Anda di halaman 1dari 38

RESPONSI

“LUKA AKIBAT KEKERASAN BENDA TUMPUL”

Oleh:
DM UNEJ III (4 November 2019 – 13 Desember 2019)
1. Prajesiaji Praba Kumara. 142011101008
2. Ahmad Baihaqi 142011101030
3. Ema Fawziah 142011101029
4. Anis Rahmawati 142011101018
5. Afifatun Hasanah 142011101005
6. Nurul Furqoniyah 142011101024

Pembimbing :
dr. Rahmania Kemala Dewi, Sp.F

SMF/LAB. IKF-ML RSUD DR. SOETOMOSURABAYA


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JEMBER
2019
LEMBAR PENGESAHAN

Responsi berjudul “Luka Akibat Kekerasan Benda Tumpul” telah disetujui dan
disahkan oleh Departemen/Instalasi Kedokteran Forensik dan Medikolegal FK
Unair RSUD dr. Soetomo, Surabaya, pada :
Hari : Surabaya
Tanggal : …. Desember 2019
Tempat : Departemen / Instalasi Kedokteran Forensik dan Medikolegal FK
Unair RSUD dr. Soetomo Surabaya
Penyusun : DM Universitas Jember Kelompok III
(Periode 4 November 2019 – 13 Desember 2019)
1. Prajesiaji Praba Kumara. 142011101008
2. Ahmad Baihaqi 142011101030
3. Ema Fawziah 142011101029
4. Anis Rahmawati 142011101018
5. Afifatun Hasanah 142011101005
6. Nurul Furqoniyah 142011101024

Surabaya, Desember 2019

Koordinator Pendidikan Pembimbing

dr. Nily Sulistyorini, Sp.F dr. Rahmania Kemala Dewi, Sp.F


NIP. 19820415 20091 2 2002 NIP. 19850111 20101 2 2005

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.............................................................................. i
LEMBAR PENGESAHAN................................................................... ii
DAFTAR ISI........................................................................................... iii
BAB 1. PENDAHULUAN..................................................................... 1
1.1 Latar Belakang.................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah............................................................................. 2
1.3 Tujuan............................................................................................... 3
1.3.1 Tujuan Umum.......................................................................... 3
1.3.2 Tujuan Khusus......................................................................... 3
1.4 Manfaat............................................................................................. 3
1.3.1 Manfaat Teoritis....................................................................... 3
1.3.2 Manfaat Praktis........................................................................ 3
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA............................................................ 4
2.1 Luka Akibat Kekerasan/Trauma Benda Tumpul................................ 4
2.2 Kualifikasi Luka................................................................................ 8
2.3 Faktor-faktor Penyebab Kecelakaan Lalu Lintas............................... 11
BAB 3. PEMBAHASAN........................................................................ 15
2.1 Korban Hidup.................................................................................... 15
2.2 Korban Mati....................................................................................... 20
BAB 4. PENUTUP................................................................................. 27
DAFTAR PUSTAKA............................................................................. 28

iii
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kekerasan karena benda tumpul (Blunt Force Injuries) merupakan kasus
yang paling banyak terjadi dan selalu menduduki urutan pertama yang masuk di
bagian ilmu kedokteran forensik. Cara kejadian yang terutama adalah kecelakaan
lalu lintas. Benda “tumpul” dimaksud sebagai benda yang tidak bermata tajam
(tidak dapat dipakai untuk mengiris, membacok atau menusuk). Mempunyai
konsistensi yang keras atau kenyal, permukaannya dapat halus ataupun kasar.
(Hoediyanto dan Hariadi, A, 2012).
Cara kematian pada kasus kekerasan karena benda tumpul adalah tidak
wajar. Yang tersering adalah kecelakaan, misalnya kecelakaan lalu lintas, terjatuh
dari tempat tinggi. Berikutnya pembunuhan, kasusnya juga cukup banyak
misalnya dipukul besi kepalanya, diinjak-injak dadanya dan sebagainya. Sedang
yang jarang adalah bunuh diri di gedung tinggi, menubrukkan diri pada kereta api
dan sebagainya. (Hoediyanto dan Hariadi, A, 2012).
Kecelakaan lalu lintas menjadi salah satu masalah utama karena angka
kejadian yang terjadi di Indonesia semakin meningkat. Menurut Global Status
Report on Road Safety (2013), sebanyak 1,24 juta korban meninggal tiap tahun di
seluruh dunia dan 20–50 juta orang mengalami luka akibat kecelakaan lalu lintas.
Data WHO menyebutkan bahwa kecelakaan lalu lintas menjadi penyebab utama
kematian anak di dunia dengan rata-rata angka kematian 1000 anak dan remaja
setiap harinya pada rentang usia 10–24 tahun. Kecelakaan lalu lintas di Indonesia
dalam tiga tahun terakhir ini menjadi pembunuh terbesar ketiga setelah penyakit
jantung koroner dan tuberculosis berdasarkan penilaian oleh World Health
Organisation (WHO). (Hidayati, A, 2016)
Di Indonesia, berdasarkan data Perhubungan Darat Dalam Angka (PDDA,
2012), disebutkan jumlah kecelakaan lalu lintas jalan pada tahun 2011 mencapai
109.776 kejadian. Potret kecelakaan lalu lintas jalan yang terjadi di Kota Surabaya
ternyata juga mencerminkan fenomena di Indonesia. Tingkat kecelakaan lalu
lintas di Kota Surabaya lebih tinggi dibanding dengan nilai rata-rata
kabupaten/kota lainnya, baik secara nasional maupun regional Jawa Timur.
Tingkat keterlibatan sepeda motor dalam kecelakaan lalu lintas di Kota Surabaya

1
sebesar 73.61%, dan tingkat keterlibatannya juga cenderung meningkat dengan
tingkat partumbuhan rata-rata sebesar 17.71% per tahun (Machsus, dkk, 2014).
Luka merupakan hal yang sangat umum terjadi dan merupakan bagian dari
kehidupan sehari-hari, mulai dari kecelakaan, tusukan, goresan dan memar sampai
patah tulang. Pola luka pada kasus kecelakaan lalu lintas berdasarkan umur,
ditemukan jumlah luka terbanyak adalah luka lecet dengan bagian kepala dan
leher sebagai lokasi cedera tersering. Hasil penelitian lain juga menunjukkan
bahwa bagian tubuh yang cedera paling banyak di bagian kepala, kemudian kaki
dan tangan (Angela, Z.A, dkk, 2013).
Selain kecelakaan lalu lintas, kekerasan pada benda tumpul juga dapat
terjadi pada penganiayaan. Berbagai tindakan penganiayaan yang sering terjadi
diantaranya adalah pemukulan dan kekerasan fisik seringkali mengakibatkan luka
pada bagian tubuh atau anggota tubuh korban, bahkan tidak jarang membuat
korban menjadi cacat fisik seumur hidup termasuk kematian. Selain itu, tindakan
penganiayaan juga tidak jarang menimbulkan efek atau dampak psikis pada si
korban seperti trauma, ketakutan, ancaman, bahkan terkadang ada korban
penganiayaan yang mengalami gangguan jiwa dan mental. (Fikri, 2013).
Penganiayaan termasuk dalam bentuk kejahatan terhadap fisik/badan
dimana kejadiannya masih cukup tinggi pada tahun 2017, yaitu 42.683 kasus.
Delik penganiayaan dalam tatanan hukum termasuk suatu kejahatan, yaitu suatu
perbuatan yang dapat dikenai sanksi oleh undang-undang. Hilman
Hadikusumamemberikan pengertian aniaya sebagai perbuatan bengis atau
penindasan sedangkan yang di maksud dengan penganiayaan adalah perlakuan
sewenang-wenang dengan penyiksaan, penindasan dan sebagainya terhadap
teraniaya.
Kecelakaan lalu lintas dan penganiayaan merupakan kejadian yang dapat
menyebabkan luka akibat benda tumpul. Pada kecelakaan lalu lintas, korban dapat
datang dalam keadaan meninggal dunia. Sedangkan pada kasus penganinayaan
biasanya korban akan datang ke unit gawat darurat untuk dilakukan visum.
Sehingga pada ilmiah ini kita akan membahas luka akibat benda tumpul baik pada
korban hidup maupun meninggal terutama pada kasus penganiayaan dan
kecelakaan lalu lintas.

2
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang pada responsi ini

a. Bagaimana identifikasi luka akibat kekerasan benda tumpul?

b. Bagaimana aspek hukum pada kasus penganiayaan?

1.3 Tujuan

1.3.1 Tujuan umum


a. Mengenali dan mengetahui luka/trauma akibat benda tumpul pada korban
hidup dan meninggal.
b. Mengetahui aspek hukum kasus penganiayaan.
1.3.2 Tujuan khusus
a. Mengetahui jenis-jenis luka akibat trauma benda tumpul
b. Mengetahui klasifikasi luka
c. Mengetahui mekanisme penyembuhan luka akibat benda tumpul
d. Mengetahui kategori pengeniayaan

1.4 Manfaat
1.4.1 Manfaat teoritis
Memberikan pengembangan terhadap studi kedokteran tentang kekerasan
akibat benda tumpul. Sebagai dokter umum dapat menjadi tambahan pengetahuan
forensik mengenai luka/trauma benda tumpul, yang berguna dalam praktik sehari-
hari.

1.4.2 Manfaat Praktis


a. Membantu dokter dalam mendapatkan pengetahuan mengenai kekerasan
akibat benda tumpul.
b. Membantu dokter dalam mengetahui aspek hukum pada kasus penganiayaan.

