Anda di halaman 1dari 8

MAKALAH

SISTEM HUKUM DAN PRADILAN NASIONAL

OLEH

NAMA: KHAIRUL FATA

KELAS:2 TKR 1

SMK N 2 LANGSA
TAHUN AJARAN

2018/2019
Sistem Hukum dan Peradilan Nasional

Sistem Hukum dan Peradilan Nasional

1. Pengertian sistem hukum peradilan nasional

 Pada umumnya, hukum diartikan sebagai peraturan atau tata tertib yang mempunyai sifat
memaksa, mengikat, dan mengatur hubungan manusia dengan manusia yang lainnya dalam
masyarakat dengan tujuan menjamin keadilan dan ketertiban dalam pergaulan hidup dalam
bermasyarakat.
 Hukum yang mempunyai sifat mengatur dan memaksa ini bertujuan untuk:
o Ø Mengatur pergaulan hidup manusia secara damai (Van Apeldorn)
o Ø Mencapai keadilan, yaitu adanya unsur daya guna dan kemanfaatan (Geny)
o Ø Menjaga kepentingan tiap-tiap manusia supaya kepentingan-kepentingan itu tidak
dapat diganggu gugat.
o Hukum memiliki cirri-ciri sebagai berikut:
 Ø Adanya perintah/larangan
 Ø Perintah larangan itu bersifat memaksa/mengikat semua orang.
 Hukum mengandung beberapa unsur berikut:
 Ø Peraturan mengenai tingkah laku manusia dalam pergaulan
masyarakat
 Ø Peraturan itu dibentuk oleh badan-badan resmi yang
berwajib/berwenang.
 Ø Peraturan itu bersifat memaksa
 Ø Sanksi terhadap pelanggaran peraturan tersebut adalah tegas dan
nyata
 Sistem hukum di Indonesia merupakan campuran dari sistem hukum
di Eropa, hukum agama, dan hukum adat. Sebagian besar sistem
yang dianut mengacu pada hukum Eropa, khususnya dari Belanda.
Hal ini berdasarkan fakta sejarah bahwa Indonesia merupakan bekas
wilayah jajahan Belanda. Hukum agama juga merupakan bagian dari
sistem hukum di Indonesia karena sebagian besar masyarakat
Indonesia menganut agama Islam, maka hukum Islam lebih banyak
diterapkan, terutama di bidang perkawinan, kekeluargaan, dan
warisan. Sementara hukum adat merupakan aturan-aturan
masyarakat yang dipengaruhi oleh budaya-budaya yang ada di
wilayah Nusantara dan diwariskan secara turun-temurun. Secara
umum, hukum di Indonesia dibagi menjadi dua macam, yaitu hukum
perdata dan hukum pidana.

 Penggologan Hukum

Jenis Penggolongan Macam Pengertian Contoh


Hukum undang- Hukum yang tercantum di UU Sisdiknas
undang dalam peraturan perundang-
undanganHukum yang Hukum adat Sunda
Hukum adat dan diambil dari peraturan-
hukum kebiasaan peraturan adat dan
kebiasaan
KUHP
Hukum yang terbentuk
Hukum
dari putusan pengadilan
yurisprudensi
Berdasarkan Hukum batas
Sumbernya Negara
Hukum yang ditetapkan
Hukum traktat
oleh Negara peserta
perjanjian internasional

Hukum yang berasal dari


Hukum doktrin pendapat para ahli hukum
terkenal
Hukum tertulis Hukum yang dapat ditemui KUHP, KUHD,
dalam bentuk tulisan dan KUHAP
dicantumka dalam berbagai
peraturan Negara.Hukum
tertulis terbagi atas:

a) Hukum yang
Berdasarkan dikodifikasi
bentuknya
b) Hukum yang tidak
Hukum yang tidak dikodifikasi
tertulis Hukum kebiasaan
dan hukum adat

