Anda di halaman 1dari 26

A.

Definisi Palliative Care


Perawatan paliatif adalah pendekatan yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup
pasien (dewasa dan anak-anak) dan keluarga dalam menghadapi penyakit yang mengancam
jiwa, dengan cara meringankan penderitaan rasa sakit melalui identifikasi dini, pengkajian yang
sempurna, dan penatalaksanaan nyeri serta masalah lainnya baik fisik, psikologis, sosial atau
spiritual. (World Health Organization (WHO) 2016).
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menekankan lagi
bahwa pelayanan paliatif berpijak pada pola dasar berikut ini :
1. Meningkatkan kualitas hidup dan menganggap kematian sebagai
2. proses yang normal.
3. Tidak mempercepat atau menunda kematian.
4. Menghilangkan nyeri dan keluhan lain yang menganggu.
5. Menjaga keseimbangan psikologis dan spiritual.
6. Berusaha agar penderita tetap aktif sampai akhir hayatnya.

Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan dari Palliative Care adalah untuk
mengurangi penderitaan pasien, memperpanjang umurnya, meningkatkan kualitas hidupnya,
juga memberikan support kepada keluarganya. Meski pada akhirnya pasien meninggal, yang
terpenting sebelum meninggal dia sudah siap secara psikologis dan spiritual, serta tidak stres
menghadapi penyakit yang dideritanya.

B. Komunikasi Dalam Perawatan Palliativ


1. Komunikasi pada pasien dengan penyakit kronis
Penyakit kronik adalah suatu penyakit yang perjalanan penyakit berlangsung lama sampai
bertahun-tahun, bertambah berat, menetap dan sering kambuh. (Purwaningsih dan Karbina,
2009)
Ketidakmampuan/ketidakberdayaan merupakan persepsi individu
bahwa segala tindakannya tidak akan mendapatkan hasil atau suatu keadaan dimana individu
kurang dapat mengendalikan kondisi tertentu atau kegiatan yang baru dirasakan. (Purwaningsih
dan Karbina, 2009).
1
Berdasarkan pengertian diatas kelompok menyimpulkan bahwa penyakit kronik yang
dialami oleh seorang pasien dengan jangka waktu yang lama dapat menyebabkan seorang klien
mengalami ketidakmampuan contohnya saja kurang dapat mengendalikan kondisi tertentu atau
kegiatan yang baru dirasakan. Contoh : penyakit diabetes militus, penyakit cord pulmonal
deases, penyakit arthritis.
Tiap fase yang di alami oleh psien kritis mempunyai karakteristik yang berbeda. Sehingga
perawat juga memberikan respon yang berbeda. Dalam berkomunikasi perawat juga harus
memperhatikan pasien tersebut berada di fase mana, sehingga mudah bagi perawat dalam
menyesuaikan fase kehilangan yang di alami pasien.
1) Fase Denial ( pengikraran )
Reaksi pertama individu ketika mengalami kehilangan adalah
syok. Tidak percaya atau menolak kenyataan bahwa kehlangn itu terjadi dengan mengatakan “
Tidak, saya tidak percaya bahwa itu terjadi “. Bagi individu atau keluarga yang mengalami
penyakit kronis, akan terus menerus mencari informasi tambahan. Reaksi fisik yang terjadi
pada fase pengikraran adalah letih,lemah, pucat, mual, diare, gangguan pernafasan, detak
jantung cepat, menangis, gelisah dan tidak tau harus berbuat apa. Reaksi tersebut di atas cepat
berakhir dlam waktu beberapa menit sampai beberapa tahun.

Teknik komunikasi yang di gunakan :


1) Memberikan kesempatan untuk menggunakan koping yang kontruktif dalam
menghadapi kehilangan dan kematian
2) Selalu berada di dekat klien
3) Pertahankan kontak mata

2) Fase Anger ( marah )


Fase ini di mulai dari timbulnya kesadaran akan kenyataan yang terjadinya kehilangan.
Individu menunjukkan perasaan yang meningkat yang sering di proyeksikan kepada orang
yang ada di sekitarnya, orang – orang tertentu atau di tunjukkan pada dirinya sendiri. Tidak
jarang dia menunjukkan prilaku agresif, bicara kasar, menolak pengobatan, dan menuduh

2
perawat ataupun dokter tidak becus. Respon fisik yang sering terjadi pada fase ini antara lain,
muka merah, nadi cepat, gelisah, susah tidur, tangan menggepai.

Teknik komunikasi yang di gunakan adalah:


Memberikan kesempatan pada pasien untuk mengekspresikan
perasaannya, hearing.. hearing.. dan hearing..dan menggunakan
teknik respek

3) Fase Bargening ( tawar menawar )


Apabila individu sudah mampu mengungkapkan rasa marahnya secara intensif, maka ia
akan maju pada fase tawar menawar dengan memohon kemurahan tuhan. Respon ini sering di
nyataka dengan kata kata “ kalau saja kejadian ini bisa di tunda, maka saya akan selalu berdoa
“ . apabila proses berduka ini di alami keluarga, maka pernyataan seperti ini sering di jumpai “
kalau saja yang sakit bukan anak saya

Teknik komunikasi yang di gunakan adalah:


Memberi kesempatan kepada pasien untuk menawar dan menanyakan kepada pasien
apa yang diinginkan

4) Fase Depression
Individu fase ini sering menunjukkan sikap antara lain menarik diri, tidak mau
berbicara, kadang – kadang bersikap sebagai pasien yang sangat baik dan menurut atau dengan
ungkapan yang menyatakan keputus asaan, perasaan tidak berharga. Gejala fisik yang sering di
perlihatkan adalah menolak makan, susah tidur, l etih, dorongan libugo menurun

Teknik komunikasi yang di gunakan adalah:


Jangan mencoba menenangkan klien dan biarkan klien dan keluarga mengekspresikan
kesedihannya.

