Anda di halaman 1dari 21

PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)

TATA LAKSANA KASUS


RUMAH SAKIT BINTANG LAUT
2018
Gangren Diabetik
(E10.5/E11.5 + R02)
1. Pengertian (Definisi) Secara klinis gangren diabetik ditandai kematian jaringan
yang terjadi akibat makro dan mikroangiopati diabetik dan
disertai atau tanpa disertai faktor trauma atau infeksi.
2. Anamnesis a. Riwayat diabetes melitus
b. Nyeri pada kaki bila beraktivitas (Claudicatio
intermitten)
c. Kaki terasa kebas / baal
d. Kaki terasa dingin
e. Terdapat luka pada kaki, luka dapat disertai nanah
3. Pemeriksaan Fisik 1. Ulkus atau ganggren bersifat tidak nyeri
2. Tanda-tanda nekrotik
4. Kriteria Diagnosis Status lokalis

a. Inspeksi
- Terdapat luka, blackening, dapat disertai
nanah
- Pucat
- Bengkak
b. Palpasi
- Sensoris menurun
- Terasa dingin
- Pulsasi lemah
Klasifikasi Wagner
Kaki Diabetes
Derajat
0 Kulit intak / utuh
1 Tukak superfisial
2 Tukak dalam (sampai tendo, tulang)
3 Tukak dalam dengan infeksi
4 Tukak dengan gangren pada 1-2 jari kaki
5 Tukak dengan gangren luas seluruh kaki
5. Diagnose Kerja Gangren diabetik
6. Diagnosis Banding a. Gangren karena PAPO (penyakit arteri perifer oklusif)

b. Penyakit arterio sklerotik obliterans

c. bergers disease

7. Pemeriksaan Penunjang a. Pemeriksaan laboratorium


- Darah rutin
- Pemeriksaan gula darah
b. Pemeriksaan radiologi
- Rontgen ekstremitas
8. Terapi Penatalaksaan berdasarkan klasifikasi dari wagner

a. non bedah :
- pengendalian penyakit diabetes
melitus
- obat-obatan anti agregasi trombosit
- antikoagulan
- perawatan lokal ulkus, infeksi,
abses, osteomielitis
- antibiotik
b. bedah :
- nekrotomi atau debridement
- disartikulasi atau amputasi
ekstremitas
- insisi drainage abses
c. Rehabilitasi medis:
- Remove-able cast walker
- Total contact casting
- Temporary shoes
- Felt padding
9. Edukasi 1. Edukasi :
(Hospital Health Promotion) a. Menjaga kadar gula darah
b. Berobat teratur
c. Mengetahui tanda tanda kaki diabetes
d. Mengetahui cara menjaga kebersihan kaki
e. Mengetahui cara perawatan luka pada kaki
f. Menggunakan alas kaki yang baik untuk mencegah
terjadinya luka
10. Prognosis Quo ad vitam : ad bonam
Quo ad functionam : ad bonam
Quo ad sanationam : dubia ad bonam

11. Tingkat Evidens I


12. Tingkat Rekomendasi A
13. Penelaah Kritis KSM Ilmu Penyakit Bedah

14. Indikator 1. Keadaan umum membaik  sakit berat  sakit sedang


 sakit ringan
2. Perbaikan tanda-tanda vital
3. Perbaikan nilai-nilai rujukan laboratorium
4. Ada tidaknya komplikasi

15. Kepustakaan a) Sukardja, Purnomo B, Tahalele P, Mamadi M,


Murtedjo U. Pedoman Pelayanan Medik Dokter
Spesialis Bedah Umum Indonesia. Edisi 2. Jakarta:
PABI. 2006. hal. 43.
b) Solomon L, Apley’s System of Orthopaedics and
Fractures. Ninth Ed.HodderArnold. UK.2010. Page
613-614.
c) Brunicardi FC, Andersen DK, Billiar TR,, et all.
Schwartzs principles of surgery 8th editions. USA:
McGraw-Hill Education. 2004.
d) Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M,
Setiati S. Buku Ajar Penyakit Dalam. Edisi 5. Jakarta
Pusat: InternaPublishing. 2009. Hal 1961-1966.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS
RUMAH SAKIT BINTANG LAUT
2018