3
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Luka Akibat Kekerasan/Trauma benda Tumpul


Kekerasan oleh benda keras dan tumpul dapat mengakibatkan berbagai macam
jenis luka, antara lain :
a. Memar (Kontusio)
Memar adalah suatu perdarahan dalam jaringan bawah kulit akibat pecahnya
kapiler dan vena. Merupakan salah satu bentuk luka yang ditandai oleh
kerusakan jaringan tanpa disertai discontinuitas permukaan kulit (Budiyanto, et
al 1997).
Pada saat timbul memar berwarna merah, kemudian berubah menjadi ungu
atau hitam setelah 4-5 hari akan berwarna hijau yang kemudian akan menjadi
kuning dalam 7-10 hari, dan akhirnya menghilang dalam 14-15 hari. Perubahan
warna tersebut berlangsung mulai dari tepi.
Pada orang yang menderita penyakit defisiensi atau menderita kelainan
darah, kerusakan yang terjadi akan lebih besar dibanding orang normal. Oleh
sebab itu, besar kecilnya memar tidak dapat dijadikan ukuran untuk menentukan
besar kecilnya benda penyebabnya atau keras tidaknya pukulan (Budiyanto, et al
1997).
b. Luka Lecet (Abrasi)
Luka lecet atau abrasi adalah luka yang disebabkan oleh rusaknya atau
lepasnya lapisan luar dari kulit, yang ciri-cirinya adalah (Hoediyanto dan
Hariadi, A. 2012):
1. Bentuk luka tidak teratur
2. Batas luka tidak teratur
3. Tepi luka tidak rata
4. Kadang-kadang ditemukan sedikit perdarahan
5. Permukaan tertutup oleh krusta
6. Warna coklat kemerahan
7. Pada pemeriksaan mikroskopis terlihat adanya beberapa bagian yang
masih tertutup epitel dan reaksi jaringan.

4
Luka lecet dapat terjadi superfisial jika hanya epidermis saja yang terkena,
lebih dalam ke lapisan bawah kulit (dermis) atau lebih dalam lagi sampai ke
jaringan lunak bawah kulit. Jika abrasi terjadi lebih dalam dari lapisan epidermis
pembuluh darah dapat terkena sehingga terjadi perdarahan. Arah dari
pengelupasan dapat ditentukan dengan pemeriksaan luka. Dua tanda yang dapat
digunakan. Tanda yang pertama adalah arah dimana epidermis bergulung, tanda
yang kedua adalah hubungan kedalaman pada luka yang menandakan
ketidakteraturan benda yang mengenainya.
Umur luka lecet secara nakroskopis maupun mikroskopis dapat diperkirakan
sebagai berikut:
1. Hari ke 1 – 3 berwarna coklat kemerahan karena eksudasi darah dan cairan
limfe.
2. 2-3 hari kemudian pelan-pelan bertambah suram dan lebih gelap.
3. Setelah 1-2 minggu mulai terjadi pembentukan epidermis baru.
4. Dalam beberapa minggu akan timbul penyembuhan lengkap.
Walaupun kerusakan yang ditimbulkan minimal sekali, luka lecet
mempunyai arti penting di dalam Ilmu Kedokteran Kehakiman, oleh karena dari
luka tersebut dapat memberikan banyak hal, misalnya (Hoediyanto dan Hariadi,
A. 2012):
1. Petunjuk kemungkinan adanya kerusakan yang hebat pada alat-alat dalam
tubuh, seperti hancurnya jaringan hati, ginjal, atau limpa, yang dari
pemeriksaan luar hanya tampak adanya luka lecet di daerah yang sesuai
dengan alat-alat dalam tersebut.
2. Petunjuk perihal jenis dan bentuk permukaan dari benda tumpul yang
menyebabkan luka, seperti :
Di dalam kasus kecelakaan lalu lintas dimana tubuh korban terlindas oleh
ban kendaraan, maka luka lecet tekan yang terdapat pada tubuh korban seringkali
merupakan cetakan dari ban kendaraan tersebut, khususnya bila ban masih dalam
keadaan yang cukup baik, dimana “kembang” dari ban tersebut masih tampak
jelas, misalnya berbentuk zig-zag yang sejajar. Dengan demikian di dalam kasus
tabrak lari, informasi dari sifat-sifat luka yang terdapat pada tubuh korban sangat
bermanfaat di dalam penyidikan.
5
c. Luka Robek (Laserasi)
Luka robek (vulnus laceratum) / luka terbuka adalah luka yang disebabkan
karena persentuhan dengan benda tumpul dengan kekuatan yang mampu
merobek seluruh lapisan kulit dan jaringan di bawahnya, yang ciri – cirinya
sebagai berikut (Hoediyanto dan Hariadi, A. 2012)
1. Bentuk garis batas luka tidak teratur dan tepi luka tak rata
2. Bila ditautkan tidak dapat rapat (karena sebagaian jaringan hancur)
3. Tebing luka tak rata serta terdapat jembatan jaringan
4. Di sekitar garis batas luka di temukan memar
Bentuk dari laserasi tidak dapat menggambarkan bahan dari benda penyebab
kekerasan tersebut. Karena daya kekenyalan jaringan regangan jaringan yang
berlebihan terjadi sebelum robeknya jaringan terjadi. Sehingga pukulan yang
terjadi karena palu tidak harus berbentuk permukaan palu atau laserasi yang
berbentuk semisirkuler. Sering terjadi sobekan dari ujung laserasi yang sudutnya
berbeda dengan laserasi itu sendiri yang disebut dengan “swallow tails”.
Beberapa benda dapat menghasilkan pola laserasi yang mirip (Hoediyanto dan
Hariadi, A. 2012).
Perkiraan kejadian saat kejadian pada luka laserasi sulit ditentukan tidak
seperti luka atau memar. Pembagiannya adalah sangat segera segera, beberapa
hari, dan lebih dari beberapa hari. Laserasi yang terjadi setelah mati dapat
dibedakan ddengan yang terjadi saat korban hidup yaitu tidak adanya
perdarahan. Umumnya juga pada penyembuhan sempurna akan meninggalkan
jaringan parut pada jenis luka laserasi (Hoediyanto dan Hariadi, A. 2012).
Laserasi dapat menyebabkan perdarahan hebat. Sebuah laserasi kecil tanpa
adanya robekan arteri dapat menyebabkan akibat yang fatal bila perdarahan
terjadi terus menerus. Laserasi yang multipel yang mengenai jaringan kutis dan
sub kutis dapat menyebabkan perdarahan yang hebat sehingga menyebabkan
sampai dengan kematian. Adanya diskontinuitas kulit atau membran mukosa
dapat menyebabkan kuman yang berasal dari permukaan luka maupun dari
sekitar kulit yang luka masuk ke dalam jaringan. Port d’entree tersebut tetap ada
sampai dengan terjadinya penyembuhan luka yang sempurna. Bila luka terjadi
dekat persendian maka akan terasa nyeri, khususnya pada saat sendi tersebut di
6
gerakkan ke arah laserasi tersebut sehingga dapat menyebabkan disfungsi dari
sendi tersebut. Benturan yang terjadi pada jaringan bawah kulit yang memiliki
jaringan lemak dapat menyebabkan emboli lemak pada paru atau sirkulasi
sistemik. Laserasi juga dapat terjadi pada organ akibat dari tekanan yang kuat
dari suatu pukulan seperi pada organ jantung, aorta, hati dan limpa (Hoediyanto
dan Hariadi, A. 2012).
d. Fraktur
Fraktur adalah suatu diskontinuitas tulang. Istilah fraktur pada bedah hanya
memiliki sedikit makna pada ilmu forensik. Pada bedah, fraktur dibagi menjadi
fraktur sederhana dan komplit atau terbuka (Sjamsuhidajat, R. 2010).
Terjadinya fraktur selain disebabkan suatu trauma juga dipengaruhi beberapa
faktor seperti komposisi tulang tersebut. Anak-anak tulangnya masih lunak,
sehingga apabila terjadi trauma khususnya pada tulang tengkorak dapat
menyebabkan kerusakan otak yang hebat tanpa menyebabkan fraktur tulang
tengkorak. Wanita usia tua sering kali telah mengalami osteoporosis, dimana
dapat terjadi fraktur pada trauma yang ringan (Sjamsuhidajat, R. 2010).
Pada kasus dimana tidak terlihat adanya deformitas maka untuk mengetahui
ada tidaknya fraktur dapat dilakukan pemeriksaan menggunakan sinar X, mulai
dari fluoroskopi, foto polos. Xero radiografi merupakan teknik lain dalam
mendiagnosa adanya fraktur (Sjamsuhidajat, R. 2010)
Fraktur mempunyai makna pada pemeriksaan forensik. Bentuk dari fraktur
menggambarkan benda penyebabnya (khususnya fraktur tulang tengkorak), arah
kekerasan. Fraktur yang terjadi pada tulang yang sedang mengalami
penyembuhan berbeda dengan fraktur biasanya. Jangka waktu penyembuhan
tulang berbeda-beda setiap orang. Dari penampang makros dapat dibedakan
menjadi fraktur yang baru, sedang dalam penyembuhan, sebagian telah sembuh,
dan telah sembuh sempurna. Secara radiologis dapat dibedakan berdasarkan
akumulasi kalsium pada kalus. Mikroskopis dapat dibedakan daerah yang fraktur
dan daerah penyembuhan. Penggabungan dari metode diatas menjadikan akurasi
yang cukup tinggi. Daerah fraktur yang sudah sembuh tidaklah dapat menjadi
seperti tulang aslinya (Sjamsuhidajat, R. 2010).