5) Fase Acceptance ( penerimaan )


3
Fase ini berkaitan dengan reorganisasi perasaan kehilangan. Fase menerima ini
biasanya di nyatakan dengan kata kata ini “ apa yang dapat saya lakukan agar saya cepat
sembuh?” Apabila individu dapat memulai fase fase tersebut dan masuk pada fase damai atau
penerimaan, maka dia akan dapat mengakhiri proses berduka dan mengatasi perasaan
kehilnagannya secara tuntas. Tapi apabila individu tetep berada pada salah satu fase dan tidak
sampai pada fase penerimaan. Jika mengalami kehilangan lagi sulit baginya masuk pada fase
penerimaan.

Teknik komunikasi yang di gunakan perawat adalah:


Meluangkan waktu untuk klien dan sediakan waktu untuk mendiskusikan perasaan
keluarga terhadap kematian pasien

A. Komunikasi pada pasien yang tidak sadar


Komunikasi dengan pasien tidak sadar merupakan suatu komunikasi dengan
menggunakan teknik komunikasi khusus/teurapetik dikarenakan fungsi sensorik dan motorik
pasien mengalami penurunan sehingga seringkali stimulus dari luar tidak dapat diterima klien
dan klien tidak dapat merespons kembali stimulus tersebut.
Pasien yang tidak sadar atau yang sering kita sebut dengan koma, dengan gangguan
kesadaran merupakan suatu proses kerusakan fungsi otak yang berat dan dapat membahayakan
kehidupan. Pada proses ini susunan saraf pusat terganggu fungsi utamanya mempertahankan
kesadaran. Gangguan kesadaran ini dapat disebabkan oleh beragam penyebab, yaitu baik
primer intrakranial ataupun ekstrakranial, yang mengakibatkan kerusakan struktural atau
metabolik di tingkat korteks serebri, batang otak keduanya.
Ada karakteristik komunikasi yang berbeda pada klien tidak sadar ini, kita tidak
menemukan feed back (umpan balik), salah satu elemen komunikasi. Ini dikarenakan klien
tidak dapat merespon kembali apa yang telah kita komunikasikan sebab pasien sendiri tidak
sadar. Nyatanya dilapangan atau di banyak rumah sakit pasien yang tidak sadar ini atau pasien
koma di ruangan-ruangan tertentu seperti Intensif Care Unit (ICU), Intensif Cardio Care Unit
(ICCU) dan lain sebagainya, sering mengabaikan komunikasi terapeutik dengan pasien ketika
mau melakukan sesuatu tindakan atau bahkan suatu intervensi.
4
Hal ini yang menjadi banyak perdebatan sebagaian kalangan ada yang berpendapat dia
adalah pasien tidak sadar mengapa kita harus berbicara, sedangkan sebagian lagi berpendapat
walau dia tidak sadar dia juga masih memiliki rasa atau masih mengatahui apa yang kita
perbuat, maka kita harus berkomunikasi walau sebagian orang beranggapan janggal. Maka dari
itu kita sebagai perawat diajarkan komunikasi terapeutik untuk menghargai perasaan pasien
serta berperilaku baik terhadap pasien sekalipun dia berada dalam keadaan yang tidak sadar
atau sedang koma. Fungsi Komunikasi Dengan Pasien Tidak Sadar menurut Pastakyu (2010),
Komunikasi dengan klien dalamproses keperawatan memiliki beberapa fungsi, yaitu:

a. Mengendalikan Perilaku
Pada klien yang tidak sadar, karakteristik pasien ini adalah tidak memiliki
respon dan klien tidak ada prilaku, jadi
komunikasi dengan pasien ini tidak berfungsi sebagai pengendali prilaku. Secara
tepatnya pasien hanya memiliki satu prilaku yaitu pasien hanya berbaring, imobilitas
dan tidak melakukan suatu gerakan yang berarti. Walaupun dengan berbaring ini pasien
tetap memiliki prilaku negatif yaitu tidak bisa mandiri.
b. Perkembangan Motivasi
Pasien tidak sadar terganggu pada fungsi utama mempertahankan kesadaran,
tetapi klien masih dapat merasakan rangsangan pada pendengarannya. Perawat dapat
menggunakan kesempatan ini untuk berkomunikasi yang berfungsi untuk
pengembangan motivasi pada klien. Motivasi adalah pendorong pada setiap klien,
kekuatan dari diri klien untuk menjadi lebih maju dari keadaan yang sedang ia alami.
Fungsi ini akan terlihat pada akhir, karena kemajuan pasien tidak lepas dari motivasi
kita sebagai perawat, perawat yang selalu ada di dekatnya selama 24 jam.
Mengkomunikasikan motivasi tidak lain halnya dengan pasien yang sadar, karena klien
masih dapat mendengar apa yang dikatakan oleh perawat.

