Anda di halaman 1dari 36

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI SEDIAAN LIQUIDA DAN SEMI SOLIDA


“Sediaan Elixir Bromhexine HCl 4 mg/5 mL”

Disusun oleh:
Kelompok 4

Dini Febrianty (P17335118001) Ghea Safhira S. (P17335118023)

Nur Asiah (P17335118003) Serly Rahmawati (P17335118053)

Prita Dewi (P17335118013) Rian Okta F. (P17335118055)

Dosen Pembimbing:
Siska Tri Apriyoannita, S. Farm.

KEMENTRIAN KESEHATAN
POLITEKNIK KESEHATAN BANDUNG
JURUSAN FARMASI
2019
SEDIAAN ELIXIR BROMHEXINE HCl 5 mg/5 mL

I. TUJUAN PERCOBAAN (Prita Dewi/P17335118013)


Menformulasikan, membuat dan mengevaluasi sediaan elixir
Bromhexine HCl 4 mg/ 5 mL.

II. LATAR BELAKANG (Prita Dewi/P17335118013)


Eliksir berupa larutan obat dengan zat tambahan seperti gula, zat
pengawet, zat pewarna, dan zat pewangi sehingga mempunyai rasa dan bau
yang sedap. Eliksir ini digunakan sebagai obat dalam. Sebagai pelarut utama
adalah etanol 90% dan dapat ditambahkan gliserol, sorbitol, dan
propilenglikol. Karena eliksir bersifat hidroalkohol maka dapat menjaga obat
baik yang larut dalam air etanol dalam larutan eliksir mengandung etanol 5-
10% (Anief, 2010).
Bromhexine ialah derivat sintetik dari visicane, suatu zat aktif dari
adhatoda vasica. Obat ini digunakan sebagai mukolitik pada bronkitis atau
kelainan saluran nafas yang lain. Selain itu, obat ini digunakan secara lokal di
bronkus untuk memudahkan pengeluaran dahak pasien yang dirawat di Unit
Gawat Darurat. Data efektivitas klinik obat ini sangat terbatas. Dalam hati zat
ini dirombak praktis tuntas menjadi a.l. metabolit aktif ambroxol yang juga
digunakan sebagai mukolitikum (Raharja, 2008).
Bromhexine HCl memiliki dosis sebagai berikut:
- Dewasa : 3 – 4× sehari, 8 mg – 16 mg.
- Anak – anak : 3× sehari, 1,6 mg – 8 mg.
(Raharja, 2008).
Untuk dapat menentukan bahan – bahan yang dapat ditambahkan pada saat
formulasi adalah mengetahui pemerian, kelarutan, stabilitas, serta
inkompatibilitas dari Brohmexine HCl. Bromhexine HCl memiliki kelarutan
sangat sedikit larut dalam air, sedikit larut dalam alkohol, dan diklorometana
(Sweetman, 2009) sehingga jumlah air tidak cukup untuk melarutkan
Bromhexine HCl, maka sediaan dibuat eliksir dengan pelarut campur yaitu
etanol dan gliserin. Pelarut campur yang digunakan bertujuan untuk

1
meningkatkan kelarutan bahan aktif. Namun, KD pelarut campur harus
mendekati KD bahan aktif agar bahan aktif dapat terlarut dengan baik. KD
bahan aktif yang digunakan adalah 73,75. Bromhexine HCl dibuat menjadi
sirup elixir yang digunakan secara oral dan biasanya eliksir mengandung
etanol 5% - 10%, kadar etanol yang digunakan adalah 5% yang termasuk ke
dalam dosis anak – anak yang berusia 6 – 12 tahun. Bromhexine HCl
mempunyai rentang pH stabilitas adalah 6,3-6,5 (Zaid, 2007). Bromhexinr
HCl memiliki rentang pH kurang dari 2, sehingga dalam pembuatan
digunakan dapar. Karena rentang pH stabilitas 6,3-6,5 bersifat asam, makan
dapar yang digunakan adalah dapar sitrat yang terdiri dari asam sitrat dan
natrium sitrat (Zaid, 2007).
Agar sediaan yang dihasilkan tetap stabil selama penggunaannyam maka
setiap eksipien harus sesuai dengan stabilitas dan inkompatibilitas. Dalam
formula ditambahkan gliserin sebagai anti mikroba karena pelarut yang
digunakan untuk sediaan eliksir adalah air. Air merupakan tempat yang baik
untuk pertumbuhan mikroba (Kemenkes, 2014). Selain itu, gliserin juga
digunakan sebagai pelarut campur. Gliserin memiliki rentang kadar 20%-30%
(Rowe, 2009), maka kadar gliserin yang digunakan untuk sediaan eliksir
Bromhexine HCl adalah 20%.
Bromhexine HCl memiliki stabilitas yang harus terlindung dari cahaya
(Sweetman, 2009) sehingga botol yang digunakan haruslah botol kaca
berwarna coklat agar sediaan dapat terlindung dari cahaya matahri secara
langsung. Selain itu sediaan eliksir Bromhexine HCl ditambahkan Natrium
Sakarin sebagai pemanis dan juga ditambahkan corigens saporis jeruk, karena
Bromhexine HCl tidak memiliki rasa. Natrium Sakarin memiliki rentang kadar
0,075% - 0,6% (Rowe, 2009), maka kadar Natrium Sakarin yang digunakan
adalah 0,2%. Selain ditambahkan corigens saporis, sediaan eliksir juga
ditambahkan corigens coloris karena pada pemerian Bromhexine HCl yaitu
bubuk kristal putih atau hampir putih (Sweetman, 2009). Corigens coloris
yang digunakan yaitu warna jingga dengan kadar yaitu 0,001%. Corigens
saporis dan corigens coloris berfungsi untuk meningkatkan askeptabilitas
sediaan.

2
Dalam sediaan optimasi pembuatan dilebihkan 3% dan skala besar
pembuatan dilebihkan 10% karena ditakutkan adanya jumlah volume
terpindahkan saat pemindahan sediaan sehingga terjadi kekurangan volume
sediaan.

III. PERHITUNGAN DOSIS (Serly Rahmawati/P17335118053)


Dewasa : 3-4 dd 8-16 mg
Anak-anak : 3 dd 1,6-8 mg (Rahardja, 2008)
Kadar Bromhexine HCl dalam 60 mL (4 mg/5 mL)
4 mg
x 60 mL = 48 mg = 0,048 gram
5 mL
0,048 g
x 100% = 0,08%
60 mL
1. Untuk anak-anak
1,6 mg
1x = x 60 mL = 2 mL
48 mg
8 mg
1x = x 60 mL = 10 mL
48 mg

Sehari = 2 mL-10 mL sehari 3x


2. Untuk dewasa
8 mg
1x = x 60 mL = 10 mL
48 mg
16 mg
1x = x 60 mL = 20 mL
48 mg

Sehari = 10 mL-20 mL 3 - 4x

IV. PERMASALAHAN DAN PENYELESAIAN (Dini


Febrianty/P17335118001)

PERMASALAHAN PENYELESAIAN
Bromheksine HCl sangat sedikit larut Sehingga jumlah air tidak cukup untuk
dalam air, sedikit larut dalam etanol melarutkan bromhexine HCl sehingga
dan diklorometana (Martindale, hlm sediaan dibuat elixir dengan menggunakan
1115) pelarut campur yaitu gliserin, etanol dan
aquadest.
Rentang pH stabilitas dari bromhexine Dalam formula, karena rentang pH
HCl adalah 6,3 – 6,5 bersifat asam. stabilitas kurang dari 2, maka ditambahkan
Rentang pH stabilitas kurang dari 2. dapar.
(Formulation and stability evaluation

