Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN KASUS

BAGIAN ILMU KEDOKTERAN ANAK


DESEMBER, 2019
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

HYDROPS GALLBLADDER CHOLESYSTITIS

Oleh :

SUCI RAMADHANI (10542061115)

Pembimbing :
dr. Hj. A. Tenrisanna, Sp.A

(Dibawakan dalam rangka tugas kepaniteraan klinik bagian Ilmu Kedokteran


Anak

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2019
LEMBAR PENGESAHAN

Yang bertanda tangan di bawah ini menerangkan, bahwa:


Nama : SUCI RAMADHANI
Judul Lapsus : HYDROPS GALLBLADDER
CHOLESYSTITIS
Telah menyelesaikan Laporan Kasus dalam rangka Kepanitraan Klinik di
Bagian Ilmu Kedokteran Anak Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah
Makassar.

Makassar, Desember 2019


Pembimbing,

dr. Hj. A. Tenrisanna, Sp.A

i
KATA PENGANTAR

Assalamu Alaikum Wr. Wb.


Dengan mengucapkan puji syukur atas kehadirat Allah SWT karena atas
rahmat, hidayah, kesehatan dan kesempatan-Nya sehingga laporan kasus dengan
judul “Hydrops Gallbladder Cholesystitis” ini dapat terselesaikan. Salam dan
shalawat senantiasa tercurah kepada baginda Rasulullah SAW, sang pembelajar
sejati yang memberikan pedoman hidup yang sesungguhnya.
Pada kesempatan ini, secara khusus penulis mengucapkan terima kasih dan
penghargaan yang setinggi-tingginya kepada dosen pembimbing dr. Hj. A.
Tenrisanna, Sp.A, yang telah memberikan petunjuk, arahan dan nasehat yang
sangat berharga dalam penyusunan sampai dengan selesainya lapsus ini.
Penulis menyadari sepenuhnya masih banyak terdapat kelemahan dan
kekurangan dalam penyusunan referat ini, baik dari isi maupun penulisannya.
Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak senantiasa penulis harapkan demi
penyempurnaan referat ini.
Demikian, semoga referat ini bermanfaat bagi pembaca secara umum dan
penulis secara khususnya.

Wassalamu Alaikum WR.WB.

Makassar, Desember 2019

Penulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................................................................................2


DAFTAR ISI......................................................................................................................3
BAB I
PENDAHULUAN .............................................................................................................4
BAB II
LAPORAN KASUS ...........................................................................................................5
A. IDENTITAS ...........................................................................................................5
B. ANAMNESIS ........................................................................................................5
C. PEMERIKSAAN FISIK.........................................................................................7
D. PEMERIKSAAN PENUNJANG ......................................................................... 10
E. FOLLOW UP PASIEN ........................................................................................ 12
BAB III
PEMBAHASAN .............................................................................................................. 15
A. DEFINISI ........................................................................................................... 155
B. ETIOLOGI ......................................................................................................... 155
C. PATOFISIOLOGI .............................................................................................. 156
D. MANIFESTASI KLINIS ..................................................................................... 16
E. LANGKAH DIAGNOSTIK ................................................................................. 17
F. DIAGNOSIS BANDING ..................................................................................... 18
G. PENATALAKSANAAN ..................................................................................... 19
J. DISKUSI .............................................................................................................. 20
BAB IV
PENUTUP ....................................................................................................................... 22
KESIMPULAN ............................................................................................................ 22
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................................... 23

