Anda di halaman 1dari 12

BAB II

TINJAUAN UMUM PUSKESMAS

2.1 Sejarah Puskesmas Air Dingin Kota Padang


2.2 Gambaran Umum puskesmas Air Dingin Kota Padang
2.2.1 Pengertian Puskesmas Air Dingin Kota Padang
2.2.2 Letak Puskesmas Air Dingin Kota Padang
2.3 Struktur Organisasi Puskesmas Air Dingin Kota Padang
2.3.1 Tugas dan Fungsi
2.4 Pengelolaan Sediaan Farmasi dan Perbekalan Kesehatan
2.4.1 Pemilihanan dan Perencanaan Obat
Perencanaan obat dilakukan oleh Apoteker Puskesmas Air Dingin
berdasarkan :
1. Kasus penyakit.
2. Kunjungan pasien.
3. Pemakaian obat rata-rata berdasarkan Laporan Pemakaian Lembar
Permintaan Obat (LPLPO).
4. Sisa obat pada akhir periode.
Tujuan perencanaan obat :
1. Untuk mengetahui jenis dan jumlah obat sesuai dengan kebutuhan.
2. Untuk mengetahui obat pada sisa bulan tertentu.
3. Untuk menghindari kekosongan obat.
4. Meningkatkan efesiensi penggunaan obat.
5. Kegiatan yang dilakukan dalam perencanaan kebutuhan obat:
a. Tahap pemilihan obat
Fungsi seleksi atau pemilihan obat adalah untuk menentukan apakah obat
benar-benar diperlukan sesuai dengan jumlah penduduk atau pola penyakit
didaerah. Jenis obat yang dibutuhkan disusun berdasarkan usulan Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota dengan mengaju kepada kepres No.80 tahun 2003 tentang
pedoman pengadaan barang dan jasa pemerintah dan Kep.Menkes RI
No.676/menkes/SK/V/2005 tentang pedoman obat esensial pelayanan kesehatan
dasar (depkes RI,2005).
Proses perencanaan kebutuhan obat pertahun Puskesmas diminta
menyediakan data pemakaian obat selama setahun. Selanjutnya petugas membuat
Rencana Kebutuhan Obat (RKO) dan dilaporkan kepada Instalasi Farmasi dan
Logistik Kesehatan (IFLK). Kemudian IFLK akan merekapitulasi kebutuhan obat
di 21 Puskesmas dan dalam pertemuan Perencanaan Obat Tahunan (POT) akan
ditentukan mana obat yang diadakan oleh Dinkes/IFLK, mana obat yang diadakan
oleh Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) di Puskesmas.
b. Berdasarkan pemakaian rata-rata obat setiap bulan dimasukkan keformat
perhitungan RKO.
2.4.2 Pengadaan Obat
Pengadaan obat di Puskesmas Air Dingin Kota Padang dilakukan dengan
permintaan obat menggunakan LPLPO.
Tujuan pengadaan obat :
1. Memenuhi kebutuhan obat masing-masing unit pelayanan kesehatan
sesuai dengan pola penyakit yang ada di wilayah kerjanya.
2. Tersedia obat dengan jenis dan jumlah penyakit yang tepat dengan mutu
yang tinggi dapat diperoleh pada jangka waktu yang cepat.
Pengadaan obat terbagi 2 yaitu :
1. Pengadaan obat secara rutin (PerSemester) yaitu jika stok obat sudah habis
pengadaan obat dilakukan setiap 6 bulan sekali.
2. Pengadaan obat secara khusus yaitu jika stok obat sudah habis atau obat
untuk penyakit tertentu pengadaan dilakukan setiap 1 bulan sekali.
2.4.3 Penerimaan Obat
Penerimaan obat rutin setiap 6 bulan sekali berdasarkan LPLPO dan
diterima oleh Apoteker dari petugas IFLK kemudian obat dan Bahan Medis Habis
Pakai (BMHP) diperiksa oleh Apoteker dan disesuaikan dengan LPLPO dan berita
acara penerimaan obat. Apoteker wajib melakukan pemeriksaan terhadap obat-
obat yang sudah diterima mencakup jumlah obat, jenis obat, bentuk sedian,
kadaluarsa, serta pemeriksaan lain. Keluar masuknya barang dicatat dalam buku
pemasukan barang dan kartu stok masing masing barang, setelah itu barang
disimpan dan disusun sesuai dengan tempatnya.