7
Perdarahan merupakan salah satu komplikasi dari fraktur. Bila perdarahan
sub periosteum terjadi dapat menyebabkan nyeri yang hebat dan disfungsi organ
tersebut. Apabila terjadi robekan pembuluh darah kecil dapat menyebabkan
darah terbendung disekitar jaringan lunak yang menyebabkan pembengkakan
dan aliran darah balik dapat berkurang. Apabila terjadi robekan pada arteri yang
besar terjadi kehilangan darah yang banyak dan dapat menyebabkan pasien shok
sampai meninggal. Syok yang terjadi pada pasien fraktur tidaklah selalu
sebanding dengan fraktur yang dialaminya (Sjamsuhidajat, R. 2010).
Selain itu juga dapat terjadi emboli lemak pada paru dan jaringan lain. Gejala
pada emboli lemak di sereberal dapat terjadi 2-4 hari setelah terjadinya fraktur
dan dapat menyebabkan kematian. Gejala pada emboli lemak di paru berupa
distres pernafasan dapat terjadi 14-16 jam setelah terjadinya fraktur yang juga
dapat menyebabkan kematian. Emboli sumsum tulang atau lemak merupakan
tanda antemortem dari sebuah fraktur (Sjamsuhidajat, R. 2010)
Fraktur linier yang terjadi pada tulang tengkorak tanpa adanya fraktur
depresi tidaklah begitu berat kecuali terdapat robekan pembuluh darah yang
dapat membuat hematom ekstra dural, sehingga diperlukan depresi tulang
secepatnya. Apabila ujung tulang mengenai otak dapat merusak otak tersebut,
sehingga dapat terjadi penurunan kesadaran, kejang, koma hingga kematian
(Sjamsuhidajat, R. 2010).

2.2 Kualifikasi Luka


Luka ringan atau derajat 1 menurut KUHP pasal 352 adalah luka yang tidak
menimbulkan penyakit atau halangan dalam menjalankan pekerjaan jabatan atau
pekerjaan mata pencahariannya (Hoediyanto dan Hariadi, A. 2012; Budiyanto, et
al 1997).
1. Luka sedang atau derajat 2 menurut KUHP pasal
351 ayat 1 adalah luka yang dapat menimbulkan penyakit atau halangan dalam
menjalankan pekerjaan jabatan atau pekerjaan mata pencaharian untuk
sementara waktu.
2. Luka berat menurut adalah luka yang sebagaimana
diuraikan di dalam pasal 90 KUHP, yang terdiri atas :
8
a. Luka atau penyakit yang tidak dapat diharapkan akan sembuh dengan
sempurna lebih ditujukan pada fungsinya. Contohnya trauma pada satu mata
yang menyebabkan kornea robek. Sesudah di jahit sembuh, tetapi mata
tersebut tidak dapat melihat.
b. Luka yang dapat mendatangkan bahaya maut. Dapat mendatangkan bahaya
maut pengertiannya memiliki potensial untuk menimbulkan kematian, tetapi
sesudah diobati dapat sembuh.
c. Luka yang menimbulkan rintangan secara terus menerus dalam menjalankan
pekerjaan jabatan atau mata pencahariannya. Luka yang dari sudut medik
tidak membahayakan jiwa, dari sudut hukum dapat dikategorikan sebagai
luka berat. Contohnya trauma pada tangan kiri pemain biola atau pada wajah
seorang peragawati dapat dikatagorikan luka berat jika akibatnya mereka
tidak dapat lagi menjalankan pekerjaanya tersebut selamanya.
d. Kehilangan salah satu dari panca indera. Jika trauma menimbulkan kebutaan
satu mata atau kehilngan pendengran satu telinga, tidak dapat digolongkan
kehilangan indera. Meskipun demikian tetap digolongkan sebagai luka berat
berdasarkan butir (1) di atas.
e. Mendapat cacat berat.
f. Menderita lumpuh
g. Gangguan daya pikir lebih dari 4 minggu lamanya. Gangguan daya pikir
tidak harus berupa kehilangan kesadaran tetapi dapat juga berupa amnesia,
disorientasi, anxietas, depresi atau gangguan jiwa lainnya.
h. Keguguran atau kematian janin seorang perempuan. Keguguran ialah
keluarnya janin sebelum masa waktunya yaitu, tidak didahului oleh proses
yang sebagaimana umumnya terjadi seorang wanita ketika melahirkan.
Sedang kematian janin mengandung pengertian bahwa janin tidak lagi
menunjukan tanda– tanda hidup. Tidak dipersoalkan bayi keluar atau tidak
dari perut ibunya.
Pada kecelakaan lalu lintas ada beberapa aturan yang juga menggolongkan
jenis korban dan jenis kecalakaan. Adapun jenis korban kecelakaan lalu lintas
telah diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomer 43 tahun 1993 tentang
prasarana dan lalu lintas, yaitu (Hoediyanto dan Hariadi, A. 2012):
9
1. Korban mati, sebagaimana tercantum dalam pasal 93 ayat 3, yaitu korban
yang dipastikan mati sebagai akibat kecelakaan lalu lintas dalam jangka
waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari setelah kecelakaan tersebut
2. Korban luka berat, sebagaimana tercantum dalam pasal 93 ayat 4, yaitu
korban yang karena luka-lukanya menderita cacat menetap atau harus
dirawat dalam jangka waktu lebih dari 30 (tiga puluh) hari setelah
kecelakaan tersebut
3. Korban luka ringan, sebagaimana tercantum dalam pasal 93 ayat 5, yaitu
korban yang tidak termasuk korban mati dan korban luka berat
Sedangkan jenis kecelakaan lalu lintas diatur dalam Undang Undang
Republik Indonesia Nomer 22 tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan
sebagaimana berikut (Hoediyanto dan Hariadi, A. 2012) :
1. Kecelakaan lalu lintas ringan yaitu kecelakaan yang mengakibatkan
kerusakan kendaraan dan/atau barang. Dalam penjelasannya, luka ringan
yang dimaksud dalam pasal ni adalah luka yang mengakibatkan korban
sakit namun tidak memerlukan perawatan inap di rumah sakit atau selain
yang dikualifikasikan dalam luka berat.
2. Kecelakaan lalu lintas sedang yaitu kecelakaan yang mengakibatkan luka
ringan dan kerusakan kendaraan dan/atau barang.
3. Kecelakaan lalu lintas berat yaitu kecelakaan yang mengakibatkan korban
meninggal dunia atau luka berat. Penjelasan luka berat disini adalah :
a. Luka atau penyakit tidak dapat diharapkan akan sembuh dengan
sempurna lebih ditujukan pada fungsinya atau luka yang mendatangkan
bahaya maut.
b. Luka yang menimbulkan rintangan secara terus menerus dalam
menjalankan pekerjaan jabatan atau mata pencaharian.
c. Kehilangan salah satu dari panca indera.
d. Mendapat cacat berat atau lumpuh.
e. Gangguan daya pikir lebih dari 4 minggu lamanya.
f. Keguguran atau kematian janin seorang perempuan.
g. Luka yang membutuhkan perawatan inap di rumah sakit lebih dari 30
hari.
10
2.3 Aspek Hukum Penganiayaan
Delik penganiayaan dalam tatanan hukum termasuk suatu kejahatan,
yaitu suatu perbuatan yang dapat dikenai sanksi oleh undang-undang. Pada KUHP
hal ini disebut dengan penganiayaan, tetapi KUHP sendiri tidak memuat arti
penganiayaan tersebut. Penganiayaan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia,
dimuat artinya sebagai : “perlakuan yang sewenang-wenang...” Pengertian yang
dimuat Kamus Besar Bahasa Indonesia tersebut adalah pengertian dalam arti luas,
yaitu termasuk yang menyangkut “perasaan” atau “batiniah”. Penganiayaan yang
dimaksud dalam ilmu hukum pidana
adalah yang berkenaan dengan tubuh manusia.
Roeslan saleh menuliskan, bahwa orang baru akan dipidana apabila
mempunyai unsur kesalahan, sebagaimana salah satu asas yang dikenal dalam
hukum pidana yaitu tidak dipidana apabila tidak ada kesalahan. Suatu perbuatan
akan menjadi perbuatan pidana apabila terdapat unsur yang dilarang, atau aturan
pidana dan pelakunya diancam dengan pidana, sedangkan mengenai sifat dari
perbuatan tersebut akan dikenakan dengan adanya unsur melawan hukum.
Menurut Mr. M.H. Tirtaamidjaja membuat pengertian penganiayaan
ialah dengan sengaja menyebabkan sakit atau luka pada orang lain. Akan tetapi
suatu perbuatan yang menyebabkan sakit atau luka pada orang lain, tidak dapat
dianggap sebagai penganiayaan kalau perbuatan itu dilakukan untuk menambah
keselamatan badan kemudian ilmu pengertian (doctrine) mengartikan
penganiayaan sebagai “setiap perbuatan yang dilakukan dengan sengaja untuk
menimbulkan rasa sakit atau luka pada orang lain.”25
H.R (hooge Raad), menjelaskan penganiayaan adalah perbuatan yang
dilakukan dengan sengaja untuk menimbulkan rasa sakit atau luka kepada orang
lain, dan semata-mata menjadi tujuan dari orang itu dan perbuatan tadi tidak boleh
merupakan suatu alat untuk mencapai suatu tujuan yang diperkenankan.26
Simon merumuskan, strafbaar feit itu sebagai suatu tindakan
melanggar hukum yang telah dilakukan dengan sengaja ataupun tidak dengan
sengaja oleh seseorang yang dapat dipertanggungjawabkan atas tindakan dan yang

