Anda di halaman 1dari 45

KEMENTERIAN KEUANGAN

REPUBLIK INDONESIA

MANDIRI MARKET OUTLOOK 2020

Peluang Indonesia
Di Pasar Global 2020
Prof. Suahazil Nazara, Ph.D
Wakil Menteri Keuangan Republik Indonesia

Jakarta, 4 Desember 2019


1
KERANGKA PRESENTASI

BAGIAN I. Kondisi Global & Efek Perang Dagang

BAGIAN II. Kondisi Perekonomian Domestik

BAGIAN III. Tantangan Perekonomian Indonesia

BAGIAN IV. APBN Sebagai Instrumen


Meningkatkan Daya Saing Indonesia

2
KERANGKA PRESENTASI

BAGIAN I.

Kondisi Global
& Efek Perang Dagang

3
Kondisi Ekonomi dan Geopolitik Global

• Deadlock
Brexit • Krisis Politik
• Stimulus The Fed menurunkan • Potensi Hongkong
suku bunga sebesar 25 bps USA Resesi • Reformasi
• Belum tercapainya kesepakatan Eurozone Struktural
dagan US-RRC
UK &
Perekonomian Jepang
• Ancaman Impecahment • Perang Dagang
Presiden Trump
EUROZONE Dengan US Korea KoreaPerang Dagang Japan-
RRC Selatan
Selatan
• Civil War
Suriah
&Yaman
• Konflik
Regional
Saudi-Iran
Ekuador • Krisis Politik
Iraq

Krisis politik karena pencabutan


subsidi

Resesi
Ekonomi

4
Situasi Perekonomian & Perdagangan Global
• Proyeksi pertumbuhan ekonomi global terus direvisi ke bawah. Dalam 1 tahun terakhir, Proyeksi Harga Komoditas
proyeksi pertumbuhan global 2019 turun 0,7 percentage point. (Indeks, 2010=100)

• Perlambatan terjadi baik di negara maju maupun negara berkembang, termasuk mitra
dagang utama Indonesia.

Pertumbuh Minyak Mentah Batubara Sawit Logam Karet

an ekonomi 3,4% 3,8% 3,6% 3,0% 3,4% 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

global •Proyeksi pertumbuhan


Dengan risiko turun
perdagangan global di tahun 2019
2017
diprediksi akan lebih rendah
2016 2018 Proyeksi 2019 Proyeksi 2020
dibandingkan tahun 2018, tetapi
Pertumbuhan akan membaik di tahun 2020.
volume
perdagangan •Melemahnya volume perdagangan
global akan mempengaruhi
global
2,2% 5,5% 3,6% 1,1% 3,2% proyeksi harga komoditas global
5
Jan-17
Mar-17

0
2
4
6
8
Jan-18
May-17
Mar-18 Mar-17
Jul-17
Sep-17 May-18 Jun-17
Nov-17 Jul-18 Sep-17
Jan-18 Sep-18 Dec-17
Mar-18 Nov-18 Mar-18

USA
May-18
Jul-18
Jan-19 Jun-18 USA

USA
Mar-19 Sep-18

Indeks PMI
Sep-18
GDP Growth

May-19 Dec-18
Nov-18
Jul-19 Mar-19
Jan-19
Sep-19 Jun-19
2,3

Mar-19
May-19

Export-Import Growth
Jul-19

Jan-17
Mar-17
0,0
2,0
4,0
6,0
8,0

May-17 Jan-18
Jul-17 Mar-18 Mar-17
Sep-17 May-18 Jun-17
Nov-17 Jul-18 Sep-17
Jan-18
Sep-18 Dec-17
Mar-18
May-18 Nov-18 Mar-18
RRC
RRC

Jan-19

China
Jul-18 Jun-18
Sep-18 Mar-19 Sep-18
Indeks PMI
GDP Growth

Nov-18 May-19 Dec-18


Jan-19 Jul-19 Mar-19
Mar-19 Sep-19 Jun-19
6,3

Export-Import Growth
May-19
Jul-19

Jan-17
0
2
4
6
8

Mar-17
May-17 Jan-18 Mar-17
Jul-17 Mar-18 Jun-17
Sep-17 May-18
Nov-17 Sep-17
Jul-18
Jan-18 Dec-17
Sep-18
Mar-18 Mar-18
May-18 Nov-18
Jun-18
Jul-18 Jan-19
Sep-18
Singapore

Sep-18 Mar-19
Singapura

Singapore
GDP Growth

Indeks PMI

Nov-18 Dec-18
May-19
Jan-19 Jul-19 Mar-19
Mar-19 Jun-19
0,1

Sep-19
Export-Import Growth

May-19
Jul-19

Jan-17
0
2
4
6
8

Mar-17
Jan-18
May-17 Mar-17
Jul-17 Mar-18
May-18 Jun-17
Sep-17
Nov-17 Jul-18 Sep-17
Jan-18 Sep-18 Dec-17
Mar-18 Nov-18 Mar-18
May-18 Jun-18
Japan

Jan-19
Jepang

Japan

Jul-18
Mar-19 Sep-18
Indeks PMI

Sep-18
GDP Growth

Nov-18 May-19 Dec-18


Jan-19 Jul-19 Mar-19
Mar-19 Sep-19 Jun-19
1,5

Export-Import Growth

May-19
Jul-19
0
4
6
8

Jan-17
Mar-17 Jan-18 Mar-…
May-17 Mar-18 Jun-17
Jul-17 May-18
Sep-17 Sep-17
Jul-18
Nov-17 Dec-17
Sep-18
Jan-18 Mar-…
Nov-18
Mar-18 Jun-18
Jerman

May-18 Jan-19
Jerman

Sep-18
Mar-19
GDP Growth

Jul-18
Jerman
Indeks PMI

Dec-18
Sep-18 May-19
Dampak Global Pelemahan Ekonomi Dunia

Nov-18 Jul-19 Mar-…


Jun-19
2,1

Jan-19 Sep-19
Mar-19
Export-Import Growth

May-19
6

Jul-19
Transmisi Pelemahan Ekonomi Global Ke Indonesia
Perkembangan NFB SUN, Saham dan SBI (triliun rupiah)
Quantitative easing Taper tantrum Normalisasi moneter AS
Pasar Finansial 400
200
Aliran modal ke Indonesia
0
dipengaruhi oleh kebijakan moneter -200
negara maju. 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019*
Saham SUN SBI Total Okt