3
BAB I

PENDAHULUAN

Istilah mucocele kandung empedu mengacu pada keadaan dimana kandung

empedu terlalu banyak terisi oleh mukoid atau kandungan cair lainnya. Biasanya

pada kasus noninflamasi, itu merupakan hasil dari obstruksi dari kandung empedu

dan umumnya disebabkan oleh batu di leher kandung empedu atau ductus

cysticus.1

Hal-hal yang dapat menyebabkan terjadinya kondisi seperti ini yaitu penyakit

batu empedu dan penyakit-penyakit di sistem empedu. Penyakit batu empedu

mempengaruhi 15-20 % populasi dimana mendekati 1 juta kasus baru yang

dilaporkan setiap tahun di Amerika Serikat.1

Penyakit kandung empedu terjadi pada pria dan wanita namun risiko penyakit

empedu lebih rentan terhadap wanita, pasien obesitas, wanita hamil, dan pasien

berusia 40-an. Penurunan berat badan yang drastis atau penyakit akut juga dapat

meningkatkan risiko serta kecenderungan genetik keluarga. 1

4
BAB II

LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS

1. Identitas pasien
Nama : Nn. NF
Tanggal lahir : 26-01-2002
Umur : 17 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Berat badan : 44,9 kg
Panjang badan : 155 cm
Alamat : Jl. Mangka Dg Bombong
Agama : Islam
Ruangan : Perawatan II RSUD Syekh Yusuf Gowa
2. Identitas orang tua/ wali
Ayah :
Nama : Tn. N
Usia : 49 tahun
Pekerjaan : Wiraswasta
Pendidikan : SMA
Ibu :
Nama : Ny.NR
Usia : 42 tahun
Pekerjaan : Wiraswasta
Pendidikan : SMA

B. ANAMNESIS

1. Keluhan utama : Nyeri ulu hati


2. Riwayat penyakit sekarang :
Seorang pasien perempuan dibawa ke RS dengan keluhan nyeri pada
ulu hati sejak 2 minggu lalu dan memberat 3 hari terakhir. Pasien juga
5
mengeluh terkadang sesak jika nyeri datang. Pasien juga mengeluh
bahwa nyeri juga dirasakan di seluruh bagian perut. Selain itu, pasien
juga mengeluh nyeri kepala yang muncul bersamaan dengan nyeri ulu
hati bermula. Pasien juga mengalami batuk dan mual namun tidak
sampai muntah. Pasien juga merasa kaku pada jari-jari tangan dan
kaki. Nafsu makan kurang dan nafsu minum baik. BAB dan BAK
kesan normal.
Riwayat penyakit dahulu : Appendicitis dan Demam Typhoid
3. Riwayat kehamilan dan persalinan
Riwayat antenatal : ibu rajin memeriksa kehamilannya ke
klinik tiap bulan sekali dan mendapatkan
suntikan TT sebanyak 2 kali
Riwayat Natal : spontan
Berat badan lahir : tidak ingat
Panjang badan lahir : tidak ingat
Penolong : Dokter
Tempat : Rumah Sakit
4. Riwayat perkembangan
Tiarap : tidak ingat
Merangkak : tidak ingat
Duduk : tidak ingat
Berdiri : tidak ingat
Berjalan : tidak ingat
5. Riwayat imunisasi
BCG : 1 kali (umur 2 bulan)
Polio : 4 kali (umur 2, 3, 4, dan 5 bulan)
Hepatitis : 4 kali (umur 0, 2, 4, dan 6bulan)
DPT : 3 kali (umur 2, 3, dan 4 bulan)
Campak : 1 kali (umur 9 bulan)
6. Riwayat keluarga : tidak ada keluarga yang menderita penyakit
yang sama.
6
C. PEMERIKSAAN FISIK

a. Status presentasi
Keadaan umum : tampak sakit sedang
GCS : E4M6V5
Kesadaran : compos mentis
b. Tanda vital
Tekanan Darah : 110/70 mmHg
Suhu : 36,0oC
HR : 103 x/menit
RR : 22 x/menit
Berat badan : 44,9 kg
Tinggi badan : 155 cm
BB/TB : 102 %, Gizi baik
BB/U : 81,6%, BB cukup
TB/U : 94,5%, perawakan normal
Kulit : Putih
Sianosis : tidak ada
Hemangiom : tidak ada
Turgor : cepat kembali
Kelembaban : cukup
c. Kepala
Bentuk : normochepal
UUB : datar, sudah menutup
UUK : datar, sudah menutup
Rambut :
Warna : hitam
Tebal/tipis : tebal
Alopesia : tidak ada