c. Pengungkapan Emosional
Pada pasien tidak sadar, pengungkapan emosional klien tida ada, sebaliknya
perawat dapat melakukannya terhadap klien. Perawat dapat berinteraksi dengan klien.
5
Perawat dapat mengungkapan kegembiraan, kepuasan terhadap peningkatan yang
terjadi dan semua hal positif yang dapat perawat katakan pada klien. Pada setiap fase
kita dituntut untuk tidak bersikap negatif terhadap klien, karena itu akan berpengaruh
secara tidak langsung/langsung terhadap klien. Sebaliknya perawat tidak akan
mendapatkan pengungkapan positif maupun negatif dari klien. Perawat juga tidak boleh
mengungkapkan kekecewaan atau kesan negatif terhadap klien. Pasien ini
berkarakteristik tidak sadar, perawat tidak dapat menyimpulkan situasi yang sedang
terjadi, apa yang dirasakan pada klien pada saat itu. Kita dapat menyimpulkan apa yang
dirasakan klien terhadap apa yang selama ini kita komunikasikan pada klien bila klien
telah sadar kembali dan mengingat memori tentang apa yang telah kita lakukan
terhadapnya.
d. Informasi
Fungsi ini sangat lekat dengan asuhan keperawatan pada proses keperawatan
yang akan kita lakukan. Setiap prosedur tindakan keperawatan harus dikomunikasikan
untuk menginformasikan pada klien karena itu merupakan hak klien. Klien memiliki
hak penuh untuk menerima dan menolak terhadap tindakan yang akan kita berikan.
Pada pasien tidak sadar ini, kita dapat meminta persetujuan terhadap keluarga, dan
selanjutnya pada klien sendiri. Pasien berhak mengetahui apa saja yang akan perawat
lakukan pada klien.
Perawat dapat memberitahu maksud tujuan dari tindakan tersebut, dan apa yang
akan terjadi jika kita tidak melakukan tindakan tersebut kepadanya. Hampir dari semua
interaksi komunikasi dalam proses keperawatan menjalankan satu atau lebih dari ke
empat fungsi di atas. Dengan kata lain, tujuan perawat berkomunikasi dengan klien
yaitu untuk menjalankan fungsi tersebut. Dengan pasien tidak sadar sekalipun,
komunikasi penting adanya. Walau, fungsi yang dijalankan hanya salah satu dari fungsi
di atas.
Untuk dipertegas, walau seorang pasien tidak sadar sekali pun, ia merupakan
seorang pasien yang memiliki hak-hak sebagai pasien yang harus tetap kita penuhi.
Perawat itu adalah manusia pilihan Tuhan, yang telah terpilih untuk membantu sesama,
memiliki rasa bahwa kita sesama saudara yang harus saling membantu. Perawat akan
6
membantu siapapun walaupun ia seorang yang tidak sadar sekalipun. Dengan tetap
memperhatikan hak-haknya sebagai klien. Komunikasi yang dilakukan perawat
bertujuan untuk membentuk hubungan saling percaya, empati, perhatian, autonomi dan
mutualitas. Pada komunikasi dengan pasien tidak sadar kita tetap melakukan
komunikasi untuk meningkatkan dimensi ini sebagai hubungan membantu dalam
komunikasi terapeutik.

B. Cara Berkomunikasi Dengan Pasien Tak Sadar


Menurut Pastakyu (2010), Cara berkomunikasi dengan klien dalam proses keperawatan
adalah berkomunikasi terapeutik. Pada klien tidak sadar perawat juga menggunakan
komunikasi terapeutik. Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara
sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan klien. Dalam berkomunikasi
kita dapat menggunakan teknik-teknik terapeutik, walaupun pada pasien tidak sadar ini kita
tidak menggunakan keseluruhan teknik. Teknik terapeutik, perawat tetap dapat terapkan.
Adapun teknik yang dapat terapkan, meliputi:

a. Menjelaskan
Dalam berkomunikasi perawat dapat menjelaskan apa yang akan perawat lakukan
terhadap klien. Penjelasan itu dapat berupa intervensi yang akan dilakukan kepada klien.
Dengan menjelaskan pesan secara spesifik, kemungkinan untuk dipahami menjadi lebih besar
oleh klien.
b. Memfokuskan
Memfokuskan berarti memusatkan informasi pada elemen atau konsep kunci dari pesan
yang dikirimkan. Perawat memfokuskan informasi yang akan diberikan pada klien untuk
menghilangkan ketidakjelasan dalam komunikasi. Memberikan Informasi Fungsi
berkomunikasi dengan klien salah satunya adalah memberikan informasi.
Dalam interaksi berkomunikasi dengan klien, perawat dapat memberi informasi kepada
klien. Informasi itu dapat berupa intervensi yang akan dilakukan maupun kemajuan dari status
kesehatannya, karena dengan keterbukaan yang dilakukan oleh perawat dapat menumbuhkan
kepercayaan klien dan pendorongnya untuk menjadi lebih baik.
7
c. Mempertahankan ketenangan
Mempertahankan ketengan pada pasien tidak sadar, perawat dapat menujukkan dengan
kesabaran dalam merawat klien. Ketenagan yang perawat berikan dapat membantu atau
mendorong klien menjadi lebih baik. Ketenagan perawat dapat ditunjukan kepada klien yang
tidak sadar dengan komunikasi non verbal. Komunikasi non verbal dapat berupa sentuhan yang
hangat. Sentuhan adalah transmisi pesan tanpa kata-kata, merupakan salah satu cara yang
terkuat bagi seseorang untuk mengirimkan pasan kepada orang lain. Sentuhan adalah bagian
yang penting dari hubungan antara perawat dan klien.Pada dasarnya komunikasi yang akan
dilakukan pada pasien tidak sadar adalah komunikasi satu arah.
Komunikasi yang hanya dilakukan oleh salah seorang sebagai pengirim dan diterima
oleh penerima dengan adanya saluran untuk komunikasi serta tanpa feed back pada penerima
yang dikarenakan karakteristik dari penerima sendiri, yaitu pada point ini pasien tidak sadar.
Untuk komunikasi yang efektif dengan kasus seperti ini, keefektifan komunikasi lebih
diutamakan kepada perawat sendiri, karena perawat lah yang melakukan komunikasi satu arah
tersebut.