2.4.4 Penyimpanan Obat


Pengaturan penyimpanan obat digudang dan apotek Puskesmas Air Dingin
disusun didalam rak secara alfabet dan berdasarkan sistem FEFO (First Expired
First Out) dan FIFO (First In First Out). Jenis obat golongan Psikotropik dan
Narkotik disimpan dalam lemari kunci ganda.
Tujuan penyimpanan obat-obatan adalah untuk :
1. Memelihara mutu obat, dengan memperhatikan :
a. Penataan ruang gudang.
b. Ruang kering (tidak lembab).
c. Ada ventilasi.
d. Apabila tidak ada lemari/rak untuk obat, atau tempat obat tidak cukup
maka obat diletakkan dilantai yang diberi alas.
e. Pemindahan harus hati-hati.
f. Golongan antibiotik harus didalam wadah tertutup dan terhindar dari
cahaya matahari.
g. Vaksin dan serum harus dalam wadah tertutup terhindar dari cahaya
matahari dan disimpan dalam lemari es.
2. Menghindari penggunaan yang tidak bertanggung jawab.
2.4.5 Pendistribusian Obat
Distribuisi obat adalah kegiatan pengeluaran obat secara merata dan teratur
untuk memenuhi kebutuhan unit pelayanan kesehatan. Distribusi obat ke
pelayanan puskesmas dilakukan setiap bulan sesuai dengan permintaan dari
masing-masing unit.
2.4.6 Pencatatan Obat
Pencatatan dilakukan dengan cara menulis pengeluaran obat di kartu stok
obat atau komputerisasi dan setiap obat yang keluar direkap ke laporan pemakaian
obat harian untuk di jumlahkan dan dimasukkan ke LPLPO bulanan. Pencatatan
yang dilakukan oleh Puskesmas :
1. Kartu stok obat (digudang dan apotek).
2. Rekapitulasi pemakaian obat harian (di apotek).

2.4.7 Pelaporan Obat


Pelaporan dilakukan oleh Puskesmas :
1. Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat (LPLPO) yaitu laporan
pemakaian obat dan Bahan Medis Habis Pakai dipuskesmas selama satu
bulan. Dalam LPLPO juga memuat permintaan obat yang sudah sedikit
stoknya.
2. Laporan pemantauan penulisan resep generik adalah laporan untuk
mengetahui berapa persentase pemakaian obat generik di puskesmas.
3. Laporan sisa persediaan obat persemester adalah laporan untuk mengetahui
sisa persediaan obat setiap 6 bulan.
4. Laporan Pemakaian Obat Rasional (POR) adalah laporan untuk
mengetahui apakah pasien menerima pengobatan secara tepat dalam dosis,
pemakaian dan indikasi sesuai dengan penyakit diare, Infeksi Saluran
Pernapasan Akut (ISPA), dan Mialgia.
5. Laporan pelayanan kefarmasian adalah laporan yang memuat jumlah
pelayanaan resep harian di rawat jalan dan rawat inap serta Pelayanan
Informasi Obat (PIO).
2.4.8 Pemusnahan Obat
Pemusnahan yang dilakukan di Apotek Puskesmas Simpang Tiga
terbagi 2, yaitu :
1. Pemusnahan resep
Resep disimpan selama 3 tahun setelah 3 tahun baru dapat dimusnahkan,
Pemusnahan dilakukan dengan membuat berita acara yang didalamnya
mencantumkan berat resep (dalam kg) dan tanggal resep pertama dan
tanggal resep terakhir yang dimusnahkan. Pemusnahan dilakukan oleh
petugas farmasi yang di saksikan 2 orang saksi dan diketahui oleh Kepala
Puskesmas. Berita acara ditembuskan ke Dinas Kesehatan Kota Padang.
2. Pemusnahan obat
Pemusnahan obat di Puskesmas Simpang Tiga tidak dilakukan. Obat yang
sudah kadaluarsa atau rusak dikembalikan ke IFLK dan dibuat berita acara
penyerahan obat kadaluarsa atau rusak.

