Anda di halaman 1dari 33

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

PT. Petrokimia Gresik merupakan salah satu perusahaan BUMN (Badan

Usaha Milik Negara) yang secara resmi berdiri sejak 10 Juli 1972 yang bergerak

di bidang produksi pupuk dan kimia lainnya. Perusahaan ini merupakan produsen

pupuk urea, NPK (Nitrogen, Posfor dan Kalium), pupuk majemuk, pupuk organik

dan amoniak terbesar di Indonesia dengan kapasitas produksi yang cukup untuk

memenuhi kebutuhan pupuk nasional (Afin, 2015).

PT. Petrokimia Gresik terdiri atas tiga unit produksi, yaitu Unit Produksi I,

Unit Produksi II, dan Unit Produksi III. Pada unit produksi II kebutuhan steam

sebagian besar dipenuhi oleh boiler (B911) Unit Batubara pabrik III. Boiler B911

menyediakan steam untuk keperluan proses di plant pupuk NPK (Nitrogen, Posfor

dan Kalium), pupuk Phonska, dan pupuk ZK (Zwavelzure Kali) atau biasa disebut

pupuk kalium (Afin, 2015).

Boiler adalah bejana tertutup dimana panas pembakaran dialirkan ke air

sampai terbentuk air panas atau steam. Air panas atau steam pada tekanan tertentu

kemudian digunakan untuk mengalirkan panas ke suatu proses. Air adalah media

yang berguna dan murah untuk mengalirkan panas ke suatu proses. Jika air

dididihkan sampai menjadi steam, volumenya akan meningkat sekitar 1.600 kali,

menghasilkan tenaga yang menyerupai bubuk mesiu yang mudah meledak,

sehingga boiler merupakan peralatan yang harus dikelola dan dijaga dengan

sangat baik (UNEP 2004).

1
Untuk kelancaran dan keamanan proses produksi, perlu dilakukan evaluasi

kerja boiler secara periodik. Ditinjau dari aspek keselamatan kerja, boiler yang

dioperasikan dapat menimbulkan bahaya yang tidak diinginkan seperti ledakan,

bahaya kebakaran, ataupun yang sifatnya merugikan. Oleh karena itu boiler sangat

penting untuk dilakukan evaluasi agar dapat terjaga kelayakannya dan dapat

terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Selain itu, evaluasi juga sangat

penting untuk membuat boiler menjadi awet dan menjaga efisiensi yang akan

berpengaruh terhadap penurunan kinerja proses.

Evaluasi ini dilakukan dengan perhitungan efisiensi termal boiler dan alat-

alat pendukungnya. Menurut Heibonsha Encyclopedia, definisi dari efisiensi

termal merupakan kinerja berdimensi dari perangkat yang menggunakan energi

panas, seperti mesin pembakaran internal, turbin uap atau mesin uap, ketel uap,

tungku, dan sebagainya. Dasar dari perhitungan tersebut adalah neraca massa dan

neraca panas dari masing-masing alat tersebut.

1.2 Rumusan Masalah

Bagaimana evaluasi kinerja pada boiler (B911) yang dilakukan dengan cara

penghitungan efisiensi?

1.3 Ruang Lingkup Kegiatan

Kegiatan ini akan dilakukan selama dua bulan dari 01 Maret 2020 sampai

dengan 30 April 2020 di perusahaan PT. Petrokimia Gresik. Berdasarkan latar

belakang yang telah diuraikan, maka yang menjadi ruang lingkup kerja adalah

sebagai berikut :

2
a. Observasi dan pengambilan data boiler pada PT. Petrokimia Gresik

Unit Produksi III

b. Pembahasan dan perhitungan efisiensi boiler yang difokuskan untuk

mengetahui kelayakan dari boiler tersebut.

1.4 Tujuan

Mengetahui kelayakan (efisiensi) kerja boiler sebagai alat penghasil steam.

1.5 Manfaat

1. Bagi perusahaan, hasil evaluasi yang diperoleh berguna sebagai

rekomendasi untuk unit produksi tentang kelayakan kerja boiler dan

rangkaiannya.

2. Bagi mahasiswa, dapat lebih memahami kondisi dalam dunia kerja secara

lebih mendalam sehingga diharapkan mampu menerapkan ilmu dan

pengalaman yang didapatkan.

3. Sebagai bahan referensi bagi yang ingin meneliti tentang evaluasi kinerja

boiler.

3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teori Umum Uap

Uap atau steam merupakan gas yang dihasilkan dari proses yang disebut

penguapan. Bahan baku yang digunakan untuk menghasilkan steam adalah air

bersih. Air dari water treatment yang telah diproses dialirkan menggunakan

pompa ke deaerator tank hingga pada level yang telah ditentukan. Pemanasan

dalam deaerator adalah dengan menggunakan steam sisa yang berasal dari hasil

pemutar turbin.