1000 Investasi Dalam Negeri (triliun rupiah)


Penanaman Modal Asing (FDI)
Sentimen negatif global dapat 0
mempengaruhi investor confidence 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 Q3 2019
PMDN PMA

Neraca Perdagangan (miliar dolar)


50 22,15 26,06
Perdagangan 0
-1,66 -4,08 -2,20 7,67 9,53 11,84
-8,65 -1,79

Kinerja neraca non migas tertekan, -50


defisit neraca migas masih tinggi. 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019*
Okt
Migas Nonmigas Neraca Perdagangan
7
Potensi Dampak Perang Dagang Ke Indonesia
Dampak Perang Dagang Terhadap Negara-Negara Kawasan ASEAN*

• OCBC (2018) menciptakan scoreboard untuk mengukur dampak perang dagang pada kawasan ASEAN berdasar
aspek intensitas sektor manufaktur, trade exposure, integrasi dalam Global Supply Chain dan lingkungan
Investasi.
• Berdasar faktor-faktor tersebut dampak terbesar perang dagang akan dirasakan oleh Malaysia dan Singapura
sementara dampak bagi Indonesia akan bersifat moderat
*Semakin besar nilai angka maka dampak akan semakin negatif
8
Potensi Dampak Perang Dagang Ke Indonesia
Dalam Jangka Panjang Beberapa Negara ASEAN akan Mendapat Keuntungan

• Dalam jangka panjang, beberapa negara akan menerima keuntungan dari rekonfigurasi basis produksi dan supply chain akibat perang
dagang. Malaysia Thailan dan Singapura akan mendampatkan keuntungan dari relokasi industri bernilai tambah tinggi seperti
permesinan dan elektronik dari RRC, sementara Vietnam dan kamboja akan mendapatkan keutungan dari relokasi industri tekstil dan
garmen
• Indonesia mungkin mendapatkan sedikit efek relokasi Industri garmen dari RRC, tetapi skalanya tidak akan sebesar Vietnam dan
Kamboja 9
KERANGKA PRESENTASI

BAGIAN II.

Kondisi Perekonomian Domestik

10
Situasi Perekonomian Domestik
Ekonomi Indonesia masih mampu tumbuh 5,02 persen di Q3-2019 dengan didukung oleh indikator makroekonomi yang masih cukup
baik

Pertumbuhan Ekonomi
5.27 5.17
5.21 5.19 5.17 5.18
5.07
5.03
5.06 5.06 5.07 5.05
5.03 5.02
5.01 5.01
4.94 4.94

2Q17
1Q16

2Q16

3Q16

4Q16

1Q17

3Q17

4Q17

1Q18

2Q18

3Q18

4Q18

1Q19

2Q19

3Q19
Neraca Perdagangan(US$ bn)
Inflasi (%, yoy)
7 BI 7 Days Rate (%) 20.4
8 6,5 13.7
15.2
6.0 11.2
6 11.8 4.5
6 5,5
5, 7.7 9.6 3.8

3,61 5 5,25 (2.2) (1.9)


4 3,35 3,02 3,13 3.13 5.0 (8.6) (6.4)
(6.0) (5.6)
4,5 (8.6)
2 4 (13.4) (12.4)
4,25 2014 2015 2016 2017 2018 Sep-2019
3,5
0 YTD²
3
Apr

Apr

Apr

Apr

Apr
Jul

Jul

Jul

Jul

Jul
Jan

Jan

Jan

Jan

Jan
Okt

Okt

Okt

Okt

O
ct

Oil & Gas Non Oil & Gas Total


Apr-16

Jan-17
Apr-17

Jan-18
Apr-18

Jan-19
Apr-19
Oct-16

Oct-17

Oct-18

Oct-19
Jul-16

Jul-17

Jul-18

Jul-19
2015 2016 2017 2018 2019 11
Komposisi Pertumbuhan Ekonomi Domestik
Konsumsi Pemerintah Investasi (GFCF)
Kontribusi Pertumbuhan Ekonomi Rata-rata Rata-rata
Berdasarkan Pengeluaran
AGGREGATE 2006-2015: 2015: 5.3
2016: -0.1
2006-2015: 2015: 5.0
2016: 4.5
5,17 2017: 2.1 2017: 6.2

5,05
5,02 DEMAND 6,0% 2018: 4.8
6,8% 2018: 6.7
2019 Q3: 1.0 2019 Q3: 4.2
1,12
0,95 1,83
Konsumsi Rumah Impor Ekspor
Tangga Rata-rata Rata-rata
2,24 1,59 Rata-rata 2015: 4.8 2006-2015 : 2015: -6.2 2006-2015 : 2015: -2.1
1,38 2006-2015: 2016: 5.0 2016: -2.4 2016: -1.7
0,18 0,09 2017: 5.0 2017: 8.1 2017: 8.9
Konsumsi 0,10
LNPRT 5,1% 2018: 5.1
2019 Q3: 5.1 4,7% 2018: 12.0
2019 Q3: -8.6 5,2% 2018: 6.5
2019 Q3: 0.02
Konsumsi RT 2,69 2,77 2,69

Konsumsi Rumah Tangga dan Investasi Sebagai Mesin Pertumbuhan


-0,44
-0,98 -0,97 • Ketidakpastian ekonomi global→ tekanan pada kinerja ekspor Indonesia.
• Sebagai akibatnya, sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah permintaan di
Q3 2018 Q2 2019 Q3 2019 sektor domestik (Konsumsi RT, Konsumsi Pemerintah, dan investasi)
Konsumsi RT Konsumsi LNPRT Arah Kebijakan:
Menjaga konsumsi rumah tangga dan daya beli serta mempertahankan suplai dan stabilitas harga
PMTB Net Ekspor serta sekaligus
• Mempromosikan investasi dengan insentif fiskal, quasi fiscal dan partisipasi sektor swasta
Lainnya • Mempromosikan ekspor, terutama produk manufaktur dan meningkatkan kinerja sektor pariwisata
12
Komposisi Pertumbuhan Ekonomi Secara Sektoral
Pertumbuhan Sektoral (yoy)