Selulitis - ICD-10: L03

1.Pengertian (Definisi) Selulitis adalah inflamasi jaringan subkutan di mana proses


inflamasi, yang umumnya dianggap sebagai penyebab adalah
bakteri. Etiologi yang paling sering adalah Staphylococcus aureus
dan atau Streptococcus

2.Anamnesis 1. Riwayat luka sebelumnya


2. Kemerahan dan bengkak
3. Disertai nyeri, demam dan menggigil
3.Pemeriksaan Fisik Didahului gejala prodromal berupa malaise, demam dan menggigil.
Lesi kulit berupa eritema lokal yang nyeri, dengan cepat menjadi
makin merah, meluas namun batasnya tak jelas (difus) dan tepi
tidak meninggi. Kadang kala bagian tengahnya menjadi nodular
dan di atasnya terdapat vesikula yang pecah mengeluarkan pus
(nanah) serta jaringan nekrotik.

4.Kriteria Diagnosis 1. Riwayat luka sebelumnya


2. Kemerahan dan bengkak
3. Disertai nyeri, demam dan menggigil
4. Lesi kulit berupa eritema lokal yang nyeri, dengan
cepat menjadi makin merah, meluas namun batasnya
tak jelas (difus) dan tepi tidak meninggi. Kadang kala
bagian tengahnya menjadi nodular dan di atasnya
terdapat vesikula yang pecah mengeluarkan pus
(nanah) serta jaringan nekrotik.

5.Diagnose Kerja Selulitis

6.Diagnosis Banding 1. Erisipelas


2. Trombosis vena dalam
3. Dermatitis kontak

7.PemeriksaanPenunjang Pemeriksaan darah: leukositosis (≥ 20.000/mm3)


8.Terapi Obat pilihan adalah penisilin:
4. Benzyl penisilin 600-1200 mg, IV, tiap 6 jam minimal 10 hari
5. Penisilin G kristal : 1,2 juta IU, im/iv sehaari 6 kali selama 10
hari
6. Penisilin G prokain : 0,6-1,2 juta IU, im, sehari 2 kali selama
10 hari
7. Aminopenisilin :
- Amoksisilin 500 mg sehari 3 kali p.o.
- Ampisilin 250-500 mg sehari 4 kali p.o selama 7-10 hari
8. Amoksisilin dengan asam klavulanat 20 mg/KgBB/hari,
selama 10 hari.
Obat alternatif:
a. Eritromisin stearat 250-500 mg sehari 4 kali; anak 40
mg/KgBB/hari, selama 10 hari
b. Penicillinase resistant penicillin :
- Cloxacillin 250-500 mg sehari 4 kali p.o. selama 10 hari
- Dicloxacilline 250-500 mg sehari 4 kali p.o. selama 10
hari
c. Clindamycin 150-300 mg sehari 4 kali; anak 15
mg/KgBB/hari selama 10 hari
d. Ciprofloxacin 500 mg sehari 2 kali, selama 7 hari (untuk
anak di atas 13 tahun)
e. Cephalosporine, misalnya cephalexin 250-500 mg sehari 4
kali; anak 40-50 mg/KgBB/hari selama 10 hari.
Pengobatan topikal
- Kompres dengan solusio natrium klorida 0,9%
- Bila lesi kulit kering dapat diberikan salep yang mengandung
natrium fusidate atau mupirocin.
9.Edukasi 1. Sebaiknya tirah baring.
(Hospital Health Promotion) 2. Bagian tubuh yang terkena diimobilisasi

