Anda di halaman 1dari 11

TUGAS RUTIN 1 METODE PENELITIAN

Nama : ELIANA PURBA

Kelas : DIKDAS 2

NIM : 8186181003

METODE PENELITIAN KEBIJAKAN

Studi kebijakan publik pada dasarnya dimaksudkan untuk mengeksplorasi tindakan-


tindakan yang dilakukan pemerintah, mengapa tindakan itu dilakukan atau justru tidak
dilakukan, dengan cara dan mekanisme apa dilakukan, untuk kepentingan siapa, dan
bagaimana hasil, akibat, dan dampaknya. Seperti ilmu-ilmu sosial lainnya, studi kebijakan
publik juga telah melewati berbagai gugus pemikiran dari positivisme dan kini sampai pada
masa post-positivisme. Produk penelitian ini adalah pemahaman yang mendalam tentang
kebijakan menggunakan metode keilmuan dengan tujuan untuk mendapatkan justifikasi
ataupun falsifikasi ilmiah.

Penelitian kebijakan, termasuk ke dalam kelompok penelitian terapan atau


didalam lingkup penelitian sosial yang dalam aplikasinya mengikuti prosedur umum
penelitian yang berlaku, disertai dengan sifat spesifiknya. Secara sederhana
penelitian kebijakan dapat didefinisikan sebagai kegiatan penelitian yang dilakukan
untuk mendukung kebijakan. Kebijakan publik pada dasarnya adalah suatu keputusan
yang dimaksudkan untuk mencapai tujuan tertentu yang dilakukan oleh instasi yang
berwewenang dalam rangka penyelenggaraan tugas pemerintahan .

Ann Majchrzak (1984) mendefinisikan penelitian kebijakan sebagai proses


penyelenggaraan penelitian untuk mendukung kebijakan atau analisis terhadap
masalah-masalah sosial yang bersifat fundamental secara teratur untuk membantu
pengambil kebijakan memecahkan dengan jalan menyediakan rekomendasi yang
berorientasi pada tindakan atau tingkah laku pragmatik. Oleh karena sifatnya
berorientasi kepada tingkah laku pragmatik, maka yang perlu dihasilkan oleh peneliti
kebijakan adalah bukan terletak pada hingga mana bobot ilmiah sebuah hasil
penelitian, namun hingga mana hasil penelitian punya aplikabilitas atau
kemamputerapan dalam rangka memecahkan masalah sosial.
Penelitian kebijakan(policy research), merupakan kelompok penelitian terapan dengan
tujuan untuk mendapatkan hasil segera, yaitu tersusunnya rekomendasi yang diperlukan oleh
pengambil kebijakan. Proses kerja penelitian kebijakan, pola kerjanya relatif sama dengan
penelitian lainnya, namun dalam hal tertentu khas sifatnya. Kekhasan penelitian kebijakan
antara lain adalah rendahnya ketertiban ilmiah akibat kuatnya pengaruh lingkungan sosio-
politik (socio political environtment) dan kemauan pembuat kebijakan (user) hasil penelitian,
serta lebih menekankankepada sintesis terfokus dan data sekunder. Arah penelitian kebijakan,
diwarnai oleh political will pembuat kebijakan. Sehingga pengaruh lingkungan sosio-politik
mewarnai proses perumusan hasil penelitian kebijakan sangat ditentukan oleh budaya politik
suatu negara. Peneliti Kebijakan dan Perumusan Kebijakan-Kebijakan (policy) dalam latar
penelitian kebijakan diartikan sebagai tindakan-tindakan yang dimaksudkan untuk
memecahkan masalah publik. Pemecahan masalah publik oleh policy maker dilakukan atas
dasar rekomendasi yang dibuat oleh policy researcher berdasarkan hasil penelitiannya.
Kebijakan dalam hal ini tidak dipersepsi dari sudut pandang politik pemerintahan,melainkan
kebijakan sebagai objek studi.
Dilihat dari jenisnya, penelitian dibedakan atas penelitian murni (basic/pure research)
dan penelitian terapan (applied/ practical research). Penelitian murni adalah penelitian
yangsemata-mata dimaksudkan untuk keperluan penelitian tanpa ada misi praktis yang
diinginkan.Fokus kajiannya adalah masalah kealaman dan hukum-hukumnya. Penelitian
terapan adalah penyelidikan yang hati-hati, sistematis dan terus-menerus terhadap suatu
masalah dengan tujuanuntuk digunakan dengan segera untuk keperluan tertentu (Nazir,
1985).

