Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA PASIEN DENGAN INTOKSIKASI : IFO (BAYGON)


DI IGD RS ROEMANI MUHAMMADIYAH SEMARANG

Disusun Oleh :
RICHA JANNET FERDISA
G2A015069

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


FAKULTTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMADIYAH SEMARANG
TAHUN 2018 / 2019
LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN INTOKSIKASI : IFO

(BAYGON)

A. Definisi

Keracunan atau intoksikasi adalah keadaan patologik yang disebabkan oleh obat,

serum, alkohol, bahan serta senyawa kimia toksik. Keracunan juga merupakan kondisi atau

keadaan fisik yang terjadi jika suatu zat,dalam jumlah relatif sedikit, terkena zat tersebut pada

permukaan tubuh, termakan, terinjeksi, terisap atau terserap serta terakumulasi dalam organ

tubuh, tergantung sifatnya pada tulang, hati, darah atau organ lainnya sehingga akan

menghasilkan efek yang tidak diinginkan dalam jangka panjang yang selanjutnya akan

menyebabkan kerusakan struktur/gangguan fungsi tubuh.

Racun adalah zat atau bahan yang bila masuk ke dalam tubuh melalui mulut, hidung

(inhalasi), suntikan dan absorpsi melalui kulit atau digunakan terhadap organisme hidup

dengan dosis relatif kecil akan merusak kehidupan atau mengganggu dengan serius fungsi

satu atau lebih organ tubuh atau jaringan (Mc. Graw Hill Nursing Dictionary).

Menurut Taylor racun adalah setiap bahan atau zat yang dalam jumlah relatif kecil

bila masuk kedalam tubuh akan menimbulkan reaksi kimiawi yang akan menyebabkan

penyakit atau kematian . Baygon termasuk kedalam salah satu jenis racun, yaitu racun

serangga (insektisida).

Berdasarkan struktur kimianya insektisida dapat digolongkan menjadi :

1. Insektisida golongan fospat organic (IFO), seperti : Malathoin, Parathion, Paraoxan ,


diazinon, dan TEP.
2. Insektisida golongan karbamat, seperti : carboryl dan baygon
3. Insektisida golongan hidrokarbon yang diklorkan, seperti : DDT endrin, chlordane, dieldrin
dan lindane.

1
Keracunan akibat insektisida biasanya terjadi karena kecelakaan dan percobaan bunuh diri ,
jarang sekali akibat pembunuhan.

B. Patofisiologis
Insektisida ini bekerja dengan menghambat dan menginaktivasikan enzim
asetilkolinesterase. Enzim ini secara normal menghancurkan asetilkolin yang dilepaskan oleh
susunan saraf pusat, gangglion autonom, ujung-ujung saraf parasimpatis, dan ujung-ujung saraf
motorik. Hambatan asetilkolinesterase menyebabkan tertumpuknya sejumlah besar asetilkolin
pada tempat-tempat tersebut.
Asetilkholin itu bersifat mengeksitasi dari neuron – neuron yang ada di post sinaps,
sedangkan asetilkolinesterasenya diinaktifkan, sehingga tidak terjadi adanya katalisis dari asam
asetil dan kholin. Terjadi akumulasi dari asetilkolin di sistem saraf tepi, sistem saraf pusatm
neomuscular junction dan sel darah merah, Akibatnya akan menimbulkan hipereksitasi secara
terus menerus dari reseptor muskarinik dan nikotinik.
Perlu diketahui dulu bahwa didalam baygon itu terkandung 2 racun utama yaitu Propoxur
dan transfluthrin. Propoxur adalah senyawa karbamat yang merupakan senyawa Seperti
organofosfat tetapi efek hambatan cholin esterase bersivat reversibel dan tidak mempunyai efek
sentral karena tidak dapat menembus blood brain barrier. Gejala klinis sama dengan keracunan
organofosfat tetapi lebih ringan dan waktunya lebih singkat. Penatalaksanaannya juga sama
seperti pada keracunan organofosfat.
Dampak terbanyak dari kasus ini adalah pada sistem saraf pusat yang akan mengakibatkan
penurunan tingkat kesadaran dan depresi pernapasan. Fungsi kardiovaskuler mungkin juga
terganggu, sebagian karena efek toksik langsung pada miokard dan pembuluh darah perifer,
dan sebagian lagi karena depresi pusat kardiovaskular di otak. Hipotensi yang terjadi mungkin
berat dan bila berlangsung lama dapat menyebabkan kerusakan ginjal, hipotermia terjadi bila
ada depresi mekanisme pengaturan suhu tubuh. Gambaran khas syok mungkin tidak tampak
karena adanya depresi sistem saraf pusat dan hipotermia, Hipotermia yang terjadi akan
memperberat syok, asidemia, dan hipoksia.

