Anda di halaman 1dari 19

ABORTUS DITINJAU DARI SEGI ETIK DAN HUKUM

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK FK UNPATTI 2
DOKTER MUDA ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL
(Periode 9 Desember 2019 – 19 Januari 2020)

Pembimbing:
Prof. H. Sudjari Solichin, dr. Sp.F (K)

DEPARTEMEN/INSTALASI ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN


MEDIKOLEGAL (IKF-ML) RSUD dr. SOETOMO
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA 2020
LEMBAR PENGESAHAN

Referat Abortus Ditinjau dari Segi Etik dan Hukum telah disetujui dan disahkan oleh
Departemen/Instalasi Kedokteran Forensik dan Medikolegal FK Unair RSUD dr. Soetomo
Surabaya, pada:
Hari :
Tanggal :
Tempat : Departemen//Instalasi Kedokteran Forensik dan Medikolegal FK Unair RSUD
dr. Soetomo Surabaya
Penyusun : DM UNPATTI 2
(Periode 9 Desember 2019 – 19 Januari 2020)
1. Marselno Tatipikalawan 2018-84-063
2. Nazihan S. Alkatiri 2018-84-062
3. Queen J. Mailoa 2018-84-035
4. Ridwan M. Husni 2018-84-036
5. Mi’raj A.J. Hasanusi 2018-84-037

Surabaya, Januari 2020

Koordinator Pendidikan Pembimbing

dr. Nily Sulistyorini, Sp.F Prof. H. Sudjari Solichin, dr. Sp.F (K)
NIP. 198204152009122002 NIP. 195207071980031004

ii
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan
rahmat-Nya, Referat dengan judul “Abortus Ditinjau dari Segi Etik dan Hukum” dapat penulis
selesaikan tepat pada waktunya.
Penulis mengucapkan Terima Kasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat:
1. dr. H. Edi Suyanto, Sp.F, SH, MH. Kes sebagai Kepala Departemen Kedokteran Forensik
dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga sekaligus sebagai Ketua SMF
Kedokteran Forensik dan Medikolegal RSUD Dr. Soetomo Surabaya
2. dr. Abdul Aziz, Sp.F sebagai Kepala Instalansi Forensik dan Medikolegal RSUD Dr.
Soetomo Surabaya
3. dr. Nily Sulistyorini, Sp.F sebagai Koordinator Pendidikan S1 Kedokteran Forensik dan
Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga
4. Prof. dr. H. Sudjari Solichin, Sp.F(K) sebagai pembimbing yang dengan penuh ketulusan
hati telah membimbing, sehingga dapat membuka cakrawala berpikir dan menambah
pengetahuan menjadi lebih baik.
5. Orang tua yang telah memberikan dukungan baik moril, maupun materil.
6. Kepada seluruh teman-teman sejawat yang dengan tulus memberikan semangat, khususnya
kepada teman-teman sejawat dalam Stase Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal
Penulis menyadari sungguh, referat ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu,
kritik dan saran diharapkan untuk pengembangan referat ini kedepannya.

Ambon, Januari 2020

Penulis

iii
DAFTAR ISI

Halaman Judul ................................................................................................................... i


Lembar Pengesahan .......................................................................................................... ii
Kata Pengantar ................................................................................................................. iii
Daftar Isi .......................................................................................................................... iv
BAB I: PENDAHULUAN ................................................................................................ 1
1.1 Latar Belakang ................................................................................................ 1
1.2 Tujuan Umum ................................................................................................. 2
1.3 Tujuan Khusus ................................................................................................ 2
1.4 Manfaat Penulisan ........................................................................................... 2
BAB II: TINJAUAN PUSTAKA ..................................................................................... 4
2.1 Definisi Abortus .............................................................................................. 3
2.2 Jenis-jenis Abortus .......................................................................................... 3
2.3 Metode-metode Abortus Provokatus Kriminalis ............................................ 5
2.5 Komplikasi Abortus ........................................................................................ 6
2.6 Abortus dalam Aspek Etik dan Hukum .......................................................... 6
BAB III: Kesimpulan ...................................................................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................... 15