Dengan meningkatnya suhu dan air telah mendekati kondisi didihnya,

beberapa molekul mendapatkan energi kinetik yang cukup untuk mencapai

kecepatan yang membuatnya lepas dari cairan ke ruang diatas permukaan,

sebelum jatuh kembali ke cairan. Pemanasan lebih lanjut menyebabkan eksitasi

lebih besar dan sejumlah molekul dengan energi cukup untuk meninggalkan

cairan jadi meningkat. Dengan mempertimbangkan struktur molekul cairan dan

uap, dapat diambil kesimpulan bahwa densitas steam lebih kecil dari air, sebab

molekul steam terpisah jauh satu dangan yang lain. Ruang yang secara tiba-tiba

terjadi diatas permukaan air menjadi terisi dengan molekul steam yang padat.

Dalam hal ini pebakaran air dalam boiler adalah air yang melalui

deaerator yang telah melalui pemanasan didalamnya yang dialirkan ke drum

boiler (penampung steam) dan kemudian disuplai kedalam boiler untuk

dipanaskan lebih lanjut sehingga menjadi steam basah. Suhu didalam boiler ini

adalah sekitar 400-459oC. Setelah proses yang tejadi di dalam boiler ini, aliran

4
steam dilanjutkan ke superheater untuk menjadikan uap kering, suhu steam saat

itu sekitar 520-600oC dan siap disalurkan untuk memutar turbin.

Jika jumlah molekul yang meninggalkan permukaan cairan lebih besar dari

yang masuk kembali, maka air akan menguap dengan bebas. Pada keadaan ini air

telah mencapai titik didihnya atau suhu jenuhnya, yang dijenuhkan oleh energi

panas. Jika tekananya tetap, penambahan lebih banyak panas tidak mengakibatkan

kenaikan suhu lebih lanjut namun menyebabkan air akan membentuk steam jenuh.

Pada tekanan atmosfir suhu jenuh air adalah 100oC, tetapi jika tekananya

bertambah maka akan ada penambahan lebih banyak panas dan peningkatan suhu

tanpa perubahan fase. Oleh karena itu, kenaikan tekanan secara efektif akan

meningkatkan entalpi air dan suhu jenuhnya. Hubungan antara suhu jenuh dan

tekanan dikenal sebagai kurva steam jenuh.

Gambar 2.1. Kurva Steam Jenuh

Air dan steam dapat berada secara bersamaan pada berbagai tekanan dalam

kurva ini, keduanya akan berada pada suhu jenuh. Steam pada kondisi diatas

kurva jenuh dikenal dengan superheated steam (steam lewat jenuh), sedangkan air

yang berada pada kondisi dibawah kurva disebut air sub-jenuh.

Jika steam mengalir dari boiler pada kecepatan yang sama dengan yang

5
dihasilkanya, penambahan panas lebih lanjut akan meningkatkan laju

produksinya. Jika steam yang sama tertahan tidak meningalkan boiler, dan jumlah

panas yang masuk dijaga tetap, energi yang mengalir ke boiler akan lebih besar

daripada energi yang mengalir keluar. Energi yang berlebih ini akan menaikan

tekanan, yang pada giliranya akan menyebabkan suhu jenuh meningkat, karena

suhu steam jenuh berhubungan dengan tekananya (Rasyida 2014).

Pada perusahaan PT. Petrokimia Gresik, terdapat unit penyedia steam yaitu 2

steam generator diantaranya:

1. Existing Boiler

2. Waste Heat Boiler

Pada operasi normal menghasilkan steam sekitar 55 – 65 ton per jam dengan

kondisi operasi P : 62 kg/cm2g dan T : 460 0 C. Steam yang dihasilkan dikirim ke

amoniak plant, ZA plant, urea plant, dan petronika (Afin, 2015).

2.2 Ketel Uap (Boiler)

Ketel uap atau boiler didefinisikan sebagai suatu alat yang dapat

menghasilkan uap untuk digunakan di luar alat tersebut. Disamping boiler,

terdapat alat yang dapat menghasilkan uap, dimana uap tersebut digunakan untuk

memanaskan produk di dalamnya, yaitu autoclave. Uap yang dihasilkan oleh ketel

uap diperoleh dari memanaskan air hingga mendidih, berubah menjadi uap yang

bertemperatur dan bertekanan tinggi. Uap tersebut dimanfaatkan panas dan

tekanannya untuk berbagai keperluan. Uap ini dapat digunakan untuk pemanasan

pada berbagai industri kimia, tekstil, makanan, hotel dll. Uap bertekanan tinggi ini

6
dapat digunakan untuk penggerak turbin, untuk pembangkit listrik, transportasi

maupun penggerak mesin-mesin lainnya.

Mengingat luasnya penggunaan ketel, jenisnya pun sangat banyak, sehingga

tidak dapat diklasifikasikan secara sederhana. Boiler dirancang dan dibuat seseuai

dengan kebutuhan dan kegunaannya. Dengan kemajuan teknik produksi, material,

kontrol dan berbagai teknologi pendukung lainnya, desain boiler juga turut

berkembang. Semakin tinggi temperatur boiler, semakin tinggi tekanannya,

temperatur gas asapnya juga semakin tinggi, sehingga kerugiannya dalam hal

penggunaan alatnya pun juga semakin tinggi. Akan tetapi kerugian juga bisa

dikurangi dengan peningkatan kapasitas. Kapasitas ketel ditentukan oleh laju

perpindahan panas dari nyala dan gas asap ke air atau uap. Sedangkan laju

perpindahan panas pada bolier bergatung pada beda temperatur antara api/gas

asap dan air/uap, luas permukaan perpindahan panas dan koefisien perpindahan

panas keseluruhan.