7
d. Mata
Palpebra : edema (-/-)
Alis & bulu mata : tidak mudah dicabut
Konjungtiva : pucat
Sklera : tidak ikterik
Pupil : diameter 2,5mm/2,5mm
Simetris : isokor
Refleks cahaya : +/+
Kornea : jernih
e. Telinga
Bentuk : simetris
Sekret : tidak ada
Serumen : minimal
Nyeri : tidak ada
f. Hidung
Bentuk : simetris
Epistaksis : tidak ada
Sekret : tidak ada
g. Mulut
Bibir : Sianosis (-)
Gigi : normal
Gusi : perdarahan (-)
h. Lidah
Bentuk : normal
Pucat : pucat
Tremor : tidak tremor
Kotor : tidak kotor
Warna : kemerahan
i. Faring
Hiperemis : tidak ada
8
Edema : tidak ada
Membran/pseudomembran : tidak ada
j. Tonsil
Warna : kemerahan (-)
Pembesaran : tidak ada
Abses : tidak ada
Membran/pseudomembran : tidak ada
k. Leher
Kelenjar getah bening : tidak ada pembesaran
Kelenjar tiroid : tidak ada pembesaran
DVS : R-4
Kaku kuduk : tidak ada
Massa : tidak ada
l. Thorax
Inspeksi
- Bentuk : simetris antara kiri dan kanan
- Buah dada : simetris
- Retraksi : tidak ada
- Dispnea : tidak ada
Paru-paru
Palpasi
- Fremitus : dalam batas normal
- Nyeri tekan : (-)
Perkusi
- Paru : sonor dextra sinistra
- Batas paru depan kanan : ICS VI dextra
- Batas paru belakang kanan :vertebra thoracalis IX dextra
posterior
- Batas paru belakang kiri : vertebra thorakalis X
sinistra posterior

9
Auskultasi
- Bunyi pernapasan : vesikuler
- Bunyi tambahan : wheezing (-/-), ronchi (-/-)
m. Jantung
Inspeksi : ictus cordis tidak tampak
Palpasi : ictus cordis tidak teraba
Perkusi : pekak, batas jantung dalam batas normal
Auskultasi : bunyi jantung I/II murni regular, bising (-)
n. Abdomen
Inspeksi : cembung, ikut gerak napas
Palpasi : nyeri tekan hypochondrium (+) epigastrium
(+), suprapubik (+)
Perkusi : timpani, Shiftimg dullness (-) asites (-)
Auskultasi : peristaltik (+) kesan normal
o. Alat kelamin : Kelainan genital lain tidak ada
p. Anus rectum : tidak dilakukan pemeriksaan
q. Punggung
Palpasi : nyeri tekan (-), teraba massa (-)
Perkusi : nyeri ketok (-)
Auskultasi : vesikuler, wheezing (-/-), ronchi (-/-)
r. Ekstremitas : akral hangat, edema pretibial (-/-)

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Laboratorium

Pemeriksaan 02/09/2019 Nilai Rujukan

HB 8,5 g/dl L: 14-16 g/dl


Leukosit 6700 L: 5000-10.000
Trombosit 412.000 L: 150.000- 400.000

10
b. Ultrasonografi
Pada pemeriksaan ultrasonografi ditemukan gallbladder ukurannya
membesar dengan sedikit dinding tampak edema namun tidak
ditemukannya batu atau sludge di lumen. Kesan dari pemeriksaan
ultrasonografi yaitu Hydrops GallBladder dengan tanda-tanda
Cholecystitis.