C. Prinsip-Prinsip Berkomunikasi Dengan Pasien Yang Tidak Sadar


Menurut Pastakyu (2010), Pada saat berkomunikasi dengan klien yang tidak sadar, hal-
hal berikut perlu diperhatikan, yaitu:
a. Berhati-hati melakukan pembicaraan verbal di dekat klien, karena ada keyakinan bahwa
organ pendengaran merupakan organ terkhir yang mengalami penurunan penerimaan,
rangsangan pada klien yang tidak sadar. Klien yang tidak sadar seringkali dapat
mendengar suara dari lingkungan walaupun klien tidak mampu meresponnya sama
sekali.
b. Ambil asumsi bahwa klien dapat mendengar pembicaraan perawat. Usahakan
mengucapkan kata dan menggunakan nada normal dan memperhatikan materi ucapan
yang perawat sampaikan dekat klien.
c. Ucapkan kata-kata sebelum menyentuh klien.

8
Sentuhan diyakini dapat menjadi salah satu bentuk komunikasi yang sangat efektif pada
klien dengan penurunan kesadaran.
d. Upayakan mempertahankan lingkungan setenang mungkin untuk membantu klien fokus
terhadap komunikasi yang perawat lakukan.

9
C. Teknik menyampaikan Berita Buruk

Tujuan

1. Menyampaikan berita buruk kepada pasien dan keluarganya secara benar.

2. Memberikan informed consent kepada pasien dan keluarganya dengan benar

A. Pengertian Berita Buruk

Yang dimaksud dengan Berita Buruk adalah suatu situasi di mana tidak ada harapan lagi,
adanya ancaman terhadap kesejahteraan fisik dan mental seseorang, sesuatu yang menuntut
perubahan gaya hidup yang sudah menjadi kebiasaan, sesuatu yang membuat seseorang
memiliki lebih sedikit pilihan dalam hidupnya .Atau dapat pula dikatakan bahwa Berita
Buruk Adalah setiap “informasi negatif”tentang masa depan seseorang. Berita Buruk ini
sering sekali diasosiasikan dengan penyakit-penyakit terminal yang sudah tidak mungkin
lagi disembuhkan, seperti kanker.Namun sebenarnya bukan itu saja. Ada beberapa situasi yang
juga dikategorikan sebagai berita buruk :

a. Diagnosis penyakit kronis (contoh : diabetes


melitus).
b. Cacat atau hilangnya suatu fungsi (contoh : impotensi, hemiplegia, kebutaan, dll).
c. Adanya kebutuhan perawatan atau pengobatan yang memberatkan/ menyakitkan/
d. mahal.

1
0
Selain itu kadang – kadang informasi yang sering dianggap “netral” oleh perawat, juga
merupakan KABAR BURUK bagi pasien, contoh :

1. Hasil USG pada seorang wanita hamil yang memverifikasi kematian janin.

2. Hasil MRI pada seorang wanita paruh baya yang menegaskan diagnosis Multiple
Sclerosis.

3. Diagnosis yang datang pada waktu yang tidak tepat, misalnya : seseorang
terdiagnosis menderita Unstable Angina yang memerlukan tindakan angioplasty pada
minggu pernikahan putrinya.

4. Suatu diagnosis yang menyebabkan seseorang menjadi tidak sesuai dengan bidang
kerja atau pendidikannya. Misalnya : diagnosis buta warna pada calon mahasiswa
keperawatan; atau tremor kasar pada seorang perawat ahli bedah kardiovaskular, dan
lain lain.

Menyampaikan berita buruk sebenarnya bukan merupakan hal yang baru dalam dunia
keperawatan, namun bagaimana sikap seorang perawat dalam menyikapinya telah mengalami
banyak perubahan besar dalam 30 tahun terakhir. Pergeseran tersebut diakibatkan karena saat
ini otonomi pasien sudah jauh lebih besar, sehingga gaya paternalistik sudah tidak terlalu
cocok lagi untuk digunakan. Hal tersebut disebabkan oleh peningkatan pengetahuan yang
dimiliki pasien (beserta keluarga pasien )

Dari penelitian lain tahun 1982 terhadap 1.251 warga Amerika; diketahui bahwa 96%-nya
berharap akan diberitahu keadaan yang sesungguhnya oleh perawat apabila mereka sampai
terdiagnosis menderita kanker, 85% pasien menginginkan penjelasan untuk prognosis penyakit,
termasuk tentang seberapa lama lagi mereka masih bisa bertahan atau bisa hidup. Penelitian ini
didukung dengan banyak penelitian lain pada tahun – tahun berikutnya.

Penelitian yang sama juga telah dibuat di Eropa, dan hasilnya tidak jauh berbeda dengan
penelitian di Amerika. Pasien di sana menginginkan penjelasan yang jujur mengenai penyakit

1
1
mereka (kanker), termasuk tentang kesempatan yang bisa diperoleh dari terapi yang mereka
jalani (seberapa persen kemungkinan keberhasilannya), juga mengenai efek samping terapi.