3
of 1% w/v oral solution of bromhexine
hydrchloridum, hlm 20)
pH stabilitas dari bromhexine HCl Maka dapar yang digunakan dalam formula
adalah 6,3 – 6,5 dan bersifat asam. yaitu dapar asam sulfat.
(Formulation and stability evaluation
of 1% w/v oral solution of bromhexine
hydrchloridum, hlm 20)
Pelarut yang digunakan air, air Sehingga dalam formula ditambahkan
merupakan tempat yang baik untuk pengawet yaitu gliserin dengan kadar 20% -
pertumbuhan mikroba. 30%. Kadar yang digunakan yaitu 20%.
(Farmakope Indonesia. Edisi V, hlm Digunakan gliserin karena gliserin juga
1120) digunakan sebagai co-solvent.
(HOPE. Edisi 6, hlm 283)
Bromhexine HCl harus terlindung dari Sehingga wadah yang digunakan yaitu
cahaya (Martindale, hlm 1115) botol kaca berwarna coklat.
Pemerian Bromhexine HCl mengenai Untuk meningkatkan akseptibilitas sediaan
rasa tidak tercantum. dalam formula ditambahkan pemanis Na.
(Martindale, hlm 1115) Sakarin dengan kadar 0,075% - 0,6% kadar
yang digunakan adalah 0,2% dan diberi
perasa (corigen saporis) jeruk.
(HOPE. Edisi 6, hlm 609)
Pemerian Bromhexine HCl mengenai Sehingga ditambahkan corigen coloris atau
warna yaitu memiliki warna putih atau pewarna jingga untuk meningkatkan
hampir putih. akseptibilitas dengan kadar pewarna jingga
(Martindale, hlm 1115) yaitu 0, 001%
Salah satu evaluasi yang dilakukan Pada formulasi scale up volume yang
adalah volume terpindahkan. ditambahkan 3% sehingga memenuhi
(Farmakope Indonesia. Edisi.5 hlm persyaratan volume terpindahkan.
1614)
Pada proses pembuatan dapat terjadi Pada formulasi scale up perhitungannya
kekurangan volume. dilebihkan 10% dari total sediaan.
(Farmakope Indonesia. Edisi V, hlm
1614)

V. TINJAUAN PUSTAKA (Dini Febrianty/P17335118001)


a. Bahan aktif
Bahan aktif Bromhexine hidroklorida
Struktur kimia

(Interntional Journal of Biological and Medical Research, hlm


1)
Rumus Molekul C14H21Br2ClN2
(Interntional Journal of Biological and Medical Research, hlm
1)

4
Pemerian Bubuk kristal putih atau hampir putih, menunjukkan adanya
polimorfisme.
(Martindale, hlm 1115)
Kelarutan Sangat sedikit larut dalam air, sedikit larut dalam etanol dan
diklorometana.
(Martindale, hlm 1115)
Stabilitas
 Panas Melting point 239oC
(Japanese Pharmacopeia, hlm 395)
 Cahaya Lindungi dari cahaya
(Martindale, hlm 1115)
 Air Stabil selama 5 tahun untuk larutan encer
(The stability of bromhexine and the structure of it’s
degradation products)
 pH pH 6,3 dan 6,5
(Formulation and stability evaluation of 1% w/v oral solution
of bromhexine hydrchloridum, hlm 20)
Inkompabilitas Tidak dikombinasi dengan agen pengoksidasi seperti nitrat,
asam yang bersifat oksidator (Material Safety Data Sheet).

b. Zat tambahan
1. Asam Sitrat
Zat Asam sitrat
Acidum citricum monohydricum; 2-hydroxypropane-1,2,3-
Sinonim tricarboxylic acid monohydrate.
(HOPE 6th 2009 pdf, hlm 181)

Struktur

(HOPE 6th 2009 pdf, hlm 181)


C6H8O7.H2O
Rumus Molekul
(HOPE 6th 2009 pdf, hlm 181)
153ºC
Titik Lebur
(HOPE 6th 2009 pdf, hlm 183)
Asam sitrat monohidrat terjadi sebagai kristal tak berwarna
atau tembus cahaya, atau sebagai bubuk kristal putih dan
Pemerian effloresen, tidak berbau, memiliki rasa asam kuat, dan struktur
kristal bersifat ortorombik.
(HOPE 6th 2009 pdf, hlm 181)
Larut 1 dari 1 bagian etanol (95%) dan 1 dalam 1 dari air, larut
Kelarutan dalam eter.
(HOPE 6th 2009 pdf, hlm 183)
Asam sitrat monohidrat akan kehilangan air kristalisasi di
udara kering atau saat dipanaskan sampai sekitar 408 ºC.
Stabilitas Bahan monohidrat atau anhidrat harus disimpan dalam wadah
kedap udara di tempat sejuk dan kering.
(HOPE 6th 2009 pdf, hlm 182)

5
Asam sitrat tidak sesuai dengan kalium tartrat, alkali dan
karbonat alkali tanah dan bikarbonat, asetat, dan sulfida.
Ketidakcocokan juga termasuk agen pengoksidasi, basa, dan
Inkompabilitas nitrat. Hal ini berpotensi menyebabkan ledakan dalam
kombinasi dengan nitrat logam. Pada penyimpanan, sukrosa
bisa mengkristal dari sirup yang mengandung asam sitrat.
(HOPE 6th 2009 pdf, hlm 182)
Dalam wadah kedap udara pada tempat yang kering atau
Penyimpanan dingin.
(HOPE 6th 2009 pdf, hlm 182)
Kadar 0,1-2,0% sebagai dapar.
Penggunaan (HOPE 6th 2009 pdf, hlm 181)

2. Natrium Sakarin
Zat Natrium Sakarin
Sinonim 1,2-benzisothiazol-3(2H)-one, 1,1-dioxode; garam natrium;
1,2-benzisothiazolin-3-one, 1,1-dioxide; natrium-o-
benzosulfimida; soluble saccharin; natrium sakarinat;
kristallose; RCRA U202
(HOPE 6th 2009 pdf, hlm 608)
Struktur

(HOPE 6th 2009 pdf, hlm 608)


Rumus Molekul 𝐶7 𝐻5 𝑁𝑂3 𝑆
(HOPE 6th 2009 pdf, hlm 608)
Titik Lebur Melebur pada suhu kurang 229,7 0C.
(HOPE 6th 2009 pdf, hlm 608)
Pemerian Putih, tidak berbau atau berwarna samar samar, bubuk Kristal,
memiliki rasa yang sangat manis, dengan logam atau rasa pahit
setelah penggunaan.
(HOPE 6th 2009 pdf, hlm 608)
Kelarutan Pelarut etanol larut dalam 10 bagian, dalam etanol 95% larut
dalam 50 bagian, dalam PPG larut dalam 3,5 bagian, dalam
propan 200 praktis tidak larut.
(HOPE 6th 2009 pdf, hlm 608)
Stabilitas Na. Sakarin stabil dibawah kisaran kondisi normal dalam
formulasi hanya ketika terkena suhu yang tinggi (125%). Pada
pH rendah (pH2) selama lebih dari 1 jam tidakdekomposisi
yang terjadi 84% adalah bentuk lanjut dibawah kondisi kamar
(HOPE 6th 2009 pdf, hlm 608)
Inkompabilitas Na. Sakarin tidak mengalami Mailland Browning.
(HOPE 6th 2009 pdf, hlm 608)
Penyimpanan Disimpan dalam wadah tertutup baik dalam tempat kering.
(Farmakope Indonesia Edisi V, hlm 149).
Kadar Sweeting agent, centana kadar 0,074%-1.8%
Penggunaan (HOPE 6th 2009 pdf, hlm 608)

6
3. Natrium Sitrat
Zat Natrium sitrat
Citric acid trisodium salt; natrii citras; sodium citrate tertiary;
Sinonim trisodium citrate.
(HOPE 6th 2009 pdf, hlm 640)

Struktur

(HOPE 6th 2009 pdf, hlm 640)


C6H5Na3O7.2H2O
Rumus Molekul
(HOPE 6th 2009 pdf, hlm 640)
Mengonversi ke bentuk anhidrat pada 150ºC.
Titik Lebur
(HOPE 6th 2009 pdf, hlm 641)
Tidak berbau, tidak berwarna, monoklin kristal, atau bubuk
kristal putih dengan pendinginan, rasa garam (asin). Sedikit
Pemerian deliquescent di udara lembab, dan di udara kering hangat
efloresen.
(HOPE 6th 2009 pdf, hlm 641)
Larut 1 dalam 1,5 air, 1 dalam 0,6 air mendidih, praktis tidak
larut dalam etanol (95%).
Kelarutan
(HOPE 6th 2009 pdf, hlm 641)
Sodium sitrat dihidrat merupakan bahan yang stabil. Larutan
encer bisa disterilisasi dengan autoklaf. Pada penyimpanan,
larutan encer dapat menyebabkan pemisahan partikel padat
Stabilitas
kecil dari kaca. Bahan harus disimpan dalam wadah kedap
udara dalam tempat sejuk dan kering.
(HOPE 6th 2009 pdf, hlm 641)
Larutan berair sedikit basa dan akan bereaksi dengan asam.
Garam-garam alkaloid dapat diendapkan dari airnya atau
larutan hidro-alkohol. Garam kalsium dan strontium akan
Inkompabilitas menyebabkan presipitasi dari sitrat yang sesuai. Tidak
kompatibel lainnya meliputi basa, zat pereduksi, dan zat
pengoksidasi.
(HOPE 6th 2009 pdf, hlm 641)
dalam wadah kedap udara dalam tempat sejuk dan kering.
Penyimpanan
(HOPE 6th 2009 pdf, hlm 641)
Kadar 0,3-2,0% sebagai dapar.
Penggunaan (HOPE 6th 2009 pdf, hlm 641)