Sektor Primer
• Pertumbuhan sektoral
Pertanian 3,08
menunjukkan perlunya
2,67% Pertambangan 1,94 transformasi struktural
yoy
perekonomian
• Sektor pertanian,
Manufaktur 4,15 industri pengolahan,
Sektor Sekunder Listrik, Gas dan Air 3,81
dan perdagangan
4,60% tumbuh di bawah rata-
Konstruksi 5,65
yoy rata
• Sektor pertambangan
Perdagangan 4,75 fluktuatif, seiring
Transport & Gudang 6,63 pergerakan harga
Sektor Tersier komoditas
Infokom 9,15
6,29% Jasa Keuangan dan Asuransi 6,15 • Sektor tersier tumbuh di
yoy
atas rata-rata
Jasa Lainnya 6,57 13
Indikator Kesejahteraan Ekonomi
13,33
12,49 11,96
• Upaya penurunan tingkat
11,37 11,25 11,22
Tingkat 10,86 10,64
9,82 9,41 kemiskinan dengan
Kemiskinan mengoptimalkan program
bantuan sosial
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
•Tingkat pengangguran
7,14 terbuka akan terus
6,56
Tingkat 6,14 6,17 5,94 6,18
5,61 5,50 5,34 5,28
diturunkan dengan
Pengangguran meningkatkan
pertumbuhan kesempatan
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
kerja

•Pemerataan dan keadilan


Rasio 0,41 0,41 0,413 0,406 0,408
ekonomi terus diupayakan
Gini 0,378
0,397 0,393
0,389
untuk menurunkan
0,382
kesenjangan
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
14
Kondisi Pertumbuhan Sektor Kredit
Perkembangan suku bunga Januari 2016 – Agustus 2019 (%)
14
13

Secara umum suku bunga kredit perbankan dalam 12


11
tren penurunan sejak 2017, namun masih relative 10
9
tinggi. 8
7

"Saya mengajak untuk memikirkan serius menurunkan 6


5
suku bunga kredit“ 4

Oct-17

Oct-18
Aug-17
Sep-17

Aug-18
Sep-18

Aug-19
Jan-17
Feb-17

Apr-17
May-17

Nov-17

Jan-18
Feb-18

Apr-18
May-18

Nov-18

Jan-19
Feb-19

Apr-19
May-19
Mar-17

Jun-17

Dec-17

Jun-18

Dec-18
Jul-17

Mar-18

Jul-18

Mar-19

Jun-19
Jul-19
Arahan Presiden Pada Pembukaan Indonesia Banking Expo
BI-7DRR Lending Rate SB KMK SB KI SB KK
2019
Jakarta, 6 Nov 2019 % Pertumbuhan DPK dan Kredit (yoy)
14 98
13 Kredit 96
12 94,04
Namun tren
perlambatan penyaluran kredit 11
94
92
yang masih berlanjut sementara pertumbuhan DPK 10
9
LDR (RHS) 8,59
90
sedikit lebih rendah dari bulan Juli. 8 DPK
88
7 7,62
Load to Deposit Ratio (LDR) berada pada tingkat 94,04% 6 86
per Agustus 2019. 5 84

May
Mar

Mar

Mar
Mei

Mei
Feb

Feb

Feb
Jun

Sep

Dec

Dec
Jun

Sep

Jun

Agt
Jul

Jul

Jul
Nov

Jan

Nov

Jan
Jan

Apr

Aug

Apr

Aug

Apr
Oct

Oct
2017 2018 2019 15
Kondisi Neraca Berjalan & Cadangan Devisa
Neraca Pembayaran Kumulatif Transaksi Berjalan (% thd PDB)
Q-3 2019 • Di Q3-2019, CAD membaik menjadi
sebesar 2,7 persen terhadap PDB,.

Q1-2019

Q2-2019

Q3-2019
•Transaksi Berjalan Perbaikan didukung oleh peningkatan

2015

2016

2017

2018
surplus neraca perdagangan barang.
-$22,5 M 0

• Neraca transaksi modal dan finansial


-0,5 meningkat, dan menopang neraca
•Transaksi Modal & Finansial
pembayaran secara keseluruhan.
$24,2 M -1
• Posisi cadangan devisa di atas
-1,5
-1,6 kecukupan internasional, dan
-1,8
•Neraca Keseluruhan -2,0 menutupi 7,1 bulan impor dan
-2 pembayaran ULN Pemerintah.
$0,4 M -2,5 • Untuk menjaga stabilitas dan ketahanan
-2,5 -2,7
-3,0 -2,9 eksternal Indonesia ke depan, perbaikan
•Cadangan Devisa (Okt) daya saing serta penguatan sumber
-3

$125,7 M pembiayaan yang lebih sustainable


-3,5 seperti FDI terus harus diupayakan.
Sumber: Bank Indonesia
16
KERANGKA PRESENTASI

BAGIAN III.

Tantangan Perekonomian Indonesia

17
Kemudahan Berbisnis dan Daya Saing Masih Perlu Terus Diperbaiki
Peringkat Ease of Doing Business 2020 Skor Global Competitiveness Index 2019
Skor EODB Peringkat GCI
2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Indonesia
2019
Peringkat 1 dunia (Singapore) 50 Indonesia
Perbaikan signifikan
peringkat EODB Indonesia Stagnansi Tahun Skor Institutions
31 Tiongkok Innovation
2020 69,6 Infrastructure
Capability
63 India 2019 68,2 Business
ICT Adoption
70 Vietnam Dynamism
72 73 2018 66,9
73 Indonesia
Macroecono
91 2017 64,7 Market Size
95 Filipina mic Stability
109 2016 62,1
120 120 Financial
124 Brazil 2015 59,2 Health
System

Sumber: World Bank Labour


Skills
Market
• Di periode 2016 – 2018 (penilaian kinerja 2015 – 2017) peringkat EODB meningkat Product
signifikan, didukung implementasi reformasi struktural seperti subsidi BBM, Market
perbaikan iklim investasi dan akselerasi infrastruktur.
Reformasi struktural harus fokus pada hal-hal yang masih
• Dalam 2 tahun terakhir peringkat EODB relatif stagnan, meski skor terus membaik,
menghambat daya saing: SDM (kesehatan, skills, pasar
mengindikasikan perlu implementasi reformasi yang lebih kuat.
tenaga kerja, inovasi), Institusi, Infrastruktur, Sistem
• Reformasi ke depan harus menyasar pada penguatan sumber daya manusia yang
selama ini masih menjadi tantangan daya saing Indonesia.
Keuangan
1818
Kinerja Sektor Tradable (Manufaktur)Yang Semakin Menurun
Rata-rata Manufacturing Value Added Rata-rata Manufacturing GDP
Rata-rata GDP growth (%) Growth (%)
(% of GDP) 12,00

