Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY


LEARNING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA
MATERI LISTRIK DINAMIS PADA SISWA KELAS IX.1 SMP
NEGERI 1 LUHAK NAN DUO TAHUN PELAJARAN 2019/2020

Oleh :

Syamsurizal, S.Si
NIP.198105052008021001

SMP NEGERI 1 LUHAK NAN DUO

DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

PASAMAN BARAT

2019
PEMERINTAH KABUPATEN PASAMAN BARAT

DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

SMP NEGERI 1 LUHAK NAN DUO


Jl. Puja Rahayu OPHIR Pasaman Barat 26368

Website: www.smpn1luhaknanduo.sch.id Email : smpn1luhaknanduo@gmail.com

HALAMAN PENGESAHAN

Yang bertandatangan di bawah ini, mengesahkan laporan hasil penelitan


tindakan kelas (PTK) yang berjudul: PENERAPAN MODEL
PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING UNTUK MENINGKATKAN
HASIL BELAJAR IPA MATERI LISTRIK DINAMIS PADA SISWA
KELAS IX.1 SMP NEGERI 1 LUHAK NAN DUO TAHUN PELAJARAN
2019/2020 adalah karya tulis ilmiah dibuat oleh Syamsurizal, S.Si

Simpang Tiga, Desember 2019


Kepala SMP Negeri 1 Luhak Nan Duo

Arif, S.Pd
NIP. 197012251999031005

ii
PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji peneliti panjatkan kepada Allah subhanahu


watala yang telah memberikan rahmat dan hidayah hingga peneliti dapat
menyelesaikan laporan penelitian dengan judul “PENERAPAN MODEL
PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING UNTUK MENINGKATKAN
HASIL BELAJAR IPA MATERI LISTRIK DINAMIS PADA SISWA KELAS
IX.1 SMP NEGERI 1 LUHAK NAN DUO TAHUN PELAJARAN 2019/2020”.

Penelitian ini dilakukan untuk memperbaiki mutu pembelajaran di kelas yang


peneliti ampu, yang tujuan akhirnya adalah meningkatkan kompetesi kelulusan
siswa.

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini disusun guna melengkapi syarat


untuk memenuhi unsur publikasi. Dengan berhasilnya penyusunan PTK ini
penulis mengucapkan terima kasih yang tulus kepada :

1. Bapak Arif, S.Pd, sebagai Kepala Sekolah


2. Bapak Moch. Fatkoer Rohman, S.Pd, Guru SMA 1 Tanjung, NTB, yang
banyak memberikan ilmu dalam penyusunan PTK lewat Google
Classroom.
3. Ibu Wisma, M.Pd selaku observer penelitian

Terakhir, peneliti sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun


agar penulisan PTK ke depannya lebih baik lagi.

Simpang Tiga, Desember 2019

Peneliti,

Syamsurizal, S.Si
iii
DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN................................................................................. ii

PENGANTAR ....................................................................................................... iii

DAFTAR ISI .......................................................................................................... iv

DAFTAR GAMBAR .............................................................................................. v

DAFTAR TABEL .................................................................................................. vi

ABSTRAK ............................................................................................................ vii

BAB I ...................................................................................................................... 1

PENDAHULUAN .................................................................................................. 1

A. Latar Belakang Masalah ........................................................................... 1


B. Rumusan Masalah ..................................................................................... 2
C. Tujuan Penelitian ...................................................................................... 3
D. Manfaat Penelitian .................................................................................... 3
BAB II ..................................................................................................................... 4

KAJIAN PUSTAKA ............................................................................................... 4

A. Hasil Belajar.............................................................................................. 4
B. Model Pembelajaran Discovery Learning ................................................ 7
C. Kaitan Pembelajaran Model Discovery Learning dengan Hasil Belajar 12
D. Penelitian yang Relevan .......................................................................... 13
DAFTAR GAMBAR

v
DAFTAR TABEL

vi
ABSTRAK

vii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) tidak hanya menghafal


kumpulan fakta-fakta, konsep-konsep, dan prinsip melainkan proses
penemuan dan bersikap ilmiah. Siswa diajak melakukan pencarian
pengetahuan melalui berbagai aktivitas sains sebagaimana para ilmuwan
dalam penyelidikan ilmiah. Siswa diarahkan menemukan sendiri berbagai
fakta, membangun konsep, dan nilai-nilai baru yang diperlukan untuk
memperoleh pemahaman yang lebih mendalam.