Keuntungan penggunaan tekanan tinggi adalah mengurangi ukuran fisik

ketel untuk kapasitas pengangkutan panas yang sama. Hal ini karena kenaikan

densitas uap, akibat kenaikan tekanan. Tekanan tinggi juga diperlukan bila uap

digunakan untuk pembangkit. Diantara klasifikasi yang paling relevan untuk

kondisi saat ini adalah berdasarkan konstruksi, karena cara ini relatif dapat

mewakili jenis klasifikasi lainnya (Haryadi, 2010).

7
2.3 Bagian-bagian boiler

Gambar 2.2 Bagian-bagian Boiler


Sumber: (Baharuddin, Imam. 2014)

2.2.1 Baharuddin menyebutkan Main Equipment (Komponen Utama) pada boiler

sebagai berikut:

1. Ruang Bakar (Furnace), yaitu tempat terjadinya pembakaran ampas dan

minyak atau bahan bakar yang lain. Suhu di dalam ruang bakar berkisar

600oC tergantung dari zat kering bahan bakar. Untuk mendapatkan suhu

ruang bakar yang tinggi perlu pengaturan dari udara hembus dan umpan

bahan bakar. Untuk pembuangan abu masing-masing ketel menggunakan

dumping grade, dan langsung di gorek agar tidak mengganggu proses

pembakaran.

8
2. Pengumpan (Baggase Feeder), digunakan sebagai pengumpan ampas agar

masuknya ampas ke dalam ruang bakar secara kontinu dan merata.

pemasukan ampas menggunakan rotary valve dengan mengatur bukaan

pintu ampas.

3. Main steam drum, sebagai tempat masuk air dan sirkulasi air panas karena

pembakaran sehingga terbentuk uap.

4. Super heater, digunakan untuk mengubah uap kenyang menjadi uap kering

dengan temperatur 325oC karena uap yang mengandung air akan berbahaya

bagi turbin. Cara kerjanya yaitu uap yang keluar dari upper drum ketel

dimasukkan ke dalam pipa-pipa yang kemudian masuk ke dalam ruang

bakar dan uap berubah menjadi uap kering.

5. Penangkap debu (Dust collector), fungsinya sebagai penangkap debu

sebelum gas asap keluar dari cerobong agar tidak terjadi polusi udara

di lingkungan. Ketel pipa air menggunakan penangkap debu yaitu

dengan cara dispray dengan air. Gas sisa pembakaran ditarik IDF,

sehingga terjadi pusaran di spray dengan air disekelilingnya. Butiran-

butiran abu yang halus akan jatuh ke talang bersama air lalu ke

penampung abu.

6. Economizer, adalah piranti yang digunakan untuk memanaskan air umpan

dengan memanfaatkan panas dari gas asap sebelum masuk ke cerobong.

7. Oil burner, sebagai pembakaran tambahan dalam ketel dengan residu.

(dalam Peningkatan Efisiensi Boiler dengan Menggunakan Economizer,

2014).

9
2.2.2 Auxiliary Equipment (Komponen Bantu)

1. Force Draft Fan (FDF), berfungsi sebagai penghembus campuran uap

bahan bakar dan gas-gas dan udara di dalam ruang bakar.

2. Induce Draft Fan (IDF), berfungsi untuk membuang atau menghisap gas-

gas berikut campuran uap bahan bakar dan udara yang terdapat di dalam

ruang bakar.

3. Valves, control, dan instrument, sebagai instrumen pengaman serta control

terhadap tekanan, temperatur, level air dsb. (Baharuddin, Imam. 2014).

2.2.3 Balance of Boiler (Komponen Penyeimbang Boiler)

1. Deaerator, merupakan pemisah gas-gas terlarut dalam air (O2) dan

memanaskan air umpan boiler sebelum dibakar di dalam boiler.

2. Feed water heater, merupakan sistem pemanasan awal pada air pengisi

ketel.

3. Blowdown system, Blowdown kontinyu yang tidak terkendali sangatlah sia-

sia. Pengendalian blowdown otomatis dapat terpasang yang merupakan

sensor dan merespon pada konduktivitas air boiler dan pH. Blowdown 10 %

dalam boiler 15 Kg/cm² menghasilkan kehilangan efisiensi 3%.

(Baharuddin, Imam. 2014).

2.4 Efisiensi Ketel Uap yang Baik

Berikut ini adalah esensi dari ketel uap yang baik (Anonim, 2012)

1. Harus menghasilkan kuantitas maksimum uap dengan bahan bakar yang

diberikan.
10
2. Harus ekonomis ketika dipasang, dan menghendaki sedikit perhatian ketika

beroperasi.

