Anda di halaman 1dari 4

2.

1 Jalur Perdagangan dan Ekonomi ( Indonesia ke depan)

Potensi maritim Indonesia memiliki banyak aspek yang dapat dikembangkan untuk
meningkatkan pertumbuhan ekonomi, mulai dari industri jasa maritim, sektor perikanan,
pariwisata, energi, dan sebagainya.

Indonesia juga adalah pasar yang besar, terletak di silang dunia. Dengan kenyataan tersebut,
Indonesia memiliki nilai-nilai strategis bagi para investor untuk melakukan foreign direct
investment (FDI), meskipun ada hal-hal lain yang perlu juga diperhatikan, terutama
infrastruktur. Karena, terlepas dari karakteristik Indonesia sebagai negara kepulauan dengan
garis pantai terpanjang kedua di dunia, infrastruktur, industri, dan jasa maritim Indonesia belum
dimanfaatkan secara maksimal. Padahal, ketiga hal tersebut merupakan komponen operasional
utama menuju negara maritim yang kuat dan komponen pertumbuhan ekonomi Indonesia
sebagai negara poros maritime dunia, teutama ASEAN.

Konsekuensi dari Indonesia menjadi poros maritim dunia adalah tuntutan akan kapasitas
Angkatan Laut untuk mengontrol, mengawasi, dan melindungi keamanan maritim. Keamanan
maritim sendiri memiliki pengertian kegiatan sipil maupun militer untuk mengurangi resiko
dan melawan kegiatan illegal dan ancaman dalam ruang domain maritim dengan cara
penegakan hukum dan aturan demi melindungi warga dan kepentingan nasional. Konsentrasi
keamanan maritim, singkatnya, berada pada penggunaan atau manipulasi tidak sah terhadap
elemen maritim pada saat keadaan damai.
Permasalahan keamanan maritim Indonesia antar lain ada masalah perbatasan di laut yang
sangat serius, bahaya terhadap keamanan pelayaran dan keselamatan navigasi di sepanjang life
lines domestik, ada potensi ancaman terorisme maritim di choke point, ada berbagai kegiatan
illegal fishing, illegal logging, illicit small arms trafficking, illicit people trafficking, illicit
drugs trafficking, smuggling, dampak perubahan iklim. Diantara masalah-masalah domestik
maritim Indonesia ini, ada yang berdampak langsung terhadap kepentingan internasional, yaitu
yang berhubungan langsung dengan keselamatan navigasi dan keamanan maritim di Indonesia.

Jalur ALKI I

Jalur pada ALKI I ini difungsikan untuk pelayaran dari Laut Cina Selatan melintasi Laut
Natuna, Selat Karimata, Laut Jawa, dan Selat Sunda ke Samudera Hindia, dan sebaliknya; dan
untuk pelayaran dari Selat Singapura melalui Laut Natuna dan sebaliknya (Alur Laut Cabang
I A). Pada jalur ALKI I ini terdapat garis-garis pangkal yang ada di Laut Natuna. 55 Dijelaskan
dalam rangka implementasi ALKI yang teIah ditetapkan tersebut, Pemerintah Republik
Indonesia telah melakukan serangkaian kegiatan penting diantaranya dengan menetapkan
garis-garis pangkal kepulauan Indonesia dan koordinat-koordinat ketiga ALKI tersebut. Salah
satu hasil penyesuaiannya adalah garis-garis pangkal kepulauan di laut Natuna yang dilewati
oleh ALKI I dengan memasukkan sebagian ZEE di daerah tersebut menjadl perairan
kepulauan.

Jalur ALKI II

Jalur pada ALKI II ini difungsikan untuk pelayaran dari Laut Sulawesi melintasi Selat
Makasar, Laut Flores, dan Selat Lombok ke Samudera Hindia, dan sebaliknya.

Jalur ALKI III

Jalur ALKI III pada umumnya dibagi menjadi beberapa bagian. Bagian selatan bercabang tiga
menjadi ALKI III-A(sekitar perairan Laut Sawu, Kupang), ALKI III-B, ALKI III-C (sebelah
timur Timor Leste), dan ALKI III-D (sekitar perairan Aru). Jalur pada ALKI III-A difungsikan
untuk pelayaran dari Samudera Pasifik melintasi Laut Maluku, Laut Seram, Laut Banda, Selat
Ombai, dan Laut Sawu. ALKI III-A sendiri mempunyai 4 cabang, yaitu ALKI Cabang III B:
untuk pelayaran dari Samudera Pasifik melintasi Laut Maluku, Laut Seram, Laut Banda, dan
Selat Leti ke Samudera Hindia dan sebaliknya; ALKI Cabang III C: untuk pelayaran dari
Samudera Pasifik melintasi Laut Maluku, Laut Seram, Laut Banda ke Laut Arafura dan
sebaliknya; ALKI Cabang III D: untuk pelayaran dari Samudera Pasifik melintasi Laut Maluku,
Laut Seram, Laut Banda, Selat Ombai, dan Laut Sawu ke Samudera Hindia dan sebaliknya;
ALKI Cabang III E: untuk pelayaran dari Samudera Hindia melintasi Laut Sawu, Selat Ombai,
Laut Banda, Laut Seram, dan Laut Maluku.

Jalur ALKI IV

Jalur ALKI membuat posisi Indonesia menjadi penghubung antara dua lautan bebas, Karena
letaknya yang memotong kesatuan wilayah kepulauan Indonesia dalam tiga bagian. ALKI
sangat berharga bagi negara-negara lain luar kawasan dimana kepentingan utama mereka
adalah kepastian akses serta ketersediaan sumber daya di laut. Jalur ALKI dapat digunakan
sebagaimana laut bebas bagi negara lain. Kapal-kapal asing termasuk kapal perang dapat
melalui jalur tersebut tanpa harus meminta izin kepada pemerintah Indonesia. Kapal selam juga
dapat melalui jalur ini tanpa wajib muncul ke permukaan laut. Begitu juga dengan pesawat
yang dapat bebas melewati ruang udara dalam jalur ALKI. Saat ini ALKI sendiri masih sebatas
jalur dari Utara ke Selatan Indonesia, sedangkan Barat sampai ke Timur Indonesia (ALKI IV)
belum ditentukan.

Konsep pengembangan wilayah Kepulauan dapat dibangun dengan memanfaatkan teori saling-
ketergantungan (interdependency) pertumbuhan ekonomi neoklasik dan neo-Keynes. Teori
pertama berguna untuk menjelaskan proses perkembangan ekonomi wilayah, sedangkan teori
ke dua memberi basis bagi perencanaan pembangunan wilayah.

Teori Saling-Ketergantungan (interdependency) Neoklasik, menurut perspektif neoklasik


(Hirscman,1958) mengungkapkan bahwa setiap wilayah memiliki perbedaan potensi faktor
pertumbuhan (sumberdaya alam, tenagakerja, modal dan teknologi). Perbedaan faktor
pertumbuhan ekonomi ini mendorong spesialisasi wilayah berdasarkan keunggulan komparatif
masing-masing.

Wilayah akan berkonsentrasi untuk menghasilkan barang dan jasa yang memanfaatkan secara
intensif faktor produksi yang relatif berlebih (misalnya: resources endowment). Spesialisasi
yang memberikan keunggulan komparatif dalam produksi ini akan mendorong perdagangan
antar wilayah yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi wilayah.

Sumber:
http://maritimnews.com/2017/10/pemanfaatan-alki-bagi-pembangunan-wilayah-tertinggal/

http://zaviraquraizni.blogspot.com/2016/09/hubungan-maritim-dengan-ekonomi-dan.html