Obat harus dimusnahkan apabila :


a. Sudah kadaluarsa.
b. Obat yang sudah rusak dilihat dari bentuk fisik.

2.5 Pelayanan Farmasi Klinik Puskesmas Air Dingin Kota Padang


Pelayanan farmasi klinik merupakan bagian dari
Pelayanan Kefarmasian yang langsung dan bertanggung
jawab kepada pasien berkaitan dengan Obat dan Bahan
Medis Habis Pakai dengan maksud mencapai hasil yang pasti
untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien (KEMENKES,
2016).

Pelayanan farmasi klinik bertujuan untuk:

1. Meningkatkan mutu dan memperluas cakupan


Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas.

2. Memberikan Pelayanan Kefarmasian yang dapat menjamin


efektivitas, keamanan dan efisiensi Obat dan Bahan Medis
Habis Pakai.

3. Meningkatkan kerjasama dengan profesi kesehatan lain dan


kepatuhan pasien yang terkait dalam Pelayanan Kefarmasian.

4. Melaksanakan kebijakan Obat di Puskesmas dalam


rangka meningkatkan penggunaan Obat secara rasional.

Pelayanan farmasi klinik meliputi:

A. Pengkajian dan pelayanan Resep

B. Pelayanan Informasi Obat (PIO)

C. Konseling

D. Visite Pasien (khusus Puskesmas rawat inap)

E. Monitoring Efek Samping Obat (MESO)

F. Pemantauan Terapi Obat (PTO)

G. Evaluasi Penggunaan Obat

Di Puskesmas Air Dingin, ada beberapa pelayanan farmasi


klinik yang belum dilakukan, diantaranya yaitu: Visite Pasien,
Monitoring Efek Samping Obat (MESO), Pemantauan Terapi Obat
(PTO), dan Evaluasi Penggunaan Obat. Beberapa diantaranya
sudah diprogram untuk dilaksanakan, mungkin dalam tahun
2020 ini.

2.5.1 Formularium Puskesmas Air Dingin Kota Padang


2.5.2 Asuhan Kefarmasian
Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas merupakan satu
kesatuan yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan upaya
kesehatan, yang berperan penting dalam meningkatkan mutu
pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Pelayanan
Kefarmasian di Puskesmas harus mendukung tiga fungsi
pokok Puskesmas, yaitu sebagai pusat penggerak
pembangunan berwawasan kesehatan, pusat pemberdayaan
masyarakat, dan pusat pelayanan kesehatan strata pertama
yang meliputi pelayanan kesehatan perorangan dan
pelayanan kesehatan masyarakat (KEMENKES, 2016).

Pelayanan Kefarmasian merupakan kegiatan yang


terpadu dengan tujuan untuk mengidentifikasi, mencegah dan
menyelesaikan masalah Obat dan masalah yang berhubungan
dengan kesehatan. Tuntutan pasien dan masyarakat akan
peningkatan mutu Pelayanan Kefarmasian, mengharuskan
adanya perluasan dari paradigma lama yang berorientasi
kepada produk (drug oriented) menjadi paradigma baru yang
berorientasi pada pasien (patient oriented) dengan filosofi
Pelayanan Kefarmasian (pharmaceutical care) (KEMENKES,
2016).

Pelayanan kefarmasian di Puskesmas meliputi 2 (dua)


kegiatan, yaitu kegiatan yang bersifat manajerial berupa
pengelolaan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai
dan kegiatan pelayanan farmasi klinik (KEMENKES, 2016).
2.5.3 Pemantauan dan Evaluasi Penggunaan Obat
Pemantauan Terapi Obat (PTO)

Merupakan proses yang memastikan bahwa seorang pasien


mendapatkan terapi Obat yang efektif, terjangkau dengan
memaksimalkan efikasi dan meminimalkan efek samping
(KEMENKES, 2016).

Tujuan:

1. Mendeteksi masalah yang terkait dengan Obat.


2. Memberikan rekomendasi penyelesaian masalah yang terkait
dengan Obat.
Kriteria pasien:
1. Anak-anak dan lanjut usia, ibu hamil dan menyusui.
2. Menerima Obat lebih dari 5 (lima) jenis.
3. Adanya multidiagnosis.
4. Pasien dengan gangguan fungsi ginjal atau hati.
5. Menerima Obat dengan indeks terapi sempit.

