Anda di halaman 1dari 3

SYOK KARDIOGENIK

Pendahuluan
Syok kardiogenik merupakan suatu keadaan penurunan curah jantung
dan perfusi sistemik pada kondisi volume intravaskular yang adekuat, sehingga
menyebabkan hipoksia jaringan. Istilah syok kardiogenik ini pertama sekali
disampaikan oleh Stead (1942) dimana saat itu dilaporkan 2 orang pasien yang
disebutkan mengalami “syok yang diakibatkan oleh jantung (shock of cardiac
origin)”. Belakangan istilah ini kemudian berubah menjadi syok kardiogenik.

Gambaran yang esensial dari syok kardiogenik adalah adanya hipoperfusi


sistemik yang menyebabkan hipoksia jaringan dengan bukti volume
intravaskular yang adekuat. Kriteria hemodinamik syok kardiogenik adalah
adanya hipotensi yang berkepanjangan dengan batasan/cut-off points tekanan
darah sistolik untuk syok kardiogenik adalah <90 mmHg selama sekurangnya 30-
60 menit atau mean arterial pressure < 30 mmHg dari baseline dengan indeks
kardiak yang berkurang (< 2,2 L/menit/m2) dan tekanan baji kapiler paru
(pulmonary capillary wedge pressure/PCWP) > 15 mmHg

Ada suatu keadaan yang merupakan kelanjutan dari kegagalan ventrikel kiri
yakni “syok kardiogenik non hipotensif”. Secara definisi pasien ini memiliki
tanda-tanda klinis dari hipoperfusi periferal seperti yang telah dijelaskan diatas
namun dengan tekanan darah sistolik > 90mmHg tanpa dukungan vasopresor.
Hal ini sering terjadi pada kejadian infark miokard di dinding anterior yang
ekstensif. Mortalitas selama rawatan pada pasien seperti ini cukup tinggi
meskipun tidak setinggi yang terjadi pada syok kardiogenik bentuk klasik.
Oleh karena itu, diagnosis syok kardiogenik dapat ditegakkan pada pasien
dengan tekanan darah >90mmHg dengan ketentuan sebagai berikut (1) jika
parameter hemodinamik merupakan hasil dukungan dari medikasi dan/atau alat-
alat pendukung. (2) adanya tanda-tanda hipoperfusi sistemik dengan curah jantung
yang rendah namun dengan tekanan darah yang masih dapat dipertahankan dengan
vasokonstriksi, serta (3) jika tekanan sistemik rata-rata (MAP) < 30mmHg dari
tekanan darah baseline pada kasus pasien dengan hipertensi.

80% syok kardiogenik disebabkan oleh kegagalan ventrikel akibat


infark miokard akut. Sedangkan sisanya akibat regurgitasi mitral berat yang
akut, ruptur septum ventrikular, gagal jantung kanan predominan dan ruptur
dinding atau tamponade.

Pasien-pasien dengan syok kardiogenik biasanya datang dengan adanya


tanda-tanda hipoperfusi sistemik, termasuk perubahan status mental, kulit
dingin, dan/atau oliguria. Keberadaan ronchi basah basal (rales) yang
merupakan penanda adanya edema paru,bisa ada namun bisa juga tidak. Edema
paru tidak ditemukan pada 30% pasien-pasien syok kardiogenik melalui
pemeriksaan auskultasi dan radiografi toraks. Pengukuran tekanan darah dengan
cara biasa sering tidak akurat pada keadaan syok, oleh karena itu penentuan
tekanan darah intra-arterial lebih tepat dimonitor dengan kanula intra-arterial.