Penelitian di Asia (China) ternyata juga tidak jauh berbeda. Mayoritas pasien ingin
diberikan informasi mengenai situasi / penyakit mereka yang sebenarnya. Namun perlu sedikit
modifikasi dalam penyampaiannya, karena umumnya di Asia pembicaraan soal kematian
masih dianggap sebagai “tabu“, juga karena adanya peran keluarga yang cukup besar dan
berpengaruh. Namun demikian, dalam hal penyampaian berita buruk tetap disarankan untuk
mendengar apa yang diinginkan pasien, dan bukan keinginan keluarga.

MENGAPA PENTING MENGUNGKAPKAN INFORMASI/BERITA BURUK PADA


PASIEN ?

1. Sebagian besar pasien memang ingin mengetahui apa yang sedang terjadi pada
dirinya.

2. Sebagian besar pasien ingin mengetahui kemungkinan apa saja yang bisa terjadi
pada dirinya, termasuk terapi apa saja yang bisa diperoleh, prognosis, dan efek
samping terapi.

3. Ketika perawat menahan informasi dari seorang pasien, berarti perawat tersebut sudah
mengurangi otonomi seorang pasien.

4. Apabila pasien akhirnya mengetahui bahwa ternyata ada informasi yang tidak
diberikan padanya, maka akan hilanglah rasa percayanya pada perawat

5. Menyembunyikan informasi tentang kondisi pasien dan kemungkinan yang dialami

KESULITAN-KESULITAN DALAM MENYAMPAIKAN BERITA BURUK

Ada beberapa hal yang sering dikeluhkan oleh perawat saat harus menyampaikan berita
buruk pada pasien :

1. Bagaimana cara yang tepat untuk bisa jujur pada pasien tanpa mengurangi
harapan mereka?
1
2
2. Bagaimana cara menghadapi dan menangani emosi pasien saat mereka mendengar
berita buruk mengenai dirinya. Apakah saya sanggup ?
3. Kapankah waktu yang tepat untuk menyampaikan berita buruk pada pasien ?
4. Bagaimana memilih metode komunikasi yang tepat bagi pasien sesuai dengan
latar belakang dan kepribadiannya?

Berikut ini adalah 6 (enam) langkah dari Robert Buckman yang bisa digunakan
sebagai pedoman dalam menyampaikan berita buruk pada pasien

PROTOKOL ENAM LANGKAH UNTUK MENYAMPAIKAN BERITA BURUK

1. persiapan
 Pilih ruangan yang menjamin privacy, dan usahakan baik
perawat maupun pasien bisa duduk dalam posisi yang nyaman.
 Tanyakan pada pasien apakah dia menghendaki ada orang
lain yang menemaninya, apakah suami / istri, anak, atau
keluarga lainnya. Biarlah pasien sendiri yang memutuskan.
 Mulailah dengan memberikan pertanyaan seperti: “Bagaimana
perasaan anda sekarang ?“.

(Pertanyaan ini untuk mulai melibatkan pasien dan menunjukkan


pada pasien bahwa percakapan selanjutnya adalah percakapan dua
arah. Pasien tidak hanya mendengarkan perawat bicara).

1
3
2 mencari tahu  Mulailah mengajukan pertanyaan untuk menggali informasi
sebanyak apa dari
informasi yang  pasien supaya anda dapat mulai memahami.
sudah dimiliki  Apakah pasien sudah tahu mengenai penyakitnya/ situasinya.
pasien
Contoh : "Saya menderita kanker paru-paru, dan saya
memerlukan pembedahan".

 Seberapa banyak dia tahu ? Darimana dia tahu ? ("perawat A


mengatakan ada sesuatu kelainan yang ditemukan di foto
roentgen dada saya")
 Tingkat pengetahuan pasien ("sus, saya terkena
Adenocarcinoma T2N0 ")
 Situasi emosional pasien ("Saya takut jangan – jangan saya
terkena kanker, sus … sampai – sampai seminggu ini saya
jadi susah tidur").

Terkadang pasien atau keluarga pasien (orang tua pada pasien


anak) mungkin tidak bisa menjawab atau merespon pertanyaan
anda, dan mungkin memang tidak mengetahui sama sekali
mengenai penyakit mereka.Pada kasus – kasus seperti itu ,
teknik yang bisa digunakan untuk menstimulasi diskusi adalah
dengan menanyakan kembali tentang hal – hal yang sudah mereka
ketahui seperti riwayat penyakit dan hasil pemeriksaan atau hasil
test yang telah dilakukan sebelumnya.

7
3 mencari tahu Penting untuk menanyakan pada pasien seberapa
seberapa
detilinformasi yang ingin didengarnya. Apakah sangat detil, atau
banyakkah
informasi yang hanya gambaran besarnya saja ?
ingin diketahui
pasien Perlu diperhatikan bagaimana cara bertanya, dan
kemungkinan reaksi pasien. (Setiap pasien tidak akan sama bahkan
pada pasien yang sama kemungkinan akan berubah permintaannya
selama dalam satu sesi percakapan).

Beberapa pertanyaan yang sering digunakan pada tahap ini


misalnya :

Bapak/ ibu, bila nanti situasi atau kondisi/ hasil test menunjukkan
sesuatu yang serius, apakah saya bisa memberitahukan pada anda
mengenai masalah tersebut ?

Apakah bapak / ibu ingin saya menjelaskan secara rinci atau


hanya garis besar dari kondisi bapak / ibu sekarang ?

Bapak / Ibu, hasil test anda sudah keluar. Apakah saya bisa
menjelaskan pada bapak / ibu, atau bapak / ibu ingin agar saya
menjelaskan kondisi anda pada keluarga ?

