Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN KEBUTUHAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT

DISUSUN OLEH :

1. Made Suryani (G3A019101)


2. Marsella Eka Wardani (G3A019102)
3. Richa Jannet Ferdisa (G3A019133)
4. Fitria Wati (G3A019134)
5. Andin Fellyta Primadani (G3A019135)

PROGRAM STUDI NERS (TAHAP AKADEMIK)


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
TAHUN AJARAN 2018

1
I. KONSEP DASAR

A. Pengertian
Kebutuhan cairan dan elektrolit adalah suatu proses dinamik karena
metabolisme tubuh membutuhkan perubahan yang tetap dalam berespons
terhadap stressor fisiologis dan lingkungan. Cairan dan elektrolit saling
berhubungan, ketidakseimbangan yang berdiri sendiri jarang terjadi dalam
bentuk kelebihan atau kekurangan. (tarwoto wartonah, 2004).
Cairan tubuh adalah larutan yang terdiri dari (pelarut) dan zat tertentu (zat
terlarut). Elektrolit adalah zat kimia yang menghasilkan partikel-partikel
bermuatan listrik yang disebut ion jika berada dalam larutan. Cairan dan
Elektrolit masuk ke dalam tubuh melalui makanan, minuman, dan cairan
intravena (IV) dan didistribusi ke seluruh bagian tubuh. Keseimbangan cairan
dan elektrolit berarti adanya distribusi yang normal dari air tubuh total dan
elektrolit ke dalam seluruh bagian tubuh. Keseimbangan cairan dan elektrolit
saling bergantung satu dengan yang lainnya, jika salah satu terganggu maka
akan berpengaruh pada yang lainnya.
Cairan tubuh dibagi dalam dua kelompok besar yaitu: cairan intraseluler
dan cairan ekstraseluler. Cairan intraseluler adalah cairan yang berada di dalam
sel di seluruh tubuh, sedangkan cairan ekstraseluler adalah cairan yang berada
di luar sel dan terdiri dari tiga kelompok yaitu: cairan intravaskuler (plasma),
cairan interstitial dan cairan transeluler.
Cairan dan elektrolit adalah suatu proses dinamik karena metabolisme
tubuh membutuhkan perubahan yang tetap untuk melakukan respons terhadap
keadaan fisiologis dan lingkungan (Tamsuri, 2004).

B. Fungsi Cairan
1. Mempertahnkan panas tubuh dan pengaturan temperature tubuh.
2. Transport nutrient ke sel

2
3. Transport hasil sisa metabolisme
4. Transport hormone
5. Pelumas antar organ
6. Memperthanakan tekanan hidrostatik dalam system kardiovaskuler
(Tarwoto & Wartonah, 2010).

C. Keseimbangan Cairan
Keseimbangan cairan ditentukan oleh intake dan output cairan. Intake
cairan berasal dari minuman dan makanan. Kebutuhan cairan setiap hari antara
1.800 – 2.500 ml/hari. Sekitar 1.200ml berasal dari minuman dan 1.000 ml dari
makanan. Sedangkan pengeluaran cairan melalui ginjal dalambentuk urine
1.200-1.500 ml/hari, paru-paru 300-500 ml, dan kulit 600-800 ml (Tarwoto &
Wartonah, 2010).

D. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keseimbangan Cairan Dan Elektrolit


Beberapa faktor yang mempengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit,
diantaranya adalah usia, temperatur lingkungan, diet, stres, dan sakit.
1. Usia
Variasi usia berkaitan dengan luas perkembangan tubuh, metabolism yang
diperlukan dan berat badan.
2. Temperatur Lingkungan
Panas yang berlebihan menyebabkan berkeringat. Seseorang dapat
kehilangan NaCl melalui keringat sebanyak 15-30 g/hari.
3. Diet
Pada saat tubuh kekurangan niutrisi, tubuh akan memecah cadangan energi,
proses ini menimbulkan pergerakan carian dari interstitial ke intraseluler.
4. Stres
5. Stres dapat menimbulkan paningkatan metabolism sel, konsentrasi darah dan
glikolisis otot, mekanisme ini dapat menimbulkan retensi sodium dan air.