Belajar IPA merupakan proses aktif. Peserta didik melakukan pengamatan,


merumuskan masalah, mengumpulkan data, menganalisis, menguji penjelasan,
dan mengkomunikasikan. Aktif belajar IPA tidak saja secara fisik tetapi tidak
kalah penting aktif berpikir. Seorang siswa yang aktif, baik fisik maupun
pikiran tentu saja akan mendapatkan pengetahuan dengan efektif sehingga
hasil belajar siswa tersebut akan tinggi.

Sebenarnya di lapangan, penulis sudah berusaha melakukan pembelajaran


IPA dengan mengajak siswa aktif melakukan percobaan untuk mendapatkan
suatu fakta. Penulis berusaha tidak lagi mengajar dengan ceramah, sudah
dengan percobaan, akan tetapi hasil belajar siswa tetap saja rendah, ini terlihat
pada hasil Ujian Nasional (UN) materi listrik magnet tiga tahun terkakhir.
Pusat Penilaian Pendidikan Kemdikbud menunjukkan hasil UN materi Listrik
Magnet SMP Negeri 1 Luhak Nan Duo pada tahun 2016/2017 sebesar 45,55,
tahun pelajaran 2017/2018 sebesar 47,90, dan tahun pelajaran 2018/2019
sebesar 32,05. Dari data di atas, terjadi kenaikan tidak signifikan sebesar 2,35
poin dari tahun 2017 ke 2018 kemudian kembali turun cukup besar sebesar

1
15,85 poin dari tahun 2018 ke 2019. Selain nilai UN, penilaian harian juga
gejala yang sama, misalnya di kelas IX.1, setiap pembelajaran, siswa masih
mengalami kesulitan dalam menguasai konsep yang telah diajarkan hingga
masih membutuhkan proses remedial 2 (dua) kali untuk mencapai ketuntasan.

Tampaknya kegiatan percobaan yang dilakukan di kelas belum dapat


membantu peserta didik meningkatkan hasil belajar mereka. Masih ada yang
belum sempurna saat kegiatan pembelajaran percobaan dilakukan. Penyebab
masih rendahnya hasil belajar ini karena kegiatan percobaan yang penulis
lakukan belum bisa mengaktifkan pikiran siswa, baru hanya sekadar aktif
fisik. Oleh karena itu, untuk memecahkan masalah rendahnya hasil belajar
siswa penulis ingin menerapkan pembelajaran model discovery learning di
SMP Negeri 1 Luhak Nan Duo. Melalui pembelajaran ini, peserta didik tidak
hanya memperoleh pengalaman dan keterampilan yang dapat diterapkan
sendiri dalam kehidupan sehari-hari, namun juga memberi harapan kepada
peserta didik untuk memahami konsep-konsep IPA secara mendalam,
sehingga proses pembelajaran menjadi lebih bermakna. Dengan demikian
harapan untuk meningkatkan hasil belajar semakin besar.

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, penulis tertarik untuk


melakukan penelitian tentang “Penerapan Model Pembelajaran Discovery
Learning Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA Materi Listrik Dinamis Pada
Siswa Kelas IX.1 SMP Negeri 1 Luhak Nan Duo Tahun Pelajaran
2019/2020”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka masalah pada penelitian


ini dirumuskan sebagai berikut:

1. Apakah penerapan pembelajaran model discovery learning dapat


meningkatkan hasil belajar siswa materi pokok listrik dinamis pada siswa

2
kelas IX-1 SMP Negeri 1 Luhak Nan Duo Tahun Pelajaran 2019/2020?

