Anda di halaman 1dari 42

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Di Indonesia melalui PERMENKES No. 916 tahun 1997 tentang Pelayanan Dokter
Umum diarahkan menjadi pelayanan Dokter Keluarga. Ilmu Kedokteran Keluarga bertujuan
menghasilkan Dokter Keluarga dimasukkan ke dalam KIPDI, yang merupakan bagian dari
Ilmu Kedokteran Komunitas.
Dengan adanya prinsip utama pelayanan Dokter Keluarga secara holistik, maka perlu
diketahui berbagai latar belakang pasien yang menjadi tanggungannya, serta dapat selalu
menjaga kesinambungan pelayanan kedokteran yang dibutuhkan oleh pasien tersebut. Salah
satu diantaranya yang dipandang mempunyai peranan amat penting adalah melakukan
kunjungan rumah (home visit) terhadap pasien dan keluarganya.
Pengetahuan tentang latar belakang pasien antara lain lingkungan serta terwujudnya
pelayanan kedokteran menyeluruh dinilai merupakan kunci pokok keberhasilan pelayanan
Dokter Keluarga, maka merupakan kewajiban bagi setiap dokter untuk memahami serta
terampil melakukan kunjungan pasien di rumah.

B. Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti pembelajaran ini diharapkan mahasiswa mampu melakukan berbagai
tahapan dan prosedur kegiatan kunjungan rumah (home visit) melakukan analisis,
pembahasan, simpulan dan saran sebagai pelaporannya, sebagai bagian dari pelayanan Dokter
Keluarga.

C. Definisi dan Ruang Lingkup


Kunjungan rumah adalah kedatangan petugas kesehatan ke rumah pasien untuk lebih
mengenal kehidupan pasien dan atau memberikan pertolongan kedokteran sesuai dengan
kebutuhan dan tuntutan pasien.
Ruang lingkup kegiatan pada kunjungan rumah adalah untuk lebih mengenal kehidupan
pasien serta lingkungan hidupnya (fisik, sosial dan biologis) bila perlu melakukan
pertolongan kedokteran yang bersifat rawat jalan saja.

D. Macam Kunjungan Rumah


Sesuai dengan tujuannya, dokter keluarga mengunjungi rumah pasien dibagi menjadi
3,yaitu :
1. Kunjungan rumah untuk lebih mengenal kehidupan keluarga pasien
2. Kunjungan rumah untuk memberi pertolongan medis
3. Kunjungan rumah untuk memenuhi panggilan pasien yang minta pertolongan

E. Manfaat

1
Apabila kunjungan di rumah dilakukan dengan sebaik-baiknya, maka akan diperoleh
manfaat sebagai berikut :

1. Lebih meningkatkan pemahaman dokter terhadap pasiennya


2. Lebih meningkatkan hubungan dokter-pasien
3. Lebih menjamin terpenuhinya kebutuhan dan tuntutan kesehatan pasien
4. Lebih meningkatkan kepuasan bila mungkin juga pemberdayaan pasien dan
keluarganya

BAB II
TEKNIS PELAKSANAAN HOME VISIT

A. Tata Cara Home Visit


Untuk lebih mengenal keluarga pasien dan memberi pertolongan medis, maka
perlu :
1. Mempersiapkan daftar nama keluarga yang akan dikunjungi
Keluarga yang akan dikunjungi adalah keluarga dari mereka yang menderita
sakit apa saja (baik penyakit menular maupun tidak menular). Konsultasikan
dulu dengan kepala Puskesmas mengenai topik penyakit yang akan dibahas.
2. Mengatur jadwal kunjungan
Sebaiknya dilakukan pengaturan jadwal kunjungan rumah yang sebaik-baiknya
untuk menghindari kunjungan rumah yang sia-sia karena anggota keluarga
yang akan dikunjungi sedang tidak berada di rumah.
3. Mempersiapkan macam data yang akan dikumpulkan, yaitu berupa form
kunjungan rumah yang akan diisi.
4. Melakukan pengumpulan dan pencatatan data.
Melakukan kunjungan rumah serta mengumpulkan dan mencatat data sesuai
dengan form kunjungan rumah yang sudah tersedia.
5. Menyampaikan nasehat dan atau penyuluhan.
2
Sekalipun tujuan utama kunjungan rumah adalah untuk mengumpulkan data
pasien, namun sangat dianjurkan pada waktu kunjungan rumah tersebut dapat
sekaligus disampaikan nasehat dan ataupun dilakukan penyuluhan kesehatan,
sesuai dengan hasil temuan, misalnya tentang kebersihan perseorangan atau
kebersihan lingkungan pemukiman dan apa yang dapat dilakukan oleh
pasien/keluarganya, terkait upaya promotif dan preventif ataupun kuratif dan
rehabilitatif.
Kunjungan rumah atas panggilan pasien perlu :
1. Tanya lengkap mengenai pertolongan medis yang dibutuhkan pasien
2. Bawa peralatan atau obat yang dibutuhkan pasien

B. Strategi Pembelajaran
1. Tahap Persiapan :
a. Pembekalan materi dan cara pengisian form home visit diberikan pada saat
kuliah pengantar.
b. Kegiatan home visit dilakukan dalam kelompok yang terdiri dari maksimum
4-5 mahasiswa.
- Puskesmas
- Home Visit
c. Tiap dua kelompok di tiap puskesmas dipandu oleh seorang petugas
puskesmas.
d. Jenis kasus dan lokasi home visit sesuai dengan 10 penyakit terbanyak di
wilayah tempat kerja puskesmas masing-masing kelompok.
2. Tahap pelaksanaan :
Home visit dilakukan selama 3 hari untuk mengehui untuk mengetahui keadaan
penyakit pasien (diisi dalam flow sheet). Dalam tahap pelaksanaan yang
dilakukan adalah :
a. Melakukan anamnesis singkat
b. Menyiapkan peralatan dan obat yang diperlukan

3. Tahap pembuatan Laporan :


Setiap kelompok membuat satu laporan lengkap dan akan dipresentasikan
dihadapan dosen pembimbing dan petugas/dokter puskesmas, serta wakil
mahasiswa kelompok lainnya sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan.

4.Tahap penilaian :
Kriteria penilaian meliputi :
a. Mampu melakukan pelayanan kunjungan pasien di rumah
b. Mampu mengisi form hasil kegiatan home visit sesuai dengan panduan
c. Cara penyampaian materi dan media presentasi hasil kunjungan rumah
d. Diskusi dan tanya jawab
3
BAB III
FORMAT LAPORAN

Format laporan meliputi :


1. Halaman cover berisi judul beserta logo UWKS
2. Lembar pengesahan oleh pembimbing
3. Kata pengantar
4. Daftar isi
5. Pendahuluan, meliputi latar belakang, tujuan dan manfaat
6. Hasil kegiatan home visit (mengisi form yang sudah tersedia)
7. Pembahasan
8. Simpulan dan Saran
9. Penutup
10. Daftar Pustaka

Contoh form hasil kegiatan home visit : terlampir

DAFTAR PUSTAKA

Allan H., Lawren A. May, Alber G Muller JR. 1995. Primary Care Medicine. JB
Lipincott Company.

Azwar , A. 1996. Pengantar Pelayanan Dokter Keluarga. Jakarta : Yayasan Penerbit


Ikatan Dokter Indonesia.

4
Azwar, A. 1999. Pemanfaatan Dokter keluarga dalam Pelayanan Kesehatan
Indonesia.
Disampaikan pada Semiloka Standarisasi Pelayanan dan Pelatihan Dokter
Keluarga. Jakarta : PB IDI.

Family Medicine Team of FM-UGM, FM-UNS, FM-UI, and PDKI Pusat Jakarta.
2009. Family Medicine Education and Development in National Health System.
Yogyakarta : Center of Family Medicine.

Jurusan IKM FK UNS. 2002. Modul Kedokteran keluarga : Pelayanan di keluarga.


KK 05. Surakarta : Program Semi Que IV Peningkatan Kualitas Pendidikan
Sarjana dan Manajemen Perguruan Tinggi Indonesia.

Murtagh, J. 1998. General Practice. Mc Graw Hill Company.

Robert B. Taylor. 1993. Family Medicine Principles and Practice. Springer-Verlag.

Wonodirekso, Sugito. 2008. Karir Dokter di Ranah Pelayanan Kesehatan Primer.


Yogyakarta.

Lampiran

FORM HASIL KEGIATAN HOME VISIT


LAPORAN HOME VISIT DOKTER KELUARGA
Berkas Pembinaan Keluarga
Puskesmas Kedundung No. RM : _________________

Tanggal kunjungan pertama kali : 9 July 2013

KARAKTERISTIK DEMOGRAFI KELUARGA


Nama Kepala Keluarga : Tn.Khomari
Alamat lengkap :Jl.Kedungsari,kel.Gunung gedangan RT 02/ RW 03
Bentuk Keluarga : Nuclear/Extended Family

Tabel 1. Daftar Anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah


No Nama Kedudukan L/ Umur Pendidikan Pekerjaan Pasien Ket
dalam P Klinik
keluarga (Y/T)
1 Sumiyati Ibu P 55 th SD IRT T
2 Khoiri Anak L 29 th SLTP Swasta T
3 Khomari Anak L 27 th SLTP Swasta MH (+)

5
4 Darsih Anak P 22 th SLTP IRT T
5 Malik Anak L 25 th SLTP Swasta T Menantu

Sumber :..........
Keterangan Keluarga :...............................

