Anda di halaman 1dari 48

Klinik Dokter Keluarga FK UWKS No Berkas : 01

Berkas Pembinaan Keluarga No RM :


Puskesmas Kedundung,Mojokerto Nama KK : Tn. Khomari

Tanggal kunjungan pertama kali 27 Februari 2014,


Nama pembina keluarga pertama kali : Dr. Anik Lestari
Tabel 1. CATATAN KONSULTASI PEMBIMBING (diisi setiap kali selesai
satu periode pembinaan )
Tanggal Tingkat Paraf Paraf Keterangan
Pemahaman Pembimbing

KARAKTERISTIK DEMOGRAFI KELUARGA


Nama Kepala Keluarga : Tn. Wasidi
Alamat lengkap : Padangan RT 02/03, Kagokan, Gatak Sukoharjo
Bentuk Keluarga : Nuclear Family

Tabel 2. Daftar Anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah


No Nama Keduduka L/ Umur Pendidika Pekerjaa Pasien Ket
n dalam P n n Klinik
keluarga (Y/T)
1 Wasidi KK L 37 SMP Buruh T -
2 Margiyati Istri P 36 SMP Buruh T -
3 Rendra Anak L 9 SD - Y TB Paru
Prasetya Kasus
Adji baru

Sumber : Data Primer, September 2005

1
LAPORAN KASUS KEDOKTERAN KELUARGA

BAB I
STATUS PENDERITA
A. PENDAHULUAN
Laporan ini diambil berdasarkan kasus yang diambil dari seorang
penderita KUSTA TIPE PB, berjenis kelamin laki-laki dan berusia 27 tahun,
dimana penderita merupakan salah satu dari penderita Kusta yang berada di
wilayah Puskesmas Kedundung, Kabupaten Mojokerto, dengan berbagai
permasalahan yang dihadapi. Mengingat kasus ini beberapa ditemukan di
masyarakat khususnya di daerah Puskesmas Kedundung Kabupaten Mojokerto
beserta permasalahannya seperti masih kurangnya pengetahuan masyarakat
tentang Kusta terutama masalah penularannya dan mengenai kepatuhan meminum
obat Kusta. Oleh karena itu penting kiranya bagi penulis untuk memperhatikan
dan mencermatinya untuk kemudian bisa menjadikannya sebagai pengalaman di
lapangan.

B. IDENTITAS PENDERITA
Nama : An. R
Umur : 9 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : -
Pendidikan : SD ( kelas 3)
Agama : Islam
Alamat : Padangan RT 02/03, Kagokan, Gatak Sukoharjo
Suku : Jawa
Tanggal periksa : 7 September 2005

2
C. ANAMNESIS
1. Keluhan Utama : Batuk-batuk
2. Riwayat Penyakit Sekarang :
Kurang lebih dua bulan yang lalu penderita mulai merasa sering batuk-
batuk, batuk ngikil dan berdahak, dahak tidak kental dan berwarna putih..
Selain itu penderita juga mengeluhkan napas terasa sesak , timbul keringat
dingin malam hari tanpa aktivitas, nafsu makan menurun, dan berat badan
dirasakan turun terus (dari 23 kg sebelum sakit turun menjadi 19 kg).
Penderita juga merasakan badannya lemas, dan kadang mengeluhkan pusing.
Penderita tidak engeluh nyeri kepala, mual, muntah, dan nyeri dada. Selama
batuk, penderita berobat ke dokter umum dekat rumah. BAB dan BAK tidak
ada keluhan
Karena batuk tidak sembuh-sembuh akhirnya penderita di bawa ke
dokter spesialis penyakit anak dan dianjurkan untuk melakukan foto rontgen
dada. Kemudian penderita drujuk ke rumah sakit BP4.Disana penderita di beri
obat 3 macam dan harus diminum selama 6 bulan.

3. Riwayat Penyakit Dahulu:


- Riwayat kontak dengan penderita TB : disangkal
- Riwayat batuk lama : (+)  sejak 2 bulan yang
lalu
- Riwayat batuk darah : disangkal
- Riwayat mondok : (+) dua bulan yang lalu di
RSDM
- Riwayat Imunisasi : lengkap
- Riwayat sakit gula : disangkal
- Riwayat asma : disangkal
- Riwayat alergi obat/makanan : disangkal
- Riwayat penyakit jantung : disangkal

4. Riwayat Penyakit Keluarga


- Riwayat keluarga dengan penyakit serupa : disangkal

3
- Riwayat keluarga sakit batuk berdarah : disangkal
- Riwayat sakit sesak nafas : disangkal
- Riwayat hipertensi : disangkal
- Riwayat sakit gula : disangkal

5. Riwayat Kebiasaan
- Riwayat merokok : disangkal
- Riwayat Ayah/ibu merokok : disangkal
- Riwayat olah raga : jarang sekali
- Riwayat pengisian waktu luang dengan berbincang bincang dengan
keluarga jarang, berekreasi jarang
- Riwayat kebiasaan batuk, pilek dan meludah sembarangan
6. Riwayat Sosial Ekonomi
Penderita adalah seorang seorang anak tunggal dari pasangan suami
istri, Tn W dan Ny. M. Ayah dan ibu penderita tinggal di sebuah rumah
yang berpenghuni 3 orang (penderita, ayah dan ibu). Penderita masih
bersekolah kelas 3 di Sekolah Dasar II Kagokan. Ayah penderita bekerja
sebagai buruh di Pabri Batik Keris dengan jam kerja yang diatur sesuai
shift yang di putar setiap minggunya. Ibu penderita juga bekerja di tempat
yang sama dan memiliki jam kerja yang tetap. Sumber pendapatan
keluarga didapatkan dari Ayah dan Ibu dengan total penghasilan rata-rata
perbulan Rp. 900.000,-.

7. Riwayat Gizi.
Penderita makan sehari-harinya biasanya antara 2-3 kali dengan nasi
sepiring, sayur, dan lauk pauk seperti telur, tahu-tempe kerupuk, dan
jarang dengan daging. Penderita termasuk anak yang sulit untuk makan.
Sejak sakit penderita menjadi sering makan buah seperti pepaya, pisang,
dan kadang minum susu. Kesan status gizi kurang.

4
D. ANAMNESIS SISTEM
1. Kulit : warna kulit sawo matang, kulit gatal (-)
2. Kepala : sakit kepala (-), pusing (-), rambut kepala tidak rontok,
luka pada kepala (-), benjolan/borok di kepala (-)
3. Mata : pandangan mata berkunang-kunang (-), penglihatan
kabur (-), ketajaman baik
4. Hidung : tersumbat (-), mimisan (-)
5. Telinga : pendengaran berkurang (-), berdengung (-), keluar cairan (-)
6. Mulut : sariawan (-), mulut kering (-), lidah terasa pahit
7. Tenggorokan : sakit menelan (-), serak (-)
8. Pernafasan : sesak nafas (+), batuk lama (+) selama +2 bulan, mengi
(-), batuk darah (-)
9. Kadiovaskuler : berdebar-debar (-), nyeri dada (-), ampeg (-)
10. Gastrointestinal : mual (-), muntah (-), diare (-), nafsu makan menurun
(+), nyeri perut (-), BAB tidak ada keluhan
11. Genitourinaria : BAK lancar, 3-4 kali/hari warna dan jumlah biasa
12. Neuropsikiatri : Neurologik : kejang (-), lumpuh (-)
Psikiatrik : emosi stabil, mudah marah (-)
13. Muskuloskeletal : kaku sendi (-), nyeri tangan dan kaki (-), nyeri otot (-)
14. Ekstremitas : Atas : bengkak (-), sakit (-)
Bawah : bengkak (-), sakit (-)

E. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan Umum
Tampak sakit sedang, kesadaran compos mentis (GCS E4V5M6), status gizi
kesan kurang.
2. Tanda Vital dan Status Gizi
 Tanda Vital
Nadi : 128 x/menit, reguler, isi cukup, simetris
Pernafasan : 36 x/menit
Suhu : 36,8 oC

5
Tensi : 100/70 mmHg
 Status gizi ( Kurva NCHS ) :
BB : 19 kg
TB : 120 cm
TB/U x 100% = 120/134 x 100% = 89,55% Gizi kurang
BB/U x 100% = 19/28 x100% = 67,86%  Gizi kurang
BB/TB x 100% = 19/22 x 100% = 86,36%  Gizi kurang
Status Gizi  Gizi Kurang
3. Kulit
Warna : Sawo matang, ikterik (-), sianosis (-)
Kepala : Bentuk mesocephal, tidak ada luka, rambut tidak mudah
dicabut, atrofi m. temporalis(-), makula (-), papula (-),
nodula (-), kelainan mimik wajah/bells palsy (-)
4. Mata
Conjunctiva anemis (+/+), sklera ikterik (-/-), pupil isokor (3mm/3mm), reflek
kornea (+/+), warna kelopak (coklat kehitaman), katarak (-/-),
radang/conjunctivitis/uveitis (-/-)
5. Hidung
Nafas cuping hidung (-), sekret (-), epistaksis (-), deformitas hidung (-),
hiperpigmentasi (-), sadle nose (-)
6. Mulut
Bibir pucat (-), bibir kering (-), lidah kotor (-), papil lidah atrofi (+), tepi
lidah hiperemis (-), tremor (-)
7. Telinga
Nyeri tekan mastoid (-), sekret (-), pendengaran berkurang (-), cuping
telinga dalam batas normal
8. Tenggorokan
Tonsil membesar (-), pharing hiperemis (-)
9. Leher
JVP (5+2) cmH2O tidak meningkat, trakea ditengah, pembesaran kelenjar
tiroid (-), pembesaran kelenjar limfe (-), lesi pada kulit (-)