iv
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Abortus menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah pengguguran kandungan.
Makna abortus lebih mengarah kepada suatu tindakan yang disengaja untuk mengakhiri
kehamilan seorang ibu ketika janin sudah ada tanda-tanda kehidupan dalam rahim. Sedangkan
abortus adalah berakhirnya kehamilan atau hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar
kandungan. Abortus sendiri terbagi dua yaitu abortus spontan dan abortus provokatus. Abortus
spontan adalah merupakan mekanisme alamiah yang menyebabkan terhentinya proses
kehamilan sebelum berumur 20 minggu. Penyebabnya dapat oleh karena penyakit yag diderita
si ibu ataupun sebab-sebab lain yang pada umumnya berhubungan dengan kelainan pada sistem
reproduksi. Abortus spontan sering disebut dengan keguguran. Sedangkan abortus provokatus
adalah suatu upaya yang disengaja untuk menghentikan proses kehamilan sebelum berumur 20
minggu, dimana janin (hasil konsepsi) yang dikeluarkan tidak bisa bertahan hidup di dunia
luar.1
Abortus provokatus sendiri terbagi menjadi dua yaitu abortus provokatus medisinalis
dan abortus provokatus kriminalis. Abortus provokatus medisinalis adalah pengguguran
kandungan menggunakan alat-alat medis dengan alasan kehamilan membahayakan dan dapat
membawa maut bagi ibu, misalnya karena ibu mempunyai penyakit berat tertentu. Abortus
terapeutik diizinkan menurut ketentuan profesional seorang dokter atas indikasi untuk
menyelamatkan sang ibu. Jika ditinjau dari aspek hukum dapat digolongkan ke dalam Abortus
buatan legal. Sedangkan abortus provokatus kriminalis adalah pengguguran kandungan tanpa
alasan medis yang sah dan dilarang hukum karena jika ditinjau dari aspek hukum dapat
digolongkan ke dalam abortus buatan ilegal. Termasuk dalam abortus jenis ini adalah abortus
yang terjadi atas permintaan pihak perempuan, suami, atau pihak keluarga kepada seorang
dokter untuk menggugurkan kandungannya. 1
Abortus di dunia dan di Indonesia khususnya tetap menimbulkan banyak persepsi dan
bermacam interpretasi, tidak saja dari sudut pandang kesehatan, tetapi juga dari sudut pandang
hukum dan agama. Abortus merupakan masalah kesehatan masyarakat karena memberi
dampak pada kesakitan dan kematian ibu. Sebagaimana diketahui penyebab kematian ibu yang
utama adalah perdarahan, infeksi dan eklampsia. Diperkirakan diseluruh dunia setiap tahun
terjadi 20 juta kasus abortus tidak aman, 70 ribu perempuan meninggal akibat abortus tidak

1
aman dan 1 dari 8 kematian ibu disebabkan oleh abortus tidak aman. 95% (19 dari 20 kasus
abortus tidak aman) dintaranya bahkan terjadi di negara berkembang. Di Indonesia setiap
tahunnya terjadi kurang lebih 2 juta kasus abortus, artinya 43 kasus/100 kelahiran hidup (sensus
2000). Angka tersebut memberikan gambaran bahwa masalah abortus di Indonesia masih
cukup besar (Wijono 2000). Suatu hal yang dapat kita tengarai, kematian akibat infeksi abortus
ini justru banyak terjadi di negara-negara dimana abortus dilarang keras oleh undang-undang.
2

1.2 Tujuan Umum


Mampu mengetahui dan menjelaskan abortus ditinjau dari aspek etik dan hukum

1.3 Tujuan Khusus


1. Mampu mengetahui definisi abortus
2. Mampu mengetahui dan menjelaskan jenis-jenis abortus
3. Mampu mengetahui dan menjelaskan metode-metode abortus
4. Mampu menjelaskan komplikasi abortus
5. Mampu mengetahui abortus yang ditinjau dari aspek etik
6. Mampu mengetahui abortus yang ditinjau dari aspek hukum

1.4 Manfaat
1. Bagi tenaga medis
Menambah pengetahuan tentang aspek etik dan hukum terhadap abortus
2. Bagi penyidik
Menambah pengetahuan untuk mengidentifikasi kasus abortus yang terjadi
3. Bagi masyarakat
Menambah pengetahuan mengenai abortus dan hukum-hukum yang berlaku terhadap
kasus abortus

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Abortus


Abortus dalam ilmu obstetri sebagai keluarnya produk konsepsi sebelum janin dapat
hidup di luar kandungan, yakni pada usia kehamilan 20 minggu atau jika berat janin kurang
dari 500 gram.3
Pengertian abortus dari aspek kedokteran forensik adalah pengeluaran hasil konsepsi
pada setiap stadium perkembangannya sebelum masa kehamilan lengkap tercapai (38-40
minggu).4