3
Proses ini dapat meningkatkan produksi ADH dan menurunkan produksi
urine.
6. Sakit
Keadaan pembedahan, trauma jaringan, kelainan ginjaldan jantung,
gangguan hormon akan mengganggu keseimbangan cairan (Tarwoto &
Wartonah, 2010)

E. Pergerakan cairan tubuh


Mekanisme pergerakan cairan tubuh melalui empat proses yaitu :
1. Difusi adalah proses dimana partikel yang terdapat dalam cairan bergerak
dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah sampai terjadi Universitas
Sumatera Utara keseimbangan. Cairan dan elektrolit didifusikan menembus
membran sel. Kecepatan difusi dipengaruhi oleh ukuran molekul,
konsentrasi larutan, dan temperatur.
2. Osmosis adalah bergeraknya pelarut bersih seperti air, melalui membran
semipermiabel dari larutan yang berkonsentrasi lebih rendah ke konsentrasi
yang lebih tinggi yang sifatnya menarik.
3. Transfor aktif Bahan bergerak dari konsentrasi rendah ke tinggi karena
adanya daya aktif dari tubuh seperti pompa jantung.
4. Filtrasi Filtasi adalah suatu proses perpindahan air dan substansi yang dapat
larut secara bersamaan sebagai respon terhadap adanya tekanan cairan.

F. Pengaturan keseimbangan cairan


1. Rasa dahaga Mekanisme rasa dahaga :
a. Penurunan fungsi ginjal merangsang pelepasan renin, yang pada akhirnya
menimbulkan produksi angiotensin II yang dapat merangsang
hipotalamus untuk melepaskan substrat neural yang bertanggung jawab
terhadap sensasi haus.

4
b. Osmoreseptor di hipotalamus mendeteksi peningkatan tekanan osmotik
dan mengaktivasi jaringan saraf yang dapat mengakibatkan sensasi rasa
dahaga.
2. Anti Diuretik hormon (ADH) ADH dibentuk di hipotalamus dan disimpan
dalam neurohipofisis dari hipofisis. Stimuli utama untuk sekresi ADH adalah
peningkatan osmolaritas dan penurunan cairan ekstrasel. Hormon ini
meningkatkan reabsorbsi air pada dukus koligentes, dengan demikian dapat
menghemat air.
3. Aldosteron Hormon ini disekresi oleh kelenjar adrenal yang bekerja pada
tubulus ginjal untuk meningkatkan absorbsi natrium. Pelepasan aldosteron
Universitas Sumatera Utara dirangsang oleh perubahan konsentrasi kalium,
natrium, serum dan sistem angiotensin renin dan sangat efektif dalam
mengendalikan hiperkalemia.
4. Prostaglandin Prostaglandin adalah asam lemak alami yang terdapat dalam
banyak jaringan dan berfungsi dalam merespons radang, pengendalian
tekanan darah, kontraksi uterus,dan mobilitas gastrointetstinal. Dalam ginjal,
prostaglandin berperan mengatur sirkulasi ginjal, respon natrium, dan efek
ginjal pada ADH.
5. Glukokortirkoid Meningkatkan responsi natrium dan air, sehingga volume
darah naik dan terjadi retensi natrium. Perubahan kadar glukokortikoid
menyebabkan perubahan pada keseimbangan volume darah.

G. Cara pengeluaran cairan


Pengeluaran cairan terjadi melalui organ-organ seperti:
1. Ginjal
a. Merupakan pengatur utama kaseimbangan cairan yang menerima 170
liter darah untuk disaring setiap hari.
b. Produksi urin untuk semua usia 1 ml/kg/jam - Pada orang dewasa
produksi urin sekitar 1,5 liter/hari.