2. Bagaimanakah keterlaksanaan pembelajaran model discovery learning


materi pokok listrik dinamis pada siswa kelas IX SMP Negeri 1 Luhak
Nan Duo Tahun Pelajaran 2019/2020?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:

Untuk mengetahui apakah penerapan pembelajaran model discovery


learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa materi pokok listrik
dinamis pada siswa kelas IX.1 SMP Negeri 1 Luhak Nan Duo Tahun
Pelajaran 2019/2020?
Untuk mengetahui bagaimanakah keterlaksanaan pembelajaran model
discovery learning materi pokok listrik dinamis pada siswa kelas IX.1
SMP Negeri 1 Luhak Nan Duo Tahun Pelajaran 2019/2020?

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai berikut.

Manfaat bagi siswa:


Melalui penelitian ini dapat meningkatkan hasil belajar siswa

Manfaat bagi guru:


Hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan bagi guru untuk dapat
meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas serta sebagai alternatif
tindakan yang dapat dilakukan guru untuk meningkatkan hasil belajar
siswa pada materi pokok listrik dinamis.

Manfaat bagi sekolah:


Hasil penelitian ini menunjang penilaian terhadap kinerja
guru dan perbaikan kualitas guru di sekolah.
3
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Hasil Belajar Commented [MFR1]: Spasi antara judul dan sub judul terlalu
besar

Pengertian

Menurut Kunandar (dalam Rosvaria, 2019:1348) hasil belajar adalah


hasil yang diperoleh siswa setelah mengikuti suatu materi tertentu dari
mata pelajaran yang berupa data kuantitatif dan kualitatif. Menurut
Sudjana (dalam Deliana, 2019:1334) hasil belajar adalah kemampuan yang
dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajar.

Berdasarkan dua pengertian di atas, peneliti menyimpulkan bahwa


hasil belajar adalah hasil yang diperoleh siswa yang menunjukkan
kemampuan setelah menerima pengalaman belajar pada materi tertentu
dari mata pelajaran.

Menurut Sadiman AM (dalam Akyuni, 2010:28), suatu hasil belajar itu


meliputi :

a. Keilmuan dan pengetahuan, konsep atau fakta (kognitif)

b. Personal, kepribadian atau sikap (afektif)

c. Kelakuan, ketrampilan atau penampilan (psikomotorik)

Dengan memperhatikan pengertian di atas, dapat disarikan lagi bahwa


hasil belajar adalah hasil yang diperoleh siswa yang menunjukkan
kemampuan sikap, pengetahuan, dan keterampilan setelah menerima
pengalaman belajar pada materi tertentu dari mata pelajaran. Dalam
penelitian ini, yang dimaksud dengan hasil belajar adalah nilai yang
4
diperoleh siswa setelah melakukan penilaian harian materi listrik dinamis.

Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar

Menurut Suryabrata dalam Aritonang (2008:14), faktor-faktor yang


mempengaruhi hasil belajar digolongkan menjadi tiga, yaitu: faktor dari
dalam, faktor dari luar, dan faktor instrumen.

a. Faktor dari dalam

Faktor dari dalam yaitu faktor-faktor yang dapat mempengaruhi belajar


yang berasal dari siswa yang sedang belajar. Faktor-faktor ini
diantaranya adalah:

a) minat individu merupakan ketertarikan individu terhadap sesuatu.


Minat belajar siswa yang tinggi menyebabkan belajar siswa lebih
mudah dan cepat

b) motivasi belajar antara siswa yang satu dengan siswa lainnya


tidaklah sama. Motivasi belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor,
antara lain: cita cita siswa, kemampuan belajar siswa, kondisi
siswa, kondisi lingkungan unsur-unsur dinamis dalam belajar, dan
upaya guru membelajarkan siswa.

