Anda di halaman 1dari 16

RETENSIO PLASENTA

A. Definisi
Retensio plasenta adalah belum lepasnya plasenta dengan melebihi waktu
setengah jam. Keadaan ini dapat diikuti perdarahan yang banyak, artinya hanya
sebagian plasenta yang telah lepas sehingga memerlukan tindakan plasenta manual
dengan segera. Bila retensio plasenta tidak diikuti perdarahan maka perlu diperhatikan
ada kemungkinan terjadi plasenta adhesive, plasenta akreta, plasenta inkreta, plasenta
perkreta. (Manuaba, 2006). Retensio plasenta adalah plasenta yang tidak terpisah dan
menimbulkan hemorrhage yang tidak tampak, dan juga disadari pada lamanya waktu
yang berlalu antara kelahiran bayi dan keluarnya plasenta yang diharapkan.beberapa
ahli klinik menangiani setelah 5 menit, kebanyakan bidan akan menunggu satu
setengah jam bagi plasenta untuk keluar sebelum menyebutnya untuk tertahan
(Varney’s, 2007).
Retensio Placenta adalah tertahannya atau keadaan dimana placenta belum
lahir dalam waktu satu jam setelah bayi lahir. Pada proses persalinan, kelahiran
placenta kadang mengalami hambatan yang dapat berpengaruh bagi ibu bersalin.
Dimana terjadi keterlambatan bisa timbul perdarahan yang merupakan salah satu
penyebab kematian ibu pada masa post partum.
B. Klasifikasi
Berdasarkan tempat implantasinya retensio plasenta dapat di klasifikasikan menjadi 5
bagian :
a. Plasenta Adhesiva
Kontraksi uterus kurang kuat untuk melepaskan plasenta plasenta dan melekat
pada desidua dan melekat pada desidua endometrium lebih dalam.
b. Plasenta Akreta
Implantasi jonjot korion plasenta hingga memasuki lapisan miometrium yang
menembus lebih dalam miometrium tetapi belum menembus serosa.
c. Plasenta Inkreta
Implantasi jonjot korion plasenta hingga mencapai atau memasuki miometrium ,
dimana vili khorialis tumbuh lebih dalam dan menembus desidua sampai ke
miometrium .
d. Plasenta Perkreta
Implantasi jonjot khorion plsenta yang menembus lapisan otot hingga mencapai
lapisan serosa di uterus, yang menembus serosa atau peritoneum dinding rahim .
e. Plasenta Inkarserata
Tertahannya plasenta di dalam kavum uteri, disebabkan oleh kontraksi ostium
uteri (Sarwono, 2005).
C. Etiologi
Adapun faktor penyebab dari retensio plasenta adalah :
1. Plasenta belum terlepas dari dinding rahim karena tumbuh dan melekat lebih
dalam.
2. Plasenta sudah terlepas tetapi belum keluar karena atonia uteri dan akan
meyebabkan perdarahan yang banyak atau adanya lingkaran konstriksi pada bagian
bawah rahim yang akan menghalangi plasenta keluar .
3. Bila plasenta belum lepas sama sekali tidak akan terjadi perdarahan tetapi bila
sebagian plasenta sudah lepas akan terjadi perdarahan (Mochtar, 1998).
Apabila terjadi perdarahan post partum dan plasenta belum lahir, perlu di
usahakan untuk melahirkan plasenta dengan segera . Jikalau plasenta sudah lahir,
perlu dibedakan antara perdarahan akibat atonia uteri atau perdarahan karena
perlukaan jalan lahir. Pada perdarahan karena atonia uterus membesar dan lembek
pada palpasi, sedang pada perdarahan karena perlukaan jalan lahir uterus
berkontraksi dengan baik (Wiknjosastro, 2005).
D. Patofisiologi
Setelah bayi dilahirkan, uterus secara spontan berkontraksi. Kontraksi dan
retraksi otot-otot uterus menyelesaikan proses ini pada akhir persalinan. Sesudah
berkontraksi, sel miometrium tidak relaksasi, melainkan menjadi lebih pendek dan
lebih tebal. Dengan kontraksi yang berlangsung kontinyu, miometrium menebal
secara progresif, dan kavum uteri mengecil sehingga ukuran juga mengecil.