LAPORAN KASUS KEDOKTERAN KELUARGA

6
BAB I
STATUS PENDERITA
A. PENDAHULUAN
Laporan ini diambil berdasarkan kasus yang diambil dari seorang penderita
KUSTA TIPE PB, berjenis kelamin laki-laki dan berusia 27 tahun, dimana penderita
merupakan salah satu dari penderita Kusta yang berada di wilayah Puskesmas
Kedundung, Kabupaten Mojokerto, dengan berbagai permasalahan yang dihadapi.
Mengingat kasus ini beberapa ditemukan di masyarakat khususnya di daerah Puskesmas
Kedundung Kabupaten Mojokerto beserta permasalahannya seperti masih kurangnya
pengetahuan masyarakat tentang Kusta terutama masalah penularannya,resiko dan
mengenai kepatuhan meminum obat Kusta. Oleh karena itu penting kiranya bagi penulis
untuk memperhatikan dan mencermatinya untuk kemudian bisa menjadikannya sebagai
pengalaman di lapangan.

Wilayah Jumlah Kasus th 2013

Kedung sari 5

Meri 0

Tropodo 1

Balung rawe 2

B. IDENTITAS PENDERITA
Nama : Tn. Khomari
Umur :,27 th
7
Jenis kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : Wiraswasta
Pendidikan : SLTP
Agama : Islam
Alamat :Jl.Kedungsari,gunung gedangan 02/03
Suku : Jawa
Tanggal periksa pertama ke puskesmas : 09/07/2013
Tanggal Home Visit :1.27/02/2014 2.03/03/2014 3.05/03/2014
C. ANAMNESIS
1. Keluhan Utama :
Bengkak pada tangan kanan
2. Riwayat Penyakit Sekarang :
Tn.K berusia 27 tahun mengatakan bahwa tangan sebelah kanan
bengkak,sebelum bengkak awal mulanya timbul bercak kemerahan terlebih dahulu
yang muncul ± sejak 6 bln yang lalu ,bengkak tidak terasa nyeri ,kemudian oleh
penderita dibawa berobat ke tukang pijat, setelah dipijat bengkak mengempis tapi
warna kulit makin lama makin menghitam, dan terasa tebal, dan kulit tidak terasa
gatal,kemudian muncul lagi bercak kemerahan pada kaki sebelah kanan bawah pasien,
bercak terasa tebal, penderita tidak mengeluhkan terasa gatal ataupun nyeri pada
bercak dan bercak pada kaki penderita tidak disertai bengkak.Tidak ada bercak yang
timbul dibagian tubuh lain penderita. Pasien mengatakan saat ini masih dalam
perawatan,dan mendapat obat dari puskesmas setiap bulan yang diminum 1x sehari
dan pasien rutin kontrol ke puskesmas dan meminum obat secara rutin sekarang
blister ke-8. Pasien menyangkal adanya rontok bulu mata, alis, dan demam.

3. Riwayat Penyakit Dahulu :


 Riwayat kontak dengan penderita Kusta : disangkal
 Riwayat mondok : (-)
 Riwayat Imunisasi : Tidak lengkap
 Riwayat sakit gula : disangkal
 Riwayat alergi obat/makanan : disangkal
4. Riwayat Penyakit Keluarga :
 Riwayat keluarga dengan penyakit serupa : disangkal
 Riwayat keluarga sakit batuk berdarah : disangkal
 Riwayat sakit sesak nafas : disangkal
 Riwayat hipertensi : disangkal
 Riwayat sakit gula : disangkal
8
5. Riwayat Kebiasaan
 Riwayat merokok : disangkal
 Riwayat Ayah/ibu merokok : disangkal
 Riwayat olah raga : jarang sekali
 Riwayat pengisian waktu luang dengan berbincang bincang dengan keluarga sering
 Riwayat mencuci pakaian dalam satu ember
6. Riwayat Sosial Ekonomi
Penderita adalah anak ketiga dari pasangan suami istri, Tn L. dan Ny. M. Ayah
dan ibu penderita tinggal di sebuah rumah yang berpenghuni 5 orang (penderita,
ibu,kakak, dan adik dan adik ipar). Penderita adalah pekerja di sebuah perusahaan
meubel di mojokerto. Ayah penderita sudah meninggal karena sakit demam berdarah .
Ibu penderita adalah seorang ibu rumah tangga dan pemilik dari sebuah warung kecil
yang letaknya tak jauh dari rumah. Sumber pendapatan keluarga didapatkan dari
Penderita dan kakak penderita dengan total penghasilan rata-rata perbulan ±Rp.
900.000,-.
7. Riwayat Gizi :
Pasien makan-makanan cukup dan mendapat asupan protein serta serat yang cukup.

D. ANAMNESIS SISTEM
1. Kulit : warna kulit sawo matang, kulit gatal (-),likenifikasi (+),ulkus (+)
2. Kepala : sakit kepala (-), pusing (-), rambut kepala tidak rontok, luka pada
kepala (-), benjolan/borok di kepala (-)
3. Mata : pandangan mata berkunang-kunang (-), penglihatan kabur (-),
ketajaman baik,lafgothalmus (-)
4. Hidung : tersumbat (-), mimisan (-)
5. Telinga : pendengaran berkurang (-), berdengung (-), keluar cairan (-)
6. Mulut : sariawan (-), mulut kering (-), lidah terasa pahit
7. Tenggorokan : sakit menelan (-), serak (-)
8. Pernafasan : sesak nafas (-), batuk lama (-), mengi (-), batuk darah (-)
9. Kadiovaskuler : berdebar-debar (-), nyeri dada (-), ampeg (-)
10. Gastrointestinal : mual (-), muntah (-), diare (-), nafsu makan menurun (-), nyeri
perut (-),BAB tidak ada keluhan
11. Genitourinaria : BAK lancar, warna dan jumlah biasa

9
12. Neuropsikiatri : Neurologik : kejang (-), lumpuh (-)
Psikiatrik : emosi stabil, mudah marah (-)

13. Muskuloskeletal : kaku sendi (-), nyeri tangan dan kaki (-), nyeri otot (-)
14. Ekstremitas : Atas : bengkak (-), sakit (-)
Bawah : bengkak (-), sakit (-)

E. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan Umum : Baik
2. Tanda Vital dan Status Gizi
 Tanda Vital
Nadi :87x/mnt
Pernafasan :20x/mnt
Suhu :36 ºC
Tensi : 120/80 mmHg
 Status gizi ( Kurva NCHS ) :
BB :50 kg
TB :160 cm
3. Kulit
Warna : Sawo matang, ikterik(-), sianosis (-)
Kepala : Bentuk mesocephal, tidak ada luka, rambut tidak mudah dicabut, atrofi
m. temporalis(-), makula (-), papula (-), nodula (-), kelainan mimik
wajah/bells palsy (-)
4. Mata
Conjunctiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil isokor (3mm/3mm), reflek kornea (+/+),
warna kelopak (coklat kehitaman), katarak (-/-), radang/conjunctivitis/uveitis (-/-).
5. Hidung
Nafas cuping hidung (-), sekret (-), epistaksis (-), deformitas hidung (-),
hiperpigmentasi (-), sadle nose (-)
6. Mulut
Bibir pucat (-), bibir kering (-), lidah kotor (-), papil lidah atrofi (-), tepi lidah
hiperemis (-), tremor (-)
7. Telinga
Nyeri tekan mastoid (-), sekret (-), pendengaran berkurang (-), cuping telinga dalam
batas normal
8. Tenggorokan : Tonsil membesar (-), pharing hiperemis (-)
9. Leher : JVP (5+2) cmH2O tidak meningkat, trakea ditengah, pembesaran kelenjar
tiroid (-), pembesaran kelenjar limfe (-)

10
10. Thoraks
Simetris/asimetris, retraksi interkostal (+/-), retraksi subkostal (+/-)
a. Cor :I : ictus cordis tak tampak
P : ictus cordis tak kuat angkat
P : batas kiri atas : SIC II 1 cm lateral LPSS
batas kanan atas : SIC II LPSD
batas kiri bawah : SIC V 1 cm lateral LMCS
batas kanan bawah : SIC IV LPSD
batas jantung, kesan : tidak melebar
A: BJ I–II intensitas normal, regular, bising (-)

b. Pulmo : Statis (depan dan belakang)