Gambar 2.1

11
E. FOLLOW UP PASIEN

HASIL PEMERIKSAAN
INSTRUKSI
TANGGAL ANALISIS DAN TINDAK
DOKTER
LANJUT
03-11-2019 S : Seorang pasien masuk dengan - IVFD RL
kelihan nyeri ulu hati yang dirasakan - Neurobion ½ amp
kurang lebih 3 minggu. Nyeri juga drips
dirasakan di perut kanan atas dan - Ampicilin 500
bagian perut lainnya serta tembus mg/6jam/iv
hingga ke belakang. Pasien juga - Gentamicin 40 mg/12
merasa mual dan batuk serta lemas. jam/iv
O : KU : sakit sedang - Lamsoprazole 1
TD : 100/70 mmHg amp/12jam/iv
N : 68 x/menit
P : 22 x/menit
S : 36,2 C
Kepala : Anemis (+/+), ikterus (-/-)
Paru : bunyi napas vesikuler. Ronchi
(-/-), Wheezing (-/-).
Jantung : S1, S2 murni reguler
Abd : distended (+)
Ext : akral dingin
A : Abdominal Pain

04-11-2019 S : Demam(-), batuk(-), sesak(-), - IVFD RL


nyeri perut kanan atas (+), nyeri ulu - Neurobion ½ amp
hati (+). drips
O : KU : sakit sedang - Ampicilin 500
TD : 100/70 mmHg mg/6jam/iv
N : 60 x/menit - Gentamicin 40 mg/12
P : 24 x/menit jam/iv
S : 36,3 C - Lamsoprazole 1
Kepala : Anemis (+/+), ikterus (-/-) amp/12jam/iv
Paru : bunyi napas vesikuler. Ronchi
(-/-), Wheezing (-/-).
Jantung : S1, S2 murni reguler
Abd : distended (+)
Ext : akral dingin
A : Abdominal Pain
05-11-2019 Demam(-), batuk(-), sesak(+), nyeri - IVFD Dextrose 5 %
perut kanan atas (+), nyeri ulu hati 1000 cc/24 jam
(+). - Ampicilin 500
12
O : KU : sakit sedang mg/6jam/iv
TD : 110/70 mmHg - Gentamicin 40 mg/12
N : 64 x/menit jam/iv
P : 26 x/menit - Lamsoprazole 1
S : 36,5 C amp/12jam/iv
Kepala : Anemis (-/-), ikterus (-/-) - Fes tab 2 x 1
Paru : bunyi napas vesikuler. Ronchi - USG Abdomen
(-/-), Wheezing (-/-).
Jantung : S1, S2 murni reguler
Abd : distended (-)
Ext : akral hangat
A : Abdominal Pain
06-11-2019 Demam(-), batuk(-), sesak(-), nyeri - IVFD Dextrose 5 %
perut kanan atas (+), nyeri ulu hati 1000 cc/24 jam
(+). - Ampicilin 500
O : KU : sakit sedang mg/6jam/iv
TD : 110/90 mmHg - Gentamicin 40 mg/12
N : 73 x/menit jam/iv
P : 20 x/menit - Lamsoprazole 1
S : 36,5 C amp/12jam/iv
Kepala : Anemis (-/-), ikterus (-/-) - Fes tab 2 x 1
Paru : bunyi napas vesikuler. Ronchi - Methylprednisolone 4
(-/-), Wheezing (-/-). mg 2 x 1
Jantung : S1, S2 murni reguler
Abd : distended (-)
Ext : akral hangat
A : Abdominal Pain
07-11-2019 Demam(-), batuk(-), sesak(-), nyeri - IVFD Dextrose 5 %
perut kanan atas (+), nyeri ulu hati 1000 cc/24 jam
(+). - Ampicilin 500
O : KU : sakit sedang mg/6jam/iv
TD : 90/60 mmHg - Gentamicin 40 mg/12
N : 98 x/menit jam/iv
P : 20 x/menit - Lansoprazole 1
S : 36,5 C amp/12jam/iv
Kepala : Anemis (-/-), ikterus (-/-) - Fes tab 2 x 1
Paru : bunyi napas vesikuler. Ronchi - Methylprednisolone 4
(-/-), Wheezing (-/-). mg 2 x 1
Jantung : S1, S2 murni reguler - Ketorolac 3 mg/8
Abd : distended (-) jam/iv
Ext : akral hangat
A : Abdominal Pain