Pengecilan mendadak uterus ini disertai mengecilnya daerah tempat perlekatan
plasenta.
Ketika jaringan penyokong plasenta berkontraksi maka plasenta yang tidak
dapat berkontraksi mulai terlepas dari dinding uterus. Tegangan yang ditimbulkannya
menyebabkan lapis dan desidua spongiosa yang longgar memberi jalan, dan pelepasan
plasenta terjadi di tempat itu. Pembuluh darah yang terdapat di uterus berada di antara
serat-serat otot miometrium yang saling bersilangan. Kontraksi serat-serat otot ini
menekan pembuluh darah dan retaksi otot ini mengakibatkan pembuluh darah terjepit
serta perdarahan berhenti.
Pengamatan terhadap persalinan kala tiga dengan menggunakan pencitraan
ultrasonografi secara dinamis telah membuka perspektif baru tentang mekanisme kala
tiga persalinan. Kala tiga yang normal dapat dibagi ke dalam 4 fase, yaitu:
1) Fase laten
ditandai oleh menebalnya dinding uterus yang bebas tempat plasenta, namun
dinding uterus tempat plasenta melekat masih tipis.
2) Fase kontraksi
ditandai oleh menebalnya dinding uterus tempat plasenta melekat (dari ketebalan
kurang dari 1 cm menjadi > 2 cm).
3) Fase pelepasan plasenta
fase dimana plasenta menyempurnakan pemisahannya dari dinding uterus dan
lepas. Tidak ada hematom yang terbentuk antara dinding uterus dengan plasenta.
Terpisahnya plasenta disebabkan oleh kekuatan antara plasenta yang pasif dengan
otot uterus yang aktif pada tempat melekatnya plasenta, yang mengurangi
permukaan tempat melekatnya plasenta. Akibatnya sobek di lapisan spongiosa.
4) Fase pengeluaran
dimana plasenta bergerak meluncur. Saat plasenta bergerak turun, daerah
pemisahan tetap tidak berubah dan sejumlah kecil darah terkumpul di dalam
rongga rahim. Ini menunjukkan bahwa perdarahan selama pemisahan plasenta
lebih merupakan akibat, bukan sebab. Lama kala tiga pada persalinan normal
ditentukan oleh lamanya fase kontraksi. Dengan menggunakan ultrasonografi pada
kala tiga, 89% plasenta lepas dalam waktu satu menit dari tempat implantasinya.
Tanda-tanda lepasnya plasenta adalah sering ada semburan darah yang mendadak,
uterus menjadi globuler dan konsistensinya semakin padat, uterus meninggi ke arah
abdomen karena plasenta yang telah berjalan turun masuk ke vagina, serta tali
pusat yang keluar lebih panjang. Sesudah plasenta terpisah dari tempat melekatnya
maka tekanan yang diberikan oleh dinding uterus menyebabkan plasenta meluncur
ke arah bagian bawah rahim atau atas vagina. Kadang-kadang, plasenta dapat
keluar dari lokasi ini oleh adanya tekanan inter-abdominal. Namun, wanita yang
berbaring dalam posisi terlentang sering tidak dapat mengeluarkan plasenta secara
spontan. Umumnya, dibutuhkan tindakan artifisial untuk menyempurnakan
persalinan kala IV. Metode yang biasa dikerjakan adalah dengan menekan secara
bersamaan dengan tarikan ringan pada tali pusat.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pelepasan plasenta adalah
Kelainan dari uterus sendiri, yaitu anomali dari uterus atau serviks; kelemahan
dan tidak efektifnya kontraksi uterus, kontraksi yang kuat dari uterus, serta
pembentukan constriction ring. Kelainan dari plasenta, misalnya plasenta letak rendah
atau plasenta previa dan adanya plasenta akreta. Kesalahan manajemen kala tiga
persalinan, seperti manipulasi dari uterus yang tidak perlu sebelum terjadinya
pelepasan dari plasenta menyebabkan kontraksi yang tidak ritmik, pemberian
uterotonik yang tidak tepat waktunya yang juga dapat menyebabkan serviks kontraksi
dan menahan plasenta; serta pemberian anestesi terutama yang melemahkan kontraksi
uterus.
E. Pathway