7
4. Gliserin
Zat Gliserin
Croderol; E422; glicerol; glycerine; glycerolum; Glycon G-
100; Kemstrene; Optim; Pricerine; 1,2,3-propanetriol;
Sinonim
trihydroxypropane glycerol.
(HOPE 6th 2009 pdf, hlm 283)

Struktur

(HOPE 6th 2009 pdf, hlm 283)


C3H8O3
Rumus Molekul
(HOPE 6th 2009 pdf, hlm 283)
17.88oC
Titik Lebur
(HOPE 6th 2009 pdf, hlm 283)
Zat bening tidak berwarna, kental, tidak berbau, cairan
higroskopis, memiliki rasa manis, sekitar 0,6 kali memiliki rasa
Pemerian
manis seperti sukrosa.
(HOPE 6th 2009 pdf, hlm 283)
Aseton : sukar larut dalam air Benzen : praktis tidak larut
Kloroform : praktis tidak larut Etanol 95% : larut
Eter : 1:5000 Etil asetat : 1:11
Kelarutan
Metanol : larut Oils : praktis tidak larut
Air : larut
(HOPE 6th 2009 pdf, hlm 284)
Gliserin higroskopis dapat teroksidasi pada suhu dibawah
penyimpanan. Gliserin tercampur dengan air, etanol 95% dan
Stabilitas
PEG merupakan reaksi kimia stabil.
(HOPE 6th 2009 pdf, hlm 284)
Dapat melekat dengan pengoksidasi kuat seperti prioxsid,
Inkompabilitas potassium klorat dan potasium permanganate.
(HOPE 6th 2009 pdf, hlm 283)
Gliserin bersifat higroskopis, gliserin murni tidak rentan
terhadap oksidasi oleh atmosfer dibawah kondisi penyimpanan
Penyimpanan
biasa.
(HOPE 6th 2009 pdf, hlm 284)
Kadar 0,075 – 0,6% sebagai pengawet dan co-solvent
Penggunaan (HOPE 6th 2009 pdf, hlm 283)

5. Etanol
Zat Etanol
Ethanolum (96%); ethyl alcohol; ethyl hydroxide; grain
Sinonim alcohol; methyl carbinol.
(HOPE 6th 2009 pdf, hlm 17)

Struktur
(HOPE 6th 2009 pdf, hlm 17)
C2H6O
Rumus Molekul
(HOPE 6th 2009 pdf, hlm 17)

8
78.158oC
Titik Lebur
(HOPE 6th 2009 pdf, hlm 17)
Cairan mudah menguap, jernih, tidak berwarna, bau khas dan
menyebabkan pada lidah. Mudah menguap walaupun suhu
Pemerian
rendah dan mendidih pada suhu 78oC dan mudah terbakar.
(Farmakope Indonesia Edisi V, hlm 352)
Dapat bercampur dengan air dan praktis bercampur dengan
Kelarutan semua pelarut organic.
(Farmakope Indonesia Edisi V, hlm 352)
Larutan etanol dapat disterilkan dengan autoclave.
Stabilitas
(HOPE 6th 2009 pdf, hlm 17)
Dalam kondisi asam, larutan etanol dapat bereaksi kuat dengan
bahan pengoksidasi, campuran alkali bisa berwarna gelap
Inkompabilitas
karena reaksi dengan jumlah residu aldehid.
(HOPE 6th 2009 pdf, hlm 17)
Larutan etanol harus disimpan dalam wadah kedap udara,
Penyimpanan ditempat kedap udara.
(HOPE 6th 2009 pdf, hlm 17)
Kadar Kurang dari 10%.
Penggunaan (HOPE 6th 2009 pdf, hlm 17)

Dasar Teori (Dini Febrianty/P17335118001)


Dalam bidang farmasi, kelarutan memiliki peran penting dalam
menentukan bentuk sediaan dan untuk menentukan konsentrasi yang
dicapai pada sirkulasi sistemik untuk menghasilkan respon
farmakologi. Obat yang memiliki kelarutan rendah dalam air sering
membutuhkan dosis yang tinggi untuk mencapai konsentrasi terapeutik
setelah pemberian oral. Umumnya obat yang bersifat asam lemah atau
basa lemah memiliki kelarutan terhadap air yang buruk (Savjani, dkk.,
2012).
Larutan terjadi apabila suatu zat padat bersinggungan dengan
suatu cairan, maka zat padat tadi terbagi secara molekuler dalam
cairan tersebut. Pernyataan kelarutan zat dalam bagian tertentu
pelarut adalah kelarutan pada suhu 20°, kecuali dinyatakan lain
menunjukkan 1 bagian bobot zat pada atau 1 bagian volume zat cair
larut dalam bagian volume tertentu pelarut. Pernyataan kelarutan zat
dalam bagian tertentu pelarut adalah kelarutan pada suhu kamar
(Anief, 2010).
Eliksir adalah sediaan berupa jernih, manis, merupakan larutan
hidroalkoholik, terutama untuk pemakaian oral, biasanya beraroma.

9
Dibandingkan dengan sirup, eliksir kurang manis, kurang viscous
karena mengandung guka dengan kadar rendah, sehingga kurang
efektif untuk menutup rasa yang tidak enak. Karena berupa
hidroalkoholik, maka lebih mudah untuk dibuat menjadi larutan bagi
bahan-bahan yang larut dalam air maupun yang larut dalam alcohol.
Eliksir dengan 10 - 12% alkohol adalah self-preserving sehingga tidak
perlu ditambahkan anti mikroba lagi (Ansel., 2011).
Campuran homogen antara dua zat atau lebih dikenal sebagai
larutan. Suatu campuran dikatakan homogen karena susunannya
seragam sehingga tidak teramati adanya bagian-bagian yang berlainan,
bahkan dengan mikroskop optik. Larutan (solution) terdiri atas zat
pelarut (solvent) dan satu atau lebih zat terlarut (solute). Pelarut adalah
medium tempat suatu zat lain melarut. Pelarut dikenal juga sebagai zat
pendispersi, yaitu tempat menyebarnya partikel-partikel zat terlarut.
Zat terlarut adalah zat yang terdispersi di dalam pelarut (Sumardjo,
2006).
Eliksir obat digunakan untuk keuntungan pengobatan dari zat
obat yang ada. Umumnya, eliksir–eliksir resmi yang ada
diperdagangan mengandung zat obat tunggal. Keuntungan utama dari
hanya satu obat. Keuntungan utama dari hanya satu obat yang
terkandung, bahwa dosis yang diperlukan dapat dinaikkan dan
diturunkan dengan meminum eliksir lebih banyak atau kurang, padahal
bila dua atau lebih zat obat ada dalam sediaan yang sama, tidak
mungkin meningkatkan atau menurunkan kadar suatu zat obat yang
diminum tanpa secara otomatis dan bersamaan mengatur dosis
obat lain yang ada dan merupakan perubahan yang mungkin tidak
diinginkan. Karena itu, untuk pasien yang memerlukan minum lebih
dari satu obat, banyak dokter untuk memilih untuk minum sediaan
yang terpisah dari tiap obat sehingga bila dibutuhkan pengaturan dosis
satu obat, dapat dikerjakan tanpa dosis obat lainnya secara bersamaan
(Ansel, 2005).