Para perumus kebijakan merumuskan kebijakan atas dasar prioritas yang paling
urgen, khususnya yang berkenaan dengan pemecahan masalah sosial atau pun masalah
publik. Semakin kompleks dan luas tugas-tugas keorganisasiannya, maka semakin banyak
pula masalah yang dihadapi, sehingga tidak dapat dipecahkan sendiri tanpa pendapat atau
informasi yang memadai, baik kuantitatif maupun kualitatif.

Disinilah hadir urgensi penelitian kebijakan. Sebagaimana yang dipaparkan Sudarwan


Danim berikut ini: Penelitian kebijakan (policy research) secara spesifik ditujukan untuk
membantu pembuat kebijakan (policy maker) dalam menyusun rencana kebijakan, dengan
jalan memberikan pendapat atau informasi yang mereka perlukan untuk memecahkan
masalah yang kita hadapi sehari-hari. Dengan demikian, penelitian kebijakan merupakan
rangkaian aktifitas yang diawali dengan persiapan peneliti untuk mengadakan penelitian atau
kajian, pelaksanaan penelitian, dan diakhiri dengan penyusunan rekomendasi.

Selain itu penelitian kebijakan juga dipersepsikan sebagai:

• Basic social research; yakni penelitian kebijakan harus dilaksanakan secara sesuai
prosedur kerja ilmiah.
• Technical social researh; yakni bahwa penelitian kebijakan harus mampu merumuskan
kebijakan-kebijakan strategis yang dapat dikembangkan instrumen-instrumen
teknisnya.
• Policy research harus menghasilkan kebijakan publik.
• Komprehensif yakni penelitian kebijakan harus menjangkau seluruh variabel yang
terkait dan relevan dengan persoalan yang sedang dikaji untuk dirumuskan kebijakan
penyelesaiannya.

Berdasarkan kutipan di atas dapat dinyatakan bahwa penelitian kebijakan harus


dipersepsi dari sisi kemanfaatannya. Walaupun sebuah penelitian semestinya bernuansa
ilmiah, namun penelitian kebijakan kiranya belum perlu dipersepsikan sebagai kajian ilmiah
atau tidak, melainkan harus dilihat dari kemanfaatannya bagi pemecahan masalah sosial atau
masalah publik. Tentu saja jika rekomendasai yang dihasilkan oleh peneliti kebijakan dapat
diimplementasikan oleh pembuat kebijakan dan dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat
luas.

Penelitian kebijakan memiliki sifat yang sangat khas. Kekhasan penelitian ini terletak
pada fokusnya. Sudarwan Danim menjelaskan fokus penelitian kebijakan secara umum
adalah: berorientasi kepada tindakan untuk memecahkan masalah sosial yang unik, yang jika
tidak dipecahkan akan member efek negatif yang sangat luas. Tidak ada ukuran pasti
mengenai luas atau sempitnya suatu masalah sosial. Sebagai missal, rendahnya kualitas
pendidikan dapat dipersepsi dari banyak sisi yang menyebabkan rendahnya kualitas itu,
seperti:

1. Kualitas guru

2. Kualitas proses belajar mengajar

3. Kualitas kurikulum

4. Ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan serta sumber belajar


5. Kualitas raw input lembaga pendidikan

6. Kondisi lingkungan sosial budaya dan ekonomi.

Analisis kebijakan (policy analisis) merupakan penelitian untuk mengkaji proses


pembuatan kebijakan. Analisis kebijakan ditampilkan secara tipikal oleh ilmuwan atau
pakar politik yang berminat dengan proses di mana kebijakan diadopsi sebagai efek dari
peristiwa politik. Analisis kebijakan (policy analysis),seperti diakui oleh Lindblom
(1986) memiliki sejumlah kelemahan. Kelemahan-kelemahan itu terlihat dari empat sisi,
yaitu :
1. Analisis tidak selalu benar atau bisa saja salah
2. Analisis tidak selalu adaptif menyelesaikan konflik antara nilai dan kepentingan
3. Proses kerja analisis lambat dan biayanya mahal
4. Analisis tidak sepenuhnya dapat menunjukkan secara nyata, masalah mana yang harus
diselesaikan segera.
Penelitian kebijakan memusatkan perhatian kepada dua hal utama, yaitu berorientasi
tinggi pada tindakan dan concern pada masalah-masalah sosial yang bersifat
fundamental. penelitian kebijakan dapat pula disertakan dengan penelitian teknikal, oleh
karena sifatnya berorientasi tinggi pada tindakan yang bersifat teknis, masalah penelitian
bersifat mengkhusus dan dimaksudkan untuk memecahkan masalah yang sangat spesifik.
Walaupun bagaimanapun, penelitian kebijakan hanyalah bentuk penelitian dengan dua
orientasi utama, yaitu (1) Berorientasi kepada tindakan, (2) Berorientasi pada masalah-
masalah yang bersifat fundamental.
Arena kebijakan adalah bahwa proses pembuatan kebijakan kompleks adanya
sebagaimana kompleksitas masalah publik itu. Proses pembuatan kebijakan adalah kompleks,
sebab proses itu melibatkan banyak aktor yang bervariasi. Aktor yang terlibat dalam
pembuatan kebijakan, menurut Supandi (1988) sebagai berikut :
1. Pembentuk undang-undang atau legislature.
2. Eksekutif.
3. Partai politik.
4. Kelompok berkepentingan atau interest groups.
Bentuk Penelitian Kebijakan
Saat ini penelitian kebijakan telah berkembang pesat, terutama di organisasi-
organisasi sosial dan pemerintahan dan di instansi lain. Usaha penelitian kebijakan makin
berkembang secara pesat sejalan dengan bermunculan penyandang
dana (funders) dan pengguna basil studi (study users),makin tajamnya fokus penelitian,
penyelenggaraan penelitian kebijakan yang makin bervariasi -untuk beberapa kasus disebut
penelitian operasional atau riset operasi- dan makin bervariasinya latar belakang peneliti.
Beberapa faktor yang mempengaruhi berkembang pesatnya penyelenggara-an
penelitian kebijakan adalah :
1. Makin banyaknya penyandang dana, baik instansi pemerintah maupun non pemerintah
2. Pengguna hasil studi yang makin variatif
3. Fokus masalah yang dikaji semakin luas dan memilikikeanekaragaman corak dan
jenisnya
4. Penyelenggaraan penelitian kebijakan yang makin hervariasi.
5. Bervariasinya latar belakang peneliti.
6. Adanya political will untuk mengilmiahkan suatu kebijakan
7. Makin terbatasnya kemampuan organisasi, terutama organisasi pemerintah, untuk
dapat menyelesaikan masalah dengan dan olehnya sendiri.

Pada dasarnya penelitian kebijakan merupakan penawaran kompromi, terutama antara


peneliti dengan klien atau stakeholder. Menurut Coleman sebagaimana yang dikutip
Sudarwan Danim dalam bukunya Pengantar Studi Penelitian Kebijakan bahwa dikarenakan
penelitian kebijakan beroperasi pada batas metodologi penelitian pada umumnya (terutama
penelitian ilmu-ilmu sosial), maka tidak ada metodologi tunggal, metodologi yang
komprehensif untuk melaksanakan analisis teknikal dari penelitian kebijakan.
Sudarwan Danim menyatakan bahwa ada beberapa metode penelitian kebijakan,
yaitu:

1. Metode Sintesis Terfokus

Menurut James H.Mc Millan, sintesis terfokus adalah Focused synthesis is the
selective review of written materials and prior research relevant to the policy question
Salah satu contoh dari metode sintesis terfokus adalah Studi Lembaga Pembangunan
Internasional (Agency for International Development = AID) atau study for AID, yaitu suatu
studi tentang masalah penyediaan air di pedesaan di Negara-negara berkembang. Usaha
penelitian kebijakan ini menurut Burton (seorang peneliti dari Inggris), sebagaimana yang
dikutip oleh Sudarwan Danim dalam bukunya Pengantar Studi Penelitian Kebijakan,
dilakukan dengan cara:

a. Mengkaji sumber-sumber pustaka mutakhir yang tersedia dan relevan dengan


masalah atau fokus penelitian.
b. Menuangkan pengalamannya di lapangan selama lima tahun terakhir di Afrika
dan Amerika Latin.
c. Mengadakan diskusi-diskusi dengan individu-individu di Ross
Institute, International Reference Centre for Community Water Supply di Hague,
Organisasi Keehatan Dunia (WHO) dan The British Ministry for Overseas
Developmnet.

Dari kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam metode sintesis terfokus
mengaitkan tiga hal pokok, yaitu sumber pustaka ter-up date yang relevan, pengalaman
penelitian dan hasil diskusi.

2. Metode Analisis Data Sekunder.

James H.Mc Millan memaparkan bahwa metode analisis data sekunder


ialah Secondary analysis is the analysis and reanalysis of existing databases. However, the
policy questions or decision models that guide the reanalysis differ from the traditional
research question in a meta-analysis study. Rather than examining the databases to
determine the state of knowledge about the effect size of a single educational practice, the
policy analysis generates different policy models and questions from which to examine the
databases.

Kutipan di atas jika diterjemahkan secara bebas maka analisis sekunder adalah
analisis dan reanalisis database yang ada. Namun, pertanyaan kebijakan atau keputusan yang
memandu reanalisis model lain dari pertanyaan penelitian tradisional dalam studi meta-
analisis. Alih-alih memeriksa database untuk menentukan keadaan pengetahuan tentang
ukuran pengaruh praktik pendidikan tunggal, analisis kebijakan menghasilkan model
kebijakan yang berbeda dan pertanyaan-pertanyaan berdasarkan database untuk memeriksa
database. Selain itu Sudarman Danim juga menyatakan bahwa Metode analisis data sekunder
sebegitu jauh dikatakan sebagai metode yang dilihat dari dimensi biaya paling efisien.
Tujuannya adalah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian kebijakan. Tidak
terdapat ketentuan pasti mengenai pada jenjang mana data tersebut dikatakan sebagai data
sekunder. Untuk memudahkan pemahaman mengenai perbedaan antara data primer dengan
data sekunder dapat dijelaskan, bahwa setiap data yang bukan diperoleh dari sumber
utamanya disebut dengan data sekunder.

Dari dua kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa metode analisis data sekunder
hanya mungkin dilakukan jika data dasar yang diinginkan diperoleh secara mencukupi.
Apabila tidak mencukupi maka perlu membangun data dasar baru (new database) yang
diseleksi dari kombinasi data dasar yang berbeda. Jika data dasar tidak tersedia, peneliti harus
memakai metode lain.

3. Metode Eksperimen Lapangan

Metode Eksperimen Lapangan yaitu Field experiments and quasi-experiments


investigate the effect or change as a result of policy implementation. Because experimental
approaches attempt to explain existing educational conditions, the result may not be useful in
projecting into the future. Policy conditions may be so dynamic that the result are confined to
that particular period of implementation.

Berdasarkan kutipan di atas dapat dinyatakan bahwa tujuan metode ini adalah untuk
menyelidiki kemungkinan hubungan sebab akibat dengan cara pengeksposan satu atau lebih
kelompok eksperimental dan satu atau lebih kondisi perlakuan dan membandingkan hasilnya
dengan satu atau lebih kelompok kontrol yang tidak dikenai kondisi perlakuan.