2.2 Jenis-jenis abortus3


1) Abortus spontan
Merupakan mekanisme alamiah yang menyebabkan terhentinya proses kehamilan
tanpa tindakan. Penyebabnya dapat oleh karena penyakit yang diderita si Ibu ataupun
sebab-sebab lain yang pada umumnya berhubungan dengan kelainan pada sistem
reproduksi, diantaranya.
a. Abortus iminens
Merupakan peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum
20 minggu, dimana hasil konsepsi masih dalam uterus, dan tanpa adanya dilatasi
serviks. Proses awal dari suatu keguguran
b. Abortus insipiens
Merupaka peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum
20 minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat dan mendatar,
tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus, tinggi fundus uteri sesuai dengan usia
gestasi berdasarkan HPHT
c. Abortus kompletus
Proses abortus dimana keseluruhan hasil konsepsi (desidua dan fetus) telah
keluar melalui jalan lahir sehingga rongga rahim kosong pada kehamilan kurang
dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram.
d. Abortus inkompletus
Pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu
dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus

3
e. Missed abortion
Berakhirnya suatu kehamilan sebelum 20 minggu, namun keseluruhan hasil
konsepsi tertahan dalam uterus 2 bulan atau lebih
f. Abortus habitualis
Abortus yang terjadi 3 kali berturut – turut atau lebih oleh sebab apapun.
2) Abortus provokatus
Abortus Provokatus adalah abortus yang sengaja dibuat atau merupakan suatu upaya
yang disengaja, baik dilakukan oleh ibunya sendiri atau dibantu oleh orang lain, untuk
menghentikan proses kehamilan sebelum berumur 20 minggu, dimana janin (hasil
konsepsi) yang dikeluarkan tidak bisa bertahan hidup di dunia luar
a. Abortus provokatus medisinalis
Abortus yang sengaja dibuat atas indikasi medik dalam hal menyelamatkan
nyawa ibu
b. Abortus provokatus kriminalis
Abortus yang sengaja dilakukan dengan tanpa adanya indikasi medik (ilegal)
dan dilarang oleh hukum. Biasanya pengguguran dilakukan dengan
menggunakan alat-alat atau obat-obatan tertentu, atau dengan kekerasan
mekanik lokal.
Kekerasan dapat dilakukan dari luar maupun dari dalam. Kekerasan dari luar
dapat dilakukan sendiri oleh si ibu atau oleh orang lain, seperti melakukan
gerakan fisik berlebihan, jatuh, pemijatan/pengurutan perut bagian bawah,
kekerasan langsung pada perut atau uterus, pengaliran listrik pada serviks dan
sebagainya.
Kekerasan dari dalam yaitu dengan melakukan manipulasi vagina atau uterus.
Manipulasi vagina dan serviks uteri, misalnya dengan penyemprotan air sabun
atau air panas pada porsio, aplikasi asam arsenik, kalium permanganat pekat,
atau jodium tinktur; pemasangan laminaria stift atau kateter ke dalam serviks;
atau manipulasi serviks dengan jari tangan. Manipulasi uterus, dengan
melakukan pemecahan selaput amnion atau dengan penyuntikan ke dalam
uterus.
Pemecahan selaput amnion dapat dilakukan dengan memasukkan alat apa saja
yang cukup panjang dan kecil melalui serviks. Penyuntikan atau penyemprotan
cairan biasanya dilakukan dengan menggunakan Higginson tipe syringe,