11
oleh Undang-undang telah dinyatakan sebagai suatu tindakan yang dapat
dihukum.27
Pengertian penganiayaan adalah sebagai berikut: “Menganiaya ialah
dengan sengaja menyebabkan sakit atau luka pada orang lain. Akan tetapi
perbuatan yang menyebabkan sakit atau luka pada orang lain, tidak dapat
dianggap sebagai penganiayaan kalau perbuatan itu dilakukan untuk menambah
keselamatan badan”28 Penjelasan Mentri Kehakiman pada waktu pembentukan
Pasal 351 KUHP dirumuskan, antara lain:
1. Setiap perbuatan yang dilakukan dengan sengaja untuk memberikan
penderitaan badan kepada orang lain, atau
2. Setiap perbuatan yang dilakukan dengan sengaja untuk merugikan
kesehatan badan orang lain.29 Sementara dalam ilmu pengetahuan hukum pidana
atau doktrin, penganiayaan diartikan sebagai perbuatan yang dilakukan dengan
sengaja untuk menimbulkan rasa sakit atau luka pada tubuh orang lain. Bertolak
dari adanya kelemahan yang cukup mendasar tersebut, dalam perkembangan
muncul yurisprudensi yang mencoba menyempurnakan Arrest Hooge Raad
tanggal 10 Februari 1902, yang secara substansial menyatakan:
Jika menimbulkan luka atau sakit pada tubuh bukan menjadi tujuan,
melainkan suatu sarana belaka untuk mencapai suatu tujuan yang patut, maka
tidaklah ada penganiayaan. Contohnya dalam batasbatas yang diperlukan
seorang guru atau orang tua memukul seorang anak.30
Adapun yang disimpulkan bedasarkan yurisprudensi, setiap perbuatan
yang dilakukan dengan sengaja yang ditunjukan untuk menimbulkan rasa sakit
atau luka pada tubuh merupakan penganiayaan.
Sekalipun akibat berupa luka berat pada korban dalam Pasal 351 ayat
(2) KUHP bukan merupakan akibat yang dikehendaki, namun akibat luka-luka
berat pada korban tersebut harus dapat dibuktikan bahwa akibat luka berat itu
benar-benar akibat dari perbuatan pelaku dengan kata lain, antara perbuatan
penganiayaan dengan akibat yang ditimbulkan berupa luka berat, harus ada
hubungan kausal. Dalam hal ini untuk membuktikan hubungan kausalitas antara
penganiayaan dengan penganiayaan yang mengakibatkan luka berat pada korban.
Aparat hukum dapat meminta bantuan kepada yang berkomponen yaitu dokter31
12
Perumusan mengenai penganiayaan secara yuridis memiliki penjelasan
bahwa perbuatan tersebut berarti berbuat sesuatu dengan tujuan (oogmerk) untuk
mengakibatkan rasa sakit. Dan, memang inilah arti dari kata penganiayaan.
Sedangkan menurut Pasal 351 ayat (4) KUHP, penganiayaan disamakan dengan
merugikan kesehatan orang dengan sengaja. Dengan demikian, unsur kesengajaan
ini kini terbatas pada wujud tujuan (oogmerk), tidak seperti unsure kesengajaan
dari perbuatan. Apabila suatu penganiayaan menbgakibatkan luka berat, maka
sesuai Pasal 351 ayat (2) KUHP maksimum hukuman dijadikan 5 (lima) tahun
penjara. Akibat ini harus dituju dan juga harus sengaja karna KUHP telah
mengatur tindak pidana penganiayaan berat kedalam Pasal 345 ayat (2) KUHP
maksimal hukuman dijadikan 5 (lima) tahun penjara dan Pasal 354 ayat (1) KUHP
dengan maksimum hukuman delapan tahun penjara.32 Akan tetapi akibat dari
penganiayaan fisik, tidak selalu mengakibatkan luka ringan saja, melainkan juga
menimbulkan luka berat. Definisi mengenai luka berat yang dimaksud terdapat
dalam KUHP, Istilah luka berat sesuai Pasal 90 KUHP :
- Jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak member harapan akan sembuh sama
sekali, atau yang menimbulkan bahya maut
- Tidak mampu terus-menerus untuk menjalankan tugas jabatan atau pekerjaan
pencarian
- Kehilangan salah satu pancaindra
- Mendapat cacat berat
- Menderita sakit lumpuh
- Terganggunya daya piker selama empat minggu lebih
- Gugur atau matinya kandungan seorang perempuan.33
Tindak pidana penganiayaan merupakan perbuatan dengan berupa
sakit atau luka pada tubuh, itu haruslah merupakan tujuan satu-satunya dari
pelaku. Artinya pelaku memang menghendaki timbulnya rasa sakit atau luka dari
perbuatan (penganiayaan) yang dilakukannya. Jadi, untuk adanya penganiayaan
harus dibuktikan bahwa rasa sakit atau luka pada tubuh itu menjadi tujuan dari
pelaku. Apabila akibat yang berupa rasa sakit atau luka itu bukan menjadi tujuan
dari pelaku tetapi hanya sebagai sarana mencapai tujuan lain yang patut, maka
dalam hal ini tidak terjadi penganiayaan.34
Jenis-jenis dari penganiayaan yang diatur dalam KUHP diantaranya
adalah:35
13
a. Penganiyaan Biasa Pasal 351 KUHP
Perumusan tentang tindak penganiayaan biasa merupakan
perumusan yang paling singkat dan sederhana. Ketentuan Pasal 351 KUHP
hanya menyebutkan kualifikasinya saja tanpa mengurangi unsur-unsurnya.
Oleh Karena Pasal 351 KUHP hanya menyebutkan kualifikasinya saja, maka
berdasarkan rumus Pasal 351 KUHP tersebut tidak jelas perbuatan yang
seperti apa yang dimaksud. Sebagai kelaziman yang berlaku dalam hukum
pidana, dimana terhadap rumusan pidana yang hanya kualifikasinya biasa
ditafsirkan secara historis, maka penafsiran terhadap Pasal 351 KUHP tersebut
juga ditempuh berdasarkan penafsiran historis. Apabila ditelusuri sejarah
pembentukan Pasal 351 KUHP awalnya terdapat kelaziman rumusan Pasal-
Pasal dalam KUHP yang merupakan unsur-unsur perbuatan dan juga akibat
yang dilarang, unsur penganiayaan itu sendiri yaitu :
- Perbuatan yang dilakukan dengan sengaja untuk menimbulkan rasa
sakit atau penderita pada tubuh orang lain
- Setiap perbuatan yang dilakukan dengan sengaja untuk merusak kesehatan
tubuh orang lain
Secara yuridis formal sebenarnya tidak ada Pasal atau ayat yang
menunjukan adanya perbedaan antara kedua istilah tersebut sebab dalam
konteks KUHP tidak ada batasan tentang apa yang dimaksud dengan luka.
KUHP hanya memberikan gambaran tentang apa yang dimaksud luka berat
sebagaimana yang diatur dalam Pasal 90 KUHP. Sementara tentang luka sama
sekali tidak disinggung. Secara doktrin, istilah luka dalam konteks Pasal 351
ayat (1) KUHP diartikan sebagai luka ringan. Penggunaaan istilah luka ringan
tersebut atas pertimbangan, bahwa dalam konteks Pasal 351 ayat (2) KUHP
dikenal istilah luka berat. Dengan demikian, menurut doktrin istilah luka
dalam konteks Pasal 351 ayat (1) KUHP harus diartikan sebagai luka ringan
sebagai lawan dari istilah luka berat dalam kontekas Pasal 351 ayat (2) KUHP.
b. Penganiyaan Ringan Pasal 352 KUHP
Penganiaayaan ringan ini ada dan diancam dengan maksimal
hukuman penjara 3 (tiga) bulan atau denda tiga ratus rupiah apabila tidak
masuk rumusan Pasal 353 KUHP dan Pasal 356 KUHP, dan tidak
menyebabkan sakit atau halangan untuk menjalankan jabatan atau
pekerjaan.36 Dalam praktek, ukuiran ini adalah bahwa sikorban harus dirawat
14
dirumah sakit atau tidak, hukuman ini bias ditambah dengan sepertiga bagi
orang yang melakukan penganiayaan ringan terhadap orang yang bekerja
padanya atau yang ada dibawah perintahnya. Jenis tindak pidana ini berbeda
dengan penganiayaan lain yang diberlakukan diindonesia berdasarkan asas
konkordansi, maka penganiayaan ringan merupakan pengecualian dari asas
konkordansi37
c. Penganiayaan berat yang direncana terlebih dahulu Pasal 355 KUHP
Berdasarkan rumusan Pasal 355 KUHP terlihat, bahwa
penganiayaan berat direncanakan terlebih dahulu yang tidak menimbulkan
kemati. Jenis penganiayaan ini sering disebut sebagai pengnaiayaan berat
berencana biasa. Dalam pengnaiayaan ini luka berat itu memang merupakan
akibat yang dikehendaki oleh pelaku sekaligus yang merencanakannya
terlebih dahulu. Sedangkan pengnaiayaan berat yang direncana terlebih dahulu
menimbulkan kematian, namun matinya korban dalam tindak pidana ini
bukanlah akibat yang dikehendaki oleh pelaku. Kematian yang timbul dalam
tindak pidana ini hanyalah merupakan akibat yang tidak dituju sekaligus tidak
direncanakan, sebab apabila kematian merupakan akibat yang dituju makan
yang terjadi bukanlah penganiayaan melaikan pembunuh yang diatur dalam
Pasal 338 KUHP.38

2.4 Faktor- faktor Penyebab Kecelakaan Lalu Lintas


Terdapat lima faktor penyebab kecelakaan lalu lintas yaitu:
1. Faktor Kesalahan Manusia
Yakni dalam hal ini adalah faktor penyebab dari adanya kecelakaan
lalu lintas dapat disebabkan karena faktor pelanggaran lalu lintas
(Enggarsasi, U dan N.K. Sa’diyah, 2017).
2. Faktor Pengemudi
Kecelakaan yang disebabkan oleh pengemudi karena pengemudi tidak
konsentrasi, mengantuk, mengemudi sambil menggunakan HP, mengutak-
atik audio/video, mengobrol, melihat iklan/reklame. Hal ini sangat kurang
diperhatikan oleh para pengendara, terutama paling banyak dilakukan oleh
para remaja. Korban dari penyebab ini sangatlah tidak sedikit, sehingga
berkendara sambil berbicara di telepon genggam sangat tidak dianjurkan.