I : pengembangan dada kanan sama dengan kiri
P : fremitus raba kiri sama dengan kanan
P : sonor/sonor
A: suara dasar vesikuler (+/+)
suara tambahan RBK (-/-), whezing (-/-)
Dinamis (depan dan belakang)
I : pergerakan dada kanan sama dengan kiri
P : fremitus raba kiri sama dengan kanan
P : sonor/sonor
A: suara dasar vesikuler (+/+)
suara tambahan RBK (-/-), whezing (-/-)
11. Abdomen
I : dinding perut sejajar dengan dinding dada, venektasi (-)
P : supel, nyeri tekan (-), hepar dan lien tak teraba
P : timpani seluruh lapang perut
A : peristaltik (+) normal
12. Sistem Collumna Vertebralis
I : deformitas (-), skoliosis (-), kiphosis (-), lordosis (-)
P : nyeri tekan (-)
P : NKCV (-)
13. Ektremitas: palmar eritema (-/-)
akral dingin oedem
- - - -
- - - -

14. Sistem genetalia: dalam batas normal


15. Pemeriksaan Neurologik
Fungsi Luhur : dalam batas normal
Fungsi Vegetatif : dalam batas normal
Fungsi Sensorik : hipoestesi pada regio extremitas superior dextra dan inferior
dextra
11
Fungsi motorik

K 5 5 T N N RF N N RP - -
5 5 N N N N - -
KEKUATAN TONUS REFLEKS REFLEKS
OTOT FISIOLOGIS PATOLOGIS

16. Pemeriksaan Psikiatrik


Penampilan : sesuai umur, perawatan diri cukup
Kesadaran : kualitatif tidak berubah; kuantitatif compos mentis
Orientasi : Waktu : baik
Tempat : baik
Orang : baik
Afek : appropriate
Psikomotor : normoaktif
Proses pikir : Bentuk : realistik
Isi : waham (-), halusinasi (-), ilusi (-)
Arus : koheren
Intelegensi ( berhitung memori) : baik
Waham : tidak ada
Persepsi (Halusinasi) : tidak ada
Insight : baik

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tes Sensoris : Dengan menggunakan kertas yang dilinting dan digoreskan pada lesi
Tes pensil tinta : Tidak dilakukan
Tes Serologis : Skin Smear Test (+2) dilakukan pada tgl 08/07/2013

G. RESUME
Seorang laki-laki usia 27 tahun dengan keluhan muncul bercak kemerahan
pada tangan sebelah kanan yang kemudian menjadi bengkak ± sejak 6 bln yang
lalu,bengkak tidak disertai rasa nyeri,kemudian pasien berobat ke tukang pijat,setelah
dipijit bengkak mengempis tapi warna kulit menghitam, dan lama kelamaan terasa
tebal,kulit tidak terasa apa-apa waktu tercubit dan tidak terasa gatal. Penderita adalah
anak ketiga dari pasangan suami istri, Tn. L dan Ny. S Ayah dan ibu penderita tinggal
di sebuah rumah yang berpenghuni 5 orang termasuk penderita.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum tampak sakit sedang, compos
mentis, status gizi kesan kurang. Tanda vital T:120/80 mmHg, N: 87 x/menit, Rr: 20
x/menit, S:360C, BB:50 kg, TB:160 cm, status gizi  Gizi kurang. Dari pemeriksaan
fisik didapatkan Likenifikasi pada tangan dan kaki (+/-), ulkus pada kaki kanan (+). Pada
pemeriksaan penunjang tes sensoris (+).

12
H. PATIENT CENTERED DIAGNOSIS
1. Diagnosis Biologis : a. Kusta type MB
b.Status Gizi rendah
2. Diagnosis Psikologis : -
3. Diagnosis Sosial Ekonomi dan Budaya :
a. Status ekonomi kurang.
b. Penyakit mengganggu aktifitas sehari-hari.
c. Kondisi lingkungan dan rumah yang tidak sehat.

I. PENATALAKSANAAN
1. Non Medikamentosa / Non Farmakologis :
a. Bed Rest tidak total
Diharapkan agar penderita mengurangi aktivitas berat yang dapat mengurangi
daya tahan tubuh penderita serta banyak istirahat.
b.Avoidance
Diharapkan agar tangan ataupun bagian tubuh yang lain penderita jangan
sampai terjadi luka. Karena luka-luka ditangan biasanya disebabkan hanya
oleh kelalaian misalnya ; terbakar oleh api rokok,terkena benda panas atau api
pada waktu memasak atau lecet-lecet ketika rnengerjakan sesuatu, karena alat
yang bergagang (berpegangan) kasar dan keras
c.Olah raga
Diharapkan penderita dapat menjaga kesehatan tubuhnya dengan melakukan
olah raga ringan seperti jalan pagi hari di lingkungan sekitar.
d. Mengurangi stress tertentu
Diharapkan penderita mendapat motivasi yang adekuat dari keluarga untuk
kesembuhan penderita salah satunya dengan cara lebih banyak memberikan
perhatian dan meluangkan waktu untuk berbincang-bincang, dan lebih
mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.
e. Perawatan Diri
Diharapkan untuk penderita supaya merawat diri seperti memberikan lotion
pada kulit yang terinfeksi supaya kulit tidak kering dan pecah-pecah akibat
kelenjar keringat yang mengalami gangguan sekresi bias pula dengan
merendam bagian kulit yang kering atau luka kemudian mengoleskan minyak

13
goreng atau minyak kelapa yang dioleskan secara teratur dan merawat ulkus
dengan cara merendam dengan air hangat dan kemudian digosok dengan
menggunakan kasa.

2. Medikamentosa / Farmakologis :
 MDT-MB 12 blister dalam waktu 12-18 bulan

J. FOLLOW UP
Tanggal : 27 February 2014
S : Penderita merasa tangan dan kaki terasa tebal dan terdapat ulkus pada kaki kanan
bawah, nyeri (-),pusing (-),mual (-), makan (+) baik,mual (-)
O : KU sedang, compos mentis, gizi kurang
Tanda vital :T : 120/80 mmHg R :20 x/menit

N : 87 x/menit S :36 0C

Status Generalis : Mata : a/i/c/d -/-/-/-

Mulut : Papil lidah atrofi (-/-)

Pulmo : dbn

Tes N.Sensoris : - N. Ulnaris dextra mengalami pembesaran konsistensi kenyal,


nyeri tekan (-)
- Pemeriksaan anastesi terhadap rasa raba pada tempat lesi (+)
dari pada kulit normal
Status Neurologis : dalam batas normal.
Status Mentalis : dalam batas normal
A Kusta type MB (dalam pengobatan fase intensif)
P Terapi medikamentosa berupa MDT-MB, non medika mentosa selain itu juga
dilakukan patient centered management: dukungan psikologis, penentraman hati,
penjelasan, basic konseling pada keluarga dan edukasi pasien untuk perawatan diri
dan merawat ulkus dengan cara merendam dengan air hangat dan kemudian digosok
dengan menggunakan kasa.

Tanggal 03 Maret 2014


S : Penderita merasa tangan dan kaki terasa tebal dan luka pada kaki kanan bawah belum
sembuh, nyeri (-),pusing (-),mual (-), makan (+) baik,mual (-)
O : KU sedang, compos mentis, gizi kurang
14
Tanda vital :T : 120/70 mmHg R :20 x/menit

N : 88 x/menit S :36 0C

Status Generalis : Mata : a/i/c/d -/-/-/-

Mulut : Papil lidah atrofi (-/-)

Pulmo : dbn

Tes N.Sensoris : - N. Ulnaris dextra mengalami pembesaran konsistensi kenyal,


nyeri tekan (-)
- Pemeriksaan anastesi terhadap rasa raba pada tempat lesi (+)
dari pada kulit normal
Status Neurologis : dalam batas normal.
Status Mentalis : dalam batas normal
A : Kusta type MB (dalam pengobatan fase intensif)
P : Terapi medikamentosa berupa MDT-MB, non medika mentosa selain itu juga
dilakukan patient centered management: dukungan psikologis, penentraman hati,
penjelasan, basic konseling pada keluarga dan edukasi pasien untuk perawatan diri
dan merawat ulkus dengan cara merendam dengan air hangat dan kemudian digosok
dengan menggunakan kasa.

Tanggal 05 Maret 2014

S : Penderita masih merasa tangan dan kaki terasa tebal dan luka pada kaki kanan bawah
(+), nyeri (-),pusing (-),mual (-), makan (+) baik,mual (-)
O : KU sedang, compos mentis, gizi kurang
Tanda vital :T : 120/80 mmHg R :21 x/menit

N : 87 x/menit S :36 0C

Status Generalis : Mata : a/i/c/d -/-/-/-

Mulut : Papil lidah atrofi (-/-)

Pulmo : dbn

Tes N.Sensoris : - N. Ulnaris dextra mengalami pembesaran konsistensi kenyal,


nyeri tekan (-)

15
- Pemeriksaan anastesi terhadap rasa nyeri pada tempat lesi (+)
dari pada kulit normal.

Status Neurologis : dalam batas normal.


Status Mentalis : dalam batas normal
A : Kusta type MB (dalam pengobatan fase intensif)
P : Terapi medikamentosa berupa MDT-MB, non medika mentosa selain itu juga
dilakukan patient centered management: dukungan psikologis, penentraman hati,
penjelasan, basic konseling pada keluarga dan edukasi pasien untuk perawatan diri
dan merawat ulkus dengan cara merendam dengan air hangat dan kemudian digosok
dengan menggunakan kasa.