C. Cara Kerja Racun


Bila dilihat dari cara kerjanya, maka insektisida golongan fospat organik dan golongan
karbamat dapat dikategorikan dalam antikolinesterase (Cholynesterase inhibitor insektisida),

2
sehingga keduanya mempunyai persamaan dalam hal cara kerjanya , yaitu merupakan inhibitor
yang langsung dan tidak langsung terhadap enzim kholinesterase.
Racun jenis ini dapat diabsorbsi melalui oral, inhalasi, dan kulit. Masuk ke dalam tubuh dan
akan mengikat enzim asetilkholinesterase ( AChE ) sehingga AChE menjadi inaktif maka akan
terjadi akumulasi dari asetilkholin. Dalam keadaan normal enzim AChE bekerja untuk
menghidrolisis arakhnoid (AKH ) dengan jalan mengikat Akh –AChE yang bersifat inaktif.
Bila konsentrasi racun lebih tinggi akibatnya akan terjadi penumpukan AKH ditempat-tempat
tertentu, sehingga timbul gejala gejala berupa ransangan AKH yang berlebihan yang akan
menimbulkan efek muscarinik, nikotinik dan SSP (menimbulkan stimulasi kemudian depresi
SSP).
Pada keracunan IFO, ikatan-ikatan IFO – AChE bersifat menetap (ireversibel), sedangkan
keracunan carbamate ikatannya bersifat sementara (reversible ). Secara farmakologis efek AKH
dapat dibagi 3 golongan :
1. Muskarini, terutama pada saluran pencernaan, kelenjar ludah dan keringat, pupil, bronkus
dan jantung.
2. Nikotinik, terutama pada otot-otot skeletal, bola mata, lidah, kelopak mata dan otot
pernafasan.
3. SSP, menimbulkan nyeri kepala, perubahan emosi, kejang-kejang (konvulsi) sampai
koma
Kita dapat menduga terjadinya keracunan dengan golongan ini jika :
1. Gejala–gejala timbul cepat, bila > 6 jam jelas bukan keracunan dengan insektisida
golongan ini.
2. Gejala–gejala progresif, makin lama makin hebat, sehingga jika tidak segera
mendapatkan pertolongan dapat berakibat fatal, terjadi depresi pernafasan dan blok
jantung.
3. Gejala–gejala tidak dapat dimasukkan kedalam suatu sindroma penyakit apapun, gejala
dapat seperti gastroenteritis, ensephalitis, pneumonia, Dan lain-lain.
4. Dengan terapi yang lazim tidak menolong.
5. Pada pemeriksaan anamnesa ada kontak dengan keracunan golongan ini.

3
D. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala yang mungkin timbul akibat reaksi keracunan adalah gangguan
penglihatan , gangguan pernafasan dan hiper aktif gastrointestinal. Untuk jenis keracunan akut
dan kronis memiliki tanda dan gejala yang berbeda-beda, seperti yang dijelaskan di bawah ini
:
1. Keracunan Akut
Tanda dan gejala timbul dalam waktu 30–60 menit dan mencapai maksimum dalam 2–8
jam. Berikut adalah kategori keracunan :
a. Keracunan ringan : Anoreksia, sakit kepala, pusing, lemah, ansietas, tremor lidah dan
kelopak mata, miosis, penglihatan kabur.
b. Keracunan Sedang : Nausia, Salivasi, lakrimasi, kram perut, muntah– muntah,
keringatan, nadi lambat dan fasikulasi otot.
c. Keracunan Berat : Diare, pin point, pupil tidak bereaksi, sukar bernafas, edema paru,
sianons, kontrol spirgter hilang, kejang – kejang, koma, dan blok jantung.
2. Keracunan Kronis
Penghambatan kolinesterase akan menetap selama 2-6 minggu (organofospat). Untuk
karbamat ikatan dengan AchE hanya bersifat sementara dan akan lepas kembali setelah
beberapa jam (reversibel ) . Keracunan kronis untuk karbomat tidak ada.
Gejala-gejala bila ada dapat menyerupai keracunan akut yang ringan, tetapi bila eksposure
lagi dalam jumlah yang kecil dapat menimbulkan gejala-gejala yang berat. Kematian
biasanya terjadi karena kegagalan pernafasan, dan pada penelitian menunjukkan bahwa
segala keracunan mempunyai korelasi dengan perubahan dalam aktivitas enzim
kholinesterase yang terdapat pada pons dan medulla ( Bajgor dalam Rohim, 2001).
Kegagalan pernafasan dapat pula terjadi karena adanya kelemahan otot pernafasan, spasme
bronchus dan edema pulmonum.

E. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan rutin tidak banyak menolong
2. Pemeriksaan khusus, misalnya pengukuran kadar AChE dalam sel darah merah dan
plasma, penting untuk memastikan diagnosis keracunan akut maupun kronik.
a. Keracunan akut :

4
1) Ringan 40 – 70 % N
2) Sedang 20 % N
3) Berat < 20 % N
b. Keracunan kronik : bila kadar AChE menurun sampai 25 – 50 %, setiap individu yang
berhubungan dengan insektisida ini harus segera disingkirkan dan baru diizinkan
bekerja kembali bila kadar AChE telah meningkat > 75 % N.
3. Pemeriksaan PA
Pada keracunan acut, hasil pemeriksaan patologi biasanya tidak khas. Sering hanya
ditemukan edema paru, dilatasi kapiler, hiperemi paru,otak dan organ-oragan lainnya.

F. Penatalaksanaan Kegawatdaruratan
Hal yang pertama kali harus dilakukan dalam kegawatdaruratan dalam keracunan adalah
melakukan survey primer dan sekunder, yaitu meliputi :
1. Survey Primer
a. Resusitasi (ABCD).
1) Airway
Periksa klancaran jalan napas, gangguan jalan napas sering terjadi pada klien
dengan keracunan baygon, botulisme karena klien sering mengalami depresi
pernapasan seperti pada klien keracunan baygon, botulinun. Usaha untuk
kelancaran jalan napas dapat dilakukan dengan head tilt chin lift/jaw
trust/nasopharyngeal airway/ pemasangan guedal.
Cegah aspirasi isi lambung dengan posisi kepala pasien diturunkan, menggunakan
jalan napas orofaring dan pengisap. Jika ada gangguan jalan napas maka dilakukan
penanganan sesuai BHD (bantuan hidup dasar). Bebaskan jalan napas dari
sumbatan bahan muntahan, lender, gigi palsu, pangkal lidah dan lain-lain. Kalau
perlu dengan “Oropharyngealairway”, alat penghisap lendir. Posisi kepala
ditengadahkan (ekstensi), bila perlu lakukan pemasangan pipa ETT.
2) Breathing
Kaji keadekuatan ventilasi dengan observasi usaha ventilasi melalui analisa gas
darah atau spirometri. Siapkan untuk ventilasi mekanik jika terjadi depresi
pernpasan. Tekanan ekspirasi positif diberikan pada jalan napas, masker kantong
dapat membantu menjaga alveoli tetap mengembang. Berikan oksigen pada klien

5
yang mengalami depresi pernapasan, tidak sadar dan syock. Jaga agar pernapasan
tetap dapat berlangsung dengan baik.
3) Circulation
Jika ada gangguan sirkulasi segera tangani kemungkinan syok yang tepat, dengan
memasang IV line, mungkin ini berhubungan dengan kerja kardio depresan dari
obat yang ditelan, pengumpulan aliran vena di ekstremitas bawah, atau penurunan
sirkulasi volume darah, sampai dengan meningkatnya permeabilitas kapiler. Kaji
TTV, kardiovaskuler dengan mengukur nadi, tekanan darah, tekanan vena sentral
dan suhu. Stabilkan fungsi kardioaskuler dan pantau EKG.
4) Disability
Pantau status neurologis secara cepat meliputi tingkat kesadaran dan GCS, ukuran
dan reaksi pupil serta tanda-tanda vital. Penurunan kesadaran dapat terjadi pada
klien keracunan alcohol dan obat-obatan. Penurunan kesadaran dapat juga
disebabkan karena penurunan oksigenasi, akibat depresi pernapasan seperti pada
klien keracunan baygon, botulinum.
2. Survey Sekunder
Kaji adanya bau baygon dari mulut dan muntahan, sakit kepala, sukar bicara, sesak nafas,
tekanan darah menurun, kejang-kejang, gangguan penglihatan, hypersekresi hidung,
spasme laringks, brongko kontriksi, aritmia jantung dan syhock.
3. Langkah setelah survey primer (resusitasi) dan survey skunder adalah sebagai berikut :
a. Dekontaminasi
Merupakan terapi intervensi yang bertujuan untuk menurunkan pemaparan terhadap
racun, mengurangi absorpsi dan mencegah kerusakan. Ada beberapa dekontaminasi
yang perlu dilakukan yaitu:
b. Dekontaminasi pulmonal
Dekontaminasi pulmonal berupa tindakan menjauhkan korban dari pemaparan inhalasi
zat racun, monitor kemungkinan gawat napas dan berikan oksigen 100% dan jika perlu
beri ventilator.
c. Dekontaminasi mata
Dekontaminasi mata berupa tindakan untuk membersihkan mata dari racun yaitu
dengan memposisikan kepala pasien ditengadahkan dan miring ke posisi mata yang