15
Kedudukan pengemudi sebagai pemakai jalan adalah salah satu bagian
utama dalam terjadinya kecelakaan (Enggarsasi, U dan N.K. Sa’diyah,
2017).
Pengemudi mempunyai peran sebagai bagian dari mesin dengan
mengendarai, mengemudikan, mempercepat, memperlambat, mengerem,
dan menghentikan kendaraan. Dalam kondisi normal setiap pengemudi
mempunyai waktu reaksi, konsentrasi, tingkat intelegensia, dan karakter
berbeda-beda. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh fisik, umur, jenis
kelamin, emosi, penglihatan, dan lain-lain. Beberapa kriteria pengemudi
sebagai faktor penyebab kecelakaan lalu lintas adalah sebagai berikut
(Enggarsasi, U dan N.K. Sa’diyah, 2017):
a. Pengemudi mabuk atau drunk driver, yaitu keadaan di mana
pengemudi mengalami hilang kesadaran karena pengaruh alkohol,
obat-obatan, narkotika dan sejenisnya.
b. Pengemudi mengantuk atau lelah (fatigue or overly tired driver),
yaitu keadaan di mana pengemudi membawa kendaraan dalam
keadaan lelah atau mengantuk akibat kurang istirahat sedemikian
rupa sehingga mengakibatkan kurang waspada serta kurang
tangkas bereaksi terhadap perubahanperubahan yang terjadi.
c. Pengemudi lengah / emotional or distracted driver, yaitu keadaan
di mana pengemudi mengemudikan kendaraannya dalam
keadaanm terbagi konsentrasinya karena melamun, ngobrol,
menyalakan rokok, menggunakan ponsel, melihat kanan-kiri, dan
lain-lain.
d. Pengemudi kurang antisipasi atau kurang terampil (unskilled
driver), yaitu keadaan di mana pengemudi tidak dapat
memperkirakan kemampuan kendaraan, misalnya kemampuan
untuk melakukan pengereman, kemampuan untuk menjaga jarak
dengan kendaraan didepannya, dan sebagainya. Selain pengemudi,
pemakai jalan lainnya yaitu pejalan kaki (pedestrian) juga dapat
menjadi penyebab kecelakaan. Hal ini dapat ditimpakan pada
pejalan kaki dalam berbagai kemungkinan, seperti menyeberang
16
jalan pada tempat atau pun waktu yang tidak tepat (tidak aman),
berjalan terlalu ke tengah dan tidak berhati-hati
3. Faktor Jalan
Faktor jalan yang dimaksud antara lain adalah kecepatan rencana
jalan, geometrik jalan, pagar pengaman di daerah pegunungan ada
tidaknya median jalan, jarak pandang, dan kondisi permukaan jalan. Jalan
yang rusak atau berlubang dapat menimbulkan adanya kecelakaan dan
dapat membahayakan pemakai jalan terutama bagi pengguna jalan. Desain
jalan harus sesuai dengan spesifikasi standar dan dikerjakan dengan cara
yang benar serta memperoleh pemeliharaan yang cukup, bertujuan untuk
memberikan keselamatan bagi pemakainya (Soekanto, S, 1984)
Di sisi lain sifat-sifat jalan juga berpengaruh dan dapat menjadi
penyebab terjadinya kecelakaan lalu-lintas. Ada beberapa hal dari bagian
jalan yang dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan, yaitu (Enggarsasi, U
dan N.K. Sa’diyah, 2017):
a. Kerusakan pada permukaan jalan (misalnya, terdapat lubang besar
yang sulit dihindari pengemudi);
b. Konstruksi jalan yang rusak/tidak sempurna (misalnya letak bahu
jalan terlalu rendah bila dibandingkan dengan permukaan jalan,
lebar perkerasan dan bahu jalan terlalu sempit);
c. Geometrik jalan yang kurang sempurna (misalnya, superelevasi
pada tikungan terlalu curam atau terlalu landai, jari-jari tikungan
terlalu kecil, pandangan bebas pengemudi terlalu sempit,
kombinasi alinyemen vertikal dan horizontal kurang sesuai,
penurunan dan kenaikan jalan terlalu curam, dan lain lain).
4. Faktor Kendaraan Bermotor
Faktor kendaraan yang paling sering terjadi adalah ban pecah, rem
tidak berfungsi sebagaimana seharusnya, kelelahan logam yang
mengakibatkan bagian kendaraan patah, peralatan yang sudah aus tidak
diganti, dan berbagai penyebab lainnya. Keseluruhan faktor kendaraan
sangat terkait dengan teknologi yang digunakan, perawatan yang
dilakukan terhadap kendaraan. Untuk mengurangi faktor kendaraan
17
perawatan dan perbaikan kendaraan diperlukan, disamping itu adanya
kewajiban untuk melakukan pengujian kendaraan bermotor secara reguler.
Kelayakan jalan kendaraan bermotor, kondisi kendaraan bermotor,
transmisi kendaraan bermotor, ban dari kendaraan bermotor dan standar-
standar safety lainnya (Enggarsasi, U dan N.K. Sa’diyah, 2017).
Kendaraan dapat menjadi faktor penyebab terjadinya kecelakaan lalu
lintas bila tidak dikemudikan sebagaimana mestinya, sebagai akibat dari
kondisi teknisnya yang tidak layak jalan atau penggunaan kendaraan yang
tidak sesuai dengan aturan. Adapun sebab-sebab terjadinya kecelakaan lalu
lintas yang diakibatkan oleh faktor kendaraan adalah sebagai berikut
(Enggarsasi, U dan N.K. Sa’diyah, 2017):
a. Perlengkapan Kendaraan
Alat-alat rem tidak baik kerjanya, misal rem blong; Alat-alat
kemudi tidak baik kerjanya, an atau roda kondisi kurang baik atau
ban pecah.
b. Penerangan Kendaraan
Tidak memenuhi aturan penerangan, menggunakan lampu yang
menyilaukan pengemudi kendaraan lain.
c. Penggunaan kendaraan yang tidak sesuai dengan ketentuan,
misalnya kendaraan diberi muatan melebihi kapasitasnya atau
overloaded

18
BAB 3. PEMBAHASAN

3.1 Korban Hidup


A. Identitas Pasien
 Nama : Tn. AM
 Umur : 51 th
 No. RM : RM 12.79.55.01
 Jenis Kelamin : Laki-laki
 Alamat : JL DUKUH KUPANG TIMUR 6-A/ 54-B
SURABAYA
 Bangsa : Indonesia
 Tinggi Badan : 170cm
 Berat Badan : 60 kg
 Waktu Pemeriksaan : Selasa, 10 Desember 2019, pukul 05.00 WIB

B. Kronologi
Pada hari Senin, 10 Desember 2019 pukul 15.00 WIB, korban berjualan di
daerah terlarang, sehingga mendapat teguran dari petugas satpol PP yang sedang
patroli sekitar pukul 16.00 WIB, awalnya korban bersedia menutup payung
dagangannya, namun beberapa saat kemudian mulai turun hujan dan semakin
deras, sehingga korban kembali membuka payung dagangannya supaya tidak
kehujanan. Pukul 22.00 WIB petugas satpol PP yang kembali patroli
mengingatkan lagi dengan keras namun korban menolak sehingga korban
diamankan ke mobil satpol PP dengan cara di jepit pada bahu kiri. Dalam
perjalanan menuju kantor satpol PP, korban merasa sakit pada bahu sebelah kiri.
Selanjutnya korban dan petugas satpol pp saling melaporkan ke polisi.
Korban diantar oleh polisi ke IGD RSUD dr Soetomo pada pukul 04.06
WIB untuk diberikan perawatan dan dibuatkan visum.

C. Visum et Repertum

PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR

19
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. SOETOMO

20
INSTALASI KEDOKTERAN FORENSIK & MEDIKOLEGAL

21
22
Jl. Mayjen Prof. Dr. Moestopo No. 6 – 8 Surabya 6028 Telp. (031) 5501545 - 49 , Fax (031) – 5501545
VISUM ET REPERTUM
(LUKA)
Pro Justisia
No. RM: 12.79.55.01

Sehubungan dengan surat Saudara: ----------------------------------------------------------


Nama: YUDHA, Pangkat: AIPTU, NRP: 76070748, Jabatan: An. KAPOLSEK
TEGALSARI KA SPK C Resor Surabaya Selatan Sektor Tegal Sari Jalan Basuki
Rahmat No. 40 Surabaya, 60262 Nomor: B/62/XII/2019/Polsek, Tertanggal: 10
Desember 2019, Perihal: Permohonan Visum Et Refertum, yang kami terima pada
hari Selasa, tanggal 10 Desember 2019, pukul 06.00 WIB.------------------------------
Maka kami:----------------- dr. Galih Endradita Mulya Saputra--------------------------
sebagai dokter pemerintah pada Instalasi Kedokteran Forensik dan Medikolegal
RSUD Dr. Soetomo Surabaya, telah melakukan pemeriksaan luka pada hari Selasa
tanggal 10 Desember 2019 pukul 06.00 WIB di Instalasi Rawat Darurat RSUD Dr.
Soetomo Surabaya atas korban yang menurut surat Saudara:----------------------------
Nama : AMIR MAHFUD-------------------------------------------------------------
Tempat tanggal lahir : BANGKALAN, 14 FEBRUARI 1968---------------------------------------
Jenis kelamin : LAKI-LAKI---------------------------------------------------------------------
Pekerjaan : SWASTA ----------------------------------------------------------------------
Kebangsaan : INDONESIA ------------------------------------------------------------------
Agama : ISLAM ------------------------------------------------------------------------
Telp/Fax/Email : 081331062275 -------------------------------------------------------------
Alamat : JL. DUKUH KUPANG TIMUR 6-A/ 54-B SURABAYA------------------
Orang tersebut diduga telah mengalami Sakit pada bahu sebelah kiri diduga
mengalami penggeseran tulang, yang dilakukan oleh SAMUEL AGUSTINUS
TAKDARE pada hari Senin tanggal 9 Desember 2019 pukul 22.00 WIB, sehingga
menderita sakit pada bahu kiri. Korban tersebut tiba di Instalasi Rawat Darurat
RSUD Dr. Soetomo pada hari Selasa, 10 Desember 2019 pukul 04.06 WIB.----------