10
VI. SPESIFIKASI SEDIAAN (Ghea Safhira S. / P17335118023)
Bentuk Sediaan : Elixir Bromhexine HCl 4 mg/5 mL
Warna : Jingga
Rasa : Jeruk
pH Sediaan : 6,3 – 6,5
pH Target : 6,3
Kadar Sediaan : 4 mg/5 mL
Volume Sediaan : 62 mL
Viskositas Sediaan : 10 cP – 30 cP

VII. PENDEKATAN FORMULA (Ghea Safhira S. / P17335118023)


Kegunaan & Rentang
Nama Zat Jumlah (%)
Kadar
Bromhexine HCl 0,08 % (w/v) Zat Aktif
Asam Sitrat 1,67 % (w/v) Dapar (0,1%-2%)
Natrium Sitrat 2,29 % (w/v) Dapar (0,3%-2%)
Gliserin 20 % (w/v) Pengental (0,1%-1%)
Etanol 95% 5 % (w/v) Pengawet (0,02%-0,5%)
Natrium Sakarin 0,2 % (w/v) Pemanis (0,075%-1,8%)
Essens Jeruk 0,5 % (w/v) Perasa
Pewarna Jingga 0,001 % (w/v) Pewarna
Aquadest ad 100% Pelarut

VIII. PENIMBANGAN DAN PERHITUNGAN DAPAR (Nur Asiah/


P17335118003)
A. Penimbangan Optimasi
No. Nama Bahan Jumlah yang Ditimbang Hasil penimbangan sebenarnya
1. Bromhexin HCl 0,048gram 0,048 gram
2 Natrium Sitrat 1,3735 gram 1,3735 gram
3. Asam Sitrat 1,0041 gram 1,0041 gram
4. Na Sakarin 0,12gram 0,120 gram
Cawan kosong = 24,436 gram
5. Gliserin 12 gram
Cawan kosong + gliserin= 36,436 gram
Cawan kosong = 48,046 gram
6. Etanol 3 gram
Cawan kosong+etanol = 51,046 gram
Kaca arloji = 22,6069 gram
7. Pewarna Jingga 0,0006 gram
Kaca arloji + pewarna = 22,6075 gram
Kacca arloji = 25,4240 gram
8. Perasa Jeruk 0,3gram
Kaca arloji + perasa= 25,7240 gram
9. Air dapar ad 60 mL ± 42, 1338 mL

11
Dibuat 1 botol @60 mL :
0,08 mg
a. Bromhexin HCl = x 60 mL = 0,048 gram
100 mL

b. Na Sitrat = 1,3735 gram


c. Asam Sitrat = 1,0041 gram
20 g
d. Gliserin = x 60 mL = 12 gram
100 mL
0,2 g
e. Natrium Sakarin = x 60 mL = 0,12 gram
100 mL
5 mL
f. Etanol = x 60 mL = 3 gram
100 mL
0,001 g
g. Pewarna Jingga = x 60 mL = 0,0006 gram
100 mL
0,5 g
h. Perasa Jeruk = x 60 mL = 0,3 gram
100 mL

i. Air Dapar ad 60 mL
=60mL - (0,048+1,3735+1,0041+0,12+12+3+0,0006+0,3)
= 60mL – 17,8662
= ± 42,1338 mL
Kelarutan Bahan Optimasi

Jumlah bagian pelarut yang diperlukan


Istilah kelarutan
untuk melarutkan 1 bagian zat
Sangat mudah larut Kurang dari 1
Mudah larut 1 sampai 10
Larut 10 sampai 30
Agak sukar larut 30 sampai 100
Sukar larut 100 sampai 1000
Sangat sukar larut 1000 sampai 10.000
Praktis tidak larut lebih dari 10.000
(Kementrian Kesehatan RI, 2014)
a. Kelarutan Na Sakarin
Sangat mudah larut dalam air (Rowe, 2009)
Aquades : 0,12 gram x 10 = 1,2 mL ~5 mL
b. Asam Sitrat
Sangat mudah larut dalam air, mudah larut dalam etanol;
agak sukar larut dalam eter (Depkes RI, 2014)
Aquades : 1,0041 gram x 1 = 1,0041 mL ~ 5 mL

12
c. Natrium Sitrat
Dalam bentuk hidrat mudah larut dalam air; sangat mudah
larut dalam air mendidih; tidak larut dalam etanol (Depkes RI,
2014)
Aquadest: 1,3735 gram x 10 =13,74 mL~ 15 mL

B. Penimbangan Skala Besar

No. Nama Bahan Jumlah yang Ditimbang Hasil penimbangan sebenarnya


1. Bromhexin HCl 0,4 gram 0,400 gram
2 Natrium Sitrat 13,7347 gram 13,7347 gram
3. Asam Sitrat 10,0405 gram 10,041 gram
4. Na Sakarin 1 gram 1000 gram
Cawan kosong = 62,721 gram
5. Gliserin 100 gram
Cawan kosong +gliserin = 162,721 gram
Cawan kosong = 45,2483 gram
6. Etanol 25 gram
Cawan kosong+etanol = 70,2483 gram
Kaca arloji = 23,5783 gram
7. Pewarna Jingga 0,005gram
Kaca arloji+pewarna = 23,5833 gram
Kaca arloji = 24,3819 gram
8. Perasa Jeruk 2,5 gram
Kaca arloji+perasa = 26,8819 gram
9. Air dapar ad 60 mL ± 347,3198 mL

Volume sediaan setiap botol : 60 mL + (3% x 60 mL) = 61,8 mL


Jumlah elixir yang dibuat : 7 botol x 61,8 mL = 432,6 mL
: 432,6 mL + (10% x 432,6 mL)
=476,86 mL ≈ 600 ml
0,08 g
a. Bromhexin HCl = x 500 mL = 0,4 gram
100 mL

b. Natrium Sitrat = 13, 7347 gram


c. Asam Sitrat = 10,0405 gram
0,6 g
d. Natrium Sakarin = x 500 mL=3 gram
100 mL
20 g
e. Gliserin = x 500 mL=100 gram
100 mL
5 mL
f. Etanol = x 500 mL=25 gram
100 mL
0,001 g
g. Pewarna Jingga = x 500 mL=0,005 gram
100 mL
0,5 g
h. Perasa Jeruk = x 500 mL=2,5 gram
100 mL

i. Air dapar ad 500 mL

13
=500 mL - (0,4+13,7347+10,0405 +1+100+25+0,005+2,5)
= ± 347,3198 mL
Kelarutan Skala Besar
a. Kelarutan Natrium Sakarin
Sangat mudah larut dalam air (Rowe,2009)
Aquades : 1 gram x 10 = 10 mL
b. Asam Sitrat
Sangat mudah larut dalam air, mudah larut dalam etanol;
agak sukar larut dalam eter (Depkes RI, 2014)
Aquadest : 10,0405 gram x 1 = 10,0405 mL ~ 15 mL
c. Natrium Sitrat
Dalam bentuk hidrat mudah larut dalam air; sangat mudah
larut dalam air mendidih; tidak larut dalam etanol (Depkes RI,
2014)
Aquadest: 13,7347 gram x 10 =13,7347 mL~ 140 mL

PERHITUNGAN DAPAR (Nur Asiah /P17335118003)


Rentang pH 6,3 – 6,5
Menggunakan Dapar sitrat, yaitu Asam Sitrat dan Natrium Sitrat
pH yang digunakan 6,3
pKa yang digunakan 6,396 (Rowe, 2009)
BM Asam Sitrat (C6H8O7) = 192,13
BM Natrium Sitrat (Na3C6H5O7) = 258,37
[A]
pH = pKa +log [HA]
[A]
6,3 = 6,396 + log [HA]
[A]
-0,096 = log [HA]
[A]
1,0177 = [HA]

[A] = 1,0177 [HA]

 ᵝ = 2,303 x C x [Ka][H+]
([Ka])+[H+])
2

14
[10-6,3 x 10-6,396 ]
0,1 = 2,303 x C x
[10-6,3 x 10-6,396 ]^2

C= 0,1757

 C= [A]+[HA]
0,1757 = 1,0177 [HA]+ [HA]
0,1757 = 2,0177 [HA]
[HA] = 0,0871 M
[A] = 1,0177 x [HA]
= 1,0177 x 0,0871
= 0,0886 M

Skala Optimasi
gr 1000
[A] = x
Mr 60
gr 1000
0,0886 = x = 1,3735 gram
258,37 60
gr 1000
[HA] = x
Mr 60
gr 1000
0,0871 = x = 1,0041 gram
192,13 60
1,0041
Kadar = x 100% = 1,67 %
60

Skala besar
gr 1000
[A] = x
Mr 600
gr 1000
0,0886= x = 13,7347 gram
258,37 600

13,7347
Kadar = x 100 % = 2,29 %
600
gr 1000
[HA] = Mr x 600
gr 1000
0,0871 = x = 10,0405 gram
192,13 600
10,0405
Kadar = x 100 % = 1,67 %
600

15
IX. PERHITUNGAN KOSNTANTA DIELEKTRIK (Ghea Safhira S. /
P17335118023)
Konstanta Dielektrik Air : 78,5
Konstanta Dielektrik Etanol : 24,3
Konstanta Dielektrik Gliserin : 40,1
( Taylor, 2017)
mL jumlah air : 41,91 mL
mL jumlah etanol : 3 mL
mL jumlah gliserin : 12 mL
Konstanta Dielektrik Sistem =
(KD Air x mL Air)+(KD Etanol x mL Etanol)+(KD Gliserin x mL Gliserin)
mL Air+mL Etanol+mL Gliserin
(78,5 x 41,91)+(24,3 x 3)+(40,1 x 12)
41,91+3+12
3289,935+72,9+481,2 3844,035
= = 67,55
56,9 56,91