3. Harus secara cepat bisa memenuhi beban yang berfluktuasi.

4. Harus bisa distarter dengan cepat.

5. Beratnya harus ringan.

6. Harus menempati ruang yang kecil.

7. Sambungan harus sesedikit mungkin dan bisa dinspeksi.

8. Lumpur atau endapan lainnya tidak boleh mengumpul pada pelat pemanas.

9. Tube tidak boleh mengakumulasi jelaga atau kotoran air, dan harus mempunyai

toleransi ketebalan untuk keausan dan korosi.

10. Rangkaian air dan gas asap harus didesain supaya bisa memberikan kecepatan

fluida maksimum tanpa mengakibatkan kerugian gesek yang besar.

2.5 Pemilihan Ketel Uap

Haryadi menyebutkan pemilihan jenis dan ukuran ketel uap tergantung pada

faktor-faktor berikut:

1. Daya yang diperlukan dan tekanan kerja.

2. Posisi geografi dari power house (sumber tenaga).

3. Ketersediaan bahan bakar dan air.

4. Kemungkinan stasiun permanen.

5. Faktor beban yang mungkin. (dalam Boiler dan Turbin, 2010).


11
2.6 Klasifikasi Ketel Uap

Ada banyak klasifikasi ketel uap, berikut ini diberikan beberapa klasifikasi ketel

uap yang penting.

2.5.1 Isi pipa/ tube

1. Pipa api atau pipa asap

Gambar 2.3 Fire tube boiler


Sumber: (Anonim Desember, 2012)

Pada ketel pipa api, nyala api dan gas panas yang dihasilkan

pembakaran, mengalir melalui pipa yang dikelilingi oleh air. Panas

dikonduksikan melalui dinding pipa dari gas panas ke air di sekeliling pipa

tersebut. Contoh ketel uap pipa air sederhana: ketel vertikal sederhana, ketel

Cochran, ketel Lanchasire, ketel Cornish, kete Scotch marine, ketel

lokomotif dan ketel Velcon.

12
2. Pipa air

Pada ketel pipa air, air dimasukkan ke dalam pipa dimana pipa dikelilingi

oleh nyala api dan gas panas dari luar. Contoh ketel jenis ini: ketel Babcock

dan Wilcox, ketel Stirling, ketel La-Mont, ketel Benson, ketel Yarrow dan

ketel Loeffler.

Gambar 2.4 Water tube boiler


Sumber: (Anonim Desember, 2012)

2.5.2 Berdasarkan posisi dapur pembakar.

1. Dibakar di dalam

Pada ketel uap dibakar di dalam, dapur diletakkan di dalam kulit boiler.

Sebagaian besar ketel pipa api mempunyai jenis ini.

2. Dibakar di luar

Pada ketel uap dibakar di luar, dapur disusun dibawah susunan bata. Ketel

pipa air selalu dibakar di luar.

13
2.5.3 Berdasarkan sumbu kulit/ shell

1. Vertikal, pada ketel uap vertikal, sumbu shell vertikal.

2. Horizontal, pada jenis horisontal sumbu shell-nya horizontal.

2.5.4 Berdasarkan jumlah pipa

1. Pipa tunggal. Pada ketel uap pipa tunggal, hanya ada satu buah pipa api

atau pipa air. Ketel vertical sederhana dan ketel Cornish adalah jenis ketel

pipa tunggal.

2. Pipa banyak. Pada ketel pipa banyak, ada dua atau lebih pipa api atau pipa

air.

2.5.5 Berdasarkan metode sirkulasi air dan uap

1. Sirkulasi alami

Pada ketel dengan sirkulasi alami, sirkulasi air adalah dengan arus

konveksi alami/natural, dimana dihasilkan karena pemanasan air.

2. Sirkulasi paksa

Pada ketel uap dengan sirkulasi paksa, ada sirkulasi paksa pada air dengan

memakai penggerak pompa. Penggunaan sirkulasi paksa dilakukan pada

ketel seperti ketel La-Mont, ketel Benson, ketel Loefler dan ketel Velcon.

2.5.6 Berdasarkan penggunaannya

1. Stasioner

Ketel uap stasioner digunakan di pusat pembangkit tenaga, dan di industri

proses. Ketel ini disebut stasioner karena ketel tidak berpindah dari satu ke

tempat lainnya.

14
2. Mobil (bergerak)

Ketel uap mobil adalah ketel yang bergerak dari satu tempat ke tempat

lainnya. Ketel jenis ini seperti ketel lokomotif dan ketel marine.

2.5.7 Berdasarkan sumber panas

Sumber panas bisa berupa pembakaran bahan bakar padat, cair atau gas,

gas sisa panas yang dihasilkan dari proses kimia, energi listrik atau energi

nuklir.