Keterangan :
S = Data Subjektif
Masalah yang dikemukakan dan dikeluhkan atau yang dirasakan sendiri oleh pasien
O = Data Objektif
Berbagai tanda klinik dan fakta yang berhubungan dengan diagnosis, meliputi data
fisiologis dan informasi dari pemeriksaan. Data info dapat diperoleh melalui wawancara,
observasi, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan diagnostik laboratorium.
A = Pengkajian (Assesment)
Analisis data subjektif dan objektif dalam menentukan masalah pasien.
P = Perencanaan
Pengembangan rencana segera atau untuk yang akan datang dari intervensi tindakan
untuk
mencapai status kesehatan optimal.

FLOW SHEET
Nama : Tn. Khomari
Diagnosis : Kusta Type MB

NO Tanggal Tensi BB TB Status Foto Rontgen KET


mm Gizi
Hg Kg Cm
1 27/02/20 120/80 50 160 Gizi Kurang Tidak dilakukan
14
2 03/03/20 120/70 50 160 Gizi Kurang
14
3 05/03/20 120/80 50 160 Gizi Kurang
14

16
BAB II
IDENTIFIKASI BERBAGAI FUNGSI KELUARGA

A. FUNGSI KELUARGA
1. Fungsi Biologis :
Keluarga terdiri dari penderita, Ibu (Ny.S,55 tahun), Saudara laki-
laki/Kakak (Tn.K,29 tahun), Saudara perempuan/Adik(Ny.D,22 tahun), dan Adik
ipar (Tn.M, 25 tahun). Ayah penderita meninggal sekitar 5 tahun karena usia tua.
Penderita tinggal serumah ibu, kakak laki-laki, dan adik perempuan dan adik ipar
laki-laki..
2. Fungsi Psikologis :
Tn.K tinggal serumah dengan ibu,kakak laki-laki,dan adik perempuan dan
adik ipar laki-laki (Ny.Sumiyati, T.Khoiri, Ny.Darsih, Tn.Malik). Hubungan keluarga
mereka terjalin cukup akrab, terbukti dengan permasalahan-permasalahan yang dapat

17
diatasi dengan baik dalam keluarga ini. Hubungan diantara mereka cukup dekat antara
satu dengan yang lain. Penderita adalah karyawan dari pabrik meubel di daerah
Kedundung yang durasi kerjanya dari pagi hingga sore hari. Penderita merupakan
salah satu dari tulang punggung di keluarga selain kakak penderita. Permasalahan
yang timbul dalam keluarga dipecahkan secara musyawarah dan dicari jalan tengah,
serta dibiasakan sikap saling tolong menolong baik fisik, mental, maupun jika ada
salah seorang di antaranya yang menderita kesusahan. Meskipun penghasilan mereka
tak berkecukupan, namun mereka tetap hidup bahagia dan memasrahkan semuanya
kepada Tuhan
3. Fungsi Sosial :
Penderita adalah seorang pemuda pendiam dan agak pemalu, anggota
masyarakat biasa, tidak mempunyai kedudukan sosial tertentu dalam masyarakat.
Kedua orang tua penderita kurang aktif dalam kegiatan sosial di masyarakat karena
lebih senang berada di rumah, namun penderita tetap mengikuti kegiatan lainnya
seperti gotong royong dan ronda. Dalam kesehariannya penderita bergaul dengan
masyarakat di sekitarnya seperti halnya anggota masyarakat yang lain. Kegiatan-
kegiatan yang harus mengeluarkan biaya terlalu tinggi merupakan faktor penghambat
lain bagi keluarga ini untuk aktif dalam kegiatan sosial, selain karena merasa kurang
mampu baik dari materi maupun status sosial.
4. Fungsi Ekonomi dan Pemenuhan Kebutuhan :
Penghasilan keluarga berasal dari penghasilan dari penderita yang bekerja di
pabrik meubel dan kakak penderita dengan total penghasilan sebesar ±Rp 900.000,00
perbulannya.
Penghasailan tersebut juga digunakan untuk membiayai ibu dan satu orang adik
perempuan yang tinggal serumah dengan penderita. Untuk biaya hidup sehari-hari seperti
makan, minum, air atau iuran membayar listrik hanya mengandalkan uang yang ada dan
tidak pernah menyisihkannya untuk menabung ataupun biaya-biaya mendadak (seperti
biaya pengobatan dan lain-lain). Untuk kebutuhan air dengan menggunakan pompa air.
Untuk memasak memakai kompor minyak atau kayu bakar. Makan sehari-hari lauk pauk,
kadang daging, buah dan frekuensi makan kadang-kadang 2-3 kali. Kalau ada keluarga
yang sakit biasa berobat ke puskesmas, dan penderita sudah mempunyai kartu sehat
5. Fungsi Penguasaan Masalah dan Kemampuan Beradaptasi :
Penderita termasuk anak yang tertutup,hanya menceritakan permasalahannya
kepada ibunya karena penderita merasa nyaman untuk bercerita pada ibunya,penderita
juga dekat dengan ayahnya sewaktu ayah masih hidup.
18
B. APGAR SCORE
1. Adaptation
Selama ini dalam menghadapi masalah keluarga, pasien selalu pertama kali
membicarakannya kepada ibunya dan mengungkapkan apa yang diinginkannya dan
menjadi keluhannya. Baik keluhan tentang penyakitnya maupun tentang sekolah.
Penyakitnya ini kadang mengganggu aktivitasnya sehari-hari baik waktu bekerja dan
pada saat dirumah. Dukungan dari orang-orang orang tua, keluarga dan petugas
kesehatan yang sering memberi penyuluhan kepadanya, keluarganya yang menjaganya
sangat memberinya motivasi untuk sembuh dan teratur minum obat, karena penderita dan
keluarga yakin penyakitnya bisa sembuh total bila ia mematuhi aturan pengobatan sampai
sakitnya benar-benar sembuh dan tidak sampai terjadi putus obat agar tidak terjadi relaps
atau kambuh kembali. Hal ini menumbuhkan kepatuhan penderita dalam mengkonsumsi
obat

2. Partnership
Tn. K mengerti bahwa ia adalah salah satu harapan keluarga karena selain sebagai tulang
punggung keluarga penderita adalah seorang pekerja keras dan disayang oleh ibunya.
Selain itu ibu dan keluarganya meyakinkannya bahwa ia bisa sembuh kembali,
komunikasi antar anggota keluarga masih berjalan dengan baik.
3. Growth
Tn. K sadar bahwa ia harus bersabar menghadapi penyakitnya walaupun kadang
menganggunya terutama dalam pergaulan di masyarakat karena membuatnya kurang
percaya diri.
4. Affection
Tn. K merasa hubungan kasih sayang dan interaksinya dengan ibu cukup meskipun
hanya berada dirumah setelah bekerja. Bahkan perhatian yang dirasakannya bertambah.
Ia menyayangi keluarganya, begitu pula sebaliknya.
5. Resolve
Tn. K merasa cukup puas dengan kebersamaan dan waktu yang ia dapatkan dari
keluarganya walaupun waktu yang tersedia tidak banyak karena penderita harus bekerja
dan kadang harus melembur sampai malam. Pada hari minggu atau hari libur besar lebih
banyak dihabiskan untuk beristirahat atau berkumpul dengan keluarga di rumah.

19
APGAR Tn. Khomari Sering Kadang Jarang/tidak
/selalu -kadang
A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke 
keluarga saya bila saya menghadapi
masalah
P Saya puas dengan cara keluarga saya 
membahas dan membagi masalah dengan
saya
G Saya puas dengan cara keluarga saya 
menerima dan mendukung keinginan saya
untuk melakukan kegiatan baru atau arah
hidup yang baru
A Saya puas dengan cara keluarga saya 
mengekspresikan kasih sayangnya dan
merespon emosi saya seperti kemarahan,
perhatian dll
R Saya puas dengan cara keluarga saya dan 
saya membagi waktu bersama-sama

Total score : 9 point


Kesimpulan : fungsi keluarga dalam keadaan baik

Tn. Khomari adalah seorang karyawan di perusahaan meubel di wilayah


Kedundung. Penderita bekerja dari pagi hingga sore bahkan terkadang lembur,
sehingga waktu bertemu dengan keluarga terbatas bahkan sesampainya di rumah
terkadang penderita keluar hanya untuk sekedar ngobrol dengan temannya, sehingga
kadang sulit untuk membagi waktu untuk bersama-sama.