4. Metode Kualitatif

Beberapa bentuk metode kualitatif yang digunakan untuk mencari data primer dalam
penelitian ini antara lain wawancara, observasi dan kelompok terfokus. Kelompok terfokus
ialah salah satu jenis teknik yang dapat dipakai, dimana individu dicari secara terseleksi
dalam kelompok dan diarahkan kepada diskusi yang terfokuskan pada topik pra spesifik.
Kelompok semacam ini sangat baik untuk membangun isu dan menjejaki faktor-
faktor potensial sebagai penyebab suatu peristiwa. Aplikasi metode kualitatif dalam
penelitian kebijakan dilakukan dengan menempuh langkah-langkah sebagai berikut:
a. Merumuskan masalah sebagai fokus studi penelitian kebijakan.

b. Mengumpulkan data lapangan.


c. Menganalisis data.

d. Merumuskan hasil studi.

e. Menyusun rekomendaasi untuk pembuatan kebijakan.

5. Metode Survai, Secara umum aplikasi metode survai dalam penelitian kebijakan
menempuh langkah-langkah sebagai berikut:

a. Perencanaan dan perancangan survai.

b. Memilih subject.

c. Menyusun instrument.

d. Menentukan prosedur pengumpulan data.

e. Melatih pewawancara atau pengumpul data.

f. Pengumpulan data.

g. Pengolahan dan analisis data.

h. Penyusunan laporan dan rekomendasi hasil peneltian untuk pembuatan kebijakan.

6. Penelitian Kasus

Penelitian atau studi kasus seringkali digunakan dalam metode penelitian kebijakan
sebagai studi yang cepat, biaya efisien dan ada ruang yang memungkinkan untuk mendalami
sebuah situasi. Beberapa langkah-langkah studi kasus dalam konteks penelitian kebijakan
adalah sebagai berikut:

a. Merumuskan tujuan penelitian yang ingin dicapai.

b. Menentukan atau merancang pendekatan yang akan digunakan

c. Mengumpulkan data yang relevan.

d. Menganalisis data.

e. Membuat laporan dan rekomendasi hasil penelitian.


7. Analisis Biaya Keuntungan, Analisis biaya keuntungan me-refer kepada set metode
dimana peneliti kebijakan membandingkan biaya (cost) dengan keuntungan (benefit) yang
akan diperoleh oleh masyarakat berdasarkan alternatif pilihan kebijakan.
Dalam makna yang lebih luas, analisis biaya-keuntungan untuk aplikasi sebuah kebijakan
dapat dilihat dari dua sisi. Pertama, keuntungan jangka pendek dari biaya yang
diinvestasikan. Kedua, keuntungan jangka panjang dari biaya yang diinvestasikan.

8. Analisis Keefektifan Biaya.

Dalam metode ini Sudarwan Danim dalam bukunya Pengantar Studi Penelitian
Kebijakan menyatakan Dalam analisis keefektifan biaya, biaya moneter pilihan kebijakan
dapat dihitung. Bagaimanapun keuntungan dari kebijakan dapat dituangkan dalam
terminologi biaya aktualnya atau hasil yang diharapkan. Analisis semacam ini relative sangat
mudah dilakukan, oleh karena yang dihitung adalah biaya yang paling fisibel, dalam arti tidak
berlebihan dan tidak pula terlalu kecil. Berdasarkan kutipan di atas metode ini bertujuan
untuk mempertimbangkan tuntutan pembiayaan yang menjadi dasar dalam menentukan
kebijakan oleh pembuat kebijakan.