10.Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam

Ad sanationam : dubia ad bonam

Ad fungsionam : dubia ad bonam

11.Tingkat Evidens IV

12.Tingkat Rekomendasi C

13.Penelaah Kritis dr.SpKK

15.Kepustakaan 1. Freedberg IM, Eisen AZ, Wolf Klaus, Austen KF, Goldsmith
LA, et al editors. Fitzpatrick’s Dermatology in General
Medicine.7th ed. New York:McGraw-Hill; 2008. p. 2029-32.
2. Odom RB, james WD, Berger TG. Andrews’Diseases of The
Skin. 9thed. Philadelphia : Saunders Elsevier ; 2000.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS
RUMAH SAKIT BINTANG LAUT
2018

HERNIA INGUINALIS

1.Pengertian (Definisi) Protrusi dari viskus melewati pembukaan dari dinding abdomen

2.Anamnesis 1. Lokasi benjolan


2. Waktu kemunculan
3. Pekerjaan dan aktifitas yang sering dilakukan oleh pasien
4. Riwayat penyakit sebelumnya
5. Keluhan penyerta
3.Pemeriksaan Fisik 1. Besar benjolan
2. Regio
3. Finger Test
4. Thumb test
5. Ziemann test
4.Kriteria Diagnosis 1. Anamnesis : Riwayat benjolan, lokasi, hilang timbul
2. Pemeriksaan fisik : lokasi benjolan, finger test, thumb test,
ziemann test
3. Pemeriksaan penunjang : Laboratorium
5.Diagnose Kerja Hernia Inguinalis

6.Diagnosis Banding 1. Hernia femoralis


2. Epididimitis
3. Torsio testis
4. Lipoma
5. Adenopati inguinal
6. Abses inguinal
7. Dilatas vena saphena
8. Hidrocele
9. Varicocele
10. UDT
7.PemeriksaanPenunjang Laboratorium: DL, Faal hemostasis, Serum elektrolit, UL
8.Terapi 1. Konservatif
2. Herniotomy
3. Hernioraphy
9.Edukasi 1. Bisa terjadi kekambuhan
2. Menghindari pekerjaan berat
(Hospital Health Promotion) 3. Mengobati penyakit predisposisi
4. Mengobati penyakit penyulit
10.Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam

Ad sanationam : dubia ad bonam


Ad fungsionam : dubia ad bonam

11.Tingkat Evidens II

12.Tingkat Rekomendasi A

13. Kepustakaan 1. Townsend: Sabiston Textbook of Surgery, 18th Edition. New


York, McGrawHills
2. Debas, Haile T.Ebook Gastrointestinal
Surgery:Patophysiology and Management. Springer
3. Zinner, Stanley. Ebook. Maingot’s Abdominal Operation 11th
Edition
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS
RUMAH SAKIT BINTANG LAUT
2018

DM TIPE 2

1.Pengertian (Definisi) Diabetes Mellitus adalah suatu kelompok penyakit metabolik yang
ditandai oleh hiperglikemi akibat kerusakan sekresi insulin, kerja
insulin atau keduanya

2.Anamnesis Sering kencing


Sering lapar
Sering haus
Berat Badan turun dengan penyebab yang tidak jelas
3.Kriteria Diagnosis  Gejala klasik DM + Glukosa plasma sewaktu >200 mg/dl
 Gejala klasik DM + Glukosa plasma puasa>126 mg/dl
 Glukosa plasma 2 jam pada TTGO (tes toleransi glukosa oral)
>200 mg/dl
4.Diagnose Kerja  Diabetes Mellitus Tipe 1 (ICD 10 : E 10)
 Diabetes Mellitus Tipe 2 Obesitas atau Non Obesitas (ICD 10
: E 11)
5.Diagnosis Banding  Hiperglikemi reaktif
6.PemeriksaanPenunjang  Gdp,gd2jpp,
 GDS
 HbA1C
 Profil lipid
 CR
 UR
 EKG
 Toto thorax
8.Terapi  Tahap I : GHS + Mono terapi
 Tahap II : GHS + kombinasi 2 OHO
 Tahap III : GHS + kombinasi 3 OHO
 Tahap III : GHS + kombinasi 3 OHO + Basal Insulin
 Insulin invasiv
9.Edukasi  Pencegahan DM TII
 Program penurunan BB
(Hospital Health Promotion)
 Diet sehat
 Latihan jasmani
 Hentikan merokok
10.Prognosis  Ad vitam : dubia ad bonam
 Ad sanationam : dubia ad bonam
 Ad fungsionam : dubia ad bonam

