Anda di halaman 1dari 22

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Penelitian dilakukan di RSUD Ajibarang pada tanggal 26 Juni 2019

sampai dengan 13 Juli 2019 dengan karakteristik sebaran responden sebagai

berikut :

1. Distribusi frekuensi pasien operasi berdasarkan umur

Tabel 4.1 Distribusi frekuensi pasien operasi berdasarkan umur

Karakteristik Responden f %
Umur
0-5th 1 1,0
5-11th 4 4,1
12-16th 6 6,2
17-25th 12 12,4
26-35th 20 20,6
36-45th 16 16,5
46-55th 19 19,6
56-65th 12 12,4
>65th 7 7,2
Jumlah 97 100,0
Gambar 4.1 Distribusi frekuensi pasien operasi berdasarkan umur

Tabel dan diagram diatas menunjukan bahwa dari 97 responden

yang menjalani operasi 37,1% berumur 26-45 tahun, 32% berumur

46-65 tahun dan 18,6% berumur 12-25 tahun serta untuk umur lebih

dari 65 tahun sebesar 7,2% sedangkan umur 6-11 tahun dan 0-5 tahun

masing-masing sebesar 4,1% dan 1%.

2. Distribusi frekuensi pasien operasi berdasrkan jenis kelamin

Tabel 4.2 Distribusi frekuensi pasien operasi berdasarkan jenis kelamin

Karakteristik Responden f %
Jenis Kelamin
Laki-laki 49 50,5
Perempuan 48 49,5
Jumlah 97 100,0
Gambar 4.2 Distribusi frekuensi pasin operasi berdasarkan jenis kelamin

Tabel dan diagram diatas menunjukkan bahwa dari 97 pasien

yang menjalani operasi 49 orang atau 50,5% nya berjenis kelamin

laki-laki dan selebihnya yaitu 48 orang atau 49,5% berjenis kelamin

perempuan.

3. Distribusi frekuensi menggigil pada pasien operasi

Tabel 4.3 Distribusi frekuensi menggigil pada pasien operasi


Karakteristik Responden f %
Kejadian Menggigil
YA 41 42,3
Tidak 56 57,7
Jumlah 97 100,0
BSAS
Tidak menggigil 56 57,7
Ringan 17 17,5
Sedang 20 20,6
Berat 4 4,1
Jumlah 97 100,0
Gambar 4.3 Diagram distribusi frekuensi menggigil pada pasien operasi.

Dari tabel dan gambar diatas didapatkan bahwa pasien yang

menjalani operasi 56 orang (57,7%) tidak menggigil, 20 orang

(20,6%) menggigil dengan skala sedang, 17 orang (17,5%) menggigil

dengan skala ringan serta 4 orang (4,1%) pasien menggigil dengan

skala berat.

4. Distribusi frekuensi pasien menggigil berdasarkan umur

Tabel 4.4 Distribusi frekuensi menggigil berdasrkan umur


Tidak menggigil Menggigil
Umur
f % f % Total %
0-5th 1 1,0 0 0,0 1 1,0
5-11th 2 2,1 2 2,1 4 4,1
12-16th 3 3,1 3 3,1 6 6,2
17-25th 7 7,2 5 5,2 12 12,4
26-35th 14 14,4 6 6,2 20 20,6
36-45th 8 8,2 8 8,2 16 16,5
46-55th 10 10,3 9 9,3 19 19,6
56-65th 8 8,2 4 4,1 12 12,4
>65th 3 3,1 4 4,1 7 7,2
Jumlah 56 57,7 41 42,3 97 100,0
Dari tabel diatas didapatkan 14 orang pada rentang umur 26-35

tahun tidak mengalami menggigil, umur 36-45 tahun 8 orang tidak

menggigil, umur 46-55 tahun 10 orang tidak menggigil, umur >65

tahun 3 orang tidak menggigil, umur 17-25 tahun terdapat 7 orang

tidak mengalami menggigil, umur 12-16 tahun tahun terdapat 3 orang

tidak mengggil sedangkan rentang umur 6-11 tahun dan umur 0-5

tahun masing-masing terdapat 2 orang dan 1 orang tidak mengalami

menggigil.