6
terburuk kondisinya. Buka kelopak matanya perlahan dan irigasi larutan aquades atau
NaCL 0,9% perlahan sampai zat racunnya diperkirakan sudah hilang.
d. Dekontaminasi kulit (rambut dan kuku)
Tindakan dekontaminasi paling awal adalah melepaskan pakaian, arloji, sepatu dan
aksesoris lainnnya dan masukkan dalam wadah plastik yang kedap air kemudian tutup
rapat, cuci bagian kulit yang terkena dengan air mengalir dan disabun minimal 10
menit selanjutnya keringkan dengan handuk kering dan lembut.
e. Dekontaminasi gastrointestinal
Penelanan merupakan rute pemaparan yang tersering, sehingga tindakan pemberian
bahan pengikat (karbon aktif), pengenceran atau mengeluarkan isi lambung dengan
cara induksi muntah atau aspirasi dan kumbah lambung dapat mengurangi jumlah
paparan bahan toksik.
4. Eliminasi
Tindakan eliminasi adalah tindakan untuk mempercepat pengeluaran racun yang sedang
beredar dalam darah, atau dalam saluran gastrointestinal setelah lebih dari 4 jam.
a. Emesis, merangsang penderita supaya muntah pada penderita yang sadar atau dengan
pemberian sirup ipecac 15 – 30 ml. Dapat diulang setelah 20 menit bila tidak berhasil.
b. Katarsis, (intestinal lavage), dengan pemberian laksan bila diduga racun telah sampai
diusus halus dan besar.
c. Kumbah lambung atau gastric lavage, pada penderita yang kesadarannya menurun,
atau pada penderita yang tidak kooperatif. Hasilnya paling efektif bila kumbah
lambung dikerjakan dalam 4 jam setelah keracunan.
Emesis, katarsis dan kumbah lambung sebaiknya hanya dilakukan bila keracunan terjadi
kurang dari 4-6 jam. Pada koma derajat sedang hingga berat tindakan kumbah lambung
sebaiknya dukerjakan dengan bantuan pemasangan pipa endotrakeal berbalon, untuk
mencegah aspirasi pnemonia.
5. Antidotum
Pada kebanyakan kasus keracunan sangat sedikit jenis racun yang ada obat antidotumnya
dan sediaan obat antidot yang tersedia secara komersial sangat sedikit jumlahnya. Salah
satu antidotum yang bisa digunakan adalah Atropin sulfat (SA) yang bekerja menghambat
efek akumulasi AKH pada tempat penumpukannya.
Adapun prosedurnya adalah sebagai berikut :