11.Tingkat Evidens  IV

12.Tingkat Rekomendasi  C

13.Penelaah Kritis Sp. PD


14.Indikator Gula darah acak pasien Diabetes Melitus tercapai < 200
miligram/deciliter dalam waktu 3 hari

Target: 90 % Gula darah acak pasien Diabetes Melitus tercapai <


200 miligram/deciliter dalam waktu 3 hari

15.Kepustakaan Buku IPPD


EIMED PAPDI

PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)


TATA LAKSANA KASUS
RUMAH SAKIT BINTANG LAUT
2018

NEUROPATI

1. Pengertian (Definisi) Proses patologi yang mengenai susunan saraf perifer,


berupa proses demielinisasi atau degenerasi aksonal atau kedua-
duanya. Sususan saraf perifer mencakup saraf otak, saraf spinal
dengan akar saraf serta cabang-cabangnya, saraf tepi dan bagian-
bagian tepi dari susunan saraf otonom.
2. Anamnesis Keluhan berupa keluhan nyeri, rasa terbakar, ditusuk, disayat,
hentakan, kesetrum, parastesia, hilang rasa, kurang rasa, disestesia,
hiperlagesia, alodinia, hiperpatia, nyeri pantom, penurunan rasa
vibrasi dan posisi, kelemahan motorik dan keluhan
vasomotor/sudomotor/atrofi jaringan subkutan. Ditanyakan awitan,
perjalanan penyakit, mencari penyakit dasar (diabetes melitus,
trauma, neuralgia trigeminal, neuroma dan herpes zoster), riwayat
pengobatan, kualitas nyeri, lokasi, distribusi/penjalaran, faktor yang
meringankan/memperberat. Anamnesis psikologis/”pain triad”
(kecemasan, depresi, gangguan tidur).

3. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan neurologis meliputi pemeriksaan sensorik


(parestesia, nyeri, terbakar, penurunan rasa raba, vibrasi dan posisi),
pemeriksaan motorik (kelemahan otot-otot), reflek tendon menurun
dan fasikulasi.

 Metabolik:
o Neuropati diabetik:
 Polineuropati: komplikasi diabetes melitus yang paling
sering terjadi dengan gejala dan tanda berupa gangguan
motorik tungkai lebih sering terkena daripada tangan,
gangguan sensorik kaos kaki dan sarung tangan berupa
gangguan rasa nyeri dan suhu, vibrasi serta posisi.
 Otonom neuropati: gejala dan tanda berupa keringat
berkurang, hipotensi ortostatik, nokturnal diare,
inkontinensi alvi, konstipasi, inkontinensi atau retensio
urin, gastroparesis dan impotensi.
 Mononeuropati dengan gejala dan tanda terutama mengenai
nervi kranialis (terutama untuk pergerakan bola mata) dan
saraf tepi besar dengan gejala nyeri.
o Polineuropati uremikum: terjadi pada pasien uremia kronis
(gagal ginjal kronis), dengan gejala dan tanda berupa
gangguan sensorimotor simetris pada tungkai dan tangan,
rasa gatal, geli atau rasa merayap pada tungkai dan paha yang
memberat pada malam hari dan membaik bila kaki
digerakkan (restless leg syndrome).
 Nutrisional
o Polineuropati defisiensi :
 Piridoksin: pada penggunaan Izoniazid (INH) dengan
gejala dan tanda berupa neuropati sensorimotor dan
neuropati optika
 Asam folat: sering pada penggunaan fenitoin dan intake
asam folat yang kurang
 Niasin: pada pasien defisiensi multipel
o Polineuropati alkoholik: neuropati karena defisiensi
multivitamin dan tiamin dengan gejala dan tanda berupa
gangguan sensorimotor simetris terutama tungkai tahap
lanjut mengenai tangan.
 Trauma: neuropati jebakan.