Sebab patologik Plasenta belum lepas Plasenta sudah lepas


Sebab fungsional
(perlekatan abnormal) dari dinding rahim tetapi belum dilahirkan

1. His yang kurang kuat (sebab 1. Plasenta adhesiva Melahirkan plasenta


utama). 2. Plasenta inkreta secara manual
2. Tempat melekatnya yang 3. Plasenta perketra
kurang menguntungkan
(contoh: di sudut tuba). Tarikan Tali Pusat
3. Ukuran plasenta terlalu kecil.
4. Lingkaran kontriksi pada RETENSIO PLASENTA
bagian bawah perut.

Tidak dapat berkontraksi Insersio uteri


secara efektif (terjadi retraksi
dan kontraksi otot uterus)
Ante, intra, postnatal,
aktivitas lemah,
Sinus-Sinus maternalis tampak sakit, menyusu
tetap terbuka penutupan buruk, peningkatan
leukosit darah
pembuluh darah terhambat
Nyeri

Perdarahan Dx : Risiko
pervaginam Dx : Nyeri akut
Infeksi

Dx : Risiko Kehilangan
Syok banyak darah

Dx : Kekurangan
volume cairan
F. Tanda dan Gejala
- Waktu hamil
1) Kebanyakan pasien memiliki kehamilan yang normal
2) Insiden perdarahan antepartum meningkat, tetapi keadaan ini biasanya menyertai
plasenta previa
3) Terjadi persalinan prematur, tetapi kalau hanya ditimbulkan oleh perdarahan
4) Kadang terjadi ruptur uteri.
- Persalinan kala I dan II
Hampir pada semua kasus proses ini berjalan normal
- Persalinan kala III
1) Retresio plasenta menjadi ciri utama
2) Perdarahan post partum, jumlahnya perdarahan tergantung pada derajat
perlekatan plasenta, seringkali perdarahan ditimbulkan oleh Dokter kebidanan
ketika ia mencoba untuk mengeluarkan plasenta secara manual
3) Komplikasi yang seriun tetapi sering dijumpai yaitu invertio uteri, keadaan ini
dapat tejadi spontan, tapi biasanya diakibatkan oleh usaha-usaha untuk
mengeluarkan plasenta
4) Ruptur uteri, biasanya terjadi saat berusaha mengeluarkan plasenta

Gejala Akreta parsial Inkarserata Akreta


Konsistensi uterus Kenyal Keras Cukup
Tinggi fundus Sepusat 2 jari bawah pusat Sepusat
Bentuk uterus Discoid Agak globuler Discoid
Perdarahan Sedang – banyak Sedang Sedikit / tidak ada

Tali pusat Terjulur sebagian Terjulur Tidak terjulur


Ostium uteri Terbuka Konstriksi Terbuka
Pelepasan plasenta Lepas sebagian Sudah lepas Melekat
seluruhnya
Syok Sering Jarang Jarang sekali,
kecuali akibat
inversion oleh
tarikan kuat pada
tali pusat.
G. Pemeriksaan Penunjang
1. Hitung darah lengkap: untuk menentukan tingkat hemoglobin (Hb) dan
hematokrit (Hct), melihat adanya trombositopenia, serta jumlah leukosit. Pada
keadaan yang disertai dengan infeksi, leukosit biasanya meningkat.
2. Menentukan adanya gangguan koagulasi dengan hitung Protrombin Time (PT)
dan Activated Partial Tromboplastin Time (APTT) atau yang sederhana dengan
Clotting Time (CT) atau Bleeding Time (BT). Ini penting untuk menyingkirkan
perdarahan yang disebabkan oleh faktor lain.

H. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan yang dilakukan pada pasien yang mengalami retensio plasenta adalah
sebagai berikut :
1. Bila tidak terjadi perdarahan
Perbaiki keadaan umum penderita bila perlu misal: infus atau transfusi, pemberian
antibiotika, pemberian antipiretika, pemberian ATS. Kemudian dibantu dengan
mengosongkan kandung kemih. Lanjutkan memeriksa apakah telah terjadi
pemisahan plasenta dengan cara Klein, Kustner atau Strassman.
2. Bila terjadi perdarahan
lepaskan plasenta secara manual, jika plasenta dengan pengeluaran manual tidak
lengkap dapat disusul dengan upaya kuretase. Bila plasenta tidak dapat dilepaskan
dari rahim, misal plasenta increta/percreta, lakukan hysterectomia.

Cara untuk melahirkan plasenta:


1. Dicoba mengeluarkan plasenta dengan cara normal : Tangan kanan penolong
meregangkan tali pusat sedang tangan yang lain mendorong ringan.
2. Pengeluaran plasenta secara manual (dengan narkose).
Melahirkan plasenta dengan cara memasukkan tangan penolong kedalam cavum
uteri, melepaskan plasenta dari insertio dan mengeluarkanya.
3. Bila ostium uteri sudah demikian sempitnya, sehingga dengan narkose yang dalam
pun tangan tak dapat masuk, maka dapat dilakukan hysterectomia untuk
melahirkan plasentanya.

Manual Plasenta :
Manual Plasenta merupakan tindakan operasi kebidanan untuk melahirkan
retensio plasenta. Teknik operasi manual plasenta tidaklah sukar, tetapi harus
diperkirakan bagaimana persiapkan agar tindakan tersebut dapat menyelamatkan
jiwa penderita.
Kejadian retensio plasenta berkaitan dengan :
1. Grandemultipara dengan implantasi plasenta dalam bentuk plasenta adhesive dan
plasenta akreta serta Plasenta inkreta dan plasenta perkreta.
2. Mengganggu kontraksi otot rahim dan menimbulkan perdarahan.
3. Retensio plasenta tanpa perdarahan dapat diperkirakan :
a. Darah penderita terlalu banyak hilang.
b. Keseimbangan baru berbentuk bekuan darah, sehingga perdarahan tidak
terjadi.
c. Kemungkinan implantasi plasenta terlalu dalam.
Manual Plasenta dengan segera dilakukan :
1. Terdapat riwayat perdarahan postpartum berulang.
2. Terjadi perdarahan postpartum melebihi 400 cc
3. Pada pertolongan persalinan dengan narkoba.
4. Plasenta belum lahir setelah menunggu selama setengah jam.
Manual Plasenta dalam keadaan darurat dengan indikasi perdarahan di atas
400 cc dan terjadi retensio plasenta (setelah menunggu ½ jam). Seandainya masih
terdapat kesempatan penderita retensio plasenta dapat dikirim ke puskesmas atau
rumah sakit sehingga mendapat pertolongan yang adekuat.
I. Komplikasi
Plasenta harus dikeluarkan karena dapat menimbulkan bahaya:
1. Perdarahan
2. Terjadi terlebih lagi bila retensio plasenta yang terdapat sedikit perlepasan hingga
kontraksi memompa darah tetapi bagian yang melekat membuat luka tidak
menutup.
3. Infeksi
4. Karena sebagai benda mati yang tertinggal di dalam rahim meningkatkan
pertumbuhan bakteri dibantu dengan port d’entre dari tempat perlekatan plasenta.
5. Dapat terjadi plasenta inkarserata dimana plasenta melekat terus sedangkan
kontraksi pada ostium baik hingga yang terjadi.
6. Terjadi polip plasenta sebagai massa proliferative yang mengalami infeksi
sekunder dan nekrosis
7. Terjadi degenerasi (keganasan) koriokarsinoma
Dengan masuknya mutagen, perlukaan yang semula fisiologik dapat berubah
menjadi patologik (displastik-diskariotik) dan akhirnya menjadi karsinoma
invasif. Sekali menjadi mikro invasive atau invasive, proses keganasan akan
berjalan terus.
Sel ini tampak abnormal tetapi tidak ganas. Para ilmuwan yakin bahwa beberapa
perubahan abnormal pada sel-sel ini merupakan langkah awal dari serangkaian
perubahan yang berjalan lambat, yang beberapa tahun kemudian bisa
menyebabkan kanker. Karena itu beberapa perubahan abnormal merupakan
keadaan prekanker, yang bisa berubah menjadi kanker.
6. Syok haemoragik
ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN RETENSIO PLASENTA