b. Faktor dari luar

Faktor dari luar yaitu faktor-faktor yang berasal dari luar siswa
yang mempengaruhi proses dan hasil belajar. Faktor-faktor ini di
antaranya adalah lingkungan sosial. Yang dimaksud dengan
lingkungan sosial di sini yaitu manusia atau sesama manusia, baik
manusia itu hadir ataupun tidak langsung hadir. Kehadiran orang lain
pada waktu sedang belajar, sering mengganggu aktivitas belajar. Salah
satu dari lingkungan sosial tersebut yaitu lingkungan siswa di sekolah
yang terdiri dari teman sebaya, teman lain kelas, guru, kepala sekolah
5
serta karyawan lainnya yang dapat juga mempengaruhi proses dan
hasil belajar individu.

c. Faktor instrumen

Faktor instrumen yaitu faktor yang berhubungan dengan perangkat


pembelajaran seperti kurikulum, struktur program, sarana dan
prasarana pembelajaran (media pembelajaran), serta guru sebagai
perancang pembelajaran. Dalam penggunaan perangkat pembelajaran

tersebut harus dirancang oleh guru sesuai dengan hasil yang


diharapkan

Berdasarkan beberapa hal di atas, faktor yang mempengaruhi


proses dan hasil belajar siswa baik itu faktor dari dalam, luar, maupun
faktor instrumen yang paling utama adalah faktor yang berhubungan
dengan perangkat pembelajaran khususnya kurikulum.

Membahas kurikulum, tidak terlepas dari membahas salah satu


bagiannya seperti perencanaan dan proses pembelajaran. Perencanaan
yang matang dengan tujuan, kegiatan pembelajaran, dan penilaian
yang baik tentu akan berpengaruh terhadap hasil belajar. Kegiatan
pembelajaran yang baik ditandai dengan menggunakan model
pembelajaran yang sesuai karakteristik materi. Peneliti menyakini
dengan menerapkan pembelajaran model discovery learning dapat
meningkat hasil pembelajaran siswa.

Penilaian Hasil Belajar Pengetahuan

Di dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No 23 Tahun


2016, penilaian didefinisikan sebagai proses pengumpulan dan pengolahan
informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik. Ada tiga
aspek penilaian, yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

6
Penilaian hasil belajar oleh guru digunakan untuk mengukur dan
mengetahui pencapaian kompetensi peserta didik; memperbaiki proses
pembelajaran; dan menyusun laporan kemajuan hasil belajar

B. Model Pembelajaran Discovery Learning

1. Pengertian Model Pembelajaran Discovery Learning

Zubaidah, dkk (2015:39) menyatakan bahwa pembelajaran dengan

model discovery learning merupakan salah satu pembelajaran yang

direkomendasikan Kurikulum 2013 untuk digunakan guru dalam

pelaksanaan pembelajaran IPA. Model ini berpijak dari pendapat Bruner

yang menyatakan bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penemuan

(discovery).

Sedangkan teori belajar yang mendasari pembelajaran model

discovery ini adalah teori konstruktivistik, yaitu peserta didik membangun

pengetahuannya dari pengetahuan awalnya dan pengalaman aktif. Dengan

model ini, peserta didik dibimbing bisa menarik kesimpulan dari aktivitas

dan hasil pengamatannya (Zubaidah, dkk:2015:39) Commented [MFR2]: Gunakan sitasi otomatis

Sutman dalam Materi Bimbingan Teknis Kurikulum 2013 Mata

Pelajaran IPA tahun 2018 menyatakan bahwa pembelajaran model

discovery learning memiliki dua proses utama. Pertama, melibatkan siswa

dalam mengajukan atau merumuskan pertanyaan dan kedua, siswa

menyingkap, menemukan jawaban atas pertanyaan mereka melalui

serangkaian kegiatan penyelidikan. Proses pembelajaran didasarkan


7
pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis.

Dengan kata lain pembelajaran model discovery learning merupakan

proses fasilitasi kegiatan penemuan agar peserta didik memperoleh

pengetahuan melalui penemuannya sendiri.

Sudjana dalam Pramono (2018: 29) menjelaskan lebih teknis lagi,

bahwa model discovery merupakan model pembelajaran yang

penyampaian materi tidak disajikan langsung oleh guru, tetapi siswa

dituntut aktif dalam menemukan materi pembelajaran. Pernyataan Sudjana

diperinci lagi oleh Syah dalam Pramono (2018: 29) bahwa materi yang Commented [MFR3]: (dalam Pramono 2018 : 29)

diberikan guru tidak dalam bentuk final, hanya sebagian saja, sisanya

siswa yang menemukan sendiri.

