadian infeksi luka operasi.

Abstract
Surgical site infection is infection within tissue, organ or cavity which exposed to surgeon
during invasive procedure. (1) Surgical site infection is one of most common nosocomial infection
account 21,8% in United State and cause increase morbidity, mortality, readmission and prolonged
hospital stay. (2) In Indonesia at Dr. Sarjito Hospital in Yogyakarta there are 82 emergency
laparotomy caused by abdominal trauma with mortality rate 18,3% and mean of Length of Stay
(LOS) 15,96 days. The misuse of antibiotic correlate with massive health cost, increase adverse
effect caused by drug toxicity and allergy.(1) This research is quantitative analytical observational
with case control design which done within September 2018 to February 2019 in RSUD RA
Kartini, Jepara, Jawa Tengah. Patient divided into 2 groups. 20 patient (64,5%) given prophylactic
antibiotic has surgical site infection and 46 patient (41,8%) who given prophylactic antibiotic has
not surgical site infection. For 11 patient (35,5%) who is not given prophylactic antibiotic has
surgical site infection and for 64 patient (58,2%) who is not given prophylactic antibiotic has not
surgical site infection. According to this research we conclude that, there is significant correlation
between the use of prophylactic antibiotic with surgical site infection.

Pendahuluan

Infeksi luka operasi adalah infeksi jaringan, organ atau ruang yang terpapar ahli bedah
selama melakukan tindakan invasif. (1)

Infeksi luka operasi berhubungan dengan tingkat morbiditas dan juga dapat bersifat letal, serta
juga meningkatkan biaya kesehatan, menurunkan kepuasan pasien dan kenyamanan pasien. (1)

Infeksi luka operasi merupakan salah satu infeksi nosocomial yang paling sering terhitung 21,8%
kejadian di Amerika Serikat dan menyebabkan peningkatan angka morbiditas, mortalitas, rawat
ulang kembali dan perpanjangan rawat inap. (2)

Survey oleh WHO menunjukkan bahwa tingkat internasional infeksi luka operasi berkisar 5
sampai 34%.
Infeksi luka operasi tidak hanya berkaitan dengan morbiditas akan tetapi juga mortalitas. Sekitar
77% dari kematian pasien bedah berhubungan dengan infeksi luka operasi. (2)

Sekitar 5% dari pasien bedah terjadi infeksi luka operasi (NICE 2008), meskipun kejadian ini dapat
berlipat ganda ketika dilakukan pengawasan setelah pasien dipulangkan dari perawatan. (3)

Kartadinata (2007) melaporkan bahwa angka kejadian infeksi luka operasi pada kasus bedah
digestif selama bulan januari dan Februari 2007 adalah sebesar 15% (125 pasien).
Simanjuntak S (2007) melaporkan bahwa angka SSI pada operasi herniorafi elektif dengan
pemasangan mesh tahun 2006 berkisar 4,2%.(4)

Data di dalam negeri di Rumah Sakit Dr. Sarjito Yogyakarta dilakukan sebanyak 82 operasi
laparotomi emergensi oleh karena trauma abdomen dengan tingkat mortalitas 18,3% dan rata-rata
Length Of Stay (LOS) 15,96 hari. Di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta didapatkan
data dari Juli–Desember 2004 dilakukan operasi laparotomi emergensi terhadap 83 orang
penderita, dengan jumlah penderita yang meninggal sebanyak 9 orang (10,84%), dan dari 43 orang
yang diteliti didapatkan komplikasi berupa infeksi luka operasi 19 orang (44,19%).(4)

Terdapat tiga faktor penting terjadinya infeksi luka operasi, pertama adalah derajat kontaminasi
mikroba pada luka selama operasi. Kedua adalah durasi prosedur operasi. Ketiga, dari faktor
pejamu seperti riwayat penyakit Diabetes Mellitus, malnutrisi, obesitas, pasien dengan status
imunokompromais, dll. (1)

Profilaksis adalah suatu tindakan yang dilakukan untuk melenyapkan keberadaan mikroba
eksogen dan endogen, termasuk didalamnya adalah upaya mekanis, kimia, modalitas antimikroba
atau kombinasi dari metode-metode tersebut. (1)

Antibiotik profilaksis terdiri dari pemberian agen antimikroba atau agen lain sebelum dimulainya
prosedur bedah dalam rangka untuk mengurangi angka masuknya mikroba ke jaringan atau rongga
tubuh. (1)

Penggunaan antibiotik yang salah berhubungan dengan biaya kesehatan yang membengkak,
meningkatnya angka kejadian efek samping obat karena toksisitas obat dan alergi terjadinya
infeksi baru seperti colitis clostridium difficile dan terbentuknya multidrug resistance pathogen. (1)

Metode

Jenis penelitian ini adalah Kuantitatif Analitik Observasional dengan desain penelitian
Case Control yang dilaksanakan mulai bulan September 2018 hingga bulan Februari 2019 di
RSUD RA Kartini, Jepara, Jawa Tengah. Besar sampel adalah 141 pasien RSUD RA Kartini,
Jepara, Jawa Tengah. Jenis data yang dikumpulkan adalah data sekunder yang dilakukan dengan
mengambil data dari rekam medis pasien. Kriteria inklusi adalah pasien dengan tumor mammae
dan pasien dengan hernia tanpa komplikasi, selain ini dimasukan sebagai kriteria eksklusi. Analisis
bivariat dilakukan dengan uji Chi-Square.
Hasil