2.7 Evaluasi Kinerja Boiler

Beberapa faktor yang mempengaruhi kinerja boiler adalah:

1. Efisiensi boiler

2. Rasio penguapan/ evaporation ratio

3. Pengerakan pada permukaan transfer panas

4. Perawatan yang kurang baik

5. Kualitas dan kandungan air bahan bakar

Uji efisiensi boiler dapat membantu dalam menemukan penyimpangan

efisiensi boiler dari efisiensi terbaik dan target area permasalahan untuk

tindakan perbaikan (Winanti.W,S dan T, Prayudi. 2006).

2.6.1 Neraca Panas

Proses pembakaran dalam boiler dapat digambarkan dalam bentuk diagram

alir energi. Diagram ini menggambarkan secara grafis tentang bagaimana energi

masuk dari bahan bakar diubah menjadi aliran energi dengan berbagai kegunaan

15
dan menjadi aliran kehilangan panas dan energi. Panah tebal menunjukan jumlah

energi yang dikandung dalam aliran masing- masing.

Gambar 2.5 Diagram neraca energi boile


Sumber: (Winanti.W,S dan T, Prayudi. 2006)

Neraca panas merupakan keseimbangan energi total yang masuk boiler

terhadap yang meninggalkan boiler dalam bentuk yang berbeda. Gambar berikut

memberikan gambaran berbagai kehilangan yang terjadi untuk pembangkitan

steam.

16
Gambar 2.6 Kehilangan pada Boiler yang Berbahan Bakar Batubara
Sumber: (Winanti.W,S dan T, Prayudi. 2006)

Kehilangan energi dapat dibagi kedalam kehilangan yang tidak atau dapat

dihindarkan. Tujuan dari Produksi Bersih dan/atau pengkajian energi harus

mengurangi kehilangan yang dapat dihindari, dengan meningkatkan efisiensi

energi. Kehilangan berikut dapat dihindari atau dikurangi:

1) Kehilangan gas cerobong:

a. Udara berlebih (diturunkan hingga ke nilai minimum yang tergantung dari

teknologi burner, operasi (kontrol), dan pemeliharaan).

b. Suhu gas cerobong (diturunkan dengan mengoptimalkan perawatan

(pembersihan), beban; burner yang lebih baik dan teknologi boiler).

2) Kehilangan karena bahan bakar yang tidak terbakar dalam cerobong dan

abu (mengoptimalkan operasi dan pemeliharaan; teknologi burner yang lebih

baik).

3) Kehilangan dari blowdown (pengolahan air umpan segar, daur ulang

kondensat)

4) Kehilangan kondensat (manfaatkan sebanyak mungkin kondensat)

17
5) Kehilangan konveksi dan radiasi (dikurangi dengan isolasi boiler yang lebih

baik)

2.6.2 Pembagian Udara Boiler

Udara pembakaran pada ketel uap dapat dibagi dalam 3 (tiga) kategori

menurut Buchoro tahun 2006 yaitu :

1. Udara primer

Udara ini masuk melalui pintu udara dan celah – celah fire gripe.

Digunakan untuk penguapan bahan bakar.

2. Udara sekunder

Udara yang masuk melalui sekeliling lubang angin / udara. Udara ini dapat

juga terjadi secara disengaja maupun karena adanya kebocoran di sekitar fire

gripe.

3. Udara Tersier

Udara ini masuk melalui bagian – bagian pada dinding dapur sisi depan,

samping atau belakang dengan dibuatkan lubang – lubang kecil. Ada juga

yang ditempatkan pada daerah dimana lidah api mulai membalik.

2.6.3 Perpindahan Panas (Heat Transfer)

Perpindahan panas adalah ilmu yang mempelajari tentang laju perpindahan

panas diantara material/ benda karena adanya perbedaan suhu (panas dan dingin).

Panas akan mengalir dari tempat yang suhunya tinggi ke tempat yang suhunya

lebih rendah. (Buchori, Luqman. 2006).

18
1) Kegunaan Ilmu Perpindahan Panas

a. Untuk merencanakan alat-alat penukar panas (heat exchanger).

b. Untuk menghitung kebutuhan media pemanas / pendingin pada suatu

reboiler atau kondensor dalam kolom destilasi.

c. Untuk perhitungan furnance/ dapur Radiasi

d. Untuk perancangan ketel uap/ boiler.

e. Untuk perancangan alat – alat penguap (evaporator).

f. Untuk perancangan reaktor kimia

Eksotermis Butuh pendingin

Endotermis Butuh pemanas

2) Mekanisme Perpindahan Panas

1. Konduksi

Konduksi adalah proses perpindahan panas jika panas mengalir dari

tempat yang suhunya tinggi ke tempat yang suhunya lebih rendah, dengan

media penghantar panas tetap.

2. Konveksi

Konveksi adalah perpindahan panas yang terjadi antara permukaan

padat dengan fluida yang mengalir di sekitarnya, dengan menggunakan

media penghantar berupa fluida (cairan / gas).