Dll

10
10
4 berbagi  Penting untuk mempersiapkan segala data sebelum
andabertemu dengan pasien.
informasi
 Topik pada tahap ini biasanya adalah mengenai diagnosis,
terapi / penanganan, prognosis, serta dukungan / fasilitas apa
saja yang bisa diperoleh oleh pasien dan keluarganya.
 Berikan informasi dalam potongan kecil, dan pastikan untuk
berhenti menjelaskan (beri jeda di antara potongan –
potongan informasi itu) untuk memastikan bahwa pasien
paham dengan yang kita jelaskan.
 Ingatlah untuk menerjemahkan istilah medis ke dalam bahasa
Indonesia, dan jangan mencoba untuk mengajar patofisiologi
(jelaskan dengan lebih sederhana).
Beberapa contoh bahasa yang bisa digunakan untuk
menyampaikan berita buruk :

 Pak Harun, saya khawatir bahwa kabar yang akan saya


sampaikan ini adalah kabar yang kurang baik. Hasil test anda
ternyata menunjukkan bahwa anda positif terkena HIV.
Jika anda tidak memberikan tanggapan terhadap emosi yang
5 Menanggapi Jika anda tidak memberikan tanggapan terhadap emosi
5
perasaan
Menanggapipaien muncul pada pasien,
yangmuncul pada anda samaanda
pasien, saja seperti
sama “meninggalkan
saja seperti
peraasaan pasien
urusan sebelum urusan
“meninggalkan urusantersebut
sebelumselesai ..”. tersebut
urusan Selain ituselesai
Anda juga
..”.
5. bisa dianggap sebagai seorang perawat yangseorang
tidak perawat
memiliki
Selain itu Anda juga bisa dianggap sebagai
kepedulian pada
yang tidak pasien.kepedulian pada pasien.Kalimat – kalimat
memiliki
yang bisa digunakan pada tahap ini :

Kalimat
Saya –tahu
kalimat yang bisa
bahwa hasildigunakan pada
ini adalah tahap
hasil ini : tidak kita
yang
harapkan….

 Saya tahu bahwa kabar ini adalah kabar yang


 Saya tahu bahwa hasil ini adalah hasil yang tidak kita
tidakmengenakkan….

harapkan….
 Setelah mengetahui hasilnya, kira –kira hal apakah yang bisa
saya bantu ? 11
11
 Saya tahu bahwa kabar ini adalah kabar yang tidak
 dll…..

mengenakkan….
6 perencanaan dan – Pada titik ini Anda perlu mensintesis rasa kekhawatiran pasien
tindak lanjut
dan isu-isu medis ke dalam rencana konkret yang dapat
dilakukan dalam rencana perawatan pasien.

– Buatlah rencana langkah – demi langkah dan Berikan


penjelasan yang lengkap pada pasien tentang apa saja yang
harus dilakukannya pada tiap langkah, dan apa saja yang
mungkin terjadi, dan apa saja yang bisa membantu
mengatasinya bila ternyata muncul hal yang tidak diinginkan.

Berikut adalah mengenai penjelasan prognosis;

– Ada baiknya perawat mencari tahu tentang harapan pasien,


ataupun alasan pertanyaan mereka.
– Hal tersebut bisa dilakukan dengan cara memberikan
pertanyaan.
– Berikut adalah contoh – contoh kalimat ataupun pertanyaan
yang biasa digunakan :
 Jadi, apa sebenarnya yang menjadi kekhawatiran bapak
mengenai pengobatan
 Jadi situasinya memang demikian, Ibu... Tetapi mungkin
masih ada sesuatu yang bisa saya bantu untuk ibu ?...
 Jadi ibu ingin mengetahui tentang berapa
persenkemungkinan putra ibu bisa bertahan ?

12
12
HAL–HAL YANG DIANGGAP PENTING OLEH PASIEN DALAM
PENYAMPAIAN BERITA BURUK

13
13
1. ISI

informasi atau keterangan yang diberikan oleh perawat. Item ini sangat berhubungan
dengan angapan/ kepercayaan pasien terhadap kompetensi perawat di bidangnya, juga tentang
pengetahuan perawat mengenai perkembangan terbaru mengenai penyakit/ kasus mereka.

Pasien dengan pendidikan yang lebih tinggi diketahui lebih banyak mementingkan isi. Pasien
muda, wanita, serta pendidikan tinggi dilaporkan juga menginginkan informasi yang lebih detail
mengenai kondisi penyakit, terapi, serta prognosisnya. Pasien dengan tingkat kecemasan
yang tinggi dan motivasi tinggi untuk menjalankan terapi, juga menginginkan informasi yang
lebih detail.

2. SUPPORT

Yang dimaksud di sini adalah aspek supportif dalam komunikasi perawat. Jadi apakah dalam
penyampaian berita buruk ini perawat bersikap baik, memberi support/ dukungan yang cukup,
dll. Termasuk pula di sini apakah perawat bersedia mengkomunikasikan hal – hal yang
menyangkut diagnosis,prognosis, treatment, dll kepada keluarga atau orang lain, dan juga
menyediakan berbagai informasi yang ingin diketahui pasien. Aspek penting dalam
memberikan support adalah mendengarkan pasien, serta memberikan jawaban atas
pertanyaan yang diajukan oleh pasien.

3. FASILITASI

Yang dimaksud di sini adalah kapan dan di mana informasi diberikan. Apakah dalam ruangan
dengan privacy yang cukup, perawat memperhatikan pasien dengan sungguh – sungguh (tidak
sambil lalu saja). Juga apakah perawat menunggu sampai seluruh hasil diperoleh, sehingga
sudah cukup data untuk menyimpulkan situasi pasien sebelumakhirnya perawat
menyampaikan berita buruk pada pasien.