5
c. Jumlah urin yang diproduksi oleh ginjal dipengaruhi oleh ADH dan
aldosteron.
2. Kulit
a. Hilangnya cairan melalui kulit di atur oleh saraf simpatis yang
merangsang aktivitas kelenjar keringat.
b. Rangsangan kelenjar keringat dapatt dihasilkan dari aktivitas otot,
temperatur lingkungan yang meningkat, dan demam.
c. Disebut juga Insensible Water Loss (IWL) sekitar 15-20 ml/24 jam.
3. Paru-paru
a. Menghasilkan IWL sekitar 400ml/hari
b. Meningkatnya cairan yang hilang sebagai respons terhadap perubahan
kecepatan dan kedalaman napas akibat pergerakan atau demam.
Universitas Sumatera Utara
4. Gastrointestinal
a. Dalam kondisi normal cairan yang hilang dari gastrointestinal setiap hari
sekitar 100-200 ml.
b. Perhitungan IWL secara keseluruhan adalah 10-15 cc/kg BB/24 jam,
dengan kenaikan 10% dari IWL pada setiap kenaikan suhu 1 derajat
Celcius.

H. Pengaturan elektrolit
1. Natrium (sodium) merupakan kation paling banyak yang terdapat pada
cairan ekstrasel. Na+ mempengaruhi keseimbangan air, hantaran implus
saraf dan kontraksi otot. Sodium diatur oleh intake garam, aldosteron dan
pengeluaran urin. Normalnya sekitar 135-148 mEq/lt.
2. Kalium (potassium) merupakan kation utam cairan intrasel, berfungsi
sebagai excitability neoromuskuler dan kontraksi otot. Diperlukan untuk
pembentukan glikogen, sintesa protein, pengaturan keseimbangan asam

6
basa, karena ion K+ dapat di ubah menjadi ion hidrogen (H+). Nilai
normalnya sekitar 3,5-5,5 mEq/lt.
3. Kalsium Berguna untuk integritas kulit dan struktur sel, konduksi jantung,
pembekuan darah, serta pembentukan tulang dan gigi.
4. Magnesium Merupakan kation terbanyak kedua pada cairan intrasel. Sangat
penting untuk aktivitas enzim. Nilai normalnya 1,5-2,5 mEq/lt.
5. Chlorida Terdapat pada cairan ekstrasel dan intrasel, normalnya sekitar 95-
105 mEq/lt.
6. Bikarbonat HCO3 adalah buffer kimia utama dalam tubuh dan terdapat pada
cairan ekstrasel dan intrasel. Bikarbonat diatur oleh ginjal.
7. Fostat Merupakan anion buffer dalam cairan intrasel dan ekstrasel. Berfungsi
untuk meningkatkan kegiatan neuromuskuler, metabolisme karbohidrat,
pengaturan asam basa, pengaturan oleh hormon parathyroid.

I. Masalah keseimbangan cairan


1. Hipovolemik adalah suatu kondisi akibat kekurangan volume cairan
ekstraseluler (CES), dan dapat terjadi karena kehilangan melalui kulit, ginjal,
gastrointestinal, pendarahan sehingga menimbulkan syok hipovolemik.
Gejala : pusing, lemah, letih, anoreksia, mual muntah, rasa haus, gangguan
mental, konstipasi dan oliguri, penurunan tekanan darah, HR meningkat,
suhu meningkat, turgor kulit menurun, lidah kering dan kasar, mukosa mulut
kering, tanda-tanda penurunan berat badan akut, mata cekung, pengosongan
vena jugularis.
2. Hipervolemi adalah penambahan/kelebihan volume CES dapat terjadi saat:
a. Stimulasi kronis ginjal untuk menahan natrium dan air.
b. Fungsi ginjal abnormal, dengan penurunan ekskresi natrium dan air.
c. Kelebihan pemberian cairan.
d. Perpindahan cairan interstisial ke plasma.