7
a. Pengobatan Pada pasien yang sadar :
1) Kumbah lambung
2) Injeksi sulfas atropin 2 mg (8 ampul) Intra muscular
3) 30 menit kemudian berikan 0,5 mg SA (2 ampul) IM, diulang tiap 30 menit sampai
terjadi artropinisasi.
4) Setelah atropinisasi tercapai, diberikan 0,25 mg SA (1 ampul) IM tiap 4 jam
selama 24 jam .
b. Pada pasien yang tidak sadar
1) Injeksi sulfus Atropin 4 mg intra vena (16 ampul)
2) 30 menit kemudian berikan SA 2 mg (8 ampul) IM, diulangi setiap 30 menit sampai
klien sadar.
3) Setelah klien sadar, berikan SA 0,5 mg (2 ampul) IM sampai tercapai atropinisasi,
ditandai dengan midriasis, fotofobia, mulut kering, takikardi, palpitasi, dan tensi
terukur.
4) Setelah atropinisasi tercapai, berikan SA 0,25 mg (1 ampul) IM tiap 4 jam selama
24 jam.
c. Pada Pasien Anak
1) Lakukan tindakan cuci lambung atau membuat klien muntah.
2) Berikan nafas buatan bila terjadi depresi pernafasan dan bebaskan jalan nafas dari
sumbatan– sumbatan.
3) Bila racun mengenai kulit atau mukosa mata, bersihkan dengan air.
4) Atropin dapat diberikan dengan dosis 0,015 – 0,05 mg / Kg BB secara intra vena
dan dapat diulangi setiap 5 – 10 menit sampai timbul gejala atropinisasi. Kemudian
berikan dosis rumat untuk mempertahankan atropinisasi ringan selama 24 jam.
5) Protopan dapat diberikan pada anak dengan dosis 0,25 gram secara intra vena
sangat perlahan – lahan atau melalui IVFD
6) Pengobatan simtomatik dan suportif.

G. Komplikasi
Komplikasi yang bisa muncul pada kasus ini diantaranya adalah :
1. Shock
2. Henti nafas

8
3. Henti jantung
4. Kejang
5. Koma

H. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Identitas pasien
Identitas Pasien : nama, usia (bisa terjadi pada semua usia), jenis kelamin, alamat,
agama, pekerjaan Pekerjaan yang berhubungan dengan (sering terjadi pada orang
renang, penyelam), pendidikan.
b. Riwayat Kesehatan
Riwayat keracunan, bahan racun yang digunakan, berapa lama diketahui setelah
keracunan,ada masalah lain sebagi pencetus keracunan dan sindroma toksis yang
ditimbulkan dan kapan terjadinya.
c. Pemeriksaan Fisik
1) Tanda-tanda vital
a) Distress pernapasan
b) Sianosis
c) Takipnoe, dispnea
d) Hipoksia
2) Neurologi
IFO menyebabkan tingkat toksisitas lebih tinggi, efek-efeknya termasuk letargi,
peka rangsangan, pusing, stupor & koma.
3) Sirkulasi
Tanda : Nadi lemah (hipovolemia), takikardi, hipotensi (pada kasus berat), aritmia
jantung, pucat, sianosis, keringat banyak.
4) GI Tract
Iritasi mulut, rasa terbakar pada selaput mukosa mulut dan esofagus, mual dan
muntah.
5) Kardiovaskuler
Disritmia.

9
d. Pada pemeriksaan ADL (Activity Daily Living) data yang mungkin muncul adalah
sebagai berikut :
1) Aktifitas dan istirahat
Keletihan,kelemahan,malaise, kelemahan, hiporefleksi
2) Makanan Cairan
Dehidrasi, mual , muntah, anoreksia, nyeri uluhati, perubahan turgor
kulit/kelembaban, berkeringat banyak.
3) Eliminasi
Perubahan pola berkemih, distensi vesika urinaria, bising usus menurun,
kerusakan ginjal, perubahan warna urin contoh kuning pekat, merah, coklat.
4) Nyaman/ nyeri
Nyeri tubuh, sakit kepala, perilaku berhati-hati/distraksi, gelisah.
5) Keamanan
Penurunan tingkat kesadaran, koma, syok, asidemia.
e. Sedangkan pada pemeriksaan laboratorium didapatkan hasil sebagai berikut :
1) Eritrosit menurun
2) Proteinuria
3) Hematuria
4) Hipoplasi sumsum tulang

I. Diagnosa Keperawatan
a. Tidak efektifnya pola napas berhubungan dengan depresi pernapasan akibat efek
langsung dari intoksikasi baygon.
b. Penurunan kesadaran berhubungan dengan depresi sistem saraf pusat.
c. Resiko gangguan keseimbangan cairan berhubungan dengan output yang berlebihan.

J. Intervensi Keperawatan
a. Tidak efektifnya pola nafas berhubungan dengan depresi pernapasan akibat efek langsung
dari toksisitas baygon.
Tujuan : Mempertahankan keefektifan pola nafas.
Kriteria hasil : RR dalam batas normal, jalan nafas bersih, sputum tidak ada.