Buchori menyebutkan macam – macam konveksi antara lain:

a) Konveksi bebas/ konveksi alamiah (free convection/ natural

convection)

19
Perpindahan panas yang disebabkan oleh beda suhu dan beda rapat saja

dan tidak ada tenaga dari luar yang mendorongnya. Contoh : Plat panas

dibiarkan berada di udara sekitar tanpa ada sumber gerakan dari luar.

b) Konveksi paksaan (forced convection)

Perpindahan panas aliran gas atau cairan yang disebabkan adanya tenaga

dari luar. Contoh : Plat panas dihembus udara dengan kipas / blower.

c) Radiasi

Radiasi adalah perpindahan panas yang terjadi karena pancaran / sinaran /

radiasi gelombang elektromagnetik, tanpa memerlukan media perantara.

(dalam Perpindahan Panas/ Heat Transfer, 2006).

2.6.4 Konduktivitas Thermal (Daya Hantar Panas)

Konduktivitas Thermal (Daya Hantar Panas) adalah sifat bahan yang

menunjukkan seberapa cepat bahan itu dapat menghantarkan panas konduksi.

Pada umumnya nilai k dianggap tetap, namun sebenarnya nilai k dipengaruhi oleh

suhu (T).

Konduktor bahan yang mempunyai konduktivitas yang baik.

Contoh : plat besi

Isolator bahan yang mempunyai konduktivitas yang

kurang baik. Contoh : batu bata tahan api

20
2.8 Efisiensi Boiler

Efisiensi termis boiler didefinisikan sebagai “persen energi (panas) masuk

yang digunakan secara efektif pada steam yang dihasilkan.”

Terdapat dua metode pengkajian efisiensi boiler menurut UNEP, 2004:

1. Metode Langsung: energi yang didapat dari fluida kerja (air dan steam)

dibandingkan dengan energi yang terkandung dalam bahan bakar boiler.

Metodologi :

Dikenal juga sebagai ‘metode input-output’ karena kenyataan bahwa metode

ini hanya memerlukan keluaran/ output (steam) dan panas masuk/ input

(bahan bakar) untuk evaluasi efisiensi. Efisiensi ini dapat dievaluasi dengan

menggunakan rumus:

Panas Masuk
Efisiensi Boiler (Ƞ) = x 100..…………………………….…....(3)
Panas Keluar

Q x (hg – hf)
Efisiensi Boiler (Ƞ) = x 100.……………………………….….(4)
q x GCV

Parameter yang dipantau untuk perhitungan efisiensi boiler dengan

metode langsung adalah:

a) Jumlah steam yang dihasilkan per jam (Q) dalam kg/jam

b) Jumlah bahan bakar yang digunakan per jam (q) dalam kg/jam

c) Tekanan kerja (dalam kg/cm2(g)) dan suhu lewat panas (oC), jika ada

21
d) Suhu air umpan (oC)

e) Jenis bahan bakar dan nilai panas kotor bahan bakar atau Gross Calorific

Value (GCV) dalam kkal/kg bahan bakar

Dimana:

hg – Entalpi steam jenuh dalam kkal/kg steam

hf – Entalpi air umpan dalam kkal/kg air

a. Keuntungan metode langsung

1. Pekerja pabrik dapat dengan cepat mengevaluasi efisiensi boiler

2. Memerlukan sedikit parameter untuk perhitungan

3. Memerlukan sedikit instrumen untuk pemantauan

4. Mudah membandingkan rasio penguapan dengan data benchmark

b. Kerugian metode langsung

1. Tidak memberikan petunjuk kepada operator tentang penyebab dari

efisiensi sistim yang lebih rendah

2. Tidak menghitung berbagai kehilangan yang berpengaruh pada

berbagai tingkat efisiensi

2. Metode Tidak Langsung: efisiensi merupakan perbedaan antara kehilangan

dan energi yang masuk.

Metodologi :

Standar acuan untuk Uji Boiler di Tempat dengan menggunakan metode tidak

langsung adalah British Standard, BS 845:1987 dan USA Standard ASME

PTC-4-1 Power Test Code Steam Generating Units.

22
Metode tidak langsung juga dikenal dengan metode kehilangan panas.

Efisiensi dapat dihitung dengan mengurangkan bagian kehilangan panas dari 100

sebagai berikut:

Efisiensi boiler (Ƞ) = 100 - (i + ii + iii + iv + v + vi + vii)………………...…….(5)

Dimana kehilangan yang terjadi dalam boiler adalah kehilangan panas yang

diakibatkan oleh:

i. Gas cerobong yang kering

ii. Penguapan air yang terbentuk karena H2 dalam bahan bakar

iii. Penguapan kadar air dalam bahan bakar

iv. Adanya kadar air dalam udara pembakaran

v. Bahan bakar yang tidak terbakar dalam abu terbang/ fly ash

vi. Bahan bakar yang tidak terbakar dalam abu bawah/ bottom ash

vii. Radiasi dan kehilangan lain yang tidak terhitung

Kehilangan yang diakibatkan oleh kadar air dalam bahan bakar dan yang

disebabkan oleh pembakaran hidrogen tergantung pada bahan bakar, dan tidak

dapat dikendalikan oleh perancangan.