7
Gejala : sesak nafas, peningkatan dan penurunan tekanan darah, nadi kuat,
asites, edema, adanya ronchi, kulit lembab, distensi vena leher, dan irama
gallop

II. ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN KEBUTUHAN CAIRAN DAN


ELEKTROLIT
A. Pengkajian Fokus
1. Riwayat keperawatan
a. Pemasukan dan pengeluaran cairan dan makanan ( oral, parenteral).
b. Tanda umum masalah elektrolitTanda kekurangan dan kelebihan cairan
c. Proses penyakit yang menyebabkan gangguan homeostatis cairan dan
elektrolit.
d. Pengobatan tertentu yang sedang dijalani dapat mengganggu status
cairan.
e. Status perkembangan seperti usia atau situasi sosial.
f. Faktor psilologis seperti perilaku emosional yang mengganggu
pengobatan.
2. Pengukuran klinik.
a. Berat badan : kehilangan/bertambahnya berat badan menunjukkan adanya
masalah keseimbangan cairan tubuh, pengukuran berat badan dilakukan
setiap hari pada waktu yang sama.
b. Keadaan umum
1. Pengukuran tanda vital seperti suhu, tekanan darah, nadi dan
pernafasan
2. Tingkat kesadaran.
c. Pengukuran masukan cairan
1. Cairan oral : NGT dan oral
2. Cairan parenteral termasuk obat-obatan IV.
3. Makanan yang cenderung mengandung air.

8
4. Irigasi kateter atau NGT.
d. Pengukuran keluaran cairan.
1. Urine : volume, kejernihan/kepekatan
2. Feses : jumlah dan konsistensi.
3. Muntah
4. Tube drainase
5. IWL (Insensible water loss)
6. Ukuran keseimbangan cairan dengan adekuat : normalnya sekitar
200cc
3. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik pada kebutuhan cairan dan elektrolit difokuskan pada :
a. Integument : keadaan turgor kulit, edema, kelelahan, kelemahan
otot, tetani, dan sensasi rasa.
b. Kardiovaskuler : distensi vena jugularis, tekanan darah,
hemoglobin, dan bunyi jantung.
c. Mata : cekung, air mata kering
d. Neurilogi : reflek, gangguan motorik dan sensorik, tingkat
kesadaran.
e. Gastrointestinal : keadaan mukosa mulut, mulut dan lidah,
muntah-muntah, dan bising usus.
4. Pemeriksaan Laboratorium
a. Pemeriksaan darah lengkap. Pemeriksaan ini meliputi jumlah sel darah
merah, hemoglobin (Hb), dan hematokrit (Ht).
1) Ht naik: adanya dehidrasi berat dan gejala syok.
2) Ht turun: adanya perdarahan akut, masif, dan reaksi hemolitik.
3) Hb naik: adanya hemokonsentrasi.
4) Hb turun: adanya perdarahan hebat, reaksi hemolitik.
b. Pemeriksaan elektrolit serum. Pemeriksaan ini dilakukan untuk
mengetahui kadar natrium, kalium, klorida, ion bikarbonat.

9
c. pH dan berat jenis urine. Berat jenis menunjukan kemampuan ginjal
untuk mengatur konsentrasi urine. Normalnya, pH urine adalah 4,5-8 dan
berat jenisnya 1,003-1,030.
d. Analisis gas darah. Biasanya, yang diperiksa adalah pH, PO2,HCO3-,
PCO2 dan saturasi O2. Nilai PCO2 normal 35-40 mmHg, PO2 normal 80-
100 mmHg, HCO3- normal 25-29 mEq/l. Sementara saturasi O2 adalah
perbandingan oksigen dalam darah dengan jumlah oksigen yang dapat
dibawa oleh darah, normalnya di arteri (95%-98%) dan vena (60%-85%).
Interpretasi
1) Asidosis
a) CO2 naik :CO2+H2O →H2CO2
b) HCO3- turun :HCO3- bersifat basa
2) Alkalosis
a) CO2 turun :tidak terbentuk asam bikarbonat
b) HCO3- naik :kadar basa naik
Pada ketidak seimbangan asam-basa karena proses respiratorik,
nilai pH dan PCO2 tidak normal. Sebaliknya, bila kondisi tersebut
disebabkan oleh proses metabolik, nilai pH dan HCO3- keduanya
meningakat atau rendah.