6. Menerima Obat yang sering diketahui menyebabkan reaksi Obat


yang merugikan.
Kegiatan:
1. Memilih pasien yang memenuhi kriteria.
2. Membuat catatan awal.
3. Memperkenalkan diri pada pasien.
4. Memberikan penjelasan pada pasien.
5. Mengambil data yang dibutuhkan.
6. Melakukan evaluasi.
7. Memberikan rekomendasi.

Evaluasi Penggunaan Obat

Merupakan kegiatan untuk mengevaluasi penggunaan


Obat secara terstruktur dan berkesinambungan untuk
menjamin Obat yang digunakan sesuai indikasi, efektif,
aman dan terjangkau (rasional) (KEMENKES, 2016).

Tujuan:
1. Mendapatkan gambaran pola penggunaan Obat pada
kasus tertentu.

2. Melakukan evaluasi secara berkala untuk


penggunaan Obat tertentu.

Setiap kegiatan pelayanan farmasi klinik, harus


dilaksanakan sesuai standar prosedur operasional. Standar
Prosedur Operasional (SPO) ditetapkan oleh Kepala Puskesmas.
SPO tersebut diletakkan di tempat yang mudah dilihat.

2.5.4 Pengunaan Obat Rasional


Pada tahun 1985, konferensi WHO di Keknya melahirkan gagasan

mengenai penggunaan obat yang rasional (Hogerzeil , 1993). Penggunaan obat

dikatakan rasional bila pasien mendapatkan obat yang sesuai dengan kebutuhan

Klinis sesuai dosis dan durasi pemberian serta biaya yang dikeluarkan untuk obat

tersebut terbilang rendah bagi pasien dan komunitasnya. Penggunaan obat rasional

bertujuan untuk inenghindari masalah yang dapat timbul terkait obat Drug Related

Problem (World Health Organization, 1985) Penilaian rasionalitas penggunaan

obat ditinjau dari tiga indikator utama yaitu peresepan pelayanan pasien, dan

fasilitas (World Health Organization. 1993). Resep dapat menggambarkan

masalah-masalah obat seperti polifarmasi. penggunaan obat yang tidak tepat

biaya, penggunaan antibiotik dan sediaan injeksi yang berlebihan. serta

penggunaan obat yang tidak tepat indikasi (World Health Organization. 1993),

Ketidaktepatan peresepan dapat mengakibatkan masalah seperti tidak tercapainya

tujuan terapi, meningkatnya kejadian efek samping obat, meningkatnya resistensi

antibiotik. penyebaran infeksi melalui injeksi yang tidak steril, dan pemborosan

sumber daya kesehatan yang langka (World Health Organization, 2009).

2.5.5 Pelayanan Informasi Obat


Merupakan kegiatan pelayanan yang dilakukan oleh
Apoteker untuk memberikan informasi secara akurat, jelas dan
terkini kepada dokter, apoteker, perawat, profesi kesehatan
lainnya dan pasien (KEMENKES, 2016).

Tujuan:

1. Menyediakan informasi mengenai Obat kepada tenaga


kesehatan lain di lingkungan Puskesmas, pasien dan
masyarakat.

2. Menyediakan informasi untuk membuat


kebijakan yang berhubungan dengan Obat (contoh:
kebijakan permintaan Obat oleh jaringan dengan
mempertimbangkan stabilitas, harus memiliki alat
penyimpanan yang memadai).

3. Menunjang penggunaan Obat yang rasional.

Kegiatan:

1. Memberikan dan menyebarkan informasi kepada


konsumen secara pro aktif dan pasif.

2. Menjawab pertanyaan dari pasien maupun tenaga


kesehatan melalui telepon, surat atau tatap muka.

3. Membuat buletin, leaflet, label Obat, poster,


majalah dinding dan lain-lain.

4. Melakukan kegiatan penyuluhan bagi pasien rawat


jalan dan rawat inap, serta masyarakat.

5. Melakukan pendidikan dan/atau pelatihan


bagi tenaga kefarmasian dan tenaga kesehatan
lainnya terkait dengan Obat dan Bahan Medis Habis
Pakai.

