Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI SEDIAAN LIQUIDA DAN SEMI SOLIDA


“Sediaan Larutan Bahan Alam Orthosiphon folia”

Disusun oleh:
Kelompok 4

Dini Febrianty (P17335118001) Ghea Safhira S. (P17335118023)

Nur Asiah (P17335118003) Serly Rahmawati (P17335118053)

Prita Dewi (P17335118013) Rian Okta F. (P17335118055)

Dosen Pembimbing:
Hanifa Rahma, M.Si., Apt.

KEMENTRIAN KESEHATAN
POLITEKNIK KESEHATAN BANDUNG
JURUSAN FARMASI
2019
SEDIAAN LARUTAN BAHAN ALAM ORTHOSIPHON FOLIA
I. TUJUAN PERCOBAAN
II. LATAR BELAKANG (Dini Febrianty/P17335118001)
Larutan merupakan suatu campuran homogen yang terdiri dari dua atau lebih zat
dalam komposisi yang bervariasi. Zat yang jumlahnya kebih sedikit didalam larutan
disebut zat terlarut, sedangkat zat yang jumlahnya lebih banyak dari pada zat-zat
lain dalam larutan disebut pelarut (Hasan, I. 2004).
Bahan alam merupakan komponen atau substansi kimiavyang merupakan
metabolit sekunder (secoundary metabolites) yang dapat berupa komponen tunggal
atau murni hasil isolasi maupun yang masih berupa campuran komponen dalam
bentuk ekstrak, sediaan kering dari bagian tertentu atau keseluruhan dari suatu
organisme baik tumbuhan, mikroba ataupun hewan yang di eksploitasi dan
dimanfaatkan karena efek farmakologis (pharmacological effect), efek terapi
(therapeutic effect), antioksidan (antioxidative effect), antibakteri (antibacterial) dan
kemampuannya sebagai bahan pewarna (coloring agent), penyedap (flavoring
agent), pengharum (parfuming agent), pengikat (fixative agent), serta karena
aktivitas biologis (biological activity) lainnya seperti kemampuan pestisida alami
(Nugroho, A. 2017).
Salah satu tanaman yang banyak digunakan dan mudah didapat di Indonesia
adalah Orhosiphon folia atau biasa kita kenal dengan daun kumis kucing.
Orhosiphon folia termasuk tanaman dari famili laminaceae dan merupakan tanaman
terna yang tumbuh tegak, pada buku-bukunya berkar tetapi tidak tanpak nyata,
tinggi tanaman sampai 2 m dan batang bersegi empat agak beralur (Eliyanoor,
2012). Secara kimia Orhosiphon folia mengandung flavon, polifenol, protein aktif,
glikosida, minyak atsiri dan kalium. Dalam Senyawa flavonoid yang ada dalam
Orhosiphon folia, salah satunya terdapat sinensetin sebagai marker yang merupakan
turunan flavonoid dengan metilasi gugus hidroksil dan dalam daun kumis kucing
mengandung sinensetin tidak kurang dari 0,10% (Himani et al.,2013).
Efek farmakologi dari Orhosiphon folia yaitu Orhosiphon folia secara
tradisional telah digunakan dijawa untuk pengobatan hipertensi dan diabetes juga
digunakan dalam pengobatan tradisional untuk gangguan kandung kemih dan ginjal,
batu empedu, asam urat dan rematik. Orhosiphon folia dinyatakan memiliki sifat
diuretik (Herba medika, halaman 313).
Berdasarkan senyawa yang terkandung dalam Orhosiphon folia yaitu flavon,
polifenol, protein aktif, glikosida, minyak atsiri dan kalium, sinensetin termasuk
kedalam turunan flavonoid yang memiliki kelarutan stabil dalam air sehingga dibuat
sediaan infusa dengan air sebagai pembawa dan karena dalam Orhosiphon folia juga
terdapat minyak atsiri maka larutan infusa disaring setelah dingin agar minyak atsiri
tidak menguap atau menghilang. Dalam pembuatan sediaan Orhosiphon folia
dibutuhkan pemanis untuk meningkatkan akseptabilitas karena Orhosiphon folia
memiliki rasa yang pahit. Tetapi, tidak dibutuhkan pengawet dan antioksidan karena
dalam sediaan digunakan dosis tunggal yang berarti sediaan dibuat segar. Hal inilah
yang melatarbelakangi Orhosiphon folia dibuat sediaan larutan bahan alam (Himani
et al.,2013).