4
sedangkan cairannya adalah air sabun, desinfektan atau air biasa/air panas.
Penyemprotan ini dapat mengakibatkan emboli udara.
Bahan-bahan tadi ada yang biasa terdapat dalam jamu peluntur, nanas muda,
bubuk beras dicampur lada hitam, dan lain-lain. Ada juga yang agak beracun
seperti garam logam berat, laksans dan lain-lain; atau bahan yang beracun,
seperti strichnin, prostigmin, pilokarpin, dikumarol, kina dan lain-lain.
Kombinasi kina atau menolisin dengan ekstrak hipofisis (oksitosin) ternyata
sangat efektif. Akhir-akhir ini dikenal juga sitostatika (aminopterin) sebagai
abortivum.
2.3 Metode-metode Abortus Provokatus Kriminalis4
Cara-cara melakukan abortus provokatus kriminalis dapat berupa kekerasan mekanik
maupun kekerasan kimiawi. Kekerasan mekanik dapat bersifat umum maupun lokal
sedangkan kekerasan kimiawi mempergunakan obat-obatan atau bahan-bahan yang bekerja
pada uterus.
1) Kekerasan mekanik
a. Umum:
(1) Latihan olahraga berlebihan
(2) Naik kuda berlebihan
(3) Mendaki gunung, berenang, naik/turun tangga
(4) Tekanan atau trauma pada abdomen
Pada kekerasan umum biasanya tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan, tapi cara ini
jarang berhasil pada kehamilan yang sehat dan normal.
b. Lokal:
(1) Memasukkan alat-alat ke dalam vagina seperti pensil, paku, jeruji sepeda
(2) Alat merenda, kateter atau alat penyemprot untuk menusuk atau
menyemprotkan cairan ke dalam uterus untuk melepas kantung amnion
(3) Alat untuk memasang IUD
(4) Alat yang dapat dialiri arus listrik
2) Kekerasan kimiawi
a. Emmenagonum yakni obat yang melancarkan haid dengan mekanisme kongesti dan
pelebaran mukosa sehingga terjadi perdarahan dan membuat kontraksi uterus
dengan hasil foetus dikeluarkan
b. Purgativa/emetica yakni obat-obat yang menimbulkan kontraksi traktus digestivus
c. Ebolica yakni obat-obat yang menimbulkan kontraksi uterus secara langsung

5
d. Garam logan (arsen, HgCl, Feri klorida) yang menimbulkan kontraksi tonik pada
uterus

2.4 Komplikasi abortus


Komplikasi yang dapat terjadi karena abortus adalah5:
1. Perdarahan (hemorrhage)
2. Perforasi : sering terjadi sewaktu dilatasi dan kuretase yang dilakukan oleh tenaga yang
tidak ahli seperti bidan dan dukun.
3. Infeksi dan tetanus
4. Gagal ginjal akut
5. Syok, pada abortus dapat disebabkan oleh:
- Perdarahan yang banyak disebut syok hemoragik
- Infeksi berat atau sepsis disebut syok septik atau endoseptik
6. DIC (Disseminated Intravaskular Coagulation)

2.5 Abortus Ditinjau dari Aspek Etik dan Hukum


A. Etik
1) Lafal sumpah dokter Indonesia ke-66
“Saya tidak akan mempergunakan pengetahuan kedokteran saya untuk
sesuatu yang bertentangan dengan perikemanusiaan, sekalipun diancam”

2) Kode Etik Kedokteran Indonesia pasal 116


Setiap dokter harus memberikan kesempatan kepada pasien agar senantiasa
dapat berhubungan dengan keluarga dan penasihatnya dalam beribadat dan
atau dalam masalah lainnya.

B. Hukum
KUHP7
1) Pasal 341 KUHP
Seorang ibu yang karena takut akan ketahuan melahirkan anak pada saat anak
dilahirkan atau tidak lama kemudian, dengan sengaja merampas nyawa
anaknya, diancam karena membunuh anak sendiri, dengan pidana penjara paling
lama tujuh tahun.
2) Pasal 342 KUHP

6
Seorang ibu yang untuk melaksanakan niat yang ditentukan karena takut akan
ketahuan bahwa ia akan melahirkan anak pada saat anak dilahirkan atau tidak
lama kemudian merampas nyawa anaknya, diancam karena melakukan
pembunuhan anak sendiri dengan rencana, dengan pidana penjara paling lama
sembilan tahun.
3) Pasal 346 KUHP
Seorang wanita dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungannya
atau menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama
empat tahun.
2) Pasal 347 KUHP
(1) Barang siapa dngan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan
seorang wanita tanpa persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling
lama empat tahun.
(2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, diancam dengan
pidana penjara paling lama lima belas tahun.
3) Pasal 348 KUHP
(1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan
seorang wanita dengan persetujuannya, diancam dengan pidana penjara
paling lama lima tahun enam bulan.
(2) Jika perbuatan itu menyebabkan matinya wanita tersebut, diancam dengan
pidana penjara paling lima tujuh tahun.
4) Pasal 349 KUHP
Jika seorang dokter, bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan
berdasarkan pasal 346, ataupun melakukan atau membantu melakukan salah
satu kejahatan yang diterapkan dalam Pasal 347 dan 348, maka pidana yang
ditentukan dalam pasal itu dapat dapat ditambah dengan sepertiga dan dapat
dicabut hak untuk menjalankan pencarian dalam mana kejahatan dilakukan.