Berdasarkan pengertian para ahli di atas dapat ditarik kesimpulan

bahwa pada model pembelajaran discovery learning, untuk menguasai

suatu materi pelajaran, seorang siswa harus aktif melakukan serangkaian

kegiatan penelitian ilmiah yang sudah dirancang oleh guru. Kegiatan ini

layaknya sebuah penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan, dimulai

dengan merumuskan masalah, mengajukan dugaan jawaban,

mengumpulkan data, menganalisis data, menyimpulkan hingga

mengkomunikasikan.

2. Kelebihan dan kelemahan Model Pembelajaran Discovery Learning

Setelah mendefiniskan model Discovery learning. Selanjutnya akan

8
dilihat kelebihan model ini sehingga menjadi pertimbangan untuk

memilihnya. Discovery learning mempunyai kelebihan yang dijabarkan

oleh Zubaidah (2015: 29) sebagai berikut:

1. Membantu peserta didik untuk memperbaiki dan meningkatkan


keterampilan-keterampilan dan proses-proses kognitif. Usaha
penemuan merupakan kunci dalam proses ini, seseorang tergantung
pada cara belajarnya.

2. Pengetahuan yang diperoleh peserta didik relatif mudah diingat karena


didasarkan pada pengalaman belajar yang disukai

3. Menimbulkan rasa senang pada peserta didik karena tumbuhnya rasa


ingin tahu untuk menyelidiki dan memperoleh keberhasilan

4. Memungkinkan peserta didik berkembang dengan cepat dan sesuai


dengan kecepatan belajarnya sendiri.

5. Mengarahkan kegiatan belajar peserta didik secara mandiri dengan


melibatkan kemampuan berpikir dan motivasi belajarnya.

6. Membantu peserta didik memperkuat konsep dirinya, karena


memperoleh kepercayaan bekerja sama dengan yang lainnya.

7. Berpusat pada peserta didik dan guru berperan sama-sama aktif


mengeluarkan gagasan-gagasan. Bahkan gurupun dapat bertindak
sebagai peserta didik dan sebagai peneliti di dalam situasi diskusi.

Berdasarkan paparan di atas, kelebihan model discovery learning


yang berdampak langsung pada hasil belajar adalah peserta didik mampu
memperbaiki dan meningkatkan proses-proses kognitif dan pengetahuan
9
yang diperoleh peserta didik relatif mudah diingat karena didasarkan pada
pengalaman belajar yang disukai. Oleh karena itu sangat tepat memilih
model ini untuk mengatasi masalah rendahnya hasil belajar pada aspek
pengetahuan.

3. Langkah-langkah Model Pembelajaran Discovery Learning

Untuk menerapkan model ini di kelas, perlu dipahami langkah-langkah


atau sintaknya agar proses pembelajaran dapat berlangsung sebagai sebuah
proses penemuan atau penelitian. Zubaidah, dkk (2015) merinci langkah-
langkah dalam discovery learning sebagai berikut:

(1) Stimulation (Stimulasi/Pemberian Rangsangan)

Pertama-tama pada tahap ini peserta didik dihadapkan pada sesuatu

yang menimbulkan kebingungan, kemudian dilanjutkan untuk tidak

memberi jawaban agar timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri.

Guru dapat memulai kegiatan pembelajaran dengan mengajukan

pertanyaan, anjuran membaca buku, dan aktivitas belajar lainnya yang

mengarah pada persiapan pemecahan masalah. Stimulasi pada tahap

ini berfungsi untuk menyediakan kondisi interaksi belajar yang dapat

mengembangkan dan membantu peserta didik dalam mengeksplorasi

materi ajar.

(2) Problem statement (Identifikasi Masalah)

Pada langkah ini guru memberi kesempatan kepada peserta didik

untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin masalah yang relevan

10
dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan

dirumuskan dalam bentuk hipotesis. Berdasarkan permasalahan yang

dipilih, peserta didik merumuskan pertanyaan, atau hipotesis diajukan.