III. PERHITUNGAN DOSIS (Dini Febrianty/P17335118001)


Dosis = 2 – 3 gram dalam 150 mL sekali minum untuk sehari
(Pdf for herbal medicine edisi 2, halaman 434)
3 gram
Kadar % = 150 mLx 100% = 6 %

Dosis
1x = 150 mL
Sehari = 150 mL
Jadi, dosis yang diberikan adalah sehari sekali sebanyak 150 mL.

IV. PERMASALAHAN DAN PENYELESAIAN


V. TINJAUAN PUSTAKA
VI. SPESIFIKASI SEDIAAN
VII. PENDEKATAN FORMULA
VIII. PENIMBANGAN DAN PERHITUNGAN DAPAR (Dini Febrianty /
P17335118001)
A. Optimasi
No Nama Bahan Jumlah yang Ditimbang
1 Orthosipon folium 0,5000 gram
2 Sukrosa 10 gram
3 Aquadest ad 150 mL ±489,5 mL
Perhitungan optimasi
Dibuat 1 botol @150 ml :
0,1 gram
1. Orthosipon folium = × 500 mL = 0,5000 gram
100 mL
2 gram
2. Sukrosa = 100 mL × 500 mL = 10 gram

3. Aquadest ad 150 mL = ±150 – (0,5 +10 )


= ±489,5 mL

Kelarutan Bahan Optimasi

Jumlah bagian pelarut yang diperlukan


Istilah kelarutan
untuk melarutkan 1 bagian zat
Sangat mudah larut Kurang dari 1
Mudah larut 1 sampai 10
Larut 10 sampai 30
Agak sukar larut 30 sampai 100
Sukar larut 100 sampai 1000
Sangat sukar larut 1000 sampai 10.000
Praktis tidak larut lebih dari 10.000
(Kementrian Kesehatan RI, 2014)
Kelarutan optimasi
1. Kelarutan Orthosipon folium
Kelarutan dalam air adalah 0,0085 gram/mL
(Foodb, showing compound sinensetin)
0,15
Aquadest : × 1 mL = 17,64 mL ~ 20 mL
0,0085

2. Kelarutan Sukrosa
Sangat mudah larut dalam air, praktis tidak lart dalam kloroform, sukar larut
dalam etanol, sukar larut dalam etanol (95%).
(HOPE 6th , halaman 704)
Aquadest : 3 gram × 0,5 = 0,5 mL ~ 1 mL
3. Aquadest ad 150 mL = ±150 – (0,15 + 3)
= ±146,85 mL
B. Skala Besar
Penimbangan Skala Besar
No Nama Bahan Jumlah yang Ditimbang
1 Orthosipon folium 0,15 gram
2 Sukrosa 3 gram
3 Aquadest ad 150 mL ±146,85 mL
Volume sediaan setiap botol : 150 mL + (3% x 150 mL) = 154,5 mL
Jumlah sediaan yang akan dibuat : 3 botol x 154,5 mL = 463,5 mL
: 463,5 mL+(10%x463,5 mL) = 509,85 mL
≈ 500 ml
0,1 gram
4. Orthosipon folium = × 500 mL = 0,5000 gram
100 mL
2 gram
5. Sukrosa = 100 mL × 500 mL = 10 gram

6. Aquadest ad 500 mL = ±500 – (0,5 +10 )


Kelarutan Skala Besar
1. Kelarutan Orthosipon folium
Kelarutan dalam air adalah 0,0085 gram/mL
(Foodb, showing compound sinensetin)
0,500
Aquadest : 0,0085 × 1 mL = 58,82 mL ~ 100 mL

2. Kelarutan Sukrosa
Sangat mudah larut dalam air, praktis tidak lart dalam kloroform, sukar larut
dalam etanol, sukar larut dalam etanol (95%).
(HOPE 6th , halaman 704)
Aquadest : 10 gram × 0,5 = 5 mL ~ 10 mL
3. Aquadest ad 150 mL = ±500 – (0,5 + 10)
= ±489,5 mL

Dapus
Hasan, I. 2004. Analisis Data Penelitian dengan Statistik. Jakarta: Bumi Aksara.
Nugroho, Agung. 2017. Buku Ajar Teknologi Bahan Alam. Banjarmasin : Lambung
Mangkurat Univerity Press.
Himani et al., 2013. mishai Kuching: a glimpse of maestro. Int J Phar Sci. 22 (2): 55-
59.
Rowe, Raymond dkk.2009. Handbook Of Pharmaceutical Excipients. Sixth Editior.
Kementrian Kesehatan RI Republik Indonesia. 2014. Farmakope Indonesia edisi V,
Jakarta: Dapartemen Kesehatan.

Ini yang aku gatau penulisnya + ditulisnya gimana 


Pdf for herbal medicine edisi 2, halaman 434
Herba medika