UU Kesehatan no. 36 tahun 20098


1) Pasal 75
(1) Setiap orang dilarang melakukan abortus
(2) Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikecualikan
berdasarkan:

7
a. Indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan,
baik yang mengancam nyawa ibu dan/atau janin, yang menderita
penyakit genetik berat dan/atau cacat bawaan, maupun yang tidak
dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup di luar
kandungan; atau
b. Kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma
psikologis bagi korban perkosaan.
(3) Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya dapat dilakukan
setelah melalui konseling dan/atau penasehatan pra tindakan dan diakhiri
dengan konseling pasca tindakan yang dilakukan oleh konselor yang
kompeten dan berwenang.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai indikasi kedaruratan medis dan perkosaan,
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Peraturan
Pemerintah.
2) Pasal 76
Abortus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 hanya dapat dilakukan:
a. Sebelum kehamilan berumur 6 (enam) minggu dihitung dari hari
pertama haid terakhir, kecuali dalam hal kedaruratan medis;
b. Oleh tenaga kesehatan yang memiliki keterampilan dan kewenangan
yang memiliki sertifikat yang ditetapkan oleh menteri;
c. Dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan;
d. Dengan izin suami, kecuali korban perkosaan; dan
e. Penyedia layanan kesehatan yang memenuhi syarat yang ditetapkan oleh
menteri.
3) Pasal 77
Pemerintah wajib melindungi dan mencegah perempuan dari abortus
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) dan ayat (3) yang tidak bermutu,
tidak aman, dan tidak bertanggung jawab serta bertentangan dengan norma
agama dan ketentuan peraturan perundang-undangan.

4) Pasal 194
Setiap orang yang dengan sengaja melakukan abortus tidak sesuai dengan
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) dipidana dengan

8
pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak
Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

Penjelasan pasal 75
(3) Yang dimaksud dengan “konselor” dalam ketentuan ini adalah setiap orang
yang telah memiliki sertifikat sebagai konselor melalui pendidikan dan
pelatihan. Yang dapat menjadi konselor adalah dokter, psikolog, tokoh
masyarakat, tokoh agama, dan setiap orang yang mempunyai minat dan
memiliki keterampilan untuk itu.

Penjelasan pasal 77
Yang dimaksud dengan praktik abortus yang tidak bermutu, tidak aman, dan tidak
bertanggung jawab adalah abortus yang dilakukan dengan paksaan dan tanpa
persetujuan perempuan yang bersangkutan, yang dilakukan oleh tenaga
kesehatan yang tidak profesional, tanpa mengikuti standar profesi dan pelayanan
yang berlaku, diskriminatif, atau lebih mengutamakan imbalan materi dari pada
indikasi medis.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia no. 61 tahun 20149


1) Pasal 31
(1) Tindakan abortus hanya dapat dilakukan berdasarkan indikasi:
a. Indikasi kedaruratan medis; atau
b. Kehamilan akibat perkosaan
(2) Tindakan abortus akibat perkosaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf
b hanya dapat dilakukan apabila usia kehamilan paling lama berusia 40 (empat
puluh) hari dihitung sejak hari pertama haid terakhir.

2) Pasal 32
(1) Indikasi kedaruratan medis sebagaimana dimaksud dalam pasal 31 ayat (1)
huruf a meliputi:
a. kehamilan yang mengancam nyawa dan kesehatan ibu; dan/atau
b. kehamilan yang mengancam nyawa dan kesehatan, janin, termasuk yang
menderita penyakit genetik berat dan/atau cacat bawaan, maupun yang

9
tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup di luar
kandungan
(2) Penanganan indikasi kedaruratan medis sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilaksanakan sesuai dengan standar.

3) Pasal 33
(1) Penentuan adanya indikasi kedaruratan medis sebagaimana dimaksud dalam
pasal 32 dilakukan oleh tim kelayakan abortus.
(2) Tim sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit terdiri dari 2
(dua) orang tenaga kesehatan yang diketuai oleh dokter yang memiliki
kompetensi dan kewenangan.
(3) Dalam menentukan indikasi kedaruratan medis, tim sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) harus melakukan pemeriksaan sesuai dengan standar.
(4) Berdasarkan hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3), tim
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) membuat surat keterangan kelayakan
abortus.