9. Analisis Kombinasi

Kombinasi analisis biaya keuntungan dengan analisis keefektifan biaya dipandang


cocok bagi usaha untuk merumuskan kebijakan, mengingat pada kedua analisis tersebut
dimensi biaya dinilai dari variable sejenis. Menurut Sudarwan Danim, ada tiga jenis variable
biaya, yaitu:

a. Biaya-biaya langsung, seperti untuk keperluan personalia dan fasilitas fisik.


b. Biaya-biaya tidak langsung.
c. Biaya-biaya oportunitas, seperti apa yang akan dicapai jika sumber-sumber digunakan
secara berbeda.
d. Menganalisi biaya dari sudut keefektifanya relatif mudah dilakukan, namun untuk
menganalisis variasi biaya yang muncul sebagai dampak kebijakan itu tidak jarang
sangat sulit. Disinilah diperlukannya peranan para peneliti dari sebuah kebijakan
melalui penelitian kebijakan.

10. Penelitian Tindakan


Pada dasarnya penelitian tindakan bertujuan untuk mengembangkan keterampilan-
keterampilan atau pendekatan-pendekatan baru dan untuk memecahkan masalah-masalah
social dengan aplikasi langsung di ruangan atau pada situasi dunia kerja.
Sedangkan relevansinya dengan penelitian kebijakan adalah Bahwa penelitian tindakan
(action research) mengkombinasikan dua sisi secara langsung, yaitu sisi penelitian yang
dilakukan oleh peneliti dan sisi kebijakan atau tindakan yang dilakukan oleh klien atau
pembuat kebijakan untuk mencapai tujuan tertentu berupa ketrampilan prakits dan
pendekatan baru yang relevan bagi perbaikan atau pengembangan tatanan sosial.

Dari kutipan diatas dapat dinyatakan bahwa ada titik temu antara penelitian tindakan
dengan penelitian kebijakan, meskipun tidak dapat dikatakan identik. Beberapa titik temunya
adalah: Pada tahap perumusan masalah, baik pada penelitian tindakan maupun pada
penelitian kebijakan, kerja sama antara peneliti dengan pembuat kebijakan mutlak diperlukan.
Kedua jenis penelitian ini sama-sama bersifat empiris dan lemah ketertiban ilmiahnya, sama-
sama berpijak pada acuan teoretis yang tajam. Sebagai salah satu metode dalam penelitian
kebijakan, penelitian tindakan harus diakhiri dengan rekomendasi yang aplikatif bagi
pembuat kebijakan untuk memecahkan masalah sosial.

F. Out Line Naskah Kebijakan (Policy Paper)

Ada tiga jenis naskah kebijakan, yaitu: penelitian kebijakan (policy study), ringkasan
kebijakan (policy brief) dan memo kebijakan (policy memo). Secara struktural naskah
kebijakan ini memiliki elemen-elemen naskah (out line) yang sama.

Deskripsi masalah memuat dua hal penting: (a) latar belakang masalah dan (b)
masalah dalam konteks kebijakan saat ini. Lebih lanjut Edi Suahrto dalam bukunya Analisis
Kebijakan Publik menjabarkan bahwa deskripsi masalah dalam sebuah policy paper harus
mampu:
• Menjelaskan masalah yang menjadi fokus analisis kebijakan. Bisa dimulai dengan
mendiskusikan beberapa isu atau masalah sosial yang ‘serumpum’ atau berkaitan. Kemudian
menyatakan satu isu atau masalah kebijakan yang dipilih.

• Meyakinkan pembaca bahwa isu yang diangkat memerlukan perhatian audien kebijakan
(pemerintah, LSM atau analis kebijakan yang lain). Karenanya, isu yang diangkat hendaknya
lebih dari sekedar asumsi, hipotesis dan apalagi gossip. Sebaiknya diback-up oleh data hasil
penelitian kita maupun penelitian orang lain (boleh juga mengemukakan informasi dari ahli,
media massa, pejabat pemerintah sebagai pendukung data).
• Memfokuskan dan menggarisbawahi masalah dalam konteksnya secara spesifik, termasuk
didalamnya mendiskusikan sebab-sebab dan akibat-akibat dari masalah tersebut.
• Membangun kerangka dengan mana pilihan-pilihan kebijakan memiliki dasar argument
secara komprehensif.