Konstanta Dielektrik Bromhexine HCl = 73,57

X. ADI (ACCEPTABLE DAILY INTAKE) (Serly


Rahmawati/P17335118053)
1.Natrium Sakarin = 2,5 mg/kg BB (Rowe, 2009)
Jumlah Natrium Sakarin = 1 gram = 1000 mg
a.Untuk 5 tahun
ADI Natrium Sakarin = 14,4 kg x 2,5 mg/kg = 36 mg
1000 mg
Konsentrasi Natrium Sakarin = = 2 mg/mL
500 ml

Dosis sehari = 6 mL x 2 mg/mL = 12 mg < 36 mg


(memenuhi syarat ADI)

b.Untuk 10 tahun
ADI Natrium Sakarin = 27,9 kg x 2,5 mg/kg = 64,75 mg
1000 mg
Konsentrasi Natrium Sakarin = = 2 mg/mL
500 ml

Dosis sehari = 6 mL x 2 mg/mL = 12 mg < 64,75


mg (memenuhi syarat ADI)

16
c.Untuk dewasa

ADI Natrium Sakarin = 70 kg x 2,5 mg/kg = 175 mg


1000 mg
Konsentrasi Natrium Sakarin = = 2 mg/mL
500 ml

Dosis sehari = 80 mL x 2 mg/mL = 160 mg < 175


mg (memenuhi syarat ADI)

XI. PROSEDUR PEMBUATAN (Prita Dewi/P17335118013)


A. Pembuatan air bebas CO2 (Farmakope Indonesia. Edisi V, hlm 174)
1. Sejumlah air 500 mL dipanaskan hingga mendidih.
2. Diamkan selama 30 menit kemudian tutup dan dinginkan.
B. Alat dan bahan disiapkan
C. Botol dan beaker glass dikalibrasi
 Kalibrasi botol 62 mL
1. Air kran dimasukkan sebanyak ±62 mL kedalam beaker
glass, kemudian diukur sebanyak 62 mL menggunakan gelas
ukur dan di masukkan kedalam botol.
2. Batas kalibrasi ditandai lalu air kran tersebut dibuang.
3. Botol dibilas 2 kali dengan 2 mL purifield water lalu botol
dikeringkan.
4. Botol siap digunakan.
 Kalibrasi beaker glass untuk dapar 600 mL (beaker glass 1 liter)
1. Air kran dimasukkan sebanyak ±600 mL kedalam beaker
glass, kemudian diukur sebanyak 600 mL menggunakan
gelas ukur dan di masukkan kedalam beaker glass khusus
dapar.
2. Batas kalibrasi ditandai lalu air kran tersebut dimasukkan
kembali ke dalam beaker glass biasa.
3. Air kran diukur sebanyak 80% dari total sediaan 600 mL,
yaitu 500 mL. Lalu dimasukkan ke dalam beaker glass
khusus dapar.

17
4. Batas kalibrasi ditandai, lalu air kran tersebut dibuang.
Beaker glass dibilas 2 kali dengan 5 mL purifield water lalu
botol dikeringkan.
5. Beaker glass untuk dapar siap digunakan.
 Kalibrasi beaker glass utama (beaker glass 1 liter)
1. Air kran dimasukkan sebanyak ±500 mL kedalam beaker
glass, kemudian diukur sebanyak 500 mL menggunakan
gelas ukur dan di masukkan kedalam beaker glass.
2. Batas kalibrasi ditandai lalu air kran tersebut dimasukkan
kembali ke dalam beaker glass biasa.
3. Air kran diukur sebanyak 80% dari total sediaan 500 mL,
yaitu 400 mL. Lalu dimasukkan ke dalam beaker glass
khusus dapar.
4. Batas kalibrasi ditandai, lalu air kran tersebut dibuang.
Beaker glass dibilas 2× dengan 5 mL purifield water lalu
botol dikeringkan.
5. Beaker glass utama siap digunakan.
 Kalibrasi beaker glass optimasi (beaker glass 1 liter)
1. Air kran dimasukkan sebanyak ±62 mL kedalam beaker
glass, kemudian diukur sebanyak 62 mL menggunakan
gelas ukur dan di masukkan kedalam beaker glass optimasi.
2. Batas kalibrasi ditandai lalu air kran dipindahkan ke dalam
beaker glass biasa.
3. Air kran diukur sebanyak 80% dari total sediaan 62 mL,
yaitu 49,6 mL menggunakan gelas ukur lalu dimasukkan ke
dalam beaker glass optimasi.
4. Batas kalibrasi ditandai lalu air kran dibuang, beaker glass
dibilas 2× menggunakan purifield water. Lalu beaker glass
dikeringkan.
5. Beaker glass optimasi siap digunakan.
D. Penetapan Konstanta Dielektrik
1. Buret dan statif dipasang.

18
2. Dilarutkan Bromhexin HCl sebanyak 0,050 g dengan 5 mL
etanol 95%.
3. Dititrasi dengan menggunakan aquadest, titrasi hingga
membentuk endapan.
4. Dihitung nilai konstanta dielektrik bahan aktif dan jumlah
gram masing-masing co-solvent untuk melarutkan zat aktif.
E. Penimbangan bahan untuk optimasi
1. Bromhexine HCl seberat 0,0480 gram ditimbang menggunakan
kertas perkamen pada timbangan analitik dan dilakukan
penimbangan secara langsung.
2. Natrium Sakarin seberat 0,1200 gram ditimbang menggunakan
kertas perkamen pada timbangan analitik dan dilakukan
penimbangan secara langsung.
3. Gliserin seberat 0,2500 gram ditimbang menggunkan kertas
perkamen pada timbangan analitik dan dilakukan penimbangan
tidak langsung.
4. Etanol 95% seberat 3 gram ditimbang menggunakan cawan uap
pada timbangan analitik dan dilakukan penimbangan tidak
langsung.
5. Pewarna jingga seberat 0,006 gram ditimbang menggunakan
kaca arloji pada timbangan analitik dan dilakukan
penimbangan secara tidak langsung.
6. Perasa jeruk seberat 0,3 gram ditimbang menggunakan kaca
arloji pada timbangan analitik dan dilakukan penimbangan
tidak langsung.
7. Air dapar diukur sebanyak ±42,15 mL menggunakan gelas
ukur.
F. Penimbangan bahan untuk skala besar
1. Bromhexine HCl seberat 0,4000 gram ditimbang menggunakan
kertas perkamen pada timbangan analatik dan dilakukan
penimbangan langsung.

19
2. Asam sitrat seberat 13,7347 gram ditimbang menggunakan
kertas perkamen pada timbangan analitik dan dilakukan
penimbangan langsung.
3. Natrium Sitrat seberat 10,0405 gram ditimbang menggunakan
kertas perkamen pada timbangan analitik dan dilakukan
penimbangan langsung.
4. Na Sakarin seberat 1 gram ditimbang menggunakan kertas
perkamen pada timbangan analitik dan dilakukkan
penimbangan langsung.
5. Gliserin seberat 100 gram ditimbang menggunakan beaker
glass pada timbangan analitik dan dilakukan penimbangan
tidak langsung.
6. Pewarna jingga seberat 0,005 gram menggunakan kaca arloji
pada timbangan analitik dan dilakukan penimbangan tidak
langsung.
7. Perasa jeruk seberat 2,5 gram ditimbang menggunakan kaca
arloji pada timbangan analitik dan dilakukan penimbangan
tidak langsung.
8. Etanol 95% seberat 25 gram ditimbang menggunakan cawan
uap pada timbangan analitik dan dilakukan penimbangan
secara langsung.
9. Air dapar diukur sebanyak ±347,32 mL menggunakan gelas
ukur.
G. Pembuatan Dapar Sitrat pH 6,3 sebanyak 600 mL
1. Dilarutkan 13,7434 gram Natrium Sitrat dengan 140 mL
aquadest bebas CO2, dimasukkan kedalam beaker glass dapar
dan dibilas menggunakan aquadest bebas CO2 sebanyak 2 kali.
2. Dillarutkan 10,0405 gram asam sitrat dengan 10 mL aquadest
bebas CO2, dimasukkan kedalam beaker glass dapar dan
dibilas menggunakan aquadest bebas CO2 sebanyak 2 kali.