13
08-11-2019 Demam(-), batuk(-), sesak(-), mual(- - IVFD Dextrose 5 %
), nyeri perut kanan atas (+), nyeri ulu 710 cc/24 jam
hati (+). - Methylprednisolone 4
O : KU : sakit sedang mg 2 x 1
TD : 90/70 mmHg - Buscopan 1
N : 82 x/menit mg/drips/iv 20 tpm
P : 24 x/menit - Antibiotik,
S : 36,7 C Lansoprazole,
Kepala : Anemis (-/-), ikterus (-/-) Ketorolac- STOP
Paru : bunyi napas vesikuler. Ronchi
(-/-), Wheezing (-/-).
Jantung : S1, S2 murni reguler
Abd : distended (-)
Ext : akral hangat
A : Abdominal Pain

14
BAB III

PEMBAHASAN

A. DEFINISI
Istilah mucocele kandung empedu mengacu pada keadaan dimana
kandung empedu terlalu banyak terisi oleh mukoid atau kandungan cair
lainnya. Biasanya pada kasus noninflamasi, itu merupakan hasil dari
obstruksi dari kandung empedu dan umumnya disebabkan oleh batu di leher
kandung empedu atau ductus cysticus.1
Mucocele dari kantong empedu adalah suatu kondisi yang disebabkan oleh
penyumbatan ductus cysticus yang berkepanjangan, biasanya oleh batu
empedu yang terimpaksi. Nama lain untuk kondisi ini adalah hidrops
kandung empedu (hydrops gallbladder). Hal ini paling sering tidak
diidentifikasi sebelum operasi tetapi merupakan temuan insidental pada saat
laparoskopi atau kolesistektomi terbuka. Diagnosis ini dibuat ketika kandung
empedu didekompresi secara operasi, dan cairan seperti lendir bening telah
menggantikan empedu hijau atau coklat. Pasien datang dengan tanda dan
gejala kolesistitis akut atau kronis.2

B. ETIOLOGI
Kandung empedu yang tidak berfungsi menyebabkan kolesistitis. Hati
membuat empedu yang berjalan di saluran empedu, untuk disimpan di
kantong empedu. Setelah makan makanan tertentu, terutama makanan pedas
atau berminyak, kantong empedu distimulasi untuk mengosongkan empedu
keluar dari kantong empedu, melalui ductus cysticus, menyalurkan saluran
empedu ke dalam duodenum. Proses ini membantu pencernaan makanan. Jika
kantong empedu tidak berfungsi dengan baik, empedu mungkin tidak kosong
sepenuhnya yang dapat menyebabkan pembentukan batu. Batu empedu dapat
menyebabkan penyumbatan mekanis pada saluran kistik. Kandung empedu

15
juga berfungsi untuk memekatkan empedu dan menyerap kembali air dari
empedu.2
Kandung empedu dapat menyimpan hingga 1500 mL empedu dan dapat
menggembung jika ada sumbatan saluran keluar. Jika obstruksi saluran keluar
ini selesai, biasanya dari batu empedu yang terkena di ductus cysticus, garam
empedu akan diserap kembali oleh mukosa kandung empedu dari waktu ke
waktu dan digantikan oleh lendir yang bening dan berair.2
Neoplasma termasuk polip kandung empedu dan tumor dapat
menyebabkan hidrops. Penyempitan bawaan, parasit kandung empedu, dan
kompresi eksternal dari penyakit hati atau tumor juga dapat menyebabkan
mucocele kandung empedu. Faktor-faktor lain yang dapat menyebabkan
hydrops termasuk segala sesuatu yang meningkatkan risiko kolesistitis seperti
penurunan berat badan yang drastis, operasi lambung dengan gangguan saraf
vagus, penyakit kritis, diabetes, hiperlipidemia, hiperkalsemia, dan kondisi
bilier seperti penyakit Carole.2
Pada bayi dan anak-anak hyrdrops gallbladder akut, akalkulus atau
noninflamasi dapat disebabkan oleh hal seperti Kawasaki disease, Faringitis
streptococcus, Mesenteric adenitis, Typhoid, Leptospirosis, Hepatitis,
Familial Mediterranean Fever, Sindrom nefrotik, dan penyakit fibrosistik.2