20
C. SCREEM Tn.Khomari
SUMBER PATHOLOGY KET
Sosial Interaksi sosial yang baik antar anggota keluarga juga +
dengan saudara partisipasi mereka dalam masyarakat
cukup meskipun banyak keterbatasan.
Cultural Kepuasan atau kebanggaan terhadap budaya baik, hal ini +
dapat dilihat dari pergaulan sehari-hari baik dalam
keluarga maupun di lingkungan, banyak tradisi budaya
yang masih diikuti. Sering mengikuti acara yang bersifat
hajatan, sunatan, nyadran dll. Menggunakan bahasa jawa,
tata krama dan kesopanan
Religius Pemahaman agama cukup. Namun penerapan ajaran -
Agama menawarkan
agama kurang, hal ini dapat dilihat dari penderita dan
pengalaman spiritual
yang baik untuk orang tua hanya menjalankan sholat sesekali saja. Sebelum
ketenangan individu
sakit penderita rutin belajar mengaji di sore hari di masjid
yang tidak
didapatkan dari yang dekat rumah.
lain
Ekonomi Ekonomi keluarga ini tergolong menengah ke bawah, +
untuk kebutuhan primer sudah bisa terpenuhi, meski
belum mampu mencukupi kebutuhan sekunder rencana
ekonomi tidak memadai, diperlukan skala prioritas untuk
pemenuhan kebutuhan hidup
Edukasi Pendidikan anggota keluarga kurang memadai. Tingkat +
pendidikan dan pengetahuan orang tua masih rendah.
Kemampuan untuk memperoleh dan memiliki fasilitas
pendidikan seperti buku-buku, koran terbatas.
Medical Tidak mampu membiayai pelayanan kesehatan yang lebih +
Pelayanan kesehatan
baik Dalam mencari pelayanan kesehatan keluarga ini
puskesmas
biasanya menggunakan Puskesmas dan hal ini mudah
memberikan
dijangkau karena letaknya dekat.
21
perhatian khusus
terhadap kasus
penderita

Kesimpulan yang didapat :


 Ekonomi (+) artinya keluarga Tn. Khomari masih menghadapi permasalahan
dalam hal perekonomian keluarga. Hal ini dapat dilihat dari pemenuhan
kebutuhan sehari-hari yang pas-pasan dan belum dapat memnuhi kebutuhan
sekunder dan tertiernya.
 Edukasi (+) artinya keluarga Tn. Khomari juga menghadapi permasalahan di
bidang pendidikan, dimana penderita hanyalah seorang lulusan SLTP dan
kurang mengerti tentang cara hidup sehat, dan kurangnya pendidikan ini
mempengaruhi tingkat pekerjaan penderita.
 Medical (+) artinya keluarga Tn. Khomari juga menghadapi permasalahan
dalam bidang kesehatan, Tn. Khomari sering tidak memperhatikan kebersihan
diri dan lingkungan yang merupakan salah satu factor penularan penyakit yang
diderita penderita.

D. KARAKTERISTIK DEMOGRAFI KELUARGA


Alamat lengkap : Jl.Kedungsari,gunung gedangan 02/03
Bentuk Keluarga : Nuclear/Extended Family
Diagram 1. Genogram Keluarga .............................
Dibuat tanggal 27 February 2014

22
X

Tn.Lamijo/5 th
Ny.Sumiyati/55 th
Tn. Khomari/27 th
Etnis Jawa
Ibu Rumah Tangga
Karyawan pabrik
Etnis Jawa
Etnis Jawa

Sumber informasi / Responden : Data Primer ,27 February 2014


Keterangan :
Penderita : Khomari Penderita

Tn. Lamijo : Ayah Penderita (Alm)


Ny. Sumiyati : Ibu Penderita

E. Informasi Pola Interaksi Keluarga :

Tn.Khomari

Tn. 57 th (Alm) Ny. 56 th

Keterangan : : hubungan baik


: hubungan tidak baik

F. Pertanyaan Sirkuler ( misalnya penderita adalah seorang anak)


1. Ketika penderita jatuh sakit apa yang harus dilakukan oleh ibu?

23
Jawab :
Ibu merawat penderita dan mensupport penderita saat sakit
2. Ketika ibu bertindak seperti itu apa yang dilakukan ayah?
Jawab :
Ayah sudah meninggal dunia sebelum penderita sakit
3. Ketika ayah seperti itu apa yang dilakukan anggota keluarga yang lain?
Jawab :
Tidak Ada
4. Kalau butuh dirawat/operasi ijin siapa yang dibutuhkan?
Jawab :
Dibutuhkan ijin ibu karena beliaulah satu-satunya orang tua yang tersisa disamping
itu beliau adalah anggota keluarga yang paling dekat
5. Siapa anggota keluarga yang terdekat dengan penderita?
Jawab :
Anggota keluarga yang dekat dengan penderita adalah ibu. Walaupun waktu yang
tersedia untuk bertemu ibu tidak banyak namun penderita selalu menyampaikan
keinginannya ataupun keluhannya kepada ibu
6. Selanjutnya siapa ?
Jawab :
Tidak ada karena kakak penderita maupun adik penderita sibuk.
7. Siapa yang secara emosional jauh dari penderita?
Jawab :
Adik penderita karena dia pemalu.
8. Siapa yang selalu tidak setuju dengan pasien?
Jawab :
Tidak ada, karena sebagian besar keputusan di dalam keluarga diputuskan bersama.
9. Siapa yang biasanya tidak setuju dengan anggota keluarga lainnya?
Jawab :
Tidak ada, karena keluarga penderita saling mendukung.

24
BAB III
IDENTIFIKASI BERBAGAI FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
KESEHATAN

A. Identifikasi Faktor Perilaku dan Non Perilaku Keluarga


1. Faktor Perilaku Keluarga
Tn. K adalah seorang anak dari pasangan Tn. L dan Ny. S. Penderita sekarang
bekerja sebagai salah satu karyawan di perusahaan meubel di wilayah Kedundung.
Ayah penderita meninggal dunia sekitar 5 tahun yang lalu, penderita sekarang
merupakan salah satu tulang punggung dari keluarga selain kakak penderita yang juga
bekerja. Ibu penderita dan adik penderita kadang menjaga warung yang letaknya tak
jauh dari rumah. Keluarga penderita tidak banyak memiliki pengetahuan tentang
kesehatan khususnya tentang Kusta sendiri dan pentingnya kebersihan lingkungan
yang berhuubungan erat dengan penyakit penderita.
Menurut semua anggota keluarga ini, yang dimaksud dengan sehat adalah
keadaan terbebas dari sakit, yaitu yang menghalangi aktivitas sehari-hari. Keluarga
ini menyadari pentingnya kesehatan karena apabila mereka sakit, mereka menjadi
tidak dapat bekerja lagi sehingga otomatis pendapatan keluarga akan berkurang dan
menjadi beban anggota keluarga lainnya. Keluarga ini meyakini bahwa sakitnya
disebabkan oleh kuman penyakit, bukan dari guna-guna, sihir, atau supranatural/
takhayul. Mereka tidak terlalu mempercayai mitos, apalagi menyangkut masalah
penyakit, lebih mempercayakan pemeriksaan atau pengobatannya pada mantri, bidan,
atau dokter di puskesmas yang terletak dekat dengan rumah.
Walaupun perabot rumah tidak tertata dengan rapi namun Keluarga ini berusaha
menjaga kebersihan lingkungan rumahnya misalnya dengan menyapu rumah dan
halaman paling tidak sehari dua kali, pagi dan sore.
Keluarga ini sudah memiliki fasilitas jamban yang terpisah dari kamar mandi
menunjukkan bahwa keluarga dan penderita sudah mengetahui pentingnya sarana
jamban dan kamar mandi untuk kesehatan.
2. Faktor Non Perilaku

25
Dipandang dari segi ekonomi, keluarga ini termasuk keluarga menengah ke
bawah. Keluarga ini memiliki dua sumber penghasilan yaitu dari penderita dan
kakak penderita dan warung milik keluarga. Dari total semua penghasilan tersebut
keluarga dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari walaupun belum semua
kebutuhan dapat terpenuhi terutama kebuthan sekunder dan tertier. Rumah yang
dihuni keluarga ini kurang memadai karena masih ada kekurangan dalam pemenuhan
standar kesehatan. Beberapa lantai sudah diubin dan beberapa dilapisi oleh semen,
pencahayaan ruangan kurang, ventilasi kurang, serta belum adanya got pembuangan
limbah keluarga. Sampah keluarga dibuang ditempat pembuangan sampah yang ada
di belakang rumah. Fasilitas kesehatan yang sering dikunjungi oleh keluarga ini jika
sakit adalah Puskesmas Kedundung.