Dari tabel diatas juga dapat diketahui 6 orang pada rentang

umur 26-35 tahun mengalami menggigil, 8 orang pada rentang umur

36-45 tahun mengalami menggigil, umur 46-55 tahun 9 orang

menggigil, umur 56-65 tahun 4 orang menggigil. Umur 12-16 tahun

terdapat 3 orang mengalami menggigil. Umur >65 tahun terdapat 4

orang. Sedangkan rentang umur 6-11 tahun yang mengalami

menggigil ada 2 orang. Untuk umur 0-5 tahun tidak ada responden

yang mengalami menggigil.

5. Distribusi frekuensi pasien menggigil berdasarkan jenis kelamin

Tabel 4.5 Distribusi frekuensi menggigil pada pasien operasi

Jenis Tidak menggigil Menggigil

Kelamin f % f % Total %
Laki-laki 25 25,8 24 24,7 49 50,5
Perempuan 31 32,0 17 17,5 48 49,5
Jumlah 56 57,7 41 42,3 97 100,0
Tabel diatas menunjukan ada 25 orang dengan jenis kelamin

laki-laki tidak mengalami menggigil dan untuk jenis kelamin

perempuan terdapat 31 orang yang tidak mengalami menggigil.

Sedangkan untuk responden yang mengalami menggigil ada 24 orang

degan jenis kelamin laki-laki dan 17 orang perempuan..

6. Distribusi frekuensi pasien menggigil berdasarkan indeks masa tubuh

Tabel 4.6 Distribusi frekuensi menggigil berdasarkan indeks masa tubuh


Tidak menggigil Menggigil
IMT
f % f % Total %
<17kg/m2 4 4,1 3 3,1 7 7,2
17-23kg/m2 20 20,6 20 20,6 40 41,2
23-27kg/m2 19 19,6 14 14,4 33 34,0
>27kgm2 13 13,4 4 4,1 17 17,5
Jumlah 56 57,7 41 42,3 97 100,0

Tabel diatas menunjukan bahwa ada 56 reponden yang tidak

menggigil dengan sebaran indeks masa tubuh 17 kg/m2 (4 oarang), 17-

23 kg/m2 (20 orang), 23-27 kg/m2 (19 orang) dan indeks masa tubuh

> 27 kg/m2 (13 orang). Adapun responden yang menggigil sebanyak

41 orang dengan sebaran indeks masa tubuh <17 kg/m2 4 orang

menggigil. Indeks masa tubuh 17-23 kg/m2 terdapat 20 orang

menggigil. Indeks masa tubuh 23-27 kg/m2 terdapat 14 orang

menggigil. Untuk indeks masa tubuh >27 kg/m2 hanya ada 4 orang

menggigil.
7. Distribusi frekuensi pasien menggigil berdasarkan jenis anestesi

Tabel 4.7 Distribusi frekuensi menggigil berdasarkan jenis anestesi


Tidak
Jenis menggigil Menggigil
Anestesi
f % f % Total %
GA 27 27,8 21 21,6 48 49,5
Spinal 29 29,9 20 20,6 49 50,5
Jumlah 56 57,7 41 42,3 97 100,0

Dari tabel di atas didapatkan bahwa responden yang menjalani

operasi dengan general anestesi ada 27 orang yang tidak menggigil

dan spinal anestesi sebanyak 29 orang tidak mengalami menggigil.

Sedangkan responden yang mengalami menggigil untuk general

anestesi sebanyak 21 orang, dengan spinal anestesi 20 orang.

8. Distribusi frekuensi pasien menggigil berdasarkan keseriusan operasi

Tabel 4.8 Distribusi frekuensi menggigil berdasarkan keseriusan operasi

Jenis Tidak menggigil Menggigil

Operasi f % f % Total %
Mayor 26 26,8 24 24,7 50 51,5
Minor 30 30,9 17 17,5 47 48,5
Jumlah 56 57,7 41 42,3 97 100,0

Tabel diatas menunjukan dari responden yang menjalani operasi

mayor 26 orang tidak menggigil dan operasi minor 30 orang tidak

menggigil. Sedangkan untuk responden yang menjalani operasi

mayor mengalami menggigil ada 17 orang. Adapun responden yang

menjalani operasi minor ada 17 orang mengalami menggigil.