Diketahui pasien dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi dan pasien muda sangat
mementingkan hal ini.

14
14
4. CARA PENYAMPAIAN

Dalam berkomunikasi dengan pasien, perawat harus memberikan informasi dengan


singkat, jelas, dan jujur sehingga dapat dimengerti oleh pasien. Perlu memperhatikan intonasi
yang lembut, mendengarkan pasien, memberikan support dan meyakinkan pasien dalam
menjalani terapi, tanpa melakukan kontak fisik.

HAL LAIN YANG HARUS DIPERHATIKAN DALAM MENYAMPAIKAN


BERITA BURUK :

Ada banyak faktor yang mempengaruhi cara penerimaan pasien terhadap “berita buruk“. Hal
pribadi, jenis kepribadian, faktor sosial budaya, cara pandang tentang hidup itu sendiri, dll.

Sebelum berkomunikasi dengan pasien, sangat penting bagi seorang perawat untuk
mengenali pasiennya, atau paling tidak mengetahui latar belakang pasiendan keluarganya
sebab dalam hal penerimaan berita buruk, kita tidak bisa mengharapkan reaksi yang sama dari
setiap pasien. Faktor – faktor yang disebutkan di atas memang akan sangat berpengaruh.
Informasi tentang pasien, terutama usia, jenis kelamin, sosial ekonomi dan budaya dapat
diketahui dengan mempelajari rekam medis, sedangkan jenis kepribadian dapat dinilai melalui
interaksi yang dilakukan dengan pasien.

Kehadiran anggota keluarga pasien juga merupakan hal yang harus diperhatikan. Pasien
Asia dilaporkan lebih memilih untuk didampingi oleh anggota keluarga saat menerima berita
buruk daripada pasien dari negara-negara Amerika Utara atau Eropa.

KESALAHAN YANG UMUM DILAKUKAN DALAM MENYAMPAIKAN


BERITA BURUK

15
15
1. Menyampaikan berita buruk bukan di tempat yang menjamin privacy,
misalnya disampaikan di lorong rumah sakit, di pintu IGD, dll.
2. Interupsi / pemberian penjelasan terpotong atau terganggu karena suatu
hal (misalnya menerima atau menjawab telepon, HP berbunyi, ada perawat
meminta tanda tangan, dll).
3. Penyampaian kabar buruk melalui telepon. Hindari hal ini karena perawat
tidak tahu bagaimana situasi dan kondisi pasien saat menerima kabar buruk
tersebut.
4. Perawat terlalu banyak bicara (biasanya karena perawat sendiri merasa tidak
nyaman atau nervous).
5. Efek iatrogenik yaitu berita buruk yang disampaikan memperburuk kondisi
pasien baik secara fisik maupun psikologis atau bahkan menimbulkan
gangguan baru secara fisik atau fisiologis (misalnya, pasien pria mendapat
berita buruk tentang mengidap diabetes melitus, penjelasan tentang akibat
diabates yang salah satunya impotensi menyebabkan pasien cemas sehingga
menjadi impotensi psikogenik).

ROLEPLAY PRINSIP KOMUNUKASI DALAM PERAWATAN PALIATIF DAN


TEKNIK MENYAMPAIKAN BERITA BURUK PADA PASIEN TERMINAL
Kasus
Ny.A usia 45 tahun dirawat di RS Gambiran Kediri karena penyakit Diabetes Melittus
yang tak kunjung sembuh. Penyakit yang dideritanya selama 3 tahun semakin lama semakin
parah. Beliau dibawa ke RS karena beberapa waktu lalu kaki kanannya terkena pecahan kaca
dan lukanya tidak lekas sembuh.
Ny.A sudah dirawat selama dua minggu, Ny.A mendapat perawatan yang baik dari RS.
Namun, Ny.A mengatakan bahwa Beliau sudah bosan dengan penyakit yang dideritanya
selama ini. Ini membuat Ny.A sangat terpukul dan ingin mengakhiri hidupnya. Setelah ditanya
perawat, Ny.A mengatakan bahwa Beliau malu dengan keadaan yang dialami dan beliau
merasa lelah dengan apa yang dihadapinya.

16
16
Ini membuat perawat harus mencari cara agar ny.A tidak lebih terpuruk dengan keadaannya.
Dengan komunikasi terapeutik perawat yakin bahwa Ny.A akan merasa ada yang
memperhatikan dan akan menarik diri untuk tidak memikirkan hal – hal yang kurang baik.
Dengan begitu, perawat menasehati Ny.A sehingga Ny.A mau untuk bersabar dan menerima
keadaan yang beliau alami saat ini.
“ Pada pagi hari seorang ibu paruh baya bernama ibu Ani yang berumur 45 tahun tidur
menyingkur. Dia mempunyai penyakit diabetes mellitus. Beliau merasa hidupnya tidak berguna
lagi dan merasa malu dengan keadaannya saat ini,. Namun, perawat memberi perngertian
bahwa semua penyakit pasti ada obatnya”
Cerita selengkapnya, kita lihat di TKP :
P : Selamat pagi (Perawat berhadapan dengan klien).
Ny. A : Selamat pagi suster….!
P : Perkenalkan, nama saya suster Dwi ( Sambil berjabat tangan). Maaf, apakah benar
ini dengan ibu Ani?
Ny. A : benar, saya ibu Ani.
P : Bagaimana kabar ibu Ani hari ini ? Apakah tidur semalam nyenyak?
Ny. A : Baik suster, dan tidur saya semalam cukup nyenyak.
P : Kalau boleh tahu, kenapa ibu Ani selalu memalingkan muka setiap bertemu
saya? apakah ibu Ani mau bercerita tentang apa yang ada dibenak ibu dengan saya?
Saya akan membantu ibu, jika ibu ada masalah. Saya akan meluangkan waktu
dan saya akan mendengarkan.
Ny. A : begini sus,saya malu dengan keadaan saya saat ini. (menangis)
P : ( Perawat mendengarkan dengan penuh perhatian )
: Kenapa ibu Ani malu dengan keadaan ibu saat ini? ( Perawat menanyakan
pertanya an An y yang berkait untuk mendapatkan informasi yang spesifik ). Bukankah
kemarin saya sudah menjelaskan kepada ibu agar ibu tetap bersabar? InsyaAllah, ibu akan
diberi kesembuhan.