Convergence
10,00

8,00 China
India

6,00 Indonesia
Singapore

4,00
Korea
US
2,00 S Africa
Japan
Source: World Development Indicators Euro Area
0,00
1960s 1970s 1980s 1990s 2000s 2010s

Note: solid line represents emerging economies, while dotted line represents developed economies

• Industrialisasi telah menjadi pendorong utama bagi meningkatnya • Konvergensi pertumbuhan ekonomi mulai terjadi pada tahun 1960-an,
pertumbuhan negara-negara berkembang. dipimpin oleh Singapura dan Korea Selatan yang akhirnya berhasil menjadi
• Di sisi lain, de-akselerasi pertumbuhan ekonomi maju terjadi bagian dari kelompok ekonomi maju. Sementara negara maju sudah
bertepatan dengan pola deindustrialisasi. mengalami moderasi pertumbuhan.
• Ada juga kasus India, yang relatif tidak pernah mencatat aktivitas • Selama dekade berikutnya, Cina dan Indonesia mengikuti jalan yang sama.
manufaktur yang tinggi, tetapi bisa naik dan mencapai pertumbuhan • Saat ini, Cina, India, dan Indonesia termasuk di antara pertumbuhan tertinggi
ekonomi yang sangat tinggi. di dunia. 19 19
Tingkat Produktivitas PekerjaYang Masih Rendah
Rerata Pertumbuhan TFP 1970-2016 Kontribusi Input Pertumbuhan Ekonomi 1970-2016
3,80% Sumber: APO Productivity Handbook 2018
Sumber: APO Productivity Handbook 2018

100%
2,90% 15% 12% 10%
90% 17% 17% 22% 17%
25% 3% 26% 6%
2,50% 6%
80% 3% 5% 3%
2%
1,90% 1,90% 70% 10% 6%
1,70%
60% 51%
1,30% 41%
1% 50% 55%
1,10% 1,10% 64% 70%
0,90% 1% 1% 0,90%
0,80% 0,80% 0,80% 40% 73% 79%
0,70% 59% 65%
0,40% 0,50% 30%
0,30% 0,10%
0% 0,10% 20%
34% 35%
10% 25%
-0,10% 16% 14%
-0,20% 5% 6% 3%
-0,20% 0% 1%
Vietnam Malaysia Singapura Thailand RRC India Philipina Indonesia Korsel Vietnam Malaysia Singapura Thailand RRC India Philipina Indonesia Korsel

1970-2016 1970-1990 1990-2016 TFP Non IT Capital IT Capital Labor

• Dalam kurun waktu 1970-2016 pertumbuhan TFP Indonesia hanya 0,1%, jauh dibawah RRC sebesar 2,9% atau Vietnam 0,9%. Pada
periode 1990-2016 pertumbuhan TFP Indonesia bahkan tercatat minus 0,2%.
• Kontribusi TFP dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia periode 1970-2016 hanya 1% sangat kecil dibanding RRC sebesar 34%,
Vietnam sebesar 16%, Korea Selatan sebesar 14% atau Philiphina sebesar 3%
20
Performa Pelajar Indonesia Dalam Sains & Membaca Masih Relatih Rendah
Programme for International Student Assessment Score (PISA) 2018
sumber : OECD PISA SCORE INDONESIA 2000-2018
B-S-J-Z (RRC) 555 591
sumber : OECD
590

Singapura 549 569 551 PISA SCORE INDONESIA 2000-2018


READING
Korea 514 526 519 402
396 397
393
Selandia Baru 506 494 508 382
USA 371 371
505 478 502

Jepang 504 527 529


2000 2003 2006 2009 2012 2015 2018
Australia 503 491 503

Israel 470 463 462 PISA SCORE INDONESIA 2000-2018


MATH
OECD Average 487 489 391 396
489 383 386
375
Turki 466 454 468 360

Malaysia 415 440 438


2000 2003 2006 2009 2012 2015 2018
Brazil 413 384 404

Thailand 393 419 426 PISA SCORE INDONESIA 2000-2018


SCIENCE
Indonesia 371 379 396 403
393
Philipina 340 353 357 382 379
371

Students in Indonesia scored lower than the OECD average in


reading, mathematics and science -OECD 2019- 2000 2003 2006 2009 2012 2015 2018
21
nces.ed.gov
Tingkat Pendidikan Pekerja dan Skill Yang Masih Relatif Rendah
Latar Pendidikan Tenaga Kerja Latar Pendidikan Tenaga Kerja Berdasar Sektor Usaha*
1,3% 1,3%
Perguruan Tinggi; 3,5% 4,7%
Diploma; 9,2% 9,0% 14,2% 19,2%
2,8% 16,0%
17,8% 12,0%

22,1%
Vokasi; 23,2%
11,5% 16,7%
SD & di 70,2%
bawah; 39,8%
41,8% 28,7%
SMA;
16,8% SMP; Agriculture labor Manufacture labor Services labor
18,0%
SD dan di bawah
Elementary school and lower SMP High School
Junior
Senior
SMA High School Vocational
Vokasi
Diploma/Bachelor
Diploma/S1 Post Graduate
S2/S3 *Data Tahun 2015

Mayoritas tenaga kerja berlatar belakang pendidikan Dengan realitas ini perlu didorong lifelong learning,
rendah sehingga menyebabkan produktivitas secara umum termasuk penyediaan pelatihan dan vokasi bagi
masih rendah tenaga kerja 22
Kontribusi Ekspor Terhadap Pertumbuhan Masih Rendah
Komposisi Ekspor Terhadap GDP Indonesia Pertumbuhan Ekspor Sektoral Mei 2017-April 2019

60,00%
Pertumbuhan Ekspor Sektoral (ytd)
50%
50,00%
52,97%
40%

40,00% 30%

20%
30,00%
20,97% 10%
20,00%
0% -3.3%
-7.8%
10,00% -10% -11.3%
-20% -12.3%
0,00%

2019-J
2018-J
M
J
J

F
M

M
J
J

M
A
S
O
N

A
S
O
N

A
1978

1988
1960
1962
1964
1966
1968
1970
1972
1974
1976

1980
1982
1984
1986

1990
1992
1994
1996
1998
2000
2002
2004
2006
2008
2010
2012
2014
2016
2018
Pertanian (ytd) Manufaktur (ytd) pertambangan dll (ytd) Migas (ytd)