20
3. Ditambahkan aquadest bebas CO2 pada beaker glass dapar yang
telah berisi natrium sitrat dan asam sitrat ad batas kalibrasi
pertama (80% = 480 mL).
4. Dicek pH sediaan menggunakan pH meter (pH target = 6,3)
- Jika pH < 6,3 maka ditambah natrium sitrat sedkit demi
sedikit sampai pH mencapai target.
- Jika pH > 6,3 maka ditambah asam sitrat sedkit demi
sedikit sampai pH mencapai target
5. Aquadest bebas CO2 ditambahkan pada beaker glass yang
rentang pH nya telah didapat sampai batas kalibrasi (100% =
600 mL)
H. Pembuatan Sediaan Elixir Bromhexine HCl
1. Etanol 95% dimasukkan ke dalam beaker glass utama, wadah
dibilas dengan dengan 2 mL air dapar pH 6,3 sebanyak 2 kali.
2. Gliserin dimasukkan ke dalam beaker glass utama, wadah
dibilas dengan air dapar pH 6,3 sebanyak 2 kali.
3. Bromhexine HCl dimasukkan ke dalam beaker glass utama,
wadah dibilas dengan air dapar pH 6,3 sebanyak 2 kali.
4. Na Sakarin dimasukkan ke dalam beaker glass utama, wadah
dibilas dengan air dapar pH 6,3 sebanyak 2 kali.
5. Air dapar ditambahkan hingga 80% dari total sediaan 500 mL,
yaitu 400 mL, diaduk ad homogen.
6. pH sediaan dicek menggunakan pH meter
- Jika pH < 6,3 maka ditambah NaOH sedikit demi sedikit
sampai pH mencapai target.
- Jika pH > 6,3 maka ditambah HCl sedikit demi sedikit
sampai pH mencapai target.
7. Pewarna jingga diencerkan dengan air dapar pH 4,95 sebanyak
3 mL dimasukkan kedalam beaker glass utama.
8. Air dapar pH 6,3 ditambahkan kedalam beaker glass sampai
500 mL (100%).
9. Dimasukkan sediaan kedalam 7 botol, masing-masing 62 mL.

21
10. Lakukan evalusi sediaan elixir Bromhexine HCl 4mg/5mL.

XII. DATA PENGAMATAN EVALUASI SEDIAAN (Rian Okta F /


P1733511805)
Jenis Jumlah
No Prinsip Evaluasi Hasil Syarat
evaluasi sampel
1. Dengan metode visual: Warna : Jingga Warna : Jingga
Organoleptik  Warna dilihat dengan Bau : khas Jeruk Bau : Khas jeruk
test indra penglihatan Rasa : manis Rasa : Jeruk
(Farmakope  Bau dicium dengan 1 botol
Indonesia indera penciuman (Memenuhi syarat)
Edisi V, hlm  Rasa dirasa dengan
1521) indra perasa
[Fisika] (Farmakope Indonesia
Edisi V, hlm 1521)
2. Dengan menggunakan pH PH sediaan 6,39. Rentang pH
pH sediaan meter (potensiometer) yang sediaan adalah 6,3
(Farmakope sesuai dan yang mampu - 6,5
Indonesia mengukur harga pH sampai 1 botol (Memenuhi Syarat) pH target sediaan
Edisi V, hlm 0,02 untuk pH dilakukan adalah 6,3
1563) pada suhu 25𝑜 C.
[Kimia] (Farmakope Indonesia
Edisi V, hlm 1563)
3. Didasarkan pada Piknometer kosong = Very Small : 0,1
perbandingan bobot zat 34,089 gram gram/mL
diudara pada suhu yang Piknometer + Small : 0,2
telah ditetapkan terhadap aquadest = 58,778 gram/mL
Bobot jenis bobot air dengan volume gram Medium : 1 -3
(Farmakope dan suhu yang sama. Hasil 1 botol Piknometer + sediaan gram/mL
Indonesia yang diperoleh dengan = 60,533 gram Above Medium :
Edisi V,hlm bobot air, dalam 60,533-34,089 2 gram/mL
BJ= High : 2 – 5
1553) piknometer kecuali 58,778-34,089
[Fisika] dinyatakan lain dalam =1,0711 gram. gram/mL
monografi ditetapkan pada (Memenuhi Syarat) Very High : 4,5
suhu 25𝑜 C. gram/mL
(Farmakope Indonesia
Edisi V, hlm 1553)
4. Viskometer Ostwald U- Viskositas sediaan Very Small : 0,1
Tube: isi tabung dengan yang didapat yaitu dyne-5/cm2
sejumlah cairan pada suhu 0,85 dPas Small : 0 -2 dyne-
5
20oC ± 0,1ᵒC. Atur 8,5 cPas /cm2
Viskositas
meniscus cairan dalam 1 dPas = 10 cPas Medium : 1 -3
(Farmakope
tabung kapiler hingga Menggunakan dyne-5/cm2
Indonesia
tanda/garis graduasi teratas spindel no.3 Above Medium :
Edisi V,hlm
dengan bantuan 1 botol 2 - 4 dyne-5/cm2
1562)
pengisapan. Buka kedua High : 3 - 5 dyne-
[Fisika] 5
tabung pengisi dan kapiler /cm2
agar cairan mengalir bebas Very High : 4 - 5
melawan tekanan atmosfer. dyne-5/cm2
Catat waktu dalam detik

22
yang diperlukan cairan
untuk mengalir dari batas
atas pipa hingga batas
bawah pipa kapiler
(Farmakope Indonesia
Edisi V, hlm 1562)l
5. 1. Keluarkan isi dari Wadah 1 = 63 mL Volume yang
wadah ke wadah Wadah 2 = 63 mL didapat setelah
yang sesuai yang Wadah 3 = 63 mL didiamkan selama
telah ditara 1 botol Rata-rata = 5 menit harus
Volume 2. Tentukan volume W1+W2+W3 63+63+63 pada rentang 95%
3
= 3
terpindahkan yang tertera pada - 100% dimana
= 63 mL
(Farmakope gelas ukur yang 95% yaitu 142,5
Indonesia telah didiamkan mL hingga 100%
(Memenuhi syarat)
Edisi V, hlm selama 5 menit yaitu 150 mL.
1614) unutk dosis
tunggal.
(Farmakope
Indonesia Edisi V,
hlm 1614)
6. Membandingkan larutan uji Sediaan jernih, Larutan dianggap
dengan larutan suspense karena sama dengan jernih apabila
yang dibuat segar, setinggi air. sama dengan air
Kejernihan
40mm. bandingkan kedua atau larutan yang
larutan
larutan di bawah cahaya 1 botol digunakan dalam
(Farmakope
yang terdifusi 5 menit pengkajian dengan
Indonesia
setelah pembuatan suspensi kondisi yang
Edisi V, hlm
dengan tegak lurus kearah dipersyaratkan.
521)
bawah tabung dengan latar
[Fisika]
belakang berwarna hitam.
(Farmakope Indonesia
Edisi V, hlm 1521)
7. Pengujian dilakukan 1 botol Tidak dilakukan Sediaan tidak
dengan metode ditumbuhi
Biologi penyaringan membrane mikroba.
jumlah atau dengan metode angka
cemaran lempeng total yang sesuai
mikroba pemilihan metode
(Farmakope pengujian tergantung pada
Indonesia beberapa faktor, antara lain
Edisi V, hlm jenis produk yang diuji
1343) dengan memperkirakan
[Biologi] kesesuaian yang spesifik.
(Farmakope Indonesia
Edisi V, hlm 1343)
8. Uji Pengujian dilakukan dalam 1 botol Tidak dilakukan. Tidak ada
efektivitas tiap 5 ml wadah asli, 5 aktivitas mikroba
pengawet wadah bertutup steril. dalam sediaan.
(Farmakope Inokulasi tiap dengan satu
Indonesia inokula baku yang telah
Edisi V,hlm disiapkan. Tambahkan
1356) kadar mikroba uji pada

23
[Biologi] sediaan. Inokulasi wadah
pada suhu 22,5oC ± 2,5oC.
Ambil sampel dari setiap
wadah. Tetapkan dengan
metode angka lempeng
total.
(Farmakope Indonesia
Edisi V, hlm 1356)
9. Larutan uji disimpan pada 1 botol Tidak dilakukan. Rentang yang
suhu ruang, dianalisis dapat diterima
sesuai dengan pericale yang untuk stabilitas
telah ditentukan dengan larutan uji antara
Uji stabilitas
respon larutan uji sebagai 98%-102%.
(Farmakope
pembanding. Rentang yang
Indonesia
didapat diterima apabila
Edisi V, hlm
stabilitas larutan uji antara
1660)
98% dan 102%
[Kimia]
dibandingkan dengan
analisis awal larutan uji.
(Farmakope Indonesia
Edisi V, hlm 1660)
10. Identifikasi Dilakukan penetapan kadar 1 botol Tidak dilakukam. Kadar pada
dan dengan kromatografi cair sediaan tidak
penetapan kinerja tinggi. kurang dari 98%
kadar (Farmakope Indonesia dan tidak lebih
(Farmakope Edisi V, hlm 295) dari 102%
Indonesia
Edisi V,
halama 295)
[Kimia]