C. PATOFISIOLOGI
Statis kandung empedu menyebabkan penumpukan tekanan intraluminal
yang akhirnya menyebabkan iskemia pada dinding kandung empedu dan
peradangan. Stasis ini juga dapat menyebabkan kolonisasi bakteri yang
berkontribusi terhadapa respon inflamasi. Jika tekanannya tidak bekurang,
dinding kandung empedu akan menjadi iskemik secara progresif dan akhirnya
menghasilkan gangren dan perforasi yang menyebabkan sepsis dan syok.2

D. MANIFESTASI KLINIS
a. Gejala mucocele kandung empedu meliputi:1
1. Nyeri atau rasa tidak nyaman pada kanan-kuadran atas atau nyeri
epigastrium.
16
2. Terdapat mual dan muntah
b. Adapaun kondisi-kondisi yang lain meliputi:1
1. Rasa nyeri yang berkelanjutan atau nyeri yang persisten yang lama
lebih dari 6 jam yang dapat mengarah ke kolesistitis akut.
2. Demam dan menggigil
3. Ditemukan jaundice jika ada obstruksi
c. Pemeriksaan fisik juga dapat ditemukan:1
1. Tanda-tanda inflamasi akut minimal
2. Massa besar, teraba, dan terasa lunak

E. DIAGNOSIS
Kasus-kasus kolesistitis kronis datang dengan nyeri perut kanan atas yang
berkembang dengan kembung, intoleransi makanan, peningkatan gas, mual,
dan muntah. Nyeri pada punggung belakang atau bahu juga dapat terjadi.
Nyeri ini dapat muncul sampai bertahun-tahun hingga terdiagnosis.2
Kasus kolesistitis akut juga merasakan hal serupa namun lebih parah. Pada
pemeriksaan didapatkan dengan palpasi dalam atau biasa disebut dengan
tanda Murphy merupakan temuan klasik pada penyakit ini. Kadang-kadang
dapat dirasakan serendah umbilikus karena distensi ekstrim. 2
Pada pemeriksaan penunjang dapat dilakukan pemeriksaan laboratorium
dimana meliputi:1
a. Hitung sel darah putih (WBC) dimana kadang ditemukan leukositosis
ringan. Jika ditemukan leukositosis yang sangat tinggi bisa mengarahkan
ke kolesistitis akut atau infeksi kandung empedu.
b. Bilirubin biasanya sedikit meningkatkan terutama pada Sindrom Mirrizi
atau adanya obstruksi atau kolangitis.
c. Enzim hepar dimana alkalin fosfat meningkat sedikit dan jika meningkat
secara drastis bisa mengarah ke obstruksi.
d. Level serum amilase jika terjadi peningkatan dapat mengarah ke
pankreatitis.
Dalam pemeriksaan imaging atau radiologi dapat dilakukan hal berikut:1

17
a. Ultrasonografi dimana sangat sensitif dalam mendeteksi adanya batu
dalam kandung empedu dan mengidentifikasi pelebaran empedu
intrahepatik.
b. Foto polos abdomen meskipun tidak begitu spesifik namun dapat
digunakan dalam membantu dalam diferensial diagnosis.
c. Scintigraphu (pemindaian asam hepato-iminodiacetic (HIDA)).
d. CT scan dilakukan dengan indikasi jika diagnosis tidak jelas atau kondisi
lainnya serta jika ada komplikasi yang harus dinilai.
e. Magnetic Resonance Cholangiopancreatopgraphy (MRCP).