B. Penetapan Diagnosis
Menurut NANDA (2003), masalahnya keperawatan utama untuk masalah
gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit meliputi sebagai berikut.
1. Kekurangan volume cairan
2. Kelebihan volume cairan
3. Risisko kekurangan volume cairan
4. Risiko ketidak seimbangan volume cairan
5. Gangguan pertukaran gas

10
C. Perencanaan dan Implementasi
Berdasarkan NANDA (2003), diagnosa keperawatan untuk masalah
gangguan pemenuhan kebutuhan cairan dan elektrolit meliputi lima diagnosis.
Namun, dalam pembahasan kali ini akan diuraikan dua diagnosis umum,
yakni kekurangan volume cairan dan kelebihan volume cairan .
Secara umum, tujuan intervensi keperawatan untuk maslah cairan dan
elektrolit meliputi mempertahankan keseimbnagan asupan dan haluaran cairan,
mengoreksi defisit volume cairan dan elektrolit,
mengurangi overload, mempertahankan berat jenis urine dalam batas normal,
menunjukan prilaku yang dapat meningkatan keseimbangan cairan elektrolit
dan asam basa, serta mencegah komplikasi akibat pemberian terapi.
1. Kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan hal sebagai
berikut :
a. Haluaran urine yang berlebihan (misalnya diabetes insipidus).
b. Pengeluaran cairan sekunder akibat demam, drainase yang abnormal,
peritonitis, atau diare.
c. Mual/muntah
d. Kesulitan menelan atau minum sendiri, sekunder akibat sakit
tenggorokan.
e. Asupan cairan yang kuarang saat berolahraga atau karena kondisi cuaca.
f. Penggunaan laksatif dan diuretik yang berlebihan.
Kriteria Hasil
Klien akan mempertahankan berat jenis urine dalam rentang normal.
Indikator
a. Meningkatan asupan cairan hingga jumlah tertentu, sesuai dengan usia
dan kebutuhan metabolik.
b. Mengidentifikasi faktor resiko defisit cairan dan menjelaskan perlunya
meningkatkan asupan cairan sesuai indikasi.
c. Tidak memperlihatkan tanda dan gejala dehidrasi.

11
Intervensi Umum
a. Kaji faktor penyebab (misalnya ketidak mampuan untuk minum sendiri,
gangguan menelan, sakit tenggorokan, asupan cairan yang kurang
sebelum berolahrahga, kurang pengetahuan, atau tidak suka dengan
minuman yang tersedia).
b. Kaji pemahaman klien tentang perlunya mempertahankan hidrasi yang
adekuat serta metode untuk memenuhi asupan cairan.
c. Kaji minuman yang disukai dan tidak disukai klien dan rencanakan
pemberian asupan secara bertahap (misal 1.000 ml di siang hari, 800 ml
di sore hari, dan 300 ml di malam hari).
d. Bila klien mengalami sakit tenggorokan, tawarkan minuman yang hangat
atau dingin, pertimbangkan pemberian es.
e. Bila klien sangat lelah atau lemah, anjurkan klien untuk istirahat sebelum
makan dan berikancairan dalam jumlah sedeikit tetapi sering.
f. Anjurkan klien membuat buku catatan yang berisi asupan cairan, haluaran
urine, dan berat badan harian.
g. Pantau asupan cairan klien (minimal 2.000 ml cairan oral per hari).
h. Pantau haluran urine klien (minimal 1.000-1.500 ml per hari).
i. Timbang badan setiap hari di waktu yang sama dan dengan pakaian yang
sama. Penurunan berat badan 2-4% (dehidrasi ringan), 5-9% (dehidrasi
sedang).
j. Pantau BUN, osmolaritas, dan elektrolit serum dan urine, kadar
kreatyinin, hematokrit, dan hemoglobin.
k. Jelaskan bahwa kopi, teh, dan jus merupakan diuretik yang bisa
menyebabkan kehilangan cairan.
l. Pertimbangkan jenis obat-obatan serta kondisi lain yang bisa
menyebabkan kehilangan cairan berlebihan (misal pemberian diuretik,
muntah, diare, demam).
m. Lakukan penyuluhan kesehatan sesuai indikasi.

