Anda di halaman 1dari 4

LAMPIRAN MATERI

A. Pengertian
Salah satu cara yang dilakukan untuk mempelancar produksi ASI adalah
dengan pijat oksitosin. Pijat oksitosin adalah suatu tindakan pemijatan tulang
belakang mulai dari costa ke 5-6 sampai scapula atau tulang belikat akan
mempercepat kerja saraf parasimpatis untuk menyampaikan perintah ke hipofisis
posterior untuk mengeluarkan hormon oksitosin (Suherni, 2010; Hamranani, 2010).
Pijat oksitosin merupakan salah satu solusi untuk mengatasi ketidaklancaran
produksi ASI. Pijat oksitosin adalah pemijatan pada sepanjang tulang belakang
(vertebrae) sampai tulang costae kelima- keenam dan merupakan usaha untuk
merangsang hormon prolaktin dan oksitosin setelah melahirkan (Yohmi & Roesli,
2012).
Jadi, pijat oksitosin adalah pijat yang dilakukan di punggung, dan pijatan ini
mampu memicu hormin oksitosin yang dilakukan untuk mengeluarkan ASI. Karena
itu pijatan ini dikenal dengan nama pijat oksitosin. Oksitosin adalah hormon yang
bereaksi ketika tubuh mendapat sentuhan. Hormon ini diproduksi oleh hipotalamis di
otak, kemudian dikeluarkan oleh kelenjar yang berada di bagian belakang otak.
Hormon oksitosin dapat membuat seseorang bahagia dan tidak merasa sakit, serta
memberi stimulasi pada puting untuk membantu porses menyusui.

B. Tujuan
Pijat oksitosin dilakukan untuk merangsang refleks oksitosin atau refleks let
down dan bisa dilakukan dengan bantuan keluarga terlebih suami. Secara umum, Pace
(2001) mengatakan bahwa pijat secara signifikan dapat mempengaruhi system saraf
perifer, meningkatkan rangsangan dan konduksi impuls saraf, melemahkan dan
menghentikan rasa sakit serta meningkatkan aliran darah ke jaringan dan organ serta
membuat otot menjadi fleksibel sehingga merasa nyaman dan rileks. Oleh karena itu,
setelah dilakukan pijat oksitosin ini diharapkan ibu akan merasa rileks sehingga ibu
tidak mengalami kondisi stress yang bisa menghambat refleks oksitosin.

C. Manfaat
Manfaat pijat oksitosin bagi ibu nifas dan ibu menyusui, diantaranya :
1. Mempercepat penyembuhan luka bekas implantasi plasenta .
2. Mencegah terjadinya perdarahan post partum.
3. Dapat mempercepat terjadinya proses involusi uterus.
4. Meningkatkan produksi ASI.
5. Meningkatkan rasa nyaman pada ibu menyusui.
6. Meningkatkan hubungan psikologis antar ibu dan keluarga
Efek fisiologis dari pijat oksitosin ini adalah merangsang kontraksi otot polos
uterus baik pada proses saat persalinan maupun setelah persalinan.

D. Langkah-Langkah
Langkah-langkah pijat oksitosin menurut Depkes (2012) adalah sebagai
berikut:
1. Posisikan ibu dalam keadaan nyaman.
2. Meminta ibu untuk melepaskan baju bagian atas.
3. Ibu miring kekanan atau kekiri dan memeluk bantal atau ibu duduk
dikursi, kemudian kepala ditundukkan/ meletakkan diatas lengan.
4. Petugas kesehatan memasang handuk dipangkuan ibu.
5. Petugas kesehatan melumuri kedua telapak tangan dengan minyak
zaitunatau baby oil.
6. Kemudian melakukan pijatan sepanjang kedua sisi tulang belakang ibu
dengan menggunakan dua kepalan tangan dengan ibu jari menunjuk
kedepan.
7. Menekan kuat-kuat kedua sisi tulang belakang membentuk gerakan-
gerakan melingkar kecil-kecil dengan kedua ibu jari.
8. Pada saat yang bersamaan, memijat kedua sisi tulang belakang ke arah
bawah, dari leher ke arah tulang belikat, selama 2-3 menit.
9. Mengulangi pemijatan hingga 3 kali.
10. Membersihkan punggung ibu dengan waslap yang sudah dibasahi air.