HASIL PEMERIKSAAN

Kronologi (Heteroanamnesis): -------------------------------------------------------------


Pada hari Senin, 10 Desember 2019 pukul 15.00 WIB, korban berjualan di daerah
terlarang, sehingga mendapat teguran dari petugas satpol PP yang sedang patroli
sekitar pukul 16.00 WIB, awalnya korban bersedia menutup payung dagangannya,
namun beberapa saat kemudian mulai turun hujan dan semakin deras, sehingga
korban kembali membuka payung dagangannya supaya tidak kehujanan. Pukul
22.00 WIB petugas satpol PP yang kembali patroli mengingatkan lagi dengan keras
namun korban menolak sehingga korban diamankan ke mobil satpol PP dengan
cara di jepit pada bahu kiri. Dalam perjalanan menuju kantor satpol PP, korban
merasa sakit pada bahu sebelah kiri. Selanjutnya korban dan petugas satpol pp
saling melaporkan ke polisi.
Korban diantar oleh polisi ke IGD RSUD dr Soetomo pada pukul 04.06 WIB untuk
diberikan perawatan dan dibuatkan visum.--------------------------------------------------

23
Keadaan umum:-------------------------------------------------------------------------------
1. Korban berjenis kelamin laki-laki, mengaku berumur lima puluh satu tahun,
tinggi badan seratus tujuh puluh sentimeter, berat badan enam puluh kilogram,
warna kulit sawo matang, status gizi cukup.-------------------------------------------
2. Kesadaran penuh, tekanan darah seratus dua puluh per delapan puluh milimeter
air raksa, denyut nadi delapan puluh kali per menit, frekuensi napas dua puluh
kali per menit.------------------------------------------------------------------------------
3. Properti:-------------------------------------------------------------------------------------
Korban memakai kemeja lengan pendek dengan kerah, motif garis berwarna
abu-abu, kuning, dan hitam, berbahan katun. Satu buah celana panjang
berwarna coklat merek cardinal. Satu buah celana dalam, berwarna biru,
berbahan kaos.-----------------------------------------------------------------------------

Pemeriksaan fisik:-----------------------------------------------------------------------------
1. Kepala: ---------------------------------------------------------------------------------------
a. Bentuk: Lonjong, simetris.--------------------------------------------------------------
b. Rambut: Lurus, berwarna hitam, panjang rambut rata-rata lima sentimeter.-----
c. Dahi: Tidak ditemukan kelainan dan tanda-tanda kekerasan.----------------------
d. Mata: --------------------------------------------------------------------------------------
1) Kanan: Tidak ditemukan kelainan dan tanda-tanda kekerasan.----------------
2) Kiri: Tidak ditemukan kelainan dan tanda-tanda kekerasan.-------------------
e. Hidung: Tidak ditemukan kelainan dan tanda-tanda kekerasan.-------------------
f. Pipi:-----------------------------------------------------------------------------------------
1) Kanan: Tidak ditemukan kelainan dan tanda-tanda kekerasan.----------------
2) Kiri: Tidak ditemukan kelainan dan tanda-tanda kekerasan.-------------------
g. Telinga:------------------------------------------------------------------------------------
1) Kanan: Tidak ditemukan kelainan dan tanda-tanda kekerasan.
2) Kiri: Tidak ditemukan kelainan dan tanda-tanda kekerasan.-----------------
h. Mulut: Tidak ditemukan kelainan dan tanda-tanda kekerasan---------------------
i. Dagu: Tidak ditemukan kelainan dan tanda-tanda kekerasan.----------------------
2. Leher: Tidak ditemukan kelainan dan tanda-tanda kekerasan.------------------------
3. Dada: pada dada kiri, lima sentimeter dari garis pertengahan depan, dua
sentimeter dari puncak bahu, ditemukan derik tulang dan bengkak serupa warna
kulit, bentuk bulat, nyeri saat tekan, tampak perubahan bentuk, berukuran lima
sentimeter kali lima sentimeter.-----------------------------------------------------------
4. Perut: Tidak ditemukan kelainan dan tanda-tanda kekerasan.-------------------------
5. Punggung: Tidak ditemukan kelainan dan tanda-tanda kekerasan.-------------------
6. Panggul: Tidak ditemukan kelainan dan tanda-tanda kekerasan.----------------------
7. Pinggang: Tidak ditemukan kelainan dan tanda-tanda kekerasan. -------------------
8. Anggota gerak atas:-------------------------------------------------------------------------
a. Kanan: Tepat pada puncak bahu, empat belas sentimeter dari garis
pertengahan depan, ditemukan luka lecet, bentuk tidak beraturan, warna
kemerahan, ukuran satu koma lima sentimeter kali satu sentimeter. Pada tangan
sisi dalam, empat sentimeter dari pergelangan tangan, ditemukan luka lecet,
bentuk memanjang, warna kemerahan, ukuran satu sentimeter-----------------------
b. Kiri: Pada lengan atas sisi luar, sepuluh sentimeter dari puncak bahu,
ditemukan tato menyerupai gambar ular, warna hitam, berukuran dua belas
sentimeter kali lima sentimeter. -----------------------------------------------------------
24
9. Anggota gerak bawah: ----------------------------------------------------------------------
a. Kanan: Tidak ditemukan kelainan dan tanda-tanda kekerasan.--------------------
b. Kiri: Tidak ditemukan kelainan dan tanda-tanda kekerasan.-----------------------
10. Alat Kelamin: Tidak dievaluasi.----------------------------------------------------------
11. Dubur: Tidak dievaluasi.------------------------------------------------------------------

Pemeriksaan Penunjang :--------------------------------------------------------------------


1. Foto Polos Dada: Patah tulang tertutup ditengah tulang selangka.-----------------

Tindakan dan Terapi: ------------------------------------------------------------------------


1. Pemasangan Arm Sling.------------------------------------------------------------------
2. Pemberian obat ketorolac tigapuluh miligram.----------------------------------------
3. Menolak dilakukan tindakan operasi.---------------------------------------------------

KESIMPULAN

1. Korban berjenis kelamin laki-laki, mengaku berumur lima puluh satu tahun,
tinggi badan seratus tujuh puluh sentimeter, berat badan enam puluh kilogram,
warna kulit sawo matang, status gizi cukup.-------------------------------------------
2. Pada pemeriksaan luar ditemukan:------------------------------------------------------
a. Patah tulang tertutup selangka kiri.--------------------------------------------------
b. Luka lecet pada anggota gerak atas kanan dan tangan kanan.--------------------
Kelainan pada poin a dan b akibat kekerasan tumpul.--------------------------------
3. Kelainan tersebut di atas menimbulkan penyakit atau halangan untuk
menjalankan pekerjaan, jabatan, atau pencaharian untuk sementara waktu.------
Demikianlah Visum et Repertum ini dibuat dengan pengetahuan sebaik-baiknya
mengingat sumpah pada waktu menerima jabatan.--------------------------------------

Dokter Pemeriksa,

dr. Galih Endradita Mulya Saputra

25
D. Pembahasan Kasus
Dalam kasus ini, tepat pada puncak bahu kanan , empat belas sentimeter
dari garis pertengahan depan, ditemukan luka lecet, bentuk tidak beraturan, warna
kemerahan, ukuran satu koma lima sentimeter kali satu sentimeter. Pada tangan
kanan sisi dalam, empat sentimeter dari pergelangan tangan, ditemukan luka lecet,
bentuk memanjang, warna kemerahan, ukuran satu sentimeter. Pada dada kiri,
lima sentimeter dari garis pertengahan depan, dua sentimeter dari puncak bahu,
ditemukan derik tulang dan bengkak serupa warna kulit, bentuk bulat, nyeri saat
tekan, tampak perubahan bentuk, berukuran lima sentimeter kali lima sentimeter.
Salah satu luka yang disebabkan oleh karena kekerasan benda tumpul yaitu
luka lecet. Luka lecet adalah luka yang merusak lapisan atas epidermis akibat
kekerasan dengan benda yang memiliki permukaan yang kasar, sehingga
epidermis menjadi tipis, dan sebagian atau seluruhnya hilang. Luka ini memiliki
kedalaman luka kurang dari panjang luka akibat kekerasan yang arahnya miring
terhadap kulit. Luka lecet terbagi atas 3 jenis yaitu luka lecet tekan, geser dan
gores. Pada kasus ini, luka yang dialami korban adalah luka derajat sedang yang
menimbulkan penyakit atau halangan dalam menjalankan pekerjaan atau
pencaharian untuk sementara waktu. Hal ini disebutkan pada KUHP pasal 351.
R. Soesilo dalam bukunya Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)
Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal (hal. 246) mengatakan
bahwa peristiwa pidana dalam Pasal 352 KUHP disebut “penganiayaan ringan”
dan termasuk “kejahatan ringan”. Yang termasuk pasal 352 ini adalah
penganiayaan yang tidak menjadikan sakit atau terhalang untuk melakukan
jabatan atau pekerjaannya sehari-hari.
Sedangkan mengenai penganiayaan berat dalam Pasal 354 KUHP,
R.Soesilo menjelaskan bahwa supaya dapat dikenakan pasal ini, maka niat si
pembuat harus ditujukan pada “melukai berat”, artinya “luka berat” harus
dimaksud oleh si pembuat. Apabila tidak dimaksud dan luka berat itu hanya
merupakan akibat saja, maka perbuatan itu masuk “penganiayaan biasa yang
berakibat luka berat” (Pasal 351 ayat (2) KUHP). Yang ditekankan adalah apakah
penganiayaan tersebut mengakibatkan rasa sakit yang membuat si korban tidak
dapat melakukan pekerjaannya atau tidak.
26
Jika penganiayaan tersebut mengakibatkan korban tidak dapat melakukan
pekerjaannya karena sakit yang dialami, tetapi tidak sampai mengakibatkan luka
berat atau tidak dimaksudkan untuk mengakibatkan luka berat, maka
penganiayaan tersebut dipidana dengan Pasal 351 ayat (1) KUHP. R. Soesilo
mengatakan bahwa undang-undang tidak memberi ketentuan apakah yang
diartikan dengan “penganiayaan” itu. Menurut yurisprudensi, “penganiayaan”
yaitu sengaja menyebabkan perasaan tidak enak (penderitaan), rasa sakit, atau
luka. Menurut alinea 4 pasal ini, masuk pula dalam pengertian penganiayaan ialah
“sengaja merusak kesehatan orang”.