9. Distribusi frekuensi pasien menggigil berdasarkan lama operasi

Tabel 4.9 Distribusi frekuensi menggigil berdasarkan lama operasi

Lama Tidak menggigil Menggigil

Operasi f % f % Total %
<60 menit 45 46,4 19 19,6 64 66,0

≥60 menit 11 11,3 22 22,7 33 34,0

Jumlah 56 57,7 41 42,3 97 100,0

Tabel diatas menunjukan responden yang menjalani operasi

dengan lama operasi <60 menit tidak mengalami menggigil sebanyak

45 orang. Lama operasi >60 menit tidak mengalami menggigil

sebanyak 11 orang. Adapun responden yang mengalami menggigil

sebaranya sebagai berikut: operasi dengan lama operasi <60 menit

mengalami menggigil sebanyak 19 orang. Lama operasi ≥60 menit

mengalami menggigil sebanyak 13 orang.

10. Distribusi frekuensi pasien menggigil berdasarkan suhu kamar operasi

Tabel 4.810 Distribusi frekuensi menggigil berdasarkan suhu kamar operasi

Suhu kamar Tidak menggigil Menggigil

operasi f % f % Total %
19-21oC 19 19,6 13 13,4 32 33,0
21-22oC 37 38,1 28 28,9 65 67,0
Jumlah 56 57,7 41 42,3 97 100,0

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa responden yang

menjalani operasi pada suhu kamar operasi 19-21o C ada 13 orang

yang menggigil, sedangkan yang menjalani operasi pada suhu kamar

operasi 21-22o C ada 28 orang menggigil. Adapun yang tidak


menggigil ada 37 orang pada suhu kamar operasi 21-22o C dan 19

orang pada suhu kamar operasi 19-21o C

B. Pembahasan

1. Karakteristik pasien menggigil menurut umur

Hasil penelitian diatas menunjukan bahwa rentang umur 46-55

tahun responden mengalami menggigil terbanyak yaitu 9 orang atau

9,3% dari responden yang ada, hal ini sesuai dengan hasil penelitian

Masitoh 2017 di ruang IBS RSUD Kota Yogyakarta menyatakan

bahwa umur lansia awal (46-55 tahun) adalah umur yang paling

banyak mengalami menggigil pasca operasi / anestesi. Penelitian

yang dilakukan tantarto 2015 di Ruang pemulihan COT RSHS juga

menyatakan bahwa usia lansia awal (46-55 tahun) usia yang paling

banyak mengalami menggigil pasca operasi/ anestesi.

2. Karakteristik pasien menggigil berdasarkan jenis kelamin

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jenis kelamin laki-laki

lebih banyak mengalami menggigil. Dari data yang diperoleh ada 24

orang dari jenis kelamin laki-laki mengalami menggigil atau 24,7%

dari total sampel. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan

oleh Masitoh 2017 di ruang IBS RSUD Kota Yogyakarta bahwa jenis

kelamin laki-laki lebih banyak mengalami kejadian shivering daripada

perempuan sebesar 30%.


3. Karakteristik pasien menggigil berdasarkan indeks masa tubuh.

Jika dilihat dari penelitian ini maka jumlah responden dengan

indeks masa tubuh dalam kategori normal (17-23kg/m2), gemuk (23-

27 kg/m2) dan obesitas ( >27kg/m2) lebih banyak dari responden

dengan kategori kurus (<17kg/m2), tapi bisa dilihat bahwa semakin

besar indeks masa tubuhnya maka semakin sedikit mengalami

menggigil. Hal ini sejalan dengan penelitian yang disampaikan Ozer,

dkk tahun 2016 yang menyatakan bahwa jaringan lemak subkutan

abdominal yang besar dalam obesitas merupakan penghalang yang

mencegah perpindahan panas dan dilindungi dari normothermia.