4. Kriteria Diagnosis  Klinis: gangguan sensorik (parestesia, nyeri, terbakar,


penurunan rasa raba, vibrasi dan posisi), gangguan motorik
(kelemahan otot-otot), reflek tendon menurun dan fasikulasi
 Laboratorium: gula darah puasa, fungsi ginjal, fungi hormon
tiroid,
5. Diagnose Kerja NEUROPATI
6. Diagnosis Banding  Miopati
 Motor neuron disease
 Multiple sclerosis.
7. PemeriksaanPenunjang  Laboratorium
8. Terapi  Terapi kausa
 Simptomatis : analgetik, antiepileptik
 Neurotropik vitamin : B1, B6, B12, asam folat
 Fisioterapi
9. Edukasi Memberikan informasi yang mudah dipahami pasien tentang
10. (Hospital Health penyakitnya, pengobatan dan hal-hal yang diperbolehkan dan yang
Promotion)
tidak diperbolehkan. Memberikan edukasi mengenai aktifitas fisik
sehari-hari, kepatuhan mengkonsumsi obat dan sebagainya.

11. Prognosis Bergantung penyakit dasar, progresifitas dan komplikasinya.


Perawatan dan fisioterapi yang kurang cermat menimbulkan atrofi,
dekubitus, infeksi saluran kencing dan kontraktur. Perawatan
umumnya 2 minggu sampai 1 bulan, kadang-kadang penyembuhan
tidak sempurna.

12. Tingkat Evidens IV

13. Tingkat Rekomendasi C

14. Penelaah Kritis NEUROLOGI

15. Kepustakaan  Meliala KRTL, Suroto, Suryamiharja A, Purwata TE,


Leksmono RP, Suharjanti I, dkk. 2011. Dalam:
Suryamiharja A, Purwata TE, Suharjanti I, Yudyanta (Ed.).
Kelompok studi nyeri PERDOSSI, konsensus nasional 1,
diagnostik dan penatalaksanaan nyeri neuropatik.
Airlangga University Press, Jakarta.
 Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia
(PERDOSSI). 2006. Buku Pedoman Standar Pelayanan

PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)


TATA LAKSANA KASUS
RUMAH SAKIT BINTANG LAUT
2018

ULKUS DIABETIK

1.Pengertian (Definisi) Adalah infeksi, ulkus, atau kerusakan jaringan yang dalam yang
berhubungan dengan gangguan neurologi dan vaskularisasi perifer
dan semua derajatnya. Dasar dari terbentuknya ulkus adalah
gangguan vaskularisasi ke arah tungkai, gangguan persarafan dan
kelainan anatomi yang menyebabkan trauma kronis pada kaki.
2.Anamnesis Pada anamnesis ditekankan untuk mendapat data keadaan yang
mengganggu proses penyembuhan luka dan kondisi yang
berhubungan dengan klasifikasi ulkus berdasarkan Perfusion
Extent/Size, Depth/tissue lost, Infection, Sensation. Hal-hal yang
perlu dipertanyakan adalah: lama sakit diabetes dan lama ulkusnya,
kontrol gula darahnya, adanya keluhan penyakit pembuluh darah
perifer, keluhan neuropati, adanya gangguan fungsi vena, gangguan
fungsi hati, ginjal, kurang darah, riwayat trauma, perokok,
keganasan, dan pemakaian steroid, dan bagaimana penanganan
ulkus sebelumnya
3.Pemeriksaan Fisik Pada pemeriksaan fisik berhubungan dengan penentuan klasifikasi
Perfusion Extent/Size, Depth/tissue lost, Infection, Sensation.
Pemeriksaan gula darah, darah rutin.
4.Kriteria Diagnosis Diagnosa berdasarkan pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium
(gula darah)
5.Diagnose Kerja Ulkus diabetikum
6.Diagnosis Banding 1. Buergers disease
2. Ulkus pada kaki terinfeksi
3. Gas gangren
7.PemeriksaanPenunjang . Laboratorium yang diperlukan meliputi darah lengkap, gula darah,