• Ekspor merupakan pendukung dari kegiataan industrialisasi, mendorong ekspor akan memacu perusahaan untuk
meningkatkan daya saingnya di pasar global
• Ekspor mendorong integrasi sektor Industri Indonesia dengan Global Value Chain(GVC). Integrasi dengan GVC akan
mendorong peningkatan nilai tambah (value added) dan industrial upgrading
• Share Komposisi Ekspor Terhadap GDP Indonesia Cenderung Terus Menurun 23
23
Ekspor Masih Didominasi Produk Dengan Value Added Rendah
Produk
EKSPOR Produk Mineral Produk Plastik & Hewani
Produk
Turunan
Hewan &

Kayu Karet Tumbuhan

INDONESIA
I995 5,9% 3,8% 3,1%
27% 11% Sepatu Produk Kertas Makanan
2,9 %
4,8%
Tekstil Mesin Sayuran
2,9 % Batu & kaca
Metal 0,91%

14% 8,3% 4,3%


Produk Kimia
2,8 %
Hewan

0,74%

EKSPOR Plastik & Logam Makanan


Produk Mineral Mesin Karet
Transportasi
Berharga

INDONESIA
2016 21% 5,6% 4,6% 4,4% 4,3%
9,5% Metal
Sepatu Produk Sayuran Produk
Kayu Hewani

Produk Turunan Hewan & Tekstil 5,1% 3,6%


2,3% 2,2%
Tumbuhan Produk Kimia
Produk Kertas

14% 8,3% 4,8% 3,5% Lainnya


1,7%
Instrumen

24
24
KERANGKA PRESENTASI

BAGIAN IV.

APBN Sebagai Instrumen


Meningkatkan Daya Saing Indonesia

25
Peran Kebijakan Fiskal
Dan APBN Alokasi
Sumber Daya
• Belanja yang berkualitas,
produktif dan mendukung
Stabilitas pembangunan
• Prioritas pada belanja
3 FUNGSI UTAMA Makroekonomi infrastruktur dan SDM
• Tingkat defisit dan utang yang • Penyediaan layanan publik yang
KEBIJAKAN FISKAL & terkendali memadai
APBN • Pembiayaan yang pruden
• Mitigasi risiko bencanadan
pengembangan sumber daya Distribusi
STABILITAS terbarukan
• Penguatan fiscal buffer Pendapatan
• Optimalisasi penerimaan
• Kebijakan perpajakan yang adil
• Program-program bantuan
DISTRIBUSI sosial yang tepat sasaran
• Penguatan desentralisasi fiskal

ALOKASI
26 26
Pentingnya Menjaga APBN sebagai instrumen kebijakan
Stabilitas Domestik untuk mendorong pertumbuhan
ekonomi melalui fungsi alokasi,
Ditengah distribusi, dan stabilisasi.
Ketidakpastian
Global
Memperbaiki Kualitas SDM dan
4
Skill Masyarakat
Menjaga konsumsi sebagai
1 motor utama penggerak
pertumbuhan ekonomi
Indonesia Melaksanakan reformasi
struktural perekonomian 3
2 Meningkatkan daya saing
ekonomi untuk menarik FDI dan
mendorong ekspor

1 2 3 4
27
5 Program Kerja Prioritas Pemerintah
APBN Dalam Menjaga Stabilitas Domestik dan Memperkuat Reformasi Ditengah Ketidakpastian Global

Menjaga konsumsi Meningkatkan daya saing Melakukan reformasi Meningkatkan kualitas


sebagai mesin utama untuk meningkatkan struktural dan menjaga sumber daya manusia
pertumbuhan ekonomi investasi & ekspor stabilitas ekonomi-politik sebagai aktor ekonomi
Indonesia

Pembangunan Penyederhanaan Transformasi


5 Program Kerja SDM Regulasi Ekonomi
Prioritas Pemerintah
di Tengah
Ketidakpastian Global
Infrastruktur Penyederhanaan
Birokrasi 2828
Strategi Kebijakan Fiskal Indonesia
Arah dan Strategi Kebijakan Fiskal Jangka Menengah
Arah dan Strategi Kebijakan Fiskal 2020
2020-2024

PENGUATAN BELANJA YANG BERKUALITAS BELANJA NEGARA YANG EFEKTIF


1. Penguatan kualitas SDM 1. Program vokasional, link & match, penguasaan ICT, dan
2. Percepatan pembangunan infrastruktur mendukung R&D.
transformasi ekonomi dan merespon industri 4.0
2. Melanjutkan pembangunan infrastruktur energi,
3. Peningkatan efektivitas perlindungan sosial dan subsidi
4. Penguatan desentralisasi fiskal
pangan, dan air, penguasaan ICT serta konektivitas.
5. Penguatan reformasi birokrasi sebagai bagian reformasi 3. Sinergi dan integrasi antarprogram perlindungan sosial
institusional serta penyelarasan dengan profil demografi.
6. Peningkatan investasi & ekspor

PELEBARAN FISCAL SPACE MOBILISASI PENDAPATAN YANG INOVATIF


1. Peningkatan tax ratio 1. Reformasi perpajakan untuk merespons
2. Pemberian insentif fiskal untuk meningkatkan daya
tercermin ekonomi digital.
saing dan inovasi dalam 2. Insentif fiskal untuk mendorong daya saing
3. Pengelolaan aset yang optimal
investasi dan ekspor.
4. Peningkatan efisiensi belanja
5. Pengembangan pembiayaan kreatif & inovatif 3. Reformasi PNBP al. melalui peningkatan
6. Pendalaman pasar keuangan pengelolaan SDA dan asset (BMN).

PENGENDALIAN RISIKO APBN SEHAT BERKELANJUTAN


PEMBIAYAAN YANG KREATIF

1. Pengendalian defisit dan rasio utang 1. Pembiayaan kreatif dan inovatif yang
mengikutsertakan peran swasta
2. Keseimbangan primer menuju positif
3. Memperkuat ketahanan fiskal 2. Efektivitas peran quasi fiskal sebagai agent
development (BUMN & BLU)
3. Pendalaman pasar keuangan domestik 29
29
Asumsi Dasar Ekonomi Makro

Indikator
APBN
2019
Outlook 2020 Sumber: Kemenkeu

Pertumbuhan Ekonomi (%, yoy) 5,3 5,1 5,3 Didukung stabilitas konsumsi dan
berlanjutnya akselerasi infrastruktur.