Dalam penelitiannya Ozer, dkk tahun 2016 menemukan bahwa suhu

inti menurun pada pasien non-obesitas, dan normothermia lebih

terlindungi selama anestesi, yang diketahui mengganggu

thermoneutrality.

4. Karakteristik pasien menggigil berdasarkan jenis anestesi

Pada penelitian ini didapatkan bahwa perbedaan antara pasien

yang mendapatkan anestesi spinal dan general anestesi yang

mengalami mengigil tidak terlampau banyak, untuk spinal anestesi

ada 20 responden atau 20,6% sedangkan general anestesi 21 orang

atau 21,6%. Hal ini tidak bertentangan dengan apa yang disampaikan

Sarrim & Budiono tahun 2011 dimana kejadian menggigil pasca

anetesi dilaporkan sekitar 5-65% pada pasien yang menjalani anestesi

umum dan 33-56,7% pada pasien yang menjalani anestesi spinal.


5. Karakteristik pasien menggigil berdasarkan keseriusan operasi

(mayor dan minor)

Hasil dari penelitian ini dapat diketahui bahwa responden yang

menjalani operasi mayor lebih banyak mengalami menggigil daripada

responden yang menjalani operasi minor, dengan prosentase

menggigil 24,7% untuk operasi mayor dan 17,5% untuk operasi

minor. Hasil ini sejalan dengan apa yang disampaikan Buggy &

Crossley, tahun 2000 bahwa jenis operasi besar mayor yang

membuka rongga tubuh, misal pada operasi rongga toraks, atau

abdomen, akan sangat berpengaruh pada angka kejadian hipotermi.

Operasi abdomen dikenal sebagai penyebab hipotermi karena

berhubungan dengan operasi yang berlangsung lama, insisi yang luas

dan sering membutuhkan cairan guna membersihkan ruang

peritoneum. Keadaan ini mengakibatkan kehilangan panas yang

terjadi ketika permukaan tubuh pasien yang basah serta lembab,

seperti perut yang terbuka dan juga luasnya paparan permukaan kulit

6. Karakteristik pasien menggigil berdasarkan lama operasi

Pada penilitian ini didapatkan hasil responden yang menjalani

operasi selama ≥60 menit lebih banyak yang mengalami menggigil

yakni 22,7% sedangkan responden yang lama operasinya <60 menit

hanya 19,6%. Penelitian ini tentu sejalan dengan sebuah penelitian

Vanesa et al, tahun 2009 yang menjelaskan adanya hubungan lama

durasi anestesi dan operasi dengan timbulnya hipotermia. Makin lama


durasi anestesi dan operasi, maka suhu tubuh dapat semakin rendah

sehingga dapat memicu terjadinya shivering atau menggigil. Hasil ini

juga diperkuat dengan penelitian Masithoh dkk tahun 2017 di ruang

IBS RSUD Kota Yogyakarta yang menyatakan kejadian shivering

atau mengigil lebih banyak ditemukan pada responden yang menjalani

operasi >60 menit.

7. Karakteristik pasien menggigil berdasarkan suhu kamar operasi

C. Variabel Penelitian

Variabel adalah ukuran atau ciri yang dimiliki oleh anggota-anggota suatu

kelompok yang berbeda dengan yang dimiliki oleh kelompok lain

(Notoatmodjo, 2010). Variabel dependen dalam penelitian ini adalah

menggigil atau shivering sedangkan variabel independennya adalah umur,

jenis kelamin, IMT, jenis operasi, jenis anestesi dan lama durante operasi.

D. Definisi Operasional

Definisi Operasional merupakan variabel operasional yang

dilakukan penelitian berdasarkan karakteristik yang diamati. Definisi

operasional ditentukan berdasarkan parameter ukuran dalam penelitian.

Definisi operasional mengungkapkan variabel dari skala pengukuran

masing-masing variabel tersebut (Donsu, 2016).