6
10. Thoraks
Simetris, retraksi interkostal (-), retraksi subkostal (-)
- Cor :I : ictus cordis tak tampak
P : ictus cordis tak kuat angkat
P : batas kiri atas :SIC II 1 cm lateral LPSS
batas kanan atas :SIC II LPSD
batas kiri bawah :SIC V 1 cm lateral LMCS
batas kanan bawah :SIC IV LPSD
batas jantung kesan tidak melebar
A: BJ I–II intensitas normal, regular, bising (-)
- Pulmo: Statis (depan dan belakang)
I : pengembangan dada kanan sama dengan kiri
P : fremitus raba kiri sama dengan kanan
P : sonor/sonor
A: suara dasar vesikuler (+/+)
suara tambahan RBK (+/+), whezing (-/-)
Dinamis (depan dan belakang)
I : pergerakan dada kanan sama dengan kiri
P : fremitus raba kiri sama dengan kanan
P : sonor/sonor
A: suara dasar vesikuler (+/+)
suara tambahan RBK (+/+), whezing (-/-)
11. Abdomen
I :dinding perut sejajar dengan dinding dada, venektasi (-)
P :supel, nyeri tekan (-), hepar dan lien tak teraba
P :timpani seluruh lapang perut
A :peristaltik (+) normal
12. Sistem Collumna Vertebralis
I :deformitas (-), skoliosis (-), kiphosis (-), lordosis (-)
P :nyeri tekan (-)
P :NKCV (-)

7
13. Ektremitas: palmar eritema(-/-)
akral dingin oedem
- - - -
- - - -

14. Sistem genetalia: dalam batas normal


15. Pemeriksaan Neurologik
Fungsi Luhur : dalam batas normal
Fungsi Vegetatif : dalam batas normal
Fungsi Sensorik : dalam batas normal
Fungsi motorik :
K 5 5 T N N RF 2 2 RP - -
5 5 N N 2 2 - -

16. Pemeriksaan Psikiatrik


Penampilan : sesuai umur, perawatan diri cukup
Kesadaran : kualitatif tidak berubah; kuantitatif compos mentis
Afek : appropriate
Psikomotor : normoaktif
Proses pikir : bentuk :realistik
isi :waham (-), halusinasi (-), ilusi (-)
arus :koheren
Insight : baik

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan test Mantoux :tidak dilakukan
Pemeriksaan bakteriologis :biakan sputum/dahak tidak dilakukan
Pemeriksaan rontgen thoraks :Hillus kanan tampak menebal, corakan
bronchovaskuler kasar, kesan : gambaran TB
G. RESUME
Seorang anak laki-laki 9 tahun dengan keluhan utama batuk. Penderita
mulai merasa sering batuk-batuk 2 bulan yang lalu, batuk ngikil dan berdahak,
dahak tidak kental dan berwarna putih,terasa susah keluar. Napas terasa sesak,

8
timbul keringat dingin malam hari tanpa aktivitas, nafsu makan menurun, kadang
tersa pusing, dan berat badan dirasakan turun (dari 23 kg sebelum sakit turun
menjadi 18 kg), badan terasa lemas.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum tampak sakit sedang,
compos mentis, status gizi kesan kurang. Tanda vital T:100/70 mmHg, N: 128
x/menit, Rr: 36 x/menit, S:36,80C, BB:19 kg, TB:120 cm, status gizi  Gizi
kurang. Dari pemeriksaan fisik didapatkan Conjuntiva anemis (+/+), lidah atrofi (+).
Pada pemeriksaan penunjang radiologi gambaran TB.

H. PATIENT CENTERED DIAGNOSIS


Diagnosis Biologis
1. TB Paru Kasus Baru (dalam pengobatan fase intensif)
2. Nafsu makan kurang.
3. Status gizi yang rendah
Diagnosis Psikologis
-
Diagnosis Sosial Ekonomi dan Budaya
1. Status ekonomi kurang.
2. Penyakit mengganggu aktifitas sehari-hari.
3. Kondisi lingkungan dan rumah yang tidak sehat.

I. PENATALAKSANAAN
Non Medika mentosa
1. Bed Rest tidak total
Diharapkan agar penderita mengurangi aktivitas berat yang dapat
mengurangi daya tahan tubuh penderita serta banyak istirahat.
2. Diet Tinggi Kalori Tinggi Protein (TKTP) 1600 Kalori
Diharapkan agar penderita makan makanan yang bergizi tinggi, juga
minum susu untuk meningkatkan daya tahan tubuh sehingga
mempercepat kesembuhan dan berat badannya akan meningkat, yang
merupakan indikator kesembuhan pasien.

9
3. Olah raga
Diharapkan penderita dapat menjaga kesehatan tubuhnya dengan
melakukan olah raga ringan seperti jalan pagi hari di lingkungan
sekitar, dan latihan pernafasan untuk mengurangi sesak.
4. Mengurangi stress tertentu
Diharapkan penderita mendapat motivasi yang adekuat dari keluarga
untuk kesembuhan penderita salah satunya dengan cara lebih banyak
memberikan perhatian dan meluangkan waktu untuk berbincang-
bincang atau bermain dan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Yang
Maha Esa.

Medikamentosa
Oral Anti TBC (OAT) paketan untuk kategori I fase intensif dari
puskesmas, dengan regimen pengobatan 2HRZ/4H3R3 yang terdiri atas :
1. Rifampicin dosis harian 10 mg/kgBB, dengan sediaan tablet 450 mg
diberikan dengan dosis tunggal selama 6 bulan (fase intensif 2 bulan,
fase intensif 4 bulan )
2. Isoniazid dosis harian 5 mg/kgBB, dengan sediaan tablet 300 mg
diberikan dengan dosis tunggal selama 6 bulan (fase intensif 2 bulan,
fase intensif 4 bulan )
3. Pirazinamid dosis harian 25 mg/kgBB, dengan sediaan tablet 500 mg
diberikan dengan dosis 2 tablet/hari selama 8 bulan (pengobatan
pertama 3 bulan dilanjutkan 5 bulan berikutnya)
4. Vitamin B kompleks dengan dosis 3 tablet/hari.

J. FOLLOW UP
Tanggal 8 September 2005
S :Penderita merasa nafsu makan menurun (+), badan lemas (), batuk (+)
ngikil, batuk darah (-), sesak napas (+), nyeri dada (-), dan keringat malam
(-).
O :KU sedang, compos mentis, gizi kurang

10
Tanda vital :T : 110/60 mmHg R :36 x/menit
N : 120 x/menit S :36,7 0C
Status Generalis : Mata : Conjunctiva pucat (+/+)
Mulut : Papil lidah atrofi (+/+)
Pulmo : RBK (+/+)
Status Neurologis : dalam batas normal.
Status Mentalis : dalam batas normal
A :TB paru Kasus Baru (dalam pengobatan fase intensif).
P :Terapi medikamentosa berupa OAT, non medika mentosa selain itu juga
dilakukan patient centered management: dukungan psikologis,
penentraman hati, penjelasan, basic konseling pada keluarga dan edukasi
pasien.

Tanggal 9 September 2005


S :Penderita merasa nafsu makan menurun (+), badan lemas (), batuk (+)
ngikil, batuk darah (-), sesak napas (+), nyeri dada (-), dan keringat malam
(-).
O :KU sedang, compos mentis, gizi kurang
Tanda vital :T : 110/60 mmHg R :36 x/menit
N : 120 x/menit S :36,5 0C
Status Generalis : Mata : Conjunctiva pucat (+/+)
Mulut : Papil lidah atrofi (+/+)
Pulmo : RBK (+/+)
Status Neurologis : dalam batas normal.
Status Mentalis : dalam batas normal
A :TB paru Kasus Baru (dalam pengobatan fase intensif).
P : Terapi medikamentosa berupa OAT, non medika mentosa selain itu juga
dilakukan patient centered management: dukungan psikologis,
penentraman hati, penjelasan, basic konseling pada keluarga dan edukasi
pasien.

11
Tanggal 10 September 2005
S :Penderita merasa nafsu makan menurun (+), badan lemas (-), batuk (+)
batuk darah (-), sesak napas (+), nyeri dada (-), dan keringat malam (-).
O :KU sedang, compos mentis, gizi kurang
Tanda vital :T : 110/70 mmHg R :32 x/menit
N : 120 x/menit S :36,5 0C
Status Generalis : Mata : Conjunctiva pucat (+/+)
Mulut : Papil lidah atrofi (+/+)
Pulmo : RBK (+/+)
Status Neurologis : dalam batas normal.
Status Mentalis : dalam batas normal
A :TB paru Kasus Baru (dalam pengobatan fase intensif).
P : Terapi medikamentosa berupa OAT, non medika mentosa selain itu juga
dilakukan patient centered management: dukungan psikologis,
penentraman hati, penjelasan, basic konseling pada keluarga dan edukasi
pasien.

FLOW SHEET
Nama : An. R
Diagnosis : TB paru Kasus Baru (dalam pengobatan fase intensif).

NO T Tensi BB TB Status Mantoux Foto Mat KET


G mm Gizi Test Rontgen a
L Hg Kg Cm Thoraks
1 8/09/ 110/6 19 120 Gizi Tidak Gambaran CA OAT
05 0 kurang dila TB (+/+) 2HRZ/4H3R3
2 9/09/ 110/6 19 120 Gizi ku Gambaran CA
05 0 kurang kan TB (+/+)
3 10/09 110/7 19 120 Gizi Gambaran CA
/05 0 kurang TB (+/+)

12
BAB II
IDENTIFIKASI FUNGSI- FUNGSI KELUARGA

A. FUNGSI KELUARGA
1. Fungsi Biologis.
Keluarga terdiri dari penderita, ayah (Tn. Wasidi, 37 tahun), Ibu
(Ny. Margiyati, 36 tahun). Penderita tinggal serumah ayah dan ibunya.
Penderita ketika lahir ditolong oleh bidan, spontan, menangis kuat
dengan BB lahir 3,5 kg di rumah seorang bidan desa.
2. Fungsi Psikologis.
An. R tinggal serumah dengan kedua orang tuanya (Tn. Wasidi dan
Ny. Margiyati). Hubungan keluarga mereka terjalin cukup akrab, terbukti
dengan permasalahan-permasalahan yang dapat diatasi dengan baik dalam
keluarga ini. Hubungan diantara mereka cukup dekat antara satu dengan
yang lain, bahkan juga dengan keluarga besar dari ayah yang tinggal
berdekatan dengan rumah penderita. Kedua orang tua penderita bekerja
dari pagi dan pulang di sore harinya. Sehingga sehari-hari penderita lebih
banyak menghabiskan waktunya dengan neneknya yang setiap hari datang
untuk menjaganya. Namun kedua orang tua penderita tetap berusaha untuk
memperhatikan kebutuhan penderita sehari-hari terutama mengenai
pendidikan dan makn sehari-hari.
Permasalahan yang timbul dalam keluarga dipecahkan secara
musyawarah dan dicari jalan tengah, serta dibiasakan sikap saling tolong
menolong baik fisik, mental, maupun jika ada salah seorang di antaranya
yang menderita kesusahan. Meskipun penghasilan mereka tak
berkecukupan, namun mereka tetap hidup bahagia dan memasrahkan
semuanya kepada Tuhan.
3. Fungsi Sosial
Penderita adalah anak yang senang bermain dengan temen-teman
sekolah dan sekitar rumahnya.Dalam masyarakat penderita dan kedua
orang tua hanya sebagai anggota masyarakat biasa, tidak mempunyai