XIII. PEMBAHASAN (Ghea Safhira S. / P17335118023)


Pada praktikum kali ini, praktikan membuat sediaan larutan elixir
Bromhexine HCl 4 mg/5 mL dengan kadar 0,08% dengan volume per
botol 60 mL. Bromhexine HCl memiliki dosis untuk anak – anak yaitu
1,6 mg – 8 mg sehari 3x sedangkan untuk dewasa yaitu 8 mg – 16 mg
sehari 3 – 4x (Rahardja, 2008).
Bromhexine HCl merupakan derivat sintetik dari vasicine, suatu
zat aktif pada adhatoda vasica. Obat ini digunakan sebagai mukolitik
pada bronkitis dan kelainan saluran nafas yang lain. Memudahkan
pengeluaran dahak pada pasien yang dirawat di Unit Gawat Darurat
(Raharja, 2008).
Bromhexine HCl dapat dibuat sediaan elixir karena memiliki
kelarutan yang sangat sedikit larut dalam air dan sedikit larut dalam

24
etanol (Kementrian Kesehatan RI, 2014) sehingga air yang tersedia tidak
cukup untuk melarutkan Bromhexine HCl jadi digunakan pelarut campur
yaitu gliserin dan etanol untuk menurunkan sudut kontak sehingga dapat
memperbesar kelarutan bahan aktif yaitu Bromhexine HCl. Sediaan elixir
mengandung alkohol dengan kadar 5% sehingga sediaan elixir ini dibuat
untuk dewasa karena kadar elixir untuk anak – anak berada pada rentang
½% - 4%.
Rentang pH stabilitas dari Bromhexine HCl yaitu 6,3 – 6,5 (Zaid,
2007). Berdasarkan hal tersebut, maka pH target yang digunakan oleh
praktikan adalah 6,3. Karena rentang pH stabilitas <2 dan bersifat asam,
maka dalam formula sediaan digunakan dapar asam yang terdiri dari
asam sitrat dan natrium sitrat. Fungsi dari dapar ini adalah untuk
mencegah perubahan pH yang disebabkan oleh pengaruh asam fixed dan
asam organik pada cairan ekstraseluler (Viswanatha, Putra, 2017).
Sediaan elixir Bromhexine HCl menggunakan pembawa air, air
merupakan tempat yang baik untuk pertumbuhan mikroba. Oleh karena
itu, agar sediaan tidak mudah ditumbuhi mikroba dan tahan lama maka
sediaan perlu ditambahkan antimikroba atau pengawet. Pengawet yang
digunakan adalah gliserin dengan kadar 20% - 30% dan kadar yang
diambil yaitu 20%. Digunakan gliserin karena gliserin dapat digunakan
sebagai cosolvent juga. Cosolvent dalam sediaan elixir digunakan untuk
meningkatkan kelarutan dari bahan aktif sehingga bahan aktif dapat larut
dalam pelarut campur.
Bromhexine HCl harus terlindungi dari cahaya (Sweetman, 2009)
Oleh karena itu, sediaan dimasukkan ke dalam wadah botol kaca
berwarna cokelat dan tertutup rapat. Pemerian Bromhexine HCl
mengenai rasa tidak tercantum dalam monografi. Maka untuk
meningkatkan akseptabilitas, sediaan ditambahkan pemanis yaitu
Natrium Sakarin dengan rentang kadar 0,075% - 0,6% dan kadar yang
diambil yaitu 0,2% (Rowe, 2009). Diberi perasa jeruk dengan kadar
0,1%. Alasan digunakan Na Sakarin yaitu karena Na Sakarin merupakan
garam dari Sakarin sehingga lebih mudah larut dibadingkan sakarin,

25
selain itu Na Sakarin lebih manis dibandingkan Sakarin meskipun dalam
jumlah yang sedikit.
Bromhexine HCl memiliki pemerian warna putih hingga hampir
putih (Sweetman, 2009). Oleh karena itu, untuk meningkatkan
akseptabilitas sediaan ditambahkan corigen coloris/pewarna berwarna
jingga dengan kadar 0,001%.
Terdapat beberapa hal yang tidak dilakukan oleh praktikan pada
praktikum kali ini diantaranya praktikan tidak membuat aquadest bebas
CO2, aquadest bebas CO2 dibuat agar pada saat aquadest bereaksi dengan
udara tidak akan menyebabkan peningkatan keasaman dari aquadest.
Tetapi, dikarenakan sediaan tidak disterilkan dan waktu yang dibutuhkan
untuk membuat aquadest bebas CO2 membutuhkan waktu yang lama
sehingga tidak perlu dibuat aquadest bebas CO2.
Selain itu, sebelum pembuatan sediaan praktikan harus melakukan
titrasi terlebih dahulu untuk mengetahui konstanta dielektrik dari bahan
aktif yaitu Bromhexine HCl. Konstanta dielektrik diperlukan untuk
mengetahui kepolaran bahan aktif yaitu Bromhexine HCl terhadap
pelarut yang digunakan. Titrasi dilakukan dengan cara Bromhexine HCl
terlebih dahulu dilarutkan dalam 5 mL etanol, kemudian dititrasi dengan
aquadest hingga larutan Bromhexine HCl keruh atau timbul endapan.
Tetapi selama titrasi berlangsung, larutan tidak keruh dan tidak timbul
endapan hingga titrasi berakhir. Praktikan tidak bisa menemukan
konstanta dielektrik dengan cara titrasi sehingga konstanta dielektrik dari
Bromhexine HCl diambil dari formulasi yang ada pada literatur yaitu
73,57.
Setelah dilakukan pembuatan sediaan, langkah terakhir dalam
praktikum membuat larutan sejati ini adalah evaluasi sediaan. Evaluasi
yang dilakukan adalah uji organoleptik, uji pH sediaan, uji bobot jenis,
uji viskositas, uji volume terpindahkan, dan uji kejernihan larutan. Untuk
uji cemaran mikroba, uji efektivitas pengawet, uji stabilitas, dan uji
identifikasi dan penetapan kadar tidak dilakukan karena keterbatasan
waktu praktikum.

26
Uji organoleptik adalah uji sediaan dengan menggunakan metode
visual yang terdiri dari warna, bau, dan rasa. Warna diuji dengan indera
penglihatan, bau diuji dengan indera penciuman, dan rasa diuji dengan
indera perasa. Hasilnya yaitu sediaan elixir Bromhexine HCL memiliki
warna jingga, bau khas jeruk, dan rasa jeruk.
Uji pH sediaan dilakukan dengan menggunakan pH meter untuk
memastikan pH sediaan tetap berada pada rentang 6,3 - 6,5. Hasilnya
ialah pH sediaan akhir yang di dapat adalah 6,39, hal ini memenuhi
syarat pH stabilitas dari Bromhexine HCl.
Uji bobot jenis sediaan dilakukan dengan menguji bobot jenis
sediaan dengan menggunakan piknometer. Uji ini dilakukan dengan
membandingkan bobot Bromhexine HCl dengan bobot aquadest dengan
suhu dan volume yang sama. Hasilnya adalah bobot jenis dari sediaan
larutan sejati Bromhexine HCl adalah 1,0711 gram/mL. Uji bobot jenis
memeuhi syarat karena mendekati bobot jenis air yaitu 1 gram/ mL.
Uji viskositas sediaan dilakukan dengan menguji sediaan elixir
Bromhexine HCl menggunakan viskometer stormer. Pada viskometer
stormer, sediaan dimasukan kedalam wadah lalu dimasukkan spindel
no.3. Viskositas sediaan elixir Bromhexine HCl harus melebihi dari
viskositas air atau berada pada rentang 10 cP – 30 cP. Hasilnya yang
didapat adalah viskositas elixir Bromhexine HCl sebesar 0,85 dPas atau
8,5 cPas. Hal tersebut memenuhi syarat karen viskositas elixir
Bromhexine HCl melebihi viskositas air. Dimana viskositas dari air yaitu
0,89 cP.
Uji volume terpindahkan dilakukan dengan cara menghitung volume
sediaan yang berada dalam wadah botol yang kemudian dituangkan ke
dalam gelas ukur lalu didiamkan selama 15 menit. Syarat yang ditetapkan
adalah volume terpindahkan tidak boleh kurang dari 95% total volume
sediaan yaitu sekitar 57 mL dan tidak lebih dari 100% yaitu 62 mL
karena sediaan merupakan dosis ganda sehingga rentang volume yang
ditetapkan yaitu 95% - 100%. Hasil yang didapatkan adalah rata-rata
volume terpindahkan sebanyak 63 mL, hal ini tidak memenuhi syarat

