Anda di halaman 1dari 8

`

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Indonesia memiliki banyak potensi, baik dari sumber daya alam maupun sumber daya
manusianya. Sumber daya alam yang kaya dapat dilihat dari keanekaragaman yang dihasilkan
dari bumi di Indonesia ini, sedangkan dari sumber daya manusia dapat dilihat Indonesia memiliki
banyak bakat dan kemampuan intelektual yang terbukti dari anak-anak muda yang meraih medali
emas dalam olimpiade dunia. Namun seiring berkembangnya teknologi dan pendidikan, banyak
kenakalan remaja yang terjadi yang dapat merusak moral. Seperti yang diungkapkan dalam
edukasi.kompas.com, Jumat, 23 Desember 2011 data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia
(KPAI) menyebutkan, bahwa banyak terjadi tawuran antar pelajar dikarenakan hal yang sepele
seperti saling mengejek pada jaringan sosial, bahkan dikatakan bahwa di antara pelajar laki-laki,
tawuran seperti sudah menjadi tradisi yang harus dilakukan.
Generasi muda adalah generasi penerus bangsa. Pemuda merupakan generasi muda yang
menentukan masa depan bangsa. Sebagai modal dasar bangsa, pemuda memiliki berbagai potensi
dan kekuatan. Segala kekuatan dan potensi yang ada pada pemuda diharapkan dapat diasah dan
dikembangkan demi kemajuan sumber daya manusia sehingga dapat mendukung program
pembangunan nasional.
Menurut Undang-Undang RI No 40 tahun 2009 tentang Kepemudaan, pemuda
didefinisikan sebagai warga negara Indonesia yang berusia 16-30 tahun. Pemuda merupakan
sumber daya yang memegang peranan penting dalam kehidupan sosial. Pemuda sering
ditempatkan sebagai garda terdepan dari proses perubahan. Pemuda masa kini kelak akan
menjadi pemimpin bangsa di masa akan datang. Pemuda juga dapat menjadi kekuatan modal
sosial, kontrol sosial, dan agent of change. Sehingga kemajuan dan kemuduran suatu bangsa dan
negara bergantung di pundak pemuda. (badan pusat statistic, 2018)
Kota Makassar adalah salah satu kota metropolitan di Indonesia dan sekaligus sebagai ibu
kota provinsi Sulawesi Selatan. Kota Makassar merupakan kota terbesar keempat di Indonesia
dan terbesar di Kawasan Timur Indonesia. Sebagai pusat pelayanan di Kawasan Timur Indonesia
(KTI), Kota Makassar berperan sebagai pusat perdagangan dan jasa, pusat kegiatan industri,