Penelitian ini dilakukan menggunakan sampel sekunder yang diambil dari RSUD RA
Kartini, Jepara, Jawa Tengah pada bulan September 2018 hingga bulan Februari 2019. Besar
sampel sebanyak 141 orang, yang terdiri atas dua kelompok yaitu, kelompok yang diberikan
antibiotik dan kelompok yang tidak diberikan antibiotik. (Tabel 1)

Untuk melihat hubungan antara pemberiaan antibiotik dengan resiko terjadinya infeksi di RSUD
RA Kartini, Jepara, Jawa Tengah periode bulan September 2018 hingga bulan Februari 2019,
dilakukan analisis bivariat dengan menggunakan uji analisis chi-square. Hasil analisis bivariat
dapat dilihat dalam Tabel 2.

Dari tabel 2 dapat dilihat bahwa nilai p sebesar 0,02 yang secara statistik berarti terdapat
hubungan bermakna antara pemberian antibiotik dengan risiko terjadinya infeksi, karena secara
statistik nilai p bermakna bila p<0,05, dengan IK 95% 0,50-1,71.

Tabel: 1 Karakteristik sampel penelitian


Karakteristik Jumlah (n) Persentase (%)
Pemberian Antibiotik Profilaksis
YA 75 53.2
TIDAK 66 46.8

Tabel: 2 Analisis bivariat hubungan antara pemberian antibiotik dan hasil terinfeksi & tidak
terinfeksi
Tidak
Variabel Terinfeksi p IK 95%
Terinfeksi
n % n %
YA 20 64,5 46 41,8 0,02 (0,17-0,90)
TIDAK 11 35,5 64 58,2
bermakna, nilai p<0,05
Pembahasan

Berdasarkan data-data yang diperoleh dari pengambilan sampel sekunder berupa rekam
medis di RSUD RA Kartini, Jepara, Jawa Tengah pada periode bulan September 2018 hingga
bulan Februari 2019 di dapatkan 141 sampel, yang terbagi menjadi dua kelompok yaitu,
kelompok yang diberikan antibiotik dan kelompok yang tidak diberikan antibiotik. Diketahui
dari semua data yang diperoleh terdapat 20 pasien (64,5%) yang diberikan antibiotik profilaksis
terjadi infeksi luka operasi dan sebanyak 46 pasien (41,8%) yang diberikan antibiotic profilaksis
tidak terjadi infeksi luka operasi. Sebanyak 11 pasien (35,5%) yang tidak diberikan antibiotik
profilaksis terjadi infeksi luka operasi dan sebanyak 64 pasien (58,2%) yang tidak diberikan
antibiotik profilaksis tidak terjadi infeksi luka operasi.

Kesimpulan

Sebanyak 20 pasien (64,5%) yang diberikan antibiotik profilaksis terjadi infeksi luka
operasi dan sebanyak 46 pasien (41,8%) yang diberikan antibiotik profilaksis tidak terjadi infeksi
luka operasi. Sebanyak 11 pasien (35,5%) yang tidak diberikan antibiotik profilaksis terjadi
infeksi luka operasi dan sebanyak 64 pasien (58,2%) yang tidak diberikan antibiotik profilaksis
tidak terjadi infeksi luka operasi. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat
hubungan yang bermakna antara penggunan antibiotik profilaksis dengan angka kejadian infeksi
luka operasi dengan nilai p=0,02 dan IK 95% 0,50-1,71.

Saran

Sebaiknya pada penelitian berikutnya yang ingin membahas tentang hubungan infeksi luka
operasi dengan penggunaan antibiotik profilaksis dapat menggunakan sampel yang lebih banyak.
Pada penelitian berikutnya juga dapat lebih spesifik jenis antibiotik yang diberikan dan kriteria
pasien yang lebih spesifik. Penelitian berikutnya juga dapat menyertakan faktor-faktor lain yang
berkaitan dengan kejadian infeksi luka operasi seperti tingkat sterilitas alat operasi, asepsis
personel kamar bedah dan penggunaan bahan implant pada pasien.

Diharapkan pada penelitian berikutnya dapat menggunakan metode penelitian kohort perspektif
Daftar Pustaka

1. Brunicardi FC, Andersen DK, Billiar TR, Dunn DL, Hunter JG, Matthews JB, et al.,
editors. Schwartz’s Principles of Surgery. 10th ed. New York: Mc Graw-Hills; 2015.
163-187 p.
2. Jonge SW De, Gans SL, Atema JJ, Solomkin JS, Dellinger PE, Boermeester MA.
Timing of preoperative antibiotic prophylaxis in 54,552 patients and the risk of surgical
site infection: A systematic review and meta-analysis. Medicine (Baltimore).
2017;96(29).
3. Tanner J, Dumville JC, Norman G, Fortnam M. Surgical hand antisepsis to reduce
surgical site infection. Cochrane Database Syst Rev. 2016;2016(1).
4. Alsen M, Sihombing R. Infeksi Luka Operasi. Mks. 2014;(3):232–3.