Anda di halaman 1dari 10

BAB V

HASIL PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni-Juli 2019 di Puskesmas Periuk Jaya
Kota Tangerang. Pada proses perencanaan penelitian, sampel pada penelitian ini
adalah pasien diabetes mellitus di wilayah Puskesmas Periuk Jaya Kota tangerang
sebanyak 30 responden . Berikut ini adalah deskripsi umum hasil pengumpulan data
yang akan menunjang analisis data pada tahap selanjutnya. Hasil penelitian berupa
hasil analisis univariat dan bivariate. Berikut hasil analisa univariat dan bivariate
yang akan disajikan pada tabel berikut ini :

5.1 Karakteristik Responden Univariat Dan Bivariat


1. Analisa Data Univariat
Berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi didapatkan sampel sebanyak 30
orang. Anlisa data univariat mengandung karakteristik sampel yang
dijelaskan melalui tabel maupun diagram yang mendeskripsikan mengenai
usia, jenis kelamin, lama sakit DM, Pendidikan penderita Diabetes
Mellitus.

Tabel 5.1 Karakteristik Pasien DM Tipe 2 Berdasarkan Usia, Jenis


Kelamin, Lama DM, Pendidikan di Puskesmas Periuk Jaya Kota
Tangerang Periode Juli 2019
Variabel Frekuensi %

45-55 (Usia Awal) 21 70

Usia 55-65 (Usia Akhir) 9 30

Total 30 100,0

Berdasarkan tabel 5.1 diatas dapat diketahui bahwa usia 45-55 tahun (Usia
awal) pada sampel penelitian ini merupakan usia terbanyak yang mengalami
Diabetes Mellitus Tipe II, yaitu sebesar 70% sebanyak 21 orang, sedangkan
persentasi paling kecil pada usia 55-65 tahun (Usia Akhir) sebesar 30%
sebanyak 9 orang.
Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi sampel dengan DM tipe II menurut
jenis kelamin Di Puskesmas Periuk Jaya pada tahun 2019
Variabel Frekuensi %

Jenis Kelamin Laki-laki 5 16,7

Perempuan 25 83,3

Total 30 100,0

Berdasarkan tabel 5.2 diatas dapat disimpulkan bahwa pada penelitian ini
sampel berjenis kelamin perempuan lebih banyak dibandingkan dengan
jenis kelamin laki-laki. Hal ini ditunjukan dengan besarnya persentasi jenis
kelamin perempuan sebesar 83,3% dan jumlahnya 25 orang, sedangkan
jenis kelamin laki-laki hanya sebesar 16,7% dengan jumlah 5 orang.

Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi sampel dengan DM tipe II menurut


Lama Sakit DM Di Puskesmas Periuk Jaya pada tahun 2019
Variabel Frekuensi %

Lama Sakit DM <5 tahun 15 50

>5 tahun 15 50

Total 30 100,0

Berdasarkan tabel 5.3 diatas dapat bahwa pada penelitian ini sampel yang
memiliki riwayat menderita DM tipe II <5 tahun lebih banyak
dibandingkan dengan sampel yang memiliki riwayat menderita DM tipe II
>5 tahun. Hal ini ditunjukan dengan besarnya riwayat menderita DM tipe
II <5 tahun. Sebesar 50% dan jumlahnya 15 orang yang memiliki riwayat
DM <5 tahun, sedangkan memiliki riwayat DM >5 tahun hanya sebesar
50% dengan jumlah 15 orang.

Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi sampel dengan Tingkat Pendidikan


Pasien DM Di Puskesmas Periuk Jaya pada tahun 2019
Variabel Frekuensi %

Pendidikan Tidak sekolah 8 26,7


pasien
SD 2 6,7

SMP 5 16,7

SMA 11 36,7

Perguruan 4 13,3
Tinggi

Total 30 100,0

Berdasarkan tabel 5.3 diatas dapat disimpulkan bahwa pada penelitian ini
Tingkat Pendidikan Pasien DM lebih banyak SMA dibandingkan yang
lainnnya. Hal ini ditunjukan dengan besarnya persentasi Tingkat Pendidikan
Pasien DM adalah SMA sebesar 16,7% dan jumlahnya 11 orang, sedangkan
tidak sekolah sebesar 26,7% dengan jumlah 8 orang, SD sebesar 6,7%
dengan jumlah 2 orang, SMP sebesar 16,7% dengan jumlah 5 orang, dan
perguruan tinggi hanya sebesar 13,3% dengan jumlah 4 orang.