1
`
pusat kegiatan pemerintahan, simpul jasa angkutan barang dan penumpang baik darat, laut
maupun udara dan pusat pelayanan pendidikan dan kesehatan.
Menurut badan pusat statistik 2018 jumlah penduduk Sulawesi Selatan tahun 2018
berdasarkan proyeksi penduduk sekitar 8,77 juta jiwa. Sekitar 2,25 juta jiwa atau 25,62 persen
diantaranya adalah penduduk usia 16-30 tahun (pemuda). Dengan kata lain 1 dari 4 penduduk
Sulawesi Selatan terdiri dari pemuda. Jumlah ini dapat dikatakan cukup besar dan dapat
mempengaruhi kemajuan pembangunan bangsa. Apalagi jika didukung dengan kualitas yang
baik. Namun, jumlah pemuda yang sangat banyak ini bukannya tidak menimbulkan masalah
sama sekali, pemuda saat ini selalu dikaitkan dengan hal-hal yang negatif, seperti kenakalan
remaja, ketidak patuhan kepada orangtua, frustasi, kecanduan terhadap narkotika, hilangnya
kebudayaan karena globalisasi dan masa depan suram. Hal-hal ini banyak diakibatkan
diakibatkan akan kurangnya pendidikan soft skill di luar pendidikan formal, sehingga para
pemuda tersebut tumbuh dengan kualitas sifat yang kurang baik. Hal inilah yang berusaha
diselesaikan oleh pemerintah Makassar untuk mengurangi permasalahan pada para pemuda yang
notabene merupakan cermin dari sebuah bangsa. Menurut Robert F. Kennedy4. kualitas dunia ini
bergantung pada kualitas pemuda yang hidup di dalamnya, karena para pemuda dapat menjadi
penggerak dunia dengan sifatsifatnya yang identik dengan pola pikirnya yang dinamis, keinginan
untuk maju dan berubah, kualitas imajinasi yang baik, keberanian dan keinginan bertualang untuk
mencari sesuatu yang baru. Karena itulah permasalahan pemuda ini perlu mendapat perhatian
khusus agar bangsa Indonesia ini memiliki generasi penerus yang layak.
Pada era sebelum adanya internet dan alat komunikasi yang canggih, kegiatan para
pemuda biasanya bersifat regional di sekitar tempat tinggal para pemuda tersebut. Karena
keterbatasan cara berkomunikasi dan bersosialisasi, mereka hanya bisa bersosialisasi dengan cara
bertatap muka. Sehingga dengan berkumpulnya para pemuda tersebut, muncul kegiatan-kegiatan
pemuda yang bersifat regional, seperti karang taruna, rapat RT, rapat RW, pengajian, dan banyak
kegiatan lain yang biasa dilakukan di lingkungan tempat tinggal. Namun setelah era internet dan
komunikasi yang maju, cara bersosialisasi dari para pemuda ini semakin berubah. Sudah jarang
ditemui organisasi karang taruna di lingkungan perumahan modern. Di sisi lain, para pemuda di
era modern ini lebih banyak bersosialisasi melalui dunia maya internet dan komunikasi nirkabel
seperti telepon dan pesan singkat. Dengan adanya teknologi komunikasi tersebut, jarak dan
regional sudah tidak menjadi masalah dalam bersosialisasi bagi para pemuda. Sehingga terjadi

2
`
peribahan bentuk sosialisasi dari yang tadinya mencari teman-teman sebaya yang berada di
sekitar tempat tinggal, menjadi mencari orang-orang yang memiliki minat dan hobi yang sama
di dunia maya. Hal inilah yang kemudian membentuk komunitas-komunitas para pemuda, yang
memiliki keberagaman minat dan kebutuhan.
Rentang usia pemuda merupakan fase krusial dalam hidup seseorang. Pada tahap itulah
seseorang mendapatkan jati dirinya. Pencarian jati diri inilah yang mendorong para pemuda
memiliki berbagai kegiatan di luar jam sekolah/kuliah. Mereka biasanya mengikuti berbagai
kegiatan/komunitas yang mereka minati dalam berbagai bidang, baik itu olahraga, seni, dan lain-
lain . Kegiatan yang mereka lakukan inilah yang nantinya akan membentuk jati diri para pemuda
tersebut, kegiatan yang baik akan membantu mereka untuk mengembangkan minat dan bakat
mereka sehingga mereka dapat berkembang dan memanfaatkan bakat mereka dengan baik.
Namun tidak sedikit yang tidak dapat menyalurkan minat dan bakat mereka dengan baik, hal ini
banyak diakibatkan dari kurangnya fasilitas untuk menyalurkan minat dan bakat mereka,
akibatnya banyak dari pemuda tersebut yang kemudian terjerumus ke dalam kegiatan yang tidak
bermanfaat, seperti nongkrong setelah sekolah, pergaulan bebas, dunia malam, dan lain-lain.
Untuk membentuk pribadi seseorang menjadi pribadi yang berkualitas baik tidaklah
mudah, diperlukan berbagai macam hal yang mendukung para pemuda untuk dapat melakukan
kegiatan positif yang akan membentuk karakter yang baik. Hal inilah yang biasanya luput
diberikan di intitusi pendidikan formal, biasanya intitusi pendidikan formal hanya fokus pada
transfer ilmu pengetahuan dan luput pada pemberian soft skill yang dibutuhkan para pemuda
tersebut untuk menjadi pribadi yang berkualitas baik. Maka dari itu, para pemuda biasanya
mendapatkan pelajaran soft skill dari pendidikan non-formal dan kegiatan sehari-hari. Apabila
kegiatan sehari-hari yang mereka lakukan tidak baik, maka soft skill yang mereka dapatkan tidak
berkualitas. Maka dari itu dibutuhkan fasilitas untuk mendukung dan menyalurkan minat serta
bakat yang dimiliki oleh para pemuda, sehingga mereka tidak terjerumus ke dalam lingkungan
dan kegiatan yang negative.
Melayani dan memfasilitasi para pemuda agar mereka dapat menyalurkan kegiatan
mereka adalah kewajiban pemerintah , hal ini disadari oleh pemerintah Makassar sehingga
dibentuklah Balai Pemuda dan Olahraga, yang merupakan Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD)
Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Provinsi Sulawesi Selatan yang mengurusi segala hal
tentang sarana dan prasarana pendidikan, pemuda dan olahraga. Fasilitas pendukung inilah