F. DIAGNOSIS BANDING
a. Penyakit ulkus peptikum.
Penyakit ulkus lambung dapat melibatkan lambung atau duodenum. Ulkus
lambung dan duodenum biasanya tidak dapat dibedakan berdasarkan
riwayat saja. Nyeri epigastrium adalah gejala paling umum dari ulkus
lambung dan duodenum yang ditandai dengan sensasi menggerogoti atau
membakar dan terjadi setelah makan.3

Gambar 2.2
b. Inflammatory Bowel Disease
Penyakit radang usus merupakan merupakan penyakit idiopatik yang
disebabkan oleh disregulasi sistem imun pada mikroflora host intestinal.
Gejala yang ditimbulkan oleh penyakit in tergantung dimana area
18
intestinal yang terserang. Penderita penyakit ini kadang mengeluhkan
kram pada perut, kehilangan berat badan, demam, merasa lemas, retardasi
pertumbuhan dan pematangan seksual yang tertunda atau gagal pada anak,
manifestasi ekstraintestinal seperti uveitis, arthritis, atau penyakit hati,
kotoran yang berdarah, atau penyakit perianal.4

Gambar 2.3
G. PENATALAKSANAAN
Operasi merupakan terapi definitif bagi hydrops gallbladder yang
disebabkan oleh obstruksi dan tidak ada kontraindikasi yang absolut namun,
faktor-faktor berikut dapat dipertimbangkan:1
a. Adanya kondisi medis yang menghalangi operasi merupakan
kontraindikasi dalam melakukan pembedahan.
b. Penelitian mengatakan ablasi kimia pada mukosa kandung empedu dapat
menjadi alternatif pada pasien secara medis tidak layak, lansia, atau
memiliki penyakit kritis.
Pemilihan opsi pembedahan termasuk di bawah ini:1
a. Laparoskopi kolisistektomi
b. Kolesistektomi terbuka
c. Prekutan atau koleksistektomi terbuka
d. Kolesistektomi subtotal laparoskopi

19
H. DISKUSI

Pasien datang dengan keluhan nyeri ulu hati pada yang dirasakan kurang
lebih 3 minggu disertai dengan nyeri di beberapa bagain perut lainnya seperti
perut kanan atas dan bagian bawah umbilikus. Seperti yang diketahui dari
segi gejala dan manifestasi dari hydrops gallbladder cholecystitis dimana
akan ada nyeri atau rasa tidak nyaman yang dirasakan oleh penderita di
bagian perut kuadran kanan atas bahkan ke are epigastrium sehingga
terkadang jika pasien datang di awal kesempatan, hal pertama yang
terpikirkan kemungkinan mengarah pada ulkus peptikum. Selain itu pasien
juga merasa nyeri hampir pada seluruh bagian perut dan nyeri juga dirasakan
hingga punggung belakang. Nyeri yang dirasakan pasien juga bertahan
hingga berhari-hari.
Selain nyeri yang dirasakan pasien, gejala lainnya yang dimiliki pasien
yang dapat mengarahkan pada kolesistitis yaitu adanya rasa muali yang
dirasakan pasien yang cukup sering dimana rasa mual juga dapat ditemukan
pada manifestasi pasien yang dicurigai mengalami kolesistitis.
Pada pemeriksaan fisis pasien hal yang paling menonjol saat dilakukan
yaitu ada pada saat palpasi. Nyeri tekan didapatkan pada pasien ini. Nyeri
tekan yang paling khas adalah nyeri tekan Murphy yang positif pada pasien
ini.
Selanjutnya untuk menegakkan diagnosis pada pasien ini dilakukan
pemeriksaan penunjag berupa pemeriksaan laboratorium yaitu darah rutin dan
pemeriksaan radiologi berupa ultrasonografi yang merupakan pemeriksaan
yang sangat sensitif pada penyakit yang kita curigai. Dalam hasil
laboratorium, hasil yang tidak normal didapatkan pada hemoglobin (Hb)
pasien dimana didapatkan Hb 8,7 gr/dl. Hal ini mendukung penampilan
pasien yang memang tampak pucat dan anemis. Pada pemeriksaan WBC
tidak ditemukan leukositosis ringan maupun berat dan tidak sesuai dengan
referensi yang didpaatkan dimana disebutkan bahwa dalam pemeriksaan
WBC dapat ditemukan leukositosis ringan maupun berat.