3.2 Korban Mati


A. Identitas Pasien
 Nama : Tn. WB
 Umur : 16 tahun
 No. RM : KF19.05.36
 Jenis Kelamin : Laki-laki
 Alamat : Tambak Pring Timur g. II
 Bangsa : Indonesia
 Panjang Badan : 165 cm
 Berat Badan : 55 kg
 Waktu Pemeriksaan : Selasa, 10 Desember 2019, pukul 07.40 WIB

B. Kronologi
Menurut keterangan polisi, korban tertabrak mobil pada hari Selasa, 10 Desember
2019 pukul 04.30 di Jl. Babat Jerawat saat hendak menghentikan mobil untuk
meminta tumpangan. Korban langsung tidak sadarkan diri di lokasi. Jenazah tiba
di Instalasi Kedokteran Forensik dr. Soetomo Surabaya pada tanggal 10 Desember
2019 pukul 07.30 WIB.

27
C. Visum et Repertum

PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. SOETOMO
INSTALASI KEDOKTERAN FORENSIK & MEDIKOLEGAL
Jl. Mayjen Prof. Dr. Moestopo No. 6 – 8 Surabaya 60286 Telp. (031) 5501545 - 49 , Fax (031) – 5501545
VISUM ET REPERTUM
(JENAZAH)

Pro Justisia
No. KF19.05.36

Sehubungan dengan surat Saudara :


Nama: SUKIANDI, Pangkat: AIPDA, NRP:75060176, Jabatan: An. KEPALA
SATUAN LALU LINTAS WAKA Ub. PETUGAS TPTKP RESORT KOTA
BESAR SURABAYA, JalanDukuh Kupang Barat XVI/6-8 Surabaya, Nomor
Polisi: R/019/XII/2019/LANTAS, Tertanggal: 10Desember 2019, Perihal:
Permintaan Visum Et Repertum Mati, yang kami terima pada hari Selasa, tanggal
10Desember 2019, pukul 07.30 WIB.-----------------------------------------------------.
Maka kami:------------------------- dr. Galih Endradita Mulya Saputra------------
sebagai dokter pada Instalasi Kedokteran Forensik dan Medikolegal RSUD Dr.
Soetomo Surabaya, telah melakukan pemeriksaan luar padahari Selasa, 10
Desember 2019, pukul 07.40 WIB di Instalasi Kedokteran Forensik dan
Medikolegal RSUD Dr. Soetomo Surabaya atas jenazah:-------------------------------
Nama :WAYU BAGUS---------------------------------------------
Jenis kelamin : LAKI-LAKI------------------------------------------------
Warga Negara : WNI----------------------------------------------------------
Umur : 16 tahun-----------------------------------------------------
Alamat :Tambak Pring Timur g. II
Menurut keterangan polisi, korban tertabrak mobil pada hari Selasa, 10 Desember
2019 pukul 04.30 di Jl. Babat Jerawat saat hendak menghentikan mobil untuk
meminta tumpangan. Korban langsung tidak sadarkan diri di lokasi. Jenazah tiba
di Instalasi Kedokteran Forensik dr. Soetomo Surabaya pada tanggal 10 Desember
2019 pukul 07.30 WIB.----------------------------------------------------------------------

HASIL PEMERIKSAAN
Pemeriksaan luar:---------------------------------------------------------------------------
1. Jenazah berjenis kelamin laki-laki, berumur antara lima belas tahun
sampai dua puluh tahun, panjang badan seratus enam puluh lima
sentimeter, berat badan lima puluh lima kilogram, warna kulit sawo
matang, status gizi cukup.----------------------------------------------------------
2. Jenazah terbungkus kantong berwarna oranye bertuliskan “DINAS
SOSIAL KOTA SURABAYA” berukuran dua ratus dua puluh sentimeter
kali delapan puluh sentimeter. Jenazah tertutup kain berwarna oranye
bermotif bunga ukuran seratus delapan puluh empat kali dua ratus empat
sentimeter. Jenazah memakai kemeja lengan panjang berbahan katun
berwarna biru dongkercampur hijau bermotif kotak merek “made in hell”
ukuran “M”. Jenazah memakai celana panjang jeans berwarna biru
28
dongkermerek “AK Clothing” ukuran empat belas. Jenazah memakai
celana pendek warna hitam bahan kaos bertuliskan “Specs”. Satu buah
mancis berwarna hijau. -------------------------------------------------------------
3. Jenazahtidak berlabel, tidak bersegel. Identitas dipastikan sesuai dengan
Surat Permintaan Visum Et Repertum.-------------------------------------------.
4. Lebam mayat ditemukan padapunggung danpinggang berwarna merah
keunguan, hilang dengan penekanan. Tidak ditemukan kaku mayat dan
tanda-tanda pembusukan.-----------------------------------------------------------
5. Kepala: Pada kepala tidak ditemukan kelainan dan tanda-tanda kekerasan.-
e. Bentuk: Lonjong, simetris. ------------------------------------------------------
f. Rambut: Lurus, berwarna kekuningan, panjang rata-rata empat belas
sentimeter.-------------------------------------------------------------------------
g. Dahi: Tidak ditemukan kelainan dan tanda-tanda kekerasan.--------------
h. Mata: -------------------------------------------------------------------------------
i. Kanan: Pada selaput lendir kelopak mata atas dan bawah tampak
pucat. Selaput bening bola mata tampak keruh. Selaput keras bola
mata tampak merah. Diameter manik mata nol koma enam
sentimeter.---------------------------------------------------------------------
ii. Kiri: Pada selaput lendir kelopak mata atas dan bawah tampak pucat.
Selaput bening bola mata tampak keruh. Selaput keras bola mata
tampak merah. Diameter manik mata nol koma enam sentimeter.-----
i. Telinga: ----------------------------------------------------------------------------
i. Kanan: Tidak ditemukan kelainan dan tanda-tanda kekerasan.---------
ii. Kiri: Tidak ditemukan kelainan dan tanda-tanda kekerasan.------------
j. Hidung: Keluar cairan berwarna putih berbusadari kedua lubang
hidung.-----------------------------------------------------------------------------
k. Mulut: Selaput lendir bibir atas dan bawah berwarna kebiruan. Gusi
tampak
pucat.----------------------------------------------------------------------
l. Gigi: Gigi kesan
lengkap.--------------------------------------------------------
m. Dagu: Tidak ditemukan kelainan dan tanda-tanda kekerasan.--------------
n. Pipi:Tidak ditemukan kelainan dan tanda-tanda kekerasan.----------------
6. Leher: Tidak ditemukan kelainan dan tanda-tanda kekerasan.-----------------
7. Dada:. Pada dada kiri, enam sentimeter dari garis pertengahan depan, dua
puluh empat sentimeter di bawah puncak bahu, didapatkan luka lecet
bentuk tidak beraturan, warna merah keunguan berukuran delapan belas
sentimeter kali tujuh sentimeter.---------------------------------------------------
8. Perut: Tidak ditemukan kelainan dan tanda-tanda kekerasan.-----------------
9. Punggung: Pada punggung kiri, sepuluh sentimeter dari garis pertengahan
belakang, dua sentimeter dibawah puncak bahu ditemukan luka lecet
kemerahan, bentuk tidak beraturan, ukuran satu koma lima kali satu koma
lima sentimeter.----------------------------------------------------------------------
10. Pinggang: Tidak ditemukan kelainan dan tanda-tanda kekerasan.------------
11. Anggota gerak atas: -----------------------------------------------------------------
a. Kanan: Pada lengan bawah sisi dalam,dua sentimeter dari pergelangan
tangan,ditemukan luka lecet, bentuk lonjong, warna merah keunguan,
berukurannol koma tujuh sentimeter kali nol koma lima sentimeter.
29
Pada lengan bawah sisi luar,tiga koma lima sentimeter dari pergelangan
tangan, ditemukan luka lecet, bentuk lonjong, warna merah keunguan,
berukuransatu koma tiga sentimeter kali satu sentimeter. Ujung-ujung
jari dan kuku tampak pucat kebiruan.-----------------------------------------
b. Kiri: Tepat pada puncak bahu ditemukan luka lecet berwarna keunguan,
bentuk bulat, ukuran satu koma empat sentimeter kali nol koma delapan
sentimeter. Pada lengan atas sisi luar, delapan belas koma lima
sentimeter dari puncak bahu, ditemukan luka lecet, bentuk tidak
beraturan, warna keunguan, berukurandua sentimeter kali satu koma
lima sentimeter.Pada lengan atas sisi depan, tujuh koma lima sentimeter
diatas lipatan siku didapatkan luka lecet bentuk bulat, warna merah
keunguan, ukuran satu koma lima sentimeter kali satu koma tiga
sentimeter. Pada punggung tangan, enam sentimeter dibawah
pergelangan tangan, ditemukan luka lecet, bentuk lonjong, warna ungu
kehitaman ukuran satu sentimeter kali nol koma tiga sentimeter. Pada
ruas jari tangan kedua sampai lima, satu sentimeter dari ujung ruas jari
tangan didapatkan tatto bertuliskan huruf “PUNK”. Ujung-ujung jari
dan kuku tampak pucat kebiruan.----------------------------------------------
12. Anggota gerak bawah:---------------------------------------------------------------
a. Kanan:Tidak ditemukan kelainan dan tanda-tanda kekerasan.Ujung-
ujung jari dan kuku tampak pucat kebiruan.---------------------------------
b. Kiri: Tidak ditemukan kelainan dan tanda-tanda kekerasan.Ujung-
ujung jari dan kuku tampak pucat kebiruan.---------------------------------
13. Alat kelamin: Alat kelamin laki-laki. Sudah dikhitan. Tidak ditemukan
kelainan dan tanda-tanda kekerasan. ----------------------------------------------
14. Dubur :Tidak ditemukan kelainan dan tanda-tanda kekerasan-----------------
Pemeriksaan dalam: Tidak dilakukan.---------------------------------------------------