3
`
tempat dimana para pemuda-pemudi menyalurkan bakat dan keinginannya serta mendapatkan
soft skill yang dibutuhkan untuk menjadi penerus bangsa.Tetapi pada kenyataannya, fasilitas
yang disediakan belum mampu mewadahi apa yang diinginkan oleh para pemuda-pemudi di
Makassar karena masih banyak fasilitas yang tidak digunakan, kegiatan-kegiatan yang dilakukan
di sembarang tempat yang bukan fungsinya, dan masih banyak pemuda-pemudi yang melakukan
tindakan yang tidak patut dilakukan, seperti tawuran, merusak fasilitas dan anarkisme, serta
kegiatan-kegiatan lain yang seharusnya tidak terjadi apabila hal-hal yang dicanangkan
pemerintah sudah tepat sasaran. Hal inilah yang dijadikan latar belakang untuk mendesain sebuah
Youth Community Center di Makassar sebagai ruang komunitas pemuda, dan menjadi pusat
kegiatan bagi komunitas pemuda di Makassar, serta menjadi landmark bagi pemuda di Makassar.

2. PERMASALAHAN
2.1 Permasalahan Umum
Jumlah pelajar pada rentang usia pemuda di Makassar sangat banyak sehingga dibutuhkan
sebuah fasilitas untuk menyalurkan minat dan bakat para pemuda yang bervariasi tersebut
agar mereka tidak terjerumus ke dalam kegiatan yang negatif. Dengan fasilitas ini, diharapkan
para pemuda mendapatkan soft skill yang tidak diperoleh di intitusi pendidikan formal
sehingga para pemuda-pemudi memiliki kualitas yang layak sebagai generasi penerus bangsa
ini.
2.2 Permasalahan Khusus
Dari rumusan masalah umum yang ada tersebut kemudian dapat dijabarkan secara lebih
mendalam menjadi permasalahan-permasalahan yang lebih khusus sebagai berikut:
• Permasalahan pemuda menjadi isu utama dalam memperbaiki kualitas para pemuda melalui
edukasi secara informal di dalam fasilitas Youth Community Center
• Komunitas-komunitas yang memiliki beragam kegiatan dan kebutuhan yang berbeda-beda
belum memiliki fasilitas yang memadai untuk mewadahi kegiatan mereka
• Fasilitas yang ada sekarang dianggap tidak dapat memenuhi kebutuhan pasar dan mulai
ditinggalkan. Sehingga dibutuhkan sebuah fasilitas baru yang benarbenar dapat memenuhi
kebutuhan dan kegiatan para pemuda saat ini.

4
`

3. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Menyusun konsep dasar perancangan arsitektur untuk sebuah desain Youth Community
Center yang sebagai ruang interaksi para pemuda. Fungsi Youth Community Center ini sebagai
wadah untuk menyalurkan minat dan bakat para pemuda sehingga mereka dapat menyalurkan
waktu mereka untuk kegiatan yang positif, dan tidak melakukan hal-hal negatif lainnya.
2. Tujuan Khusus
• Menciptakan tempat sebagai wadah para pemuda untuk menyalurkan minat dan bakat
mereka
• Sirkulasi dan tata ruang yang tepat sehingga dapat mewadahi aktivitas dengan baik dan
berfungsi sebagai ruang interaksi komunitas
• Menambah sarana dan objek pariwisata baik untuk masyarakat lokal maupun wisatawan.

