Anda di halaman 1dari 7

Analisis Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif

No Perbedaan Kuantitatif Kualitatif


A. METODOLOGI PENELITIAN
1 Judul PENGARUH PERAN KEPEMIMPINAN

KEPEMIMPINAN KEPALA KEPALA SEKOLAH


DALAM PEMANFAATAN
SEKOLAH DALAM
MEDIA PEMBELAJARAN
MANAJEMEN KONFLIK
SEBAGAI UPAYA
BERBASIS SEKOLAH DAN PENINGKATAN KUALITAS
MOTIVASI KERJA PROSES PEMBELAJARAN
TERHADAP KINERJA GURU
DI SMA NEGERI ACEH
TAMIANG
2 Metode metode penelitian kuantitatif dengan Jenis dari penelitian ini adalah
penelitian desain expost facto. kualitatif deskriptif. Dalam
Pekatan yang digunakan dalam penelitian kualitatif,
penelitian ini adalah pendekatan pengumpulan data dilakukan
analisis jalur (path dengan wawancara mendalam
analysis). (in-deep-interview),
Penelitian ini menganalisis pengaruh pengamatan dan studi
satu variabel terhadap variabel lain, kepustakaan.
yaitu : 1) Pengaruh Kepemimpinan
Kepala Sekolah dalam Manajemen
Konflik Berbasis Sekolah,
2) Motivasi Kerja, 3) Kinerja Guru

3 Populasi dan Populasi pada penelitian ini


Sampel adalah seluruh guru yang mengajar di
2
SMA Negeri Kabupaten Aceh
Tamiang
yang berjumlah 162 orang.
Sampel yang digunakan untuk
sampel penelitian adalah 1) Guru
yang
berstatus Pegawai Negeri dan bukan
Pegawai Negeri, 2) Jenis kelamin
lakilaki
dan perempuan, 3) tidak
menerapkan batasan golongan dan
masa kerja. Pengambilan sampel
secara
random/acak.
4 Teknik Teknik dalam pengumpulan data Teknik cuplikannya
penumpulan dilakukan dengan menggunakan menggunakan purposive
data angket untuk menjaring data variabel. sampling. Teknik analisis data
dalam penelitian ini
menggunakan teknik analisis
degan langkah-langkah :
Reduksi data (Data
reduction), penyajian data
(Data display), dan penarikan
kesimpulan dan verifikasi
(conclution drawing/
verifying). Dalam penelitian
ini peneliti menggunakan
teknik validasi data trigulasi
(triagulation) sumber dan
teknik.
B. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1 Hipotesis 1. Hipotesis Pertama :
Berdasarkan perhitungan maka

diperoleh ρ31 = 0,331, selanjutnya


dilakukan uji t. H1 diterima jika thitung
> ttabel dan sebaliknya H0 diterima jika

thitung ≤ ttabel. Dari perhitungan yang

dilakukan maka diperoleh thitung =


4,30
sedangkan ttabeldengan N = 115 pada
􀟙 = 0,05 sebesar 1,66. Dengan
demikian thitung> ttabel (4,30 > 1,66)
maka H0 ditolak dan H1 diterima.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa
Kepemimpinan Kepala Sekolah
dalam
Manajemen Konflik Berbasis Sekolah
berpengaruh langsung positif.
2. Hipotesis Kedua :
Berdasarkan perhitungan maka