5.2 Karakteristik Responden Bivariat


1. Analisa data Bivariat
a. Uji normalitas
Uji normalitas dilakukan untuk menentukan normal atau tidaknya
distribusi suatu data, diperlukan uji normalitas pada data tersebut. Uji
normalitas penting dilakukan terlebih dahulu agar dapat menentukan
uji hipotesis yang akan dilakukan selanjutnya. Uji normalitas data
pada penelitian ini dilakukan menggunakan perbandingan dari nilai
Skewness dan standar errornya. Hasil uji normalitas dapat dilihat pada
tabel di bawah ini.

Tabel 5.5 Hasil uji normalitas data sampel dengan Pemeriksaan kadar
gula darah dengan Glukometer pada pasien DM tipe II
Variabel Nilai Std. error p. value Ket.
Skewness
Gluko - pre 0,503 0,427 0,029 Normal

Gluko - Post 0,938 0,427 0,015 Normal

Berdasarkan tabel 5.5 menunjukan bahwa nilai p. value sebelum intervensi


adalah 0,029 dan nilai nilai p. values telah intervensi adalah 0,015. Nilai
p. value pada tabel adalah >0,05 maka dapat disimpulkan data berdistribusi
normal.
b. Uji hipotesis
Uji hipotesis dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh
dari senam diabetes terhadap penurunan kadar gula darah pad
apenderita DM tipe II. Uji hipotesis yang dilakukan pada penelitian
ini merupakan uji statistic parametric karena data distribusi normal
yaitu paired sampel T-test dependent
Tabel 5.6 hasil paired sampel T-test Dependent terhadap penurunan
kadar gula darah sebelum dan sesudah intervensi senam diabetes di
Puskesmas Periuk Jaya tahun 2019.
Variabel Mean±SD 95%CI p. value

Penurunan kadar gula 99,8000±25,997 90,092-109,507 0,000


darah sebelum dan
setelah intervensi
senam Diabetes
Berdasarkan tabel 5.6 diatas menunjukan bahwa setelah diuji
menggunakan paired sampel T-test dependent dengan tingkat kepercayaan
95% p. value sebesar 0,0000. Dalam hal ini p. value <α(0,05) yang berarti
terdapat perbedaan bermakna pada penurunan kadar gula darah sebelum dan
sesudah diberikan intervensi. Maka dapat disimpulkan bahwa terdapat
pengaruh pemberian intervensi senam diabetes terhadap penurunan kadar
gula darah pada penderita diabetes tipe II.
BAB VI
PEMBAHASAN

Bab ini menguraikan pembahasan tentang pengaruh Senam Diabetes


Terhadap Penurunan Kadar Gula Darah Pada Pasien Diabetes Di Puskesmas Periuk
Jaya Kota Tangerang Periode Agustus 2019, di mulai sejak tanggal 9 Juli sampai
dengan 11 Juli 2019 di Puskesmas Periuk Jaya kota Tangerang. Dalam penelitian
ini peneliti mengambil sampel penderita Diabetes Mellitus tipe II di Puskesmas
Periuk Jaya Kota Tangerang sebanyak 30 orang. Sebelum di berikan intervensi
responden diminta untuk mengisi kuisioner untuk mengetahui karakteristik
penderita DM sebelum di lakukan intervensi. Kemudian sampel di berikan
penjelasan tentang maksud dan tujuan peneliti dan sampel di minta untuk
menandatangani informed consent sebagai bentuk kesediaan untuk berpartisipasi
dalam penelitian ini. Setelah itu peneliti memberikan penjelasan mengenai program
senam yang di lakukan 3 kali dalam seminggu dengan frekuensi 30 menit setiap
pertemuan. Setelah latihan sesuai target latihan senam maka sampel di lakukan
pemeriksaan kembali dengan Glucometer untuk mengetahui hasil kadar gula darah
setelah di lakukan intervensi.