4) Pasal 34
(1) Kehamilan akibat perkosaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (1)
huruf b merupakan kehamilan hasil hubungan seksual tanpa adanya persetujuan
dari pihak perempuan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Kehamilan akibat perkosaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuktikan
dengan:
a. Usia kehamilan sesuai dengan kejadian perkosaan, yang dinyatakan oleh
surat keterangan dokter; dan
b. keterangan penyidik, psikolog, dan/atau ahli lain mengenai adanya dugaan
perkosaan.

5) Pasal 35
(1) Abortus berdasarkan indikasi kedaruratan medis dan kehamilan akibat
perkosaan harus dilakukan dengan aman, bermutu, dan bertanggung jawab.
(2) Praktik abortus yang aman, bermutu, dan bertanggung jawab sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. dilakukan oleh dokter sesuai dengan standar;

10
b. dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan yang memenuhi syarat yang
ditetapkan oleh Menteri;
c. atas permintaan atau persetujuan perempuan hamil yang bersangkutan;
d. dengan izin suami, kecuali korban perkosaan;
e. tidak diskriminatif; dan
f. tidak mengutamakan imbalan materi.
(3) Dalam hal perempuan hamil sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c tidak
dapat memberikan persetujuan, persetujuan abortus dapat diberikan oleh
keluarga yang bersangkutan.
(4) Dalam hal suami tidak dapat dihubungi, izin sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) huruf d diberikan oleh keluarga yang bersangkutan.

6) Pasal 36
(1) Dokter yang melakukan abortus berdasarkan indikasi kedaruratan medis dan
kehamilan akibat perkosaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (2)
huruf a harus mendapatkan pelatihan oleh penyelenggara pelatihan yang
terakreditasi.
(2) Dokter sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bukan merupakan anggota tim
kelayakan abortus atau dokter yang memberikan surat keterangan usia
kehamilan akibat perkosaan.
(3) Dalam hal di daerah tertentu jumlah dokter tidak mencukupi, dokter
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berasal dari anggota tim kelayakan
abortus.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelatihan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) diatur dengan Peraturan Menteri.

7) Pasal 37
(1) Tindakan abortus berdasarkan indikasi kedaruratan medis dan kehamilan akibat
perkosaan hanya dapat dilakukan setelah melalui konseling.
(2) Konseling sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi konseling pra tindakan
dan diakhiri dengan konseling pasca tindakan yang dilakukan oleh konselor.
(3) Konseling pra tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan dengan
tujuan:
a. menjajaki kebutuhan dari perempuan yang ingin melakukan abortus;

11
b. menyampaikan dan menjelaskan kepada perempuan yang ingin melakukan
abortus bahwa tindakan abortus dapat atau tidak dapat dilakukan
berdasarkan basil pemeriksaan klinis dan pemeriksaan penunjang;
c. menjelaskan tahapan tindakan abortus yang akan dilakukan dan
kemungkinan efek samping atau komplikasinya;
d. membantu perempuan yang ingin melakukan abortus
e. untuk mengambil keputusan sendiri untuk
f. melakukan abortus atau membatalkan keinginan untuk melakukan abortus
setelah mendapatkan informasi mengenai abortus; dan
g. menilai kesiapan pasien untuk menjalani abortus.
(4) Konseling pasca tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan
dengan tujuan:
a. mengobservasi dan mengevaluasi kondisi pasien setelah tindakan abortus;
b. membantu pasien memahami keadaan atau kondisi fisik setelah menjalani
abortus;
c. menjelaskan perlunya kunjungan ulang untuk pemeriksaan dan konseling
lanjutan atau tindakan rujukan bila diperlukan; dan
d. menjelaskan pentingnya penggunaan alat kontrasepsi untuk mencegah
terjadinya kehamilan.

8) Pasal 38
(1) Dalam hal korban perkosaan memutuskan membatalkan keinginan untuk
melakukan abortus setelah mendapatkan informasi mengenai abortus
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat (3) huruf d atau tidak memenuhi
ketentuan untuk dilakukan tindakan abortus sebagaimana dimaksud dalam Pasal
31 ayat (2), korban perkosaan dapatdiberikan pendampingan oleh konselor
selama masa kehamilan.
(2) Anak yang dilahirkan dari ibu korban perkosaan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dapat diasuh oleh keluarga.
(3) Dalam hal keluarga sebagaimana dimaksud pada ayat menolak untuk mengasuh
anak yang dilahirkan dari korban perkosaan, anak menjadi anak asuh yang
pelaksanaannya dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.