diperoleh ρ32 = 0,485 selanjutnya

dilakukan uji t. H1 diterima jika


thitung>
ttabel dan sebaliknya H0 diterima jika

thitung ≤ ttabel. Dari perhitungan yang

dilakukan maka diperoleh thitung =


7,18 sedangkan ttabeldengan N = 115
pada 􀟙
= 0,05 sebesar 1,66. Dengan
demikian
thitung> ttabel (7,18 > 1,66) maka H0
ditolak dan H1 diterima. Sehingga
dapat disimpulkan bahwa Motivasi
Kerja berpengaruh langsung positif.
3. Hipotesis Ketiga :
Berdasarkan perhitungan R321
2= 0,497
(selengkapnya pada Lampiran 13)
dan
diperoleh nilai F = 55,32. Nilai Fhitung
tersebut dikonsultasikan dengan harga
Ftab pada 􀟙 = 0,05 dengan derajat
kebebasan (dk) pembilang {(k), (N –
k
– 1)} yakni 2:112 diperoleh nilai Ftabel
= 3,08, hasil tersebut menunjukkan
bahwa nilai Fhit> Ftab (55,32 > 3,08),
sehingga dapat disimpulkan bahwa
Kinerja Guru (X3) dipengaruhi secara
langsung dan positif oleh
Kepemimpinan Kepala Sekolah
Dalam
Manajemen Konflik Berbasis Sekolah
(X1) dan Motivasi Kerja (X2).
4 Temuan Temuan penelitian membuktikan
Penelitian bahwa ketiga hipotesis yang diajukan
telah terbukti kebenarannya dengan
dukungan data empiric yang
dijelaskan secara deskriptif, sebagai
berikut :
a. Pada variabel Kepemimpinan
Kepala sekolah dalam manajemen
konflik berbasis sekolah ditemukan
mean (rata-rata) 109,69; standar
deviasi 11,23; median 109,04 dan
modus 106,83. Rerata ideal 90 dan
standar deviasi ideal 20.
Berdasarkan uji kecenderungan
variabel yaitu sebesar 76,52 % atau
sebanyak 88 dari 115 responden.
b. Pada variabel motivasi kerja
ditemukan mean (rata-rata) 110,93 ;
standar deviasi 12,19; median 109,96
dan modus 107,25. Rerata ideal 90
dan standar deviasi ideal 20.
Berdasarkan uji yaitu sebesar 72,17%
atau sebanyak 83 dari 115 responden.
c. Pada variabel kinerja guru
ditemukan mean (rata-rata) 109,98 ;
standar deviasi 15,396 ; median
109,08 dan modus 107,52. Rerata
ideal 105 dan standar deviasi ideal
23,33. Berdasarkan uji
kecenderungan data variabel kinerja
guru termasuk pada kategori tinggi
53,04% atau 61 dari 115 responden.
C. KESIMPULAN
KUANTITATIF KUALITATIF
Berdasarkan hasil perhitungan statistik dan Berdasarkan hasil penelitian, maka penliti
analisis data seperti yang diuraikan pada bab dapat menyimpulkan beberapa hal sebagai
sebelumnya, sehingga dapat ditarik kesimpulan berikut:
sebagai berikut : 1. Sebagai upaya peningkatan kualitas
1. Terdapat pengaruh langsung positif dan proses pembelajaran, di SMP Pancasila
signifikan Kepemimpinan kepala sekolah Purwodadi telah disusun program-
dalam manajemen konflik berbasis sekolah program pengembangan sekolah yang
terhadap kinerja guru sebesar 10,95 %. dapat mendukung terciptanya kegiatan
2. Terdapat pengaruh langsung positif dan pembelajaran yang lebih efektif dan
signifikan Motivasi kerja terhadap kinerja guru efisien.
sebesar 23,52%. 2. Pemanfaatan media pembelajaran
3. Terdapat pengaruh langsung positif dan mempunyai dampak yang posiif dalam
signifikan kepemimpinan kepala sekolah dalam mendukung pembelajaran. Para guru
manajemen konflik berbasis sekolah dan dan siswamenyadari bahwa
motivasi kerja terhadap kinerja guru sebesar pemenfaatan media dalam proses
34,47%. Peningkatan gaya kepemimpinan pembelajaran sangat membantu untuk
kepala sekolah dalam manajemen konflik memperjelas materi pembelajaran
berbasis sekolah dan motivasi kerja akan sehingga tujuan pembelajaran dapat
mengakibatkan terjadinya peningkatan kinerja tercapai dan proses pembelajaran
guru SMA Negeri di Aceh tamiang.. menjadi lebih efektif, siswa juga lebih
merasa senang karena pembelajaran
yang dilakukan guru tidak monoton
dan membuat siswa menjadi lebih aktif
dalam menerima pembelajaran.
3. Kepala sekolah juga melakukan upaya-
upaya agar tercipta suasana kondusif
yang mendukung teciptanya
pembelajaran yangefektif dan efisien,
yaitu dengan memberikan arahan-
arahan kepeda para guru dan karyawan
agar bekerja sesuai dengantuntutan dan
tujuan yang telah ditetapkan. Juga
berupaya untuk meningkatkan
kemampuan dan profesionalisme guru
dengan memberikan keleluasaan untuk
menempuh pendidikan lanjutan,
mengikuti diklat/ penataran-penataran,
baik yang diadakan oleh dinas
pendidikan atau pihak lain.
4. Kendala yang dihadapi kepala sekolah
dalam pemanfaatan media
pembelajaran sebagai upaya
meningkatkan kualitas proses
pembelajaran adalah faktor manusia
yang mempunyai rasa emosional yang
labil, sehingga kadang guru malas
untukmembuat media, dan
melaksanakan tugas-tugas lain sebagai
guru. Untuk mengatasi hal tersebut
kepala sekolah memberikan hadiah
(reward) bagi yang menjalankan tugas
dengan baik dan hukuman
(punishment) bagi yang melanggar dan
lepas tanggung jawab. Selain itu
masalah keuangan juga menjadi
kendala dalam menjaga dan
melengkapi sarana prasarana sekolah.