B. Identifikasi Lingkungan Rumah


1. Gambaran Lingkungan
Keluarga ini tinggal di sebuah rumah berukuran 15x6 m2 yang berdempetan
dengan rumah tetangganya dan menghadap ke Utara. Tidak memiliki pekarangan
rumah dan pagar pembatas. Terdiri dari ruang kamar tamu yang sekaligus
digunakan sebagai ruang keluarga dan menonton TV, dua kamar tidur, satu dapur
sekaligus ruang makan yang jarang digunakan,satu kamar mandi yang terpisah
dengan jamban. Terdiri dari 2 pintu keluar, yaitu 1 pintu depan dan 1 pintu
belakang. Jendela ada 5 buah, diruang tamu dan jendela kecil sekali di kamar tidur
penderita.Di depan rumah terdapat teras yang berukuran 4x2 m2. Lantai rumah
sebagian besar terbuat dari bahan semen dan pada bagian dapur dan gudang
berlantaikan tanah. Ventilasi dan penerangan rumah masih kurang. Atap rumah
tersusun dari genteng dan hanya beberapa yang ditutup plafon. Masing-masing
kamar memiliki dipan untuk meletakan kasur. Dinding rumah terbuat dari
batubata dan semen namun belum dicat. Perabotan rumah tangga minim. Sumber
air untuk kebutuhan sehari-harinya keluarga ini menggunakan mesin pompa air.
Secara keseluruhan kebersihan rumah masih kurang. Sehari-hari keluarga
memasak menggunakan kompor minyak dan kadang menggunakan kayu bakar
yang biasa disimpan di gudang dan belakang rumah

2. Denah Rumah :

26
27
BAB IV
DAFTAR MASALAH

1. Masalah aktif :
a. Kusta type MB
b. Kondisi ekonomi lemah
c. Pengetahuan penderita yang kurang tentang penyakit penderita
d. Resiko penularan pada anggota keluarga yang lain
2. Faktor risiko :
a. Status gizi kurang
b. Lingkungan dan tempat tinggal yang tidak sehat

DIAGRAM PERMASALAHAN KESEHATAN PASIEN


(Menggambarkan hubungan antara timbulnya masalah kesehatan yang ada dengan berbagai
faktor risiko yang ada dalam kehidupan pasien)

Kondisi ekonomi
lemah

Tingkat pendidikan TN. KHOMARI/27 TH -Lingkungan dan


orang tua masih rumah yang tidak
rendah sehat
Persepsi orang tua
dan yang salah
ttg penyakitnya

-Kurang menjaga kebersihan


diri
Kondisi ekonomi lemah
-PrevensiBAB
untuk V
anggota
keluarga lainnya
PATIENT MANAGEMENT

I. PATIENT CENTERED MANAGEMENT


1. Dukungan Psikologis
Pasien memerlukan dukungan psikologis mengenai faktor-faktor yang dapat
menimbulkan kepercayaan baik pada diri sendiri maupun kepada dokternya. Antara lain
dengan cara :
28
a. Memberikan perhatian pada berbagai aspek masalah yang dihadapi.
b. Memberikan perhatian pada pemecahan masalah yang ada. Memantau kondisi fisik
dengan teliti dan berkesinambungan.
c. Memantau kondisi fisik dengan teliti dan berkesinambungan.
d. Timbulnya kepercayaan dari pasien, sehingga timbul pula kesadaran dan
kesungguhan untuk mematuhi nasihat-nasihat dari dokter.
Pendekatan Spiritual, diarahkan untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan YME,
misalnya dengan rajin ibadah, berdoa dan memohon hanya kepada Tuhan YME.
Dukungan psikososial dari keluarga dan lingkungan merupakan hal yang harus dilakukan.
Bila ada masalah, evaluasi psikologis dan evaluasi kondisi sosial, dapat dijadikan titik
tolak program terapi psikososial.
2. Penentraman Hati
Menentramkan hati diperlukan untuk pasien dengan problem psikologis antara
lain yang disebabkan oleh persepsi yang salah tentang penyakitnya, kecemasan,
kekecewaan dan keterasingan yang dialami akibat penyakitnya. Menentramkan hati
penderita dengan memberikan edukasi tentang penyakitnya bahwa penyakitnya
tersebut bukan penyakit turunan dan dapat disembuhkan. Faktor yang paling penting
untuk kesembuhannya adalah ketekunan dalam menjalani pengobatan sesuai petunjuk
dokter. Selain itu juga didukung dengan makan makanan yang bergizi tinggi
meskipun sederhana, istirahat yang cukup. Diharapkan pasien bisa berpikir positif,
tidak berprasangka buruk terhadap penyakitnya, dan membangun semangat hidupnya
sehingga bisa mendukung penyembuhan dan meningkatkan kualitas hidupnya
3. Penjelasan, Basic Konseling dan Pendidikan bagi Pasien
Diberikan penjelasan yang benar mengenai persepsi yang salah tentang
KUSTA.. Pasien KUSTA dan keluarganya perlu tahu tentang penyakit, pengobatannya,
pencegahan dan penularannya. Sehingga persepsi yang salah dan merugikan bisa
dihilangkan. Hal ini bisa dilakukan melalui konseling setiap kali pasien kontrol dan
melalui kunjungan rumah baik oleh dokter maupun oleh petugas Yankes.
Beberapa persepsi yang harus diluruskan yaitu :
a. Penyakit KUSTA merupakan penyakit turunan.
b. Penyakit KUSTA tidak dapat disembuhkan.
Maka pasien harus diberi pengertian untuk terus mengupayakan
kesembuhannya melalui program pengobatan dan rehabilitasi yang dianjurkan oleh
dokter. Juga harus dilakukan pendalaman terhadap berbagai masalah penderita termasuk

29
akibat penyakitnya (KUSTA) terhadap hubungan dengan keluarganya, pemberian
konseling jika dibutuhkan. Penderita juga diberi penjelasan tentang pentingnya menjaga
diet TKTP yang benar dalam rangka mencapai berat badan ideal, pentingnya olah raga
yang teratur dan sebagainya.

4. Menimbulkan rasa percaya diri dan tanggung jawab pada diri sendiri
Dokter perlu menimbulkan rasa percaya dan keyakinan pada diri pasien bahwa ia
bisa melewati berbagai kesulitan dan penderitaannya. Selain itu juga ditanamkan rasa
tanggung jawab terhadap diri sendiri mengenai kepatuhan dalam jadwal kontrol,
keteraturan minum obat, diet yang dianjurkan dan hal-hal yang perlu dihindari serta yang
perlu dilakukan.

5. Pengobatan
Medikamentosa dan non medikamentosa seperti yang tertera dalam penatalaksanaan.

6. Pencegahan dan Promosi Kesehatan


Hal yang tidak boleh terlupakan adalah pencegahan dan promosi kesehatan
berupa perubahan tingkah laku (tidak mencuci baju bersamaan dengan baju
keluarga), lingkungan (tempat tinggal yang tidak boleh lembab dengan penggunaan
ventilasi yang cukup, pemakaian genteng kaca sehingga pencahayaan cukup dan
kebersihan lingkungan rumah dan luar rumah yang bersih dengan disapu 2x/hari),
meningkatkan daya tahan tubuh dengan cara diet makanan bergizi dan olah raga
yang teratur. Dengan demikian paradigma yang salah tentang penyakit KUSTA di
masyarakat dapat diluruskan.

II. PREVENSI ELIMINASI PENYAKIT UNTUK KELUARGA LAINNYA DAN


LINGKUNGAN.
Pada prinsipnya secara umum prevensi untuk bebas Kusta keluarga adalah sama
dengan prevensi bebas Kusta untuk penderita, namun dalam hal ini diutamakan untuk
meningkatkan daya tahan tubuh. Misalnya dengan cara sebagai berikut :
1. Bagi keluarga jangan terlalu dekat ‘cukup intim’ dengan anggota keluarga yang lain
(ibu kakak dan kelurga lainnya), apalagi saat mencuci pakaian, usahakan untuk
memisahkan baju penderita dengan baju anggota keluarga..
2. Istirahat yang cukup 6-8 sehari semalam.
3. Olah raga teratur dan makan-makanan yang bergizi.
4. Usahakan membuka jendela setiap pagi agar sirkulasi udara lancar
30
Kesemuanya ini merupakan langkah-langkah untuk meningkatkan daya tahan tubuh bagi
anggota keluarga yang serumah dengan penderita agar tidak tertular infeksi Kusta dari
penderita