12
9) Pasal 39
(1) Setiap pelaksanaan abortus wajib dilaporkan kepada kepala dinas kesehatan
kabupaten/kota dengan tembusan kepala dinas kesehatan provinsi.
(2) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh pimpinan
fasilitas pelayanan kesehatan.

13
BAB III
KESIMPULAN

Abortus menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah pengguguran kandungan.


Makna abortus lebih mengarah kepada suatu tindakan yang disengaja untuk mengakhiri
kehamilan seorang ibu ketika janin sudah ada tanda-tanda kehidupan dalam rahim.
Sedangkan abortus adalah berakhirnya kehamilan atau hasil konsepsi sebelum janin dapat
hidup di luar kandungan. Abortus terbagi atas abortus spontan dan abortus provokatus. Cara-
cara melakukan abortus provokatus kriminalis dapat berupa kekerasan mekanik maupun
kekerasan kimiawi. Kekerasan mekanik dapat bersifat umum maupun lokal sedangkan
kekerasan kimiawi mempergunakan obat-obatan atau bahan-bahan yang bekerja pada
uterus. Abortus dapat menyebabkan komplikasi yang dapat mengancam jiwa.
Abortus di dunia dan di Indonesia khususnya tetap menimbulkan banyak persepsi dan
bermacam interpretasi, tidak saja dari sudut pandang kesehatan, tetapi juga dari sudut
pandang hukum dan agama. Abortus merupakan masalah kesehatan masyarakat karena
memberi dampak pada kesakitan dan kematian ibu. Suatu hal yang dapat kita tengarai,
kematian akibat infeksi abortus ini justru banyak terjadi di negara-negara dimana abortus
dilarang keras oleh undang-undang.
Abortus ditinjau dari segi etik berdasarkan Lafal sumpah dokter Indonesia ke-6 “Saya
tidak akan mempergunakan pengetahuan kedokteran saya untuk sesuatu yang bertentangan
dengan perikemanusiaan, sekalipun diancam” jelas bahwa sebagai seorang dokter dengan
pengetahuan yang dimiliki prinsip perikemanusiaan harus dipegang teguh dengan tidak
melakukan hal-hal yang bertentangan dengan perikemanusiaan dalam hal ini abortus
provokatus kriminalis. Bagian lain yang dapat ditinjau adalah kode Etik Kedokteran
Indonesia pasal 11, setiap dokter harus memberikan kesempatan kepada pasien agar
senantiasa dapat berhubungan dengan keluarga dan penasihatnya dalam beribadat dan atau
dalam masalah lainnya. Berdasarkan KODEKI pasal 11 kesempatan yang diberikan dokter
dapat berupa jasa medis untuk melakukan abortus, dalam hal ini abortus medicinalis, dalam
hal ini hubungan dokter dan pasien bertujuan untuk menyelesaikan suatu masalah yang
bersifat mengancam jiwa.
Abortus ditinjau dari segi hukum memiliki kekuatan yang jelas. Setiap pasal dengan
porsi yang tepat dan disesuaiakan dengan norma hukum yang berlaku di Negara Republik
Indonesia.

14
DAFTAR PUSTAKA

1. Idries AM. 1997. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik (Edisi Pertama). Jakarta.
Binarupa Aksara
2. Chadha, PV. Abortus dalam Catatan kuliah ilmu forensik dan toksikologik. 1995.
Jakarta : Widya Medika. p91 – 9.
3. Prawirohardjo S. Ilmu Kebidanan. 2018. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo
4. Hoediyanto. Abortus dalam Ilmu kedokteran forensik dan medikolegal. 2012.
Surabaya: Bag. Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran
UNAIR. p292-301
5. Cunningham GF et al. Obstetri Williams Vol. 2 Ed 23. 2012. Jakarta: EGC, 951-964.
6. Hanafiah MJ, Amir A. Etika kedokteran dan hukum kesehatan. Ed 4. 2008. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC. p10,15
7. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, PT. Grafika Media, Jakarta, 1992
8. Undang Undang No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
9. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia no. 61 tahun 2014 tentang Kesehatan
Reproduksi. Available at: http://kesga.kemkes.go.id/images/pedoman
/PP%20No.%2061%20Th%202014%20ttg%20Kesehatan%20Reproduksi.pdf

15