13
kedudukan sosial tertentu dalam masyarakat. Kedua orang tua penderita
kurang aktif dalam kegiatan sosial di masyarakat karena jam kerja yang
menyita waktu, namun penderita tetap mengikuti kegiatan lainnya seperti
gotong royong di hari minggu atau membantu hajatan tetangga. Dalam
kesehariannya penderita bergaul akrab dengan masyarakat di sekitarnya
seperti halnya anggota masyarakat yang lain. Kegiatan-kegiatan yang
harus mengeluarkan biaya terlalu tinggi merupakan faktor penghambat
lain bagi keluarga ini untuk aktif dalam kegiatan sosial, selain karena
merasa kurang mampu baik dari materi maupun status sosial.
4. Fungsi Ekonomi dan Pemenuhan Kebutuhan
Penghasilan keluarga berasal dari penghasilan dari ayah dan ibu yang
bekerja di Pabri Batik Keris dengan total penghasilan sebesar Rp 900.000,00
perbulannya.
Penghasailan tersebut juga digunakan untuk membiayai kedua orang
tua dan satu orang adik perempuan dari ayah penderita yang tidak jauh dari
rumah penderita. Untuk biaya hidup sehari-hari seperti makan, minum, biaya
sekolah atau iuran membayar listrik hanya mengandalkan uang yang ada dan
tidak pernah menyisihkannya untuk menabung ataupun biaya-biaya
mendadak (seperti biaya pengobatan dan lain-lain). Untuk kebutuhan air
dengan menggunakan pompa air. Untuk memasak memakai kompor minyak
atau kayu bakar. Makan sehari-hari lauk pauk, kadang daging, buah dan
frekuensi makan kadang-kadang 2-3 kali. Kalau ada keluarga yang sakit biasa
berobat ke puskesmas, dan penderita sudah mempunyai kartu sehat.
5. Fungsi Penguasaan Masalah dan Kemampuan Beradaptasi
Penderita termasuk anak yang terbuka sehingga bila mengalami
kesulitan atau masalah penderita sering bercerita kepada kedua orang
tuanya terutama ibu.

14
B. APGAR SCORE
ADAPTATION
Selama ini dalam menghadapi masalah keluarga, pasien selalu pertama kali
membicarakannya kepada ibunya dan mengungkapkan apa yang diinginkannya dan
menjadi keluhannya. Baik keluhan tentang penyakitnya maupun tentang sekolah.
Penyakitnya ini kadang mengganggu aktivitasnya sehari-hari baik belajar di sekolah
ataupun bermain dengan teman-temannya disekolah dan di rumah. Dukungan dari
orang-orang orang tua, keluarga dan petugas kesehatan yang sering memberi
penyuluhan kepadaya, orang tua dan nenek yang menjaganya sangat memberinya
motivasi untuk sembuh dan teratur minum obat, karena penderita dan keluarga yakin
penyakitnya bisa sembuh total bila ia mematuhi aturan pengobatan sampai sakitnya
benar-benar sembuh dan tidak sampai terjadi putus obat agar tidak terjadi relaps atau
kambuh kembali. Hal ini menumbuhkan kepatuhan penderita dalam mengkonsumsi
obat.
PARTNERSHIP
An. R mengerti bahwa ia adalah harapan keluarga karena merupakan anak satu-
satunya. Selain itu ayah, ibu dan keluarganya meyakinkannya bahwa ia bisa sembuh
kembali, komunikasi antar anggota keluarga masih berjalan dengan baik.
GROWTH
An. R sadar bahwa ia harus bersabar menghadapi penyakitnya walaupun kadang
menganggunya terutama dalam hal pelajaran karena membuatnya kurang konsentrasi
dan kadang tidak masuk sekolah.
AFFECTION
An. R merasa hubungan kasih sayang dan interaksinya dengan ayah dan ibu
cukup meskipun akhir-akhir ini ia sering menderita sakit. Bahkan perhatian yang
dirasakannya bertambah. Ia menyayangi keluarganya, begitu pula sebaliknya.
RESOLVE
An. R merasa cukup puas dengan kebersamaan dan waktu yang ia dapatkan dari
kedua orang tuanya dan neneknya walaupun waktu yang tersedia tidak banyak
karena ayah dan ibu penderita harus bekerja dan kadang harus melembur sampai

15
malam. Karena pada hari minggu atau hari libur besar kedua orang tuanya kadang
menyempatkan untuk pergi ke tempat rekreasi walaupun jarang sekali.
APGAR Tn. Wasidi Terhadap Keluarga Sering/ Kadang- Jarang/tidak
selalu kadang
A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke 
keluarga saya bila saya menghadapi masalah
P Saya puas dengan cara keluarga saya 
membahas dan membagi masalah dengan saya
G Saya puas dengan cara keluarga saya 
menerima dan mendukung keinginan saya
untuk melakukan kegiatan baru atau arah
hidup yang baru
A Saya puas dengan cara keluarga saya 
mengekspresikan kasih sayangnya dan
merespon emosi saya seperti kemarahan,
perhatian dll
R Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya 
membagi waktu bersama-sama
Total poin = 9 fungsi keluarga dalam keadaan baik
Tn Wasidi bekerja sebagai buruh pabrik sampai sore, kadang-
kadang lembur, sehingga semakin sedikit waktu untuk bersama-sama.
Ketika sampai di rumah masih harus sibuk mengurusi urusan rumah
tangga, sehingga kadang sulit untuk membagi waktu untuk bersama-sama.
APGAR Ny. Margiyati Terhadap Keluarga Sering/ Kadang- Jarang/tidak
selalu kadang
A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke 
keluarga saya bila saya menghadapi masalah
P Saya puas dengan cara keluarga saya 
membahas dan membagi masalah dengan saya
G Saya puas dengan cara keluarga saya 
menerima dan mendukung keinginan saya
untuk melakukan kegiatan baru atau arah
hidup yang baru
A Saya puas dengan cara keluarga saya 
mengekspresikan kasih sayangnya dan
merespon emosi saya seperti kemarahan,
perhatian dll
R Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya 
membagi waktu bersama-sama
Total poin = 9, fungsi keluarga dalam keadaan baik
Ny. Margiati juga bekerja sebagai buruh pabrik di tempat yang
sama dengan ayah dan bekerja sampai sore dan kadang-kadang juga
mendapat jam lembur, sehingga semakin sedikit waktu untuk bersama-

16
sama. Ketika sampai di rumah masih harus sibuk mengurusi urusan rumah
tangga, sehingga kadang sulit untuk membagi waktu untuk bersama-sama.

APGAR An. Rendra Terhadap Keluarga Sering/ Kadang- Jarang/tidak


selalu kadang
A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke 
keluarga saya bila saya menghadapi masalah
P Saya puas dengan cara keluarga saya 
membahas dan membagi masalah dengan saya
G Saya puas dengan cara keluarga saya 
menerima dan mendukung keinginan saya
untuk melakukan kegiatan baru atau arah
hidup yang baru
A Saya puas dengan cara keluarga saya 
mengekspresikan kasih sayangnya dan
merespon emosi saya seperti kemarahan,
perhatian dll
R Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya 
membagi waktu bersama-sama
Total poin = 9, fungsi keluarga dalam keadaan baik
Kedua orang tua sebagai buruh pabrik yang banyak menyita waktu,
sehingga semakin sedikit untuk waktu mereka untuk bersama-sama.
Secara keseluruhan total poin dari APGAR keluarga An. Rendra adalah 27,
sehingga rata-rata APGAR dari keluarga An. Rendra adalah 9. Hal ini
menunjukkan bahwa fungsi fisiologis yang dimiliki keluarga An. Rendra dan
orang tuanya dalam keadaan baik. Hubungan antar individu dalam keluarga
tersebut terjalin baik.

C. SCREEM
SUMBER PATHOLOGY KET
Sosial Interaksi sosial yang baik antar anggota _
keluarga juga dengan saudara partisipasi
mereka dalam masyarakat cukup meskipun
banyak keterbatasan.
Cultural Kepuasan atau kebanggaan terhadap budaya _
baik, hal ini dapat dilihat dari pergaulan
sehari-hari baik dalam keluarga maupun di
lingkungan, banyak tradisi budaya yang
masih diikuti. Sering mengikuti acara-acara
yang bersifat hajatan, sunatan, nyadran dll.
Menggunakan bahasa jawa, tata krama dan
kesopanan

17
Religius Pemahaman agama cukup. Namun +
Agama menawarkan
penerapan ajaran agama kurang, hal ini dapat
pengalaman spiritual yang baikdilihat dari penderita dan orang tua hanya
untuk ketenangan individu yangmenjalankan sholat sesekali saja. Sebelum
tidak didapatkan dari yang lain
sakit penderita rutin belajar mengaji di sore
hari di masjid dekat rumah.
Ekonomi Ekonomi keluarga ini tergolong menengah +
ke bawah, untuk kebutuhan primer sudah
bisa terpenuhi, meski belum mampu
mencukupi kebutuhan sekunder rencana
ekonomi tidak memadai, diperlukan skala
prioritas untuk pemenuhan kebutuhan hidup
Edukasi Pendidikan anggota keluarga kurang +
memadai. Tingkat pendidikan dan
pengetahuan orang tua masih rendah.
Kemampuan untuk memperoleh dan
memiliki fasilitas pendidikan seperti buku-
buku, koran terbatas.
Medical Tidak mampu membiayai pelayanan _
Pelayanan kesehatan puskesmas kesehatan yang lebih baik Dalam mencari
memberikan perhatian khusus pelayanan kesehatan keluarga ini biasanya
terhadap kasus penderita menggunakan Puskesmas dan hal ini mudah
dijangkau karena letaknya dekat.