KESIMPULAN
1) Jenazah berjenis kelamin laki-laki, berumur antara lima belas tahunsampai
dua puluh tahun, panjang badan seratus enam puluh lima sentimeter, berat
badan lima puluh limakilogram, warna kulit sawo matang, status
gizicukup.-----------------------------------------------------------------------------
1) Pada pemeriksaan luar ditemukan: ------------------------------------------------
a. Luka lecet padadada kiri, bahu kiri, punggung kiri, lengan atas tangan
kiri, punggung tangan kiri dan lengan bawah tangan kanan.----
Kelainan pada poin a akibat kekerasan tumpul.----------------------------
2) Sebab kematian tidak dapat ditentukan karena tidak dilakukan
pemeriksaan dalam.------------------------------------------------------------------

Demikianlah Visum et Repertum ini dibuat dengan pengetahuan sebaik-


baiknya,mengingat sumpah pada waktu menerima jabatan.----------------------------

Dokter Pemeriksa,

30
dr. Galih Endradita Mulya Saputra
D. Pembahasan Kasus
Dalam kasus ini, Pada dada kiri, enam sentimeter dari garis pertengahan
depan, dua puluh empat sentimeter di bawah puncak bahu, didapatkan luka lecet
bentuk tidak beraturan, warna merah keunguan berukuran delapan belas
sentimeter kali tujuh sentimeter.Pada pipi kanan, enam koma delapan sentimeter
dari garis pertengahan depan, satu koma satu sentimeter dari sudut mata luar,
ditemukan luka lecet yang mengering, bentuk bulat, warna kecokelatan, diameter
nol koma enam sentimeter.
Pada punggung kiri, sepuluh sentimeter dari garis pertengahan belakang,
dua sentimeter dibawah puncak bahu ditemukan luka lecet kemerahan, bentuk
tidak beraturan, ukuran satu koma lima kali satu koma lima sentimeter.
Pada anggota gerak atas kanan, Pada lengan bawah sisi dalam,dua
sentimeter dari pergelangan tangan,ditemukan luka lecet, bentuk lonjong, warna
merah keunguan, berukurannol koma tujuh sentimeter kali nol koma lima
sentimeter. Pada lengan bawah sisi luar, tiga koma lima sentimeter dari
pergelangan tangan, ditemukan luka lecet, bentuk lonjong, warna merah
keunguan, berukuran satu koma tiga sentimeter kali satu sentimeter. Ujung-ujung
jari dan kuku tampak pucat kebiruan. Pada anggota gerak atas kiri, Tepat pada
puncak bahu ditemukan luka lecet berwarna keunguan, bentuk bulat, ukuran satu
koma empat sentimeter kali nol koma delapan sentimeter. Pada lengan atas sisi
luar, delapan belas koma lima sentimeter dari puncak bahu, ditemukan luka lecet,
bentuk tidak beraturan, warna keunguan, berukurandua sentimeter kali satu koma
lima sentimeter.Pada lengan atas sisi depan, tujuh koma lima sentimeter diatas
lipatan siku didapatkan luka lecet bentuk bulat, warna merah keunguan, ukuran
satu koma lima sentimeter kali satu koma tiga sentimeter. Pada punggung tangan,
enam sentimeter dibawah pergelangan tangan, ditemukan luka lecet, bentuk
lonjong, warna ungu kehitaman ukuran satu sentimeter kali nol koma tiga
sentimeter. Pada ruas jari tangan kedua sampai lima, satu sentimeter dari ujung
ruas jari tangan didapatkan tatto bertuliskan huruf “PUNK”. Ujung-ujung jari dan
kuku tampak pucat kebiruan.

31
Pada anggota gerak bawah kanan, tepat pada lutut, ditemukan luka lecet
yang mengering, bentuk tidak beraturan, berwarna kehitaman, berukuran dua
koma lima sentimeter kali dua koma lima sentimeter. Pada tungkai atas sisi depan,
empat belas sentimeter dari lutut, ditemukan jaringan parut, berwarna cokelat
kehitaman, bentuk lonjong, berukuran dua sentimeter kali satu koma empat
sentimeter. Pada anggota gerak bawah kiri, tepat pada lutut, ditemukan luka lecet
majemuk yang mengering, bentuk tidak beraturan, berwarna hitam, berukuran
empat koma enam sentimeter kali dua koma enam sentimeter. Ujung-ujung jari
dan kuku tampak pucat kebiruan
Luka yang disebabkan oleh karena kekerasan benda tumpul yaitu luka
lecet dan luka memar. Luka memar adalah suatu perdarahan dalam jaringan
bawah kulit akibat pecahnya kapiler dan vena. Luka lecet adalah luka yang
merusak lapisan atas epidermis akibat kekerasan dengan benda yang memiliki
permukaan yang kasar, sehingga epidermis menjadi tipis, dan sebagian atau
seluruhnya hilang. Luka ini memiliki kedalaman luka kurang dari panjang luka
akibat kekerasan yang arahnya miring terhadap kulit. Luka lecet terbagi atas 3
jenis yaitu luka lecet tekan, geser dan gores. (Hoediyanto dan Hariadi, A. 2012).

32
BAB 4. PENUTUP

Secara umum, luka akibat kekerasan benda tumpul dapat berupa luka
memar luka lecet dan luka robek. Luka memar adalah suatu perdarahan dalam
jaringan bawah kulit akibat pecahnya kapiler dan vena. Luka lecet atau abrasi
adalah luka yang disebabkan oleh rusaknya atau lepasnya lapisan luar dari kulit.
Luka robek (vulnus laceratum) / luka terbuka adalah luka yang disebabkan karena
persentuhan dengan benda tumpul dengan kekuatan yang mampu merobek
seluruh lapisan kulit dan jaringan di bawahnya. Masing-masing dari luka tersebut
memiliki ciri-ciri khusus sebagai tanda untuk identifikasinya. Jenis luka tersebut
juga memiliki mekanisme penyembuhan luka. Pada jenis luka akibat kekerasan
benda tumpul umumnya membutuhkan waktu sekitar beberapa minggu untuk
kembali menjadi normal. Umumnya pada minggu pertama warna dari luka akan
mulai kembali normal setelah itu membentuk lapisan kulit yang baru dan sembuh
sempurna dalam beberapa minggu.

33
DAFTAR PUSTAKA

Angela, Z.A, D.C. Tomuka, dan J. Siwu. 2013. Pola Luka pada Kasus Kecelakaan
Lalu Lintas di Blu Rsu Prof. Dr. R.D. Kandou Manado Periode 2010-2011.
Jurnal e-Biomedik (eBM), 1(1), 676-685

Budiyanto A, Widiatmika W, Sudiono S, et al. 1997. Ilmu Kedokteran Forensik.


FK-UI. Jakarta.

Enggarsasi, U dan N.K. Sa’diyah, 2017. Kajian terhadap Faktor-faktor Penyebab


Kecelakaan Lalu Lintas dalam Upaya Perbaikan Pencegahan Kecelakaan
Lalu Lintas. Perspektif. 22(3): 228-237.

Hoediyanto dan Hariadi, A. 2012. Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal.


Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.

Hidayati, A. 2016. Analisis Risiko Kecelakaan Lalu Lintas Berdasar Pengetahuan,


Penggunaan Jalur, dan Kecepatan Berkendara. Jurnal Berkala
Epidemiologi, 4(2), 275-276.

Machsus, H. Sulistio, A. Wicaksono, dan L. Djakfar. 2014. Kajian Tingkat


Kecelakaan Lalu Lintas Di Kota Surabaya. Manajemen dan Rekayasa
Transportasi. (1), 134-140

Sjamsuhidajat, R. 2010. Buku Ajar ilmu Bedah, edisi 2. Jakarta: EGC.

Soekanto, S. 1984. Inventarisasi dan Analisa terhadap Perundang-undangan


Lalu Lintas. CV. Rajawali: Jakarta.

Soesilo, R. 1991. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) serta Komentar-


Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal. Politeia.

Fikri. 2013. Analisis Yuridis Terhadap Delik Penganiayaan Berencana. Jurnal Ilmu
Hukum Legal Opinion Edisi 2. Volume 1, Tahun 2013

34
35