BAB VI
TINJAUAN PUSTAKA
MORBUS HANSEN (KUSTA)
A. Definisi
Istilah kusta berasal dari bahasa sansekerta, yakni kushtha berarti kumpulan
gejala-gejala kulit secara umum. Penyakit kusta disebut juga Morbus Hansen, sesuai
dengan nama yang menemukan kuman yaitu Dr. Gerhard Armauwer Hansen pada
tahun 1874 sehingga penyakit ini disebut Morbus Hansen.
B. Sejarah
Pendapat kusta adalah penyakit menular yang menahun dan disebabkan oleh
kuman kusta (Mycobacterium Leprae) yang menyerang saraf tepi, kulit dan jaringan
tubuh lainnya. Penyakit ini sering kali menimbulkan masalah yang sangat kompleks.
Masalah yang dimaksud bukan hanya dari segi medis tetapi meluas sampai masalah
sosial, ekonomi, budaya, keamanan dan ketahanan nasional. Penyakit kusta bukan
penyakit keturunan atau kutukan Tuhan.
C. Penyebaran Penyakit Kusta
Penyakit ini diduga berasal dari Afrika atau Asia Tengah yang kemudian
menyebar keseluruh dunia lewat perpindahan penduduk ini disebabkan karena perang,
penjajahan, perdagangan antar benua dan pulau-pulau. Berdasarkan pemeriksaan
kerangka-kerangka manusia di Skandinavia diketahui bahwa penderita kusta ini
31
dirawat di Leprosaria secara isolasi ketat. Penyakit ini masuk ke Indonesia
diperkirakan pada abad ke IV-V yang diduga dibawa oleh orang-orang India yang
datang ke Indonesia untuk menyebarkan agamanya dan berdagang.
D. Penyebab Penyakit Kusta
Penyakit kusta disebabkan oleh kuman yang dimakan sebagai microbakterium,
dimana microbacterium ini adalah kuman aerob, tidak membentuk spora, berbentuk
batang yang tidak mudah diwarnai namun jika diwarnai akan tahan terhadap
dekolorisasi oleh asam atau alkohol sehingga oleh karena itu dinamakan sebagai basil
“tahan asam”. Selain banyak membentuk safrifit, terdapat juga golongan organism
patogen (misalnya Microbacterium tubercolose, mycrobakterium leprae) yang
menyebabkan penyakit menahun dengan menimbulkan lesi jenis granuloma infeksion
E. Epidemiologi Penyakit Kusta
Cara-cara penularan penyakit kusta sampai saat ini masih merupakan tanda
tanya. Yang diketahui hanya pintu keluar kuman kusta dari tubuh si penderita, yakni
selaput lendir hidung. Tetapi ada yang mengatakan bahwa penularan penyakit kusta
adalah:
a. Melalui sekret hidung, basil yang berasal dari sekret hidung penderita yang sudah
mengering, diluar masih dapat hidup 2–7 x 24 jam.
b. Kontak kulit dengan kulit. Syarat-syaratnya adalah harus dibawah umur 15 tahun,
keduanya harus ada lesi baik mikoskopis maupun makroskopis, dan adanya kontak
yang lama dan berulang-ulang. Klinis ternyata kontak lama dan berulang-ulang ini
bukanlah merupakan faktor yng penting. Banyak hal-hal yang tidak dapat di
terangkan mengenai penularan ini sesuai dengan hukum-hukum penularan seperti
halnya penyakit-penyaki terinfeksi lainnya. Menurut Cocrane (1959), terlalu
sedikit orang yang tertular penyakit kusta secara kontak kulit dengan kasus-kasus
lepra terbuka. Menurut Ress (1975) dapat ditarik kesimpulan bahwa penularan dan
perkembangan penyakit kusta hanya tergantung dari dua hal yakni jumlah atau
keganasan Mocrobakterillm Leprae dan daya tahan tubuh penderita. Disamping itu
faktor-faktor yang berperan dalam penularan ini adalah :
 Usia : Anak-anak lebih peka dari pada orang dewasa
 Jenis kelamin : Laki-laki lebih banyak dijangkiti
 Ras : Bangsa Asia dan Afrika lebih banyak dijangkiti

32
 Kesadaran sosial :Umumnya negara-negara endemis kusta adalah negara dengan
tingkat sosial ekonomi rendah
 Lingkungan : Fisik, biologi, sosial, yang kurang sehat
F. Tanda-tanda Penyakit Kusta
Tanda-tanda penyakit kusta bermacam-macam, tergantung dari tingkat atau
tipe dari penyakit tersebut. Di dalam tulisan ini hanya akan disajikan tanda-tanda
secara umum tidak terlampau mendetail, agar dikenal oleh masyarakat awam, yaitu:
Adanya bercak tipis seperti panu pada badan/tubuh manusia Pada bercak putih ini
pertamanya hanya sedikit, tetapi lama-lama semakin melebar dan banyak. Adanya
pelebaran syaraf terutama pada syaraf ulnaris, medianus, aulicularis magnus seryta
peroneus. Kelenjar keringat kurang kerja sehingga kulit menjadi tipis dan mengkilat.
Adanya bintil-bintil kemerahan (leproma, nodul) yang tersebar pada kulit Alis rambut
rontok Muka berbenjol-benjol dan tegang yang disebut facies leomina (muka singa).
Gejala-gejala umum pada lepra, reaksi :
 Panas dari derajat yang rendah sampai dengan menggigil.
 Anoreksia.
 Nausea, kadang-kadang disertai vomitus.
 Cephalgia.
 Kadang-kadang disertai iritasi, Orchitis dan Pleuritis.
 Kadang-kadang disertai dengan Nephrosia, Nepritis dan hepatospleenomegali.
 Neuritis.

G. Diagnosa Penyakit Kusta


Menyatakan (mendiagnosa seseorang menderita penyakit kusta menimbulkan
berbagai masalah baik bagi penderita, keluarga atapun masyarakat disekitarnya).Bila
ada keraguan-raguan sedikit saja pada diagnosa, penderita harus berada dibawah
pengamatan hingga timbul gejala-gejala yang jelas, yang mendukung bahwa penyakit
itu benar-benar kusta. Diagnosa kusta dan kelasifikasi harus dilihat secara menyeluruh
dari segi :
a. Klinis
b. Bakteriologis
c. Immunologis
d. Hispatologis
33
Namun untuk diagnosa kusta di lapangan cukup dengan ananese dan
pemeriksaan klinis. Bila ada keraguan dan fasilitas memungkinkan sebaiknya
dilakukan pemeriksaan bakteriologis. Kerokan dengan pisau skalpel dari kulit, selaput
lendir hidung bawah atau dari biopsi kuping telinga, dibuat sediaan mikrokopis pada
gelas alas dan diwarnai dengan teknis Ziehl Neelsen. Biopsi kulit atau saraf yang
menebal memberikan gambaran histologis yang khas. Tes-tes serologik bukan
treponema untuk sifilis sering menghasilkan positif palsu pada lepra.
 Bentuk-bentuk Penyakit Kusta
Penyakit kusta terdapat dalam bermacam-macam bentuk, yakni bentuk leproma
mempunyai kelainan kulit yang tersebar secara simetris pada tubuh. Untuk ini
menular karena kelainan kulitnya mengandung banyak kuman. Bentuk tuber koloid
mempunyai kelainan pada jaringan syaraf, yang mengakibatkan cacat pada. tubuh.
Bentuk ini tidak menular karena kelainan kulitnya mengandung sedikit kuman.
Diantara bentuk leproma dan tuber koloid ada bentuk peralihan yang bersifat tidak
stabil dan mudah berubah-ubah.
Kriteria diagnosis menurut WHO :

NO TANDA/GEJALA PB MB

1 Jumlah bercak kusta 1-5 >5

2 Jumlah syaraf yang terlihat 1 >1

3 BTA Negatif Positif

Kelainan Kulit dan hasil PB MB


pemeriksaan

34
1.Bercak (makula mati
rasa)

a. Ukuran Kecil dan besar Kecil-kecil

b. Distribusi Unilateral atau bilateral asimetris Bilateral simetris

c. Konsistensi Kering dan kasar Halus,berkilat

d. Batas Tegas Kurang Tegas

e.Kehilangan rasa pada Selalu ada dan jelas Biasanya tidak jelas,jika ada terjadi
bercak yang sudah lanjut

Kehilangan kemampuan Selalu ada dan jelas Biasanya tidak jelas,jika ada,terjadi
berkeringat,bulu rontok yang sudah lanjut
pada bercak

2. Infiltrat PB MB

a.Kulit Tidak ada Ada,kadang-kadang tidak ada

b.Membrana Tidak pernah ada Ada,kadang-kadang tidak ada


mukosa(hidung
tersumbat,perdarahan di
hidung)

35
c. Ciri-ciri Central healing(penyembuhan di-Punched out lesion(lesi bentuk seperti
tengah) donat)
-Madarosis
-Ginekomasti
-Hidung pelana
-Suara sengau

d. Nodulus Tidak ada Kadang-kadang ada

e. Deformitas Biasanya asimetris,terjadi dini Biasanya simetris,terjadinya lambat

ALUR DIAGNOSIS KUSTA

CARDINAL SIGN

ADA RAGU TDK ADA

KUSTA RAGU- BUKAN


RAGU KUSTA

Jumlah bercak, TERSANGKA


penebalan saraf
gangguan fungsi
36
atau

BTA OBSERVASI
3-6 BULAN
Bercak≤5, Bercak >5
saraf 1 Saraf >1
BTA (-) BTA (+)

CARDINAL
SIGN

PB MB ADA TDK ADA RAGU

RUJUK

H. Pengobatan Penyakit Kusta


Pengobatan penyakit kusta dilakukan dengan Dapson sejak tahun 1952 di
Indonesia, memperhatikan hasil yang cukup memuaskan, hanya saja pengobatan
monoterapi ini sering mengakibatkan timbul masalah resistensi, hal ini disebabkan
oleh karena :
 Dosis rendah pengobatan yang tidak teratur dan terputus akibat dari lepra
reaksi
 Waktu makan obat sangat lama sehingga akibatnya penderita minum tidak
teratur
Selain penggunaan Dapson (DDS), pengobatan penderita kusta dapat menggunakan
Lamprine (B663), Rifanficin, Prednison, Sulfat Feros dan vitamin A (untuk
menyehatkan kulit yarlg bersisik). Setelah penderita menyelesaikan pengobatan MDT

37
sesuai dengan peraturan maka ia akan menyatakan RFT (Relasif From Treatment),
yang berarti tidak perlu lagi makan obat MDT dan dianggap sudah sembuh.
Sebelum penderita dinyatakan RFT, petugas kesehatan harus :
a) Mengisi dan menggambarkan dengan jelas pada lembaran tambahan RFT secara
teliti.
 Semua bercak masih Nampak
 Kulit yang hilang atau kurang rasa terutama ditelapak kaki dan tangan.
 Semua syaraf yang masih tebal.
 Semua cacat yang masih ada
 Mengambil skin semar (sesudah skin semarnya diambil maka penderita
langsungdinyatakan RFT tidak perlu menunggu hasil skin semar).
b) Mencatat data tingkat cacat dan hasil pemeriksaan skin semar dibuku register
Pada waktu menyatakan RFT kepada penderita, petugas harus memberi
penjelasan tentang arti dan maksud RFT, yaitu :
- Pengobatan telah selesai.
- Penderita harus memelihara tangan dan kaki dengan baik agar janga sampai
luka.
- Bila ada tanda-tanda baru, penderita harus segera datang untuk periksaan
ulang.