4. SASARAN
Menganalisa, memecahkan permasalahan dan merumuskan konsep dasar perancangan
arsitektur untuk bangunan fasilitas umum yang dapat memicu interaksi sosial, dengan memahami
apa itu interaksi sosial dan implikasinya pada desain, serta memahami seberapa besar porsi tiap
ruang agar didapatkan desain yang efektif dan efisien namun tetap dapat mewadahi fungsinya
dengan maksimal.

5. LINGKUP PEMBAHASAN
Lingkup pembahasan mengenai Youth Community Center ini terbatas dalam mewadahi
komunitas para pemuda dimana kegiatan-kegiatan yang dilakukan banyak bersifat fisik, baik itu
kegiatan dalam ruang maupun luar ruang. Dengan penggabungan fungsi bangunan fasilitas
umum dengan penekanan pada ramah lingkungan, dan pemecahan permasalahannya yang akan
dijabarkan menjadi hal-hal yang sesuai dengan tujuan dan sasaran yang masih berada dalam
lingkup disiplin arsitektur.

5
`
6. METODOLOGI
1. Studi Literatur Kegiatan studi literatur yang dilakukan antara lain:
• Studi literatur mengenai Youth Community Center
• Studi literatur mengenai kondisi kota Makassar
2. Observasi Kegiatan observasi yang dilakukan antara lain:
• Studi kelayakan fasilitas pendukung kegiatan komunitas pemuda
• Observasi kegiatan komunitas pemuda
3. Wawancara Kegiatan wawancara meliputi:
• Para pemuda mengenai kegiatan-kegiatan mereka
• Pendapat para pemuda tentang fasilitas yang sudah ada
• Keinginan para pemuda tentang fasilitas untuk mewadahi kegiatan mereka
4. Analisa dan Pendekatan
Melakukan kajian lebih dalam terhadap fasilitas pendukung kegiatan pemuda yang sudah
ada di Makassar baik lokasi, fungsi yang diwadahi dan bentuk fisik bangunan untuk menemukan
permasalahan dan kekurangannya. Kemudian dari analisa tersebut dilakukan upaya untuk
menyelesaikan permasalahan yang ada dengan berbagai pendekatan.
5. Perumusan Konsep
Perumusan Konsep adalah tahap mengumpulkan semua analisis dan permasalahan yang ada
untuk kemudian didapatkan sebuah penyelesaian atas permasalahan yang ada dan menghasilkan
sebuah konsep yang menjawab isu-isu lingkungan yang nantinya akan meningkatkan kualitas
lingkungan itu sendiri.

7. SISTEMATIKA PENULISAN
1. Bab I Pendahuluan
Mengungkapkan latar belakang permasalahan, permasalahan, tujuan, sasaran, lingkup
pembahasan, metoda pembahasan, sistematika pembahasan, keaslian penulisan dan kerangka
berpikir yang merupakan uraian tentang garis besar isi penulisan.
2. Bab II Kajian Pustaka Community Center
Membahas tentang pemuda dan komunitas, fasilitas pendukung kegiatan komunitas
pemuda, Youth Community Center, dan studi preseden mengenai Youth Community Center
untuk menjadi literatur dalam mendesain.

6
`

3. Bab III Kajian Wilayah Makassar


Membahas tentang karakteristik wilayah, penduduk, potensi, penyebaran dan kegiatan
pemuda di Makassar, jenis dan penyebaran komunitas pemuda di Makassar, dan fasilitas
pendukung kegiatan komunitas pemuda yang sudah ada di Makassar sebagai bahan
pertimbangan dalam mendesain.
4. Bab IV Analisa Konsep Perancangan
Berisi tentang analisis site dan keadaan sekitar site, serta prinsip-prinsip, pendekatan, dan
alternatif konsep yang digunakan sebagai pedoman untuk mendapatkan konsep.
5. Bab V Konsep Perancangan
Berisi tentang penerapan konsep sesuai analisa dan prinsip-prinsip desain, dan
pengembangan desain yang direncanakan.

7
`