Data yang diperlukan untuk perhitungan efisiensi boiler dengan

menggunakan metode tidak langsung adalah:

1. Analisis ultimate bahan bakar (H2, O2, S, C, kadar air, kadar abu)

2. Persentase oksigen atau CO2 dalam gas buang

23
3. Suhu gas buang dalam oC (Tf)

4. Suhu ambien dalam oC (Ta) dan kelembaban udara dalam kg/kg udara kering

5. GCV bahan bakar dalam kkal/kg

6. Persentase bahan yang dapat terbakar dalam abu (untuk bahan bakar padat)

7. GCV abu dalam kkal/kg (untuk bahan bakar padat)

Prosedur rinci untuk perhitungan efisiensi boiler menggunakan metode tidak

langsung diberikan dibawah. Biasanya, manager energi di industri lebih menyukai

prosedur perhitungan yang lebih sederhana.

Tahap 1: Menghitung kebutuhan udara teoritis

= [(11,43 x C) + {34,5 x (H2 – O2/8)} + (4,32 x S)]/100 kg/kg bahan bakar...(6)

Tahap 2: Menghitung persen kelebihan udara yang dipasok (EA)

Persen O2 x 100
= ……………………………….………..……………...…..(7)
(21 - Persen O2)

Tahap 3: Menghitung massa udara sebenarnya yang dipasok/ kg bahan bakar

(AAS)

= {1 + EA/100} x udara teoritis ……………………………………….……..(8)

Tahap 4: Memperkirakan seluruh kehilangan panas

i. Persentase kehilangan panas yang diakibatkan oeh gas buang yang kering

24
m x Cp x (Tf - Ta) x 100
= …………...………………………..………..……..(9)
2,25 x 3200 x 1000

Dimana, m = massa gas buang kering dalam kg/kg bahan bakar

m = (massa hasil pembakaran kering / kg bahan bakar)

+ (massa N2 dalam bahan bakar pada basis 1 kg)

+ (massa N2 dalam massa udara pasokan yang

sebenarnya).

Cp = Panas jenis gas buang (0,23 kkal/kg )

ii. Persen kehilangan panas karena penguapan air yang terbentuk karena adanya

H2 dalam bahan bakar

9 x H2 {584 + Cp (Tf - Ta)} x 100


= ……...……………………………..…..(10)
GCV bahan bakar

Dimana, H2 = persen H2 dalam 1 kg bahan bakar

Cp = panas jenis steam lewat jenuh/superheated steam (0,45 kkal/kg)

iii. Persen kehilangan panas karena penguapan kadar air dalam bahan bakar

M {584 + Cp (Tf - Ta)} x 100


= ………...............................................................(11)
GCV bahan bakar

Dimana, M = persen kadar air dalam 1 kg bahan bakar

Cp = panas jenis steam lewat jenuh/ superheated steam (0,45 kkal/kg)

iv. Persen kehilangan panas karena kadar air dalam udara

AAS x faktor kelembabab x Cp (Tf-Ta)} x 100


= ….............………………….(12)
GCV bahan bakar

Dimana, Cp = panas jenis steam lewat jenuh/superheated steam (0,45 kkal/kg)


25
v. Persen kehilangan panas karena bahan bakar yang tidak terbakar dalam abu

terbang/ fly ash

Total abu terkumpul per kg bahan bakar yg terbakar x GCV abu terbang x 100
=
GCV bahan bakar

……………………………………………………….…………………(13)

vi. Persen kehilangan panas karena bahan bakar yang tidak terbakar dalam abu

bawah/ bottom ash

Total abu terkumpul per Kg bahan bakar yg terbakar x GCV abu bawah x 100
=
GCV bahan bakar
…………………………………………………………….…………….(14)

vii. Persen kehilangan panas karena radiasi dan kehilangan lain yang tidak

terhitung

Kehilangan radiasi dan konveksi aktual sulit dikaji sebab daya emisifitas

permukaan yang beraneka ragam, kemiringan, pola aliran udara, dll. Pada

boiler yang relatif kecil, dengan kapasitas 10 MW, kehilangan radiasi dan yang

tidak terhitung dapat mencapai 1 hingga 2 persen nilai kalor kotor bahan bakar,

sementara pada boiler 500 MW nilainya 0,2 hingga 1 persen. Kehilangan dapat

diasumsikan secara tepat tergantung pada kondisi permukaan.

Tahap 5: Menghitung efisiensi boiler dan rasio penguapan boiler

Efisiensi boiler (n) = 100 - (i + ii + iii + iv + v + vi + vii)…………………..(15)

Rasio Penguapan = Panas yang digunakan untuk pembangkitan steam/ panas

yang ditambahkan ke steam

26
Rasio penguapan yaitu kilogram steam yang dihasilkan per kilogram bahan

bakar yang digunakan. Contohnya adalah:

1. Boiler berbahan bakar batubara: 6 (yaitu 1 kg batubara dapat menghasilkan

6 kg steam)

2. Boiler berbahan bakar minyak: 13 (yaitu 1 kg batubara dapat menghasilkan

13 kg steam)

Walau demikian, rasio penguapan akan tergantung pada jenis boiler, nilai kalor

bahan bakar dan efisiensi.