X foto lokasi terkena

8.Terapi Setelah ditentukan oleh dokter yang merawat bahwa penderita


memerlukan tindakan bedah, maka selanjutnya ditentukan jenis
tindakannya berupa debridement, debridement luka diikuti
amputasi jarinya/ jari yang mati, ataupun amputasi pada tingkat
jaringan yang sehat.

Pemberian antibiotik spektrum luas ( ceftriaxone / cefotaxime) dan


metronidazol untuk kuman anaerob.

Perawatan luka meliputi pencucian, mengistirahatkan dan


pembalutan yang baik. Kelembaban (kompres) dipertahankan
dengan mengganti kain kasa pembalut 3-4 kali sehari. Cairan yang
dipakai sebaiknya yang isotonik seperti NaCl 0,9% , dan bila koreng
kotor dan penuh nanah serta jaringan mati dapat dicoba dengan
merendam kaki pada Betadin atau larutan PK. Ulkus yang mulai
membaik dilakukan nekrotomi .
9.Edukasi Edukasi perawatan kaki, kontrol gula darah yang baik, gaya hidup,
perawatan kaki, dan jika diperlukan sepatu khusus sangat
(Hospital Health Promotion)
membantu untuk mencegah timbulnya ulkus.

10.Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam / malam


Ad Sanationam : dubia ad bonam /malam
Ad Fungsionam : dubia ad bonam / malam
11.Tingkat Evidens IV
12.Tingkat Rekomendasi C

1.Kepustakaan Sukardja, Purnomo B, Tahalele P, Mamadi M, Murtedjo U.


Pedoman Pelayanan Medik Dokter Spesialis Bedah Umum
Indonesia. Edisi 2. Jakarta: PABI. 2006.

PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)


TATA LAKSANA KASUS
RUMAH SAKIT BINTANG LAUT
2018

HIPOGLIKEMIA

1.Pengertian (Definisi) Hipog!ikemia merupakan suatu terminologi klinis yang digunakan


untuk keadaan yang disebabkan oleh menurunnya kadar glukosa
dalam darah sampai pada tingkat tertenu sehingga memberikan
keluhan dan gejala
2.Anamnesis 1. Penggunaan preparat insulin atau obat hipoglikemik oral: dosis
terakhir, waktu pemakaian terakhir, perubahan dosis
2. Waktu makan terakhir, jumlah asupan gizi
3. Riwayat jenis pengobatan dan dosis sebelumnya
4. Lama menderita DM, komplikasi DM
5. Penyakit penyerta: ginjal, hati, dll
6. Penggunaan obat sistemik lainnya: penghambat β adrenergik,
3.Pemeriksaan Fisik Pucat, diaphoresis, tekanan darah, frekuensi denyut jantung,
penurunan kesadaran, defisit neurologik fokal transien
4.Kriteria Diagnosis Trias Whipple:
1. Gejala yang konsisten dengan hipoglikemia
2. Kadar glukosa plasma yang rendah
3. Gejala mereda setelah kadar glukosa plasma meningkat

5.Diagnose Kerja HIPOGLIKEMI

6.Diagnosis Banding Gagal ginjal, sepsis, stroke ,gagal hati.