17
17
Ny. A : Pokoknya, saya malu sus, saya ingin mati saja (menangis) saya malu dengan
keadaan saya ini karena saya tidak bisa seperti orang lain yang degan mudah berkumpul
dan saya tidak mau mendapat bantuan apapun….!
P : ibu Ani, saya mengerti apa yang ibu rasakan . Tetapi, Ibu Ani tidak perlu malu
dengan keadaan ibu sendiri, dengan ibu lebih sabar dan tegar ibu pasti akan bisa menjalani
semua ini.( Perawat berusaha mengklarifikasi ). “Ibu Ani pun terdiam sejenak. Lalu
perawat memberikan tambahan informasi untuk memfasilitasi klien dalam mengambil
keputusan”.
P : Ibu Ani, dengan pengobatan yang ibu jalani sekarang dan dengan kesabaran
ibu,itu akan membantu ibu untuk menyembuhkan penyakit ibu. ( Perawat memberikan
kesempatan kepada klien untuk memulai pembicaraan ).
Ny. A : tapi sus,, saya merasa hidup saya sudah tidak berguna lagi. Lihatlah sus, kaki
saya,, (menunjukkan kakinya dan menangis meronta)
P : ibu,, ibu tenang dulu, semua penyakit pasti da obatnya, tapi obat itu tak aka nada
gunanya, jika kita juga tidak berniat dari hati bahwa kita bisa sembuh. Banyak orang diluar
sana yang masih membutuhkan bantuan ibu.
Ny. A : (menghela nafas) baik sus, saya akan berusaha sabar dan tegar, suatu saat nanti
pasti penyakit saya ini akan sembuh.
P : (Perawat memberikan penghargaan dengan tersenyum pada Ibu Ani)
: Keputusan itu sangat baik Ibu Ani, mudah-mudahan anda cepat sembuh dan
dapat beraktifitas seperti biasanya.
Ny. A : Terima kasih sus atas motivasi yang anda berikan.
P : Sama-sama Ibu Ani.
Ny. A : yang terpenting saya akan selalu berdoa untuk kesembuhan saya. Jika nanti
takdir berkata lain, sayasudah siap menerimanya sus.
P : nah, ibu,,, semua itu sudah diatur sama Allah. Dan kita harus bisa menerimanya.
Ny. A : baik sus..
Ibu Ani pun telah menyadari bagaimana keadaan yang dia alami, dan Beliau
berusaha untuk menerimanya.

18
18
Kesimpulan dari role play kali ini adalah untuk menjalin suatu hubungan yang
saling percaya, maka perawat membutuhkan komunikasiYang baik . Komunikasi ini
berguna untuk mengembangkan pribadi klien kearah yang lebih positif atau adaptif dan
diarahkan pada pertumbuhan klien. Padapasien yang mengalami penyakit kronis ini,
perawat harus lebih bisa bersabar untuk menuntun pasien agar keluar dari keadaan yang
bisa menurunkan semangatnya untuk hidup.

19
19
DAFTAR
PUSTAKA

1. Bor R, Miller R, Goldman E, Scher. The meaning of bad news in HIV disease:
counseling about dreaded issues revisited. Counseling Pschol Quarterly. 1993; 6: 69-
80.
2. Baile WF, Buckman R, Lenzi R, Glober G, Beale EA, Kudelka AP. SPIKES- A six
step protocol for Delivering Bad News: Application to the Patient with Cancer. The
Oncologist. 2000; 5:302-311.
3. Fallowfield L,Jenkins V. Communicating sad, bad, and difficult news in medicine.The
Lancet. 2004; 363: 312-319.
4. Vandekieft GK. Breaking Bad News. American Family Physician, Des.2001;
Vol.64 no.12.
5. Dias L, Chabner BA, Lynch TJ, Penson RT. Breaking Bad News: A Patient’s
Perspective. The Oncologist. 2003 Dec 1;8(6):587–96.
6. Tse,CY. Fox,SY. Chong A. Palliat Med, June 2003. vol. 17 no. 4: 339-343.
7. Parker PA, Baile WF, de Moor,C, Lenzi R, Kudelka AP, Cohen L. Breaking Bad News
About Cancer: Patients’ Preferences for Communication. Journal of Clinical Oncology,
Vol 19, Issue 7 (April), 2001: 2049-2056
8. Maramis,W.F., 2009. Catatan Ilmu Keperawatan Jiwa. Surabaya: Airlangga
Universitas Press.
9. Fujimori M, Uchitomi Y. Preferences of Cancer Patients Regarding Communication of
Bad News: A Systematic Literature Review. Jpn J Clin Oncol. 2009 Apr 1;39(4):201–
16.

20
20
21
21