Keterangan :
 Ekonomi (+) artinya keluarga An. Rendra masih menghadapi
permasalahan dalam hal perekonomian keluarga. Hal ini dapat
dilihat dari emenuhan kebutuhan sehari-hari yang pas-pasan dan
belum dapat memnuhi kebutuhan sekunder dan tertiernya.
 Religius (+) artinya keluarga An. Rendra juga menghadapi
permasalahan di bidang agama, An. Rendra dan kedua orang
tuanya tidak taat menjalankan kewajiban agama yaitu sholat 5
waktu. Hal ini akan mempengaruhi ketentraman batin karena
penderita kurang dekat dengan Tuhan terutama dalam menghadapi
berbagai permasalahan yang ada.
 Edukasi (+) artinya keluarga An. Rendar juga menghadapi
permasalahan dalam bidang pendidikan, An. Rendra menjadi
sering tidak masuk sekolah sejak sakit. Sedangkan kedua orang

18
uanya hanya tamat SMP. Hal ini akan mempengaruhi pengetahuan
dan pola berpikir dari anggota keluarga Ny. Suratmi.

D. KARAKTERISTIK DEMOGRAFI KELUARGA


Alamat lengkap : Padangan RT 02/03, Kagokan, Gatak Sukoharjo
Bentuk Keluarga : Nuclear Family
Diagram 1. Genogram Keluarga An. Rendra

Dibuat tanggal 7 September 2005

- Tn Wasidi
- 37 tahun - Ny. Margiyati,
- 36 th
- ♂
-♀
- buruh
- buruh
- etnis Jawa
- etnis Jawa
- Rendra P. Adji
- 9 th
--♂
- siswa SD
- etnis Jawa

Sumber : Data Primer, 7 Setember 2005


Keterangan :
Penderita
Tn. Wasidi : Ayah Penderita
Ny. Margiyati : Ibu Penderita

19
E. Informasi Pola Interaksi Keluarga

An. Rendra Prasetya


Adji, 9 th

Tn. Wasidi, 37 th Ny. Margiyati, 36 th

Keterangan : : hubungan baik


: hubungan tidak baik

Hubungan antara An. Rendra, ayah dan ibunya baik dan dekat. Antara ayah dan
ibunya baik. Dalam keluarga ini tidak sampai terjadi konflik atau hubungan buruk
antar anggota keluarga.

F. Pertanyaan Sirkuler
1. Ketika penderita jatuh sakit apa yang harus dilakukan oleh ibu?
Jawab :
Ibu merawat penderita dan menyiapkan kebutuhan penderita selama ibu
pergi bekerja.
2. Ketika ibu bertindak seperti itu apa yang dilakukan ayah?
Jawab :
Ayah mendukung apa yang dilakukan oleh ibu. Karena ia mempercayai
urusan anak sehari-hari kepada ibu.
3. Ketika ayah seperti itu apa yang dilakukan anggota keluarga yang lain?
Jawab :
Ikut mendukung dan membantu apa yang diputuskan ayah.

20
4. Kalau butuh dirawat/operasi ijin siapa yang dibutuhkan?
Jawab :
Dibutuhkan ijin ayah, karena ia sebagai kepala keluarga. Namun
sebelumya melalui musyawarah dengan anggota keluarga lainya atau
mungkin juga melibatkan keluarga besarnya.
5. Siapa anggota keluarga yang terdekat dengan penderita?
Jawab :
Anggota keluarga yang dekat dengan penderita adalah ibu. Walaupun
waktu yang tersedia untuk bertemu ibu tidak banyak namun penderita
selalu menyampaikan keinginannya ataupun keluhannya kepada ibu.
6. Selanjutnya siapa/
Jawab :
Selanjutnya adalah nenek penderita. Karena selama kedua orang tua
penderita bekerja, neneknya yang tinggal tak jauh dari rumah datang
menjaganya sampai kedua orang tuanya pulang.
7. Siapa yang secara emosional jauh dari penderita?
Jawab :
Ayah, karena ayah penderita termasuk orang yang pendiam dan tidak
terlalu ekspresif mengungkapkan rasa sayangnya.
8. Siapa yang selalu tidak setuju dengan pasien?
Jawab :
Ayah, karena sebagian besar keputusan di dalam keluarga diambil oleh
ayah.
9. Siapa yang biasanya tidak setuju dengan anggota keluarga lainnya?
Jawab :
Ayah, karena sebagian besar keputusan di dalam keluarga diambil oleh
ayah.

21
BAB III
IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
KESEHATAN

A. Identifikasi Faktor Perilaku dan Non Perilaku Keluarga


1. Faktor Perilaku Keluarga
An. R adalah seorang anak dari pasangan Tn. W dan Ny. M. Penderita
sekarang duduk di kelas 3 SD di Sekolah dasar II Kagokan. Namun sudah
kurang lebih 2 minggu ini kadang penderita tidak masuk sekolah karena
kesehatannya yang tidak memungkinkan. Kedua orang tua penderita dan
nenek penderita yang menjaganya sehari-hari belum banyak memiliki
pengetahuan tentang kesehatan khususnya tentang TBC sendiri dan
pentingnya kebersihan lingkungan yang berhuubungan erat dengan penyakit
penderita. Walaupun begitu mereka tetap memandang pendidikan sebagai
hal penting bagi anaknya.
Menurut semua anggota keluarga ini, yang dimaksud dengan sehat
adalah keadaan terbebas dari sakit, yaitu yang menghalangi aktivitas sehari-
hari. Keluarga ini menyadari pentingnya kesehatan karena apabila mereka
sakit, mereka menjadi tidak dapat bekerja lagi sehingga otomatis pendapatan
keluarga akan berkurang dan menjadi beban anggota keluarga lainnya.
Keluarga ini meyakini bahwa sakitnya disebabkan oleh kuman penyakit,
bukan dari guna-guna, sihir, atau supranatural/ takhayul. Mereka tidak terlalu
mempercayai mitos, apalagi menyangkut masalah penyakit, lebih
mempercayakan pemeriksaan atau pengobatannya pada mantri, bidan, atau
dokter di puskesmas yang terletak dekat dengan rumah.
Walaupun perabot rumah tidak tertata dengan rapi namun Keluarga
ini berusaha menjaga kebersihan lingkungan rumahnya misalnya dengan
menyapu rumah dan halaman paling tidak sehari dua kali, pagi dan sore.

22
Keluarga ini tidak memiliki fasilitas jamban keluarga sehingga
apabila ingin membuang hajatnya penderita dan keluarga harus ke kali
dahulu. Namun untuk melakukan kegiatan mencuci dan mandi keluarga ini
menggunakan air dari pompa air yang ada di rumah.
2. Faktor Non Perilaku
Dipandang dari segi ekonomi, keluarga ini termasuk keluarga
menengah ke bawah. Keluarga ini memiliki dua sumber penghasilan yaitu
dari ayah dan iabu yang sama-sama bekerja di Pabrik Batik Keris. Dari
total semua penghasilan tersebut keluarga dapat memenuhi kebutuhan
sehari-hari walaupun belum semua kebutuhan dapat terpenuhi terutama
kebuthan sekunder dan tertier.
Rumah yang dihuni keluarga ini kurang memadai karena masih ada
kekurangan dalam pemenuhan standar kesehatan. Lantai belum diubin hanya
dilapisi oleh semen, pencahayaan ruangan kurang, ventilasi kurang, dan tidak
memiliki fasilitas jamban keluarga. Pembuangan limbah keluarga belum
memenuhi sanitasi lingkungan karena limbah keluarga tidak dialirkan
melainkan hanya dibiarkan keluar dari rumah ke belakang rumah dan
dibiarkan meresap, serta belum adanya got pembuangan limbah keluarga.
Sampah keluarga dibuang ditempat pembuangan sampah yang ada di
belakang rumah. Fasilitas kesehatan yang sering dikunjungi oleh keluarga ini
jika sakit adalah Puskesmas II Gatak.

II. Identifikasi Lingkungan Rumah


Gambaran Lingkungan
Keluarga ini tinggal di sebuah rumah berukuran 12x6 m 2 yang
berdempetan dengan rumah tetangganya dan menghadap ke Selatan. Tidak
memiliki pekarangan rumah dan pagar pembatas. Terdiri dari ruang kamar
tamu yang sekaligus digunakan sebagai ruang keluarga dan menonton TV, dua
kamar tidur, satu kamar makan yang jarang digunakan, dapur, gudang dan
kamar mandi yang tidak memilki fasilitas jamban keluarga sehingga penderita
dan keluarga harus ke kali terlebih dahulu untuk membuang hajat. Terdiri dari

23
2 pintu keluar, yaitu 1 pintu depan dan 1 pintu belakang. Jendela ada 3 buah,
dikamar tamu dan disetiap kamar tidurnya namun semuanya jarang dibuka..Di
depan rumah terdapat teras yang berukuran 6x1 m2. Lantai rumah sebagian
besar terbuat dari bahan semen dan pada bagian dapur dan gudang
berlantaikan tanah. Ventilasi dan penerangan rumah masih kurang. Atap rumah
tersusun dari genteng dan tidak ditutup langit-langit. Masing-masing kamar
memiliki dipan untuk meletakan kasur. Dinding rumah terbuat dari batubata
namun belum dicat. Perabotan rumah tangga minim. Sumber air untuk
kebutuhan sehari-harinya keluarga ini menggunakan mesin pompa air. Secara
keseluruhan kebersihan rumah masih kurang. Sehari-hari keluarga memasak
menggunakan kompor minyak dan kadang menggunakan kayu bakar yang
biasa disimpan di gudang dan belakang rumah.
Denah Rumah :
6M

GUDANG K. MANDI

DAPUR U

K. TIDUR
12 M S
K. MAKAN
K. TIDUR

K. TAMU

TERAS

24
Keterangan :
: Jendela
: Satu Pintu
: Tembok Bata
: Pagar teras
: Papan pembatas

25
BAB IV
DAFTAR MASALAH

1. Masalah aktif :
a. TB Paru Kasus Baru
b. Kondisi ekonomi lemah
c. Pengetahuan orang tua yang kurang tentang penyakit penderita
d. Resiko penularan pada anggota keluarga yang lain
2. Faktor resiko :
a. Status gizi kurang
b. Lingkungan dan tempat tinggal yang tidak sehat