(3) Data collection (Pengumpulan Data)

Ketika eksplorasi berlangsung guru juga memberi kesempatan

kepada para peserta didik untuk mengumpulkan informasi sebanyak-

banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya

hipotesis. Dengan demikian, peserta didik diberi kesempatan untuk

mengumpulkan (collection) berbagai informasi yang relevan,

membaca literatur, mengamati objek, sebagainya. Konsekuensi dari

tahap ini adalah peserta didik belajar secara aktif untuk menemukan

sesuatu yang berhubungan dengan permasalahan yang dihadapi,

dengan demikian secara tidak disengaja peserta didik menghubungkan

masalah dengan pengetahuan yang telah dimiliki.

(4) Data processing (Pengolahan Data)

Pengolahan data merupakan kegiatan mengolah data dan informasi

yang telah diperoleh para peserta didik dihitung dengan cara tertentu

serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu Data processing

disebut juga dengan pengkodean/kategorisasi yang berfungsi sebagai

pembentukan konsep dan generalisasi.

(5) Verification (Pembuktian)


11
Pada tahap ini peserta didik melakukan penyelidikan untuk

membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan tadi

dengan temuan alternatif, dihubungkan dengan hasil data processing

tujuan pembuktian ini adalah proses belajar akan berjalan dengan baik

dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada peserta didik

untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan atau pemahaman melalui

contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya. Berdasarkan hasil

pengolahan dan tafsiran, atau informasi yang ada, pernyataan atau

hipotesis yang telah dirumuskan terdahulu kemudian dicek apakah

terbukti atau tidak.

(6) Generalization (Menarik Kesimpulan/Generalisasi)

Tahap generalisasi/ menarik kesimpulan adalah proses menarik sebuah


kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua
kejadian atau masalah yang sama.

Berdasarkan hasil verifikasi peserta didik merumuskan pronsip-prinsip


yang mendasari generalisasi. Setelah menarik kesimpulan peserta didik harus
memperhatikan proses generalisasi yang menekankan pentingnya penguasaan
pelajaran atas makna dan kaidah atau prinsip-prinsip yang luas yang
mendasari pengalaman seseorang, serta pentingnya proses pengaturan dan
generalisasi dari pengalaman-pengalaman itu.

C. Kaitan Pembelajaran Model Discovery Learning dengan Hasil Belajar

Pembelajaran model discovery learning diharapkan dapat meningkatkan

penguasaan konsep siswa. Hal ini didukung oleh beberapa teori belajar. Para

12
ahli konstruktivis berganggapan bahwa satu-satunya alat yang tersedia bagi

seseorang untuk mengetahui sesuatu adalah inderanya. Seseorang berinteraksi

dengan obyek dan lingkungannya dengan melihat, mendengar, mencium,

menjamah, dan merasakannya. Hal seperti ini dilakukan dalam pembelajaran

model discovery learning, yaitu pada saat melakukan eksperimen (atau cara

pemecahan masalah yang lain), siswa bekerja menggunakan inderanya untuk

mendapatkan suatu informasi. Oleh karena itu, dengan menerapkan

pembelajaran model discovery learning di kelas, diharapkan dapat

meningkatkan hasil belajar siswa aspek pengetahuan.

D. Penelitian yang Relevan

Beberapa penelitian mengenai penggunaan model pembelajaran discovery

learning telah dilakukan dengan hasil yang bervariatif, yakni penelitian yang

dilakukan oleh: Ibnu Farhatani pada tahun 2014 meneliti tentang Peningkatan

Kompetensi Mata Pelajaran Dasar dan Pengukuran Listrik Siswa Kelas X

Program Keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik di SMK Muhammadiyah 1

Klaten Utara dengan Metode Discovery Learning. Hasil penelitian diketahui

bahwa penerapan metode discovery learning dapat meningkatkan kompetensi

siswa aspek kognitif

13
14