Anda di halaman 1dari 2

PERSEBARAN MIKROPLASTIK

Sungai merupakan salah satu jalur masuknya mikroplastik ke dalam lingkungan laut (Stolte et al. 2015)
dan diidentifikasi sebagai jalur utama mikroplastik dari sumber teresterial (Zbyszewski et al. 2014;
Fischer et al. 2016) yang berasal dari kegiatan masyarakat sekitar sungai. Hal ini ditunjukkan oleh
beberapa penelitian yang menemukan kandungan mikroplastik di DAS dan mangrove di sepanjang garis
pantai, serta adanya kandungan mikroplastik pada ikan-ikan muara di setiap fase kehidupannya (Possato
et al. 2011; Dantas et al.2012). Penyebaran mikroplastik ini dapat dipengaruhi oleh sifat fisik dan kimia
dari mikroplastik, seperti tipe, warna, ukuran dan komposisi kimia (Wright et al.2013). Jumlah
mikroplastik di sungai-sungai yang diamati dibedakan menjadi 3 lapisan permukaan (0, 50, dan 100 cm),
pada lapisan ini sebagian besar plastik yang ditemukan merupakan low density (Derraik 2002).

Kandungan mikroplastik di Indonesia diketahui setelah Reza dan timnya mendata 12 wilayah perairan di
Indonesia selama kurun waktu 2015 hingga 2017. Wilayah yang dipilih, menurut Reza, telah mewakili
persebaran daerah barat dan timur Indonesia. Area tersebut yakni Pulau Weh, Pulau Simeuleu,
Kepulauan Seribu, Teluk Jakarta, Teluk Benoa, Cirebon, Batam, Laut Sumba, Sekotong Lombok,Wakatobi,
Ternate, dan perairan Sumatera barat daya. Titik pengambilan sampel akan ditambah hingga penelitian
berakhir pada tahun 2019.

Pada lokasi penelitian yang dilakukan oleh Wulan Cahya di Banyuurip ditemukan adanya kontaminasi
mikroplastik. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata total kelimpahan mikroplastik sebesar 57,11 x 10²
partikel/m³. Rata-rata total kelimpahan mikroplastik perairan paling tinggi ditemukan pada mangrove
sebesar 22,89 x 10² partikel/m³. Sementara itu, total kelimpahan mikroplastik pada lokasi tambak, muara
sungai dan laut terbuka memiliki rentang nilai yang tidak jauh berbeda. Hal ini diduga karena persebaran
mikroplastik yang dipengaruhi oleh kondisi arus dan masukan dari darat

Kelimpahan mikroplastik di teluk jakarta dalam sampel air, sedimen dan pencernaan dari ikan sangat
tinggi. Pada sampel air ditemukan sebanyak 2881-7473 partikel m-3 dengan tipe yang lebih banyak
ditemukan adalah fragmen berwarna hitam dan putih, sedangkan warna fiber lebih bervariasi yaitu
warna biru, hitam, dan merah. Ukuran fragmen dominan ditemukan pada kelompok ukuran 1 (20-40
µm), sedangkan fiber lebih melimpah pada kelompok ukuran 5 (100-500 µm).

Kelimpahan mikroplastik sampel sedimen ditemukan sebanyak 18405-38790 partikel kg-1 sedimen
kering, dengan tipe dominan berupa fragmen. Warna hitam dan putih merupakan warna yang lebih
banyak ditemukan pada fragmen maupun pelet, sedangkan fiber didominasi oleh warna hijau dan
merah. Ukuran fragmen yang ditemukan pada sedimen didominasi kelompok ukuran 5 (100-500 µm),
fiber lebih banyak ditemukan pada kelompok ukuran 5-6 (100-1000 µm), sedangkan pelet melimpah
pada kelompok ukuran 1-2 (20-60 µm). Jenis makroplastik yang ditemukan pada sampel sedimen terdiri
atas 6 polimer dengan mayoritas polimer yang ditemukan berupa polypropylene (PP) densitas rendah.
Kelimpahan mikroplastik pada pencernaan ikan berkisar 16-77 partikel individu-1 dengan kelimpahan
tertinggi ditemukan dalam kelompok ikan herbivora pelagis. Tipe mikroplastik yang dominan ditemukan
pada pencernaan ikan adalah fragmen berwarna hitam dan putih, sedangkan fiber lebih banyak
ditemukan dalam warna biru. Karakteristik mikroplastik yang ditemukan pada pencernaan ikan sama
dengan karakteristik mikroplastik yang ditemukan di perairan dan sedimen tempat hidup ikan

DAMPAK DARI MIKROPLASTIK

Potensi efek sampah laut secara kimia cenderung meningkat seiring menurunnya ukuran partikel plastik
(mikroplastik), sedangkan efek secara fisik meningkat seiring meningkatnya ukuran makrodebris (UNEP
2011). Sampah plastik dapat memiliki dampak ekologi dan ekonomi yang luas di perairan tawar dan
lingkungan laut. Makroplastik menimbulkan resiko kesehatan bagi hewan air, termasuk ikan, kura-kura,
dan burung, karena kemungkinan keterikatan dan konsumsi (Boerger et al 2010; Codina-García et al
2013). Konsumsi plastik oleh hewan air dapat menyebabkan pendarahan internal dan bisul, serta
penyumbatan pada saluran pencernaan (Wright et al 2013).

Banyak hewan yang hidup di laut mengonsumsi plastik karena tak jarang plastik yang terdapat di laut
akan tampak seperti makanan bagi hewan laut. Plastik tidak dapat dicerna dan akan terus berada pada
organ pencernaan hewan tersebut sehingga menyumbat saluran pencernaan dan menyebabkan
kematian akibat dari kelaparan atau infeksi (Siregar 2014). Cukup banyak hewan laut yang terbunuh dan
terluka oleh sampah laut karena sebagian besar mereka terbelit dalam sampah tersebut, atau salah
mengira sebagai mangsa dan memakannya. Keadaan hewan laut yang terbelit dan memakan sampah ini
diketahui pada tahun 1996, fenomena ini telah mempengaruhi hewan laut setidaknya 267 spesies di
seluruh dunia. Meliputi 86% penyu laut, 44% seluruh spesies burung laut, 43% dari seluruh spesies
mamalia laut dan sejumlah besar ikan dan spesies krustasea (Azaria 2013).