DIAGRAM PERMASALAHAN PASIEN


(Menggambarkan hubungan antara timbulnya masalah kesehatan yang ada
dengan faktor-faktor resiko yang ada dalam kehidupan pasien)

1.Lingkungan
dan rumah
yang tidak sehat
8.Tingkat sehatang 2. Kondisi
pendidikan orang ekonomi lemah
tua masih rendah

7. Persepsi .3. Prevensi untuk


orang tua dan An. Rendra, anggota keluarga
nenek yang 9 th lainnya
salah ttg
penyakitnya

5. Underweight 4. P H B S

26
BAB V
PATIENT MANAGEMENT

A. PATIENT CENTERED MANAGEMENT


1. Suport Psikologis
Pasien memerlukan dukungan psikologis mengenai faktor-faktor
yang dapat menimbulkan kepercayaan baik pada diri sendiri maupun kepada
dokternya. Antara lain dengan cara :
a. Memberikan perhatian pada berbagai aspek masalah yang dihadapi.
b. Memberikan perhatian pada pemecahan masalah yang ada. Memantau
kondisi fisik dengan teliti dan berkesinambungan.
c. Memantau kondisi fisik dengan teliti dan berkesinambungan.
d. Timbulnya kepercayaan dari pasien, sehingga timbul pula kesadaran dan
kesungguhan untuk mematuhi nasihat-nasihat dari dokter.
Pendekatan Spiritual, diarahkan untuk lebih mendekatkan diri
kepada Tuhan YME, misalnya dengan rajin ibadah, berdoa dan memohon
hanya kepada Tuhan YME.
Dukungan psikososial dari keluarga dan lingkungan merupakan hal
yang harus dilakukan. Bila ada masalah, evaluasi psikologis dan evaluasi
kondisi sosial, dapat dijadikan titik tolak program terapi psikososial.
2. Penentraman Hati
Menentramkan hati diperlukan untuk pasien dengan problem
psikologis antara lain yang disebabkan oleh persepsi yang salah tentang
penyakitnya, kecemasan, kekecewaan dan keterasingan yang dialami
akibat penyakitnya. Menentramkan hati penderita dengan memberikan
edukasi tentang penyakitnya bahwa penyakitnya tersebut bukan penyakit
turunan dan dapat disembuhkan. Faktor yang paling penting untuk
kesembuhannya adalah ketekunan dalam menjalani pengobatan sesuai
petunjuk dokter. Selain itu juga didukung dengan makan makanan yang
bergizi tinggi meskipun sederhana, istirahat yang cukup. Diharapkan
pasien bisa berpikir positif, tidak berprasangka buruk terhadap

27
penyakitnya, dan membangun semangat hidupnya sehingga bisa
mendukung penyembuhan dan meningkatkan kualitas hidupnya.

3. Penjelasan, Basic Konseling dan Pendidikan Pasien


Diberikan penjelasan yang benar mengenai persepsi yang salah
tentang TBC. Pasien TBC dan keluarganya perlu tahu tentang penyakit,
pengobatannya, pencegahan dan penularannya. Sehingga persepsi yang salah
dan merugikan bisa dihilangkan. Hal ini bisa dilakukan melalui konseling
setiap kali pasien kontrol dan melalui kunjungan rumah baik oleh dokter
maupun oleh petugas Yankes.
Beberapa persepsi yang harus diluruskan yaitu :
a. Penyakit TBC merupakan penyakit turunan
b. Penyakit TBC tidak dapat disembuhkan.
Maka pasien harus diberi pengertian untuk terus mengupayakan
kesembuhannya melalui program pengobatan dan rehabilitasi yang
dianjurkan oleh dokter. Juga harus dilakukan pendalaman terhadap berbagai
masalah penderita termasuk akibat penyakitnya (TBC) terhadap hubungan
dengan keluarganya, pemberian konseling jika dibutuhkan. Penderita juga
diberi penjelasan tentang pentingnya menjaga diet TKTP yang benar dalam
rangka mencapai berat badan ideal, pentingnya olah raga yang teratur dan
sebagainya.
4. Menimbulkan rasa percaya diri dan tanggung jawab pada diri sendiri
Dokter perlu menimbulkan rasa percaya dan keyakinan pada diri
pasien bahwa ia bisa melewati berbagai kesulitan dan penderitaannya. Selain
itu juga ditanamkan rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri mengenai
kepatuhan dalam jadwal kontrol, keteraturan minum obat, diet yang
dianjurkan dan hal-hal yang perlu dihindari serta yang perlu dilakukan.
5. Pengobatan
Medika mentosa dan non medikamentosa seperti yang tertera
dalam penatalaksanaan.

28
6. Pencegahan dan Promosi Kesehatan
Hal yang tidak boleh terlupakan adalah pencegahan dan promosi
kesehatan berupa perubahan tingkah laku (tidak meludah di sembarang
tempat, menutup mulut jika batuk), lingkungan (tempat tinggal yang tidak
boleh lembab dengan penggunaan ventilasi yang cukup, pemakaian
genteng kaca sehingga pencahayaan cukup dan kebersihan lingkungan
rumah dan luar rumah yang bersih dengan disapu 2x/hari), meningkatkan
daya tahan tubuh dengan cara diet makanan bergizi dan olah raga yang
teratur. Dengan demikian paradigma yang salah tentang penyakit TBC di
masyarakat dapat diluruskan.
B. PREVENSI BEBAS TBC UNTUK KELUARGA LAINNYA (AYAH, IBU,
DAN KELUARGA LAINNYA)
Pada prinsipnya secara umum prevensi untuk bebas TBC adalah
sama dengan prevensi bebas TBC untuk penderita, namun dalam hal ini
diutamakan untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Misalnya dengan cara
sebagai berikut :
1. Bagi keluarga jangan terlalu dekat ‘cukup intim’ dengan anggota keluarga
yang lain (ayah, ibu dan kelurga lainnya), apalagi saat berbicara atau
batuk, agar tidak tertular langsung kuman TB dari penderita. Saat batuk
sebaiknya di tutup kain atau masker.
2. Diusahakan agar penderita tidak meludah di sembarang tempat yang
mengakibatkan kuman TB dapat berterbangan dan terhirup oleh anggota
keluarga yang lain.
3. Istirahat yang cukup 6-8 sehari semalam.
4. Olah raga teratur dan makan-makanan yang bergizi.
Kesemuanya ini merupakan langkah-langkah untuk meningkatkan
daya tahan tubuh bagi anggota keluarga yang serumah dengan penderita agar
tidak tertular infeksi TBC dari penderita.

29
BAB VI
TINJAUAN PUSTAKA

TUBERKULOSIS

A. LATAR BELAKANG
Insiden penyakit TBC dan mortalitasnya menurun setelah ditemukan
kemoterapi, namun pada tahun-tahun terakhir penurunan itu tidak terjadi lagi,
bahkan insidennya cenderung meningkat (Price SA, 1995). Menurut hasil
Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995, menunjukan angka
kematian no. 1 dari seluruh golongan penyakit infeksi. Terbukti dengan setiap
satu menit terdapat penderita TBC baru, setiap dua menit terdapat penderita
TBC yang menularkan ke orang lain, dan setiap empat menit terdapat
penderita TBC yang meninggal akibat penyakitnya. Penyakit ini masih banyak
di jumpai pada masyarakat yang tingkat sosial ekonomi rendah, kepadatan
tinggi dan berusia produktif (Suradi, 2001). Sampai saat ini belum ada negara
yang dinyatakan sebagai bebas TBC, bahkan Indonesia sendiri sebagai
penyumbang terbesar nomor tiga setelah India dan Cina (Aditama TY, 2001).

B. DEFINISI
Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh
kuman Tuberkulosis (Mycobacterium tuberculosis). Sebagian besar kuman TB
menyerang paru, akan tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya
(Depkes RI, 2002).

C. TB PARU PADA ANAK


Seorang anak dapat terkena infeksi TB tanpa menjadi sakit TB dimana
terdapat uji tuberkulin positif tanpa ada kelainan klinis, radiologis paru dan
laboratoris. Kalau daya tahan tubuh anak kurang dan basil TB yang
menginfeksi virulen maka kemungkinan seorang anak yang terkena infeksi TB
menjadi sakit TB lebih besar. Sampai saat ini diagnostik TB anak masih
menjadi masalah karena tanda dan gejala yang tidak spesifik, populasi basil

30
TB yang rendah pada anak dengan TB, sulitnya mendapatkan spesimen
(sputum atau bilasan lambung) dan masih rendahnya nilai diagnostik tes-tes
yang ada. Sedangkan usaha untuk memperbaiki atau meningkatkan tes-tes
diagnostik TB belum memadai ( Safari Ahli Respirologi Anak, 2001).

D. EPIDEMIOLOGI
Tahun 1999, WHO memperkirakan setiap tahun terjadi 583.000 kasus
baru TB dengan kematian karena TB sekitar 140.000. Secara kasar
diperkirakan setiap 100.000 penduduk Indonesia terdapat 130 penderita baru
TB paru BTA positif (Depkes RI,2002).
Dengan meningkatnya kejadian tuberkulosis (TB) di dunia, maka jumlah anak
yang terinfeksi tuberculosis akan meningkat dan jimlah anak dengan penyakit
tuberkulosis juga meningkat. Pada tahun 1994-1995 diperkirakan terdapat
1.300.000 kasus TB baru berumur dibawah 15 tahun. Peningkatan kejadian
tuberculosis pada anak menggambarkan juga peningkatan penularan TB
dewasa. TB anak merupakan 5-15% seluruh kasus TB ( Safari Ahli
Respirologi Anak, 2001).

E. ETIOLOGI
Kuman penyebab penyakit TB adalah Mycobacterium tuberculosis,
Mycobacterium bovis, Mycobacterium africanus yang menyebabkan penyakit
TB pada manusia. Kuman TB cepat mati dengan sinar matahari langsung,
tetapi dapat bertahan beberapa jam di tempat gelap dan lembab.(Depkes RI,
2000).

F. PENULARAN
Sumber penularan adalah penderita TB dengan BTA positif, yang dapat
menularkan kepada orang yang berada di sekelilingnya, terutama kontak erat.
Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak, makin menular penderita
tersebut. Bila hasil pemeriksaan dahak negatif (tidak terlihat kuman), maka
penderita tersebut dianggap tidak menular (Price SA, 1995).