Tabel 3.1 Definisi Operasional Penelitian
No Variabel Definisi Alat Ukur Kategori Skala
Operasional Ukur
1. Menggigil Gerakan Bedside 0. Tidak Ordinal
atau shivering involunter Shivering menggigil
satu otot Assesment 1. Ringan
rangka atau Scala 2. Sedang
lebih yang 3. Parah
biasanya
terjadi pada :Check list
masa awal observasi
pemulihan
pascaanestesi
2. Umur Umur Umur diukur tahun Rasio
merupakan dalam satuan
selisih tahun tahun. Cara
kedatangan ukur dengan
pasien mencatat
berobat variabel umur
dengan tahun sesuai yang
kelahiran tercantum
pasien pada rekam
medik
3. Jenis Kelamin karakteristik cara ukur 1. Laki-laki Nominal
biologis dilakukan 2. Permpuan
seksual dari dengan
lahir yang mencatat
bersifat variabel jenis
permanen kelamin
sesuai yang
tercantum
pada rekam
medik
4. IMT indikator menghitung 𝑘𝑔/𝑚2 Rasio
(Indeks Masa status gizi langsung
Tubuh) subjek dataTinggi
penelitian badan dan
untuk berat badan
mengetahui dari rekam
derajat medis
kegemukan kedalam
rumus
IMT=BB/TB2

5. Jenis Pembagian cara ukur 1. Bedah Nominal


Tindakan tindakan dilakukan Urologi
Operasi operasi dengan 2. Bedah
sesuai area berdasarkan mencatat Digestif
bagian tubuh variabel jenis 3. Bedah
tindakan Orthopaed
operasi sesuai i
yang 4. Bedah
tercantum Obsgyn
pada rekam
medik
6. Jenis tidakan Pembagian cara ukur 1. Mayor Nominal
operasi tindakan dilakukan 2. Minor
berdasrkan operasi dengan
keseriusannya berdasarkan mencatat
tingkat variabel jenis
keseriusannya tindakan
tau resiko operasi sesuai
yang
tercantum
pada rekam
medik
7. Jenis Jenis cara ukur 1. General Nominal
Tindakan pemberian dilakukan anestesi
Anestesi obat anestesi dengan 2. Regional
sesuai mencatat Anestesi :
indikasi yang variabel jenis spinal
ada pada anestesi
pasien sesuai yang
tercantum
pada rekam
medik
(Laporan
anestesi)
8. Lama durante Lama waktu cara ukur menit Rasio
operasi pelaksanaan dilakukan
operasi dari dengan
awal operasi mencatat
sampai akhir variabel lama
operasi durante
dihitung operasi sesuai
dalam menit yang
tercantum
pada rekam
medik

E. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat-alat yang akan digunakan untuk

mengumpulkan data, instrumen penelitian ini dapat berupa kuesioner,

formulir observasi, formulir-formulir lain yang berkaitan dengan pencatatan

data dan sebagainya (Notoatmodjo, 2010). Pada penelitian ini menggunakan

lembar ceklist Observasi. Observasi adalah pengamatan secara langsung

terhadap suatu objek yang terdapat di lingkungan baik yang sedang

berlangsung saat itu atau masih berjalan yang meliputi berbagai aktifitas

perhatian terhadap suatu kajian objek dengan menggunakan pengindraan.

Tindakan yang dilakukan dengan sengaja atau sadar dan sesuai urutan

(Arikunto, 2010).

Menurut (Mary Pat Aust, RN, 2011) shivering (menggigil) dapat diukur

dengan menggunakan Bedside Shivering Assessment Scale (BSAS) :

0. Tidak ada: Tidak Menggigil.

1. Ringan: Menggigil terlokalisasi pada leher / dada, hanya dapat dilihat

sebagai artefak pada EKG atau dirasakan oleh rabaan.

2. Sedang: Keterlibatan intermiten dari ekstremitas atas +/- toraks.

3. Parah: Menggigil secara umum atau menggigil ekstremitas atas /

bawah yang berkelanjutan.

Menurut (Olson et al., 2013) Bedside Shivering Assessment Scale

(BSAS) dikembangkan untuk menstandarisasi skor penilaian menggigil.

BSAS mengharuskan penilai untuk mengamati pasien selama 2 menit;

termasuk inspeksi visual serta meraba leher, dada, lengan, dan kaki. BSAS

memiliki keandalan antar penilai yang memadai (interrater reliability)


untuk dipertimbangkan untuk digunakan di antara beragam kelompok

praktisi.