Winanti menyebutkan keuntungan dan kerugian pada metode tidak langsung,

diantaranya:

a. Keuntungan metode tidak langsung

Dapat diketahui neraca bahan dan energi yang lengkap untuk setiap aliran,

yang dapat memudahkan dalam mengidentifikasi opsi-opsi untuk

meningkatkan efisiensi boiler.

b. Kerugian metode tidak langsung

1) Perlu waktu lama

2) Memerlukan fasilitas laboratorium untuk analisis. (dalam Perhitungan

Efisiensi Boiler pada Industri Tepung Terigu, 2006).

27
BAB III METODE PELAKSANAAN

3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Pelaksanaan kerja praktek lapangan ini akan berlangsung selama dua bulan,

yaitu pada tanggal 1 Maret 2020 sampai dengan 30 April 2020 di PT. Petrokimia

Gresik, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.

3.2 Teknik Pengumpulan Data

Evaluasi kinerja boiler dilakukan dengan pengambilan data lapangan secara

langsung, data analisis laboratorium dan/atau pengambilan data operasi boiler,

baik data harian, mingguan maupun bulanan. Data-data tersebut kemudian dipakai

untuk melakukan perhitungan efisiensi boiler, baik secara langsung maupun tidak

langsung menggunakan persamaa-persamaan yang telah dijabarkan. Kemudian

dilakukan analisis hasil perhitungan untuk menentukan kinerja boiler dan untuk

memberikan rekomendasi untuk perbaikan kinerja boiler.

Adapun data yang diperlukan adalah:

1). Untuk perhitungan metode langsung

a. Jumlah steam yang dihasilkan per jam (Q) dalam kg/jam

b. Jumlah bahan bakar yang digunakan per jam (q) dalam kg/jam

c. Tekanan kerja (dalam kg/cm2(g)) dan suhu lewat panas (oC), jika ada

d. Suhu air umpan (oC)

e. Jenis bahan bakar dan nilai panas kotor bahan bakar (GCV) dalam kkal/kg.

2). Untuk perhitungan metode tidak langsung

a. Analisis ultimate bahan bakar (H2, O2, S, C, kadar air, kadar abu)

28
b. Persentase oksigen atau CO2 dalam gas buang

c. Suhu gas buang dalam oC (Tf)

d. Suhu ambien dalam oC (Ta) dan kelembaban udara dalam kg/kg udara

kering

e. GCV bahan bakar dalam kkal/kg

f. Persentase bahan yang dapat terbakar dalam abu (untuk bahan bakar padat)

g. GCV abu dalam kkal/kg (untuk bahan bakar padat)

3.3 Teknik Pengolahan Data

Tahapan-tahapan yang dilakukan dalam menganalisis dan menghitung data

efisiensi Boiler adalah sebagai berikut:

29
PENGAMBILAN DATA
Baik pengukuran lapangan secara langsung, data analisis
laboratorium dan/atau pengambilan data operasi boiler, baik data
harian, mingguan maupun bulanan

PERHITUNGAN NERACA MASSA DAN


NERACA PANAS BOILER
BOILER DAN RANGKAIANNYA

PENGHITUNGAN EFISIENSI

METODE LANGSUNG METODE TIDAK


LANGSUNG

HASIL

PENYUSUNAN PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN

TENTANG BOILER

Gambar 3.1 Diagram Alir Teknik Pengolahan Data

30
DAFTAR PUSTAKA

Nurdiansyah, Afin. 2015. Evaluasi Boiler Petrokimia Gresik II . tugas ahkir.


Universitas Diponegoro Semarang.

United Nation Environmental Program (UNEP), 2004. Peralatan Energi Panas:


Boiler dan Pemanas Fluida Termis, http://www.energyefficiecyasia.org,
diakses pada, 25 November 2019.

Anonim. 1985. Efisiensi Termal. Heibonsha Encyclopedia, Vol.16: 1120-1121

Rasyida, Hanna. 2014. Rangkuman Steam. tugas akhir. Institut Teknologi Sepuluh
Nopember.

Haryadi. 2010. Boiler dan Turbin. dalam bahan ajar Kurikulum Berbasis
Kompetensi (Kurikulum 2007), Politeknik Negeri Bandung, Jurusan Teknik
Mesin.

. Anonim (2012, 2 Desember). Ketel Uap di Pabrik Kelapa Sawit.


Dikutip 27 November 2019 dari Evaluasi Kinerja Boiler (B911) Di Unit
Produksi III Dengan Perhitungan Efisiensi PT. Petrokimia Gresik.

Baharuddin, Imam. 2014. Peningkatan Efisiensi Boiler dengan Menggunakan


Economizer. Training Cadet Angkatan XIV PT REA KALTIM
PLANTATIONS.

Buchori, Luqman. 2006. Perpindahan Panas (Heat Transfer). Fakultas Teknik


UNDIP Semarang.

Winanti.W,S dan T, Prayudi. 2006. Perhitungan Efisiensi Boiler pada Industri


Tepung Terigu. Jurnal Teknik Lingkungan. Edisi Khusus: 58-65.

31
32
LAMPIRAN

33