31
Penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet
(percikan dahak) pada waktu batuk atau bersin. Droplet yang mengandung
kuman dapat bertahan di udara pada suhu kamar dalam beberapa jam. Orang
dapat terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup ke dalam saluran pernafasan
(Price SA, 1995).

G. GEJALA
Gejala Tuberkulosis pada anak dibagi atas :
1. Gejala Umum atau nonspesifik tuberculosis anak :
a. Berat badan turun tanpa sebab yang jelas atau tidak naik dalam 1
bulan dengan penangan gizi
b. Nafsu makan tidak ada (aneroxia) dengan gagal tumbuh dan berat
badan tidak naik denagn adekuat (failure to thrive).
c. Demama lama dan berulang tanpa sebab yang jelas (bukan tifus,
malaria, atau infeksi saluran napas akut), dapat disertai keringat
malam.
d. Pembesaran kelenjar limfe superfisisalis yang tidak sakit dan
biasanya multipel.
e. Batuk lama lebih dari 30 hari.
f. Diare persisteen yang tidak sembuh dengan pengobatan diare.
2. Gejala spesifik sesuai organ yang terkena :
a. TB kulit/skrofuloderma
b. TB tulang dan sendi
 Tulang punggung Spondilitis) : gibbus
 Tulang panggul (koksitis) : pincang
 Tulang lutut : pincang dan atau bengkak
 Tulang kaki dan tangan
Dengan gejala pembengkakan sendi, gibbus, pincang dan sulit
membungkuk.
c. TB otak dan saraf
 Meningitis

32
Dengan gejala iritabel, kaku kuduk, muntah-muntah dan
kesadaran menurun.
d. TB mata
 Conjunctivitis Phlyctenularis
 Tuberkel koroid (hanya terlihat dengan funduskopi)
( Safari Ahli Respirologi Anak, 2001)

H. PENEMUAN PENDERITA TUBERKULOSIS


Penemuan penderita tuberkulosis dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu
dengan cara pasif dan aktif (Depkes RI 1994).
1. Penemuan secara pasif
Penemuan penderita TB secara pasif, artinya penjaringan tersangka
penderita dilaksanakan pada mereka yang datang berkunjung ke unit
pelayanan kesehatan. (Depkes RI 1994).
2. Penemuan secara aktif
Kegiatan ini diharapkan terus dilakukan sebagaimana yang lalu
dengan catatan kegiatan active case finding lebih melibatkan peran serta
kader, posyandu maupun penyuluhan kesehatan masyarakat setempat
yang telah ditatar sebelumnya. Penemuan dahak penderita dilakukan oleh
petugas kesehatan atau penderita tersangka dan langsung
mengantarkannya ke laboratorium Puskesmas.

I. DIAGNOSIS
Tuberkulosis dikatakan sebagai the great imitator, yaitu penyakit yang
banyak menyerupai penyakit-penyakit lain dari penyakit paru dan penyakit
yang menimbulkan gejala-gejala umum, kelemahan atau panas. Diagnosis
Tuberkulosa paru menahun dibuat atas dasar :
1. Anamnesa
Keluhan: batuk, batuk darah, sesak nafas nyeri dada dan nafas bunyi
yang berlangsung lama, bukan monopoli keluhan penderita paru menahun.

33
Keluhan tersebut dapat disebabkan oleh semua penyakit paru menahun
(Asril, 1990).
2. Pemeriksaan fisik diagnostik
Gejala yang ditemukan dapat berupa suara bronchial, amforik,
ronkhi basah atau penarikan jaringan atau organ seperti deviasi trachea,
penarikan diafragma, mediastinum dan penyempitan ruang antar iga.
3. Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium terdiri atas :
a. Pemeriksaan dahak : merupakan material yang paling penting yang
harus diperiksa pada setiap penyakit paru. Pada tuberkulosa paru,
ditemukan basil tahan asam dalam dahak.
b. Pemeriksaan cairan pleura : dilakukan pada kasus-kasus yang diduga
terdapat efusi pleura.
c. Pemeriksaan darah terdiri atas LED dan leukosit.: biasanya
meningkat pada proses yang aktif, tetapi LED yang normal tidak
mengesampingkan proses aktif. Sedangkan jumlah lekosit dapat
normal atau sedikit meningkat pada proses-proses yang aktif.
(Depkes, 2000).

Diagnosis TB pada anak :


Pada seorang anak dengan riwayat kontak erat dengan pasien
tuberkulosis perlu dilakukan anamnesis dan pemeriksaan fisis yang
lengkap dan teliti.
Uji tuberkulin cara Mantoux memakai tuberkulin PPD-RT 23 2
TU atau PPD-S (Siebert) 5 TU yang disuntikkan secara intrakutan 0.1 ml
di bagian volar bagian bawah.
Pembacaan dilakukan setelah 48-72 jam setelah penyuntikkan, diukur
diameter indurasi yang terjadi dan dinyatakan dalam milimeter. Diameter
indurasi 10 mm ke atas dinyatakan positif. Pada anak yang telah
mendapatkan BCG diameter indurasu 15 mm ke atas baru dinyatakan
positif, sedangkan pada anak kontak erat dengan penderita tuberkulosis

34
aktif diameter indurasi 5 mm ke atas harus dinyatakan positif. Pada anak
tanpa resiko tetapi tinggal di daerah dimana prevalensi tuberkulosis
meningkat, uji Mantoux perlu dilakukan pada umur 1 tahun, 4-5 tahun,
11-16 tahun. Tetapi di daerah dengan resiko tinggi uji Mantoux harus
dilkukan tiap tahun.
Uji Mantoux negatif belum tentu tidak ada atau infeksi tuberkulosis.
Konversi uji Mantoux dari negatif menjadi positif terjadi 3-8 minggu
setelah infeksi tuberkulosis. Uji Mantoux negatif tidak selalu tidak ada
infeksi tuberkulosis dan sebaliknya kalau positif tidak selalu ada infeksi
tuberkulosi (Safari Ahli Respirologi Anak, 2001).
Diaganosa kerja TB biasanya di buat berdasarkan gambaran klinis,
uji tuberkulin dan gambaran radilogis paru. Diagnosa pasti kalau
ditemukan basil tuberkulosis pada pemeriksaan mikrobiologis. Tetapi
tidak selalu mudah membuat diagnosa kerja TB pada anak.
Mengingat gambaran klinis dan radiologis pada anak tidak selalu
spesifik, pemeriksaan bakteriologis hasilnya lama dan sedikit yang positif
karena sulitnya pengambilan spesimen dan pemeriksaan serologis masih
memerlukan evaluasi lebih lanjut untuk pemakaian klinis praktis, maka
ada berbagai usaha untuk diagnosis TB anak. Stegan dan kawan-kawan
membuat sistem nilai atau angka diagnosis tuberkulosis. Tiap penilaian
diberi nilai ( Stegen at. al, 1969).

Tabel 3. Sistem nilai diagnosis TB anak


Penemuan Nilai

BTA positif/biakan M.tb positif +3


Granuloma TB (PA) +3
Uji Tuberkulin10 mm atau lebih +3
Gambaran Rontgen sugestif TB +2
Pemeriksaan fisis sugestif TB +2
Uji Tuberkulin 5-9 mm +2
Konversi uji Tuberkulin dari (-) menjadi (+) +2
Gambaran rontgen tidak spesifik +1
Pemeriksaan fisis sesuai TB +1

35
Riwayat kontak dengan TB +1
Granuloma non spesifik +1
Umur kurang dari 2 tahun +1
BCG dalam 2 tahun terakhir +1

Jumlah nilai : 1-2 sangat tidak mungkin TB


3-4 Mungkin TB, perlu pemeriksaan lebih lanjut
5-6 sangat mungkin TB
≥7 praktis TB
J. PENGOBATAN
Biasanya cara pengobatan tuberkulosis pada anak merupakan
ekstrapolasi dari penelitian pada orang dewasa. Karena kemungkinan
komplikasi tuberkulosis pada anak sangat luas, maka lebih baik terlalu
cepat mengobati dari pada terlalu terlambat mengobati. Maka setelah
diperiksa seteliti dan selengkap mungkin dan di curigai kemungkinan
besar tuberkulosis sebaiknya langsung diobati.Kalau 2 bulan terlihat
perbaikan nyata, maka diagnosis tuberkulosis lebih pasti maka obat dapat
diteruskan. Kalau 2 bulan tidak ada perbaikan nyata mungkin bukan
tuberkulosis atau ada resistensi terhadap obat sehingga perlu pemeriksaan
yang teliti.
Regimen pengobatan tuberkulosis saat ini memerlukan waktu 6
bulan atau lebih lama karena basil fase laten atau lambat sulit dibunuh.
Regimen dasar pengobatan tuberkulosis adalah kombinasi Isoniazid dan
Rimfampisin selama 6 bulan dengan Pirazinamid pada 2 bulan pertama.
Pada tuberkulosis berat atau dengan resiko resistensi maka diberi juga
Ethambutol pada permulaan pengobatan. Jadi pada 2 bulan pertama
diberikan Isoniazid, Rifampisisn dan Pirazinamid, kemudian dilanjutakan
dengan Isoniazid dan Rimfapisin saja selam 4 bulan lagi. Pada
tuberkulosis berat pada 2 bulan pertama diberikan 4-5 obat anti
tuberkulosis selanjutnya Isoniazid saja selama 4-6 bulan lagi sesuai
dengan perkembangan kilnisnya (Safari Respirologi Anak, 2001).