E. Faktor-Fakktor Yang Mempengaruhi Pijat Oksitosin Pada Ibu Nifas


Keberhasilan pijat oksitosin tidak terlepas dari faktor-faktor yang
mempengaruhinya. Hasil penelitian Purnama (2013) mengatakan bahwa faktor-faktor
yang mempengaruhi keberhasilan pijat oksitosin terhadap pengeluaran ASI adalah
sebagai berikut:
1) Faktor Psikologi
Persiapan psikologis ibu sangat menentukan keberhasilan
menyusui(IDAI, 2011). Stress, khawatir, ketidakbahagiaan pada periode
menyusui sangat berperan dalam mensukseskan pemberian ASI. Faktor-
faktor ini akan diperkirakan dapat meningkatkan kadar epinefrin dan
neroepinefrin yang selanjutnya akan menghambat transportasi oksitosin ke
dalam payudara. Ada beberapa jenis stres yang umum dialami oleh ibu
menyusui. Dari mulai khawatir akan kurangnya kuantitas produksi ASI,
khawatir kualitas ASInya tidak cukup baik untuk sang bayi, takut bentuk
tubuh atau payudaranya berubah, perubahan pola/gaya hidup (terutama
bagi ibu yang menyusui anak pertama), merasa pemberian ASI kurang
praktis bagi ibu yang bekerja, dan stres akibat kurangnya dukungan suami
terhadap pemberian ASI sebagai makanan terbaik untuk bayi.
2) Faktor Kenyaman Ibu
Umumnya, ibu akan mengalami gangguan rasa nyaman segera setelah
memasuki masa nifas. Bagi ibu yang menyusui gangguan rasa nyaman
biasanya adalah rasa nyeri karena puting lecet yang disebabkan oleh posisi
menyusui dan perlekatan bayi yang tidak tepat dan payudara bengkak yang
disebabkan oleh air susu yang melimpah tidak keluar. Puting lecet dan
payudara bengkak merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi
pengeluaran ASI. Ibu sering berhenti menyusui karena kondisi
ketidaknyamanan yang ibu rasakan (Purnama, 2013). Rangsangan isapan
bayi akan berkurang karena ibu berhenti menyusui sehingga pengeluaran
ASI juga akan menurun (Suradi, 2014).
3) Pelaksanaan Pijat Oksitosin
Pijat oksitosin dilakukan di sepanjang kedua sisi tulang belakang ke
arah bawah, dari leher kearah tulang belikat. Pijatan dilakukan dengan
menekan kuat-kuat ke dua sisi tulang belakang menggunakan kepalan
tangan dengan ibu jari menunjuk ke depan dan membentuk gerakan
melingkar kecil-kecil dengan kedua ibu jari. Frekuensi dilakukannya pijat
oksitosin juga dapat mempengaruhi hasil pengeluaran ASI. Menurut
Hockenberry (2002, dalam Purnama, 2013) menyatakan bahwa produksi
ASI dengan menggunakan pijat oksitosin dan perawatan payudara lebih
efektif apabila dilakukan sehari 2 kali, pagi dan sore. Pijat oksitosin bisa
dilakukan dengan bantuan keluarga terlebih suami.
4) Dukungan Keluarga
Dukungan keluarga (suami dan orang tua) sangat diperlukan untuk
ketentraman ibu menyusui, selain itu nasehat dari mereka yang lebih
berpengalaman akan membantu keberhasilan menyusui (Depkes RI, 2012).
Seorang ayah dan lingkungan yang mengelilingi ibu sangat menentukan
keberhasilan menyusui. Bahkan proses pemberian ASI itu sendiri memiliki
aspek psikologis dan rohaniah antara ibu, bayi, dan seorang ayah, bukan
hanya sekedar tempel dan biarkan menyusui saja (IDAI, 2011). Seorang
suami mempunyai peran yang sangat baik dalam membantu ibu mencapai
keberhasilan menyusui bayinya. Suami dan keluarga memiliki peran
penting dalam menciptakan ketenangan, kenyamanan dan kasih sayang.
Kebahagiaan, kenyamanan, dan ketenangan yang dirasakan ibu akan
meningkatkan produksi hormon oksitosin sehingga ASI dapat mengalir
dengan lancar (Permenegpp RI, 2012).

5) Dukungan Petugas Kesehatan


Dukungan petugas kesehatan sangat diperlukan untuk memandirikan
dan memberdayakan ibu dan keluarga dirumah. Petugas kesehatan dalam
hal ini perawat atau bidan memberikan informasi mengenai tentang pijat
oksitosin dan melakukan pijat oksitosin. Selain itu, petugas kesehatan juga
perlu memotivasi ibu untuk melakukan pijat oksitosin secara mandiri.
Petugas kesehatan dapat memberikan dukungan pada ibu dengan cara
berkomunikasi, memberikan saran, dorongan dan penyuluhan untuk
memfasilitasi kemampuan ibu dalam memberikan ASI (Purnama, 2013).
Selain itu, motivasi dari petugas kesehatan juga bisa meningkatkan
kepercayaan diri ibu, sehingga ibu bisa memiliki dorongan untuk
melakukan pijat oksitosin dirumah (Tiok, 2015).