Hukum yang masih hidup


dalam keyakinan dan
kenyataan dalam
masyarakat yang
bersangkutan
Hukum public Hukum yang mengatur Hukum tata Negara,
hubungan antar warga hukum pidana,
Negara dan Negara yang hukum acara
menyangkut kepentingan pidanaHukum
Hukum privat umum/public perdata,hukum
Berdasarkan isinya
dagang
Hukum yang mengatur
hubungan antara orang
yang satu dengan yang lain
dan bersifat pribadi
Hukum nasional Hukum yang berlau di dalam Hukum
suatu Negara IndonesiaPerjanjian
Hukum internasional internasional
Hukum yang mengatur
hubungan dua Negara atau Hukum
lebih kewarganegaraan,
Hukum asing hukum perang,
Berdasarkan tempat hukum perdata
berlakunya internasional
Hukum yang berlaku
Hukum gereja dalam Negara lain

Kaidah yang ditetapkan


gereja untuk para
anggotanya
Hukum positif (ius Hukum yang berlaku saat ini Hukum pidana
constitutum)
Hukum yang dicita- Hukum pidana
Hukum yang akan citakan,diharapkan, atau nasional yang
datang (ius direncanakan akan berlaku belum disusun
constituendum) pada masa yang akan
dating
Berdasarkan masa
berlakunya
Piagam PBB
tentang DUHAM
Hukum yang berlaku tanpa
Hukum universal, mengenal batas ruang dan
hukum asasi atau waktu. Berlaku sepanjang
hukum alam masa, dimana pun terhadap
siapa pun
Hukum material Hukum yang mengatur KUHP
Berdasarkan cara tentang isi hubungan
mempertahankannya
antarsesama anggota
masyarakat,antar anggota
masyarakat dengan
penguasa Negara,antar
masyarakat degan penguasa
Hukum formal Negara Hukum acara
PTUN
Hukum yang mengatur
bagaimana cara penguasa
mempertahankan dan
menegakan serta
melaksanakan kaidah-
kaidah hukum material dan
bagaimana cara
menuntutnya apabila hak
seseorang telah dilanggar
oleh orang lain.
Kaidah hukum yang Hukum dalam keadaan Ketentuan pasal 340
memaksa apapun mutlak ditaati KUH Pidana

Ketentuan pasal
1152 KUH Perdata
Berdasarkan sifatnya Kaidah hukum yang Kaidah hukum yang dapat
mengatur dan dikesampingkan para pihak
melengkapi dengan jalan membuat
ketentuan khusus dalam
suatu perjanjian yang
mereka adakan