Inflasi (%, yoy) 3,5 3,2 3,1 Didukung penguatan koordinasi antar
institusi, serta perbaikan distribusi
barang.

Nilai Tukar (Rp/US$) 15.000 14.200 14.400 Dipengaruhi oleh kondisi eksternal yang
bergejolak. Namun fundamental
ekonomi Indonesia yang sehat dan

5,4
komitmen reformasi mendukung
Suku Bunga SPN-3 bulan (%) 5,3 5,6 perbaikan iklim investasi termasuk di
pasar keuangan

65
Permintaan global rendah & peningkatan
CPI (US$/barel) 70 60 suplai → harga cenderung lemah. Namun
tensi geopolitik berpotensi memberi
upward pressures.

Lifting Minyak (ribu barel/hari) 775 754 734 Target lifting migas masih
menghadapi tantangan penurunan
alamiah. Kegiatan pengeboran, kerja

Lifting Gas (ribu barel setara minyak/hari) 1.250 1.072 1.191 ulang, perawatan sumur tetap menjadi
program kerja utama yang akan30
didorong
Postur APBN
APBN 2019 (outlook realisasi) *triliun rupiah APBN 2020 *triliun rupiah

PENDAPATAN BELANJA PENDAPATAN BELANJA


NEGARA APBN NEGARA NEGARA APBN NEGARA
(Triliun Rp) (Triliun Rp)
2.030,8 2.341,6 2.233,2 2.540,4
4,5% GROWTH 5,8% GROWTH 10,0% GROWTH 8,5% GROWTH
DEFISIT BELANJA
DEFISIT BELANJA
PENERIMAAN PENERIMAAN
PERPAJAKAN -310,8 PEM. PUSAT PERPAJAKAN -307,2 PEM. PUSAT

1.643,1 1,93% 1.527,2 1,865.7 1,76% 1.683,5


THD PDB 4,9% GROWTH 13.5% GROWTH
THD PDB 10,2% GROWTH
8,2% GROWTH

386,3 KESEIMBANGAN
814,4 367.0 KESEIMBANGAN
856,9
PRIMER PRIMER
-5.6% GROWTH 7,5% GROWTH -5.0% GROWTH 5,2% GROWTH
HIBAH -34,7 HIBAH -12,0
1,3 PEMBIAYAAN 0.5 PEMBIAYAAN
-91,7% GROWTH 310,8 -61.5% GROWTH 307,2
31
Menjaga APBN 2020 Agar Tetap Pruden
❑ Rasio defisit terhadap PDB
Defisit APBN tahun 2020 terendah dalam
Tahun 2020 dijaga lima tahun terakhir
1,76% PDB ❑ Defisit Kesimbangan Primer
diarahkan semakin diturunkan bertahap ke arah
sehat dan adaptif positif
menghadapi risiko
perekonomian ❑ Penerimaan perpajakan untuk
mendukung daya saing
❑ Belanja Negara semakin fokus
pada program yang produktif
Optimalisasi Tax Ratio ❑ Pembiayaan anggaran semakin
penerimaan 11,6 menurun dimanfaatkan untuk
11,6
negara 10,8
11,4 11,1 mendukung peningkatan daya
10,7
disertai dengan target saing
yang realistis
2015 2016 2017 2018 Outlook 2019 APBN 2020
32
Inisiatif Baru & Program Strategis di APBN 2020
Insentif Perpajakan Dana Abadi untuk SDM dan
• Super deduction untuk kegiatan vokasi & litbang Kebudayaan
• Mini tax holiday untuk investasi di bawah Rp500 miliar • Dana Abadi Kebudayaan
• Investment allowance untuk industri padat karya • Dana Abadi Perguruan Tinggi
• Penambahan Dana Abadi Riset secara signifikan

Peningkatan Kualitas SDM dan Penguatan Transfer ke Daerah


Perlindungan Sosial dan Dana Desa
•KIP Kuliah • Penguatan DAK Fisik pada 2 bidang baru: sosial dan
•Kartu Pra Kerja transportasi laut
• Pengalokasian DAU Tambahan untuk penyetaraan
•Kartu Sembako penghasilan tetap perangkat desa dan penggajian Pegawai
Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK)

Penguatan Neraca Transaksi Percepatan Penyelesaian 5 Destinasi


Berjalan Pariwisata Super Prioritas
Mendukung penurunan defisit transaksi Pengembangan destinasi wisata Danau Toba,
berjalan baik dalam jangka panjang Borobudur, Labuan Bajo, Likupang, dan
maupun jangka pendek Mandalika dengan Sinergi lintas K/L dan
Pemda
33
Fokus Belanja Pemerintah Pusat Tahun 2020
01 03
SDM yang berkualitas AKSELERASI PEMBANGUNAN
• Peningkatan produktivitas/daya saing SDM INFRASTRUKTUR
• Perluasan akses pendidikan, peningkatan
skill, enterpreneurship, ICT, penelitian
1 3 • Meningkatkan daya saing investasi dan
ekspor
• Percepatan pengurangan stunting, • Mendukung tranformasi industrialisasi
promotif preventif, program jaminan • Mendorong skema pembiayaan kreatif
kesehatan nasional
2 4 (KPBU: VGF atau AP)

Anggaran Pendidikan Rp508,1 T


Anggaran Kesehatan Rp132,2 T
5 Anggaran Infrastruktur
Rp423,3 T

02 05 04
PENGUATAN PROGRAM ANTISIPASI BIROKRASI YANG EFISIEN,
PERLINDUNGAN SOSIAL KETIDAKPASTIAN EKONOMI MELAYANI, DAN BEBAS
• Mengakselerasi pengentasan kemiskinan GLOBAL & DOMESTIK KORUPSI
• Peningkatan akurasi data dan perbaikan • Mitigasi risiko bencana, pelestarian • Mendorong efektivitas birokrasi
penyaluran, lingkungan, dan pengembangan Energi • Menjaga tingkat kesejahteraan aparatur
• Sinergi/sinkronisasi antar program Baru Dan Terbarukan dan pensiunan
• Subsidi yang tepat sasaran dan efektif • Penguatan cadangan risiko fiskal • Birokrasi yang berbasis kemajuan ICT