A. Pengkajian
Beberapa hal yang perlu dikaji dalam asuhan keperawatan pada ibu dengan retensio
placenta adalah sebagai berikut :
a. Identitas klien
Data biologis/fisiologis meliputi; keluhan utama, riwayat kesehatan masa lalu,
riwayat penyakit keluarga, riwayat obstetrik (GPA, riwayat kehamilan, persalinan,
dan nifas), dan pola kegiatan sehari-hari sebagai berikut :
1. Sirkulasi :
a) Perubahan tekanan darah dan nadi (mungkin tidak tejadi sampai
kehilangan darah bermakna)
b) Pelambatan pengisian kapiler
c) Pucat, kulit dingin/lembab
d) Perdarahan vena gelap dari uterus ada secara eksternal (placentaa
tertahan)
e) Dapat mengalami perdarahan vagina berlebihan
f) Haemoragi berat atau gejala syock diluar proporsi jumlah kehilangan
darah.
2. Eliminasi :
Kesulitan berkemih dapat menunjukan haematoma dari porsi atas vagina
3. Nyeri/Ketidaknyamanan :
Sensasi nyeri terbakar/robekan (laserasi), nyeri tekan abdominal (fragmen
placenta tertahan) dan nyeri uterus lateral.
4. Keamanan :
Laserasi jalan lahir: darah memang terang sedikit menetap (mungkin
tersembunyi) dengan uterus keras, uterus berkontraksi baik; robekan terlihat
pada labia mayora/labia minora, dari muara vagina ke perineum; robekan
luas dari episiotomie, ekstensi episiotomi kedalam kubah vagina, atau
robekan pada serviks.
5. Seksualitas :
a) Uterus kuat; kontraksi baik atau kontraksi parsial, dan agak menonjol
(fragmen placenta yang tertahan)
b) Kehamilan baru dapat mempengaruhi overdistensi uterus (gestasi
multipel, polihidramnion, makrosomia), abrupsio placenta, placenta
previa.
6. Pemeriksaan fisik meliputi; keadaan umum, tanda vital, pemeriksaan
obstetrik (inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi).
Pemeriksaan laboratorium. (Hb 10 gr%).