1. Macam-macam dan alat kelengkapan peradilan

 Kekuasaan kehakiman tertinggi di Indonesia dilakukan oleh Mahkamah Agung. Badan


peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung meliputi badan peradilan dalam
lingkungan peradilan umum, peradilan agama, peradilan militer, dan peradilan tata usaha
negara.
 Pengadilan negeri berkedudukan di kota atau di ibukota kabupaten dan daerah hukumnya
meliputi wilayah kota atau kabupaten. Sementara pengadilan tinggi berkedudukan di
ibukota provinsi dan daerah hukumnya meliputi wilayah provinsi yang dibentuk dengan
undang-undang. Susunan pengadilan negeri terdiri atas pimpinan (ketua dan wakil ketua),
hakim anggota, panitera, sekretaris, dan juru sita. Juru sita tidak terdapat di pengadilan
tinggi. Juru sita bertugas melaksanakan semua perintah yang diberikan oleh ketua sidang
dengan cara menyampaikan pengumuman-pengumuma, teguran-teguran, pemberitahuan
putusan pengadilan, dan melakukan penyitaan. Pengadilan negeri bertugas dan berwenang
memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara pidana dan perkara perdata di tingkat
pertama. Pengadilan tinggi bewenang mengadili perkaa pidana dan perkara perdata di
tingkat banding. Di samping itu, pengadilan tinggi juga berwenag mengadili di tingkat
pertama dan terakhir.
 Peradilan agama yang dimaksud, yaitu peradilan agama Islam. Kekuasaan kehakiman dalam
peradilan agama dilakukan oleh pengadilan agama yang terdiri atas badan peradilan tingkat
pertama dan badan peradilan tingkat banding. Pengadilan agama mempunyai daerah hukum
yang sama dengan pengadilan negeri, mengingat pelaksanaan putusan pengadilan agama
masih memerlukan pengukuhan dari pengadilan negeri. Jadi, pengadilan agama terdapat di
setiap ibukota kabupaten dan kota.
 Tugas dan wewenang pengadilan agama pada pokoknya adalah memeriksa dan memutus
sengeta antara oang-orang yang beragama Islam mengenai bidang hukum perdata tertentu
yang harus diputus berdasarkan syariat Islam. Oleh karena itu, berlakunya hukum ini
terbatas pada orang-orang yang beragama Islam. Perkara perkara di pengadilan agama
dapat dibagi menjadi tiga, yaitu:
o perkara yang tidak mengandung sengketa;
o permohonan fatwa pembagian warisan yang pada umumnya bukan merupakan
sengketa; serta
o perkara perselisihan pernikahan.
o Pada 29 Desember 1989, disahkan Undang-Undang Peradilan Agama, yaitu UU No. 7
Tahun 1989. Semua peraturan pelaksanaan yang telah ada mengenai peradilan
agama dinyatakan tetap berlaku selama ketentuan baru berdasarkan undang-
undang peradilan agama belum dikeluarkan. Undang-undang tersebut menegaskan
bahwa peradilan agama merupakan peradilan bagio orang-orang yang beragama
Islam. Wewenang peradilan agama adalah memeriksa, memutus, dan
menyelesaikan perkara perdata antara orang-orang yang beragama Islam di bidang
perkawinan, warisan, wasiat, hibah, waqaf, dan shadaqoh.
o Susunan sidang Mahkamah Militer dan Mahkamah Militer Tinggi terdiri atas tiga
orang hakim, seorang oditur, jaksa tentara, dan seorang panitera. Peradilan militer
mempunyai wewenang memeriksa dan memutus perkara pidana terhadap
kejahatan dan pelanggaran yang dilakukan oleh anggota militer sebagai berikut.
 Seseorang yang pada waktu melakukan kejahatan atau pelanggran berstatus
anggota militer.
 Seseorang yang pada waktu melakukan kejahatan atau pelanggaran undang-
undang atau peraturan pemerintah ditetapkan sama dengan anggota
militer.
 Seorang yang pada waktu melaukan kejahatan atau pelanggaran adalah
anggota suatu golongan atau jawatan yang dipersamakan atau dianggap
sebagai anggota militer.
 Seorang yang tidak termasuk hal-hal tersebut, tetapi atas ketetapan Menteri
Pertahanan dengan persetujuan menteri Khakiman harus diadili oleh suatu
pengadilan dalam lingkungan peradilan militer.
 Mahkamah militer mengadili dalam tingkat pertama perkara-perkara tingkat
kejahatan dan pelanggaran, apabila terdakwa atau salah satu terdakwa pada
waktu melakukan perbuatan adalah perwira berpangkat di bawah kapten.
Mahkamah militer tinggi memutus di tingkat pertama perkara kejahatan dan
pelanggaran, apabila terdakwa atau salah satu terdakwa pada waktu
melakukan perbuatan adalah perwira yang berpangkat mayor ke atas.
 Dalam peradilan tingkat kedua, mahkamah militer tinggi memeriksa dan
memutus semua perkara yang telah diputus oleh mahkamah militer oleh
daerah hukumnya yang dimintakan pemeriksaan ulang. Dalam tingkat
pertama dan terakhir, mahkamah militer tinggi memeriksa dan memutus
perselisihan tentang kekuasaan mengadili antara beberapa mahkamah
militer dalam daerah hukumnya.
 Pada Desember 1986, telah disahkan Undang-Undang No. 5 tahun 1986
tentang peradilan tata usaha negara yang merupakan pengadilan tingkat
pertama dalam peradilan tata usaha negara (administrasi). Pengadilan
tingkat banding adalah pengadilan tinggi tata usaha negara. Setiap putusan
tingkat terakhir pengadilan dapat dimohonkan kasasi dari Mahkamah
Agung.
 Alat-alat kelengkapan peradilan teridiri dari hakim, jaksa dan polisi