27
karena seharusnya sediaan berkurang dari jumlah volume per botol bukan
bertambah. Uji volume terpindahkan tidak memenuhi syarat dapat
dikarenakan beberapa faktor kesalahan diantaranya kesalahan praktikan
saat menuangkan sediaan ke dalam botol melebihi batas kalibrasi atau
dapat dikarenakan botol yang digunakan belum sepenuhnya kering
sehingga masih ada air yang tecampur kedalam sediaan elixir.
Uji kejernihan larutan dilakukan dengan membandingkan sediaan
elixir Bromhexine HCl pada beaker glass dengan aquadest dibawah
cahaya. Dikatakan jernih apabila sediaan elixir Bromhexine HCl
memiliki kejernihan yang sama dengan air. Hasil yang didapat adalah
kejernihan sediaan elixir Bromhexine HCl sama dengan kejernihan
aquadest. Karena elixir merupakan larutan dimana seluruh bahan yang
ada didalamnya sudah terlarut didalam pembawa sehingga larutan yang
dihasilkan pada sediaan jernih tidak mengandung endapan sama seperti
aquadest.
Uji biologi cemaran mikroba, uji efektivitas pengawet, uji stabilitas,
dan uji identifikasi penetapan kadar tidak dilakukan pada saat praktikum
karena alat yang digunakan pada evaluasi tersebut tidak terdapat di
labolatorium ataupun membutuhkan waktu yang lama untuk melakukan
uji tersebut sehingga tidak dilakukan pada saat praktikum.

XIV. ETIKET – BROSUR – KEMASAN SEKUNDER (Rian Okta F /


P1733511805)
a. Etiket

28
b. Kemasan

29
c. Brosur
BROTORSHINNE
Bromhexine HCl 0,08%

KOMPOSISI :
Per 5 mL
Bromhexine HCl 4 mg.

INDIKASI :
Sirup Bromhexine HCl 4mg/5mL diindikasikan untuk:
Membantu meredakan batuk berdahak

KONTRAINDIKASI :
Hipersensitivitas
CARA PEMAKAIAN :
Bromhexine dapat dikonsumsi sesudah makan.
MEKANISME KERJA :
Bromhexine HCl bekerja dengan cara menghambat kerja sel
yang menghasilkan dahak atau mukus, sehingga
menghasilkan dahak yang tidak kental dan mudah untuk
dikeluarkan.

EFEK SAMPING :
Hipersensitivitas, syok dan reaksi anafilaktik,
bronkospasme, mual, muntah, diare, nyeri perut bagian atas,
ruam, angioedema, urtikaria, pruritus.

PERINGATAN DAN PERHATIAN :


Tukak lambung, kehamilan, menyusui, penghentian
pengobatan jika terjadi lesi kulit atau mukosa.
PENYIMPANAN :
Simpan pada suhu ruangan, jauhkan dari cahaya langsung
dan tempat yang lembap.

Diproduksi oleh:

PT. Pharmaceutically

BANDUNG - INDONESIA

30
XV. KESIMPULAN (Ghea Safhira S./P17335118023)
Formulasi yang tepat untuk sediaan Elixir Bromhexine HCl 4 mg/5 mL
yaitu :
Kegunaan & Rentang
Nama Zat Jumlah (%)
Kadar
Bromhexine HCl 0,08 % (w/v) Zat Aktif
Asam Sitrat 1,67 % (w/v) Dapar (0,1%-2%)
Natrium Sitrat 2,29 % (w/v) Dapar (0,3%-2%)
Gliserin 20 % (w/v) Pengental (0,1%-1%)
Etanol 95% 5 % (w/v) Pengawet (0,02%-0,5%)
Natrium Sakarin 0,2 % (w/v) Pemanis (0,075%-1,8%)
Essens Jeruk 0,5 % (w/v) Perasa
Pewarna Jingga 0,001 % (w/v) Pewarna
Aquadest ad 100% Pelarut

Kesimpulan Evaluasi
Formulasi yang dibuat adalah sebagai berikut :
1. Bromhexine HCl 4 mg/5 mL dibuat sediaan elixir sebanyak 7 botol,
masing-masing 60 mL.
2. Uji organoleptik memenuhi syarat, hal ini dapat dikatakan sesuai syarat
karena syarat uji organoleptik sama dengan hasil evaluasi ketika
pelaksanaan, yaitu sediaan harus berwarna jingga, bau harus tercium
khas jeruk, dan rasa manis.
3. Uji pH sediaan memenuhi syarat, hal ini dapat dikatakan sesuai syarat
karena pH sediaan yang didapatkan termasuk kedalam rentang pH yaitu
6,3 – 6,5.
4. Uji bobot jenis memenuhi syarat, hal ini dapat dikatakan sesuai syarat
karena bobot jenis yang didapatkan termasuk kedalam rentang bobot
jenis yang tertera pada syarat yaitu 1 – 3 gram/mL.
5. Uji Viskositas memenuhi syarat, hal ini dapat dikatakan sesuai syarat
karena viskositas yang didapatkan termasuk kedalam rentang viskositas
yang tertera dalam syarat yaitu : 10 cP – 30 cP.
6. Uji Volume terpindahkan tidak memenuhi persyaratan, hal ini dapat
dikatakan tidak sesuai syarat karena volume yang didapatkan melebihi
60 mL.

31
7. Uji kejernihan memenuhi syarat, hal ini dapat dikatakan sesuai syarat
karena ketika dibandingkan dengan air kejernihannya sama.
8. Uji evaluasi yang lainnya tidak dilakukan seperti uji cemaran mikroba,
uji efektivitas pengawet, dan uji stabilitas.
9. Jadi, sediaan yang dibuat memenuhi syarat – syarat evaluasi yang
tertera pada masing – masing uji evaluasi.

32
XVI. DAFTAR PUSTAKA (Nur Asiah / P17335118003)
Anief, Moh. 2010. Ilmu Meracik Obat. Jakarta : Gadjah Mada
University Press.
Ansel HC. 2011. Pengantar bentuk sediaan farmasi edisi keempat.
Jakarta (ID): Penerbit Universitas Indonesia.
Armstrong, N. A., 2009, Mannitol, dalam Rowe, R. C., Sheskey, P. J.
& Quinn, M. E., Handbook of Pharmaceutical Excipients, 6th
Ed., Pharmaceutical Press, London.
Bhagat, Ayushi dan Rachana. 2018. “Bromhexine: A Comprehensive
Review”. Dalam International Journal of Biological & Medical
Research. Vol 9(3):6455-6459.
British National Formulary 2009.edisi 56.London : BMJ Group and
RPS Publishing.
Gober dan Lisowki, H. “The stability of bromhexine and the structure
of its degradation products”. Dalam US National Library of
Medicine National Instituent of Healt. Vol. 43(1):23-6.
Japanese Pharmacopoeia Committee. (2006). The Japanese
Pharmacopoeia. Edisi Kelimabelas. Tokyo: The Ministry of
Health, Labour and Welfare. Hal. 395.
Kementrian Kesehatan RI. 2014. Farmakope Indonesia edisi V,
Jakarta: Dapartemen Kesehatan.
MSDS Bromhexine Hydrochloride. Spectrum Laboratory Products,
Inc.[US], 3 Agustus 2019, 14.22 WIB.
Rahardja, Kirana. 2008. Obat-Obat Penting. Jakarta: Elex Media
Komputindo.
Rowe, Raymond dkk.2009. Handbook Of Pharmaceutical Excipients.
Sixth Editior.
Savjani Ketan T., Anuradha K. Gajjar, dan Jignasa K. Savjani. “Drug
Solubility: Importance and Enhancement Techniques.” ISRN
Pharmaceutics.2012;(2012): 195727.
Sweetman, S.C. 2009. Martindale The Complete Drug Reference.
Edisi ke-36. London: Pharmaceutical Press.

33
Taylor, Kevin. 2017. Aulton Pharmaceutic Formulation The Design
and Manufacture of Medicine. Churcihill Livingstone Elsevier.
Viswanatha, Putra. 2017. Keseimbangan Asam Basa.Bali: Fakultas
Kedokteran Universitas Udayana.
Zaid, Abdel Naser. 2007. “Formulation and Stability Evaluation of 1%
w/v Oral Solution of Bromhexine Hydrochloride for Veterinary
Use. Dalam Jurnal The Islamic University Journal (Series of
Natural Studies and Engineering). Vol.15, No. 1. Palestine.

34
XVII. LAMPIRAN (Nur Asiah / P17335118003)

Uji Kejernihan Air Dapar Volume pH evaluasi


Sediaan Terpindahkan

pH Scale Up Piknometer kosong Piknometer berisi Botol Sediaan


sediaan

Piknometer berisi Viskositas Sediaan


aquadest

35