36
Tabel 4. Obat anti tuberkulosis yang biasanya dipakai pada anak dan dosisnya
Dosis 2x Dosis 3x
Dosis harian
Nama obat Seminggu Seminggu Efek samping
(mg/Kg BB/hari) (mg/Kg (mg/Kg
BB/hari) BB/hari)
5 - 15 15 - 40 15 - 40 Hepatitis, neuritis perifer,
Isoniazid
(300 mg) (900 mg) (900 mg) hipersensitifitas
Gastrointestinal, reaksi
10 - 20 10 - 20 10 – 20 kulit,hepatitis,
Rifampisin (600 mg) ((600 mg) (600 mg) trombositopeni, ensim
hepar, cairan tubuh
berwarna oranye
15 – 40 50 -70 50 – 70 Toksisitas hepar, atralgia,
Pirazinamid
(2 g) (4 g) (3 g) gastrointestinal
Neuritis optik, ketajaman
Ethambutol 15 – 25 50 50 mata berkurang, buta
(2,5 g) (2,5 g) (2,5 g) warna merah hijau,
hipersensitivitas,
gastrointestinal
Streptomisin 15 – 40 25 – 40 25 – 40 Ototoksik, nefrotoksik
(1 g) (1,5 g) (1,5 g)

Kortikosteroid diberikan pada tuberkulosis susunan syaraf pusat terutama


meningitis, perikarditis, tuberkulosis milier, dan efusi pleura. Prednison biasanya
diberikan dengan dosis 1-2 mg/kg BB/hari selama 2-4 minggu kemudian
diturunkan secara pelan-pelan (tapering off) sampai 2-6 minggu lagi.

ALUR DETEKSI DINI DAN RUJUKAN TB ANAK

37
Hal-hal yang mencurigakan TB :
Mempunyai sejarah kontak erat dengan penderita TB dengan BTA (+)
Tes uji tuberkulin yang positif (> 10 mm)
Gambaran foto rongent sugestif TB
Terdapat reaksi kemerahan yang cepat (dalam 3-7 hari) setelah imunisasi dengan BCG
Batuk-batuk lebih dari 3 hari
Sakit dan demam lama atau berulang, tanpa sebab yang jelas
Berat badan turun tanpa sebab yang jelas atau berat badan kurang baik yang tidak naik alam 1 bulan
meskipun sudah dengan penanganan gizi (failure to thrive)
Gejala-gejala klinis spesifik (pada kelenjar limfe, otak tulang dll)

Bila ≥ 3 positif

Dianggap TB

Beri obat OAT


Observasi
2 bulan

Membaik Memburuk/tetap

Membaik Bukan TB TB kebal


obat

OAT Rujuk ke RS

Rumah sakit :
Gejala Klinis
Uji Tuberkulin
Foto Rongent
Pemeriksaan mikrobiologi dan serologi
Pemeriksaan Patologi Anatomi
Prosedur dan tatalaksana yang sesuai dengan prosedur
Rumah sakit bersangkutan.

HUBUNGAN KONDISI PERUMAHAN DENGAN PENULARAN TB PARU

38
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa keadaan kesehatan lingkungan di
Indonesia relatif masih kurang baik (Anwar M,1996). Misal dalam hal penyediaan
air bersih separoh dari penduduk masih menggunakan air sumur gali, dalam
pembuangan kotoran hanya 44,3 % yang memiliki jamban sendiri, dimana 65,2%
dari jumlah tersebut tidak dilengkapi dengan tangki septik. Pemukiman penduduk
juga masih terdapat 39,5% yang menggunakan lantai tanah (BKKBN,1993).
Sehingga penyakit yang berhubungan erat dengan keadaan lingkungan yang jelek
seperti TB Paru, ISPA, dan diare masih tinggi. Padahal untuk penyakit TB Paru
sendiri merupakan penyebab utama kematian pada kelompok usia produktif
(Depkes RI, 2002). Mengingat penyakit TB Paru menjadi masalah kesehatan
masyarakat Indonesia dan belum dilaksanakan pemberantasannya secara
menyeluruh, maka diperlukan upaya swasembada masyarakat yang dapat
mendukung pemberantasan TB Paru. Peran serta masyarakat yang dapat
mendukung pemberantasan TB Paru antara lain : peningkatan kesehatan
lingkungan pemukiman, memperhatikan aspek sosial budaya, dan perilaku hidup
sehat yang berkaitan dengan penularan penyakit TB Paru (Kusnindar,1993).
Seorang penderita TB Paru yang telah berobat ke Puskesmas, diperkirakan masih
dapat menularkan kepada anggota keluarga sebanyak dua orang (33,3% penghuni)
Bila dalam rumah terdapat seorang balita, kemungkinan ditulari penyakit TB Paru
sebesar 90,2% (Kusnindar,1993). Mengingat sasaran yang dicapai program
pemberantasan masih belum memadai maka upaya swasembada masyarakat
dalam perbaikan perumahan sangat besar untuk dapat pencegah penularan
penyakit TB Paru.
Rumah yang sehat harus memenuhi 4 hal pokok yaitu :
1. Memenuhi kebutuhan fisiologis (pencahayaan, perhawaan, ruang gerak
yang cukup, terhindar dari kebisingan yang menggangu tidur). Penyediaan air
bersih dan pembuangan air limbah serta sampah diatur dengan baik agar tidak
menimbulkan pencemaran. Lantai dan dinding tidak dibiarkan lembab. Tidak
terpengaruh oleh pencmaran seperti bau, rembesan air kotor, udara kotor.
2. Memenuhi kebutuhan psikologis (privasi yang cukup, komunikasi
yang cukup antar anggota keluarga). Agar keluarga dapat tinggal dengan

39
nyaman dan dapat melakukan kegiatan dengan mudah. Untuk itu diperlukan
ruang yang mencukupi. Ukuran ruangan sesuai dengan kegiatan penghuni
didalamnya. Penataan ruang harus baik, penghijauan halaman diatur sesaui
dengan kebutuhan.
3. Memenuhi persyaratan pencegahan penyakit antar anggota keluarga
atau penghuni rumah (meliputi penyediaan air minum, pengelolaan tinja dan
limbah rumah tangga, bebas vektor penyakit dan tikus, kepadatan hunian yang
tidak berlebihan, cukup sinar matahari pagi, terlindungnya makanan dan
minuman dari pencemaran).
4. Memenuhi persyaratan pencegahan terjadinya kecelakaan baik yang timbul
karena keadaan luar dan dalam rumah (seperti persyaratan garis sempadan
jalan, konstruksi yang tidak mudah roboh dan terbakar, juga tidak cenderung
membuat penghuninya jatuh dan tergelincir). (Sulistyawati, 1999)
Penularan penyakit TB paru sangat dipengaruhi oleh kepadatan hunian,
kualitas udara yang terkait dengan sistem perhawaan dan pencahayaan, perilaku
dan hygene perorangan, masuknya sinar matahari pagi (Soewasti,2000 ).
Mengingat sebagian besar penduduk Indonesia termasuk golongan
ekonomi menengah kebawah yang kurang mampu membuat atau membeli rumah
yang memenuhi syarat kesehatan maka penularan penyakit pernafasan (TB paru)
akan sangat mudah terjadi.
Dari penelitian didapatkan faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit
TB Paru pada balita terdiri atas 5 parameter lingkungan yaitu : jenis lantai, jenis
dinding, jenis atap, kepadatan hunian, dan jenis bahan bakar yang dipakai,
Besarnya resiko dari masing-masing parameter sekitar 20%. Jika faktor
lingkungan dimasukkan bersama-sama faktor sosial (umur ibu, tempat ibu
bekerja, kegiatan sosial ibu, media informasi yang ada, pendidikan ibu dan kepala
keluarga) semuanya akan memberikan resiko yang bermakna (Agustina, 1996)
Status sosial dan lingkungan berpengaruh terhadap kejadian TB paru
(Trastenojo 1984). Lebih lanjut dikatakan bahwa prevalensi TB Paru di
lingkungan keluarga penderita TB paru jauh lebih besar dibandingkan prevalensi
TB paru dalam masyarakat umum yaitu 47,6% berbanding dengan 0,42% hal ini

40
jelas karena seperti telah dikatakan di atas bahwa seorang penderita TB Paru yang
telah berobat ke puskesmas masih dapat menularkan kepada 33,3% dai seluruh
keluarga yang tinggal serumah (Kusnindar, 1993). Kusnindar juga membuktikan
bahwa banyaknya penderita dalam rumah tergantung dari intensitas cahaya di
kamar tidur penderita dan ruang tamu serta luas jendela dan lubang perhawaan.
Dari data didapatkan bahwa luas genteng kaca tidak mempengaruhi penularan
dalam rumah yang penting adalah peletakan jendela kaca yang seharusnya
diutamakan di kamar tidur penderita dan ruang tamu (Kusnindar, 1993).
Hal yang mempermudah penularan TB paru adalah kebiasaan tidur
penderita bersama-sama dengan istri atau suami, anak-anak dan anggota keluarga
yang lain (Suharjo dkk, 1993).
Dari hasil-hasil penelitian tersebut dapat diambil kesimpulan beberapa
parameter yang dapat mempengaruhi penularan TB paru.
1. Kepadatan hunian
2. Pencahayaan terutama dari sinar matahari
3. Perhawaan (ventilasi)
4. Jenis lantai
5. Jenis dinding
6. Jenis bahan bakar yang digunakan dalam rumah tangga
Kepadatan hunian
Persyaratan kepadatan hunian untuk seluruh rumah biasa dinyatakan
m2/orang. Untuk rumah sederhana minimum 10 m2/orang jadi untuk 1
keluarga yang terdiri 3 orang minimum 30 m2. untuk kamar tidur diperlukan
luas lantai 3 m2/orang dan untuk mencegah penularan penyakit pernapasan
jarak antara tepi tempat tidur yang satu dengan yang lain minimum 90 cm.
Sebaiknya jangan digunakan tempat tidur bertingkat karena hal ini dapat
mempermudah penularan penyakit pernapasan. Kamar tidur sebaiknya tidak
dihuni lebih dari 2 orang apabila ada anggota keluarga yang menderita
penyakit pernapasan sebaiknya tidak tidur sekamar dengan anggota keluarga
yang lain. Untuk menjamin volume udara yang cukup sebaiknya tinggi
langit-langit minimal 2,75 m (Soewasti,2000).