1. Sikap perbuatan yang sesuai hukum

 Contoh sikap dan perilaku yang sesuai dengan ketentuan hukum/norma dalam kehidupan
sehari-hari di antaranya sebagai berikut.
o Di lingkungan keluarga
 Menghormati orang tua
 Mematuhi perintah dan larangan orangtua
 Belajar sesuai jadwal yang telah ditentukan
 Mematuhi aturan yang telah dibuat keluarga
 Melaksanakan tugas yang telah disepakati oleh anggota keluarga
 Di lingkungan sekolah
 Menghormati guru
 Mematuhi perintah dan larangan guru
 Mengerjakan tugas rumah yang diberikan oleh guru tepat waktu
 Memakai seragam yang ditentukan oleh sekolah
 Datang dan masuk sekolah tepat waktu
 Membayar SPP tepat waktu
 Mematuhi tata tertib sekolah
 Melaksanakan upacara bendera
 Di lingkungan masyarakat
 Ikut menjaga ketertiban dan keamanan lingkungan,
misalnya melaksanakan
 Siskamling sesuai jadwal yang telah ditentukan
 Mematuhi aturan dan norma yang berlaku di masyarakat
 Mengikuti gotong royong secara bersama-sama
 Melaksanakan hasil musyawarah yang dilakukan di
lingkungan RT/RW atau Desa
 Di lingkungan bangsa dan negara
 Mematuhi semua aturan hukum yang ada di
Indonesia
 Memiliki KTP bagi warga negara yang telah berusia
17 tahun atau telah menikah
 Memiliki SIM bagi pengendara motor atau mobil
 Membayar pajak tepat waktu
 Mentaati rambu-rambu lalu lintas ketika sedang
mengendarai motor atau mobil

1. Upaya pemberantasan korupsi

 Korupsi adalah pengabaian atau penyisihan atas suatu standar yang seharusnya ditegakkan.
Secara sempit, pengertian korupsi yaitu pengabaian standar perilaku tertentu oleh pihak
yang berwenang demi memenuhi kepentingan diri sendiri.
 Pemberantasan korupsi di Indonesia sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun
2001.
 Untuk menanggulangi upaya tindak pidana korupsi, pemerintah membentuk suatu komisi,
yaitu Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Komisi Pemberantasan Korupsi adalah sebuah
komisi yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 untuk mengatasi,
menanggulangi, dan memberantas korupsi. Dalam menjalankan tugasnya, KPK bersifat
independen dan bebas dari pengaruh kekuasaan lain. KPK dibentuk dengan tujuan untuk
meningkatkan daya guna dan hasil guna terhadap upaya pemberantasan tindak pidana
korupsi.
 Berikut ini beberapa contoh korupsi yang dilakukan di tingkat menengah ke bawah.
o Jam kerja diisi oleh kegiatan lain, misalnya keluar kantor atau bermain game di
komputer atau handphone.
o Proses perizinan birokrasi yang berbelit.
o Biaya pembuatan Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga yang terlampau
mahal.
o Pembuatan Surat Izin Mengemudi (SIM) melalui calo atau perantara sehingga
biayanya semakin mahal.

Pungutan liar yang dilakukan oleh para oknum aparat di jalan-jalan yang dilalui oleh
kendaraan.