12
n. Kolaborasikan dengan dokter untuk pemberian terapi intra vena.
2. Kelebihan volume cairan yang berhubungan dengan hal sebagai
berikut :
a. Gangguan mekanisme regulator, sekunder akibat gagal ginjal,
abnormalitas sistemik dan metabolik, disfungsi endokrin, lipidemia.
b. Retensi natrium dan air, sekunder akibat terapi kortikosteroid.
c. Asupan natrium/air yang berlebihan.
d. Asupan protein yang rendah (diet, malnutrisi).
e. Bendungan vena dependen/stasis vena, sekunder akibat imobilitas, berdiri
atau duduk terlalu lama.
Kriteria Hasil
Klien akan memperlihatkan berkurangnya edema (sebutkan areanya).
Indikator
a. Menjelaskan faktor-faktor penyebab.
b. Menjelaskan metode pencegahan edema.
Intervensi Umum
a. Identifikasi faktor penyebab (kelebihan asupan natrium, asupan protein
yang tidak adekuat, stasis vena, imobilitas, kurang pengetahuan, dan lain-
lain).
b. Catat asupan makanan dan cairan setiap hari dan setiap minggu, kaji
keadekuatan asupan protein dan natrium.
c. Buat menu mingguan yang memenuhi kebutuhan protein dengan biaya
yang terjangkau oleh klien.
d. Kurangi asupan garam, pertimbangkan penggunaan garam pengganti.
e. Kaji adanya stasis vena atau bendungan vena.
f. Anjurkan klien untuk melakukan aktivitas horizontal (meninggikan kaki)
dan ktivitas vertikal (berdiri) secra bergantian, hindari menyilangkan
kaki.

13
g. Letakan ekstremitas yang edema lebih tinggi dari jantung (kecuali ada
kontraindikasi)
h. Lakukan prosedur keperawatan (misal mengukur tekanan darah,
memberikan cairan IV) pada ekstremitas yang tidak mengalami edema.
i. Kurangi konstriksi pembuluh darah, hindari
mrnggunakan stocking setinggi lutut, pertimbangkan
pengguanan stocking antiembolisme.
j. Periksa ektremitas secara sering untuk melihat keadekuatan sirkulasi dan
adanya tanda-tanda area konstriksi.
k. Pada klien imobilisasi, rencanakan latihan ROM aktif atau pasif untuk
semua ektremitas setiap empat jam, termasuk dorsofleksi kaki guna
memasase vena.
l. Ubah posisi individu sedikitnya setiap dua jam dengan empat posisi
(miring kanan, miring kiri, terlentang, terlungkup), jika tidak ada
kontraindikasi.
m. Berikan penjelasan verbal dan tertulis tentang obat-obat yang digunakan,
terutama obat-obat yang memengaruhi keseimbangan cairan (misal
diuretik, steroid)
n. Pada klien yang mengalami edema berat, timbang berat badan setiap pagi
dan malam hari, dan buat catatannya.
o. Ingatkan klien untuk segera menghubungi dokter jika terjadi
edema/penambahan berat badan yang berlebihan (> 1 kg/hari), karena hal
ini bisa mengindikasikan masalah jantung dini.

14