7.PemeriksaanPenunjang Kadar glukosa darah, tes fungsi ginjal, tes fungsi hati, darah rutin

8.Terapi Stadium permulaan (sadar):


 Berikan gula murni 30 gram (3 sendok makan) atau sirop/
permen gula murni (bukan pemanis pengganti gula atau
gula diet/ gula diabetes) dan makanan yang mengandung
karbohidrat.
 Hentikan obat hipoglikemia sementara
 Pantau glukosa darah sewaktu tiap 1-2 jam
 Pertahankan GD sekitar 200 mg/dL (bila sebelumnya tidak
sadar)
 Cari penyebab

Stadium lanjut (koma hipoglikemia atau tidak sadar + curiga


hipoglikemia)
1. Diberikan larutan dekstrosa 40% sebanyak 2 flakon (=50cc)
bolus intravena,
2. Diberikan cairan dekstrosa 10% per infus, 8 jam per kolf
3. Periksa GDS:
 Bila GDS < 50 mg/dL  bolus dekstrosa 40% 50 cc IV
 Bila GDS < 100 mg/dL  bolus dekstrosa 40% 25 cc IV
4. Periksa GDS tiap 15 menit setelah pemberian dekstrosa 40%
 Bila GDS < 50 mg/dL  bolus dekstrosa 40% 50 cc IV
 Bila GDS < 100 mg/dL  bolus dekstrosa 40% 25 cc IV
 Bila GDS 100-200 mg/dL  tanpa bolus dekstrosa 40%
5. Bila GDS > 100 mg/dL sebanyak 3 kali berturut-turut,
pemantauan GDS tiap 4 jam, dengan protokol sesuai di atas.
Bila GDS > 200 mg/dL  pertimbangkan ganti infus dengan
dekstrosa 5% atau NaCl 0,9%
6. Bila GDS > 100 mg/dL sebanyak 3 kali berturut-turut,
pemantauan GDS tiap 4 jam, pemerikisaan GDS sesuai
keperluan.
8. Bila hipoglikemi belum teratasi, dipertimbangkan pemberian
antagonis insulin, seperti: adrenalin, kortison dosis tinggi, atau
glukagon 0,5-1 mg IV/IM (bila penyebabnya insulin).

9. Bila pasien belum sadar, sementara hipoglikemi di atasi,Cari


penyebab lain .
9.Edukasi(Hospital Health  Pengertian penyebab hipoglikemi
Promotion)  Pengetahuan tentang cara mengatasi hipoglikema
10.Prognosis Dubia ad bonam

11.Komplikasi Kerusakan otak, koma, kematian.

12.Kepustakaan PPK IPD


Buku ajar IPD
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS
RUMAH SAKIT BINTANG LAUT
2018
DEMAM TIPHOID

1.Pengertian (Definisi) Demam tifoid merupakan penyakit sistemik akut yang


disebabkan oleh infeksi kuman Salmonella typhi atau
Salmonella partatypi
2.Anamnesis Demam naik secara bertangga pada hari hingga minggu
pertama lalu demam menetap (kontinyu) atau reminten
hingga minggu kedua. Demam terutama sore/malam hari,
disertai nyeri kepala, nyeri otot, anorexia, mual, muntah,
obstipasi atau diare
3.Pemeriksaan Fisik 1. Febris
2. Bradikardia relatif (peningkatan suhu 1C tidak
diikuti peningkatan denyut nadi 8x/mnt)
3. Lidah yang berselaput (kotor ditengah, tepi dan
ujung merah, serta tremor)
4. Kadang didapatkan :
a. Hepatomegali
b. Splenomegali
c. Nyeri Abdomen
d. Roseolae
4.Kriteria Diagnosis Demam - Gejala seperti diatas - Laboratorium : - Darah
lengkap : Lekopeni, lekositosis, atau lekosit normal, atau
aneosinofilia, limfopenia, peningkatan LED, anemia ringan,
trombositopenia, gangguan fungsi hati. - Peningkatan titer
Uji Widal tunggal dengan titer antibodi O 1/320 atau H I/
640 disertai gambaran klinis khas menyokong diagnosis.
5.Diagnose Kerja Demam Tifoid