6.1 Karakteristik Responden


1. Usia
Seiring bertambahnya usia, organ tubuh mengalami penurunan fungsi
atau bahkan kegagalan dalam menjalankan fungsinya, termasuk sel beta
pankreas. Beban kerja pankreas ini dipengaruhi oleh tingkat resistensi
insulin serta durasi terjadinya insulin.
Hasil penelitian diketahui rata-rata usia responden dengan standar
deviasi 0,489 dalam kategori lasia awal atau <5 tahun sebesar (65%).
Sedangkan responden yang lama menderita Diabetes >5 tahun sebesar
(35%). Menurut hasil penelitian Lina Erlina (2018) menyatakan usia
responden 50 sampai 70 tahun. Usia sangat erat kaitannya dengan
hiperglikemia semakin tua golongan usia kejadian DM semakin meningkat.
50-92% usia lanjut mengalami gangguan toleransi glukosa. Peningkatan
glukosa darah pada lanjut usia karna resistensi insulin akibat berupahan
komposisi tubuh, turunnya aktivitas, perubahan pola makan dan penurunan
fungsi neurohormonal.
Menurut hasil penelitian Agus Fuji Sanjaya (2016) menyatakan
bahwa sudah dilakukan senam dapat diketahui pada umur 41-60 tahun
dengan gula darah 181-270 mg/dl terjadi peningkatan jumlah penderita yang
normal menjadi 9 responden (31,0%). Beberapa ahli perpendapat bahwa
bertambah umur, intoleransi terhadap glukosa juga meningkat. Umur akan
mempengaruhi tinggkat perkembangan neuromuscular dan tubuh secara
proporsional, postur pergerakan dan reflek akan berfungsi secara opsional,
gangguan intoleransi glukosa, penurunan sekresi insulin dan insulin
resisten. Dimana rafelensi diabetes mellitus naik bersama bertambahnya
umur pada usia lanjut terjadi penurunan maupun kemampuan pancreas
dalam menghasilkan insulin terutama pada post reseptor (Retno,2012).
Menurut penelitian

2. Jenis kelamin
Hasil penelitian ini diketahui frekuensi penderita DM tipe 2 adalah
laki-laki sebanyak 3 dengan presentasi (15%) responden sedangkan
perempuan sebanyak 17 responden dengan presentasi (85%). Menurut hasil
penelitian Lina Erlina (2018) menyatan bahwa hasil penelitiannya
menunjukan responden sebagian besar perempuan yaitu 14 responden
(93,3%). Perempuan memproduksi hormon estrogen yang menyebabkan
meningkatnya pengendapan lemak pada jaringan subkutis sehingga
perempuan cenderung memiliki lemak tubuh yang lebih banyak. Lemak
tubuh laku-laki >25% dan perempuan >35%. Menyebakan insiden diabetes
mellitus tipe 2 lebih banyak pada perempuan disbanding laki-laki.
Menurut penelitian Anggelin Salindeho (2016) menunjukan bahwa
sebagian besar responden baik kelompok intervensi dan kelompok kontrol
berjenis kelamin perempuan yaitu berjumlah 17 responden atau sebesar
56,7%. Berdasarkan penelitian ini yang dilakukan terhadap 30 responden
yang terdiri dari 15 responden kelompok intervensi dan 15 responden
kelompok kontrol, diperoleh responden yang berjenis kelamin laki-laki 13
orang atau 43,3%, sedangan untuk responden yang berjenis kelamin
perempuan berjumlah 17 orang atau 56,7%.

3. Lama menderita DM
Hasil penelitian ini diketahui rata-rata lama menderita DM adalah <5
tahun dengan frekuensi 11 orang (55%) sedangkan lama DM >5 tahun
dengan frekuensi 9 orang (45%). Lama menderita DM menurut peneliti
adalah berdasarkan waktu mulainya pasien terdiagnosa DM, meskipun
banyak ditemukan pasien mengalami keluhan beberapa tahun sebelum
pasien didiagnosa DM. lamanya periode DM dapat berkaitan dengan
timbulnya komplikasi baik makrovaskuler maupun mikrovaskuler.
Pada penelitian Rita dkk (2019) responden dengan lama menderita
diabetes <5 tahun sebesar (45,5%) dan sedangkan responden menderita DM
>5 tahun sebesar (52,4%).

4. Tingkat pendidikan
Tingkat pendidikan menentukan mudah tidaknya seseorang menyerap
dan memahami pengetahuan tentang penyakit DM (Dinas kesehatan, 2012).
Karakteristik responden berdasarkan pendidikan diketahui bahwa dari 20
responden sebagian besar adalah SMP dan SMA dengan frekuensi 7
responden (35%).
Pada penelitian Anggelin Salindeho (2016) menyatakan bahwa
distribusi responden berdasarkan tingkat pendidikan SMU yakni 19
responden atau 63,3% dan paling sedikit dengan tingkat pendidikan SLTP
yakni berjumlah 1orang atau 3,3%. Tingkat pendidikan dapat
mempengaruhi kemampuan dan pengetahuan seseorang dalam menerapkan
perilaku hidup sehat, terutama dalam pengendalian diabetes mellitus.
Pada penelitian Agus Fuji Sanjaya (2016) menyatakan bahwa
berdasarkan tingkat pendidikan dapat diketahui tingginya kadar gula darah
terdapat pada pendidikan tingkat dasar dan kadar gula darah 101-180mg/dl
sebesar 8 responden (33,3%). Tingkat pendidikan menentukan mudah
tidaknya seseorang menyerap dan memahami pengetahuan tentang penyakit
diabetes mellitus. Pada pendidikan yang rendah erat kaitannya dengan
pengertian tentang penyakit diabetes mellitus yang mempengaruhi perilaku
kesadaran deteksi dini masyarakat dinas kesehatan 2012.