Pada keadaan syok, hipoperfusi yang terjadi pada miokardium dan jaringan
perifer akan mendorong terjadinya metabolisme anaerobik sehingga dapat
menyebabkan asidosis laktat. Keadaan hiperlaktatemia ini dapat
dipertimbangkan sebagai petanda adanya hipoperfusi dan dapat menjadi
informasi tambahan terhadap hasil pemeriksaan klinis serta pemeriksaan
tekanan darah yang mungkin kurang meyakinkan bergantung dari status syok.
Akumulasi asam laktat dapat menyebabkan edema mitokondrial, degenerasi
serta deplesi glikogen. Hal ini dapat mengganggu fungsi miokardium dan
menghambat glikolisis. Akhir dari proses ini adalah kerusakan yang ireversibel
pada miokard akibat iskemik. Nilai laktat serum sangat penting sebagai suatu
faktor prognostik pada syok kardiogenik. Pada suatu analisa multivariat, nilai
laktat >6,5 mmol/L pada pasien-pasien syok kardiogenik merupakan suatu
prediktor independen yang sangat kuat terhadap mortalitas selama masa rawatan di
rumah sakit [odds rasio (OR) 295, P< 0,01] meski setelah di sesuaikan dengan usia,
jenis kelamin, riwayat hipertensi, dan riwayat diabetes

Sejalan dengan parameter metabolik, data hemodinamik juga sangat


bermanfaat untuk diagnostik serta penilaian prognostik pada pasien syok
kardiogenik. Ada beberapa perbedaan dalam definisi syok kardiogenik pada
beberapa uji klinik. Namun kebanyakan studi mendefinisikan syok kardiogenik
sebagai suatu keadaan dimana tekanan darah sistolik <90 mmHg selama
sekurangnya 30-60 menit dimana : (1) tidak respon dengan pemberian tunggal
terapi cairan; (2) akibat sekunder dari disfungsi jantung; (3) memiliki
hubungan dengan tanda-tanda hipoperfusi atau indeks kardiak <2,2 L/mnt/m2 dan
tekanan baji arteri pulmonalis (PCWP) >15 mmHg. Beberapa studi telah
menggunakan metode invasif untuk menilai hemodinamik sebagai kriteria
diagnostik bagi syok kardiogenik serta misalnya menurunnya secara drastis nilai
curah jantung pada jantung kanan, serta pemeriksaan indeks kardiak. Pada pasien-
pasien dengan dukungan agen inotropik/vasopresor atau alat bantu sirkulasi,
indeks kardiak 2,2-2,5 L/mnt/m2 dapat dipertimbangkan menjadi cut point.
Sedangkan pada pasien yang tidak mendapatkan dukungan agen
inotropik/vasopresor atau alat bantu sirkulasi, cut off pointnya 1,8-2,2 L/mnt/m2

Saat ini, dengan semakin luasnya penggunaan echocardiography, maka


penentuan fungsi jantung melalui kateterisasi jantung kanan pada kasus syok
kardiogenik semakin berkurang yakni hanya sebesar 20,2% menurut analisa
dari Euro Heart Survey ACS. Sedangkan evaluasi dengan echocardiography
dilakukan sebanyak 68%. Echocardiography dengan pencitraan dopler mampu
secara bedside menilai hemodinamik, fungsi jantung, keadaan katup-katup,
serta komplikasi mekanik sindrom koroner akut.

Syok utamanya ditegakkan berdasarkan temuan klinis yang didukung


oleh pemeriksaan hemodinamik. Bukti klinis adanya penurunan curah jantung
yang disertai dengan hipoperfusi sistemik meskipun tekanan pengisiannya
cukup mesti ditemukan untuk mendiagnosa syok kardiogenik. Bila kateterasi
jantung kanan dilakukan, nilai hemodinamik harus menunjukkan adanya
tekanan pengisian yang tinggi namun tekanan output yang rendah. Jika
kateterisasi jantung kanan tidak dilakukan, kombinasi pemeriksaan klinis,
radiografi toraks, serta echocardiography harus secara jelas menunjukkan
adanya hipoperfusi sistemik, curah jantung yang rendah, serta meningkatnya
tekanan atrium kiri/arteri pulmonalis dan atau tekanan atrium kanan. Jika data
yang didapat masih meragukan untuk menegakkan diagnosa, maka kateterisasi
jantung kanan harus dilakukan.