20
Pada pemeriksaan radiologi didapatkan hasil ukuran gallbladder
membesar dengan dinding sedikit edema namun tidak ditemukannya batu
sehingga kesimpulan dari pemeriksaan ultrasonografi pasien yaitu Hydrops
Gallbladder dengan tanda-tanda Cholecystitis.
Maka dari pemeriksaan berikut pasien diberika terapi berupa IVFD RL
1500cc/24 jam. Diberikan antibiotik Ampicilin 500 mg/6 jam/iv dan
Gentamicin 40 mg/12 jam/iv untuk infeksinya. Pasien juga diberikan
Lansoprazole 1 amp/12 jam/iv yang merupakan golongan PPI sebagai
protektor bagi lambung pasien dimana pasien juga mengeluh nyeri ulu hati.
Pasien juga diberika Fes tablet 2 x 1 untuk mengatasi anemianya. Pasien
juga diberikan Methylprednisolone 4 mg 2 x 1 sebagai penekan radang pada
kandung empedunya. Pasien diberikan Ketorolac 3 mg/8 jam/iv sebagai
analgetik pasien.

21
BAB IV

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Istilah mucocele kandung empedu mengacu pada keadaan dimana
kandung empedu terlalu banyak terisi oleh mukoid atau kandungan cair
lainnya. Biasanya pada kasus noninflamasi, itu merupakan hasil dari obstruksi
dari kandung empedu dan umumnya disebabkan oleh batu di leher kandung
empedu atau ductus cysticus.1
Mucocele dari kantong empedu adalah suatu kondisi yang disebabkan oleh
penyumbatan ductus cysticus yang berkepanjangan, biasanya oleh batu
empedu yang terimpaksi. Nama lain untuk kondisi ini adalah hidrops kandung
empedu (hydrops gallbladder). Hal ini paling sering tidak diidentifikasi
sebelum operasi tetapi merupakan temuan insidental pada saat laparoskopi
atau kolesistektomi terbuka. Diagnosis ini dibuat ketika kandung empedu
didekompresi secara operasi, dan cairan seperti lendir bening telah
menggantikan empedu hijau atau coklat. Pasien datang dengan tanda dan
gejala kolesistitis akut atau kronis.2
Dimana gejala yang sering ditunjukkan oleh pasien merupakan rasa nyeri
dan tidak nyaman pada area kudran perut kanan atas dan area epigastrium,
mual, muntah, rasa nyeri yang persisten, dan terkadang jaundice. Terapi bagi
penderita hydrops gallbladder sendiri yang menjadi terapi definitif yaitu
tindakan operasi.1,2

22
DAFTAR PUSTAKA

1. Vijayaraghavan R. Gallbladder Mucocele. India: American

Gastroenterological Association. 2018

2. Jones MW, Deppen JG. GallBladder Mucocele. National Institute of

Health. 2019

3. Anand BS. Peptic Ulcer Disease. Baylor College of Medicine. 2019

4. Rowe WA. Infalmmatory Bowel Disease. Pennsylvania: American

Gastroenerological Association. 2017

23

Anda mungkin juga menyukai