A. Diagnosa Keperawatan
1. Kekurangan Volume cairan
2. Nyeri Akut
3. Resiko Syock
4. Resiko Infeksi
B. RRNCANA ASUHAN KEPERAWATAN

No. Diagnosa NOC NIC Rasional


Kekurangan Setelah dilakukan tindakan  Fluid Management
Volume Cairan keperawatan selama 1x24 menit 1. Identifikasi kemungkinan penyebab 1. Mengetahui penyebab untuk
diharapkan masalah klien teratasi, ketidakseimbangan elektrolit menentukan intervensi
dengan kriteria hasil: 2. Monitor adanya kehilangan cairan penyelesaian
 Fluid Balance
dan elektrolit 2. Mengetahui keadaan umum pasien
1. Tekanan darah
2. Frekuensi Nadi 3. Mengetahui perkembangan
3. keseimbangan intake dan 3. Monitor status hidrasi ( membran
rehidrasi
output selama operasi mukosa, tekanan ortostatik,
4. Evaluasi intervensi
4. Turgor kulit keadekuatan denyut nadi )
5. Mengetahui keadaan umum pasien
4. Monitor keakuratan intake dan
6. Rehidrasi optimal
output cairan
5. Monitor vital signs

6. Monitor pemberian terapi IV


Nyeri akut Setelah dilakukan tindakan  Manajemen nyeri
keperawatan selama 1x30 menit 1. Kaji secara komprehensip terhadap 1. Untuk mengetahui tingkat nyeri
diharapkan masalah klien teratasi, pasien
nyeri termasuk lokasi,
dengan kriteria hasil: karakteristik, durasi, frekuensi, 2. Untuk mengetahui tingkat
 Pain control ketidaknyamanan dirasakan oleh
kualitas, intensitas nyeri dan faktor
1. Melaporkan nyeri yang pasien
presipitasi
terkontrol 2. Observasi reaksi ketidaknyaman 3. Untuk mengalihkan perhatian
2. Menggunakan tindakan secara nonverbal pasien dari rasa nyeri
pengurangan (nyeri) tanpa
3. Gunakan strategi komunikasi 4. Untuk mengetahui apakah nyeri
analgesik
terapeutik untuk mengungkapkan yang dirasakan klien berpengaruh
3. Tingkat nyeri berkurang dari
pengalaman nyeri dan penerimaan terhadap yang lainnya
klien terhadap respon nyeri
5. Untuk mengurangi factor yang
4. Tentukan pengaruh pengalaman dapat memperburuk nyeri yang
nyeri terhadap kualitas dirasakan klien
hidup( napsu makan, tidur,
6. untuk mengetahui apakah terjadi
aktivitas,mood, hubungan sosial)
pengurangan rasa nyeri atau nyeri
5. Tentukan faktor yang dapat yang dirasakan klien bertambah.
memperburuk nyeri
7. Pemberian “health education”
6. Lakukan evaluasi dengan klien dan dapat mengurangi tingkat
tim kesehatan lain tentang ukuran kecemasan dan membantu klien
pengontrolan nyeri yang telah dalam membentuk mekanisme
dilakukan koping terhadap rasa nyer

7. Berikan informasi tentang nyeri 8. Untuk mengurangi tingkat


termasuk penyebab nyeri, berapa ketidaknyamanan yang dirasakan
lama nyeri akan hilang, antisipasi klien.
terhadap ketidaknyamanan dari
prosedur 9. Agar nyeri yang dirasakan klien
tidak bertambah.
8. Control lingkungan yang dapat
mempengaruhi respon 10. Agar klien mampu
ketidaknyamanan klien( suhu menggunakan teknik
ruangan, cahaya dan suara) nonfarmakologi dalam
memanagement nyeri yang
9. Hilangkan faktor presipitasi yang
dirasakan.
dapat meningkatkan pengalaman
nyeri klien( ketakutan, kurang 11. Pemberian analgetik dapat
pengetahuan) mengurangi rasa nyeri pasien

10. Ajarkan cara penggunaan terapi


non farmakologi (distraksi, guide
imagery,relaksasi)