41
Pencahayaan
Untuk memperoleh pencahayaan yang cukup pada siang hari diperlukan luas
jendela kaca minimum 20% dari luas lantai. Kamar tidur sebaiknya di
sebelah timur agar sinar ultraviolet pada sinar matahari pagi dapat masuk.
Atau dapat pula dipasang genteng kaca. Karena menurut Robert Koch semua
jenis cahaya dapat mematikan kuman hanya berbeda satu sam a lain dari
segi lamanya proses mematikan kuman. Agar masuknya cahay matahari
tidak terhalang sesuatu di luar rumah maka jarak rumah yang satu dengan
yang lain minimal sama dengan tingginya rumah (Soewasti,2000).
Perhawaan (ventilasi)
Pergantian udara yang lancar memerlukan minimum luas lubang ventilasi
5% dari luas lantai, dan jika ditambah dengan luas lubang yang dapat
memasukkan udara lainnya (celah pintu/jendela, lubang anyaman bambu
dan sebagainya) menjadi berjumlah 10% daari luas lantai. Jangan
mengandalkan masuknya udara dari jendela atap bersusun karena udara
yang lebih atas suhunya lebih tinggi.
Jenis lantai
Lantai tanah jelas tidak baik dari segi kebersihan udara dalam rumah. Jadi
paling sedikit lantai diplester atau lebih baik lagi bila dilapisi ubin agar
mudah dibersihkan (Soewasti,2000).
Jenis dinding
Dinding anyaman bambu dan papan atau kayu masih dapat ditembus udara
jadi masih dapat memperbaiki ventilasi tetapi sulit untuk dapat menjamin
kebersihannya dari debu yang menempel padanya.
Apabila terdapat penghuni yang menderita sakit pernapasan maka kuman
mungkin juga ada dalam debu yang menempel pada dinding sehingga
rumah sebaiknya memakai dinding permanen dari bahan yang mudah
dibersihkan (Soewasti, 2000).
Jenis bahan bakar
Di pedesaan sering dijumpai rumah yang menggunakan kayu sebagai bahan
bakar. Jika ventilasi tidak baik asap akan memenuhi ruangan, asap akan

42
memperparah penderita sakit pernapasan lebih-lebih pada bayi, balita dan
orangtua. Sedapat mungkin digunakan bahan bakar yang tidak menimbulkan
pencemaran udara indoor atau yang sisa pembakarannya dapat disalurkan ke
luar rumah (Soewasti,2000).
Kebiasaan dan perilaku penghuni
1. Harus rajin membersihkan rumah
2. Tidak boleh meludah, bersin, batuk sembarangan atau jika bersin, batuk
harus ditutup.
3. Rajin menjemur bantal, guling dan kasur.
4. Tidak tidur bersama penderita.
5. Hygiene perseorangan harus dijaga.
6. Pagi hari bukalah jendela agar sinar matahari pagi dapat masuk
terutama ke kamar tidur.
7. Sedapat mungkin tidak memakai tempat tidur bertingkat.

BAB VII
PENUTUP

43
A. SIMPULAN
1. Segi Biologis :
 An. R (9 tahun), menderita penyakit TB Paru Kasus baru  (dalam
pengobatan fase intensif)
 Status gizi An. R berdasarkan NCHS termasuk dalam kategori Gizi
kurang
 Rumah dan lingkungan sekitar keluarga An. R tidak sehat.
2. Segi Psikologis :
 Hubungan antara anggota keluarga dan anggota masyarakat yang
terjalin cukup akrab, harmonis, dan hangat
 Pengetahuan akan TB Paru yang masih kurang yang berhubungan
dengan tingkat pendidikan yang masih rendah
 Tingkat kepatuhan dalam mengkonsumsi obat yang baik,
mendukung untuk penyembuhan penyakit tersebut
3. Segi Sosial :
 Problem ekonomi menjadi kendala utama dalam keluarga ini yang
berpengaruh pada ketidakmampuan mendapatkan pelayanan dan
informasi tentang kesehatan keluarga juga untuk dapat mempunyai
fasilitas sanitasi, rumah yang sesuai dengan standart kesehatan
4. Segi fisik :
 Rumah dan lingkungan sekitar keluarga An. R tidak sehat.

B. SARAN
1. Untuk masalah medis (TB Paru) dilakukan langkah-langkah :
 Preventif : penderita jangan meludah di sembarang tempat,
menutup mulut dengan kain atau masker terutama saat batuk.
Harus rajin membersihkan rumah. Rajin menjemur bantal, guling
dan kasur. Menjaga Hygiene dan sanitasi. Membuka jendela pagi
hari agar sinar matahari pagi dapat masuk terutama ke kamar tidur.
Sedapat mungkin tidak memakai tempat tidur bertingkat.

44
Diharapkan menggunakan genteng kaca, membersihkan rumah,
menguras bak mandi, membuat jamban keluarga, membangun
tempat pembuangan sampah dan saluran air, menata barang-barang
agar tidak menjadi sarang kuman dan nyamuk.
 Promotif : edukasi penderita dan keluarga mengenai TB Paru dan
pengobatannya oleh petugas kesehatan atau dokter yang
menangani.
 Kuratif : saat ini penderita memasuki pengobatan fase intensif,
sehingga diberikan pengobatan berupa, Rifampisin 200 mg, INH
100 mg, Pirazinamid 500 mg.
 Rehabilitatif : mengembalikan kepercayaan diri An. R sehingga
tetap memiliki semangat untuk sembuh dan dapat bersekolah lagi.
2. Untuk masalah status gizi yang masuk kategori Gizi kurang, dilakukan
.langkah-langkah ;
 Promotif : edukasi penderita dan kedua oaring tua penderita
mengenai pola makan yang memenuhi gizi yang seimbang dan
diberi pengarahan agar dalam menyiapkan makanan sehari-hari
selalu memperhatikan masalah gizi makanannya, diusahakan yang
sederhana tetapi mengandung gizi yang cukup.
 Kuratif : mengkonsumsi makanan yang mengandung
banyak kalori dan protein untuk menjaga daya tahan tubuh.
Konsumsi protein yang mencukupi, seperti dari tempe, tahu dan
daging-dagingan atau ikan.
3. Untuk masalah lingkungan tempat tinggal dan rumah yang tidak sehat
dilakukan langkah-langkah :
 Promotif : edukasi penderita dan anggota keluarga untuk membuka
jendela tiap pagi, penggunaan genteng kaca, dan menjaga
kebersihan rumah dan lingkungan rumah. Lantai hendaknya
diplester atau diganti dengan ubin agar mudah dibersihkan..
4. Untuk masalah problem ekonomi, dilakukan langkah-langkah :

45
 Rehabilitatif : Pemerintah hendaknya berupaya pemberian
kesempatan memperoleh pendapatan yang layak, dan membantu
memperkuat kemampuan wanita untuk membina keluarganya,
sehingga diharapkan pada masa yang akan datang dapat terlepas
dari kemiskinan. Karena dengan peningkatan pendapatan
memungkinkan untuk dapat membeli makanan yang lebih baik,
kondisi pemukiman yang lebih sehat, dan pemeliharaan kesehatan
yang lebih baik.

5. Untuk masalah persepsi mengenai penyakit TB, dilakukan langkah-


langkah :
 Promotif : Memberikan pengertian kepada penderita dan anggota
keluarga mengenai penyakit TB bahwa penyakit TB bukan
penyakit keturunan dan merupakan penyakit yang dapat
disembuhkan.

DAFTAR PUSTAKA

46
Aditama TY., (1997). “ Tuberculosis Diagnosa–Terapi dan Permasalahannya”
dalam : Journal Respirologi Indonesia, hal : 1-14.

Aditama TY, (2001). “DOT dan DOTS Plus “ dalam : Temu Ilmiah Respirologi
2001, hal : 10–20.

Agustina , (1996). " Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Penyakit TB


Paru Pada Balita" , Buletin Penelitian Kesehatan, Vol. 24, Jakarta, hal 2-3

Amin M. dkk, (1989). “Tuberkulosis Paru” dalam : Pengantar Ilmu Penyakit


Paru, Airlangga University Press, Surabaya, hal : 13–25.

Anwar M, (1996). "Kesehatan Lingkungan Dan Kemiskinan" dalam : Media


Litbangkes, Vol : VI No.03, hal : 2-12

Asril, (1990). “Tuberkulosis Paru” dalam : Ilmu Penyakit Dalam Jilid II, Balai
Penerbit FK UI, Jakarta, hal : 725–6.

BKKBN, (1993). Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia, BKKBN, Jakarta

Djaeni S., (1990). Ilmu Gizi dalam Pandangan Islam , Penerbit PT. Dian Rakyat,
Jakarta, hal :50-5.

DepKes RI, (2000). Pedoman Nasional dan Penatalaksanaan Tuberkulosa Paru,


DepKes RI, Jakarta.

DepKes RI, (2002). Pedoman Nasional dan Penatalaksanaan Tuberkulosa Paru,


DepKes RI, Jakarta.

Kusnindar, (1993). Pengaruh Pencahayaan dan perhawaan terhadap Penularan


Penyakit Tuberkulosis Paru. Cermin Dunia Kedokteran, No. 84, Jakarta,
hal : 34-38

PDPI, (1998). Pedoman dan Penatalaksanaan Tuberkulosa Paru, Perhimpunan


Dokter Paru Indonesia, Jakarta, hal : 103–6.

Price SA, (1995). “Tuberkulosis Paru-Paru" dalam Patofisiologi Konsep Klinis


Proses Penyakit, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, hal : 753-66.

47
Safari Respirologi Anak, (2001).Tata Laksana Mutakhir Penyakit Respiratorik
Pada Anak , UKK Pulmonologi PP Ikatan Dokter Anak Indonesia, Solo.

Soewasti, (2000). " Hubungan Kondisi Perumahan dengan Penularan Penyakit TB


Paru ", Media Litbang Kesehatan, Vol.X No.2,hal : 27-31

Suhardjo, (1993). "Pengaruh Sikap dan Perilaku Penderita dalam Penularan TB


Paru di Lingkungan Keluarga", Majalah Kesehatan Masyarakat
Indonesia, Tahun XXI, No : 3. Jakarta

Sulistyawati, (1999). " Pengembangan kriteria Rumah Sehat Ditinjau dari Konsep
Sehat-Sakit Rumah Tinggal Tradisional Bali ", Majalah Kedokteran
Udayana, Vol.30 No.103, hal : 9-20

Suradi, (2001). “Diagnosis dan Penatalaksanaan TB Paru” dalam : Temu Ilimiah


Respirologi 2001, hal : 10–15.

Stegen G, at. al.,(1969) Criteria for Guidence in The Diagnosis of Tuberculosis


Pediatric, 43:260-263.

Trastenojo, MS. (1984). " Penyakit Infeksi Saluran Nafas Akut pada Anak", dalam
Kumpulan Pembahasan Makalah Pada Lokakarya Nasional Ke I
Penanggulangan Infeksi Saluran Pernnapasan Akut. Cipanas. 1984

48