10
Intervensi Rasional
Pantau tingkat, irama pernapasan & Efek insektisida mendepresi SSP yang mungkin dapat
suara napas serta pola pernapasan mengakibatkan hilangnya kepatenan aliran udara atau depresi
pernapasan, pengkajian yang berulang kali sangat penting
karena kadar toksisitas mungkin berubah-ubah secara drastis.
Tinggikan kepala tempat tidur Menurunkan kemungkinan aspirasi, diafragma bagian bawah
untuk menigkatkan inflasi paru.
Dorong untuk batuk/ nafas dalam Memudahkan ekspansi paru & mobilisasi sekresi untuk
mengurangi resiko atelektasis/pneumonia.
Auskultasi suara napas Pasien beresiko atelektasis dihubungkan dengan hipoventilasi &
pneumonia.
Berikan O2 jika dibutuhkan Hipoksia mungkin terjadi akibat depresi pernapasan
Kolaborasi untuk sinar X dada, Memantau kemungkinan munculnya komplikasi sekunder
Blood Gas Analysis seperti atelektasis/pneumonia, evaluasi kefektifan dari usaha
pernapasan.
b. Penurunan kesadaran berhubungan dengan depresi sistem saraf pusat
Tujuan : Tingkat kesadaran klien dapat dipertahankan
Kriteria hasil :
1) Kesadaran composmentis (GCS : 15)
2) Tanda-tanda vital dalam batas normal
Intervensi Rasional
Monitor vital sign tiap 15 menit Bila ada perubahan yang bermakna merupakan indikasi
penurunan kesadaran
Observasi tingkat kesadaran pasien Penurunan kesadaran sebagai indikasi penurunan aliran darah
otak
Kaji adanya tanda-tanda distress Gejala tersebut merupakan manifestasi dari perubahan pada
pernapasan, nadi cepat, sianosis dan otak, ginjal, jantung dan paru.
kolapsnya pembuluh darah
Monitor adanya perubahan tingkat Tindakan umum yang bertujuan untuk keselamatan hidup,
kesadaran meliputi resusitasi : Airway, breathing, sirkulasi
Kolaborasi dengan tim medis dalam Anti dotum (penawar racun) dapat membantu mengakumulasi
pemberian anti dotum penumpukan racun
a. Resiko gangguan keseimbangan cairan berhubungan dengan output yang berlebihan
Tujuan : Kekurangan cairan tidak terjadi

11
Kriteria hasil :
1) Tanda-tanda vital stabil
2) Turgor kulit stabil
3) Membran mukosa lembab
4) Pengeluaran urine normal 1 – 2 cc/kg BB/jam
Intervensi Rasional
Monitor pemasukan dan Dokumentasi yang akurat dapat membantu dalam
pengeluaran cairan. mengidentifikasi pengeluran dan penggantian cairan.
Monitor suhu kulit, palpasi denyut Kulit dingain dan lembab, denyut yang lemah mengindikasikan
perifer. penurunan sirkulasi perifer dan dibutuhkan untuk pengantian
cairan tambahan.
Observasi adanya mual, muntah, Mual, muntah dan perdarahan yang berlebihan dapat mengacu
perdarahan pada hipordemia.
Pantau tanda-tanda vital Hipotensi, takikardia, peningkatan pernapasan mengindikasikan
kekurangan cairan (dehindrasi/hipovolemia).
Kolaborasi dengan tim medis Cairan parenteral dibutuhkan untuk mendukung volume cairan
dalam pemberian cairan parenteral /mencegah hipotensi.
Kolaborasi dalam pemberian Antiemetik dapat menghilangkan mual/muntah yang dapat
antiemetik menyebabkan ketidak seimbangan pemasukan.
Berikan kembali pemasukan oral Pemasukan peroral bergantung kepada pengembalian fungsi
secara berangsur-angsur. gastrointestinal.
Pantau studi laboratorium (Hb, Ht) Sebagai indikator untuk menentukan volume sirkulasi dengan
kehilanan cairan.

12
DAFTAR PUSTAKA

Abadi, Nur. 2008. Buku Panduan Pelatihan BC & TLS (Basic Cardiac & Trauma Life Support).
Jakarta : EMS 119
Blantan, Kamanti Indriyani. 2012. Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Keracunan Insektisida.
Morton, Gallo, Hudak, 2012. Keperawatan Kritis volume 1&2 edisi 8. EGC, Jakarta
Muttaqin Arif, Kumala Sari. Gangguan Gastrointestinal Aplikasi Asuhan Keperawatan Medical
Bedah. Salemba Medika. Jakarta :2011

13