Anggaran Perlindungan Anggaran Birokrasi


Sosial Rp372,5 T Rp261,3 T
34
35
Peningkatan Kesejahteraan
APBN Tahun 2020 Program Keluarga Harapan
Rp29,1 T Pemberdayaan Masyarakat
untuk Peningkatan 10,0 juta keluarga miskin Pembiayaan Ultra Mikro
Bantuan Pangan/Kartu Sembako Rp1,0 T bagi 241 rb debitur
Kesejahteraan Rp28,1 T
15,6 juta keluarga miskin
(1,6 juta debitur akumulasi)
Subsidi Bunga Kredit Usaha Rakyat
Masyarakat Rp13,8 T bagi 16,47 juta debitur
(akumulasi)
Bantuan Sosial Usaha Ekonomi Produktif
Berpenghasilan Mendukung Pengembangan Rp270 M bagi 135 ribu KK

Perekonomian Desa
Rendah, Miskin dan Dana Desa
Bantuan untuk Nelayan
a.l. Premi Asuransi Rp33,0 M untuk
170 rb nelayan
Rentan Miskin Rp72,0 T untuk 74.954 desa termasuk:
• 20.588 desa tertinggal
• 6.835 desa sangat tertinggal Akses Perumahan
Subsidi Uang Muka Perumahan
Rp600 M bagi 150 rb Keluarga (MBR)
Peningkatan Produktivitas Subsidi Bunga Kredit Perumahan
Pertanian Rp3,9 T bagi 677 rb Keluarga (MBR)

Rp372,5 T Subsidi Pupuk


Rp26,6 T bagi 16,2 juta petani

36
Pendidikan Usia Dini Pendidikan Dasar Pendidikan Tinggi
APBN untuk • Kartu Indonesia Pintar • KIP Kuliah
• BOP PAUD
mempersiapkan (DAK Non Fisik) (SD/SMP/SMA sederajat)
• Rp 11,2 T
• Rp 6,7 T
• 818,1 ribu mahasiswa
generasi muda
• Rp 4,5 T
• 7,4 juta anak • 20,1 juta jiwa • Beasiswa LPDP (S2/S3)
• Bantuan Operasional
untuk peningkatan Sekolah
• Rp 1,8 T
• 5.000 mahasiswa baru
kualitas SDM • Rp 63,0 T
• 54,6 juta jiwa
dan 12.333 mahasiswa
lanjutan

• Sarpras PAUD • Bangun/Rehab Ruang Kelas • Bangun/Rehab Kampus


diarahkan untuk • Rp 307,6 M • Rp 7,8 T • Rp 4,4 T
• 5.841 ruang kelas • 15,1 ribu ruang kelas • 87 kampus
peningkatan kualitas
dan 2.677 sekolah
SDM sebagai bagian
mewujudkan
• Riset oleh LPDP • Riset oleh Kemenristekdikti
kesejahteraan dan • Rp 284,1 M • Rp 1,5 T
keadilan rakyat • 104 riset • 1.450 riset

Anggaran Pendidikan • Tunjangan Profesi Guru PNS • Tunjangan Profesi Guru Non
• Rp 63,5 T PNS

Rp508,1 T
• 1,3 juta guru • Rp 10,7 T
• 407,7 ribu guru
37
Melanjutkan Percepatan Pembangunan Infrastruktur
ARAH KEBIJAKAN Anggaran Infrastruktur di APBN 2020
● Interkoneksi infrastruktur dengan berbagai
Rp423,3 T
kawasan: industri kecil, Kawasan Ekonomi Khusus,
pariwisata, persawahan, perkebunan, dan perikanan
● Pembangunan infrastruktur untuk mendukung
aktivitas masyarakat
● Infrastruktur untuk mendukung pengembangan
perekonomian dan kemudahan aksesibilitas.

STRATEGI KEBIJAKAN PEMBANGUNAN


INFRASTRUKTUR 2019 - 2024:
• Infrastruktur pelayanan dasar untuk pemerataan distribusi
pembangunan ekonomi
• Infrastruktur pendukung konektivitas dan sektor prioritas
spt. pertanian, perikanan, manufaktur dan pariwisata
• Infrastruktur smart city
• Infrastruktur energi, kelistrikan, dan teknologi informasi
Sumber: Kemenkeu 38
Insentif Fiskal untuk Mendorong Investasi
Kebijakan perpajakan juga diarahkan untuk mendorong investasi melalui fasilitas perpajakan dan bea dan cukai

Fasilitas Pajak Fasilitas PPN


Penghasilan • Penguragan PPN:
Insentif Fiskal • Barang Modal
dalam pipeline: • Tax Holiday
• Pelayanan kesehatan dan
• Tax Allowance
Pendidikan
• Super Deduction Padat • Pengurangan pajak • Pelayanan Sosial
Karya penghasilan impor • Jasa ekspor
Mendorong Peran • Super Deduction
Swasta dalam Investasi untuk R&D and
Padat Karya vocational training

• Omnibus Law
Mendorong Investasi
dan dunia usaha melalui
penurunan tarif PPh
badan Fasilitas
Bea & Cukai Fasilitas Khusus
• Pembebasan bea masuk impor • Fasilitas di Kawasan Ekonomi
untuk barang modalKITE Khusus (KEK)
• Bonded Storage Area • Fasilitas di kawasan industri
• Bea masuk ditanggung • Free Trade Zone
pemerintah
39
Insentif Untuk Menarik Investasi
TAX
Untuk investasi pada industri pionir yaitu industri memiliki keterkaitan luas,
HOLIDAY
memberi nilai tambah dan eksternalitas yang tinggi, memperkenalkan
teknologi baru, dan memiliki nilai strategis bagi perekonomian

Fasilitas Pengurangan PPh badan sebesar 100% (untuk investasi minimal Rp500 miliar) atau
sebesar 50% (untuk investasi minimal Rp100 miliar).
PMK 150 Tahun 2018
Jangka waktu pengurangan PPh badan : 5- 20 tahun (sesuai dengan nilai investasi)

Untuk investasi pada industri prioritas dengan kriteria memiliki nilai investasi
TAX tinggi/untuk ekspor, menyerap tenaga kerja tinggi, atau menggunakan TKDN tinggi
ALLOWANCE
Fasilitas berupa investment allowance sebesar 30%, penyusutan dan amortisasi dipercepat, PPh dividen 10%, dan tambahan
kompensasi kerugian yang lebih lama dari 5 tahun

RENCANA PENGGANTIAN PP TAX ALLOWANCE (Status: dalam proses penetapan)

PP 18 Tahun 2015 stdd • Simplifikasi Prosedur : Pengajuan dilakukan secara online by system melalui OSS
PP 9 Tahun 2016 • Perluasan bidang usaha yang diberikan fasilitas : dari 145 KBLI diperluas menjadi 184 KBLI
40
Insentif Fiskal Bagi Riset (R&D) & Training
Super deduction
PP Nomor 45 Tahun 2019
Untuk mendorong pertumbuhan investasi sekaligus meningkatkan peran pelaku usaha dan
pelaku bisnis dalam meningkatkan kualitas SDM Indonesia yang berdaya saing.