6. Mengoordinasikan penelitian obat dan kegiatan terkait.

Faktor-faktor yang perlu diperhatikan:


1. Sumber informasi Obat.
2. Tempat.
3. Tenaga.
4. Perlengkapan.
Informasi Obat dan Non-Obat

1) Informasi Obat

Pemberian informasi adalah untuk mendukung penggunaan obat yang benar

dan rasional, monitoring penggunaan obat untuk mengetahui tujuan akhir serta

kemungkinan terjadinya Kesalahan Pengobatan/Medication Error (Pemerintah RI,

2009). Informasi yang perlu disampaikan oleh apoteker pada masyarakat dalam

penggunaan obat bebas atau obat bebas terbatas antara lain (Depkes RI, 2006):

a) Khasiat Obat

Apoteker perlu menerangkan dengan jelas apakhasiat obat yang

bersangkutan, sesuai atau tidak denganindikasi atau gangguan kesehatan yang

dialami pasien.

b) Kontra-Indikasi

Pasien juga perlu diberi tahu dengan jelaskontra-indikasi dari obat yang

diberikan, agar tidak menggunakannya jika memiliki kontra-indikasi dimaksud.

c) Efek Samping dan Cara Mengatasinya

Pasien juga perlu diberi informasi tentang efek samping yang mungkin

muncul, serta apa yang harus dilakukan untuk menghindari atau mengatasinya.

d) Cara Pemakaian

Cara pemakaian harus disampaikan secara jelas kepada pasien untuk

menghindari salah pemakaian, apakah ditelan, dihirup, dioleskan, dimasukkan

melalui anus, atau cara lain.

5
6

e) Dosis

Sesuai dengan kondisi kesehatan pasien, apoteker dapat menyarankan dosis

sesuai dengan yang disarankan olehprodusen (sebagaimana petunjuk pemakaian

yang tertera dietiket) atau dapat menyarankan dosis lain sesuai

denganpengetahuan yang dimilikinya.

f) Waktu Pemakaian

Waktu pemakaian juga harusdiinformasikan dengan jelas kepada pasien,

misalnya sebelumatau sesudah makan atau saat akan tidur.

g) Lama Penggunaan

Lama penggunaan obat juga harus diinformasikan kepada pasien, agar

pasien tidak menggunakan obat secara berkepanjangan karena penyakitnya belum

hilang, padahal sudah memerlukan pertolongan dokter.

h) Hal yang harus diperhatikan sewaktu minum obat tersebut,misalnya pantangan

makanan atau tidak boleh minum obat tertentu dalam waktu bersamaan.

i) Hal apa yang harus dilakukan jika lupa memakai obat.

j) Cara penyimpanan obat yang baik.

k) Cara memperlakukan obat yang masih tersisa.

l) Cara membedakan obat yang masih baik dan sudah rusak.

2) Informasi Non-Obat
7

Misalnya, informasi non-obat yang perlu disampaikan apoteker kepada

pasien diare antara lain (Depkes, 2006):

a) Minum banyak cairan (air, sari buah, sup bening). Hindari alkohol, kopi/teh, dan

susu.

b) Hindari makanan padat atau makanlah makanan yang tidak berasa (bubur, roti,

pisang) selama 1-2 hari.

c) Minum cairan rehidrasi oral-oralit/larutan gula garam.

d) Cucilah tangan dengan baik setiap habis buang air besar dan sebelum

menyiapkan makanan (diare karena infeksi bakteri/virus bisa menular).

e) Tutuplah makanan untuk mencegah kontaminasi dari lalat,kecoa, dan tikus.

f) Simpanlah secara terpisah makanan mentah dan yang matang, simpanlah sisa

makanan di dalam kulkas.

g) Gunakan air bersih untuk memasak.

h) Air minum harus direbus terlebih dahulu.

i) Buang air besar pada jamban.

j) Jaga kebersihan lingkungan.

k) Bila diare berlanjut lebih dari dua hari, bila terjadi dehidrasi, kotoran berdarah,

atau terus-menerus kejang perut periksakan ke dokter.

Berdasarkan Departemen Kesehatan (DEPKES), pelayanan informasi

dapat berupa informasi obat dan non-obat. Di puskesmas Air Dingin, pelayanan

informasi obat maupun non obat yang patut disampaikan dilakukan ketika

penyerahan obat di apotek.