11. Kolaborasi pemberian analgesic


Resiko Syok Setelah dilakukan tindakan  Syock management
1. Anjurkan pasien untuk banyak 1. Peningkatan intake cairan dapat
keperawatan selama 1x24 menit
minum meningkatkan volume
diharapkan syok tidak terjadi
2. Observasitanda-tandavital tiap 4
intravascular sehingga dapat
dengan kriteria hasil:
jam.
 Keparahan kehilangan meningkatkan volume
3. Observasi terhadap tanda-tanda
darah intravascular yang dapat
dehidrasi.
1. Kehilangan darah yang
4. Observasi intake cairan dan output. meningkatkan perfusi jaringan.
terlihat 5. Kolaborasi dalam pemberian cairan 2. Perubahan tanda-tanda vital dapat
2. Perdarahan vagina infus / transfusi merupakan indikator terjadinya
3. Kulit dan membran mukosa 6. Pemberian koagulantia dan
dehidrasi secara dini
pucat uterotonika. 3. Dehidrasi merupakan terjadinya
4. Tanda-tanda vital
shock bila dehidrasi tidak ditangani
secara baik.
4. Intake cairan yang adekuat dapat
menyeimbangi pengeluaran cairan
yang berlebihan.
5. Cairan intravena dapat
meningkatkan volume
intravaskular yang dapat
meningkatkan perfusi jaringan
sehingga dapat mencegah
terjadinya shock.
6. Koagulan membantu dalam proses
pembekuan darah dan uterotonika
merangsang kontraksi uterus dan
mengontrol perdarahan

Resiko Infeksi Setelah dilakukan tindakan  Kontrol Infeksi


1. Cuci tangan setiap sebelum dan
keperawatan selama 3 x 24 jam 1. Mencegah terjadi infeksi
sesudah melakukan tindakan
infeksi tidak terjadi dengan kriteria nosokomial.
keperawatan. 2. Mencegah infeksi.
hasil:
2. Instruksikan pada pengunjung 3. Nutrisi yang baik dapat
 Kontrol resiko
1. Memonitor faktor resiko untuk mencuci tangan sebelum meningkatkan imun
4. Untuk mencegah terjadi infeksi.
individu dan sesudah berkunjung pada
5. Mengidentifikasi dini infeksi dan
2. Menjalankan strategi kontrol pasien.
mencegah infeksi berlanjut.
3. Tingkatkan intake nutirsi.
resiko yang sudah di tentukan 6. Nilai leukosit merupakan
4. Berikan antibiotic bila perlu.
3. Menggunakan sistem 5. Observasi tanda dan gejala infeksi. indicator adanya infeeksi.
6. Monitor nilai leukosit. 7. Membantu penyembuhan luka dan
dukungan personal untuk
7. Berikan perawatan pada area luka.
mencegah terjadinya infeksi.
mengurangi resiko 8. Ajarkan klien dan keluarga cara
8. Agar klien dan keluarga dapat
4. Suhu tubuh menghindar infeksi
secara mandiri meenghindari
5. Pembekakan sisi luka
infeksi tanpa bantuan perawat.
DAFTAR PUSTAKA

Arif, Mansjoer, 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi III. Jakarta: FKUI.
Bulechek G.M., Howard K.B., Joanne M.D. (Eds.). 2008. Nursing Intervention Classification (NIC), Fifth
Edition. St. Louis Missouri: Mosby Inc.
Carpenito, LJ. 2000. Diagnosa Keperawatan, Aplikasi pada Praktek Klinis, Edisi 6. Jakarta: EGC.
Depkes. 2007. Buku Acuan Pelayan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar. Jakarta : Depkes RI.
Herdman, T.H. & Kamitsuru, S. (Eds.). 2014. NANDA International Nursing Diagnoses: Definitions and
Classification 2015-2017. Oxford: Wiley Blackwell.
Moorhead Sue, Marion Johnson, Meridean L.M., et al. (Eds.). 2008. Nursing Outcomes Classification (NOC),
Fifth Edition. St. Louis Missouri: Mosby Inc.
Prawihardjo, Sarwono. 2002. Pelayanan Kesehatan Maternal dan neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawihardjo.
Wijayarini. 2005. Keperawatan Maternitas. Jakarta : EGC.