6.Diagnosis Banding
7.PemeriksaanPenunjang
8.Terapi IVFD RL/NS/D5%
ceftriaxone 3gr/24 jam atau
cefotaxime 1gram /12jam atau
Levofloxacin tab 1 x 500 mg
ciprofloxacin 1x500mg po
paracetamol 3x500 mgpo (bila perlu)
attapulgit (bila perlu) po
Ondansetron 3 x 1(bila perlu) iv
9.Edukasi a. Mencegah terjadinya demam tifoid dengan
(Hospital Health Promotion) kewaspadaan terhadap jalur penyebaran kuman
melalui makanan dan air, sanitasi
b. Pendidikan kesehatan
c. Preventif dan kontrol penularan
10.Prognosis Advitam : dubia adbonam
Ad sanationam : dubia ad bonam
Adfumgsionam : dubia adbonam
11.Tingkat Evidens IV
12.Tingkat Rekomendasi C
13. PenelaahKritis Spesialis Penyakit dalam

14. Kepustakaan Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam edisi 8

Palopo, 15 maret 2018


Mengetahui,
Ketua Komite Medik Ketua SMF INTERNA

dr. Yanti Tandirogang, Sp.PK dr. Deny Marcelinus H . SpPD


PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS
RUMAH SAKIT BINTANG LAUT
2018

APENDISITIS (K35.9)

1. Pengertian (Definisi) Inflamasi pada appendiks vermiformis


2. Anamnesis 1. Rasa tidak nyaman atau nyeri periumbilikus yang
samar, difus,.
2. Anoreksia, sedikit mual dan kadang-kadang muntah
3. Nyeri lalu bergeser ke kuadran kanan bawah
abdomen ( titik McBurney )
4. Nyeri bersifat lebih jelas dan tajam
3. Pemeriksaan Fisik
1. Nyeri tekan lokalisata khas di kuadran kanan bawah.
2. Nyeri lepas
3. Rigiditas.
4. Defans Muskular .

4. Kriteria Diagnosis 1. Anamnese


2. Pemeriksaan Fisik
3. Pemeriksaan Penunjang
5. Diagnose Kerja Apendisitis.
6. Diagnosis Banding
1. Diverticulitis Meckel .
2. Folikel Ovarium yang pecah
3. Kehamilan ektopik

7. PemeriksaanPenunjang 1. Laboratorium : leukositosis ( pada > 90 % pasien).


2. USG Abdomen
8. Terapi 1. Terapi pra bedah :
Larutan intravena, dekompresi nasogaster, antibitik .
2. Terapi Bedah :
Appendektomi
Laparotomi bila terjadi peritonitis.
9. Edukasi 1. Perawatan luka pasca operasi
(Hospital Health Promotion) 2. Istirahat yang cukup
10. Prognosis Advitam : dubia adbonam
Ad sanationam : dubia ad bonam
Adfumgsionam : dubia adbonam
11. Tingkat Evidens IV
12. Tingkat Rekomendasi C
13. Penelaah Kritis Nama dokter Ahli Bedah
1. dr. Mesak Sule, Sp.B

14. Indikator 1. Untuk pasien pasca appendektomi (bag I appendicitis


akut sederhana ) dapat dipulangkan pada hari ketiga
atau keempat pasca bedah)

15. Kepustakaan 1. Buku Ajar Bedah , Sabiston bagian 2.


Tahun 2002

Palopo, 15 maret 2018


Mengetahui,
Ketua Komite Medik Ketua SMF BEDAH

dr. Yanti Tandirogang, Sp.PK dr. Mesak Sule , Sp.B