F. Jenis dan Teknik Pengumpulan Data

1. Jenis Data

Data dalam penelitian ini diperoleh dari dua sumber data yaitu :

a) Data Primer

Data primer adalah data yang dikumpulkan sendiri oleh

perorangan/ suatu organisasi secara langsung dari objek yang

diteliti dan untuk kepentingan studi yang bersangkutan yang

dapat berupa interview dan observasi (Nursalam, 2013). Data

primer dalam penelitian ini adalah data hasil observasi kejadian

menggigil atau shivering pada pasien operasi yang telah

diberikan anestesi general maupun regional.

b) Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh / dikumpulkan dan

disatukan oleh studi-studi sebelumnya atau yang diterbitkan oleh

intansi lain. Biasanya sumber tidak langsung berupa data

dokumwntasi dan arsip-arsip resmi (Nursalam, 2013).Data

sekunder dalam penelitian ini adalah data tentang Umur, jenis

kelamin, jenis anestesi, jenis tindakan operasi dan lama durante

operasi yang didapatkan dari data rekam medik.

2. Teknik Pengumpulan Data


Teknik pengumpulan data adalah suatu proses pendekatan kepada

subjek dan proses pengumpulan karakteristik yang diperluka dalam

suatu penelitian (Nursalam, 2013). Teknik yang digunakan untuk

pengumpulan data yaitu dengan cara melakukan observasi kepada

pasien operasi yang telah dilakukan anestesi.

3. Cara Pengumpulan Data

Langkah pengumpulan data dalam penelitian ini dimulai dengan

permohoan surat izin penelitian ke pihak rumah sakit, setelah

mendapatkan izin penelitian. Kemudian peneliti menemui kepala IBS

untuk meminta izin dilakukannya penelitian. Setelah itu peneliti

melihat rekam medik responden untuk melihat diagnosa responden.

Sebelum observasi dilakukan peneliti memberikan informed consent

sebagai tanda persetujuan sebagai responden, kemudian peneliti

melakukan pengukuran dengan melakukan observasi menggigil

(shivering) post operasi di ruang pulih sadar atau recovery room

selama 30 menit.

G. Analisis Data

1. Pengolahan Data

Metode pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan

perhitungan statistic dengan cara pengolahan data dan analisis

dilakukan dengan bantuan alat computer dengan cara (Notoatmodjo,

2010), sebagai berikut :

a) Editing
Yaitu upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data yang

diperoleh atau dikumpulkan. Peneliti melakukan pemeriksaan

ulang hasil observasi ditempat pengumpulan data apakah data

sudah terisi lengkap dan tepat.

b) Scoring

Pada penelitian ini menggigil (shivering) dilakukan scoring

dengan menggunakan Bedside Shivering Assessment Scala

(Mary Pat Aust, RN, 2011) :

1) Tidak Menggigil diberikan score : 0

2) Ringan diberikan score : 1

3) Sedang diberikan score : 2

4) Parah diberikan score : 3

c) Coding

Kegiatan mengubah data berbentuk huruf menjadi data

berbentuk angka atau bilangan untuk mempermudah pada saat

menganalisa data dan mempercepat memasukan data. Dalam

penelitian ini kode yang diberikan adalah:

1) Jenis kelamin

(a) Laki-laki diberikan kode :1

(b) Perempuan diberikan kode : 2

2) Jenis tindakan operasi berdasarkan area

(a) Bedah Urologi diberikan kode : 1

(b) Bedah Digestif diberikan kode : 2


(c) Bedah Orthophaedi diberikan kode : 3

(d) Bedah Obstetri dan gynekologi diberikan kode : 4

3) Jenis tindakan operasi berdasarkan tingkat keseriusanya

atau resikonya

(a) Mayor diberikan kode : 1

(b) Minor diberikan kode : 2

4) Jenis tindakan anestesi

(a) General Anestesi diberikan kode : 1

(b) Regional Anestesi : spinal diberikan kode : 2

d) Processing

Data entry adalah kegiatan memasukan data yang telah

dikumpulkan kedalam daftar tabel atau data base komputer

kemudian membuat distribusi frekuensi sederhana atau dengan

kegiatan memulai tabel kontinensi. Dalam penelitian ini data

responden dimasukan ke dalam data base komputer kemudian

membuat data distribusi frekuensi dari data responden tersebut.

e) Cleaning

Setelah entry data selesai dan sudah benar-benar bebas dari

kesalahan, langkah selanjutnya adalah melakukan pengolahan

data.