Super deduction for R&D Super deduction for Investment Allowance for
Vocational Training labor intensive projects
Pengurangan penghasilan bruto
Pengurangan penghasilan bruto Fasilitas pengurangan penghasilan
paling tinggi 300% dari biaya
paling tinggi 200% dari jumlah neto sebesar 60% dari jumlah
kegiatan penelitian dan
biaya kegiatan vokasi yang penanaman modal bagi industri
pengembangan yang dilakukan di
dilaksanakan. padat karya.
Indonesia. 41
Penyederhanaan regulasi dan Peraturan telah diidentifikasi
birokrasi antara lain melalui
Omnibus Law
70 dalam Omnibus Law telah
diidentifikasi dan dibagi dalam
10 klaster
Presiden Jokowi akan mengajak DPR untuk menerbitkan 2
undang-undang besar, yaitu: Licensing Investment
• UU Perpajakan Endeavors Terms
• UU Cipta Lapangan Kerja & Pemberdayaan UMKM

UU tersebut akan merevisi Undang-Undang yang Ease of Doing


Penalty Business
dinilai menghambat tercapainya realisasi investasi,
penciptaan lapangan kerja dan UMKM
Research and
Labor Innovation
Omnibus Law akan mendorong perbaikan iklim investasi, Reform Support
mendorong daya saing, UKM, serta ketenagakerjaan.
Government Ease of
Omnibus Law juga termasuk reformasi ketenagakerjaan Administration Government
yang mempertimbangkan 6 aspek yakni: upah minimum, Projects
outsourcing, tenaga kerja asing, pesangon, durasi
kerja, dan sanksi. Aspek tersebut terkait dengan peraturan Land Special
Acquisition Economic
ketenagakerjaan lain seperti Jaminan Sosial Tenaga Kerja, Zone
SJSN, dll.
42
SUBSTANSI OMNIBUS LAW PERPAJAKAN
SISTEM TERRITORI MENDORONG
PENENTUAN PENGATURAN
MENINGKATKAN UNTUK KEPATUHAN WAJIB MENCIPTAKAN KEADILAN IKLIM
SUBJEK PAJAK FASILITAS DALAM UU
PENDANAAN INVESTASI PENGHASILAN PAJAK & WAJIB BAYAR BERUSAHA DI DALAM NEGERI
ORANG PRIBADI PERPAJAKAN
LUAR NEGERI SECARA SUKARELA

1. Penurunan tarif PPh 5. Penghasilan 7. WNI tinggal 9. Relaksasi Hak 11. Pemajakan Transaksi 13.Bentuk Fasilitas:
Badan secara tertentu <183 hari di Pengkreditan Pajak Elektronik: a. Tax holiday
bertahap (termasuk Indonesia dapat Masukan bagi a. Penunjukan platform b. Super deduction
22% (2021 & 2022) Dividen) dari menjadi SPLN Pengusaha Kena memungut PPN c. Fasilitas PPh
dan 20% (2023 dst.) luar negeri tidak Pajak b. Pengenaan pajak untuk Kawasan
8. WNA tinggal
2. penurunan tarif PPh dikenakan PPh 10.Pengaturan Ulang: kepada SPLN atas Ekonomi Khusus
>183 hari di
Badan Wajib Pajak Go sepanjang a. Sanksi transaksi elektronik di d. PPh untuk surat
Indonesia
Public diinvestasikan di Administratif Indonesia berharga negara
menjadi SPDN
(tarif umum – 3%) Indonesia Pajak, Pabean, 12. Rasionalisasi Pajak Daerah e. Keringanan/
3. Penghapusan PPh dan Cukai a. Pemerintah Pusat dapat pembebasan
6. Penghasilan
atas Dividen dari b. Imbalan Bunga tetapkan tarif Pajak Pajak Daerah
WNA yang
dalam negeri Daerah yang berlaku oleh Kepala
SPDN (Dual
4. Ruang untuk secara nasional Daerah
Residence)
Penyesuaian Tarif PPh b. Pemerintah Pusat dapat
hanya atas
Ps. 26 atas Bunga berikan sanksi dan
penghasilan dr
batalkan Perda yang
Indonesia
menghambat investasi.

UU terdampak: UU PPh, UU PPN, UU KUP, UU Kepabeanan, UU Cukai, UU PDRD, UU Pemda43


TERIMA KASIH

44
Realisasi APBN Per Oktober 2019: Pengaruh Global dalam Pendapatan Negara
PENDAPATAN NEGARA Penerimaan Perpajakan PNBP
• Lifting dan harga yang lebih rendah
Rp1.508,9 T Rp1.173,9 T Rp333,3 T
65,7% dari APBN 88,1% dari APBN
mempengaruhi pajak yang lebih rendah di sisi
migas.
69,7% dari APBN tumbuh 1,2% tumbuh 3,2%
tumbuh 1,2%

Belanja Modal Belanja Bantuan Sosial Belanja Subsidi


BELANJA NEGARA
Rp100,8 T Rp91,7 T Rp146,2 T
Rp1.798,0 T 53,2% dari APBN 94,5% dari APBN 65,2 % dari APBN
73,1% dari APBN
tumbuh 4,5% • Pemerintah mengelola momentum demand dengan menjaga belanja pemerintah.
• Rendahnya ICP mempengaruhi rendahnya realisasi belanja subsidi.

• Dengan realisasi pendapatan dan belanja di atas, defisit


PEMBIAYAAN ANGGARAN DEFISIT ANGGARAN anggaran diperkirakan sebesar 1,8% dari PDB.
Rp373,4 T Rp289,1 T • Strategi front loading diterapkan untuk memanfaatkan
kondusifnya situasi pasar keuangan di Semester I guna
126,1% dari APBN 1,80% dari PDB mengantisipasi risiko global yang makin meningkat ke
depannya. 45