I. PENCEGAHAN PENULARAN PENYAKIT KUSTA


Hingga saat ini tidak ada vaksinasi untuk penyakit kusta. Dari hasil penelitian
dibuktikan bahwa kuman kusta yang masih utuh bentuknya, lebih besar kemungkinan
menimbulkan penularan dibandingkan dengan yang tidak utuh. Jadi faktor pengobatan
adalah amat penting dimana kusta dapat dihancurkan, sehingga penularan dapat
dicegah. Disini letak salah satu peranan penyuluhan kesehatan kepada penderita untuk
menganjurkan kepada penderita untuk berobat secara teratur. Pengobatan kepada
penderita kusta adalah merupakan salah satu cara pemutusan mata rantai penularan.
Kuman kusta diluar tubuh manusia dapat hidup 24-48 jam dan ada yang berpendapat
sampai 7 hari, ini tergantung dari suhu dan cuaca diluar tubuh manusia tersebut.
Makin panas cuaca makin cepatlah kuman kusta mati. Jadi dalam hal ini pentingnya
sinar matahari masuk ke dalam rumah dan hindarkan terjadinya tempat-tempat yang

38
lembab. Ada beberapa obat yang dapat menyembuhkan penyakit kusta. Tetapi kita
tidak dapat menyembuhkan kasus-kasus kusta kecuali masyarakat mengetahui ada
obat penyembuh kusta, dan mereka datang ke Puskesmas untuk diobati. Dengan
demikian penting sekali agar petugas kusta memberikan penyuluhan kusta kepada
setiap orang,materi penyuluhan kusta kepada setiap orang, materi penyuluhan
berisikan pengajaran bahwa :
a. Ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit kusta
b. Sekurang-kurangnya 80 % dari semua orang tidak mungkin terkena kusta
c. Enam dari tujuh kasus kusta tidaklah menular pada orang lain
d.Kasus-kasus menular tidak akan menular setelah diobati kira-kira 6 bulan
secara teratur
e. Diagnosa dan pengobatan dini dapat mencegah sebagian besar cacat fisik
J. MASALAH-MASALAH YANG DITIMBULKAN AKIBAT PENYAKIT KUSTA
Seseorang yang merasakan dirinya menderita penyakit kusta akan mengalami
trauma psikis. Sebagai akibat dari trauma psikis ini, si penderita antara lain sebagai
berikut :
a. Dengan segera mencari pertolongan pengobatan.
b.Mengulur-ulur waktu karena ketidaktahuan atau malu bahwa ia atau
keluarganya menderita penyakit kusta

BAB VII
PENUTUP

A. KESIMPULAN
1. Segi Biologis :
 Tn. K (27 tahun), menderita penyakit Kusta type PB  (dalam pengobatan
fase intensif)
 Status gizi Tn. K berdasarkan NCHS termasuk dalam kategori Gizi kurang
 Rumah dan lingkungan sekitar keluarga Tn. K tidak sehat
2. Segi fisik :
 Hubungan antara anggota keluarga dan anggota masyarakat yang terjalin
cukup akrab, harmonis, dan hangat
 Pengetahuan akan Kusta yang masih kurang yang berhubungan dengan tingkat
pendidikan yang masih rendah
39
 Tingkat kepatuhan dalam mengkonsumsi obat yang baik, mendukung untuk
penyembuhan penyakit tersebut
3. Segi Psikologis :
 Problem ekonomi menjadi kendala utama dalam keluarga ini yang
berpengaruh pada ketidakmampuan mendapatkan pelayanan dan informasi
tentang kesehatan keluarga juga untuk dapat mempunyai fasilitas sanitasi,
rumah yang sesuai dengan standart kesehatan
4. Segi Sosial :
 Rumah dan lingkungan sekitar keluarga Tn. K tidak sehat
SARAN
1. Untuk masalah medis (Kusta) dilakukan langkah-langkah :
 Preventif : Melindungi dan menjaga tangan yang anastesi (mungkin pula
yang telah cacat). Agar jangan tangannya sampai terjadi luka. Karena luka-
luka ditangan biasanya disebabkan hanya oleh kelalaian misalnya ; terbakar
oleh api rokok,terkena benda panas atau api pada waktu memasak atau lecet-
lecet ketika rnengerjakan sesuatu, karena alat yang bergagang (berpegangan)
kasar dan keras.
 Promotif : edukasi penderita dan keluarga mengenai Kusta dan
pengobatannya oleh petugas kesehatan atau dokter yang menangani.
 Kuratif : saat ini penderita memasuki pengobatan fase intensif dengan
menggunakan MDT-MB
 Rehabilitatif : mengembalikan kepercayaan diri Tn.K sehingga tetap memiliki
semangat untuk sembuh dan bekerja dengan baik.
2. Untuk masalah status gizi yang masuk kategori Gizi kurang, dilakukan .langkah-
langkah
 Promotif : edukasi penderita mengenai pola makan yang memenuhi gizi yang
seimbang dan diberi pengarahan agar dalam menyiapkan makanan sehari-hari
selalu memperhatikan masalah gizi makanannya dan kebersihannya,
diusahakan yang sederhana tetapi mengandung gizi yang cukup.
 Kuratif : mengkonsumsi makanan yang mengandung banyak kalori dan
protein untuk menjaga daya tahan tubuh. Konsumsi protein yang mencukupi,
seperti dari tempe, tahu dan daging-dagingan atau ikan.
3. Untuk masalah lingkungan tempat tinggal dan rumah yang tidak sehat dilakukan
langkah-langkah :

40
 Promotif : edukasi penderita dan anggota keluarga untuk membuka jendela
tiap pagi, penggunaan genteng kaca, dan menjaga kebersihan rumah dan
lingkungan rumah. Lantai hendaknya diplester atau diganti dengan ubin agar
mudah dibersihkan.
4. Untuk masalah problem ekonomi, dilakukan langkah-langkah :
 Rehabilitatif : Pemerintah hendaknya berupaya pemberian kesempatan
memperoleh pendapatan yang layak, dan membantu memperkuat kemampuan
wanita untuk membina keluarganya, sehingga diharapkan pada masa yang
akan datang dapat terlepas dari kemiskinan. Karena dengan peningkatan
pendapatan memungkinkan untuk dapat membeli makanan yang lebih baik,
kondisi pemukiman yang lebih sehat, dan pemeliharaan kesehatan yang lebih
baik.

5. Untuk masalah persepsi mengenai penyakit Kusta, dilakukan langkah-langkah :


 Promotif : Memberikan pengertian kepada penderita dan anggota keluarga
mengenai penyakit Kusta bahwa penyakit Kusta bukan penyakit keturunan
dan merupakan penyakit yang dapat disembuhkan.
DAFTAR PUSTAKA

1. Siregar, R.S. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit. Edisi Kedua, Cetakan Pertama.
EGC : Jakarta. 2005.

2. Depkes RI. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2006. Departemen Kesehatan Republik
Indonesia : Jakarta. 2008

3. WHO. Guide to Eliminate Leprosy as A Public Health Problem. First Edition. World
Health Organization : USA. 2000. Accessed on February 20, 2013. Available at :
http://www.who.int/lep/resources/Guide_Int_E.pdf

4. Djuanda, S. Hamzah, M. Aisah, S. editor. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi
Keenam, Cetakan Kedua. Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia :
Jakarta. 2011

5. ILEP. How to Diagnose and Treat Leprosy. The International Federation of Anti-Leprosy
Association : London. 2002. Accessed on February 20, 2013. Available at :
http://www.ilep.org.uk/fileadmin/uploads/Documents/Learning_Guides/lg1eng.pdf
41
6. Wolff, K. Goldsmith, L.A. Katz, S.I. Gilchrest, B.A. Paller, A.S. Leffel, D.J. editors.
Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine. Seventh Edition. McGraw-Hill : New
York. 2008.

42