6.2 Analisa Perbedaan Gula Darah Sebelum (pretest) dan Sesudah (postest)
pada penderita DM yang dilakukan Intervensi Senam Diabetes
Berdasarkan hasil penelitian diketahui setelah diuji menggunakan
paired sampel T-test dependent dengan tingkat kepercayaan 95% p. value
sebesar 0,0000. Dalam hal ini p. value <α(0,05) yang berarti terdapat
perbedaan bermakna pada penurunan kadar gula darah sebelum dan sesudah
diberikan intervensi. Hasil uji statistic didapat nilai p. value sebelum
intervensi adalah 0,029 dan nilai p. values telah intervensi adalah 0,015,
maka dapat disimpulkan terdapat pengaruh intervensi senam diabetes
terhadap kadar gula darah di Wilayah Kerja Puskesmas Periuk Jaya Tahun
2019.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa terdapat penurunan kadar gula
darah pada kelompok subjek yang diberikan intervensi senam diabetes.
Seperti kita ketahui bahwa semua yang menjadi subjek penelitian ini adalah
penderita DM tipe 2 yang sedang menjalani perawatan medis di Puskesmas
Periuk Jaya, jadi semua penderita DM tipe 2 tersebut mendapatkan
pengobatan secara farmakologi. Penelitian ini hanya untuk membuktikan
apakah senam diabetes dapat membantu menurunkan kadar gula darah
dengan lebih cepat atau tidak.
Dengan hasil uji statistik diperoleh nilai p. value sebelum intervensi
adalah 0,029 dan nilai p. values telah intervensi adalah 0,015, maka dapat
disimpulkan terdapat pengaruh intervensi senam diabetes terhadap kadar
gula darah.
Hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat Yusiana, Wahyuningsih
& Mahanani (2015) yang menyatakan bahwa jenis olahraga yang efektif
menurunkan kadar gula darah adalah senam aerobic dengan intensitas
sedang. Frekuensi latihannya 3-5 kali seminggu dengan lama latihan 30-40
menit sekali latihan.
Hal ini sesuai dengan hasil penelitian sebelumnya yang telah
dilakukan oleh Afrizal (2015) dengan judul “Pengaruh Senam Diabetes
Terhadap Kadar Glukosa Darah Pada Penderita DM tipe 2 di Puskesmas
Lapasi Kecamatan Nanggalo Kota Padang” penelitian ini dilakukan dengan
28 responden. Hasil analisa penelitian setelah dilakukan senam Diabetes
diketahui rata-rata kadar glukosa darah sebelum senam adalah 231,86 mg/dl
dan rata-rata sesudah senam adalah 226,93 mg/dl, maka kadar gula darah
mengalami penurunan 5 mg/dl.
Peneliti sebelumnya dilakukan oleh Agus Fuji Sanjaya, dkk (2016)
dengan judul “Pengaruh Senam Diabetes Terhadap Penurunan Kadar Gula
Darah Penderita Diabetes Mellitus di Wilayah Kerja Puskesmas
Peterongan Jombang” penelitian ini dilakukan dengan 47 responden. Hasil
analisa penelitian setelah dilakukan senam Diabetes diketahui rata-rata
kadar glukosa darah sebelum senam adalah 278,64 mg/dl dan rata-rata
sesudah senam adalah 249,64 mg/dl, maka kadar gula darah mengalami
penurunan 29 mg/dl.
Peneliti sebelumnya dilakukan oleh Andri Nugraha,dkk (2016)
dengan judul “Kadar Gula Darah Sebelum Dan Sesudah Melaksanakan
Senam Diabetes Pada Pasien Dm Tipe 2” penelitian ini dilakukan dengan
24 responden. . Hasil analisa penelitian setelah dilakukan senam Diabetes
diketahui rata-rata kadar glukosa darah sebelum senam adalah 164,50 mg/dl
dan rata-rata sesudah senam adalah 145,13 mg/dl, maka kadar gula darah
mengalami penurunan 19 mg/dl.