2. Analisa Data
Analisis penelitian ini menggunakan analisis univariate .Analisis

univariate dilakukan terhadap semua variabel penelitian. Pada

umumnya analisis ini menghasilkan distribusi dan presentase dari

setiap variabel (Notoatmodjo, 2010).

H. Etika Penelitian

Prinsip-prinsip etika dalam melakukan penelitian menurut Notoatmodjom

(2012) sebagai berikut :

1. Menghormati harkat dan martabat manusia (respect for human

dignity).

2. Peneliti perlu mempertimbangkan hak-hak subjek penelitian untuk

mendapatkan informasi tentang tujuan peneliti melakukan penelitian

tersebut.

3. Menghormati privasi dan kerahasiaan subjek penelitian (respect for

privacy dan confidentiality).

4. Peneliti tidak akan menampilkan informasi mnegenai identitas dan

kerahasiaan identitas subjek. Peneliti seyogianya cukup menggunakan

coding sebagai pengganti identitas responden.

5. Keadilan dan inklusvitas/keterbukaan (respect for justice an

inclusiveness).

6. Prinsip keterbukaan dan adil perlu dijaga oleh peneliti dengan

kejujuran, keterbukaan, dan kehati-hatian. Untuk itu, lingkungan

penelitian perlu dikondisikan sehingga memenuhi prinsip

keterbukaan, yakni dengan menjelaskan prosedur penelitian.


7. Memperhitungkan manfaat dan kerugian yang ditimbulkan (balancing

harms and benefits).

Sebuah penelitian hendaknya memperoleh manfaat semaksimal mungkin

bagi masyarakat pada umumnya, pada subjek penelitian pada khususnya.

Peneliti telah berusaha meminimalisasi dampak yang merugikan bagi

subjek. Oleh sebab itu, pelaksanaan penelitian harus dapat mencegah atau

paling tidak mengurangi rasa sakit, cedera, stress, maupun kematian subjek

penelitian.

Olson, B. D. M., Grissom, J. L., Rachel, A., Bennett, S. N., Bellows, S. T., &
James, M. L. (2013). Interrater reliability of the bedside shivering assessment
scale. American journal of critical care, 22(1), 70–75.
Trubus life. (2018, Januari Jumat). Retrieved from https://life.trubus.id:
https://life.trubus.id
Arikunto, S. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis. Jakarta:
Rieka Cipta.
Donsu, J. D. (2016). Metodologi Penelitian Keperawatan. Yogyakarta: Pustaka.
Hidayat Alimul.A.A. (2010). Metode Penelitian Kesehatan Paradigman
Kualitatif. Jakarta: Health Books.
Mirza Koeshardiandi, Nancy Margarita R . (2011). Efektivitas Ketamin Dosis
0,25 mg/kg Berat Badan Intravena sebagai Terapi Menggigil Selama
Anestesi Spinal pada Pembedahan Sectio Caesaria . Journal of Emergency
, 45.
Notoatmodjo, S. (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Nursalam. (2013). Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pendekatan Praktis.
Jakarta : SalembaMedika.
Rahmayati, E. (2017). FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN
LAMA PERAWATAN PASIEN PASCA OPERASI DI RUANG
RAWAT INAP BEDAH RUMAH SAKIT. Jurnal Keperawatn, 195.
Said A. Latief, K. .. (2009). Petunjuk Praktis Anestesiologi (Vol. 2). Jakarta:
Bagian anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI.
Sarrim B. & Budiono U. (2011). Ketamin dan Meperidin untuk Pencegahan
Menggigil Pasca Anestesi Umum.
Saryono. (2011). Metodologi penelitian kesehatan: penuntun praktis bagi pemula.
Yogyakarta: Mitra Cendikia Press.